Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Palpebra

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan
sekresi kelenjarnya yang membentuk tear film di depan kornea serta menyebarkan tear film yang
telah diproduksi ini ke konjungtiva dan kornea. Palpebra merupakan alat penutup mata yang
berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan mata,
karena kelopak mata juga berfungsi untuk menyebarkan tear film ke konjungtiva dan kornea.1,2

Gambar 1 : Anatomi kelopak mata 3


Kelopak mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian
belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.1
Pada kelopak terdapat bagian-bagian:
1. Satu lapisan permukaan kulit. Tipis dan halus, dihubungkan oleh jaringan ikat yang
halus dengan otot yang ada dibawahnya, sehingga kulit dengan mudah dapat digerakkan
dari dasarnya. Dengan demikian, maka edema dan perdarahan mudah terkumpul disini,
sehingga menimbulkan pembengkakan palpebra.1
2. Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat, kelenjar zeis
pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus dan bermuara pada tepi kelopak
mata.1
3. Otot seperti:1,2
a. M. Orbicularis oculi yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan
terletak di bawah kulit kelopak. M. Orbicularis berfungsi menutup bola mata yang
dipersarafi N. facialis.
b. M. Rioland. Merupakan otot orbicularis oculi yang ada di tepi margo palpebra.
Bersamaan dengan M. Orbicularis oculi berfungsi untuk menutup mata.
c. M. Levator palpebrae berjalan kearah kelopak mata atas, berorigo pada annulus
foramen orbita dan berinsersi pada lempeng tarsus atas dengan sebagian menembus
M. Orbicularis Oculi menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit yang tempat
insersi M. Levator palpebrae terlihat sebagai sulcus palpebra. Otot ini dipersarafi
oleh n. III, yang berfungsi mengangkat kelopak mata atau membuka mata.
Kerusakan pada saraf ini atau perubahan - perubahan pada usia tua menyebabkan
jatuhnya kelopak mata (ptosis).
d. M. Mulleri, terletak di bawah tendon dari M. Levator palpebrae. Inervasinya oleh
saraf simpatis, fungsi M. Levator palbebrae dan M. Mulleri adalah untuk
mengangkat kelopak mata.
4. Di dalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di
dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
5. Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosus berasal dari rima orbita merupakan
pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
6. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh lingkaran
permukaan orbita. Tarsus terdiri atas jaringan ikat yang merupaka jaringan penyokong
kelopak dengan kelenjar Meibom (40 buah dikelopak atas dan 20 buah di kelopak
bawah).
7. Pembuluh darah yang memperdarainya adalah a. palpebrae.
8. Persarafan sensorik kelopaka matas atas didapatkan dari ramus frontal n.V, sedangkan
kelopaka bawah oleh cabang ke II saraf ke V.
Konjungtiva tarsal yang terletak dibelakang kelopak hanya dapat dilihat dengan melakukan
eversi kelopak. Konjungtiva tarsl melalui forniks menutupi bulbus okuli. Konjungtiva merupaka
membrane mukosa yang mempunyai sel goblet yang menghasilkan musin.4,5

2.2. Histologi dan Fisiologi Palpebra


Bola mata terletak di dalam tulang orbita dan terbuka ke sebelah anterior, ditutup oleh
kelopak mata bagian atas dan bawah, jika keduanya merapat bertemu pada fissura palpebra.
Palpebra menutup permukaan anterior kornea dan melipat pada bagian tepinya yang kemudian
melapisi permukaan dalam palpebra. Lipatan di superior dan inferior disebut fornix konjungtiva.
Ketika kelopak mata menutup terbentuk sakus konjungtiva, merupakan ruang sebelah anterior
mata dan terisi sedikit cairan.6
Tiap kelopak mata terdiri atas lempeng jaringan ikat dan otot skelet di tengah sebagai
penyokong, disebelah luar dilapisi oleh kulit dan disebelah dalam dilapisi oleh membran mukosa
(konjungtiva palpebra). Kulit disini tipis mempunyai rambut halus, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea dan dermis yang mengadung banyak serat elastin yang halus. Dermis sedikit menebal di
tepi kelopak mata dan mengandung tiga atau empat deretan rambut-rambut yang kaku disebut
bulu mata, folikelnya terdapat sampai dermis. Bulu mata mengalami pergantian setiap 100 – 150
hari. Terdapat kelenjar sebasea kecil berhubungan dengan bulu mata, sedangkan M. Arektor pili
tidak ada.7
Di bawah kulit terdapat lapisan otot skelet M. Orbicularis oculi (bagian terbesar) dan lebih
ke dalam lagi terdapat lapisan jaringan ikat (fasia palpebra) yang merupakan lanjutan tendo M.
Levator paplebrae. Juga terdapat lapisan otot polos yang tipis di tepi atas palpebra superior yaitu
M. Tarsalis superior Müller, melekat pada tepi tarsus. Di belakang folikel bulu mata terdapat M.
Siliaris Riolani (muskular skelet).7
Sebelah belakang lapisan otot terdapat lapisan fibrosa yang tipis di bagian perifer disebut
septum orbital dan lempeng tarsus. Tarsus merupakan lempeng jaringan ikat yang padat
melengkung mengikuti bentuk bola mata, berbentuk seperti huruf D yang bagian horizontalnya
sesuai dengan tepi palpebra. Tarsus pada palpebra superior lebarnya 10 -12 mm, sedangkan
tarsus pada palpebra inferior lebarnya 5 mm. Pada kedua tarsus ini terbenam sebaris kelenjar
sebasea yang sangat besar yaitu kelenjar tarsalis Meibom. Permukaan posterior tarsus menjadi
satu dengan konjungtiva palpebra. Bentuk palpebra dipertahankan oleh tarsus ini.6
Epitel konjungtiva berlapis silindris dengan sel – sel goblet, ketebalannya bervariasi
tergantung pada letaknya. Konjungtiva bulbi di tepi kornea, epitelnya menjadi berlapis gepeng
identik dengan epitel kornea. Pada fornix konjungtiva epitelnya lebih tebal.6
Gambar 2 : Histologi palpebra2
M. Orbicularis oculi jalannya melingkar, mendapat persarafan dari N. VII dan berfungsi
untuk menutup kelopak mata. M. Levator palpebra dipersarafi oleh N. III melekat pada tarsus
dan kulit, berfungsi untuk mengangkat palpebra superior. M. Tarsalis superior Müller dipersarafi
oleh saraf simpatis.6
Ada 3 jenis kelenjar pada palpebra, yaitu Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea yang
panjang dalam lempeng tarsus. Kelenjar ini tidak berhubungan dengan folikel rambut. Pada
palpebra superior ada sekitar 25 dan pada palpebra inferior ada sekitar 20, tampak sebagai garis
vertikal warna kuning di sebelah dalam konjungtiva palpebra. Saluran keluar kelenjar Meibom
bermuara ke tepi palpebra, merupakan satu deretan pada peralihan antara kulit dan konjungtiva.
Ke dalam saluran utama ini bermuara beberapa saluran yang pendek dari alveoli kelenjar
sebasea. Kelenjar Meibom menghasilkan sebum yang membentuk apisan berminyak pada
permukaan air mata, berfungsi untuk mencegah penguapan air mata.6
Kelenjar Moll merupakan kelenjar apokrin tak bercabang, terletak di antara dan di
belakang folikel – folikel bulu mata. Pars terminalis kelenjar Moll tidak berkelok-kelok dan
saluran keluarnya bermuara ke folikel rambut. Fungsi kelenjar ini tidak diketahui.6
Kelenjar Zeiss lebih kecil, merupakan modifikasi kelenjar sebasea dan berhubungan
dengan folikel rambut mata.7

2.3. Definisi Blefaritis


Infeksi kelopak atau blefaritis adalah radang yang sering terjadi pada kelopak mata
(palpebra) baik itu letaknya tepat di kelopak ataupun pada tepi kelopak. Blefaritis dapat
disebabkan oleh infeksi ataupun alergi yang biasanya berjalan kronis atau menahun. Blefaritis
alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif, dan bahkan bahan kosmetik,
sedangkan Blefaritis infeksi bisa disebabkan oleh kuman streptococcus alfa atau beta,
pneumococcus, pseudomonas, demodex folliculorum dan staphylococcus (melalui demodex
folliculorum sebagai vektor).1

Gambar 3 : Radang pada kelopak mata (blefaritis)8

2.4. Epidemiologi Blefaritis

Blefaritis adalah gangguan mata yang umum di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.
Hubungan yang tepat antara blefaritis dan kematian tidak diketahui, tetapi penyakit dengan
angka kematian yang dikenal, seperti lupus eritematosus sistemik, mungkin terdapat blefaritis
sebagai bagian dari gejala yang ditemukan. Morbiditas termasuk kehilangan fungsi visual,
kesejahteraan, dan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Proses
penyakit dapat mengakibatkan kerusakan pada pelupuk mata dengan trichiasis, entropion
notching, dan ectropion. Kerusakan kornea dapat mengakibatkan peradangan, jaringan parut,
hilangnya kehalusan permukaan, dan kehilangan kejelasan penglihatan. Jika peradangan yang
parah berkembang, perforasi kornea dapat terjadi. Tidak ada studi yang diketahui menunjukkan
perbedaan ras dalam kejadian blefaritis. Rosacea mungkin lebih umum di orang berkulit putih,
meskipun temuan ini mungkin hanya karena lebih mudah dan sering didiagnosis pada ras ini.8
Blefaritis biasanya dilaporkan sekitar 5% dari keseluruhan penyakit mata yang ada pada
rumah sakit (sekitar 2-5% penyakit blefaritis ini dilaporkan sebagai penyakit penyerta pada
penyakit mata). Blefaritis lebih sering muncul pada usia tua tapi dapat terjadi pada semua umur.9
Belum ditemukan penelitian yang dirancang untuk mengetahui perbedaan dalam insiden
dan klinis blefaritis antara jenis kelamin. Blefaritis seboroik lebih sering terjadi pada kelompok
usia yang lebih tua dengan usia rata-rata adalah 50 tahun.8 Akan tetapi apabila dibandingkan
dengan bentuk lain, blefaritis staphylococcal ditemukan pada usia lebih muda (42 tahun) dan
sebagian besar adalah wanita (80%).8

2.5. Etiologi Blefaritis

Blefaritis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, alergi, kondisi lingkungan, atau
mungkin terkait dengan penyakit sistemik:1
a. Blefaritis inflamasi terjadi akibat peningkatan sel radang kulit di sekitar kelopak. Infeksi
biasanya disebabkan oleh kuman Blefaritis infeksi bisa disebabkan oleh kuman
streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, pseudomonas, demodex folliculorum dan
staphylococcus (melalui demodex folliculorum sebagai vektor).
b. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif, dan bahkan bahan
kosmetik, atau dengan banyak obat, baik mata atau sistemik. Pada banyak orang juga dapat
disebabkan oleh karena paparan hewan seperti anjing atau kucing.
c. Bentuk ulseratif (blefaritis menular) sering ditandai dengan adanya sekret kuning atau
kehijauan.
d. Blefaritis dapat disebabkan oleh kondisi medis sistemik atau kanker kulit dari berbagai jenis.
Blefaritis anterior biasanya disebabkan oleh bakteri (stafilokokus blefaritis) atau ketombe
pada kulit kepala dan alis (blefaritis seboroik). Hal ini juga dapat terjadi karena kombinasi faktor,
atau mungkin akibat alergi atau kutu dari bulu mata. Blefaritis posterior dapat disebabkan oleh
produksi minyak tidak teratur oleh kelenjar pada kelopak mata (meibomian blefaritis) yang
menciptakan lingkungan yang menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri. Hal ini juga dapat
berkembang sebagai akibat dari kondisi kulit lainnya seperti jerawat rosacea dan ketombe kulit
kepala.8
Blefaritis melibatkan tepi kelopak mata, di mana bulu mata tumbuh dan pintu dari
kelenjar minyak kecil dekat pangkal bulu mata berada. Mungkin ada keterlibatan tepi luar dari
tepi kelopak mata yang berdekatan dengan kulit atau dan tepi bagian dalam kelopak mata yang
bersentuhan dengan bola mata. Perubahan pada kulit kelopak mata atau permukaan mata itu
sendiri biasanya bisa menjadi penyebab sekunder yang mendasari terjadinya kelainan pada
kelopak mata.
Penyebab kebanyakan kasus blefaritis adalah kerusakan kelenjar minyak di kelopak. Ada
sekitar 40 kelenjar ini di setiap kelopak mata atas dan bawah. Ketika kelenjar minyak
memproduksi terlalu banyak, terlalu sedikit, atau salah jenis minyak, tepi kelopak mata dapat
menjadi meradang, iritasi, dan gatal.9

2.6. Patofisiologi Blefaritis

Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata karena adanya
pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan
lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Hal ini
mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan di sekitar kelopak mata,
mengakibatkan kerusakan sistem imun atau terjadi kerusakan yang disebabkan oleh produksi
toksin bakteri, sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat diperberat
dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.10
Blefaritis anterior mempengaruhi daerah sekitar dasar dari bulu mata dan mungkin
disebabkan infeksi stafilokokus atau seboroik. Yang pertama dianggap hasil dari respon mediasi
sel abnormal pada komponen dinding sel S. Aureus yang mungkin juga bertanggung jawab untuk
mata merah dan infiltrat kornea perifer yang ditemukan pada beberapa pasien. Blefaritis seboroik
sering dikaitkan dengan dermatitis seboroik umum yang mungkin melibatkan kulit kepala,
lipatan nasolabial, belakang telinga, dan sternum. Karena hubungan erat antara kelopak dan
permukaan okular, blefaritis kronis dapat menyebabkan perubahan inflamasi dan mekanik
sekunder di konjungtiva dan kornea. Sedangkan blefaritis posterior disebabkan oleh disfungsi
kelenjar meibomian dan perubahan sekresi kelenjar meibomian. Lipase bakteri dapat
mengakibatkan pembentukan asam lemak bebas. Hal ini meningkatkan titik leleh dari meibum
yang menghambat ekspresi dari kelenjar, sehingga berkontribusi terhadap iritasi permukaan mata
dan mungkin memungkinkan pertumbuhan S. Aureus. Hilangnya fosfolipid dari tear film yang
bertindak sebagai surfaktan mengakibatkan meningkatnya penguapan air mata dan osmolaritas,
juga ketidakstabilan tear film.10
Tiga mekanisme patofisiologi blefaritis anterior yang telah diusulkan:10
a. Infeksi bakteri langsung
b. Respons melawan toksin bakteri
c. Delayed hypersensitivity reaction terhadap antigen bakteri
Patofisiologi blefaritis posterior melibatkan perubahan struktural dan disfungsi sekresi
dari kelenjar meibomian. Kelenjar Meibom mengeluarkan meibum, lapisan lipid eksternal dari
tear film, yang bertanggung jawab untuk mengurangi penguapan tear film dan mencegah
kontaminasi. Pada perubahan struktural contoh kegagalan kelenjar di blepharitis posterior telah
ditunjukkan dengan meibography, selain itu, kelenjar epitel dari hewan model penyakit kelenjar
meibomian menunjukkan hiperkeratinisasi yang dapat menghalangi kelenjar atau menyebabkan
deskuamasi sel epitel ke dalam lumen, duktus kelenjar sehingga menyebabkan konstriksi
kelenjar. Hiperkeratinisasi dapat mengubah diferensiasi sel asinar dan karenanya mengganggu
fungsi kelenjar. Disfungsi sekretorik contohnya dalam blepharitis posterior, terjadi perubahan
komposisi meibum di mana perubahan rasio asam lemak bebas untuk ester kolesterol telah
terbukti. Hasil sekresi yang berubah ini bisa memiliki titik leleh yang lebih tinggi dari pada yang
tampak di kelopak mata sehingga menyebabkan menutupnya muara kelenjar.10

2.7. Klasifikasi dan Gambaran Klinis Blefaritis

Berdasarkan letaknya, blefaritis dibagi menjadi:

a. Blefaritis Anterior: blefaritis yang terjadi di kelopak mata bagian luar, tempat dimana
bulu mata tertanam. Blefaritis anterior biasanya disebabkanoleh infeksi bakteri
(stafilokokus blefaritis) atau ketombe di kepala danalis mata (blefaritis sebore). Walaupun
jarang, dapat juga disebabkan karena alergi.2

Gambar 4 : Blefaritis Anterior 11


b. Blefaritis Posterior: blefaritis yang terjadi di kelopak mata bagian dalam, bagian yang
kontak langsung dengan bola mata. Blefaritis posterior dapat disebabkan karena produksi
minyak oleh kelenjar di kelopak mata yang berlebihan (blefaritis meibom) yang akan
mengakibatkan terbentuknya lingkungan yang diperlukan bakteri untuk bertumbuh.
Selain itu, dapat pula terjadi karena kelainan kulit yang lain seperti jerawat atau
ketombe.2

Gambar 5 : Blefaritis Posterior11


Klasifikasi berdasarkan penyebabnya :
A. Blefaritis bakterial
Infeksi bakteri pada kelopak dapat ringan sampai dengan berat. Diduga sebagian
besar infeksi kulit superfisial kelopak diakibatkan streptococcus. Bentuk infeksi kelopak
dikenal sebagai folikulitis, impetigo, dermatitis eksematoid. Pengobatan pada infeksi
ringan ialah dengan memberikan antibiotik lokal dan kompres basah dengan asam borat.
Pada blefaritis sering diperlukan pemakaian kompres hangat. Infeksi yang berat perlu
diberikan antibiotik sistemik.1
a. Blefaritis superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka pengobatan yang
terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisoksazol. Sebelum
pemberian antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun maka
dilakukan penekanan manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar Meibom
(Meibormianitis), yang biasanya menyertainya.1
Blefaritis stafilokokal ditandai dengan adanya sisik, krusta dan eritema pada tepi kelopak
mata dan collarette formation pada dasar bulu mata. Infeksi kronis dapat disertai dengan
eksasebasi akut yang mengarah pada terjadinya blefaritis ulseratif. Dapat juga terjadi hilangnya
bulu mata, keterlibatan kornea termasuk erosi epitelial, neovaskularisai dan infiltrat pada tepi
kelopak.1
b. Blefaritis Sebore
Blefaritis sebore merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya. Biasanya
terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 tahun), dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan.1
Gejalanya adalah sekret yang keluar dari kelenjar meibom, air mata berbusa pada kantus
lateral, hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat terbentuk kalazion,
hordeolum, madarosis, poliosis dan jaringan keropeng.1
Pasien dengan blefaritis sebore mempunyai sisik berminyak pada kelopak mata depan,
dan sering di antara mereka juga menderita dermatitis seboroik pada alis dan kulit kepalanya. 11
The American Academy of Dermatology mencatat bahwa penyebab kondisi ini belum dipahami
dengan baik. Tapi dermatitis sebore terkadang muncul pada orang dengan sistem kekebalan yang
lemah. Jamur atau ragi jenis tertentu yang memakan minyak (lipid) di kulit juga dapat
menyebabkan dermatitis seboroik, dengan blefaritis menyertainya.12

Gambar 6 : Blefaritis sebore11


Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan dan membersihkan kelopak dari
kotoran. Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi hangat. Dapat dilakukan pembersihan dengan
nitras argenti 1%. Salep sulfonamid berguna pada aksi keratolitiknya.1
Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan dibersihkan dengan
shampo bayi.3 Pada blefaritis sebore diberikan antibiotik lokal dan sistemik seperti tetrasiklin
oral 4 kali 250 mg. Penyulit yang dapat timbul berupa flikten, keratitis marginal, tukak kornea,
vaskularisasi, hordeolum dan madarosis.1
c. Blefaritis Skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya skuama atau krusta pada
pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan
peradangan tepi kelopak terutama yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata dan sering
terdapat pada orang yang berambut minyak. Blefaritis ini berjalan bersama dermatitis seboroik.3
Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik ataupun oleh jamur.
Pasien dengan blefaritis skuamosa akan merasa panas dan gatal. Terdapat sisik berwarna
halus–halus dan penebalan margo palpebra disertai dengan madarosis. Sisik ini mudah dikupas
dari dasarnya tanpa mengakibatkan perdarahan.3

Gambar 7 : Squamous Blepharitis5


Pengobatannya ialah dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep
mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien.1
Penyulit yang dapat terjadi antara lain: keratitis, konjungtivitis.1
d. Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak akibat infeksi
staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna kekunung-kuningan yang
bila diangkat akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah di sekitar bulu mata. Pada
blefaritis ulseratif skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila diangkat akan luka
dengan disertai perdarahan. Penyakit bersifat sangat infeksius. Ulserasi berjalan lebih lanjut dan
lebih dalam dan merusak folikel rambut sehingga mengakibatkan rontok (madarosis).1
Gambar 8 : Ulcerative Blepharitis5
Pengobatan dengan antibiotik dan higiene yang baik. Pengobatan pada blefaritis ulseratif
dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Biasanya disebabkan stafilokok maka
diberi obat staphylococcus. Apabila ulseratif luas pengobatan harus ditambah antibiotik sistemik
dan diberi roboransia.1
Penyulit adalah madarosis akibat ulserasi berjalan lanjut yang merusak folikel rambut,
trikiasis, keratitis superfisial, keratitis pungtata, hordeolum dan kalazion. Bila ulkus kelopak ini
sembuh maka akan terjadi tarikan jaringan parut yang juga dapat berakibat trikiasis.1
e. Blefaritis Angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi pada tepi kelopak disudut kelopak mata atau
kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak mata (kantus eksternus dan internus)
sehingga dapat mengakibatkan gangguan padafungsi punctum lakrimal. Blefaritis angularis
disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Moraxella lacunata.1,11
Seringkali gejala yang muncul adalah kemerahan pada salah satu tepi kelopak
mata, bersisik, maserasi dan kulit pecah-pecah di kantus lateral dan medial, juga dapat terjadi
konjungtivitis folikuler dan papil. Biasanya kelainan ini bersifat rekuren.3

Gambar 9 : Blefaritis angularis11


Blefaritis angularis diobati dengan sulfa (kloramfenikol, eritromisin), tetrasiklin dan
sengsulfat. Penyulit terjadi pada punctum lakrimal bagian medial sudutmata yang akan
menyumbat duktus lakrimal.1,9
f. Meibomianitis
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang akan mengakibatkan tanda peradangan
lokal pada kelenjar tersebut.1

Gambar 10 : Meibomianitis11
Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat, penekanan dan pengeluaran
nanah dari dalam berulang kali disertai antibiotik lokal.1,2
g. Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Biasanya disebabkan
oleh infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea kelopak. Biasanya dapat sembuh sendiri atau
hanya dengan pemberian kompres hangat.1
Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Hordeolum eksternum merupakan
infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom
yang terletak di dalam tarsus. Hordeolum merupakan suatu abses di kelenjar tersebut.1
Gejalanya berupa kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah, dan
nyeri bila ditekan.1
Hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak
dan nanah dapat keluar dari pangkal rambut atau bulu mata. Hordeolum internum memberikan
penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih
besar dibanding hordeolum eksternum.1
Gambar 11 : Hordeolum Eksternum5

Gambar 12 : Hordeolum Internum5

Adanya pseudoptosis atau ptosis terjadi akibat bertambah beratnya kelopak sehingga
sukar diangkat. Pada pasien dengan hordeolum kelenjar preurikel biasanya turut membesar.1
Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat diberikan kompres hangat, 3 kali sehari
selama 10 menit sampai nanah keluar.1
Pengangkatan pencabutan bulu mata dapat memberikan jalan untuk drainase nanah.
Diberi antibiotik lokal terutama bila berbakat rekuren atau terjadinya pembesaran kelenjar
preaurikel. Antibiotik sistemik yang diberikan eritromisin 250 mg atau diklosasilin 125 – 250 mg
4 kali sehari, dapat juga diberikan tetrasiklin. Bila terdapat infeksi stafilokokus ditubuh lain
maka sebaiknya diobati juga bersama–sama.1
Pada nanah dari kantung nanah yang tidak dapat keluar dilakukan insisi hordeolum. Pada
hordeolum internum dan eksternum kadang-kadang perlu dilakukan insisi pada daerah abses
dengan fluktuasi terbesar. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal
dengan pantocaine eye drop 0,5 %. Dilakukan anastesia filtrasi dengan procaine atau lidocaine di
daerah hordeolum dan dilakukan insisi. Insis pada hordeolum eksternum dibuat sejajar margo
palpebra sedangkan pada hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus
pada margo palpebra. Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskokleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantungnya dan kemudian diberi salep antibiotik.3Penyulit
hordeolum dapat berupa selulitis palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra
di depan septum orbita dan abses palpebra.1
Diagnosis banding hordeolum adalah selulitis preseptal, konjungtivitis adenovirus, dan
granuloma pyogenik.1
h. Kalazion
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat. Pada
kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang mengakibatkan
peradangan kronis kelenjar tersebut.1
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemis, tidak
ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preurikel tidak membesar. Kadang-kadang
mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi
pada mata tersebut. Kadang-kadang kalazion sembuh atau hilang dengan sendirinya akibat
diabsorpsi.1

Gambar 13 : Kalazion8
Pengobatan pada Kalazion adalah dengan memberikan kompres hangat, antibiotik lokal
dan sistemik. Untuk mengurangkan gejala dilakukan ekskokleasi isi abses dari dalamnya atau
dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut. Insisi dilakukan seperti pada hordeolum internum yaitu
pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra.1
Ekskokleasi kalazion terlebih dahulu mata ditetes dengan anestesi topikal pantocaine
0,5%. Obat anastesia infiltratif disuntikkan dibawah kulit di depan kalazion. Kalazion dijepit
dengan klem kalazion dan kemudian klem dibalik sehingga konjuntiva tarsal dan kalazion
terlihat. Dilakukan insisi tegak lurus margo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret sampai
bersih. Klem kalazion dilepas dan diberikan salep mata. Pada abses palpebra pengobatan
dilakukan dengan insisi dan pemasangan drain kalau perlu diberikaan antibiotik lokal dan
sistemik. Analgetika dan sedatif diberikan bila sangat diperlukan untuk rasa sakit.1
Bila terjadi kalazion yang berulang beberapa kali sebaiknya dilakukan pemeriksaan
histopatologik untuk menghindarkan kesalahan diagnosis dengan kemungkinan adanya suatu
kegnasan.1
B. Blefaritis virus
a. Herpes zoster
Virus herpes zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion gaseri saraf trigeminus.
Biasanya akan mengenai orang usia lanjut. Bila yang terkena ganglion cabang oftalmik maka
akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak mata atas.1
Gejala tidak akan melampaui garis median kepala dengan tanda-tanda yang terlihat pada
mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan berasa demam. Pada kelopak mata
terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea bila mata terkena. Lesi vesikel pada cabang oftalmik
saraf trigeminus superfisial merupakan gejala yang khusus pada infeksi herpes zoster mata.1

Gambar 14 : Herpes Zoster Ophthalmica112


Pengobatan hanya asimtomatik; steroid superfisial untuk mengurangi gejala radang dan
analgesik untuk mengurangi rasa sakit. Pemberian steroid dosis tinggi akan mengurangkan gejala
yang berat.1
Penyulit yang mungkin terjadi adalah uveitis, parese otot perggerak mata, glaukoma dan
neuritis optik.1
b. Herpes simplek
Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat disertai dengan keadaan yang sama pada bibir
merupakan tanda herpes simpleks kelopak. Dikenal bentuk blefaritis simpleks yang merupakan
radang tepi kelopak ringan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada tepi bulu mata, yang
mengakibatkan kedua kelopak lengket.1

Gambar 15 : Herpes Zoster Ophthalmica11


Tidak terdapat pengobatan spesifik pada penyakit ini. Bila terdapat infeksi
sekunder dapat diberikan antibiotik sitemik atau topikal. Pemberian kortikosteroid
merupakan kontraindikasi karena dapat mengakibatkan menularnya herpes pada kornea.
Asiclovir dan IDU dapat diberikan terutama pada infeksi dini.1
c. Vaksinia
Pada infeksi vaksinia akan terdapat kelainan pada kelopak berupa pustula dengan
indentasi pada bagian sentral. Tidak terdapat pengobatan spesifik untuk kelainan ini.1

Gambar 16 : Ocular Vaccinia Infection in Laboratory Worker, Philadelphia12


d. Moluskum kontagiosum
Moluskum kontagiosum pda kelopak akan terlihat sebagai benjolan dengan
penggaungan ditengah yang biasanya terletak di tepi kelopak. Dapat ditemukan kelainan
berupa konjungtivitis yang bentuknya seperti konjungtivitis inklusi klamidia atau trakoma.
Pengobatan moluskum tidak ada yang spesifik atau dilakukan ekstirpasi benjolan,
antibiotic local diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.1
Gambar 18 : Moluskum kontagiosum12

C. Blefaritis jamur
a. Infeksi Superfisial
Biasanya diobati dengan griseofulvin terutama efektif untuk epidermomikosis, diberikan
0.5-1 gram sehari dengan dosis tunggal atau dibagi rata diteruskam 1-2 minggu. Kandida dengan
nistatin topikal 100.000 unit per gram.1
b. Infeksi Jamur Profundus
Pengobatan menggunakan obat sistemik. Actinomyces dan Nocardia efektif
menggunakan sulfonamid, penicillin atau antibiotik spektrum luas. Spesies lain bisa
digunakan Amfoterisin B dimulai dengan 0.05-0.1mg/kgBB iv lambat 6-8 jam dilarutkan
dekstrose 5% dalam air.1
D. Phitiriasis Palpebrarum
Phthirus pubis sebenarnya hidup di rambut pubis. Seseorang yang terinfeksi kutu
dapat kedaerah lain yang berambut seperti axila, dada atau bulu mata. Pitiriasis palpebarum
merupakan kutu dari bulu mata yang biasanya menjangkiti anak-anak yang hidup ditempat
yang memiliki higinitas yang buruk.9

Gambar 19 : Phitiriasis palpebrarum11


Gejala meliputi iritasi kronis dan gatal pada kelopak mata. Ditandai oleh kutu yang
menempel kebulu mata dengan cakarnya. Telur dan kulitnya yang kosong muncul
seperti bentuk oval, coklat, keputihan seperti mutiara dan melekat pada dasar cilia.
Kunjungtivitis tidak lazim ditemukan.
Kutu diangkat beserta bulu mata secara mekanik dengan menggunakan pinset, lalu
diberikan topikal yellow mercuric oxide 1% atau petroleum jelly pada bulu mata dan kelopak
mata dua kali sehari selama 10 hari. Menghilangkan kutu pada pasien, keluarga, baju dan
tempat tidur penting untuk menghindari kekambuhan.9

E. Alergi Kelopak
a. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak penyebabnya adalah bahan yang berkontak pada kelopak, maka
dengan berjalannya waktu gejala akan berkurang.1
Pengobatan dengan melakukan pembersihan kelopak dari bahan penyebab, cuci dengan
larutan garam fisiologik, beri salep mengandung steroid sampai gejala berkurang.1

Gambar 20 : Dermatitis Kontak pada palpebra13


b. Blefaritis Urtikaria
Urtikaria pada kelopak terjadi akibat masuknya obat atau makanan pada pasien yang
rentan.1
Untuk mengurangi keluhan umum diberikan steroid topical ataupun sistemik, dan
dicegah pemakaian steroid lama. Obat antihistamin dapat mengurangi gejala alergi.1

2.8. Diagnosis Blefaritis

Blefaritis dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata yang komprehensif. Pengujian,


dengan penekanan khusus pada evaluasi kelopak mata dan permukaan depan bola mata,
termasuk:11
- Riwayat pasien untuk menentukan apakah gejala yang dialami pasien dan adanya masalah
kesehatan umum yang mungkin berkontribusi terhadap masalah mata.
- Pemeriksaan mata luar, termasuk struktur kelopak mata, tekstur kulit dan penampilan bulu
mata.
- Evaluasi tepi kelopak mata, dasar bulu mata dan pembukaan kelenjar meibomian
menggunakan cahaya terang dan pembesaran.
- Evaluasi kuantitas dan kualitas air mata untuk setiap kelainan.

Gambar 21 : Algoritma untuk mendiagnosis pasien dengan kelopak mata merah12

Kondisi yang berkaitan dengan blefaritis kronis:9,12


1. Ketidakstabilan tear film ditemukan pada 30-50% pasien, mungkin sebagai akibat dari
ketidakseimbangan antara komponen cair dan lipid dari tear film memungkinkan peningkatan
penguapan. Waktu pemecahan tear film biasanya berkurang.
2. Chalazion, yang mungkin multipel dan berulang, umumnya terjadi terutama pada pasien
dengan blefaritis posterior.
3. Penyakit membran epitel basal dan erosi epitel berulang dapat diperburuk oleh blepharitis
posterior.
4. Kulit: A. Jerawat rosacea sering dikaitkan dengan disfungsi kelenjar meibomian.
B. dermatitis seboroik terdapat pada>90% dari pasien dengan blefaritis seboroik.
C. Pengobatan acne vulgaris dengan isotretinoin dikaitkan dengan perkembangan
blepharitis pada sekitar 25% dari pasien; hal itu mereda ketika pengobatan
dihentikan.
5. Keratitis bakteri dikaitkan dengan penyakit sekunder permukaan okular untuk blefaritis
kronis.
6. Atopik keratokonjungtivitis sering dikaitkan dengan blefaritis stafilokokus. Pengobatan
blefaritis sering membantu gejala konjungtivitis alergi dan sebaliknya.
7. Intoleransi lensa kontak. Pemakaian jangka panjang lensa kontak berhubungan dengan
penyakit tepi pelupuk mata posterior. Penghambatan gerakan tutup dan ekspresi normal dari
minyak meibomian bisa menjadi penyebabnya. Ada juga mungkin terkait konjungtivitis giant
papil membuat pemakaian lensa tidak nyaman. Blefaritis juga merupakan faktor risiko untuk
keratitis bakteriterkait lensa kontak.
Table 1 : Summary of characteristics of chronic blefaritis11

Feature Anterior blefaritis Posterior


blefaritis
Staphylococcal Seborrhoeic

Lashes Deposit Hard Soft

Loss ++ +

Distorted or ++ +
trichiasis

Lid margin Ulceration +

Notching + ++

Cyst Hordeolum ++

Meibomian ++

Conjunctiva Phlyctenule +

Tear film Foaming ++

Dry eye + + ++
Cornea Punctate erosions + + ++

Vascularization + + ++

Infiltrates + + ++

Associated Atopic Seborrhoeic Acne rosacea


disease dermatitis dermatitis

Diagnosis Banding12

Table 2 : Summary of characteristics of chronic blefaritis12


Condition Signs and symptoms Treatment
Conditions typically presenting bilaterally
Angioedema Often, but not always Often self-limited; avoid inciting agents
bilateral Emergency medical attention is required in
Abrupt onset over patients with upper airway obstruction; administer
minutes to hours; may 0.3 mg of intramuscular epinephrine
follow an exposure Mild cases may benefit from oral antihistamines
Scaling usually absent and/or glucocorticoids:
Diphenhydramine hydrochloride (Benadryl),
25 to 50 mg three or four times daily
(dosage for children: 4 to 6 mg per kg per
day, in three or four divided doses)
Loratadine (Claritin), 10 mg daily (dosage for
children two to five years of age: 5 mg
daily)
Prednisone, 0.5 to 1.0 mg per kg per day, then
taper after three or four days

Atopic Fine scaling usually Oral antihistamines (see above)Topical


dermatitis present corticosteroids:
Less edema than with Desonide (Tridesilon) 0.05%
contact dermatitis Alclometasone dipropionate (Aclovate)
Other signs of atopic 0.05% twice daily for five to 10 days
dermatitis may be Second-line treatments:
present Tacrolimus (Protopic) 0.1% ointment twice
Family or personal daily
history of allergic Pimecrolimus (Elidel) 1% cream twice daily
rhinitis or atopic
dermatitis
Blepharitis Yellow scaling at eyelid Local measures: eyelid massage, warm
margins compresses, and gentle scrubbing twice daily with
Patients may have a cotton swab and 1:1 solution of dilute baby
pruritus or burning shampoo or commercially available eyelid
Less edema than with cleanser
cellulitis or contact For staphylococcal infections, bacitracin or
dermatitis; edema more erythromycin ointment to eyelid margins at
prominent at eyelid bedtime or one to two weeks
margin For meibomian gland dysfunction, may add
tetracycline, 250 mg four times daily, or
doxycycline (Vibramycin), 100 mg three times
daily, then taper after four weeks

Contact Onset follows exposure Avoid inciting agents


dermatitis Pruritus in allergic For allergic dermatitis, desonide 0.05% or
contact dermatitis; alclometasone dipropionate 0.05% cream or
burning or stinging in ointment twice daily for five to 10 days
irritant contact For irritant dermatitis, cool compresses and a
dermatitis petroleum-based emollient applied at bedtime
Minimal scaling
Edema may be
profound

Rosacea Telangiectasias often Local measures as for blepharitis


present Systemic tetracyclines:
Onset over weeks to Tetracycline, 250 mg four times daily
months Doxycycline, 100 mg three times daily
Eyelid changes often Topical metronidazole 0.75% cream
accompany flushing, (Metrocream) or gel (Metrogel) twice daily
papules, and pustules of Azelaic acid gel (Finacea) twice daily
the nose, cheek,
forehead, and chin

Systemic Onset over weeks to Maximize treatment of the underlying disorder


processes months
Other cutaneous and
systemic findings
present

Conditions typically presenting unilaterally


Cellulitis* Often presents with Suggested oral regimen for patients with preseptal
severe edema, deep cellulitis only†:
violaceous color, and Amoxicillin/clavulanate (Augmentin), 875
pain mg twice daily or 500 mg three times
Onset over hours to daily (dosage for children older than three
daysHistory of months: 40 mg per kg three times daily;
preceding trauma or dosage for children younger than three
bite months: 30 mg per kg every 12 hours)
Suggested intravenous regimens:
Ampicillin/sulbactam (Unasyn), 1.5 to 3 g
every six hours (dosage for children: 300
mg per kg daily, divided every six hours)
Ceftriaxone (Rocephin), 1 to 2 g daily or
divided every 12 hours (dosage for
children: 50 to 75 mg per kg daily, divided
every 12 hours)
Parenteral antibiotics are often given for seven
days in orbital cellulitis; transition to oral
antibiotics if clinical improvement is noted after
one week, to complete a total treatment course of
21 days

Herpes Vesicles often present


Often self-limited; use supportive measures such
simplex Pain or burning may be
as compresses
present Topical bacitracin may help prevent secondary
Onset over hours to infection
days Recurrent cases can be treated with long-term
suppressive therapy:
Acyclovir (Zovirax), 400 mg twice daily
Valacyclovir (Valtrex), 500 mg to 1,000 mg
daily
Famciclovir (Famvir), 250 mg twice daily
Herpes zoster Older adults Cool compresses
ophthalmicus Vesicles often present Acyclovir, 800 mg five times daily for seven to 10
Pain or burning days; valacyclovir, 1 g three times daily for seven
Onset over hours to days; or famciclovir, 500 mg three times daily for
days seven days
Early initiation of tricyclic antidepressants
(desipramine [Norpramin], 25 to 75 mg at
bedtime) may inhibit postherpetic neuralgia
Patients may require additional treatment for
complications such as keratitis and glaucoma

Tumors Older adultsInsidious Depending on tumor type, Mohs micrographic


onset surgery or wide local excision
Typically painless
nodule
*— Alternative empiric regimens may be necessary in patients with community-acquired
methicillin-resistant Staphylococcus aureus cellulitis. See reference 42 for suggested
therapies.
†— The presence of proptosis, decreased visual acuity, pain with eye movement, and
limitation of extraocular movements distinguish orbital cellulitis from preseptal cellulitis.
2.9. Penatalaksanaan Blefaritis
Sebuah penanganan yang sistematis dan jangka panjang dalam menjaga kebersihan
kelopak mata adalah dasar dari pengobatan blefaritis. Dokter harus memastikan bahwa pasien
mengerti bahwa penanganan blefaritis adalah sebuah proses, yang harus dilakukan untuk jangka
waktu yang lama.8
Banyak sistem mengenai kebersihan kelopak mata, dan semua ini termasuk variasi dari 3
langkah penting 8,9
1. Aplikasi panas untuk menghangatkan sekresi kelenjar kelopak mata dan untuk memicu
evakuasi dan pembersihan dari bagian sekretorik sangat penting. Pasien umumnya diarahkan
untuk menggunakan kompres hangat basah dan menerapkannya pada kelopak berulang kali.
Air hangat di handuk, kain kassa direndam, atau dimasak dengan microwave, kain yang telah
direndam dapat digunakan. Pasien harus diinstruksikan untuk menghindari penggunaan panas
yang berlebihan.8
2. Tepi kelopak mata dicuci secara mekanis untuk menghilangkan bahan yang menempel, seperti
ketombe, dan sisik, juga untuk membersihkan lubang kelenjar. Hal ini dapat dilakukan dengan
handuk hangat atau dengan kain kasa. Air biasa sering digunakan, meskipun beberapa dokter
lebih suka bahwa beberapa tetes shampo bayi dicampur dalam satu tutup botol penuh air
hangat untuk membentuk larutan pembersih. Harus diperhatikan untuk menggosok-gosok
lembut atau scrubbing dari tepi kelopak mata itu sendiri, bukan kulit kelopak atau permukaan
konjungtiva bulbi. Menggosok kuat tidak diperlukan dan mungkin berbahaya.8
3. Salep antibiotik pada tepi kelopak mata setelah direndam dan digosok. Umum digunakan
adalah salep eritromisin atau sulfacetamide. Salep antibiotik kortikosteroid kombinasi dapat
digunakan, meskipun penggunaannya kurang tepat untuk pengelolaan jangka panjang.8
Situasi klinis tertentu mungkin memerlukan pengobatan tambahan. Kasus refrakter
blefaritis sering respons dengan penggunaan antibiotik oral. Satu atau dua bulan penggunaan
tetrasiklin sering membantu dalam mengurangi gejala pada pasien dengan penyakit yang lebih
parah. Tetrasiklin diyakini tidak hanya untuk mengurangi kolonisasi bakteri tetapi juga untuk
mengubah metabolisme dan mengurangi disfungsi kelenjar. Penggunaan metronidazol sedang
dipelajari.8
Disfungsi tear film dapat mendorong penggunaan solusi air mata buatan, salep air mata,
dan penutupan pungtum. Kondisi yang terkait, seperti herpes simplex, varicella-zoster, atau
penyakit kulit staphilokokal, bisa memerlukan terapi antimikroba spesifik berdasarkan kultur.
Penyakit seboroik sering ditingkatkan dengan penggunaan shampoo dengan selenium, meskipun
penggunaannya di sekitar mata tidak dianjurkan. Dermatitis alergi dapat merespon terapi
kortikosteroid topikal.8
Konjungtivitis dan keratitis dapat menjadi komplikasi blefaritis dan memerlukan
pengobatan tambahan selain terapi tepi kelopak mata. Campuran antibiotik-kortikosteroid dapat
mengurangi peradangan dan gejala konjungtivitis. Infiltrat kornea juga dapat diobati dengan
antibiotik-kortikosteroid tetes. Ulkus tepi kelopak yang kecil dapat diobati secara empiris, tetapi
ulkus yang lebih besar, parasentral, atau atipikal harus dikerok dan spesimen dikirim untuk
diagnostik dan untuk kultur dan pengujian sensitivitas.8
Serangan berulang dari peradangan dan jaringan parut dari blefaritis dapat
memngakibatkan penyakit kelopak mata posisional. Trichiasis dan notching kelopak dapat
mengakibatkan gejala keratitis berat. Trichiasis diobati dengan pencukuran bulu, perusakan
folikel melalui arus listrik, laser, atau krioterapi, atau dengan eksisi bedah. Entropion atau
ectropion dapat mengembangkan dan mempersulit situasi klinis dan mungkin memerlukan
rujukan ke ahli bedah oculoplastics.Perawatan bedah untuk blefaritis diperlukan hanya untuk
komplikasi seperti pembentukan kalazion, trichiasis, ektropion, entropion, atau penyakit kornea.8
Untuk blefaritis anterior, antibiotik natrium asam fusidic topikal, bacitracin atau
kloramfenikol digunakan untuk mengobati folikulitis akut tetapi terbatas dalam kasus-kasus
lama. Setelah kelopak dibersihkan salep harus digosok ke tepi kelopak anterior dengan cotton
bud atau jari yang bersih. Oral azitromisin (500 mg setiap hari selama tiga hari) dapat membantu
untuk mengontrol penyakit blefaritis ulseratif.9
Pada blefaritis posterior, tetrasiklin sistemik merupakan andalan pengobatan tetapi tidak
boleh digunakan pada anak di bawah usia 12 tahun atau pada wanita hamil atau menyusui karena
disimpan dalam tulang dan gigi tumbuh, dan dapat menyebabkan noda pada gigi dan hipoplasia
gigi (eritromisin adalah alternatif). Alasan untuk penggunaan tetrasiklin adalah kemampuan
mereka untuk memblokir produksi lipase stafilokokal jauh di bawah konsentrasi penghambatan
minimum antibakteri. Tetrasiklin terutama diindikasikan pada pasien dengan phlyctenulosis
berulang dan keratitis tepi, meskipun berulang pengobatan mungkin diperlukan. Contohnya:
Oxytetracycline 250 mg b.d. selama 6-12 minggu, Doksisiklin 100 mg b.d. selama satu minggu
dan kemudian setiap hari selama 6-12 minggu, Minocycline 100 mg sehari selama 6-12 minggu;
(pigmentasi kulit dapat berkembang setelah penggunaan jangka panjang). Erythromicin 250 mg
perhari atau b.d digunakan untuk anak-anak.9

2.10. Komplikasi Blefaritis

Komplikasi yang berat karena blefaritis jarang terjadi. Komplikasi yang paling sering
terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak. Mungkin sebaiknya disarankan untuk
sementara waktu menggunakan alat bantu lain seperti kaca mata sampai gejala blefaritis benar-
benar sudah hilang.12

1. Mata merah : blefaritis dapat menyebabkan serangan berulang mata merah


(konjungtivitis).
2. Keratokonjungtivissica adalah kondisi dimana mata pasien tidak bisa memproduksi air
matayang cukup, atau air mata menguap terlalu cepat. Ini bisa menyebabkan mata
kekurangan air dan menjadi meradang. Syndrome mata kering dapat terjadi karena
dipengaruhi gejala blefaritis, dermatitis seboroik, dan dermatitis rosea, namun dapat juga
disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik

3. Ulserasi kornea: iritasi yang terus menerus dari kelopak mata yang meradang atau salah
arah bulu mata dapat menyebabkan goresan (ulkus) di kornea.
Blefaritis tidak mempengaruhi penglihatan pada umumnya, meskipun defisiensi tear film
kadang dapat mengaburkan penglihatan, menyebabkan berbagai derajatpenglihatan berfluktuasi
sepanjang hari.12

2.11. Prognosis Blefaritis


Kebersihan yang baik (pembersihan secara teratur daerah mata) dapat mengontrol tanda-
tanda dan gejala blefaritis dan mencegah komplikasi. Perawatan kelopak mata yang baik
biasanya cukup untuk pengobatan. Harus cukup nyaman untuk menghindari kekambuhan, karena
blefaritis sering merupakan kondisi kronis. Jika blefaritis berhubungan dengan penyebab yang
mendasari seperti ketombe atau rosacea, mengobati kondisi-kondisi tersebut dapat mengurangi
blefaritis. Pada pasien yang memiliki beberapa episode blefaritis, kondisi ini jarang sembuh
sepenuhnya. Bahkan dengan pengobatan yang berhasil, kekambuhan dapat terjadi.12

2.12. ANATOMI & FISIOLOGI KONJUNGTIVA


Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak
(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea limbus.13
Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel goblet. Musin
bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :
 Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.
 Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
 Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.14

Gambar 22. Anatomi Konjungtiva13


Secara histologis, konjungtiva terdiri atas lapisan :
 Lapisan epitel konjungtiva, terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat, superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas
karankula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-
sel epitel skuamosa.
 Sel-sel epitel supercial, mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi
mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air
mata secara merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat
daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.
 Stroma konjungtiva, dibagi menjadi :
 Lapisan adenoid (superficial)
Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat
mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan
adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini
menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler
bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler.
 Lapisan fibrosa (profundus)
Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada
lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reksi papiler pada radang
konjungitiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya
mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di
forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas.13

2.13. Definisi Konjungtivitis

Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi


vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang menutupi
belakang kelopak dan bola mata.1

Konjungtivitis di bedakan menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh mikro-
organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.2
Gambar 23. Konjungtivitis
1,2
2.14. Klasifikasi Konjungtivitis

a. Konjungtivitis Bakteri

Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,


Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat
menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau
dengan objek yang terkontaminasi.

b. Konjungtivitis Viral

Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang paling
sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik
seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel
sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular
dalam 24-48 jam.

c. Konjungtivitis Alergi

Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas, dan
disebabkan oleh pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien akan
mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla yang dapat
dikonjungtiva, dan kornea bias terlibat. Konjungtivitis alergi dapat terjadi bersama
dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya astma dan “hay fever”.

d. Konjungtivitis Gonore
Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonatus (bayi baru lahir)
disebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati jalan lahir pada ibu
yang menderita gonore, konjungtivitis yang berat disebut oftalmia neonatorum.

e. Trachoma

Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan Chlamydia


trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 – 14 hari ). Trachoma
dapat mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak-anak, yang akut atau sub
akut. Cara penularannya melalui kontak langsung dengan sekret atau alat-alat pribadi.

2.15. Manifestasi Klinis Konjungtivitis

Tanda­tanda konjungtivitis, yakni:1,15

 Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak.

 produksi air mata berlebihan (epifora).

 kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan menutup

akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel­sel konjungtiva bagian atas.

 pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi nonspesifik

peradangan.

 pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya.

 terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein).

 dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah).
Konjungtiva   yang   mengalami   iritasi   akan   tampak   merah   dan   mengeluarkan

kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna

putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih. Kelopak

mata   bisa   membengkak   dan   sangat   gatal,   terutama   pada   konjungtivitis   karena   alergi.

Gejala lainnya adalah:15

 mata berair

 mata terasa nyeri

 mata terasa gatal

 pandangan kabur

 peka terhadap cahaya

 terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

2.16. Patofisiologi Konjungtivitis


Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan ditandai
dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya secret
mukopurulent.Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu
mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga
fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis ditemukan
lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler
yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat.
Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus
kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan
kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.1,2,15

2.17. Penatalaksanaan Konjungtivitis


Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari
bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat
dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan
kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang
mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah
untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal
asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.1

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena


bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika
(Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang
sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah
terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin
(antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1
%). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien untuk memperbaiki higiene kelopak
mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali sehari dengan artifisial tears dan salep dapat
menyegarkan dan mengurangi gejala pada kasus ringan.2,15

Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi antibiotik-
steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada banyak kasus
Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa adanya
kontraindikasi.2

Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea, diberikan


Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama dengan pemberian
salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin sebelum tidur. Metronidazole
topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga efektif. Karena tetracycline dapat
merusak gigi pada anak-anak, sehingga kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun.
Pada kasus ini, diganti dengan doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID
PO. Terapi dilanjutkan 2 sampai 4 minggu. Pada kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray
dada untuk menyingkirkan tuberkulosis.2,15

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.
2. James, Bruce. Lecture Notes On Opthalmology. 9 th ed. Blackwell publishing, Australia:
2013; page 52-4.
3. Popham, Jerry MD. Eyelid Anatomy. In Cosmetic Facial and Eye Plastic Surgery. Available
at : http://www.drpopham.com/347-Anatomy. Accessed Oktober 01, 2014.
4. Vaughan D. General Ophthalmology. Widya Medika. Jakarta: 2003; page 78-80.
5. Junqueira LC, Carneiro J. Histologi Dasar: Teks dan Atlas. 10th ed. Jakarta: EGC; 2004.
6. Weinstock, Frank J., MD. Eyelid Inflammation “Blepharitis” Available at :
http://www.emedicinehealth.com/eyelid_inflammation_blepharitis/.htm. Accessed Oktober
02, 2014.
7. Lowery, R Scott, MD et all, Adult Blepharitis Updated: April 26, 2013. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/1211763-overview#a0104. Accessed Oktober 02,
2014.
8. Allen, JH et all. Patophosiology Blepharitis. In Best Practice British Medicine Journal. Last
updated: July 26, 2013.
9. Kanski JJ. Blepharitis. In: Clinical Ophthalmology. 7th ed. Butterworth Heinemann.
Philadelphia; 2011: page 34-38.
10. Feder, Robert S, MD, chair et all. Blepharitis Limited Revision In Preferred Practice Pattern.
American Academy Ophthalmology: 2011.
11. Hadrill, Marilyn., Blepharitis Page updated September 21, 2013. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article. Accessed Oktober 01, 2014.
12. Papier, Art, MD; David J. Tuttle, MD; and Tara J. Mahar, MD. Differential Diagnosis of the
Swollen Red Eyelid in the American Academy of Family Physicians.2007; page 1815-24.
13. Khurana, A. K., 2000. Diseases of The Conjunctiva in Comprehensive Ophtalmology 4th
edition. Kuala Lumpur: New Age; 74-76
14. Vaughan, D. G., Taylor, A., et al. Conjunctiva in Vaughan & Asbury’s General
Ophtalmology 17th edition. New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill; 111-112.
15. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta.
2002