Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan HIV/AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia,
termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/
AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34
provinsi di Indonesia. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni
2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV/AIDS
tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-
49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah
DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699),
dan Jawa Tengah (24.757). (KEMENKES, 2018)
Data Kementerian Kesehatan tahun 2017 mencatat dari 48.300 kasus HIV positif yang
ditemukan, tercatat sebanyak 9.280 kasus AIDS. Sementara data triwulan II tahun 2018
mencatat dari 21.336 kasus HIV positif, tercatat sebanyak 6.162 kasus AIDS. Adapun
jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sampai
dengan Juni 2018 tercatat sebanyak 108.829 kasus. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan
terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan
keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang diketahui
statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium
AIDS. (KEMENKES, 2018)
Hasil-hasil dalam bidang penelitian infeksi HIV memberi harapan dalam bidang
pencegahan dan juga terapi. Beberapa strategi pencegahan seperti perilaku sehat, perilaku
seksual yang aman, pencegahan pemakaian jarum suntik bersama tetap merupakan upaya
penting, namun pemberian obat anti retroviral (ARV) ternyata mampu menurunkan risiko
penularan secara nyata. Berdasarkan hasil-hasil penelitian ini, WHO menetapkan
pencapaian pada tahun 2015 yaitu menurunkan infeksi baru HIV pada laki-laki dan
perempuan muda sebesar 50%, menurunkan infeksi baru HIV pada bayi dan anak sebesar
90%, dan menurunkan angka kematian terkait HIV sebesar 50%. Bahkan para pakar pada
bidang penyakit ini optimis dalam waktu yang tidak terlalu lama, infeksi HIV yang
semula amat menakutkan akan dapat dikendalikan. Sudah tentu optimism ini diharapkan
juga akan mewarnai upaya penanganan HIV di Indonesia. (Setiati et al., 2014)

Page | 1
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


- Nama : I Wayan Wardana
- Tanggal lahir : 01-07-1971
- Usia : 48
- Jenis Kelamin : Laki-laki
- Status Perkawinan : Menikah
- Agama : Hindu
- Pekerjaan : Supir Truk
- Tanggal MRS : 06-06-2019
- Alamat : Surakarma Kintamai
- No RM : 286700
2.2 Anamnesa (Autoanamnesis)
2.2.1. Keluhan utama : Berat Badan Turun
Keluhan penyakit sekarang: Pasien datang sadar ke UGD RSU Bangli dengan
keluhan lemas, tidak nafsu makan dan berat badan yang turun secara drastis sejak
1 tahun lalu. Pasien mengaku berat badan sebelumnya adalah 77 kg sebelum
terjadi penurunan berat badan, sementara kini berat badan pasien adalah 40 kg.
Pasien tidak mengetahui pasti sebab jelas dari penurunan berat badan tersebut,
selama ini pasien makan dengan porsi yang seperti biasanya (3 kali sehari dengan
1 piring penuh) dan tidak ada aktifitas fisik yang berlebihan yang memicu
penurunan berat badan. Keluhan lain yang dirasakan pasien adalah sesak yang
dirasakan hilang timbul memberat saat beraktifitas dan tetap sesak walaupun
istirahat. Pasien juga mengeluh sulit menelan karena seperti ada yang
menghalangi di dada dan juga terasa nyeri, bahkan untuk menelan air pun sulit.
Sebelumnya pasien mengaku pernah menjalani perawatan selama 6 bulan karena
riwayat batuk berdahak. Batuk (+) dengan dahak berwarna putih sejak 1 tahun
lalu hilang timbul, keringat malam hari (+),Pasien mengaku sering mengalami
mual muntah dan demam seiring dengan penurunan berat badan. BAK normal,
untuk saat ini BAB normal sedikit cair namun sebelumya pasien sering
mengalami diare.

Page | 2
2.2.2. Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat asma : (-)


- Riwayat penyakit jantung : (-)
- Riwayat penyakit paru : (+)
- Riwayat hipertensi : (-)
- Riwayat DM : (-)
2.2.3. Riwayat peyakit keluarga :
- Riwayat Alergi : (-)
- Riwayat hipertensi : (-)
- Riwayat penyakit jantung : (-)
- Riwayat DM : (-)
2.2.4. Riwayat sosial :
- Merokok : (+)
- Alkohol : (-)
- Obat-obatan terlarang : (-)
2.2.5. Riwayat pengobatan : Pernah menjalani pengobatan selama 6 bulan untuk
riwayat batuk, transfusi darah (-)
2.2.6. Riwayat Gizi : Pasien makan secara teratur sebelumnya namun nafsu
menurun beberapa hari terakhir
2.3 Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaraan : Composmentis
GCS : E4 V5 M6
Tanda vital :
- Tekanan Darah : 100/60 mmHg,
- Heart Rate : 90x/menit,
- Respiration Rate : 24x/menit,
- Suhu : 36,60C (aksila).
2.3.1. Data Antropometri:
Berat Badan Sebelum Sakit : 77 kg
Berat Badan Sekarang : 40 kg
Tinggi Badan : 170 cm
Index Massa Tubuh : 13,84 kg/m2

Page | 3
2.3.2. Status Generalis

Kepala Normocephali, warna rambut hitam, distribusi merata,


tidak mudah dicabut.

Mata Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil bulat


isokhor (2mm/2mm), refleks pupil (+/+)
Telinga Otorea (-/-) , nyeri tekan tragus dan mastoid (-/-),
discharge (-/-), serumen (-/-)
Hidung Bentuk normal, tidak ada nafas cuping hidung, septum
deviasi (-), discharge (-/-), serumen (-/-)
Tenggorokan Uvula di tengah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring
hiperemis (-)
Mulut Bentuk normal, bibir pucat (-), sianosis (-), candidiasis
oral (+), tidak terdapat karies, gusi berdarah (-)
Leher Bentuk leher normal, pergerakan leher bebas, kelenjar
tiroid tidak membesar, trakea di tengah, JVP 5+2 cm H2O
Kelenjar getah bening Kelenjar getah bening di preaurikular, retroaurikular,
submandibula, submental, supraklavikula dan aksila tidak
teraba pembesaran

Toraks Normochest, tidak ada lesi, tidak ada jejas, tidak ada
spider navy, gerakan simetris saat statis dan dinamis,
tidak terdapat retraksi suprasternal,
Paru Inspeksi Gerakan sumetris saat statis dan dinamis, tidak ada
retraksi

Palpasi Nyeri tekan (-), taktil fremitus simetris pada kedua lapang
paru
Perkusi sonor redup pekak
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Auskultasi Vesikuler Ronkhi Wheezing

+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Anterior
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Posterior

Page | 4
Jantung Inspeksi Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi Iktus kordis teraba di sela iga IV linea midclavicula


sinistra, tidak kuat angkat, tidak ada thrill
 K
u Perkusi Batas jantung kanan : ICS V linea parasternal dextra,
Batas jantung kiri : ICS V linea midclavicula
l
sinistra,
i Batas jantung atas : ICS II linea sternal sinistra
Batas pinggang jantung: ICS III linea parasternal
sinistra
Auskultasi Bunyi jantung S1 S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop
(-)

Abdomen Inspeksi Datar, tidak terdapat sikatrik, massa (-), distensi (-)

Auskultasi Bising usus + ( 6x/menit)

Perkusi Timpani pada seluruh regio abdomen

Palpasi Supel, tidak ada defens muscular, trugor cukup, hepar &
lien tidak teraba
Nyeri tekan

- + -
- - -
- - -
Ekstremitas Akral hangat, tidak terdapat deformitas, tidak terdapat
edema, capillary refill time < 2 detik

2.4 Diagnosis Banding


1. HIV/AIDS
2. TB Paru
2.5 Pemeriksaan Penunjang
- Darah Lengkap
- Kimia Darah
- Elektrolit
- EKG
- Foto Thorax
- Cek BTA
- VCT

Page | 5
1) Hasil EKG (06-06-2019)

Interpretasi EKG (06-06-2019, 16.30 wita)


- Identitas : I Wayan Wardana
- Irama : sinus, reguler
- Heart Rate (HR) : 100 x/menit
- Aksis : I (-), AVF (+),  Right Axis Deviation
RVH (-), LVH (-)
- Gelombang P : normal (2 kotak kecil)
- Interval PR : normal (4 kotak kecil)
- Kompleks QRS : normal, tidak ada gelombang Q patologis
- Segmen ST : normal
- Gelombang T : normal (> 5mm di sadapan ektremitas, dan >10 mm di
sadapan prekordial)
- Interval QT : normal (7 kotak kecil, R-R 15 kotak kecil)
Kesan : Irama sinus, reguler, HR 100 x/menit, dengan RAD

Page | 6
2) Rontgen Thoraks

Hasil Pemeriksaan (06 Juni 2019):


 Bercak samar di apex paru anan
 Tidak tampak cavitas, kalsifikasi
maupun fibrosis
 Cor ratio kesan dalam batas normal
 Aorta tidak dilatasi
 Kedua sinus lancip dan diafragma kesan
baik
 Tulang-tulang kesan intak

Kesan
 Curiga bercak samar di apex paru
kanan adalah karena riwayat TB
 Cor kesan normal

3) Pemeriksaan Darah Lengkap (06 – 06 – 2019)

Parameter Hasil Nilai Rujukan


WBC 6,7 3.5-10
LYM 1,0 0.5-5.0
LYM% 15,4 ▼ 15-50 %
MID 0.2 0.1-1.5
MID% 4,3 2-15 %
GRA 5,5 1.2-8
GRA% 80,3 ▲ 35-80 %
HBG 9,9 ▼ 11.5-16.5 gr/dL
MCH 28,4 25-35 pg
MCHC 34,4 31-38 gr/dL
RBC 3,51 3.5-5.5
MCV 82,6 75-100 fl
HCT 29.0 ▼ 35-55 %
RDWa 62,7 30-150 fl
RDW% 14.8 11-16 %
PLT 357 100-400
MPV 6,8 ▼ 8-11 fl
PDWa 9,4 0.1-99.9 fl

Page | 7
PCT 0.24 0.01-9.99 %
P-LCR 7,9 0.1-99.9%

4) Pemeriksaan Kimia Darah (06 – 06 – 2019)

Tes Hasil Nilai Rujukan


Creatinin 0,62 0,6-1,3 mg/dL
Glucose 97 75-115 mg/dL
Urea UV 24 10-50 mg/dL

5) Pemeriksaan Elektrolit (06 – 06 – 2019)

Parameter Hasil Nilai Rujukan


Kalium (K) 4,03 3,5-5,5 mmol/L
Natrium (Na) 120,4 136-145 mmol/L
Chlorida (Cl) 96,7 96-108 mmol/L
Normalized Ionized Calcium 1,05 1,05-1,35 mmol/L
(nCa)
Total Calcium (TCa) 2,11 2,1-2,7 mmol/L

2.6 Diagnosis Kerja


1. HIV/AIDS
2.7 Planning Lanjutan
- Cek jumlah CD4
2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan di IGD Penatalaksanaan Lanjutan (ruangan)
- Sanprima forte 3 x 1 Kaplet - Omeprazole 40 mg
- N-Ace 3 x 1 - N-ace 2 x 1 tab
- Cefixim 2 x 200 mg - Fluconazol 1 x 150 mg
- Nistatin drop 2 x 2cc
- Ondansentron 3 x 4mg
- Ceftriaxon 2 x 1 gr

Page | 8
2.9 Follow Up Ruangan

8 Juni 2019
Sesak (+), sulit menelan (+), nafsu makan masih kurang. Namun keluhan
S lebih membaik dari sebelumnya. Batuk (+), Mual (-), Muntah (-), BAK
normal, BAB normal.

KU : sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4V5M6
Tanda Vital :
- TD: 90/60 mmHg,
- N : 80x/menit,
- RR : 20x/mnt,
- T : 36°C (aksila),
- SpO2 : 97%
Pemeriksaan Fisik
 Kepala : normocephali
 Mata : konjungtiva anemia (+/+), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+),
Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm.
 THT : masa (-), sekret (-), deviasi septum nasi (-), benda asing (-),
mukosa bibir tidak hiperemis, lidah berjamur (candidiasis oral), sianosis
(-), Tonsil T1/T1, Tonsil hiperemis (-)
O
 Pemeriksaan Leher : pembesaran kelenjar tiroid (-/-), PKGB (-), JVP
5cm + 2cm H2O, deviasi trakea (-)
 Pemeriksaan Thorax

Pulmo (depan dan belakang) :

- Inspeksi : normochest, dada simetris kanan dan kiri, tidak ada


gerakan napas yang tertinggal, tidak nampak adanya massa, tidak
ada tampak adanya tanda – tanda peradangan.
- Palpasi :
nyeri tekan
- -
- -
- -
Fremitus vokal normal kanan dan kiri sama.

Page | 9
- Perkusi
sonor redup pekak
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -

- Auskultasi
vesikular rhonki wheezing
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Anterior
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Posterior
Cor :
- Inspeksi : iktus cordis terlihat
- Palpasi : iktus cordis teraba 1 jari kuat angkat
- Perkusi :
Batas kanan : ICS 5 linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS 5 linea midklavikula sinistra
Batas atas : ICS 2 linea sternalis sinistra
Batas pinggang : ICS 3 linea parasternalis sinistra
- Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop
(-)
 Abdomen:
- Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak
adanya massa, tidak tampak adanya tanda – tanda peradangan
- Auskultasi : peristaltik usus 6x/menit
- Perkusi :
Timpani Pekak

Page | 10
+ + + - - -
+ + + - - -
+ + + - - -

- Palpasi : nyeri tekan


- - -
- - -
- - -

o Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak terdapat


nyeri tekan.
o Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak terdapat
nyeri tekan.
 Ekstermitas :: Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis [-],
edema [-], CRT < 2 detik.

A - HIV/AIDS

- Diet: TKTP
- Ondansentron 3 x 4 mg
- Ceftriaxon 3 x 1 gr IV
P - Omeprazole 1 x 40 mg IV
- N-Ace 1 x 1 cap PO
- Nystatin drop 1 x 2 cc
- Vipalbumin 1 x 2 cap PO

9 Juni 2019
Sesak dan nyeri menelan sudah lebih baik dari sebelumnya, pasien sudah
S mulai nafsu makan. Batuk sudah lebih jarang dari sebelumnya, Mual (+),
Muntah (-), BAK normal, BAB normal
KU : sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4V5M6
O
Tanda Vital : TD: 90/60 mmHg, N : 80 x/menit, RR : 20 x/mnt, T : 36°C
(axilla), SpO2 : 96%
Pemeriksaan Fisik

Page | 11
 Kepala : normocephali
 Mata : konjungtiva anemia (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+),
Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm.
 THT : masa (-), sekret (-), deviasi septum nasi (-), benda asing (-),
mukosa bibir sianosis (-), Lidah berjamur (Candidiasis oral), Tonsil
T1/T1, Tonsil hiperemis (-)
 Pemeriksaan Leher : pembesaran kelenjar tiroid (-/-), PKGB (-), JVP
5cm + 2cm H2O, deviasi trakea (-)
 Pemeriksaan Thorax

Pulmo (depan dan belakang) :

- Inspeksi : normochest, dada simetris kanan dan kiri, tidak ada


gerakan napas yang tertinggal, tidak nampak adanya massa, tidak
ada tampak adanya tanda – tanda peradangan.
- Palpasi :
nyeri tekan
- -
- -
- -
Fremitus vokal normal kanan dan kiri sama.

- Perkusi
sonor redup pekak
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
- Auskultasi
vesikular rhonki wheezing
+ + - - - -
+ + - - - -

Page | 12
+ + - - - -

Anterior

+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Posterior
Cor :
- Inspeksi : iktus cordis tampak
- Palpasi : iktus cordis iktus cordis teraba 1 jari
- Perkusi :
Batas kanan : ICS 5 linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS 5 linea midklavikula sinistra
Batas atas : ICS 2 linea sternalis sinistra
Batas pinggang : ICS 3 linea parasternalis sinistra
- Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop
(-)
 Abdomen
- Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak
adanya massa, tidak tampak adanya tanda – tanda peradangan
- Auskultasi : peristaltik usus 6x/menit
- Perkusi :
Timpani Pekak
+ + + - - -
+ + + - - -
+ + + - - -

- Palpasi : nyeri tekan (-)


o Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak terdapat
nyeri tekan.
o Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak terdapat
nyeri tekan.

Page | 13
Ekstermitas : : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis [-],
edema [-], CRT <2 detik.

A - HIV/AIDS

- Diet: TKTP
- Ondansentron 3 x 4 mg
- Ceftriaxon 3 x 1 gr (IV)
P - Omeprazole 2 x 40 mg (IV)
- N-ace 3 x 1 tab
- Nystatin drop 1 x 2 cc
- Vipalbumin 1 x 2 cap

10 Juni 2019
Pasien Pulang

Pasien merasa kondisi sudah membaik. Tidak ada keluhan, sesak sudah
S tidak ada, makan dan minum sudah seperti biasa. Mual (-), Muntah (-),
BAK normal, BAB normal.

KU : sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4V5M6
Tanda Vital : TD: 90/70 mmHg, N : 80/menit, RR : 20x/mnt, T : 36,0°C
(axilla), SpO2 : 98%
Pemeriksaan Fisik
- Kepala : normocephali
- Mata : konjungtiva anemia (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya
(+/+), Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm.
O
- THT : masa (-), sekret (-), deviasi septum nasi (-), benda asing (-),
mukosa bibir sianosis (-), Candidiasis oral (-), Tonsil T1/T1, Tonsil
hiperemis (-)
- Pemeriksaan Leher : pembesaran kelenjar tiroid (-/-), PKGB (-), JVP
5cm + 2cm H2O, deviasi trakea (-)
- Pemeriksaan Thorax

Pulmo (depan dan belakang) :

- Inspeksi : normochest, dada simetris kanan dan kiri, tidak ada

Page | 14
gerakan napas yang tertinggal, tidak nampak adanya massa, tidak ada
tampak adanya tanda – tanda peradangan.
- Palpasi :
nyeri tekan
- -
- -
- -
Fremitus vokal normal kanan dan kiri sama.
- Perkusi
sonor redup pekak
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
- Auskultasi
vesikular rhonki wheezing
+ + - - - -
+ + - - - -
+ + - - - -
Cor :
- Inspeksi : iktus cordis tampak
- Palpasi : iktus cordis teraba 1 jari
- Perkusi :
Batas kanan : ICS 5 linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS 5 linea midklavikula sinistra
Batas atas : ICS 2 linea sternalis sinistra
Batas pinggang : ICS 3 linea parasternalis sinistra
- Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
- Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak
adanya massa, tidak tampak adanya tanda – tanda peradangan
- Auskultasi : peristaltik usus 6x/menit
- Perkusi :
Timpani Pekak

Page | 15
+ + + - - -
+ + + - - -
+ + + - - -

- Palpasi : nyeri tekan (-)


o Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak
terdapat nyeri tekan.
o Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak
terdapat nyeri tekan.
- Ekstermitas : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis [-
], edema [-], CRT < 2 detik.

A HIV/AIDS

- Ondansentron 1 x 4 mg (IV)
- Ceftriaxon 1 x 1 gr (IV)
P
- Omeprazole 1 x 40 mg (IV)
- N-ace 1 x 1 tab (PO)

Page | 16
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 HIV/AIDS
A. Definisi
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan
gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi
oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae.
AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. HIV adalah jenis virus yang tergolong
familia retrovirus, sel-sel darah putih yang diserang oleh HIV pada penderita yang
terinfeksi adalah sel-sel limfosit T (CD4) yang berfungsi dalam sistem imun (kekebalan)
tubuh. HIV memperbanyak diri dalam sel limfosit yang diinfeksinya dan merusak sel-sel
tersebut, sehingga mengakibatkan sistem imun terganggu dan daya tahan tubuh
berangsur-angsur menurun. (Setiati et al., 2014)
B. Patogenesis
Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV karena memiliki afinitas yang
tinggi terhadap molekul permukaan CD4+. Limfosit CD4+ berfungsi mengoordinasikan
sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan
gangguan respons imun yang progresif. Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari
pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus (SIV). SIV dapat menginfeksi
limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. Virus dibawa oleh antigen-presenting
cells ke kelenjar getah bening regional. Pada model ini, virus dideteksi pada kelenjar
getah bening dalam 5 hari setelah inokulasi. Sel individual di kelenjar getah bening yang
mengekspresikan SIV dapat dideteksi dengan hibridisasi in situ dalam 7 sampai 14 hari
setelah inokulasi. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari setelah infeksi. Puncak jumlah sel yang
mengekspresikan SIV di kelenjar getah bening berhubungan dengan puncak antigenemia
p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan virus di jaringan limfoid kemudian menurun
secara cepat dan dihubungkan sementara dengan pembentukan respons imun spesifik.
Koinsiden dengan menghilangnya viremia adalah peningkatan sel limfosit CD8.
Walaupun demikian tidak dapat dikatakan bahwa respons sel limfosit CD8+
menyebabkan kontrol optimal terhadap replikasi HIV Replikasi HIV berada pada keadaan
'steady-state' beberapa bulan setelah infeksi. Kondisi ini bertahan relatif stabil selama
beberapa tahun, namun lamanya sangat bervariasi. Faktor yang mempengaruhi tingkat
replikasi HIV tersebut, dengan demikan juga perjalanan kekebalan tubuh pejamu, adalah

Page | 17
heterogeneitas kapasitas replikatif virus dan heterogenitas intrinsik pejamu. (Setiati et al.,
2014)
Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu setelah infeksi, namun secara
umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi virus telah menurun sampai ke level
'steady- state. Walaupun antibodi iní umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat
melawan infeksi virus, namun ternyata tidak dapat mematikan virus. Virus dapat
menghindar dari netralisasi oleh antibodi dengan melakukan adaptasi pada amplopnya,
termasuk kemampuannya mengubah situs glikosilasinya, akibatnya konfigurasi 3
dimensinya berubah sehingga netralisasi yang diperantarai antibodi tidak dapat terjadi.
(Setiati et al., 2014)
Ada tiga mekanisme transmisi AIDS yang utama, yaitu kontak seksual, inokulasi
parenteral, dan perpindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada bayi baru lahir
(Kummar, et al. 2015)
C. Patofisiologi
Dalam tubuh odha, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu
kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang
yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama,
50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir
semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal.
Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis sesuai dengan
perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap. (WHO, 2017)
Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian
memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi.
Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening,
ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa
gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada
sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2
tahun, dan ada pula yang perjalanannya lambat (non-progressor). (Setiati et al., 2014)
Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh odha mulai menampakkan
gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun, demam lama, rasa
lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare tuberkulosis, infeksi jamur, herpes, dan
lain-lain. Tanpa pengobatan ARV, walaupun selama beberapa tahun tidak menunjukkan
gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan
memburuk, dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinik yang makin berat pasien
Page | 18
masuk tahap AlDS. Jadi yang disebut laten secara klinik (tanpa gejala), sebetulnya bukan
laten bila ditirjau dari sudut penyakit HIV. Manifestasi dari awal dari kerusakan sistem
kekebalan tubuh adalah kerusakan mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan
infeksi HIV yang luas di jaringan limfoid, yang dapat dilihat dengan pemeriksaan
hibridisasi in-situ. Sebagian besar replikasi HIV terjadi di kelenjar getah bening, bukan di
peredaran darah tepi.
Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak menunjukkan
gejala, pada waktu itu replikasi HIV yang tinggi. Bersamaan dengan terjadi kehancuran
limfosit CD4 yang tinggi tetapi tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi
limfosit CD4 sekitar 109 sel setiap hari.
Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika suntik. Lebih dari 80%
pengguna narkotika terinfeksi hepatitis C. Infeksi pada katup jantung juga adalah
penyakit yang dijumpai pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan
pada odha yang tertular dengan cara lain. Lamanya penggunaan jarum suntik berbanding
lurus dengan dengan infeksi pneumonia dan tuberkulosis. Makin lama seseorang
menggunakan narkotika suntikan, makin mudah ia terkena pneumonia dan tuberkulosis.
Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk, Infeksi oleh kuman
HIV membelah penyakit lain akan menyebabkan virus dengan lebih cepat sehingga
jumlahnya akan meningkat pesat.
D. Manifestasi Klinis
Masa inkubasi 6 bulan sampai 5 tahun, Window Period selama 6-8 minggu adalah
waktu saat tubuh sudah terinfeksi HIV tetapi belum terdeteksi oleh pemeriksaan
laboratorium, seorang dengan HIV dapat bertahan sampai dengan 5 tahun, jika tidak
diobati maka penyakit ini akan bermanifestasi sebagai AIDS, Gejala klinis muncul
sebagai penyakit yang tidak khas seperti : Diare, Kandidiasis mulut yang luas, Pneumonia
interstisialis limfositik, Ensefalopati kronik. (Yuliyanasari, 2017)
Ada beberapa gejala dan tanda mayor (menurut WHO) antara lain: kehilangan berat
badan (BB) > 10%, Diare Kronik > 1 bulan, Demam > 1 bulan. Sedangkan tanda
minornya adalah: Batuk menetap > 1 bulan, Dermatitis pruritis (gatal), Herpes Zoster
berulang, Kandidiasis orofaring, Herpes simpleks yang meluas dan berat, Limfadenopati
yang meluas. Tanda lainnya adalah: Sarkoma Kaposi yang meluas, Meningitis
kriptokokal. (Yuliyanasari, 2017)
Gejala AIDS timbul 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Beberapa orang tidak
mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali. Sementara yang lainnya mengalami gejala-
Page | 19
gejala seperti flu, termasuk demam, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah
dan pembengkakan saluran getah bening. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang
dalam seminggu sampai sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant)
selama beberapa tahun. Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem
kekebalan, menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap
infeksi-infeksi oportunistik.
E. Penegakan Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang terinfeksi
HIV sangatlah penting, karena pada infeksi HIV gejala klinisnya dapat baru terlihat
setelah bertahun-tahun lamanya Terdapat beberapa jenis pemeriksaan laboratorium untuk
memastikan diagnosis infeksi HIV. Secara garis besar dapat dibagi menjadi pemeriksan
serologic untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV dan pemeriksaan untuk
mendeteksi keberadaan virus HIV Deteksi adanya virus HIV dalam tubuh dapat
dilakukan dengan isolasi dan biakan virus deteksi antigen, dan deteksi materi genetik
dalam darah pasien. Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan
terhadap antibodi HIV. Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA (enzyme-
linked immunosorbent assay), Aglutinasi atau dot-blot immunobinding assay. Metode
yang biasanya digunakan di Indonesia adalah dengan ELISA. (Setiati et al.,2014)
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibodi HIV ini yaitu
adanya masa jendela Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai
timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk
pada 4-8 minggu setelah infeksi. Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang
yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negatif. Untuk itu
ika kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan
ulangan 3 bulan kemudian.
World Health Organization (WHO,) menganjurkan pemakaian salah satu dari 3
strategi pemeriksaan antibodi terhadap HIV, tergantung pada tujuan penyaringan keadaan
populasi dan keadaan pasien.
Pada keadaan yang memenuhi dilakukannya Strategi I hanya dilakukan 1 kali
pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan reaktif maka dianggap sebagai kasus terinfeksi HIV
dan bila hasil pemeriksaan non-reaktif dianggap tidak terinfeksi HIV Reagensia yarg
dipakai untuk pemeriksaan pada strategi ini harus memiliki sensitivitas yang tinggi (>
99%).

Page | 20
Strategi II menggunakan 2 kali pemeriksaan jika serum pada permeriksaan pertama
memberikan hasil reaktif. Jika pada pemeriksaan pertama hasilnya non-reaktif, maka
dilaporkan hasil tesnya negatif. Pemeriksaan pertama menggunakan reagensia dengan
sensitivitas tertinggi dan pada pemeriksaan kedua dipakai reagensia yang lebih spesifik
serta berbeda jenis antigen atau tekniknya dari yang dipakai pada pemeriksaan pertama.
Bila hasil pemeriksaan keduajuga reaktif, maka disimpulkan sebagai terinfeksi HIV.
Namun jika hasil pemeriksaan yang kedua adalah non-reaktif, maka pemeriksaan harus
diulang dengan ke-2 metode. Bila hasil tetap tidak sama, maka dilaporkan sebagai
indeterminate.
Strategi III menggunakan 3 kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan pertama, kedua,
dan ketiga reaktif maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut memang terinfeksi HIV
Bila hasil pemenksaan tidak sama, misalnya hasil tes pertama reaktif, kedua reaktif dan
ketiga non-reaktif atau pertama reaktif, kedua dan ketiga non- reaktif maka keadaan ini
disebut sebagai equivocal atau indeterminate bila pasien yang diperiksa memiliki riwayat
pemaparan terhadap HIV atau berisiko tinggi tertular HIV Sedangkan bila hasil seperti
yang disebut sebelumnya terjadi pada orang tanpa riwayat pemaparan terhadap HIV atau
tidak berisiko tertular HIV, maka hasil pemeriksaan dilaporkan sebagai non-reaktif. Perlu
diperhatikan juga bahwa pada pemeriksaan ketiga dipakai reagensia yang berbeda asal
antigen atau tekniknya, serta memiliki spesitisitas yang lebih tinggi.
Jika pemeriksaan penyaring menyatakan hasil yang reaktif, pemeriksaan dapat
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi untuk mentikan adanya infeksi oleh HIV
yang pal ng sering dipakai saat ini adalah tehnik Western Blot (WB).
Seseorang yang ingin menjalani tes HIV untuk keperluan diagnosis harus
mendapatkan konseling prates. Ha ini harus dilakukan agar ia dapat mendapat hormasi
yang sejelas-jelasnya mengenai infeksi HIV/AIDS sehingga dapat mengambil keputusan
yang terbaik untuk dirinya serta lebih siap menerima apapun hasil tesnya nanti. Untuk
keperluan survei tidak diperlukan konseling pra tes karena orang yang dites tidak akan
diberitahu hasil tesnya. Untuk memberitahu hasil tes juga diperlukan konseling pasca tes,
baik hasil tes positifmaupun negatif Jika hasilnya positif akan diberikan informasi
mengenai pengobatan untuk memperpanjang masa tanpa gejala serta cara pencegahan
penularan. Jika hasiinya negatif konseling tetap perlu dilakukan untuk memberikan
informasi bagaimana mempertahankan perilaku yang tidak berisiko.

Page | 21
F. Kriteria Diagnosis
Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium
terbukti terinfeksi HIV, baik dengan meteode pemeriksaan antibodi atau pemeriksaan
untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh. Diagnosis AIDS untuk kepentingan
surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi oportunistik (Tabel 2) atau limfosit CD4+
kurang dari 350 sel/mm. (Setiati et al., 2014)
Tabel 3.1 Infeksi Oportunistik/ Kondisi yang Sesuai dengan
Kriteria Diagnosis AIDS
Cytomegalovirus (CMV) (selain hati, limpa, atau kelenjar
getah bening)
CMV, retinitis (dengan penurunan fungsi penglihatan)
Ensefalopati HIV
Herpes simpleks, ulkus kronik (lebih dari 1 bulan), bronkitis,
pneumonitis, atau esofagitis
Histoplasmosis, diseminata atau ekstraparu
Isosporiasis, dengan diare kronik (lebih dari 1 bulan)
Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru
Kandidiasis esofagus
Kanker serviks invasive
Koksidiodomikosis, diseminata atau ekstraparu
Kriptokokosis, ekstraparu
Kriptosporidiosis, dengan diare kronik (lebih dari 1 bulan)
Leukoensefalopati multifokal progresif
Limfoma, Burkitt
Limfoma, imunoblastik
Limfoma, primer pada otak
Mikobakterium avium kompleks atau M. kansasii, diseminata
atau ekstraparu
Mikobakterium tuberkulosis, paru atau ekstraparu
Mikobakterium, spesies lain atau spesies yang tidak dapat
teridentifikasi, diseminata atau ekstrapulmoner
Pneumonia Pneumocystis carinii
Pneumonia rekuren

Page | 22
Sarkoma Kaposi
Septikemia Salmonella rekuren
Toksoplasmosis otak
Wasting Syndrome

G. Penatalaksanaan
Secara umum, penatalaksanaan odha terdiri atas beberapa jenis, yaitu:
a). pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV),
b). pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai
infeksi HIV/AIDS, seperti jamur tuberkulosis, hepatitis, toksoplasma, sarkoma kaposi,
limfoma, kanker serviks,
c). pengobatan suportif, yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi yang lebih baik dan
pengobatan pendukung lain seperti dukungan psikososial dan dukungan agama juga tidur
yang cukup dan serta perlu menjaga kebersihan.
Dengan pengobatan yang lengkap tersebut, angka kematian dapat ditekan, harapan
hidup lebih baik dan kejadian infeksi oportunistik amat berkurang.
Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleotide reverse transcriptase
inhibitor, non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor, dan inhibitor protease. Tidak
semua ARV yang ada telah tersedia di Indonesia (Tabel 3.2). Waktu memulai terapi ARV
harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka
panjang. Obat ARV direkomendasikan pada semua pasien yang memiliki HIV (+), telah
menunjukkan gejala yang termasuk dalam kriteria diagnosis AIDS, atau menunjukkan
gejala yang sangat berat, tanpa melihat jumlah limfosit CD4+. Obat ini juga
direkomendasikan pada pasien dengan limfosit CD4 kurang dari 350 sel/mm2. Pasien
asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200- 350 sel/mm3 dapat ditawarkan untuk memulai
terapi. Pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm2 dan viral
load lebih dari 100.000 kopi/ml terapi ARV dapat dimulai, namun dapat pula ditunda.
Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan limfosit CD4+ lebih dari 350
sel/mm dan viral load kurang dari 100.000 kopi/ml.

Page | 23
Tabel 3.2 Obat ARV yang beredar di Indonesia

Saat ini regimen pengobatan ARV yang dianjurkan WHO adalah kombinasi dari 3
obat ARV. Terdapat beberapa regimen yang dapat dipergunakan (Tabel 4), dengan
keunggulan dan kerugiannya masing-masing. Kombinasi obat antiretroviral lini pertama
yang umumnya digunakan di Indonesia adalah kombinasi zidovudin (ZDV)/lamivudin
(3TC), nevirapin (NVP), stavudin (d4T), dan Efavirenz (EFV). Penggunaan d4T
(stavudin) dlm waktu tidak terlalu lama karena efek samping jangka panjang yaitu
lipodisatropi dan efek metabolik. Pada pengobatan ARV ini 2 digunakan Tenofovir,
Lopi/Ritonavir. Efek samping tenofovir yaitu gangguan fungsi ginjal, osteoporosis,
sedangkan efek samping Pl adalah gangguan metabolik.

Tabel 3.3 Kombinasi Obat ARV untuk Terapi Insial

*Tidak dianjurkan pada wanita hamil trimester pertama atau wanita yang berpotensi tinggi untuk
hamil

Page | 24
3.2 Tuberkulosis Paru
A. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit
melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3 – 0,6 mm
dan panjang 1 – 4 mm. Dinding M. tuberculosis sangat kompleks, terdiri dari lapisan
lemak cukup tinggi (60%).
B. Patofisiologi
Tuberkulosis Primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan
paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer
atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam paru,
berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh
pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-
sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini
akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis fibrotik,
sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya.
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian dimana terdapat
penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang
membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan,
dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus
yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada
lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru
sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus.
c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian penyebaran ini sangat
bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi basil. Sarang yang

Page | 25
ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti
yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti
tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa. Penyebaran ini juga dapat
menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak
ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin
berakhir dengan :
- Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang
pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma) atau
- Meninggal
Tuberkulosis Post-Primer
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis post-
primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer mempunyai nama
yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa, localized tuberculosis,
tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama
menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber penularan.
Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen
apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk
suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu
jalan sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan
penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih
keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya
dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan
menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan
muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis,
kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :
- Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang
pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan diatas
- Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi mungkin pula
aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi

Page | 26
- Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed
cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya mengecil.
Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga
kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

Saat masuk ke tubuh manusia kuman mycobacterium tuberculosis akan membentuk


dua tipe lesi utama:

1. Tipe eksudatif, ini terdiri dari reaksi peradangan akut, lekosit polimorfonuklir dan
kemudian, monosit sekitar basil tuberkel. Tipe ini terlihat pada jaringan paru-paru,
dimana lesi ini mirip dengan pnemonia bakterie, tipe ini dapat sembuh dengan
resolusi sehingga seluruh eksudat di absorpsi sehingga mengakibatkan nekrosis
massif dari jaringan atau dapat berkembang menjadi tipe produktif, selama fase ini
tes tuberculin positif.

2. Tipe produktif, bila berkembang maksimal lesi ini akan menjadi suatu granuloma
menahun yang terdiri dari 3 daerah:

- Daerah sentral yang luas, yang mempunyai sel sel inti banyak yang
mengandung basil tuberkel.

- Daerah tengah terdiri dari sel-sel epiteloid pucat.

- Derah perifer yang terdiri dari fibroblas, limfosit dan monosit kemudian
terbentuk jaringan fibrosa perifer dan daerah sentral mengalami nekrosis dan
membentuk kaverne, selanjutnya lesi ini sembuh dengan fibrosis atau
kalsifikasi.

Cara penularan kuman mycobacterium tuberculosis:

1. Kuman dibatukkan atau dibersinkan oleh penderita TB menjadi droplet nuclei


(partikel kecil yang merupakan gabungan antara sel tubuh dan sel yang sudah
terinfeksi. Setiap kali penderita TB batuk akan dikeluarkan 3000 droplet yang
infektif (memiliki kemampuan menginfeksi), partikel infeksi ini dapat hidup pada
udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar ultra violet, ventilasi
yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab kuman dapat hidup berhari-
hari.

Page | 27
2. Kuman yang terhirup dapat menghindari pertahanan mekanik saluran napas bagian
atas dan akan menuju alveoli dimana infeksi awal terjadi, kuman ini akan
membentuk sarang primer dan di ikuti pembesaran kelenjar getah bening yang
disebut komplek primer.

3. Komplek primer selanjutnya mengalami perjalanan penyakit tergantung virulensi,


jumlah kuman, dan ketahanan tubuh penderita. Ini dapat sembuh sama sekali tanpa
cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit jaringan paru atau berkomplikasi dan
menyebar baik secara hematogen atau limfatogen.

Tidak semua orang yang menghirup kuman TBC akan tertular penyakit tersebut. Pada
orang yang sehat, biasanya kuman tersebut menjadi tidak aktif dan orang itu tetap sehat
tetapi kuman tersebut akan jadi aktif bila:

- Kekurangan gizi

- Kondisi fisik yang lemah

- Terkena penyakit tertentu sepeti HIVdan Diabetes melitus

- Pecandu obat-obat terlarang

- Menggunakan hormon steroid

- Perokok berat

Kuman-kuman akan mulai berkembang-biak dan menimbulkan penyakit TBC.


Timbulnya penyakit bisa langsung terjadi setelah terinfeksi atau butuh waktu
tahunan untuk berkembang.
C. Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bemacam-macam atau malah
banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan
kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah:
Demam. Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang
panas badan dapat mencapai 40- 41°C. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar
tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterus- nya hilang timbulnya demam
influenza ini, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam
influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi kuman tuberkuiosis yang masuk.

Page | 28
Batuk/batuk darah. Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi
pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar.
Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada
setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-
produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan
sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah
yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat
juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
Sesak napas. Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah
meliputi setengah bagian paru-paru.
Nyeri dada. Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua
pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (berat badan
turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam. Malaise semakin lama akan
makin berat dan hilang timbul secara tidak teratur.
D. Klasifikasi
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu “definisi
kasus” yang meliputi empat hal, yaitu :
1) Lokasi atau organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru

2) Bakteriologi ; hasil pemeriksaan mikroskopis : BTA positif dan BTA negatif

3) Tingkat keparahan penyakit : ringan atau berat

4) Riwayat pengobatan TB sebelumnya : baru atau sudah pernah diobati

Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah


a. Menentukan paduan pengobatan yang sesuai

b. Registrasi kasus secara benar

c. Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif

d. Analisis kohort hasil pengobatan

Page | 29
Beberapa istilah dalam definisi kasus:

1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh

dokter.

2. Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium

tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen

dahak SPS hasilnya BTA positif.

Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan

untuk:

1. Menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga

2. Mencegah timbulnya resistensi,

3. Menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga

4. Meningkatkan pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective)

5. Mengurangi efek samping.

a) Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:


1) Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang

jaringan (parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada

hilus.

2) Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain

paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,

tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

b) Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan BTA sputum:


a. Tuberkulosis paru BTA ( + ) adalah :
1. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
2. Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan hasil BTA positif dan
kelainan radiologi menunjukkan ganbaran tuberculosis aktif
3. Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif

Page | 30
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
1. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis
dan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif
2. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan
Myccobacterium tuberculosis positif
c) Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi
beberapa tipe pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap didiagnosis
kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan minimal 1 bulan dan putus
berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif atau BTA negatif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain:
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini
termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif setelah selesai pengobatan ulangan.
E. Diagnosa
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (sub febris), badan
kurus atau berat badan menurun.

Page | 31
Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak menunjukkan kelainan pun terutama pada
kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimtomatik. Demikian juga bila
sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan
fisik, karena hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm ke dalam paru sulit dinilai
secara palpasi, perkusi dan auskultasi. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisis, TB paru
sulit dibedakan dengan pneumonia biasa.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks (puncak)
paru. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan perkusi redup dan
auskultasi suara napas bronkial akan didapatkan juga suara napas tambahan berupa ronki
basah kasar, dan nyaring. Tetapi bila infitrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara
napasnya menjadi vesicular melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi
memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik.
Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi
dan retraksi otot-otot inter-kostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi
mediastinum atau paru lainnya. Paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi. Bila jaringan
fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jarıngan paru-paru akan terjadi
pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya meningkatkan tekanan arteri
pulmonalis (hipertensi pulmonal) diikuti terjadinya kor pulmonal dan gagal jantung
kanan. Di sini akan didapatkan tanda-tanda kor pulmonal dengan gagal jantung kanan
seperti takipnea, takikardia, sianosis, right ventricutar lift, right atrial gallop, murmur
Graham-Steel bunyi P2 yang mengeras. Tekanan vena jugularis yang meningkat
hepatomegali, asites, dan edema.
Bila tuberkulosis mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru yang sakit
terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi
memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali alam
penampilan klinis TB paru sering asimtomatik dan penyakit baru dicurigai dengan
didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin yang
positif.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk
menemukan lesi tuberkulosis. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih
dibandingkan pemeriksaan sputum, tetapi dalam beberapa hal ia memberikan keuntungan
seperti pada tuberkulosis anak-anak dan tuberkulosis milier. Pada kedua hal tersebut
Page | 32
diagnosis dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologis dada, sedangkan pemeriksaan
sputum hampir selalu negatif.
Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apikal lobus atas
atau segmen apikal lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah (bagian
inferior atau di daerah hilus menyerupai tumor paru misalnya pada tuberkulosis
endobronkial).
Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas.
Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas
yang tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma.
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama
dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi fibrosis terlihat bayangan yang
bergaris-garis. Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat dengan
densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang
dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.
Gambaran tuberkulosis milier terlihat berupa bercak-bercak halus yang umumnya
tersebar merata pada seluruh lapangan paru.
Gambaran radiologis lain yang sering menyerta tuberculosis paru adalah penebalan
pleura (pleuritis massa cairan di bagian bawah paru efusi pleura empiema) bayangan
hitam radiolusen di pinggir paru/ pleura (pneumatoraks).
Faktor kesalahan dalam membaca foto Faktor kesalahan ini dapatmencapai 25%
Olehisebabituntuk ciagnostik radiologi sering dilakukan N9atoto latera top lordotik,
oblik, tomagrafi dan fotodengan proveksi densitas keras. (Setiati et al., 2014)
Pemeriksaan Laboratorium
Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA,
diagnosis tuberkuiosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga
dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini
mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang-
kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutarna pasien yang tidak batuk atau
batuk yang non produktif. Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan
sputum, pasien dianjurkan minum air sebanyak kurang lebih 2 liter dan diajarkan
melakukan reflek batuk. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-obat mukolitik
ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. Bila
Page | 33
masih sulit sputum dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi diambil dengan brushing
atau bronchial washing atau BAL (bronchoalveoiar lavage). BTA dari sputum bisa juga
didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini sering dikerjakan pada anak-anak karena
mereka sulit mengeluarkan dahaknya. Sputum yang akan diperiksa hendaknya sesegar
mungkin.
Bila sputum sudah didapat, kuman BTA pun kadang-kadang sulit ditemukan. Kuman
baru dapat ditemukan bila bronkus yang terlibat proses penyakit ini terbuka ke luar,
sehingga sputum yang mengandung kuman BTA mudah ke luar. Diperkirakan di
Indonesia terdapat 50% pasien BTA positif tetapi kuman tersebut tidak ditemukan dalam
sputum mereka.
Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang
kuman BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam
1 mL sputum.
Diagnosis tuberkulosis paru masih banyak ditegakkan berdasarkan kelainan klinis dan
radiologis saja. Kesalahan diagnosis dengan cara ini cukup banyak sehingga memberikan
efek terhadap pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan. Oleh sebab itu dalam
diagnosis tuberkulosis paru sebaiknya dicantumkan status klinis status bakteriologis,
status radiologis dan status kemoterapi. WHO tahun 1991 memberikan kriteria pasien
tuberkulosis paru.
- Pasien dengan sputum BTA positif : 1). pasien yang pada pemeriksaan sputumnya
secara mikroskopis ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2 kali
pemeriksaan, atau 2). satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis
yang sesuai dengan gambaran TB aktif, atau 3). satu sediaan sputumnya positif
disertai biakan yang positif
- Pasien dengan sputum BTA negatif: 1. pasien yang pada pemeriksaan sputum-nya
secara mikroskopis tidak ditemukan BTA sedikitnya pada 2 kali pemeriksaan
tetapi gambaran radiologis sesuai dengan TB aktif atau, 2 pasien yang pada
pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak ditemukan BTA sama sekali,
tetapi pada biakannya positif.
Di samping TB paru terdapat juga TB ekstra paru, yakni pasien dengan kelainan
histologis atau/dengan gambaran klinis sesuai dengan TB aktif atau pasien dengan satu
sediaan dari organ ekstra parunya menunjukkan hasil bakteri M. tuberculosa (Setiati et
al., 2014).

Page | 34
Uji Tuberkulin
Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB di daerah dengan
prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi,
pemeriksaan uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik kurang berarti, apalagi pada
orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi dari uji yang
dilakukan satu bulan sebelumnya atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar
sekali atau bula. Pada pleuritis tuberkulosa uji tuberkulin kadang negatif, terutama pada
malnutrisi dan infeksi HIV. Jika awalnya negatif mungkin dapat menjadi positif jika
diulang 1 bulan kemudian. Sebenarnya secara tidak langsung reaksi yang ditimbulkan
hanya menunjukkan gambaran reaksi tubuh yang analog dengan ; a) reaksi peradangan
dari lesi yang berada pada target organ yang terkena infeksi atau b) status respon imun
individu yang tersedia bila menghadapi agent dari basil tahan asam yang bersangkutan
(M.tuberculosis). (Setiati et al., 2014)
F. Terapi
Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi
kuman terhadap OAT.
Tabel 3.4 Jenis, Sifat dan Dosis OAT

Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
- OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.

Page | 35
- Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat
(PMO).
- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)


- Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.
Tahap Lanjutan
- Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama.
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


- Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia:
 Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
 Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
 Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa
obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini
disediakan dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu
tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas
dalam satu paket untuk satu pasien.
- Paket Kombipak.
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid
dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan

Page | 36
program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek
samping OAT KDT.

Paduan OAT dan peruntukannya.


a) Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
- Pasien baru TB paru BTA positif.
- Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
- Pasien TB ekstra paru

Tabel 3.5 Dosis untuk paduan KDT OAT untuk Kategori 1

Tabel 3.6 Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1

b) Kategori 2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
- Pasien kambuh
- Pasien gagal
- Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Tabel 3.7 Dosis untuk paduan KDT OAT untuk Kategori 2

Page | 37
Tabel 3.8 Dosis untuk OAT-Kombipak untuk Kategori 2

c) OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif
kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel 3.9 Dosis KDT untuk Sisipan

Tabel 3.10 Dosis OAT Kombipak untuk Sisipan

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya


kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru
tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada

Page | 38
OAT lapis pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko
resistensi pada OAT lapis kedua.
Pemantauan Hasil Kemajuan Pengobatan TB

Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan


dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara
mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau
kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau
kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB.
Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen
sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2
spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil
pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif.
Tabel 3.11 Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Ulang Dahak

Page | 39
Efek Samping OAT Dan Penatalaksanaannya
Tabel berikut, menjelaskan efek samping ringan maupun berat dengan pendekatan
gejala.
Tabel 3.12 Efek Samping Ringan OAT

Tabel 3.13 Efek Samping Berat OAT

Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit:


Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan
dulu kemungkinan penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin, sambil meneruskan
OAT dengan pengawasan ketat. Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien hilang,
namun pada sebagian pasien malahan terjadi suatu kemerahan kulit.
Bila keadaan seperti ini, hentikan semua OAT. Tunggu sampai kemerahan kulit
tersebut hilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat, pasien perlu dirujuk
• Pada UPK Rujukan penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut: Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum
diketahui, maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging”

Page | 40
dengan menggunakan obat lepas. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana
yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut.
• Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena
kelebihan dosis. Untuk membedakannya, semua OAT dihentikan dulu kemudian
diberi kembali sesuai dengan prinsip dechallenge-rechalenge. Bila dalam proses
rechallenge yang dimulai dengan dosis rendah sudah timbul reaksi, berarti
hepatotoksisitas karena reakasi hipersensitivitas.
• Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui, misalnya
pirasinamid atau etambutol atau streptomisin, maka pengobatan TB dapat diberikan
lagi dengan tanpa obat tersebut. Bila mungkin, ganti obat tersebut dengan obat lain.
Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang, tapi hal ini akan menurunkan
risiko terjadinya kambuh.
• Kadang-kadang, pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap
Isoniasid atau Rifampisin. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh
sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek.
Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid atau Rifampisin tersebut
HIV negatif, mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Namun, jangan lakukan
desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar
terjadi keracunan yang berat.
G. Prognosis
1. Jika berobat teratur sembuh total (95%).
2. Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 % yang mungkin relaps.
H. Komplikasi

Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :

1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan
ginjal

Page | 41
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Pasien dalam kasus ini di diagnosis dengan HIV/AIDS berdasarkan:


Dari hasil anamnesis pasien pada kasus, didapatkan 3 gejala mayor yaitu berat badan
yang turun (> 10%), demam kronik > 1 bulan, diare kronik > 1 bulan. Hal tersebut
kemungkinan disebabkan oleh infeksi oportunistik yang terjadi akibat menurunnya fungsi
kekebalan tubuh. Selain itu terdapat salah satu gejala minor yaitu batuk menetap > 1 bulan.
Kemudian dari pemeriksaan fisik pada bagian mulut didapatkan oral candidiasis yang juga
merupakan manifestasi dari infeksi oportunistik, sedangkan pemeriksaan fisik lainnya masih
dalam batas normal. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan hasil limfositopenia yang
menandakan bahwa pasien mengalami kondisi immunocompromised serta granulositosis yang
menandakan terdapat infeksi di dalam tubuh pasien. Dari hasil rontgen thorak ditemukan
bercak samar di apex paru kanan yang dicurigai adalah fibrosis dari riwayat TB paru
sebelumnya yang didukung dengan riwayat pengobatan batuk selama 6 bulan yang
kemungkinan adalah riwayat pengobatan untuk infeksi dari TB paru yang merupakan
koinfeksi tersering pada kasus HIV/AIDS. Dan terakhir dari hasil tes HIV, didapatkan hasil
pasien HIV (+).

Page | 42
Patofisiologi gejala yang terjadi pada skenario
Page | 43
Berdasarkan dari berbagai gejala yang telah timbul, dan sesuai dengan kriteria maka
pasien sudah memasuki stadium AIDS. Untuk penatalaksanaan, pasien sudah dapat
ditawarkan untuk memulai terapi dengan obat ARV. Obat ARV direkomendasikan pada
semua pasien yang memiliki HIV (+), telah menunjukkan gejala yang termasuk dalam
kriteria diagnosis AIDS, atau menunjukkan gejala yang sangat berat, tanpa melihat
jumlah limfosit CD4+. Obat ini juga direkomendasikan pada pasien dengan limfosit CD4
kurang dari 350 sel/mm2. Pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200- 350 sel/mm3
dapat ditawarkan untuk memulai terapi. Pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+
lebih dari 350 sel/mm2 dan viral load lebih dari 100.000 kopi/ml terapi ARV dapat
dimulai, namun dapat pula ditunda. Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien
dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm dan viral load kurang dari 100.000 kopi/ml.
Saat follow pasien belum memulai terapi ARV, yang diberikan adalah obat
simptomatik yaitu:
- Ceftriaxon adalah merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas
dengan waktu paruh eliminasi 8 jam. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif
dan gram negatif
- Fluconazol dan Nystatin adalah obat anti jamur yang digunakan untuk mengatasi
infeksi akibat jamur, khususnya infeksi candida pada vagina, mulut, tenggorokan.
- N-ace obat golongan mukolitik yang berfungsi untuk mengencerkan dahak yang
menghalangi saluran pernapasan.
- Ondansentron adalah suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan
kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah
- Vipalbumin adalah suplemen makanan yang terbentuk dari Ekstrak Ophiocephalus
striatus (ikan gabus). Kegunaannya yaitu untuk meningkatkan daya tahan tubuh,
meningkatkan kadar albumin dan hemoglobin (Hb), sebagai nutrisi tambahan untuk
lansia, ibu hamil, dan anak.

Page | 44
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 48 tahun. Dari hasil anamnesis pasien pada
kasus, didapatkan 3 gejala mayor yaitu berat badan yang turun (> 10%), demam kronik >
1 bulan, diare kronik > 1 bulan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh infeksi
oportunistik yang terjadi akibat menurunnya fungsi kekebalan tubuh. Selain itu terdapat
salah satu gejala minor yaitu batuk menetap > 1 bulan. Kemudian dari pemeriksaan fisik
pada bagian mulut didapatkan oral candidiasis yang juga merupakan manifestasi dari
infeksi oportunistik, sedangkan pemeriksaan fisik lainnya masih dalam batas normal.
Pada pemeriksaan darah lengkap di dapatkan kadar limfosit 15,4% dengan rentang nilai
15-50% (limfositopenia) yang menandakan bahwa pasien mengalami kondisi
immunocompromised serta granulosit meningkat dengan nilai 80,3% dengan rentang nilai
35-80% granulositosis yang menandakan terdapat infeksi di dalam tubuh pasien. Dari
hasil rontgen thorak ditemukan bercak samar di apex paru kanan yang dicurigai adalah
fibrosis dari riwayat TB paru sebelumnya yang didukung dengan riwayat pengobatan
batuk selama 6 bulan yang kemungkinan adalah riwayat pengobatan untuk infeksi dari
TB paru yang merupakan koinfeksi tersering pada kasus HIV/AIDS. Dan terakhir dari
hasil tes HIV (+). Sehingga pasien di dalam kasus ini mengalami HIV/AIDS.

Page | 45
DAFTAR PUSTAKA

American Thoracic Society. Diagnostic Standard and Classification of Tuberculosis in Adults


and Children. 2000. USA.
Bahar, A. Tuberkulosis Paru dalam Soeparman, WS. Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai
Penerbit FKUI, 2003: Jakarta.
Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis, 2007: Jakarta.
E, Jewetz, Mikrobiology Untuk Profesi Kesehatan edisi 16, Fransisico (terjemahan), EGC,
2004: Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hari AIDS Sedunia. Biro Komunikasi dan Pelayanan
Masyarakat: Kementrian Kesehatan RI.
Kummar, V., Abbas, AK., Aster JC. 2015. Robbins and Cotran; Pathologic Basic of Disease
Ninth edition. Philadelphia: Saunders Elsevier.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di
Indonesia..
Setiati S., Alwi I., Sudoyo AW., Stiyohadi B., Syam AF. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam jilid I. VI. Jakarta: Interna Publishing, 1132-53
Wilson, Price, Patofisiologi,Konsep-konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ed,4. EGC, 2004:
Jakarta.
World Health Organization. 2018. HIV/AIDS.
World Health Organization. Treatment of Tuberculosis Guideline. 2010 : Geneva,
Switzerland
World Health Organization. Global Tuberculosis Control. 2011 : Geneva, Switzerland

Page | 46