Anda di halaman 1dari 9

MODUL PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DALAM KLB

FORMULIR ISIAN PRAKTIKUM 12, 13, 14

PRODI D-4 KEBIDANAN SEMESTER V (GASAL 2017)


MK. EPIDEMIOLOGI
Kode : Bd.6. 408
Bobot SKS : 2 SKS (T = 1 SKS ; P = 1 SKS)

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)


PENYAKIT DIFTERI

BAGIAN 1 :
Pada tanggal 14 November 2016 Puskesmas Waspada menerima laporan dari seorang
Tenaga Medis (praktek swasta) bahwa dirinya telah memberikan pelayanan pengobatan
kepada seorang pasien yang datang dengan suspect Difteri. Pasien tersebut adalah murid
SMA, berumur 16 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan beralamat di Dusun Pinanya,
Desa Param Param, status imunisasi dasar tidak diketahui. Pasien tersebut ditemukan
tanggal 11 November dan telah dirujuk dan dirawat inap di rumah sakit setempat pada hari
itu juga.

Pertanyaan :
1. Apakah Difteri itu? Apa agen penyebab (mikroorganisme) penyakit Difteri?
2. Apa atau bagaimana gejala klinis Difteri?
3. Apa pula yang dimaksud dengan kasus suspect Difteri? Apa bedanya dengan
probable, dan definite/confirmation cases
4. Menurut riwayat alamiahnya, berapa lamakah masa sakit Difterii (duration of
illness)?

Jawab :
1. Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan
kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai
sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.
2. Gejala yang muncul ialah sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas dan menelan,
mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung, dan sangat lemah. Kelenjar getah
bening di leher membesar dan terasa sakit. Lapisan(membran) tebal terbentuk
menutupi belakang kerongkongan atau jika dibuangkan menutup saluran
pernapasan dan menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah.
3. Suspected Difteri adalah
a. Sedangkan probable Difteri adalah kemungkinan penyakit yang ditandai oleh
laringitis atau faringitis, dan amandel yang melekat, faring dan atau hidung
b. Define/Confirmation Difteri adalah ...............
4. Masa sakit difteri dengan masa inkubasi Difteri biasanya 2 – 5 hari, dan lamanya sakit
secara alamiah 4 minggu, Carrier kronis dapat mencapai 6 bulan
BAGIAN 2 :

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 1


Untuk mengetahui besarnya permasalahan dan distribusi penyebaran kasus yang terjadi di
masyarakat, maka Dinas Kesehatan Kabupaten beserta Puskesmas setempat melakukan
penyelidikan KLB. Penyelidikan epidemiologi (PE) dalam rangka penanggulangan KLB
dilakukan secara bertahap, dimulai dengan LANGKAH–1, yaitu PERSIAPAN. Langkah
persiapan meliputi tindakan Identifikasi masalah; Menusun/merumuskan kegiatan; dan
Mempersiapkan kekelengkapan PE

Pertanyaan :
5. Apa sajakah yang perlu di identifikasi pada persiapan PE ?
6. Apa pula yang perlu disusun/dirumuskan pada persiapan PE ?
7. Kelengkapan apa yang perlu dipersiapkan dalam PE tersebut ?

Jawab :
5. Hal-hal yang perlu diidentifikasi meliputi :
 ........
 .........
 ..........
6. Hal-hal yang perlu disusun/dirumuskan meliputi :
 ...............
 ............
 ............
7. Kelengkapan yang perlu dipersiapkan meliputi :
 ....................
 ................
 .....................

BAGIAN 3 :
Setelah LANGKAH–1 PERSIAPAN selesai dilakukan, tim PE segera melanjutkan kegiatan pada
LANGKAH–2, yaitu MEMASTIKAN ADANYA KLB. Kerangka berpikir yang dipergunakan untuk
memastikan adanya KLB menggunakan skema sebagai berikut :

Peningkatan Kejadian

Kriteria Terpenuhi

Ya Tidak
•False Positif
•Perubahan Pop. Bukan KLB
•Survei Khusus
•Misinterpretasi Ya

Tidak

Bukan KLB
KLB
6

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 2


Pada langkah ini ada 2 aspek dalam melakukan verifikasi laporan yang diterima. Verifikasi
tersebut meliputi benar tidaknya peningkatan kasus sudah memenuhi kriteria KLB, dan
benar tidaknya metode penegakkan kasus Difteri yang dilaporkan.

Pertanyaan :
8. Kriteria KLB yang manakah yang dapat menjadi dasar penilaian KLB Difteri tersebut?
9. Difteri adalah salah satu penyakit yang termasuk kedalam PD3I (Penyakit yang Dapat
Dicegah Dengan Imunisasi). Adakah kriteria KLB untuk jenis penyakit PD3I? Jika ada
sebutkan.
10. Peningkatan jumlah kasus yang dilaporkan (over recorded) bisa saja terjadi karena 4
kemungkinan, sebutkan kemungkinan tersebut.

Jawab :
8. Berdasarkan kriteria KLB Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat
Menimbulkan Wabah Dan Upaya Pencegahan, kriteria yang terpenuhi adalah :
a) Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah adalah
sebagai berikut:
1) Kolera
2) Pes
3) Demam Berdarah Dengue
4) Campak
5) Polio
6) Difteri
7) Pertusis
8) Rabies
9) Malaria
10) Avian Influenza H5N1
11) Antraks
12) Leptospirosis
13) Hepatitis
14) Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009
15) Meningitis
16) Yellow Fever
17) Chikungunya
18) Penyakit menular tertentu lainnya yang dapat menimbulkan wabah
ditetapkan oleh Menteri

9. Selain itu, berdasarkan Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian


Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010,
menyatakan bahwa apabila terdapat satu kasus difteri probable atau kasus
konfirmasi merupakan suatu kejadian luar biasa
10. Empat kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah kasus yang dilaporkan (over
recorded) adalah :
a) Terjadi False Positif : yaitu ................................................................
Kesalahan terjadi karena diagnosa dilakukan oleh yang tidak kompeten
untuk itu

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 3


b) Terjadi perubahan populasi : yaitu berkurang dan bertambah jumlah
populasi
c) Sedang berlangsungnya survei khusus : yaitu ........................................
d) Mis-interpratasi : yaitu, .................................

BAGIAN 4 :
Langkah–3 adalah MEMASTIKAN DIAGNOSA. Pada langkah ini semua temuan klinis harus
disimpulkan dalam distribusi frekuensi untuk menggambarkan spektrum penyakit,
menentukan diagnosis, dan mengembangkan definisi kasus. Tujuannya adalah
menyingkirkan kesalahan-kesalahan diagnosis yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus
yang dilaporkan. Pada langkah ini dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder
menurut kriteria klinis dan atau kriteria laboratoris.
Hasil pengumpulan data dan pencarian kasus (tracing) menunjukkan bahwa peningkatan
kasus tersebut bukan karena kesalahan diagnosa, bukan karena perubahan populasi, bukan
karena hasil survei khusus, dan bukan karena salah interpretasi data, tetapi telah melalui
pemeriksaan laboratorium.
Selanjutnya penuluran data di lapangan menghasilkan data kasus sebagai berikut :
 Minggu ke 52 : 4 penderita; CFR = 0%
 Minggu ke 1 : 6 penderita, 2 meninggal; CFR = 0,33%
 Minggu ke 2 : 12 penderita; CFR = 0%
 Minggu ke 3 : 4 penderita, 2 mininggal; CFR = 0,5%
 Minggu ke 4 : 10 penderita, 1 meninggal; CFR = 0,1%

Pertanyaan :
11. Hitunglah Insidens Kumulative (Cumulative Incidence) penyakit Difteri selama 5
minggu KLB di Dusun Pinanya, jika diketahui jumlah penduduk di Dusun itu sebanyak
160 jiwa.
12. Hitung pula CFR selama masa KLB terjadi?

Jawab :
11. Insidens Kumulatif selama 5 minggu pengamatan =
= (jumlah kasus) / (populasi berisiko pada awal pengamatan)
= 36/160
= 0,225

12. CFR selama KLB = jumlah meninggal karena Difteri / Jumlah penderita Difteri
= 5/36
= 0,138

BAGIAN – 5 :
Langkah selanjutnya dalam penyelidikan KLB adalah Langkah ke 4. Langkah ke 4 berupa
IDENTIFIKASI DAN MENGHITUNG JUMLAH KASUS. Distribusi frekwensi kasus disajikan
menurut faktor orang, faktor tempat, dan faktor waktu. Analisis deskriptif menurut orang
dan analisis deskriptif menurut tempat dapat memberikan informasi tentang kelompok

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 4


risiko tinggi pada KLB Difteri di Dusun Pinanya tersebut Data yang dikumpulkan kemudian
disajikan dalam bentuk tabel dan gambar sebagai berikut :
 Tabel distribusi kasus difteri berdasarkan umur di Desa Param Param tahun 2016
No Umur Kasus % Kematian %
1 0-1 1 2,63 0 0.00
2 1-5 19 50,00 77 77,77
3 5-10 9 223,68 2 22,23
4 10-15 3 7,89 0 0.00
5 15-20 2 5,25 0 0.00
6 > 20 Tahun 4 8,33 0 0.00
Jumlah 38 100.00 9 100
 Tabel distribusi kasus difteri berdasarkan jenis kelamin di Desa Param Param tahun
2016
Jenis Kelamin Kasus % Kematian %
Laki-Laki 15 39.47 4 44.44
Perempuan 23 60.53 5 55.56
Jumlah 38 100 9 100
 Jumlah kasus difteri yang terjadi pada KLB ini sebanyak 38 kasus, tersebar di 3 Dusun
dengan proporsi terbanyak terjadi di Dusun Paramasan Atas yaitu 86.8%.
Tabel distribusi kasus difteri menurut tempat kejadian di Desa Param Param
tahun 2016

Desa Param Param Jumlah % Kematian %


Dusun Pinanya Hulu 33 86,8 5 42,86
Dusun Pinanya Hilir 3 7,89 2 28,57
Dusun Pinanya 2 5,26 2 28,57
Jumlah 38 100 9 100

Pertanyaan :
13. Berilah narasi pada tabel distribusi kasus Difteri berdasarkan umur, agar
memberikan informasi tentang fenomena Difteri berdasarkan umur.
14. Berilah narasi pada tabel distribusi kasus Difteri berdasarkan tempat, agar
memberikan informasi tentang fenomena Difteri berdasarkan tempat.
15. Berilah narasi pada grafik garis kasus Difteri berdasarkan waktu, agar memberikan
informasi tentang fenomena Difteri berdasarkan waktu kejadian

Jawab :
13. ....
14. ....
15. ....

BAGIAN – 6 :

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 5


Langkah ke 5 dari rangkaian penyelidikan epidemiologi berupa analisis deskriptif. Analisis
deskriptif menurut variabel waktu berdasarkan kurva epidemi Difteri yang terjadi.
Berdasarkan kurva tersebut dapat dianalisis lamanya KLB, Cara Penularan, dan Time of
Exposure kasus primer. Sedangkan melalui analisis deskriptif menurut tempat dan analisis
deskriptif menurut waktu dapat memberikan informasi tentang kelompok risiko tinggi pada
KLB Difteri di Dusun Pinanya tersebut. Kurva kasus Difteri menurut waktu disajikan sebagai
berikut.

Kurva Epidemiologi Kasus Difteri


Di Desa Param Param Puskesmas Waspada
Tahun 2016
5

4 4 4
3 3 3 3
2 2 2 2 2 2
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Untuk mendapatkan kesan pola KLB apakah berbentuk common source atau propagated
maka grafik kasus harian tersebut diubah menjadi grafik kasus 2 harian dan grafik 3 harian.
Hal itu mengingat masa inkubasi difteri adalah 2- 5 hari. Hasilnya membentuk pola sebegai
berikut :

Grafik kasus 2 hari-an

10
8
6
4 Series1
2
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 6


Grafik kasus 3 hari-an

10

5
Series1

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Pola kasus dengan grafik 2 hari-an dan 3 hari-an diatas menunjukkan pola grafik yang
memiliki lebih dari 2 puncak, atau disebut bentuk propagated, dan bukan satu puncak
(common source)

Kurva Epidemiologi Kasus Difteri


Di Desa Param Param Puskesmas Waspada
Tahun 2016
Kasus Kematian

12
10

6
4 4
2 2 2
1
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
51 52 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Pertanyaan :
16. Berdasarkan kurva KLB Difteri diatas, berapa lamakah KLB tersebut berlangsung?
17. Apakah yang dimaksud dengan bentuk kurva KLB Common Source?
18. Apa pula yang dimaksud dengan bentuk kurva KLB Propagated?
19. Berdasarkan bentuk kurva mingguan diatas, bentuk kurva Difteri tersebut lebih mirip
bentuk apa?
Catatan : masa inkubasi Difteri biasanya 2 – 5 hari, dan lamanya sakit secara alamiah
4 minggu, Carrier kronis dapat mencapai 6 bulan
20. Tentukan waktu terjadinya paparan kasus primer (Time of Exposure)

Jawab :

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 7


16. 3,5 bulan (75hari)
17. Bentuk kurva Common Source adalah memiliki peningkatan dengan tajam, dan
memiliki puncak yang tegas. Disusul dengan penurunan secara gradual. Kurva
common source (memiliki satu titik puncak)
Bentuk ini mengindikasikan bahwa penderita dan sumber penular ...........................
18. Bentuk kurva Propagated adalah bentuk kurva ..........................
Bentuk ini mengindikasikan bahwa penderita dan sumber penular .......................
19. Kurva KLB Difteri di Desa Param Param lebih mirip berbentuk ...............................
20. Waktu terjadinya paparan pada kasus primer (penderita Difteri pertama tertular)
diperkirakan pada tanggal 25 desember 2016

BAGIAN – 7 :
Langkah ke 6 adalah merumuskan hipotesis faktor-faktor yang berhubungan atau yang
menyebabkan terjadinya KLB Difteri tersebut. Determinan terjadinya penyakit dapat dipilah
menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Mengingat bahwa Difteri adalah salah satu
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, maka beberapa pertimbangan dalam
merumuskan determinan penyakit dapat dikembangkan berdasarkan pertanyaan sebagai
berikut :

Pertanyaan :
21. Sebutkan beberapa faktor internal penyebab Difteri.
22. Sebutkan pula beberapa faktor eksternal penyebab Difteri.
23. Rumuskanlah suatu hipotesa penyebab yang paling mungkin yang menyebabkan KLB
Difteri di Desa Param Param tersebut

Jawab :
21. faktor internal penyebab Difteri adalah lemahnya sistem imun tubuh, kurang gizi,
kebutuhan nutrisi yang kurang, pola hidup yang kurang sehat.
22. faktor eksternal penyebab Difteri adalah kontak dengan benda-benda pribadi yang
terkontaminasi seperti tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang
belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda-benda yang membawa bakteri,
dan bisa karna lingkungan yangg kurang bersih dan lingkungan kumuh, Pada kasus
yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan
bersama, seperti handuk atau mainan, Menyentuh luka yang terinfeksi juga dapat
membuat Anda terekspos bakteri yang menyebabkan difteri. Penyebab lain bisa
karna kegagalan dalam pemberian imunisasi dasar DPT-Penta-Hb-Hib seperti dosis
pemberian yang tidak sesuai.
23.
Daftar Pustaka :
.................

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 8


LANGKAH-LANGKAH PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI PADA SUATU KEJADIAN KLB :
I. LANGKAH 1 : persiapan
II. LANGKAH 2 : MEMASTIKAN ADANYA KLB
III. LANGKAH 3 ; MEMASTIKAN DIAGNOSIS
IV. IDENTIFIKASI DAN MENGHITUNG JUMLAH KASUS
V. ANALISIS DESKRIPTIF
VI. MERUMUSKAN HIPOTESIS
VII. TINDAKAN PENANGGULANGAN
VIII. MEMBUAT LAPORAN & DISEMINASI

Banjarbaru, .........Januari 2019

Kelompok : .........
1. ....................................
2. ....................................
3. Fauziah

Penyelidikan Epidemiologi KLB Difteri | 9