Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TIJAUAN TEORISTIS

2.1 DEFINISI

Diare adalah kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui tinja (Behiman, 1999 : 1273).

Diare adalah keadanan frekuensi air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau adapat pula bercampur lendir dan darah
atau lendir saja (Ngastiyah, 1997 : 143).

Diare mengacu pada kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi dengan
bagian feces tidak terbentuk (Nettina, 2001 : 123).

Jadi diare adalah gejala kelainan pencernaan berupa buang air besar dengan tinja berbentuk
cairan atau setengah cair dengan frekuensi lebih dari 3 x sehari pada anak sehingga mengacu kehilangan
cairan dan elektrolit.

2.2 ETIOLOGI

Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :

1. Faktor infeksi

a. Faktor internal : infeksi saluran pencernaan makananan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak. Meliputi infeksi internal sebagai berikut:

- Infeksi bakteri : vibrio, e.coli, salmonella, campylobacler, tersinia, aeromonas, dsb.

- Ifeksi virus : enterovirus (virus ECHO, cakseaclere, poliomyelitis), adenovirus, rotavirus, astrovirus

dan lain-lain

- Infeksi parasit : cacing (asoanis, trichuris, Oxyuris, Strong Ylokles, protzoa (Entamoeba histolytica,

Giarella lemblia, tracomonas homonis), jamur (candida albicans).

b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan, seperti : otitis media akut (OMA),

tonsilitist tonsilofasingitis, bronkopneumonia, ensefalitis dsb. Keadaan ini terutama terdapat


pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

2. Faktor malabsorbsi

- Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa), mosiosakarida

(intoleransi glukosa, fruktosa, dan galatosa).

Pada bayi dan anak yang terpenting dan terseirng intoleransi laktasi.

- Malabsorbsi lemak

- Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan

Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4. Faktor psikologis

Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).

2.3 PATOFISIOLOGI

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :

1. Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga
usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.

2. Gangguan sekresi

Akibat gangguan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi,
air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare tidak karena peningkatan isi rongga usus.

3. Gangguan motilitas usus

Hiper akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga
timbul diare, sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan
yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Patogenesis diare akut :

- Masuknya jada renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan
asam lambung.

- Jasad renik tersebut berkembangbiak (multiplikasi) di dalam usus halus.

- Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)

- Akibat toksin hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Patogenesis diare kronis :

Lebih koplek dan faktor-faktor yang menimbulkan wabah infeksi, bakteri, parasit, malabsorbsi,
malnutrisi, dll.

Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :


- Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengatakan terjadinya gangguan keseimbangan
asam basa (osidosis, metabolik, hipokalamia).

- Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah).

- Hipoklikemia

- Gangguan sirkulasi darah (FK UI, 1995).

2.4 klasifikasi

Diare dibagi menjadi 2 yaitu :

- Diare akut

Diare akut dikarakteristikkan oleh perubahan tiba-tiba dengan frekuensi dan kualitas defekasi.

- Diare kronis

Diare kronis yaitu diare yang lebih dari 2 minggu.

2.5 Manifestasi Klinis

Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nasfu makan berkurang atau
tidak ada

Kemudian disertai diare, tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir darah.

- Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur empedu


- Anus dan daerah sektiar timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam
sehingga akibat makin lama makin asam sehingga akibat makin banyak asam laktat yang berasal
dari latosa yang tidak di absorbsi oleh usus selama diare.
- Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena lambung
turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila pasien
banyak kehilangan cairan dan elektrolit, mata dan ubun-ubun cekugn (pada bayi) selaput lendir
bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Ngastiyah, 1997).

2.6 Penatalaksanaan

Medik :

Dasar pengobatan diare adalah :

1. Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberianya.

2. Dietetik (cara pemberian makanan)

3. Obat-obatan.
1. Pemberian cairan

Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatiakn derajat dehidrasinya dan keadaan umum.

a. Pemberian cairan

Pasien dengan dehidrasi rignan dan sedang cairan diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl
dan Na HCO3, KCl dan glukosa untuk diare akut dan karena pada anak di atas umur 6 bulan kadar
natrium 90 ml g/L. pada anak dibawah 6 bulan dehidrasi ringan / sedang kadar natrium 50-60 mfa/L,
formula lengkap sering disebut : oralit.

b. Cairan parontenal

Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai engan kebutuhan pasien, tetapi
kesemuanya itu tergantugn tersedianya cairan stempat. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL)
diberikan tergantung berat / rignan dehidrasi, yang diperhitugnkan dengan kehilangan cairan sesuai
dengan umur dan BB-nya.

- Belum ada dehidrasi

Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi.

- Dehidrasi ringan

1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral

selanjutnya : 125 ml / kg BB / hari

- Dehidrasi sedang

1 jam pertama : 50 – 100 ml / kg BB per oral (sonde)

selanjutnya 125 ml / kg BB / hari

- Dehidrasi berat

Tergantung pada umur dan BB pasien.

2. Pengobatan dietetik

Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis makanan :

- Susu (ASI adalah susu laktosa yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh,
misalnya LLM, al miron).

- Makanan setengah padar (bubur) atau makanan padat (nasitim), bila anak tidak mau minum susu
karena di rumah tidak biasa.

- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan susu dengan tidak mengandung
laktosa / asam lemak yang berantai sedang / tidak sejuh.
3. Obat-obatan

Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan / tanpa muntah
dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa / karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras
sbb).

- Obat anti sekresi

Asetosal, dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg.

Klorrpomozin, dosis 0,5 – 1 mg / kg BB / hari

- Obat spasmolitik, dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin, ekstrak beladora, opium
loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi, obat pengeras tinja seperti kaolin, pektin,
charcoal, tabonal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare sehingg tidak diberikan lagi.

- Antibiotik

Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas bila penyebabnya kolera,
diberiakn tetrasiklin 25-50 mg / kg BB / hari.

Antibiotik juga diberikan bile terdapat penyakit seperti : OMA, faringitis, bronkitis / bronkopneumonia.

2.7 Komplikasi

Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi
sebagai berikut :

1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)

2. Rinjatan hipovolemik

3. Hipokalemia (dengan gejala miteorismus, hipotoni otot, lemak, bradikardia, perubahan


elektrokardiagram).

4. Hipoglikemia

5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktasi.

6. Kejang-kejang pada dehidrasi hipertonik

7. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).

(Ngastiyah, 1997 : 145)


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

v Di era globalisasi ini penyakit diare semakin meningkat, hal ini dikarenakan masyarakat kurang
menjaga kebersihan lingkungan dan kebiasaan makan makanan yang hygiennya kurang serta kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang diare dan pencegahannya.

v Dampak dari penyakit diare dapat menyebabkan berbagai masalah pada anak seperti aktivitas anak
berkurang, kebutuhan nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan tumbuh kembang anak terganggu.

v Diare terjadi pada balita dan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian karena
kekurangan cairan.

Saran

v Diharapkan orang tua mengetahui tentang diare dan cara mengatasinya.

v Hendaknya orang tua mengajarkan cara personal hygiene yang baik pada anak.

v Apabila anak mengalami diare, penanganan pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan
oralit.

v Mahasiswa diharapkan mampu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien, keluarga dan
masyarakat bagaimana cara mencegah dan mengatasi diare.