Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA

KOMUNITAS

Disusun untuk memenuhi tugas praktik keperawatan 2 dosen pembimbing bapak


Ns. Alfeus Manuntung, S.Kep ., M. Kep.
Pembimbing klinik ibu Ns. Erika Sihombing., s. Kep.

Disusun oleh :

NAMA : Ayu Novita Sari


NIM : PO.62.20.1.17.320

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN REGULER IV


POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA
TAHUN 2019
1. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Pneumonia komunitas atau community-acquired pneumonia (CAP)
merupakan pneumonia yang didapat di masyarakat, di mana infeksinya
terjadi di luar rumah sakit. Pneumonia didefinisikan sebagai peradangan
paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan
parasit). CAP merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas
yang tinggi di negara berkembang. CAP mengakibatkan tingginya angka
rawat inap terutama pada orang tua dan anak-anak. Kebutuhan untuk rawat
inap harus benar-benar dipertimbangkan karena kebanyakan kasus CAP
dapat diobati dengan berobat jalan. Selain pertimbangan rawat inap atau
rawat jalan, pertimbangan yang juga penting adalah pemilihan antimikroba.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda saluran pernafasan
dan infeksi, serta dengan pemeriksaan penunjang untuk memastikan
diagnosis. Tatalaksana diberikan sesuai organisme kausal, idealnya
diberikan sesuai dengan hasil kultur namun dapat pula diberikan antibiotik
spektrum luas.
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit
saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis
masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection.

A. Patofisiologi
Patofisiologi pneumonia komunitas atau community-acquired
pneumonia (CAP) melibatkan peradangan paru yang disebabkan oleh
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan parasit). Proliferasi mikroba
patogen pada alveolus dan respon imun tubuh terhadap proliferasi tersebut
menyebabkan peradangan. Mikroorganisme masuk ke saluran napas
bagian bawah melalui beberapa cara, yaitu secara aspirasi dari orofaring,
inhalasi droplet, penyebaran melalui pembuluh darah, serta penyebaran
dari pleura dan ruang mediastinum. [1]
Dalam keadaan normal, tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme
pada paru karena mekanisme pertahanan tubuh. Mekanisme pertahanan
saluran napas dan paru antara lain:
 Pertahanan mekanis oleh bulu hidung dan konka untuk menyaring
partikel besar agar tidak mencapai saluran napas bawah
 Refleks muntah dan batuk untuk mencegah aspirasi
 Struktur trakeobronkial yang bercabang-cabang untuk menjebak
mikroorganisme yang kemudian akan dibersihkan oleh mukosiliar dan
faktor antibakteri yang membunuh patogen yang berhasil masuk
 Flora normal yang menghalangi pertumbuhan bakteri yang
virulensinya lebih kuat
 Mikroorganisme yang berhasil lolos dan mencapai alveolus akan
disingkirkan oleh makrofag alveolar atau sel Langhans. Makrofag
alveolar selanjutnya memicu respon inflamasi untuk membantu proses
pertahanan tubuh [2]
Bila kapasitas makrofag alveolar tidak cukup untuk mengeliminasi
patogen, maka dapat terjadi kaskade yang menyebabkan gejala-gejala
klinis pneumonia, yaitu:
 Proliferasi patogen memicu respon imun tubuh
 Pelepasan mediator inflamasi seperti IL-1 dan TNF (tumor necrosis
factor) memicu terjadinya demam.
 Kemokin seperti IL-8 dan GSF (granulocyte colony-stimulating factor)
merangsang pelepasan neutrofil dan memanggil leukosit lebih banyak
menuju jaringan paru.
Pada pneumonia bakterial, infeksi umumnya berawal di trakea yang
kemudian mencapai parenkim paru. Selain itu, infeksi juga dapat berasal
dari bakteremia yang kemudian menjalar ke parenkim paru. Sedangkan
pada pneumonia viral, awal infeksi adalah infeksi di sepanjang jalan napas
yang disertai lesi pada epitel saluran napas. Akibat infeksi, baik bakteri
maupun viral, terjadi obstruksi akibat pembengkakan, sekresi, dan debris
selular.
Pada anak-anak terutama bayi, anatomi saluran napas yang lebih kecil
menyebabkan lebih rentan mengalami infeksi yang berat. Obstruksi jalan
napas dapat berujung hipoksemia akibat atelektasis, edema interstisial, dan
ketidak seimbangan ventilasi-perfusi.

B. Etiologi
Mikrorganisme etiologi pneumonia komunitas atau community-
acquired pneumonia (CAP) bisa bakteri, virus, jamur, dan parasit. Terdapat
sedikit perbedaan etiologi patogen penyebab CAP di daerah negara maju
dibandingkan dengan negara berkembang di Asia terkhusus Indonesia.
Bakteri batang gram negatif (gram-negative bacili/GNB)
dan Staphylococcus aureus cukup sering didapati di negara Asia namun
jarang ditemukan sebagai etiologi CAP di negara barat. Justru bakteri
batang gram negatif dan S. aureus di negara barat merupakan
etiologi hospital-acquired pneumonia (HAP).Etiologi yang paling sering
terutama di daerah Eropa dan Amerika adalah Streptococcus
neumoniae, Mycoplasmapneumoniae, Haemophilus
pneumoniae, Chlamydopilla pneumoniae, Legionella pneumophila, dan
virus respiratori.
Pada pasien anak, patogen etiologi CAP umumnya tumpang tindih
oleh bakteri dan virus. Kombinasi patogen kebanyakan kasus adalah
kombinasi Rhinovirus dan Streptococcus pneumoniae.
Selain patogen di atas, semakin banyak penelitian yang melaporkan
bahwa etiologi CAP di Indonesia adalah bakteri batang gram negatif.
[6] Sebuah penelitian di Semarang menunjukkan bahwa bakteri batang
gram negatif merupakan penyebab pneumonia yang sering.
Karier Klebsiella pneumoniae ditemui pada 15% orang tua dan 7% pada
anak.
Etiologi lain yang insidensinya tidak terlalu tinggi namun menjadi
beban tersendiri antara lain:
 Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan
patogen penyebab pneumonia nosokomial. Namun demikian, MRSA dapat
pula menyebabkan CAP yang diistilahkan sebagai community-acquired
MRSA (CA-MRSA).
 Pneumocystis jirovecii, patogen penyebab CAP yang berhubungan
dengan infeksi HIV. Umumnya sering pada daerah dengan insidensi HIV
yang tinggi.
 Beberapa kasus pandemi merupakan kasus CAP dengan etiologi
virus yang angka mortalitasnya tinggi seperti H5N1, H1N1, dan Mers-CoV
(Middle East Respiratory Syndrome – Corona Virus). Mers-CoV sering
dialami orang yang bepergian ke Timur Tengah dan berhubungan dengan
kegiatan ibadah haji yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia tiap
tahunnya. Namun hasil penelitian menunjukkan CAP berat yang
memerlukan rawat inap pada peserta haji bukanlah akibat Mers-CoV.

a. Faktor Risiko

Faktor gaya hidup dan beberapa kondisi medis berhubungan dengan


peningkatan risiko terjadinya CAP pada orang dewasa, antara lain:
 Umur di atas 65 tahun
 Merokok
 Peminum alkohol
 Kondisi imunosupresif
 Status nutrisi underweight
 Kurangnya kebersihan gigi
 Kondisi penyakit kronis seperti: PPOK, penyakit kardiovaskular,
penyakit serebrovaskular, pnyakit hepar atau ginjal kronis, diabetes
melitus, dan demensia [16]
Bakteri Myobakterium tuberculosis, dengan ukuran panjang 1-4
µm dan tebal 1,3-0,6 µm, termasuk golongan bakteri aerob gram positif
serta tahan asam atau basil tahan asam.

C. Tanda dan Gejala


a. Batuk lama lebih dari 3 minggu
b. Demam
c. Berat badan menurun
d. Keringat malam
e. Mudah lelah
f. Nafsu makan hilang
g. Nyeri dada
h. Batuk darah

D. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan fisik :
- Pada tahap dini sulit diketahui.
- Ronchi basah, kasar dan nyaring.
- Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada
auskultasi memberi suara umforik.
- Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.
- Bila mengenai Pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara
pekak)
b. Pemeriksaan Radiologi :
- Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan
batas tidak jelas.
- Pada kavitas bayangan berupa cincin.
- Pada Kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas
tinggi.
c. Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan
bronchus atau kerusakan paru karena TB.
d. Laboratorium :
- Darah : leukosit meninggi, LED meningkat
- Sputum : pada kultur ditemukan BTA
e. Test Tuberkulin : Mantoux test (indurasi lebih dari 10-15 mm)
E. Pathway
Mycobacterium TB

Masuk ke jalan
nafas

Tinggal di alveolus

Reaksi inflamasi
Ketidaknyamanan
pada rongga dada
dan diafragma

Alveolus mengalami
peradanagan

Nyeri Anoreksia

Bersihan jalan nafas


tidak efektif

Masukan
peroral
menurun

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
F. Penatalaksanaan Medis
Dalam hal mengobati penderita pneumonia perlu diperhatikan keadaan
klinisnya. Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat dapat diobati
di rumah. Juga diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi yaitu keadaan
yang dapat meningkatkan risiko infeksi dengan mikroorganisme patogen
yang spesifik misalnya S. pneumoniae . yang resisten penisilin. Yang
termasuk dalam faktor modifikasis adalah:
a.Pneumokokus resisten terhadap penisilin
• Umur lebih dari 65 tahun
• Memakai obat-obat golongan P laktam selama tiga bulan terakhir
• Pecandu alkohol
• Penyakit gangguan kekebalan
• Penyakit penyerta yang multipel b.Bakteri enterik Gram negatif
• Penghuni rumah jompo
• Mempunyai penyakit dasar kelainan jantung paru
• Mempunyai kelainan penyakit yang multipel
• Riwayat pengobatan antibiotik
c.Pseudomonas aeruginosa
• Bronkiektasis
• Pengobatan kortikosteroid > 10 mg/hari
• Pengobatan antibiotik spektrum luas > 7 hari pada bulan terakhir
• Gizi kurang Penatalaksanaan pneumionia komuniti dibagi menjadi:
a.Penderita rawat jalan
• Pengobatan suportif / simptomatik - Istirahat di tempat tidur - Minum
secukupnya untuk mengatasi dehidrasi - Bila panas tinggi perlu dikompres
atau minum obat penurun panas - Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan
ekspektoran Pemberian antiblotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari
8 jam 13
b.Penderita rawat inap di ruang rawat biasa Pengobatan suportif /
simptomatik - Pemberian terapi oksigen - Pemasangan infus untuk rehidrasi
dan koreksi kalori dan elektrolit - Pemberian obat simptomatik antara lain
antipiretik, mukolitik Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan)
kurang dari 8 jam
c.Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif
• Pengobatan suportif / simptomatik - Pemberian terapi oksigen - Pemasangan
infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit Pemberian obat
simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
• Pengobatan antibiotik (sesuai bagan.) kurang dari 8 jam
• Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik Penderita
pneumonia berat yang datang ke UGD diobservasi tingkat kegawatannya, bila
dapat distabilkan maka penderita dirawat map di ruang rawat biasa; bila
terjadi respiratory distress maka penderita dirawat di Ruang Rawat Intensif.

G. Terapi obat dengan Implikasi Keperawatan


Dalam mengobati penderita pneumonia perlu diperhatikan keadaan
klinisnya. Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat dapat
diobati di rumah.
1. Penderita yang tidak dirawat
a. Istirahat di tempat tidur, bila panas tinggi dikompres
b. Minum banyak
c. Obat-obat penurun panas, mukolitik dan ekspektoran
d. Antibiotika
2. Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi rawat penderita pneumonia adalah penderita sangat muda atau
tua, keadaan klinis berat (misalnya sesak napas, kesadaran menurun.
gambaran kelainan foto toraks cukup luas), ada penyakit lain yang
mendasari (seperti bronkiektasis, bronkitis kronik), ada komplikasi dan
tidak ada respons terhadap pengobatan yang diberikan atau sesuai sistim
skor yang dapat dilihat paa tabel 2. Pada penderita yang dirawat
penatalaksanaan dibagi atas : penatalaksanaan umum dan pengobatan
kausal.
a. Penatalaksanaan umum
- pemberian oksigen
- pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit
- mukolitik dan ekspektoran, bila perlu dilakukan pembersihan jalan
napas
- obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi,
takikardi atau terjadi kelainan jantung
- bila nyeri pleura hebat dapat diberikan obat anti nyeri
- obat-obat khusus pada keadaan tertentu
b. Pengobatan kausal
Dalam pemberian antibiotika pada penderita pneumonia sebaiknya
berdasarkan data MO (mikroorganisme) dan hasil uji kepekaannya, akan
tetapi beberapa hal perlu diperhatikan :
1. penyakit yang disertai panas tinggi untuk penyelamatan nyawa
dipertimbangkan pemberian antibiotika walaupun kuman belum dapat
diisolasi
2. kuman patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab
sakit, oleh karena itu diputuskan pemberian antibiotika secara empirik.
Pewarnaan gram sebaiknya dilakukan pada semua sediaan yang dicurigai
sebagai sumber infeksi dan sebagai petunjuk pilihan pada pengobatan
pendahuluan
3. perlu diketahui riwayat pemberian antibiotika sebelumnya pada
penderita.
2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Kelelelahan umum dan kelemahan
- Dispnea saat kerja maupun istirahat
- Kesulitan tidur pada malam hari atau demam pada malam hari,
menggigil dan atau berkeringat
- Mimpi buruk
Tanda:
- Takikardia, takipnea/dispnea pada saat kerja
- Kelelahan otot, nyeri, sesak (tahap lanjut)
b.Sirkulasi
Gejala:
- Palpitasi
Tanda:
- Takikardia, disritmia
- Adanya S3 dan S4, bunyi gallop (gagal jantung akibat effusi)
- Nadi apikal (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal
- Tanda Homman (bunyi rendah denyut jantung akibat adanya udara
dalam mediatinum)
- TD: hipertensi/hipotensi
- Distensi vena jugularis
c. Integritas ego:
Gejala:
- Gejala-gejala stres yang berhubungan lamanya perjalanan penyakit,
masalah keuangan, perasaan tidak berdaya/putus asa, menurunnya
produktivitas.
Tanda:
- Menyangkal (khususnya pada tahap dini)
- Ansietas, ketakutan, gelisah, iritabel.
- Perhatian menurun, perubahan mental (tahap lanjut)

d.Makanan dan cairan:


Gejala:
- Kehilangan napsu makan
- Penurunan berat badan
Tanda:
- Turgor kulit buruk, kering, bersisik
- Kehilangan massa otot, kehilangan lemak subkutan
e. Nyeri dan Kenyamanan:
Gejala:
- Nyeri dada meningkat karena pernapsan, batuk berulang
- Nyeri tajam/menusuk diperberat oleh napas dalam, mungkin menyebar
ke bahu, leher atau abdomen.
Tanda:
- Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
f. Pernapasan:
Gejala:
- Batuk (produktif atau tidak produktif)
- Napas pendek
- Riwayat terpajan tuberkulosis dengan individu terinfeksi
Tanda:
- Peningkatan frekuensi pernapasan
- Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesori pernapasan pada
dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat
- Pengembangan dada tidak simetris
- Perkusi pekak dan penurunan fremitus, pada pneumothorax perkusi
hiperresonan di atas area yang telibat.
- Bunyi napas menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral
- Bunyi napas tubuler atau pektoral di atas lesi
- Crackles di atas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek
(crackels posttussive)
- Karakteristik sputum hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah
- Deviasi trakeal
g.Keamanan:
Gejala:
- Kondisi penurunan imunitas secara umum memudahkan infeksi
sekunder.
Tanda:
- Demam ringan atau demam akut.
h.Interaksi Sosial:
Gejala:
- Perasaan terisolasi/penolakan karena penyakit menular
- Perubahan aktivitas sehari-hari karena perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran
i. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
- Riwayat keluarga TB
- Ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk
- Gagal untuk membaik/kambuhnya TB
- Tidak berpartisipasi dalam terapi.

b. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya
eksudat di alveolus.
b.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmempuan memasukkan makanan karena
faktor biologi
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi.
c. Rencana Asuhan Keperawatan

No. Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi

1. Bersihan jalan nafas tidak NOC: 1. Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust
efektif b.d. adanya bila perlu
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
eksudat di alveolus 2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
diharapkan bersihan jalan nafas efektif dengan kriteria hasil:
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat bantu
No Indikator Awal Target pernafasan
4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
1. Tidak didapatkan demam
5. keluarkan sekret dengan batuk atau suction
2. Tidak didapatkan kecemasan 6. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
7. Berikan pelembab udara
3. Frekuensi pernafasan sesuai
8. Atur intake untuk cairan mengoptimlkan keseimbangan
dengan yang diharapkan
9. Monitor respirasi dan status O2
4. Pengeluaran sputum pada
jalan nafas

5. Bebas dari suara nafas


tambahan

Keterangan:

1=Keluhan ekstrim

2= Keluhan berat

3= Keluhan sedang
4= Keluhan ringan

5= Tidak ada keluhan

2. Ketidakseimbangan NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam 1. Kaji pola makan, kebiasaan makan dan makanan yang
nutrisi: kurang dari diharapkan kebutuhan nutrisi menjadi seimbang, dengan kriteria:
disukai
kebutuhan tubuh b.d
ketidaakmampuan 2. Berikan makanan sesuai diet dan berikan selagi hangat
mencerna, 3. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
memasukkan,
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan nutrisi yang adekuat
mengasorbsi makanan
karena faktor biologi. 5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet sesuai
indikasi
6. Ukur berat badan pasien
No Indikator Awal Target

1. Masukan peroral
meningkat Ket:
2. Porsi makan yang 1=Keluhan
disediakan habis ekstrim
3. Tidak terjadi penurunan 2= Keluhan
berat badan berat
4. Dapat mengidentifikasi 3= Keluhan
kebutuhan nutrisi sedang

4= Keluhan ringan

5= Tidak ada keluhan

3. Nyeri (akut) NOC : 1. Kaji nyeri secara komprehensif (skala, kualitas, lokasi dan
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan , diharapkan nyeri
hilang/terkendali dengan skala : intensitas)
agen injury biologi
1 = Tidak pernah
2. Observasi reaksi pasien terhadap nyeri
2 = Jarang
3. Jelaskan faktor penyebab nyeri
3 = Kadang-kadang
4. Gunakan komunikasi terapeutik
4 = Sering
5 = Konsisten menunjukkan 5. Kaji TTV

yang dibuktikan dengan indikator : 6. Berikan posisi yang nyaman

No Indikator Awal Target 7. Ajarkan teknik relaksasi (misal : nafas dalam, pijat

1. Mengenali faktor punggung )


penyebab 8. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
2. Mengenali lamanya (onset)
sakit (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)

3. Menggunakan metode
non-analgetik untuk
mengurangi nyeri

4. Melaporkan bahwa nyeri


berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
5. Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
6. Tanda vital dalam rentang
normal
Daftar Pustaka

Black, J.M, et al, Luckman and Sorensen’s Medikal Nursing : A Nursing Process Approach, 4 th
Edition, W.B. Saunder Company, 1995.

Carpenito (2015), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta

Doenges at al (2013), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Johnson, Marion& Maas, Meidean. 2000. Nursing Outcome Classification. New York : Mosby.

Mccloskey, Joanne& Bulechek, Gloria. 1996. Nursing Intervention Clasification. New York: Mosby.

Mosby, NANDA, 20014, Panduan Diagnosa Keperawatan, Jakarta, Prima Medika

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta

Smelzer,Suzanne.C,2001.buku ajar keperawatan medikal bedah brunner dan suddarth.Ed 8.Jakarta :


EGC.

Soedarsono (2000), Tuberkulosis Paru-Aspek Klinis, Diagnosis dan Terapi, Lab. Ilmu Penyakit Paru FK
Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, BP FKUI, Jakarta.