Anda di halaman 1dari 18

PANDUAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN DOMBA GARUT

Kelompok :

No. Nama mahasiswa NPM

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GARUT
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala

yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penyusunan buku Panduan

Praktikum Manajemen Domba Garut in dapat diselesaikan pada waktu yang telah

ditetapkan. Penyusunan buku panduan ini berpedoman pada beberapa pustaka

dan atas bantuan berbagai pihak. Melalui pengantar ini kami mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Garut

2. Ketua Jurusan/Progam Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Garut

3. Kepala Laboratorium Produksi Ternak yang telah memberi izin penggunaan

fasilitas praktikum.

4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian buku panduan ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat berbagai kekurangan

dalam buku panduan sederhana ini, sehingga diperlukan kritik dan saran dari

semua pihak untuk memperbaiki penyusunan berikutnya. Buku Panduan

Praktikum Manajemen Domba Garut ini diharapkan dapat membantu

memudahkan praktikan dalam pelaksanaan praktikum.

Garut, September 2018

Penyusun
I. SIFAT KUALITATIF DOMBA GARUT

A. Latar balakang
Sifat kualitatif adalah sifat yang mudah dibedakan antara satu kelompok
dengan kelompok lainnya. Berdasarkan sifat kualitatifnya, domba garut memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
Sifat Kualitatif Domba Garut
Warna Bulu : Bentuk Tanduk (jantan ≥18 bln):
- Hitam - Leang
- Putih - Gayor
- Coklat - Ngabendo
- Campuran ketiganya - Ngagolong tambang
-
Bentuk Telinga : Bentuk Ekor :
- Rumpung ( < 4 cm) - Ngabuntut beurit
- Ngadaun hiris ( 4 – 8 cm) - Ngabuntut bagong

a. Bentuk Telinga

b. Bentuk Ekor
c. Bentuk Tanduk

B. Tujuan Praktikum
Agar mahasiswa dapat membandingkan perbedaan antara domba garut dengan
domba-domba lainnya melalui pengamatan terhadap bentuk fisik dari sifat
kualitatifnya.

C. Materi dan Metode


1. Materi
a. Domba Garut jantan dan betina
b. Buku catatan
2. Metode
a. Domba diikat dalam tiang pancang
b. Mahasiswa praktikan melakukan pengamatan terhadap warna bulu, Bentuk
tanduk, Bentuk ekor dan Bentuk telinga.
c. Mencatat hasil pengamatan
Hasil Pengamatan
Lingkari salah satu jawaban di bawah ini sesuai dengan hasil pengamatan
Saudara!

No./ Warna Bulu Telinga Ekor Tanduk


Nama
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
II. SIFAT KUANTITATIF DOMBA GARUT
A. Latar balakang
Sifat kuantitatif adalah sifat yang tidak dapat dikelompokkan dengan
tegas/ sifat yang dapat diukur. Contohnya : berat badan, tinggi badan, panjang
badan, lingkar dada, dan sebagainya.
Persyaratan Kuantitatif Minimum Domba Garut (SNI 7532 : 2009)
No. Parameter Satuan Jantan Betina
1 Bobot lahir Kg 2,8 2,4
2 Bobot sapih Kg 11,5 9,1
3 Bobot Badan Dewasa Kg 58 37
4 Panjang badan (18 bln) Cm 64 57
5 Lingkar dada (18 bln) Cm 89 77
6 Tinggi pundak (18 bln) Cm 74 66

B. Tujuan Praktikum
Agar mahasiswa dapat mengetahui standar muti bibit domba garut, sehingga
dapat melakukan seleksi untuk calon bibit berkualitas.

C. Materi dan Metode


1. Materi
a. Domba garut jantan dan betina
b. Tongkat ukur
c. Pita Ukur
e. Tambang pengikat
f. Kandang jepit
g. Buku catatan
2. Metode
a. Mempersiapkan tambang pengikat
b. Mempersiapkan kandang jepit
c. Membawa domba ke kandang jepit
d. Melakukan pengukuran terhadap tinggi badan, panjang badan dan lingkar dada
e. Mencatat hasil pengukuran.
Tabulasi Hasil Pengukuran Sifat Kuantitatif Domba Garut

No. Nama Umur/ Tinggi Badan Panjang Badan Lingkar Dada


Domba Gigi
1

10

11

12

13

14

15

16

17

18
III. PENCUKURAN BULU
A. Pendahuluan
Domba yang tidak pernah dicukur bulunya akan menjadi gembel dan akan
sulit untuk dibersihkan, kondisi bulu yang seperti ini merupakan tempat yang baik
untuk bersarangnya penyakit, parasit dan jamur yang dapat membahayakan
kesehatan ternak.
Tujuan dilakukan pencukuran yaitu untuk menjaga kesehatan dari kuman
penyakit, parasit-parasit luar (ekto parasit) seperti kutu serta penyakit kulit lainnya
yang disebabkan oleh jamur. Selain untuk pencegahan penyakit, pencukuran juga
dilakukan untuk memperindah domba terutama pejantan. Pada betina, seluruh
rambut yang menempel di badan dipotong sedangkan pada jantan biasanya
disisakan pada bagian leher (jenggot) dan punggung bagian depan untuk
menambah kesan kejantanan dan keindahan ternak.Sebelum dicukur sebaiknya
domba dimandikan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan pencukuran lebih
mudah.
Pencukuran dapat dilakukan setahun 1 sampai 2 kali pada betina,
sedangkan pada pejantan dilakukan setiap 3 sampai 4 bulan karena pejantan harus
selalu kawin dan jika rambutnya panjang akan mengganggu aktivitas perkawinan,
juga mengurangi keindahan. Pencukuran yang pertama dilakukan pada waktu
domba telah berumur lebih dari 6 bulan agar domba tidak stress.
B. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mengetahui dan
mampu melakukan pencukuran bulu pada domba garut.

C. Bahan dan Metode


1. Bahan
a. Ternak Domba
b. Tali Pengikat
c. Tiang jepit
d. Gunting/ Mesin cukur
2. Metode
a. Pertama – tama domba didudukan tegak lurus, kaki kanan domba berada di
belakang kaki si pencukur. Arah mencukur dilakukan dari arah pinggang
atas ketengah punggung, kemudian ke arah bawah kaki hingga ekor.
b. Kaki belakang dan depan domba dipisahkan oleh kaki sipencukur. Tehnik
ini berguna untuk mencukur di area leher lalu melinggkar ke area tengah
punggung domba. Lalu untuk mencukur area bawah dan keseluruhan badan
pencukur harus mengangkat kaki muka sebelah kiri pada domba dengan
tangan kiri pencukur.
c. Kemudian anda dapat membaringkan domba mendatar dengan tanah,
kemudian kaki belakang domba ditahan dan lutut kanan si pencuku
rmenekan pinggang domba untuk menjaga agar domba tetap berada pada
posisinya
d. Pada awalnya kaki kiri domba ditarik ke belakang secara perlahan, samba
lmenopang domba, sekaligus menggerakan kepala domba diantara kaki si
pencukur
e. Apabila telah melakukan pencukuran telah mencapai kaki belakang ,si
pencukur harus menarik kakinya sampai ke bawah kaki domba hingga
mempermudah untuk mencukur kaki bagian belakangnya.
IV. PEMBUTRIKAN
A. Pendahuluan
Pembutrikan merupakan kegiatan khusus dalam perawatan anak jantan dan jantan
muda serta jantan dewasa. Pembutrikan merupakan pemotongan bulu disekitar tanduk
khusus untuk domba garut jantan. Bulu disekitar tanduk dipotong sampai
bersih karena bulu disekitar tanduk tersbut akan tumbuh dengan baik dan cepat sehingga
dapat menghambat daripada pertumbuhan tanduk, karena tanduk dan bulu akan berebutan
makanan, sehingga dengan dilakukan pembutrikan ini tandukakan tumbuh dengan cepat.

Anak jantan mulai dibutrik pada umur satu bulan dan selanjutnya dibutrik setiap bulan
untuk mempercepat proses pertumbuhan tanduk. Pada domba garut perawatan tanduk
merupakan hal yang penting karena dapat mempengaruhi daya jual domba tersebut.

Selain untuk mempercepat pertumbuhan tanduk, khususnya pada pejantan dewasa akan
menyebabkan kerusakan pada tanduk yaitu tanduk akan mudah keropos dan pecah dan
apabila diadukan maka tanduk akan pecah.

B. Tujuan
Setelah mengikuti praktikumini mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan melakukan
perawatan tanduk domba garut melalui pembutrikan
C. Bahan dan alat :
1. Domba Garut jantan
2. Tiang pancuh
3. Tambang pengikat
4. Gunting kecil
5. Sikat

Metode
1. Domba garut jantan diikat pada tiang pancuh
2. Dilakukan pencukuran di seputar keliling pangkal tanduk dengan menggunakan
gunting kecil sampai betul-betul bersih.
3. Bulu-bulu sisa pencukuran yang masih tertinggal di sekitar tanduk dibersihkan
dengan menggunakan sikat.
4. Pembersihan bulu di sekitar tanduk (pembutrikan) dilakukan setiap bulan arag
tanduk cepat tumbuh, besar dan kuat.

V. MEMANDIKAN

A. Pendahuluan
Ternak yang tidak pernah dimandikan, maka bulunya akan kotor, gembel dan lembab
terutama domba yang tidak pernah dicukur bulunya. Keadaan seperti ini merupakan
tempat yang baik untuk bersarangnya kuman penyakit, parasit dan jamur yang dapat
membahayakan terhadap kesehatan ternak.
Tujuan memandikan ternak yaitu untuk menjaga kesehatan ternak dari kuman penyakit,
parasit dan jamur yang bersarang dalam bulu. Ternak yang dimandikan tampak lebih
bersih, menarik dan lebih sehat. Sebaiknya ternak dapat dimandikan secara rutin untuk
jantan seminggu sekali sedangkan betina dapat dimandikan sebulan sekali. Dalam
memandikan ternak jantan dapat di dalam kandang atau dapat dilakukan di luar kandang
atau di tempat pemandian (sumur dan kolam renang), sedangkan ternak betina
dimandikan di dalam kandang sekaligus untuk sanitasi kandang.

B. Tujuan
Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan mahasiswa mengetahui cara
memandikan domba garut yang benar dan aman, sehingga domba selalu bersih dan sehat.
C. Bahan dan Alat
1. Tiang pancuh, untuk pejantan harus kuat dan kokoh agar tidak mudah terlepas
2. Domba garut, sebaiknya yang sudah dicukur agar mudah bersih dan kering, apabila
tidak diambil bulunya untuk diproses lebih lanjut.
3. Selang air, lebih mudah dalam proses memandikan dibandingkan dengan air yang
diambil secara manual
4. Sabun/ shampoo agar diperoleh hasil yang lebih memuaskan
5. Sikat, untuk memudahkan dan mempersepat pembersihan.

D. Metode
1. Domba diikat secara baik pada tiang pancuh
2. Air dibilas secara merata ke seluruh tubuh domba
3. Gunakan sabun/ shampoo secara merata sambil diremas-remas agar bisa
membersihkan sampai ke permukaan kulit.
4. Untuk memperoleh hasil lebih baik, gosok dengan sikat untuk membersihkan
kotoran yang tertinggak dan membuang sisa-sisa sabun/ shampoo sambil disiran
dengan air secara merata.
5. Setelah selesai dimandikan, domba dijemur di tempat kering dan bersh sampai tubuh
dan bulu domba kering.
VI. PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN TANDUK

A. Pendahuluan
Domba garut terkenal dengan bentuk tanduknya yang indah, besar dan kuat. Hal ini
tidak terlepas dari pemeliharaan dan perbaikan tanduk. Perbaikan tanduk sendiri
sebenarnya jarang dilakukan, karena dengan pemeliharaan yang baik maka tanduk domba
garut akan tumbuh baik dengan sendirinya.. Perbaikan tanduk hanya akan dilakukan jika
terdapat domba jantan yang tanduknya tidak simetris atau tanduknya rapat sampai
menusuk ke lehernya, maka tanduk tersebut segera untuk diperbaiki.
Cara perbaikan tanduk masih bersifat tradisional yaitu dengan cara tanduknya
dibakar dengan mengggunakan bara api. Sebelum dilakukan pembakaran tanduk, tanduk
tersebut diolesi dengan menggunakan kecap yang telah dicampur dengan minyak. Tujuan
pemberian kecap dan minyak pada saat pembakaran yaitu agar tanduk tidak terbakar dan
gosong. Pembakaran tanduk ini biasanya dengan menggunakan obor, dimana api ditiup-
tiupkan pada bagian tanduk yang akan diperbaiki. Prinsip dari pembakaran tersebut yaitu
hanya untuk membuat tanduk tidak keras (agar empuk) pada saat diperbaiki (ditarik), jadi
dalam proses pembakarannya, api diusahakan hanya menghangatkan tanduk saja, api
tidak boleh terus mengenai tanduk. Setelah dibakar dan tanduk terasa sudah empuk maka
tanduk ditarik atau diperbaiki dengan menggunakan tangan atau besi yang berlubang.
Perbaikan tanduk dilakukan pertama kali pada saat ternak mencapai umur minimal 1
tahun.
B. Tujuan
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa mengetahui dan dapat
melakukan sendiri perbaikan tanduk domba garut sesuai yang diinginkan.

C. Bahan dan Alat


1. Ternak domba garut jantan yang akan diperbaiki tanduknya
2. Tali pengikat, untuk mengikat kaki domba agar tidak bergerak bebas,
sehingga proses perbaikan tanduk dapat dilakukan dengan baik dan tidak
membahayakan peternak.
3. Ember berisi air panas
4. Lap kain
5. Obor/ lilin
6. Korek api/ gasoline
7. Mangguk berisi kecap
8. Koas kecil, untuk mengoleskan kecap ke tanduk.
9. Besi berlubang, untuk membentuk tanduk yang besarnya disesuaikan dengan
ukuran tanduk.

D. Metode
1. Domba direbahkan dan keempat kakinya diikat secara menyilang supaya tali
tidak mudah terlepas.
2. Pertama-tama tanduk domba dibungkus dengan lap kain yang sudah
dicelupkan ke dalam air hangat, ditahan beberapa saat, lalu dilakukan
berulang kali, Tujuannya agar tanduk lebih mengembang.
3. Bagian pangkal tanduk yang mnempel pada kulit kepala diikat sekelilingknya
dengan lap kain basah, agar api tidak melukai kulit atau membakar bulu,
sehingga menyebabkan domba kesakitan.
4. Tanduk yang akan diperbaiki diolesi terlebih dahulu dengan kecap, lalu
dibakar denga ujung api agar tanduk menjadi lunak.
5. Setelah tanduk lunak, lalu ditarik/ dibentuk sesuai keinginginan, bisa
menggunakan tangan atau besi berlubang.
6. Perbaikan tanduk dilakukan beberapa kali dengan jarak waktu yang cukup
sampai teaduk berhasil diperbaiki.

VII. SENI KETANGKASAN DOMBA GARUT

Seni Ketangkasan Domba Garut dilaksanakan di Arena Laga Domba


Garut, sudah berlangsung lama dan dilaksanakan secara rutin di berbagai daerah ,
khususnya di berbagai kota di Jawa Barat sebagai suatu acara berkumpulnya para
peternak damba dan bobotoh untuk bersilaturahmi, bertukar pengalaman dan
sebagai arena jual beli domba garut tangkas. Seni ketangkasan Domba Garut
diikuti oleh berbagai daerah, seperti Bandung, Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya,
Ciamis, Bogor dan Garut.
Pelaksanaan seni ketangkasan domba Garut dibagi kedalam tiga kelas,
yaitu : A, B, C. Kelas C diperuntukkan bagi domba berbobot dibawah 65
kilogram. Kelas B diperuntukkan bagi domba 65 kilogram sampai 75 kilogram,
sedangkan kelas A bagi domba berbobot 75 kilogram keatas.
Ada tim juri yang bertugas untuk menilai penampilan para domba dalam
seni ketangkasan. Ada lima kriteria penilaian, yakni : (1) adeg-adeg, didasarkan
pada postur tubuh, jinjingan dan ules (2) keberanian, dilihat dari serangan awal,
yang selalu menyerang lebih awal akan mendapat nilai keberanian tinggi, (3)
kesehatan, didasarkan pada kebugaran, kebersihan dan kerapihan performa, (4)
pukulan/ tumbukan , didasarkan pada teknik melakukan pukulan/ tumbukan,
kekerasan, dan tingkat kemantapan tumbukan, (5) teknik pamidangan , didasarkan
pada panjang pendeknya langkah awahan, keindahan langkah, serta kecepatan
dalam mengambil ancang-ancang dan melakukan serangan.
Seni ketangkasan domba dilaksanakan dengan menerapkan sejumlah
peraturan demi keselamatan dan keamanan domba. Salah satu aturannya, domba
diadu sebanyak 20 kali tubrukan. Apabila sebelum 20 kali tubrukan domba sudah
tidak kuat, tidak dipaksakan diteruskan aduannya.
Selisih berat badan antara dua domba yang diadu tidak boleh lebih dari
lima kilogram. Untuk memastikan berat badan domba, panitia menyediakan
timbangan.

KONTES SENI KETANGKASAN DOMBA GARUT


DI ARENA KETANGKASAN CEMPAKA

1. IDENTITAS PEMILIK TERNAK


Nama

Asal Daerah

Umur

Pendidikan

Pekerjaan Utama

Jumlah Domba

II. IDENTITAS TERNAK (SIFAT KUALITATIF)

Kls & Warna Bulu Telinga Ekor Tanduk


Nama
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
Kls & Warna Bulu Telinga Ekor Tanduk
Nama
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya
a. Hitam a. Rumpung a. Ngabuntut a. Leang
b. Putih b. Ngadaun beurit b. Gayor
c. Coklat Hiris b. Ngabuntut c. Ngabendo
d. Kombinasi HPC c. Lainnya bagong d. Ngagolong
e. Lainnya c. Lainnya tambang
e. Lainnya

III. IDENTITAS TERNAK (SIFAT KUANTITATIF)


Kelas & Umur/ Gigi Tinggi Badan Panjang Badan Lingkar Dada
Nama/
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Peternakan Jawa barat. Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba yang
Baik. www.disnak.jabarprov.go.id.

file:///E:/Seni Ketangkasan Domba Garut Terapkan Sejumlah Aturan _ Pikiran


Rakyat.htm (2 September 2016)

Heriyadi, D. 2011. Pernak-Pernik dan Senarai Domba Garut. Unpad Press.

SNI Domba Garut www.bibit.ditjenpkh.pertanian.go.id.