Anda di halaman 1dari 3

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Proporsi Masalah.


Pada tanggal 25-26 Februari 2019, mahasiswa melakukan simulasi upaya
kesiapsiagaan menghadapi bencana Gempa bumi di Kampus Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung Program Studi Keperawatan
Bogor bekerja sama dengan Tim Relawan dari PMI Kota Bogor untuk
mencapai kompetensi manajemen bencana pada saat terjadi bencana.
Pada hari pertama, tepatnya tanggal 25 Februari 2019. Sebelum melakukan
simulasi, mahasiswa diberikan pemaparan materi oleh Tim Relawan dari PMI
Bogor mengenai Tanggap Darurat Bencana, Pertolongan Pertama, Evakuasi
dan Transportasi.
Kemudian pada hari kedua tanggal 26 Februari 2019 setelah diberikan
pemaparan materi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana, dari 91
mahasiswa dibagi menjadi 7 kelompok untuk melakukan simulasi
kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dengan tugasnya masing-
masing. Kelompok tersebut yaitu mahasiswa berperan sebagai Warga,
Korban, Dapur umum, Pertolongan pertama, Assesment, Evakuasi,
Transportasi, dan Pertolongan di Rumah sakit.
B. Tindakan Yang Dilakukan.
Pada tanggal 26 Februari 2019, dilakukan simulasi kesiapsiagaan menghadapi
bencana dengan kasus Gempa bumi sebesar 7,5 skala richter di Desa Cikotok.
Setelah dibagi kelompok, mahasiswa melakukan simulasi berdasarkan tugas
dari perannya masing-masing.
Mahasiswa yang ditempatkan di Dapur umum bertugas untuk menyediakan
atau menyiapkan makanan dan dapat didistribusikan kepada korban bencana
dalam waktu cepat dan tepat.
Mahasiswa yang berperan sebagai Team Pertolongan Pertama bertugas untuk
melakukan pemberian pertolongan segera kepada penderita
sakit/cedera/kecelakaan yang membutuhkan pananganan medis dasar.
Mahasiswa yang berperan sebagai Team Assesment bertugas untuk menilai
kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang diperlukan segera
sebagai respon dalam suatu kejadian bencana.
Mahasiswa yang berperan sebagai Team Evakuasi bertugas untuk
memindahkan manusia atau korban secara langsung dan cepat dari satu
lokasi ke lokasi yang aman agar menjauh dari ancaman atau kejadian yang
dianggap berbahaya atau berpotensi mengancam nyawa manusia atau
mahluk hidup lainnya.
Mahasiswa yang berperan sebagai Team Transportasi bertugas untuk
memberikan sarana yang digunakan untuk mengangkut penderita/korban
dari lokasi bencana ke sarana kesehatan yang memadai, misalkan dengan
menggunakan mobil Ambulance.
Mahasiswa yang berperan sebagai Team Pertolongan di Rumah Sakit bertugas
untuk memberikan penanganan pada berbagai kasus gawat darurat dan
bencana dengan cepat dan cermat, serta dapat menentukan prioritas triase
yang benar.
C. Ketidaksesuaian
Pada saat dilakukan gladi resik simulasi, terdapat ketidaksesuaian antara
materi yang diberikan dengan percobaan simulasi mengenai materi
Pertolongan Pertama (Triase). Pada saat pemaparan materi, penyaji
mengatakan bahwa yang dijadikan prioritas utama adalah korban dengan
triase berwarna Merah. Namun, saat melakukan percobaan simulasi atau
gladi resik, ada penambahan prioritas triase untuk di evakuasi yaitu
korban/warga dengan triase berwarna Hijau harus dievakuasi terlebih dahulu,
terutama pada kelompok rentan seperti contohnya pada Ibu hamil dan
Lansia.
D. Faktor Pendukung.
Sebelum melakukan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa
bumi, mahasiswa diberikan materi dan pengarahan mengenai Tanggap
Darurat Bencana, Pertolongan Pertama, Evakuasi dan Transportasi. Sehingga
mahasiswa memahami dan mendapatkan gambaran mengenai peran yang
didapatkannya dan dapat melaksanakan tugas berdasarkan perannya masing-
masing.
E. Faktor Penghambat.
Saat melakukan simulasi, yang menjadi faktor penghambat dalam simulasi
yang dilakukan mahasiswa adalah kurangnya alat bantu dalam melakukan
tindakan. Seperti kurangnya Walkie talkie yang dapat menghambat terjadinya
komunikasi antar team. Lalu kurangnya tandu untuk mengevakuasi warga dan
korban menjadi faktor utama terjadinya keterlambatan dalam melakukan
evakuasi korban. Juga ditambah dengan kurangnya alat transportasi seperti
Ambulance yang menambah keterlambatan dalam melakukan evakuasi
sehingga mungkin beresiko memperparah kondisi warga dan korban yang
terkena bencana.
Selain alat bantu, faktor penghambat lainnya ialah kondisi warga yang panik
hingga histeris saat terjadinya bencana mempersulit team Pertolongan
pertama dan team Evakuasi dalam melakukan tindakan karena warga atau
korban tidak kooperatif dengan team petugas.
F. Solusi/Rencana Tindak Lanjut.
Seharusnya sebelum melakukan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana
gempa bumi, kedepannya lebih mempersiapkan dengan matang alat dan
bahan yang akan digunakan untuk melakukan tindakan. Selain itu para team
petugas juga seharusnya bisa lebih menenangkan warga agar kooperatif
sehingga team atau petugas dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan
fokus dengan tindakannya.