Anda di halaman 1dari 49

0

DIKTAT

MATA KULIAH ILMU EKONOMI PETERNAKAN (SUB POKOK BAHASAN : PENDAPATAN NASIONAL, MULTIPLIER DAN INFALSI)

POKOK BAHASAN : PENDAPATAN NASIONAL, MULTIPLIER DAN INFALSI) PENYUSUN Ir. Suciani, MSi. I Wayan Sukanata,SPt., MSi.

PENYUSUN

Ir. Suciani, MSi. I Wayan Sukanata,SPt., MSi. Dr. Budi Rahayu Tanama Putri,SPt.,MM. Ir. Ketut Warsa Parimartha,MP. Ir.I Gusti Ngurah Kayana,MSi. Drs. I Wayan Budiartha,MSi.

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA

2016

1

KATA PENGANTAR

Berkat asung kerta wara nugraha Ida Shang Hyang Widhi Wasa,Tuhan Yang Maha Esa, diktat mata kuliah Ilmu Ekonomi Peternakan (Sub Pokok Bahasan: Pendapatan Nasional, Multiplier, Inflasi dan Deflasi) diselesaikan tepat pada waktunya. Diktat ini dibuat untuk menunjang mata kuliah Ilmu Ekonomi Peternakan (MKK-2033), semester I (ganjil) merupakan mata kuliah wajib di Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Diktat ini dibuat sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa semester I Fakultas Peternakan UNUD, dalam menunjang proses belajar mengajar. Tujuan pelaksanaan mata kuliah Ilmu Ekonomi Peternakan, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan analisis usaha dari suatu usaha peternakan dan terjadinya keuntungan maksimum dalam suatu usaha peternakan. Mata kuliah ini merupakan suatu prasyarat bagi mata kuliah Studi Kelayakan Bisnis dan Evaluasi Proyek di semester V. Pada kesempatan ini tim penyusun mengucapkan terimakasih kepada:

Bapak Prof.Dr.Ir. I nyoman Suparta,MS.,MM.

Rekan-rekan dosen di Lab. Penyuluhan dan Ekonomi Peternakan atas kerjasamanya.

Bapak Dekan Fakultas Peternakan atas fasilitas yang telah diberikan. Semoga diktat ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa maupun dosen pengampu mata kuliah dalam upaya memperlancar proses belajar mengajar. Kami menyadari bahwa diktat yang kami susun ini tidak luput dari berbagai kekurangan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dalam rangka penyempurnaan diktat ini.

Denpasar, Juni 2016

Tim Penyusun

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

…………………………………………………………….

i

DAFTAR ISI

………………………………………………………………

ii

DAFTAR TABEL

……………………………………………………………

……………………………………………………………

iii

DAFTAR GAMBAR

iv

BAB I PENDAPATAN NASIONAL

1.1 Konsep-konsep Pendapatan

……………………………………

1

1.2 Pendapatan Nasional

Perubahan

……………………………………

10

1.3 Pendapatan Nasional

Pembagian

……………………………………

15

BAB II DETERMINAN PENDAPATAN NASIONAL

2.1 Konsumsi dan Tabungan

………………………………………

17

2.2 Investasi

………………………………………

24

2.3 Keseimbangan Pendapatan Nasional

……………………………………

27

BAB III MULTIPLIER

…………………………………………………………

33

BAB IV INFLASI DAN DEFLASI

4.1

Inflasi

……………………………………………………

37

4.2 Deflasi

……………………………………………………

40

DAFTAR PUSTAKA

……………………………………………………

43

3

DAFTAR TABEL

Tabel

1.1. Konsep-konsep Pendapatan Nasional

……………………………….

Halaman

5

1.2. Laju Pertumbuhan Suatu Negara ……………………………………… 9

1.3. Cara Menghitung Indeks Harga ………………………………………… 12

1.3 Pengaruh Perubahan Tingkat Harga

 

Terhadap Perubahan GNP

……………………………………

13

1.4. Pembagiam Pendapatan Nasional

……………………………….

14

2.1

Hubungan Antara Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan

……….

18

2.2.

Fungsi Konsumsi Non Linier …………………………………

21

2.3.

Penetuan Pendapatan Nasional ……………………………………

31

4

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1.1. Aliran Pendapatan Nasional

1

1.2. Lingkaran Pendapatan Nasional …………………………………………

3

1.3. Arus Pendapatan

…………………………………………….

7

1.4. Pembagian Pendapatan Nasional ……………………………………. 14

1.5

Kurve Laurenz …………………………………………………………….

15

2 .1. Fungsi Konsumsi Linnier …………………………………………………

20

2.2. Fungsi Konsumsi Non Linnier …………………………………………

21

2.3. Fungsi Tabungan Linnier …………………………………………………

23

2.4. Fungi Tabungan Non Linnier

……………………………………………

23

2.5.

Pendapatan Nasional Keseimbangan Melalui Pendekatan Injeksi Kebocoran ……………………………………………

28

2.6. Pendapatan Nasional Keseimbangan Pendekatan AS=AD…………………

30

2.7. Tingkat Perekonomian ……………………………………………………

32

3.1. Pengganda Investor Melalui PENDEKATAN S=I………………………….

35

3.2

Pengganda Investasi Melalui Pendekatan AS=AD ………………………….

36

5

I. PENDAPATAN NASIONAL

Pendapatan nasional merupakan hal penting untuk dibicarakan. Hal ini karena pendapatan

nasional masih dianggap sebagai pilar utama penyangga politik ekonomi, artinya, semua kebijaksanaan dibidang perekonomian difokuskan ke arah peningkatan pendapatan nasional.

Dalam buku ini akan dibahas pendapatan nasional dengan menguraikan 3 sub-bab sebagai

berikut :

1.1 Konsep-konsep Pendapatan

1.2. Perubahan Pendapatan Nasional 1.3. Pembagian Pendapatan Nasional

1.1 KONSEP-KONSEP PENDAPATAN

Arus Perputaran Kegiatan Ekonomi

Roda perekonomian digerakkan oleh dua pihak yaitu swasta dan pemerintah. Pihak swasta kemudian dibedakan menjadi individu (dalam ilmu ekonomi disebut dunia rumah tangga) dan business (rumah tangga perusahaan)

Hubungan antara business dan individu dapat dilihat seperti gambar 1.1 berikut :

Pada Gambar tersebut menunjukkan bahwa business menyediakan barang-barang dan jasa- jasa yang menjadi pemuas kebutuhan masyarakat. Sebagai imbalan bagi jasa-jasa produktif yang diterimanya dari masyarakat (seperti tenaga, tanah, dan lain-lain). Dipihak lain dari pihak masyarakat ke pihak business mengalirlah uang dalam bentuk pembelian-pembelian, sedangkan dari arah sebaliknya (dari business ke masyarakat mengalir pula uang dalam bentuk gaji, upah, bunga, sewa dan sebagainya).

6

uang barang dan jasa MASYARAKAT jasa-jasa produksi upah, bunga, dll
uang
barang dan
jasa
MASYARAKAT
jasa-jasa
produksi
upah, bunga, dll

Gambar 1.1 Aliran Pendapatan

Di dalam suatu perekonomian, dimana pemerintah ikut didalamnya, tidaklah menyimpang dari hal tersebut diatas karena peranan pemerintah adalah sebagai pengatur dan penyeimbang perekonomian secara keseluruhan.

Didalam gambar 1.1. tersebut arus uang yang mengalir dari business ke masyarakat berupa upah, gaji bunga, sewa, laba dan bunga merupakan bentuk-bentuk penghasilan (earning) yang diterima oleh masyarakat. Dan pendapatan (income) akan diperoleh setelah penghasilan bruto di kurangi dengan setiap ongkos yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatannya.

Arus pendapatan (upah, bunga, sewa, dan laba) akan muncul sebagai akibat dari adanya jasa-jasa produktif (productive service) ke arah yang berlawanan dengan arah aliran pendapatan. Jadi pendapatan harus didapatkan dari aktivitas produktif.

Di dalam ilmu ekonomi penerimaan yang diperoleh bukan dari aktivitas produktif disebut transfer payment (pembayaran transfer) seperti pemberian seorang teman, menemukan uang di jalan, hasil curian pencuri, dan sebagainya.

1.

Ada tiga jenis transfer payment yaitu ;

Government transfer payment (pembayaran transfer pemerintah) seperti pembayaran tunjangan untuk para veteran, tunjangan anak dan istri para pegawai negeri.

7

2. Business transfer (pembayaran transfer business) misalnya utang ragu-ragu dari pihak konsumen kepada pihak perusahaan.

3. Interpersonal transfer payment (pembayaran transfer antar perseorangan) misalnya pemberian

teman. Bentuk lain dari transfer payment adalah bentuk-bentuk penjualan. Seperti penjualan rumah warisan, atau obligasi, atau hak cipta, ini bukan pendapatan melainkan sebuah perubahan bentuk kekayaan dari suatu bentuk tertentu ke bentuk lainnya (uang tunai). Di lain pihak hasil sewa rumah,

bunga dari obligasi dan royalty dari suatu hak cipta adalah pendapatan.

Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional adalah penjumlahan semua pendapatan individu. Orang pertama yang berusaha mengetahui pendapatan negaranya adalah Sir William Pelty, tahun 1665 yang menaksir pendapatan nasional Inggris 40 juta Pound. Hal ini didasarkan pada anggaran bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan belanja hidup orang dewasa selama setahun.

Namun para ahli ekonomi lebih condong kepada GNP (Gross National Product-produk nasional bruto) sebagai alat pengukur pokok kegiatan perekonomian.

Alat pengukur yang paling menyeluruh bagi output nasional adalah GNP. GNP adalah nilai semua barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara setiap tahun yang diukur menurut harga pasar. GNP disebut pula dengan istilah Gross National Output.

Pendapatan, produksidan pengeluaran mempunyai hubungan yang sangat erat sekali. Produksi menciptakan pendapatan, pendapatan menciptakan pengeluaran dan pengeluaran mendorong rumah tangga bisnis untuk melaksanakan proses produksi. Apabila lebih diperhatikan ternyata jumlah produksi total sama dengan jumlah pendapatan, sama dengan jumlah pengeluaran. Contohnya setiap Rp yang diterima si A sebagai pendapatan, tentulah sebagai hasil produksinya, dan diterimanya dari si B yang melakukan pengeluaran. Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa GNP selalu sama dengan Gross National Income (GNI).

8

PENDAPATAN PENGELUARAN PRODUKSI Gambar 1.2 Lingkaran Pendapatan
PENDAPATAN
PENGELUARAN
PRODUKSI
Gambar 1.2
Lingkaran Pendapatan

Cara Menghitung GNP Semua barang dan jasa harus dinilai dahulu dengan cara penilaian yang seragam, dan baru dijumlahkan untuk mendapatkan GNP. Ukuran untuk menetapkan nilai adalah harga pasar (market prices). Berapa kg apel yang dihasilkan 1 tahun, dan berapa harganya dan seterusnya (barang dan jasa lain) dinilai seperti itu dan kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan GNP. Tidak semua macam output dimaksudkan oleh pembuatya sebagai salah satu komponen ekonomi yang membentuk GNP. Output yang bisa dimasukkan kedalam GNP adalah output yang mengandung maksud ekonomis didalam pembuatannya. Transfer payment tidak termasuk dalam perhitungan GNP. Menghitung GNP bukanlah hal yang mudah, pengumpulan data merupakan masalah

besar, karena menyangkut sekian ratus ribu jenis barang dan jasa yang dihasilkan selama setahun diseluruh pelosok negeri. Di Indonesia hal ini dikerjakan oleh BPS (Biro Pusat Statistik) yangmendapat masukan dari kantor statistik yang ada disetiap propinsi. Penghitungan GNP dilakukan dengan 3 cara

a. Pendekatan produksi (production approach) yang akan menghasilkan GNP.

b. Pendekatan pendapatan (income approach) yang akan menghasilkan GNI.

c. Pendekatan pengeluaran (Expenditure approach) yang akan menghasilkan Gross National Expenditure (GNE)

9

Cara tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pendapatan = produk = pengeluaran. Ketiga pendekatan diatas akan menghasilkan nilai yang sama. Selanjutnya akan dilihat mengenai sektor-sektor GNP, unsur-unsur GNP dan penggunaan GNP.

Sektor-Sektor GNP Dalam pidato kenegaraan presiden RI tanggal 16 Agustus 1995 mengumumkan perubahan tahun dasar (dari tahun 1983 menjadi 1993) dalam perhitungan GNP maupun GDP dan jumlah sektor-sektor yang membentuk GNP maupun GDP, sektor-sektor tersebut adalah :

1. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan

2. Pertambangan dan penggalian

3. Industri pengolahan

4. Listrik, gas dan air minum

5. Bangunan

6. Perdagangan, hotel dan restoran

7. Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

8. Pengangkutan dan komunikasi

9. Jasa-jasa.

Barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan selama 1 tahun di masing-masing sektor tersebut dijumlahkan hasilnya adalah sama dengan GNP.

Unsur-unsur GNP

Telah diuraikan didepan bahwa semua produk setara dengan pendapatan (income), sehingga unsur-unsur GNP dibawah ini dinyatakan dalam bentuk pendapatan (income) yaitu GNI.

1. Wages and salaries (upah dan gaji)

2. Interest (bunga)

3. Rent (sewa)

4. Profit of unincorporated firms (laba perusahaan bukan perseroan)

5. Dividends (dividen)

6. Corporation profit tax (pajak atas laba perusahaan perseroan)

10

8. Indirect business tax (pajak tak langsung perusahaan adalah pajak yang dimasukkan pada nilai jual produk sehingga harga jual lebih tinggi)

9. Depreciation (penyusutan), berlaku pada barang-barang modal disebut pula capital consumption allowancers (pengeluaran berupa konsumsi barang modal, atau disebut pula replacement cost)

Konsep-Konsep Pendapatan Tabel 1.1 Konsep-konsep pendapatan

GNI

NNI

National

Personal

Disposable

 

income

income

income

Upah dan Gaji

Upah dan Gaji

Upah dan Gaji

Upah dan Gaji

Bunga

Bunga

Bunga

Bunga

Sewa

Sewa

Sewa

Sewa

Laba perusahaan

Laba perusahaan

Laba perusahaan

Laba

perusahaan

Buka perseroan

Buka perseroan

Buka perseroan

bukan perseroan

Dividen

Dividen

Dividen

Dividen

Pajak laba

Pajak laba

Pajak laba

Transfer Payment

perusahaan

perusahaan

perusahaan

Laba tak dibagi

Laba tak dibagi

Laba tak dibagi

Pajak tak langsung

Pajak tak langsung

Penyusutan

Tabungan Pengeluaran konsumsi Pajak pribadi
Tabungan
Pengeluaran
konsumsi
Pajak pribadi

a. GNI (Gross National Income) atau pendapatan national bruto Pada saat menghitung GNP harus diperhatikan bahwa transfer payment, produksi yang tidak berorientasi ekonomis dan double counting (perhitungan ganda) tidak dimasukkan dalam GNP. Apa yang dihitung ke dalam GNP adalah final goods (barang- barang akhir) Contohnya : Roti dibuat dengan tepung, telur, garam, gula dan sebagainya yang dimasukkan kedalam GNP adalah harga roti tersebut, harga bahan-bahan tidak dimasukkan kedalam GNP lagi sehingga tidak terjadi double counting.

b. Net National Income (NNI), atau pendapatan nasional netto Produksi barang dan jasa secara keseluruhan menghasilkan barang konsumsi dan barang modal atau barang investasi. Barang modal ada dua (1) adalah barang modal untuk

11

perluasan atau penambahan barang modal yang telah ada dan (2) barang modal untuk pengganti barang modal yang telah aus (susut) karena dipakai pada periode lalu. Barang modal jenis pertama bersama barang konsumsi membentuk NNP selanjutnya NNP dijumlahkan dengan barang pengganti membentuk GNP.

Produksi Barang Modal Untuk Pengganti Penambahan Barang Konsumsi
Produksi
Barang Modal
Untuk Pengganti
Penambahan
Barang Konsumsi
NNP GNP
NNP
GNP

c. National Income (NI) atau Pendapatan Nasional Setelah NNP atau NNI dikurangi pajak tak langsung maka didapat hasil berupa produk nasional itu. sendiri, sebab produk nasional atau pendapatan nasional itu hanya berisi apa yang dihasilkan oleh bangsa yang bersangkutan tanpa pajak tak langsung yang pada hakikatnya akan mempertinggi harga jual atau harga pasar saja. GNP – pajak tak langsung = GNP at factor cost NNP – pajak tak langsung = NNP at factor cost Ini artinya bahwa jika pajak tak langsung tidak diperhitungkan dalam penilaian produk maka akan didapat nilai produk tersebut berdasarkan biaya faktor produksi yang dipakai untuk menghasilkan (at factor cost). Personal Income (P1) atau Pendapatan Perseorangan

12

Pajak laba perusahaan dan laba tak dibagi tidak termasuk dalam PI karena masing-masing adalah diterima oleh pemerintah dan business. Namun transfer payment tetap diperhitungkan dalam PI.

d. Disposable Income (DI) Merupakan pendapat yang siap untuk dibelanjakan. Disposable income diperoleh setelah personal income diperoleh setelah personal income dikurangi pajak pribadi yang dibayarkan kepada pemerintah. Secara garis besar Disposable Income akan digunakan untuk keperluan konsumsi dan sisanya untuk ditabung (savings).

Hubungan antara konsep-konsep pendapatan Gambar 1.3 Arus pendapatan

Rumah Tangga Konsumen Rumah C Tangga Business I Konsumsi Tabungan D LTD GNI NNI NI
Rumah Tangga Konsumen
Rumah
C
Tangga
Business
I
Konsumsi
Tabungan
D
LTD
GNI
NNI
NI
PI
DI
PL
PTL
PT
G
PP

I

= investasi

PT

= pembayaran transfer

G

= pengeluaran pemerintah

PP

= pajak pribadi

C

= konsumsi

D

= penyusutan

PTL

= pajak tak langsung

LTD

= laba tak dibagi

PL

= pajak atas laba

13

Dalam penjelasan gambar 1.3, telah diketahui hubungan antara konsep-konsep pendapatan. GNI dikurangi penyusutan = NNI dan seterusnya. Namun kemana larinya penyusutan tersebut belum dijelaskan. Dalam gambar 2.5 hal ini dapat dilihat. Dalam gambar 2.5 dijelaskan kedudukan dan peranan tiga sektor pada pembentukan

GNP, yaitu RTK (rumah tangga konsumsi, rumah tangga business (RTB) dan rumah tangga pemerintah (RTP). Ketiga rumah tangga yang terlibat dalam pembentukan GNI menerima biayanya masing-masing :

a. RTK menerima bagian dari DI yang disediakan untuk membiayai konsumsinya.

b. RTB menerima (1) dana penyusutan dari dunia bisnis itu sendiri, (2) LTD dari dunia bisnis juga dan (3) tabungan dari masyarakat (DI)

c. RTP menerima (1) PTL, (2) PL dan (3) PP dan mengeluarkan dana untuk PT

Dengan penerimaan-penerimaan tersebut ketiga rumah tangga itu membiayai pengeluaran

mereka.

Rumah tangga konsumen mengeluarkan biaya untuk konsumsi ©, rumah tangga bisnis mengeluarkan biaya untuk investasi (I) dan rumah tangga pemerintah melakukan pengeluaran yang disebut Government Expenditure (G) Dengan demikian seluruh produk yang dihasilkan (berupa barang/jasa) sama dengan C + I +

G.

GNP = C + I + G

Penggunaan GNP Baik dilihat sebagai GNP maupun GNI, diketahui ada empat komponen yang mencerminkan penggunaannya yakni konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan perdagangan luar negeri. Dari keempat komponen tersebut konsumsi yang menempati bagian yang terbesar. Investasi atau penanaman modal adalah “motor” suatu perekonoian. Semakin banyak investasi dalam suatu negara menunjukkan semakin tingginya laju pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan, dan sebaliknya. Besar kecilnya pengeluaran pemerintah tergantung dari maju tidaknya negara tersebut. Negara dalam keadaan underdeveloped countries akan melakukan pengeluaran lebih banyak daripada negara yang sudah dalam keaadaan develoving countries atau negara

14

developed countries. Begitu pula negara dalam keadaan perang akan melakukan pengeluaran lebih banyak dibandingkan pada saat damai. Dalam perdagangan luar negeri dikenal adanya ekspor dan impor. Oleh karena itu kedua- duanya dimasukkan kedalam GNP dengan nama net export (eksport netto) yang diperoleh dengan mengurangkan eksport dengan import (X – M).

Y

= C + I + G + (X – M)

Y

= GNP

C

= konsumsi

I

= investasi

G

= pengeluaran pemerintah

X

= export

M

= import

Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan Perekonomian Suatu Negara

Tahun

GNP Negara A (Jutaan)

Pertumbuhan

GNP Negara B

Pertumbuhan

(%)

(Jutaan)

(%)

1998

$1000

-

$10.000

-

1999

$1500

50

$12.000

20

Dari tabel diatas dapat dilihat walaupun negara A tahun 1998 dan 1999 lebih miskin dibandingkan dengan negara B, namun laju perekonomian negara A lebih pesat dibandingkan dengan negara B.

GNP dan GDP Barang dan jasa dari suatu negara tidaklah dihasilkan oleh warga negara itu saja. Contohnya di Indonesia yang menghasilkan produk di Indonesia itu bukanlah orang Indonesia saja, atau dengan kata lain, ada sebagian dari produk yang dihasilkan di Indonesia, sebenarnya dihasilkan oleh orang atau badan asing, ataupun sebaliknya. Hasil produksi orang asing didalam negeri, harus dibayarkan kepada mereka di sebut factor income payment to abroad, sedangkan hasil produksi sesuatu negara di luar negeri, karena harus diterima disebut factor income receipt from abroad. Selisih keduanya oleh Biro

15

pusat statistik disebut “pembyaran netto terhadap luar negeri dari faktor produksi” atau net facotr income payment to abroad (n). Maka GNP + n = GDP GDP – n = GNP GDP = Gross Domestic Product Hubungan antara GDP, NDP (net domestic product dan domestic product (DP) atau domestic income (DI), mengikuti pola hubungan GND, NNP dan NI yang telah dibicarakan sebelumnya.

1.2. PERUBAHAN PENDAPATAN NASIONAL GNP dapat berubah dalam suatu periode tertentu (biasanya setahun), sebagaimana juga bisa terjadi pada pendapatan nasional. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal yaitu (1). Perubahan jumlah output barang maupun jasa yang dihasilkan, (2). Perubahan harga/nilai pasar diantara barang-barang dan jasa-jasa.

Kenaikan Harga dan Penurunan Harga Apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga, maka jumlah barang yang dapat dibeli oleh masyarakat akan mengalami perubahan pula. Apabila harga-harga naik, maka kebanyakan orang akan merasa lebih miskin dari pada keadaan sebelumnya, sekalipun pendapatan yang mereka terima tetap saja. GNP pun dipengaruhi oleh tingkat harga dengan cara yang serupa. Misalnya GNP menunjukkan kenaikan nominal 20% dari Rp. 1250 milyar menjadi Rp. 1500 milyar, sedangkan pada saat itu juga tingkat harga naik dengan kenaikan sebesar 20%, maka sudah dapat dipastikan bahwa kenaikan GNP sebesar 20% itu seluruhnya hanyalah semata-mata disebabkan oleh kenaikan tingkat harga saja, sedangkan jumlah output yang membentuk GNP tersebut tetap jumlahnya.

Angka Indeks dan Tahun Dasar Dalam ilmu statistika, kenaikan tingkat harga serta penurunannya dinyatakan melalui apa yang disebut dengan angka indeks. Angka indeks menunjukkan perbandingan tingkat harga antara tingkat harga sesuatu tahun tertentu dengan tingkat harga yang terjadi ditahun

16

lainnya. Bisa juga dipakai untuk perbandingan tingkat harga dari bulan ke bulan, minggu ke minggu bahkan hari ke hari. Adapun tahun yang dijadikan sebagai dasar pembanding disebut “tahun dasar” (base year). Apabila angka indeks menunjukkan kenaikan, maka tingkat harga pun pasti naik

 

In

= angka indeks (indeks number)

Pn In = –––––– x 100 Po

Pn

= harga di tahun n

Po

= harga di tahun dasar.

Contoh :

Misalnya pada tahun 1970 (tahun dasar) harga sepeda motor X adalah Rp. 1000,-/buah, tahun 1971 harga menjadi Rp. 1500,-/buah.

Maka In =

1500

1000

x 100 = 150. Ini berarti selama periode dari tahun 1970 ke 1971 telah

terjadi kenaikan harga sepeda sebesar 50%. Apa yang dijelaskan diatas hanya berkenan dengan harga-harga dari satu jenis barang saja. Namun untuk menghitung GNP, outputnya sangat beraneka ragam dan jumlahnya sangat banyak. Untuk menghitung GNP dengan output yang jenisnya sangat banyak dan jumlah setiap jenisnyapun sangat beragam maka haruslah ditetapkan sebuah indeks yang berlaku untuk semua (indeks harga). Perlu adanya unsur “penimbang” untuk harga-harga output yang bersangkutan yakni angka yang menunjukkan berapa banyaknya sesuatu jenis output dihasilkan.

Untuk memudahkan perhitungan, maka akan disertakan sebuah contoh yang mengandung dua jenis barang saja, yang pada prinsipnya sama dengan yang mengandung ribuan jenis barang. Sebelumnya akan diberi keterangan sebagai berikut :

1. Rasio harga adalah angka indeks yang sudah dibahas sebelumnya

17

3. (Price indeks) indeks harga.

Pada contoh di bawah ini tampak Indeks harga 111,38 artinya telah terjadi, kenaikan

tingkat harga sebesar 11,38%, cara menyatakan adalah “kenaikan tingkat harga dua barang

saja”. Tetapi apabila yang dihitung tidak hanya 2 jenis, melainkan seluruh jenis barang yang

biasa dipakai untuk keperluan ini, maka istilah yang dipakai adalah “kenaikan tingkat harga”

begitu saja.

Tabel 1.2 cara menghitung indeks harga dari 2 jenis barang.

Barang

Tahun 0

Tahun 1

Output

   

Mobil

50

60

Pensil

4000.000

3.000.000

Harga per unit Mobil Pensil Rasio harga Mobil Pensil

Rp. 2.500.000,-

Rp. 2.750.000,-

5,-

6,-

Rasio harga

dihitung

100

110

(dikali) dengan nilai pasar tahun 0

100

120

Mobil

Pensil

Jumlah

Indeks harga

Rp. 12.500.000.000,-

13.750.000.000,-

2.000.000.000,-

2.400.000.000,-

14.500.000.000,-

16.150.000.000,-

100

111,38

16.150.000.000,-

Indeks harga = ––––––––––––––––– x 100 = 111,38

14.500.000.000,-

Tahun dasar (tahun “0”)

Tahun manapun boleh dipilih sebagai tahun dasar. Namun pertimbangan yang umum

dipakai adalah :

a. Suatu tahun dimana pada tahun tersebut tidak terjadi kegoncangan harga yang berarti.

18

b. Suatu tahun dimana pada tahun tersebut terjadi suatu peristiwa yang penting dibidang

ekonomi

Di Indonesia tahun dasar berubah setiap 10 tahun sekali berdasarkan sebuah keputusan

presiden.

Cara penulisan didalam perhitungan biasanya tahun dasar ditulis misalnya 1969 = 100,

karena indeks harga tahun dasar = 100.

Tabel 1.3. Pengaruh Perubahan Tingkat Harga Terhadap Perubahan GNP.

Tahun

GNP at market price Rp (milyar)

Indeks harga

GNP at constant price Rp (milyar)

1971

100.000

100

100.000

1972

150.000

125

120.000

1973

180.000

150

120.000

a. GNP at market price = besarnya GNP berdasarkan harga pasar yang terjadi di tahun yang

bersangkutan = GNP at current price.

b. GNP at constant price = besarnya GNP yang dihitung berdasarkan tingkat harga yang

berlaku pada tahun dasar.

GNP at constant price =

GNP at market price

indeks harga

x100

Jumlah yang tertera pada GNP at constant price adalah harga-harga yang sudah

dibersihkan dari pengaruh harga-harga yang berubah sehingga disebut deflated GNP

,sehingga indeks harganya pun sering disebut GNP deflasor

Pada tabel 2.3 diatas terlihat dari tahun 1971 ke tahun 1972 terjadi kenaikan GNP 50%.

Tapi setelah dilihat pada constant pricenya, ternyata kenaikan tersebut sebagian besar terjadi

karena pengaruh kenaikan harga saja. Sebenarnya kenaikan riil terjadi hanya sebesar 20%.

1.3 PEMBAGIAN PENDAPATAN NASIONAL

Kata pembagian disini mengandung arti pembagian aktivitas ekonomi diantara anggota-

anggota masyarakat sebab setiap aktivitas ekonomi tersebut akan memberikan pendapatan

19

bagi para pelakunya. Dalam hal ini tidak ada yang membagikan, melainkan setiap orang menerima pembagian aktivitas ekonomi dari dirinya sendiri. Pendapatan yang diperoleh oleh setiap orang dari aktivitas ekonomi yang dilakukan tersebut, merupakan bagian dari pendapatan nasional. Pendapatan tidaklah dan tidak akan dapat dibagikan secara merata. Setiap orang akan menerima pembagian pendapatan sebesar sumbagannya terhadap pendapatan nasional. Sebab pendapatan setiap orang mestilah merupakan bagian daripada pendapatan nasional itu.

Kurva Lorenz

Pembagian pendapatan nasional itu tergantung kepada peranan masing-masing orang didalam

perekonomian secara keseluruhan.

Didalam kurva lorenz digambarkan tiga keadaan mengenai pembagian pendapatan nasional.

1. Keadaan yang sangat merata (absolute equality income distribution)

2. Keadaan yang aktual (actual income distribution)

3. Keadaan yang sangat tidak merata (absolute inequality income distribution).

Tabel 1.4. Pembagian Pendapatan Nasional

Penduduk

Komulatif

 

Pembagian Pendapatan Nasional

 

%

 

Absolute

Absolute inequality

Actual

 
 

Equality

Inequality

%

Kum

%

Kum

%

 

Kum

20

20

20

20

0

0

6

 

6

20

40

20

40

0

0

12

18

20

60

20

60

0

0

18

36

20

80

20

80

0

0

24

60

20

100

20

100

100

100

40

100

20

Dari contoh tabel diatas dapat dilihat bahwa pada keadaan yang absolute equality, setiap penduduk menerima pembagian pendapatan yang sama. Pendapatan seorang petani sama dengan pendapatan seorang dokter, sama dengan pendapatan seorang presiden. Tidak ada suatu bangsapun yang memiliki keadaan pembagian pendapatan nasional seperti ini, namun paling tidak keadaan seperti inilah yang ingin didekati sehingga jurang antara si kaya dan simiskin dapat dipersempit. Pada keadaan yang absolute inequality hanya sebagian kecil saja penduduk yang menerima pendapatan, sementara sebagian besar yang lain tidak menerima apa-apa. keadaan seperti ini juga tidak ada didunia. Keadaan seperti inilah yang setidaknya yang akan dijauhi oleh suatu negara.

Pada keadaan yang actual inequality, sesuai dengan namanya merupakan pola pembagian pendapatan yang mungkin terjadi.

Angka-angka pada tabel 1.4 dapat digambarkan dalam sebuah kurva yang disebut kurva lorenz.

A

100 80 60 40 C 20 B 0 0 20 40 60 80 100 Pendapatan
100
80
60
40
C
20
B
0
0
20
40
60
80
100
Pendapatan Nasional

Penduduk (%)

Absolute

Equality

Actual

Inequality

absolute

Inequality

Gambar 1.5 Kurva Lorenz

Garis OA

= Pendapatan nasional yang absolute equality

Garis OBA = Pendapatan nasional yang absolute inequality

Garis OCA = Pendapatan nasional yang actual inequality

Keadaan distribusi pendapatan nasional suatu negara berbeda dengan negara yang lain. Ada yang lebih merata dan ada yang lebih tidak merata. Kemerataan serta ketimpangan

21

distribusi pendapatan nasional itu dapat diamati dari kedudukan kurva OCA pada gambar 2.6 diatas. Semakin dekat ke kurva lurus OA (semakin sempit daerah OCAO) semakin meratalah distribusi pendapatan nasional negara tersebut. Sebaliknya semakin dekat ke kurva OBA makan semakin tidak meratalah distribusi pendapatan nasional negara tersebut (jurang antara si kaya dan simiskin sangat lebar). Ukuran ketimpangan distribusi pendapatan nasional dikemukakan oleh Corrado Gini. Sehingga di sebut Gini Concentration ratio (GCR) atau indeks gini atau rasio gini.

Luas OCAO Rasio Gini = ––––––––––– Luas OBAO

Menurut Harry Tatsumi Oshima

Jika indeks gini 0,3

ketimpangan ringan

> 0,3 – 0,5 ketimpangan sedang

> 0,5

Peranan Pemerintah

ketimpangan berat

Untuk meningkatkan kemerataan distribusi pendapatan nasional, pemerintah mempunyai peranan yang sangat penting, maka pemerintah mempunyai peranan didalam mengontrol dan mengawasi jalannya perekonomian di suatu negara. Sehingga dengan demikian usaha yang besar tidak menggilas yang kecil, semua dapat berjalan dengan serasi dan seimbang, jurang pemisah antara sikaya dan simiskin tidak terlalu besar.

Pemerintah dapat menggeser kurva lorenz ke kiri (memeratakan pembagian pendapatan nasional), dengan salah satu alatnya yang disebut progresive tax (pajak progresif).

Pajak progresif adalah pajak yang dikenakan semakin berat kepada mereka yang berpendapatan semakin tinggi, yang dimaksud disini bukanlah nominal pajaknya melainkan prosentase pajak itu atas pendapatan. Semakin tinggi apabila pendapatannya semakin besar.

22

II. DETERMINAN PENDAPATAN NASIONAL

Seperti apa yang telah di terangkan pada bab yang lalu, bahwa GNP terbentuk

dari empat komponen yaitu konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor

netto. Perubahan salah satu saja di antara keempat unsur ini sudah barang tentu akan

menyebabkan terjadinya perubahan di dalam GNP, dan dengan demikian juga

perubahan terhadap seluruh konsep-konsep pendapatan yang mengiringinya. Namun

disini akan lebih banyak diuraikan mengenai dua hal yang disebut pertama yaitu

mengenai (1) konsumsi dan tabungan, dan (2) investasi

2.1 KONSUMSI DAN TABUNGAN

Pengertian

Pendapatan yang diterima seseorang adalah akan digunakan untuk tujuan

konsumsi, sedangkan sisanya (kalau masih ada akan ditabung).

Oleh karena itu maka pernyataan tersebut dapat ditulis dengan singkat sebagai

berikut :

Y

= C + S

Y

= pendapatan (income)

 

C

= konsumsi (consumption)

S

= tabungan (saving)

Didalam ilmu ekonomi, konsumsi berarti penggunaan barang dan jasa untuk

memuaskan kebutuhan manusia. Oleh karena itu produksi diperlukan semasih

adanya konsumsi, tapi tidak berlaku sebaliknya.

Konsumsi Produktif dan Konsumsi Akhir

Jika tanpa kualifikasi apapun, maka istilah “konsumsi” itu, didalam ilmu

ekonomi, akan secara umum diartikan sebagai penggunaan barang-barang dan

jasa-jasa yang secara langsung akan memenuhi kebutuhan manusia. Namun

penggunaan barang-barang seperti mesin-mesin atau bahan mentah untuk

menghasilkan barang lain disebut konsumsi produktif (produktive Consumption),

sedangkan konsumsi yang langsung dapat memuaskan kebutuhan disebut

konsumsi akhir (Final Consumption).

Hasrat Untuk Mengkonsumsi

23

Antara konsumsi dan pendapatan terdapat hubungan yang positif. Artinya

apabila pendapatan naik maka konsumsipun akan meningkat pula dan sebaliknya.

Hubungan yang erat antara konsumsi dengan pendapatan tersebut disebut

propensity to consume (hasrat untuk mengkonsumsi)

Pendapatan, konsumsi, dan tabungan yang dimaksud di sini adalah

pendapatan, konsumsi, dan tabungan nasional.

Fungsi konsumsi – fungsi linier

Tabel 2.1 Hubungan antara Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan (Milyar

rupiah).

Pendapatan

konsumsi

Tabungan

MPC

MPS

APC

APS

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

 

0

100

-100

0,8

0,2

100

180

-80

0,8

0,2

1,80

-0.80

400

420

-20

0,8

0,2

1,05

-0,05

500

500

0

0,8

0,2

1,00

0,00

1000

900

100

0,8

0,2

0,90

0,10

2000

1700

300

0,8

0,2

0,85

0,15

3000

2500

500

0,8

0,2

0,83

0,17

4000

3300

700

0,8

0,2

0,82

0,18

Dalam tabel diatas terlihat bahwa walau pendapatan 0 maka tetap terjadi

konsumsi, sebab konsumsi mutlak diperlukan oleh manusia sebagai makhluk

hidup.

Jika pendapatan 0 atau lebih kecil dari konsumsi, orang dapat melakukan

pinjaman atau mempergunakan pendapatan yang akan diterima kelak untuk

keperluan konsumsi sekarang.

Konsumsi yang tidak didukung sama sekali oleh pendapatan disebut

otonomous consumption (konsumsi otonom).

Angka pada tabungan yang negatif juga disebabkan oleh konsumsi yang

lebih besar dari pendapatan. Tabungan yang negatif ini disebut dissavings. Antara

tabungan dengan pendapatan juga terdapat hubungan yang positif.

Pada kolom (4) ada MPC, yaitu kependekan dari Marginal Propensity to

Consume (hasrat marginal untuk melakukan konsumsi)

24

 

∆C

∆C = perubahan konsumsi

MPC =

∆Y

= perubahan pendapatan

 

∆Y

Dalam

tabel

tersebut

ditunjukkan

bahwa MPC

=

0,8.

Ini

artinya

setiap

1

Rupiah pertambahan pendapatan maka 0,8 rupiah (80 sen) akan dibelanjakan

untuk konsumsi. Semakin besar MPC semakin besar pula bagian dari setiap

kenaikan pendapatan yang dipergunakan untuk konsumsi, dan sebaliknya.

Marginal Propensity

to Save (hasrat marginal untuk menabung).

Kolom (5) adalah MPS yang kepanjangannya adalah

∆S MPS = –––– ∆Y

∆S = perubahan tabungan ∆Y = perubahan pendapatan

Dalam tabel diatas MPS adalah 0,2, maka artinya bahwa sebesar 0,2 rupiah (20

sen), akan ditabung dari setiap kenaikan pendapatan sebesar satu rupiah.

Kalau diperhatikan Y = C + S maka

∆Y = ∆C + ∆S

maka

MPC

+

MPS

= 1

Kolom (6) adalah APC atau Average propensity to consume (hasrat merata

untuk mengkonsumsi).

C

APC = –––

Y

Besarnya APC berarti berapa rupiah yang dikonsumsi dari setiap rupiah

pendapatan atau berapa bagian dari pendapatan yang digunakan untuk konsumsi.

Kolom (7) adalah APS atau average Propensity to save(hasrat rerata untuk

menabung).

S

APS = –––

Y

Ini menunjukkan berapa besarnya bagian dari pendapatan yang ditabung.

Selanjutnya APC + APS = 1

25

fungsiConsumsi garis C=Y

Consumsi

garis C=Yfungsi Consumsi

E D I K N H M C F R 0 P A B
E
D
I
K
N
H
M
C
F
R
0
P
A
B

Titik K di sebut Break Event Point

Pendapatan sebesar OA di sebut Break Event Income

Konsumsi OH disebut Break event Konsumption

Daerah OCK adalah daerah dissaving.

Gambar 2.1. Fungsi Konsumsi Linier

Garis CD adalah fungsi konsumsi. Pada tingkat pendapatan 0P, konsumsi adalah

sebesar PM. Sehingga ada dissavings sebesar RM. Pada tingkatan pendapatan

OA, konsumsi sebesar AK, yang berarti bahwa semua pendapatan habis

dikonsumsi. Pada tingkat pendapatan OB, konsumsi sebesar BD, sehingga ada

tabungan sebesar DE. Pada

tingkat pendapatan OB, APC =

konsumsi yang linier seperti ini.

ND MPC = ––––– KN Pendapatan merupakan variabel bebas sedangkan konsumsi adalah variabel

tergantung.

Garis cc condong ke kanan atas, dan lebih landai di bandingkan garis 45 O

(garis C = Y), . ini berarti bahwa pertambahan konsumsi selalu lebih kecil

dibandingkan dengan pertambahan pendapatan.

Sehingga O< MPC < 1

BD

.

OB

., MPC selalu konstan untuk fungsi

26

Fungsi Konsumsi – Non Linier

Adalah merupakan suatu fungsi konsumsi dimana fungsi itu tidak berbentuk

garis lurus, MPC tidak konstan.

Tabel 2.2 Fungsi Konsumsi – Non Linier

Pendapatan Konsumsi Tabungan MPC MPS APC APS 1 2 3 4 5 6 7 0
Pendapatan
Konsumsi
Tabungan
MPC
MPS
APC
APS
1
2
3
4
5
6
7
0
400
-400
-
-
-
-
1000
1300
-300
0,9
0,1
1,300
0,300
2000
2000
0
0,7
0,3
1,000
0,000
3000
2500
500
0,5
0,5
0,833
0,167
4000
2800
1200
0,3
0,7
0,700
0,300
E
B
G
fungsi
C
consumsi non
A
linier
garis C=Y
0
X
Y
Pendapatan Nasional (Y)
Gambar 2.2. Fungsi Konsumsi Nonlinier
Pada
fungsi
konsumsi
non
linier,
MPC
tidak
konstan.
Secara
grafis
MPC
ditunjukkan oleh segitiga siku-siku yang terlukis dalam gambar itu. Yaitu sisi
Konsumsi (C)

tegaknya ( C) dibagi dengan alasnya (AY). MPC selalu semakin kecil dengan

semakin meningkatnya pendapatan nasional.

Ketika pendapatan sebesar X (berubah dari 0 menjadi X maka MPC adalah

sebesar

MPC

∆B

–––––

CA

27

Selanjutnya, hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. Nilai-nilai pendapatan maupun konsumsi yang terdapat didalam setiap tabel

konsumsi maupun fungsi konsumsi seperti tabel-tabel diatas di peroleh

dengan 2 cara :

a. Dengan memperhatikan pola konsumsi suatu masyarakat yang mempunyai

tingkat pendapatan berlainan sekaligus (dalam waktu bersamaan), dan

kemudian dibuat tabel maupun fungsi konsumsinya.

b. Dengan memperhatikan pola konsumsi suatu masyarakat, selama waktu

tertentu, kemudian dari data itu baru dibuat tabel dan fungsi konsumsinya.

Apabila cara kedua ini misalnya yang dipakai, maka nilai-nilai pendapatan

maupun konsumsi (dan juga tabungan) tentunya harus dimasukkan adalah

nilai-nilai menurut constant price, dan bukan market atau current price.

2. Jenis barang yang tercantum atau yang dicantumkan di dalam fungsi konsumsi

adalah semua barang konsumsi (bukan satu jenis barang saja).Keterangan

mengenai hal ini seperti yang diterangkan oleh Samuelson mengenai prioritas

konsumsi. Dimana di terangkan bahwa barang –barang untuk memenuhi

kebutuhan primer umumnya menduduki prioritas pertama di dalam usaha

pemenuhannya., selanjutnya diikuti oleh barang-barang untuk memenuhi

kebutuhan sekunder dan tertier.

Fungsi Tabungan

Fungsi tabungan dibuat berdasarkan fungsi konsumsi, baik gambar a maupun gambar b , DE = AB (dissavings) , dan JK = HI (savings). Pada pendapatan 0F konsumsi = FG (sudut G0F = 45 o ),sehingga tabungan = 0. Pada gambar a MPS

konstan

FM

HI

MPS

AM = FH

b

Pada

FM

gambar

HI

semakin

besar

dengan

semakin

besarnya

pendapatan

AM

< FH

Titik F = zero saving point

28

a. FungsiLinier

K Fungsi J konsumsi G E I garis C=Y C D B H 0 fungsi
K
Fungsi
J
konsumsi
G
E
I
garis C=Y
C
D
B
H
0
fungsi
F
tabungan
A
M
S
Pendapatan
C dan S

b. Fungsi Nonlinier

K G J E Garis C=Y C D fungsi tabungan I nonlinier 0 B H
K
G
J
E
Garis C=Y
C
D
fungsi tabungan
I
nonlinier
0
B
H
fungsi consumsi
nonlinier
S
A
Pendapatan
C dan S

Gambar 2.4. Fungsi Tabungan

Dari tabel-tabel dan gambar-gambar diatas dapat dikatakan bahwa apabila fungsi konsumsi merupakan fungsi linier, maka fungsi tabungan pun non linier pula. Apabila fungsi konsumsi non linier (cembung, tidak mungkin cekung), maka fungsi tabungan itupun akan cekung. Jika MPC = MPS maka fungsi konsumsi dan fungsi tabungan akan sejajar.

2.2.INVESTASI

Berasal dari bahasa Inggris Investment, dan terjemahannya kedalam bahasa Indonesia adalah “Penanaman modal”. Membeli selembar surat saham seharga

29

Rp.50.000,- belum bisa dikatakan melakukan investasi, sekalipun pengertian seperti itulah yang terjadi didalam percakapan sehari-hari. Menurut Profesor Ny. Joan Robinson, membeli selembar kertas saham bukanlah investasi, namun investasi berarti penambahan barang-barang modal baru (New capital Formation) konsumsi bersama investasi bisa membentuk sebuah perekonomian swasta dimana campur tangan emerintah maupun hubungan luar negeri tidak ada. Jadi disini GNP adalah penjumlahan konsumsi dan investasi. Secara lebih umum dapat dikatakan bahwa income terbentuk dari konsumsi dan investasi. Pada awal bab ini juga telah disebutkan bahwa pendapatan adalah gabungan dari konsumsi dan tabungan. Kalau kedua hal tersebut kita tulis dalam bentuk persamaan adalah sebagai berikut :

a. y = C + S

b. y = C + I,

maka

S = I.

Jadi dari persamaan itu dapat ditarik kesimpulan logis bahwa besarnya tabungan

harus sama dengan investasi tabungan dan investasi dilakukan oleh karena alasan yang berbeda-beda dan oleh orang-orang yang berbeda pula. Kedua persamaan tersebut diatas, harus dibaca dengan cara berbeda. pada pesmaan a menyatakan pendapatan sedangkan Y pada persamaan b menyatakan produk. Sudah diketahui pula pada bab 2 bahwa kedua variabel tersebut sama besarnya. Maka persamaan a dibaca “pendapatan dikeluarkan untuk tujuan konsumsi dan tabungan”, sedangkan persamaan b dibaca “produk total terdiri dari barang konsumsi dan barang investasi”. Jadi barang konsumsi dibeli dengan pengeluaran konsumsi, sedangkan barang-barang investasi dibeli dengan tabungan, sehingga tabungan sama besarnya dengan investasi. Menurut penggunaannya, pengeluaran untuk investasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu untuk keperluan (menurut tujuannya)

1. konstruksi (construction)

2. rehabilitasi atau perbaikan (rehabilitation)

3. ekspansi atau prluasan (expantion)

pembagian investasi menurut jenisnya, investasi dibagi menjadi 8 jenis yang

dikelompokkan menjadi 4 kelompok.

30

1. Autonomus investment dan induced inestment

Autonomus investment adalah :

Adalah investasi yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan,

tetapi dapat berubah oleh karena faktor-faktor diluar pendapatan seperti

teknologi, kebijakan pemerintah, harapan para pengusaha dan lain sebagainya.

Disni dikenal pula average Propensity to invest(API), yaitu rasio yang

menunjukkan berapa bagiankah dari pada seluruh pendapatan nasional yang

diinvestasikan.

API =

I

y

Kemudian dikenal juga MPI (Marginal Propensity to Invest) yaitu merupakan

rasio yang menyatakan berapa bagiankah dari pertambahan pendapatan yang

dikeluarkan untuk investasi.

MPI = y I

Tata cara perhitungan hampir sama dengan mencari MPC, APC.

2. Public Investment dan private Investment

Public investment adalah investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh

pemerintah.

Private investment adalah investasi yang dilakukan oleh swasta.

Public investment lebih diarahkan untuk melayani atau menciptakan

kesejahteraan masyarakat. Sedangkan Private Investment lebih diarahkan

untuk mencari keuntungan atau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan

ekonomi yang ketat.

3. Domestic Investment dan Foreign Investment

Domestic investment adalah penanaman modal dalam negeri didalam negeri,

sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing didalam suatu

negara.

4. Gross Investment dan Net Investment.

Gross Investment (investasi bruto) adalah total investasi yang dilakukan pada

suatu ketika (Investasi apa saja tidak memandang jenis).

31

Net Investment adalah selisih antara investasi bruto dengan penyusutan. Penyusutan mengandung arti hilangnya nilai sebagian (atau sekuruhnya) benda-benda modal atau barang-barang investasi, sebagai akibat penggunaan barang tersebut dalam proses produksi.

Penyusutan ada 2 macam yaitu, Technical depreciation (penyusutan teknis) yaitu penyusutan yang terjadi karena faktor umur (sudah rusak/aus), Economical depreciation, yaitu penyusutan yang terjadi karena faktor ekonomis, walau barang tersebut misalnya masih bagus secara teknis. Investasi merupakan cermin maju mundurnya perekonomian suatu negara. Dalam hal ini, terdapat tiga kriteria sebagai berikut :

a. jika investasi bruto > penyusutan, maka perekonomian tersebut akan mengalami kemajuan (progressing economy/investasi economy).

b. Jika investasi bruto = penyusutan atau dengan perkataan lain investasi

bruto hanya cukup untuk menutup penyusutan yang terjadi maka perekonomian tersebut tidak maju maupun tidak mundur (stationary economy).

c. Jika investasi bruto < penyusutan maka perekonomian yang bersangkutan mengalami kemunduran (degresing economy/disinvesting economy/retrogresing economy) Private investment atau induced investment yang dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan dipengaruhi pula oleh dua faktor utama yaitu suku bunga (he rate of interest) dan marginalefficiency of capital (besarnya keuntunganyg akan diperoleh dengan ditanamnya modal). Sedangkan suku bunga adalah tingkat hargadariuang yakni berapa persenkah dari sejumlah uang tertentu yang harus dikembalikan atau dibayarkan karena dipakainya uang itu. Bagi orang yang melakukan investasi dengan menggunakan uang pinjaman maka harus membandingkan antara marginal of efficiency capital (MEC) dengan suku bunga (rate of interest – ROI). Apabila MEC > ROI maka investasi dilakukan tapi jika ROI > MEC investasi sebaiknya tidak dilakukan. Namun bagi orang yang memiliki uang, sebelum berinvestasi maka dia akan berfikir bahwa

32

uangnya itu lebih baik dipinjamkan pada orang lain atau disimpan di bank, namun apabila MEC > ROI maka iaakan berfikir untuk melakukan investasi (opportunity to invest).

2.3.Keseimbangan Pendapatan Nasional Didepan sudah dijelaskan bahwa pendapatan nasional akan terjadi pada suatu tingkat dimana tabungan sama dengan investasi.

y

= C + S

y

= C + I

S

= I

Dalam penjelasan ini akan diasumsikan bahwa perekonomian yang bersangkutan adalah perekonomian swasta dan tetrutup (suatu perekonomian yang terbentuk dari unsur investasi dan konsumsi saja tanpa adanya pengeluaran pemerintah dan hubungan perdagangan luar negari), dan investasi yang dilaksanakan adalah investasi otonom saja. Karena dengan mengetahui analisis ini maka penyertaan penanan pemerintah maupun luar negeri maupun jenis investasi lain tinggal akan mengikuti jalur analisis ini. sebelum memasuki inti permasalahan maka diuraikan beberapa istilah maupun pengertiannya. Apa yang dimaksud dengan pendapatan nasional adalah apa yang harus dibayarkan oleh business untuk para penerima pendapatan yakni yang berupa upah, gaji, sewa, bunga, dividen, laba. Semua jumlah yang dibayarkan tersebut disebut cost of national outfut (biaya untuk menghasilkan out put nasional). Dengan demikian besar cost of nasional out put ini sama dengan pendapatan nasional (sebab keduanya adalah dua istilah untuk satu macam hal saja). Didalam gambar 2.1 yang lalu, the cost of national out put ini tergambar pada lajur bagian terbawah, sedang pendapatan nasional pun digambarkan olehnya. Dilain pihak business akan menerima jumlah yang akan diberikan oleh para pembeli untuk semua pembelian akan barang (barang konsumsi maupun barang investasi), dan jasa-jasa, dalam gambar 2.1 pada lajur bagian teratas.

33

Kedua jumlah itu harus sama. keadaan inilah yang disebut sebagai keadaan keseimbangan pendapatan nasional.

H E I G fungsi tabungan 0 M F investasi otonom S C dan I
H
E
I
G
fungsi
tabungan
0
M
F
investasi
otonom
S
C dan I

Pendapatan

Gambar 2.5. Pendapatan Nasional Keseimbangan Melalui Pendekatan Injeksi = Kebocoran Pendapatan nasional mencapai keseimbangan jika S=I. Ini dicapai pada tingkat pendapatan nasional OM Tingkat pendapatan nasional yang lain adalah ketidakseimbangan. Pada tingkat pendapatan nasional 0FS > I, akibtnya para pengusaha merasa kesulitan menjual output nya, merekapun mengurangi produksinya, sehingga output turun lagi menjadi OM.

Pada gambar diatas terlihat bahwa keseimbangan pendapatan nasional tercapai pada tingkat OM. Tingkat pendapatan nasional ini tercapai sebesar OM karena adanya keseimbangan dari fungsi tabungan dan fungsi investasi dititik E semua kekuatan di luar titik M akan selalu mengarah ke titik M lagi. Jadi pendapatan keseimbangan (equilibrium income) harus dan hnaya terjadi dititik E saja. Pendapatan pada titik F (lebih tinggi dari OM), pengeluaran untuk investasi akan lebih kecil dari seluruh tabungan masyarakat, sehingga pengeluaran total untuk barang konsumsi maupunbarang investasi menjadi lebih kecil daripada cost of national output. Oleh karena itu para pengusaha tidak mampu menjual seluruh output yang dihasilkannya. Dengan sendirinya hal ini akan mendorong para pengusahauntuk mengurangi jumlah produksi mereka, dan mengurangi para karyawannya.

34

Akibatnya adalah pendapatan nasional akan terus turun selama investasi lebih kecil dari tabungan (selama pendapatan nasional masih berada disebelah kanan titik M) sampai tiba pendapatan nasional pada titik M. Pada saat titik M tercapai maka masyarakat akan menabung jumlah yang sama dengan pengeluaran investasi dari para pengusaha. Dengan cara yang sama, jika pendapatan berada pada titik yang terletak disebelah kiri titik M maka para pengusaha akan melakukan investasi yang lebih besar dari pada yang ditabung oleh masyarakat. Dalam keadaan ini pengeluaran total untuk barang konsumsi dan barang investasi akan cenderung untuk lebih besar daripada cost of nasional output. Keuntungan pengusaha semakin besar, pegawai digaji lebih banyak, pendapatan meningkat, sehingga pendapatan nasional meningkat, sehingga sampai pada tingkat keseimbangan pendapatan pada titik M. Cara pertama untuk menentukan keseimbangan pendapatan nasional diatas disebut :S = I approach (pendekatan S = I) Cara keduayang bisa dipakai untuk menentukan keseimbangan pendapatan nasional adalah C + I approach. Cara ini juga berpatokan pada pertanyaan apakah pengeluaran total (yaitu konsumsi plus investasi) pada setiap tingkat pendapatan nasional sama dengan the cost of national output ?. jika lebih kecil maka produksi akan merosot dan jika lebih besar maka produksi akan meningkat, dan jika sama maka equilibrium income akan tercapai.

35

fungsi35 Consumsi garis C=Y C + I E E 0 M C dan I Pendapatan nasional

Consumsi

garis C=Y35 fungsi Consumsi C + I E E 0 M C dan I Pendapatan nasional Gambar

C + I35 fungsi Consumsi garis C=Y E E 0 M C dan I Pendapatan nasional Gambar 2.6

E E 0 M C dan I
E
E
0
M
C dan I

Pendapatan nasional

Gambar 2.6 Pendapatan Nasional Keseimbangan Pendekatan AS=AD, Sumbu datar menggambarkan aggregate suplai (AS), sumbu tegak mewakili aggregate demand (AD). Pendapatan nasional keseimbangan terjadi jika AS=AD, di titik E pd tingkat pendapatan nasional OM.

Tingkat equilibrium income terjadi pada titik E (hanya pada titik E) sebab pada titik ini pengusaha menerima kembali hasil penjualannya persis sama dengan cost of national output. Garis 45 O berpotongan dengan fungsi C + I pada titik E, dan bila ditarik garis kebawah maka didapati titik M. OM = ME sebab segitiga OME adalah sama kaki. Jarak ME adalah pengeluaran total atau pembelian total untuk seluruh barang konsumsi maupun baragn investasi, sedangkanjarak OM adalah pendapatan nasional (cost of national output).

Contoh penentuan keseimbangan pendapatan nasional Pada table 2.3Tingkat keseimbangan pendapatan nasional terjadi ketika pendapatan mencapai sebesar Rp.170,- milyar, pada saat itu tabungan persis sama dengan investasi sebesar Rp.20,- milyar.

36

Apa yang dijelaskan mengenai keseimbangan pendapatan nasional diatas adalah untuk perekonomian swastadan tertutup namun bagaimana jika ada campur

tangan pemerintah dan terbuka (adalah perdagangan luar negeri). Untuk itu dapat dilihat pada gambar2.9 dibawah ini.

Tabel 2.3

Penentuan Pendapatan Nasional (dalam milyar rupiah)

       

Jml yg

Jml yg

pendapat

 

Y

C

S

I

harus

harus

an

 

dibayarkan

diterima

busines

busines

a 70

90

 

-20

 

20

70

110

Naik

b 95

105

 

-10

 

20

95

125

naik

c 120

120

 

0

 

20

120

140

Naik

d 145

135

 

10

 

20

145

155

Naik

e 170

150

 

20

 

20

170

170

tetap

f 195

165

 

30

 

20

195

185

Turun

g 220

180

 

40

 

20

220

220

Turun

37

fungsi Consumsi garis C=Y C + I C +I+G C+I+G+(X-M) C dan I
fungsi
Consumsi
garis C=Y
C
+ I
C
+I+G
C+I+G+(X-M)
C dan I

0 Pendapatan nasional

Gambar 2.7 .Tingkat-tingkat Perekonomian

38

III. MULTIPLIER

Sudah dijelaskan didepan bahwa pendapatan nasional dapat berubah karena terjadinya perubahan harga, perubahan output, maupun perubahan kedua- keduanya. Perubahan pendapatan karena perubahan output adalah perubahan riil yang terjadi dalam salah satu atau lebih komponen-komponen pendapatan nasionalnya. Dalam sebuah closed and private economy dimana Y= C + I, maka perubahan pendapatan nasional mungkin sekali karena adanya perubahan konsumsi atau perubahan investasi atau karena kedua-keduanya. Uraian ini akan membahas mengenai bagaimanakah pendapatan nasional berubah karena adanya perubahan didalam pengeluaran investasi. Untuk lebih memahami akan diambil sebuah contoh sederhana. Misalkan pada suatu saat keadaan pendapatan nasional dalam keadaan seimbang sebesar Rp.170 milyar seperti yang ditunjukkan oleh tabel 3.3 pada saat itu MPC adalah konstan sebesar 3/5 atau 0,6 (dan dengan demikian MPS adalah 2/5 atau 0,4). Investasi otonom sebesar Rp.20,- milyar. Dalam keadaan seperti itu, diadakan tambahan investasi (additional investment) sebesar Rp.10,- milyar terhadap investasi semula (initial investment). Sehingga investasi total kini sebesar Rp.30,- milyar. Apakah dengan demikian juga berarti bahwa pendapatan nasional akan meningkat sejumlah Rp. 10,- milyar pula, jawabnya “tidak”. Penjelasannya sebagai berikut:

Katakanlah investasi 10,- milyar itu dikeluarkan oleh pemerintah. Uang sebesar itu saat itu telah menambah pendapatan nasional sejumlah itu pula, kemudian diterima oleh orang (siapapun). Karena MPC adalah 0,6 maka Rp.6 milyar dari.10,- milyar akan dikeluarkan untuk konsumsi. Jumlah Rp.6,- milyar itu juga ada orang yang menerima dan orang ini juga akan mengeluarkan 0,6 x 6 milyar adalah sebesar Rp.3,6 milyar . dan seterusnnya.

39

Bagian dari setiap pertambahan yang tidak dikonsumsi itu sebesar Rp. 4,-

milyar (orang pertama) dan Rp. 2,4 milyar (orang kedua), jumlah ini merupakan

jumlah yang ditabung, sebab MPS adalah 0,4.

Kejadian diatas berlangsung terus dengan cara seperti itu sampai tidak

terhingga kali.Semua pertambahan konsumsi tadi akan menambah pendapatan

nasional sebab konsumsi adalah salah satu komponen pendapatan nasional.

Pertambahan tersebut adalah :

Rp.10 + 0,6 x 10 + 0,6 x 0,6 x 10 + 0,6 x 0,6 x 10 + …

Atau Rp. 10 + 0,6 x 10 +(0,6) 2 x 10 + (0,6) 3 x 10 + …

Jadi menurut ilmu matematika penjumlahan deret ukur seperti itu adalah

10

––––––– 1 – 0,6

Milyar, atau

= Rp.25 milyar

Dengan kata lain pertambahan investasi sebesar Rp.10 milyar maka akan menambah pendapatan nasional sebesar Rp.25 milyar, jadi penambahan investasi akan melipat gandakan pendapatan nasional sehingga pendapatan nasional menjadi Rp.195 milyar. Pelipat gandaan itu adalah I ––––––––

=

Y

1– MPC

Jadi faktor pelipat ganda (multiplier) tersebut yang disebut koefisien multiplier

pengganda adalah :

1

1

––––––––

1– MPC

atau

–––––––

MPS

Dalam

kebanyakan

litelature

koefisien

1

adalah 0,4

atau 2,5 diberi notasi “k”.

multiplier

yang

dalam

k

=

1

=

1

 

1

MPC

MPS

 

Y

=

I

=

I

=

I

x

k

 

1

MPC

MPS

contoh

diatas

40

Semakin miskin suatu negara maka MPC nya akan semakin tinggi. Semakin besar MPC akan semakin besar koefisien multipliernya, ini artinya bahwa menanam modal dinegeri miskin (namun dengan mekanisme pasar yang cukup) akan sangat membantu pertumbuhan pendapatan nasional negara yang

bersangkutan. Apabila dilihat dari contoh diatas terlihat bahwa kenaikan pendapatan nasional Rp.25,- milyar, sebenarnya adalah kenaikan investasi sebesar Rp.10,- milyar ditambah dengan kenaikan konsumsi sebesar Rp.15,- milyar.

Y

25

C

=

=

=

C

C

+

+

I

10

15,- milyar

Hubungan

antar

pengganda

investasi

dengan

keseimbangan

pendapatan

nasional di gambarkan oleh grafik pada gambar 3.1 dan 3.2 dibawah ini.

I fungsi tabungan I 0 170 195 I+AI S Pendapatan S dan I
I
fungsi
tabungan
I
0
170
195
I+AI
S
Pendapatan
S dan I

Gambar 3.1Pegganda Investasi Melalui Pendekatan S=I Mula-mula pendapatan nasional keseimbangan =Rp. 170, milyar (dimana S = I), dengan ditambahnya investasi sebesar Rp.10,- milyar, terjadilah proses

pengganda (multiplier) sehingga pendapatan nasional (meningkat sebesar Rp.25,-

195 muilyar,dimana

milyar) S = I+

menjadi

∆I

41

170 195 C dan I
170
195
C dan I

120

Pendapatan

C C +I C +I +AI C=Y
C
C +I
C +I +AI
C=Y

Gambar 3.2

pengganda investasi melalui pendekatan

AS = AD

Mula-mula pendapatan nasional keseimbangan adalah sebesar Rp.170,- milyar

(dimana Y = C + I).dengan ditambahnya investasi sebesar Rp.10,- milyar, terjadilah

proses pengganda (multiplier), sehingga pendapatan nasional meningkat (sebesar

Rp.25 milyar) menjadi Rp.195 milyar [dimana Y = C + (I + ∆I)]

Contoh diatas adalah jika investasi meningkat.Namun jika investasi menurun maka

akan mengakibatkan penurunan pendapatan nasional sebesar ∆Y = k x ∆I

Misal dalam contoh diatas jika keseimbangan pendapatan semula 170 milyar, jika

terjadi pengurangan investasi sebesar Rp. 10 milyar maka.

Y =

1

x

I

MPS

1

=

x

(-10)

 

0,4

=

Rp. – 25,- milyar

Jadi

milyar.

dalam

kasus

ini

terjadi

penurunan

pendapatan

nasional

sebesar

Rp.25

42

IV. INFLASI DAN DEFLASI

4.1. INFLASI

Pengertian inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinyu) dan saling pengaruh mempengaruhiatau Atau inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga.Artinya tingkat harga yang tinggi belum tentu menujjukakan inflasi

A

Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan:

Jenis-jenis

Inflasi

Inflasi ringan, kurang dari 10% setahun

Inflasi sedang , antara 10% - 30% setahun

Inflasi berat, antara 30% - 100% setahun

B

Dampak

Inflasi

a. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi.

Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

43

b. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi

daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga namun jika tingkat inflasi diatas bunga , nilai uang tetapsaja turun. Bila orang enggan menabung , dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.

Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitutr), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada debitur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam . Sebaliknya kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengambilan lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

c. Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

C. Penyebab Terjadinya Inflasi Inflasi dapat disebabkan karena :

Permintaan meningkat Inflasi karena permintaan meningkat (demand full inflation) terjadi akibat adanya permintaan yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya

44

permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap factor-faktor produksi.

Meningkatnya permintaan terhadap factor-faktor produksi hal ini menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.

Meningkatnya biaya-biaya produksi Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.

Faktor-faktor yang menyebakan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut :

a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemasmpuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa

b. Tuntutan kenaikan upah dari pekerja

c. Kenaikan hargha barang import

d. Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru

e. Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998, akibatnya angka inflasi mencapai 70%.

D. Mengukur Inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga tersebut diantaranya:

Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index(CPI), adalah indeks yang mengukurharga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.

Indeks biaya hidup atau cost-of-living index(COLI)

Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen melalui proses produksi.

45

IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.

Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu

Indeks harga barang-barang modal

Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi dan jasa

4.2. DEFLASI

A.Pengertian

deflasi

Deflasi adalah meningkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat. Dalam ekonomi deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah. Defalsi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang yang beredar. Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga.

B.Penyebab Terjadinya Deflasi ada empat :

1. Menurunnya persediaan uang di masyarakat

2. Meningkatnya persediaan barang

3. Menurunnya permintaan akan barang

4. Naiknya permintaan akan uang

Dampak Terjadinya Deflasi

Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan

uang di masyarakat

46

dan akan menyebabkan depresi besar (seperti yang dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar Investasi (Saham) akan mengalami kekacauan. Karena harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampu

an untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh

deflasi (deflationary spiral).

Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang akhirnya

mengalami PHK karena pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji karyawannya (lha barang tidak laku, mau bayar dari mana?). Dengan demikian pendapatan yang diterima masyarakat menjadi sedikit dan jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin berkurang.

pada

spiral

Dari sisi investasi, deflasi juga mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil maupun di lantai bursa. Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi dikarenakan tidak ada lagi aktivitas bisnis yang berjalan.

Deflasi juga dapat menyebabkan suku bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu diikuti juga dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan langkah paliatif untuk mencegah masyarakat menyimpan uangnya di bank yang dapat membuat peredaran uang semakin kecil. Cara Mengatasi Deflasi Untuk mencegah deflasi menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang terkait harus bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ara ahli ekonomi menyatakan bahwa deflasi merupakan kondisi krisis moneter yang sebenarnya tidak memiliki obat yang efektif. Apabila pad a inflasi bank Sentral dapat menaikkkan suku bunga untuk menahnnya , menanggulangi terjadinya deflasi dengan menurunkan suku bunga bahkan hingga nol persen tapi hal ini bukanlah jalan keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah menjadi nol juga atau bahkan negative. Belim lagi hal ini akan memicu aksi spekulan luar negeri yang dapat menjalankan Carry Trade sehingga nilai uang justru menjadi jatuh. Akibatnya, biaya uimpor menjadi terbebani sementara ekspor tidak menunjukkan kenaikan segnifikan

47

berhubung melemahnya mata uang disebabkan oleh aksi spekulan semata-mata. Cara yang digunakan adalah memberikan stimulus ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sector bisnis. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintah juga dapaqt memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk menggairahkan perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sector swasta dan menukarnya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan memotong suku bunga . Menurunkan suku bunga bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar pengobatan sementara untuk mengairahkan ekonomi dan mengharapkan harga bergerak naik dengan sendirinya

48

DAFTAR PUSTAKA

Ackley, Gardner, 1973. Macroeconomic Theory, diterjemahkan oleh Paul Sitohang sebagai Teori Ekonomi Makro.Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1973.

Iskandar Putong, 2000. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro, Ghalia Indonesia.

Partadireja

Ace,

BBFE.

1985.

Pengantar

ekonomika,

Rahardja

Pratama,Mandala

Manurung,

Penerbit FEUI, Jakarta.

2003.

UGM.

Edisi

Teori

Ekonomi

ke

4,

Yogyakarta

Mikro.

Lembaga

Rohmad,2012. Diktat Kuliah Ilmu Ekonomi , Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kediri, Kediri Jawa Timur. Samuelson, Paul A.,1980. Economics, Ninth Edition, International Student,Boston University

Suherman

Ekonomi

Mikro dan Makro. Edisi keenam. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rosyidi,2003.

Pengantar

Teori

Ekonomi,pendekatan

Teori

Sukirno Sadono, 2004. Jakarta.

Pengantar teori Ekonomi. PT. Raja Grafindo Persada,

Sumarni Murti, John Suprihanto, 2003.

Pengantar Bisnis, Dasar-dasar Ekonomi

Perusahaan. Penerbit Liberty Yogyakarta.

Winardi,1983.

Pengantar Ilmu Ekonomi, edisi

ke-VI. Tarsito, Bandung.