Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk
mempertahankan suhu internal agar berada di dalam kisaran yang dapat
ditolelir. suhu berpengaruh kepada tingkat metabolisme. Suhu yang tinggi
akan menyebabkan aktivitas molekul-molekul semakin tinggi karena energi
kinetiknya makin besar dan kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul
satu dengan molekul lain semakin besar pula .
Kenaikan aktivitas metabolisme hanya akan bertambah seiring dengan
kenaikan suhu hingga batas tertentu saja. Hal ini disebabkan metabolisme di
dalam tubuh diatur oleh enzim (salah satunya) yang memiliki suhu optimum
dalam bekerja. Jika suhu lingkungan atau tubuh meningkat atau menurun
drastis, enzim-enzim tersebut dapat terdenaturasi dan kehilangan fungsinya.
Pengaturan suhu tubuh, hewan atau manusia harus mengatur panas
yang diterima atau yang hilang ke lingkungan. Mahluk butuh suhu lingkungan
yang cocok, agar metabolisme dalam tubuh berjalan normal. Jika suhu
lingkungan terlalu rendah ia harus mengeluarkan energi lebih besar daripada
biasanya berupa panas . Enzim bekerja dalam suhu optimum. Kalau suhu
rendah enzim tak bisa bekerja, berarti metabolisme terhalang (Gumala, 2015).
Tubuh mengambil peran yang sangat aktif dalam pengaturan suhu,
suhu tubuh diatur oleh tingkat dimana panas yang terpencar adri kulit dan oleh
penguapan air. Proses tersebut diregulasi oleh mekanisme umpan balik saraf
yang beroperasi terutama melalui hipotalamus. Hipotalamus tidak hanya
mengandung mekanisme kontrol, tetapi jaga kunci sensor satu, di bawah
mekanisme kontrol ini, berkeringat dimulai hampir tepat suhu kulit bersuhu
37oC dan meningkat dengan cepat jika suhu kulit meningkat di atas nilai ini.
Berkeringat (penguapan melalui pori-pori di dalam mulut) merupakan
regulator suhu umum. Produksi panas tubuh pada kondisi ini tetap hampir

1
konstan karena suhu kulit meningkat. Jika suhu kulit turun dibawah normal
berbagai respon mulai dilakukan untuk menjaga panas dalam tubuh dan
meningkatkan produksi tanah (Khaw, 2004).Oleh karena itu adanya
praktikum termogulasi tentu sangat membantu mahasiswa biologi dalam
mempelajari hal-hal yang terkait mekanisme pengaturan suhu tubuh.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan termoregulasi ?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi proses termoregulasi ?
3. Bagaimanakah mekanisme kehilangan panas pada tubuh ?
4. Bagaimana pengaturan suhu tubuh ?
5. Bagaimakah mekanisme tubuh ketika suhu berubah ?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari termoregulasi.
2. Dapat membedakan antara panas dan suhu pada tubuh manusia.
3. Menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang mekanisme
keseimbangan panas dalam tubuh.
4. Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
5. Dapat mengetahui tentang pengukuran suhu tubuh
6. Mengetahui tentang mengakisme Pengaturan Panas dalam tubuh serta
gangguan suhu tubuh.

D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh setelah praktikum ini adalah mahasiswa dapat
mengetahui hal apa yang harus dikerjakan saat tubuh dalam keadaan demam,
dan memberi penanganan tepat. Dapat meminimalisir kondisi tubuh agar tidak
mudah sakit, ketika cuaca disekitar dalam kondisi buruk. Dapat mengetahui
factor apa saja yang dapat mempengaruhi termogulasi, dan
menginformasikannya kepada masyarakat.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Termoregulasi
Termoregulasi merupakan proses fisiologis untuk mempertahankan suhu
inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau hangat, mekanisme ini erat
kaitannya dengan memeprtahankan proses reaksi biokimia dalam tubuh agar
tetap berlangsung.
Termoregulasi adalah sebuah keadaan kontrol hemostasis. Dalam
termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan
hewan berdarah panas (warm-blood animals). Hewan berdarah panas disebut
sebagai golongan homoiterm karena mengendalikan suhu tubuhnya secara
internal dengan sistem saraf dan menghasilkan kalor dari dalam tubuhnya untuk
mempertahankan rentang suhu biologisnya, seperti contohnya manusia yang
memiliki rentang suhu biologis 37 ± 0.3 oC. Sedangkan hewan berdarah dingin
disebut sebagi golongan poikiloterm, hewan golongan ini suhu tubuhnya
berfluktusasi mengikuti suhu lingkungan sekitar.
Pada manusia, pusat kontrol termoregulasi terletak di hipotalamus
anterior. Selain itu terdapat tiga komponen penting lainnya dalam termoregulasi
yaitu yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi
dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhusuhu tertentu yang konstan biasanya
lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Pada manusia hemostasis suhu
tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling
berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor
pengatur suhu, yaitu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada
jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari
tubuh. Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke
sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur
pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru
dan seluruh tubuh.

3
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Termoregulasi
Suhu tubuh yang berflutuasi dapat disebabkan beberapa faktor berikut :
1. Pengaruh Kecepatan Metabolisme basal
Salah satu produk akhir metabolism adalah panas. Makin capat laju
metabolism maka akan semakin banyak panas yang dihasilkan. Sehingga
akan mempengaruhi fluktuasi suhu tubuh.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis ini mempengaruhi kecepatan metabolisme agar
menjadi lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat
menginhibisi penimbunan lemak di jaringan adiposa dimetabolisme. Hampir
seluruh metabolisme lemak adalah panas. Umumnya, rangsangan saraf
simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan
produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan (growth hormone) mempengaruhi peningkatan laju
metabolisme. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hampir semua reaksi kimia
dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju
metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal
kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi
panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebihbervariasi dari pada laki-laki
karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan
suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )

4
Pada proses peradangan dan demam merupakan hal yang umum terjadi
peningkatan suhu tubuh. Hal tersebut dikarenakan peningkatan metabolisme
sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang persisten menyebabkan penurunnan kecepatan metabolisme
20 – 30%. Hal ini terjadi karena dalam sel tidak ada sumber nutrisi untuk
dimetabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah
mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan
lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena
lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan
panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan
gesekan antar komponen otot atau organ yang menghasilkan energi termal.
Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat
menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan.
Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat
merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar
keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu
tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas
tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin.
Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh
manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian
besar melalui kulit.

5
C. Pengaturan Suhu Tubuh
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari
organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh
mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor
dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan
jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat
yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim
ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk
dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh.

Pengaturan suhu dikendalikan oleh keseimbangan antara pembentukan panas


dan kehilangan panas. Bila laju pembentukan panas di dalam tubuh lebih besar
daripada laju hilangnya panas, panas akan timbul di dalam tubuh dan suhu tubuh
akan meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan
suhu tubuh akan menurun.

D. Pengukuran Suhu Tubuh


Pengukuran suhu tubuh, paling mudah dengan menggunakan termometer
digital. Jenis termometer ini dapat dilakukan di ketiak, mulut dan anus (dubur).
Namun pengukuran di tempat yang berbeda, juga memberikan hasil yang
berbeda.
Pengukuran di ketiak biasanya kurang tepat dan akuarat. Yang paling tepat
adalah di dubur. Namun bila dianggap merepotkan, pengukuran bisa dilakukan
lewat mulut. Jika pengukuran di dubur menunjukkan suhu 38 derajat Celcius,
pengukuran di mulut biasanya menunjukkan 37,8 derajat dan di ketiak 37,2
derajat Celcius.
Jika telah diketahui suhu tubuh, hal ini dipakai dasar untuk mengambil
tindakan selanjutnya. Suhu kritis orang dewasa adalah 39,4 derajat Celcius dan
suhu kritis bayi dan anak-anak adalah 38,3 derajat Celcius. Jika suhu tubuh
dewasa lebih dari 39,4 derajat, maka sebaiknya segera dibawa untuk
mendapatkan perawatan medis. Sedangkan pada bayi dan anak-anak, suhu di

6
atas 38 derajat Celcius, segeralah diperiksakan kondisinya. Sebab suhu yang
tinggi, baik pada bayi, anakanak maupun dewasa dapat merupakan pertanda
penyakit yang serius seperti tipus, demam berdarah dan lain sebagainya.

E. Cara Perpindahan Suhu Tubuh


Meningkatnya produksi panas tubuh karena latihan fisik harus diimbangi dengan
meningkatnya pembuangan panas ke lingkungan. Pembuangan panas ini dapat
melalui berbagai cara yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi.
1. Konduksi atau antaran adalah transfer atau perpindahan panas tubuh dari
permukaan tubuh ke lingkungan sekitarnya yang mempunyai suhu lebih
rendah. Kecepatan perpindahan panas tubuh ini tergantung dari tingginya
perbedaan suhu antara kulit dan lingkungan sekitar.
2. Konveksi atau aliran adalah perpindahan panas dari tubuh ke lingkungan di
mana zat perantara ikut juga berpindah. Perpindahan panas dengan cara ini
dapat terjadi karena massa jenis udara panas lebih ringan dibandingkan
dengan udara dingin. Disamping itu dapat juga terjadi karena aliran udara
melalui atau melewati tubuh.
3. Radiasi atau pancaran adalah perpindahan panas dari permukaan tubuh ke
lingkungan tanpa kontak langsung dengan objek sekitarnya.
4. Evaporasi atau penguapan adalah pembuangan panas yang paling penting
dan paling besar terjadi selama olahraga dalam berbagai keadaan iklim.
Apabila keringat berubah dari fase cair menjadi fase uap akan diambil panas
dari tubuh.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Termoregulasi merupakan suatu mekanisme yang terjadi pada makhluk
hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada dikisaran yang dapat
ditorelir. Sistem termoregulasi dikendalikan oleh hypotalamus di otak, yang
berfungsi sebagai termostat tubuh. Hypotalamus sebagai pusat integrasi
termoregulasi tubuh, menerima informasi mengenai suhu di berbagai bagian
tubuh dan memulai penyesuaianpenyesuaian yang sangat rumit dalam mekanisme
penambahan atau pengurangan panas sesuai dengan keperluan.

B. Saran
Seorang perawat profesional harus mampu menganalisa tentang temuan
adanya peningkatan atau penurunan suhu secara signifikan yang berkaitan dengan
kondisi klinis klien. Dengan memahami proses kehilangan dan perolehan panas
serta kebutuhan tubuh untuk mempertahankan homeostasis suhu akan membantu
perawat dalam mengkaji klien dan kebutuhannya serta dalam menetapkan
intervensi keperawatan yang tepat.

8
DAFTAR PUSTAKA

Guyton dan Hall , 2012, “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11”,Jakarta.EGC.
Ganong, William F, 2003, “Buku Ajar Fisiologi kedokteran”,
Yondri Kukus, 2009, “Suhu Tubuh: Homeostasis Dan Efek Terhadap Kinerja Tubuh
Manusia”.Jurnal Biomedik, Volume 1, Nomor 2, Juli 2009, hlm. 107118, Manado:
Bagian Fisika.