Anda di halaman 1dari 164

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN


(STUDI KASUS DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS)

SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


pada Universitas Negeri Semarang

Oleh
Arie Hendrawan
NIM. 3301410053

JURUSAN POLITIK DAN KEWARGANEGARAAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

i
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini, telah disetujui Dosen Pembimbing untuk diajukan ke sidang

Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada:

Hari :

Tanggal :

Mengetahui,

Ketua Jurusan PKn Dosen Pembimbing

Drs. Slamet Sumarto, M.Pd Drs. Sunarto, S.H., M.Si.


NIP. 196101271986011001 NIP. 196306121986011002

HALAMAN PENGESAHAN

ii
Skripsi ini, telah dipertahankan di sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada:

Hari :

Tanggal :

Penguji I Penguji II Penguji III

Dr. Eko Handoyo, M.Si. Drs. Tijan, M.Si. Drs. Sunarto, S.H., M.Si.

NIP. 196406081988031001 NIP. 196211201987021001 NIP. 196306121986011002

Mengetahui,

Dekan FIS UNNES

Dr. Subagyo, M. Pd.

NIP. 195108081980031003

PERNYATAAN

iii
Saya menyatakan bahwa yang tertuang di dalam skripsi ini benar-benar

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian

atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat di dalam skripsi

ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 1 Agustus 2014

Arie Hendrawan

NIM. 3301410053

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

iv
Motto:

 “Pendidikan Indonesia, saya pikir baru sempurna kalau pemuda putra dan

putri, atas belanja dari negara mesti tamatkan SMP...” – Tan Malaka (dalam

Madilog)

 “Pengetahuan itu sendiri ialah kekuatan atau kekuasaan...” – Francis Bacon

(dalam Meditatioes Sacrae De Haeresibus)

 “Belajarlah! Sebab Ilmu adalah penghias bagi pemiliknya...” – Muhammad

Al Hasan (dalam Ta’lim Muta’alim)

Persembahan:

a. Ayah, Ibuk, Embah, terima kasih untuk segala

cinta dalam setiap nasehat dan “omelannya”.

b. Anggun Wulan Sari, teman terbaikku, semoga

kita dapat terus saling menguatkan.

c. Rekan-rekan PKn Angkatan 2010, kalian semua

sungguh menginspirasi!

d. Segenap dosen, terima kasih banyak telah sudi

meretaskanku cakrawala ilmu.

e. Almamater, aku berharap karya kecil ini dapat

meninggalkan manfaat bagi siapapun di sana.

PRAKATA

v
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan

rahmat dan atas perkenan-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

ini yang berjudul “Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan Program Wajib

Belajar 12 Tahun (Studi Kasus di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus)”.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin tersusun dengan baik

tanpa ada bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, yang mana telah bersedia

meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi terselesaikannya skripsi ini. Maka

dari itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang.

2. Dr. Subagyo, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Sosial.

3. Drs. Slamet Sumarto, M.Pd., Ketua Jurusan PKn.

4. Bapak Drs. Sunarto, S.H., M.Si., Dosen Pembimbing yang sudah banyak

memberikan bimbingan, pengarahan, petunjuk, dan saran dalam penyusunan

skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan ilmu dan keteladanan laku

kepada penulis.

6. Seluruh Staf dan Karyawan Jurusan PKn, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas

Negeri Semarang.

7. Jajaran pemerintah Kabupaten Kudus maupun Kecamatan Mejobo, segenap

masyarakat, dan perwakilan satuan pendidikan yang telah memberikan ijin

penelitian serta informasi kepada penulis.

8. Orang tua yang melecut gairahku untuk lekas merampungkan skripsi dengan

senantiasa menanyakan, “Sampai di mana skripsimu, Arie?”.

vi
9. Embah yang penuh kesabaran membuatkanku masakan, walaupun terkadang

justru berbalas dengan kritikan. Semoga engkau dapat memaafkannya.

10. Saudara-saudara Angkatan 27, dari awal aku tidak akan pernah lupa dengan

jargon perjuangkan kita sebagai seorang pemimpi. Kini, giliran kita untuk

mewujudkan mimpi itu!

11. Teman-teman PKn angkatan 2010, Baist, yang telah bersedia menjadi rekan

diskusi isu-isu sosial dan politik; Rifqi, yang mau bertukar pengalaman masa

depannya; Budi, yang secara tidak langsung membuatku bersemangat untuk

menuntaskan skripsi; serta sahabat-sahabatku lainnya, thanks awfully.

12. Seluruh pihak dan instansi yang telah mendukung terselesaikannya penulisan

skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Semoga segala bantuan yang telah diberikan senantiasa mendapat pahala

dari Tuhan Yang Maha Esa dan penulis memberikan penghargaan yang setinggi-

tingginya. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

diri sendiri dan para pembaca pada umumnya. Amin.

Semarang, 1 Agustus 2014

Penulis

SARI

Hendrawan, Arie. 2014. “Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan Program


Wajib Belajar 12 Tahun (Studi Kasus di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus)”.

vii
Skripsi Jurusan Politik dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Semarang. Dosen Pembimbing Sunarto.

Kata Kunci: Peran Serta, Masyarakat, Wajib Belajar 12 Tahun

Kabupaten Kudus merupakan salah satu daerah otonom yang telah sukses
mengimplementasikan wajib belajar 9 tahun. Hal tersebut, kemudian mendorong
pemerintah kabupaten untuk mencanangkan program wajib belajar 12 tahun yang
dilegitimasi melalui Perda No. 2 Tahun 2010. Namun realitasnya, di Kecamatan
Mejobo sendiri sebagai bagian dari Kabupaten Kudus justru masih relatif banyak
dijumpai masyarakat yang apatis terhadap pendidikan sekolah.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini, yakni: (1) bagaimanakah
peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam rangka mewujudkan program
wajib belajar 12 tahun dan (2) faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung
dan penghambat peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam mewujudkan
program wajib belajar 12 tahun. Penelitian berikut bertujuan: (1) mendeskripsikan
peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam rangka mewujudkan program
wajib belajar 12 tahun serta (2) mengidentifikasi berbagai faktor pendukung dan
penghambat pada peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam mewujudkan
program wajib belajar 12 tahun.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Kemudian, untuk teknik
pengumpulan datanya terdiri atas: a) wawancara dengan para anggota masyarakat
di Kecamatan Mejobo, pejabat Disdikpora Kabupaten Kudus, Camat Mejobo, dan
Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo, serta kepala sekolah di Kecamatan
Mejobo; b) observasi dengan mendatangi langsung kegiatan peran serta
masyarakat, misalnya proses magang peserta didik SMK 3 Ma’arif Kudus di
pengusaha jenang maupun acara penyerahan santunan bagi anak-anak yatim oleh
Yayasan Al-Kamal; serta c) dokumentasi terhadap informasi statistik mengenai
Kecamatan Mejobo, foto-foto peran serta masyarakat, profil pendidikan dari
Disdikpora, laporan penelitian yang terkait, dan perundang-undangan relevan.
Sementara itu, untuk validitas datanya menggunakan triangulasi, yaitu
membandingkan pendapat masyarakat Kecamatan Mejobo dengan pandangan lain
seperti dari pejabat Disdikpora Kabupaten Kudus, Camat Mejobo, Kepala UPT
Pendidikan Kecamatan Mejobo, dan kepala sekolah yang ada di Kecamatan
Mejobo.
Hasil penelitian menunjukkan, penyelenggaraan program wajib belajar 12
tahun di Kecamatan Mejobo telah berjalan. Hal tersebut salah satunya tampak dari
kebijakan Camat Mejobo dengan merekomendasikan anak-anak yang layak guna
memperoleh keringanan biaya maupun beasiswa kepada satuan pendidikan atau
pemerintah. Selain itu, Camat Mejobo juga memberikan instruksi jajarannya agar
menginformasikan program wajib belajar 12 tahun kepada masyarakat. Meskipun
demikian kenyataannya, masih ada masyarakat yang belum menerima informasi
tersebut atau bahkan tidak melaksanakannya. Masyarakat di Kecamatan Mejobo
berperan serta aktif dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Namun,
peran serta tersebut hanya dilakukan oleh mereka yang berada pada lapisan elite
masyarakat, yakni: a) tokoh masyarakat dengan cara menjadi komite sekolah, b)

viii
keluarga dengan menggunakan jasa pelayanan pendidikan, c) pengusaha dengan
memberikan sumbangan material bagi sekolah, serta d) organisasi
kemasyarakatan dengan mendirikan sekolah dan menyantuni anak-anak yatim
baik itu yang masih ataupun sudah putus sekolah. Sementara itu, pada masyarakat
di tingkat bawah seperti keluarga dengan kepedulian rendah atau berkemampuan
ekonomi kurang, cenderung apatis untuk ikut aktif berperan serta. Kemudian,
dalam peran sertanya masyarakat Kecamatan Mejobo yang ada di lapisan elite
menemukan faktor-faktor pendukung dan penghambat. Untuk berbagai faktor
pendukung, antara lain seperti yang dialami tokoh masyarakat, yaitu pengarahan
dari Disdikpora (pemerintah); keluarga, tersedianya berbagai jenis beasiswa;
pengusaha, dorongan agar semakin aktif berperan serta; dan organisasi
kemasyarakatan, yang mendapatkan bantuan ekstra dari donatur insidental.
Berikutnya, untuk faktor penghambat secara umum adalah belum dibentuknya
wadah komunikasi dan koordinasi formal wajib belajar 12 tahun antar anggota
masyarakat serta tidak adanya tindakan kuratif dari pihak pemerintah kepada
anak-anak yang putus sekolah.
Simpulan penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Mejobo melakukan
berbagai macam peran serta dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.
Akan tetapi, pelaku peran serta masih terbatas hanya di lapisan elite masyarakat,
yakni terdiri atas tokoh masyarakat, keluarga (mampu serta penduli), pengusaha,
dan organisasi kemasyarakatan. Sementara itu, pada masyarakat di tingkat bawah
seperti keluarga dengan kepedulian rendah ataupun berkampuan ekonomi kurang,
cenderung apatis untuk ikut berperan serta. Selanjutnya, terdapat berbagai faktor
pendukung dan penghambat peran serta masyarakat yang terbagi menjadi faktor-
faktor dari internal masyarakat dan eksternal masyarakat. Adapun berbagai faktor
dari internal masyarakat adalah dari anggota masyarakat, sedangkan faktor-faktor
dari eksternal masyarakat yakni dari pemerintah dan sekolah.
Saran yang diajukan pada penelitian ini yaitu: (1) hendaknya para anggota
masyarakat dapat membentuk forum komunikasi dan koordinasi formal mengenai
wajib belajar 12 sebagai wadah curah gagasan serta pembahasan atas persoalan-
persoalan terkait penyelenggaraan program wajib belajar 12 tahun, (2) hendaknya
pemerintah maupun sekolah dapat lebih intensif serta komprehensif memberikan
sosialisasi tentang peran serta yang bisa dilakukan masyarakat dalam mewujudkan
program wajib belajar 12 tahun, serta (3) hendaknya pemerintah maupun satuan
pendidikan tidak hanya mengupayakan tindakan preventif serta persuasif terhadap
anak-anak putus sekolah, tetapi juga tindakan kuratif dengan datang langsung ke
masyarakat untuk membimbing dan memfasilitasi mereka.

DAFTAR ISI

ix
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii
PERNYATAAN ................................................................................................. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... v
PRAKATA ......................................................................................................... vi
SARI .................................................................................................................. viii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... x
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiii
DAFTAR BAGAN ............................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi
BAB 1: PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 7
E. Penegasan Istilah ..................................................................................... 8
BAB II: LANDASAN TEORI .......................................................................... 11
A. Konsep Pendidikan ................................................................................. 11
1. Pengertian Pendidikan ...................................................................... 11
2. Urgensi dan Tujuan Pendidikan ........................................................ 12
3. Jalur Pendidikan ................................................................................ 14
4. Jenjang Pendidikan ........................................................................... 16
B. Kebijakan Publik ..................................................................................... 17
1. Pengertian Kebijakan dan Kebijakan Publik .................................... 17
2. Elemen Kebijakan Publik ................................................................. 19
3. Kebijakan Pendidikan sebagai Bagian Kebijakan Publik ................. 20
C. Program Wajib Belajar 12 Tahun ............................................................ 21
1. Latar Belakang dan Landasan Yuridis .............................................. 21
2. Program Wajib Belajar 12 Tahun sebagai Universal Education ....... 23

x
3. Pengertian, Maksud, dan Tujuan ....................................................... 25
4. Penyelenggaraan Program Wajib Belajar 12 Tahun .......................... 25
5. Pengelolaan dan Evaluasi Program Wajib Belajar 12 Tahun ............ 26
6. Penjaminan terhadap Program Wajib Belajar 12 Tahun ................... 27
D. Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan ............................................. 28
1. Latar Belakang dan Dasar Hukum .................................................... 28
2. Pengertian dan Fungsi Peran Serta Masyarakat ................................ 30
3. Bentuk Peran Serta Masyarakat ........................................................ 30
4. Komite Sekolah ................................................................................. 34
E. Penelitian Relevan .................................................................................. 35
F. Kerangka Berpikir ................................................................................... 40
BAB III: METODE PENELITIAN ................................................................. 43
A. Jenis Penelitian ........................................................................................ 43
B. Lokasi Penelitian ..................................................................................... 43
C. Fokus Penelitian ...................................................................................... 44
D. Sumber Data ............................................................................................ 45
E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 46
F. Validitas Data .......................................................................................... 48
G. Analisis Data ........................................................................................... 50
H. Prosedur Penelitian ................................................................................. 53
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 55
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 55
1. Deskripsi Umum Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus ................ 55
2. Penyelenggaraan Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kecamatan
Mejobo
...........................................................................................................
63
3. Peran Serta Masyarakat Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan
Program Wajib Belajar 12 Tahun
...........................................................................................................
69

xi
4. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Peran Serta Masyarakat
Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan Program Wajib Belajar 12
Tahun
...........................................................................................................
85
B. Pembahasan
97
1. Peran Serta Masyarakat Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan
Program Wajib Belajar 12 Tahun
...........................................................................................................
97
2. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Peran Serta Masyarakat
Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan Program Wajib Belajar 12
Tahun
...........................................................................................................
110
BAB V: PENUTUP
A. Simpulan
122
B. Saran
124
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kebijakan Pendidikan sebagai Bagian Kebijakan Publik

21

Tabel 2. Luas dan Persentase Wilayah Kecamatan Mejobo

56

Tabel 3. Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

di Kecamatan Mejobo Tahun 2011

57

Tabel 4. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Pekerjaan di

Kecamatan Mejobo

59

Tabel 5. Banyaknya Satuan Pendidikan Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan

Desa di Kecamatan Mejobo

60

xiii
Tabel 6. Banyaknya Sekolah Agama Islam Menurut Jenis Sekolah dan Desa

di Kecamatan Mejobo

61

Tabel 7. Persentase Penduduk Kecamatan Mejobo Berdasarkan Pendidikan

Tertinggi yang Ditamatkan


..............................................................................................................

62
Tabel 8. Banyaknya Sarana Kesehatan di Kecamatan Mejobo
..............................................................................................................

63
Tabel 9. Banyaknya Anak Putus Sekolah di Kecamatan Mejobo Berdasarkan

Tingkat Pendidikan Tahun 2013/ 2014


..............................................................................................................

64

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Tiga Elemen Sistem Kebijakan

19

Bagan 2. Kerangka Berpikir Penelitian

42

xiv
Bagan 3. Alur Analisis Data Model Interaktif Miles dan Huberman

53

DAFTAR GAMBAR

xv
Gambar 1. Komite SMK 3 Ma’arif Kudus Mengumpulkan Wali Murid untuk

Mendengarkan Aspirasi
..........................................................................................................

72
Gambar 2. Pihak Komite Sekolah, Satuan Pendidikan, Disdikpora, dan Wali

Murid dalam Rapat Pleno SMA 1 Mejobo


..........................................................................................................

74
Gambar 3. Siswa SMK 3 Ma’arif Kudus Sedang Magang di Usaha Jenang

Ibu Sarpinh
..........................................................................................................

77
Gambar 4. Penyerahan Santunan oleh Bapak Sunarto selaku Ketua Yayasan

Al-Kamal kepada Anak-anak Yatim


..........................................................................................................

81
Gambar 5. Proses Pengukuran Seragam Sekolah Salah Satu Anak Penerima

Santunan dari Yayasan Al-Kamal


..........................................................................................................

82
Gambar 6. Bupati Kudus Menyerahkan Beasiswa bagi 5.580 Siswa SD/ MI,

SMP/ MTs, SMA/ MA/ SMK, dan SLB


..........................................................................................................

88
Gambar 7. Gedung SMK 3 Ma’arif Kudus Tampak Depan
..........................................................................................................

93

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian kepada Bupati Kudus

Lampiran 2. Surat Rekomendasi Penelitian atau Research dari Kepala Bappeda

Kabupaten Kudus

Lampiran 3. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari Camat Mejobo

Lampiran 4. Keputusan Dekan FIS Unnes tentang Dosen Pembimbing Skripsi

Lampiran 5. Daftar Resoponden

Lampiran 6. Rancangan Instrumen Penelitian

Lampiran 7. Pedoman Wawancara kepada Anggota Masyarakat di Kecamatan

Mejobo

Lampiran 8. Pedoman Wawancara kepada Camat Mejobo

Lampiran 9. Pedoman Wawancara kepada Kepala Sie Kurikulum Pendidikan

Menengah

Lampiran 10. Pedoman Wawancara kepada Kepala UPT Pendidikan Kecamatan

Mejobo

Lampiran 11. Pedoman Wawancara kepada Kepala Sekolah SMK 3 Ma’arif dan

Kepala SMA 1 Mejobo Kudus

xvii
Lampiran 12. Pedoman Wawancara kepada Keluarga dengan Anak yang Putus

Sekolah

Lampiran 13. Pedoman Observasi

Lampiran 14. Pedoman Dokumentasi

Lampiran 15. Dokumentasi Foto

xviii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Fukuzawa Yukichi melalui bukunya “Gakumon No Susume” (dalam

Suyitno, 2009: 88) pernah mengatakan, pendidikan adalah jalan yang paling

ampuh untuk mencapai tujuan negara. Hal tersebut tidak mengherankan, sebab

dengan pendidikan yang baik suatu negara akan lebih kuat dalam mewujudkan

visi serta misinya. Tatanan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun

2015 misalnya, sangat mungkin menjadi hantaman keras bagi para pekerja

Indonesia apabila kualifikasi personal yang mereka miliki tidak ditunjang pula

oleh kualitas dan jenjang pendidikan yang memadai. Mengingat saat konsep

mobilitas tenaga kerja intra-ASEAN (movement of ASEAN natural laborer)

diterapkan, masyarakat Indonesia harus bersiap menyambut “banjir” tenaga

kerja asing yang sering diasumsikan lebih terampil ketimbang mereka. Di sini

kita dapat menyimpulkan, bahwa kemampuan bersaing Sumber Daya Manusia

(SDM) Indonesia urgen ditingkatkan baik itu secara formal maupun informal,

utamanya melalui pendidikan (Departemen Perdagangan, 2008: 80).


Tidak hanya sampai di situ, masih banyak proyeksi-proyeksi lain dari

Bangsa Indonesia yang memposisikan pendidikan sebagai instrumen pokok

dalam mewujudkan target jangka panjang. Seperti contoh, Yayasan Indonesia

Forum (YIF) di tahun 2007 sudah merilis Kerangka Visi Indonesia 2030 yang

ditopang oleh empat buah pencapaian utama, salah satunya yakni kesuksesan

merealisasikan kualitas hidup modern yang merata (shared growth) dengan

ditandai masuknya Indonesia pada 30 besar Human Development Index (HDI)

1
2

terbaik dunia (Yayasan Indonesia Forum, 2007: 4). Tanpa adanya peningkatan

mutu pendidikan, hal tersebut tentu muskil untuk dilakukan.


Berbeda dengan YIF yang dikategorikan sebagai organ infrastruktur

politik (interest group), pemerintah lewat Kementerian Koordinator Bidang

Perekonomian juga mempunyai rencana induk visioner yang secara eksplisit

termuat pada MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan

Ekonomi Indonesia) Tahun 2011-2025. Dari perspektif legal formal (de jure)

artinya rencana tersebut telah cukup lama berjalan. Namun, jika mengamati

kenyataan (de facto) justru masih banyak problem yang tidak kunjung tuntas

terselesaikan. Seperti terkait pemanfaatan potensi kuantitas SDM Indonesia

yang begitu besar, praksisnya modal berharga itu hingga kini belum dapat

berperan maksimal karena tidak dibarengi oleh pendidikan berkualitas serta

merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Padahal, peningkatan kemampuan

SDM dan IPTEK menjadi salah satu dari tiga kunci utama penyelenggaraan

MP3EI.
Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK menjadi suatu hal yang
vital dilakukan, karena pada era ekonomi berbasis pengetahuan, mesin
pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil
penemuan menjadi produk inovasi. Dalam konteks ini, peran SDM
berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung perkembangan
ekonomi yang berkesinambungan (Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian, 2011: 39-40).

Sebenarnya menyimak berbagai uraian mengenai urgensi pendidikan

di atas, pemerintah Indonesia melalui konstitusi negara (UUD 1945) sudah

mengupayakan optimalisasi sektor pendidikan. Hal itu tertuang dalam pasal 31

ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi jika, “Setiap warga negara wajib

mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Langkah


3

pemerintah dalam mengoptimalisasi bidang pendidikan lewat UUD 1945

kemudian juga melandasi ketentuan yuridis yang ada di bawahnya. Pertama,

tercermin dari pengesahan UU No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem

Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Secara tersurat UU Sisdiknas adalah amanat

dari UUD 1945, di antaranya pasal 31 serta pasal 32. Kedua, mengacu UU No.

20 Tahun 2003, presiden lantas membentuk sebuah Peraturan Pemerintah No.

47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. PP mengenai Wajib Belajar tersebut,

didasarkan atas regulasi pada pasal 34 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003:


(1) Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti wajib
belajar.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya
wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa
memungut biaya.
(3) Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang
diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah
daerah, dan masyarakat.
(4) Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah (Pasal 34 UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendikan Nasional).

Definisi wajib belajar sendiri menurut PP No. 47 Tahun 2008 adalah

program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga Negara Indonesia

atas tanggung jawab dari pemerintah dan pemerintah daerah. Program tersebut

bertujuan untuk mengadakan perluasan serta pemerataan kesempatan dalam

mendapatkan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara Indonesia.

Ketika dilihat secara kritis, yang bertanggungjawab terhadap program wajib

belajar ternyata tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah.

Hal itu selaras dengan keberadaan asas desentralisasi di berbagai UU otonomi

daerah (yang terbaru UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah).


4

Kabupaten Kudus adalah salah satu potret daerah otonom yang telah

berhasil melaksanakan program wajib belajar 9 tahun. Hal tersebut dibuktikan

dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) Wajib Belajar 9 Tahun yang sudah

meraih persentase 96 persen pada tahun 2010 (Ratnawati, dkk, 2012: 3) dan

APK Wajib Belajar 12 Tahun yang mencapai persentase sebesar 81 persen di

tahun 2008 (http://www.suaramerdeka.com, diunduh tanggal 5 Januari 2014).

Berangkat dari data APK yang sukses dicapai, pemerintah Kabupaten Kudus

kemudian berinisiatif mencanangkan program wajib belajar 12 tahun dengan

Peraturan Daerah (Perda) No. 2 Tahun 2010 sebagai landasan formalnya. Di

samping itu, Visi dan Misi Bupati Kudus yang mengangkat program wajib

belajar 12 tahun sebagaimana termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2008-2013 juga turut melatarbelakangi

terbitnya Perda mengenai Wajib Belajar 12 tahun tersebut.


Aturan-aturan yang tercantum dalam Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010 mengenai Wajib Belajar 12 Tahun, sesungguhnya hampir serupa

dengan berbagai regulasi yang terkandung di PP No. 47 Tahun 2008 tentang

Wajib Belajar. Disparitas antara keduanya, hanya terletak pada peningkatan

kuantitas wajib belajar (dari 9 menjadi 12 tahun) dan unsur yang ikut serta

bertanggungjawab, di mana dalam Perda juga dipegang oleh masyarakat. Hal

itu sesuai dengan pengertian program wajib belajar 12 tahun menurut pasal 1

dari Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010, yaitu “program pendidikan

minimal yang harus diikuti oleh penduduk Kabupaten Kudus atas tanggung

jawab pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.”


5

Sebagai bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Kudus, Kecamatan

Mejobo secara otomatis juga mengimplementasikan program wajib belajar 12

tahun. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun tahun 2011,

jumlah sekolah negeri dan swasta dari jenjang dasar sampai jenjang menengah

di Kecamatan Mejobo ada sebanyak 56 unit (BPS Kabupaten Kudus, 2012:

54). Sementara itu, pada Kecamatan Bae yang notabene berbatasan langsung

dengan Kecamatan Mejobo, banyaknya bangunan sekolah negeri dan swasta

hanya 47 unit (BPS Kabupaten Kudus, 2012: 57). Meskipun jumlah penduduk

Kecamatan Bae lebih sedikit, hal tersebut tetap dapat memberikan sinyalemen

bahwa dalam segi kuantitas lembaga pendidikan, Mejobo tidaklah tergolong

kecamatan yang minim.


Namun ketika mencermati kondisi di lapangan, ternyata masih relatif

banyak dari masyarakat Kecamatan Mejobo yang apatis terhadap pendidikan

sekolah, minimal sampai tingkat menengah. Hingga sekarang ini, tidak sedikit

dijumpai anak-anak yang putus sekolah. Sesuai profil pendidikan Kabupaten

Kudus, terdapat lima anak putus sekolah di Kecamatan Mejobo pada tahun

2013/ 2014. Jumlah tersebut belum termasuk anak-anak yang putus sekolah

saat kenaikan jenjang pendidikan, padahal program wajib belajar 12 tahun

Kabupaten Kudus telah diterapkan sejak tahun 2010. Oleh karena itu, patut

untuk diketahui bagaimana peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam

merealisasikan program wajib belajar 12 tahun dan faktor-faktor pendukung

maupun penghambatnya, supaya bisa dianalisis secara simultan sebagai bahan

pemikiran (input) perumusan kebijakan yang strategis ke depan. Bertolak dari

realitas tersebut, peneliti tertarik mengangkat sebuah penelitian dengan judul


6

“Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan Program Wajib Belajar 12

Tahun (Studi Kasus di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus)”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, permasalahan yang

akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Bagaimanakah peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam rangka

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?


2. Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat peran

serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam mewujudkan program wajib

belajar 12 tahun?

C. Tujuan Penelitian
Beberapa tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:
1. Mendeskripsikan peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam

rangka mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.


2. Mengidentifikasi berbagai faktor pendukung dan penghambat peran serta

masyarakat Kecamatan Mejobo dalam mewujudkan program wajib belajar

12 tahun.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai dua manfaat sekaligus, yakni secara teoretis

dan secara praktis.


1. Manfaat Teoretis
a. Memberikan sumbangsih teori mengenai peran serta masyarakat dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun sesuai dengan kedudukan

masyarakat di era reformasi sebagai subjek dari pembangunan.


b. Memberikan masukan konseptual terkait peran serta masyarakat dalam

merealisasikan program wajib belajar 12 tahun agar dapat memperkaya

khasanah keilmuan yang relevan.


7

2. Manfaat Praktis
a. Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan akan dapat menjadi “feed

back” untuk penyusunan langkah-langkah kebijakan dalam kaitannya

dengan program wajib belajar 12 tahun.


b. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan bisa memberikan analisis

yang konkret seputar faktor-faktor pendukung dan penghambat peran

serta mereka dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.


c. Bagi almamater peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menyajikan

tambahan informasi dan wawasan, khususnya kepada mahasiswa yang

ingin menyusun penelitian dengan topik berkaitan.


d. Bagi seluruh pihak, penelitian ini diharapkan akan dapat menyumbang

uraian yang komprehensif berhubungan dengan peran serta masyarakat

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.

E. Penegasan Istilah
Penegasan istilah dalam penelitian berikut ini bertujuan supaya tidak

terjadi ambivalensi pengertian yang dapat mengakibatkan bias judul penelitian

terkait. Selain itu, juga dimaksudkan untuk membatasi ruang telaah dari objek

penelitian.
1. Peran Serta
Jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi digital,

istilah “peran serta” berarti: a) ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan; b)

keikutsertaan secara aktif; dan di samping itu, juga bisa dimaknai sebagai

c) partisipasi.
Pengertian lain dari peran serta sukar dijumpai, sebab morfem yang

lebih populer digunakan pada konteks makna sepadan adalah partisipasi,

kecuali telah diberi imbuhan kata (contoh: masyarakat). Istilah peran serta

pada penelitian ini dipilih, karena tertera sebagai bagian Bab (VII) dalam
8

Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 mengenai Wajib Belajar 12

Tahun.
Secara implisit di Perda yang bersangkutan, peran serta memiliki

definisi turut sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil dari kegiatan

pendidikan (berkenaan dengan definisi itu spesifikasinya dapat diperiksa

pada PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan

Pendidikan). Jadi otomatis, pengertian peran serta yang dipakai untuk

penelitian ini juga disamakan dengan definisi yang tersirat dalam Perda

tentang Wajib Belajar 12 Tahun tersebut.

2. Masyarakat
Secara sosiologis, “masyarakat” bisa diartikan sebagai sekelompok

orang yang tinggal di daerah tertentu, untuk jangka waktu yang lama, dan

menghasilkan kebudayaan. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Ralph

Linton (dalam Soekanto, 2006: 22), bahwa masyarakat merupakan suatu

bentuk kehidupan bersama untuk kurun waktu yang cukup lama sehingga

menghasilkan adat istiadat.


Sementara itu Koentjaraningrat (2009: 115-118) melalui substansi

yang tak jauh berbeda, mengkaji definisi masyarakat dengan menawarkan

empat ciri primernya, yaitu: a) interaksi antar warga-warganya, b) tata adat

istiadat, c) kontinuitas waktu, dan d) rasa identitas yang kuat mengikat

semua warga.
Namun demikian, pada penelitian ini pengertian masyarakat akan

lebih berfokus terhadap anggota masyarakat sebagai stakeholders dalam

mewujudkan suatu kebijakan. Jadi di sini, masyarakat merupakan sebuah


9

entitas warga yang terdiri atas beberapa elemen, yakni: a) perseorangan

(individu), b) keluarga, c) pengusaha, serta d) organisasi kemasyarakatan.

3. Wajib Belajar 12 Tahun


Dalam UU Sisdiknas tertulis jika, “Wajib belajar adalah program

pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas

tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah” (pasal 1 UU No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).


Sama seperti halnya dalam UU Sisdiknas, pengertian wajib belajar

pada PP No. 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar juga demikian. Namun

sedikit berbeda dengan yang tercantum di UU Sisdiknas dan PP mengenai

Wajib Belajar, definisi wajib belajar sesuai Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010 tidak hanya menjadi tanggung jawab bagi pemerintah dan

pemerintah daerah, melainkan juga masyarakat.


Jadi, dalam penelitian berikut ini “wajib belajar 12 tahun” diartikan

sebagai program pendidikan minimal yang harus ditempuh oleh penduduk

Kabupaten Kudus atas tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah,

dan masyarakat. Adapun untuk pendidikan minimal yang dimaksud adalah

sampai di jenjang pendidikan menengah (12 tahun).


BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan diri individu

yang berlangsung sepanjang hayat dan memiliki sifat universal, sehingga

berarti penting bagi setiap orang. Secara yuridis, menurut UU Sisdiknas

No. 20 Tahun 2003:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Pasal 1 UU No. 20
Tahun 2003).

Selanjutnya, menurut Dictionary of Education (dalam Ihsan, 2003:

4) pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai:

Proses seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-


bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana dia
hidup, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh
lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang
dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami
perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang
optimal.

Pengertian lainnya mengenai pendidikan diungkapkan oleh Daoed

Joesoef (dalam Munib, 2009: 33) yang menegaskan pendidikan dengan

menggunakan dua aspek pendekatan, yakni pendidikan sebagai proses dan

sebagai hasil. Pada tataran sebagai proses, pendidikan adalah serangkaian

bantuan, pertolongan, bimbingan, pengajaran, serta pelatihan. Sementara

11
12

itu dalam konteks sebagai hasil, pendidikan menciptakan manusia dewasa,

susila, bertanggungjawab, dan mandiri.


Di sisi lain, dengan menggunakan konsep yang lebih fundamental

Driyarkara (dalam Munib, 2009: 33) mendefinisikan pendidikan sebagai

upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia menuju taraf

insani itulah yang disebut mendidik. Dari berbagai pengertian pendidikan

tersebut, baik secara yuridis maupun konseptual, dapat disimpulan bahwa

pendidikan adalah proses pembinaan potensi-potensi dalam diri seseorang

melalui pengajaran dan pelatihan untuk mengkonstruksi individu dewasa

yang matang secara intelektual, mental, maupun spiritual.

2. Urgensi dan Tujuan Pendidikan

Tanpa pendidikan, seseorang tidak akan mampu mengembangkan

potensi dirinya secara optimal dan kesulitan dalam mencapai tujuan hidup

yang lebih baik. Oleh sebab itu, urgensi pendidikan telah menjadi hal yang

tidak terelakan lagi. Salah satu indikatornya tampak dari berbagai macam

tujuan pendidikan yang bervariasi dan mengandung aspek-aspek primer

bagi kehidupan. Seperti dimuat oleh pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun

2003 yang menyatakan, jika pendidikan bertujuan untuk mengembangkan

potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, di samping pula menjadi warga negara yang demokratis

serta bertanggungjawab.

Langeveld melalui bukunya yang berjudul “Beknopte Theoritische

Paedagogiek” (dalam Munib, 2009: 49-50) juga menyampaikan beberapa


13

tujuan pendidikan. Bahkan, dengan penjabaran yang bisa dibilang lebih

ekstensif. Adapun tujuan-tujuan pendidikan tersebut terdiri dari tujuan

umum, tujuan tidak sempurna, tujuan sementara, tujuan perantara, tujuan

insidental, serta tujuan khusus.


a. Tujuan umum. Tujuan di dalam pendidikan yang seharusnya
menjadi tujuan orang tua atau pendidik. Tujuan ini berakar dari
tujuan hidup dan berhubungan dengan pandangan tentang
hakikat manusia, tentang apa tugas dan arah hidup manusia.
b. Tujuan Tidak Sempurna. Tujuan yang menyangkut segi-segi
tertentu, seperti kesusilaan, keagamaan, kemasyarakatan,
keindahan, seksual, dan sebagainya. Semua itu tidak terlepas
dari tujuan umum.
c. Tujuan Sementara. Tempat pemberhentian sementara belajar
berbicara, membaca, menulis, dan sebagainya untuk mencapai
tujuan yang lebih tinggi, yaitu berkomunikasi dalam
kehidupannya.
d. Tujuan Perantara. Tujuan ini dinamakan juga tujuan
intermediair. Tujuan Perantara ditentukan dalam rangka
mencapai tujuan sementara.
e. Tujuan Insidental. Tujuan ini hanya merupakan peristiwa-
peristiwa yang terlepas saat demi saat dalam proses menuju
pada tujuan umum.
f. Tujuan Khusus. Tujuan ini adalah pengkhususan dari tujuan
umum, misalnya sehubungan dengan gender maka
diselenggarakan SMKK (khusus putri) dan STM (khusus putra).

Sementara itu menurut argumentasi Tirtarahardja dan Sulo (2005:

37), pendidikan memuat gambaran mengenai nilai-nilai yang baik, luhur,

pantas, serta “estetis” untuk kehidupan yang bertujuan memberikan arah

terhadap segenap aktivitas pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin

diwujudkan oleh kegiatan pendidikan. Kemudian yang terakhir, pasal 26

dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (HAM) Tahun 1948 (dalam

Bergstrom, 2009: 168) salah satu poinnya juga telah jelas menyebutkan,

“Education shall be directed to full development of the human personality

(Pendidikan akan diarahkan untuk pengembangan sepenuhnya kepribadian


14

seseorang)”. Jadi tidaklah mengherankan apabila pendidikan mempunyai

kedudukan yang urgen pada kehidupan, sebab jika mencermati berbagai

tujuan pendidikan seperti sudah dipaparkan sebelumnya, terdapat ihwal-

ihwal sangat penting dari sumbangsih pendidikan dalam perjalanan hidup

seseorang guna mengembangkan potensinya serta meraih apa yang dicita-

citakan.

3. Jalur Pendidikan

Untuk merealisasikan tujuan pendidikan, pemerintah melalui UU

Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 membagi pelaksanaan pendidikan dengan

tiga jalur. Hal tersebut bisa disimak dalam pasal 13 ayat (1) UU Sisdiknas

No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi bahwa, “Jalur pendidikan terdiri atas

pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling

melengkapi dan memperkaya.” Ketiga jalur tersebut sebagaimana

dijelaskan oleh pasal 13 ayat (2), diselenggarakan dengan menggunakan

sistem terbuka melalui tatap muka dan/ atau melalui jarak jauh.
Baik jalur pendidikan formal, nonformal, maupun informal sama-

sama memiliki ciri khusus yang membedakan antara satu dengan lainnya.

Pendidikan formal, seperti banyak diketahui merupakan jalur pendidikan

yang terstruktur dan berjenjang. Pendidikan formal terdiri dari pendidikan

dasar, pendidikan menengah, serta pendidikan tinggi. Ciri-ciri pendidikan

formal antara lain:


a) Memiliki jenjang pendidikan secara jelas, b) kurikulumnya
disusun secara sistematis untuk setiap jenjang dan jenisnya, c)
materi pembelajaran bersifat akademis, d) Ada ujian formal yang
disertai pemberian ijazah, e) penyelenggara pendidikan adalah
pemerintah atau swasta (Munib, 2009: 144-145).
15

Berikutnya, pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar

jalur pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan

berjenjang. Sesuai isi pasal 26 ayat (1) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003,

pendidikan nonformal diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan

layanan pendidikan serta berperan sebagai pengganti, penambah, dan/ atau

pelengkap dari pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan

sepanjang hayat. Beberapa ciri pendidikan nonformal terdiri atas:


a) Adakalanya usia menjadi persyaratan tetapi tidak merupakan
suatu keharusan, b) pada umumnya tidak memiliki jenjang yang
jelas, c) bersifat praktis dan khusus, d) pendidikannya relatif
berlangsung secara singkat, e) kadang-kadang ada ujian dan
biasanya peserta mendapatkan sertifikat (Munib, 2009: 145).

Terakhir, pendidikan informal, yaitu jalur pendidikan keluarga dan

lingkungan. Kegiatan dilakukan dengan bentuk belajar yang mandiri, di

mana hasil pendidikannya bisa diakui sama dengan pendidikan formal dan

nonformal setelah peserta didik menempuh ujian sesuai Standar Nasional

Pendidikan. Ciri-ciri pendidikan informal di antaranya:


a) Tidak berjenjang, b) tidak ada program yang dilaksanakan secara
formal, c) tidak ada meteri tertentu yang harus tersaji secara
formal, d) berlangsung sepanjang hayat, e) tidak ada ujian (apabila
ingin diakui sepertihalnya pendidikan formal dan informal harus
melalui ujian sesuai standar nasional pendidikan nasional) (Munib,
2009: 145).
4. Jenjang Pendidikan
Di samping membagi pelaksanaan pendidikan menjadi tiga jalur,

dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan, pemerintah juga membuat

penjenjangan pendidikan. Pada domain ini penjenjangan pendidikan yang

dimaksud terbatas bagi pendidikan formal, sebab hanya pendidikan formal

yang jelas penjenjangannya. Pasal 14 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003


16

telah secara gamblang menjelaskan, bahwa jenjang dari pendidikan formal

terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Penjenjangan seperti demikian dikenal pula oleh hampir seluruh negara di

dunia. Soedijarto (dalam Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, 2007:

11) menganalisis, format penjenjangan tersebut dipilih karena mengikuti

pemikiran Plato Empat Abad Sebelum Masehi (SM) yang juga membagi

pendidikan menjadi beberapa tingkatan, masing-masing adalah pendidikan

dasar, pendidikan menengah, serta pendidikan tinggi.


Sesuai dengan pasal 17 ayat (1) UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003,

“Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi

jenjang pendidikan menengah.” Bentuk pendidikan dasar adalah Sekolah

Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat

serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs)

atau bentuk lain yang sederajat.


Sementara itu, pengertian pendidikan menengah menurut pasal 18

ayat (1) UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, yakni lanjutan dari pendidikan

dasar. Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum serta

pendidikan menengah kejuruan, yang berbentuk Sekolah Menengah Atas

(SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.


Selanjutnya definisi pendidikan tinggi, yaitu diterangkan sebagai

jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mana mencakup

program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang

diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Hal itu seperti termaktub dalam


17

pasal 19 ayat (1) UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Adapun sistem yang

digunakan adalah sistem terbuka.

B. Kebijakan Publik

1. Pengertian Kebijakan dan Kebijakan Publik

Sebelum lebih jauh membahas tentang kebijakan publik, kita perlu

mengetahui dahulu apa itu konsep “kebijakan” atau dalam Bahasa Inggris

acap kali disebut dengan istilah “policy”. Ada berbagai macam pengertian

mengenai kebijakan, salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Karl J.

Federick (dalam Agustino, 2008: 7), yakni suatu rangkaian tindakan yang

diusulkan seseorang, kelompok, atau pemerintah pada lingkungan tertentu

di mana terdapat hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan dalam

pelaksanaan usulan kebijakan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu.


Konsepsi senada juga dinyatakan James Anderson (dalam Islamy,

2009: 17), bagi Anderson kebijakan adalah “a purposive course of action

followed by an actor or set of actors in dealing with a matter of concern

(serangkaian tindakan yang memiliki tujuan dan diikuti oleh seorang atau

sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu)”. Sampai di

sini, kita sudah bisa menyimpulkan aspek utama pada sebuah kebijakan

terdiri atas sasaran atau kehendak dan tujuan. Sebagaimana argumentasi

Friedrich (dalam Abidin, 2002: 20-21) yang menyampaikan hal-hal paling

esensial pada kebijakan, antara lain yaitu objective (sasaran) atau purpose

(kehendak) serta goal (tujuan).


18

Selanjutnya, berkaitan dengan definisi kebijakan publik. Menurut

opini Chandler dan Plano (dalam Pasolong, 2010: 38-39):


Kebijakan publik merupakan pemanfaatan secara strategis pada
sumber-sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik
atau pemerintahan. Lebih lanjut, Chandler dan Plano juga
menyatakan jika kebijakan publik adalah suatu bentuk investasi
yang continue oleh pemerintah demi kepentingan orang-orang
yang tidak berdaya dalam masyarakat agar mereka mampu hidup
serta dapat ikut berpartisipasi pada pemerintahan.

Sementara itu, William N. Dunn di dalam bukunya yang berjudul

“Analisis Kebijakan Publik”, memaknai kebijakan publik sebagai sebuah

pola ketergantungan kompleks dari pilihan-pilihan kolektif atau gabungan

yang saling tergantung, termasuk juga keputusan-keputusan untuk tidak

bertindak yang dibuat oleh badan atau kantor pemerintah (Dunn, 2000:

132).
Kemudian, Thomas R. Dye (dalam Howlett dan Ramesh, 1995: 2)

dengan konsep yang jauh lebih sederhana menawarkan definisi kebijakan

publik melalui gagasan “what government did, why they do it, and what

differences it makes (apa yang pemerintah telah lakukan, mengapa mereka

melakukannya, serta apa perbedaan yang dihasilkan)”. Jadi sekarang dapat

digeneralisasikan, bahwa kebijakan publik merupakan suatu tindakan yang

dipilih pemerintah dari berbagai alternatif guna mengatasi permasalahan di

masyarakat dan berorientasi terhadap kepentingan publik.

2. Elemen Kebijakan Publik

Selain dipandang sebagai tindakan, kebijakan juga bisa dipandang

sebagai sistem. Berkenaan dengan hal tersebut, kebijakan memiliki elemen

yang secara teratur saling berkaitan dan membentuk suatu totalitas. Hal itu
19

diutarakan Thomas R. Dye (dalam Dunn, 2000: 110) yang merangkumnya

menjadi tiga elemen, masing-masing adalah: a) kebijakan publik, b)

pelaku kebijakan, serta c) lingkungan kebijakan.

Kebijakan Publik
(Public Policy)

Lingkungan Kebijakan Pelaku Kebijakan


(Policy Environment) (Policy Stakeholders)

Bagan 1. Tiga Elemen Sistem Kebijakan (Dunn, 2000: 110)

Hubungan ketiga elemen di atas inheren serta saling melengkapi

(komplementer). Seperti contohnya, kebijakan publik tidak akan berhasil

diimplementasikan tanpa adanya dukungan dari pelaku kebijakan. Namun

harus diakui, jika pelaku kebijakan juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan

publik itu sendiri yang dibuat pemangku otoritas. Begitupun antar elemen-

elemen yang lain, semuanya tidak bisa dipisahkan (melekat) serta saling

melengkapi. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila Dunn (2000:

111) menyatakan bahwa sistem kebijakan berisikan proses dialektis yang

bermakna dimensi objektif dan subjektif dari pembuatan kebijakan tidak

terpisahkan di dalam praktiknya.

Sudut pandang lain tentang elemen kebijakan publik diungkapkan

oleh James Anderson (dalam Widodo, 2001: 190). Akan tetapi, dengan

lebih mengaksentuasikannya melalui karakteristik kebijakan publik yang

mencakup:
20

a. Kebijakan senantiasa mempunyai tujuan atau berorientasi pada


tujuan tertentu.
b. Kebijakan berisikan tindakan atau pola tindakan pejabat-pejabat
pemerintah.
c. Kebijakan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh
pemerintah, dan bukan apa yang bermaksud dilakukan.
d. Kebijkan publik bersifat positif (tindakan pemerintah mengenai
sesuatu masalah tertentu) dan bersifat negatif (keputusan pejabat
pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu).
e. Kebijakan (positif), senantiasa berlandaskan pada peraturan
perundangan tertentu yang bersifat memaksa.

3. Kebijakan Pendidikan sebagai Bagian Kebijakan Publik

Kebijakan pendidikan adalah sebuah kebijakan publik di bidang

pendidikan. Kebijakan pendidikan bertujuan untuk mengatasi persoalan-

persoalan dunia pendidikan. Mark Olsen, John Codd, serta Anne Marie

O’Neil (dalam Tilaar dan Nugroho, 2008: 267) menjelaskan, kebijakan

pendidikan merupakan kunci bagi keunggulan, bahkan eksistensi negara-

bangsa pada persaingan global sekarang, sehingga kebijakan pendidikan

perlu mendapatkan prioritas utama dalam era globalisasi.

Sesuai dengan yang dikatakan di atas, kebijakan pendidikan adalah

bagian dari kebijakan publik, yakni kebijakan publik di bidang pendidikan.

Dengan demikian, kebijakan pendidikan harus sebangun dengan kebijakan

publik (Tilaar dan Nugroho, 2008: 267). Kebijakan pendidikan berperan

untuk mencapai tujuan pembangunan pendidikan secara khusus dan tujuan

pembangunan nasional secara umum. Apabila digambarkan dalam sebuah

tabel, berikut merupakan kedudukan kebijakan pendidikan sebagai bagian

dari kebijakan publik:

Tabel 1. Kebijakan Pendidikan sebagai Bagian Kebijakan Publik


21

Kebijakan Publik
Bidang Bidang Bidang Bidang Luar Dan
Pendidikan Ekonomi Militer Negeri Sebagainya

C. Program Wajib Belajar 12 Tahun


1. Latar Belakang dan Landasan Yuridis
Program wajib belajar 12 tahun prinsipnya merupakan peningkatan

dari program sejenis, yaitu program wajib belajar 9 tahun. Program wajib

belajar 9 tahun sendiri dicanangkan tanggal 2 Mei 1994 yang bertepatan

dengan Hari Pendidikan Nasional (Nurdin, 2000: 6). Menurut argumentasi

Surya (2004: 30), program tersebut berorientasi guna meningkatan kualitas

SDM yang bermuara terhadap pengejaran dan penyesuaiaan tuntutan era

globalisasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Isjoni (2006: 41-42), yang

mengatakan bahwa program wajib belajar 9 tahun adalah pijakan pertama

bagi loncatan Bangsa Indonesia untuk memasuki Millenium Ketiga serta

globalisasi. Jadi tujuan diadakannya program wajib belajar 9 tahun selain

sebagai bentuk perluasaan dan pemerataan pendidikan, dikehendaki pula

untuk menjadi langkah strategis dalam memenuhi tuntutan era globalisasi.

Era globalisasi yang dimaksud meliputi AFTA (Asia Free Trade Area) di

tahun 2003 serta APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) pada tahun

2010 (Ali, 2009: 17).


Awal mulanya, program wajib belajar 9 tahun dilandasi oleh UU

Sisdiknas No. 2 Tahun 1989. Akan tetapi karena tak lagi mengakomodasi

amandemen terbaru UUD 1945 di masa reformasi, kini dasarnya berganti

menjadi UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yang lantas memayunginya

lewat PP No. 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Melalui PP tersebut,


22

pemerintah sangat mafhum bahwa tidak hanya faktor eksternal (dinamika

globalisasi) saja yang perlu diperhatikan program wajib belajar 9 tahun,

melainkan juga faktor internal (tatanan otonomi daerah) dari kepentingan

nasional. Itulah sebabnya, dalam PP No. 47 Tahun 2008 terdapat peluang

bagi daerah apabila hendak menetapkan kebijakan wajib belajar dengan

jenjang yang lebih tinggi daripada 9 tahun, bahkan mengatur pelaksanaan

program wajib belajar sesuai kondisi daerah masing-masing.


(5) Pemerintah daerah dapat menetapkan kebijakan untuk
meningkatkan jenjang pendidikan wajib belajar sampai
pendidikan menengah.
(6) Pemerintah daerah dapat mengatur lebih lanjut pelaksanaan
program wajib belajar, sesuai dengan kondisi daerah masing-
masing melalui Peraturan Daerah (Pasal 7 ayat 5 dan 6 PP No.
47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar).

Merujuk ketentuan tersebut serta dengan mempertimbangkan APK

Wajib Belajar 12 Tahun yang meraih persentase sebesar 81 persen di tahun

2008 (http://www.suaramerdeka.com, diunduh tanggal 5 Januari 2014) dan

sekaligus RPJMD pada Tahun 2008-2013, pemerintah Kabupaten Kudus

kemudian menetapkan Perda No. 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12

Tahun. Konsekuensinya adalah pendidikan minimal yang harus ditempuh

masyarakat Kudus tidak lagi hanya sampai tingkat dasar seperti berlaku di

scope nasional, melainkan hingga tingkat pendidikan menengah. Memang

mulai tanggal 25 Juni 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga

sudah meresmikan Pendidikan Menengah Universal (PMU). Akan tetapi,

program yang dimaksud masih sebatas rintisan dari wajib belajar 12 tahun.

Menurut Hendrawan (Koran Muria, 28/4/2014), hal itu dikarenakan belum


23

ada amandemen UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang merevisi aturan

wajib belajar 9 tahun menjadi 12 tahun.

2. Program Wajib Belajar 12 Tahun sebagai Universal Education


Sebelum detail mengkaji tentang program wajib belajar 12 tahun di

Kabupaten Kudus, patut diketahui terlebih dahulu bahwa program wajib

belajar yang disahkan oleh pemerintah Kabupaten Kudus lewat Perda No.

2 Tahun 2010 bukanlah compulsory education (pendidikan wajib) seperti

makna harfiahnya, melainkan universal education (pendidikan semesta).

Hal tersebut disebabkan, compulsory education serupa dengan apa yang

telah diterapkan negara-negara maju dunia memiliki ciri-ciri antara lain:


a) Adanya unsur paksaan supaya peserta didik bersekolah, b) tolak
ukur wajib belajar yaitu tidak adanya orang tua yang dikenai sanksi
karena tidak menyekolahkan anaknya, dan c) adanya sanksi bagi
orang tua yang telah membiarkan anaknya tidak sekolah (Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan UPI, 2007: 121).

Sementara itu, dalam Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010

tentang Wajib Belajar 12 Tahun tidak ada satupun pasal yang mengatur

mengenai penjatuhan sanksi. Seperti misalnya, terhadap orang tua permisif

yang membiarkan anak-anak mereka tak bersekolah. Jadi di sini program

wajib belajar 12 tahun dapat dinyatakan lebih cenderung sebagai universal

education, yang menitikberatkan pada:


a) Pendekatan persuasif, b) tanggung jawab moral orang tua dan
peserta didik agar terpanggil untuk mengikuti pendidikan karena
berbagai kemudahan yang disediakan, dan c) penggunaan ukuran
keberhasilan yang lebih bersifat makro dengan melihat
peningkatan angka partisipasi pendidikan (Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan UPI, 2007: 121).

Salah satu contoh negara maju yang sudah mengimplementasikan

compulsory education adalah Hong Kong. Pengoperasionalan kebijakan


24

compulsory education oleh pemerintah Hong Kong yang bersifat memaksa

dan mempunyai sanksi membuat potensi serta statistik anak putus sekolah

berkurang secara signifikan. Di sana, compulsory education berlaku sejak

tahun 1971 dan “gratis”.


In Hong Kong, primary school was first made compulsory and free
in 1971. In 1978, Hong Kong extended its free compulsory
education from 6 to 9 years. And in 2008, Hong Kong extended
again its free compulsory education to 12 years (Di Hong Kong,
sekolah dasar pertama kali dibuat wajib belajar dan gratis di tahun
1974. Pada tahun 1978, Hong Kong memperpanjang wajib belajar
gratis dari 6 ke 9 tahun. Dan di 2008, Hong Kong memperpanjang
lagi wajib belajar gratis hingga 12 tahun) (Ou, 2013: 1).

3. Pengertian, Maksud, dan Tujuan


Sesuai pasal 1 Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010, wajib

belajar 12 tahun adalah program pendidikan minimal yang harus ditempuh

penduduk Kabupaten Kudus atas tanggung jawab pemerintah, pemerintah

daerah, serta masyarakat. Program tersebut bermaksud memberikan dasar

bagi penyelenggaraan wajib belajar 12 tahun dengan tujuan meningkatkan

perluasan dan pemerataan pendidikan minimal hingga jenjang pendidikan

menengah untuk penduduk Kabupaten Kudus. Hal itu seperti tertuang di

pasal 2 Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010.

4. Penyelenggaraan Program Wajib Belajar 12 Tahun


Penyelenggaraan dari program wajib belajar 12 tahun tidak hanya

dalam jalur pendidikan formal, tetapi juga jalur nonformal dan informal.

Di jalur pendidikan formal contohnya, diadakan pada jenjang pendidikan

dasar (SD, SMP, MI, MTs, dan bentuk lain yang sederajat) sampai dengan

jenjang pendidikan menengah (MA, MA, SMK, MAK, dan bentuk lain

yang sederajat). Berikutnya, di jalur pendidikan nonformal program wajib


25

belajar 12 tahun dilaksanakan melalui kejar paket (paket A, paket B, paket

C, maupun bentuk lain yang sederajat), sedangkan pada jalur pendidikan

informal, penyelenggaraan dari wajib belajar 12 tahun diaplikasikan lewat

pendidikan keluarga dan/ atau pendidikan lingkungan masyarakat. Ketiga

jalur pendidikan tersebut dalam penyelenggaraan program wajib belajar 12

tahun diatur oleh Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 pasal 3 ayat

(2), ayat (3), dan ayat (4).

5. Pengelolaan dan Evaluasi Program Wajib Belajar 12 Tahun


Pengelolaan program wajib belajar 12 tahun merupakan tanggung

jawab Bupati Kudus. Sementara itu, secara spesifik untuk tingkat satuan

pendidikan dasar menjadi tanggung jawab pemimpin satuan pendidikan

dasar. Demikian juga bagi tingkat satuan pendidikan menengah, di mana

pengelolaan program wajib belajar 12 tahun adalah tanggung jawab dari

pemimpin satuan pendidikan menengah. Hal tersebut telah termaktub jelas

pada pasal 6 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun.


Sebagai parameter penilaian keberhasilan, di samping pula sumber

refleksi penerapan program wajib belajar 12 tahun, pemerintah Kabupaten

Kudus kemudian membuat ketentuan tentang evaluasi program. Ketentuan

tersebut, dapat dicermati dalam Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010

pasal 7. Evaluasi program wajib belajar 12 tahun dijalankan secara berkala

yang minimal meliputi:


a. Tingkat pencapaian program wajib belajar 12 (dua belas)
tahun;
b. Pelaksanaan kurikulum pendidikan dasar;
c. Pelaksanaan kurikulum pendidikan menengah;
d. Hasil belajar peserta didik;
26

e. Realisasi anggaran (Pasal 7 ayat 2 Perda Kabupaten Kudus No.


2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun).

Dari evaluasi berkala seperti yang dijelaskan di atas, Bupati Kudus

selanjutnya melakukan evaluasi komprehensif untuk menilai:

a. Ketercapaian program wajib belajar 12 (dua belas) tahun;


b. Kemajuan program wajib belajar 12 (dua belas) tahun; dan
c. Hambatan penyelenggaraan program wajib belajar 12 (dua
belas) tahun (Pasal 7 ayat 3 Perda Kabupaten Kudus No. 2
Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun).

6. Penjaminan terhadap Program Wajib Belajar 12 Tahun

Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan wajib

belajar 12 tahun, pemerintah Kabupaten Kudus memberikan penjaminan

bagi masyarakat Kudus supaya dapat sepenuhnya mengenyam pendidikan

minimal sampai tingkat menengah. Penjaminan yang dimaksud berbentuk

pemberian beasiswa kepada siswa dengan orang tua miskin maupun siswa

berprestasi. Bahkan, termasuk bagi penduduk Kabupaten Kudus yang telah

menginjak usia di atas 18 tahun namun belum lulus atau tamat dari jenjang

pendidikan menengah. Penjaminan tersebut selengkapnya bisa dilihat pada

Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 pasal 8 ayat (2), ayat (3), ayat

(4), serta ayat (6).

(2) Penduduk Kabupaten Kudus yang berusia di atas 18 tahun dan


belum lulus pendidikan menengah dapat menyelesaikan
pendidikannya sampai lulus.
(3) Penduduk Kabupaten Kudus yang berusia 7 (tujuh) sampai
dengan 18 (delapan belas) tahun yang putus sekolah dan/ atau
tidak lulus pendidikan dasar dan/ atau pendidikan menengah
wajib menyelesaikan pendidikannya sampai lulus.
(4) Penduduk Kabupaten Kudus usia wajib belajar 12 (dua belas)
tahun yang orang tua/ walinya berasal dari keluarga miskin
dan tidak mampu membiayai pendidikan dan/ atau yang
27

menjadi anak asuh yang bertempat tinggal di panti asuhan,


wajib menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang
pendidikan menengah.
(6) Pemerintah Daerah wajib memberikan beasiswa sesuai
kemampuan keuangan daerah kepada peserta didik untuk
menyelesaikan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) (Pasal 8 ayat 2, ayat 3, ayat 4, dan
ayat 6 Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 tentang
Wajib Belajar 12 Tahun).

D. Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan

1. Latar Belakang dan Dasar Hukum

Penyelenggaraan kebijakan pendidikan merupakan tanggung jawab

bersama antara pemerintah, orang tua, serta masyarakat (Managing Basic

Education, 2007: 39). Thomas R. Dye (dalam Dunn, 2000: 110) di awal

sudah mengungkapkan jika kebijakan memiliki tiga elemen, salah satunya

adalah pelaku kebijakan (policy stakeholders). Masyarakat di sini dapat

diartikan sebagai pelaku kebijakan, sebab sekarang pada masa reformasi,

paradigma dari pembangunan menempatkan masyarakat menjadi subjek,

bukan lagi objek pembangunan. Nugroho (2008: 40) juga menegaskan hal

tersebut, bahwa tugas pembangunan di era kemitraan pemerintah dengan

masyarakat seperti saat ini merupakan tanggung jawab kolektif.

Pembangunan─demikian pula kebijakan─yang tak bertumpu pada

masyarakat akan mudah sekali rentan terhadap goncangan maupun krisis

(Sumodiningrat, dkk, 2005: 120). Pemerintah harus menginsyafi realitas

bahwa masyarakat adalah subjek dan bukan objek dari keberlangsungan

suatu bangsa (Mahfud, dkk, 2011: 316). Oleh karena itu, strategi kebijakan
28

kini wajib berbasis pemberdayaan masyarakat atau yang kerap kali disebut

society empowerment.

Sesuai pandangan tersebut, UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 telah

mengatur peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan, seperti

yang tertera di BAB XV pasal 54:

(1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta


perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi,
pengusaha, organisasi kemasyarakatan dalam
penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan
pendidikan.
(2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana,
dan pengguna hasil pendidikan.
(3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah (Pasal 54 UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Ketentuan yang termuat pada pasal 54 UU Sisdiknas No. 20 Tahun

2003 sama persis juga dipakai oleh PP 17 Tahun 2010 di pasal 188 ayat (1)

dan (2) sebagai amanat dari UU Sisdiknas.

(1) Peran serta masyarakat meliputi peran serta perseorangan,


kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan
organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat menjadi sumber, pelaksana, dan pengguna hasil
pendidikan (Pasal 188 ayat 1 dan 2 PP No. 17 Tahun 2010
tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan).

Begitupun pula dalam Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 tentang

Wajib Belajar 12 Tahun, tepatnya ada pada pasal 12 yang berbunyi:

(1) Peran serta masyarakat meliputi peran serta perseorangan,


kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan
organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
29

(2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana,


dan pengguna hasil pendidikan (Pasal 12 Perda Kabupaten
Kudus No. 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun).

2. Pengertian dan Fungsi Peran Serta Masyarakat

Berdasarkan muatan dari pasal-pasal di atas, setidaknya kita dapat

menyimpulkan dua hal. Pertama, masyarakat dalam konteks ini merupakan

fusi dari berbagai anggota, antara lain perseorangan, keluarga, pengusaha,

dan organisasi kemasyarakatan. Kedua, peran serta masyarakat terhadap

pembangunan pendidikan yakni sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna

hasil. Kedua hal itu juga berlaku apabila kemudian digeneralisasikan untuk

kebijakan pendidikan, sebab pada prinsipnya kebijakan pendidikan adalah

instrumen bagi pembangunan pendidikan nasional.

Pustaka mengenai peran serta masyarakat dalam pendidikan secara

lebih rinci dapat diperoleh dengan menyelisik amanat dari UU Sisdiknas

No. 20 Tahun 2003 pasal 54 ayat (3), yakni PP No. 17 Tahun 2010 yang

mengatur tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, tepatnya

pada BAB XIV mengenai peran serta masyarakat. Dalam ketentuan itu,

sekaligus juga dijelaskan fungsi dari peran serta masyarakat, yakni untuk

memperbaiki akses, mutu (kualitas), daya saing, relevansi, tata kelola, dan

akuntabilitas pengelolaan serta penyelenggaraan pendidikan.

3. Bentuk Peran Serta Masyarakat

Berikutnya, hal yang penting digarisbawahi pada pembahasan ini

adalah bentuk-bentuk peran masyarakat dalam pendidikan. Bentuk-bentuk


30

peran serta masyarakat tersebut berjumlah 7 dan diatur oleh pasal 188 ayat

(2) PP No. 17 Tahun 2010 yang merupakan penjabaran lengkap dari peran

serta masyarakat di pasal 12 ayat (2) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.

Adapun 7 bentuk peran serta masyarakat yang tertuang pada pasal 188

ayat (2) PP No. 17 Tahun 2010 adalah:

a. Penyediaan sumber daya pendidikan;


b. Penyelenggaraan satuan pendidikan;
c. Penggunaan hasil pendidikan;
d. Pengawasan penyelenggaraan pendidikan;
e. Pengawasan pengelolaan pendidikan;
f. Pemberian pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang
berdampak pada pemangku kepentingan pendidikan pada
umumnya; dan/ atau
g. Pemberian bantuan atau fasilitas kepada satuan pendidikan
dan/ atau penyelenggara satuan pendidikan dalam menjalankan
fungsinya (Pasal 188 ayat 2 PP No. 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan).

Selain itu jika mengacu dokumen Managing Basic Education, masih

banyak terdapat bentuk-bentuk peran serta masyarakat lain dengan substansi

yang tidak jauh berbeda bila dibandingkan bentuk peran masyarakat sesuai

PP No. 17 Tahun 2010. Hal yang membedakannya, hanya terletak pada

pengklasifikasian bentuk peran serta masyarakat menjadi tujuh tingkatan.

Pengklasifikasian tersebut merupakan indikator dari partisipasi masyarakat

terhadap pembangunan pendidikan mulai tingkat terendah, sampai tingkat

yang tertinggi.

Tingkat 1, peran serta dengan menggunakan pelayanan pendidikan

yang tersedia. Bentuk peran serta masyarakat tersebut adalah yang paling

umum dilakukan. Di sini, masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah

untuk mendidik anak-anak mereka. Jika kita mengamati memang banyak


31

dari masyarakat yang statis pada bentuk peran serta seperti itu. Meskipun

demikian, sesungguhnya masih ada beberapa macam bentuk peran serta

masyarakat lain bagi pembangunan pendidikan yang tidak kalah penting

untuk dilaksanakan.

Tingkat 2, peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan,

dan tenaga. Bentuk peran serta masyarakat jenis ini, diwujudkan melalui

partisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik bagi sekolah dengan

menyumbangkan dana, barang, atau tenaga. Bentuk peran serta

masyarakat demikian biasanya dilakukan atas kewajiban yang dibebankan

oleh pihak sekolah terhadap masyarakat. Seperti misalnya, sumbangan

pembangunan (uang gedung) yang dikenakan pada anak-anak mereka

sebelum memasuki tahun ajaran baru. Termasuk, biaya operasional yang

menjadi tanggungan masyarakat kepada satuan pendidikan setiap

bulannya. Akan tetapi, di luar itu juga terdapat sumbangan masyarakat

yang murni berdasarkan inisiatif pribadi, bukan karena kewajiban dari

pihak sekolah.

Tingkat 3, peran serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkat ini

menyetujui dan menerima apa yang diputuskan oleh pihak sekolah (komite

sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar

iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan

tersebut dengan mematuhinya. Bentuk peran serta seperti itu dianggap

pasif karena masyarakat tidak melibatkan diri secara aktif saat perumusan
32

keputusan oleh pihak sekolah diselenggarakan, walaupun pada akhirnya

mereka juga menerima serta melaksanakan keputusan itu.

Tingkat 4, peran serta melalui adanya konsultasi. Pada bentuk ini,

masyarakat datang secara langsung ke sekolah untuk berkonsultasi tentang

persoalan belajar yang dialami oleh anaknya. Dengan adanya konsultasi

langsung, diharapkan masalah belajar yang dialami oleh peserta didik bisa

segera teratasi. Hal tersebut nantinya akan sangat berguna dalam proses

pembangunan pendidikan, sebab kualitas pendidikan juga ikut ditentukan

oleh kualitas peserta didik sebagai salah satu komponen utama dari sebuah

sistem pendidikan.

Tingkat 5, peran serta dalam pelayanan. Bentuk peran serta tersebut

dicerminkan dengan partisipasi aktif masyarakat pada kegiatan sekolah,

contohnya melalui bantuan terhadap pihak sekolah ketika ada study tour,

pramuka, acara keagamaan, dan sebagainya. Masyarakat di sini telah pro

aktif menjalin hubungan dengan sekolah lewat kontribusi bantuan untuk

kegiatan-kegiatan di dalamnya, sehingga cukup mendukung pelaksanaan

pendidikan berbasis masyarakat.

Tingkat 6, peran serta sebagai pelaksana dari kegiatan atau aktivitas

yang didelegasikan. Seperti misalnya, sekolah meminta masyarakat untuk

memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah gender, gizi, dan

sebagainya. Selain itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi mencatat anak

usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungya, menjadi

narasumber, guru bantu, dan lain sebagainya. Pada bentuk ini, masyarakat
33

memang benar-benar berperan secara penuh sebagai pelaksana kegiatan.

Jadi, mereka tidak hanya sebatas memberikan bantuan seperti halnya peran

serta masyarakat dalam pelayanan.

Tingkat 7, peran serta dalam pengambilan keputusan. Masyarakat

terlibat pada pembahasan masalah pendidikan (baik akademis maupun non

akademis) dan ikut dalam proses pengambilan keputusan ataupun rencana

pengembangan sekolah. Peran serta ini sekaligus merupakan bentuk peran

serta masyarakat yang memiliki tingkat sumbangasih tertinggi bagi upaya

pembangunan pendidikan. Umumnya, peran serta dilakukan oleh masyarakat

yang menjadi komite sekolah maupun pengurus yayasan jika itu di sekolah

swasta (Managing Basic Education, 2007: 39).

4. Komite Sekolah

Salah satu cara masyarakat dapat berperan serta dalam pengelolaan

dan penyelenggaraan pendidikan adalah melalui komite sekolah. Fungsi dari

komite sekolah sendiri adalah meningkatkan mutu pelayanan pendidikan

dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana

dan prasarana, serta pengawasan pendidikan. Hal itu diatur dalam pasal

196 ayat (1) PP No. 17 Tahun 2010. Adapun fungsinya dijalankan secara

mandiri dan proporsional.

Sesuai pasal 196 ayat (3) PP No. 17 Tahun 2010, komite sekolah

memperhatikan dan menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, serta aspirasi

masyarakat terhadap satuan pendidikan. Untuk kedudukan komite sekolah

ada di satuan pendidikan. Sementara itu, jumlah maksimal anggota komite


34

sekolah yaitu 15 orang, yang terdiri atas unsur: a) orang tua/ wali murid

(paling banyak 50%), b) tokoh masyarakat (paling banyak 30%), serta c)

pakar pendidikan yang relevan (paling banyak 30%). Berkaitan dengan

keanggotaan komite sekolah tersebut, bisa ditemukan pada pasal 197 ayat

(1) PP No. 17 Tahun 2010 mengenai Pengelolaan dan Penyelenggaraan

Pendidikan.

E. Penelitian Relevan
Pembahasan mengenai keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan

program wajib belajar telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Berikut ini adalah

penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji tentang peran serta masyarakat

dalam pelaksanaan program wajib belajar:


1. Didi Prayitno, dkk, dalam penelitian berjudul ANALISIS RENDAHNYA

PARTISIPASI MASYARAKAT PADA IMPLEMENTASI PROGRAM

WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN (STUDI KASUS DI DISTRIK

SEMANGGA KABUPATEN MERAUKE), menyimpulkan pandangan dari

orang tua terhadap program wajib belajar sembilan tahun masih rendah. Hal

itu terlihat dari tanggapan orang tua, rata-rata mereka lebih senang apabila

anak-anak mereka bisa membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan

hidup keluarga. Rendahnya kondisi sosial ekonomi orang tua mengakibatkan

rendahnya pula kemampuan serta dukungan orang tua bagi program wajib

belajar sembilan tahun.


2. Husni Ngayudi, dalam penelitian berjudul PARTISIPASI MASYARAKAT

DALAM PROGRAM WAJIB BELAJAR 9 TAHUN DI KECAMATAN

PUJON KABUPATEN MALANG, menyimpulkan jika lapisan masyarakat


35

yang memberikan partisipasi terhadap program wajib belajar 9 tahun adalah:

a) golongan petani kaya, b) buruh tani, dan c) elite pemerintahan atau tokoh

masyarakat. Bentuk kontribusi yang diberikan yaitu kontribusi materiil dan

moril, misalnya aktif dalam organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam

bidang pendidikan. Kemudian, untuk faktor pendukungnya sendiri adalah

keterlibatan warga Pujon ke dalam PKBM Abdi Pratama sebagai pusat dari

aktivitas belajar masyarakat dan eksistensi elite desa sebagai agen motivator

dalam pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun. Alternatif penyelesaian

masalah terhadap faktor penghambat partisipasi masyarakat Pujon adalah

PKBM Abdi Pratama membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat guna

mengikuti berbagai kegiatan organisasi.

3. Dwi Setiabudi, dalam penelitian berjudul PARTISIPASI MASYARAKAT

DALAM PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN DI KECAMATAN

MAGERSARI KOTA MOJOKERTO, menyimpulkan bahwa tidak dijumpai

anak-anak putus sekolah di Kecamatan Magersari. APM (Angka Partisipasi

Murni) untuk SD 132,84%; SMP 105,98%; dan SMA 148,63%. Lantas

APK (Angka Partisipasi Kasar) untuk SD 132,84%; SMP 149,30%; SMA

191,12%. Masyarakat ikut dalam perencanaan, pengawasan, pelaksanaan,

dan evaluasi terhadap program sekolah baik secara langsung maupun tidak

langsung melalui komite sekolah.

4. Abdul Latif, dalam penelitian berjudul TINGKAT PARTISIPASI DARI

MASYARAKAT DALAM PROGRAM WAJIB BELAJAR SEMBILAN

TAHUN DI KECAMATAN BAROS KABUPATEN SERANG, menarik


36

simpulan bahwa partisipasi masyarakat memiliki beberapa unsur penting

yang meliputi: a) penerimaan informasi 54,2%; b) dimensi partisipasi atau

pemberian tanggapan terhadap informasi 74,1%; c) dimensi perencanaan

pembangunan 64,5%; d) dimensi pelaksanaan pembangunan 63%; dan e)

penerimaan hasil pembangunan 61,2%; serta f) penilaian untuk hasil dari

pembangunan 59,7%. Kemudian untuk dimensi yang terakhir yaitu proses

stimulus atau motivasi adalah sebesar 57,3%. Dapat diketahui jika tingkat

partisipasi masyarakat dalam wajib belajar sembilan tahun di Kecamatan

Baros masih rendah, yaitu hanya mencapai 62,07% dari angka maksimal

yang dihipotesiskan oleh peneliti sebesar 65%.

5. Thamrin Nurdin, dalam penelitian yang berjudul PELAKSANAAN DAN

PERSEPSI MASYARAKAT KEPADA PROGRAM WAJIB BELAJAR

SEMBILAN TAHUN DI DESA TERTINGGAL (SUMATERA BARAT),

menyimpulkan tingkat partisipasi masyarakat di desa tertinggal ini sedikit

lebih rendah dibandingkan dengan tingkat partisipasi masyarakat Sumatera

Barat. Persepsi masyarakat desa tertinggal terhadap program wajib belajar

sembilan tahun sebenarnya positif. Rendahnya partisipasi dari masyarakat

desa tertinggal lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga dan

kemauan si anak itu sendiri, serta ketersediaan fasilitas pendidikan dasar,

khususnya fasilitas SLTP. Berbagai faktor yang berpotensi besar terhadap

terjadinya “drop-out” di tingkat pendidikan dasar adalah: a) kemampuan

ekonomi orang tua murid dan keinginan si anak untuk membantu beban

ekonomi keluarga serta b) kurangnya kepedulian orang tua murid terhadap


37

pendidikan anak-anaknya dan pengaruh lingkungan atau pergaulan sehari-

hari.

Berdasarkan beberapa penelitian relevan di atas, partisipasi masyarakat

pada program wajib belajar bisa dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah

masyarakat berpartisipasi aktif dalam program wajib belajar. Hal itu dilakukan

oleh masyarakat yang memiliki kemapanan secara ekonomi serta kedudukan

sosial sebagai tokoh masyarakat atau pemerintahan. Adapun wujud partisipasi

mereka yaitu berupa dukungan materiil dan moril bagi PKBM (Pusat Kegiatan

Belajar Masyarakat) sebagai pusat kegiatan belajar (berbasis masyarakat) yang

berada di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut sendiri menjadi sumbangan

postif bagi PKBM, mengingat perannya yang urgen sebagai lembaga edukasi

untuk anak-anak maupun masyarakat yang belum atau tidak dapat menempuh

pendidikan di jalur formal.


Sementara itu, tipe kedua yakni masyarakat cenderung pasif untuk ikut

berpartisipasi dalam program wajib belajar. Rendahnya partisipasi masyarakat

dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga dan kemauan si anak. Seperti contoh

pada faktor ekonomi keluarga, keluarga dengan kemampuan ekonomi kurang

lebih senang apabila anaknya membantu pekerjaan orang tua ketimbang pergi

bersekolah. Hal tersebut juga sekaligus mencerminkan kurangnya kepedulian

orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Di samping itu, faktor lain yang

berpengaruh atas rendahnya partisipasi masyarakat adalah fasilitas pendidikan

formal (SMP) yang tidak tersedia. Dalam konteks ini, seharusnya pemerintah

dapat memfasilitasi pendirian pusat pendidikan nonformal seperti PKBM.


38

Terkait dengan hasil penelitian di atas, pada penelitian ini masyarakat

yang turut aktif berperan serta juga terbatas oleh mereka yang ada di lapisan

elite. Mereka terdiri dari tokoh masyarakat, keluarga yang mampu dan peduli,

pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan. Peran serta mereka bisa dibagi atas

peran serta materiil dan non materiil (moril). Untuk peran serta yang sifatnya

materiil, antara lain seperti memberikan sumbangan material bangunan dalam

perintisan sekolah baru, menyediakan tempat magang, menyantuni anak-anak

yatim, dan mendirikan sekolah. Sementara itu, untuk peran serta masyarakat

yang bersifat non materiil, di antaranya seperti ikut dalam proses pengambilan

keputusan sekolah dan menyuarakan aspirasi-aspirasi dari masyarakat kepada

satuan pendidikan.
Selanjutnya, dalam penelitian ini masyarakat yang ada di tingkat bawah

seperti keluarga dengan kepedulian rendah maupun tak mapan secara ekonomi

juga cenderung apatis untuk ikut aktif berperan serta. Keapatisan mereka salah

satunya tercermin dari sikap permisif dengan membiarkan anak-anaknya tidak

bersekolah. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, contohnya program

wajib belajar yang belum diketahui orang tua, desakan pribadi anak, persoalan

keluarga, serta keterbatasan ekonomi. Untuk aspek lain seperti fasilitas sekolah

tidak ikut menjadi faktor yang mempengaruhi keapatisan masyarakat, sebab di

lokasi penelitian fasilitas sekolah cukup representatif, hanya komparasi jumlah

SMP atau sederajat dengan SMA atau sederajat yang belum proporsional.
F. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan

antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti untuk menjawab masalah

penelitian. Konsep serta hubungan antara konsep yang diangkat, dirumuskan


39

merujuk pada tinjauan pustaka. Di samping itu, kerangka berpikir juga dapat

diasumsikan sebagai “model of how one thorizes or makes logical sense of the

relationships among several factors that have been identified as important to the

problem (model bagaimana teori berhubungan atau membuat pengertian logis

dari berbagai faktor yang sudah diidentifikasi menjadi masalah yang penting)”

(Sekaran, 1992: 63).


Dinamika era globalisasi yang semakin pesat berkembang bagaikan dua

sisi mata uang, hal tersebut membawa dua konsekuensi bagi Bangsa Indonesia.

Pertama, globalisasi bisa saja menjadi tantangan. Kedua, globalisasi juga dapat

menjadi peluang yang menguntungkan. Semuanya sangat bergantung dengan

kualitas dari SDM Indonesia. Oleh karena itu, guna meningkatkan kualitas SDM

agar sesuai dengan tuntutan zaman, pemerintah melakukan kebijakan perluasan

dan pemerataan pendidikan.


Program wajib belajar 9 tahun merupakan salah satu inisiatif yang telah

dicetuskan pemerintah pusat untuk perluasan dan pemerataan pendidikan. Lewat

kesempatan yang diciptakan oleh pemerintah pusat melalui UU Sisdiknas No. 20

Tahun 2003 dan sebagai bentuk otonomi daerah, pemerintah Kabupaten Kudus

juga mencanangkan program wajib belajar. Namun program wajib belajar yang

dicanangkan tidak lagi 9 tahun, tetapi 12 tahun. Meskipun demikian orientasinya

tetap sama, yakni melakukan perluasan dan pemerataan pendidikan.


Dalam ikhtiar mewujudkan program wajib belajar 12 tahun, peran serta

masyarakat adalah hal yang penting, sebab pada suatu program atau kebijakan

masyarakat menempati kedudukan vital sebagai stakeholders (pelaku). Secara

khusus, masyarakat berperan serta menjadi sumber, pelaksana, dan pengguna

hasil pendidikan. Peran serta tersebut diwadahi oleh UU Sisdiknas No. 20 Tahun
40

2003, PP No. 17 Tahun 2010 terkait dengan pengelolaan dan penyelenggaraan

pendidikan, dan Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 mengenai Wajib

Belajar 12 Tahun itu sendiri.


Dengan memahami peran serta masyarakat dan faktor-faktor pendukung

maupun penghambatnya dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun,

maka program tersebut tidak hanya akan bisa terwujud. Namun, secara otomatis

pembangunan pendidikan berbasis masyarakat seperti yang termuat dalam UU

Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 juga dapat diaplikasikan melalui penyelenggaraan

pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat (from, by, and for community). Pada

muaranya, peningkatan kualitas SDM yang sudah ditargetkan pemerintah guna

menghadapi era globalisasi pun tak lagi sulit direalisasikan.

Peningkatan Kualitas Sumber Perluasan dan


Daya Manusia (SDM) Pemerataan Pendidikan

Masyarakat sebagai Policy Program Wajib Belajar


Stakeholders 12 Tahun

Peran Serta Masyarakat dalam Faktor-faktor Pendukung dan


Pendidikan Penghambat

Bentuk Peran Langkah Peran Internal Eksternal


Serta Serta Masyarakat Masyarakat
41

Terwujudnya Program Wajib


Belajar 12 Tahun

Terwujudnya Pendidikan
Berbasis Masyarakat

Bagan 2. Kerangka Berpikir Penelitian


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, yakni pendekatan dengan jalan memandang objek kajian sebagai

suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur terkait untuk mendeskripsikan

fenomena-fenomena yang ada (Arikunto, 2006: 209). Penelitian dilaksanakan

secara alami tanpa memanipulasi keadaan dan kondisi objek penelitian.

Pendekatan kualitatif dipilih karena permasalahan yang diteliti tidak

terkait dengan angka-angka, melainkan lebih cenderung menguraikan secara

deskriptif (lewat kata-kata) peran serta dari masyarakat Kecamatan Mejobo

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Jadi peneliti tidak hendak

mengukur tingkat peran serta masyarakat, tetapi hanya ingin menggambarkan

dan menguraikan peran serta mereka.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat di mana penelitian akan dilakukan

oleh peneliti. Pemilihan lokasi penelitian sangatlah penting, sebab membantu

peneliti mempertanggungjawabkan sumber lokasi data yang didapatkan serta

memperjelas tempat sasaran penelitian. Lokasi penelitian yang dipilih adalah

Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Pemilihan lokasi tersebut mempunyai

4343
44

alasan tertentu, yaitu karena pada Kecamatan Mejobo ditemukan tension gap

antara idealitas dengan realitas.

Apabila merunut data Kecamatan Mejobo dalam Angka (BPS tahun

2011), sebenarnya Mejobo bukan termasuk kecamatan yang minim dalam segi

jumlah lembaga pendidikan. Namun secara faktual, kepedulian masyarakat

terhadap aspek pendidikan sekolah masih relatif rendah, setidaknya hingga

jenjang pendidikan menengah. Hal tersebut tentu mengundang keprihatinan

jika mengingat pemerintah Kabupaten Kudus telah menetapkan program wajib

belajar 12 tahun sejak tahun 2010.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ditetapkan dengan dua tujuan. Pertama, membatasi

studi bidang inkuiri. Kedua, memenuhi kriteria inklusif-eksklusif atau masuk-

keluarnya suatu informasi yang baru saja didapatkan pada lapangan (Moleong,

2005: 94). Berikut adalah fokus dalam penelitian ini:

1. Bentuk peran serta yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Mejobo

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Di sini, bentuk peran

serta masyarakat sebagaimana dimaksud hanya berfokus (terbatas) sesuai

dengan yang tercantum pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, PP No. 17

Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dan

dokumen Managing Basic Education.

2. Jalur pendidikan yang menjadi sasaran peran serta masyarakat Kecamatan

Mejobo dalam rangka mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Untuk


45

penelitian berikut, jalur pendidikan yang dimaksud hanya berfokus pada

jalur formal atau dengan kata lain tidak termasuk bagi jalur pendidikan

nonformal dan informal.

3. Berbagai faktor pendukung maupun penghambat peran serta masyarakat

Kecamatan Mejobo dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.

Untuk penelitian ini, faktor-faktor pendukung dan penghambat tersebut

hanya berfokus dengan yang dihadapi oleh: a) tokoh masyarakat sebagai

individu, b) keluarga, c) pengusaha, serta d) organisasi kemasyarakatan.

D. Sumber Data

Sumber data penelitian adalah subjek di mana data dapat diperoleh

untuk selanjutnya dianalisis. Sumber data penelitian ini sendiri, didapatkan

melalui informan dan dokumen.

1. Informan. Informan merupakan orang yang memberikan informasi serta

menjadi sumber data utama penelitian. Dalam penelitian berikut, informan

terdiri atas tokoh masyarakat sebagai perseorangan, keluarga, pengusaha,

dan pengurus organisasi kemasyarakatan di Kecamatan Mejobo. Mereka

dipilih karena berasal dari domain yang sama, yaitu anggota masyarakat

sesuai dengan definisi (implisit) masyarakat pada UU Sisdiknas No. 20

Tahun 2003, PP No. 17 Tahun 2010, atau Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010. Kemudian, informan tambahan dalam penelitian ini adalah

pejabat Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten


46

Kudus, Kepala UPT Pendidikan serta Camat Mejobo, dan kepala sekolah

di Kecamatan Mejobo.

2. Dokumen. Dokumen adalah segenap bahan-bahan yang tertulis atau film

(Moleong, 2005: 216). Hal tersebut berperan untuk mempertajam metode

dan memperdalam kajian teoretis, serta memperoleh informasi mengenai

penelitian sejenis yang telah dilakukan peneliti lain. Pada penelitian ini,

dokumen yang digunakan terdiri dari berbagai buku terkait wajib belajar

maupun peran serta masyarakat di dalam bidang pendidikan; ketentuan

perundang-undangan tentang sistem pendidikan nasional, wajib belajar 9

serta 12 tahun, dan peran serta masyarakat dalam pendidikan; dokumen

Kecamatan Mejobo dalam Angka; Profil Pendidikan, Kebijakan APBD,

dan Rencana Kerja Kabupaten Kudus; laporan penelitian relevan; serta

sumber-sumber lain yang koheren.

E. Teknik Pengumpulan Data

Sebuah penelitian, di samping menggunakan pendekatan yang tepat

juga harus memiliki teknik pengumpulan data yang baik. Dalam penelitian ini

metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu:

1. Wawancara. Wawancara merupakan suatu bentuk metode pengumpulan

data yang berupa pertemuan dua orang atau lebih secara langsung untuk

bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab dengan lisan, sehingga

bisa dibangun makna dalam topik-topik tertentu (Prastowo, 2010: 146).

Pada penelitian ini, wawancara yang digunakan adalah wawancara


47

mendalam (indepth interview) untuk mengetahui bagaimana peran serta

masyarakat Kecamatan Mejobo dalam usaha mewujudkan program wajib

belajar 12 tahun, sekaligus juga berbagai faktor pendukung dan

penghambat peran serta masyarakat tersebut. Wawancara dilakukan

dengan tokoh masyarakat mewakili perseorangan, keluarga dengan anak

yang tengah menjalani atau tidak menjalani program wajib belajar 12

tahun, pengusaha, dan pengurus organisasi kemasyarakatan. Kemudian

sebagai tambahan, wawancara juga dilaksanakan dengan pejabat

Disdikpora Kabupaten Kudus, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan

Mejobo, Camat Mejobo, serta kepala sekolah di Kecamatan Mejobo.

2. Observasi. Observasi adalah metode pengumpulan data yang mencakup

kegiatan memusatkan perhatian secara langsung terhadap sesuatu objek

dengan menggunakan seluruh panca indra (Arikunto, 2006: 133). Dalam

penelitian ini observasi dilaksanakan sistematis melalui dua mekanisme,

yakni observasi langsung dan tak langsung. Observasi langsung dilakukan

peneliti pada saat berlangsungnya peristiwa yang terkait dengan penelitian,

sedangkan observasi tak langsung dilakukan oleh peneliti ketika peristiwa

yang berhubungan dengan penelitian tidak sedang berlangsung. Peneliti

terjun langsung secara partisipatif dalam dua kegiatan observasi tersebut,

misalnya dengan mendatangi proses magang siswa-siswi SMK 3 Ma’arif

Kudus di pengusaha jenang, kegiatan penyerahan santunan Yayasan Al-

Kamal bagi anak-anak yatim, dan hasil jadi pembangunan SMK 3 Ma’arif

Kudus yang berlandaskan pedoman instrumen pengamatan (observasi).


48

3. Dokumentasi. Dokumentasi merupakan teknik mencari data tentang hal-

hal atau variabel yang berupa transkip, buku, arsip, majalah, foto, media

massa, dan sebagainya (Arikunto, 2006: 231). Pada penelitian ini teknik

dokumentasi dipakai untuk mendapatkan data-data yang relevan dengan

permasalahan penelitian, yaitu peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun dan berbagai faktor

pendukung serta penghambatnya. Untuk dokumen-dokumen yang distudi

berupa informasi statistik mengenai Kecamatan Mejobo, foto-foto peran

serta masyarakat dalam merealisasikan program wajib belajar 12 tahun,

profil pendidikan dari Disdikpora, Kebijakan Umum APBD dan Rencana

Kerja Kabupaten Kudus, laporan penelitian serta berbagai buku tentang

wajib belajar, dokumen yang berkenaan dengan peran masyarakat bagi

pendidikan, perundang-undangan relevan, dan berita ataupun opini media

massa (online serta offline) yang membawa topik seputar program wajib

belajar 12 tahun.

F. Validitas Data

Validitas data merupakan proses pemeriksaan keabsahan suatu data

supaya analisis serta penarikan simpulan dilandasi kebenaran, sebab berasal

dari data yang telah diuji kebenarannya. Oleh karena itu, validitas data bisa

dikatakan sebagai aspek yang penting dalam penelitian. Pada penelitian ini

validitas data yang digunakan yaitu triangulasi. Lexy J. Moleong (2005: 330)

menyatakan, bahwa triangulasi merupakan metode pemeriksaan data dengan


49

memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data untuk pengecekan atau sebagai

pembanding data tersebut, sehingga peneliti akan mempunyai ruang pandang

“multiperspektif” untuk menyimpulkan mana data yang sahih atau tidak sahih.

Berikut langkah-langkahnya:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data yang bersumber dari

hasil wawancara. Adapun data hasil pengamatan antara lain yakni acara

penyerahan santunan terhadap anak-anak yatim oleh Yayasan Al-Kamal

sebagai organisasi kemasyarakatan, aktivitas peserta didik ketika magang

di tempat pengusaha jenang, dan penampakan bangunan SMK 3 Ma’arif

Kudus. Sementara itu, data hasil wawancara terkait yang sekaligus sebagai

pembanding diperoleh dari ketua Yayasan Al-Kamal, pengusaha jenang,

serta Kepala SMK 3 Ma’arif Kudus.

2. Mengkomparasikan hasil dari interview dengan dokumen-dokumen yang

berkaitan. Hasil wawancara yang dimaksud di antaranya dengan pejabat

Disdikpora Kabupaten Kudus, Camat Mejobo, Kepala UPT Pendidikan

Kecamatan Mejobo, dan tokoh masyarakat sebagai komite sekolah. Untuk

dokumen pembanding, berturut-turut yaitu profil pendidikan Kabupaten

Kudus, Kecamatan Mejobo dalam Angka, foto-foto penyerahan santunan

oleh Yayasan Al-Kamal, dan berbagai foto rapat pleno sekolah.

3. Membandingkan pendapat dari masyarakat Kecamatan Mejobo dengan

berbagai perspektif serta pandangan lain. Perspektif serta pandangan lain

tersebut berasal dari unsur pemerintah dan satuan pendidikan. Untuk unsur

pemerintah, yaitu pejabat Disdikpora Kabupaten Kudus, Camat Mejobo,


50

serta Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo. Sementara itu, untuk

unsur satuan pendidikan, yakni kepala sekolah dari SMA 1 Mejobo dan

SMK 3 Ma’arif Kudus.

G. Analisis Data

Analisis data—pada konteks ini analisis data kualitatif—sebagaimana

pendapat Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2005: 248) merupakan upaya

yang dilakukan melalui jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya,

mencari dan menemukan pola, serta menemukan apa yang penting serta apa

yang dipelajari untuk memutuskan apa yang dapat diceritakan terhadap orang

lain. Analisis data dilakukan supaya penyusunan data yang diperoleh dalam

penelitian bisa ditafsirkan. Metode analisis data yang dipilih pada penelitian

ini adalah metode deskriptif, yakni menggambarkan keadaan yang diamati,

kemudian menganalisisnya dengan kata-kata untuk mendapatkan simpulan.

Sementara itu, alur analisisnya menggunakan model interaktif dari Miles dan

Huberman yang terdiri atas:

1. Pengumpulan Data. Pengumpulan data dapat dimaknai sebagai aktivitas

penghimpunan data baik melalui wawancara maupun dokumentasi untuk

memperoleh data yang lengkap. Dalam konteks ini, peneliti mencatat hasil

interview dengan anggota masyarakat di Kecamatan Mejobo, pejabat dari

Disdikpora Kabupaten Kudus, Camat Mejobo, Kepala UPT Pendidikan

Kecamatan Mejobo, dan Kepala Sekolah yang ada di Kecamatan Mejobo


51

(SMA 1 Mejobo dan SMK 3 Ma’arif). Selain itu, peneliti juga melakukan

observasi dan dokumentasi sebagai pembanding untuk memperkuat hasil

wawancara dari narasumber (informan) sehingga mendapatkan data yang

valid.

2. Reduksi Data. Reduksi data merupakan proses pemilihan hal-hal yang

penting, sesuai dengan fokus penelitian. Reduksi data mempunyai ciri-ciri

menggolongkan, membuang yang tidak berguna, dan mengorganisasikan

data-data setelah direduksi sehingga bisa memberikan ulasan lebih tajam

mengenai studi kepustakaan serta mempermudah peneliti dalam mencari

sebuah data ketika diperlukan. Pengumpulan data yang diperoleh peneliti

berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dikategorikan

dan dikurangi sesuai dengan fokus penelitian. Adapun fokus penelitannya

yakni peran serta masyarakat sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun

2003, PP No. 17 Tahun 2010, dan dokumen Managing Basic Education;

jalur pendidikan formal sebagai sasaran peran serta masyarakat Kecamatan

Mejobo dalam rangka mewujudkan program wajib belajar 12 tahun; serta

faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh: a) tokoh

masyarakat sebagai individu, b) keluarga, c) pengusaha, serta d) organisasi

kemasyarakatan. Data yang dapatkan di luar fokus penelitian, kemudian

dibuang ke bank data karena sewaktu-waktu data ini mungkin sanggup

digunakan kembali. Selain itu, sebelum disajikan data yang telah direduksi

juga dicek keabsahannya dengan menggunakan metode triangulasi.


52

3. Penyajian Data. Penyajian data adalah tahap mengumpulkan informasi

yang tersusun untuk memberikan kemungkinan penarikan simpulan serta

pengambilan tindakan. Penyajian data dalam penelitian ini direalisasikan

lewat analisis berbentuk deskripsi yang mencakup peran serta masyarakat

Kecamatan Mejobo dan berbagai faktor pendukung serta penghambatnya

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun; berbentuk grafis yang

meliputi foto-foto mengenai peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun; dan berbentuk tabel

yang terdiri atas kondisi geografis, demografis, sosial-ekonomi Kecamatan

Mejobo, serta jumlah anak-anak putus di Kecamatan Mejobo sesuai profil

pendidikan Kabupaten Kudus sehingga peneliti akan bisa menguasai data

dengan baik.

4. Penarikan Simpulan. Penarikan simpulan atau disebut dengan verifikasi

didapatkan setelah merujuk perumusan masalah, tujuan penelitian, serta

pembahasan. Selain itu, penarikan simpulan juga harus memperhatikan isi

penyajian data. Simpulan yang ditarik merepresentasikan berbagai pokok

pembahasan utama dalam laporan penelitian, yakni peran serta masyarakat

Kecamatan Mejobo dan berbagai faktor pendukung serta penghambatnya

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Simpulan tersebut

kemudian juga didukung oleh saran praktis yang ditujukan kepada pihak

pemerintah Kabupaten Kudus dan satuan pendidikan serta masyarakat di

Kecamatan Mejobo sebagai rekomendasi. Apabila digambarkan melalui


53

sebuah bagan, alur atau rangkaian analisis data mulai dari pengumpulan

data sampai dengan penarikan simpulan adalah sebagai berikut:

Pengumpulan Data

Reduksi Data Penyajian Data

Penarikan Simpulan
atau Verifikasi
Bagan 3. Alur Analisis Data Model Interaktif Miles dan Huberman
(Miles dan Huberman, 1992: 20)

H. Prosedur Penelitian

Penelitian adalah suatu proses dengan sejumlah rangkaian kegiatan

yang dikerjakan secara terencana serta sistematis. Proses yang berawal dari

minat untuk mengetahui fenomena tertentu, kemudian berkembang menjadi

hasil pemikiran, konsep, pemilihan metode penelitian, dan seterusnya guna

memperoleh pemecahan terhadap masalah-masalah. Pemecahan dari berbagai

macam masalah tersebut pada gilirannya dapat melahirkan gagasan maupun

teori baru. Demikian seterusnya, sehingga penelitian merupakan suatu proses

yang berlangsung tiada henti. Penelitian berikut sendiri terdiri atas beberapa

tahapan, yaitu:
54

1. Tahap Pra Penelitian atau Persiapan. Dalam tahap ini peneliti membuat

rancangan dan instrumen penelitian pada bentuk proposal, di samping juga

melaksanakan tinjauan lokasi terlebih dahulu dengan mendatangi beberapa

anggota masyarakat di Kecamatan Mejobo.


2. Tahap Penelitian. Di sini peneliti turun secara langsung ke lapangan guna

melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya, peneliti

juga mengumpulkan serta menganalisis data yang diperoleh.


3. Tahap Penulisan Laporan. Pada tahap ini peneliti melaporkan hasil dari

penelitian dan menyusunnya dalam bentuk laporan ilmiah.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Umum Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus
Sebuah penelitian tidak akan pernah terlepas dari pengaruh lokasi

penelitian. Dengan begitu, mengetahui kondisi lokasi penelitian menjadi

bagian yang sangat penting. Lokasi yang digunakan oleh peneliti dalam

penelitian berikut adalah wilayah Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Untuk mengetahui kondisi lokasi penelitian secara menyeluruh, peneliti

melihatnya dari beberapa aspek yang meliputi kondisi geografis, kondisi

demografis, dan keadaan sosial serta ekonomi wilayah Kecamatan Mejobo

secara umum.
a. Kondisi Geografis
1). Letak Kecamatan
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah Kecamatan

Mejobo, Kabupaten Kudus. Kecamatan Mejobo termasuk wilayah

yang terletak pada dataran rendah, ketinggian rata-ratanya hanya

13,6 m di atas permukaan laut. Selanjutnya, jika ditinjau dari segi

geografis, jarak antara Kecamatan Mejobo dengan pusat kabupaten

yakni sejauh 6 Km, sedangkan dengan ibukota provinsi mencapai

57 Km.

2). Batas Kecamatan


Kecamatan Mejobo terletak di sebelah Timur dari pusat

Kabupaten Kudus, dengan batas-batas:


a). Sebelah Utara : Kecamatan Bae dan Kecamatan Jekulo
b). Sebelah Timur : Kecamatan Jekulo
c). Sebelah Selatan : Kecamatan Undaan dan Kabupaten Pati
d). Sebelah Selatan : Kecamatan Jati
3). Luas Kecamatan

55
56

Kecamatan Mejobo memiliki luas tanah secara keseluruhan

3.676,57 Ha, yang meliputi:


a). Tanah sawah : 2.338,26 Ha
b). Tanah kering : 1.338,31 Ha
4). Pembagian Wilayah
Kecamatan Mejobo terbagi menjadi 11 desa, yang terdiri

atas Desa Gulang, Jepang, Tenggeles, Kirig, Temulus, Kesambi,

Jojo, Hadiwarno, Mejobo, Golantepus, dan Payaman. Setiap desa

tersebut mempunyai luas serta persentase wilayah yang variatif.


Tabel 2. Luas dan Persentase Wilayah Kecamatan Mejobo
Luas Wilayah
No. Desa (Ha) Persentase
1. Gulang 515,71 14,03
2. Jepang 358,73 9,76
3. Tenggeles 210,64 5,73
4. Kirig 559,70 15,22
5. Temulus 415,23 11,29
6. Kesambi 324,69 8,83
7. Jojo 209,71 5,70
8. Hadiwarno 259,06 7,05
9. Mejobo 205,34 5,58
10. Golantepus 261,77 7,12
11. Payaman 356,00 9,68
Jumlah 3.676,57 100,00

Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012

b. Kondisi Demografis
1). Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Mejobo berdasarkan data di

akhir tahun 2011 secara keseluruhan adalah 69.816 jiwa. Adapun

jumlah penduduk Kecamatan Mejobo berdasarkan kelompok umur

dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel 3. Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Umur dan
Jenis Kelamin di Kecamatan Mejobo Tahun 2011
Kelompok
Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
57

0–4 3.031 2.729 5.760


5–9 3.179 2.991 6.170
10 – 14 3.004 2.830 5.834
15 – 19 3.060 2.909 5.969
20 – 24 2.921 2.952 5.873
25 – 29 3.293 3.386 6.679
30 – 34 3.083 3.322 6.405
35 – 39 2.816 2.978 5.794
40 – 44 2.721 2.766 5.487
45 – 49 2.329 2.398 4.727
50 – 54 2.033 1.785 3.818
55 – 59 1.326 1.123 2.449
60 – 64 735 932 1.667
65 – 69 645 890 1.535
70 – 74 330 566 896
75 + 286 467 753
Jumlah 34.792 35.024 69.816
Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012
2). Agama Penduduk
Jumlah agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk

Kecamatan Mejobo pada Tahun 2011 adalah Islam, lantas diikuti

Protestan, Katolik, Budha, Hindu, dan lain-lain. Secara spesifik,

menurut data Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus yang

kemudian dikutip oleh dokumen Kecamatan Mejobo dalam Angka

2012, rinciannya adalah sebagai berikut:


a). Islam : 69.658
b). Protestan : 83
c). Katholik : 74
d). Budha :1
e). Hindu :0
f). Lain-lain :0

c. Kondisi Sosial Ekonomi Kecamatan Mejobo


1). Bidang Ekonomi
Kondisi suatu wilayah dalam bidang ekonomi salah satunya

dapat diketahui dari mata pencaharian penduduk. Di samping itu,


58

dengan melihat mata pencaharian suatu penduduk, kita juga bisa

mengetahui tinggi rendahnya taraf hidup masyarakat.


Masyarakat Kecamatan Mejobo─pada tahun 2011─secara

keseluruhan mempunyai mata pencaharian yang beragam. Namun,

yang paling dominan adalah sebagai buruh industri dengan jumlah

sebesar 12.195. Untuk lebih jelasnya, berikut akan disajikan tabel

mengenai persentase penduduk Kecamatan Mejobo usia 15 tahun

ke atas menurut pekerjaan:


Tabel 4. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut
Pekerjaan di Kecamatan Mejobo
No. Pekerjaan Jumlah Persentase
1. Petani sendiri 4.726 13,60%
2. Buruh tani 4.720 13,50%
3. Pengusaha 157 0,40%
4. Buruh industri 12.195 34,90%
5. Buruh bangunan 4.689 13,40%
6. Pedagang 1.224 3,50%
7. Angkutan 289 0,80%
8. PNS/ ABRI 1.305 3,80%
9. Pensiunan 224 0,60%
10. Lain-lain 5.410 15,50%
Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012

2). Bidang Pendidikan


Pendidikan merupakan salah satu bidang yang penting bagi

kehidupan seseorang, sebab pendidikan akan membantu seseorang

agar mampu untuk mengembangkan potensi dirinya. Kecamatan

Mejobo termasuk kecamatan yang memiliki lembaga pendidikan

(sekolah) cukup lengkap di Kabupaten Kudus, yakni mulai dari

tingkat TK hingga Akademi/ Perguruan Tinggi (PT). Untuk lebih

lengkapnya, bisa dilihat pada tabel di bawah ini:


59

Tabel 5. Banyaknya Satuan Pendidikan Berdasarkan Tingkat


Pendidikan dan Desa di Kecamatan Mejobo
Akade-
No. Desa TK SD SMP SMU SMK
mi/ PT
1. Gulang 1 4 0 0 0 0
2. Jepang 3 6 1 1 0 1
3. Payaman 3 4 0 0 0 0
4. Kirig 1 3 0 0 1 0
5. Temulus 1 5 0 0 0 0
6. Kesambi 1 4 0 0 0 0
7. Jojo 1 3 0 0 0 0
8. Hadiwarno 1 4 0 0 0 0
9. Mejobo 1 6 0 0 0 0
10. Golantepus 2 4 0 0 1 0
11. Tenggeles 0 4 1 1 0 0
Jumlah 15 47 5 2 2 1
Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012
Selain data banyaknya sekolah seperti sudah disajikan pada

tabel di atas, juga masih ada sekolah Agama Islam yang terdiri dari

MI, MTs, serta MA. Untuk MI, telah tersebar secara proporsional

di setiap desa. Akan tetapi, untuk MTs dan MA terbatas hanya di

beberapa desa saja.


Tabel 6. Banyaknya Sekolah Agama Islam Menurut Jenis
Sekolah dan Desa di Kecamatan Mejobo
Madrasah Madrasah
No. Desa Ibtidaiyah Tsanawiyah Madrasah
Aliyah (MA)
(MI) (MTs)
1. Gulang 1 0 0
2. Jepang 1 1 0
3. Payaman 1 0 0
4. Kirig 1 0 0
5. Temulus 1 0 0
6. Kesambi 1 0 0
7. Jojo 1 0 0
8. Hadiwarno 1 0 0
9. Mejobo 1 1 1
10. Golantepus 1 1 0
11. Tenggeles 1 1 0
Jumlah 11 4 1
60

Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012


Sementara itu, untuk pendidikan tertinggi yang ditamatkan

oleh penduduk Kecamatan Mejobo berusia 5 tahun keatas, jenjang

SD/ MI/ sederajat masih menjadi yang paling dominan.

Tabel 7. Persentase Penduduk Kecamatan Mejobo


Berdasarkan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Pendidikan Tertinggi yang
No. Jumlah Persentase
Ditamatkan
1. Tidak/ belum pernah sekolah 4.393 6,80%
2. Tidak/ belum tamat SD 9.997 15,70%
3. SD/ MI/ sederajat 21.227 33,40%
4. SLTP/ MTs/ sederajat 14.589 22,70%
5. SLTA/ MA/ sederajat 11.442 17,80%
6. SM Kejuruan 294 0,40%
7. Diploma I/ II 297 0,40%
8. Diploma III 421 0,70%
9. Diploma IV/ universitas 1.292 2,02%
10. S2/ S3 49 0,08%
6. Tidak terjawab 0 0%
Jumlah 64.001 100%
Sumber: http://www.sp2010.bps.go.id, diunduh tanggal 21 Juni 2014
3). Bidang Kesehatan
Kesehatan merupakan aspek yang sangat berpengaruh bagi

kehidupan masyarakat, begitu juga untuk masyarakat Kecamatan

Mejobo. Hal tersebut dapat terlihat dari rutinitas hidup sehari-hari

masyarakat yang membutuhkan “kesehatan prima” dalam rangka

memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing. Sebagai upaya

mewujudkan kualitas kesehatan yang baik, maka sarana kesehatan

menjadi hal penting untuk diperhatikan. Adapun sarana kesehatan

di Kecamatan Mejobo pada tahun 2011 dapat dilihat dalam tabel

berikut ini:
Tabel 8. Banyaknya Sarana Kesehatan di Kecamatan Mejobo
61

No. Sarana Kesehatan Jumlah


1. Rumah Sakit 0
2. Puskesmas 2
3. Puskesmas pembantu 4
4. Tempat praktik dokter 16
5. Rumah bersalin 1
6. Apotik/ toko obat 10
7. Posyandu 57
Sumber: Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012

2. Penyelenggaraan Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kecamatan

Mejobo
Sejak tahun 2010─melalui Perda No. 2 Tahun 2010─Kabupaten

Kudus telah mencanangkan program wajib belajar 12 tahun. Akan tetapi,

baru pada tahun 2013 program wajib belajar 12 tahun menjadi prioritas

pembangunan oleh pemerintah Kabupaten Kudus. Hal tersebut seperti

yang tercantum dalam Kebijakan Umum APBD (KUA) Kabupaten Kudus

Tahun 2012 dan Peraturan Bupati (Perbup) No. 10 Tahun 2012 tentang

Rencana Kerja Daerah Kabupaten Kudus Tahun 2013. Sebagai bagian dari

wilayah Kabupaten Kudus, Kecamatan Mejobo juga ikut melaksanakan

program wajib belajar 12 tahun. Salah satu indikasinya tampak dari misi

Kecamatan Mejobo yang berkaitan dengan wajib belajar 12 tahun, yakni

memfasilitasi dan mengkoordinasikan terwujudnya wajib belajar 12 tahun

(http://www.mejobo.kuduskab.go.id, diunduh tanggal 21 Juni 2014). Hal

itu dicontohkan oleh Bapak Joko selaku Camat Mejobo antara lain dengan

merekomendasikan anak-anak yang layak untuk mendapatkan keringanan

biaya maupun beasiswa kepada sekolah atau pemerintah:


“Wajib belajar 12 tahun kan memang dijadikan visi dan misi bupati
Mas. Jadi, ya sebisa mungkin memang kami turut memfasilitasi,
misalnya kami memberikan rekomendasi kepada sekolah atau
62

pemerintah mana anak yang layak mendapatkan keringanan biaya


maupun beasiswa.” (Wawancara tanggal 16 April 2014)

Di sudut lain, Camat Mejobo juga tidak ketinggalan memberikan

instruksi jajarannya mulai dari para kepala desa hingga UPT Pendidikan

untuk turut aktif dalam menginformasikan program wajib belajar 12 tahun

kepada masyarakat, meskipun realitasnya masih ada sebagian masyarakat

yang mengaku belum menerima informasi tentang program tersebut atau

bahkan tidak melaksanakannya. Seperti diketahui, tidak sedikit dijumpai

keluarga yang memiliki anak-anak putus sekolah. Pada tahun 2013/ 2014

saja, sesuai dengan data yang dilansir oleh Disdikpora Kabupaten Kudus

ada setidaknya lima anak putus sekolah di Kecamatan Mejobo.


Tabel 9. Banyaknya Anak Putus Sekolah di Kecamatan Mejobo
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2013/ 2014
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Anak Putus Sekolah
1. SD/ MI 4
2. SMP/ MTs 1
3. SMA/ MA/ SMK 0
Jumlah 5
Sumber: Profil Pendidikan Kabupaten Kudus Tahun 2013
Jumlah tersebut baru diambilkan dari anak-anak yang putus sekolah dalam

suatu jenjang pendidikan. Artinya, tidak termasuk bagi mereka yang putus

sekolah sewaktu kenaikan jenjang pendidikan. Belum lagi, anak-anak yang

putus sekolah bukan pada tahun 2013/ 2014, jumlah mereka masih cukup

banyak.
Keluarga Ibu Guminik, Ibu Raminah, Ibu Sugiarti, dan Ibu Samini

merupakan beberapa contoh keluarga dengan anak putus sekolah. Tidak

semua dari mereka mengetahui program wajib belajar 12 tahun yang telah

ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Kudus sejak tahun 2010. Padahal,


63

Camat Mejobo mengaku sudah seringkali memberikan informasi terhadap

jajarannya mengenai program tersebut lewat forum-forum rapat ataupun

upacara supaya disampaikan kepada masyarakat.


“Pernah (saya sampaikan program wajib belajar 12 tahun itu). Di
forum-forum rapat, upacara atau biasa disebut senenan. Lengkap
kami sampaikan, kepada jajaran saya seperti Kepala Desa atau
bahkan UPT (Pendidikan) Kecamatan misalnya. Sudah sering itu
Mas.” (Wawancara tanggal 16 April 2014)

Alasan anak-anak putus sekolah di atas bermacam-macam, mulai

dari keinginan pribadi anak, masalah keluarga, sampai pada keterbatasan

ekonomi. Salah satunya seperti yang dituturkan oleh Ibu Raminah, bahwa

alasan anaknya putus sekolah adalah karena desakan anak sendiri:


“Kalau penyebabnya bukan alasan ekonomi sebenarnya Mas. Tapi
dari anaknya sendiri yang memang tidak memiliki mental kuat ...
Salah satu penyebabnya karena dulu itu anak saya pernah takut
dengan salah satu guru. Untuk waktu putus sekolahnya, kira-kira
tahun 2010.” (Wawancara tanggal 8 April 2014)

Demikian pula dengan yang dialami oleh keluarga Ibu Samini, di

mana anaknya putus sekolah karena keinginan pribadi anak.


“Dia itu anaknya memang bandel Mas, padahal perempuan. Di
sekolah nilainya jelek terus, ya seperti orang sudah tidak niat.
Sebenarnya sayang tidak dilanjutkan, karena kan sudah masuk
SMK. Tapi mau gimana lagi, anaknya seperti itu. Akhirnya dia
maksa untuk keluar dan menikah.” (Wawancara tanggal 1 Juli
2014)

Selanjutnya, lain halnya dengan alasan dari keluarga Ibu Raminah

dan Ibu Samini, motif yang menyebabkan anak Ibu Guminik putus sekolah

justru dikarenakan oleh problem keluarga. Hal tersebut dijelaskan oleh Ibu

Guminik sebagai berikut:


“Ada masalah keluarga. Aib ini Mas, maaf tidak bisa diceritakan.
Klo ditanya karena biaya SMA mahal ya gak juga, kan putus
sekolahnya waktu kelas 2 MTs Mas. Jadi belum tahu biaya SMA
itu mahal atau gak ... Waktu itu tahun 2011 kalau gak salah, kalau
tidak keliru ya.” (Wawancara tanggal 8 April 2014)
64

Sementara itu, dalam kasus Ibu Sugiarti, motif dari anaknya putus

sekolah adalah karena keterbatasan ekonomi setelah ditinggal mati oleh

suaminya. Padahal di sisi lain Ibu Sugiarti yang hanya berprofesi sebagai

buruh cuci, masih mempunyai tanggungan untuk menyekolahkan empat

orang anak lainnya.


“Saya sebagai buruh cuci kan memang ya begitulah bayaran, pas-
pasan. Waktu dulu anak saya mau naik SMA, Bapaknya justru
meninggal. Akhirnya ada biaya pendaftaran, sumbangan gedung,
seragam, dan segala macam itu ya tidak kuat membayar. Soalnya,
anak saya yang lain itu ada 4 dan semua juga sekolah. Jadi, dia
mengalah dulu untuk menunda sekolah. Malah sampai sekarang
belum jadi melanjutkan SMA. Katanya sudah gak mau, pengennya
kerja di perantauan saja.” (Wawancara tanggal 2 Juli 2014)

Dari semua anak-anak putus sekolah (formal) sebelumnya, hanya

satu yang pernah melanjutkan ke sekolah terbuka, meskipun pada akhirnya

juga kembali berhenti di tengah jalan. Sementara itu, tidak ada sama sekali

di antara mereka yang meneruskan pendidikan dengan mencoba mengikuti

program paket (nonformal). Padahal, sudah disediakan buku serta modul

gratis. Mayoritas dari mereka saat ini telah berkerja, mulai dari berprofesi

sebagai buruh, sopir, serabutan, hingga petugas kebersihan.


Mengetahui hal itu, pihak Kecamatan Mejobo tidak bisa berbuat

banyak, sebab program wajib belajar 12 tahun memang hanya menuntut

kesadaran masyarakat. Maksudnya, peran pemerintah terbatas pada upaya-

upaya preventif dan persuasif. Dalam upaya preventif, pihak Kecamatan

Mejobo misalnya memberikan rekomendasi bagi anak-anak yang dianggap

layak mendapatkan beasiswa (termasuk kurang mampu) baik itu kepada

satuan pendidikan maupun juga instansi swasta, sedangkan untuk upaya


65

persuasif dilakukan dengan menginformasikan dan mengajak masyarakat

agar berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan program wajib belajar 12

tahun.
Sebagaimana yang berjalan pada tingkat kabupaten, program wajib

belajar 12 tahun di Kecamatan Mejobo juga diselenggarakan lewat jalur

pendidikan formal maupun nonformal. Melalui jalur pendidikan formal

dilaksanakan minimal pada tingkat pendidikan dasar yang meliputi SD,

MI, SMP, dan MTs sampai dengan pendidikan menengah, seperti SMA,

MA, serta SMK. Sebenarnya secara keseluruhan jumlah satuan pendidikan

di Kecamatan Mejobo dapat dikatakan cukup lengkap. Namun dari segi

proporsionalitas, terlihat bahwa perbandingan antara banyaknya SMP dan

MTs dengan SMA, MA, serta SMK di Kecamatan Mejobo masih belum

berimbang. Jumlah SMP dan MTs pada tahun 2012 di Kecamatan Mejobo

tercatat mencapai 9 unit, sedangkan banyaknya SMA, MA, serta SMK

hanya ada 5 unit. Hal tersebut yang kemudian menjadi salah satu persoalan

dalam pelaksanaan program wajib belajar 12 tahun.


Berikutnya, untuk penyelenggaraan program wajib belajar 12 tahun

pada jalur pendidikan nonformal di Kecamatan Mejobo dilakukan melalui

program paket A, paket B, hingga paket C. Program tersebut ada pada

beberapa sekolah dengan sebutan khusus, yakni PKBM (Pusat Kegiatan

Belajar Masyarakat). Tujuannya, agar dapat meminimalisir jumlah anak-

anak putus sekolah. Sebagaimana diutarakan oleh Bapak Slamet selaku

Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo:


“Jadi sekarang kita kan punya PKBM (Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat) yang hampir ada di setiap sekolah. Tujuannya
mengadakan Paket A, B, dan C supaya tidak ada lagi anak yang
66

putus sekolah. Minimal kalau di pendidikan formal ada anak yang


tidak melanjutkan, ya tetap bisa melanjutkan di pendidikan
nonformalnya.” (Wawancara tanggal 16 April 2014)

Berbagai satuan pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah

yang berada di Kecamatan Mejobo menjaga keberlangsungan pelaksanaan

program wajib belajar 12 tahun dengan berbagai macam usaha. Pertama,

menggandeng tokoh-tokoh masyarakat utamanya yang tinggal di sekitar

satuan pendidikan untuk menjadi komite sekolah agar dapat memberikan

masukan-masukan positif terhadap sekolah. Masukan-masukan tersebut,

merupakan hasil pemikiran tokoh masyarakat serta aspirasi yang berasal

dari masyarakat atau wali murid. Kedua, menyediakan beasiswa (di luar

beasiswa pemerintah) terhadap perserta didik yang tidak mampu dan/ atau

berprestasi, meskipun kuotanya terbatas. Hal itu sesuai dengan penjelasan

yang disampaikan Bapak Afif sebagai Kepala Sekolah SMK 3 Ma’arif

Kudus berikut:
“... dari Pemkab Kudus ada beasiswa untuk mendukung wajib
belajar 12 tahun. Lantas, dari pemerintah pusat ada BSM dan BOS.
Dan terakhir, dari sekolah sendiri ada beasiswa kepandaian, dari
yayasan juga ada beasiswa tidak mampu. Ya, meskipun kuotanya
masih terbatas ...” (Wawancara tanggal 21 April 2014)

Usaha-usaha yang dilaksanakan sekolah untuk menjaga keberlangsungan

program wajib belajar 12 tahun di atas, sekaligus juga menjadi cerminan

tanggung jawab pemimpin satuan pendidikan terhadap pengelolaan wajib

belajar 12 tahun pada masing-masing sekolah.

3. Peran Serta Masyarakat Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan

Program Wajib Belajar 12 Tahun


67

Dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun, masyarakat

Kecamatan Mejobo melakukan berbagai macam peran serta yang terbilang

bervariasi. Akan tetapi, untuk pelaku peran serta masih terbatas hanya di

lapisan elite masyarakat, yakni tokoh masyarakat, keluarga (mampu dan

peduli), pengusaha, serta organisasi kemasyarakatan. Sementara itu, bagi

masyarakat di tingkat bawah seperti keluarga dengan kepedulian rendah

atau berkemampuan ekonomi kurang, cenderung apatis untuk ikut terlibat

berperan serta. Adapun peran serta masyarakat di lapisan elite mencakup

dukungan yang bersifat materiil maupun non materiil (moril), mulai dari

penyediaan santunan bagi anak-anak yatim hingga memberikan masukan

dan pemikiran terhadap satuan pendidikan.


a. Peran Serta Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat merupakan salah satu anggota masyarakat

yang ikut berperan serta dalam mewujudkan program wajib belajar 12

tahun. Mereka mengetahui program tersebut, antara lain dari baliho

Visi dan Misi Bupati Kudus yang berisi ajakan untuk melaksanakan

program wajib belajar 12 tahun secara berkualitas. Peran serta yang

mereka lakukan diwadahi kepengurusan komite sekolah, sedangkan

bentuk peran sertanya sendiri adalah menyalurkan aspirasi masyarakat

termasuk wali murid seperti terkait pengurangan biaya uang gedung

maupun penambahan fasilitas pendidikan kepada satuan pendidikan.

Kemudian, untuk bentuk peran serta lain yang juga mereka lakukan

yakni masuk dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan

terhadap pihak sekolah, misalnya berhubungan dengan pembangunan


68

gapura masuk sekolah. Hal tersebut diutarakan Bapak Indarto sebagai

tokoh masyarakat yang sekaligus anggota komite SMA 1 Mejobo:


“Kalau peran yang saya lakukan, karena memang saya kepala
desa sekaligus tokoh masyarakat dan kebetulan ada salah satu
ponakan saya yang di SMA 1 Mejobo, saya menjadi komite
sekolah. Tugasnya ya macam-macam, tapi intinya mewadahi
aspirasi masyarakat, termasuk wali murid, untuk disampaikan
kepada pihak sekolah. Contohnya dulu ada wali murid yang
usul untuk menambah sarana olahraga, yaitu lapangan futsal.”
(Wawancara tanggal 2 April 2014)

Demikian halnya dengan yang dikatakan oleh Bapak Sumarlan

sebagai Humas SMA 1 Mejobo. Beliau menceritakan, elemen-elemen

masyarakat, termasuk tokoh masyarakat yang berada di sekitar SMA 1

Mejobo aktif berperan serta dengan memberikan dukungan moril bagi

pihak sekolah melalui wadah komite sekolah.


“... tokoh-tokoh pendidikan, agama, maupun masyarakat di
sekitar sekolah, ikut memberikan dukungan moril. Mereka
semua yang terwadahi di komite sekolah, mereka memberikan
masukan-masukan positif terhadap keputusan sekolah. Jadi,
elemen masyarakat termasuk tokoh masyarakat memang bisa
dikatakan juga ikut menjaga keberlangsungan program wajib
belajar 12 tahun.” (Wawancara tanggal 20 April)

Bentuk peran serta yang tidak jauh berbeda dilaksanakan oleh

Bapak Abdul sebagai tokoh masyarakat serta Ketua Komite SMK 3

Ma’arif Kudus. Selaku tokoh masyarakat, beliau aktif menjadi ketua

komite sekolah untuk memfasilitasi masukan-masukan dari masyarakat

yang ditujukan kepada pihak sekolah, contohnya berhubungan dengan

penambahan kuota beasiswa sekolah. Kemudian, sesuai tugas komite

sekolah yang lain, beliau juga ikut memberikan sumbangsih masukan

terhadap sekolah dalam pengambilan keputusan, misalnya berkenaan

dengan teknis perekrutan tenaga pengajar baru.


69

“Saya kan ketua komite sekolah Mas. Yang saya lakukan ya


banyak, tapi yang pasti menjadi fasilitator masyarakat dengan
pihak sekolah. Kemudian juga, memberi sumbangsih masukan-
masukan maupun pemikiran dalam pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh pihak sekolah.” (Wawancara tanggal 3
April 2014)

Gambar 1. Komite SMK 3 Ma’arif Kudus Mengumpulkan Wali Murid


untuk Mendengarkan Aspirasi
(Sumber: Dokumentasi SMK 3 Ma’arif Kudus)

Motif yang mendorong tokoh masyarakat Kecamatan Mejobo

dalam melakukan peran serta demikian adalah rasa tanggung jawab

sosial. Mereka mengatakan, tidak memperoleh profit materiil dari apa

yang dikerjakan. Seperti dikemukakan oleh Bapak Indarto:


“Pendidikan kan bisa diselenggarakan tentu dengan melibatkan
masyarakat ... Jadi dengan adanya peran masyarakat dalam
sekolah, paling tidak bisa menciptakan sistem saling kontrol
antara wali murid, masyarakat, dan pihak sekolah ... nanti kan
ada akuntabilitasya sekolah. Secara tidak langsung, saya juga
menyuarakan aspirasi-aspirasi dari masyarakat (desa) yang
saya pimpin. Misalnya dulu saat ada masalah tentang batas
antara tanah sekolah dan warga... Itu bermanfaat menurut saya.
Kalau untuk keuntungan materiil pribadi ya tidak ada Mas.”
(Wawancara tanggal 2 April 2014)

Dengan dapat mewakili dan menyuarakan aspirasi masyarakat, Bapak

Indarto mengaku sudah merasa menerima manfaat. Hal tersebut bukan


70

tanpa alasan, sebab peran serta beliau sangat relevan dengan kewajiban

dirinya sebagai kepala desa yang dituntut untuk selalu bisa mewadahi

aspirasi-aspirasi masyarakat.
Akan tetapi tokoh masyarakat lain, sekalipun tidak mengemban

jabatan sebagai kepala desa, ternyata juga tetap bersedia melakukan

peran sertanya dengan dilandasi oleh tekad pengabdian. Berdasarkan

hasil wawancara, kepedulian serta kepuasan batin menjadi beberapa

alasan yang membuat mereka bersedia mengabdi. Hal itu sebagaimana

yang dikerjakan Bapak Abdul, karena menyadari pendidikan adalah

bidangnya, maka beliau bersedia menjadi ketua komite sekolah.


“... karena bidang saya pendidikan. Saya dianggap sebagai
tokoh masyarakat, ya tokoh masyarakat yang paham di bidang
pendidikan. Saya murni pengabdian ini Mas, tidak dapat apa-
apa melakukan semua ini. Saya cuma ingin sedikit berbagi
pemikiran yang saya miliki sebelum tutup usia. Manfaat secara
materiil tidak ada, tapi kepuasan secara batin saya sangat
merasakan itu ...” (Wawancara tanggal 3 April 2014)

Bapak Abdul memang berprofesi sebagai kepala sekolah pada salah

satu SD di Kecamatan Mejobo. Pekerjaan tersebut, membuat dirinya

dianggap menjadi tokoh masyarakat dalam dunia pendidikan.


Respons yang diberikan oleh pihak satuan pendidikan maupun

pemerintah terhadap bentuk peran serta yang mereka lakukan sebagai

komite sekolah sangat positif. Sekolah mengapresiasi kesediaan dari

mereka untuk ditunjuk sebagai komite sekolah, sedangkan pemerintah

menanggapi baik peran serta tersebut dengan datang dalam pertemuan-

pertemuan komite sekolah sekaligus menyampaikan berbagai program

pemerintah pada bidang pendidikan.


71

Gambar 2. Pihak Komite Sekolah, Satuan Pendidikan, Disdikpora,


dan Wali Murid dalam Rapat Pleno SMA 1 Mejobo
(Sumber: Dokumentasi SMA 1 Mejobo, 2013)

b. Peran Serta Keluarga


Keluarga memegang peranan yang cukup penting dalam usaha

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun di Kecamatan Mejobo,

Kabupaten Kudus. Bapak Sanusi sebagai kepala keluarga menceritakan

tentang bagaimana awal mula dirinya mengenal program wajib belajar

12 tahun:
“Ya, tahu tahu. Dari sejak adanya pencalonan Bapak Bupati
Kudus, di Kudus harus wajib belajar 12 tahun. Kebetulan kan
itu memang masuk visi dan misinya ... Hari selasa atau apa itu,
ada bincang-bincang sama Kang Mus (sapaan Bupati Kudus) di
Radio ... Setiap siang atau sore, lupa. Tapi ada itu (informasi
wajib tentang belajar 12 tahun). Terus juga ada, sosialisasi dari
sekolah-sekolah (SMP) setelah kelulusan tentang wajib belajar
12 tahun ...” (Wawancara tanggal 7 April 2014)

Bagi keluarga yang mempunyai anak di usia sekolah, dengan

penuh rasa tanggung jawab mereka menyekolahkan anaknya. Bahkan

tidak hanya itu, sebagai orang tua mereka juga aktif mengikuti rapat

atau pertemuan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah bersama wali

murid lain untuk mencurahkan ide serta gagasan, contohnya terkait

dengan masukan untuk menurunkan biaya uang gedung dan fasilitas

pendidikan. Seperti dikatakan oleh Ibu Sulastri yang anaknya sedang

menjalani pendidikan SMA, “Peran yang saya lakukan ya ikut rapat-


72

rapat penentuan uang gedung. Terus, juga rapat komite. Termasuk ya

menyekolahkan kan itu juga peran serta kan.” (Wawancara tanggal 6

April 2014)
Selain itu, ada juga orang tua yang menyempatkan waktu untuk

berkonsultasi dengan guru seputar permasalahan belajar anaknya. Hal

tersebut diutarakan oleh Bapak Sanusi, setelah melihat nilai sekolah

anaknya yang buruk, beliau lantas memutuskan untuk berkonsultasi di

samping juga karena merasa tidak selalu bisa mengawasi anaknya:


“Karena orang tua kan tidak selalu bisa mengawasi anaknya.
Mungkin dia sering bermain atau kadang waktu di sekolah itu
belajarnya kurang. Tapi seperti itu tidak mau konsultasi ke
orang tua, yang tahu kan gurunya. Makanya saya memutuskan
ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru saat anak saya ada
masalah belajar.” (Wawancara tanggal 7 April 2014)

Manfaat yang didapatkan Bapak Sanusi maupun Ibu Sulastri

dari peran serta yang mereka kerjakan tidak lain adalah supaya kelak

anak mereka pintar dan bermanfaat untuk keluarga serta masyarakat.

Hal itu sesuai dengan yang diungkapkan Ibu Sulastri, “Ya biar kelak

anak saya itu jadi anak pinter, terus bisa bermanfaat bagi keluarga dan

masyarakat.” (Wawancara tanggal 6 April 2014)


Kemudian, Bapak Sanusi juga menambahkan, konsultasi yang

aktif beliau jalin dengan guru tentang permasalahan belajar anaknya

membuat anak lebih disiplin serta bersungguh-sungguh dalam proses

pembelajaran di sekolah.
C. Peran Serta Pengusaha
Pengusaha dapat dikatakan sebagai anggota masyarakat yang

mempunyai peran signifikan dalam upaya mewujudkan program wajib

belajar 12 di Kecamatan Mejobo. Peran serta mereka menjadi penting


73

karena berkenaan dengan dukungan materiil yang sangat dibutuhkan

oleh dunia pendidikan, terutama berlaku bagi sekolah yang baru saja

dirintis. Bapak Soeparno adalah salah seorang pengusaha (kontraktor)

yang berperan serta dengan memberikan bantuan berupa material dan

pinjaman kepada satuan pendidikan. Adapun satuan pendidikan yang

diberikan bantuan─SMK 3 Ma’arif Kudus─memang tergolong sekolah

relatif baru. Lebih lanjut, berikut penjelasan Bapak Soeparno mengenai

peran serta yang dilakukannya:


“... Paling saya membantu misalnya memberikan beberapa
material bangunan untuk pendirian SMK. Selain itu, dulu,
karena memang katanya menjadi syarat wajib untuk ijin
operasional, saya juga sempat memberikan pinjaman uang
sekian ratus juta dengan diatasnamakan rekening sekolah ...”
(Wawancara tanggal 5 April 2014)

Selain Bapak Soeparno, Ibu Sarpinh sebagai pengusaha jenang

juga beperan serta dengan menyediakan tempat magang bagi peserta

didik SMK 3 Ma’arif Kudus. Meskipun demikian, beliau sebenarnya

tak menyangka bahwa apa yang dikerjakannya itu termasuk peran serta

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun, sebab Ibu Sarpinh

memang belum pernah mendapatkan informasi tentang wajib belajar

12 tahun.

Gambar 3. Siswa SMK 3 Ma’arif Kudus Sedang Magang


di Usaha Jenang Ibu Sarpinh
(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014)
74

Motif yang mendorong mereka ikut terjun berperan serta dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun adalah rasa keprihatinan.

Sekolah yang tergolong relatif baru tentunya memerlukan dukungan-

dukungan ekstra dari anggota masyarakat, salah satunya pengusaha. Di

sanalah mereka mengambil peran. Tidak ada keuntungan materiil yang

para pengusaha tersebut dapatkan, semuanya diniatkan sebagai ibadah

dan wujud keimanan serta ketakwaan mereka. Seperti yang dituturkan

oleh Bapak Soeparno:


“Maaf ya ini Mas, saya bukannya sombong, tidak pernah saya
itu berharap mendapatkan keuntungan materi dari bantuan yang
saya berikan. Ya semua itu saya niatkan sebagai ibadah saja,
wujud keimanan dan ketakwaan saya. Ikhlas, tidak ada niat lain
untuk mengeruk keuntungan materiil ...” (Wawancara tanggal 5
April 2014)

Pemerintah Kabupaten Kudus atau dalam hal ini Disdikpora

tidak memberikan respons apapun terkait peran yang mereka lakukan.

Hal tersebut dikarenakan, baik Bapak Soeparno maupun Ibu Sarpinh

masing-masing merasa peran serta mereka timbul dari inisiatif pribadi

dan permintaan pihak sekolah (SMK 3 Ma’arif Kudus). Jadi, tidak ada

campur tangan pemerintah. Sebagaimana pendapat Ibu Sarpinh, “Tidak

pernah ada kok Mas, kesepakatan ini hanya hasil komunikasi antara

saya dengan sekolah. Pemerintah tidak ikut-ikut campur.” (Wawancara

tanggal 6 April 2014) Padahal, Disdikpora Kabupaten Kudus melalui

keterangan Ibu Sriatie mengkonfirmasi, bahwa pihaknya (Disdikpora)

telah memberikan sosialisasi tentang peran serta dari Dunia Usaha dan
75

Dunia Industri (DUDI) untuk mendukung program wajib belajar 12

tahun.
Berbeda halnya dengan respons nihil pemerintah, di sini satuan

pendidikan begitu menghargai peran serta dari para pengusaha sebagai

anggota masyarakat. Apalagi mengingat, background SMK 3 Ma’arif

Kudus yang notabene memang sekolah relatif baru (dibangun tahun

2011). Sesuai keterangan dari Bapak Afif selaku Kepala Sekolah SMK

3 Ma’arif Kudus, beliau menyambut baik adanya dukungan pemberian

kesempatan untuk magang bagi peserta didik SMK 3 Ma’arif Kudus.

Hal itu disebabkan, sebagai sekolah yang belum lama berdiri SMK 3

Ma’arif Kudus cukup kesulitan memperoleh mitra magang.


Kemudian, langkah peran serta para pengusaha sendiri sebagai

anggota masyarakat di Kecamatan Mejobo guna mewujudkan program

wajib belajar 12 tahun bermacam-macam. Salah satunya seperti yang

dijalani oleh Bapak Soeparno. Beliau yang kebetulan menjadi anggota

badan pelaksana pendidikan SMK 3 Ma’arif Kudus (tepatnya bidang

pembangunan) tidak hanya sebetas aktif mencari dan mengkoordinir

bantuan pembangunan, tetapi juga ikut berkontribusi langsung dengan

memberikan sumbangan. Termasuk, ketika dimintai iuran rutin pada

awal berdirinya sekolah, beliau juga menyanggupi.


Sementara itu Ibu Sarpinh menuturkan langkah peran sertanya

justru bermula dari kedatangan Kepala Sekolah SMK 3 Ma’arif untuk

memohon izin agar diperbolehkan menempatkan peserta didik magang

di usaha jenangnya. Setelah bermusyawarah, beliaupun setuju antara

lain karena iba dan simpatik melihat usaha sekolah yang sangat gigih
76

dalam mencari lokasi magang. Bagi siswa-siswi magang, Ibu Sarpinh

juga tidak segan untuk sekadar memberikan uang makan, meskipun

sebenarnya tidak diminta oleh pihak sekolah.


“... untuk siswa-siswi yang magang di sini saya juga beri uang
makan, tapi dengan catatan hanya untuk yang rajin. Sebenarnya
tidak disuruh atau diminta oleh sekolah, tapi namanya orang
Jawa kan serba pekewuh ya Mas. Jadi saya berinisiatif sendiri
untuk beri.” (Wawancara tanggal 6 April 2014)

d. Peran Serta Organisasi Kemasyarakatan


Organisasi kemasyarakatan sebagai salah satu bagian anggota

masyarakat, tidak bisa diremehkan peran sertanya dalam mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun. Seperti misalnya, yang dilakukan oleh

MWC NU Kecamatan Mejobo dengan merintis pembangunan sebuah

SMK berbasis pesantren di Kecamatan Mejobo, yakni SMK 3 Ma’arif

Kudus. Pembangunan SMK tersebut dimulai sejak sekitar tahun 2011

dan kini sudah beroperasi dengan jumlah siswa paripurna mencapai

103 anak. MWC NU Kecamatan Mejobo bahkan tidak hanya sebatas

merintis pembangunan, tetapi turut pula menjaga keberlangsungan dari

sekolah melalui berbagai dukungan baik materiil maupun moril kepada

SMK. Bapak Afif selaku Kepala Sekolah SMK 3 Ma’arif Kudus juga

membenarkan dukungan-dukungan itu:


“... Kami menerima sumbangan rutin dari masyarakat diawal
pembangunan, plus dukungan materiil dan moril yang sangat
besar dari MWC NU Kecamatan Mejobo. Ya misalnya, untuk
dukungan moril, MWC NU memberi masukan-masukan lewat
badan pelaksana pendidikan SMK 3 Ma’arif yang dibentuk ...”
(Wawancara tanggal 21 April 2014)

Di samping MWC NU Kecamatan Mejobo yang telah merintis

pembangunan SMK, juga masih ada Yayasan Al-Kamal sebagai salah


77

satu organisasi kemasyarakatan dengan concern membantu anak-anak

yatim pada tingkat SD dan SMP agar dapat terus melanjutkan sekolah.

Bantuan itu ditujukan baik untuk anak-anak yang masih menempuh

sekolah maupun yang telah putus sekolah, di mana meliputi bantuan

seragam, uang komite, serta biaya lainnya. Seperti penjelasan Bapak

Sunarto selaku Ketua Yayasan Al-Kamal, “Fokusnya membantu anak-

anak yatim yang sudah sekolah maupun putus sekolah Mas, agar bisa

lanjut sekolahnya. Tapi itu khusus untuk SD dan SMP. Bantuannya ya

ada seragam, uang komite, dan biaya-biaya lain.” (Wawancara tanggal

12 April 2014)

Gambar 4. Penyerahan Santunan oleh Bapak Sunarto selaku Ketua


Yayasan Al-Kamal kepada Anak-anak Yatim
(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014)

UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo sebagai pelaksana teknis

pendidikan (SD) di tingkat Kecamatan, juga mengkonfirmasi bahwa

memang ada berbagai macam bantuan yang diserahkan langsung oleh

masyarakat kepada sekolah atau siswanya. Jadi, bantuan tersebut tidak

diberikan lewat pihak UPT Pendidikan. Sesuai pemaparan dari Bapak

Slamet selaku Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo berikut:


“Oh, tidak, tidak. Kalau melalui UPT memang tidak pernah ada
(bantuan masyarakat yang diberikan), tapi untuk ke sekolah
atau ke siswa langsung ada banyak. Misalnya yayasan, yang
78

langsung memberikan bantuan ke siswa, kalau seperti itu malah


ada.” (Wawancara tanggal 16 April 2014)

Baik itu MWC NU Kecamatan Mejobo maupun Yayasan Al-

Kamal, masing-masing memiliki alasan tersendiri atas peran serta yang

mereka kerjakan, meskipun secara elementer motif keduanya terbilang

sama. Seperti pandangan Bapak Hendro sebagai Wakil Ketua MWC

NU Kecamatan Mejobo, beliau melihat pendidikan merupakan bidang

yang strategis dan visioner karena mencetak aset lintas generasi. Di

sisi lain, kuantitas masyarakat terus bertambah yang tentu perlu

dibarengi pula penambahan jumlah satuan pendidikan, sedangkan di

Kecamatan Mejobo perbandingan jumlah antara SMP dan MTs dengan

SMA, MA, serta SMK tidak berimbang (lebih banyak SMP dan MTs).

Oleh sebab itu, MWC NU Kecamatan Mejobo lantas berinisiatif

merintis sebuah sekolah menengah, tepatnya SMK.


Selanjutnya, alasan dari Yayasan Al-Kamal sendiri mengapa

memilih berperan serta dengan menyantuni anak-anak yatim adalah

karena tidak ingin menjumpai mereka putus sekolah. Mengingat, di

Kecamatan Mejobo masih terdapat beberapa anak yang putus sekolah.

Selain itu, alasan lainnya adalah untuk mem-backup kuota beasiswa

sekolah maupun pemerintah yang masih terbatas. Yayasan Al-Kamal

menilai pendidikan sangat penting artinya terhadap masa depan, maka

mereka membantu anak-anak tersebut supaya bisa terus mengenyam

bangku sekolah.
79

Gambar 5. Proses Pengukuran Seragam Sekolah Salah Satu Anak


Penerima Santunan dari Yayasan Al-Kamal
(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014)

Manfaat yang didapatkan MWC NU Kecamatan Mejobo dan

Yayasan Al-Kamal atas peran sertanya adalah kebanggaan, kepuasan

batin, serta tetap berkeyakinan bahwa kelak apa yang mereka kerjakan

akan bermanfaat bagi lingkungan masyarakat. Di samping itu, manfaat

lainnya secara khusus disampaikan oleh Bapak Hendro sebagai Wakil

Ketua MWC NU Kecamatan Mejobo yang berprinsip jika perjuangan

merintis sekolah hanya akan menjadi investasi peningkatkan kualitas

SDM, bukan ditujukan untuk mengejar keuntungan materiil.


“Untuk sebuah pendidikan tidak seperti usaha jasa atau usaha
profit. Ikhtiar itu untuk masa depan anak cucu kita ... bisa
dikatakan hanya sebagai investasi untuk meningkatkan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi ya tidak ditujukan bagi
keuntungan materi, tidak ada keuntungan itu.” (Wawancara
tanggal 10 April 2014)

Pemerintah maupun sekolah memberikan respons yang baik atas

peran serta organisasi kemasyarakatan untuk merealisasikan program

wajib belajar 12 tahun. Seperti contoh, pemerintah atau dalam hal ini

pemerintah Desa Jepang selalu mendorong Yayasan Al-Kamal agar

senantiasa berkembang dengan ikut memfasilitasi program kerjanya,

sehingga peran yang dilakukan juga bisa lebih maksimal. Sementara

itu, untuk peran serta dari MWC NU Kecamatan Mejobo, pemerintah


80

Kabupaten Kudus sangat mengapresiasinya karena ikut berkontribusi

besar terhadap program wajib belajar 12 tahun. Kemudian, tidak jauh

berbeda, secara umum pihak sekolah juga memberikan tanggapan yang

positif bagi peran serta mereka.


Ada berbagai langkah yang dilalui oleh MWC NU Kecamatan

Mejobo serta Yayasan Al-Kamal dalam melaksanakan peran sertanya.

Untuk MWC NU Kecamatan Mejobo, tahapan awal yang ditempuh

yakni membentuk program unggulan pada bidang pendidikan berupa

perintisan SMK 3 Ma’arif Kudus, sesudah sebelumnya juga sempat

menerima ide yang sama dari Bapak As’ad Ali sebagai Wakil Ketua

Umum PBNU Pusat ketika itu. Langkah berikutnya adalah MWC NU

Kecamatan Mejobo melakukan komunikasi intensif dengan berbagai

unsur masyarakat, termasuk meminta masukan-masukan dari PC NU

Kabupaten Kudus terkait rencana perintisan sekolah. Hingga akhirnya,

tahun 2011 pembangunan SMK 3 Ma’arif resmi dimulai.


Selanjutnya, untuk Yayasan Al-Kamal memulai langkah peran

sertanya dengan terlebih dahulu menghubungi kepala desa setempat

(saat ini lingkup sasaran bantuan Yayasan Al-Kamal memang masih

terbatas di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo), masyarakat, dan satuan

pendidikan. Komunikasi dengan kepala desa dan masyarakat berguna

dalam konteks memberikan data serta rekomendasi anak-anak yatim

yang layak mendapatkan santuan. Sementara itu, kontak dengan satuan

pendidikan berfungsi untuk mengetahui spesifikasi biaya kebutuhan

sekolah dari anak-anak tersebut. Setelah komunikasi dengan berbagai


81

elemen di atas dan proses seleksi tuntas dilaksanakan, barulah Yayasan

Al-Kamal akan mengundang anak-anak yatim yang terpilih pada acara

penyerahan santunan.

4. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Peran Serta Masyarakat

Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan Program Wajib Belajar 12

Tahun
Peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam merealisasikan

program wajib belajar 12 tahun tidak pernah terlepas dari berbagai macam

faktor pendukung maupun penghambat. Adapun faktor-faktor pendukung

dan penghambat tersebut, bisa difragmentasi menjadi dua jenis. Pertama,

yang berasal dari internal masyarakat, yaitu tokoh masyarakat, keluarga,

pengusaha, serta organisasi kemasyarakatan. Sementara itu kedua, faktor-

faktor pendukung dan penghambat dari eksternal masyarakat, yakni terdiri

atas pemerintah serta sekolah.


a. Faktor-faktor Pendukung Peran Serta Masyarakat
Dalam implementasinya, peran serta yang dikerjakan oleh para

tokoh masyarakat Kecamatan Mejobo untuk merealisasikan program

wajib belajar 12 tahun Kabupaten Kudus menemui berbagai macam

faktor pendukung. Faktor-faktor tersebut berasal dari internal maupun

eksternal masyarakat. Dari internal masyarakat contohnya, beberapa

hal yang mendukung antara lain dijelaskan Bapak Indarto:


“... misalnya orang tua murid yang membantu iuran untuk
pembangunan sekolah. Terus, tadi juga, toko bangunan yang
bersedia memberi talangan untuk pembangunan sekolah.
Termasuk, ada banyak masyarakat yang memberikan masukan-
masukan yang berharga, contoh adalah tentang tugu masuk
82

sekolah, pelebaran akses jalan menuju sekolah, dan


sebagainya ...” (Wawancara tanggal 2 April 2014)

Dukungan-dukungan tersebut muncul tidak terlepas dari peran

komite sekolah yang dapat menjalin komunikasi holistik dengan unsur-

unsur masyarakat. Bagi tokoh masyarakat, aspirasi-aspirasi yang selalu

diberikan oleh masyarakat akan memudahkan kinerja mereka sebagai

komite sekolah. Begitu juga dengan berbagai sumbangan meteriil dari

masyarakat yang walaupun nominalnya terkadang tidak seberapa, hal

itu tetap dinilai sangat membantu.


Faktor-faktor pendukung berikutnya dari eksternal masyarakat,

yakni pemerintah dan satuan pendidikan. Untuk dukungan pemerintah

(dalam konteks ini Disdikpora Kabupaten Kudus), salah satunya yaitu

berupa pengarahan serta masukan terkait kinerja komite sekolah saat

pertemuan komite sekolah sedang dilangsungkan. Selanjutnya, untuk

dukungan satuan pendidikan diwujudkan dengan mengkomunikasikan

pertimbangan-pertimbangan komite sekolah sewaktu hendak membuat

kebijakan. Jadi, kebijakan yang diambil bersifat imparsial karena juga

merepresentasikan berbagai pertimbangan komite sekolah. Sesuai apa

yang disampaikan oleh Bapak Abdul:


“Sekolah selalu menjalin komunikasi baik kok dengan pihak
komite sekolah, jadi kebijakan-kebijakan yang akan mereka
ambil itu tidak kemudian diambil sendiri tanpa pertimbangan
komite. Intinya, komite selalu dilibatkan dalam setiap proses
pengambilan keputusan.” (Wawancara tanggal 3 April 2014)

Masyarakat sangat mendukung keluarga yang menyekolahkan

anaknya minimal hingga di jenjang menengah secara lisan. Memang

harus diakui, dari orang tua sendiri sebenarnya juga telah berniat untuk
83

menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMA. Akan tetapi, dengan

dukungan masyarakat, niat tersebut semakin bertambah mantap.


Dari pemerintah Kabupaten Kudus, melalui berbagai beasiswa

juga berupaya untuk mendukung peran serta yang sudah dilakukan

keluarga dengan menyekolahkan anaknya. Hal tersebut bertujuan agar

keluarga─terutama yang kurang mampu─tidak merasa terbebani oleh

biaya sekolah. Ada dua beasiswa yang khusus disediakan pemerintah

Kabupaten Kudus untuk mewujudkan program wajib belajar 12 tahun,

yaitu beasiswa kurang mampu serta prestasi. Keduanya bersumber dari

APBD dan diberikan kepada para peserta didik yang memenuhi syarat

mulai jenjang pendidikan dasar, hingga menengah. Di luar itu, juga

masih ada dua bantuan dari pemerintah pusat, yakni BOS dan BSM.

Ibu Sriatie sebagai Kasie Kurikulum Pendidikan Menengah Disdikpora

Kabupaten Kudus menjelaskan hal tersebut:


“Dari pemerintah tentu memberikan berbagai beasiswa. Selain
dari pemerintah pusat kan ada BOS dan BSM, dari kami sendiri
juga ada, yakni beasiswa kurang mampu dan beasiswa prestasi.
Dua beasiswa yang terakhir memang diberikan oleh pemerintah
Kabupaten Kudus, dari APBD kabupaten. Itu ditujukan sebagai
salah satu upaya untuk mewujudkan program wajib belajar 12
tahun ...” (Wawancara tanggal 15 April 2014)
84

Gambar 6. Bupati Kudus Menyerahkan Beasiswa bagi 5.580 Siswa


SD/ MI, SMP/ MTs, SMA/ MA/ SMK, dan SLB
(Sumber: http://www.tribunnews.com, diunduh tanggal 23 Mei 2014)

Kemudian, tidak ketinggalan sekolah juga ikut berkontribusi

dengan memberikan keringanan biaya bagi anak-anak berprestasi dan

yang berasal dari keluarga berekonomi rendah. Seperti contoh, SMA 1

Mejobo menyediakan bantuan untuk siswa-siswi yang berprestasi, di

samping turut memfasilitasi ketika ada peserta didik yang meminta

surat keterangan layak (rekomendasi) guna mendapatkan beasiswa dari

instansi lain. Begitupun juga yang dilaksanakan oleh SMK 3 Ma’arif

Kudus, yaitu menyediakan beasiswa kepandaian serta kurang mampu.

Hal tersebut semata-mata bertujuan untuk mendukung terwujudnya

program wajib belajar 12 tahun.


Tidak jauh berbeda dengan konteks anggota masyarakat yang

lain, di sini masyarakat juga mendukung peran serta yang dilakukan

oleh pengusaha seperti Bapak Soeparno maupun Ibu Sarpinh dalam

upaya mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Pada peran serta

Bapak Soeparno misalnya, masyarakat mendukung dengan ikut pula

membantu sekolah walaupun menggunakan bentuk yang berbeda dari

beliau. Bapak Soeparno memang tidak mengetahui secara detail, tetapi

tetap meyakini hal tersebut.


85

“Kalau dari masyarakat sendiri, ada pasti yang (membantu)


seperti saya. Masyarakat juga banyak yang aktif kok sekarang.
Saya yakin, jadi sebenarnya mereka juga ikut mendukung, tapi
mungkin dengan bentuk lain. Tidak dengan menyumbangkan
material.” (Wawancara tanggal 5 April 2014)

Untuk peran serta Ibu Sarpinh, masyarakat yang bekerja di tempatnya

juga ikut mendukung dengan cara menyambut baik dan membantu

mengarahkan para peserta magang agar dapat beradaptasi. Akan tetapi

perlu ditekankan kembali, bahwa dukungan masyarakat tersebut hanya

terbatas oleh masyarakat yang menjadi pekerja Ibu Sarpinh. Hal itu

disebabkan tidak ada interaksi lain antara para peserta magang dengan

masyarakat, kecuali dengan masyarakat yang bekerja di usaha jenang

beliau.
Dukungan yang diberikan masyarakat berkontribusi besar bagi

peran serta yang dilakukan oleh para pengusaha dalam mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun. Munculnya dukungan tersebut salah

satunya tidak bisa terlepas dari perasaan ikut memiliki yang ada pada

diri masyarakat. Seperti contoh di konteks peran serta Bapak Soeparno

yang ditujukan kepada SMK 3 Ma’arif Kudus sebagai sekolah relatif

baru, masyarakat ternyata merasa ikut memiliki dan bertanggungjawab

atas kelangsungan sekolah tersebut. Bapak Soeparno menyatakan, hal

itulah yang menjadi alasan mengapa masyarakat bersedia memberikan

input berupa dukungan-dukungan yang bermanfaat untuk peran serta

beliau, walaupun terkadang tidak secara langsung berkaitan.


“Karena ada perasaan nduweni Mas asal mulanya (masyarakat
bersedia ikut mendukung), mereka itu merasa saling memiliki
lembaga pendidikan yang baru dibangun. Lembaga pendidikan
86

di sini ya itu SMK 3 Ma’arif Kudus, yang memang belum lama


dibangun.” (Wawancara tanggal 5 April 2014)

Di sisi lain, MWC NU Kecamatan Mejobo sebagai organisasi

kemasyarakatan perintis SMK 3 Ma’rif Kudus juga diungkapkan oleh

Bapak Soeparno memiliki porsi yang cukup besar mendukung peran

sertanya. Berkat dorongan MWC NU Kecamatan Mejobo supaya dapat

semakin aktif berperan serta, beliau bertambah semangat seperti saat

ini.
Berikutnya, berbagai faktor pendukung yang berasal dari luar

masyarakat, yaitu pemerintah dan satuan pendidikan. Pihak pemerintah

sebagaimana dijelaskan jauh sebelumnya, tidak menjalin komunikasi

dengan pengusaha dalam peran serta yang mereka kerjakan. Meskipun

demikian, Bapak Soeparno sebagai salah satu pengusaha yang turut

berperan serta tetap mencoba berpikir positif dengan memahami tugas,

pokok, dan fungsi pemerintah yang mungkin saja tidak bersinggungan

langsung dengan mereka.


“Ini (peran serta) memang kan berasal dari inisiatif pribadi saya
sendiri, pemerintah Kabupaten Kudus saya percaya pasti juga
sudah mengerjakan Tupoksinya sendiri. Mungkin yang saya
atau pengusaha lainnya lakukan memang tidak berhubungan
langsung dengan itu.” (Wawancara tanggal 5 April 2014)

Untuk dukungan dari satuan pendidikan─di sini adalah SMK 3

Ma’arif Kudus sebagai satuan pendidikan yang bersangkutan─sangat

memudahkan pengusaha dalam menjalankan peran sertanya masing-

masing. Seperti misalnya, Bapak Soeparno mengaku terbantu ketika

penarik sumbangan atau iuran rutin yang datang menemuinya sehingga

beliau tidak perlu repot untuk ke sekolah. Sementara itu, Ibu Sarpinh
87

bahkan sampai mengatakan jika pihak sekolah tidak menghubunginya

langsung, mungkin beliau tidak akan pernah dapat membantu SMK 3

Ma’arif Kudus menyediakan lokasi magang.


“Pihak sekolah kan menghubungi saya langsung. Jadi saya bisa
membantu. Kalau tidak ya mungkin saya tidak akan pernah
bisa membantu. Lha saya sendiri juga baru tahu ada SMK 3
Ma’arif kok, ya walaupun jaraknya dengan tempat tinggal saya
tidak terlalu jauh.” (Wawancara tanggal 6 April 2014)

Selanjutnya, untuk peran serta yang dilakukan oleh organisasi

kemasyarakatan─dalam hal ini adalah MWC NU Kecamatan Mejobo

dan Yayasan Al-Kamal─guna mewujudkan program wajib belajar 12

tahun mendapatkan dukungan yang baik dari masyarakat. Untuk peran

MWC NU Kecamatan Mejobo dengan merintis pembangunan SMK 3

Ma’arif Kudus contohnya, masyarakat aktif berperan ketika dimintai

tanda tangan persetujuan sebagai syarat operasional pendirian sekolah.

Patut diketahui, dalam pendirian sebuah sekolah pertama-tama wajib

mengumpulkan tanda tangan persetujuan, minimal dari 150 warga di

sekitarnya. Kemudian, Bapak Hendro sebagai Wakil Ketua MWC NU

Kecamatan Mejobo juga mengatakan dukungan lain dari masyarakat

yang tidak kalah penting, yakni terkait pemenuhan syarat aset awal

minimal sekolah di bank. Untuk memenuhi itu, beliau bersyukur ada

pengusaha yang ikhlas menjaminkan uangnya sementara waktu kepada

pihak sekolah.
Hal serupa juga dirasakan oleh Yayasan Al-Kamal, bahwa ada

sambutan dan dukungan yang positif dari masyarakat. Seperti untuk

mendata anak-anak yatim yang layak memperoleh bantuan, masyarkat


88

pro aktif dengan bersedia menjadi koordinator pada setiap RW guna

selalu meng-update penambahan jumlah anak-anak yatim. Begitupun

juga berkenaan dengan donatur insidental, tak sedikit masyarakat yang

ikut menyumbangkan “kelebihan” rezekinya lewat Yayasan Al-Kamal.

Hal tersebut diutarakan oleh Bapak Sunarto selaku Ketua Yayasan Al-

Kamal sebagai berikut:


“... dari kami kan ada donatur tetap dan insidental. Kalau
donatur tetap dari anggota yayasan lewat iuran, sedang donatur
tidak tetap atau insidental itu dari masyarakat. Yang donatur
tidak tetap itu juga banyak dukungannya, misalnya ada yang
baru panen padi, lalu ikut menitipkan sumbangan ke kami.”
(Wawancara tanggal 12 April 2014)

Selanjutnya, berkaitan dengan berbagai dukungan yang berasal

dari pemerintah dan satuan pendidikan terhadap peran serta organisasi

kemasyarakatan. Untuk konteks peran Yayasan Al-Kamal, pemerintah

desa ikut memberikan dukungan melalui penyediaan data terkait anak-

anak yatim. Di sisi lain, sekolah juga mendukung dengan memberikan

data valid tentang komponen-komponen biaya pendidikan dari anak-

anak yatim calon penerima santutan.


Untuk peran dari MWC NU Kecamatan Mejobo, pemerintah

turut mendukung dengan memberikan informasi dan sosialisasi seputar

program wajib belajar 12 tahun. Secara tidak langsung, hal tersebut

ikut meningkatkan partisipasi masyarakat menuju jenjang pendidikan

menengah, termasuk ke SMK 3 Ma’arif Kudus sendiri. Di samping itu

menurut Bapak Hendro, pemerintah juga membentuk tim khusus yang

melakukan kajian-kajian pembangunan SMK, bahkan terlibat langsung


89

dalam mengarahkan MWC NU Kecamatan Mejobo (badan pelaksana

SMK 3 Ma’arif Kudus) saat ada masalah maupun untuk perbaikan.


“Pemerintah ikut melakukan kajian-kajian pembangunan SMK.
Jadi ada tim khusus yang dibentuk pemerintah untuk menilai
persyaratan-persyaratan, dari infrastruktur, tenaga pendidik,
siswanya, sampai asetnya. Pemerintah memberikan perhatian
yang penuh. Kami juga diarahkan jika ada masalah-masalah
dan hal-hal yang perlu diperbaiki ...” (Wawancara tanggal 10
April 2014)

Kemudian, dukungan satuan pendidikan terhadap pembangunan SMK

3 Ma’arif tampak dari rekomendasi persetujuan oleh berbagai SMP/

MTs di Kecamatan Mejobo. Rekomendasi tersebut merupakan salah

satu prasyarat wajib pembangunan SMK 3 Ma’arif Kudus.

Gambar 7. Gedung SMK 3 Ma’arif Kudus Tampak Depan


(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2014)

b. Faktor-faktor Penghambat Peran Serta Masyarakat


Untuk peran serta tokoh masyarakat, hampir tidak ada kendala

yang mereka alami dari anggota masyarakat lainnya. Bapak Indarto

menjelaskan, keterbukaan atau transparansi yang menjadi kunci dalam

meminimalisir berbagai kendala tersebut.


“Sepengalaman saya menjadi komite ya Mas, tidak pernah ada
kendala-kendala dari masyarakat. Misalnya, ada pembangunan
sekolah, tidak pernah ada protes atau kontra. Mereka menerima
dengan baik. Kami terbuka kok, di forum pleno kami jelaskan,
mereka bisa mengecek.” (Wawancara tanggal 2 April 2014)

Jikapun ada hambatan dari pihak masyarakat, itu masih pada

kadar yang wajar dan tidak berarti. Seperti contoh, wali murid yang

juga masyarakat tidak setuju dengan salah satu kebijakan komite dan
90

pihak sekolah tentang iuran wajib wali murid sebagai tambahan dana

beasiswa sekolah. Kendala tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan

terhadap peran serta yang tokoh masyarakat lakukan sebagai komite

sekolah, sebab dominan hanya dikarenakan masalah kesalahpahaman.


Tidak ada kendala-kendala yang tokoh masyarakat temukan

sebagai komite sekolah dari komponen di luar masyarakat. Hanya saja,

Bapak Indarto yang menjadi tokoh masyarakat Kecamatan Mejobo

sekaligus komite sekolah mempunyai masukan terhadap pemerintah

mengenai sosialisasi program wajib belajar 12 tahun. Beliau berharap,

pemerintah juga dapat memberikan sosialisasi tentang peran serta yang

bisa ditempuh oleh masyarakat dalam merealisasikan program wajib

belajar 12 tahun. Jadi, bukan sebatas gambaran program wajib belajar

12 tahun semata yang disosialisasikan.


Selanjutnya, juga tidak ada kendala yang dihadapi oleh peran

serta keluarga dari dalam masyarakat. Hal itu disebabkan, masyarakat

menilai apabila warganya bersekolah sampai jenjang yang tinggi, pada

dasarnya juga merupakan investasi milik mereka (masyarakat) sendiri,

sehingga perlu mendapat dukungan. Akan tetapi, Bapak Sanusi sebagai

salah satu kepala keluarga merasa cukup khawatir tentang pembiayaan

sekolah apabila suatu hari nanti dirinya mengalami persoalan ekonomi,

contohnya di-PHK atau terlilit hutang. Oleh karenaya, beliau berharap

pemerintah maupun sekolah bersedia memfasilitasi jika ada keluarga

yang tiba-tiba menghadapi problem demikian.


Untuk hambatan bagi peran serta pengusaha yang berasal dari

dalam masyarakat tidak ditemukan. Akan tetapi, kendala-kendala yang


91

dihadapi para pengusaha dari pihak pemerintah dan satuan pendidikan

cukup beragam, meskipun hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap

peran serta yang mereka lakukan. Dalam menyampaikan kendalanya,

Bapak Soeparno serta Ibu Sarpinh juga lebih menitikeberatkan pada

harapan-harapan, bukan kritik dan keluhan bagi pemerintah maupun

satuan pendidikan. Seperti misalnya, Bapak Soeparno berharap ketika

ada sekolah yang benar-benar membutuhkan bantuan, sebaiknya dapat

menghampiri masyarakat langsung dan bukan justru menunggu.


Kemudian lain halnya dengan yang dirasakan oleh Ibu Sarpinh,

beliau berharap kepada pemerintah supaya dioptimalkan lagi bantuan-

bantuan untuk usaha kecil seperti usaha jenangnya. Dengan demikian,

dirinya juga akan bisa lebih banyak membantu anak-anak SMK yang

membutuhkan tempat magang. Harapan beliau tersebut, berangkat dari

tawaran bantuan (modal) pemerintah yang dahulu sempat dijanjikan

kepadanya, tetapi hingga saat ini belum terealisasi. Meskipun begitu,

beliau tetap memafhumi keterbatasan-keterbatasan yang tentunya juga

dialami oleh pemerintah.


Selanjutnya, tidak ada hambatan berarti yang dialami MWC

NU Kecamatan Mejobo maupun Yayasan Al-Kamal dalam berperan

serta merealisasikan program wajib belajar 12 tahun. Secara khusus,

Bapak Hendro sebagai pengurus MWC NU Kecamatan Mejobo hanya

menekankan kembali mengenai pentingnya jalinan komunikasi dengan

masyarakat agar potensi-potensi kendala yang muncul dari masyarakat


92

dapat diantisipasi. Sementara itu, berbagai potensi dukungan juga bisa

semakin optimal diperoleh.


Dari eksternal atau luar masyarakat, Yayasan Al-Kamal juga

tidak menemukan hambatan-hambatan. Sementara itu, untuk MWC

NU Kecamatan Mejobo tidak mengalami kendala-kendala dari pihak

pemerintah, tetapi menjelaskan bahwa sempat ada sedikit hambatan

dari sekolah. Hambatan tersebut berhubungan dengan pembangunan

SMK 3 Ma’arif Kudus yang dianggap berpotensi menyaingi sekolah

menengah lain─terutama SMK─di Kecamatan Mejobo. Namun, berkat

kunjungan dan komunikasi pengurus MWC NU Kecamatan Mejobo

kepada sekolah-sekolah yang bersangkutan, masalah itu kemudian bisa

diatasi. Bapak Hendro selaku Wakil Ketua dari MWC NU Kecamatan

Mejobo juga menuturkan, “Langkah ekstra untuk mengakhiri masalah

tersebut kami (pihak SMK 3 Ma’arif Kudus) membuka konsentrasi

atau jurusan yang belum ada pada beberapa SMK lain di sekitar SMK

3 Ma’arif Kudus.” (Wawancara tanggal 10 April 2014)

G. Pembahasan
1. Peran Serta Masyarakat Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan

Program Wajib Belajar 12 Tahun


Masyarakat Kecamatan Mejobo melaksanakan berbagai peran serta

yang variatif untuk mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Hal itu

bisa dilihat dari heterogenitas anggota masyarakat dan keragaman bentuk

peran serta yang mereka lakukan. Meskipun demikian, peran serta tersebut

masih terbatas oleh mereka yang berada di tararan elite, sedangkan bagi

masyarakat di tingkat bawah cenderung apatis untuk ikut berperan serta.


93

Program wajib belajar 12 tahun sendiri bisa dikategorikan sebagai sebuah

kebijakan publik. Menurut pendapat Chandler dan Plano (dalam Pasolong,

2010: 38-39), kebijakan publik merupakan pemanfaatan strategis sumber-

sumber daya yang ada untuk mengatasi persoalan publik. Sebagaimana

penyelenggaraan program wajib belajar 12 tahun, yang telah diatur secara

strategis lewat Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010 dalam upaya

memecahkan permasalahan publik, yakni terkait pemerataan dan perluasan

pendidikan.
Tujuan program wajib belajar 12 tahun adalah untuk menuntaskan

masalah publik di bidang pendidikan. Hal itu juga sekaligus menegaskan

secara rinci program wajib belajar 12 tahun merupakan sebuah kebijakan

pendidikan. Keterlibatan masyarakat dengan berperan serta mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun tidak terlepas dari kedudukannya sebagai

policy stakeholders (pelaku kebijakan). Seperti halnya pandangan Thomas

R. Dye (dalam Dunn, 2000: 110) yang menyatakan bahwa ada tiga elemen

pada kebijakan, yaitu kebijakan publik, pelaku kebijakan, dan lingkungan

kebijakan. Dalam konteks ini, peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo

adalah konsekuensi dari transformasi paradigma pembangunan yang kini

memposisikan mereka sebagai subjek, bukan objek pembangunan (society

empowerment). Hal tersebut juga selaras dengan pemikiran dari Nugroho

(2008: 40) yang mengatakan, jika tugas pembangunan di masa kemitraan

pemerintah dengan masyarakat seperti saat ini merupakan tanggung jawab

kolektif.
94

Secara spesifik, peran serta masyarakat Kecamatan Mejobo dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun dilaksanakan oleh beberapa

anggota masyarakat, antara lain tokoh masyarakat, keluarga, pengusaha,

dan organisasi kemasyarakatan. Peran serta tersebut meliputi bentuk baik

yang bersifat materiil maupun non materiil (moril). Apabila mengacu UU

Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 54 ayat (1), memang telah dijelaskan

bahwa peran serta masyarakat dalam pendidikan mencakup peran serta

yang dikerjakan oleh perseorangan, keluarga, pengusaha, dan organisasi

kemasyarakatan. Untuk tokoh masyarakat, meskipun pada pasal tersebut

tidak disebutkan secara eksplisit, keberadaannya tetap terakomodasi sebab

merepresentasikan perseorangan. Tidak hanya diatur dalam UU Sisdiknas

No. 20 Tahun 2003, anggota masyarakat seperti dinyatakan sebelumnya

juga diwadahi oleh PP No. 17 Tahun 2010 mengenai Pengelolaan dan

Penyelenggaraan Pendidikan di pasal 188 ayat (1) serta Perda Kabupaten

Kudus No. 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun pada pasal 12

ayat (1).
Sementara itu, penjabaran dari bentuk peran serta masyarakat yang

bermacam-macam, baik sifatnya materiil maupun non materiil telah diatur

pada PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan

Pendidikan sebagai amanat dari UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 54

ayat (3).
a. Peran Serta Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat merupakan salah satu anggota masyarakat

yang ikut berperan serta dalam mewujudkan program wajib belajar 12

tahun di Kecamatan Mejobo. Peran yang mereka lakukan diwadahi


95

oleh kepengurusan komite sekolah. Seperti halnya tugas dari komite

sekolah, mereka menyalurkan berbagai aspirasi masyarakat termasuk

wali murid kepada satuan pendidikan. Selain itu, bentuk peran serta

lain yang juga mereka kerjakan yaitu terjun dalam proses pengambilan

keputusan maupun pengawasan terhadap pihak sekolah dengan cara

memberikan masukan-masukan dan pemikiran.


Berdasarkan PP No. 17 Tahun 2010, bentuk peran serta yang

tokoh masyarakat laksanakan di atas termaktub pada pasal 188 ayat (2)

huruf f, yang esensinya berhubungan dengan pemberian pertimbangan

untuk satuan pendidikan. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya,

tokoh masyarakat selaku komite sekolah memang menyumbang berbagai

masukan dan pemikiran terhadap satuan pendidikan dalam pengambilan

keputusan atau kebijaksanaan. Masukan serta pemikiran tersebut selain

sebagai hasil pandangan pribadi, juga merupakan infiltrasi dari aspirasi-

aspirasi masyarakat serta wali murid. Hal itu selaras dengan pasal 196

ayat (3) PP No. 17 Tahun 2010, yang menyatakan jika komite sekolah

memperhatikan dan juga menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, serta

aspirasi masyarakat terhadap satuan pendidikan


Sementara itu, merujuk dokumen Managing Basic Education

(2007: 39), peran yang dikerjakan oleh tokoh masyarakat Kecamatan

Mejobo termasuk ke dalam bentuk peran serta tingkat 7, yaitu terlibat

dalam proses pengambilan keputusan. Hal tersebut dikarenakan, tokoh

masyarakat sebagai pengurus komite sekolah ikut membahas masalah

pendidikan baik yang sifatnya akademis maupun non akademis dan


96

terjun langsung pada mekanisme pengambilan keputusan. Tujuannya

tidak lain adalah untuk mengembangkan serta meningkatkan kualitas

sekolah. Adapun sifat peran serta mereka, bisa dikategorikan sebagai

dukungan moril, sebab berwujud pemikiran dan masukan bagi satuan

pendidikan.
Langkah peran serta yang ditempuh tokoh masyarkat diawali

oleh rasa tanggung jawab sosial dan pengabdian kepada masyarakat,

sehingga mereka bersedia saat diminta untuk menjadi pengurus komite

sekolah. Selama berperan serta sebagai komite sekolah, respons yang

ditunjukkan oleh satuan pendidikan maupun pemerintah sangat positif.

Keduanya mengapresiasi dan sekaligus mendukung peran serta yang

mereka kerjakan dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.

Hal itu tidak mengherankan, karena sesuai dengan ketentuan dalam

pasal 6 Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun 2010, pemerintah serta

satuan pendidikan memang ikut bertanggungjawab atas pengelolaan

program wajib belajar 12 tahun. Selanjutnya masih dalam Perda yang

sama, pemerintah dan satuan pendidikan juga diwajibkan agar menjaga

keberlangsungan program tersebut.

b. Peran Serta Keluarga


Keluarga tergolong anggota masyarakat yang memegang peran

cukup penting dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun di

Kecamatan Mejobo. Sesuai hasil penelitian, kelurga yang mempunyai

anak di usia sekolah didorong rasa tanggung jawab tinggi berperan

serta dengan menyekolahkan anaknya. Kemudian sebagai orang tua,


97

mereka juga aktif mengikuti rapat-rapat yang diselenggarakan pihak

sekolah bersama wali murid untuk menyampaikan ide dan gagasannya.

Sesuai PP No. 17 Tahun 2010, peran serta keluarga tersebut termasuk

dalam pasal 188 ayat (2) huruf f, di mana mereka menyumbangkan

pemikiran dan pertimbangan untuk penentuan kebijaksanaan sekolah.

Kegiatan yang digunakan keluarga dalam memberikan pemikiran serta

pertimbangan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya adalah rapat

antara satuan pendidikan dengan wali murid.


Berikutnya, jika dianalisis menurut dokumen Managing Basic

Education (2007: 39), bentuk peran keluarga bisa dikategorikan pada

tingkat 1 dan 7. Dalam tingkat 1, masyarakat berperan menggunakan

jasa pendidikan yang tersedia. Seperti yang dilakukan oleh keluarga di

Kecamatan Mejobo, mereka memasukkan anaknya ke sekolah. Di sini,

keluarga memanfaatkan jasa dari sekolah untuk mendidik anak-anak

mereka. Sementara itu pada tingkat 7, masyarakat berperan serta dalam

pengambilan keputusan. Hal tersebut sesuai dengan yang dikerjakan

oleh keluarga karena mereka aktif berbagi ide dan gagasannya kepada

pihak sekolah saat musyawarah penentuan uang gedung maupun rapat

komite. Meskipun demikian, peran yang keluarga lakukan juga dapat

diklasifikasikan pada tingkat 3, seandainya dalam proses pengambilan

kebijaksanaan sekolah, mereka hanya menerima hasil (pasif).


Selain seperti yang telah dijelaskan di atas, keluarga juga aktif

berperan serta dengan menyempatkan waktu untuk mengkonsultasikan

permasalahan belajar anaknya terhadap guru. Bentuk peran serta itu


98

bisa dimasukkan pada tingkat 4, yakni peran lewat adanya konsultasi.

Dalam bentuk tersebut, mayarakat datang langsung ke sekolah guna

berkonsultasi tentang permasalahan belajar yang dialami anak. Melalui

peran serta tersebut, pembangunan pendidikan secara umum maupun

pelaksanaan dari program wajib belajar 12 secara khusus akan semakin

membaik, sebab kualitas pendidikan juga sangat tergantung dengan

kualitas peserta didik.


Namun, tidak semua keluarga di Kecamatan Mejobo memiliki

rasa kepedulian yang tinggi terhadap aspek pendidikan. Hal tersebut

setidaknya tergambar dalam data Disdikpora Kabupaten Kudus untuk

Kecamatan Mejobo pada tahun 2013/ 2014, yang menunjukkan bahwa

terdapat lima anak putus sekolah. Padahal, kuantitas satuan pendidikan

yang ada di Kecamatan Mejobo dari jenjang dasar hingga menengah

cukup representatif. Kemudian melalui Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010 pasal 8 ayat (3), pemerintah sebenarnya telah mewajibkan

penduduk Kabupaten Kudus yang putus sekolah dan/ atau tidak lulus

untuk menyelesaikan pendidikannya sampai lulus.

(3) Penduduk Kabupaten Kudus yang berusia 7 (tujuh) sampai


dengan 18 (delapan belas) tahun yang putus sekolah dan/
atau tidak lulus pendidikan dasar dan/ atau pendidikan
menengah wajib menyelesaikan pendidikannya sampai
lulus (Pasal 8 ayat 3 Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun
2010).

Sesuai dengan temuan penelitian, ada dua faktor yang memicu

anak-anak putus sekolah. Pertama, ketidaktahuan dari keluarga mereka

terhadap program wajib belajar 12 tahun. Seperti diketahui, meskipun


99

Camat Mejobo sebagai aparatur pemerintah terkait telah memberikan

intruksi segenap jajarannya untuk menginformasikan program tersebut,

ternyata belum semua masyarakat menerimanya. Hal itu memberikan

petunjuk, bahwa informasi mengenai program wajib belajar 12 tahun

belumlah efektif sampai ke lapisan “akar rumput” masyarakat. Kedua,

faktor yang menarik di sini adalah bahwa penyebab utama dari putus

sekolahnya anak-anak justru dikarenakan desakan mereka sendiri dan

persoalan keluarga, walaupun juga ada anak-anak putus sekolah yang

disebabkan keterbatasan ekonomi (faktor biaya).

Akan tetapi, yang patut disesalkan adalah tidak ada usaha dari

mereka untuk melanjutkan pendidikan, contohnya dengan menempuh

program paket (nonformal), padahal telah disediakan buku dan modul

gratis. Termasuk bagi yang putus sekolah karena faktor biaya, tampak

belum pro aktif mencari bantuan, misalnya dengan mendatangi pihak

Kecamatan Mejobo dan meminta rekomendasi kurang mampu ataupun

menuju sekolah guna meminta keringanan. Sementara itu, pemerintah

juga terkesan pasif, sebab hanya menunggu dan tidak turun langsung

ke bawah untuk memfasilitasi anak-anak putus sekolah─terutama yang

disebabkan keterbatasan ekonomi─agar bisa melanjutkan sekolahnya.

Program Wajib Belajar 12 Tahun yang dilegitimasi oleh Perda

Kabuapten Kudus No. 2 Tahun 2010 memang lebih cenderung sebagai

universal education, ketimbang compulsory education seperti makna

harfiahnya. Adapun universal education, menitikberatkan pada:


100

a) Pendekatan persuasif, b) tanggung jawab moral orang tua


dan peserta didik agar terpanggil untuk mengikuti pendidikan
karena berbagai kemudahan yang disediakan, c) pengaturan
tidak dengan Undang-Undang khusus, d) penggunaan ukuran
keberhasilan yang bersifat makro yaitu peningkatan angka
partisipasi pendidikan (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI,
2007: 121).

Mencermati itu, pemerintah Kabupaten Kudus dalam mengatasi anak-

anak putus sekolah hanya dapat mengoptimalkan pendekatan preventif

dan persuasif. Pendekatan preventif contohnya dengan menyediakan

berbagai macam beasiswa, sedangkan pendekatan persuasif misalnya

dengan cara mendorong tanggung jawab moral dari orang tua maupun

peserta didik lewat sosialisasi. Ketiadaan sanksi tidak bisa dipungkiri

menjadi tugas ekstra bagi pemerintah dalam menuntaskan persoalan

tersebut.

c. Peran Serta Pengusaha


Dalam pasal 188 ayat (2) PP No. 17 Tahun 2010, ada 7 bentuk

peran serta masyarakat untuk pembangunan pendidikan. Dari 7 bentuk

tersebut salah satunya berupa dukungan yang bersifat materiil, yakni

terdapat pada huruf g:

g. Pemberian bantuan atau fasilitas kepada satuan pendidikan


dan/ atau penyelenggara satuan pendidikan dalam
menjalankan fungsinya (Pasal 188 ayat 2 PP No. 17 Tahun
2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan).

Dalam konteks ini, pengusaha di Kecamatan Mejobo telah melakukan

peran serta pada pasal 188 ayat (2) huruf g tersebut guna mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun. Beberapa peran serta yang dilakukan

adalah memberikan bantuan material (bangunan) dalam pembangunan


101

SMK 3 Ma’arif Kudus. Selanjutnya bantuan yang juga disalurkan oleh

pengusaha, yaitu sumbangan atau iuran rutin terhadap SMK 3 Ma’arif

Kudus, meskipun terbatas pada masa awal pendirian sekolah. Bahkan

tidak hanya itu, salah seorang pengusaha juga bersedia meminjamkan

uangnya kepada SMK 3 Ma’arif sebagai syarat operasional. Mengingat

SMK yang terletak di Kecamatan Mejobo tersebut, merupakan sekolah

relatif baru sehingga membutuhkan banyak bantuan dari masyarakat.


Kemudian di sisi lain, peran serta yang juga dilaksanakan oleh

pengusaha adalah menyediakan kesempatan magang untuk siswa-siswi

SMK 3 Ma’arif Kudus. Hal itu ditempuh seorang pengusaha jenang di

Kecamatan Mejobo yang mengaku iba dan simpatik atas kerja keras

sekolah mencari lokasi magang. Merujuk isi pasal 188 ayat (2) PP No.

17 Tahun 2010, peran serta yang dilakukan pengusaha tersebut termasuk

pada huruf g, yakni memberikan fasilitas berupa tempat magang bagi

satuan pendidikan untuk menjalankan fungsinya.


Sementara itu, mengacu dokumen Managing Basic Education

(2007: 39), peran serta yang dilaksanakan oleh para pengusaha dapat

dikategorikan pada tingkat 2 dan 5. Dalam tingkat 2, sebab pengusaha

di Kecamatan Mejobo sebagai anggota masyarakat ikut memberikan

kontribusi dana, material, dan tenaga. Kontribusi tersebut diwujudkan

dengan bantuan terhadap pembangunan serta perawatan fisik sekolah

yaitu SMK 3 Ma’arif Kudus. Selanjutnya pada tingkat 5, dikarenakan

pengusaha juga turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Hal

itu diwujudkan dengan menyediakan lokasi magang bagi peserta didik


102

SMK 3 Ma’arif Kudus. Pengusaha di sini, sudah menjalin komunikasi

yang positif bersama sekolah.


Namun demikian, masih ada pengusaha yang ternyata belum

mengetahui program wajib belajar 12 tahun. Padahal, dari pemerintah

menginformasikan jika telah memberikan sosialisasi tentang peran dari

Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam mendukung program

tersebut. Kekontradiktifan itu dapat menjadi cerminan jika sosialisasi

yang diupayakan pemerintah belum sepenuhnya diterima oleh seluruh

pengusaha. Apabila sosialisasi pemerintah Kabupaten Kudus diberikan

secara komprehensif kepada segenap pengusaha, maka tentunya peran

serta mereka dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun juga

bisa semakin bertambah besar.

d. Peran Serta Organisasi Kemasyarakatan


Organisasi kemasyarakatan di Kecamatan Mejobo melakukan

peran serta guna mewujudkan program wajib belajar 12 tahun dengan

memberikan dukungan yang sifatnya materiil dan moril. Dalam pasal

188 ayat (2) PP No. 17 Tahun 2010 tepatnya di huruf a, b, dan f telah

disebutkan:

a. Penyediaan sumber daya pendidikan;


b. Penyelenggaraan satuan pendidikan;
f. Pemberian Pertimbangan dalam pengambilan keputusan
yang berdampak pada pemangku kepentingan pendidikan
pada umumnya (Pasal 188 ayat 2 PP No. 17 Tahun 2010
tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan).

MWC NU Kecamatan Mejobo sebagai salah satu dari organisasi

kemasyarakatan yang ada di Kecamatan Mejobo, melaksanakan peran

serta sesuai pasal 188 ayat (2) huruf b dan f PP No. 17 Tahun 2010.
103

MWC NU Kecamatan Mejobo berperan mendirikan SMK 3 Ma’arif

Kudus yang merupakan satuan pendidikan berbasis pesantren. SMK

tersebut dibangun sekitar tahun 2011 dan kini telah menampung 103

anak. Pembangunan SMK 3 Ma’arif Kudus yang dilakukan oleh MWC

NU Kecamatan Mejobo salah satunya bertujuan mengatasi persoalan

komparasi antara jumlah SMP dan MTs dengan SMA, MA, serta SMK

yang tidak berimbang di Kecamatan Mejobo. SMK 3 Ma’arif Kudus

termasuk pada jalur pendidikan formal (sekolah). Hal itu dikarenakan,

SMK 3 Ma’arif Kudus memenuhi ciri-ciri sebuah pendidikan formal,

yakni:

a) Memiliki jenjang pendidikan secara jelas, b) kurikulumnya


disusun secara sistematis untuk setiap jenjang dan jenisnya, c)
materi pembelajaran bersifat akademis, d) Ada ujian formal
yang disertai pemberian ijazah, e) penyelenggara pendidikan
adalah pemerintah atau swasta (Munib, 2009: 144-145).

Sementara itu, jenjang pendidikannya sendiri tergolong pada jenjang

pendidikan menengah. Hal tersebut sesuai dengan aturan dalam pasal

18 ayat (3) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yang mengkategorikan

SMK sebagai jenjang pendidikan menangah.

Selain perintisan SMK Ma’arif 3 Kudus, MWC NU Kecamatan

Mejobo juga membentuk badan pelaksana pendidikan SMK 3 Ma’arif

Kudus yang turut menjaga keberlangsungan SMK dengan memberikan

masukan-masukan terhadap pihak sekolah dalam penentuan kebijakan.

Sesuai isi pasal 188 ayat (2) PP No. 17 Tahun 2010, peran tersebut

termasuk dalam huruf f, sedangkan jika mengacu dokumen Managing


104

Basic Education (2007: 39) tergolong di tingkat 7. Hal itu disebabkan,

MWC NU Kecamatan Mejobo melalui badan pelaksana pendidikan

SMK 3 Ma’arif Kudus memberikan berbagai masukan kepada SMK 3

Ma’arif Kudus dalam pengambilan keputusan.

Berikutnya tidak jauh berbeda dengan peran serta yang dilakukan

MWC NU Kecamatan Mejobo, Yayasan Al-Kamal sebagai organisasi

kemasyarakatan lainnya di Kecamatan Mejobo juga melakukan peran

dengan menyediakan santunan bagi anak-anak yatim (tingkat SD dan

SMP). Santunan tersebut dapat dikategorikan pada pasal 188 ayat (2)

huruf a PP No. 17 Tahun 2010, yakni berkenaan dengan penyediaan

sumber daya pendidikan. Hal itu juga sekaligus menjadi jalan keluar

alternatif dari beberapa persoalan dalam pelaksanaan program wajib

belajar 12 tahun, yaitu anak putus sekolah yang dipicu oleh masalah

ekonomi dan keterbatasan kuota beasiswa sekolah. Terdapat berbagai

bantuan yang diberikan oleh Yayasan Al-Kamal, antara lain seragam

sekolah, uang komite, serta item biaya sekolah lain. Merujuk dokumen

Managing Basic Education (2007: 39), santunan Yayasan Al-Kamal

tersebut bisa digolongkan peran serta tingkat 2. Hal itu disebabkan,

Yayasan Al-Kamal sebagai salah satu bagian dari anggota masyarakat

memberikan kontribusi dana bagi anak-anak yatim.

Langeveld pada bukunya yang berjudul “Beknopte

Theoritische Paedagogiek” (dalam Munib, 2009: 49-50) menuliskan

salah satu dari tujuan pendidikan adalah tujuan sementara, yakni yang
105

menyangkut segi-segi tertentu seperti kemasyarakatan. Hal itulah yang

memotivasi MWC NU Kecamatan Mejobo mendirikan sebuah

sekolah, yaitu ingin mencetak generasi yang berguna bagi masyarakat.

Sementara itu masih dalam buku yang sama, pendidikan juga sangat

penting sebab memiliki tujuan umum untuk arah hidup manusia.

Tujuan tersebut yang lantas mendorong Yayasan Al-Kamal berperan

serta dengan cara menyantuni anak-anak yatim supaya tidak putus

sekolah, karena pendidikan urgen artinya bagi arah masa depan

kehidupan mereka.

2. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Peran Serta Masyarakat

Kecamatan Mejobo dalam Mewujudkan Program Wajib Belajar 12

Tahun

Dalam merealisasikan program wajib belajar 12 tahun, peran serta

masyarakat Kecamatan Mejobo menghadapi berbagai faktor pendukung

dan penghambat. Faktor-faktor pendukung serta penghambat tersebut bisa

dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, yang berasal dari internal

masyarakat. Maksud masyarakat di sini, antara lain adalah perseorangan,

keluarga, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan. Hal tersebut sesuai

dengan ketentuan dalam pasal 12 ayat (1) Perda Kabupaten Kudus No. 2

Tahun 2010 yang menyebutkan, bahwa peran serta masyarakat antara lain

mencakup peran serta perseorangan, keluarga, pengusaha, dan organisasi

kemasyarakatan. Kedua, berbagai faktor pendukung maupun penghambat


106

yang bersumber dari eksternal masyarakat. Artinya, faktor-faktor tersebut

berasal dari luar masyarakat, yaitu pemerintah dan satuan pendidikan. Hal

itu merupakan konsekuensi persinggungan di antara masyarakat dengan

pemerintah dan sekolah yang tidak bisa dihindari.

a. Faktor-faktor Pendukung Peran Serta Masyarakat

Tokoh masyarakat dalam berperan serta mewujudkan program

wajib belajar 12 tahun memperoleh berbagai dukungan baik itu dari

internal maupun ekstrernal masyarakat. Dukungan yang diberikan oleh

masyarakat kepada tokoh masyarakat selaku komite sekolah adalah

aspirasi-aspirasi untuk disalurkan kepada pihak satuan pendidikan, di

samping pula bantuan materiil, meskipun umumnya tidak besar. Hal

tersebut sesuai dengan bentuk peran serta masyarakat yang tertera pada

pasal 188 ayat (2) huruf f dan g PP No. 17 Tahun 2010:

f. Pemberian pertimbangan dalam pengambilan keputusan


yang berdampak pada pemangku kepentingan pendidikan
pada umumnya; dan/ atau
g. Pemberian bantuan atau fasilitas kepada satuan pendidikan
dan/ atau penyelenggara satuan pendidikan dalam
menjalankan fungsinya (Pasal 188 ayat 2 PP No. 17 Tahun
2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan).

Kemudian, dukungan yang berasal dari eksternal masyarakat,

yaitu pemerintah serta satuan pendidikan. Sebagai sumber refleksi dari

implementasi program wajib belajar 12 tahun, pemerintah Kabupaten

Kudus melaksanakan berbagai macam evaluasi program. Salah satunya

adalah terkait dengan penyelenggaraan program wajib belajar 12 tahun

di semua tingkat pendidikan. Hal itu dilakukan pemerintah Kabupaten


107

Kudus melalui Disdikpora dengan ikut aktif menghadiri rapat pleno

sekolah-sekolah di Kecamatan Mejobo. Dalam rapat tersebut, pejabat

Disdikpora juga memberikan pengarahan serta masukan bagi komite

sekolah. Hal tersebut menjadi dukungan besar pemerintah untuk peran

serta tokoh masyarakat sebagai komite sekolah, sedangkan dari satuan

pendidikan dukungan yang diberikan berupa jalinan komunikasi positif

kepada komite sekolah.

Dalam berperan serta mewujudkan program wajib belajar 12

tahun, keluarga juga mendapatkan dukungan yang berasal baik dari

internal maupun eksternal masyarakat. Seperti contohnya dari internal

masyarakat, keluarga sangat didukung supaya menyekolahkan anaknya

setinggi mungkin. Secara tidak langsung, tindakan tersebut membawa

iklim kondusif dan menjadi stimulan esktra bagi peran serta keluarga

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Meskipun begitu,

memang harus diakui bahwa dari orang tua sendiri juga telah ada niat

untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Sesuai pasal 8 ayat (6) Perda Kabupaten Kudus No. 2 Tahun

2010, pemerintah Kabupaten Kudus menyediakan beasiswa terhadap

peserta didik yang memenuhi syarat, mulai dari jenjang pendidikan

dasar hingga pendidikan menengah. Adapun sumber biaya beasiswa,

diambilkan dari APBD Kabupaten. Ketentuan tersebut adalah wujud

dukungan pemerintah Kabupaten Kudus untuk seluruh penduduknya

supaya tuntas wajib belajar 12 tahun. Hal itu yang membantu keluarga
108

di Kecamatan Mejobo dalam berperan serta dengan menyekolahkan

anak-anak mereka hingga tingkat menengah, sekaligus menjadi faktor

pendukung yang bersumber dari pihak pemerintah. Bahkan tidak

hanya itu, pemerintah pusat juga memberikan berbagai bantuan, yaitu

BOS dan BSM untuk meringankan beban ekonomi keluarga yang

kurang mampu.

Kemudian tidak ketinggalan, satuan pendidikan memberikan

keringanan-keringanan biaya bagi anak-anak berprestasi maupun yang

berasal dari keluarga dengan ekonomi rendah. Hal tersebut merupakan

implementasi pasal 6 ayat (2) dan ayat (3) Perda Kabupaten Kudus No.

2 Tahun 2010, yang menjadikan pimpinan satuan pendidikan (kepala

sekolah) sebagai penanggungjawab dalam pengelolaan program wajib

belajar 12 tahun pada satuan pendidikan masing-masing. Oleh sebab

itu, satuan pendidikan memiliki berbagai kebijakan untuk memberikan

keringanan biaya terhadap anak-anak yang kurang mampu. Termasuk

pula, melayani pembuatan surat rekomendasi bagi para peserta didik

yang memerlukannya sebagai prasyarat guna mendapatkan beasiswa

dari instansi lain.

Masyarakat turut aktif mendukung pengusaha di Kecamatan

Mejobo dalam berperan serta mewujudkan program wajib belajar 12

tahun. Pertama, dukungan yang diberikan organisasi kemasyarakatan

(MWC NU Kecamatan Mejobo) sebagai anggota masyarakat dengan

mendorong pengusaha agar bisa semakin aktif berperan serta. Kedua,


109

masyarakat juga membantu pengusaha yang sedang menerima siswa-

siswi magang dengan menyambut baik dan membantu mengarahkan

mereka (para siswa tersebut) supaya mampu beradaptasi. Namun perlu

ditekankan kembali, untuk konteks tersebut masyarakat hanya terbatas

pada mereka yang bekerja di tempat magang.

Berikutnya, berbagai macam faktor pendukung terhadap peran

pengusaha yang bersumber dari eksternal masyarakat, masing-masing

adalah pemerintah serta satuan pendidikan. Pertama, untuk dukungan

pemerintah justru belum terlihat, sebab komunikasi antara pemerintah

dengan para pengusaha juga tidak terbangun pada konteks peran serta

pengusaha. Pemerintah melalui Disdikpora sebenarnya mengaku telah

memberikan sosialisasi tentang peran Dunia Usaha dan Dunia Industri

(DUDI) guna mendukung program wajib belajar 12. Meskipun begitu

kenyataannya, sosialisasi tersebut tampak belum optimal menjangkau

seluruh pengusaha, sehingga pemerintah masih terkesan pasif menjalin

sinergi dengan masyarakat.


Sementara itu, untuk dukungan dari satuan pendidikan (SMK 3

Ma’arif Kudus) dinilai sangat bermanfaat terhadap pengusaha, karena

mereka bersedia terjun langsung secara “door to door” saat meminta

bantuan seperti iuran rutin ataupun tempat untuk keperluan magang.

Dengan begitu, pengusaha tidak perlu repot datang ke sekolah ketika

hendak menyalurkan bantuannya sebagai bentuk peran serta mereka

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun.


110

Peran serta yang dilakukan oleh organisasi masyarakat dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun di Kecamatan Mejobo

juga menemukan berbagai macam dukungan baik itu yang datang dari

internal maupun eksternal masyarakat. Dukungan yang bersumber dari

internal masyarakat contohnya, yaitu berupa tanda tangan rekomendasi

persetujuan 150 warga masyarakat sekitar untuk pembangunan SMK 3

Ma’arif Kudus. Hal tersebut merupakan salah satu syarat operasional

yang wajib dipenuhi MWC NU Kecamatan Mejobo selaku perintis

SMK 3 Ma’arif Kudus. Rekomendasi itu muncul sebagai wujud rasa

kepedulian masyarakat yang begitu besar terhadap bidang pendidikan.

Kemudian dukungan yang juga tidak kalah vital, yaitu pinjaman uang

dari salah seorang pengusaha untuk pemenuhan ketentuan aset awal

minimal SMK 3 Ma’arif di bank. Jika dikaji menurut pasal 188 ayat

(2) PP No. 17 Tahun 2010, dukungan yang diberikan pengusaha di atas

termasuk pada huruf g, yakni pemberian fasilitas berupa pinjaman bagi

satuan pendidikan.

Dukungan yang tidak jauh berbeda juga diterima oleh Yayasan

Al-Kamal dari dalam masyarakat. Seperti misalnya, masyarakat aktif

menjadi sukarelawan pada setiap wilayah yang terakomodasi yayasan

untuk melaporkan perkembangan terkini tentang penambahan jumlah

anak-anak yatim. Tidak hanya itu, masyarakat banyak pula yang ikut

mendukung dengan menjadi donatur insidental, meskipun jika dilihat

dari aspek struktural mereka tidak masuk dalam kepengurusan.


111

Apabila dianalisis, berbagai dukungan dari masyarakat di atas

kepada organisasi kemasyarakatan dalam peran sertanya timbul karena

dua hal. Pertama, berawal dari inisiatif maupun kesukarelaan pribadi

mereka. Dengan kata lain, dukungan tersebut sifatnya alamiah sebagai

perwujudan tanggung jawab sosial masyarakat. Kedua, muncul sebab

tidak terlepas dari usaha organisasi kemasyarakatan mendorong serta

menggali potensi-potensi yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, bisa

dikatakan dukungan tersebut adalah “output” yang sengaja diciptakan

sebab lahir berkat adanya dorongan dari eksternal masyarakat, yakni

organisasi kemasyarakatan.
Berikutnya, berbagai dukungan dari luar masyarakat. Pertama,

dukungan-dukungan yang diberikan oleh pemerintah. Untuk Yayasan

Al-Kamal, pemerintah desa menyediakan data-data ter-update seputar

anak yatim. Sementara itu, terhadap MWC NU Kecamatan Mejobo,

pemerintah Kabupaten Kudus lewat Disdikpora pro aktif mendukung

perintisan SMK 3 Ma’arif. Hal tersebut dibuktikan secara langsung

maupun tidak langsung. Secara langsung, pemerintah membentuk tim

khusus guna melakukan kajian-kajian mengenai pembangunan SMK,

termasuk juga ikut serta mengarahkan MWC NU Kecamatan Mejobo

(badan pelaksana SMK 3 Ma’arif Kudus) ketika menghadapi masalah

ataupun untuk perbaikan. Kemudian secara tidak langsung, pemerintah

memberikan informasi dan sosialisasi tentang program wajib belajar

12 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat


112

menuju jenjang pendidikan menengah, termasuk ke SMK 3 Ma’arif

Kudus sendiri.
Kedua, dukungan-dukungan dari satuan pendidikan. Yayasan

Al-Kamal menerima dukungan sekolah dengan pemberian data valid

mengenai besaran komponen pembiayaan pendidikan dari anak-anak

yatim calon penerima santunan. Sementara itu, MWC NU Kecamatan

Mejobo mendapatkan rekomendasi persetujuan pembangunan SMK 3

Ma’arif Kudus yang berasal dari berbagai SMP/ MTs di Kecamatan

Mejobo. Sebagai prasyarat wajib pembangunan, rekomendasi tersebut

mutlak diperlukan untuk pendirian SMK 3 Ma’arif Kudus, sehingga

dukungan sekolah-sekolah dengan pemberian rekomendasi persetujuan

memiliki makna besar bagi MWC NU Kecamatan Mejobo.

b. Faktor-faktor Penghambat Peran Serta Masyarakat

Hampir tak ada kendala yang dihadapi oleh tokoh masyarakat

sebagai komite sekolah dari dalam masyarakat, kecuali hanya masalah

kesalahpahaman. Dengan komunikasi serta transparansi, persoalan itu

dapat cepat teratasi sehingga tidak pernah menimbulkan dampak yang

signifikan. Berikutnya, untuk hambatan yang bersumber dari eksternal

masyarakat, pemerintah sebenarnya harus mengekstensifkan informasi

berkenaan dengan kesempatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat agar

dapat ikut berperan serta dalam penyelenggaraan dan pengembangan

pendidikan. Namun, informasi yang diberikan pemerintah Kabupaten

Kudus sampai saat ini masih belum banyak menyinggung peran serta

yang dapat dilakukan masyarakat. Sosialisasi mengenai program wajib


113

belajar 12 tahun lebih berpreferensi pada gambaran umum program. Hal

itu tampak menjadi kendala untuk peran serta tokoh masyarakat dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun, meskipun selain itu tidak

ada kendala lainnya yang berasal dari eksternal masyarakat.

Kemudian terhadap peran serta keluarga, untuk hambatan dari

internal masyarakat sejauh ini keluarga tidak menemukan. Masyarakat

mempunyai penilaian yang arif mengenai peran serta keluarga dengan

menyekolahkan anaknya. Mereka percaya ketika warganya bersekolah

sampai jenjang yang tinggi, pada hakikatnya juga merupakan investasi

milik masyarakat sendiri. Hal itu yang membuat tidak ada kendala bagi

peran serta keluarga dari internal masyarakat.

Serupa seperti halnya dari internal masyarakat, keluarga juga

tidak menemukan hambatan-hambatan yang bersumber dari eksternal

masyarakat (pemerintah dan satuan pendidikan) dalam menjalankan

peran sertanya. Mereka hanya berharap, adanya jaminan pemerintah

Kabupaten Kudus jika sewaktu-waktu mereka menghadapi persoalan

ekonomi (contohnya saat di-PHK atau sedang terlilit hutang) agar tetap

bisa membiayai sekolah anaknya. Dalam Perda Kabupaten Kudus No.

2 Tahun 2010, hal tersebut sebenarnya telah terakomodasi di BAB VI

pasal 8 yang mengatur mengenai penjaminan wajib belajar 12 tahun.

Jadi, setiap penduduk Kabupaten Kudus yang mendadak mengalami

permasalahan ekonomi masih dapat menyekolahkan anaknya hingga

tingkat sekolah menengah. Dengan catatan, tidak pasif untuk mencari


114

bantuan atau keringanan biaya, baik itu kepada pemerintah maupun

satuan pendidikan.

Berikutnya, untuk kendala-kendala bagi peran serta pengusaha

dari dalam masyarakat, pengusaha tidak menghadapi itu. Secara logis

memang hampir tidak mungkin, karena peran yang mereka kerjakan

dengan memberikan kontribusi terhadap sekolah nantinya juga akan

dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal itu mengingat kedudukan sekolah

yang strategis di tengah-tengah masyarakat sebagai lembaga edukasi

bagi warga masyarakat sendiri.

Sementara itu, untuk kendala-kendala dari eksternal

masyarakat cukup bervariasi, tetapi tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap peran serta yang pengusaha laksanakan. Seperti

contohnya terkadang sewaktu membutuhkan bantuan, sekolah justru

tidak berinisiatif untuk datang langsung menemui masyarakat,

termasuk juga pengusaha. Hal tersebut membuat pengusaha sedikit

sukar untuk berperan serta, sebab harus repot untuk datang langsung

ke sekolah-sekolah ketika hendak menyalurkan bantuan. Di samping

itu, waktu yang mereka miliki juga terbatas dan informasi tentang

peluang peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan masih

minim mereka terima.

Selanjutnya, hambatan lain yang berasal dari pemerintah, yakni

mengenai belum terealisasinya bantuan atau modal untuk usaha kecil

(UMKM) secara ekstensif. Semestinya, jika pemerintah memberikan


115

suntikan modal untuk para pengusaha kecil tersebut, efeknya juga akan

positif terhadap dunia pendidikan, terutama SMK. Selain ketersediaan

tempat magang semakin bertambah besar, lapangan pekerjaan untuk

mereka juga akan lebih banyak.

Kemudian, untuk peran serta organisasi kemasyarakatan, tidak

ditemukan hambatan-hambatan yang berarti dari internal masyarakat.

Komunikasi yang berjalan lancar di antara organisasi kemasyarakatan

dengan masyarakat, membuat potensi-potensi kendala terlebih dahulu

mampu diantisipasi. Termasuk, berbagai potensi dukungan dari dalam

masyarakat yang juga dapat semakin optimal diterima. Namun patut

disesalkan, hingga kini belum ada wadah komunikasi dan koordinasi

formal antara organisasi kemasyarakatan dengan anggota masyarakat

lain tentang wajib belajar 12 tahun.

Sementara itu, berbagai hambatan yang bersumber dari ekternal

masyarakat hanya dihadapi oleh MWC NU Kecamatan Mejobo. Hal

tersebut terjadi saat proses perintisan SMK 3 Ma’arif, yakni sempat

ada keberatan dari beberapa sekolah menengah lain─terutama SMK─

di Kecamatan Mejobo karena khawatir akan tersaingi dengan pendirian

sekolah baru. Konkurensi antar sekolah memang sudah dimulai sejak

penerimaan peserta didik baru, maka tidak mengherankan jika timbul

rasa kekhawatiran dari sekolah lain di sekitar SMK 3 Ma’arif Kudus.

Namun, pada akhirnya kendala itu mampu diselesaikan, kembali lagi

berkat komunikasi. Dengan kunjungan sekaligus komunikasi pengurus


116

MWC NU Kecamatan Mejobo kepada sekolah-sekolah bersangkutan,

masalah tersebut kemudian bisa teratasi. Langkah tambahan yang juga

berperan penting adalah dengan membuka konsentrasi (jurusan) yang

belum ada pada SMK lain di sekitar SMK 3 Ma’arif Kudus. Keputusan

yang sesungguhnya penuh resiko, meskipun kenyatannya solutif.


BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan

pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:

1. Masyarakat Kecamatan Mejobo melakukan berbagai macam peran serta

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Akan tetapi, untuk

pelaku peran serta masih terbatas hanya pada lapisan elite masyarakat,

yakni tokoh masyarakat, keluarga (mampu dan peduli), pengusaha, serta

organisasi kemasyarakatan. Sementara itu, masyarakat di tingkat bawah

seperti keluarga dengan kepedulian rendah atau berkemampuan ekonomi

kurang, cenderung apatis untuk ikut berperan serta. Adapun peran serta

masyarakat di lapisan elite meliputi dukungan yang bersifat materiil dan

non materiil. Untuk peran serta yang sifatnya materiil, antara lain seperti

memberikan sumbangan material bangunan dalam perintisan sekolah baru,

menyediakan tempat magang, menyantuni anak-anak yatim, dan merintis

pembangunan sekolah. Sementara itu, untuk peran serta masyarakat yang

bersifat non materiil, di antaranya seperti ikut dalam proses pengambilan

keputusan sekolah, menyuarakan aspirasi dari masyarakat kepada satuan

pendidikan, aktif mencurahkan pemikiran sewaktu mengikuti rapat-rapat

yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan, serta melakukan konsultasi

dengan guru terkait persoalan belajar anak. Meskipun demikian, masih ada

sejumlah masyarakat pada tingkat bawah yang apatis untuk ikut berperan

122
123

serta. Hal tersebut, tampak dari sikap permisif mereka yang membiarkan

anak-anaknya putus sekolah.

2. Dalam merealisasikan program wajib belajar 12 tahun, terdapat berbagai

faktor pendukung dan penghambat peran serta masyarakat. Pertama

faktor- faktor pendukung, dari internal masyarakat di antaranya yakni

pinjaman atau talangan kepada komite sekolah, dorongan anggota

masyarakat lain agar dapat semakin aktif berperan serta, kesediaan

sebagian masyarakat untuk menjadi donatur anak-anak yatim, dan

rekomendasi persetujuan bagi pendirian sekolah. Sementara itu, yang

berasal dari eksternal masyarakat antara lain mencakup pengarahan

terhadap komite sekolah, tersedianya berbagai jenis beasiswa, dibentuknya

tim kajian untuk pendirian sekolah, dan pemberian rekomendasi bagi

anak-anak yang layak berupa beasiswa maupun keringanan biaya. Kedua

faktor-faktor penghambat, dari internal masyarakat secara umum tidak

ditemukan, kecuali belum adanya wadah komunikasi dan koordinasi

formal wajib belajar 12 tahun. Sementara itu, dari eksternal masyarakat di

antaranya adalah sosialisasi mengenai peran serta masyarakat yang masih

belum optimal, ketiadaan tindakan kuratif terhadap anak-anak putus

sekolah, dan sikap keberatan beberapa satuan pendidikan atas

pembangunan sekolah baru.

B. Saran
124

Beberapa hal yang sepatutnya diperhatikan berkenenan dengan peran

serta masyarakat dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun adalah

sebagai berikut:

1. Hendaknya para anggota masyarakat di Kecamatan Mejobo, yaitu tokoh

masyarakat, keluarga, pengusaha, maupun organisasi kemasyarakatan bisa

membentuk forum komunikasi dan koordinasi formal tentang wajib belajar

12 tahun sebagai wadah curah gagasan serta pembahasan atas persoalan-

persoalan terkait penyelenggaraan program wajib belajar 12 tahun dengan

difasilitasi oleh pemerintah.

2. Hendaknya pemerintah Kabupaten Kudus dan Kecamatan Mejobo, serta

segenap satuan pendidikan yang berada di Kecamatan Mejobo dapat lebih

intensif dan juga komprehensif memberikan sosialisasi berkenaan dengan

berbagai macam bentuk peran serta yang bisa dikerjakan oleh masyarakat

Kecamatan Mejobo sebagai pelaku kebijakan dalam rangka mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun.

3. Hendaknya pemerintah Kabupaten Kudus dan Kecamatan Mejobo, serta

seluruh satuan pendidikan yang berada di Kecamatan Mejobo tidak hanya

mengupayakan tindakan preventif dan persuasif terhadap anak-anak putus

sekolah, tetapi juga dapat mengusahakan tindakan kuratif dengan datang

secara langsung ke masyarakat untuk membimbing dan memfasilitasi agar

bersedia sekolah kembali.


DAFTAR PUSTAKA

Buku
Abidin, Said Zainal. 2002. Kebijakan Publik Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Pancur
Siwah.

Agustino, Leo. 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

Ali, Mohammad. 2009. Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional (Menuju


Bangsa Indonesia yang Mandiri dan Berdaya Saing Tinggi). Bandung:
Imperial Bhakti Utama.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Dunn, William N. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (Edisi Kedua).


Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Howlett, Michael, dan M. Ramesh. 1995. Studying Public Policy: Policy Cycles
and Policy Subsystem. Oxford: Oxford University Press.

Ihsan, Fuad. 2003. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Isjoni. 2006. Membangun Visi Bersama (Aspek-aspek Penting dalam Reformasi


Pendidikan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Islamy, M., Irfan. 2009. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta:


Bumi Aksara.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Mahfud M.D., Moh., dkk. 2012. Prosiding Kongres Pancasila IV: Strategi
Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas
Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Pancasila UGM.

Miles, Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Buku
Sumber tentang Metode-metode Baru). Jakarta: Universitas Indonesia
Press.

Munib, Achmad, dkk. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK
Unnes.

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:


Rosdakarya.

125
126

Nugroho, Riant. 2008. Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi, dan Strategi.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pasolong, Harbani. 2010. Teori Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta.

Prastowo, Andi. 2010. Menguasai Teknik-Teknik Koleksi Data Penelitian


Kualitatif. Yogyakarta: Diva Press.

_______. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 1: Ilmu Pendidikan


Teoritis). Bandung: Imperial Bhakti Utama dan Pengembang Ilmu
Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

_______. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 4: Pendidikan Lintas


Bidang). Bandung: Imperial Bhakti Utama dan Pengembang Ilmu
Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Sekaran, Uma. 1992. Research Methods for Business A. Skill Building Approach.
New York: John Wiley & Son. Inc.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo


Persada.

Sumodiningrat, Gunawan, dkk. 2005. Membangun Indonesia Emas: Model


Pembangunan Indonesia Baru Menuju Negara-Bangsa yang Unggul
dalam Persaingan Global. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Surya, Mohamad. 2004. Bunga Rampai Guru dan Pendidikan. Jakarta: Balai
Pustaka.

Suyitno, Y. 2009. Tokoh-tokoh Pendidikan (dari Dunia Timur, Timur Tengah, dan
Barat). Bandung: Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan
Indonesia.

Tilaar, H.A.R. dan Riant Nugroho. 2008. Kebijakan Pendidikan (Pengantar


Untuk Memahami Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta:


Rineka Cipta.

Widodo, Joko. 2001. Good Governance Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan
Kontrol Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah.
Surabaya: Insan Cendekia.

Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
127

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Wajib


Belajar.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 tentang


Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar
12 Tahun.

Peraturan Bupati Kabupaten Kudus Nomor 10 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja
Pemerintah Kabupaten Kudus Tahun 2013.

Dokumen
_______. 2008. Menuju ASEAN Economic Community. Jakarta: Direktur Jenderal
Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan.

_______. 2007. Kerangka Visi Indonesia 2030. Jakarta: Yayasan Indonesia Forum.

_______. 2011. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi


Indonesia Tahun 2011-2025. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian.

_______. 2012. Kecamatan Jekulo dalam Angka 2012. Kudus: Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kudus.

_______. 2012. Kecamatan Mejobo dalam Angka 2012. Kudus: Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kudus.

_______. 2007. Unit 2: Peran Serta Masyarakat. Jakarta: Managing Basic


Education (Indonesia) Bekerjasama dengan USAID.

_______. 2013. Profil Pendidikan Kabupaten Kudus Tahun 2013. Kudus: Dinas
Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga.

_______. 2012. Kebijakan Umum APBD (KUA) Kabupaten Kudus Tahun 2013.
Kudus: Pemerintah Kabupaten Kudus.

Skripsi dan Artikel Ilmiah


Bergstrom, Ylva. 2009. The Universal Right to Education: Freedom, Equality,
and Fraternity. Springer Scientific Article. School of Humanities,
Education, and Social Sciences, Orebro University.
128

Latif, Abdul. 2012. Tingkat Partisipasi dari Masyarakat dalam Program Wajib
Belajar Sembilan Tahun di Kecamatan Baros Kabupaten Serang. Skripsi.
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Ngayudi, Husni. 2008. Partisipasi Masyarakat terhadap Program Wajib Belajar


9 Tahun di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Skripsi. Universitas
Negeri Malang.

Nurdin, Thamrin. 2000. Pelaksanaan dan Persepsi Masyarakat Kepada Program


Wajib Belajar Sembilan Tahun di Desa Tertinggal (Sumatera Barat).
Artikel Ilmiah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat 1
Sumatera Barat.

Ou, Dongshu. 2013. Education for All: Quasi-Experimental Estimes of The


Impact of Compulsory Primary Education in Hong Kong. Springer
Scientific Article. Education Research Institute, Seoul National University.

Prayitno, Didi, dkk. 2009. Analisis Rendahnya Partisipasi Masyarakat pada


Implementasi Program Wajib Belajar Sembilan Tahun (Studi Kasus di
Distrik Semangga Kabupaten Merauke). Artikel Ilmiah “DIALOGUE”
Jurnal Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik. Universitas Diponegoro.

Ratnawati, Dewi, dkk. 2012. Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Kudus


Nomor 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten
Kudus. Artikel Ilmiah. Universitas Diponegoro.

Setiabudi, Dwi. 2012. Partisipasi Masyarakat dalam Program Wajib Belajar 12


Tahun di Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Skripsi. Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Koran dan Internet


Arifin, Zaenal. 2013. 5.580 Siswa Tidak Mampu di Kudus Dapat Beasiswa.
http://www.tribunnews.com. Diunduh tanggal 23 Mei 2014.

Hendrawan, Arie. 2014. Mendudukung Wajib Belajar 12 Tahun. Koran Muria


Edisi 28 April 2014, hlm. 23.

W.H., Anton. 2010. Rp 4 M, Alokasi Untuk Wajib Belajar 12 Tahun di Kudus.


http://www.suaramerdeka.com. Diunduh tanggal 5 Januari 2014.

_______. 2013. Profil Pemerintahan. http://www.mejobo.kuduskab.go.id. Diunduh


tanggal 21 Juni 2014.

_______. 2011. Penduduk Kecamatan Mejobo Berumur 5 Tahun Keatas Menurut


Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan. http://www.sp2010.bps.go.id.
Diunduh tanggal 21 Juni 2014.
129

LAMPIRAN
130

Lampiran 1
131

Lampiran 2
132

Lampiran 3
133

Lampiran 4
134

Lampiran 5

DAFTAR RESPONDEN

No. Nama Usia Alamat Pekerjaan

1. Indarto, S.T. 41 th Desa Jepang Kepala desa


2. Abdul Kadir, S.Pd. 52 th Desa Golantepus PNS
3. Sanusi 43 th Desa Mejobo Buruh industri
4. Sulastri 50 th Desa Payaman Ibu rumah tangga
5. Raminah 40 th Desa Jepang Buruh industri
6. Samini 38 th Desa Payaman Pedagang warung
7. Guminik 51 th Desa Gulang PKL
8. Sugiarti 48 th Desa Jepang Buruh cuci
9. Hendro Satrimo 50 th Desa Jepang Buruh industri
10. Sunarto, S.Pdi. 50 th Desa Jepang PNS
11. Sarpinh 55 th Desa Temulus Pengusaha
12. Soeparno 60 th Desa Kesambi Pengusaha
13. Drs. Joko Susilo 54 th Desa Bae PNS
14. Dra. Sriatie, M.M. 53 th Desa Ploso PNS
15. S. Hendro, S.Pd. 54 th Desa Jepang PNS
16. Sumarlan, S.Pd. 51 th Desa Getas PNS
17. M. Noor Afif, S.Pd. 33 th Desa Golantepus Guru Honorer
135

Lampiran 6

RANCANGAN INSTRUMEN PENELITIAN

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKANPROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

No. Fokus Tujuan Penelitian Indikator Pedoman Wawancara Sumber Data

1. Peran serta Untuk a. Bentuk peran serta 1). Apakah anda sudah mengetahui program a. Tokoh

masyarakat mendeskripsikan masyarakat wajib belajar 12 tahun yang berasal dari masyarakat

Kecamatan peran serta Kecamatan Mejobo pemerintah Kabupaten Kudus?


b. Keluarga
Mejobo dalam masyarakat dalam mewujudkan
2). Sebagai personel masyarakat, apa bentuk
c. Pengusaha
mewujudkan Kecamatan program wajib belajar
peran serta yang anda lakukan dalam
program wajib Mejobo dalam 12 tahun. d. Pengurus
mewujudkan program tersebut?
belajar 12 mewujudkan organisasi
3). Mengapa anda memilih untuk melakukan
tahun. program wajib kemasyarakatan
136

belajar 12 tahun. peran serta dengan bentuk demikian?

4). Apa manfaat yang anda dapatkan dari

bentuk peran serta seperti itu?

5). Bagaimana tanggapan pemerintah

Kabupaten Kudus atas bentuk peran serta yang

anda lakukan?

6). Bagaimana pula respon satuan pendidikan

terhadap bentuk peran serta yang anda

kerjakan?
b. Langkah peran
7). Menurut anda, seberapa efektifkah bentuk
serta masyarakat
peran serta yang anda lakukan?
Kecamatan Mejobo

dalam mewujudkan 1). Apa sajakah langkah yang anda tempuh


program wajib belajar untuk melakukan peran serta dalam
137

12 tahun. mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

2). Mengapa anda memutuskan untuk

menggunakan langkah tersebut?

3). Dalam langkah peran serta yang anda

kerjakan, apakah anda melibatkan pihak lain

untuk berkomunikasi atau berkerjasama?

4). Bagaimana wujud komunikasi atau

kerjasama yang anda jalin dengan pihak luar?

5). Apakah satuan pendidikan ikut terjun pada

langkah peran serta yang anda lakukan?

6). Apakah pemerintah Kabupaten Kudus juga

turut aktif dalam langkah peran serta yang anda


138

kerjakan?

7). Menurut anda, apakah langkah tersebut

sudah berjalan sesuai dengan harapan?

2. Faktor-faktor Untuk a. Faktor-faktor 1). Bagaimana dukungan dari masyarakat a. Tokoh

pendukung dan menganalisis internal pendukung terhadap peran serta yang anda lakukan dalam masyarakat

penghambat faktor-faktor yang dan penghambat mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?
b. Keluarga
peran serta mendukung dan peran serta
2). Menurut anda, mengapa dukungan-
c. Pengusaha
masyarakat menghambat peran masyarakat
dukungan itu bisa muncul?
Kecamatan serta masyarakat Kecamatan Mejobo d. Pengurus
3). Apakah anda mempunyai cara khusus untuk
Mejobo dalam Kecamatan dalam mewujudkan organisasi
mengoptimalkan dukungan dari masyarakat
mewujudkan Mejobo dalam program wajib belajar kemasyarakatan
tersebut?
program wajib mewujudkan 12 tahun.

belajar 12 program wajib 4). Seberapa besar sumbangsih dukungan

tahun. belajar 12 tahun. masyarakat terhadap peran serta yang anda


139

lakukan?

5). Kendala-kendala apa sajakah yang anda

peroleh dari masyarakat untuk dapat berperan

serta mewujudkan program wajib belajar 12

tahun?

6). Menurut anda, mengapa kendala-kendala

tersebut timbul?

7). Apakah kendala-kendala dari masyarakat

sangat berpengaruh terhadap peran serta anda

dalam mewujudkan program wajib belajar 12

tahun?

8). Upaya apa yang anda tempuh untuk

mengatasi kendala-kendala tersebut?


140

1). Apakah pemerintah Kabupaten Kudus sudah

memberikan sosialisasi maupun informasi yang

cukup mengenai peran serta masyarakat dalam

program wajib belajar 12 tahun?

b. Faktor-faktor
2). Bagaimana fasilitas dari pemerintah
eksternal pendukung
Kabupaten Kudus guna mendorong peran serta
dan penghambat
anda dalam mewujudkan program tersebut?
peran serta
3). Apakah dukungan-dukungan tersebut sangat
masyarakat
membantu anda dalam berperan serta
Kecamatan Mejobo
mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?
dalam mewujudkan

program wajib belajar 4). Bagaimana juga peluang yang ditawarkan

12 tahun. oleh sekolah (satuan pendidikan) untuk

mendukung peran serta anda?


141

5). Apakah dukungan tersebut sangat membantu

anda dalam upaya berperan serta mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun?

6). Apa sajakah kendala-kendala yang anda

dapatkan dari pemerintah Kabupaten Kudus

untuk berperan serta mewujudkan program

wajib belajar 12 tahun?

7). Seberapa besar pengaruh kendala-kendala

tersebut terhadap peran serta anda dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

8). Bagaimana cara yang anda lakukan untuk

mengatasi kendala-kendala itu?

9). Kendala-kendala apa sajakah yang anda


142

hadapi dari satuan pendidikan dalam berperan

serta mewujudkan program wajib belajar 12

tahun?

10). Apakah kendala-kendala tersebut

berpengaruh besar terhadap peran serta anda

dalam mewujudkan program wajib belajar 12

tahun?

11). Bagaimana upaya-upaya yang anda tempuh

untuk mengatasi berbagai kendala tersebut?


143

Lampiran 7

PEDOMAN WAWANCARA

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Informan : Anggota Masyarakat di Kecamatan Mejobo

(tokoh masyarakat, keluarga, pengusaha, dan

pengurus organisasi kemasyarakatan)

Nama :

Alamat/ Usia :

Jenis Kelamin :

1. Apakah anda sudah mengetahui program wajib belajar 12 tahun yang berasal

dari pemerintah Kabupaten Kudus?

2. Sebagai personel masyarakat, apa bentuk peran serta yang anda lakukan dalam

mewujudkan program tersebut?

3. Mengapa anda memilih melakukan peran serta dengan bentuk demikian?

4. Apa manfaat yang anda dapatkan dari bentuk peran serta seperti itu?

5. Bagaimana tanggapan pemerintah Kabupaten Kudus atas bentuk peran serta

yang anda lakukan?

6. Bagaimana pula respon satuan pendidikan terhadap bentuk peran serta yang

anda kerjakan?

7. Menurut anda, seberapa efektifkah bentuk peran serta yang anda lakukan?
144

8. Apa sajakah langkah yang anda tempuh untuk melakukan peran serta dalam

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

9. Mengapa anda memutuskan untuk menggunakan langkah tersebut?

10. Dalam langkah peran serta yang anda kerjakan, apakah anda melibatkan pihak

lain untuk berkomunikasi atau berkerjasama?

11. Bagaimana wujud komunikasi atau kerjasama yang anda jalin dengan pihak

luar?

12. Apakah satuan pendidikan ikut terjun pada langkah peran serta yang anda

lakukan?

13. Apakah pemerintah Kabupaten Kudus juga turut aktif dalam langkah peran

serta yang anda kerjakan?

14. Menurut anda, apakah langkah tersebut sudah berjalan sesuai dengan harapan?

15. Bagaimana dukungan dari masyarakat terhadap peran serta yang anda lakukan

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

16. Menurut anda, mengapa dukungan-dukungan itu bisa muncul?

17. Apakah anda mempunyai cara khusus untuk mengoptimalkan dukungan dari

masyarakat tersebut?

18. Seberapa besar sumbangsih dukungan masyarakat terhadap peran serta yang

anda lakukan?

19. Kendala-kendala apa sajakah yang anda peroleh dari masyarakat untuk dapat

berperan serta mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

20. Menurut anda, mengapa kendala-kendala tersebut timbul?


145

21. Apakah kendala-kendala dari masyarakat sangat berpengaruh terhadap peran

serta anda dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

22. Upaya apa yang anda tempuh untuk mengatasi kendala-kendala tersebut?

23. Apakah pemerintah Kabupaten Kudus sudah memberikan sosialisasi maupun

informasi yang cukup mengenai peran serta masyarakat dalam program wajib

belajar 12 tahun?

24. Bagaimana fasilitas dari pemerintah Kabupaten Kudus guna mendorong peran

serta anda dalam mewujudkan program tersebut?

25. Apakah dukungan-dukungan tersebut sangat membantu anda dalam berperan

serta mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

26. Bagaimana juga peluang yang ditawarkan oleh sekolah (satuan pendidikan)

untuk mendukung peran serta anda?

27. Apakah dukungan tersebut sangat membantu anda dalam upaya berperan serta

mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

28. Apa sajakah kendala-kendala yang anda dapatkan dari pemerintah Kabupaten

Kudus untuk berperan serta mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

29. Seberapa besar pengaruh kendala-kendala tersebut terhadap peran serta anda

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

30. Bagaimana cara yang anda lakukan untuk mengatasi kendala-kendala itu?

31. Kendala-kendala apa sajakah yang anda hadapi dari satuan pendidikan dalam

berperan serta mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?

32. Apakah kendala-kendala tersebut berpengaruh besar terhadap peran serta anda

dalam mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?


146

33. Bagaimana upaya-upaya yang anda tempuh untuk mengatasi berbagai kendala

tersebut?
147

Lampiran 8

PEDOMAN WAWANCARA

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Informan : Camat Mejobo

Nama :

Tempat/ Tanggal Lahir :

Alamat :

Jenis Kelamin :

1. Apakah pihak pemerintah Kecamatan Mejobo pernah memberikan informasi

atau mengadakan sosialisasi tentang program wajib belajar 12 tahun terhadap

masyarakat?
2. Sejauh ini, apa sajakah peran yang pernah dilakukan oleh masyarakat untuk

mewujudkan wajib belajar 12 tahun melalui pihak pemerintah Kecamatan

Mejobo?
3. Apakah pemerintah Kecamatan Mejobo pernah ikut terjun dalam mendorong

atau memfasilitasi peran serta masyarakat untuk mewujudkan program wajib

belajar 12 tahun?
4. Apakah peran serta masyarakat membawa pengaruh besar untuk pemerintah

Kecamatan Mejobo dalam mendukung program wajib belajar 12 tahun?

Lampiran 9

PEDOMAN WAWANCARA
148

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Informan : Kepala Sie Kurikulum Pendidikan Menengah

Disdikpora Kabupaten Kudus

Nama :

Tempat/ Tanggal Lahir :

Alamat :

Jenis Kelamin :

1. Apakah pihak Disdikpora pernah memberikan informasi ataupun mengadakan

sosialisasi tentang program wajib belajar 12 tahun terhadap sekolah ataupun

masyarakat?
2. Sejauh ini, apa sajakah peran yang pernah dilakukan oleh masyarakat untuk

mewujudkan wajib belajar 12 tahun melalui pihak Disdikpora?


3. Apakah Disdikpora pernah ikut terjun dalam mendorong atau memfasilitasi

peran serta masyarakat untuk mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?


4. Apakah peran serta masyarakat membawa pengaruh besar untuk Disdikpora

dalam rangka mensukseskan program wajib belajar 12 tahun?

Lampiran 10

PEDOMAN WAWANCARA

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN


149

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Informan : Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Mejobo

Nama :

Tempat/ Tanggal Lahir :

Alamat :

Jenis Kelamin :

1. Apakah UPT Pendidikan pernah memberikan informasi ataupun mengadakan

sosialisasi tentang program wajib belajar 12 tahun terhadap masyarakat?


2. Sejauh ini, apa sajakah peran yang pernah dilakukan oleh masyarakat untuk

mewujudkan wajib belajar 12 tahun melalui pihak UPT Pendidikan?


3. Apakah pihak UPT Pendidikan pernah ikut terjun dalam mendorong maupun

memfasilitasi peran serta dari masyarakat untuk mewujudkan program wajib

belajar 12 tahun?
4. Apakah peran serta masyarakat berpengaruh besar terhadap UPT Pendidikan

dalam rangka mensukseskan program wajib belajar 12 tahun?

Lampiran 11

PEDOMAN WAWANCARA

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS


150

Informan : Kepala Sekolah SMK 3 Ma’arif dan Kepala

SMA 1 Mejobo Kudus

Nama :

Tempat/ Tanggal Lahir :

Alamat :

Jenis Kelamin :

1. Apakah sekolahpernah memberikan informasi atau mengadakan sosialisasi

tentang program wajib belajar 12 tahun terhadap wali murid?


2. Sejauh ini, apa sajakah peran yang pernah dilakukan oleh masyarakat untuk

mewujudkan wajib belajar 12 tahun melalui pihak sekolah?


3. Apakah sekolah pernah ikut terjun dalam mendorong atau memfasilitasi peran

serta masyarakat untuk mewujudkan program wajib belajar 12 tahun?


4. Apakah peran masyarakat membawa pengaruh (andil) besar terhadap sekolah

dalam rangka menjaga kelangsungan program wajib belajar 12 tahun?

Lampiran 12

PEDOMAN WAWANCARA

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Informan : Keluarga dengan anak yang putus sekolah di

Kecamatan Mejobo
151

Nama :

Tempat/ Tanggal Lahir :

Alamat :

Jenis Kelamin :

1. Apakah anda mengetahui program wajib belajar 12 tahun yang ditetapkan oleh

Pemkab Kudus?
2. Sebagai orang tua, apa alasan yang membuat anak anda sampai putus sekolah?
3. Apa usaha yang pernah anda tempuh agar anak anda tetap dapat melanjutkan

sekolah?
4. Sekarang, anak anda telah bekerja atau menganggur di rumah?
5. Jika diminta untuk memilih, sebenarnya anda berharap bahwa anak anda

dapatmelanjutkan sekolah atau justru tidak?

Lampiran 13

PEDOMAN OBSERVASI

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

A. Tujuan : Mengetahui peran serta masyarakat dalam mewujudkan

program wajib belajar 12 tahun di Kecamatan Mejobo,

Kabupaten Kudus
B. Observer : Mahasiswa Jurusan Politik dan Kewarganegaraan
C. Observe : Anggota masyarakat di Kecamatan Mejobo
D. Pelaksanaan :
152

1. Hari/ Tanggal :
2. Pukul :
3. Tempat :
E. Aspek-aspek yang diobservasi
1. Observasi langsung: Proses magang siswa-siswi SMK 3 Ma’arif Kudus di

pengusaha jenang, kegiatan penyerahan santunan dari

Yayasan Al-Kamal kepada anak-anak yatim, dan hasil

jadi pembangunan SMK 3 Ma’arif Kudus.


2. Observasi Tak Langsung: Bentuk dan langkah peran serta dari masyarakat

dalam merealisasikan program wajib belajar 12

tahun di Kecamatan Mejobo.

Lampiran 14

PEDOMAN DOKUMENTASI

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN

PROGRAM WAJIB BELAJAR 12 TAHUN

DI KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS

Lokasi :

Waktu :

Aspek yang Diamati :

A. Deskripsi umum Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus yang meliputi:


1. Kondisi geografis, di mana terdiri atas letak kecamatan, batas kecamatan,

luas kecamatan, dan pembagian wilayah kecamatan.


2. Kondisi demografis, yaitujumlah penduduk danagama penduduk.
3. Kondisi sosial ekonomi, yakni bidang ekonomi, bidang pendidikan, dan

bidang kesehatan.
B. Foto-foto yang mencakup:
153

1. Foto wawancara dengan responden.


2. Foto peran serta anggota masyarakat Kecamatan Mejobo.
3. Foto dukungan pemerintah terhadap peran serta masyarakat.
C. Dokumen-dokumen yang meliputi:
1. Profil Pendidikan Kabupaten Kudus
2. Kebijakan Umum APBD dan Rencana Kerja Kabupaten Kudus