Anda di halaman 1dari 26
MELAWAN SEKSISME DENGAN ADUK (AKSI, EDUKASI, UNGKAP, DAN KREATIFITAS) KARYA TULIS ILMIAH Ditulis untuk memenuhi

MELAWAN SEKSISME DENGAN ADUK (AKSI, EDUKASI, UNGKAP, DAN KREATIFITAS)

KARYA TULIS ILMIAH

Ditulis untuk memenuhi syarat Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Semarang

Oleh

Nazla Nuril Ilmi NIM. 6411417134

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019

i

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam karya tulis ilmiah atas nama Nazla Nuril Ilmi, NIM 6411417134, dengan judul Melawan Seksisme dengan ADUK (Aksi, Edukasi, Ungkap dan Kreatifitas) ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian ataupun seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam karya tulis ilmiah ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

ii

Penulis

Nazla Nuril Ilmi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul

Melawan Seksisme dengan Aduk (Aksi, Edukasi, Ungkap, dan Kreatifitas).” Karya tulis ilmiah ini dapat diharapkan agar masyarakat lebih mengetahui cara untuk menghadapi seksisme dan cara melawannya. Kami berterima kasih atas segala bantuan. Sehingga dapat tersusun karya tulis ilmiah ini. Sehubungan dengan hal tersebut, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah.

2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Bapak Irwan Budiono, S.KM, M.Kes (Epid) yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah.

3. Ibu Nur Siyam, S.KM, M.Kes (Epid) selaku dosen wali.

4. Keluarga yang selalu mendukung kegiatan pembuatan karya tulis ilmiah ini

5. Serta berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini. Karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini disebabkan karena

keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penelitian di masa mendatang.

iii

Semarang,

Februari 2019

Penulis

SUMMARY

Sexism is prejudice or discrimination based on one‟s gender. Sexist attitudes stem from stereotypes of gender roles. Sexism in a society is most commonly applied against women and girls. It functions to maintain patriarchy, or male domination, through ideological and material practices of individuals, collectives, and institutions that oppress women and girls on the basis of sex or gender. Such oppression usually takes the forms of economic exploitation and social domination. Sexist behaviours, conditions, and attitudes perpetuate stereotypes of social (gender) roles based on one‟s biological sex. This kind of understanding is a very bad understanding and still found in our daily lives. There are still many sexism actions found in Indonesia. The problem of sexism certainly cannot be tolerated because it starts from sexism, criminal acts or even sexual abuse can occur. This can happen because women are still considered weak and powerless so that someone commits a criminal act. The act of sexism can also lead to gender inequality that is often found around us, we take an example in the world of work. There are still many jobs that prioritize men as workers demeans women. Women are considered not more productive than men, besides that the work that did by women is considered as trial and error, and there are still many painful stigmas aimed at women. According to such a view, women and men are opposite, with widely different and complementary roles: women are the weaker sex and less capable than men, especially in the realm of logic and rational reasoning. Women are relegated to the domestic realm of nurturance and emotions and, therefore, according to that reasoning, cannot be good leaders in business, politics, and academia. Although women are seen as naturally fit for domestic work and are superb at being caretakers, their roles are devalued or not valued at all when compared with men‟s work. Of the many sexism actions in Indonesia, this must be removed so that Indonesia can achieve the expected gender equality. To reduce sexism in Indonesia can be done with action, education, report and do creativity or known as the ADUK

iv

term that I have described. With the existence of this program it is expected that there will be a positive response and can attract the attention of policy makers. Because sexism needs to be taboo and categorized as an unacceptable discriminatory attitude.

v

DAFTAR ISI

JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

SUMMARY

iv

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

vi

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Rumusan Masalah

3

1.3. Tujuan Penelitian

4

1.4. Manfaat Penelitian

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Gender

5

2.2. Perbedaan Sex dengan Gender

5

2.3. Gender, Modernitas dan Ketimpangan Gender

7

2.4. Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan

10

BAB III ANALISIS DAN SINTESIS

3.1. Permasalahan Kesetaraan Gender

12

3.2. Upaya yang Dilakukan Untuk Mencapai Kesetaraan Gender

16

BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Simpulan

19

4.2. Rekomendasi

19

DAFTAR PUSTAKA

20

vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH SDGs telah berjalan selama dua tahun sejak Sustainable Development Summit yang berlangsung pada 25-27 September 2015. Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari 193 negara anggota PBB tersebut berhasil mengesahkan dokumen yang disebut dengan SDGs dan memuat 17 tujuan yang terbagi 169 target untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Kesetaraan gender adalah tujuan kelima dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang ditentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dilaporkan oleh sekitar 40 negara dalam bentuk Voluntary National Review (VNR). Gender adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan budaya, dimana laki-laki dan perempuan dibedakan sesuai dengan perannya masing-masing yang dikonstruksikan oleh kultur setempat yang berkaitan dengan peran, sifat, kedudukan, dan posisi dalam masyarakat tersebut. Seks atau jenis kelamin merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan biologisnya. Manusia yang berjenis kelamin laki-laki adalah manusia yang bercirikan memiliki penis, memiliki jakala (kala menjing), dan memproduksi sperma. Perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan memiliki alat menyusui (Mansour Fakih, 2008: 8). Sesungguhnya perbedaan gender tidak akan menjadi masalah selama tidak melahirkan ketidakadilan gender, namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan (Mansour Fakih, 2008: 12). Ketidaksetaraan gender juga disebabkan oleh adanya sikap bias gender yang didasarkan pen getahuan-pengetahuan masyarakat yang memiliki kecenderungan bersifat tidak adil gender. Kultur sosial budaya yang ada menempatkan perempuan pada kelas kedua, perempuan lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki. Seksisme atau disebut juga dengan ketidakadilan gender adalah prasangka dan justifikasi bahwa aktivitas dan yang berhubungan dengan perempuan dipandang sebagai sebuah coba-coba dan dinomorduakan dibandingkan aktivitas yang dilakukan laki-laki (Kurniasari, 2017). Menurut Mills, seksime (seperti rasisme dan bentuk diskriminasi bahasa lainnya)

1

terbentuk karena tekanan masyarakat yang lebih besar, ketidakadilan institusi akan kekuasaan, dan akhirnya, konflik terhadap siapa yang mempunyai hak, sumber daya tertentu serta posisi tertentu (Kurniasari, 2007). Seksisme merupakan paham yang mengunggul-unggulkan salah satu gender dari gender yang lain. Paham seperti ini merupakan paham yang sangat buruk dan masih banyak ditemui di kehidupan kita sehari-hari. Kita sebagai penerus bangsa tidak sepatutnya memiliki pemahaman seperti itu. Apabila kesetaraan gender di Indonesia sudah berjalan dengan baik, maka negara kita tidak ada lagi kriminalitas. Saat ini masih sebagian kecil perilaku masyarakat yang mencerminkan kesataraan gender, namun masih ada atau bisa dibilang sudah banyak yang menerapkan kesetaraan gender. Hal itu bisa dilihat dari sudah mulai banyak perempuan yang ikut dalam organisasi atau badan legislatif yang ada di Indonesia. Hal itu merupakan salah satu contoh bahwa kesetaraan gender sudah banyak di Indonesia. Tapi bukan berarti ketidakadilan gender (seksisme) sudah musnah di negara ini. Di era saat ini, saya menyadari secara penuh bahwa ucapan-ucapan dan tindakan- tindakan yang mengarah pada seksisme banyak dan sering terjadi pada kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Inggris, perilaku seksisme kerap kali ditemui. Hal itu banyak dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Hal ini merupakan perwujudan dari budaya patriarki yang begitu melekat kuat sehingga memperlakukan perempuan sebagai second sex adalah hal yang wajar. Manifestasi ketidakadilan gender masih terjadi dalam setiap pengambilan keputusan, kepengurusan, maupun kepemimpinan dalam organisasi. Pengaruh budaya patriarkhi yang menempatkan perempuan sebagai pengurus dan penanggung jawab dalam pekerjaan domestik, membuat perempuan dalam organisasi cenderung ditunjuk sebagai sie konsumsi, bendahara, sekretaris, dan posisi lain yang mengacu pada sektor domestik. Kebijakan-kebijakan ini tentu dapat melanggengkan ketidaksetaraan gender dalam masyarakat yang menganut hegemoni patriarkhi. Seiring dengan perkembangan masyarakat yang memperjuangkan kesetaraan gender, beberapa peran yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan telah dipertukarkan. Hal ini dapat dibuktikan dengan cukup banyaknya kaum perempuan yang berani memasuki area maskulinitas

2

dan berani tampil di sektor publik. Tidak jarang pula kaum pria yang ikut mengerjakan tugas perempuan di sektor domestik. Tak hanya di Indonesia, kesetaraan gender memang masih menjadi isu di Asia. Jarang ada perempuan yang menduduki posisi sebagai partner di VC. Bahkan di Amerika Serikat pun, diperkirakan posisi senior yang dipegang oleh perempuan hanya sekitar 12% dari seluruh perusahaan teknologi. Sebelumnya, Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2017 menyebutkan pula, selama 2016 telah terjadi 259.150 kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Sebanyak 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian dan tercatat di 358 Pengadilan Agama di seluruh Indonesia serta 13.602 kasus lain ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi. Seksisme sebenarnya tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki. Akan tetapi, dengan budaya patriarkhi yang kuat, perempuan lah yang seringkali menjadi target seksisme karena anggapan perempuan yang sumisif terhadap laki-laki. Bahayanya, seksisme seringkali dianggap sesuatu yang wajar, lumrah, dan tidak untuk dipermasalahkan.

Menghadapi berbagai persoalan ketidaksetaraan gender di atas, diperlukan adanya peningkatan kesetaraan gender di negara ini. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan, mulai dari diberi penyuluhan atau edukasi tentang seksisme, melawan secara individu, melapor langsung, dan bisa juga membuat tulisan atau apapun untuk menyebarkan pengalaman tentang seksisme yang dia temui. Dengan begitu korban yang mengalami tindakan seksisme berani untuk menceritakan lewat tulisan atau bergabung di situs atau website dimana perempuan atau korban seksisme bisa menuliskan ceritanya mengenai seksisme yang pernah terjadi pada mereka. 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :

1.2.1. Rumusan Masalah Umum Bagaimana upaya yang harus dilakukan demi melawan maraknya seksisme yang ada di

Indonesia ?

1.2.2. Rumusan Masalah Khusus

3

1.2.2.1.

Bagaimana kondisi kesetaran gender yang ada di Indonesia ?

1.2.2.2. Seberapa besar masalah tentang kesetaraan gender di Indonesia ?

1.2.2.3. Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi perilaku seksisme di

Indonesia ?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1.3.1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan penelitian ini yaitu untuk mengurangi tindak seksisme di

Indonesia.

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Mengetahui aplikasi kesetaraan gender di Indonesia.

1.3.2.2. Mengetahui faktor-faktor yang mendorong dan menghambat untuk mengaplikasikan

kesetaraan gender.

1.3.2.3. Untuk mengurangi tindak seksisme yang ada di Indonesia.

1.3.2.4. Untuk meningkatkan tingkat kesetaraan gender di Indonesia.

1.3.2.5. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan jika menemui tindak seksisme di sekitar

1.4. MANFAAT PENELITIAN

1.4.1. Manfaat Bagi Peneliti

1.4.1.1. Penelitian ini digunakan untuk memenuhi syarat Pemilihan Mahasiswa Berprestasi di

jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat di FIK UNNES.

1.4.1.2. Peneliti dapat mengetahui lebih dalam mengenai aplikasi kesetaraan gender yang

berpotensi adanya seksisme. 1.4.1.3. Peneliti dapat memperoleh pengalaman yang dapat dijadikan nekal untuk penelitian selanjutnya.

1.4.2. Manfaat Bagi Masyarakat

Masyarakat jadi mengetahui tentang seksisme serta mengetahui apa yang harus dilakukan untuk melawan tindakan seksisme. Dengan begitu tingkat kesetaraan gender di Indonesia semakin meningkat. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi pada

masyarakat luas, khususnya bagi orang-orang yang menemui tindak seksisme di kehidupan sehari-hari, sehingga dapat memberi gambaran mengenai kesetaraan gender.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Gender Istilah „gender‟ sudah tidak asing lagi di telinga kita, tetapi masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar istilah tersebut. Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender sering juga dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata-mata demikian. Secara etimologis kata „gender‟ berasal dari bahasa Inggris yang berarti „jenis kelamin‟ (Echols dan Shadily, 1983: 265). Dalam Webster‟s New World Dictionary, Edisi 1984 „gender‟ diartikan sebagai „perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku‟. Sementara itu dalam Concise Oxford Dictionary of Current English Edisi 1990, kata „gender‟ diartikan sebagai „penggolongan gramatikal terhadap kata-kata benda dan kata-kata lain yang berkaitan 3 dengannya, yang secara garis besar berhubungan dengan jenis kelamin serta ketiadaan jenis kelamin (atau kenetralan)‟. Secara terminologis, „gender‟ oleh Hilary M. Lips didefinisikan sebagai harapan- harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. H.T. Wilso n mengartikan „gender‟ sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Sementara itu, Elaine Showalter mengartikan „gender‟ lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya. Ia lebih menekankan gender sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu (Nasaruddin Umar, 1999: 33-34). Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi kondisi sosial dan budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati. 2.2. Perbedaan Sex dengan Gender Gender berbeda dengan sex, meskipun secara etimologis artinya sama, yaitu jenis kelamin (Echols dan Shadily, 1983: 517). Secara umum sex digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, sedang gender lebih banyak

5

berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, dan aspek-aspek nonbiologis lainnya. Kalau studi sex lebih menekankan kepada perkembangan aspek biologis, komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, serta karakteristik biologis lainnya dalam tubuh seorang laki- laki dan seorang perempuan, maka studi gender lebih menekankan kepada perkembangan aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Jika studi sex lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness), maka studi gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) dan (femininity) femininitas seseorang. Untuk melihat perbedaan pemahaman tentang sex dan gender dengan jelas dapat dilihat ilustrasi berikut ini. Menurut tinjauan sex, seorang laki-laki bercirikan seperti memiliki penis, memiliki jakala, dan memproduksi sperma; sedang seorang perempuan bercirikan seperti memiliki vagina, memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran 4 untuk melahirkan, memiliki payudara, dan memproduksi sel telur. Ciri-ciri ini melekat pada laki-laki dan perempuan dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Semua ciri-ciri tersebut diperoleh secara kodrati dari Tuhan. Sedang menurut tinjauan gender, seorang perempuan memiliki ciri- ciri seperti cantik, lemah lembut, emosional, dan keibuan, sedang seorang laki-laki memiliki ciri- ciri seperti kuat, rasional, gagah, perkasa, jantan, dan masih banyak lagi yang lain. Ciri-ciri ini tidak selamanya tetap, tetapi dapat berubah. Artinya tidak semua laki-laki atau perempuan memiliki ciri-ciri seperti tersebut. Ciri-ciri itu bisa saling dipertukarkan. Bisa jadi ada seorang perempuan yang kuat dan rasional, tetapi ada juga seorang laki-laki yang lemah lembut dan emosional. Tegasnya, dalam khazanah ilmu-ilmu sosial, gender diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dengan laki-laki tanpa konotasi-konotasi yang sepenuhnya bersifat biologis, tetapi lebih merujuk kepada perbedaan-perbedaan akibat bentukan sosial. Karena itu, yang dinamakan relasi gender adalah seperangkat aturan, tradisi, dan hubungan sosial timbal balik dalam masyarakat dan dalam kebudayaan yang menentukan batas- batas feminin dan maskulin (Macdonald dkk, 1999:xii).Jadi, gender menjadi istilah kunci untuk menyebut femininitas dan maskulinitas yang dibentuk secara sosial yang berbeda-beda dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain, dan juga berbeda-beda menurut tempatnya. Berbeda dengan sex (jenis kelamin), perilaku gender adalah perilakau yang tercipta melalui proses

6

pembelajaran, bukan semata-mata berasal dari pemberian (kodrat) Tuhan yang tidak dapat dipengaruhi oleh manusia. Sejarah perbedaan gender antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang dan dibentuk oleh beberapa sebab, seperti kondisi sosial budaya, kondisi keagamaan, dan kondisi kenegaraan. Dengan proses yang panjang ini, perbedaan gender akhirnya sering dianggap menjadi ketentuan Tuhan yang bersifat kodrati atau seolah-olah bersifat biologisyang tidak dapat diubah lagi. Inilah sebenarnya yang menyebabkan awal terjadinya ketidakadilan gender di tengah-tengah masyarakat. Gender memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan seseorang dan dapat menentukan pengalaman hidup yang akan ditempuhnya. Gender dapat menentukan akses seseorang terhadap pendidikan, dunia kerja, dan sektor-sektor publik lainnya. Gender juga dapat menentukan kesehatan, harapan hidup, dan kebebasan gerak seseorang. Jelasnya, gender akan menentukan seksualitas, hubungan, dan kemampuan seseorang untuk membuat keputusan dan bertindak secara otonom. Akhirnya, genderlah yang banyak menentukan seseroang akan menjadi apa nantinya. 2.3. Gender, Modernitas dan Ketimpangan Gender Kesetaraan gender serta pengarusutamaan gender agar dapat meletakkan persoalan secara proporsional. Seperti telah banyak dituliskan bahwa gender adalah konstruksi sosial budaya terhadap laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Gender sebagai bentukan masyarakat yang bersifat spesifik dan konstekstual dibedakan dari jenis kelamin yang kodrati dan terberi, universal dan menetap atau dalam bahasa agama disebut kodrat. Hanya saja para ahli berbeda pendapat dalam menengarai sejauh manakah perbedaan biologis, utamanya fungsi- fungsi reproduksi terhadap sifat dan tindakan seseorang. Kalangan esentialis berpendapat bahwa perbedaan gender merupakan konsekuensi logis dari perbedaan biologis. Sedangkan kalangan konstruksionist menjelaskan bahwa perbedaan biologis memang memiliki pengaruh terhadap laki-laki dan perempuan namun tidak bersifat permanen. Oleh sebab itu, perbedaan laki-laki dan perempuan tidak bersifat dominan seperti yang digambarkan oleh kelompok esensialisme. Persoalan yang paling mengemuka adalah apakah konstruksi gender selalu menimbulkan ketimpangan? Jawaban yang akurat adalah tidak selalu dan bergantung pada konteksnya. Menelisik ketimpangan perlu memperhatikan indikator atau totok-ukur yang

7

digunakan. Karena bersifat konstektual, isu dan ketimpangan gender tidak seragam, tidak permanen dan tidak abadi. Pada saat ini ketimpangan gender dirasakan mengglobal, bukan karena globalisasi ketimpangan gender melainkan terjadi kontestasi globalisasi nilai-nilai demokrasi, di satu sisi dan telikung patriarkhi terhadap modernisas-industrial. Argumen ini diperkuat oleh pandangan Illich bahwa ketimpangan gender adalah problem khas masyarakat modern-industrialisasi dimana nilai sosial bersifat konvergen dan berada pada ranah publik yang maskulin. Sejarah pembagian peran yang fungsional di masa lalu merezim menjadi suatu keniscayaan terberi dan kodrati, produksi dan publik yang maskulin serta reproduksi dan privat yang feminin. Rezimentasi ini bertabrakan dengan demokrasi yang berpijak pada kesetaraan sosial, termasuk, akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki pada semua aspek kehidupan. Namun Illich menegaskan bahwa dunia modern-industrial menciptakan kompetisi yang seksis dengan nilai maskulin. Sekuat apapun perempuan mencoba bersaing dengan laki-laki pasti akan tetap tertinggal karena femininitas tidak akan kompatibel dengan ranah publik yang maskulin. Telebih lagi, kapitalisme menempatkan ranah publik sebagai sumber nilai yang bertumpu pada ekonomi dan politik yang dihasilkan. Disamping itu, Walby mengingatkan bahwa kompleksitas isu gender diperumit oleh masalah klas ekonomi dan etnisitas, dan bahkan dengan nasionalisme. Bahkan, dalam konteks masyarakat Muslim, misalnya, konstruksi gender terkait erat dengan berbagai interpretasi Islam yang merentang pada spektrum fundamentalis, modernism dan konservatisme, termasuk dalam merespon isu gender. llich tidak menemukan ketimpangan gender dalam masyarakat agraris, baik di Barat maupun pada masyarakat non Barat karena peran gender yang divergen dan nilai-nilai vernacular (khas) yang spesifik dalam suatu masyarakat. Dalam masyarakat agraris, laki-laki dan perempuan mencapai status sosialnya dengan peran-peran yang berbeda serta nilai-nilai yang berbeda tanpa harus diperbandingkan. Oleh sebab itu, pemisahan ranah dan nilai tidak berlalku secara ketat dalam masyarakat tetapi bersifat kompelementer. Oleh sebab itu, tidak ada peran yang dinafikan dan tidak ada nilai yang diperebutkan. Kecenderungan yang sama juga ditemukan Brener ketika meneliti gender pada masyaraat non-Barat yang berbasis industri keluarga (home- based industry) di Laweyan Surakarta. Ia menemukan kecenderungan yang berbeda dengan konsep Barat yang meyakini „pertalian abadi‟ ekonomi, ranah publik dan maskulinitas. Di

8

Laweyan, masyarakat memiliki logika sendiri dalam membangun nilai dari nexus produksi, ranah domestik, keluarga dan perempuan yang memunculkan sosok Mbokmase yang fenomenal. Sebaliknya, Laki-laki memperoleh status sosial dari peran-peran politis dan sosial. Laweyan menegasi pertalian abadi dunia publik, ekonomi dan maskulinitas yang dibangun oleh kapitalisme Barat. Keterpisahan antara maskulinitas dan ekonomi tidak pernah terlintas oleh para pemikir Barat selama ini. Brener menengarai bahwa masing-masing jenis kelamin memiliki sumber daya tersendiri dalam mencapai status sosial. Oleh sebab itu, masyarakat Laweyan lebih mampu menciptakan kesetaraan yang bersifat partnership denganperan gender yang convergen.6 Argumen Brener menguatkan sinyalemen Illich bahwa hanya pada masyarakat modern- industrialis-kapitalistik patriarkhis ketimpangan gender terjadi. Demokrasi menjadi sistem politik arusutama, termasuk negara-negara bekas koloni Barat yang tidak ingin kembali pada tatanan politik tradisional yang feudalistik-paternalistik. Gerung membela demokrasi bukan sebagai sistem politik ideal melainkan suatu sistem yang lebih mungkin menjamin menjamin kesetaraan hak dan kebebasan warganegara dibandingkan sistem politik lain seperti morarkhi dan teokrasi. Tentu demokrasi memiliki prasyarat-prasyarat yang tidak mudah dipenuhi oleh kelompok yang „tidak rela‟ melepaskan privilege yang dinikmatinya dari sistem politik tradisional, termasuk pandangan-pandangan patriarkhi yang menjadi akar masalah ketimpangan gender. Terlebih lagi jika nilai dan norma budaya sebagai produk interpretasi manusia diyakini sebagai inti ajaran suatu agama. Demokrasi menghajatkan persamaan setiap orang di hadapan hukum, terjaminnya kebutuhan dasar dan hak asasi warganya tanpa memandang ras, golongan, etnisitas, agama dan keyakinan, jenis kelamin, gender serta disabilitas. Pada dataran inilah nexus antara gender, modernitas dan ketimpangan dibicarakan, baik di Barat maupun di negara on Barat. Apalagi ketika hak asasi manusia menjadi suatu kesadaran global setelah lahirnya Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia tahun 1948. Terbentuknya PBB sebagai representasi negara-negara di dunia memiliki mandat merumuskan kebutuhan dasar dan hak-hak asasi manusia secara terukur dalam indeks pembangunan manusia (human development index) yang saat ini diperbaharui melalui Tujuan Pembangunan Melenium (Mellenium Development Goals), termasuk tingkat kesejahteraan hidup laki-laki dan perempuan.

9

2.4. Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan Selanjutnya kita akan mengkaji secara singkat kesetaraan gender dalam bidang pendidikan. Keseteraan gender dalam bidang pendidikan menjadi sangat penting mengingat sector pendidikan merupakan sektor yang sangat strategis untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Di Indonesia kita bisa mengetahui sekarang bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan memberi arah pada terciptanya kesetaraan gender. Tidak ada bias gender dalam kebijakan-kebijakan tersebut. Kesempatan untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia baik laki-laki maupun perempuan tidak dibedakan. Upaya pemerintah dalam mengembangkan SDM melalui pendidikan di Indonesia terus dilakukan, tetapi mengalami hambatan pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia. Dampak krisis ekonomi ini tidak saja kepada daya beli masyarakat tetapi juga berdampak kepada kemampuan orang tua untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Dan sekarang ini pemerintah lebih giat lagi untuk memajukan pendidikan di Indonesia, terutama dengan dipenuhinya anggaran pendidikan 20 % dari APBN. Dengan kebijakan sekolah gratisnya, pemerintah cukup mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Peraturan perundang-undangan di negara kita tentang pendidikan tidak ada yang mengarah kepada ketimpangan gender. Tidak ada kebijakan yang yang bias gender terkait dengan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di Indonesia mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Kalaupun terjadi perbedaan jumlah laki-laki dan perempuan pada jurusan-juruan tertentu baik di SMA, SMK, maupun di PT, bukan karena kebijakan yang dibuat menuntut demikian, tetapi hal ini semata-mata adalah karena pilihan para peserta didik yang dipengaruhi oleh asumsi perbedaan kemampuan mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Ace Suryadi, bahwa terjadinya ketimpangan menurut gender yang tercermin dalam proporsi jumlah peserta didik yang tidak seimbang menurut jurusan-jurusan atau program- program studi yang ada pada pendidikan menengah dan tinggi disebabkan adanya asumsi perbedaan kemampuan intelektual dan ketrampilan antara laki-laki dan perempuan (Ace Suryadi, 2004: 114). Kita pun juga sering menemukan adanya gejala kesenjangan gender dalam sistem pendidikan, khususnya dalam pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dalam hal proporsi laki-laki dan perempuan dalam jurusan-jurusan yang dibuka. Penyebabnya, selain mungkin

10

peserta didik itu sendiri kekurangan informasi untuk menentukan pilihan jurusan atau program studi, juga adanya faktor keluarga dengan berbagai persepsinya yang sudah bias gender. Sering kali dalam memilih jurusan, mereka mendapat intervensi dari orang tua mereka, padahal jurusan yang dipilih di sekolah akan berakibat lanjutan kepada kesempatan meneruskan pendidikan atau memilih pekerjaan. Bisa ditegaskan di sini, bahwa di SMU sudah terjadi kesetaraan gender dalam program penjurusan. Namun, yang terjadi di SMK masih terjadi kesenjangan gender berdasarkan kepantasan untuk memilih jurusan yang pantas diikuti laki-laki atau perempuan. Siswa perempuan masih mendominasi program studi Bisnis dan Manajemen, Seni, dan Kerajinan. Sebaliknya, laki-laki lebih mendominasi program studi Teknik. Hal ini juga terjadi di jurusan- jurusan atau program-program studi di perguruan tinggi (PT).

11

BAB III ANALISIS DAN SINTESIS

3.1. Permasalahan Kesetaraan Gender Tujuan dari SDG‟s yang kelima adalah mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan. Tujuan ini memiliki maksud untuk mengembangkan bakat dan potensinya sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki. Hal ini berarti segala bentuk diskriminasi dan kekerasan kaum perempuan harus dihilangkan, termasuk kekerasan seksual, kekerasan oleh pasangan, perkawinan anak, sunat perempuan, dan yang lainnya. Dengan begitu, kaum perempuan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kesehatan seksual dan hak bereproduksi. Selain itu, pembangunan yang adil dan berkelanjutan ini juga harus menjamin akses perempuan ke sumber daya produktif dan hak partisipasi yang setara dengan laki-laki dalam kehidupan politik, ekonomi, bermasyarakat, serta memiliki hak membuat keputusan dalam kehidupan politik, ekonomi, bermasyarakat, serta memiliki hak membuat keputusan dalam bidang public dan swasta. Untuk tercapainya tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus dituntaskan mengenai permasalahan kesetaraan gender di Indonesia, antara lain :

3.1.1. Bentuk Diskriminasi Terhadap Kaum Perempuan Hasil penelitian yang dilakukan Tempo Institute serta Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) menunjukkan bahwa bahwa dari 22.900 narasumber yang dikutip media, hanya 11 persen atau 2.525 orang di antaranya yang perempuan. Penelitian tersebut didasarkan atas pengamatan terhadap berita-berita di luar rubrik hiburan pada 6 Agustus hingga 6 September 2018, di tujuh media cetak dan tiga media daring. Media-media tersebut adalah Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, Jawa Pos, Tempo.co, Kompas.com, dan Detik.com. Salah satu penyebab ketimpangan jumlah narasumber laki-laki dan perempuan adalah kecenderungan media-media untuk mewawancarai narasumber yang paling mudah dihubungi. Selain kurang menampilkan narasumber perempuan, media-media di Indonesia juga masih bernuansa seksis dan menonjolkan stereotip dalam pemberitaan tentang perempuan. Stereotip adalah ketika kita menggeneralisasi suatu kelompok dengan memberikan suatu karakter tanpa mengindahkan adanya keunikan tersendiri pada setiap orang yang menjadi anggota

12

kelompok tersebut. Misalnya, ada artikel berjudul “Ini Sebabnya Wanita Kurang Jago Berkendara Dibanding Pria”. Mayoritas media masih melakukan seksualisasi atau menjadikan perempuan sebagai objek seksual. Hal ini terlihat dalam judul-judul berita seperti ”Pria Tertarik Pada Bokong Perempuan Seperti Ini”. Selain itu, menurutnya, dalam meliput tokoh-tokoh perempuan, media cenderung berfokus pada ketubuhan perempuan, seperti terlihat dalam judul- judul “Lima Bupati dan Walikota Tercantik di Indonesia” dan ”CEO Cantik Perusahaan Ini Senang Sekali ke Indonesia”.

3.1.2. Segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan, termasuk perdagangan orang

dan eksploitasi seksual, serta berbagai jenis eksploitasi lainnya. Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk

ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Kekerasan dapat berupa kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional. Kekerasan terhadap perempuan ini penting diperhatikan, karena akan timbulnya masalah kesehatan moral, masalah masyarakat, serta gerakan dan tindakan perempuan yang terbatas. Di Indonesia, data untuk indicator ini dapat diperoleh dari BPS melalui Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN). Prevalensi kasus kekerasan terhadap anak perempuan pada tahun 2013. Satu dari empat anak perempuan (13-17 tahun) mengalami kekerasan. Pada tahun 2013, prevalensi kasus kekerasan terhadap anak perempuan sebesar 23,47 persen. Angka tersebut harus terus ditekan agar dapat tercapainya target pembangunan berkelanjutan dalam menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan, terutama terhadap anak. Hal ini dikarenakan anak adalah generasi penerus bangsa yang potensial sehingga perkembangan fisik, emosional, dan moralitasnya perlu dijaga. 3.1.3. Masih maraknya pernikahan usia anak dan pernikahan dini Praktik perkawinan dini di Indonesia masih ada, meski demikian persentase wanita umur 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 15 tahun atau 18 tahun perlahan menurun selama tahun 2011-2015. Persentase wanita 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 15 tahun pun tidak mencapai satu persen di tahun 2015. Akan tetapi persentase wanita 20-24 tahun yang menikah sebelum 18 tahun masih ada sekitar 12 persen. Bahkan di Desa Mojosari, Kecamatan Sedan,

13

Kabupaten Rembang terdapat 5 pasangan pernikahan dini dari 16 pasangan (31,25%) di tahun 2018. Oleh karena itu, angka ini perlu terus ditekan agar praktik perkawinan dini dapat dihapuskan. Hal ini dikarenakan pernikahan dini dapat memberikan resiko bagi kesehatan perempuan, memicu kekerasan seksual, dan pelanggaran HAM. Selain itu pernikahan dini juga merupakan salah satu penyebab angka fertilitas tinggi. 3.1.4. Perempuan Tidak Diberi Kesempatan yang Sama Untuk Memimpin di Semua Tingkat Pengambilan Keputusan dalam Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Masyarakat Di Indonesia, pelibatan perempuan dalam berbagai aktivitas pembangunan dan pengambilan keputusan merupakan hal yang realistis karena jumlah penduduk perempuan di Indonesia mencapai lebih dari 50% dari jumlah penduduk yang ada. Namun, walaupun telah diakui bahwa kedudukan antara laki-laki dan perempuan adalah sama, dalam prakteknya hal tersebut masih terkesan normatif. Hal tersebut dapat terlihat pada kehidupan politik dan pemerintahan. Keterwakilan perempuan di parlemen dan juga lembaga pemerintahan pun jumlahnya masih tergolong kecil, apalagi ketika kita melihat dari keterlibatan perempuan dalam jabatan-jabatan strategis. Menurut data ketenagakerjaan di Indonesia, keterlibatan perempuan di dalam sektor publik belum memuaskan. Contohnya saja, walaupun telah ada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 yang berisi tentang kuota 30% jumlah perempuan dalam lembaga legislatif, namun pada hasil pemilu 2009 jumlah perempuan di parlemen hanyalah mencapai 9%. Hal tersebut disebabkan karena masih kurangnya interest atau ketertarikan perempuan untuk terjun dan memahami dunia politik. Untuk mewujudkan kesetaraan gender di dalam praktek di pemerintahan bukanlah persoalan yang mudah, karena budaya patriarkhi masih dominan di dalam masyarakat kita. Budaya merupakan nilai-nilai yang tertanam kuat di masyarakat dan seringkali diyakini sebagai kebenaran dan mempengaruhi cara orang dalam melihat realitas. Peran perempuan dalam pengambilan keputusan publik harus mulai diperhitungkan, karena dapat menjadi sudut pandang dalam menyejahterakan kaum perempuan. Selama tahun 1999-2009, keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu dari 8,80 persen di tahun 1999 menjadi 17,86 persen di tahun 2009. Akan tetapi persentase perempuan dalam anggota DPR menurun di tahun 2014, menjadi 17,32 persen.

14

Begitupun untuk anggota DPRD, kursi DPRD yang diduduki perempuan menurun dari 26,52 persen pada tahun 2009 menjadi 25,76 persen di tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan partisipasi politik perempuan dalam menetapkan kebijakan publik berkurang. Dengan demikian, keterwakilan perempuan yang berkurang dikhawatirkan menghasilkan keputusan yang tidak responsif, inklusif, partisipatif dan representatif di setiap tingkatan, terutama bagi kaum perempuan. Manifestasi ketidakadilan gender masih terjadi dalam setiap pengambilan keputusan, kepengurusan, maupun kepemimpinan dalam organisasi. Pengaruh budaya patriarkhi yang menempatkan perempuan sebagai pengurus dan penanggung jawab dalam pekerjaan domestik, membuat perempuan dalam organisasi cenderung ditunjuk sebagai sie konsumsi, bendahara, sekretaris, dan posisi lain yang mengacu pada sektor domestik. Kebijakan-kebijakan ini tentu dapat melanggengkan ketidaksetaraan gender dalam masyarakat yang menganut hegemoni patriarkhi. 3.1.5. Penggunaan Teknologi yang Memampukan, Khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan Pada tahun 2015, proporsi perempuan yang memiliki telepon genggam lebih rendah dibandingkan proporsi laki-laki, yaitu sebesar 50,38 persen untuk perempuan dan 63,41 persen untuk laki-laki (Susenas KOR, BPS). Kemudian, jika ditinjau berdasarkan kelompok umur, pola antara perempuan dan laki-laki sedikit berbeda. Proposi penduduk laki-laki yang memiliki telepon genggam terus meningkat hingga kelompok umur 20-24 tahun, kemudian menurun pada kelompok umur 25-29 tahun. Di sisi lain, proporsi perempuan yang memiliki telepon genggam meningkat hanya sampai kelompok umur 15-19 tahun kemudian menurun pada kelompok umur 20-24 tahun dan seterusnya. Secara umum, puncak kepemilikan telepon genggam penduduk laki- laki berada pada kelompok umur 20-24 tahun sampai dengan 30-34 tahun, sedangkan perempuan berada pada kelompok umur 15-19 tahun sampai dengan 20-24 tahun. Hal tersebut menunjukkan akses perempuan terhadap komunikasi dan informasi melalui jaringan bergerak (mobile) Fixed Wireless Access dan seluler menurun pada umur 20-24 tahun. Padahal penggunaaan teknologi pada kaum perempuan dapat meningkatkan pemberdayaan perempuan. Apalagi, usia 20-24 tahun merupakan usia dimana kaum perempuan dapat berkarya dengan mandiri. Menurunnya proporsi kepemilikan telepon genggam ini dapat dikarenakan

15

masih terbatasnya hak perempuan dalam menggapai teknologi. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus memantau kemudahan akses teknologi yang memampukan bagi kaum perempuan. Untuk memfokuskan penelitian, maka yang akan dibahas adalah salah satu perilaku perilaku seksisme yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari yaitu tentang bentuk diskriminasi terhadap perempuan khususnya di dunia kerja. Adanya kesenjangan gender di dunia kerja yang ada di Indonesia ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yang pertama adalah tingkat pendidikan. Di Indonesia masih ada stigma menyakitkan terkait dengan pendidikan para perempuan. Perempuan dianggap tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena pada akhirnya dia harus mengurus urusan rumah tangga di rumah. Stigma ini sungguh tidak bisa dibenarkan. Karena pada hakikatnya perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam menempuh pendidikan. Faktor kedua adalah pengalaman kerja yang dimiliki perempuan lebih sedikit daripada laki-laki. Hal itu juga dikarenakan banyak orang yang menganggap bahwa perempuan lebih tidak produktif daripada laki-laki. Diskriminasi perempuan di bidang kerja tertentu juga menjadi faktor adanya kesenjangan gender di Indonesia. Hal itu adalah beberapa stigma yang sering saya temui di lingkungan sekitar kita. Stigma ini benar-benar menggelisahkan dan harus dilawan agar kesetaraan gender di Indonesia bisa lebih baik. 3.1.6. Laki-Laki Seksis Beresiko Terkena Penyakit Mental Penelitian kesehatan terbaru menunjukkan bahwa racun maskulinitas tidak hanya buruk bagi perempuan tapi juga laki-laki. Laki-laki yang melihat dirinya memiliki kedudukan di atas perempuan lebih berkemungkinan terkena masalah psikologis dibandingkan mereka yang tidak terlalu mementingkan norma gender. Mereka juga dianggap lebih sulit untuk mencari bantuan, menurut studi terbaru dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA). Secara keseluruhan, laki-laki yang setuju terhadap norma maskulin cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk, seperti stress, depresi, cemas, isu kekerasan dan citra tubuh negatif. Lebih parahnya, Joel Wong menegaskan bahwa laki-laki yang menyetujui norma seksis juga cenderung untuk tidak mencari bantuan tentang masalah psikologisnya. Meski begitu, tidak semua ciri maskulin beresiko pada kesehatan mental. Norma keutamaan kerja misalnya, tidak dihubungkan dengan kesehatan mental positif atau negatif. Sedangkan perilaku mengambil resiko dikorelasikan kepada keduanya. 3.2. Upaya yang Dilakukan Untuk Mencapai Kesetaraan Gender

16

Dari ulasan di atas, sudah jelas bahwa ketimpangan atau kesenjangan gender menimbulkan banyak masalah. Ketimpangan gender ini muncul diantaranya dari adanya stigma masyarakat yang mengarah ke tindakan seksisme terhadap perempuan. Hal tentu saja bisa

dihilangkan dengan banyak cara. Disini saya menyebutkan 4 cara yang bisa dilakukan untuk menguranginya yaitu dengan melakukan aksi, edukasi, ungkap, dan kreatifitas atau bisa dikenal dengan kata ADUK

3.2.1. Aksi

Hal ini bisa dilakukan secara personal jika seseorang mendapati tindakan seksisme, atau yg lebih parahnya jika mendapatkan pelecehan seksual. Tindakan seksisme dan pelecehan seksual tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada aksi untuk melawan hal tersebut agar pelaku tahu bahwa tindakan itu salah dan agar tidak melakukannya lagi. Aksi yang bisa

dilakukan untuk pelaku seksisme diantaranya adalah :

3.2.1.1. Panggil dan Datangi Pelakunya

Jangan diam dan mengabaikan. Jangan pergi begitu saja. Berbaliklah dan panggil siapa saja yang melecehkanmu dan katakan bahwa, kamu benar-benar tidak terima dengan perkataan

yang mengarah kepada seksisme. Kepercayaan diri sebagian besar pelaku seksisme akan runtuh dan kemudian meminta maaf ketika kamu melakukan tindakan berani seperti itu.

3.2.1.2. Serang Balik

Jika kamu merasa punya senjata sempurna untuk menyerang balik, jangan takut untuk melakukannya. Pelaku seksisme sebenarnya sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah,

sehingga mereka tidak siap untuk beradu argumen dengan seseorang yang cerdas seperti dirimu.

3.2.1.3. Minta Penjelasan Cara ini sangat menyenangkan. Paksa mereka menjelaskan apa yang baru saja mereka

ucapkan. Memaksa mereka untuk menjelaskan dan mengapa sampai melakukan itu. Percayalah, situasi yang sangat mengerikan itu akan menjatuhkan mental mereka secara keseluruhan. Komunikasi mampu memecahkan banyak masalah. Ketika kamu menjadi korban seksisme di tempat kerja misalnya, coba temui pelakunya satu-per satu. Tidak perlu melawan, cukup jelaskan bagaimana perasaanmu setelah menerima komentar-komentar menjijikan itu.

3.2.2. Edukasi

17

Edukasi dilakukan kepada masyarakat, baik yang pernah menjadi korban maupun pelaku tindakan seksisme. Edukasi ini diharapkan agar masyarakat menjadi tahu apa itu tindakan seksisme yang sangat sering dijumpai di kehidupan sehari-hari tanpa disadari dan pelaku diharapkan tidak melakukannya lagi. Edukasi harus diimbangi dengan aksi nyata, karena percuma jika dia hanya sekedar tahu dan tidak berani melakukan aksi nyata ketika menemui tindakan seksisme. 3.2.3. Ungkap Disini korban dan pengamat diharapkan melaporkan kepada yang berwajib jika tindakannya sudah sangat parah dan mengarah ke kriminal. Ungkap diharapkan agar pelaku merasa bahwa tindakannya itu salah. 3.2.4. Kreatifitas Kreatifitas yang dimaksudkan disini adalah korban atau pengamat menulis tentang tindakan seksisme yang pernah ditemui di sebuah situs khusus menceritakan tentang seksisme yang telah disediakan. Dengan begitu dia bisa berbagi cerita dan dengan menulis juga korban bisa mengurangi trauma yang didapatkan dari tindakan seksisme atau pelecehan seksual dimana perempuan dianngap sebagai second sex atau yang lebih parahnya lagi perempuan hanya dianggap sebagai objek seksual oleh sebagian oknum. Jika semua cerita para perempuan ini dikumpulkan dan bisa dibaca di satu tempat, maka akan terlihat bahwa seksisme itu masalah yang besar.Memberi kaum perempuan ruang guna bisa terbuka membahas masalah serupa adalah kunci dari program ini. Program yang akan saya ciptakan disini adalah membuat situs khusus dimana korban atau pengamat seksisme bisa menuliskan ceritanya yang menyangkut kepada tindakan seksisme yang ia temui di kehidupan sehari-hari. Bercerita tentu saja melibatkan kreatifitas yang ia miliki, dengan ini juga diharapkan si korban merasa tidak sendirian dan dapat mengurangi trauma psikis yang dialaminya. Dengan adanya program ini diharapkan adanya tanggapan yang positif dan bisa menarik perhatian para pembuat kebijakan. Karena seksisme perlu ditabukan dan dikategorikan sebagai sikap diskriminatif yang tidak bisa diterima.

18

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

4.1. Simpulan

Seksisme merupakan paham yang mengunggul-unggulkan salah satu gender dari gender yang lain. Paham seperti ini merupakan paham yang sangat buruk dan masih banyak ditemui di kehidupan kita sehari-hari. Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, telah diketahui bahwa masih

banyaknya tindakan seksisme yang ditemui di Indonesia. Masalah seksisme tentu saja tidak bisa dibiarkan karena berawal dari seksisme, bisa terjadi tindakan kriminal atau bahkan pelecehan seksual. Hal ini bisa terjadi karena perempuan masih dianggap lemah dan tidsk berdaya sehingga seseorang melakukan tindakan kriminal. Tindakan seksisme bisa juga memunuculkan ketimpangan gender yang banyak ditemui di sekitar kita, kita ambil contoh saja di dunia kerja. Masih banyak pekerjaan yang lebih memprioritaskan pria sebagai pekerjanya dikarenakan beberapa stigma yang merendahkan kaum perempuan. Perempuan dianggap tidak lebih produktif dibandingkan laki-laki, selain itu pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dianggap sebagai coba-coba saja, dan masih banyak stigma menyakitkan yang ditujukan untuk kaum perempuan.

4.2. Saran

Dari banyaknya tindakan seksisme di Indonesia, maka hal ini harus dibenahi agar Indonesia bisa mencapai kesetaraan gender yang diharapkan. Untuk mengurangi tindakan seksisme di Indonesia bisa dilakukan dengan aksi, edukasi, ungkap dan kreatifitas atau dikenal dengan istilah ADUK yang telah saya uraikan di atas.

19

DAFTAR PUSTAKA

Puspitawati, H. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realitadi Indonesia. PT IPB Press.Bogor. Puspitawati, H. 2013. Konsep, Teori dan Analisis Gender. PT IPB Press.Bogor. Ace Suryadi dan Ecep Idris. (2004). Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan. Bandung: PT. Genesindo.

20