Anda di halaman 1dari 40

SISTEM MONITORING KUALITAS AIR PADA BAK PENCUCIAN BUAH NANAS PT. GREAT GIAN PINEAPPLE LAMPUNG BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT)

(Skripsi)

Oleh

Tomi Mandala Putra

INTERNET OF THINGS (IOT) (Skripsi) Oleh Tomi Mandala Putra FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

2019

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Nanas (Ananas comosus) merupakan komoditas hortikultura yang sangat potensial

dan penting didunia. Buah nanas merupakan produk terpenting kedua setelah pisang

(Cavendish).

Pada

bidang

ekonomi,

komoditas

hortikultura

seperti

nanas

mendominasi perdagangan buah tropika dunia. Berdasarkan data statistik tahun

2000, perdagangan nanas mencapai 51% dari total 2,1 juta ton seluruh perdagangan

buah, dan Indonesia menempati posisi ketiga dari negara-negara penghasil nanas

olahan, setelah negara Thailand dan Filipina. Buah nanas merupakan buah nomor

tiga yang paling banyak diproduksi di Indonesia. Produksi nanas pada tahun 2004

mencapai 709.918 ton dan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2011

dengan produksi mencapai 1.540.626 ton (Biro Pusat Statistik, 2012).

Perusahaan yang fokus memproduksi buah nanas olahan di Indonesia adalah PT

Great Giant Pineapple yang terletak di Provinsi Lampung. PT Great Giant

Pineapple merupkan perkebunan pertama di Indonesia yang mengembangkan riset

secara intensif dalam membudidayakan tanaman nanas jenis Smooth cayenne yang

cocok untuk dikalengkan. PT Great Giant Pineapple juga merupakan perkebunan

nanas terbesar di dunia dengan luas ±33.000 ha dan menjadi produsen utama nanas

olahan di Indonesia. Ekspor nanas dilakukan ke-50 negara lebih dan menyuplai 15-

20% total kebutuhan nanas didunia. Produk nanas kaleng PT Great Giant Pineapple

semuanya diekspor, 40% diantaranya ke Eropa, 35% ke Amerika Utara dan 25%

lainnya ke Asia Pasifik. Peroduksi hampir mencapai 500.000 ton nanas segar per

tahun (Purba, 2008).

Semakin meningkatnya kebutuhan ekspor nanas kaleng PT Great Giant Pineapple

perlu melakukan usaha khusus untuk menjaga mutu buah nanas

selama proses

pascapanen hingga tahap panen. Oleh karena itu, perlu adanya usaha untuk

membersihkan

mealybug

(Sysmicoccus

beripes)

dan

jamur

patogen

dengan

melakukan penambahan klorin pada air pencucian buah. Klorin merupakan zat

desinfektan

yang

dapat

digunakan

selama

proses

pengolahan.

Desinfeksi

merupakan tindakan untuk membunuh patogen, bakteri, fungi, virus maupun

mikroorganisme lainnya

pada saat proses pencucian buah berlangsung (Pardede,

2009). Dengan menambahan klorin pada saat pencucian buah diharapkan mampu

mengurangi

mealybug

dan

infeksi

patogen

pada

buah

nanas

dalam

proses

pengolahan.

Pengolahan air pada bak pencucian buah nanas merupakan hal terpenting untuk

memperoleh kebersihan, kesahatan, dan kelayakan air sesuai dengan standar mutu

air.

Proses

membersihkan

air

pada

bak

pencucian

dilakukan

dengan

cara

menambahkan kaporit (CaOCl 2 ) melalui pipa-pipa air. Berbagai jenis senyawa

organik yang ada di dalam air akan bereaksi dengan klorin yang dapat menyebabkan

menginaktifkan klorin. Oleh karena itu, selama masih banyak terkandung senyawa-

senyawa tersebut, klorin yang ditambahkan tidak dapat berdaya sebagai desinfektan

terhadap mealybug dan infeksi patogen. Akan tetapi, apabila penambahan klorin

cukup tinggi memiliki fungsi untuk membunuh dan menghabat pertumbuhan

mikroba (Winarno, 1986).

Klorin banyak digunakan sebagai disinfektan karena

sangat efektif membasmi mealybug, infeksi patogen, dan residu klorin mudah

diukur. Residu klorin (sisa klorin) harus dapat terdeteksi untuk memastikan bahwa

klorinasi telah berlangsung dengan baik. Residu klorin pun harus diukur karena

residu yang terlalu tinggi dapat membahayakan kesehatan dan juga menyebabkan

korosif pada peralatan besi atau penyebab kebocoran pada pengalengan, sedangkan

apabila residu terlalu rendah tidak efektif sebagai desinfektan (Slamet, 1994).

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membuat

sebuah sistem monitoring kualitas air secara real-time. Dengan adanya sistem

monitoring ini pihak PT Great Giant Pineapple dapat mengetahui tingkat residu

klorin, keasaman air, kekeruhan, dan suhu yang ada pada tempat pencucian buah

nanas mereka. Penelitian mengenai sistem monitoring kualitas air berbasis Wirless

Sensor Network ini sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian

yang membahas tentang pemantauan kualitas air secara real-time dilikungan

Interner of Things (IoT) dengan menggunakan rasberry PI B+ sebagai inti

pemrosesannya dan menggunakan sensor temperature, pH, turbuduty, conductivity

dan dissolve oxygen sebagai penentuan kualitas air (Vijayakumar, R. & Ramaya,

R., 2013). Penelitian lainnya yaitu menggunakan teknologi wirelwaa sensor

network

untuk

sistem

pemantauan

kualitas

air

secara

real-time

dengan

menggunakan sensor pH, turbidity dan conductivity yang dimana ketika kualitas air

diketahui sangar berbagaya maka sistem akan mengirimkan pesan kepada pengguna

yang memiliki akses terhadap sistem (Barabde, M. & Danve, S., 2015). Penelitian

lainnya yaitu menggunakan mikrokontroler untuk memantau limbah cair dengan

parameter suhu, pH, kekeruhan, dan emisi gas CO, pemantauan dilakukan secara

lokal pada website yang telah dibuat (Mahendra, S. & Heriyanto, 2014).

Berdasarkan

fakta

di

atas,

penulis

bermaksud

melakukan

penelitian

untuk

merancang sistem monitoring residu klorin, tingkat kekeruhan, tingkat keasaman

(pH), dan temperatur berbasis Internet of Things (IoT) pada bak pencucian buah

nanas di PT. Great Giant Pineapple, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten

Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas maka muncul permasalahan

dengan rumusan sebagai berikut:

1. Bagaimana cara merancang dan merealisasikan prototipe sistem monitoring

kandungan residu klorin, pH, suhu, dan kejernihan air.

2. Bagaimana cara

mengetahui pengontrolan kandungan residu klorin, pH,

suhu, dan kejernihan air secara otomatis.

3. Bagaimana cara mentransformasikan data pengamatan secara real time ke

website thingspeak.

C.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan

untuk:

1.

Menghasilkan rancangan dan realisasi prototipe sistem monitoring kandungan

residu klorin, pH, suhu, dan kejernihan air.

2.

Mengetahui cara pengontrolan kandungan

residu klorin, pH, suhu,

dan

kejernihan air secara otomatis.

3.

Mengetahui cara mentransformasikan data pengamatan secara real time ke

website thingspeak.

D.

Manfaat Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1.

Menghasilkan suatu instrumen yang dapat membantu proses monitoring residu

klorin, pH, suhu, dan kejernihan air.

 

2.

Membangun sistem monitoring yang dapat di akses melalui android.

E.

Batasan Masalah

 

Pada

penelitian

ini

dilakukan

perancangan

dan

realisasi

sistem

monitoring

kandungan residu klorin, pH, suhu, dan kejernihan air dengan spesifikasi sebagai

berikut:

1.

Menggunakan Arduino UNO sebagai sistem pengendali sekaligus pengelolah

data.

2. Menggunakan power supply sebagai penghasil sumber tegangan.

3. Menggunakan displai seven segment sebagai media untuk menampilkan data.

4. Menggunakan modul ESP8266-12E sebagai media penyedia wifi.

5. Menggunakan sensor OPR Meter untuk mengukur kandungan residu klorin

dalam air.

6. Menggunakan sensor pH meter untuk mengukur tingkat keasaman air.

7. Menggunakan sensor Turbidity untuk mengukur kualitas kejernihan air.

8. Menggunakan sensor Termocouple MAX6675 untuk mengukur suhu air.

9. Menggunakan aplikasi thingspeak sebagai media monitrong pada PC dan

android.

2 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terkait

Penelitian tentang rancang bangun alat pendeteksi kadar pH dalam air dengan

output LCD berbasis mikrokontroler telah dilakukan sebelumnya oleh Yudi

Ariansyah (2012). Pada penelitian tersebut telah dilakukan rancang bangun sistem

pengukuran kadar keasaman (pH) menggunakan sensor analog pH meter dan

sebagai pengontrol utamanya menggunakan mikrokontroler atmega 16. Kemudian

hasil

keluaran

dari

sensor

pH

masih

berupa

besaran

tegangan

yang

akan

dikonversikan ke dalam besaran fisika melalui pengkonversian pada pin ADC

mikrokontroler atmega 16 dan menggunkan LCD 16x2 karakter sebagai outputnya.

Sedangkan penelitian yang terkait dengan alat pengukur tingkat kekeruhan air

dilakukan oleh Nike Ika Nurzula dan Endarko (2012), dalam papernya disampaikan

alat

ukur

kekeruhan

yang

mereka

rancang

bekerja

berdasarkan

metode

Nophelometer, yaitu mengukur hamburan cahaya oleh partikel-partikel tersuspensi

didalam zat cair. Jarak anatar LED dan detektir fotodioda pada alat ini adalah 2 inci

yang diletakkan dalam posisi sejajar satu sama lain. Pada penelitian ini dilakukan

pembuatan alat yang mampu mengukur tingkat kekeruhan air dengan rentang 0

200 NTU serta mempunyai standar deviasi maksimum sebesar 1,33 rancangannya

digunakan untuk mengukur tingkat kekeruhan air sebelum penyaringan dengan

metode biosand.

B.

Dasar Teori

1.

Nanas

Nanas berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di Brazil. Tanaman nanas telah lama

dibudidayakan oleh penduduk pribumi Brazil. Pada abad ke-15 orang Spanyol

membawa nanas ke Filipina dan Semenanjung Malaysia dan masuk ke Indonesia

pada abad ke-16 (Rocky, 2009).

Nanas berada di urutan ke tiga dengan produksi sebesar 1.835.483 ton atau sekitar

9,27 % dari total produksi buah di Indonesia. Pulau Sumatra merupakan sentra

produksi nanas dengan total produksi sebesar 1.191.486 ton atau sekitar 64,49 %

dari total produksi nanas nasional (Taufik, 2015).

Klasifikasi tanaman nanas adalah sebagai berikut Prihatman (2000):

Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Angiospermae

Ordo

: Farinosae

Famili

: Bromiliaceae

Genus

: Ananas

Spesies

: Ananas comosus (L.) Merr.

Tanamana nanas dapat tumbuh dan beradaptasi baik di daerah tropis. Curah hujan

yang dibutuhkan tanaman nanas antara 1.000 mm 1.500 mm per tahun dengan

kelembaban udara 70 % - 80 %. Tanah yang dibutuhkan tanaman nanas yaitu

lempung berpasir, cukup bahan organik, drainase baik, dan pH antara 4,5 6,5

(Hadiati dan Indriyani, 2008).

Jenis tanah pada perkebunan PT. Great Giant Pineapple dan PT. Nusntara Tropical

Fruit didominasi oleh tanas Ultisol. Menurut Hardjowigeno (1993) tanah ultisol

memiliki kandungan bahan organik yang sangat rendah sehingga memperlihatkan

warna tanahnya berwarna merah kekuningan, reaksi tanah yang masam, kejenuhan

basa yang rendah, kadar Al yang tinggi dan tingkat produktivitas yang rendah.

Tekstur tanah ini adalah liat hinggga liat berpasir. Walaupun tanah ultisol sering

diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, dimana mengandung bahan organik

yang rendah, nutrisi rendah, dan pH rendah (kurang dari 5,5) akan tetapi tanah

dengan jenis ultisol dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial jika

dilakukan pengelolaan yang memperlihatkan kendala yang ada (Munir, 1996).

2.

Klorinasi

Salah satu tahapan pascapanen pada produk hortikultura adalah tahap pencucian

buah. Pada tahapan ini, air pada bak pencucian buah di tambahkan larutan klorin.

Pembuaran larutan klorin dilakukan dengan menambahkan hipoklorit ke dalam air

bersih. Hal ini dilakukan untuk mengurangi bakteri dan jamur pada produk (Nasrin

dkk., 2008).

Menurut plotto dan Narciso (2006), penggunaan klorin diperbolehkan asalakan

tidak melebihi baras residu pada air, yaitu 4 µL/L. Penggunaan klorin sebagai

desinfektan sudah sering digunakan di banyak negara dalam proses produksi,

pemanenan, dan penanganan pascapanen pada buah dan sayur yang dijual segar.

Klorin bermanfaat sebagai fungisida dan bakterisida.

Penggunaan klorin mampu membersihkan produk dengan baik, tidak beracun dan

tidak menimbulkan iritasi, larutan dalam air pada berbagai konsentrasi, bau dapat

diterima, konsentrsi stabil, mudah digunakan, mudah didapat, dan murah. Senyawa

klorin yang paling sering digunakan sebgai sanitizer adalah hipoklorit. Klorin

mampu merusak membran sel dan DNA mikroba. Penggunaan Klorin 100-200 ppm

mampu mengurangi pencemaran bakteri E. Coli pada produk sayur dan buah

(Anonimus, 2008).

Klorin bekerja dengan cara kontak langsung dengan buah dan sayur namun tidak

meninggalkan residu, sehingga mampu melindungi buah selama penyimpanan dan

pengiriman (Zoffoli dkk., 2005). Pencelupan buah dan sayur dalam larutan klorin

dapat menurunkan jumlah mikroba hingga 100 kali lipat dari populasi awal

(Pardede, 2009).

3. Kualitas Air

Kualitas air didefinisikan sebagai kondisi kualitatif air yang diukur dan diuji

berdasarkan

parameter

tertentu

dan

metode

tertendu

berdasarkan

Pasal

1

Kepututsan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003. Kualitas

air dapat dinyatakan dalam beberapa parameter fisik atau keberadaan bahan-bahan

yang dapat diamati secara kasat meta seperti kandungan partikel/kepadatan, warna,

rasa, suhu, dan bau (Widarto, 2006).

Air permukaan adalah bagian tibih ait yang peling rentan terhadap polusi karena

baguan ini yang sangat mudah terkena polusi akibat dari pembuangan limbah

(Sundaray,

2006).

Beberaoa

tahun

terakhir

seurubg

dengan

perkembangan

populasi, perkembagnan industri dan pertanian, banyak limbah industri, rumah

tangga, dan limbah pertanian dibuang ke sungai yang menyebabkan banyak unsur

hara dan material organik yang masuk kedalam sungai lalu tersimpan sebagai

sedimen pada dasar sungai (Qinghai, 2011).

Beberapa penelitian terkai pengukuran kualitas air di lingkungan perairan sudah

pernah dilakukan . seperti yang dilakukan oleh Jamal Steveson (2015) dengan

mengukur kualitas air berdasarkan indikator pH, kandungan DO, kekeruhan, total

dissolved solids (TDS), kadar garan dalam air, dan konduktivitas air. Penelitian

yang dilakukan merupakan penelitian lanjutan dengan membandingkan data tahun

2014 dengan hasil penelitian tahun 2013 dan 2011. Namun penelitian ini perlu

peningkatan dengan menambahkan termometer, pengembagan database, serta

penyimpanan data cuaca. Penelitian mengenai kualitas air juga dilakukan oleh A.

F. Casper (2009) yang mengombinasikan antara tenkologi Geographic Information

System (GIS) dengan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk mengembangkan

karakterisasi kualitas air di Coastal Rivers, Gulf Mexico. Parameter yang digunakan

antara lain adalah konduktivitas air, temperatur, kekeruhan, kandungan DO, dan

jumlah klorofil.

4. Mikrokontroler Arduino UNO

Mikrokontroler dapat berfungsi sebagai pengontrol utama dalam sistem elektronika

digital. Chip mikrokotroler dilengkapi dengan bebarapa fitur seperti memoti, ADC

(Analog to Digital Converter), komunikasi serial, ROM (Read Only Memory),

timer,

dan

lain-lain.

Perimbangan

dalam

pemilihan

penggunaan

macam

mikrokontroler didasarkan pada ukuran memori mikrokontroler, fitur ADC, timer,

dan fasilitas komunikasi IIC, pengontrol utama akusisi data, penampilan LCD,

kecepatan eksekusi intruksi, fasilitas single cycle hardwaee multiplier (untuk

aplikasi DSP (Digital Signal Processor)), dan dukungan software yang dapat

digunakan

(Budiharto

dan

Sigit,

2010).

Mikrokontroler

arduino

terdiri

dari

beberapa board yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, dan menggunakan

software open source ynag dapat dijalankan pada OS (Oprasi System) Windows,

Linux, dan Mac.

pada OS ( Oprasi System ) Windows, Linux, dan Mac . Gambar 2.1 . Mikrokontroler Atmega

Gambar 2.1.

Mikrokontroler Atmega 328P (Fatoni, dkk., 2015)

Gambar 2.2 . Arduino UNO (Anonim, 2019) Arduino UNO sebenarnya merupakan suatu papan elektronik yang

Gambar 2.2.

Arduino UNO (Anonim, 2019)

Arduino UNO sebenarnya merupakan suatu papan elektronik yang mengandung

mikrokontroler Atmega 328P yang secara fungsional bertindak seperti komputer.

Tabel 2.1 menunjukan spesifikasi dari papan Arduino UNO.

Tabel 2.1 Spesifikasi Arduino UNO

Mikrokontroler

Atmega 328P

Tegangan Operasi

5V

Tegangan Masukan (recommended)

7-12 V

Tegangan Masukan (Limits)

6-20 V

Pin Digital I/O

14 (6 PWM)

Pin Analog

6

Arus DC per I/O tiap pin

40 mA

Arus DC port 3.3V

50 mA

Flash Memory

32 KB dengan 2 KB digunakan untuk bootloader

SRAM

2 KB

EEPROM

512 bytes

Kecepatan Prosesor

16 MHz

Mikrokontroler Arduino UNO memiliki 14 pin digital yaitu 6 pin diantaranya dapat

digunakan untuk PWM (Pulse Width Modulation) dan input/output. Enam pin input

analog, osilator 16MHz, konektor USB, konektor input tegangan, ICSP header dan

tombol reset. SRAM (Static Random Access Memory), merupakan jenis memori

semikonduktor yang digunakan untuk menyimpan setiap bit informasi selama

tegangan

yang

diberikan

tidak

terputus.

EEPROM

(Electrically

Erasable

Programmable Read Only Memory), adalah memori yang tetap menyimpan

konfigurasi data meskipun sumber daya telah terputus (Fatoni, dkk., 2015).

5. Seven segment dengan IC MAX7219

Seven

segment

adalah

komponen

yang

berfungsi

sebagai

display

untuk

menampilkan angka desimal. Seven segment tersusun dari 7 LED yang membentuk

angaka 8 dan 1 LED yeng membentuk satu titik (DP = dot point) untuk indikator

desimal. 7 LED itu dapat membentuk angka dari 0-9 atau dapat juga membentuk

huruf yaitu A, B, C, D, E, dan F. Seven segment sering dijumpai pada voltmeter

digital, speedometer, jam digital, meteran elektronik, dan piranti lainnya yang

berfungsi untuk menampilkan nilai dalam bentuk angka/numerik.

untuk menampilkan nilai dalam bentuk angka/numerik. Gambar 2.3 (a) (b) Seven segmen satu digit (a) skema
untuk menampilkan nilai dalam bentuk angka/numerik. Gambar 2.3 (a) (b) Seven segmen satu digit (a) skema

Gambar 2.3

(a)

(b)

Seven segmen satu digit (a) skema pin (b) bentuk fisik (Syahwil,

2017)

Gambar 2.3 menunjukkan bahwa, untuk menampikan angka desimal maka LED

dengan label A, B, C, D, E, F, dan G akan menyala. Berdasarkan prinsip kerjanya,

seven segment terbagi atas common anode dan common cathode. Pervbedaan dari

keduanya adalah sifat common anode akan aktid ketika dalam kondisi LOW, atau

akan menyala apabila diberikan logika 0 dan mati kerika diberikan logika 1.

Common catohode adalah seven segment yang aktif apabila dalam kondisi HIGH,

LED akan menyala jika diberikan logika 1 dan LED akan mati jika diberi logika 0.

Apabila dilihat dari skema rangkaian seperti pada Gambar 2.4, anode LED pada

seven segment common anode terhubung menjadi satu secara paralel dan terhubung

ke VCC. Sedangkan katode LED pada seven segment common cathode terhubung

menjadi satu secara paralel dan terhubung ke ground (GND).

menjadi satu secara paralel dan terhubung ke ground (GND). (a) (b) Gambar 2.4 Skema rangkaian (a)

(a)

(b)

Gambar 2.4 Skema rangkaian (a) common anode (b) common cathode

(Tecnology, 2011)

Hal yang perlu diketahu adalah, berdasarkan jumlah digit yang ditampilkan, seven

segment memiliki beberapa jenis yaitu seven segment dengan 1 digit, 2 digit, 3 digit,

dan 4 digit. Pada penggunan satu digit seven segment membutuhkan 9 pin Arduino,

sedangkan dua digit seven segment membutuhkan 18 pin Arduino. Jumlah tersebut

tentunya terlalu banyak jika dibandingkan jumlah pin yang tersedia pada Arduino.

Mengatasi hal tersebut digunakan teknik multiplexing untuk mengurangi jumlah

pemakaian pin Arduino.

Teknik multiplexing pada seven segment adalah tekni yang berfungsi untuk

menghemat jalur kontrol pada proses penampilan data ke seven segment, mulai dari

dua digit, tiga digit, atau multi digitl. Salah satu teknik multiplexing yang dapat

digunakan yaitu dengan IC shift register untuk merubah dari serial ke paralel.

Secara konsep, shift tegister adalah komponen elektronik yang berfungsi untuk

menggeser data bit yang masuk satu persatu dan kemudian menyimpannya secara

sementara dalam satu register. Penggunaan shift register sangatlah membantu

dalam membuat tampilan pada seven segmen. Contohnya untuk membuat 4 digit

seven segmen idealnya membutuhkan 36 pin Arduino, sedangkan dengan teknik

multiplexing menggunakan IC shift register hanya membutuhkan 3 pin. Ada banyak

jenis IC shift register yang bisa digunakan untuk menampilkan suatu nilai pada

seven segment, seperti IC 74HC595, TM1637, MAX7219 atau MAX7221. Pada

kesempatan kali ini akan dibahas tentang IC MAX7219 atau MAX7221 sebagau

shift register seven segmen 8 digit seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5. IC

ini kompatibel dengan antarmuka serial peripheral interface (SPI) yang dapat

dikontrol dari Arduino hanya dengan 3 pin digital Arduino.

dikontrol dari Arduino hanya dengan 3 pin digital Arduino. (a) (b) Gambar 2.5 IC MAX7219 (a)

(a)

dari Arduino hanya dengan 3 pin digital Arduino. (a) (b) Gambar 2.5 IC MAX7219 (a) Konfigurasi

(b)

IC MAX7219 merupakan IC yang berfungsi sebagai penggerak antarmuka antara

mikrokontroler dengan seven segment dot matrix atau 64 LED IC ini sudah

dilengkapi dengan dekoder BCD, rangkaian multiplexer, dan penggerak seven

segment. IC MAX7219 umumnya digunakan untuk seven segment yang bersifat

common cathode. MAX7219 membutuhkan tegangan oprasi sebesar +5V untuk

LED Matrix atau 8 digit seven segment yang didapat dari +5V Arduino. Sedangkan

untuk penggunaan lebih dari 8 digit sebaiknya digunakan tegangan power supply

eksternal 5V.

sebaiknya digunakan tegangan power supply eksternal 5V. Gambar 2.6 Skema rangkaian 8 digit seven segment dengan

Gambar 2.6

Skema rangkaian 8 digit seven segment dengan IC MAX7219

Gambar 2.6 merupakan skema rangkaian 8 digit seven segment dengan IC

MAX7219. IC ini memiliki 3 pin yang perlu dihungkan ke pin digital Arduino yaitu

pin DIN, CLK, dan LOAD. Pin SEG A-G dan pin SEG DP IC MAX7219

dihubungkan pada segmen LED seven segment, sedangkan pin DIG0-DIG7

dihubungkan ke common catthode dari seven segment. DIG0 adakag data Least

Significant Bit (LSB) dan DIG7 adalah data Mosr Significant Bit (MSB). Untuk

penggunaan MAX7219 lebih dari satu dapat disusun secara seri, maka pin DOUT

dari IC pertama dihubungkan ke DIN IC kedua sementara CLK dan LOAD

dihubungkan secara paralel (Syahwil, 2017).

6.

Termokopel

Termokopel merupakan sensor temperatur yang mengubah perbedaan temperatur

menjadi perubahan tegangan, hal ini disebabkan oleh perbedaan kerapatan yang

dimiliki oleh masing-masing logam yang bergantung pada massa jenis logam. Jika

dua buah logam disatukan kedua ujungnya kemudian dipanaskan maka elektron

yang mempunyai kerapatan yang tinggi akan bergerak ke arah logam yang

mempunyai kerapatan yang lebih rendah. Dengan demikian terjadilah perbedaan

tegangan antara kedua ujung termokopel.

terjadilah perbedaan tegangan antara kedua ujung termokopel. Gambar 2.7 Sistem pengukuran temperatur dengan termokopel

Gambar 2.7 Sistem pengukuran temperatur dengan termokopel (dimodifikasi dari Yuliantini, 2012)

Prinsip

kerja

dari

termokopel

yaitu

menggunakan

efek

termoelektrik.

Efek

termoelektrik terjadi apabila sebuah logam konduktor yang diberi perbedaan panas

secara gradient akan menghasilkan tegangan listrik. Perbedaan tegangan listrik

diantara dua junction ini dinamkan dengan efek Seebeck, Efek Seebeck Menyatakan

bahwa arus

yang mengalir kecil

akan mengalir melaluin sebuah

rangkaian

konduktor yang memiliki perbedaan temperatur. Output tegangan akan mencul

akibat adanya perbedaan temperatur antara ukung-ujung dua material yang berbeda

(Firdaus dan Abduh, 2016).

Berdasarkan jenisnya, termokopel dibagi dalam beberapa macam, diantaranya yaitu

sebagai berikut.

a. Tipe

B

(Campuran

Pelatinum

dan

Rhodium)

dapar

mengukur

sampai

temeperatur yang sangat tinggi antara 0 o C sampai 1820 o C.

b. Tipe E (Campuran Nikel Chromium dan Cinstantan), merupakan sensor

dengan temeperature yang diukur antara -270 o C sampai 1000 o C.

c. Tipe

J

(Campuran

Iron

dan

Copper

Nikel),

merupakan

sensor

dengan

temperatur yang diukur antara 0 o C sampai 750 o C.

d. Tipe K (Campuran Nikel Cromium dan Nikel Alumunium), merupakan sensor

dengan temperatur yang diukur antara -200 o C sampai 1250 o C.

e. Tipe N (Campuran Nikel Cromium Silikon dan Nikel Silikon Magnesium),

merupakan sensor dengan temperatur yang diukur antara -270 o C sampai

1300 o C.

f. Tipe R (Campuran Platinum Rhodium dan Pelatimum), merupakan sensor

dengan temperatur yang diukur antara 0 o C sampai 1450 o C.

g. Tipe S (Campuran Platinum Rhodium dan Pelatimum), merupakan sensor

dengan temperatur yang diukur antara 0 o C sampai 1450 o C.

h. Tipe T (Campuran Copper dan Copper Nikel), merupakan sensor dengan

temperatur yang diukur antara -200 o C sampai 350 o C (datasheet).

Dari beberapa jenis termokopel yang ada, penulis akan menggunakan termokopel

tipe-K.

Termokopek

tipe-K

umumnya

digunakan

untuk

penelitian

dengan

sensitivitas yang relatif besar dibandingkan dengan sensor termokopel lainnya yaitu

sebesar 41 µV/ o C. Jenis termokopel ini memiliki ketidak linearan pada temperatur

kisaran 150 o C (Yuliantini, 2012).

Berdasarkan sensitivitas yang dimiliki, rumus konversi pada termokopel tipe-K

yaitu seperti pada Persamaan (2.1).

Dengan V out

T

R

V

out

(41

V

/

o

)

C x

5(

T T

R

AMB

)

= Vout Termokopel (µV)

= Temperatur refrensi jucntion ( o C)

T AMB = Temperatur lingkungan ( o C)

(2.1)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Elektronika Dasar dan Instrumentasi,

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lampung pada bulan Mei sampai dengan Oktober 2019 dengan rancangan jadwal

ditunjukkan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Rancangan jadwal penelitian Waktu Pelaksanaan (Bulan ke-) No Kegiatan 1 2 3 4
Tabel 3.1. Rancangan jadwal penelitian
Waktu Pelaksanaan (Bulan ke-)
No
Kegiatan
1
2
3
4
5
6
1 Studi literaatur dan pembuatan
proposal usul penelitian
Perancangan dan realisasi
2 perangkat keras sistem
monitoring kualitas air
3 Perancangan program sistem
monitoring kualitas air
4 Pengujian dan pengambilan
data penelitian
5 Analisis data dan pembuatan
laporan akhir penelitian

B. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. PC (Personal Computer), digunakan untuk mengolah pemrograman dan

pembutan laporan penelitian;

2. Multimeter, digunakan sebagai perangkat untuk mengukur besaran elektrik;

3. Perlengkapan untuk membuat rangkaian analisator (solder, bor listrik, gunting,

dan sebagainya).

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Arduino UNO, digunakan sebagai pengendali utama pada sistem monitoring

kualitas air;

2. ORP Probe, digunakan sebagai alat ukur tingkat residu klorin dalam air;

3. Analog pH Meter, digunakan sebagai alat ukur tingkat keasaman air;

4. Turbidity Sensor, digunakan sebagai alat ukur tingkat kekeruhan air;

5. DS18B20, digunakan sebagai alat ukur temperatur;

6. Modul power supply, digunakan sebagai sumber tegangan;

7. LCD 16x2, digunakan untuk menampilkan hasil analisa dan pengukuran;

8. Toples Box, digunakan sebagai wadah komponen-komponen sistem;

9. Kabel Male Female, digunakan sebagai penghubung antar komponen;

10. Papan PCB, digunakan sebagai papan sirkuit elektronik pada sistem;

11. Fe 2 Cl 3 , digunakan untuk melarutkan tembaga pada papan PCB;

C.

Prosedur Penelitian

Secara

garis

besar,

penelitian

ini

terbagi

menjadi

beberapa

bagian

yaitu

perancangan hardware, pengambilan data dan pengujian data. Secara umum,

langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1 . Gambar 3.1 Diagran alir

Gambar 3.1

Diagran alir penelitian

1.

Perancangan Sistem

Pada tahap ini dilakukan perancangan sistem monitoring air menggunakan Arduino

UNO sebagai pengendali utama. Secara umum, rancangan sistem yang akan dibuat

diperlihatkan dalam diagram blok pada Gambar 3.2.

Seven MAX6675 Segment
Seven
MAX6675
Segment

Digital

5V
5V

Digital

Vin
Vin

DUE UNO R3

3.3V
3.3V

ATmega 328-AU

5V
5V

Analog

5V
5V

Analog

pH Meter Turbidity
pH Meter
Turbidity
ESP8266-12E
ESP8266-12E
ORP Probe
ORP Probe
Power Supply
Power
Supply

Gambar 3.2 Diagram blok perancangan sistem

Tahap perancangan sistem ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian, diantaranya

adalah:

a. Rangkaian Pengendali Analog pH Meter

Rangkaian pengendali analog pH meter terdiri dari dua komponen utama, yaitu

modul SEN0169PH dan sensor pH. Kedua komponen tersebut dirangkai

dengan beberapa komponen lainnya seperti pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Rangkaian Pengendali Analog pH Meter Sumber tegangan dari Arduino UNO memberikan daya yang

Gambar 3.3 Rangkaian Pengendali Analog pH Meter

Sumber tegangan dari Arduino UNO memberikan daya yang dibutuhkan oleh

modul SEN0169PH dan sensor pH. Analog pH meter akan menghasilkan

selisih nilai tegangan yang dihasilkan pada saat sensor menyentuh obyek.

Selisih nilai tegangan yang terbaca dari sensor pH akan diolah pada rangkaian

pengondisi sinyal mengahasilkan nilai tegangan yang stabil dan diperkuat pada

modul SEN0169PH. Besaran tegangan tersebut akan dideteksi menggunakan

pin A5 Arduino UNO dan diolah menjadi data digital melalui ADC.

b. Rangkaian Detektor Tingkat Kekeruhan

Rangkaian detektor tingkat kekeruhan digunakan unutk mengukur perbedaan

nilai tegangan yang jatuh mengenai obyek. Perbedaan nilai teganan tersebut

dideteksi oleh sensor turbidity dan diolah menjadi besaran nilai tegangan yang

stabil dan diperkuat dari rangkaian pengondisi sinyal pada modul SEN0189.

Besaran elektrik tersebut akan dideteksi menggunakan pin A4 Arduino UNO

dan diolah menjadi data digital melalui ADC. Rangkaian detektor tingkat

Gambar 3.4 Rangkaian sensor turbidity Cairan sampel yang berada diantara kedua photodiode akan menghasilkan beda

Gambar 3.4 Rangkaian sensor turbidity

Cairan sampel yang berada diantara kedua photodiode akan menghasilkan beda

potensial dengan nilai yang sebanding pada tingkat kekeruhan pada sampel.

Tingkat kekeruhan pada sampel dalam air dipengaruhi oleh ion yang bereaksi

dengan ion lain, sehingga terbentuk butiran-butiran padat pada sampel. Jika

jumlah padatan ion dalam sampel berubah, maka nilai beda potensial yang

direspon kedua photodiode juga akan berubah. Perubahan nilai itulah yang

akan dideteksi oleh sensor turbidity.

c. Rangkaian Pengendali ORP meter

Rangkaian pengendali ORP meter terdiri dari dua komponen utama, yaitu

modul ORP meter V1.0 dan sensor ORP probe. Kedua komponen tersebut

dirangkai dengan beberapa komponen lainnya seperti pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5 Rangkaian Pengendali Analog pH Meter Sumber tegangan dari Arduino UNO memberikan daya yang

Gambar 3.5 Rangkaian Pengendali Analog pH Meter

Sumber tegangan dari Arduino UNO memberikan daya yang dibutuhkan oleh

modul ORP meter V1.0 dan sensor ORP probe. Modul ORP meter V1.0 akan

menghasilkan

selisih

nilai

tegangan

yang

dihasilkan

pada

saat

sensor

menyentuh obyek. Selisih nilai tegangan yang terbaca dari sensor ORP probe

akan diolah pada rangkaian pengondisi sinyal mengahasilkan nilai tegangan

yang stabil dan diperkuat pada modul ORP meter V1.0. Besaran tegangan

tersebut akan dideteksi menggunakan pin A3 Arduino UNO dan diolah

menjadi data digital melalui ADC.

d. Rangkaian Interfacing Sensor Thermocouple

Rangkaian Interfacing sensor thermocouple terdiri dari dua komponen utama,

yaitu modul MAX6675 dan sensor thermocouple tipe-k. Kedua komponen

tersebut dirangkai dengan beberapa komponen lainnya seperti pada Gambar

3.6.

Gambar 3.6 Skema rangkaian sensor thermocouple tipe-k dan MAX6675 Prinsip kerja dari sensor termocouple tipe-k

Gambar 3.6 Skema rangkaian sensor thermocouple tipe-k dan MAX6675

Prinsip kerja dari sensor termocouple tipe-k pada dasarnya hanya terdiri dari

dua buah kawat atau logam konduktor yang berbeda jenis dan digabungkan

kedua ujungnya. Satu jenis logam konduktor yang terdapat dari sensor

thermocouple tipe-k ini akan berfungsi sebagai refrensi dengan suhu konstan

(tetap) sedangkan jenis logam yang satunya sebagai logam konduktor yang

mendeteksi suhu panas. Hasil yang terukur oleh sensor thermocouple akan di

proses pada modul MAX6675 dan dirimkan menjadi data digital melalui pin

SCK, CS, dan SO pada modul MAX6675.

e. Rancangan Hardware

Tahapan perancangan hardware pada penelitian ini memiliki fungsi utama

yaitu mengolah data dan menampilkan data hasil dari pengolahan. Untuk

menjalankan fungsi tersebut, pada penelitian ini menggunakan papan Arduino

UNO sebagai pusat kendali utama dan beberapa komponen penunjang dengan

desain rangkaian dapat dilihat pada Gambar 3.7. Komponen-komponen

tersebut dirangakai menjadi sebuah sistem dengan rincian seperti pada Tabel

3.2

Gambar 3.7 Desain rangkaian hardware Tabel 3.2 . Mapping pin Arduino UNO dengan komponen penunjang

Gambar 3.7 Desain rangkaian hardware

Tabel 3.2. Mapping pin Arduino UNO dengan komponen penunjang

No

Pin Arduino UNO

Pin Komponen

1

Pin 2

Pin LOAD modul 7 segment Pin CLK modul 7 segment Pin DIN modul 7 segment Pin SCK modul MAX6675 Pin CS modul MAX6675 Pin SO modul MAX6675 Pin TX ESP8266-12E Pin RX ESP8266-12E Pin ORP Probe Pin Turbidity Sensor Pin Analog pH Meter

2

Pin 3

3

Pin 4

4

Pin 5

5

Pin 6

6

Pin 7

7

Pin 8

8

Pin 9

9

Pin A3

10

Pin A4

11

Pin A5

Pada Gambar 3.7 sensor yang digunakan adalah pH meter, turbidity sensor

dan ORP Probe yang masing-masing terhubung dengan konektor pin analog

Arduino UNO. Sedangkan untuk

sensor Termocouple menggunakan driver

MAX6675 terhubung dengan konektor pin digital Arduino

UNO. Lalu

digunakan juga modul ESP8266-12E sebagai media pengirim data ke apk

thingspeak dan website tingspeak berbasis internet dengan komunikasi pin TX

dan RX ke pin digital 8 dan 9 Arduino UNO. Kemudian data yang terukur oleh

Arduino UNO akan ditampilkan pada Modul displai seven segment.

f. Perancangan Software

Pada tahap ini dilakukan perancangan sistem monitoring air menggunakan

perangkat lunak Arduino IDE. Program tersebut berisikan sintaks program

perintah untuk menjalankan fungsi dari rangkaian hardware seperti yang telah

disebutkan sebelumnya. Selain itu, program ini juga berisikan printah untuk

mengkoneksikan jaringan WiFi yang akan digunakan oleh sistem ini. Secara

umum, rancangan program sistem pada penelitian ini diperlihatkan dalam

diagram alir pada Gambar 3.8.

Mulai Deklarasi variabel Konkesi ke WiFi Y
Mulai
Deklarasi
variabel
Konkesi ke WiFi
Y

N

Pembacaan sensor
Pembacaan
sensor
Deklarasi variabel Konkesi ke WiFi Y N Pembacaan sensor pH meter Turbidity ORP Probe Pembacaan ADC
Deklarasi variabel Konkesi ke WiFi Y N Pembacaan sensor pH meter Turbidity ORP Probe Pembacaan ADC
Deklarasi variabel Konkesi ke WiFi Y N Pembacaan sensor pH meter Turbidity ORP Probe Pembacaan ADC
Deklarasi variabel Konkesi ke WiFi Y N Pembacaan sensor pH meter Turbidity ORP Probe Pembacaan ADC
pH meter Turbidity ORP Probe Pembacaan ADC Data digital
pH meter
Turbidity
ORP Probe
Pembacaan
ADC
Data
digital
Konversi ke besaran elekrik
Konversi ke
besaran elekrik
MAX6675 Data digital
MAX6675
Data
digital
digital Konversi ke besaran elekrik MAX6675 Data digital Menampilkan data Mengirim data ke Mengirim data ke
digital Konversi ke besaran elekrik MAX6675 Data digital Menampilkan data Mengirim data ke Mengirim data ke
digital Konversi ke besaran elekrik MAX6675 Data digital Menampilkan data Mengirim data ke Mengirim data ke
digital Konversi ke besaran elekrik MAX6675 Data digital Menampilkan data Mengirim data ke Mengirim data ke
Menampilkan data Mengirim data ke Mengirim data ke Menampilkan data pada seven segment thingspeak.com thingspeak.com
Menampilkan data
Mengirim data ke
Mengirim data ke
Menampilkan data
pada seven segment
thingspeak.com
thingspeak.com
pada seven segment
Selesai

Gambar 3.8

Diagram alir rancangan program pengendali mikrokontroler

g. Data logger dan Pengelolahan Data

Thingspeak merupakan website yang digunakan untuk memonitoring data di

saat proses akusisi data pada Arduino UNO sedang berlangsung. Sedangkan

untuk pengolahan data pada sistem ini menggunakan software Microsoft Excel

2013 yang akan menampilkan data tersimpan lalu akan ditampilkan dalam

bentuk grafik.

Data hasil pengukuran dikirimkan melalui pin analog dan digital Arduino UNO

menuju port komunikasi serial modul ESP8266-12E. Data yang diterima akan

langsung dikirimkan ke server tingspeak. Kemudian data disajikan dalam

bentuk grafik dan diplotkan dalam bentuk grafik di Microsoft Excel seperti

pada

Gambar

3.9.

Pada

grafik

tersebut

juga

telah

dilengkapi

dengan

persamaan garis yang diperoleh berdasarkan data yang diterima. Persamaan

garis itulah yang digunakan sebagai acuan dalam perhitung konsentrasi pada

tahapan selanjutnya.

Sistem Monitoring Kualitas Air

500 450 400 350 300 pH 250 Tr 200 Cl 150 Ds 100 50 0
500
450
400
350
300
pH
250
Tr
200
Cl
150
Ds
100
50
0
0
5
10
15
20
25
30
Pengukuran

Waktu (s)

Gambar 3.9

Grafik hubungan perubahan nilai pengukuran terhadap waktu

h. Desain Kerangka Sistem

Desain sistem monitoring air yang telah dirancang kemudian dirakit dan

disatukan. Komponen-komponen

yang digunakan

pada sistem

disatukan

sebagaimana ditunjukkan pada kerangka dalam Gambar 3.10.

Gambar 3.10 . Desain kerangka sistem Keterangan: 1. Display temperature 2. Display pH meter 3.

Gambar 3.10. Desain kerangka sistem

Keterangan:

1. Display temperature

2. Display pH meter

3. Display Turbidity

4. Display OPR meter

2. Teknik Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan untuk menguji kenerja pengukuran alat monitoring

kualitas air yang dibuat. Dalam pengambilan tingkat keasaman (pH) menggunakan

tiga buah sampel yaitu sampel pH asam, sampel pH netral dan sample pH basah.

Teknik pengambilan data untuk tingkat kekeruhan menggunakan tiga buah sampel

yaitu sampel 500 NTU, sampel 50 NTU dan sampel 0,5 NTU. Teknik pengambilan

data untuk mengukur temperatur air menggunakan sampel air es, aquades, dan air

rebuasan. Sedangkan pengambilan data untuk mengetahui kandungan senyawa

clorin yang ada dalam air dilakukan menggunakan sampel dari bak pencucian nanas

di PT. Great Giant Pineapple.

a. Pengambilan Data untuk Sensor pH Meter

Tabel 3.3 menunjukan data yang akan diambil untuk pengujian keakurasian

dari sistem monitoring kualitas air menggunakan sensor analog pH meter.

Tabel 3.3. Data untuk Grafik Tingkat Keasaman

No

Refrensi Tingkat Keasaman (pH)

Alat Ukur

Error

 

Pengujian

(%)

 

(pH)

Data

yang

diperoleh

dapat

dibuat

menjadi

grafik

perbandingan

hasil

pengukuran sistem kualitas air dengan refrensi. Gambar 3.11 menunjukan

rancangan grafik akurasi sistem kualitas air.

Tingakt Keasaman

14 12 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12
14
12
10
8
6
4
2
0
0
2
4
6
8
10
12
14
Pengukuran (pH)

Refrensi (pH)

b. Pengambilan Data untuk Tubidity Sensor

Tabel 3.4 menunjukan data yang akan diambil untuk pengujian keakurasian

dari sistem monitoring kualitas air menggunkan Turbidity sensor.

Tabel 3.4. Data untuk Grafik Tingkat Kekeruhan

No

Refrensi Tingkat

Alat Ukur

Error

 

Pengujian

(%)

Kekeruhan (NTU)

(NTU)

Data

yang

diperoleh

dapat

dibuat

menjadi

grafik

perbandingan

hasil

pengukuran sistem kualitas air dengan refrensi. Gambar 3.12 menunjukan

rancangan grafik akurasi sistem kualitas air.

Tingkat Kejernihan

500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0 50 100 150
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
Pengukuran (NTU)

Refrensi (NTU)

Gambar 3.12

Grafik Tingkat Kekeruhan Terhadap Nilai Refrensi

c. Pengambilan Data untuk Sensor ORP Probe

Tabel 3.5 menunjukan data yang akan diambil untuk pengujian keakurasian

dari sistem monitoring kualitas air menggunkan sensor ORP Probe.

Tabel 3.5. Data untuk Grafik Residu Klorin

No

Refrensi Tingkat Residu Klorin (mg/L)

Alat Ukur

Error

 

Pengujian

(%)

(mg/L)

Data

yang

diperoleh

dapat

dibuat

menjadi

grafik

perbandingan

hasil

pengukuran sistem kualitas air dengan refrensi. Gambar 3.13 menunjukan

rancangan grafik akurasi sistem kualitas air.

Residu Clorin

14 12 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12
14
12
10
8
6
4
2
0
0
2
4
6
8
10
12
14
Pengukuran (mg/L)

Refrensi (mg/L)

Gambar 3.13

Grafik Tingkat Kekeruhan Terhadap Nilai Refrensi

d. Pengambilan Data untuk Sensor DS18B20

Tabel 3.6 menunjukan data yang akan diambil untuk pengujian keakurasian

dari sistem monitoring kualitas air menggunkan sensor DS18B20.

Tabel 3.6. Data untuk Grafik Temperatur

No

Refrensi

Alat Ukur

Error

 

Temperatur

Pengujian

(%)

 

(

o C)

(

o C)

Data

yang

diperoleh

dapat

dibuat

menjadi

grafik

perbandingan

hasil

pengukuran sistem kualitas air dengan refrensi. Gambar 3.14 menunjukan

rancangan grafik akurasi sistem kualitas air.

Temperature

65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 0
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
55
60
65
Pengukuran ( o C)

Refrensi ( o C)

Gambar 3.14

Grafik Temeperatu Terhadap Nilai Refrensi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2019. Arduino UNO R3. Tersedia di https://store.arduino.cc/usa/arduino- uno-rev3. Diakses pada 4 April 2019.

date

Badan

Pusat

Statistik.

2012.

BPS

Jawa Barat.

2012/pertanian/buah. html [].

Casper, A. F., E. T. Steimle, M. L. Hall, B. Dixon. 2019 Combined GIS and ROV Tecnologies Inprove Characterization of Water Quality in Coastal Rivers of the Gulf of Mexico. Oceans 2009. hal. 1-9.

Fatoni, A., Nugroho, D. D., dan Irawan, A. 2015. Rancang Bangun Alat Pembelajaran Microcontroller Berbasis Atmega 328 Di Universitas Serang Raya. Jurnal Prosisko Vol.2. No. 1. Hal. 10-18.

Firdaus, F dan S. Abduh 2016. Perancangan Sistem Otomasi Tekanan Uap, Suhu, dan Level Air pada Distilasi Air dan Uap menggunakan Mikrokontroler. Jurnal Ilmiah Teknik Elektro. 14(1); 75-88.

Pardede, E.2009. Buah dan sayur pilahan secara minimalis. Visi 17(3):245 254.

Qinghai, Wang, Shuihong Yao, Bo Xiao, Cui Li. 2011. Inprovement of Water Quality by Emergent Vegetation Restoration in Chaohe river. International Symposium on Water Resource and Environmental Protection (ISWREP). hal. 497-500.

Stevenson, J., McKenzie R., Wood J., Hayden L. 2015. A Comparative Study to the 2011/2013 Water Quality Assessments in the Pasquotank Watershed in Norteastern Nort Carolina eith A Sea Level Rise Component. IEEE Internationel Geoscience and Rempte Sensing Symposium (IGARSS). hal.

153-156.

Sundaray, S. K., Panda U. C., Nayak B. B., Bhatta D. 2006. Multivariate Statistical Techniques for the Evaluation of Spatial and Temporal Variations in Water Quality of the Mahanadi River-Estuarine System (India) - A Case Study. Environmental Geochemstry and Health. Volume 28, no. 4, Hal. 317-330.

Syahwil, M. 2017. Panduan Mudah Belajar Arduino menggunakan Simulasi Proteus. Yogyakarta : Andi Offset.

Kementrian

Taufik,

Y.

2015.

Statistika

Produksi

Hrtikultura

Tahun

2014.

Pertanian. Direktorat Jendral Hortikultura. 286 hlm.

Tecnology, S.W. 2011. Segment Digit LED Display User’s Manual. Datasheet, 1(1): 1-51.

Widarto. 1996. Membuat Alat Penjernih Air. Kanisius. Yogyakarta. 40 halaman.