Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan yang bersifat indah, hingga
dapat menggerakan jiwa perasaan manusia. Menurut ( Ki Hajar Dewantoro) Seni adalah kegiatan
psikis ( rohani ) manusia yang merefleksikan kenyataan ( realitas ), sedangkan menurut (
Akhadiat Kartamiharja ) Seni adalah alat buatan manusia lain yang menimbulkan efek – efek
psikologis atas manusia lain yang melihatnya.
Seni rupa untuk anak merupakan proses belajar dalam mewujudkan kreatifitas dan sebagai wujud
ekspresi anak yang di komunikasikan dalam bentuk rupa atau visual. Istilah Karya rupa yaitu
karya anak yang dapat di lihat ( berupa dwimarta maupun trimarta ). Karya rupa merupakan hasil
pikiran , keinginan, gagasan dan perasaan anak terhadap lingkungan sekitar sebagai refleksi
terhadap bentuk maupun dorongan emosi terhadap lingkungannya. Keterampilan seni rupa adalah
menciptakan sesuatu bentuk baru dan mengubah fungsi bentuk. ( Modul Ruang Lingkup Seni
Rupa Anak 2014 : 1.3 dan 1.4 ). Dalam mengembangkan kreatifitas anak dapat menggunakan
salah satu metode membangun kontruksi, seperti bermain pembangunan. Bermain Pembangunan
seringkali dipahami sebagai kegiatan menyusun balok hingga menjadi sebuah bangunan.
Sesungguhnya main pembangunan lebih dari sekedar menyusun balok. Kegiatan menyusun balok
adalah bagian dari main pembangunan. Main pembangunan adalah kegiatan main yang
menghadirkan gagasan atau ide yang bersifat abstrak menjadi sesuatu karya yang bersifat
nyata/konkrit. Intinya dalam main pembangunan bukan hanya karya yang diperhatikan tetapi yang
lebih penting adalah membangun gagasan dan cara berfikir anak itu sendiri.
B. Rumusan Masalah :
1. Bagaimana cara anak untuk berimajinasi melalui bermain pembangunan kontruksi ?
2. Bagaimana teori – teori yang menjelaskan tentang membangun kontruksi pada anak usia dini
C. Tujuan :
1. Untuk mengetahui bagaimana cara anak untuk berimajinasi melalui bermain pembangunan
kontruksi
2. Untuk mengetahui teori – teori yang menjelaskan tentang membangun kontruksi pada anak
usia dini
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Membangun berarti mengatur dan aturan tersebut dapat dicerminkan dalam setiap
proses tahapan pembangunan. Aturan pokok ini merupakan dasar – dasar dari segala kegiatan
membangun yang selalu dipikirkan oleh setiap manusia, Dan usaha – usaha untuk
menggambarkannya sudah cukup banyak dilakukan. Beberapa pemikiran tentang membangun
di antaranya, karangan arsitektur Manasara dan arsitektur patung.
Main pembangunan menunjukkan kemampuan anak untuk menghadirkan pikirannya menjadi
sebuah karya nyata. Saat anak menghadirkan dunia mereka melalui main pembangunan
mereka ada di posisi tengah antara main dan kecerdasan menampilkan kembali
(merefleksikan). Kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan
keterampilan koordinasi motorik halus, berkembangnya kognisi ke arah berpikir operasional,
membangun rasa percaya diri anak, sehingga hasil karya mereka menjadi semakin nyata.
Keterampilan ini akan mendukung keberhasilan sekolah dikemudian hari (Teori Piaget).
kerja Piaget (1962) dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan
main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan keterampilannya yang akan
mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Dr. Charles, H. Wolfgang, dalam
bukunya yang berjudul School for Young Children (1992), menjelaskan suatu tahap yang
berkesinambungan dari bahan yang paling cair atau messy, seperti air, ke yang paling
terstruktur, seperti puzzle. Cat, krayon, spidol, play dough, air, dan pasir, dianggap sebagai
bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam. Balok unit, LegoTM, balok berongga,
Bristle BlockTM, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang
mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut bersama menjadi sebuah
karya, dianggap sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat
mengekspresikan dirinya dalam bahan-bahan ini. Mengembangkan dari main proses atau
main sensorimotor yang kami lihat pada anak usia di bawah tiga tahun ke tahap main
simbolik yang kami lihat pada anak usia tiga sampai enam tahun yang dapat terlibat dalam
hubungan kerja sama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.

B. Empat pijakan bermain kontruktif/pembangunan

a. Pijakan lingkungan main


b. Pijakan pengalaman sebelum main
c. Pijakan pengalaman main setiap anak
d. Pijakan pengalaman setelah main

C. Tujuan Main Pembangunan

Main pembangunan bertujuan untuk membangun berbagai pengetahuan anak melalui kegiatan
bermain yang menyenangkan dengan berbagai bahan dan alat main. Pengetahuan yang
dikembangkan mencakup pengetahuan tentang fisik, matematika, bahasa, sosial,dan emosi
diri sendiri. Selama proses membangun pengetahuan tersebut, keterampilan motorik halusnya
meningkat, rasa percaya dirinya menguat dan kemampuan berpikirnya tinggi.

Main pembangunan melatih anak dari bermain proses (merasakan dengan inderanya) ke
bermain untuk menghasilkan karya nyata. Main pembangunan mendorong anak dari
mengenal benda secara konkrit ke bermain simbolik (menghadirkan pikiran tentang suatu
benda dengan benda lain sebagai penggantinya (contoh balok bentuk slinder sebagai symbol
botol susu, pasir yang dicetak sebagai simbol kue) ke mengenal tanda (hurup, angka dan
tanda-tanda lain yang sudah diakui secara umum).

D. Permainan Konstruktif dan Kemampuan Ingatan Anak

Dengan karakter permainan seperti di atas, permainan konstruktif tak dapat dilakukan oleh
seluruh balita. Agus Sujanto dalam Psikologi Perkembangan (Jakarta: Aksara Baru, 1988)
memaparkan prosentase permainan yang biasa dilakukan seorang anak dalam setiap hari
berdasar tingkatan umur.

Anak usia 4-5 tahun digolongkan masa kanak-kanak. Aktivitas membangun dan mencipta
sudah ada dan berkembang pesat pada usia ini. Seperti yang dikemukakan oleh Carl Buhler
bahwa permainan konstruktif sudah ada mulai usia 2 tahun dan meningkat terutama mulai
usia 5 tahun. H. Hetzer juga mengemukakan bahwa pada usia 4-8 tahun porsi permainan
konstruktif lebih besar daripada porsi permainan lain. Menurut Singgih D. Gunarsa, anak
pada masa ini mempunyai ciri-ciri:

• tak lagi tergantung pada orang tua dan sudah punya inisiatif untuk melakukan sesuatu.
• mulai mengetahu kemampuan dan keterbatasannya serta bisa
• berkhayal tentang apa yang akan dilakukannya.
• menyenangi hal-hal baru dan menarik.
• mampu bekerjasama dengan orang dewasa.
Permainan seorang anak dapat merangsang kemampuan ingatannya. Kemampuan ingatan
memang harus dirangsang dan dilatih. Drs. Padji menyatakan bahwa kemampuan otak untuk
menyimpan dengan cepat dan mengingat kembali dengan teliti harus dilatih dan
disempurnakan (Meningkatkan Keterampilan Otak Anak, Drs. Padji, Pioner Jaya, Bandung,
1992, hal. 24).

Permainan konstruktif sebagai bagian dari permainan edukatif, dapat merangsang


kemampuan ingatan seorang anak. Tujuan diberikan permainan ini adalah untuk
pengembangan aspek-aspek kepribadian anak, di antaranya untuk mengetahui dan
merangsang kreativitas anak dalam mereproduksi bentuk bangunan yang bersifat konstruktif
sesuai dengan imajinasinya. Manfaat utama dari permainan konstruksi adalah melatih
kemampuan ingatan anak. Setiap kali anak melakukan permainan konstruktif, maka otak anak
diaktifkan kembali untuk mengingat. Semakin banyak anak diberikan permainan ini, semakin
banyak pula latihan mengingat pada anak dan kemampuan ingatan anak menjadi terlatih
dengan baik. Misal anak yang tinggal di pesantren. Mereka sering diberi tugas hafalan.

Ini artinya mereka sering mendapat latihan mengingat, hingga ingatan mereka menjadi
terlatih dan mudah mengingat sesuatu.

Metode dalam melatih ingatan dengan memberikan permainan konstruktif dikenal dengan
sebutan metode rekonstruksi. Kepada anak diperlihatkan berbagai obyek yang tersusun
dengan cara tertentu. Setelah itu, urutan tersebut dibongkar dan anak harus menyusun
kembali. Melalui permainan ini anak dapat berekspresi dan berkreasi dengan benda-benda
yang beraneka ragam bentuknya sesuai dengan yang diingatnya. Permainan seperti ini penting
karena merupakan latihan bagi kemampuan ingatan anak. Dalam permainan itu anak
menerima kesan-kesan yang nantinya dapat dimunculkan kembali saat diperlukan. Saat
memasuki sekolah dasar misalnya, anak menjumpai pelajaran-pelajaran yang berhubungan
dengan permainan yang pernah dilakukan, antara lain bangun dasar geometri. Bahkan,
kemampuan ingatan yang sudah terlatih sangat berguna dalam keseluruhan proses belajar.
Antara proses belajar dan ingatan mempunyai hubungan erat. Tak mungkin kita mempelajari
sesuatu tanpa fungsi ingat atau dikritik orang dewasa. Tapi, semua itu bisa dihindari atau
dikurangi dengan cara menghargai apapun hasil konstruksi yang telah dibuat anak.

Dalam hal ini, tentu saja peran orang tua sangat besar untuk menjaga semangat anak dalam
melakukan permainan konstruktif.