Anda di halaman 1dari 14

X

1.1 Latar Belakang

Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia yang terletak dalam
mediastinum di antara kedua paru-paru. Jantung memiliki fungsi utama sebagai pemompa darah.
Jantung merupakan salah satu organ yang tidak pernah beristirahat Dalam keadaan fisiologis,
pembentukan rangsang irama denyut jantung berawal dari nodus sinoatrial (nodus SA) dan
menyebar ke serat otot lainnya sehingga menimbulkan kontraksi jantung. Jika rangsang irama
ini mengalami gangguan dalam pembentukannya dan penghantarannya, maka dapat terjadi
gangguan pada kinerja jantung.

Gangguan pada sistem kardiovaskuler merupakan masalah kesehatan utama yang dialami
masyarakat pada umumnya. Hal ini dikarenakan, jantung mempunyai suatu sistem pembentukan
rangsang tersendiri. Pada zaman modern ini. Angka kejadian penyakit jantung semakin
meningkat. Baik di Negara maju maupun berkembang, penyebab yang sering ditemukan adalah
gaya hidup misalnya, diet yang salah, stress, kondisi lingkungan yang buruk, kurang olahraga,
kurang istirahat dan lain-lain. Diet yang salah, seperti terlalu banyak mengkonsumsi junk food
yang notabene banyak mengandung kolesterol jahat, yang berujung pada kegagalan jantung.
Apalagi ditambah dengan lingkungan yang memiliki tingkat stressor tinggi, kurang olahraga,
dan istirahat, maka resiko untuk terkena penyakit jantung akan semakin tinggi,

Berbagai macam penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, infark miokard akut,
hipertensi yang semuanya berujung pada gagal jantung. Hal ini sangat membahayakan bagi
kehidupan seseorang, sehingga untuk mencegah komplikasi lebih lanjut harus segera mendapat
perawatan medis di rumah sakit.

Untuk mrmberikan perawatan medis yang tepat dan efektif, khususnya bagi tenaga keperawatan,
harus memahami konsep asuhan keperawatan pada gangguan kardiovaskuler. Apalagi dalam
keadaan kedaruratan yang membutuhkan keahlian dalam memberikan pertolongan pada pasien.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja yang tercantum dalam pengkajian klien dengan gagal jantung?
2. Apa saja macam pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien dengan gagal
jantung?
3. Bagaimanakah diagnosa dan intervensi keperawatan kepada klien dengan gagal jantung?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui hal-hal yang terkaji dalam pengkajian klien dengan gagl jantung.
2. Mengetahui macam-macam pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien dengan
gagal jantung.
3. Mengetahui diagnosa dan intervensi keperawatan kepada klien dengan gagal jantung.
1.4 Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh yaitu dapat menambah pengetahuan seputar asuhan keperawatan
klien dengan Gagal jantung.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Gagal Jatung adalah suatu keadaan patolofisiologis berupa kelainan fungsi jantung
sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolism
jaringan dan atau kemampuannya ada kalau disertai peninggian volume diastolik secara
abnormal.

2.2 Epidemiologi

Gagal jantung merupakan akhir fungsi ventrikel yang merosot akibat berbagai penyakit
jantung. Gagal jantung bukan suatu diagnosa. Untuk dapat member terapi yang tepat perlu
diketahui etiologi ggal jantung. Di Eropa dan Amerika Utara penyebab utama gagal jantung
adalah iskemia akibat penyakit arteria koronaria(70%). Kausa sindrom klinis gagal jantung
umumnya adalah disfungsi ventrikel kiri. Disfungsi ventrikel kanan jarang, dapat terjadi akibat
hipertensi pulmonal kronis, emboli paru masif.

2.3 Etiologi

Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi
ventrikel dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel. Faktor pencetus termasuk
meningkatnya asupan garam, ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung,
IMA(mungkin yang tersembunyi), serangan hipertensi, aritmia akut, infeksi atau demam, emboli
paru, anemia, tirotoksikosis, kehamilan dan endokarditis infektif.

2.4 Klasifikasi

Jantung terdiri dari empat ruangan yaitu atrium kanan dan atrium kiri yang dipisahkan
oleh septum intratrial, serambi kanan dan serambi kiri yang dipisahkan oleh septum
intraventrikuler. Gagal jantung dapat terjadi pada salah satu bagian jantung misalnya jantung
bagian kiri ataupun jantung bagian kanan, dan juga bisa terjadi pada kedua-duanya. Kondisi
pada penyakit gagal jantung bukanlah berarti bahwa jantung berhenti bekerja (cardiac arrest),
melainkan jantung tidak mampu lagi memompakan darah seperti biasanya yang terjadi pada
orang normal tanpa kelainan gagal jantung.
Gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan
darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir
diastolic dalam ventrikel kiri dan volum akhir diastolic dalam ventrikel kiri meningkat.
Sedangkan gagal jantung kanan karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel
kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun tanpa didahului oleh adanya gagal
jantung kiri. Bila gangguan jantung kiri dan jantung kanan terjadi bersamaan. Dalam keadaan
gagal jantung kongestif, curah jantung menurun sedemikian rupa sehingga terjadi bendungan
sistemik bersama dengan bendungan paru.

2.5 Patofisiologi

Sindrom gagal jantung disebabkan oleh beberapa komponen:

1. Ketidak mampuan miokard untuk berkontraksi dengan sempurna mengakibatkan stroke


volum dan cardiac output menurun.
2. Beban sistolik yang berlebihan diluar kemampuan ventrikel(systolic overload)
menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan curah
ventrikel.
3. Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel(diastolic overload) akan
menyebabkan volume dan tekanan pada akhir diastolic dalam ventrikel meninggi.
4. Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja jantung dimana
jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan gagal jantung walaupun
curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mamu untuk memenuhi kebuthuna sirkulasi
tubuh.
5. Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk kedalam ventrikel atau
pada aliran balik venous return akan menyebabkan pengeluaran atau output ventrikel
berkurang dan curah jantung menurun.

Gagal jantung kanan maupun kiri dapat disebabkan oleh beban kerja(tekanan atau volume) yang
berlebihan dan atau gangguan otot jantung itu sendiri. Beban volume atau preload disebabkan
karena kelainan ventrikel memompa darah lebih banyak semenit sedangkan beban tekanan atau
afterload disebabkan oleh kealinan yang meningkatkan tahanan terhadap pengaliran darah ke
luar jantung. Kelainan atau gangguan fungsi miokard dapat disebabkan oleh menurunnya
kontraktilitas dan oleh hilangnya jaringan kontraktil ( infark miokard ).Dalam menghadapi
beban lebih, jantung menjawab ( berkompensasi ) seperti bila jantung menghadapi latihan fisik.
Akan tetapi bila beban lebih yang dihadapi berkelanjutan maka mekanisme kompensasi akan
melampaui batas dan ini menimbulkan keadaan yang merugikan. Manifestasi klinis gagal
jantung adalah manifestasi mekanisme kompensasi.

2.6 Manifestasi Klinis

Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan, gagal jantung terbagi atas
gagal jantung kiri, gagal jantung kanan, dan gagal jantung kongestif. Gejala dan tanda yang
timbulpun berbeda, sesuai dengan pembagian tersebut.
Pada gagal jantung kiri terjadi dyspneu d’effort, fatig, ortopnea, dispnea nocturnal paroksismal,
batuk, pembesaran jantung, Irama derap, ventricular heaving, takikardi, pulsus alternans, ronchi
dan kongesti vena pulmonalis. Pada gagal jantung kanan timbul fatig, edema, anoreksia dan
kembung. Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan hipertrofi jantung kanan, heaving ventrikel
kanan, irama derap atriu kanan, murmur, tanda-tanda penyakit paru kronik, tekanan vena
jugularis meningkat, asites, hidrotoraks, peningkatan tekanan vena, hepatomegali, dan edema
pitting. Sedng, pada gagal jantung kongestif terjadi manistasi gabungan gagal jantung kiri dan
kanan.

New York Association (NYHA)membuat klasifikasi fungsioanal dalam empat kelas:

- Kelas 1 : Bila pasien dapat melakukan aktifitas berat tanpa keluhan.

- Kelas 2: Bila pasien tidak dapat melakukan aktifitas lebih berat dari aktifitas sehari-hari
tanpa keluhan.

- Kelas 3 : Bila pasien tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa keluahan.

- Kelas 4: Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktifitas apapun dan harus tirah
baring.

2.7 Pemeriksaan diagnostic

1. EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia kerusakan pola
mungkin terlihat. Disritmia mis : takhikardi, fibrilasi atrial. Kenaikan segmen ST/T
persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard menunjukkan adanya aneurime
ventricular.
2. Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam
fungsi/struktur katub atau are penurunan kontraktilitas ventricular.
3. Skan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding.
4. Kateterisasi jantung : Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan
gagal jantung sisi kanan dan sisi kiri, dan stenosi katup atau insufisiensi. Juga mengkaji
potensi arteri koroner. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran
bnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontrktilitas.
5. Rontgen dada

Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi


atau hipertropi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah abnormal.

1. Oksimetri nadi

Saturasi Oksigen mungkin rendah terutama jika gagal jantung kongestif akut
menjadi kronis.

1. Analisa gas darah (AGD)


Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkaliosis respiratori ringan (dini) atau
hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir).

1. Blood ureum nitrogen (BUN) dan kreatinin

Peningkatan BUN menunjukkan penurunan fungsi ginjal. Kenaikan baik BUN


dan kreatinin merupakan indikasi gagal ginjal.

1. Pemeriksaan tiroid

Peningkatan aktifitas tiroid menunjukkan hiperaktifitas tiroid sebagai pre


pencetus gagal jantung kongesti

2.8 Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan adalah :

1. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.


2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokarium dengan preparat
farmakologi
3. Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi
antidiuretik, diit dan istirahat.

Terapi Farmakologis :

1. Glikosida jantung.
Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi
jantung. Efek yang dihasilkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan
volume darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema
2. Terapi diuretik.
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui ginjal.Penggunaan harus hati –
hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia.
3. Terapi vasodilator.
Obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadansi tekanan terhadap
penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan
peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.
4. Diet
Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.

2.9 Komplikasi

Komplikasi dapat berupa :


1. Kerusakan atau kegagalan ginjal

Gagal jantung dapat mengurangi aliran darah ke ginjal, yang akhirnya dapat menyebabkan gagal
ginjal jika tidak di tangani. Kerusakan ginjal dari gagal jantung dapat membutuhkan dialysis
untuk pengobatan.

1. Masalah katup jantung

Gagal jantung menyebabkan penumpukan cairan sehingga dapat terjadi kerusakan pada katup
jantung.

1. Kerusakan hati

Gagal jantung dapat menyebabkan penumpukan cairan yang menempatkan terlalu banyak
tekanan pada hati. Cairan ini dapat menyebabkab jaringan parut yang mengakibatkanhati tidak
dapat berfungsi dengan baik.

1. Serangan jantung dan stroke.

Karena aliran darah melalui jantung lebih lambat pada gagal jantung daripada di jantung yang
normal, maka semakin besar kemungkinan Anda akan mengembangkan pembekuan darah, yang
dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung atau stroke

2.10 Prognosis

Natural history gagal jantung yang tak diterapi tidak diketahui. Natural history penderita gagal
jantung yang mendapat terapi adalah sebagai berikut :

Kelas NYHA Mortalitas 5 tahun (5%)


I 10-20
II 10-20
III 50-70
IV 70-90

Faktor-faktor penentu prognosa :

1. NYHA kelas III-IV


2. Kapasitas latihan yang rendah (VO2 max <10 ml/kg/menit)
3. Irama gallop
4. Kausa gagal jantung : penyakit jantung koroner
5. Kardiomegali
6. Takikardia ventrikel, denyut ektopik ventrikel polimorfik.

Dua factor teratas merupakan predicator independen dari prognosa yang buruk.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Anamnesa
1. Pengumpulan data : nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat
2. Riwayat Penyakit / keluhan utama : Lemah saat meakukan aktivitas, sesak nafas
3. Riwayat penyakit sekarang :

- Penyebab kelemahan fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.

- Seperti apa kelemahan melakukan aktifitas yang dirasakan, biasanya disertai sesak nafas.

- Apakah kelemahan fisik bersifat local atau keseluruhan system otot rangka dan apakah
disertai ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.

- Bagaimana nilai rentang kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

- Kapan timbulnya keluhan kelemahan beraktifitas, seberapa lamanya kelemahan


beraktifitas, apakah setiap waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.

1. Riwayat Penyakit dahulu :

- Apakah sebelumnya pernah menderita nyeri dada, darah tinggi, DM, hiperlipidemia.

- Obat apa saja yang pernah diminum yang berhubungan dengan obat diuretic, nitrat,
penghambat beta serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.

1. Riwayat penyakit keluarga : Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah
anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.
2. Riwayat pekerjaan/ kebiasaan :

- Situasi tempat kerja dan lingkungannya

- Kebiasaan dalam pola hidup pasien.

- Kebiasaan merokok

1. Pengkajian
1. BREATHING
• Terlihat sesak
• Frekuensi nafas melebihi normal
2. BLEEDING
• Inspeksi : adanya parut, keluhan kelemahan fisik, edema ekstrimitas.
• Palpasi : denyut nadi perifer melemah, thrill
• Perkusi : Pergeseran batas jantung
• Auskultasi : Tekanan darah menurun, bunyi jantung tambahan
3. BRAIN
• Kesadaran biasnya compos mentis
• Sianosis perifer
• Wajah meringis, menangis, merintih, meregang dan menggeliat.
4. BLADDER
• Oliguria
• Edema ekstrimitas
5. BOWEL
• Mual
• Muntah
• Penurunan nafsu makan
• Penurunan berat badan
6. BONE
• Kelemahan
• Kelelahan
• Tidak dapat tidur
• Pola hidup menetap
• Jadwal olahraga tak teratur
7. PSIKOSOSIAL
• Integritas ego : menyangkal, takut mati, marah, kuatir.
• Interaksi social : stress karena keluarga, pekerjaan, kesulitan biaya ekonomi,
kesulitan koping.

3.2 Diagnosa

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial, frekue


dan konduksi listrik.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolus yang
diakibatkan oleh tekanan kapiler paru.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya curah jantung/meningkatnya
produksi ADH dan retensi natrium/air.
4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai okigen, kelemahan
umum, dan immobilisasi.
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi berhubungan dengan kurang pemahaman tentang
kondisi gagal jantung.
3.3 Intervensi

No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi R


1 Penurunan curah jantung berhubungan -Curah jantung menunjukkan tanda vital 1. Auskultasi nadi apikal dan
dengan perubahan kontraktilitas mencukupi kebutuhan dalam batas yan bisa mengkaji frekuensi, irama
miokardial, frekuensi, irama dan individual diterima jantung .
konduksi listrik
-komplikasi teratasi -melaporkan penurunan
dispnea
-tingkat aktivitas
optimal -ikut serta dalam
aktivitas yang
-proses penyakit mengurangi beban kerja
dimengerti jantung 2. Catat bunyi jantung

3. Mengkaji kulit terhadap


adanya pucat dan sianosis
4. Berikan oksigen tambahan
dengan kanula nasal/masker
dan obat sesuai indikasi
(kolaborasi)

2 Pola nafas tidak efektif Pola nafas efektif 1. Pola nafas 1. Monitor kedalaman T
setelah dilakukan kembali teratur pernafasan, m
tindakan keperawatan 2. RR kembali frekuensi, dan m
selam di RS, RR normal 16-24 ekspansi dada.
Normal , tak ada bunyii x/menit 2. Catat upaya
nafas tambahan dan pernafasan termasuk
penggunaan otot Bantu penggunaan otot
pernafasan. Dan GDA Bantu nafas
Normal 3. Auskultasi bunyi
nafas dan catat bila
ada bunyi nafas
tambahan

4. Tinggikan kepala
(posisikan
semifowler) dan
Bantu untuk
mencapai posisi yang
senyaman
mungkin.Kolaborasi
pemberian Oksigen
dan px BGA

1. Ajarkan klien nafas


dalam
2. Mengetahui tingkat
kebutuhan oksigen
berlebih

3. Mengindikasikan
terapi oksigen

4. Menyatakan adanya
kongesti paru atau
penumpukan secret.
Menunjukkan
kebutuhan adanya
intervensi lanjut
5. Meningggikan kepala
dan memposisikan
semi fowler
mengurangi beban
dan meringakan
upaya untuk
bernapas,

3 Gangguan pertukaran gas berhubungan Gangguan pertukaran Menunjukkan status 1.Pantau bunyi nafas dan
dengan perubahan membran kapiler- gas berkurang atau pernafasan yang normal catat adanya crackles pada
alveolus yang diakibatkan oleh tekanan hilang berdasarkan : pasien.
kapiler paru.
PaO2 PaCO2, pH arteri,
dan saturasi o2 dalam
batas normal

2.Ajarkan/anjurkan pasien
batuk efektif, nafas dalam.

3.Membantu pasien untuk


melakukan perubahan posisi
secara berkala.

4.Pantau hasil dari GDA dan


nadi oksimetri.

4 Kelebihan volume cairan berhubungan Keseimbangan volume Mempertahankan 1.Pantau pengeluaran urine,
dengan menurunnya curah cairan dapat keseimbangan cairan catat jumlah dan warna saat
jantung/meningkatnya produksi ADH dipertahankan selama seperti dibuktikan oleh dimana diuresis terjadi.
dan retensi natrium/air dilakukan tindakan tekanan darah dalam
keperawatan batas normal, tak ada
distensi vena perifer/
vena dan edema
dependen, paru bersih
dan berat badan ideal (
BB ideal TB –100 ± 10
%)

2.Pantau/hitung keseimbangan
pemasukan dan pengeluaran
selama 24 jam. dan terapkan
terapi diuretic.

3.Pertahakan pasien duduk


atau tirah baring dengan posisi
semifowler selama fase akut.
4.Kaji bisisng usus. Catat
keluhan anoreksia, mual,
distensi abdomen dan
konstipasi.

5.Kolaborasi dengan ahli gizi


untuk menentukan diet yang
akan dilakukan oleh pasien.
5 Intoleran aktivitas berhubungan dengan Terjadi peningkatan -berpartisipasi aktif pada 1.Periksa tanda vital sebelum
ketidakseimbangan suplai okigen, toleransi pada klien aktivitas yag diinginkan, dan setelah aktivitas,
kelemahan umum, dan immobilisasi setelah dilaksanakan memenuhi kebutuhan khususnya bila klien
tindakan keperawatan perawatan diri sendiri. menggunakan vasodilator dan
selama di perawatan obat-obat diuretic.
-mencapai peningkatan
toleransi aktivitas yang
dapat diukur, dibuktikan
oleh menurunnya 2.Catat respons
kelemahan dan kelelahan kardiopulmonal terhadap
dan tanda vital DBN aktivitas, catat adanya
selama aktivitas takikardi, diritmia, dispnea
berkeringat dan pucat.

3.Evaluasi peningkatan
intoleran aktivitas.

4.Implementasi program
rehabilitasi jantung.

XBAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN.
Gagal jantung merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang banyak dijumpai
dan menjadi penyebab mortalitas utama baik di negara maju maupun di negara sedang
berkembang. Kejadian gagal jantung dalam individu yang menderita kematian jantung
mendadak sekitar 64 dan 90 %

Gagal jantung adalah pemberhentian sirkulasi normal darah dikarenakan kegagalan dari
ventrikel jantung untuk berkontraksi secara efektif pada saat systole. Akibat kekurangan
penyediaan oksigen ke otak , menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti bernafas
dengan tiba-tiba.

Terdapat tiga aspek penting dalam menanggulangi gagal jantung yaitu pengobatan terhadap
penyakit yang mendasari dan pengobatan terhadap faktor pencetus . Termasuk dalam
pengobatan medikamentosa yaitu mengurangi retensi cairan dan garam, meningkatkan
kontraktilitas dan mengurangi beban jantung. Sekaligus pengobatan umum meliputi istirahat,
pengaturan suhu, kelembapan, oksigen, pemberian cairan dan diet.

4.2 SARAN.

Dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gagal jantung diperlukan
pengkajian, konsep dan teori oleh seorang perawat.

Informasi atau pendidkan kesehatan berguna untuk klien dengan gagal jantung selain itu
pengobatan terbaik untuk gagal jantung adalah pencegahan atau pengobatan dini terhadap
penyebabnya.

Daftar Pustaka

Latief, abdul dkk.1985.Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.Jakarta: Fakultas Kedokteran UI

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit:Buku Kedokteran ECG

Weiner,howard l.dkk.2001.Buku Saku Neurologi.Jakarta:Buku Kedokteran ecg

http://www.scribd.com/doc/6506569/kejang demam. diakses pada tanggal 06 desember 2010


http://teguhsubianto.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-anak-kejang-demam.html
diakses pada tanggal 03 desember 2010

akses-mahdi.blogspot.com/2010/…/askep-kejang-demam_9578.html. diakses pada tanggal 30


november 2010