Anda di halaman 1dari 160

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Asuhan Kehamilan

2.1.1. Definisi Kehamilan

Definisi dari masa kehamilan dari konsepsi sampai lahirnya janin,

lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)

dihitung dari hari pertama haid terakhir (Saifuddin, 2006). Kehamilan

adalah mulai dari ovulasi sampai partus lamanya 280 hari (40 minggu)

dan tidak lebih 300 hari (43 minggu).(Prawirohardjo, 2010).

Pembagian kehamilan dibagi dalam 3 trimester: Trimester pertema,

dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (0-12 minggu); Trimester kedua

dari bulan keempat sampai 6 bulan(12-28 minggu); Trimester ketiga dari

bulan ketujuh sampai 9 bulan (29-42 minggu). Antenatal care adalah

asuhan yang diberikan ibu sebelum persalinan dan prenatal (JHPIEGO.

2003:7).

2.1.2. Tanda-tanda Kehamilan

2.1.2.1 Tanda – tanda presumptive

a. Amenorea (tidak mendapat haid).

Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid

terakhir (HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan

11
12

dan taksiran tanggal persalinan (TTP),yang di hitung

dengan menggunakan rumus dari naegle:

TT= (hari HT+7) dan (bulan HT-3)dan (tahun HT+1)

b. Mual dan muntah (nausea and vomiting)

Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan

hingga akhir triwulan pertama.karena sering terjadi pada

pagi hari,disebut morning sickness(sakit pagi).apabila

timbul mual dan muntah berlebihan karena

kehamilan,disebut hiperemesis gravidarum.

c. Mengidam (ingin makan khusus)

Ibu hamil sering meinta makanan atau minuman tertentu

terutama pada bulan-bulan triwulan pertama.mereka juga

tahan suatu bau-bauan.

d. Pingsan

Jika berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan

padat,seorang wnita yang sedang hamil dapat pingsan.

e. Tidak selera makan (anreksia)

Hanya berlangsung pada triwulan pertama

kehamilan,kemudian nafsu makannya timbul kembali.

f. Lelah (fatigue)

g. Payudara membesar,tegang,dan sedikit nyeri,disebabkan

pengaruh estrogendan progesteron yang merangsang


13

duktus dan alveolipayudara.kelenjar Montgomery terlihat

lebih membesar.

h. Miksi sering,karena kandung kemih tertekan oleh rahim

yang membesar.gejala itu akan ilang pada triwulan kedua

kehamilan.pada ahkir kehamilan gejala tersebut muncul

lagi karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

i. Konstipasi/obstipasikarena tonus otot-ototusus menurun

oleh pengaruh hormon steroid.

j. Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormon kortikosteroid

plasenta,dijumpai dimuka (chloasma gravidarum),areola

payudara,leher,dan dinding perut(linea nigra=grisea).

k. Pemekaran vena-vena(varises)dapat terjadi pda

kaki,betis,dan vulva biasanya dijumpai pada triwulan

akhir.(mochtar,2013)

2.1.2.2 Tanda-tanda kemungkinan hamil

a. Perut membesar

b. Uterus membesar:terjadi perubahan salam bentuk,besar,dan

konsistensi rahim

c. Tanda heger:ditmukan serviks dan isthmus uteri pada

pemeriksaan bimanual saat usia kehamilan 4 sampai 6 minggu


14

d. Tanda Chadwick:perubaha warna menjadi kebiruan yang

terlihat di portio,vagina dan labia.Tanda tersebut timbul akibat

pelebaran vena karena meningkatkan kadar estrogen

e. Tanda piskacek:pembesaran dan pelunakan rahim kesalah satu

sisi rahim yang berdekatan dengan tuba uterine.Biasanya tanda

ini ditemukan di usia kehamilan 7-8 minggu.

f. Kontraksi-kontraksi kecil uterus jika dirangsang =Braxton-

Hicks

g. Teraba ballottement

h. Reaksi kehamilan positif(mochtar,2013)

2.1.2.3 Tanda pasti (tanda positif)

a. Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga

bagian-bagian janin

b. Denyut jantung janin

 Didengar dengan stetoskop

 Dicatat dan didengar dengan alat Doppler

 Dicatat dengan feto-elektrokardiogram

 Dilihat dengan ultasonografi

c. Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen

(mochtar,2013).
15

2.1.3. Perubahan Fisiologis pada Kehamilan

2.1.3.1 Sistem Reproduksi dan Payudara

1. Perubahan uterus

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama

dibawa pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya

meningkat. Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar,

sebesar telur bebek, pada 12 minggu sebesar telur angsa. Pada

16 minggu sebesar kepala bayi/tinju orang dewasa, dan

semakin membesar sesuai dengan usia kehamilan dan ketika

usia kehamilan sudah aterm dan pertumbuhan janin normal,

pada kehamilan 28 minggu tinggi fundus uteri 25 cm pada 32

minggu 27 cm, pada 36 minggu 30 cm. Pada kehamilan 40

minggu TFU turun kembali dan terletak 3 jari dibawah

prosesus xyfoideus.

Posisi rahim dalam kehamilan : Awal kehamilan Ante

atau Retrofleksi; Akhir bulan kedua uterus teraba satu sampai

dua jari di atas simphisis pubis keluar dari rongga panggul;

Akhir 36 minggu 3 jari dibawah procesus xypidieus; Uterus

yang hamil sering berkontraksi tanpa rasa nyeri juga kalau

disentuh pada waktu pemeriksaan (palpasi) konsistensi lunak

kembali; Kontraksi ini disebut kontraksi Braxton Hichs;

Merupakan kehamilan mungkin dan untuk menemukan anak


16

dalam kandungan atau tidak; Kontraksi sampai akhir

kehamilan menjadi his (Prawirohardjo, 2010).Mengukur

tinggi fundus uteri dari simfisis, maka diperoleh :

Tabel 2.1

Tinggi fundus uteri

22-28 mg 24-25 cm di atas simfisis

28 mg 26,7 cm di atas simfisis

30 mg 29,5 – 30 cm di atas simfisis

32 mg 29,5 – 30 cm di atas simfisis

34 mg 31 cm di atas simfisis

36 mg 32 cm di atas simfisis

38 mg 33 cm di atas simfisis

40 mg 37,7 cm di atas simfisis

(Sumber : Mochtar, 2011)


17

Tabel 2.2

Tinggi Fundus Uteri

Tinggi fundus
Usia Kehamilan TFU
Dalam cm
12 minggu - 1/3 diatas simpisis
16 minggu - ½ simpisis-pusat
20 minggu 20cm (±2cm) 2/3 diatas simpisis
Usia kehamilan dalam
24 minggu Setinggi pusat
minggu = (±2cm)
28 minggu 28cm(±2cm) 1/3 diatas pusat
Usia kehamilan dalam ½ pusat-prosessus
34 minggu
minggu = (±2cm) xifoideus
2 jari dibawah prosessus
40 minggu 36cm (±2cm)
xifoideus
(Prawiroharjo,2006)

2. Serviks Uteri

Serviks yang terdiri terutama atas jaringan ikat dan

hanya sedikit mengandung jaringan otot tidak mempunyai

fungsi sebagai sfingter pada multipara dengan portio yang

bundar, porsio tersebut mengalami cedera lecet dan robekan,

sehingga post partum tampak adanya porsio yang terbelah-

belah dan menganga. Perubahan ditentukan sebulan setelah

konsepsi, perubahan kekenyalan tanda Goodel serviks

menjadi lunak warna menjadi biru, membesar (oedema)


18

pembuluh darah meningkat, lendir menutupi oestium uteri

(kanalis servikalis) serviks menjadi lebih mengkilap

(Prawirohardjo, 2010)

3. Segmen Bawah Uterus

Segmen bawah uterus berkembang dari bagian atas

kanalis servikalis setinggi ostium interna bersama-sama

isthmus uteri. Segmen bawah lebih tipis dari pada segmen

atas dan menjadi lunak serta berdilatasi selama minggu-

minggu terakhir kehamilan sehingga memungkinkan segmen

tersebut menampung Presenting part janin. Serviks bagian

bawah baru menipis dan menegang setelah persalinan terjadi

(Farrer, 2001).

4. Kontraksi Braxton Hicks

Merupakan kontraksi tak teratur rahim dan terjadi tanpa

rasa nyari di sepanjang kehamilan. Kontaksi ini barang kali

membantu sirkulasi darah dalam plasenta (Farrer, 2001).

5. Vagina dan Vulva

Vagina dan serviks akibat hormon estrogen mengalami

perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan

vagina dan vula tampak lebih merah, agak kebiruan (livide)

disebut tanda Chadwick. Vagina: membiru karena pelebaran

pembuluh darah, PH 3.5-6 merupakan akibat meningkatnya


19

produksi asam laktak karena kerja laktobaci Acidophilus,

keputihan, selaput lendir vagina mengalami edematus,

Hypertropy, lebih sensitif meningkat seksual terutama

triwulan III (Prawirohardjo, 2010).

Pada awal kehamilan, vagina dan serviks memiliki

warna merah yang hampir biru (normalnya, warna bagian ini

pada wanita yang tidak hamil adalah merah muda). Warna

kebiruan ini disebabkan oleh dilatasi vena yang terjadi akibat

kerja hormon progesteron (Farres, 2001).

6. Ovarium

Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus

luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta dan kira-kira

kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditas berdiameter

kira-kira 3 cm. Lalu ia mengecil setelah plasenta terbentuk.

Ditemukan pada awal ovulasi hormon relaxing, suatu

immunoreaktif inhibin dalam sirkulasi maternal. Relaxing

mempunyai pengaruh menenangkan hingga pertumbuhan

janin menjadi baik hingga aterm.

7. Mammae

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon

somatomammotropin, estrogen dan progesteron akan tetapi

belum mengeluarkan air susu. Pada kehamilan akan terbentuk


20

lemak hingga mammae menjadi lebih besar. Apabila mammae

akan membesar, lebih tegang dan tampak lebih hitam seperti

seluruh areola mammae akan hiperpigmentasi. Pada

kehamilan 12 minggu keatas dari putting susu dapat keluar

cairan berwana putih agak bening disebut colostrum.

Perubahan pada payudara yang membawa kepada

fungsi laktasi disebabkan oleh peningkatan kadar estrogen,

progesteron, laktogen plasenta dan prolaktin. Stimulasi

hormonal ini menimbulkan proliferasi jaringan, dilatasi

pembuluh darah dan perubahan sekretorik pada payudara.

Sedikit pembesaran payudara, peningkatan sensivitas dan rasa

geli mingkin dialami, khususnya oleh primigravida pada

kehamilan minggu keempat, cairan yang jernih ditemukan

dalam payudara pada usia kehamilan 4 minggu dan kolostrum

dapat diperah keluar pada usia kehamilan 16 minggu (Farrer,

2001).

2.1.3.2 Sistem Endokrin, Kekebalan, Perkemihan

1. Sistem Endokrin

Selama berminggu-minggu pertama, korpus luteum

dalam ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron,

fungsi utamanya pada stadium ini adalah untuk


21

mempertahankan pertumbuhan desidua dan mencegah

pelepasan serta pembebasan desidua tersebut. Sel-sel

trofoblast menghasilkan hormon korionik gonadotropin yang

akan mempertahankan korpus luteum sampai plasenta

berkembang penuh dan mengambil alih produksi estrogen dan

progesteron dari korpus luteum.

Perubahan endokrin lainnya: sekresi kelnjar hipofisis

umumnya menurun, dan penurunan ini selanjutnya akan

meningkatkan sekresi semua kelanjar endokrin (khususnya

kelenjar tiroid, paratiroid dan andrenal). Kadar hormon

hipofise, prolaktin meningkat secara berangsur-angsur

menjelang akhir kehamilan, namun fungi prolaktin dalam

memicu laktasi disupresi sampai plasenta dilahirkan dan

kadar estrogen menurun (Prawirohardjo, 2010).

2.1.3.3 Sistem Muskuloskeletal

Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum

pada kehamilan. Akibat kompensasi dari pembesaran uterus ke

posisi anterior, lordosis menggeser pusat daya berat kebelakang

kearah dua tungkai. Sendi sakroiliaka, sakrokoksigis dan pubis

akan meningkat mobilitasnya, yang diperkirakan karena

pengaruh hormonal.Mobilitas tersebut dapat mengakibatkan


22

perubahan sikap ibu dan pada akhirnya menyebabkan perasaan

tidak enak pada bagian bawah punggung terutama pada akhir

kehamilan. ( Prawirohardjo, 2010 ).

2.1.4. Perubahan Psikologis Pada Kehamilan

Menurut Yuklandari (2012) Perubahan psikologis dapat diidentifikasi

sebagai berikut:

2.1.4.1 Trimester pertama

Trimester pertama sering dianggap sebagai periode

penyesuaian. Penyesuaian yang dilakukan wanita adalah terhadap

kenyataan bahwa ia sedang mengandung. Penerimaan terhadap

kenyataan ini dan arti semua ini bagi dirinya merupakan tugas

psikologis yang paling penting pada trimester pertama kehamilan.

2.1.4.2. Trimester Kedua

Pada usia kehamilan 16-28 minggu ibu dapat merasakan

gerakan bayinya. Banyak ibu yang merasa terlepas dari kecemasan

dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakan pada trimester

pertama. Pada trimester kedua relatif lebih bebas dari

ketidaknyamanan fisik, ukuran perut belum menjadi suatu masalah,

lubrikasi vagina lebih banyak dan hal yang menyebabkan

kebingungan sudah surut, dia telah berganti dari mencari perhatian


23

ibunya menjadi mencari perhatian pasangannya, semua faktor ini

berperan dalam meningkatnya libido dan kepuasan seks.

2.1.4.3. Trimester Ketiga

Pada usia kehamilan 39-40 minggu seorang ibu mungkin mulai

merasa takut akan rasa sakit dan bahaya yang akan timbul pada

waktu melahirkan dan merasa khawatir akan keselamatannya.

Rasa tidak nyaman timbul kembali pada trimester ketiga dan

banyak ibu yang merasa dirinya aneh, berantakan, canggung dan

jelek sehingga memerlukan perhatian lebih besar dari

pasangannya, disamping itu ibu mulai sedih karena akan terpisah

dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima

selama hamil, terdapat perasaan mudah terluka (sensitif).

2.1.5. Kebutuhan Dasar pada Ibu Hamil

2.1.5.1 Kebutuhan fisik ibu hamil trimester I, II, III

1. Oksigen

Pada dasarnya kebutuhan oksigen semua manusia sama

yaitu udara yang bersih, tidak kotor atau populasi udara,

tidak bau, dsb. Pada prinsipnya hindari ruangan ruangan /

tempat yang dipenuhi polusi udara (terminal, ruangan yang

sering dipergunakan untuk merokok).


24

2. Nutrisi

Ibu yang sedang hamil bersangkutan dengan proses

pertumbuhan fetus yang ada di dalam kandungan dan

pertumbuhan berbagai organ ibu, pendukung proses

kehamilan seperti adneksa mammae, dll.

Makanan diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta,

uterus, buah dada, dan organ lain.

a. Kebutuhan gizi ibu hamil

1) Pada kehamilan trimester I (minggu 1-12)

kebutuhan gizi masih seperti biasa.

2) Pada kehamilan trimester II (minggu 12-28) dimana

pertumbuhan janin lebih cepat, ibu memerlukan

kalori + 285 dan protein lebih tinggi dari biasanya

1,5 g/kg BB.

3) Pada kehamilan trimester III (minggu 27-lahir)

kalori sama dengan trimester II tetapi naik menjadi

2 g/kg BB.

b. Kenaikan BB selama hamil rata-rata : 9-13,5 kg.

1) Kenaikan BB selama TM I : min 0,7-1,4kg

2) Kenaikan BB selama TM II : 4,1 kg

3) Kenaikan BB selama TM III : 9,5 kg


25

Makanan diperlukan antara lain untuk pertumbuhan

janin, plasenta, uterus, buah dada dan kenaikan

metabolisme.

c. Anak aterm membutuhkan :

1) 400 gram protein

2) 220 gram lemak

3) 80 gram karbohidrat

4) 40 gram mineral

Uterus dan plasenta masing-masing membutuhkan 550

gram protein. Kebutuhan total protein 950 gram, Fe 0,8

gram dan asam folik 300μ perhari.

Sebagai pengawasan, kecukupan gizi ibu hamil dan

pertumbuhan kandungannya dapat diukur berdasarkan

kenaikan berat badannya. Kenaikan berat badan rata-

rata antara 10-12 kg. Kenaikan berat badan yang

berlebihan atau bila berat badan ibu turun setelah

kehamilan triwulan kedua, haruslah menjadi perhatian.


26

Tabel 2.3

Kebutuhan nutrisi pada perempuan tidak hamil, hamil, menyusui

Nutrisi Perempuan Tidak Hamil Menyusui


Hamil (15-18 Tahun)
Makronutrisi
Kalori (Kcal) 2200 2500 2600
Protein (g) 55 60 65
Mikronutrisi
Vitamin larut dalam lemak
A (mg RE) 800 800 1300
D (mg) 10 10 12
E (mg TE) 8 10 12
K (mg) 55 65 65
Vitamin larut dalam air
C (mg) 60 70 95
Folat (mg) 180 400 270
Niasin (mg) 15 17 20
Ribiflavin (mg) 1,3 1,6 1,8
Tiamin (mg) 1,2 1,5 1,6
Piridoksin B6 (mg) 1,6 2,2 2,1
Kobalamin (mg) 2,0 2,2 2,6
Mineral
Kalsium (mg) 1200 1200 1200
Fosfor (mg) 1200 1200 1200
Iodin (mg) 150 175 200
Iron (mg Fe Iron) 15 30 15
Magnesium (mg) 280 320 355
Zink (mg) 12 15 19
(Prawirohardjo, 2010).
27

Untuk dapat menentukan tingkat obesitas (tingkat

kegemukan) seseorng adalah dengan menggunakan Index

Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI), dengan

menggunakan Bodi Mass Index lebih mudah

mengkatagorikan normal, kurus, atau gemuk. (Paat, 2006)

Yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Berat Badan (Kg)


𝐼𝑀𝑇 =
Tinggi Badan (m)x Tinggi Badan (m)

Tabel 2.4

Rekomendasi penambahan berat badan selama kehamilan berdasarkan Indeks

Massa Tubuh

Kategori IMT Rekomendasi (kg)

Rendah < 19,8 12,5 – 18

Normal 19,8 – 26 11,5 – 16

Tinggi 26 – 29 7 – 11,5

Obesitas > 29 ≥7

Gemeli 16 – 20,5

Sumber : Cunningham (2010)

3. Pemerisaan Hb Menurut Manuaba, 2005 yaitu :

Pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama

kehamilan, yaitu pada trimester II dan Trimester III. Dengan


28

pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami

anemia, maka dilakukan pemberian preparat fe sebanyak 90

tablet pada ibu-ibu hamil. WHO menetapkan Hb normal

untuk ibu hamil yaitu 11 gr%. Pemeriksaan dan pengawasan

Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli, sebagai

berikut :

a. Hb 11 gr% : Tidak Anemia

b. Hb 9-10 gr% : Anemia Ringan

c. Hb 7-8 gr% : Anemia Sedang

d. Hb <7 gr% : Anemia Berat

Teori lain mengatakan bahwa nilai ambang batas yang

digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil,

didasarkan pada kriteria WHO tahun 1972 ditetapkan 3

kategori yaitu : normal > 11 gr/dl, ringan 8-9 gr/dl, berat <8

gr/dl. (Sukrisno, 2010)

4. Personal hygiene

a. Mandi

Mandi diperlukan untuk kebersihan kulit terutama untuk

perawatan kulit karena pada ibu hamil fungsi ekskresi

keringat bertambah. Dan menggunakan sabun yang

ringan dan lembut agar kulit tidak teriritasi.

Manfaat mandi :
29

1) Merangsang sirkulasi

2) Menyegarkan

3) Menghilangkan kotoran yang harus diperhatikan:

a) Mandi hati-hati jangan sampai jangan jatuh

b) Air harus bersih

c) Tidak terlalu dingin atau terlalu panas

d) Gunakan sabun yang mengandung antiseptik

(Pantikawati, 2010)

b. Perawatan gigi

Pemeriksaaan gigi minimal dilakukan satu kali selama

hamil. Pada ibu hamil gusi menjadi lebih peka dan

mudah berdarah karena dipengaruhi oleh hormon

kehamilan yang menyebabkan hipertropi. Bersihkan

gigi dan gusi dengan benang gigi atau sikat gigi dan

boleh memakai obat kumur.

Cara merawat gigi :

1) Tambal gigi yang berlubang

2) Mengobati gigi yang terinfeksi

3) Untuk mencegah gigi caries :

a) Menyikat gigi dengan teratur

b) Membilas mulut dengan air setelah makan atau

minum saja
30

c) Guanakan pencuci mulut yang bersifat alkali

atau basa

d) Pemenuhan kebutuhan kaslium

c. Perawatan rambut

Rambut harus bersih, keramas satu minggu 2-3 kali

d. Payudara

1) Putting harus dibersihkan

2) Persiapan menyusui dengan perawatan putting dan

kebersihan payudara.

e. Perawatan vagina/ vulva

1) Celana dalam harus kering

2) Jangan gunakan obat/ penyemprot kedalam vagina.

3) Sesudah BAK/BAB dilap dengan lap khusus

4) Vaginal touching

Sebaiknya selama hamil tidak melakukan vaginal

touching bisa menyebabkan perdarahan atau

embolus (udara masuk kedalam peredaran darah)

f. Perawatan kuku

Kuku bersih dan pendek

g. Kebersihan kulit

Apabila terjadi infeksi kulit segera diobati, dan dalam

pengobatan dilakukan dengan resep dokter.


31

5. Pakaian

Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang

ketat pada daerah perut dan leher.

a. Stocking tungkai tidak dianjurkan karena dapat

menghambat sirkulasi.

b. Pakailah BH yang menyokong payudara, dan harus

mempunyai tali yang besar sehingga tidak terasa sakit

pada bahu.

c. Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tinggi.

d. Pakaian dalam yang selalu bersih. (Pantikawati, 2010)

6. Eliminasi

Masalah eliminasi tidak mengalami kesulitan, bahkan cukup

lancar. Dengan kehamilan terjadi perubahan hormonal,

sehingga daerah kelamin menjadi basah. Situasi basah ini

menyebabkan jamur (trikomonas) kambuh sehingga

mengeluh gatal dan mengeluarkan keputihan. Rasa gatal

sangat mengganggu sehingga sering di garuk dan

menyebabkan saat berkemih terdapat residu (sisa) yang

memudahkan infeksi kandung kemih. Untuk melancarkan

dan mengurangi infeksi kandung kemih yaitu dengan minum

dan menjaga kebersihan sekitar alat kelamin. (Pantikawati,

2010)
32

7. Seksual

Seksual adalah ekspresi atau ungkapan cinta dari 2 individu /

perasaan kasih sayang, menghargai, perhatian dan saling

menyenangkan satu sama lain, tidak hanya terbatas pada

satu tempat tidur/ bagian-bagian tubuh.

a. Aspek biologis

Berdasarkan hasil penelitian ada perbedaan respon

psikologis terhadap sex anatara wanita hamil dan wanita

tidak hamil.

Ada 4 selama siklus respon seksual

1) Fase gairah seksual (exitment)

a) Labia mayora

b) Nulipara/ wanita tidak hamil, pembesaran labia

mayora sama.

c) Multipara lebih besar daripada nulipara.

2) Fase plateu

a) Lanjutan dari fase gairah seksual menuju

orgasmus. Terjadi perubahan warna kulit dari

labia minora berwarna merah menjadi merah tua

bahkan keunguan bersamaan dengan terjadinya

orgasmus.
33

b) Umumnya pada wanita hamil dan wanita tidak

hamil fase ini sama.

3) Fase orgasmus (Saryono, 2010).

8. Istirahat / Tidur

Beberapa wanita mempunyai kekhawatiran mengenai posisi

tidur dan kebiasaan tidur selama kehamilan. Beberapa ini

mengetahui apakah mereka boleh tidur tengkurap. Dengan

semakin berkembang kehamilan, anda akan sulit

memperoleh posisi tidur yang nyaman. Cobalah untuk tidak

berbaring terlentang sewaktu tidur (Pantikawati, 2010).

9. Imunisasi

Vakin adalah substensi yang diberikan untuk melindungi

dari zat asing (infeksi).

Ada 4 macam vaksin :

a. Toksoid dari vaksin yang mati.

b. Vaksin virus mati.

c. Virus hidup

d. Preparat lobulin imun (Pantikawati, 2010).


34

2.1.6. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan

obsetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan meonatal melalui serangkaian

kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan (Prawirohardjo,2010).

1. Melakukan palpasi abdomen ( uterus)

1) Leopold 1

- Menghitung usia kehamilan dengan mengukur tfu

- Menentukan bagian tubuh janin yang berada di

fundus uteri

2) Leopold II

- Menentukan situs janin ( letak membujur, letak melintang atau letak

sungsang)

- Menentukan letak punggung janin ( kanan / kiri) serta bagian kecil

janin

3) Leopold III

- Menentukan bagian tubuh janin yang berada dibawah

- Menentukan apakah bagian tersebut sudah masuk

PAP

4) Leopold IV

- Dilakukan bila hasil leopold III sudah masuk PAP

- Menentukan seberapa dalam masuknya bagian tersebut kedalam PAP


35

1) Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal,

yaitu:

a. Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas

kesehatan.

b. Mengupayakanterwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi

yang dikandungnya.

c. Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan bayi

yang di kandungnya.

d. Mengidentifikasi dan menatalaksanakan kehamilan risiko tinggi.

e. Memberikan pendidikan kesehatan yang yang diperlukan dalam

menjaga kualitas kehamilan dan merawat bayi.

f. Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang

akan membahayakan keselamatan ibu hamil dan bayi yang

dikandungnya (Prawirohardjo, 2010).

2) Tujuan Asuhan Kebidanan pada Kehamilan

Tujuan asuhan antenatal adalah memantau perkembangan

kehamilan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan perkembangan

janin normal. Penting bagi bidan untuk secara kritis mengevaluasi

dampak fisik, psikologis, dan sosiologis kehamilan terhadap ibu dan

keluarganya. Bidan dapat melakukan hal ini dengan:

a. Mengembangkan hubungan kemitraan dengan ibu


36

b. Melakukan pendekatan yang holistik dalam memberikan asuhan

kepada ibu yang dapat memenuhi kebutuhan individualnya

c. Meningkatkan kesadaran terhadap masalah kesehatan masyarakat

bagi ibu dan keluarganya

d. Bertukar informasi dengan ibu dan keluarganya dan membuat

mereka mampu menentukan pilihan berdasarkan informasi tentang

kehamilan dan kelahiran

e. Menjadi advokat bagi ibu dan keluarganya selama kehamilan,

mendukung hak-hak ibu untuk memilih asuhan yang sesuai dengan

kebutuhannya sendiri dan keluarganya

f. Mengetahui kesulitan kehamilan dan merujuk ibu dengan tepat

dalam tim multidisiplin

g. Memfasilitasi ibu dan keluarga dalam mempersiapkan kelahiran,

dan membuat rencana persalinan

h. Memfasilitasi ibu dalam membuat pilihan berdasarkan informasi

tentang metode pemberian makan untuk bayi dan memberikan

saran yang tepat dan sensitif untuk mendukung keputusannya

i. Memberikan penyuluhan tentang peran menjadi orang tua dalam

suatu program terencana atau secara perorangan

j. Bekerja sama dengan organisasi lain ( Fraser and Cooper

2009:248)
37

3) Tujuan Antenatal Care

a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan

kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayinya.

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental

serta sosial ibu dan bayi.

c. Menenemukan sejak dini bila ada masalah atau gangguan

dan komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan.

d. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat,

baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI

ekslusif berjalan normal.

f. Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan

baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh kembang

secara normal. (Asrinah, dkk.2010).

4) Pelayanan asuhan standar minimal termasuk “10T”:

1) Timbangan berat badan dan ukur Tinggi badan

Kenaikan berat badan wanita hamil akan naik diantara 6,5-16,5 kg

rata-rata 12,5 kg atau dengan kata lain ibu mengalami kenaikan

berat badan 0,5 kg/minggu (Wiknjosastro, 2006). Pengukuran

berat badan berguna untuk mengetahui apakah ibu cukup gizi atau

tidak, sedangkan pengukuran tinggi badan untuk mengetahui


38

apakah panggul ibu cukup besar untuk proses persalinan normal.

Ukuran normal tinggi badan yang baik untuk ibu hamil atara lain

yaitu > 145 cm. Kenaikan BB selama hamil rata-rata : 9-13,5 kg.

Kenaikan BB selama TM I : min 0,71,4kg

a) Kenaikan BB selama TM II : 4,1 kg

b) Kenaikan BB selama TM III : 9,5 kg

2) Ukur Tekanan darah

Untuk mendeteksi dini terjadinya preeklamsia dan eklamsia.

Tekanan darah yang normal 110/80–140/90 mmHg, bila melebihi

140/90 perlu di waspadai adanya preeklamsi.

3) Ukuran Tinggi Fundus Uteri

Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan tehnik Mc. Donald adalah

menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya

bisa di bandingkan dengan hasil anamnesis hari pertama haid

terakhir (HPHT) dan kapan gerakan janin mulai dirasakan. TFU

yang normal harus sama dengan UK dalam minggu yang

dicantumkan dalam HPHT.

Tafsiran Berat Janin (TBJ) menurut Widjanarko, 2007 untuk

memperkirakan berat janin menggunakan rumus Jhonson Tausack

yaitu :

Tafsiran berat janin (gram) : K x (X-n) ±10%


39

Keterangan:

X : Tinggi Fundus Uteri dalam (centimeter).

N : 12 = bila bagian terendah janin diatas Spina

Ischiadica.

11 = bila bagian terendah janin dibawah Spina

Ischiadica.

K : 155.

4) Pemberian Imunisasi TT (Tetanus Toksoid) Lengkap.

Imunisasi selama hamil yaitu minimal 2 kali, TT 1 pada usia

kehamilan 16 minggu TT 2 diberikan 4 minggu setelah TT 1.

(Saifuddin, 2009)

Tabel 2.5

Imunisasi TT

Antigen Interval (selang waktu Lama perlindungan % perlindungan


minimal)
TT1 Pada kunjungan antenatal - -
pertama
TT2 4 minggu setelah TT1 3 tahun * 80
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/seumur 99
hidup
40

Keterangan : *artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut

melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terlindung dari TN /

Tetanus Neonatorum.(Saifuddin, 2006)

5) Pemberian Tablet Zat Besi

Pemberian tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.

Membantu Hb dan protein dalam sel darah merah membawa O2

kedalam jaringan tubuh, sehingga membantu mencegah anemia

dan perdarahan saat persalianan serta mencegah cacat janin.

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekati

800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan

untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk

meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200

mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan

ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8-10 mg zat

besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan

menghasilkan sekitar 20-25 mg zat besi perhari. Selama

kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan

menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat

besi masih kekurangan untuk wanita hamil. (Manuaba, 2007).

6) Nilai Status Gizi (IMT)

Penilaian status gizi ibu hamil dapat ditentukan dari Indeks Massa

Tubuh (IMT) dengan rumus :


41

Berat Badan (kg)


IMT =------------------------------

[Tinggi Badan (m)]2

Rekomendasi penambahan berat badan selama kehamilan

berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Kategori IMT Rekomendasi (kg)

Rendah < 19,8 12,5 – 18

Normal 19,8 – 26 11,5 – 16

Tinggi 26 – 29 7 – 11,5

Obesitas > 29 ≥7

Gemeli 16 – 20,5

Sumber : Cunningham (2010)

7) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

Pemeriksaan DJJ adalah salah satu cara untuk memantau janin.

Pemeriksaan DJJ harus dilakukan pada ibu hamil. DJJ baru dapat

didengar pada usia kehamilan 16 minggu / 4 bulan. Gambaran

DJJ:

Takikardi berat : detak jantung diatas 180x/menit

Takikardi ringan : antara 160-180x/menit

Normal : antara 120-160x/menit


42

Bradikardi ringan : antara 100-119x/menit

Bradikardi sedang :antara 80-100x/menit

Bradikardi berat : kurang dari 80x/menit (Pantikawati, 2010)

8) Pemeriksaan Laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) menurut (Manuaba, 2010) yaitu

pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan,

yaitu pada trimester II dan III, sebagian besar ibu hamil

mengalami anemia, maka dilakukan pemberian prefarat Fe

sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil. WHO mendapatkan Hb

normal untuk ibu hamil yaitu 11 gr%. Pemeriksaan dan

pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli,

sebagai berikut:

Hb : 11 gr% tidak anemia

Hb : 9-10 gr% anemia ringan

Hb : 7-8 gr% anemia sedang

Hb : <7 gr% anemia berat

Dosis : 60 mg per hari elemental besi dan 50 mg%, asam folat

untuk profilaksis anemia. Jika diduga anemia berikan 2-3 kali per

hari. Dan untuk anemia sedang berikan Fe 600-1000 mg dengan

suplemen besi 60 mg per hari. Sulfat ferosus 200 mg dan asam

folat 0,25 mg dosis 2 kali per hari.(Tarwono, 2007)


43

9) Tatalaksana kasus

Memberikan penyuluhan tentang perawatan dini selama hamil,

perawatan payudara, gizi ibu selama hamil, tanda-tanda bahaya

pada kehamilan dan pada janin sehingga ibu dan keluarga dapat

segera mengambil keputusan dalam peratwatan selanjutnya dan

mendengarkan keluhan yang di sampaikan oleh ibu dengan penuh

nikmat, beri nasehat rujuk bila diperlukan. (Prawiirohardjo, 2010)

10) Temuwicara (konseling) termasuk Perencanaan Persalinan dan

Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.

(Depkes RI, 2009)

4) Kebijakan program

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama

kehamilan :

a Satu kali pada triwulan pertama

b Satu kali pada triwulan kedua

c Dua kali pada triwulan ketiga (Saifuddin, 2006. Hal : 90).

5) Asuhan perkunjungan K1 sampai dengan K4

a. Kunjungan 1 (0-16 minggu)

- Penapisan dan pengobatan anemia

- Perencanaan persalinan

- Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatan


44

b. Kunjungan 2 (24-28 minggu) dan Kunjungan 3 (32 minggu)

- Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatan

- Penapisan Pre-Eklampsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan

saluran perkemihan.

- Mengulang perencanaan persalinan.

c. Kunjungan 4 (36 minggu)

- Sama seperti kegiatan kunjungan 2 dan 3.

- Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi.

- Memantapkan rencana persalinan.

- Mengenali tanda – tanda persalinan. (Saifuddin, 2009)

6) Ketidaknyamanan yang umum selama kehamilan

1. Sakit kepala: normal jika nyerinya ringan-sedang danberkurang

dengan beristirahat atau dengan obat. Tanda bahaya adalah jika sakit

yang hebat, tidak berkurang atau hilang dengan beristirahat atau

dengan obat, dan di sertai dengan perubahan visual. Mungkin

merupakan suatu tanda pre-eklamsi.

2. Nyeri ligamentum rotundum: normal jika rasa nyeri akutnya

berlangsung beberapa menit dan dapat berkurang dengan bersandar.

Tanda bahaya adalah jika ibu mengalami nyeri abdomen yang

menetap. Mungkin merupakan tanda appendisitis, penyakit radang

pelviks, kehamilan ektopik, abortus, persalinan preterem, gastritis,


45

penyakit kandung empedu, iritasi uterus. Abrusio plasenta, infeksi

saluran kemih atau infeksi lainnya.

3. Bengkak: normal jika hanya didaerah kaki dan biasanya muncul pada

sore hari dan biasanya hilang dan setelah beristirahat dengan kaki

ditinggikan. Merupakan tanda bahaya jika muncul dimuka dan

tangan, tidak kurang dengan beristirahat, dan disertai dengan keluhan

keluhan fisik lain. Mungkin suatu tanda anemia, gagal jantung atau

pre-eklamsia.

4. Rasa panas dalam perut (heart burn): normal jika berhubungan

dengan makanan dan akan berkurang setelah makan sedikit makanan,

mengurangi makanan berlemak, atau menggunakan antasid. Tanda

bahaya jika menjadi nyeri ulu hati atau nyeri abdomen yang menetap.

Mungkin merupakan tanda pre-eklamsia.

5. Kram pada kaki: Kram otot ini timbul karena sirkulasi darah yang

lebih lambat saat kehamilan. Atasi dengan menaikkan kaki ke atas

dan minum kalsium yang cukup. Jika terkena kram kaki ketika

duduk atau saat tidur, cobalah menggerak-gerakkan jari-jari kaki ke

arah atas atau menekuk kaki ke arah yang berlawanan.

6. Peningkatan pengeluaran (cairan) pervaginam: normal jika

pengeluaran tersebut encer berwarna putih, tidak berbau. Tanda

bahaya jika ada perdarahan pervaginam yang berwarna merah dan,

banyak, bergumpal, dan dapat terasa sakit atau tidak sakit. Pada awal
46

kehamilan mungkin suatu keadaan abortus, kehamilan mola, atau

kehamilan ektopik. Pada kehamilan lanjut, perdarahan mungkin suatu

tanda dari plasenta previa atau abrupsio plasenta (Saifuddin, 2009).

7. Tanda-tanda bahaya pada kehamilan yaitu :

a. Terjadinya perdarahan pervaginam

Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah

merah, banyak, dan kadang-kadang, tetapi tidak selalu, disertai

dengan rasa nyeri. Perdarahan semacam ini bisa berarti plasenta

previa atau abrupsio plasenta.(Asrinah dkk, 2010 Hal : 153)

b. Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala yang menunjukan suatu masalah yang serius adalah

sakit kepala hebat yang menetap dan tidak hilang dengan

beristirahat.Kadang-kadang, dengan sakit kepala yang hebat

tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi

kabur atau berbayang.Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan

adalah gejala dari pre-eklamsia. (Asrinah dkk, 2010 Hal: 154)

c. Penglihatan kabur

Biasanya pengaruh hormonal,ketajaman penglihatan ibu berubah

selama kehamilan. Perubahan yang ringan adalah normal,tetapi

masalah penglihatan ini terjadi secara medadak ataupun taba-tiba,


47

misalnya pandangan menjadi kabur perlu diwaspadai karena bisa

mengacu pada tanda kehamilan. (Asrinah dkk,2010 Hal: 154)

d. Bengkak diwajah dan jari- jari tangan

Pada saat kehamilan, hampir seluruh ibu akan mengalami bengkak

yang normal pada kaki, biasanya muncul pada sore hari dan hilang

setelah beristirahat atau meninggikan kaki.

(Asrinah dkk,2010 Hal: 154)

e. Keluar cair pervaginam

Yang dinamakan ketuban pecah dini adalah apabila terjadi

sebelum persalinan baerlangsung, yang disebabkan karena

berkurang nya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan

intra uteri. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes

lakmus. (Asrinah dkk, 2010 Hal: 154)

f. Gerakan janin sudah dirasakan oleh ibu pada kehamilan bulan ke-

5 atau ke-6. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam

periode 1 jam. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu

berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan

baik. (Asrinah dkk, 2010 Hal: 154 )

g. Masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah nyeri yang

hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat(Asrinah

dkk,2010 Hal : 155)


48

Bila sebagian besar ibu pada masa reproduksi belum pernah

mendapatkan imunisasi tetanus toksoid (TT) pada masa anak

ataupun sebelum kehamilan, direkomendasikan untuk melakukan

imunisasi pada kunjungan pertama kehamilan (TT1) dan dosis

kedua (TT2) paling sedikit 4 minggu setelah pemberian TT1.

( Prawirohardjo, 2010 ).

h. Index masa tubuh (IMT)

Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan

adanya adaptasi ibu terhadap pertumbuhan janin. Analisis dari

berbagai penelitian menunjukkan bahwa berat badan yang

bertambah berhubungan dengan perubahan fisiologis yang terjadi

pada kehamilan dalam lebih dirasakan pada ibu primigravida

untuk menambah berat badan pada masa kehamilan(Asrinah

dkk,2010 Hal: 69).

2.1.7 Standar Pelayanan Kebidanan

Standar pelayanan kebidanan meliputi 24 standar, yang dikelompokan menjadi

5 bagian besar yaitu:

A. Standar pelayanan Umum (2 standart)

B. Standar pelayanan Antenatal (6 standart)

C. Standar pelayanan Persalinan (4 standart)


49

D. Standar pelayanan Nifas (3 standart)

E. Standar penanganan Kegawat daruratan obstetri-neonatal (9 standart)

A.Standar Pelayanan Umum

1. Standar 1: yaitu Persiapan Untuk Kehidupan Keluarga Sehat

Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan,

keluarga dan masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan dengan

kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum (gizi, KB, kesiapan

dalam menghadapai kehamilan dan menjadi calon orang tua, persalinan

dan nifas).

Tujuannya adalah memberikan penyuluhan kesehatan yang tepat

untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi

orang yang bertanggungjawab.

Dan hasil yang diharapkan dari penerapan standar 1 adalah

masyarakat dan perorangan dapat ikut serta dalam upaya mencapai

kehamilan yang sehat. Ibu,keluarga dan masyarakat meningkat

pengetahuannya tentang fungsi alat-alat reproduksi dan bahaya kehamilan

pada usia muda.Tanda-tanda bahaya kehamilan diketahui oleh masyarakat

dan ibu.
50

2. Standar 2 : Pencatatan Dan Pelaporan

Bidan melakukan pencatatan dan pelaporan semua kegiatan yang

dilakukannya , yaitu registrasi semua ibu hamil diwilayah kerja, rincian

pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi baru

lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kepada masyarakat.

Disamping itu, bidan hendaknya mengikut sertakan kader untuk mencatat

semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan

ibu dan bayi baru lahir .Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut

untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk

meningkatkan pelayanannya.

Tujuan dari standar 2 ini yaitu mengumpulkan, menggunakan dan

mempelajari data untuk pelaksanaan penyuluhan , kesinambungan

pelayanan dan penilaian kerja.

Hal-hal yang dapat dilakukan bidan untuk dapat melakukan pencatatan

dan pelaporan yang maksimal adalah sebagai berikut :

a) Bidan harus bekerjasama dengan kader dan pamong setempat agar

semua ibu hamil dapat tercatat

b) Memberikan ibu hamil KMS atau buku KIA untuk dibawa

pulang.Dan memberitahu ibu agar membawa buku tersebut setiap

pemeriksaan.

c) Memastikan setiap persalinan , nifas, dan kelahiran bayi tercatat pada

patograf.
51

d) Melakukan pemantauan buku pencatatan secara berkala .

Hasil yang diharapkan dari dilakukannya standar ini yaitu terlaksananya

pencatatatn dan pelaporan yang baik. Tersedia data untuk audit dan

pengembangan diri, meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam

kehamilan , kelahiran bayi dan pelayanan kebidanan.

B. Standar Pelayanan Antenatal

1. Standar 3 : Identifikasi Ibu Hamil

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan

masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motifasi

ibu,suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk

memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

Adapun tujuan yang diharapkan dari penerapan standar ini adalah

mengenali dan memotifasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.

Kegiatan yang dapat dilakukan bidan untuk mengidentifikasi ibu

hamil contohnya sebagai berikut

a) Bidan melakukan kunjungan rumah dan penyuluhan secara teratur

b) Bersama kader bidan memotifasi ibu hamil

c) Lakukan komunikasi dua arah dengan masyarakat untuk membahas

manfaat pemeriksaan kehamilan.

Hasil yang diharapkan dari standar ini adalah ibu dapat memahami

tanda dan gejala kehamilan.Ibu,suami, masyarakat menyadari manfaat


52

pemeriksaan kehamilan secara dini dan teratur.meningkatkan cakupan ibu

hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan 16 minggu.

2. Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal

Bidan hendaknya paling sedikit memberikan 4 kali pelayanan

antenatal.Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin

dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung

normal.bidan juga harus bisa mengenali kehamilan dengan risti/kelainan ,

khususnya anemia , kurang gizi , hipertensi , PMS/infeksi HIV;

memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan

serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas.

Tujuan yang diharapkan dari standar ini adalah bidan mampu

memberikan pelayanan antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi

kehamilan.

Adapun hasil yang diharapkan yaitu ibu hamil mendapatkan

pelayanan antenatal minimal 4 kali selama kehamilan.Meningkatnya

pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat.Deteksi dini dan penanganan

komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat

mengenali tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus dilakukan.

Mengurus transportasi rujukan ,jika sewaktu-waktu dibutuhkan.


53

3. Standar 5 : Palpasi abdominal

Bidan harus melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama dan

melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Bila umur

kehamilan bertambah ,memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya

kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari kelainan dan untuk

merujuk tepat waktu.

Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah memperkirakan usia

kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, penentuan letak, posisi

dibagian bawah janin.

Hasil yang diharapkan yaitu bidan dapat memperkirakan usia

kehamilan , diagnosis dini kelainan letak, dan merujuk sesuai kebutuhan.

Mendiagnosisi dini kehamilan ganda dan kelainan, serta merujuk sesuai

dengan kebutuhan.

4. Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan

Bidan melakukan tindakan pencegahan anemia , penemuan ,

penanganan dan rujukan semua kasus anemia pada kehamialan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku.

Tujuan dari standar ini adalah bidan mampu menemukan anemia

pada kehamilan secara dini, melakukan tindak lanjut yang memadai untuk

mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung.


54

Tindakan yang bisa dilakukan bidan contohnya , memeriksakan

kadar Hb semua ibu hamil pada kunjungan pertama dan minggu ke 28.

Memberikan tablet Fe pada semua ibu hamil sedikitnya 1 tablet selama 90

hari berturut-turut .penyuluhan gizi dan pentingnya konsumsi makanan

yang mengandung zat besi, dll.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan standar ini yaitu jika ada ibu

hamil dengan anemia berat dapat segera dirujuk, penurunan jumlah ibu

melahirkan dengan anemia, penurunana jumlah bayi baru lahir dengan

anemia/BBLR.

5. Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi Pada Kehamilan

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada

kehamilan dan mengenali tanda gejala preeklamsia lainnya, serta

mengambil tindakan yang tepat dan merujuknnya.

Tujuan dari dilakukannya standar ini yaitu bidan dapat mengenali

dan menemukan secaea dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan

tindakan yang diperlukan.Adapun tindakan yang dapat dilakukan bidan

yaitu rutin memeriksa tekanan darah ibu dan mencatatnya.Jika terdapat

tekanan darah diatas 140/90 mmHg lakukan tindakan yang diperlukan.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan standar ini adalah ibu hamil

dengan tanda preeklamsia mendapat perawatan yang memadai dan tepat

waktu.Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat eklamsia.


55

6. Standar 8 : Persiapan Persalinan

Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami atau

keluarga pada trimester III memastikan bahwa persiapan persalinan bersih

dan aman dan suasana menyenangkan akan direncanakan dengan baik,

disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba

terjadi keadaan gawat darurat. Bidan mengusahakan untuk melakukan

kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini.

Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah untuk memastikan

bahwa persalinan direncanakan dalam lingkungan yang aman dan

memadai dengan pertolongan bidan terampil.

Hasil yang diharapkan adalah ibu hamil, suami dan keluarga tergerak

untuk merencanakan persalinan yang bersih dan aman.Persalinan

direncanakan di tempat yang aman dan memadai dengan pertolongan

bidan terampil. Adanya persiapan sarana transportasi untuk merujuk ibu

bersalin,jika perlu. Rujukan tepat waktu telah dipersiapkan bila

diperkirakan .

C. Standar Pelayanan Persalinan

1. Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala Satu

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian

memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai , dengan


56

memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses persalinan berlangsung.

Bidan juga melakuakan pertolongan proses persalinan dan kelahiran yang

bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak

pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu ibu

diijinkan memilih orang yang akan mendampinginya selam proses

persalinan dan kelahiran.

Tujuan dari dilakukannya standar ini yaitu untuk memberikan

pelayanan kebidanan yang memadai dalam mendukung pertolongan

persalinan yang bersih dan aman untuk ibu bayi.

Hasil yang diharapkan adalah ibu bersalin mendapatkan pertolongan

yang aman dan memadai. Meningkatnya cakupan persalinan dan

komplikasi lain yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Berkurangnya

kematian/kesakitan ibu bayi akibat partus lama.

2. Standar 10 : Persalinan Kala Dua Yang Aman

Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang

bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak

pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat .disamping itu ibu

diijinkan untuk memilih siapa yang akan mendampinginya saat

persalinan.

Tujuan dari diterapkannya standar ini yaitu memastikan persalinan

yang bersih dan aman bagi ibu dan bayi.


57

Hasil yang diharapkan yaitu persalinan dapat berlangsung bersih dan

aman.Menigkatnya kepercayaan masyarakat kepada bidan.Meningkatnya

jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan.Menurunnya angka sepsis

puerperalis.

3. Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala Tiga

Secara aktif bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala

tiga.Tujuan dilaksanakan nya standar ini yaitu membantu secara aktif

pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap untuk

mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan kala tiga, mencegah

terjadinya atonia uteri dan retesio plasenta.

Adapaun hasil yang diharapkan yaitu menurunkan terjadinya

perdarahan yang hilang pada persalinan kala tiga. Menurunkan terjadinya

atonia uteri, menurunkan terjadinya retensio plasenta , memperpendek

waktu persalinan kala tiga, da menurunkan perdarahan post partum akibat

salah penanganan pada kala tiga.

4. Standar 12 : Penanganan Kala Dua Dengan Gawat Janin Melalui

Episiotomi

Bidan mengenali secra tepat tanda-tanda gawat janin pada kala dua,

dan segera melakukan episiotomy dengan aman untuk mmemperlancar

persalinan, diikiuti dengan penjahitan perineum.


58

Tujuan dilakukannya standar ini adalah mempercepat persalinan

dengan melakukan episiotomy jika ada tanda-tanda gawat janin pada saat

kepala janin meregangkan perineum.Hasil yang diharapkan yaitu

penurunan kejadian asfiksia neonnaturum berat. Penurunan kejadian lahir

mati pada kala dua .

D. Standar Pelayanan Nifas

1. Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan

pernafasan spontan, mencegah asfiksia, menemukan kelainan , dan

melakukan tindakan atau merujuk sesuai kebutuhan. Bidan juga harus

mencegah atau menangani hipotermi dan mencegah hipoglikemia dan

infeksi.

Tujuannya adalah menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu

dimulainya pernafasan serta mencegah hipotermi, hipoglikemi dan

infeksi.

Dan hasil yang diharapkan adalah bayi baru lahir menemukan

perawatan dengan segera dan tepat.Bayi baru lahir mendapatkan

perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan baik.


59

2. Standar14 : Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya

komplikasi paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan, serta

melakukan tindakan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberikan

penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan

membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.

Tujuannya adalah mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang

bersih dan aman selama persalinan kala empat untuk memulihkan

kesehatan ibu dan bayi.Meningkatan asuhan sayang ibu dan sayang bayi.

Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam pertama setelah persalinan

dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan bayinya.

3. Standar15 : Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Pada Masa Nifas

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan

rumah sakit atau melakukan kunjungan ke rumah pada hari ke-tiga,

minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu

proses penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini,

penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa

nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,

kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir ,

pemberian ASI , imunisasi dan KB.


60

Tujuannya adalah memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi

sampai 42 hari setelah persalinan dan memberikan penyuluhan ASI

eksklusif.

E.Standar Penanganan Kegawatan Obstetri Dan Neonatal

1.Standart 16 : Penanganan Perdarahan Dalam Kehamilan Pada

Trimester Tiga

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada

kehamilan serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.

Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah mengenali dan

melakukan tindakan secara tepat dan cepat perdarahan pada trimester tiga.

Hasil yang diharapkan dari kemampuan bidan dalam menerapkan

standar ini adalah ibu yang mengalami perdarahan kehamilan trimester

tiga dapat segera mendapatkan pertolongan, kematian ibu dan janin akibat

perdarahan pada trimester tiga dapat berkurang, dan meningkatnya

pemanfaatan bidan sebagai sarana konsultasi ibu hamil.

2. Standar 17 : Penanganan Kegawat daruratan pada Eklamsia

Bidan mengenali secara tepat dan gejala eklamsia mengancam, serta

merujuk dan/atau memberikan pertolongan pertama.

Tujuan dilaksanakan satandar ini adalah mengenali tanda gejala

preeklamsia berat dan memberikan perawatan yang tepat dan


61

memadai.Mengambil tindakan yang tepat dan segera dalam penanganan

kegawat daruratan bila eklamsia terjadi.

Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kejadian eklamsia.Ibu hamil

yang mengalami preeklamsia berat dan eklamsia mendapatkan

penanganan yang cepat dan tepat.Ibu dengan tanda-tanda preeklamsia

ringan mendapatkan perawatan yang tepat.Penurunan kesakitan dan

kematian akibat eklamsia.

3. Standar 18 : Penanganan Kegawat daruratan Pada Partus Lama /

macet.

Bidan mengenali secara tepat tanda gejala partus lama/macet serta

melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu untuk merujuk

untuk persalinan yang aman.

Tujuannya adalah untuk mengetahui segera dan penanganan yang

tepat keadaan darurat pada partus lama/macet.

Hasil yang diharapkan yaitu mengenali secara dini tanda gejala partus

lama/macet serta tindakan yang tepat. Penggunaan patograf secara tepat

dan seksama untuk semua ibu dalam proses persalinan. Penurunan

kematian/kesakitan ibu dan bayi akibat partus lama/macet.


62

4. Standar 19 : Persalinan Dengan Menggunakan Vakum Ekstraksi

Bidan hendaknya mengenali kapan waktu diperlukan menggunakan

ekstraksi vakum, melakukan secara benar dalam memberikan pertolongan

persalinan dengan memastikan keamanan bagi ibu dan janinnya.

Tujuan penggunaan vakum yaitu untuk mempercepat persalinan

dalam keadaan tertentu.Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kesakitan

atau kematian akibat persalinan lama. Ibu mendapatkan penanganan

darurat obstetric yang cepat .

5. Standar 20 : Penanganan Kegawat daruratan Retensio Plasenta

Bidan mampu mengenali retensio plasenta dan memberikan

pertolongan pertama, termasuk plasenta manual dan penanganan

perdarahan, sesuai dengan kebutuhan.

Tujuannya adalah mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika

terjadi retensio plasenta .

Hasil yang diharapkan ialah penurunan kejadian retensio plasenta.Ibu

dengan retesio plasenta mendapatkan penanganan yang cepat dan

tepat.Penyelamatan ibu dengan retensio plasenta meningkat.

6. Standar 21 : Penanganan Perdarahan Post Partum Primer

Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam

pertama setelah persalinan dan segera melakukan pertolongan pertama


63

kegawat daruratan untuk mengendalikan perdarahan. Tujuannya adalah

bidan mampu mengambil tindakan pertolongan kegawat daruratan yang

tepat pada ibu yang mengambil perdarahan post partum primer/ atoni

uteri.

Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kematian dan kesakitan ibu

akibat perdarahan post partum primer. Meningkatkan pemanfaatan

pelayanan bidan. Merujuk secara dini pada ibu yang mengalami

perdarahan post partum primer.

7. Standar 22 : Penanganan Perdarahan Post Partum Sekunder

Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini gejala perdarahan post

partum sekunder , dan melakukan pertolongan pertama untuk

penyelamatan jiwa ibu atau merujuk. Tujuannya adalah mengenali gejala

dan tanda perdarahan post partum sekunder serta melakukan penanganan

yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu.

Hasil yang diharapkan yaitu kematian dan kesakitan akibat

perdarahan post partum sekunder menurun. Ibu yang mempunyai resiko

mengalami perdarahan post partum sekunder ditemukan secara dini dan

segera di beri penanganan yang tepat.


64

8. Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis

Bidan mampu menangani secara tepat tanda dan gejala sepsis

puerperalis, melakukan perawatan dengan segera merujuknya. Tujuannya

adalah mengenali tanda dan gejala sepsis puerperalis dan mengambil

tindakan yang tepat .hasil yang diharapkan yaitu ibu dengan sepsis

puerperalis mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat .penurunan

angka kesakitan dan kematian akibat sepsis puerperalis. Meningkatnya

pemanfaatan bidan dalam pelayanan nifas.

9. Standar 24: Penanganan Asfiksia Neonaturum

Bidan mengenali secara tapat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta

melakukan tindakan secepatnya, memulai resusitasi, mengusahakan

bantuan medis, merujuk bayi baru lahir dengan tepat dan memberiakan

perawatan lanjutan yang tepat.

Tujuan yang diharapkan yaitu mengenal dengan tepat bayi baru lahir

dengan asfiksia, mengambil tindakan yang tepat dan melakukan

pertolongan kegawatdaruratan.
65

2.1.8 Anemia
2.1.8.1 Konsep Dasar Anemia

1. Pengertian

Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah

merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemiglobin

sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa

oksigen keseluruh jaringan.

Menurut WHO anemia adalah suatu keadaan dimana kadar

hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok

orang yang bersangkutan.

Anemia secara laboratorik yaitu keadaan apabila terjadi

penurunan dibawah normal kadar hemoglobi, hitung eritrosit dan

hemotokrit(packedredcell) (I Made Bakta, 2003).

2. Kriteria Anemia

Penentuan anemia pada seseorang bergantung pada usia, jenis

kelamin dan tempat tinggal.

Kriteria anemia menurut WHO adalah:

Laki-laki dewasa : Hemoglobin < 13 g/dl

Wanita dewasa tidak hamil : Hemoglobin < 12 g/dl

Wanita hamil : Hemoglobin < 11 g/dl

Anak umur 6-14 tahun : Hemoglobin < 12 g/dl

Anak umur 6 bulan-6 tahun : Hemoglobin < 11 g/dl


66

Secara klinis kriteria anemia di Indonesia umumnya adalah

1. Hemoglobin < 10 g/dl

2. Hemotokrit < 30 %

3. Eritrosit <2,8 juta/mm3

(I Made Bakta, 2003)

3. Derajat Anemia

Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin menurut WHO:

a. Ringan sekali : Hb 10 g/dl – Batas normal

b. Ringan : Hb 8 g/dl - 9,9 g/dl

c. Sedang : Hb 6 g/dl – 7,9 g/dl

d. Berat : Hb < 6 g/dl

Departemen Kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai

berikut:

a. Ringan sekali : Hb 11 g/dl – Batas normal

b. Ringan : Hb 8 g/dl - < 11 g/dl

c. Sedang : Hb 5 g/dl - < 8 g/dl

d. Berat : Hb < 5 g/dl


67

Tabel 2.6

Kadar hemoglobin pada perempuan dewasa dan ibu hamil

menurut WHO

Hb Anemia

Jenis Kelamin Hb Normal kurang dari

(gr/dl)

Lahir (aterm) 13,5-18,5 13,5 (Ht 34 %)

Perempuan dewasa 12,0-15,0 12,0 (Ht 36%)

tidak hamil

Perempuan dewasa

hamil

TM I 11,0-14,0 11,0 (Ht 33%)

TM II 10,5-14,0 10,5 (Ht 31%)

TM III 11,0-14,0 11,0 (Ht 33%)

4 Etiologi

1) Genetik

(1) Hemoglobinopati

(2) Thalasemia

(3) Abnormal enzim glikolitik


68

(4) Fanconi anemia

2) Nutrisi

3) Perdarahan

4) Immunologi

5) Infeksi

6) Obat-obatan dan zat kimia

5. Patofisiologi Anemia Pada Ibu Hamil

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah

karena perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap

plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat

45-65% pada trimester II kehamilan dan maksimum terjadi pada

pada bulan ke-9, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali

normal 3 bulan setelah partus (Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 :

115)

6. Pengaruh Anemia Pada Kehamilan

Zat besi terutama sangat diperlukan di trimester tiga kehamilan.

Wanita hamil cenderung terkena anemia pada trimester ketiga,

karena pada masa ini janin menimbun cadangan zat besi untuk

dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir

(Sinsin, Lis, 2008 : 65 ).


69

Tingginya angka kematian ibu berkaitan erat dengan anemia.

Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani

karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen.

Pada wanita hamil anemia meningkatkan frekuensi komplikasi

pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka

prematuritas, berat badan bayi lahir rendah dan angka kematian

perinatal meningkat. Pengaruh anemia pada kehamilan bervariasi

dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan

kelangsungan kehamilan (Abortus, partus prematurus), gangguan

proses persalinan (atonia uteri, partus lama), gangguan pada

masa nifas (daya tahan terhadap infeksi dan stress, produksi ASI

rendah) dan gangguan pada janin (abortus, mikrosomia, BBLR,

kematian perinatal) (Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, 2010 : 114-115).

2.1.8.2 Klasifikasi Anemia

1. Anemia karena penurunan produksi

1) Anemia Defisiensi Besi

anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia terbanyak di

dunia, terutama pada negara miskin dan berkembang.


70

(1) ketidakseimbangan pola makan dalam mengkonsumsi

makanan yang mengandung zat besi dengan kebutuhan

dalam tubuh.

(2) gangguan absorbsi besi pada usus, dapat disebabkan oleh

karena infeksi peradangan, neoplasma pada gaster,

duadenum maupun jejenum. asorbsi besi dipengaruhi

oleh folattannin dan vitamin C.

(3) keh ilangan darah oleh sebab perdarahan saluran cerna,

neoplasma, gastritis, hemoroid dll. pada wanita kurang

zat besi dapat diakibatkan karena menstruasi.

(4) kebutuhan sel darah merah meningkat. pada ibu hamil

dan menyusui kebutuhan besi sangat besar sehingga

memerlukan asupan yang besar pula.

a) Tanda dan Gejala

(1) cepat lelah/ kelelahan karena simpanan oksigen dalam

jaringan otot kurang

(2) Nyeri kepala dan pusing merupakan kompensasi dimana

otak kekurangan oksigen

(3) kesulitan bernafas, dimana tubuh memerlukan lebih

banyak lagi oksigen dengan cara kompensasi pernafasan

lebih dipercepat.
71

(4) palpitasi, dimana jantung berdenyut lebih cepat diikuti

dengan peningkatan denyut nadi

(5) pucat pada muka, telapak tangan, kuku, membran mukosa

mulut dan kunjungtiva.

b) Hasil laboratorium

 Pemeriksaan darah perifer menunjukan keadaan sel

mikrositik dan pucat

 penurunan Hb kurang dari 9,5 g/dl

 Jumlah RBC berkurang

2) Anemia Megaloblastik

anemia yang disebabkan karena kerusakan sintesis DNA yang

mengakibatkan tidak sempurnanya SDM. keadaan ini

disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (Cobalamin) dan

asam folat. sel megaloblastik ini fungsinya tidak normal,

dihancurkan dalam sumsung tulang shingga terjadinya

eritropoesis tidak efektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek,

keadaan ini mengakibatkan:

 leukopenia (menurunnya jumlah SDP)

 Trombositopenia
72

 Pansitonenia

 Gangguan pada oral, gastrointestinal dan neurologi

a) Tanda dan gejala

 anemia yang kadar disertai ikterik

 adanya glositis

 gangguan neuropati seperti mati rasa, rasa terbakar

pada jari

b) hasil Laboratorium

 Hemoglobin menurun

 Trombositopenia

 Kadar bilirubin indirek serum dan LDH meningkat

3) Anemia Defisiensi Vit. B 12 (Pernicius Anemia)

merupakan gangguan autoimun karena tidak adanya intriksik

faktor (IF) yang diproduksi di sel perietal lambung sehingga

terjadi gangguan absorbsi vitamin B 12.

1. Etiologi dan faktor resiko

 tidak ada intrinsik faktor

 Gangguan pada mukosa lambung, ileum dan pankreas


73

 Tidak adekuatnya intake vitamin B 12 tapi asam folat

banyak.

 Obat-obatan yang menggangu diabsorpsi dilambung

 Obat-obatan yang merusak ileum

 kerusakan absorpsi

2. Manifestasi klinik

 Hb, hematokrit, SDM rendah

 Anemia

 BB menurum, diare, konstipasi

 Gangguan neurologi

 Defisiensi vitamin B 12 dengan cara test schiling

4) Anemia Defisiensi Asam Folat

kebutuhan folat sangat kecil, biasanya terjadi pada orang yang

kurang makan sayuran dan buah-buahan, gangguan pada

pencernaan, akoholik dapat meningkatkan kebutuhan folat,

wanita hamil, masa pertumbuhan. defisiensi asam folat juga

padat mengakibatkan sindrom mal-absorpsi.

Manifestasi klinik
74

 hampir sama dengan defisiensi vit. B 12 yaitu adanya

gangguan neuroligi seperti gangguan kepribadian dan daya

ingat.

 biasanya disertai ketidakseimbangan elektrolit

(magnesium, kalsium)

 Defisinsi asam folat kurang dari 3-4 ng/ml

 Vit. B 12 normal

5) Anemia Aplastik

terjadi akibat ketidaksanggupan sumsung tulang membentuk

sel-sel darah. Kegagalan tersebut disebabkan kerusakan primer

sistem sel mengakibatkan anemia, leukopenia dan

thrombosipenia. Zat yang dapat merusak sumsung tulang

disebut Meilotoksin.

1. Etiologi dan faktor resiko

 Idiopatik

 Kemoterapi, radioterapi

 Toksik Kimia

2. Manifestasi klinik

 Kelemahan, letih
75

 Nyeri kepala, dyspnea

 Nadi cepat, pucat

 Mudah infeksi : hepatitis

2. Anemia karena kerusakan eritrosit

1. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik terjadi dimana terjadi peningkatan

hemolisis dari eritrosit, sehingga usianya lebih pendek.

1) Etiologi dan faktor resiko

 Merupakan 5 % dari jenis anemia

 Herediter

 Hb abnormal, membran eritrosit rusak

 Thalasemia

 Toksik

2) Tanda dan gejala

 Anemia

 Demam

 Kelemahan, pucat

 Hepatomegali, kekuningan

 Defiseinsi folat, hemosiderosis


76

2. Anemia Bulan Sabit

Anemia bulan sabit adalah anemia hemolitika berat ditandai

SDM kecil sabit dan pembesaran limpa akibat kerusakan

molekul Hb.

1) Etiologi dan faktor resiko

 Banyak pada area endemik malaria

 Herediter

2) Manifestasi klinik

 kurang darah akan mengakibatkan hipoksia

 mempunyai masa hidup pendek 15-25 hari

 Hb 7-10 g/dl

 Ikterik pada sklera

 sumsung tulang membesar

 Disritmia, gagal jantung.

2.1.8.3 Penatalaksanaan Anemia Pada Ibu Hamil

1. Anemia Defisiensi Besi

(1) pemberian diet tinggi zat besi

(2) atasi penyebab seperti cacingan


77

(3) pemberian preparat zat besi seperti sulfat ferrosus (dosis

3x200 mg), ferro glukonat 3x200 mg/hari atau diberikan

secara parenteral jika alergi dengan obat peroral 250 mg Fe

(dosis: 3 mg/kg BB)

(4) pemberian vitamin C (dosis 3x100 mg/hari)

(5) transfusi darah jika diperlukan

2. Anemia Megaloblastik

(1) Diet nutrisi tinggi vitamin B 12 dan asam folat

(2) Pemberian hydroxycobalamin IM 200 mg/hari atau 1000 mg

diberikan setiap minggu selama 7 minggu

(3) berika asam folat 5 mg/hari selama 4 bulan.

3. Anemia Defisiensi vitamin B 12

(1) Pemberian vitamin B 12 oral, apabila IF kurang diberikan

IM, 100 g tiap bulan

(2) Pemberian diet zat besi (daging, hati, kacang hijau, telor,

produk susu), asam folat.

4. Anemia Defisiensi asam folat

(1) Berikan asam folat 0.1 – 5 mg setiap hari, jika mal-absorpsi

diberikan IM.
78

(2) Berikan vit. C untuk membantu penyerapan dan eritropoitis

(3) Berikan diet tinggi asam folat (asparagus, brokoli, nanas,

melon, sayuran hijau, ikan, daging, hati, stroberi, susu, telor,

kentang, roti).

5. Anemia Aplastik

(1) Monitor adanya perdarahan dan pansitoprnia (menurunnya

sel darah merah, leukosit dan trombosit)

(2) Transfusi darah

(3) Pengobatan infeksi : Jamur, bakteri

(4) Tranplantasi sumsung tulang (pasien dibawah 60 tahun)

(5) Immunosupresive terapi: kombinasi cyclosporine,

antithymocyte globulin (ATG), Antilymphocyte globulin

(ALG).

(6) Diet bebas bakteri

(7) Pendidikan kesehtan untuk mencegah infeksi

6. Anemia Hemolitik

(1) Pencegahan faktor resiko

(2) Transfusi darah

(3) Cairan adekuat

(4) Pemberian asam folat


79

(5) Pemberian eritropoitin

(6) Pemberian kortikosteroid

(7) Pendidikan kesehatan

7. Anemia Sel Sabit

(1) Belum ada obat yang efektif

(2) Penanganan nyari

(3) Penanganan infeksi dan pencegahan

(4) Transfusi darah

(5) Mengurangi kekentalan darah

(6) Transplantasi sumsung tulang


80

2.2. Asuhan Persalinan

2.2.1. Definisi Persalinan

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang

normal. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu

dan keluarga menantikan selama 9 bulan. Ketika persalinan dimulai,

peranan ibu adalah melahirkan bayinya. Peran petugas kesehatan adalah

memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi

disamping itu bersama keluarga memberi kan bantuan dan dukungan pada

ibu bersalin (Saifuddin, 2006).

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang

dapat hidup dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Prawiriharjo,

2007). Sedangkan persalinan normal adalah proses pengeluaran janin

yang terjadi pada kehamilan yang cukup bulan (37-42 minggu) lahir

spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung 18 jam,

tanpa komplikasi pada ibu maupun pada janin (Wiknjosastri dalam

Prawirahardjo, 2010).

2.2.2 Tanda-tanda Persalinan

1. Adanya his persalinan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a) Sifatnya teratur makin lama intervalnya makin pendek.

b) terasa nyeri di abdomen dan menjalar ke pinggang.


81

c) menimbulkan perubahan progresif pada serviks berupa penulakan

dan pembukaan.

d) dengan aktifitas his persalinan makin bertambah.

2. Pengeluaran Lendir dan darah

Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang

menimbulkan pendaratan dan pembukaan.

3. Pengeluaran cairan

Umumnya ketuban pecah menjelang pembukaan lengkap. Namun dalam

beberapa jenis kasus, ketuban pecah pada saat pembukaan masih kecil.

Dengan pecahnya ketuban dapat memicu proses persalinan melalui

peningkatan his atau pengeluaran prostaglandin yang semakin

meningkat (Manuaba, 2007).

2.2.3. Penyebab Persalinan

Penyebab terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada

hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks antara lain dikemukakan

factor-faktor humoral, struktu rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan

pada saraf, dan nutrisi.

1. Teori Keregangan Otot

a. Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas

tertentu.

b. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksisehingga


82

persalinan di mulai.

2. Teori Penurunan Progesteron

a. Produksi penurunan mengalami penurunan sehingga otot

rahim lebih sensitif terhadap oksitosin.

b. Akibat otot rahim mulai berkontraksi setelah penurunan

progesteron tertentu.

3. Teori Oksitosin Internal

a. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior.

b. Menurunya konsentrasi progesteron akibat tuanya

kehamilan maka oksitosin meningkatkan aktivitasnya

sehingga persalinan dapat dimulai.

4. Teori Prostaglandin

a. Konsentrasi prostaglandin meningkatkan sejak umur

kehamilan 15 minggu yang dikeluarkan oleh desidua.

b. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan

konsentrasi otot rahim sehingga dapat merupakan pemicu

terjadinya persalinan.

c. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya

persalinan( Rohani dkk, 2011Hal:4)


83

2.2.4. Permulaan terjadinya Persalinan

Faktor-faktor hormonal, pengaruh prostaglandin, struktur uterus,

sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor

yang mengakibatkan partus mulai.Seperti telah dikemukakan, “plasenta

menjadi tua” dengan tuanya kehamilan. Villi korialis mengalami

perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.

Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang

mengakibatkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini mungkin merupakan

faktor yang dapat menganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta

mengalami degenerasiFaktor lain yang dikemukakan ialah tekanan pada

ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser yang terletak dibelakang

serviks. Bila ganglion ini tertekan,kontraksi uterus dapat dibangkitkan.

(Prawirohadjo 2010)

2.2.5. Tahapan Persalinan

1. Kala I

Pada Kala I Persalinan dimulainya proses persalinan yang ditandai

dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat, dan menyebabkan

perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap, fase

kala I Persalinan terdiri dari Fase Laten yaitu dimulai dari awal

kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm, Kontraksi mulai teratur

tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik, Tidak terlalu mules; fase
84

aktif dengan tanda-tanda kontraksi diatas 3 kali dalam 10 menit,

lamanya 40 detik atau lebih mules, pembukaan 4 cm hingga lengkap,

penurunan bagian terbawah janin, Waktu pembukaan serviks sampai

pembukaan lengkap 10 cm, fase pembukaan dibagi menjadi 2 fase

yaitu fase laten: berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat

lambat sampai mencapai pembukaan 3 cm. Fase aktif : dibagi menjadi

3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu 2 jam pembukaan 3 menjadi 4

cm. Fase dilatasi maksimal yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan

berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm. fase deselerasi

pembukaan menjadi lambat kembali dalam 2 jam pembukaan dari 9

menjadi lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 2 jam

dengan pembukaan 1 cm perjam dalam pada multigravida 8 jam

dengan pembukaan 2 cm per jam. Komplikasi yang dapat timbul pada

kala I yaitu: ketuban pecah dini, tali pusat menumbung, obstrupsi

plasenta, gawat janin, inersia uteri.

2. Kala II

Gejala dan tanda kala II, telah terjadi pembukaan lengkap, tampak

bagian kepala janin melalui pembukaan introitus vagina, ada rasa ingin

meneran saat kontraksi, ada dorongan pada rektum atau vagina,

perineum tampak menonjol, vulva dan springter ani membuka,

peningkatan pengeluaran lendir dan darah.


85

Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm ) sampai bayi lahir. Proses ini

biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Pada

kala pengeluaran janin telah turun masuk ruang panggul sehingga

terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara refletoris

menimbulkan rasa mengedan, karena tekanan pada ibu merasa seperti

mau buang air besar dengan tanda anus membuka. Pada waktu his

kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum membuka,

perineum menegang. Dengan adanya his ibu dipimpin untuk

mengedan, maka lahir kepala di ikuti oleh seluruh badan janin.

Komplikasi yang dapat timbul pada kala II yaitu: eklamsi,

kegawatdaruratan janin, tali pusat menumbung,penurunan kepala

terhenti, kelelahan ibu, ruptur uteri, distosia karena kelainan letak,

infeksi intra partum, inersia uteri, tanda-tanda lilitan tali pusat.

3. Kala III

Batasan kala III, masa setelah lahirnya bayi dan berlangsungnya proses

pengeluaran plasenta tanda-tanda lepasnya plasenta: terjadi perubahan

bentuk uterus dan tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang atau

terjulur keluar melalui vagina/vulva, adanya semburan darah secara

tiba-tiba kala III, berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi

lahir uterus teraba keras dengan fundus utri agak diatas pusat beberapa

menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan palsenta

dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit-15 menit


86

setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus

uteri. Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah.

Komplikasi yang dapat timbul pada kala III adalah perdarahan akibat

atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali

pusat.

a) Cara pelepasan plasenta

1) Schultze

Lepasnya seperti kita menutup payung, cara ini yang paling

sering terjadi (80%). Yang lepas duluan adalah bagian tangah,

lalu retroplasenter hematoma yang menolak uri mula-mula

bagian tengah, kemudian seluruhnya. Menurut cara ini,

perdarahan biasanya tidak ada sebelum uri lahir dan banyak

setelah uri lahir.

2) Duncan

Lepasnya uri mulai dari pinggir, jadi pinggir uri lahir duluan

(20%). Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban.

Serempak dari tengah dan pinggir plasenta.

b) Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya uri

1) Kustner

Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat

sedang tangan kiri menekan diatas simfisis. Bila tali pusat


87

masuk kembali kedalam vagina berarti belum terlepas dan

sebaliknya jika tidak masuk kembali berarti sudah terlepas.

2) Strassman

Tangan kanan meregangkan tali pusat dan tangan kiri

mungetok fundus. Bila terasa getaran tali pusat bararti plasenta

belum terlepas.

3) Klein

Pasien disuruh mengedan, bila setelah mengedan tali pusat

masuk kembali kedalam vagina berarti plasenta belum terlepas.

Manajemen aktif kala III persalinan untuk melahirkan plasentadan

dapat mencegah atau mengurangi perdarahan post partum yaitu:

Pemberian suntikan oksitosin, selambat-lambatnya dalam waktu 2

menit setelah bayi lahir, dipastikan tidak ada bayi kedua, maka

dilakukan segera suntikan oksitosin 10 unit IM pada 1/3 bawah paha

bagian luar. Setelah itu penegangan tali pusat terkendali. Dan setelah

terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat, tangan pada dinding

abdomen menekan korpus uteri kebawah dan keatas korpus (dorso –

cranial). Segera setelah kelahiran plasenta lakukan rangsangan taktil

dengan lembut tapi mantap selama 15 detik sehingga uterus

berkontraksi. (APN,2008).
88

4. Kala IV

Dimulainya dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post

partum. Komplikasi yang dapat timbul pada kala IV adalah: sub

involusi dikarenakan oleh uerus tidak berkontraksi, perdarahan yang

disebabkan oleh atonia uteri, laserasi jalan lahir, sisa plasenta.

2.2.6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persalianan

Faktor yang mempengaruhi persalinan ada5 yaitu ;

a. Janin (Passenger)

b. Jalan Lahir (Passage)

c. Kekuatan (Power)

d. Psikiologis

e. Penolong

(Rohani,2011)

1. Janin (Passenger)

Pembahasan mengenai janin sebagai passenger sebagian besar adalah

mengenai ukuran kepala janin, karena kepala adalah bagian terbesar

dari janin dan paling sulit untuk dilahirkan.Tulang- tulang penyusun

kepala janin terdiri dari : dua buah os. Parietalis, satu buah os.

Oksipitalis dan dua buah os. Frontalis. Antara tulang satu dengan

tulang yang lainnya berhubungan melalui membran yang kelak


89

setelah hidup di luar uterus akan berkembang menjadi tulang. Batas

antara dua tulang disebut sutura dan diantara sudut–sudut tulang

terdapat ruang yang ditutupi membrane yang disebut fontanel.

1.Pada tulang tengkorak janin dikenal beberapa sutura, antara lain:

- Sutura sagitalis superior, menghubungkan antara kedua os.

Parietalis kanan dan kiri.

- Sutura koronaria, menghubungkan os. Parietalis dengan os.

Frontalis.

- Sutura lambdoidea, menghubungkan os. Parietalis dengan os.

Oksipitalis.

- Sutura frontalis, menghubungkan kedua os. Frontalis kanan

dan kiri.

2.Terdapat dua fontanel ( ubun – ubun ) antara lain :

A. Fontanel minor ( ubun – ubun kecil )

- Berbentuk segitiga.

- Terdapat di sutura sagitalis superior bersilang dengan

sutura lambdoidea.

- Sebagai penyebut ( petunjuk presentasi kepala ).

B. Fontanel mayor ( ubun–ubun besar / bregma ).

- Berbentuk segiempat panjang

- Terdapat di sutura sagitalis superior dan sutura

frontalis bersilang dengan sutura koronaria.


90

C. Plasenta dan talipusat

a. Plasenta :

- Berbntuk bundar atau hamper bundar dengan

diameter 15 – 20 cm dan tebal 2 – 2,5 cm.

- Berat rata – rata 500 gram.

- Letak plasenta umumnya berada di depan atau di

belakang dinding uterus, agak ke atas kearah fundus.

 Terdiri dari 2 bagian, antara lain :

- Pars maternal, bagian plasenta yang

menempel pada desidua, terdapat kotiledon

( rata – rata 20 kotiledon ). Dibagian ini

tempat terjadinya pertukaran darah ibu dan

janin.

- Pars fetal : terdapat talipusat

b. Talipusat

Struktur talipusat :

- Terdiri dari 2 arteri umbilicus dan 1 vena

umbilicus.

- Bagian luar talipusat berasal dari lapisan amnion.

- Didalamnya terdapat jaringan yang lembek yang

dinamakan selai warthon.


91

- Panjang rata – rata 50 cm.

c.Air ketuban

Struktur amnion:

- Volume pada kehamilan cukup bulan kira – kira

500 – 1000 cc.

- Berwarna putih keruh, berbau amis dan terasa

manis.

- Reaksinya agak alkalis sampai netral.

- Komposisinya terdiri atas 98 % air, dan sisanya

albumin, urea, asam uric, kreatinin, sel -sel epitel,

lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik.

2. Jalan Lahir (Passage)

Jalan lahirterdiri dari bagian tulang pelvis dengan sendi-sendinya

bagian lunak terdiri dari otot-otot pelvis, jaringan-jaringan

ligament-ligament.

a. Bidang Hodge

Bidang-bidang hodge di pelajari untuk menentukan sampai

dimana bagian terendah janin turun dalam panggul dalam

persalinan. Bisa dilakukan melalui pemeriksaan dalam/

vagina toucher (VT)

Bidang hodge :
92

i. Hodge I : ialah bidang datar yang melalui bagian atas

simfisis dan promontorium. Bidang ini dibentuk pada

lingkaran pintu atas panggul.

ii. Hodge II : ialah bidang yang sejajar dengan bidang hodge

I terletak setinggi bagian bawah simfisis.

iii. Hodge III : ialah bidang yang sejajar dengan bidang

hodge I dan II terletak setinggi spina iskiadika kanan dan

kiri. Pada rujukan lain, bidang hodge III ini disebut juga

bidang O. kepala yang berada diatas 1 cm disebut (-1)

atau sebaliknya.

iv. Hodge IV : ialah bidang yang sejajar dengan bidang

hodge I, II, III, terletak setinggi os. Koksigis.

(Prawirohardjo, 2010 Hal:195).


93

Tabel 2.7

Penurunan kepala janin saat persalinan

2) Periksa luar Periksa dalam Keterangan


Kepala di atas
PAP,Mudah di
= = 5/5 gerakkan

Sulit di gerakkan,
H I-II bagian terbesar
= 4/5 kepala belum
masuk panggul

Bagian terbesar kepala


belum masuk
H II-III panggul
=3/5

Bagian terbesar kepala


sudah masuk
=2/5 panggul
H III +

Kepala di dasar
panggul
H III- IV
=1/5

Di perineum
H IV

=0/5
94

3. Kekuatan (Power)

Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah

his,kontraksi otot-otot perut,kontraksi diafragma, dan asli dari ligamen

kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah

his,sedangkan sebagai kekuatan sekundernya adalah tenaga meneran

ibu.

His adalah kontaksi otot-otot rahim pada persalinan. Pada

bulan terakhir dari kehamilan dan sebelum persalinan dimulai,sudah

ada kontaksi rahim yang disebut his. His dibedakan sebagai berikut.

a. His pendahuluan atau his palsu yang sebetulnya hanya merupakan

peningkatan dari kontaksi dari Brexton hicks.

b. His persalinan

Suatau kontaksi dari otot-otot rahim yang fisiologis akan tetapi

bertentangan dengan kontraksi fisiologis lainnya dan bersifat

nyeri.

4. Psikologi

Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami

dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama

bersalin dan kelahiran, anjurkan mereka berperan aktif dalam

mendukung dan mendampingi langkah–langkah yang mungkin akan

sangat membantu kenyamanan ibu, hargai keinginan ibu untuk

didampingi, dapat membantu kenyamanan ibu.


95

5. Penolong

Peran dari penolong persalin adalah mengantisipasi dan

menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin,dalam

hal ini tergantung dari kemampun dan kesiapan penolong dalam

menghadapi proses persalinan.

(Rohani dkk,2011 )

2.2.7. Perubahan Fisiologis dalam Persalinan

2.2.7.1 Tekanan darah

Meningkat selama kontraksi disertai peningkatan sistolik

rata-rata 15 (10-20) mmHg dan diastolik rata-rata 5-10 mmHg.

Pada waktu-waktu diantara kontraksi, tekanan darah kembali ke

tingkat sebelum persalinan. Dengan mengubah posisi tubuh dari

terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah selama

kontraksi dapat dihindari. Nyeri, rasa takut dan kekhawatiran

dapat semakin meningkatkan tekanan darah.

2.2.6.2 Metabolisme

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh ansietas dan

aktivitas otot rangka. Peningkatan aktivitas metabolik terlihat

dari peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan, curah

jantung, dan cairan yang hilang.


96

2.2.6.3 Suhu

Meningkat selama persalinan, tertinggi selama dan segera

setelah melahirkan, yang dianggap normal ialah peningkatan

suhu yang tidak lebih dari 0.5 0 sampai 10 Celcius.

2.2.6.4 Denyut Nadi

Perubahan yang mencolok selama kontaksi diserta

peningkatan selama fase peningkatan, penurunan selama titik

puncak sampai frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi

diantara kontaksi, dan peningkatan selama fase penurunan

hingga mencapai frekuensi lazim diantara kontraksi. Penurunan

yang mencolok selama puncak kontaksi uterus tidak terjadi jika

wanita berada pada posisi miring, bukan terlentang. Frekuensi

denyut nadi diantara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding

selama periode menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan

peningkatan metabolisme yang terjadi selama persalinan.

2.2.6.5 Pernafasan

Sedikit peningkatan pernafasan masih normal selama

persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang

terjadi.

2.2.6.6 Perubahn pada Ginjal

Poliuria sering terjadi selama persalinan. Kondisi ini

diakibatkan peningkatan lebih lanjut curah jantung selama


97

persalinan dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomerulus

dan aliran plasma ginjal. Poliuria menjadi kurang jelas pada

posisi terlentang karena posisi ini membuat aliran urine

berkurang selama kehamilan. Sedikit proteinuria (renik 1+)

umun ditemukan pada sepertiga sampai setengah jumlah wanita

bersalin. Proteinuria 2+ dan lebih adalh data abnormal.

2.2.6.7 Perubahan Pada saluran Cerna

Motilitas dan absorbs lambung terhadap makanan padat

jauh berkurang. Apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan

lebih lanjut sekresi asam lambung selama persalinan, maka

saluran cerna bekerja dengan ambat sehingga waktu pengosongan

lambung menjadi lebih lama

2.2.6.8 Perubahan Hematologi

Hemoglobin meningkat rata-rata 1,2 gr / 100 ml selama

persalinan dan kembali ke kadar sebelum persalinan pada hari

pertama pascapartum jika tidak ada kehilangan darah yang

abnormal. Waktu koagulasi darah berkurang dan terdapat

peningkatan fibrinogen plasma lebih lanjut selama persalinan.

Hitung sel darah putih secara progresif meningkat selam kala I

persalinan sebesar kurang lebih 5000 hingga jumlah rata-rata

15.000 pada saat pembukaa lengkap. Tidak ada peningkatan lebih

lanjut setelah in. gula darah menurun selama persalinan, menurun


98

drastic pada persalinan yang lama dan sulit, kemungkinan besar

akibat peningkatan aktivitas otot uterus dan rangka.(Varney.2007)

2.2.8. Partograf

2.2.8.1 Definisi

Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan

pemeriksaan fisik ibu dalam proses persalinan serta merupaka

alat utama dalam mengambil keputusan klinik khususnya pada

persalinan kala I. Kegunaan partograf yaitu untuk mencatat

observasi dan kemajuan persalinan, mendeteksi apakah proses

peralinan berjalan secara normal. Bagian-bagian partograf terdiri

dari kemajuan persalinan (pembukaan serviks, turunnya bagian

terendah dan kepala janin, dan kontraksi uterus), kondisi janin

(denyut jantung janin, warna dan volume air ketuban, dan

moulase kepala janin), san kondisi ibu (tekanan darah, nadi, suhu

badan, serta volume urine, obat dan cairan) (Sumarah, 2009).

Cara mencatat temuan pada partograf yaitu observasi

dimulai sejak ibu datang, apabila ibu datang masih dalam fase

laten, maka hasil observasi ditulis dilembar observasi bukan pada

partograf, karena partograf dipakai setelah ibu masuk fase aktif

yang meliputi identifikasi ibu, kondisi janin, dan kemajuan


99

persalinan. Identifikasi ibu meliputi nama, umur, gravida, para,

abortus, nomor rekam medis/ nomor klinik, tanggal dan waktu

mulai dirawat, waktu pecahnya ketuban. Kondisi janin meliputi

denyut jantung janin (DJJ), warna dan adanya air ketuban, dan

penyusupan/ moulase kepala janin. Kemajuan persalinan

meliputi dilatasi serviks,penurunan bagian terendah janin, dan

kontraksi uterus/ his (Sumarah, Widyastuti dan Wiyati, 2009).

2.2.8.2 Penggunaan Partograf

World Health Organization (WHO, 2000) telah memodifikasi

partograf agar lebih sederhana dan lebih mudah digunakan. Fase

laten telah dihilangkan, dan pencatatan pada partograf dimulai

dari fase aktif ketika pembukaan serviks 4 cm.

Partograf harus digunakan untuk (1) semua ibu dalam fase aktif

kala satu persalinan sampai dengan kelahiran bayi, sebagai

elemen penting asuhan persalinan; (2) semua tempat pelayanan

persalinan (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit,

dan lain-lain); (3) semua penolong persalinan yang memberikan

asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (spesialis

Obstetri dan Ginekologi, Bidan, Dokter Umum, Residen, dan

Mahasiswa kedokteran).
100

2.2.8.3 Halaman Depan Pertograf

Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi yang

dimulai pada fase aktif persalinan; dan menyediakan lajur dan

kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif

persalinan, termasuk :

1) Informasi tentang ibu, meliputi Nama, Umur; Gravida, Para,

Abortus; Nomor catatan medik/nomor Puskesmas; Tanggal

dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah: tanggal dan

waktupenolong persalinan mulai merawat ibu).

2) Waktu pecahnya selaput ketuban.

3) Kondisi janin, meliputi DJJ (denyut jantung janin)

2.2.8.4 Landasan

Partograf WHO telah dirancang oleh suatu kelompok kerja

informal yang meneliti hampir semua karya yang dipublikasikan

tentang partograf dan desainnya yang berlandaskan prinsip-

prinsip:

a) Fase aktif persalinan dimulai pada pembukaan 4 cm.

b) Fase laten persalinan harus berlangsung tidak lebih dari 8

jam.
101

c) Fase aktif, kecepatan pembukaan tidak boleh lebih lambat

dari 1 cm/jam.

d) Tenggang waktu 4 jam antara melambatnya persalinan dan

diambilnya tindakan tidak akan membahayakan janin atau

ibunya untuk menghindari dari suatu tindakan yang tidak

perlu.

e) Periksa dalam tidak boleh dilakukan terlalu sering. Dalam

suatu praktek kedokteran yang baik direkomendasikan

setiap 4 jam.

Sebaiknya memakai partograf yang sudah ada garis waspada dan

garis tindakan.

2.2.8.5 Komponen-komponen

a. Kemajuan persalinan

(a) Pembukaan serviks

Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam ( lebih

sering dilakukan jika ada tanda-tanda penyulit).Tanda

“X” harus dicantumkan di garis waktu yang sesuai

dengan lajur besarnya pembukaan serviks.

Yang harus diperhatikan dalam pengisisan kolom

pembukaan serviks ini dalah :


102

1. Pilih angka pada tepi kiri luar kolom pembukaan

serviks yang sesuai dengan besarnya pembukaan

serviks.

2. Pilih angka yang sesuai dengan bukaan serviks

(hasil periksa dalam) dan cantumkan tanda “ X” pada

ordinat atau titik silang garis dilatasi serviks dan gris

waspada.

3. Hubungkan tanda “ X “ dari setiap pemeriksaann

dengan garis utuh (tidak terputus).

(b) Penurunan Bagian Terbawah Janin.

Dilakukan setiap kali melakukan periksa dalam (setiap 4

jam), atau lebih sering (jika ditemukan tanda-tanda

penyulit). Tapi adakalanya, penurunan bagian terbawah

janin baru terjadi setelah pembukaan serviks mencapai 7

cm

(c)Tulisan “Turunnya Kepala” dan garis tidak terputus 0-5,

tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan

serviks. Berikan tanda “O“ yang ditulis pada garis

waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika hasil

pemeriksaan palpasi kepala diatas simfisis pubis adalah

4/5 maka tuliskan tanda “O” di garis angka 4.


103

Hubungkan tanda “O” dari setiap pemeriksaan dengan

garis tidak terputus.

(d) Garis Waspada dan Garis Bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm

dan berakhir pada titik dimana pembukaan lengkap

diharapkan terjadi jika laju pembukaan adalah 1 cm per

jam. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah

kanan garis waspada (pembukaan kurang adri 1 cm per

jam), maka harus dipertimbangkan adanya penyulit.

Garis bertindak tertera sejajar dan disebelah kanan

(berjarak 4 jam) garis waspada. Jika pembukaan serviks

telah melampaui dan berada di sebelah kanan garis

bertindak maka hal ini menunjukan perlu dilakukan

tindakan untuk menyelesaikan persalinan ( harus sudah

ada di tempat rujukan).

(e) Kontraksi Uterus

Dibawah lajur waktu partograf, terdapat lima kotak

dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di sebelah luar

kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu

kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah

kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam

satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi


104

dalam waktu 10 menit dengan cara mengisi kotak

kontraksi yang tersedia dan disesuaikan dengan angka

yang mencerminkan temuan dari hasil pemeriksaan

kontrraksi.

Nyatakan lamanya kontraksi dengan :

Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya kurang dari 20 detik

Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk menyatakan

kontraksi yang lamanya 20-40 detik.

Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontarksi

yang lamanya lebih dari 40 detik.

b. Keadaan Janin

1. Denyut jantung

Nilai dan catat DJJ setiap 30 menit (lebih sering jika

tanda-tanda gawat janin). Setiap kotak di bagian atas

partograf menunjukkan waktu 30 menit. Catat DJJ

dengan memberi tanda titik pada garis yang sesuai

dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian yang

satu dengan titik yang lainnya, dengan garis tegas dan

bersambung.
105

Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis

tebal pada angka 180 dan 100. Sebaliknya, penolong

harus waspada bila DJJ mengarah hingga di bawah 120

atau diatas 160.

2. Warna dan adanya air ketuban

Nilai air dan kondisi setiap kali melakukan perksa dalam

melakukan periksa dalam dan nilai warna air ketuban jika

selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak

yang sesuai dibawah lajur DJJ. Lalu gunakan lambang-

lambang berikut ini :

a. U : Selaput ketuban masih utuh (belum pecah)

b. J: Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

jernih

c. M : Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban

bercampur mekonium

d. D : Selaput ketban sudah pecah dan air ketuban

bercampur darah

e. K : Selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban

sudah tidak mengalir lagi (kering)


106

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu

menunjukkan adanya gawat janin. Jika terdapat

mekonium, pantau DJJ dengan seksama untuk mengenali

tanda-tanda gawat janin dalam proses persalinan.

3. Penyusupan (molase) Tulang Kepala Janin

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa

jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri terhadap bagian

keras (tulang) panggul ibu. Semakin besar derajat

penyusupan atau tumpang tindih antar tulang keala

semakin menunjukkan risiko disproporsi kepala panggul

(CPD). Catat temuan yang ada di kotak yang sesuai di

bawah lajur air ketuban dengan lambang-lambang berikut

ini :

a. 0 : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura denga

mudah dapat di palpasi.

b. 1 : Tulang-tulang kepala janin hanya saling

bersentuhan.

c. 2 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih

masih dapat dipisahkan.


107

d. 3 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih

dan tidak dapat dipisahkan.

c. Keadaan ibu

1. Nadi, tekanan darah dan suhu

Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif

persalinan (lebih sering jika diduga adanya penyulit).

Beri tanda ( . ). Pada kolom waktu yang sesuai.

Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase

aktif persalinan (lebih sering jika di duga adanya

penyulit). Beri tanda panah ( ↕ ) pada partograf pada

kolom waktu yang sesuai.

Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika

terjadi peningkatan mendadak atau di duga adanya

infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh pada

kotak yang sesuai.

2. Urine : Volume, protein dan aseton

a. Catat setiap ibu berkemih

b. Adakah protein atau aseton dalam urin


108

3. Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan atau

cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom

waktunya.

4. Pemberian oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,

dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin

yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan

tetesan per menit (Wiknjosastro, 2008).

2.2.9 Lima Benang Merah dalam Persalinan

1. Keputusan Klinis

Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan

untuk menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang

diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan

aman, baik bagi pasien dan keluarganya maupun petugas yang

memberikan pertolongan.

Membuat keputusan klinis tersebut dihasikan melalui

serangkaian proses metode yang sistematik menggunakan informasi


109

dan hasil dari olah kognitif dan intuisif serta dipadukan dengan kajian

teoritis dan intervensi berdasarkan bukti (evidencebased).

Keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui

berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam upaya untuk

menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney, 2008).

Langkah-langkah keputusan klinis diantaranya:

a. Pengumpulan data

b. Diagnosa

c. Penatalaksanaan

d. Evaluasi

2. Sayang Ibu dan Bayi

Berdasarkan prinsip dasar Asuhan Sayang Ibu adalah dengan

mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan

kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa jika para

ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran

bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan

asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman

dan hasil lebih baik. Disebutkan pula behwa hal tersebut diatas dapat

mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunam, seksio

caesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat.

Berikut penerapan asuhan sayang ibu:


110

a. Panggil nama ibu

b. Jelaskan sebelum/sesudah asuhan yang diberikan

c. Jelaskan proses persalinan pada ibu dan keluarga

d. Anjurkan ibu bertanya

e. Hargai privacy

3. Pencegahan Infeksi

Tujuan tindakan-tindakan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan

kesehatan:

a. Meminimalkan infeksi

b. Menentukan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa

seperti Hepatitis dan HIV/AIDS.

4. Dokumentasi

Aspek penting dalam pencatatan termasuk:

a. Tanggal dan waktu asuhan kebidanan

b. Identitas penolong

c. Paraf atau TTD pada semua catatan

d. Informasi berkaitan harus ditulis tepat, jelas dan dapat dibaca

e. Sistem pencatatan pasien harus terpelihara dan siap media

5. Rujukan
111

2.2.10. Asuhan Kebidanan pada Persalinan

`Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan

hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan

bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan

intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas

pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).

1. Asuhan sayang ibu selama persalinan kala I

a. Dukungan emosional

Dukung dan anjurkan suami dan anggota keluarga yang lain untuk

mendampingi ibu selama persalinan dan proses kelahiran bayinya.

Anjurkan mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan

mengenali berbagai upaya yang mungkin sangat membantu

kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk menghadirkan teman

atau saudara yang secara khusus diminta untuk menemaninya

(APN,2008).

b. Pemberian cairan dan nutrisi

Anjurkan ibu untuk mendapat asupan makanan (makanan ringan

dan minum air) selama persalinan dan proses kelahiran bayi.

Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan tetapi

setelah memasuki fase aktif, mereka hanya ingin mengkonsumsi

cairan saja. Anjurkan agar anggota keluarga sesering mungkin

menawarkan minum dan makanan ringan selama proses persalinan.


112

Makanan ringan dan asupan cairan yang cukup selama persalinan

akan member lebih banyak energy dan mencegah dehidrasi.

Dehidrasi bisa memperlambat kontraksi menjadi tidak teratur dan

kurang efektif.

c. Mengosongkan kandung kemih

Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin

selama persalinan, ibu harus berkemih sedikitnya setiap 2 jam, atau

lebih sering jika ibu merasa ingin berkemih atau jika kandung

kemih terasa penuh. Hindari kandung kemih yang penuh karena

akan memperlambat turunnya janin dan mengganggu kemajuan

persalinan, menyebabkan ibu tidak nyaman, meningkatkan resiko

perdarahan pascapersalinan yang disebakan oleh atonia uteri,

mengganggu penatalaksanaan distosia bahu, dan meningkatkan

resiko infeksi saluran kemih pascapersalinan .

d. Pencegahan infeksi

Pencegahan infeksi sangat penting dalam menurunkan kesakitan

dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan keterampilan

untuk melaksanakan prosedur pencegahan infeksi secara baik dan

benar juga dapat melindungi penolong persalinan terhadap resiko

infeksi.

I Pencatatan (dokumentasi)

Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan bayi. Jika
113

asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa hal tersebut tidak

dilakukan. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat

keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk

terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses

persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan

memungkinkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan

dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu diagnosis dan

membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu dan bayinya.

Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan selama

persalinan.

e. Rujukan

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan

atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan

mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun

sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun

sekitar 10-15% diantaranya akan mengalami masalah selama

proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk ke

fasilitas kesehatan rujukan.


114

2. Asuhan sayang ibu kala II

a. Membersihkan perineum ibu

Prakik terbaik pencegahan infeksi pada persalinan kala II

diantaranya adalah melakukan pembersihan vulva dan

perineum menggunakan air matang (DTT).

b. Mengosongkan kandung kemih

Kandung kemih yang penuh menggangu penurunan kepala bayi

selain itu juga akan menambah rasa nyeri pada perut bawah,

menghambat penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi

lahirnya plasenta dan perdarahan pascapersalinan.

Jangan melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin

sebelum atau setelah kelahiran bayi dan/plasenta. Kateterisasi

kandung kemih hanya dilakukan bila terjadi retensi urin dan ibu

tidak mampu berkemih sendiri.

c. Amniotomi

Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah

lengkap maka perlu tindakan amniotomi.

d. Membimbing ibu meneran

e. Posisi ibu saat bersalin

Bantu ibu untuk memperoleh posisi nyaman. Ibu dapat

mengubah-ngubah posisi secara teratur selama kala 2 dan

karena hal ini dapat membantu kemajuan persalinan, mencari


115

posisi meneran ada yang paling efektif dan mejaga sirkulasi

utero-plasenter tetap baik.

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan

atau fasilitas yang memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu

menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun sebagian

besar ibu akan mengalami persalinan normal namun sekitar 10-15%

diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan

kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.

Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal

penting dalam mempersiapkan rujukan untuk bayi dan ibu :

B (Bidan) : Pastikan bahwa ibu dan atau bayi baru lahir di

dampingiolehpenolong persalinan yang kompeten

untukmenatalaksanagawat darurat obstetri dan bayi baru

lahiruntuk dibawa ke fasilitas rujukan.

A (Alat):Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhanpersalinan,

masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik,selangIV,

alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat

rujukan.Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin

diperlukanjika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju

fasilitasrujukan.

K (Keluarga):Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi

terakhiribudan/atau bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada


116

mereka alasandantujuan merujuk ibu kefasilitas rujukan

tersebut. Suamiatauanggota keluarga yang lain harus

menemani ibu danbayibaru lahir hingga ke fasilitas

rujukan.

S (Surat) :Berikan surat ketempat rujukan. Suratini harus

memberikanidentifikasi mengenai ibu dan atau bayi baru

lahir,cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil

pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu

dan atau bayibaru lahir. Sertakan juga partograf yang

dipakai untukmembuat keputusan klinik

O (Obat) : Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke

fasilitasrujukan. Obat-obatan tersebut mungkin

diperlukan selama diperjalanan.

K (Kendaraan) : Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan

untukmerujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain

itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk

mencapaitujuan pada waktuyang tepat.

U (Uang) : Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam

jumlahyang cukup untuk membeli obat-obatan yang

diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang

diperlukan selama ibu dan atau bayi baru lahir tinggal di

fasilitas rujukan (APN, 2008).


117

3. Asuhan sayang ibu pada kala III

Tujuan manajemen aktif kala tiga adalah untuk menghasilkan

kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat

waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala

tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.

1. Keuntungan manajemen aktif kala tiga:

1) Persalinan kala tiga yang lebih singkat

2) Mengurangi jumlah kehilangan darah

3) Mengurangi kejadian retensio plasenta

2. Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama:

1) Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama

setelah bayi lahir

2) Melakukan penegangan tali pusat terkendali

3) Masase fundus uteri. (APN, 2008)

4. Asuhan sayang ibu pada kala IV

a. Memperkirakan kehilangan darah

Dengan melihat volume darah yang terkumpul dan memperkirakan

berapa banyak botol 500 ml dapat menampung semua darah

tersebut. Jika darah mengisi 2 botol, ibu telah kehilangan 1 liter

darah. Cara tak langsung untuk mengukur jumlah kehilangan darah


118

adalah melalui penampakan gejala dan tekanan darah. Apabila

perdarahan menyebabkan ibu lemas, pusing, dan kesadaran

menurun serta tekanan darah sistolik turun lebih dari 10 mmHgdrai

kondisi sebelumnya makatelah terjadi perdarahan lebih dari 500 ml.

Penting untuk selalu memantau keadaan umum dan menilai jumlah

kehlangan darah nibu selama kala empat melalui tanda vital, jumlah

darah yang keluar dan kontrkasi uterus.

b. Memeriksa perdarahan dari perineum

Laserasi (laceration) adalah luka yang disebabkan oleh robekan,

bukan bentuk yang teratur seperti sayatan bedah. Laserasi biasanya

hanya merujuk pada luka kulit yang cukup dalam sehingga

memerlukan jahitan.

Laserasi perineum adalah robekan jaringan antara pembukaan vagina

dan rektum, yang biasanya alami. Dulu diajarkan bahwa lebih baik

untukmelakukan episiotomidaripada terjadi laserasi perineum.

Namun, dalam 25 tahun terakhir semua penelitian di literatur obgin

telah menunjukkan bahwa laserasi biasanya tidak sebesar

episiotomi,lebih cepat sembuh dari episiotomi, dan kurang

menyakitkan daripada episiotomi.

Ada 4 derajat dari laserasi:

1. Derajat satu : Robekan ini hanya terjadi pada mukosa

vagina, vulvabagian depan, kulit perineum.


119

2. Derajat dua : Robekan terjadi pada mukosa vagina, vulva

bagiandepan, kulit perineum dan otot perineum.

3. Derajat tiga : Robekan terjadi pada mukosa vagina, vulva

bagiandepan, kulit perineum, otot-otot perineum dansfingterani

eksterna.

4. Derajat empat : Robekan dapat terjadi pada seluruh perineum

dansfingterani yang meluas sampai ke mukosa rectum

(Rustam Mochtar, 2006).

Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan dari laserasi atau

robekan perineum penilai perluasan laserasi perineum dan vagina.

c. Pencegahan infeksi

d. Pemantauan keadaan baik umum ibu


120

Tabel 2.8

Proses Persalinan pada Primigravida dan Multigravida

Primi Multi

Kala I 13 jam 7 jam

Kala II 1 jam ½ jam

Kala III 1/2 jam 1/4 jam

Kala IV l4 ½ jam 7 3/4 kam

e. Sumber: (Mochtar,2006.Hal:97)
121

2.3 Asuhan Nifas

2.3.1. Definisi Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2010)

Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu.

Selama masa ini, saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan

tidak hamil yang normal. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih

kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan

kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas 6-8 minggu.(Sinopsis

Obstetri).

2.3.2.Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas

Perubahan sistem reproduksi

Selama masa nifas, alat-alat interna maupun berangsur-angsur

kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat

genetalia ini disebut involusi. Pada masa ini terjadi juga perubahan

penting lainnya, perubahan-perubahan yang terjadi antara lain.

2.3.5.1Uterus

Dalam keadaan normal, uterus mencapai ukuran besar pada masa

sebelum hamil sampai dengan kurang dari 4 minggu, berat uterus

setelah kelahiran kurang lebih 1 kg sebagai akibat involusi. Satu


122

minggu setelah melahirkan, beratnya menjadi kurang lebih 500

gram, pada akhir minggu kedua setelah persalinan menjadi

kurang lebih 300 gram, setelah itu menjadi 100 gram atau

kurang. Otot-otot uterus segera berkontraksi setelah postpartum.

Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot

uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan

setelah plasenta dilahirkan. Setiap kali bila ditimbulkan. Fundus

uteri berada di atas umbilikus, maka hal-hal yang perlu

dipertimbangkan adalah pengisian uterus oleh darah atau

pembekuan darah saat awal jam postpartum atau pergeseran

letak uterus karena kandung kemih yang penuh setiap saat

setelah kelahiran.

Tabel 2.9

Tinggi Fundus Uterus dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi

Berat
Involusi TFU Uterus

Bayi lahir Setinggi pusat, 1-2 jr bawah 1.000 gr


pst*

1 minggu Pertengahan pusat simfisis 750 gr

2 minggu Tidak teraba di atas simfisis 500 gr

6 minggu Normal 50 gr

8 minggu Normal tapi sebelum hamil 30 gr

Sumber : Mochtar, 2011


123

2.3.5.2 Lokia

Lokia adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan

vagina selama masa nifas. Lokia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu

lokia rubra, sanguinolenta dan lokia serosa atau alba.

Berikut ini adalah beberapa jenis lokia yang terdapat pada wanita

pada masa nifas.

1. Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah

segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidua, verniks

caseosa, lanugo, dan mekoneum selama 2 hari

pascapersalinan. Inilah lokia yang akan keluar selama dua

sampai tiga hari postpartum.

2. Lokia sanguinolenta berwarna merah kuning berisi darah dan

lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7

pascapersalinan.

3. Lokia serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan versi

yang lebih pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk serum

dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan

tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai ke-14

pascapersalinan. Lokia alba mengandung terutama cairan

serum, jaringan desidua, leukosit, dan eritrosit.


124

4. Lokia alba adalah lokia yang terakhir. Dimulai dari ke-14

kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali

berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya

seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit

dan sel-sel desidua.

2.3.5.3 Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya trombosis,

degenarisasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada

hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan

yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah

tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan

perut pada bekas implantasi plasenta.

2.3.5.4 Serviks

Segera setelah berakhirnya kala TU, serviks menjadi sangat

lembek, kendur, dan terkulai. Serviks tersebut bisa melepuh dan

lecet, terutama di bagian anterior. Serviks akan terlihat padat

yang mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang serviks

lambat laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan diri retak

karena robekan dalam persalinan. Rongga leher serviks bagian

luar akan membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat

empat minggu postpartum.

2.3.5.5 Vagina
125

Vagina atau lubang vagina pada permulaan puerperium

merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara

berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali

seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada

minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan jaringan yang

kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi

karunkulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara.

2.3.3. Proses Adaptasi Psikologi Ibu pada Masa Nifas

Proses masa nifas merupakan waktu di mana ibu mengalami stress

pascasalin, terutama pada ibu primipara.

Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas

adalah sebagai berikut.

1. Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi

menjadi orang tua.

2. Respon dan dukungan dari keluarga dan teman dekat.

3. Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.

4. Harapan, keinginan, dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan.


126

2.3.4. Program dan kebijakan teknis

1. 6-8 jam setelah persalinan

A. Mencegah perdarahan masa nifas karena nifas karena atonia uteri

B. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila

perdarahan berlanjut.

C. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga

bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

D. Pemberian ASI awal

E. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.

F. Menjaga bayi agar tetap sehat dan menjaga hipotermia

2. 6 hari setelah persalinan

A. Memastikan involusi uterus berjalan normal , uterus berkontraksi ,

fundus dibawah umbilicus , tidak ada perdaraha abnormal , tidak ada

bau

B. Menilai adanya tanda-tanda demam ,infeksi atau perdarahan abnormal

C. Memastikan ibu untuk mendapat cukup makanan , cairan dan istirahat

D. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-

tanda penyulit

E. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi , tali

pusat , menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.


127

3. 2 minggu setelah persalinan

Sama seperti diatas ( 6 hari setelah persalinan )

4. 6 minggu setelah persalinan

A. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu dan bayi

alami.

B. Memberikan konseling KB secara dini (Prawirohardjo, 2010).

2.3.5 Kebutuhan Dasar Ibu Pada Masa Nifas

2.3.5.1 Nutrisi dan Cairan

Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang

serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat

penyembuhan ibu dan sangat memengaruhi susunan air susu.

Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori,

tinggi protein, dan banyak mengandung cairan.Ibu yang

menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut.

1. Mengkomsumsi tambahan 500 kalori tiap hati.

2. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein,

mineral, dan vitamin yang cukup.

3. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

4. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi ,

setidaknya selama 40 hari pascapersalinan.


128

5. Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat

memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

2.3.5.2 Ambulasi

Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar

secepat mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari

tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk

berjalan.

Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu postpartum telentang di

tempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu

postpartum sudah diperbolehkan bangun dan tempat tidur dalam

24-48 jam postpartum.

2.3.5.3 Eliminasi

Buang Air Kecil

Ibu diminta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika

dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali

berkemih belum memenuhi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi.

Akan tetapi, kalau ternyata kandung kemih penuh penuh, tidak

perlu menunggu 8 jam untuk kateterisasi.

Berikut ini sebab-sebab terjadinya kesulitan berkemih (retensio

urine) pada ibu postpartum.

1. Berkurangnya tekanan intraabnominal

2. Otot-otot perut masih lemah


129

3. Edema dan urethra

4. Dinding kandung kemih kurang sensitive.

Buang Air Besar

Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar (defekasi)

setelah hari ke dua postpartum, Jika hari ke tiga belum juga

BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per rektal.

Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB,

maka dilakukan klisma (huknah) (saleha 2009: 73).

2.3.5.4 Personal Higine

Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap

infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan

sangat penting untuk tetap dijaga.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga

kebersihan diri ibu postpartum adalah sebagai berikut.

1. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.

2. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin

dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk

membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari

depan ke belakang, kemudian memberikan daerah sekitar

anus. Nasihati ibu untuk memberikan vulva setiap kali selesai

buang air kecil atau besar.


130

3. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika

telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari

dan disetrika.

4. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air

sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.

5. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan

kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah

tersebut.(Saleha 2009:73-74).

2.3.5.5 Istirahat dan tidur

Hal-hal yang bias dilakukan pada ibu untuk memenuhikebutuhan

istirahat dan tidur adalah sebagai berikut:

1. Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan

yang berlebihan.

2. Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah

tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau

beristirahat selagi bayi tidur.

3. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa

hal:

a. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.

b. Memperlambat proses involusi dan memperbanyak

perdarahan
131

c. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk

merawat bayi dan dirinya sendiri.

2.3.5.6. Aktivitas seksual

Aktivitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu masa nifas harus

memenuhi syarat berikut ini :

1. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri

begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu

atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri, maka

ibu aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri

kapan saja ibu siap.

2. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda

hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu,

misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.

Keputusan ini bergantung pada pasangan yang

bersangkutan. (Saleha 2009: 74).

2.3.5.7. Latihan dan senam nifas

Setelah persalinan terjadi involusi pada hamper seluruh organ

tubuh wanita. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi

lembek dan lemas disertai adanya straie gravidarum yang

membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena


132

itu, mereka selalu berusaha untuk memulihkan dan

mengencangkan keadaan dinding perut yang sudah tidak lagi

indah. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah

dan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan

dan senam nifas. Untuk itu beri penjelasan ibu tentang beberapa

hal berikut ini.

1. Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul agar

Kembali normal, karena hal ini akan membuat ibu merasa

lebih kuat dan ini juga menjadikan otot perutnya menjadi

kuat, sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.

2. Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari

sangat membantu.

a. Dengan tidur telentang dan lengan disamping, tarik otot

perut selagi menarik nafas, tahan napas dalam, angkat

dagu ke dada, tahan mulai hitungan 1 sampai 5. Rileks

dan ulangi sebanyak 10 kali.

b. Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar

panggul lakukanlah latihan keagel.

3. Berdiri dengan tungkai diraptkan. Kencangkan otot bokong

dan pinggul, tahan sampai 5 hitungan. Relaksasi otot dan

ulangi latihan sebanyak 5 kali.


133

4. Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan.

Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.

Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan

setiap gerakan sebanyak 30 kali (Saleha 2009:75-76)

2.3.5.8 Keluarga berencana

a. Macam – macam kb untuk ibu menyusui

1) Pil mini

Hanya mengandung hormon progesteron. Berbeda

dengan pil KB kombinasiyang juga mengandung hormon

estrogen. Pil mini sebaiknya diminum pada jam yang

sama setiap hari. Mulai minum pil ini adalah ketika darah

nifas mulai berkurang, yaitu sekitar 3 sampai 6 minggu

pasca melahirkan. Pil mini baru efektif setelah diminum 3

kali berturut-turut atau 48 jam. Efektifitasnya mencegah

kehamilan sekitar 96 sampai 99%.

2) KB suntik 3 bulan

Adalah KB disuntikkan ke otot (bahu atau bokong) setiap

12 minggu atau 3 bulan. Sebaiknya suntikan pertama

setelah 6 minggu pasca melahirkan. Perlu diingat bahwa

KB ini baru efektif setelah tujuh hari, jadi pastikan dalam

tujuh hari pertama ibu tidak dalam masa subur, atau


134

gunakan kondom, atau hindari hubungan seks dahulu.

Keampuhannya mencegah kehamilan lebih dari 99%.

3) KB Implan atau susuk

Hanya mengandung hormon progesteron, ditanam di

bagian dalam lengan atas. Implan ini kemudian akan

melepaskan hormon sedikit demi sedikit selama kurang

lebih 3 tahun. Sebaiknya dipasang setelah 6 minggu

sehabis melahirkan.

4) AKDR (Akseptor Kb Dalam Rahim)

Adalah Alat dimasukkan ke dalam rahim, biasanya 6

minggu setelah melahirkan secara normal, atau 12

minggu setelah operasi sesar. Begitu dipasang, AKDR

langsung efektif mencegah kehamilan. Kemampuannya

ini bisa bertahan 5 sampai 10 tahun, namun dapat dilepas

sewaktu-waktu. Efektifitasnya di atas 99%.

5) Kondom

Cara penggunaannya lebih sederhana. Kemampuannya

mencegah kehamilan sekitar 95 sampai 97%. Idealnya

pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun

sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus

menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin

merencanakan keluarganya. Namun, petugas kesehatan


135

dapat membantu merencanakan keluarganya dengan

mengajarkan kepada mereka tentang mencegah

kehamilan yang tidak diinginkan.

Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi)

sebelum ia mendapatkan haid lagi selama meneteki

(amenore laktasi). Oleh karena itu, metode amenore

laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali

untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara

ini ialah 2% kehamilan. (saiffudin,2006)

2.3.6. Tujuan Asuhan Masa Nifas

a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologis

dimana dalam asuhan pada masa ini peranan keluarga sangat penting,

dengan pemberian nutrisi, dukungan psikologi maka kesehatan ibu dan

bayi selalu terjaga.

b) Melaksanakan skrining yang komprehensif (menyeluruh) dimana

bidan harus melakukan menejemen asuhan kebidanan. Pada ibu masa

nifas secara sistematis yaitu mulai pengejian data subjektif, objektif

maupun penunjang.
136

c) Setelah bidan melaksanakan pengkajian data maka bidan bidan harus

menganalisa data tersebut sehingga tujuan asuhan masa nifas ini dapat

mendeteksi masalah yang terjadi pada ibu dan bayi.

d) Mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun

bayinya, yakni setelah masalah ditemukan maka bidan dapat langsung

masuk kelangkah berikutnya sehingga tujuan diatas dapat

dilaksanakan.

e) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,

nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada

bayinya dan perawatan bayi sehat; memberikan pelayanan keluarga

berencana (Saifuddin, 2006).

2.3.7. Periode Nifas

2.3.3.1 Periode taking-in

a. Selama periode ini, yang terjadi 1 sampai 2 hari setelah

melahirkan, ibu biasanya bersifat pasif dan bergantung, energi

difokuskan pada perhatian ketubuhnya.

b. Ia akan mengulang kembali pengalaman pengulang persalinan

dan melahirkan. Nutrisi tambahan diperlukan karena selera

makan ibu biasanya meningkat.


137

2.3.3.2 Periode Taking hold

a. Selama periode ini, yang berlangsung 2 sampai 4 hari setelah

melahirkan. Ibu menaruhkan perhatian pada kemampuannya

untuk menjadi orang tua yang berhasil dan menerima

peningkatan tanggung jawab terhadap bayinya.

b. Ibu berusaha untuk terampil dalam perawatan pada bayi baru

lahir (seperti menyusui ASI, memandikan dan mengganti

popok).

2.3.3.3 Periode Letting go

a. Periode ini umumnya terjadi setelah ibu baru kembali

kerumah, ini melibatkan waktu reorganisasi keluarga.

b. Ibu menerima tanggung jawab untuk perawatan bayi baru

lahir.Yaitu masa transisi kritis bagi ibu, bayi, dan keluarganya

secara fisiologis, emosional dan sosial. Baik negara maju

maupun negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan

bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan

persalinan.

Tahapan masa nifas :

a. Puerperium dini: pemulihan di mana ibu telah di

perbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.

b. Puerperium intermedial : pemulihan menyeluruh alat –

alat genital yang lamanya 6 – 8 minggu.


138

c. Remote puerperium: waktu yang di perlukan untuk pulih

dan sehat terutama bila selama hamil atau bersalin

memiliki komplikasi (Rukiyah dkk, 2011).

2.3.8. Komplikasi Pada Ibu Nifas

1. Perdarahan Pervaginam

2. Infeksi Masa Nifas

3. Sakit kepala,nyeri Epigastrik,dan penglihatan Kabur

4. Pembengkakan wajah atau ekstremitas

5. Demam,muntah,dan nyeri berkemih

6. Payudara Bengkak

7. Kehilangan Nafsu makan yang lain

8. Trombus Vena

9. Perasaan Sedih Ibu Nifas

2.3.9. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas

Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status

ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani

masalah-masalah yang terjadi.


139

2.3.9.1 Kunjungan I

6-8 jam setelah persalinan bertujuan untuk :

a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

b. Mendeteksi dan merawat penyebab perdarahan, rujuk bila

perdarahan terajdi secara terus menerus.

c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas

karena atonia uteri.

d. Pemberian ASI awal.

e. Melakukan hubungan dengan baik antar ibu dan bayi baru.

f. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah

hipotermi.

2.3.9.2 Kunjungan II

6 hari setelah persalinan bertujuan untuk :

a. Memastikan involusi uterus berjalan normal. Uterus

berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada

perdarahan abnormal, dan tidak ada bau.

b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau

perdarahan abnormal.

c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan

istirahat.
140

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.

e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat

dan merawat bayi sehari-hari.

2.3.9.3 Kunjungan III

2 minggu setelah persalinan bertujuan untuk :

a. Memastikan involusi uterus berjalan normal. Uterus

berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada

perdarahan abnormal, dan tidak ada bau.

b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau

perdarahan abnormal.

c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan

istirahat.

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.

e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat

dan merawat bayi sehari-hari.

2.3.9.4 Kunjungan IV

6 minggu setelah persalinan bertujuan untuk :


141

a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ibu

atau bayi alami.

b. Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Saifuddin

,2009).
142

2.4 Asuhan Bayi Baru Lahir

2.4.1 Definisi Bayi Baru Lahir

Bayi Baru Lahir adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat

kelahiran 2500-3999 gram dengan masa kehamilan 37-42 minggu

(Sarwono, 2010 : 367).

Definisi bayi baru lahir berdasarkan klasifikasi berat badan :

a. Bayi dengan berat badan lahir amat sangat rendah yaitu bayi yang

lahir dengan berat badan < 1000 gr.

b. Bayi dengan berat badan lahir sangat rendah yaitu bayi yang lahir

dengan berat badan < 1500 gr.

c. Bayi dengan berat badan lahir cukup rendah yaitu bayi yang lahir

dengan berat badan 1500-2500 gr.( Muslihatun, 2010 ).

2.4.2 Nilai Apgar Score

Skor Apgar atau nilai Apgar sebuah metode sederhana untuk secara

cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah

kelahiran.Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru

lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai nol, satu,

dan dua. yang di nilai Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration.


143

Tabel 2.10

Apgar Score

SKOR
Komponen
0 1 2
Frekuensi Jantung Tidak ada <100 x/m >100x/m
Kemampuan Tidak ada Lambat/tidak Menangis kuat
Bernafas teratur
Tonus otot Lumpuh Ekstremitas agak Gerakan aktif
fleksi
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Gerakan
kuat/melawan
Warna kulit Biru/pucat Tubuh Seluruh tubuh
kemerahan/ekstre kemerahan
mitas biru
(Paula Kelly, M.D. 2010)

2.4.3. Penanganan Bayi Baru Lahir

2.4.2.1 Penanganan Bayi Baru Lahir

1. Membersihkan jalan nafas

Pertolongan untuk membersihkan jalan nafas dengan cara

sebagai berikut:

(a) Letakan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras

dan

hangat.

(b) Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu

sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak

menengkuk, posisi kepala harus lurus sedikit mengadah ke

belakang.
144

(c) Bersihkan hidung, rongga, mulut dan tenggorokan bayi

dengan jari tangan yang dibungkus dengan kasa steril.(

Wiknjosastro, 2008 )

2. Memotong dan merawat tali pusat

Pemotongan dan pengikatan tali pusat pada bayi baru lahir

normal dilakukan segera sekitar 2 menit setelah bayi lahir atau

setelah bidan menyuntikan oksitosin kepada ibu. Hal ini

dilakukan untuk member cukup waktu bagi tali tali pusat

mengalirkan darah kaya zat besi kepada bayi.

Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting

bayi dengan gunting steril. Sebelumnya tali pusat telah diklem

dengan baik, lalu tali pusat diikat dengan pengikat steril. Jangan

membungkus pusat atau perut serta jangan mengoleskan bahan

atau ramuan apapun atau kepuntung tali pusat, dan dianjurkan

untuk tidak memberikan apapun pada tali pusat bayi.(

Wiknjosastro, 2008 )

3. Mempertahankan suhu tubuh pada bayi

Bayi baru lahir dapat mengalami kehilangan panas tubuhnya

melalui proses konveksi, konduksi, evaporasi, dan radiasi.

Setelah bayi baru lahir, upayakan mencegahnya hilangnya panas

dari tubuh bayi, hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai

berikut :
145

(a) Mengeringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks.

Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh

lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan

verniks. Ganti handuk basah dengan kain/handuk kering.

(b) Letakkan bayi agar terjadi kontak kulit ibu kekulit bayi.

Letakkan bayi tengkurap pada dada ibu. Luruskan bahu

bayi sehingga bayi menempel kedada/perut ibu. Usahakan

kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi

sedikit lebih rendah dari puting payudara ibu. Biarkan bayi

tetap melakukan kontak kulit ke kulit dada ibu paling

sedikit 1 jam.( Prawirohardjo, 2010).

(c) Selimuti ibu dan bayi dan pakaikan topi dikepala bayi.

Bagian kepala bayi lebih luas permukaan yang relative luas

dan bayi akan cepat kehilangan panas jika bagin tersebut

tidak ditutup.

(d) Lakukan penimbangan setelah bayi mengenakan pakaian.

Tunda untuk memandikan bayi sehingga sedikitnya 6 jam

setelah lahir. Memandikan bayi setelah beberapa jam

pertama dapat mengarah pada kondisi hipotermia yang

dapat membahayakan keselamatan pada bayi.

(e) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. (Wiknjosastro,

2008 )
146

4. Memberi vitamin K1

Untuk mencegah terjadinya pendarahan, semua bayi baru lahir

normal dan cukup bulan perlu diberikan injeksi 1 mg secara IM

setelah 1 jam kontak kulit ke kulit dan bayi selesai menyusui. (

Wiknjosastro, 2008 )

5. Upaya profilaksis terhadap gangguan pada mata

Bayi biasa diberikan ASI dan “bertemu’’ dengan ibu dan

keluarganya sebelum mendapatkan tetes mata profilaktif (larutan

perak nitrat 1%) atau salep (salep tetraksilin 1% atau salep mata

eritromisin 0,5%) tetes mata atau salep antibiotic tersebut harus

diberikan pada satu jam pertama kelahirannya. (

Wiknjosastro,2008 )

6. Memulai pemberian ASI dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Prinsip menyusu adalah dimulai sedini mungkin dan secara

eksklusif. Segara setelah bayi baru lahir dan tali pusat diikat,

letakkan bayi tengkurap didada ibu dengan kulit bayi

bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarlah kontak kulit kekulit

ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi

dapat menyusui sendiri.

Langkah IMD antara lain :

1) Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya

segara setelah bayi lahir.


147

2) Bayi harus menggunakan naluri alamiahnya untuk

melakukan IMD dan ibu dapat mengenali bayinya siap

menyusu serta memberikan bantuan jika diperlukan.

Menunda prosedur lainnya seperti menimbang,

memberikan injeksi vitamin K, hingga dilakukan IMD.

(Muslihatun, 2010 )

7. Memulai pemberian ASI secara dini akan dapat :

(a) Merangsang produksi air susu ibu.

(b) Memperkuat repleks menghisap (repleks menghisap awal

pada bayi, paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah

lahir) memulai pemberian ASI secara dini akan memberikan

pengaruh yang positip bagi kesehatan bayinya.

(c) Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan

bayinya Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi

melalui kolostrum

(d) Merangsang kontraksi uterus.( Muslihatun, 2010 )

8. Pedoman umum untuk saat menyusui :

(a) Mulai menyusui segera setelah lahir dalam 30 menit

pertama.

(b) Jangan memberikan makanan atau minuman lain pada bayi

yang baru lahir kecuali ASI dan ada indikasi yang jelas (atas
148

alas an-alasan medis yang jelas), berikan ASI selama 6

bulan pertama dalam kehidupannya.

(c) Berikan ASI pada bayi sesuai kebutuhannnya baik siang

maupun malam (delapan kali atau lebih dalam 24 jam)

selama bayi menginginkannya. ( Wiknjosastro, 2008 ).

(d) Sebagian besar bayi tidak banyak mendapat nutrisi selama 3

atau 4 hari pertama, mereka akan secara progresif

kehilangan berat badan sampai mendapat ASI atau makanan

lain secara lancar. Disamping itu dalam tiga hari pertama

bayi mengeluarkan air kencing dan mekonium, sedang

cairan yang masuk belum cukup.

(e) Jika bayi normal mendapat makanan dengan benar, berat

lahir biasanya dicapai kembali pada akhir hari ke-10.

kemudian berat biasanya terus meningkat dengan kecepatan

sekitar 25 gr/hari selama beberapa bulan pertama.(

Wiknjosastro, 2008).

2.4.4. Pemantauan Bayi Baru Lahir

Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas

bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir

yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak

lanjut oleh petugas kesehatan yaitu :


149

a. Pada 2 jam pertama sesudah lahir

Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah

lahir meliputi :

(a) Kemampuan menghisap kuat atau lemah

(b) Bayi tampak aktif atau lunglai

(c) Bayi kemerahan atau biru

b. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya

Penolong persalinan melaku kan pemerisaan atau penilaian terhadap

ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut

seperti:

(a) Bayi kecil untuk masa kehamilan atau bayi kurang bulan

(b) Gangguan pernafasan

(c) Hipotermia

(d) Infeksi

(e) Cacat bawaan dan trauma lahir

c. Hal-hal yang perlu dipantau pada bayi baru lahir yaitu :

(a) Suhu badan dan lingkungan

(b) Tanda-tanda vital

(c) Berat badan

(d) Mandi dan perawatan kulit

(e) Pakaian

(f) Perawatan tali pusat.


150

2.4.5 Komplikasi Pada Bayi Baru Lahir

2.4.5.1 Prematuritas dan BBLR:BBLSR Bayi Berat Lahir Sangat

Rendah bila lahir berat lahir kurang dari 1.500 gram,BBLR Bayi

Berat Lahir Rendah bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram.

Sedangkan bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan kurang

dari usia kehamilan 37 minggu.Penyebab BBLR dan kelahiran

prematur sangatlah multifaktorial, antara lain asupan gizi ibu

sangat kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan

dalam kandungan (janin tumbuh lambat), faktor plasenta, infeksi,

kelainan rahim ibu, trauma, dan lainnya.

2.4.5.1 Asfiksia : Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak

dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.

Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia

ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam

kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-

akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi

tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan

pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya

dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul.


151

2.4.5.2 Kejang

Kejang, spasme, atau tidak sadar dapat di sebabkan oleh asfiksia

neonatorum, hipoglikemi atau merupakan tanda meningitis atau

masalah pada susunan syaraf. Diantara episode kejang yang

terjadi, bayi mungkin tidak sadar, letargi, rewel atau masih

normal. Spasme pada tetanus neonatorum hamper mirip dengan

kejang, tetapi kedua hal tersebut harus dibedakan karena

manajemen keduanya berbeda.

2.4.5.3 Ikterus

Ikterus adalah warna kuning yang ditemukan pada hari ke-3

sampai ke-14, tidak disertai tanda dan gejala ikterus patologis

(Muslihatun, 2010).

Ikterus adalah keadaan transisional normal yang mempengaruhi

hingga 50% bayi aterm yang mengalami peningkatan progresif

pada kadar bilirubin tak terkonjugasi dan ikterus pada hari ketiga

(Myles, 2009).

Ikterus adalah kadar bilirubin yang tak terkonjugasi pada minggu

pertama > 2 mg/dl (Kosim, 2008).

2.4.5.4 Hipotermi

Hipotermi pada bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh

36,5oC pengukuran dilakukan pada ketiak selama 3-5 menit.


152

Hipotermi disebabkan oleh :

2.4.5.4.1 Evaporasi, terjadi apabila bayi lahir tidak segera

dikeringkan.

2.4.5.4.2 Konduksi, terjadi apabila bayi diletakkan ditempat

dengan alas yang dingin, seperti pada waktu

menimbang bayi.

2.4.5.4.3 Radiasi, terjadi apabila bayi diletakkan diudara

lingkungan dingin.

2.4.5.4.4 Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan


ada aliran udara karena pintu, jendela terbuka.

2.4.5.5 Tetanus neonatorum

Tetanus NeonatorumAdalah penyakit yang

dideritaolehbayibarulahir (neonatus). Tetanus neonatorum

penyebabkejang yang seringdijumpaipada BBL yang bukan

karena trauma Kelahiran atauasfiksia, tetapi disebabkan

infeksiselama masa neonatal, yang antara lain terjadi akibat

pemotongan tali pusat atau perawatan tidak aseptic

(IlmuKesehatanAnak, 1985).

2.4.5.6 Sindroma gangguan pernafasan

Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dispnea,

frekuensi pernafasan yang lebih dari 60 kali per menit ,adanya


153

sianosis, adanya rintihan bayi saat ekspirasi serta adanya retraksi

suprasternal,interkostal,epigastrium saat inspirasi.Penyakit ini

merupakan penyakit membrane hialin,dimana terjadi perubahan

atau kurangnya komponen surfaktan pulmoner komponen ini

merupakan suatu zat aktif pada alveoli yang dapat mencegah

kolapnya paru.

2.4.6. Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir

Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir merupakan bagian yang tak

terpisahkan dari asuhan pada persalinan. Segera setelah lahir, bayi harus

mendapatkan perawatan yang tepat karena terjadi banyak perubahan

fisiologis, dimana bayi mengalami perpindahan dari ruangan yang hangat

dalam rahim ke dunia luar rahim yang dingin, yang menyebabkan stress

fisik ( Asrinah dkk, 2010 Hal:66).

Asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah

kelahiran. Sebagian besar bayi baru lahir akan menunjukkan usaha

pernafasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan spontan.

Menurut Saifuddin tahun 2009, asuhan normal yang dilakukan pada bayi

adalah :
154

1 Kebersihan

Bayi yang baru lahir tidak boleh dimandikan sepenuhnya sampai usia

bayi 6 jam.Setiap kali BAK dan BAB, bersihkan bagian perinealnya

dengan air serta keringkan dengan baik, kotoran bayi dapat

menyebabkan infeksi sehingga harus dibersihkan.

2 Menyusui

Menyusui harus dilakukan segera setelah kelahiran bayi, dalam keadaan

terjaga menyusui segera menaikkan oksitoksin, yang juga menaikan

involusi pada uterus, juga menaikkan ikatan dini antara ibu dan anak.

Bayi harus disusui saja sekurang-kurangnya 6 bulan pertama. Dan bayi

disusui sesuai tuntutan ( kapan saja ia lapar ) tanpa jadwal.

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi yang memberikan kalori d

gizi yang diperlukan bayi untuk 6 bulan pertama sehingga bayi

mendapatkan kenaikkan BB secara normal, dan memberikan

perlindungan dari infeksi, juga segar bersih dan siap diminum.

3 Tidur

Baringkan bayi kesamping atau terlentang (jangan memakai bantal).


155

Tabel 2.11

Pola Tidur Bayi dan Anak

Pola tidur bayi dan anak

1 minggu 16,5 jam

1 tahun 14 jam

2 tahun 13 jam

5 tahun 11 jam

9 tahun 10 jam

4 Ujung tali pusat

Sampai tali pusat kering dan lepas, di daerah ini dapat menjadi infeksi

sehingga harus dijaga agar bersih dan kering. Beritahu ibu untuk lapor

ke bidan bila tali pusat berbau ada kemerahan di sekitarnya atau bila

mengeluarkan cairan.

5 Imunisasi dasar pada bayi

Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau

meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit.

( Proverawati dkk, 2010 )

a. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) sekali untuk mencegah

penyakit Tuberkulosis. Diberikan segera setelah bayi lahir di tempat


156

pelayanan kesehatan atau mulai 1 ( satu ) bulan di Posyandu. (

Lisnawati , 2011 )

b. Imunisasi Hepatitis B sekali untuk mencegah penyakit Hepatitis B

yang ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan.

c. Imunisasi DPT-HB 3 ( tiga ) kali untuk mencegah penyakit Difteri,

Pertusis ( batuk rejan ), Tetanus dan Hepatitis B. Imunisasi ini

pertama kali diberikan saat bayi berusia 2 (dua) bulan. Imunisasi

berikutnya berjarak waktu 8 minggu. Pada saat ini pemberian

imunisasi DPT dan Hepatitis B dilakukan bersamaan dengan vaksin

DPT-HB.

d. Imunisasi polio untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit

polio. Imunisasi Polio diberikan 4 ( empat ) kali dengan jelang waktu

( jarak ) 4 minggu.

e. Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak. Imunisasi

campak diberikan saat bayi berumur 9 bulan.

6. Efek samping Imunisasi

Imunisasi kadang mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik

yang membuktikan vaksin betul-betul bekerja secara tepat. Efek samping

yang biasa terjadi adalah sebagai berikut:

a) BCG:setelah diberikan imunisasi BCG, reaksi yang timbul tidak

seperti pada imunisasi dengan vaksin lain, imunisasi BCG tidak

menyebabkan demam setelah 1-2 minggu diberikan imunisasi, akan


157

timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntik berubah menjadi

pustula, kemudian pecah menjadi luka, luka tidak perlu pengobatan

khusus, karena luka ini akan sembuh dengan sendirinya secara

spontan.

b) DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada sore hari setelah

imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2

hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di

tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu

mendapatkan pengobatan khusus, dan akan sembuh sendiri. Bila

gejala tersebut tidak timbul, tidak perlu diragukan bahwa imunisasi

tersebut tidak memberikan perlindungan, dan imunisasi tidak perlu

diulang.

c) Polio: Jarang timbuk efek samping.

d) Campak:menalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari

yang dapat terjadi 8 – 12 hari setelah vaksinasi.

e) Hepatitis B: reaksi local seperti rasa sakit kemerahan dan

pembengkakan disekitar tempat penyuntikan, reaksi yang terjadi

bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.( Proverawati, 2011

).Imunisasi HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah sampai bayi

berumur 7 hari (bila tidak diberikan pada saat lahir).(Kemenkes RI,

2010)
158

Tabel 2.12

Jadwal Imunisasi IDAI

Tabel 2.13

Jadwal Imunisasi KIA


159

7. Memulai pemberian ASI dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)

Prinsip menyusui adalah dimulai sedini mungkin dan secara

eksklusif. Segara setelah bayi baru lahir dan tali pusat diikat, letakkan

bayi tengkurap didada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke

kulit ibu. Biarlah kontak kulit kekulit ini berlangsung setidaknya 1 jam

atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusui sendiri.

Langkah IMD antara lain :

1) Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segara

setelah bayi lahir.

2) Bayi harus menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan IMD

dan ibu dapat mengenali bayinya siap menyusu serta memberikan

bantuan jika diperlukan.

Menunda prosedur lainnya seperti menimbang, memberikan injeksi

vitamin K, hingga dilakukan IMD.(Muslihatun, 2010 )

8. Memulai pemberian ASI secara dini akan dapat :

a) Merangsang produksi air susu ibu.

b) Memperkuat repleks menghisap (repleks menghisap awal pada

bayi, paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir)

memulai pemberian ASI secara dini akan memberikan pengaruh

yang positip bagi kesehatan bayinya.


160

c) Mempromosikan hubungan emosional antara ibu dan bayinya

Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum

d) Merangsang kontraksi uterus.( Muslihatun, 2010 )

9. Pedoman umum untuk saat menyusui :

a) Mulai menyusui segera setelah lahir dalam 30 menit pertama.

b) Jangan memberikan makanan atau minuman lain pada bayi yang

baru lahir kecuali ASI dan ada indikasi yang jelas (atas alas an-

alasan medis yang jelas), berikan ASI selama 6 bulan pertama

dalam kehidupannya.

c) Berikan ASI pada bayi sesuai kebutuhannnya baik siang maupun

malam (delapan kali atau lebih dalam 24 jam) selama bayi

menginginkannya. ( Wiknjosastro, 2008 ).

d) Sebagian besar bayi tidak banyak mendapat nutrisi selama 3 atau 4

hari pertama, mereka akan secara progresif kehilangan berat badan

sampai mendapat ASI atau makanan lain secara lancar. Disamping

itu dalam tiga hari pertama bayi mengeluarkan air kencing dan

mekonium, sedang cairan yang masuk belum cukup.

e) Jika bayi normal mendapat makanan dengan benar, berat lahir

biasanya dicapai kembali pada akhir hari ke-10. kemudian berat

biasanya terus meningkat dengan kecepatan sekitar 25 gr/hari

selama beberapa bulan pertama.( Wiknjosastro,2008).


161

2.5 Diare

2.2.1 Definisi

Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga

didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair

dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya.

2.2.2 Etiologi

Diare dapat disebabkan karena beberapa faktor, seperti infeksi, malabsobsi

makanan dan psikologi.

1. infeksi

a. enteral, yaitu infeksi yang terjadi dalam saluran pencernaan dan

merupakan penyebab utama terjadinya diare. Infeksi enteral meliputi:

- infeksi bakteri: Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella

campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya;

- Infeksi virus: enterovirus, seperti virus ECHO, coxsackie,

poliomyelitis, adenovirus, rotavirus, astrovirus, dan sebagainya.

- Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, dan

Strongylodies), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia

lamblia, dan Trichomonas hominis), serta jamur (Candida

albicans)
162

b. Parenteral, yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan,

misalnya otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis,

bronkopneimonia, ensefalitis, dan sebagainya.

2. Malabsorbsi

a. Karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa)

semua monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa)

pada anak dan bayi yang paling berbahaya adalah intoleransi laktosa.

b. Lemak

c. Protein

3. Makanan, misalnya makanan basi, beracun, dan alergi.

4. Psikologis, misalnya rasa takut atau cemas.

5. Lingkungan

2.2.3 Patogenesis

Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan terjadinya diare adlah sebagai

berikut.

1. Gangguan osmotik

Akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh tubuh akan

menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang
163

berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan isinya sehingga

timbul diare.

2. Gangguan sekrisi

Akibat rangsangan tertentu, misalnya toksin pada dinding usus yang akan

menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit yang berlebihan

kedalam rongga usus, sehingga akan terjadi peningkatan isi dari rongga

usus yang akan merangsang pengeluaran isi dari rongga usus dan akhirnya

timbullah diare.

3. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan kurangnya kesempatan bagi usus untuk

menyerap makanan yang masuk, sehingga akan timbul diare. Akan tetapi,

apabila terjadi keadaan sebalikanya yaitu penurunan dari peristaltik usu

maka akan dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri yang berlebihan di

dalam rongga usus sehingga akan menyebabkan diare juga.

2.2.4 Patogenesis Diare Akut

1. masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah

berhasil melewati rintangan asam lambung.

2. jasad renik tersebut akan berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus

halus.
164

3. Dari jasad renik tersebut akan keluar toksin (toksin diaregenik).

4. Toksin diaregenik akan menyebabkan hipersekresi yang selanjutnya

akan menimbulkan diare.

2.2.5 Penularan

Penularan terjadi karena mengkonsumsi makan yang terkontaminas

seperti: Tercemar dengan Salmonella, hal ini paling sering terjadi karena

daging sapi yang tidak dimasak dengan baik (terutama daging sapi giling)

dan juga susu mentah dan buah atau sayuran yang terkontaminasi dengan

kotoran binatang pemamah biak. Seperti halnya Shigella, penularan juga

terjadi secara langsung dari orang ke orang, dalam keluarga, pusat

penitipan anak dan asrama yatim piatu. Penularan juga dapat melalui air,

misalnya pernah dilaporkan adanya KLB sehabis berenang di sebuah danau

yang ramai dikunjungi orang dan KLB lainnya di sebabkan oleh karena

minum air PAM yang terkontaminasi dan tidak dilakukan klorinasi dengan

semestinya.
165

2.2.6 Tanda dan gejala

Berikut ini adalah tanda dan gejala pada anak yang mengalami diare.

1. Cengeng, rewel.

2. Gelisah

3. Suhu meningkat

4. Nafsu makan menurun

5. Feses cair dan berlendir, kadang juga disertai dengan ada darahnya.

Kelamaan, feses ini akan berwarna hijau dan asam.

6. Anus lecet

7. Dehidrasi, bial menjadi dehidrasi berat akan menjadi penurunan volume

dan tekana darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jangtung,

penurunan kesadaran, dan diakhiri dengan syok.

8. Berat badan menurun

9. Turgor kulit menurun

10. Mata dan ubun-ubun cekung

11. Selaput lendir dan mulut serta kulit menjadi kering.

2.2.7 Komplikasi

1. Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elekktrolit, yang dibagi menjadi:

a) Dehidrasi ringan, apabila terjadi kehilangan cairan <5% BB.


166

b) Dehidrasi sedang, apabila terjadi kehilangan cairan 5-10% BB.

2. Dehidrasi berat, apabila terjadi kehilangan cairan >10-15% BB.

3. Renjatan hipovolemik akibat menurunnya volume darah dan apabila

penurunan volume darah mencapai 15-25% BB maka akan menyebabkan

penurunan tekanan darah.

4. Hipokalemia dengan gejala yang muncul adalah meteorismus, hipotoni

otot, kelemhan, bradikardia, dan perubahan pada pemeriksaan EKG.

5. Hipoglikemia

6. Intoleransi laktosa sekunder sebagai akibat defisiensi enzim laktosa

karena kerusakan vili mukosa usus halus.

7. Kejang.

8. Malnutrisi energi protein karena selain diare dan muntah, biasanya

penderita mengalami kelaparan.

2.2.8 Penatalaksaan

Prinsip perawatan diare adalah sebgai berikut.

1. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumatan)

2. Diatetik (pemberian makanan)

3. Obat-obatan

a. Jumlah cairan yang diberikan adalah 100 ml/kgBB/hari sebanyak 1

kali setiap 2 jam, jika diare tanpa dehidrasi. Sebanyak 50% cairan ini

diberikan dalam 4 jam pertama dan sisanya adlibitum.


167

b. Sesuaikan dengan umur anak:

 <2 tahun diberikan ½ gelas

 2-6 tahun diberikan 1 gelas

 >6 tahun diberikan 400 cc (2 gelas)

c. Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka diberikan

cairan 25-100 ml/kg/BB dalam sehari atau setiap jam 2 kali.

d. Oralit diberikan sebanyak ± 100 ml/kgBB setiap 4-6 jam pada kasus

dehidrasi ringan sampai berat.

Beberapa cara untuk membuat cairan rumah tangga (cairan RT)

 Larutan gula garam (LGG): 1 sendoj teh gula pasir + ½ sendok teh garam

dapur halus + 1 gelas air masak atau air teh hangat.

 Air tajin (2 liter + 5 g garam)

a) Cara trasional

3 liter air + 100 g atau 6 sendok makan beras dimasak selama 45-60 menit.

b) Cara biasa

2 liter air + 100 g tepung beras + 5 g garam dimasak hingga mendidih.

4. Teruskan pemberian ASI karena bisa membantu meningkatkan daya

tahan tubuh anak.

Menurut Kemenkes RI 2011 (dalam Tami, 2011) prinsip tatalaksana diare pada

balita adalah Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung

oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi


168

bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi mempebaiki kondisi usus

serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak

kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun

program Lintas Diare yaitu :

1. Rehidrasi menggunakan oralit osmolalitas rendah

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

3. Teruskan pemberian ASI dan makanan

4. Antibiotik selektif

5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh.


169

2.6 Pendokumentasian (Varney dan SOAP)

Menurut Helen Varney, alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7

langkah. Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui

proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu:

1. Subyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data melalui

anamnesa sebagai langkah satu Varney.

2. Obyektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil

laboratorium dan hasil diagnostik lain yang di rumuskan dalam data fokus

untuk mendukung assessment sebagai dua langkah dua Varney.

3. Assesment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data

subtektif dan obyektif dalam satu identifikasi.

a. Diagnosa atau masalah

b. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial

c. Tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi atau kolaborasi dan

rujukan sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney

4. Planning

Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi berdasarkan assessment sebagai langkah 5, 6, dan 7

Varney.Beberapa alasan penggunaan SOAP dalam pendokumentasian:


170

a. Metode ini merupakan intisari dari proses pelaksanaan kebidanan

untuk bertujuan mengadakan pendokumentasian asuhan.

b. SOAP merupakan urutan yang dapat mendapat membantu bidan

dalam mengoraganisasi pikiran dan member asuhan yang

menyeluruh.

(Varney,2009).