Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan

suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat

kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan

bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. OIeh karena itu,

kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir harus ditangani oleh

petugas kesehatan yang berwenang demi kesehatan dan

keselamatan ibu dan bayi.

Setiap menit diseluruh dunia, 380 wanita mengalami

kehamilan, 190 wanita menghadapi kehamilan tidak diinginkan, 110

wanita mengalami komplikasi terkait kehamilan, 40 wanita

mengalami aborsi yang tidak aman dan 1 wanita meninggal.

Indikator yang umum di gunakan dalam kematian ibu adalah angka

kematian ibu ( AKI ). Secara global 80% kematian ibu tergolong

pada kematian ibu langsung. Pola penyebab langsung dimana-mana

sama, yaitu perdarahan ( 25%, biasanya perdarahan pasca

persalinan), sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%),


partus macet (8%), komplikasi aborsi tidak aman (13%), dan

sebab-sebab lain (8%). (Prawirohardjo, 2010).

Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode

neonatal merupakan periode yang paling kritis. Penelitian telah

menunjukan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam

periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang

baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan

menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat

seumur hidup, bahkan kematian. (Prawirohardjo, 2009 : 132).

AKI di Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan

Indonesia (SDKI) pada tahun 2010 masih tinggi jika dibandingkan

dengan negara ASEAN lainnya yaitu 226 per 100.000 kelahiran

hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) tercatat yaitu 35 per

1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu dan bayi karena

komplikasi obstetri dimana komplikasi ini tidak diduga sebelumnya.

(depkes 2010)

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat

tahun 2012 menunjukan bahwa AKI berjumlah 747 per 100.000

kelahiran hidup dan AKB berjumlah 355 per 1.000 kelahiran hidup.

(dinkes jabar 2012)


Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu pada tahun

2012, Jumlah Kematian Ibu berjumlah 44 kasus, adapun

penyebabnya yaitu Eklampsi 21 kasus, Dekom 7 kasus, perdarahan 5

kasus, Hipertensi 2 kasus, dan lain-lain 9 kasus. Sedangkan Jumlah

Kematian Bayi berjumlah 316 kasus, yang disebabkan oleh BBLR 109

kasus, asfiksia 73 kasus, tetanus neonatorum 2 kasus, infeksi 16

kasus, dan 116 kasus meninggal karena penyebab lainnya (Dinas

Kesehatan Indramayu, 2012).

Berdasarkan laporan KIA Puskesmas Krangkeng Kabupaten

Indramayu di tahun 2012, tidak terdapat kematian ibu sedangkan

jumlah kematian bayi sebanyak 7 kasus, dari jumlah kematian

tersebut terjadi pada usia bayi 0-28 hari sebanyak 4 kasus, pada

usia 1-12 bln sebanyak 1 kasus dan pada usia balita (1-5 tahun)

sebanyak 2 kasus yang disebabkan karena BBLR sebanyak 1 kasus,

diare sebanyak 1 kasus, kelainan saluran cerna sebanyak 1 kasus,

meningitis 1 kasus dan IUFD (intra uterin fetal death) 3 kasus.

(Puskesmas Krangkeng, 2012).

Di tahun 2013 tidak terdapat kematian ibu, sedankan jumlah

kematian bayi sebanyak 10 kasus, sebanyak 2 kasus yang

disebabkan karena BBLR, sebanyak 2 kasus yang disebabkan karena

IUFD (intra uterin fetal death), sebanyak 2 kasus yang disebabkan


karena kelainan kongenital, sebanyak 1 kasus yang disebabkan

karena asfiksia, sebanyak 1 kasus yang disebabkan karena

meningitis, sebanyak 1 kasus yang disebabkan karena diare, 1 kasus

yang disebabkan karena febris. (Puskesmas Krangkeng, 2013).

Sebenarnya tragedi kematian ibu dan bayi dapat dicegah

melalui kegiatan yang efektif, seperti pemeriksaan kehamilan yang

rutin dan berkualitas, kehadiran tenaga kesehatan yang terampil

pada saat persalinan serta pemberian gizi yang memadai pada ibu

hamil, menyusui dan balita. Dari berbagai perbaikan dilakukan

semaksimal mungkin dalam menurunkan AKI dan AKB dengan

meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan asuhan

kebidanan secara komprehensif yang berfokus pada asuhan sayang

ibu dan sayang bayi yang sesuai dengan standar pelayanan

kebidanan.

Berdasarkan dari uraian masalah di atas, penulis tertarik untuk

menyusun studi kasus dengan judul “Asuhan Kebidanan

Komprehensif pada Ny. S 20 Tahun, di Wilayah Kerja Puskesmas

Krangkeng Kabupaten Indramayu Tahun 2013”.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut “Bagaimana asuhan kebidanan komprehensif pada

Ny. S 20 tahun, di Wilayah Kerja Puskesmas Krangkeng Kabupaten

Indramayu tahun 2013?”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mampu memberikan Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny. S 20

tahun di wilayah kerja puskesmas Krangkeng kabupaten Indramayu

sesuai standar pelayanan kebidanan dengan pendekatan manajemen

kebidanan Varney dan didokumentasikan dengan metode SOAP.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melaksanakan asuhan kehamilan pada Ny. S 20

tahun di wlayah kerja Puskesmas Krangkeng Kabupaten Indramayu

sesuai dengan standar ANC.

b. Mampu melaksanakan asuhan persalinan pada Ny. S 20

tahun di wilayah kerja Puskesmas Krangkeng Kabupaten Indramayu

sesuai dengan standar APN.


c. Mampu melaksanakan asuhan nifas pada Ny. S 20 tahun

di wilayah kerja Puskesmas Krangkeng Kabupaten Indramayu sesuai

dengan standar asuhan nifas.

d. Mampu melaksanakan asuhan BBL pada bayi Ny. S di

wilayah kerja Puskesmas Krangkeng Kabupaten Indramayu sesuai

dengan standar asuhan BBL.

D. Ruang Lingkup

Asuhan kebidanan ini dilakukan untuk memberikan asuhan

kebidanan komprehensif pada Ny. S 20 tahun G1P0A0 dari umur

kehamilan 35 minggu, persalinan, nifas dan bayi baru lahir sampai 6

minggu yang dilakukan dengan sesuai standar asuhan kebidanan

akan dilaksanakan selama 3 bulan dimulai dari bulan September

sampai dengan bulan Desember tahun 2013, di wiliayah Kerja

Puskesmas Krangkeng Kabupaten Indramayu.

E. Manfaat Penulisan

1. Teoritis
Dapat digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan dan

keterampilan secara langsung dalam memberikan asuhan yang

komprehensif

2. Praktis

a. Bagi Instansi Pendidikan

Sebagai metode penilaian pada mahasiswa dalam

melaksanakan tugasnya dalam menyusun laporan studi kasus,

mendidik dan membimbing mahasiswa agar lebih terampil dalam

memberikan asuhan kebidanan.

b. Bagi Lahan Praktik

Sebagai bahan masukan agar dapat meningkatkan mutu

pelayanan Kebidanan melalui pendekatan manajemen asuhan

kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, serta BBL secara

komprehensif.

c. Bagi Klien

Mendapat pelayanan asuhan kebidanan secara komprehensif

yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan


https://icoel.wordpress.com/kebidanan/asuhan-kebidanan-komprehensif-

kehamilan-persalinan-nifas-dan-bayi-baru-lahir-pada-ny-y/

BAB I

PENDAHULUAN

1. A. Latar Belakang

Menurut definisi WHO, kematian ibu adalah kematian seorang wanita hamil atau selama 40 hari
sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan
yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan.

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara
berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita subur disebabkan yang
berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama
mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya.

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah kematian ibu yang diakibatkan oleh proses reproduksi
pada saat hamil, melahirkan dan masa nifas per 100.000 kelahiran hidup. AKI menurut Survey
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup dan
pada tahun 2005 menjadi 290,8 per 100.000 kelahiran hidup dan mengalami penurunan. AKI di
propinsi jawa Barat adalah 321,5/100.000 kelahiran hidup (Aziz, 2005). AKI di Jawa Barat
disebabkan oleh perdarahan melalui jalan lahir 49,65%, keracunan kehamilan 22,40%, sepsis
17,30% dan infeksi luka jalan lahir 15,86%.

Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2003 adalah 35/1000 kelahiran hidup dan tahun 2005
adalah 32/1000 kelahiran hidup. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi
dalam periode neonatal terjadi pada bulan-bulan pertama. Salah satu cara yang diharapkan dapat
menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatus adalah dengan pengenalan sedini mungkin
bayi-bayi dengan resiko tinggi.

Penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia yaitu, perdarahan, infeksi dan eklamsi
(Prawiroharjo, 2002). Penyebab kematian ibu yaitu, perdarahan, infeksi, preeklamsi, dan
anastesia. Sedangkan penyebab terjadinya kematian bayi adalah kasus asfiksia neonaturum,
infeksi promaturitas atau BBLR, trauma persalinan dan cacat bawaan (Widyastuti, 2003).

Kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama persalinan. Penyebab lainnya adalah
pengawasan antenatal yang masih kurang memadai sehingga penyulit kehamilan serta kehamilan
dengan resiko tinggi terlambat untuk diketahui, banyak dijumpai ibu dengan jarak kehamilan
yang terlalu pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda dan terlalu tua untuk hamil (Prawiroharjo,
2002).

Salah satu upaya untuk menurunkan AKI dan AKB adalah dengan meningkatkan pelayanan
kebidanan dan kesehatan ibu, remaja, prahamil, KB, serta pencegahan dan penanggulangan
penyakit menular seksual, yang semuanya terangkum dalam program PKRE (Pelayanan
Kesehatan Reproduksi Esensial), juga kita telah mempunyai intervensi strategis yaitu empat pilar
safe motherhood yang terdri dari Keluarga berencana, pelayanan antenatal terfokus, persalinan
yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetric esensial (Prawiroharjo 2002).

Untuk memperoleh gambaran yang sesuai dan jelas tentang pelayanan yang dilaksanakan,
penulis perlu untuk melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada seorang ibu
dimulai segera setelah ada kemungkinan kehamilan, bersalin hingga masa nifas serta pemberian
asuhan pada bayi baru lahir, sehingga pengalaman nyata dilapangan tentang praktek pelayanan
kebidanan komprehensif.

https://icoel.wordpress.com/kebidanan/asuhan-kebidanan-komprehensif-kehamilan-persalinan-
nifas-dan-bayi-baru-lahir-pada-ny-y/

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat
kesehatan perempuan.AKI juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan
pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang
akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. AKI
memang menjadi perhatian Dunia Internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau
bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Penurunan angka kematian
ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup masih terlalu lambat untuk mencapai target Tujuan
Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/ MDGs) pada 2015, menurut
WHO(2011)
Angka kematian ibu ( AKI) di Indonesia pada tahun 2012 adalah 359 per 100 ribu kelahiran
hidup dan angka kematian bayi (AKB) 32/1000 kelahiran hidup. (BKKBN,2012) , Sedangkan
tahun 2007 angka kematian ibu (AKI) di indonesia adalah 228 per 100 ribu kelahiran hidup ,
dan angka kematian bayi (AKB) adalah 32 per 1000 kelahiran ( SDKI,2007)
Jumlah AKI di kota Tangerang pada tahun 2008 mencapai 14 orang,di tahun 2011
adalah sebanyak 50 orang , Demikian juga tingkat AKB dari 89 kasus di tahun 2008,turun
menjadi 59 di tahun 2009 (Dinkes Kota Tangerang 2009).
AKI Dan AKB di provinsi banten pada tahun 2012 masih cukup tinggi, yaitu pada tahun 2012
mencapai 189/100.000 kelahiran hidup sedangkan AKB dari 26 menjadi 22,8/1000 kelahiran
hidup. (Dinkes Banten,2012).
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi
90 % pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan 28 %, eklamsia 24 %,
infeksi 11 %, komplikasi puerperium 8 %, partus macet 5 %, abortus 5 %, trauma obstetris 5 %,
emboli air ketuban 3 %. Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko
keterlambatan yaitu (Tiga Terlambat), diantaranya terlambat dalam
pemeriksaan kehamilan (terlambat mengambil keputusan), terlambat dalam memperoleh
pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat
dalam keadaan emergensi. Sedangkan penyebab kematian neonatal karena BBLR
(Bayi Berat Lahir Rendah) 29 %, asfiksia 27 %, masalah pemberian minum 10 %, tetanus 10 %,
gangguan hematologi 6 %, infeksi 5 % dan lain - lain 11 % (SKRT 2009).
Departemen Kesehatan dalam mewujudkan hal ini, salah satu upaya terobosan dan terbukti
mampu meningkatkan indikator persalinan oleh tenaga kesehatan dalam penurunan Angka
Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi adalah Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) yaitu penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, pendamping
persalinan yang ibu inginkan, tempat persalinan yang ibu inginkan, transportasi dan donor darah.
Perencanaan pemakaian alat/ obat kontrasepsi pasca persalinan. Ibu juga di’kdorong untuk
melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dilanjutkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Selain itu, pemerintah melalui Departemen Kesehatan juga menerapkan Strategi Making
Pregnancy Safer (MPS).
Tugas bidan dalam berperan menurunkan AKI adalah memberikan asuhan kebidanan kepada
ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir, bimbingan terhadap kelompok remaja masa
pra nikah, pertolongan persalinan, melakukan pergerakan dan pembinaan peran serta masyarakat
untuk mendukung upaya-upaya kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu, mahasiswi ikut
berperan serta dalam upaya menurunkan AKI dan AKB yaitu dengan memperdalam ilmu
pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu dan bayi, salah
satunya dengan magang/praktek di BPM atau kelinik guna mengasah dan melatih kemampuan
dalam memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas di masa ini dan masa yang akan datang
(Saffudin, 2010).
Dines Kesehatan Kota Tangerang Dalam upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan
Angka Kematian Bayi, peran serta bidan di masyarakat sangat diperlukan terutama dalam
menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta peningkatan taraf
hidup kesehatan masyarakat. Hal tersebut seiring dengan komitmen Pemerintah Kota Tangerang
dalam memberikan pelayanan di bidang kesehatan dan juga mendukung percepatan program
Millennium Development Goals (MDGs
Untuk meningkatkan kerja sama BPM dan institusi , Maka kebidanan bhakti asih mahasiswa
semeter 5 wajib mengikuti asuhan kebidanan komprehensif di BPM K S.ST selama 8 minggu
berikut dilaporkan hasil perktik asuhan kebidanan komprehensif pd Ny S G2P1A0 dari mulai
kehamilan , persalinan ,nifas ,Bayi baru lahir dan KB selama 2 minggu .

1.2 Tujuan Penulisan


1.1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan komprehensif mulai dari ibu hamil, bersalin, nifas,
bayi baru lahir dan KB secara komprehensif dengan menggunakan manajemen kebidanan varney
dan pendokumentasian dengan menggunakan metode SOAP pada Ny. S di BPM K, S.ST Periode
November 2013 – Febuari 2014 .
1.1.2 Tujuan Khusus

A. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi
baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
B. Mahasiswa mampu menganalisa diagnosa/ masalah potensial atau resiko yang terjadi mulai
dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
C. Mahasiswa mampu melakukan tindakan segera/ kolaborasi mulai dari kehamilan, persalinan,
nifas, bayi baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
D. Mahasiswa mampu melakukan perencanaan tindakan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas,
bayi baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
E. Mahasiswa mampu melakukan implementasi tindakan mulai dari kehamilan, persalinan,
nifas, bayi baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
F. Mahasiswa mampu mendokumentasikan tindakan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas,
bayi baru lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.ST
G. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir dan KB pada Ny. S di BPM K, S.SiT

1.3 Manfaat Penulisan


1.3.1 Bagi BPM
Hasil asuhan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk tempat lahan praktek
dalam meningkatkan pelayanan kebidanan dalam memberikan konseling mulai dari kehamilan,
persalinan, nifas, bayi baru lahir. Dengan pelayanan kebidanan sesuai standar – standar
kebidanan
1.3.2 Bagi Institusi
Hasil asuhan ini diharapan dapat sebagai evaluasi institusi untuk mengetahui kemampuan
mahasiwanya dalam melakukan asuhan secara komprehensif mulai dari ibu hamil, bersalin,
nifas, bayi baru lahir. Sebagai referensi perpustakaan untuk bahan bacaan yang dapat
dimanfaatkan sebagai perbandingan untuk angkatan selanjutnya
1.3.3 Bagi Penulis
Diharapkan dari hasil asuhan ini penulis dapat menerapkan asuhan kebidanan secara
komprehensif mulai dari ibu hami, bersalinn, nifas, bayi baru lahir sesuai dengan pembelajaran
yang telah ada.
1.3.4 Bagi Pasien
Dapat menambah ilmu pengetahuan ibu tentang kesehatan ibu selama hamil, persiapan
persalinan yang aman, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), ASI Ekskulsif, perawatan bayi, perawatan
masa nifas dan perencanaan penggunaan KB.
http://iyenktepenk.blogspot.com/2014/03/kti-kebidanan.html

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berdasarkan hasil penelitian bahwa diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar
500.000 jiwa per tahun dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa pertahun.
Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama dinegara berkembang sebesar 99%. WHO
memperkirakan jika ibu hanya melahirkan rata- rata bayi 3 bayi, maka kematian ibu dapat di
turunkan menjadi 300.000 jiwa dan kematian bayi sebesar 5.600.000 jiwa per tahun 1.
Menurut WHO di negara –negara miskin dan sedang berkembang, kematian maternal
merupakan masalah besar, namun sejumlah kematian yang cukup besar tidak diketahui. Di
negara – negara maju angka kematian maternal berkisar antara 5 – 10 per 100.000 kelahiran
hidup, sedangkan di negara –negara yang sedang berkembang berkisar antara 750 – 1000 per
100.000 kelahiran hidup. Tingkat kematian maternal di Indonesia di perkirakan sekitar 450 per
100.000 kelahiran hidup 2.
Indonesia, diantara Negara ASEAN, merupakan Negara dengan angka kamatian ibu dan
perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan masih
memerlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu. Dengan perkiraaan
persalinan di Indonesia setiap tahunnya sekitar 5.000.000 jiwa, dapat dijabarkan bahwa AKI ibu
sebesar 15.000-15.500 setiap tahunnya atau terjadi setiap 30-40 menit. AKB sebesar 40/10.000
menjadi sekitar 200.000 atau terjadi setiap 25-26 menit sekali 1.
Pembangunan kesehatan merupakan investasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan dalam tiga
dekade terakhir telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara bermakna.
Derajat kesehatan masyarakat telah menunjukkan perbaikan seperti dapat dilihat dari angka
kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan dan umur harapan hidup.
Angka kematian bayi menurun dari 46 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997 dan
menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Demikian juga angka
kematian ibu melahirkan menurun dari 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997
menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Sejalan dengan
penurunan angka kematian bayi, umur harapan hidup meningkat dari 68,6 tahun pada tahun 2004
menjadi 70,5 tahun pada tahun 2007. Prevalensi gizi kurang pada balita, menurun dari 25,8%
pada akhir tahun 2003 menjadi sebesar 18,4 % pada tahun 2007 3.
Dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI), pada tahun 2007 telah
dikembangkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di hampir
seluruh kabupaten/kota. Sejalan dengan itu kunjungan antenatal care (K-1) telah meningkat dari
88,9% pada tahun 2004, menjadi 92,06% pada tahun 2007. Kunjungan antenatal care (K-4) juga
meningkat dari 77% pada tahun 2004 menjadi 81,75% pada tahun 2007. Persalinan yang
ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 74,3% pada tahun 2004 menjadi 79,32% pada
tahun 2007. Sedangkan kunjungan neonatal (KN) meningkat dari 61% pada tahun 2004 menjadi
85,1% pada tahun 2007.
Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) 2008, penolong kelahiran
terakhir pada balita yang tertinggi adalah oleh bidan (53,96 %) diikuti oleh dukun (30,27%), dan
dokter (12,32%). Didaerah perkotaan sebagian besar penolong persalinan pertama pada ibu
bersaln adalah bidan (64,28%), kemudian oleh dokter (20,71%). Berbeda dengan pedesaan
dimana penolong kelahiran terakhir pada balita oleh dukun sebesar 42,72%, sedangkan
diperkotaan hanya sebesar 13,40% 4.
Berdasar hasil SUSENAS tahun 2008, persentase wanita berumur 10 tahun keatas yang
perah kawin dengan jumlah anak yang dilahirkan hidup terbesar adalah 0-2 orang (49,72%) dan
3-5 orang (35,83%). Proporsi wanita 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang
menggunakan/memakai alat KB tahun 2008 sebesar 56,62%, adapun cara KB yang sering
digunakan adalah suntik (58,70%), pil (23,90%), AKDR (7,10%), susuk 4,30%, dll 6,0%.
Dari hasil yang sudah kita ketahui diatas maka asuhan kehamilan sangat diperlukan
karena dalam masa ini janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling
mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan kesehatan,
pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pengawasan
antenatal sebanyak 4 kali.
Asuhan persalinan diberikan kepada klien saat persalinan dengan memperhatikan prinsip
asuhan sayang ibu dan sayang bayi yang merupakan bagian dari persalinan yang bersih dan
aman. Salah satu bentuk dari asuhan persalinan yaitu menghadirkan keluarga atau orang-orang
terdekat pasien untuk memberikan dukungan bagi ibu.
Asuhan masa nifas dibutuhkan dalamperiode ini karena merupakan masa kritis baik bagi
ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah
persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. 5.
Asuhan masa neonatus sangat diprioritaskan karena merupakan masa kritis dari kematian
bayi. Dua per tiga dari kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan. 60% kematian
bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan yang teratur pada
waktu nifas dan bayinya, dapat mencegah mortalitas dan morbiditas ibu dan bayinya.
Atas dasar itu maka upaya untuk meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal menjadi
sangat strategis bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Usaha tersebut
dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi baru lahir
Dari uraian di atas penulis sangat tertarik untuk melakukan Asuhan Kebidanan secara
Komprehensif pada Ny N di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur tahun 2011
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman secara nyata dalam melakukan asuhan
kebidanan secara komprehensif pada ibu hamil, bersalin, nifas, perawatan bayi baru lahir dan
KB.

1.2.2 Tujuan Khusus


1) Dapat melakukan pengkajian pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.
2) Dapat menegakkan diagnosa pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.
3) Dapat menentukan antisipasi masalah yang terjadi pada pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir,
ibu nifas dan KB.
4) Dapat menentukan perlu tidaknya tindakan segera yang harus dilakukan pada waktu kehamilan,
persalinan, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.
5) Dapat menentukan perencanaan pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.
6) Dapat melaksanakan perencanaan yang telah dibuat dalam tindakan nyata pada saat kehamilan,
persalinan, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.
7) Dapat melakukan evaluasi pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir, ibu nifas dan KB.

1.3 Ruang Lingkup


Dalam penulisan laporan studi kasus ini membahas Manajemen Kebidanan
Komprehensif pada Ny N mulai dari pengawasan kehamilan, persalinan, perawatan pada masa
nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelaksanaan program KB pada periode maret-mei 2011
di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi institusi
Sebagai bahan dokumentasi, bahan perbandingan dan evaluasi dalam pelaksanaan
program studi selanjutnya.
1.4.2 Manfaat bagi lahan praktek
Dapat memberikan pelayanan yang komprehensif sehingga komplikasi kehamilan,
persalinan, nifas dan bayi baru lahir dapat terdeteksi sedini mungkin.

1.4.3 Manfaat bagi pasien komprehensif


Dapat lebih mengetahui dan lebih paham akan status kesehatannnya dalam masa
kehamilan, persalinan, nifas maupun saat perawatan bayi baru lahir, dan pelaksanaan program
KB.
1.4.4 Manfaat bagi mahasiswa
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan komprehensif
pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan ibu nifas, dan pelaksanaan program KB

1.5 Sistematika Penulisan


LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari Latar belakang, Tujuan (Umum dan Khusus), Ruang Lingkup, Manfaat Penulisan,
dan Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
Berisi tentang teori yang mendukung Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Bayi Baru Lahir serta
Manajemen Asuhan Kebidanan.
BAB III TINJAUAN KASUS
Berisi tentang asuhan kebidanan pada Ibu Hamil, Ibu Bersalin, Ibu Nifas dan Bayi Baru Lahir
dengan menggunakan pendekatan manajemen asuhan kebidanan.
BAB IV PEMBAHASAN
Membahas tentang kesenjangan antara asuhan yang telah dilakukan dilahan praktek dengan teori
yang mendukung.

BAB V PENUTUP
Terdiri dari Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
http://woelandharie.blogspot.com/2011/02/bab-i-kti-kebidanan.html

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Negara miskin dan Negara berkembang, kematian wanita usia subur disebabkan oleh

masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan serta nifas masih tinggi. WHO

memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000 meninggal saat nifas.

Untuk mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDGs) yaitu Angka Kematian

Ibu (AKI) sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi

23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, perlu upaya percepatan yang lebih besar dan kerja

keras karena kondisi saat ini, AKI 307 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1.000

kelahiran hidup Menurut Menkes Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya

percepatan penurunan AKI dan AKB antara lain mulai tahun 2010 meluncurkan Bantuan

Operasional Kesehatan (BOK) ke Puskesmas di Kabupaten/Kota yang difokuskan pada kegiatan

preventif dan promotif dalam program Kesehatan Ibu dan Anak Kematian Ibu disebabkan oleh
perdarahan, tekanan darah tinggi (preeklampsi/eklampsi saat hamil persalinan dan nifas serta

persalinan macet dan komplikasi keguguran. Sedangkan penyebab langsung kematian bayi

adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan trauma persalinan (asfiksia). Penyebab tidak

langsung sebagai akar masalah kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi

masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya. Kondisi geografi serta

keadaan sarana pelayanan yang kurang siap ikut memperberat permasalahan ini. Beberapa hal

tersebut mengakibatkan kondisi 4 terlambat (terlambat mendeteksi atau

mendiagnosa, terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat pelayanan

dan terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat di tempat rujukan) dan 4 terlalu (terlalu

tua, terlalu muda, terlalu banyak, dan terlalu rapat jarak kelahiran).

Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, Kementrian

Kesehatan menetapkan lima strategi operasional yaitu penguatan Puskesmas dan jaringannya,

penguatan manajemen program dan system rujukannya, meningkatkan peran serta masyarakat,

kerjasama dan kemitraan, kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011 dalam bentuk Desa Siaga

penelitian dan pengembangan inovasi yang terkoordinir.

Laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu tahun 2010 dari 49 Puskesmas yang

ada di Indramayu menunjukan bahwa angka kejadian ibu yang meninggal sebanyak 56 kasus

dimana penyebabnya yaitu karena perdarahan 13 kasus, pre-eklampsi dan eklampsi sebanyak 18

kasus, infeksi 5 kasus, dan sebab lain 20 kasus. Sedangkan kematian bayi di Indramayu sebanyak

563 kasus, dari sejumlah kasus kematian bayi tersebut terdapat kematian bayi umur kurang dari 7

hari sebanyak 218 kasus, kematian bayi umur 7 – 29 hari sebanyak 52 kasus, kematian bayi umur

lebih dari 29 hari 91 kasus dan umur lebih dari 12 bulan sebanyak 26 kasus. Adapun penyebab

kematian bayi tersebut yaitu Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) 92 kasus, asfiksia 82 kasus,
hipotermi 2 kasus, infeksi 20 kasus, tetanus 6 kasus dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

23 kasus, ikterus 5 kasus, diare 23 kasus, Intra Uterin Fetal Death (IUFD) 114 kasus, bayi lahir

mati 62 kasus dan 134 kasus lainnya yaitu karena sebab lain. (Data Angka Kematian Maternal

dan Neonatal Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, 2010)

Di Puskesmas Kiajaran Wetan sendiri pada tahun 2010, tercatat bahwa ada 2 kasus

kematian ibu dimana penyebabnya yaitu dekom dan post SC dengan PEB. Sedangkan kematian

bayi ada 4 kasus, penyebab kematiannya yaitu seluruhnya asfiksia. (Laporan KIA Puskesmas

Kiajaran Wetan, 2010)

Dari data diatas penyebab kematian ibu atau bayi banyak disebabkan oleh trauma

persalinan. Oleh karena itu penulis ingin meningkatkan pelayanan dalam bidang kesehatan

berperilaku dengan APN/sesuai prosedur, sehingga angka kematian baik ibu dan bayi dapat

diturunkan.

Penyebab kematian maternal dapat dibagi dalam 2 golongan, yakni yang langsung

disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas, dan sebab-sebab yang

lain seperti penyakit jantung, kanker dan sebagainya. (Prawirohardjo, 2008 : 7)

Dari uraian di atas, banyaknya kematian ibu dan bayi yang disebabkan oleh beberapa

faktor selain penyakit yang meyertai kehamilan, persalinan juga ada yang disebabkan karena

faktor kelalian penolong atau bidan. Maka, penulis tertarik menyusun studi kasus dengan judul

“Asuhan Kebidanan secara Komprehensif pada Ny. K 23 tahun di wilayah kerja Puskesmas

Kiajaran Wetan Kabupaten Indramayu tahun 2011”.

http://restiindri.blogspot.com/2013/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu negara dapat dinilai baik
atau buruknya dilihat dari jumlah kematian maternal (maternal mortality). Angka kematian
maternal adalah jumlah kematian maternal diperhitungkan terhadap 1.000 atau 10.000
kelahiran hidup, kini di beberapa negara malahan terhadap 100.000 kelahiran hidup.
(Prawirohardjo, 2010:7). Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 37
juta kelahiran terjadi di kawasan Asia Tenggara setiap tahun, sementara total kematian ibu
dan bayi baru lahir di kawasan ini di perkirakan berturut-turut 170 ribu dan 1,3 juta
pertahun kematian ibu sebanyak 99% akibat masalah persalinan dan kelahiran, terjadi di
negara-negara berkembang. (Prawirohardjo, 2010:1). Tingginya AKI di Indonesia yaitu 390
per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 1994) tertinggi di ASEAN, menempatkan upaya
penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia,
seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia. Selain perdarahan dan
infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus
terinfeksi dan partus lama. Hanya 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang
memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis.
(Prawirohardjo, 2009:iii). Di Indonesia, berdasarkan data Millenium Development Goal’s
(MDG’S ) tahun 2010 terdapat 228 kematian ibu dalam 100.000 kelahiran dan 34 bayi
meninggal dalam setiap 1000 kelahiran. Untuk itu pada tahun 2015 pemerintah
menargetkan penurunan Angka Kematian Ibu. Di Indonesia turun menjadi 102/100.000
kelahiran hidup dan 23/100kelahiran hidup untuk kematian bayi.
(http://www.vhrmedia.com/new/berita_detail.php?id=823). Di Sumatra Barat, pada tahun
2010 Angka Kematian Ibu hamil dan melahirkan 209/100.000 kelahiran hidup dan Angka
Kematian Bayi 28/1.000 kelahiran hidup pemerintah Sumatra Barat 2015 menargetkan
angka kematian ibu turun menjadi 125/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian
25/1.000 kelahiran hidup.
(http://www.antarasumbar.com/berita/bukittinggi/d/3/260886/kematian-ibu-dan-bayi-saat-
melahirkan-nol.html). Walaupun dilihat dari angka Kabupaten Agam masih dibawah rata-
rata jumlah kematian. Disamping itu, jumlah kematian bayi dan anak balita juga masih
menjadi permasalahan utama dalam pembangunan kesehatan di kabupaten agam yaitu
sebesar 121 bayi (0-1 tahun)/15,8/1000 kelahiran hidup. Jumlah kematian anak balita
sebesar 22 orang (2,9/1.000 kehamilan), dimana kondisi ini mengalami peningkatan dari
tahun 2008. (http://dinkes.agamkab.go.id/up/download/27072012143853Profil-2010-
Narasi..pdf). Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan AKI
pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”.
Dewasa ini program Keluarga Berencana sebagai pilar pertama telah dianggap berhasil.
Namun, untuk mendukung upaya mempercepat penurunan AKI, diperlukan penajaman
sasaran agar kejadian “4 terlalu” dan kehamilan yang tak diinginkan dapat ditekan serendah
mungkin. Akses terhadap pelayanan Antenatal sebagai pilar kedua cukup baik, yaitu 87%
pada 1997, namun mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Persalinan yang aman sebagai
pilar ketiga yang dikategorikan sebagai pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pada
1997 mencapai 60%. Untuk mencapai AKI sekitar 200 per 100.000 kelahiran hidup
diperkirakan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sekitar 80%. Cakupan pelayanan
obstetri esensial sebagai pilar keempat masih sangat rendah, dan mutunya belum optimal.
(Prawirohardjo, 2009:7). Sebagian besar penyebab langsung kematian ibu, yaitu sebesar
90% terjadi saat persalinan dan segera setelah persalinan (SKRT, 2001). Penyebab langsung
antara lain perdarahan (28%), eklamsia (24%),dan infeksi (11%). Sedangkan berdasarkan
laporan rutin PWS KIA tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu adalah karena
perdarahan (39%), eklamsia (20%), infeksi (7%), dan lain-lain (33%). (Nugraheny,
2010:vii). Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menjadikan Ny.”E” Multigravida
sebagai klien untuk melaksanakan asuhan kebidanan sejak kehamilan Trimester III sampai
6 minggu post partum, dan Bayi Baru Lahir dengan menggunakan Manajemen Varney 7
langkah yang berjudul “Laporan Studi Kasus Menajemen Asuhan Kebidanan Komprehensif
pada Ny “E” Multigravida II, Dengan Kehamilan Trimester III Dengan Ibu Bersalin, Nifas
dan Bayi Baru Lahir Normal Di STIKes Ceria Buana Bukittinggi dan BPS Bidan “Y” Lasi
Mudo Kec. Canduang Kab. Agam 28 September 2013 sampai 30 November 2013.

http://dlcnet.blogspot.com/2014/01/manajemen-asuhan-kebidanan-komprehensif_19.html

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kematian dan kesakitan ibu hamil, bersalin dan nifas masih merupakan masalah

besar negara berkembang termasuk Indonesia. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian

wanita usia subur disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan,

dan nifas. WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya lebih dari 585.000

meninggal saat hamil atau bersalin (.www.depkes.go.id/2010)


WHO memperkirakan, sebanyak 37 juta kelahiran terjadi di kawasan Asia Tenggara

setiap tahun, sementara total kematian ibu dan bayi baru lahir di kawasan ini diperkirakan

AKI 170.000 dan AKB 1,3 juta per tahun. (http://nasional.kompas.com/2008)

Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) terjadi penurunan

Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002

menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.

(www.kesehatanibu.depkes.go.id/2011)

Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKB) tidak pernah mengalami penurunan yang

bermakna sejak tahun 2002 hingga 2007. Hal ini bisa dilihat dari hasil Survei Demografi

Kesehatan Indonesia (SDKI). Tahun 2002 adalah AKB 35/1.000 KH sedangkan hasil

(SDKI) 2007 AKB 34/1.000 KH. Sedangkan target pencapaian Millenium Development

Goals (MDGs), Depkes telah mematok target penurunan AKB di Indonesia dari rata-rata

36 meninggal per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada 2015.

(http://waspada.co.id/2010)

Menurut Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Dinas Kesehatan Jawa Barat, Niken

Budisastuti, jumlah ibu melahirkan pada 2010 di Jawa Barat sebanyak 685.274 orang.

Sebanyak 794 orang ibu diantaranya meninggal dunia baik saat kehamilan, melahirkan

maupun masa nifas. Sedangkan, kematian ibu saat melahirkan pada 2009 sebanyak 814

orang. (http://www.dinkes.dharmasrayakab.go.id/2011)

Angka kematian bayi (AKB) Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu tahun 2005

hingga tahun 2008 mengalami penurunan, pada tahun 2005 AKB Provinsi Jawa Barat
sebesar 40,87 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2008 sebesar 38,51 per 1000

kelahiran hidup. (Robby Alexander Sirait, FE UI, 2010)

Berdasarkan data Bidang Kesehatan Keluarga dari Dinkes Kota Bogor, kematian

bayi tahun 2009 ada 57 bayi dan hingga pertengahan tahun 2010 mencapai 36 bayi.

Sedangkan kematian ibu tahun 2009 ada 11 ibu yang meninggal saat melahirkan dan

hingga pertengahan tahun 2010 tercatat pula ada 6 ibu yang meninggal saat melahirkan.

(http://bataviase.co.id/2010)

Salah satu faktor yang mepengaruhi kematian ibu ataupun bayi ialah kemampuan dan

keterampilan penolong persalinan. Faktor lain adalah kurangnya pengetahuan dan adanya

faktor risiko 3 terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan di tingkat keluarga,

terlambat merujuk karena masalah transportasi dan geografi, dan terlambat menangani dan

4 terlalu yaitu melahirkan terlalu muda (dibawah 20 tahun), terlalu tua (diatas 35 tahun),

terlalu dekat (jarak melahirkan kurang dari 2 tahun) dan terlalu banyak (lebih dari 4 kali).

(http://www.rspg-cisarua.co.id/2011)

Masyarakat (ibu hamil) bersedia memeriksakan kesehatan di tenaga kesehatan

khususnya bidan untuk di daerah tetapi mereka cenderung memilih melahirkan di dukun di

karenakan oleh faktor ekonomi.

Berbagai usaha untuk menurunkan AKI telah dilakukan, di antaranya program Safe

Motherhood pada tahun 1988, Gerakan Sayang Ibu pada tahun 1996, dan Gerakan

Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Saver (MPS).

(http://myhealing.wordpress.com/2010)
Dalam upaya menjamin akses pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau

bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB, maka pada tahun 2011 Kementerian

Kesehatan meluncurkan upaya terobosan berupa Jaminan Persalinan (Jampersal).

Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk

mendapatkan jaminan persalinan, yang di dalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan,

pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir.

(http://www.kesehatanibu.depkes.go/2011)

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengkaji dan mengobservasi

ibu hamil secara komprehensif dari mulai kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, dan

keluarga berencana. Sehingga penulis mengambil kasus dengan judul “Asuhan

Kebidanan Komprehensif Pada Ny. S Di BPS Bidan. R AM.Keb Cikaret Kota Bogor

http://seohwanheefls.wordpress.com/2013/03/07/askeb-komprehensif-ku/