Anda di halaman 1dari 4

Jatuh Cinta Pada Literasi, Baiknya Berawal Dari Rumah

Oleh; M.N. Aba Nuen


Guru/penulis lepas

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang partisipatif. Tesis ini merupakan refleksi dari
konsep trisentra pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara merujuk pada peran keluarga,
sekolah dan masyarakat dalam upaya pengembangan pendidikan di Indonesia. Ibarat batu tungku,
ketiga elemen tersebut memiliki fungsi yang saling terkait dan saling menguatkan. Tulisan ini ingin
meneropong peran keluarga (orang tua) untuk mendukung kemampuan literasi dasar anak-anak
ketika berada di rumah

Sebagai guru pertama bagi anak-anak, orang tua bertanggungjawab penuh pada
keberhasilan pendidikan anak. Orang tua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan
anak kepada guru-guru di sekolah. Waktu anak berada di rumah lebih banyak ketimbang di sekolah,
dan karenanya ayah dan ibu wajib memastikan selama berada di rumah, anak tetap memiliki akses
pada sumber-sumber belajar, buku, surat kabar misalnya. Upaya orang tua untuk menjamin
pemenuhan kebutuhan literasi anak di lingkup keluarga merupakan sebuah pendekatan pendidikan
berbasis hak anak. Secara yuridis, pendekatan ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 tahun
2002 tentang perlindungan anak. Pasal 9 UU Nomor 23 tahun 2002 secara eksplisit menyebutkan
bahwa “setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan
kepribadian dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”. Sementara itu, pada
pasal 3 ayat (1) Konvensi Hak Anak PBB atau Convention on the Right of the Child dengan jelas
ditegaskan bahwa kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for child) harus menjadi
pertimbangan utama, dalam segala tindakan terhadap anak, baik yang dilakukan oleh orang
tua/wali, sekolah, maupun negara.

Mengapa keterlibatan keluarga sebagai salah satu poros utama dalam memenuhi hak anak
pada akses sumber bacaan penting untuk diupayakan di rumah? Berbagai riset baik nasional
maupun internasional menunjukan kemampuan orang Indonesia yang berkaitan dengan literasi
belum menggembirakan. Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunana Manusia dan
Kebudayaan mencatat rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku sebanyak 3-4 kali dalam
seminggu, dengan menghabiskan waktu 30-60 menit per hari. Artinya jumlah buku yang dibaca
dalam setahun hanya berkisar 5-9 buku pertahun. Selain itu, merujuk pada indeks minat baca di
Indonesia yang dirilis UNESCO pada 2012, ditemukan bahwa dari 1000 orang, hanya ada satu orang
yang memiliki minat baca. Dampak secara luas terlihat pada angka buta huruf masyarakat Indonesia
sebagaimana tercatat di Pusat Data dan Statistik Kemendikbud pada 2015, di mana Indonesia masih
memiliki 5.984.075 orang buta huruf. Persentase buta huruf untuk usia 15 tahun ke atas mencapai
4,78 persen, usia 14-44 tahun 1,10 persen dan 11,89 persen untuk usia 45 tahun ke atas,
(kompas.com, 20/12/2018). Deretan statistik ini seperti menjadi clue bahwa sekolah tidak boleh
dibiarkan menjadi single fighter dalam usaha membangun budaya baca bagi anak-anak, akan tetapi
dukungan keluarga dan masyarakat umum merupakan sebuah kemutlakan.
Literasi keluarga yang melibatkan orang tua dan anak di rumah bisa melalui beberapa
pendekatan berikut. Pertama, orang tua wajib menyiapkan bahan bacaan di rumah. Di keluarga,
selain rak TV dan pernak-pernik rumah tangga lainnya, ketersediaan rak atau lemari buku mestinya
juga menjadi kebutuhan untuk para anggotanya. Jadi, ada semacam perpustakaan mini yang cukup
dilengkapi surat kabar, buku/bahan bacaan anak-anak, dan sumber literatur lain. Kemudian orang
tua menjadi model dengan membangun kebiasaan membaca. Kebiasaan ngopi oleh ayah di rumah
sambil membaca surat kabar atau buku, tampak sederhana dan biasa saja, tetapi memiliki efek
domino kepada anak-anak untuk ikut menggelutinya, jika orangtua melakukannya secara rutin
dalam jangka waktu lama. Singkatnya, dengan sumber bacaan yang tersedia, disertai kebiasaan
membaca oleh orang tua di rumah, pola ini akan memancing rasa ingin tahu anak untuk kemudian
mengakrabi bahan bacaan tersebut, dan menjadi pembaca lalu akhirnya pembelajar. Rumah,
akhirnya menjadi tempat pertama anak-anak berkenalan dengan bahan bacaan, jatuh cinta pada
buku, koran, majalah, sumber segala ilmu pengetahuan.

Melalui pendekatan ini, minat membaca anak tumbuh tidak atas perintah verbal orang tua,
tetapi dengan kesadaran mencontoh apa yang dilakukan orangtua. Pada tahap ini, family culture
dalam hal literasi dasar terutama melibatkan anak-anak telah terbentuk dan akan menguat seiring
waktu tumbuh kembang anak di bawah bimbingan orangtua. Sebagai proses kreatif, jika budaya
membaca dibiasakan pada anak usia dini di rumah, dan terus berlanjut hingga memasuki usia
sekolah, maka siklus itu akan memberikan dampak positif pada perkembangan kognisi,
meningkatkan kecerdasan, daya analisa, untuk membentuk individu yang unggul.

Kedua, untuk menumbuhkan rasa suka dan ketertarikan anak pada aktivitas membaca,
memberikan buku sebagai hadiah ulang tahun anak bisa menjadi alternatif lain bagi orangtua. Selain
itu, secara rutin, sebulan sekali misalnya, anak diajak mengunjungi toko buku. Cara konservatif lain
seperti membacakan cerita dan mendongeng juga bisa menjadi media yang efektif, untuk mencegah
orang tua dan anak larut dalam aktivitas gadget yang cenderung apatis. Tentang penggambaran
fungsionalitas dan manfaat membaca buku, dijaman perjuangan-Bung Hatta pernah mencetuskan
sebuah petuah unggul yang menyatakan “Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan
buku aku bebas”. Urgensi pembacaan teks sebagai alat pembebasan belenggu ahasitoris dan
kebodohan juga memantik pikiran tokoh pergerakan Tan Malaka, dengan kutipan terkenalnya
“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu,
pakaian dan makanan dikurangi”. Intisari pikiran dua tokoh ini bisa menjadi inspirasi para orang tua,
bahwa mengenalkan anak dengan buku pada hakikatnya adalah memenuhi hak dan kebutuhan ilmu
pengetahuan anak-anak.

Ketiga, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa banyak opsi
baru terkait sumber bacaan dalam bentuk literasi digital. Di internet, bertebaran aplikasi belajar,
mesin pencarian, serta ragam situs yang bisa diakses sebagai media sumber informasi dan
pengetahuan. Namun demikian, seperti pedang bermata dua, internet juga menyediakan konten
yang tidak ramah anak, seperti pornografi, penipuan dan aksi-aksi tindak kekerasan. Selain itu,
ragam aplikasi game dan media sosial juga ibarat candu bagi para penggunanya. Di sinilah fungsi
kontrol orangtua mutlak diperlukan. Orang tua bisa menerapkan prinsip “membolehkan” dengan
kontrol bukan “melarang” untuk tidak sama sekali, terkait penggunaan gawai oleh anak. Prinsip ini
akan memicu anak untuk bertanggungjawab pada aktivitas mereka di dunia maya, sekaligus
mendorong anak untuk bersikap terbuka kepada orangtua ketika berhadapan dengan konten negatif
di internet.

Fungsi kontrol orang tua penting untuk menjamin aktivitas literasi digital anak ke arah yang
positif, agar memiliki kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk,
dari berbagai sumber yang diakses melaui piranti komputer maupun smart phone. Sejumlah riset
tentang pengggunaan internet di Indonesia memang menunjukan hasil yang mencemaskan. Survey
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukan penetrasi internet di Indonesia
pada tahun 2018 mencapai 143,26 juta jiwa dengan persentasi pengguna terbesar adalah remaja
pada rentang usia 13-18 tahun atau 75 persen. Data lain sebagaimana dirilis harian Kompas edisi
8/11/2018, sebanyak 87,13-89,35 persen dari aktivitas digital orang Indonesia dipakai untuk
mengakses media sosial dan aplikasi berbasis messanger. Aplikasi media sosial menyedot pengguna
dalam jumlah yang sangat besar, berturut-turut facebook mencapai 130 juta akun, Whatsapp 99,2
juta, dan Instagram 53 juta akun. Data APJII juga menunjukan tren penggunaan internet di
Indonesia untuk kegiatan produkif seperti perekonomian hanya mencapai 16,83-45,14 persen.
Menurut catatan Jaringan Pegiat Litersasi Digital, terungkap bahwa keterlibatan keluarga dalam
upaya literasi masih minim. Meski aktivitas digital anak sebagian besar dilakukan ketika berada di
rumah, tetapi hanya 12,23 persen aktivitas literasi yang menjadikan orangtua sebagai peserta aktif.
Kondisi ini merupakan tantangan berat bagi semua orang tua. Melarang anak untuk menggunakan
gawai dan mengakses internet bukanlah solusi, tetapi mengarahakan mereka untuk mengakses
internet untuk tujuan pengembangan kreatifitas edukatif dan sebagai sumber belajar tampak
menjadi pilihan yang bijak.

Keempat, untuk membangun kehangatan keluarga tanpa penggunaan gawai, orang tua bisa
membuat aturan yang berlaku pada rentang waktu tertentu dan wajib dipatuhi semua anggota
keluarga. Misalnya, mengisi waktu dari pukul 18.00-20.00 sebagai quality time anggota keluarga
untuk bertukar pikiran, bercerita, bermain dengan anak dan berdiskusi terkait pendidikan anak,
pekerjaan orang tua, keadaan rumah dan lainnya. Rentang waktu itu juga bisa digunakan untuk
membangun kebiasaan makan malam bersama dalam keluarga, sambil mengobrol antar anggota
keluarga. Pola asuh seperti ini dibutuhkan, selain untuk menjaga ikatan emosional dan membangun
kedekatan antara anak-anak dengan ayah dan ibu, juga karena anak berhak mendapat curahan kasih
sayang dari orang tua. Tipikal keluarga semacam ini akan menjadikan rumah sebagai tempat yang
ramah, yang selalu dirindukan setiap anggotanya.

Secara umum, pentingnya peran keluarga terhadap kualitas individu anak juga menjadi
stressing Presiden Joko Widodo ketika berpidato pada 14 Juli 2019 dalam kapasitas sebagai calon
presiden terpilih periode 2019-2023. Point penting Presiden terpilih Jokowi dalam pembangunan
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah menjadikan keluarga sebagai titik mulanya, dengan
memastikan kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, balita, dan kesehatan anak usia sekolah terjamin.
Tidak boleh ada stunting, kematian ibu hamil, kematian bayi agar tidak menghambat generasi emas
Indonesia 2045. Peran orang tua dalam memenuhi hak akses literasi dasar untuk anak-anak di
rumah, juga merupakan bagian terpadu dari program besar pemerintah melalui Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) dengan dua tujuan utamanya, yakni membangun SDM sebagai pondasi
pembangunan bangsa dan membekali anak dengan keterampilan abad 21 yang mencakup; literasi
dasar dan kompetensi 4C untuk mewujudkan generasi emas Indonesia 2045.
CV penulis:
Nama : MN Aba Nuen
Pekejaaan : Guru/ menulis opini di harian Timor Express dan Pos Kupang,
menulis di kompasiana sebagai Aba Nuen
Alamat : Kelurahan Karangsiri, Kabupaten Timor Tengah Selatan-NTT
No. HP/WA : 082 144 408 825
E-mail : buyungnoya@gmail.com