Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Suardiman (2011:1) mengemukakan bahwa makhluk hidup memiliki siklus

kehidupan menuju tua dengan proses awal berupa kelahiran, tumbuh dan

berkembang menjadi dewasa, serta berkembang biak dan semakin tua hingga

meninggal. Suardiman (2011:1) mengemukakan bahwa masa perkembangan

terakhir pada individu disebut sebagai masa dewasa akhir atau masa usia lanjut.

Suryani (Napitupulu, 2013:2) mengemukakan bahwa usia lanjut atau lansia

memiliki pertumbuhan sangat cepat, sehingga proses penuaan penduduk menjadi

gejala yang mendunia dan pesat. Lansia dalam pasal 1 ayat 2 UU No. 13 tahun

1998 adalah individu yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2016:1) mengemukakan

bahwa populasi lansi di Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi daripada

lansia di dunia. Badan Pusat Statistik RI tahun 2015 (Pusat Data dan Informasi

Kementrian Kesehatan RI, 2016:1) mengemukakan bahwa struktur ageing

population adalah cerminan dari tingginya rata-rata Usia Harap Hidup (UHH)

penduduk di Indonesia. UHH yang tinggi adalah indikator keberhasilan

pencapaian pembangunan nasional pada bidang kesehatan. Peningkatan UHH di

Indonesia pada tahun 2004 hingga tahun 2015 adalah 68,6% menjadi 70,8%.

Badan Pusat Statistik RI tahun 2015 (Pusat Data dan Informasi Kementrian
2

Kesehatan RI, 2016:3) mengemukakan bahwa penduduk lansia berdasarkan jenis

kelamin paling banyak adalah perempuan (9%) daripada laki-laki (8%).

Suardiman (2011:3) mengemkakan bahwa individu diidentifikasi sebagai

lansia atau belum diliat dari usia kronologis yaitu usia berdasarkan usia kalender,

usia dari lahir hingga saat ini, atau usia dari ulang tahun terakhir. Suardiman

(2011:3) mengemukakan bahwa peningkatan usia lanjut di satu daerah

dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan terkait dengan penurunan kondisi

fisik, psikis, maupun sosial. Agus (2013:2) mengemukakan bahwa perubahan dari

berbagai aspek kehidupan yang harus dihadapi oleh lansia berpotensi menjadi

sumber tekanan bagi lansia karena stigma menjadi tua yaitu segala hal yang

berkaitan dengan individu mengalami kemunduran fungsi fisik dan psikologis,

menjadi lemah, tidakberdaya, dan munculnya berbagai penyakit.

Kemunduran yang lansia alami dari berbagai aspek kehidupan mereka, bukan

berarti lansia tidak dapat menikmati kehidupan diusia lansianya. Meskipun lansia

memiliki usia tidak lagi muda dan mengalami kemunduran, tetapi lansia masih

memiliki kemampuan maupun potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi

kesehariannya dengan hal yang positif dan menghibur. Individu yang memasuki

masa lansia yang bahagia identik dengan kesiapan untuk menerima lebih dari satu

perubahan dalam aspek kehidupan. Individu yang berada pada masa dewasa akhir

ingin memasuki masa tersebut dengan sukses dan disebut sebagai successful

aging.
3

1.2. Teori-Teori

1.2.1 Lanjut Usia

A. Pengertian Lanjut Usia


Tanaya dan Yasa (2017:8) mengemukakan bahwa lanjut usia adalah individu

yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Adrianisah dan

Septiningsih (2013:18) mengemukakan bahwa lanjut usia dimulai dari batasan

usia setelah dewasa madya dan awal dari dewasa akhir. Kisaran usia dewasa akhir

adalah sekita 60 tahun sampai dengan 65 tahun. WHO (Adrianisah dan

Septiningsih, 2013:18) mengemukakan bahwa lanjut usia digolongkan

berdasarkan usia kronologis atau biologis ke dalam empat kelompok yaitu usia

pertengahan (middle age) antara usia 45 tahun sampai dengan usia 59 tahun,

lanjut usia (elderly) antara usia 60 tahun hingga usia 74 tahun, lanjut usia tua (old)

usia antara 75 tahun sampai 90 tahun, dan usia sangat tua (very old).

Santrock (Agus, 2013:12) mengemukakan bahwa ahli perkembangan

membedakan lansia menjadi dua yaitu individu tua muda atau usia tua adalah usia

65 tahun hingga 74 tahun dan individu yang tua atau usia tua akhir adalah usia 75

tahun ke atas. Papalia dan Olds (Agus, 2013:11) mengemukakan bahwa ahli sosial

menunjukkan dewasa akhir kedalam tiga kelompok, yaitu the young pada usia 65-

74 tahun yang aktif dan bersemangat, the old old pada usia 75-84 tahun, dan the

oldest old usia 85 tahun ke atas dengan kemungkinan menjadi lebih lemah dan

kesulitan untuk beraktivitas. Agus (2013:12) mengemukakan bahwa usia individu

dibagi menjadi tiga yaitu usia kronologis berdasar pada umur yang sudah dilalui

dan biasanya dikenal misalnya 60 tahun, usia biologis berdasar pada kondisi tubuh
4

individu, dan usia psikologis berdasarkan kemampuan individu pada usia 80-an

tahun merasa lebih muda dari individu lain.

Badan Koordinas Keluarga Berencana Nasional (Agus, 2013:10)

mengemukakan bahwa individu didefinisikan sebagai lansia berdasarkan pada

pertimbangan dari tiga aspek yaitu aspek ekonomi, aspek biologis, dan aspek

sosial. Aspek ekonomi memandang lansia sebagai beban dan bukan sebagai

sumber daya. Masa lansia dianggap tidak dapat lagi memberikan banyak manfaat,

sehingga kehidupan lansia sering dipersepsi secara negatif yaitu sebagai beban

khidupan dan masyarakat. Aspek biologis menjelaskan bahwa lansi adalah

individu yang mengalami proses menua secara terus menerus.

Agus (2013:10) mengemukakan bahwa lansia mengalami proses penuaan

ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik, sehingga rentan terhadap penyakit

bahkan menyebabkan kematian. Agus (2013:10) mengemukakan bahwa proses

biologis yang dialami lansia disebabkan oleh perubahan yang terjadi dalam

struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Suardiman (2011:12)

mengemukakan bahwa aspek sosial menerangkan bahwa lebih dari satu lansia

yang telah pensiun mangalami kontak sosial yang berkurang karena terputusnya

hubungan kerja. Kurangnya kontak sosial menyebabkan lansia merasa kesepia

bahkan murung.

B. Ciri-ciri Lanjut Usia

Hurlock (1980:386) mengemukakan bahwa lanjut usia memiliki perubahan

pada fisik (seperti perubahan penampilan, perubahan bagian tubuh, perubahan


5

fungsi fisiologis, perubahan panca indra, dan perubahan seksual), perubahan

kemampuan motorik (seperti perubahan pada kekuatan, kekakuan, kecepatan, dan

kemampuan belajar keterampilan baru), perubahan kemampuan mental terdiri dari

kenangan dan intelegensia yang memengaruhi perubahan dalam gaya

membayangkan, perubahan minat, dan perubahan peran psikososial (seperti

perencanaan pra pensiun agar lansia tidak stress psikososial).

1.2.2 Successful Aging

A. Pengertian Successful Aging

Wong (516:1989) mengemukakan bahwa successful aging adalah tingkat

kesehatan fisik yang relative tinggi, psikologis yang sejahtera, dan kemampuan

untuk beradaptasi. Successful aging adalah tujuan lansia dengan kemampuan

individu untuk mencapai kondisi tersebut dan mengatasi secara efektif perubahan

umum yang dialami selama proses penuaan. Suardiman (2011:174)

mengemukakan bahwa successful aging adalah lansia yang berhasil dari berbagai

sudut pandang seperti kemampuan kognitif, fungsi jantung, maupun kesehatan

mental dan dierminkan dari keadaan di akhir usia lanjut. Successful aging adalah

lansia berumur panjang dan memiliki kondisi sehat, sehingga memungkinkan

untuk melakukan kegiatan mandiri, berguna dan bermanfaat bagi keluarga serta

masyarakat.

Dorris (Khotimah, 2016:5) mengemukakan bahwa successful aging adalah

individu memiliki kondisi sehat yaitu sehat secara fisik, aman dari segi finansial,

memiliki hidup produktif, mandiri dalam beraktivitas, dapat berpikir positif dan

optimis, serta aktif dalam kehidupan sosial. Khotimah (2016:5) mengemukakan


6

bahwa successful aging adalah individu yang memiliki kemampuan untuk

menyeimbangkan aspek lingkungan, emosi, spiritual, sosial, dan psikologis. Jones

dan Rose (Napitupulu, 2013:5) mengemukakan bahwa successful aging dilihat

dari empat komponen yaitu autonomy (independence), sense of meaningful

purpose in life, self actualization, and financial and social status. Successful

aging adalah lansia memiliki keadaan lengkap dari fungsi kognitif, fisik, dan

sosial well-being.

Mac Arthur Foundation Research Network on USA (Agus, 2013:28)

mengemukakan bahwa successful aging terdiri dari tiga komponen yaitu terhindar

dari penyakit sebagai penghalang kemampuan maupun kemandirian,

terpeliharanya fungsi fisik dan psikologis, dan aktif dalam kehidupan sosial serta

aktivitas produktif (dibayar ataupun tidak) yang dapat menciptakan nilai sosial.

Papalia (Agus, 2013:29) mengemukakan bahwa lansia yang berhasil memiliki

kecenderungan mendapatkan dukungan sosial dari segi emosional maupun

material yang dapat membantu kesehatan mental dan mereka merasa aktif serta

produktif. Agus (2013:29) mengemukakan bahwa successful aging adalah lansia

memiliki kondisi optimal fungsional, sehingga lansia dapat menikmati masa tua

dengan lebih bermakna, beguna, bahagia, dan berkualitas serta tetap berperan aktif

dalam kegiatan sosial.

B. Teori

Roeckelein (2013:25) mengemukakan bahwa terdapat dua teori dasar

mengenai keberhasilan penyesuaian seseorang terhadap perubahan penuaan sosial

dan fisik yaitu teori disengagement dan teori activity. Suardiman (2011:175)
7

mengemukakan bahwa ada tiga teori dasar mengenai keberhasilan usia lanjut

yaitu teori disengagement, teori activity, dan teori continuity. Agus (2013:23)

mengemukakan bahwa successful aging adalah tujuan dari perkembangan tahap

lansia dan terdapat tiga teori yang mendeskripsikan mengenai usia lanjut yaitu

teori disengagement, teori activity, dan teori continuity.

1.) Teori disengagement

Suardiman (2011:175) mengemukakan bahwa teori disengagement

diusulkan oleh Cumming dan Henry pada tahun 1961. Cumming dan

Henry (Suardiman, 2011:175) mengemukakan bahwa teori disengagement

memandang tingkat usia manusia berkesinambungan dengan

kemundurannya interaksi sosial, fisik, dan emosi dengan kehidupan dunia.

Agus (2013:23) mengemukakan bahwa individu menarik diri karena

kesadaran akan kemampuan fisik dan mental yang berkurang.

2.) Teori activity

Roeckelein (2013:25) mengemukakan bahwa teori activity adalah

pendekatan berupa use it or lose it yaitu gunakan atau hilang, maksudnya

yaitu individu yang tetap aktif secara fisik, mental, dan sosial akan

memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap penuaan dengan baik.

Suardiman (2011:176) mengemukakan bahwa teori activity memandang

kegiatan sebagai esensi hidup sepanjang umur dan sepanjang hidup.

Suardiman (2011:176) mengemukakn bahwa individu yang aktif secara

fisik, mental, maupun sosial akan melakukan penyesuaian lebih sering

seiring dengan pertambahan usia, sehingga lansia dapat menjaga self


8

image, kepuasan lebih besar, dan dukungan sosial yang lebih, serta

menghasilkan successful aging.

3.) Teori continuity

Suardiman (2011:177) mengemukakan bahwa teori continuity menekankan

pada kebutuhan setiap individu untuk memelihara hubungan antara masa

lalu dan masa kini dalam struktur kehidupan internal maupun eksternal.

Agus (2013:25) mengemukakan bahwa strusktur internal mencakup

pengetahuan, perasaan, dan harga diri mengenai sejarah personal yang

Erikson sebut sebagai ego integrity. Agus (2013:25) mengemukakan

bahwa struktur eksternal yaitu peran, hubungan dengan orang lain,

aktivitas dan dukungan sosial maupun lingkungan fisik.

C. Aspek Successful Aging

Lawton (Agus, 2013:29) mengemukakan bahwa successful aging terdiri dari

dua aspek, yaitu:

a. Fungsional well

Fungsional well adalah keadaan lansia dengan fungsi fisik, psikis, dan kognitif

yang masih baik serta mampu bekerja dengan optimal di juga kemungkinan

tercegah dari penyakit, kapasitas fungsional fisik, dan kognitif serta telibat aktif

dalam kehidupan.

b. Psychological well-being

Agus (2013:30) mengemukakan bahwa keadaan individu ditandai dengan

perasaan bahagia, mempunyai kepuasan hidup dan tidak ada gejalah depresi.

Kondisi fungsi psikologis positif terdiri dari enam fungsi yaitu control over one’s
9

environment, autonomy, self acceptance, positive relationship with other, purpose

in live, dan personal growth. Control over one’s environment adalah kemampuan

secara kreatif untuk memanipulasi keadaan sesuai kebutuhan dan nilai pribadi

untuk pengembangan diri melalui aktifitas fisik serta mental.

Agus (2013:30) mengemukakan bahwa autonomy adalah kemampuan lansia

untuk menentukan kemandirian dan kemampuan mengatur tingkah laku. Agus

(2013:30) mengemukakan bahwa self acceptance adalah ciri dari kesehatan

mental berupa penerimaan diri ditandai dengan kemampuan lansia bersikap positif

terhadap diri sendiri dan kehidupannya. Agus (2013:30) mengemukakan bahwa

positive relationship with other ditandai dengan kemampuan lansia bersikap

hangat, memuaskan, dan saling percaya terhadap orang lain, memiliki afeksi serta

empati yang kuat. Agus (2013:30) mengemukakan bahwa purpose in live adalah

lansia dengan kehidupan saat ini dan masa lalu memiliki makna, memegang

kepercayaan yang memberi tujuan hidup, dan memiliki target yang ingin dicapai

dalam kehidupan. Agus (2013:30) mengemukakan bahwa personal growth adalah

kemampuan lansia untuk terus berkembang dengan menyadari potensi yang

dimiliki dan peningkatan dalam diri serta tingkah laku dari waktu ke waktu.

D. Faktor yang Memengaruhi Successful Aging

Berk (Suardiman, 2011:181) mengemukakan bahwa terdapat delapan faktor

yang memengaruhi pencapaian successful aging, yaitu:

1.) Optimis dan perasaan efikasi diri dengan meningkatkan kesehatan dan

fungsi fisik.
10

2.) Optimis secara selektif melalui kompensasi untuk mengatur penggunaan

energy fisik dan kognitif.

3.) Penguatan konsep diri yang meningkatkan penerimaan diri dan pencapaian

harapan.

4.) Memperkuat pengertian emosional dan pengaturan emosional diri.

5.) Menerima perbahan.

6.) Perasaan yang matang terhadap spiritual dan keyakinan akan kematian

dengan sikap tenang dan sabra.

7.) Kontrol pribadi dalam hal ketergantungan dan kemandirian.

8.) Kualitas hubungan internal dan eksternal yang tinggi, memberikan

dukungan sosial, dan memiliki persahabatan.


11

BAB II

PENGAMBILAN DATA

2.1. Metode

Subjek dalam penelitian ini adalah subjek dengan kriteria berada pada masa

dewasa akhir yaitu usia 60 tahun ke atas dan merupakan successful aging.

Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Observasi

dilakukan untuk menentukan subjek berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data berupa informasi yang

dibutuhkan dengan cara mewawancarai subjek.

2.2. Tempat dan Waktu Pengambilan Data

Tempat : Jl. Mannuruki 13/15 A (rumah subjek).

Waktu : Pukul

Tanggal : 03 Juni 2017

2.3. Identitas Subjek

Nama/Inisial : H. Zainuddin Awing

Tempat/Tanggal Lahir : Jeneponto, 05 Mei 1949

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Pernikahan : Menikah

Pekerjaan : Pensiunan
12

BAB III

PENUTUP

3.1. Pembahasan

A. Kognitif:

Subjek masih memiliki kemampan mengingat yang baik karena subjek masih

dapat mengingat kegiatan sehari-harinya masih mengingat keluarganya, dapat

diajak berkomunikasi dan dapat menjawab pertanyaan dengan sesuai, dapat

diamanahkan untuk mengurus keuangan mesjid. Subjek mampu menggunakan

gaya bahasa yang sesuai dengan lawan bicara.

B. Sosial

Subjek menjaga hubungan dengan orang lain melalui kontribusi sebagai

pengurus mesjid dan biasa menolong tetangga yang membutuhkan bantuan.

Subjek menggunakan gaya bahasa yang berbeda ketika berbicara berdasarkan

pada lawan bicara subjek. Subjek juga mampu menjaga hubungan baik dengan

keluarga, walaupun subjek sibuk sebagai pengurus mesjid.

C. Religius dan Moral

Subjek mendekatkan diri dan mengaja hubungan dengan Allah serta

masyarakat melalui kontribusi sebagai pengurus mesjid maupun kegiatan yang

subjek dapat menymbangkan pemikiran dan tenaga.

D. Kesehatan

Subjek memiliki kemampuan melihat, mendengar, berbicara, dan beraktivitas

dengan baik. Subjek hanya memiliki penyakit rematik di usia 68 tahun.


13

Lawton (Agus, 2013:29) mengemukakan bahwa successful aging terdiri dari

fungsional well dan psychological well-being. Berdasarkan fungsional well,

subjek memiliki fungsi fisik, psikis, dan kognitif yang baik serta dapat bekerja

dengan optimal juga kemungkinan tercegah dari penyakit, kapasitas fungsional

fisik, dan kognitif serta telibat aktif dalam kehidupan. Berdasarkan psychological

well-being, subjek memiliki keadaan perasaan yang bahagia kerena dapat

membahagiakan keluarga dan bermanfaat di masysrakat walaupun sudah pensiun,

mempunyai kepuasan hidup dengan tercapainya segala keinginannya, serta tidak

adanya gejala depresi pensiunan yang subjek tunjukkan.

3.2. Kesimpulan

Berdasarkan pendapat Lawton mengenai successful aging, subjek memiliki

aspek-aspek successful aging, sehingga subjek dapat dikatakan sebagai lansia

yang successful aging.

3.3. Saran

A. Peneliti

Sebaiknya individu yang berada pada masa remaja dan dewasa awal mampu

menjaga kesehatan dan memanfaatkan masa perkembangan tersebut dengan

sebaik-baiknya agar, pada masa dewasa madya dan masa dewasa akhir dapat

menjadi individu yang sukses, bahagia, dapat bermanfaat, dan tidak mengalami

gangguan psikis maupun psikologis ketika berada pada masa dewasa madya dan

dewasa akhir.
14

B. Subjek

Saran dari subjek adalah mengatur pola makan dan pola tidur agar dapat tetap

sehat di usia lanjut.