Anda di halaman 1dari 24

Pengertian KB

 Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil


yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
 Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk menjarangkan
atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
 WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan
objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan
jumlah anak dalam keluarga.
Tujuan Program KB
 Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan
sosial ekonomi suatukeluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh
suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
 Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan
ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
 Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan
ibu,anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat
dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas,
termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi.
Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:
1. Keluarga dengan anak ideal
2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
Sasaran Program KB
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiranberikutnya,
tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam
usahaekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam
penyelenggaraan pelayanan Program KBNasional.
Ruang Lingkup KB
Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan
dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas;
Keserasian kebijakankependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan
kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.
Strategi Program KB
Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:
1. Strategi dasar
2. Strategi operasional
Strategi Dasar
 Meneguhkan kembali program di daerah
 Menjamin kesinambungan program
Strategi operasional
 Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional
 Peningkatan kualitas dan prioritas program
 Penggalangan dan pemantapan komitmen
 Dukungan regulasi dan kebijakan
 Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan
Dampak Program KB
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian
ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan
kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR;
Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi
manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

Program KB gagal, angka kelahiran penduduk stagnan 10 tahun

Aan Haryono

Jum'at, 22 November 2013 − 19:07 WIB


Ilustrasi.

Sindonews.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengaku,


program Keluarga Berencana (KB) kurang berjalan. Hal ini mengakibatkan stagnannya angka
kelahiran rata-rata penduduk.

Kepala BKKBN Fasli Jalal mengatakan, dalam 10 tahun terkahir rata-rata angka kelahiran di
Indonesia masih relatif sama 1,49 persen, angka ini naik dari tahun 2000-2010. Sebelumnya dari
tahun 1990-2000 angka rata-rata kelahiran turun sebesar 1,45 persen.

Menurut dia, selama ini memang program KB tidak berjalan maksimal, untuk itu BKKBN
mempunyai target untuk dapat menurunkan angka kelahiran sampai pada 1,2 persen

“Kami akui memang program KB tidak berjalan. Jangan kan turun, angkanya tidak bergerak,”
tandasnya saat ditemui, di acara Indonesia maternity baby and kids expo Jakarta, Jumat
(22/11/2013).

Dia mengatakan, banyak kendala yang ditemukan di lapangan saat ini, seperti kurangnya minat
masyarakat untuk mengatahui apa itu KB, serta dukungan dari sisi kelembagaan tidak sama,
seperti tahun 1970-an sampai 2000.

Selain itu, jumlah petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang melayani KB,
jumlahnya semakin menurun. Jumlah PLB saat ini sekira 20 ribu, sebelumnya jumlah PLKB di
seluruh Indonesia sebanyak 40 ribu.

“Walapun jumlah anggaran BKKBN naik untuk tahun depan sebesar Rp60 miliar, tetap saja
terkendala pada daerah dalam menyediakan PLKB,” ujar dia.

Fasli mengatakan, BKKBN pusat tidak dapat ikut campur dalam pengajian dan penempatan
PLKB. Hal ini dikarenakan, PLKB digaji oleh pemda melalui APBD.

Dalam hal ini, lanjutnya, kebijakan dan formasi pengangkatan, pensiunan atau pemindahan ada
di pemda. Bahkan jika dibutuhkan, pemda dapat mengambil PNS dari tempat lain yang potensial.

“Kami tidak bisa mencampuri urusan pemda, untuk memindahkan bahkan yang tidak diganti,”
kata dia.

Saat ini, tambahnya, pertumbuhan penduduk kebanyakan tumbuh pada kalangan tidak mampu.
Dari data yang dmiliki, rata-rata penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi mempunyai
anak sebesar 2,1 persen.

Kelompok masyarakat yang mendekati kaya dan sangat kaya hanya 2 persen. Sedangkan yang
berpendidikan di bawah SD rata-rata 3 persen, bahkan yang di dalam golongan masyarakat
miskin sebesar 3,6.
“Hal ini bisa terjadi kemiskinan, antara generasi keluarga miskin kepada anak-anak yang
miskin,” tegasnya.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nafisah Mboi menilai program Keluarga Berencana
telah gagal, karena angka fertilitas di Indonesia tidak menurun seperti yang diharapkan.

“Pada sekitar 2012 angka fertilitas di Indonesia sebesar 2,6 dan angka tersebut masih bertahan
hingga saat ini. Artinya program KB dalam 10 tahun terakhir gagal,” kata Menkes setelah
membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau 2013 di Batam, Selasa,
seperti dilansir antaranews.com.

Ia mengatakan, seharusnya pada 2014 angka fertilitas di Indonesia 2,1 sesuai dengan target
MDG`s.

“Trennya saat ini usia pernikahan malah cenderung turun. Makin banyak remaja dibawa 20 tahun
yang sudah melakukan seks dan pernikahan akibat pergaulan bebas,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan pernikahan dini banyak terjadi di wilayah rural, sementara pada
daerah urban tidak begitu tinggi.

“Usia pernikahan dini yang terjadi di Indonesia juga meningkatkan resiko kematian ibu saat
melahirkan karena alat reproduksi belum sempurna sepenuhnya,” kata Menteri.

Kepala BKKBN Perwakilan Kepri, Bambang Marsudi mengatakan saat ini angka fertilitas di
wilayah Kepri masih berada pada angka 2,6.

“Saat ini angkanya masih 2,6. Di Kepri banyak penduduk usia muda yang datang untuk mencapi
pekerjaan dan menikah. Sehingga angka fertilitas tinggi,” kata dia.

Sebelumnya, Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) Sudibyo
Alimoeso mengatakan akan terus mendorong adanya kenaikan batas usia pernikahan bagi
perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun.

Dengan dinaikkannya batas usia pernikahan, maka hak perempuan dan anak bisa terpenuhi.

“Kita ingin menaikkan derajat perempuan dengan memberikan kesempatan agar bisa
meningkatkan kualitas dengan peningkatan usia pernikahan,” ujar Sudibyo.
PERKEMBANGAN KB DI INDONESIA

Sejarah KB di Indonesia

1. Dasar pembentukan Organisasi KB

Kesadaran manusia tentang pentingnya masalah kependudukan di mulai sejak bumi di

huni oleh ratusan jiwa manusia.

Plato ( 427-347 SM ) menyarankan agar pramata social dan pemerintah sebaiknya di rencanakan

dengan pertumbuhan penduduk yang stabi sehingga terjadi keseimbangan antara jumlah

penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Malthus ( 1766 – 1834 ) pada jaman industry sedang berkembang manusia jangan terlalu banyak

berkhayal bahwa dengan kemampuan tekhnologi mereka akan dapat memenuhi segala kebutuhan

karna pertumbuhan manusia laksana deret ukur, sedangkan pertumbuhan dan kemampuan

sumber daya alam untuk memenuhinya berkembang dalam deret hitung. Dengan demikian dalam

suatu saat, manusia akan sulit untuk memenuhi segala kebutuhannya karna SDA yang sangat

terbatas.

Pernyataan Malthus yang merupakan kekhawatiran terhadap pertumbuhan penduduk telah

muncul kepermukaan di Negara besar seperti : China, India, dan termasuk Indonesia.

Tahun 1978, WHO dan UNICEF melakukan pertemuan di Alma Ata yang memusatkan

perhatian terhadap tingginya angka kemaatian Maternal perinatal. Dalam pertemuan tersebut

disepakati untuk menetapkan konsep primary Health Care yang memberikan pelayanan

antenatal, persalinan bersih dan aman, melakukan upaya penerimaan keluarga berencana, dan

meningkatka layanan rujukan.


Tahun 1984, population conference di Meksico, menekankan arti pentingnya hubungan antara

tingginya fertilitas dan interval yang pendek terhadap kesehatan dan kehidupan Ibu dan perinatal.

Perkembangan laju peningkatan pertumbuhan pendudukan di Indonesia sangat

mengkhawatirkan. Tanpa adanya usaha- usaha pencegahan perkembangan laju peningkatan

penduduk yang terlalu cepat, uasaha- usaha di bidang pembangunan ekonomi dan social yang

telah di laksanakan dengan maksimal akan tidak berfaedah.

Dapat dikemukakan bahwa untuk dapat menyelamatkan nasib manusia di muka bumi tercinta ini,

masih terbuka peluang untuk meningkatkan kesehatan reproduksi melalui gerakan yang lebih

intensif pada pelaksanaan KB.

Tanpa gerakan KB yang makin intensif maka manusia akan terjebak pada kemiskinan,

kemelaratan, dan kebodohan yng merupakan malapetaka manusia yang paling dahsyat dan

mencekam. Gerakan Kb yang kita kenal sekarang bermula dari kepeloporan bebe rapa orang

tokoh, baik dalam maupun luar negri. Sejak saat itulah berdirilah perkumpulan-perkumpulan KB

diseluruh dunia termasuk Indonesia yang mendirikan PKBI (perkumpulan warga berencana

Indonesia)

2. Peristiwa Bersejarah dalam Perkembangan KB di Indonesia

a. Pada bulan Januari 1967 di adakan symposium kontrasepsi di Bandung yang diikuti oleh

masyarakat luas melalui media masa

b. Pada bulan Februari 1967 diadakan kongres PKBI pertama yang mengharapka agar KB sebagai

program pemerintah segera dilaksanakan


c. Pada bulan April 1967 Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menganggap bahwa sudah waktunya

kegiatan KB dilancarkan secara resmi di Jakarta dengan menyelenggarakan proyek KB DKI

Jakarta Raya

d. Tanggal 16 agustus 1967 gerakan KB di Indonesia memasuki era peralihan pidato pemimpin

Negara selama orde lama. Organisasi pegerakan dilakukan oleh tenaga suka rela dan beroperasi

secara diam- diam karena kepala Negara waktu itu anti terhadap KB , maka dalam orde baru

gerakan KB di akui dan di masukan dalam program pemeritah

e. Bulan Oktober 1968 berdiri lembaga KB nasional ( LKBN ) yang sifatnya semi pemerintah yang

dalam tugasnya di awasi dan di bombing oleh mentri Negara kesejahteraan rakyat, merupakan

kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijakan KB

Peristiwa peristiwa bersejarah didalam perkembangan di Negara Indonesia adalah masuknya

program KB itu kedalam repelita I. adanya KUHP pasal 283 yang melarang menyebarluaskan

gagasan KB sehingga kegiatan penerangan dan pelayanan masih dilakukan secara terbatas.

3. Tahap –Tahap program KB Nasional

Adapun tahap kebijakan pemerintah dalam penyelenggarakan program KB Nasional di

Indonesia adalah

a. Tahun 1970 – 1980 di kenal dengan Manajement For The People

i. Pemerintah lebih banyak berinisiatif

ii. Partisipasi masyarakat rendah sekali

iii. Terkesan kurang demokratif

iv. Ada unsure pemaksaan

v. Berorientasi pada target


b. Tahun 1980 – 1990 terjadi perubahan pada Manajement With The People

i. Pemaksaan di kurangi

ii. Di mulainya program safari pada awal 1980_an

c. Tahun 1985 – 1988 pemerintah menetapkan program KB Lingkaran Biru, dengan kebijakan:

i. Masyarakat bebas memilih kontrasepsi yang akan dipakainya meskipun masih tetap dipilhkan

jenis kontrasepsinya.

ii. Dari 5 jenis kontrasepsi di pilihkan salah satu dari jenisnya

d. Tahun 1988 terjadi perkembangan kebijakan, pemerintah menerapkan program Kb Lingkar

Emas yaitu:

i. Pilih alat kontrasepsi sepenuhnya diserahkan pada peserta, asal jenis kontrasepsi sudah

terdapat di departemen kesehatan.

ii. Masyarakat sudah mulai membayar sendiri untuk alat kontrasepsinya.

e. Tahun 1998 terjadi peningkatan kesejahteraan keluarga melalui peningkatan pendapatan kelurga

( Income Generating ) pada tanggal 29 juni 1994 presiden Suharto di sidoarjho melaksanakan

plesterisasi / lantainisasi rumah- rumah secara gotong royong untuk keluarga presejahtera

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan KB di Indonesia

· Sosial Ekonomi

Tinggi rendahnya status sosial dan keadaan ekonomi penduduk Indonesia di pengaruhi

oleh perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia. Kemajuan program KB tidak bisa
lepas dari tingkat ekonomi masyarakat karena berkaitan dengan kemampuan untuk membeli alat

kontrasepsi yang digunakan.

Dengan suksesnya program KB maka perekonomiansuatu negara akan lebih baik karen dengan

anggota keluarga yang sedikit kebutuhan dapat lebih tercukupi dan kesejahteraan dapat terjamin.

· Budaya

Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi,

faktor – faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai metode,

kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan dan

status wanita.

· Pendidikan

Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode kalender lebih banyak di gunakan

oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Dihipotesiskan bahwa wanita berpendidikan

menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk mengambil resiko yang

terkait sebagai metode kontrasepsi.

· Agama

Para akseptor wanita mungkin berpendapat bahwa perdarahan yang tidak teratur yang

disebabkan sebagian metode hormonal akan sangat menyulitksn mereka selama haid mereka

dilarang bersembahyang. Disebaagian masyarakat, wanita hindu dilarang mempersiapkan

makanan selama haid yang tidak teratur dapat menjadi masalah.

· Status Wanita

Status wanita dalam masyarakat dapat mempengaruhi kemampuan mereka memperoleh

dan menggunakan berbagai metode kontrasepsi didaerah daerah yang status wanitanya
meningkat, sebagian wanita memiliki pemasukan yang lebih besar untuk membayar metode –

metode yang lebih mahal serta memiliki lebih banyak suara dalam mengambil keputusan. Juga di

daerah yang wanitanya lebih dihargai, mungkin hanya dapat sedikit pembatasan dalam

memperoleh berbagai metode, misalnya peraturan yang mengharuskan persetujuan suami

sebelum layanan KB dapat diperoleh.

Organisasi Organisasi KB di Indonesia

1. Organisasi non pemerintah yaitu PKBI ( Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

Pada tahun 1953, sekelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan, khususnya dari

kalangan kesehatan memulai prakarsa kegiatan KB, kegiatan kelompok ini berkembang hingga

berdirilah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ( PKBI ). Pada tahun 1957 tepatnya pada

tanggal23 Desember 1957 dengan Dr. R Soeharto sebagai ketua PKBI adalah pelopor pergerakan

keluarga berencana yang membantu masyarakat yang memerlukan bantuan secara sukarela.

Tujuan dari PKBI adalah memperjuangkan terwujudnya keluarga sejahtera melalui 3 macam

usaha yaitu :

· Mengatur kahamialn

· Mengobati kemandulan

· Memberi nasehat perkawinan

Pada tahun 1970 LKBN di bubarkan oleh pemerintah dan kemudian di bentuk Badan

Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ).

2. Organisasi pemerintah yaitu BKKBN ( Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional )


Keputusan presiden RI Nomor 8 tahun 1970 tentang BKKBN yaitu Depkes sebagai unit

pelaksanaan program KB. BKKBN yaitu badan resmi pemerintah yang bertamnggung jawab

penuh mengenai pelaksanaan program KB di Indonesia. Keuntungan dari BKKBN adalah

· Memungkinkan promram- program melepaskan diri pendekatan klinis yang jangkauannya

terbatas.

· Memungkinkan besarnya peranan pakar – pakar non medis dalam mensukseskan program

keluarga berencana di Indonesia melalui pendekatan ke masyarakat.

Sedangkan fungsi BKKBN adalah pengkoordinasi, perencana, perumus kebijakan, pengawas

pelaksana dan evaluasi. Pada waktu itu tujuan program keluarga berencana adalah :

o Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak keluarga dan bangsa.

o Mengurangi angka kelahiran untuk menaikan taraf hidup rakyat dan bangsa.

Dalam perkembangan selanjutnya BKKBN mengembangkan lagi kegiatannya menjadi

program nasional kependudukan dan KB (KKB) yang pada waktu ini mempunyai 2 tujuan :

· Tujuan demografis,yaitu mengendalikan tingkat pertumbuhan penduduk berupa penurunan

angka fertilitas dari 44 permil pada tahun 1979 menjadi 22 permil pada tahun 1990 atau 50 %

dari keadaan pada tahun 1971.

· Tujuan normatif,yaitu dapatdihayati norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) yang

pada satu waktu akan menjadi falsafah hidup masyarakat dan bangsa indonesia.

Visi dan Msi BKKBN

Visi tahun 2001

“ Membangun keluarga berkualitas pada tahun 2010 “


Misi

· Memberdayakan masyarakat

· Menggalang kemitraan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan,kemandirian dan ketahanan

keluarga

· Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi

· Meningkatkan upaya pemberdayaan wanita dalam

· Mewujutkan kesetaraan gender melalui program KB

· Mempersiapakan SDM berkualitas sejak pembuahaan

· Menyediakan data dan informasi dalam skala mikro

Tujuan

Memberikan kontribusi, terciptanya penduduk yang berkualitas, SDM yang bermutu dan

meningkatnya kesejahteraan keluarga.

Sasaran

· Sasaran penggarapan program

· Pada keluarga, kelompok, dan institusi masyarakat pedesaan

· Sasaran pencapaian program

· Memberikan pelayanan pada peserta KB baru dan KB aktif

· Meningkatkan pembinaan ketahanan keluarga melalui peningkatan


Kualitas dan kuantitas

· Meningkatkan jumlah kelompok UPPKS

1. BKKBN pusat

Melalui kepres no. 38 tahun 1978 tentang tugas pokok BKKBN. BKKBN pusat berfungsi

untuk mempersiapakn kebijakan umum dan mengkoordinasi pelaksanaan program KB nasional

dan kependudukan yang mendukungnya, baik ditingkat pusat maupun daerah, serta

mengkoordinasi penyelenggaraan dilapangan.

2. BKKBN Prop. / Kab / Kota

Melalui surat keputusan Kep. BKKBN provinsi dan perwakilan BKKBN kabupaten / Kota ,

BKKBN Provinsi ? Kabupaten / Kota berfungsi untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi

BKKBN di provinsi dan kabupaten / Kota yang antara lain :

· Menkoordinir penyelanggaraan KB di tingkat provinsi kabupaten / kota

· Mengadakan rapat koordinasi melibatkan pihak-pihak terkait.

· Mengadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan program KB

· Menyusun dan pelaporan KB ke tingkat provinsi maupaun pusat

3. Tingkat Kecamatan

BKKBN tingkat kecamatan berfungsi:

· Mengkoordinasi penyelenggaraan KB tingkat kecamatan.

· Mengadakan rapat koordinasi melibatkan pihak-pihak terkait.

· Mengdakan evaluasi pelaksanaan program KB berdasarkan laporan dan cakupan wilayah.

· Pelaporan pelaksanaan kegiatan program KB ke tingkat Kabupaten / Kota.

4. Tingkat desa (PPKBD / sub PPKBD)


Fungsi dari PPKBD / sub PPKBD yang berada di tingkat desa antara lain :

· Memberikan pelayanan kontrasepsi sederhana dan pil KB ulangan pada peserta KB

· Membina kelestarian peserta KB

· Memberi nasehat-nasehat untuk peserta KB akibat efek samping bila perlu merujuk

· Pencatatan dan pelaporan sederhana

· Memotivasi calon peserta KB baru

· Membantu PLKB di daerahnya

· Membantu penanggulangan isu-isu yang merugikan gerakan KB bersama aparat yang

berwenang

· Menerima, menyimpan dan menyalurkan alat kontrasepsi sederhana

5. Tingkat pos pelayanan terpadu (posyandu / pos kesehatan terpadu)

Petugas KB di tingkat posyandu berfungsi antara lain :

· Membantu petugas KB dalam pendataan peserta KB

· Membina kelestarian peserta KB dan penanggulangan isu-isu yang merugikan program KB

· Melayani kontrasepsi sederhana dan pil ulang

· Pelayanan rujukan sesuai kemampuan

· Pencatatan dan pelaporan

· Membantu pelaksanaan kegiatan integrasi dengan kegiatan KIA, imunisasi, konseling, upaya

PKMD, upaya UPPKS,gizi dan penaggulangan diare

6. Kelompok-kelompok akseptor

Kelompok-kelompok akseptor berfungsi antara lain :

· Memberikan pelayanan KIE

· Memberikan alat kontrasepsi sederhana, pil ulangan


· Memotivasi dan penanggulangan isu-isu akibat pemakaian alat kontrasepsi

· Melakukan pencatatan

· Mengupayakan kemandirian ber KB bagi anggotanya

· Merujuk anggotanya yang mengalami kontrasepsi

7. Peserta KB

Peserta KB berfungsi :

· Menerima jasa pelayanan KB

· Meningkatkan kemandirian ber KB

REFERENSI

Hartanto, Hanafi. 2004. Keeluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: CV Muliasari.

Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka Rihanna.

Meilani, Niken.2010. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Fitramaya.


Kamis, 13 Juni 2013
Program KB di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak
segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan
Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) dalam rangka meningkatkan mutu sumber
daya manusia. Tujuan gerakan KB Nasional adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera
yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran
dan pertumbuhan penduduk Indonesia.
Aseptor KB (peserta keluarga berencana/family planning participant) ialah PUS yang
mana salah seorang menggunakan salah satu cara/ alat kontrasepsi untuk pencegahan kehamilan,
baik melalui program maupun non program
Tujuan umum dari program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan
kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norama Keluarga Kecil Bahagia
Sejahtera (NKKBS). Sasaran dalam program ini adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang
ditetapkan berdasarkan survei PUS yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun dan
pelaksanaannya di koordinasikan oleh Petugas Lapangan KB (PLKB).
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian KB?


2. Apa tujuan program KB?
3. Siapa sasaran program KB?
4. Apa saja ruang lingkup KB?
5. Apa saja strategi program KB?
6. Apa manfaat KB?
7. Apa dampak program KB?
8. Bagaimana pengaruh KB terhadap pengendalian penduduk?
9. Bagaimana optimalisasi peran KB?
10. Kesuksesan KB di Indonesia masih jadi acuan?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah menjawab semua pertanyaan dalam
rumusan masalah dan untuk memenuhi tugas mata kuliah KIA/KB (Kesehatan Ibu dan
Anak/Keluarga Berencana).
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui Program KB di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian KB

1. Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang


bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
2. Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) adalah suatu usaha untuk
menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai
kontrasepsi.
3. WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:
Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

B. Tujuan Program KB
Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial ekonomi
suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia
dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lain meliputi pengaturan
kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan
ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat
dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas,
termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi.
Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:

1. Keluarga dengan anak ideal


2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

C. Sasaran Program KB
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:

1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran
berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program
KB Nasional.

D. Ruang Lingkup KB

1. Ruang lingkup KB antara lain:


2. Keluarga berencana;
3. Kesehatan reproduksi remaja;
4. Ketahanan dan pemberdayaan keluarga;
5. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas;
6. Keserasian kebijakan kependudukan;
7. Pengelolaan SDM aparatur;
8. Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan;
9. Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

E. Strategi Program KB
Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:

1. Strategi dasar
a. Meneguhkan kembali program di daerah
b. Menjamin kesinambungan program
c. Strategi operasional

2. Strategi operasional
a. Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional
b. Peningkatan kualitas dan prioritas program
c. Penggalangan dan pemantapan komitmen
d. Dukungan regulasi dan kebijakan
e. Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan
F. Manfaat KB

1. Menurunkan angka kematian maternal dengan adanya perencanaan kehamilan yang


aman, sehat dan diinginkan.
2. Mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi.
3. Memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
kependudukan.Proggram keluarga berencana nasional adalah program untuk membantu
keluarga termasuk individu anggota keluarga untuk merencanakan kehidupan berkeluarga
yang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas. Dengan terbentuk keluarga
berkualitas maka generasi mendatang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas
akan dapat melanjutkan pembangunan. Program keluarga berencana dalam pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan kependudukan dapat memberikan kontribusi dalam
empat hal, yaitu :
a. Mengendalikan jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk juga dengan peningkatan kualitas
penduduk.
b. Peningkatan kualitas penduduk sebagai sumber daya yang handal dilakukan dengan
mengarahkan pembangunan pada penurunan kematian ibu dan bayi dengan menurunkan
kelahiran atau kehamilan melalui penggunaan kontrasepsi.
c. Berusaha dan menjunjung tinggi perwujudan hak – hak asasi manusia dalam hal kesehatan
reproduksi pasangan usia subur untuk merencanakan kehidupan berkeluarga.
d. Mendukung upaya pemberdayaan perempuan dengan menyadari sepenuhnya akan hak dan
kewajiban perempuan serta sebagai sumber daya manusia yang tangguh.
G. Dampak Program KB
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu
dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan keluarga;
Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR; Peningkatan sistem
pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam
penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

1. Dampak Program KB Terhadap Pencegahan Kelahiran


a. Untuk ibu, dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran maka manfaatnya :
1) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang berulang kali dan terlalu
pendek.
2) Peningkatan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup
untuk mengasuh anak, beristirahat, dan menikmati waktu luang serta melakukan kegiatan
lainnya.
b. Untuk anak-anak yang dilahirkan, manfaatnya:
1) Anak dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya dalam keadaaan sehat.
2) Sesudah lahir, anak mendapat perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup karena
kehadiran anak tersebut memang diinginkan dan direncanakan.
c. Untuk anak-anak yang lain, manfaatnya:
1) Memberi kesempatan kepada anak agar perkembangan fisiknya lebih baik, karena setiap anak
memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia dalam keluarga.
2) Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena pemeliharaan lebih baik dan lebih
banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak.
3) Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena sumber-sumber pendapatan
keluarga tidak habis untuk mempertahankan hidup semata-mata.
d. Untuk ayah, memberikan kesmpatan kepadanya agar dapat:
1) Memperbaiki kesehatan fisiknya.
2) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta lebih banyak
waktu terluang untuk keluarganya.
e. Untuk seluruh keluarga, manfaatnya:
Kesehatan mental, fisik, sosial setiap anggota keluarga tergantung dari kesehatan seluruh
keluarga. Setiap anggota keluarga mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memperoleh
pendidikan (Handayani, 2010).
H. Pengaruh Kb Terhadap Pengendalian Penduduk
Program Keluarga Berencana merupakan usaha lansung yang bertujuan untuk
mengurangi tingkat kelahiran melalui penggunaan alat kntrasepsi. Berhasil atau tidaknya
Pelaksaan Program Keluarga Berencana akan menetukan pula berhasil atau tidaknya usaha untuk
mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Pertambahan penduduk yang cepat, tidak
seimbang dengan peningkatan produksi akan mengakibatkan ketegangan – ketegangan sosial
dengan segala akibat yang luas.

1. Pengaruh positif Program KB


Dengan adanya program KB maka laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan untuk
menghindari terjadinya peledakan penduduk yang luar biasa, karena diperkirakan jika angka
persentase kesetaraan jumlah penduduk yang ber-KB dapat dinaikkan 1 % per tahun, maka
diprediksikan jmlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sekitar 237,8 juta jiwa, ini masih di
bawah dari angka proyeksi penduduk tahun 2015 yang diperkirakan sekitar 248 juta jiwa.
Dengan adanya kebijakan pemerintah unutk pengaturan laju pertumbuhan penduduk dan
pengaturan jumlah kelahiran di Indonesia merupakan bagian dari kebijakan kependudukan
nasional, yang dalam hal ini pelaksanaan program KB di daerah pada era otonomi perlu
ditentukan sasaran kinerja program untuk mewujudkan keserasian kependudukan di berbagai
bidang pembangunan. Dengan terkendalinya jumlah penduduk, maka akan tercipta generasi yang
berkualitas, sehingga dapat meneruskan pembangunan Indonesia yang berkualiatas.

2. Pengaruh negatif Program KB


Selain mendatangkan pengaruh yang positif, program KB juga memiliki pengruh yang
kurang menguntungkan, ini dilihat dari semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam ber-
KB, maka penggunaan metode KB berupa penggunaan AKDR, implant, suntik KB, pil KB juga
semakin meningkat, maka biaya yang harus di keluarkan pemerintah untuk pengadaan alat – alat
dan obat untuk kontrasepsi di Indonesia dapat dikatakan cukup tinggi.
Menurut penelitian, dengan peggunaan metode untuk ber-KB maka dapat mempercepat
penuaan pada akseptornya, sehingga dapat dikatakan jumlah usia lanjut akan semakin bertambah
setiap tahunnya, sehingga biaya yang juga harus dikeluarkan pemerintah untuk kesejahteraan
para Usila juga meningkat.
I. Optimalisasi Peran KB
Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan berdampak pada kemiskinan dan
pengangguran. Karenanya, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga-
lembaga terkait lainnya secara bersama-sama menanggulangi ledakan penduduk sekaligus
memberikan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga agar kualitas
hidupnya lebih baik. Di sinilah kehadiran KB menjadi kebutuhan yang sangat mendesak ketika
ancaman ledakan penduduk menimpa bangsa ini.
Soerjono Soekanto dalam bukunya, Sosiologi Sebuah Pengantar (2010) mengatakan,
bahwa masalah angka kelahiran akan dapat diatasi dengan melaksanakan program keluarga
berencana yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu-ibu dan anak-anak
maupun meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat dengan mengurangi angka kelahiran
sehingga pertumbuhan penduduk tidak melebihi kapasitas produksi.
Dengan demikian, program KB menjadi pilihan yang sangat tepat guna membatasi
jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan menunda masa perkawinan dini agar dapat
mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi. Selain itu, cara lain yang dapat dilakukan untuk
mengimbangi ledakan jumlah penduduk adalah penambahan dan penciptaan lapangan kerja,
meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan, mengurangi kepadatan penduduk
dengan program transmigrasi, dan meningkatkan produksi.
Penulis sangat yakin dengan beberapa cara tersebut ancaman ledakan jumlah penduduk
bisa diminimalisir sehingga angka kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan seminimal
mungkin. Jika angka kemiskinan dan pengangguran berkurang otomatis kesempatan dan akses
masyarakat terhadap kesehatan dan pendidikan benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat
Indonesia dan pada gilirannya kesejahteraan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini akan
terwujud.
J. Kesuksesan KB di Indonesia Masih Jadi Acuan
Pengalaman keberhasilan Indonesia dalam menekan pertumbuhan penduduk lewat
program keluarga berencana (KB) masih menjadi acuan bagi negara berkembang lain untuk
belajar. Akan tetapi, pencapaian tersebut masih perlu ditingkatkan lagi, mengingat saat ini
indikator kependudukan yang dulu signifikan sekarang stagnan. Demikian komentar yang
disampaikan oleh Duff Gillespie, Director Project Advance Family Planning (AFP), sebuah
inisiatif yang bertujuan merevitalisasi program KB. "Indonesia pernah memiliki program
keluarga berencana yang terbaik di dunia. Tapi semua itu masih perlu di-improve karena
pencapaiannya masih statis”. Senada dengan Gillespie, Jose Rimon II dari Bill & Melinda Gates
Foundation, yang termasuk dalam konsorsium AFP mengatakan kesuksesan Indonesia diakui
oleh dunia sehingga lembaga-lembaga donor meluluskan dan memberi penghargaan."Meski kini
menghadapi tantangan desentralisasi, Indonesia masih jadi negara yang bisa dipelajari
kesuksesannya. Kami percaya negara lain masih bisa belajar dari sini," katanya.
Menurut Kepala BKKBN, Sugiri Syarief, sampai saat ini hampir 5.000 pejabat dan
pengelola program kependudukan dan KB dari 94 negara telah datang ke Indonesia untuk
bertukar pengalaman bagaimana Indonesia mengelola program KB. Indonesia dianggap berhasil
melakukan konsolidasi dan melibatkan tokoh keagamaan, tokoh masyarakat, serta swasta dalam
program KB walau struktur sosial ekonomi masyarakat masih beragam dengan kondisi geografis
yang terpencar.
Kini, keberhasilan Indonesia dalam program KB mendapat tantangan cukup besar. Sejak
sistem sentralisasi bergeser menjadi desentralisasi, banyak kepala daerah yang enggan
mendukung program KB karena dianggap sebagai kegiatan menghambur-hamburkan uang. Pola
pikir seperti itu merupakan cermin kurangnya pemahaman sebagian masyarakat terhadap peran
KB.
Lebih dari sekadar upaya kuantitatif untuk menurunkan angka kelahiran dan kematian,
peran Keluarga Berencana sebenarnya bersifat kualitatif dalam hal perbaikan penanganan
kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Ini yang dicapai lewat pengaturan saat kehamilan,
jarak kelahiran, dan jumlah anak.