Anda di halaman 1dari 24

Portofolio

OSTEOATHRITIS

Oleh:
dr. Dea Oktari

Pendamping:
dr. Lia Riani

Wahana:
Puskesmas
Tanjung Enim

KOMITE INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSAT PERENCANAAN DAN PENDAYAGUNAAN SDM
KESEHATAN BADAN PPSDM KESEHATAN
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
2019
PORTOFOLIO
Kasus 2

HALAMAN PENGESAHAN

Portofolio yang berjudul:

OSTEOATHRITIS

Oleh:
dr. Dea Oktari

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan
program internsip dokter Indonesia di wahana Puskesmas Tanjung Enim periode 10
November 2018 - 9 Maret 2019

Tanjung Enim, Maret 2019


Pembimbing,

dr. Lia Riani

2
PORTOFOLIO
Kasus 2

Topik: Osteoarthritis
Tanggal (Kasus): 9 Januari 2019 Presenter: dr. Dea Oktari
Tanggal Presentasi: Maret 2019 Pendamping: dr. Lia Riani
Tempat Presentasi: Puskesmas Tanjung Enim
Objektif presentasi :
Keilmuan Ketrampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa


Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi :Lansia, Laki-laki, usia 56 tahun, Osteoarthritis
Tujuan :
1. Penegakkan Diagnosa
2. Penatalaksanaan
Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi E-mail Pos
Data pasien : Nama: Tn.K No registrasi: -
Usia: 56 tahun Alamat: Lingga, Tanjung Enim
Agama: Islam Bangsa: Indonesia
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Keadaan umum tampak sakit sedang, pasien datang dengan keluhan nyeri pada lutut kanan dan
nyeri memberat pada 2 hari ini.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien sudah pernah berobat beberapa kali sebelumnya ke puskesmas, diberikan obat anti nyeri
namun keluhan muncul kembali.

3
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada lutut kiri. Pasien di antar keluarganya ke
puskesmas Tanjung Enim. Nyeri lutut dirasakan sejak 8 bulan yang lalu namun semakin
memberat 2 hari sebelum datang ke puskesmas. Nyeri dirasakan pasien di tempat lututnya
mengalami pembengkakan. Nyerinya seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk. Nyeri tersebut
juga tidak menghilang setelah dikompres, nyeri makin memberat saat pasien melipat lututnya
dan menggerakkan kakinya namun sedikit berkurang dengan istirahat.

4. Riwayat penyakit dahulu


- Riwayat penyakit yang sama berupa timbul nyeri lutut kaki kiri sebelumnya disangkal.
- Riwayat kecelakaan yang menciderai lutut kaki kiri disangkal.
- Riwayat penyakit tekanan darah tinggi ada diketahui sejak kisaran 5 tahun yang lalu
teratur minum obat.
- Riwayat kencing manis disangkal
5. Riwayat Keluarga
- Riwayat penyakit keluarga berupa timbul nyeri lutut kaki kiri disangkal.
- Riwayat penyakit keluarga berupa tekanan darah tinggi dan kencing manis ada.
- Riwayat penyakit keluarga berupa penyakit nyeri persendian disangkal
6. Lain-lain
Riwayat sosial ekonomi:
- Pasien dahulu bekerja sebagai buruh dan saat ini berdagang skala kecil.
Kesan: status ekonomi menengah ke bawah.
Riwayat pekerjaan dan kebiasaan :
- Kebiasaan berjalan ke tempat kerja dan mengangkat barang berat saat bekerja dahulu ada.
- Kebiasaan merokok ada, sehari ± 1 bungkus rokok.

Daftar Pustaka
Arissa, M.I., 2012, Pola Distribusi Kasus Osteoartritis di RSU Dokter Soedarso Pontianak Periode
1 Januari 2008-31 Desember 2009, Naskah Publikasi, Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura, Pontianak.
Felson, D.T. & Zhang, Y., 2008, An Update on the Epidemiology of Knee and Hip Osteoarthritis
with a View to Prevention, Arthritis Rheumatology, 41: 1343–1355.

4
Koentjoro, S.L., J. Adji Suroso, J. A. & Suntoko, B., 2010, Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh
(BMI) dengan Derajat Osteoartritis Lutut Menurut Kellgren dan Lawrence, Skripsi,
Universitas Diponegoro, Semarang.
Martin, K.R., Shreffler, J. & Callahan, L.F., 2013, The role of pain intensity and pain limitation
as mediators in the relationship between arthritis status and seven psychosocial health
outcomes. Abstract presented at American College of Rheumatology Annual Scientific
Meeting, San Francisco, October 25-29.
Nainggolan, O., 2009, Prevalensi Dan Determinan Penyakit Rematik Di Indonesia, Puslitbang
Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan RI.
Shu, C.J.Y. & Yea, Y.L., 2003, Influence Of Social Support On Cognitive Function In The
Elderly. Journal BioMed Central Health service research, 3, 9.
Susanti, A.D., 2010, Hubungan Antara Karakteristik Klinis dengan Tingkat Nyeri Penderita
Osteoartritis Nyeri, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis Osteoarthritis
2. Tatalaksana Osteoarthritis

RANGKUMAN PEMBELAJARAN

1. Subjektif :

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada lutut kiri. Pasien di antar keluarganya ke puskesmas
Tanjung Enim. Nyeri lutut dirasakan sejak 8 bulan yang lalu namun semakin memberat 2 hari
sebelum datang ke puskesmas. Nyeri dirasakan pasien di tempat lututnya mengalami
pembengkakan. Nyerinya seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk. Nyeri tersebut juga tidak
menghilang setelah dikompres, nyeri makin memberat saat pasien melipat lututnya dan
menggerakkan kakinya namun sedikit berkurang dengan istirahat.
Bengkak di lutut pasien muncul sejak 2 hari sebelum ke puskesmas. Bengkak diraskan pada
lutut kanan. Bengkak juga tampak di kedua kaki pasien. Pasien mengatakan baru menyadari
munculnya bengkak tersebut. Bengkak tersebut menyebabkan pasien susah menggerakkan kakinya
dan menyebabkan terhambatnya aktivitas sehari-hari.

5
2. Objektif :
Status Generalikus
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : kompos mentis
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Nadi : 80x/menit
Laju pernapasan : 22x/menit
Suhu : 36.30C
Berat Badan : 65 kg
Tinggi Badan : 160 cm
BMI : 25,3
Status Gizi : overweight

Keadaan Spesifik

Kulit
Warna sawo matang, turgor kembali cepat, ikterus pada kulit (-), sianosis (-), scar (-), keringat
umum(-), keringat setempat (-), pucat pada telapak tangan dan kaki (-), pertumbuhan rambut
normal.

KGB
Tidak ada pembesaran KGB pada daerah axilla, leher, inguinal dan submandibula serta tidak
ada nyeri penekanan.

Kepala
Bentuk oval, simetris, ekspresi sakit sedang, dan deformasi (-).

Mata
Eksophtalmus dan endopthalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat (-), sklera
ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya normal, pergerakan mata ke segala arah baik.

6
Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik, tidak ditemukan
penyumbatan maupun perdarahan, pernapasan cuping hidung(-).

Telinga
Tophi (-), nyeri tekan processus mastoideus (-),pendengaran baik.

Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah (-), atrofi papil (-), gusi berdarah (-), stomatitis (-
), rhageden (-), bau pernapasan khas (-), faring tidak ada kelainan.

Leher
Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, JVP (5-2) cmH 2 0, kaku kuduk (-).

Dada dan punggung


Bentuk dada simetris, nyeri tekan (-), nyeri ketok (-).

Paru-paru
I : Statis, dinamis simetris kanan = kiri,
P : Stemfremitus normal.
P : Sonor pada kedua lapangan paru.
A : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus codis tidak teraba, thrill (-)
P : batas jantung sulit dinilai
A: HR = 80x/menit, murmur (-), gallop (-)

7
Perut
I : Datar dan tidak ada pembesaran, venektasi(-)
P : Lemas,nyeri tekan (-), hepar-lien tidak teraba, turgor kulit normal.
P : timpani
A: BU(+) normal

Extremitas atas :
Eutoni, eutrophi, gerakan bebas, kekuatan +5, nyeri sendi (-), edema (-), pigmentasi normal,
acral hangat, jari tabuh (-), turgor kembali cepat, clubbing finger (-).

Extremitas bawah
Eutoni, eutrophi, gerakan lutut kiri terbatas, kekuatan +5, edema pretibial (-/-), pigmentasi
normal, clubbing finger (-), turgor kembali cepat, tofus (-), perabaan hangat pada lutut (+),
kemerahan (+), nyeri tekan sendi lutut kanan (+), krepitasi sendi lutut kanan (+)

Laboraturium
Gula darah sewaktu: 120 mg/dl
Kolesterol: 219 mg/dl
Asam urat: 5,6

- Assessment:

Seorang laki-laki, berumur 56 tahun datang ke Puskesmas Tanjung Enim pada tanggal 09
Januari 2019 pukul 09.00 WIB dengan keluhan utama nyeri pada lutut kiri yang semakin memberat
sejak hari yang lalu.

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada lutut kiri. Pasien di antar keluarganya ke puskesmas
Tanjung Enim. Nyeri lutut dirasakan sejak 8 bulan yang lalu namun semakin memberat 2 hari
sebelum datang ke puskesmas. Nyeri dirasakan pasien di tempat lututnya mengalami
pembengkakan. Nyerinya seperti berdenyut dan ditusuk-tusuk. Nyeri tersebut juga tidak
menghilang setelah dikompres, nyeri makin memberat saat pasien melipat lututnya dan
menggerakkan kakinya namun sedikit berkurang dengan istirahat.

8
Bengkak di lutut pasien muncul sejak 2 hari sebelum ke puskesmas. Bengkak diraskan
pada lutut kanan. Bengkak juga tampak di kedua kaki pasien. Pasien mengatakan baru menyadari
munculnya bengkak tersebut. Bengkak tersebut menyebabkan pasien susah menggerakkan kakinya
dan menyebabkan terhambatnya aktivitas sehari-hari.

Pasien memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi diketahui sejak kisaran 5 tahun yang
lalu teratur minum obat. Riwayat penyakit darah tinggi dan kencing manis di keluarga ada. Dahulu
pasien bekerja sebagai buruh dan memiliki kebiasaan berjalan ke tempat kerja dan mengangkat
barang berat saat bekerja, pasien juga memiliki kebiasaan merokok sehari ± 1 bungkus rokok.
Pada pemeriksaan fisik umum didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg dan BMI = 25,3
(overweight). Pemeriksaan tanda vital lain dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik spesifik
regio genu sinistra didapatkangerakan terbatas, perabaan hangat pada lutut (+),kemerahan (+),
nyeri tekan sendi lutut kanan (+), krepitasi sendi lutut kanan(+). Pemeriksaan radiologi tidak
dilakukan.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik maka diagnosis mengarah ke penyakit yang
mengenai sendi yaitu osteoarthritis, gout arthritis dan reumatoid arthritis, pada pasien ini diagnosis
lebih mengarah ke osteoarthritis. Kriteria menurut American College of Rheumatologydibutuhkan 3
dari 6 kriteria untuk dapat ditegakan bahwa seseorang menderita osteoarthritis. Pada anamnesis
didapatkan berumur > 50 tahun, nyeri sendi lutut kiri dan kaku lutut pada pagi hari kurang dari 30
menit dan pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan dan krepitasi sendi lutut kiri, sehingga
terdapat 5 dari 6 kriteria maka dapat ditegakan bahwa psaien menderita osteoarthritis. Selain itu hal
yang mendukung diagnosis adalah faktor resiko yang ada pada pasien yaitu status gizi overweight,
mempunyai riwayat pekerjaan membawa barang berat dan kebiasaan berjalan ke tempat kerja.

3. Plan:
Diagnosis: Osteoarthritis

Penatalaksanaan :

Umum

 Edukasi tentang penyakit osteoarthritis agar pasien memahami tentang penyakit yang
dideritanya, bagaimana agar penyakitnya tidak bertambah semakin parah, dan agar

9
persendiaanya tetap terpakai

 Terapi fisik atau rehabilitasi dilakukan untuk melatih pasien agar persendianya tetap dapat
dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit.

 Berat badan harus dapat dijaga agar tidak berlebih dan diupayakan untuk melakukan penurunan
berat badan.

Terapi farmakologis

 Parasetamol tab 3 x 500 mg PO

 Glukosamin tab 3 x 500 mg PO

Terapi pembedahan

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan
juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas
sehari – hari.

PROGNOSIS

Quo ad vitam : bonam

Quo ad fungtionam : dubia ad bonam

10
OSTEOARTHRITIS

A. Pendahuluan
Osteoartritis berasal dari bahasa Yunani yaitu osteo yang berarti tulang,
arthro yang berarti sendi, dan itis yang berarti inflamasi meskipun sebenarnya
penderita osteoartritis tidak mengalami inflamasi atau hanya mengalami inflamasi
ringan (Koentjoro, 2010). Osteoarthritis ialah suatu penyakit sendi menahun yang
ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di
dekatnya. Tulang rawan (kartilago) adalah bagian dari sendi yang melapisi ujung
dari tulang, untuk memudahkan pergerakan dari sendi. Kelainan pada kartilago
akan berakibat tulang bergesekan satu sama lain, sehingga timbul gejala
kekakuan, nyeri dan pembatasan gerakan pada sendi (Nainggolan, 2009).

American College of Rheumatology (2011) mengartikan osteoarthritis


sebagai sekelompok kondisi heterogen yang mengarah kepada tanda dan gejala
sendi. Penyakit ini ditandai oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya
pembentukan tulang baru yang irreguler pada permukaan persendian. Nyeri
merupakan gejala khas pada sendi yang mengalami osteoarthritis. Rasa nyeri
semakin berat bila melakukan aktivitas dengan penggunaan sendi dan rasa nyeri
diakibatkan setelah melakukan aktivitas dengan penggunaan sendi dan rasa nyeri
semakin ringan dengan istirahat (Susanti, 2010).

Kejadian osteoarthritis banyak pada orang yang berusia di atas 45 tahun.


Laki-laki di bawah umur 55 tahun lebih sering menderita penyakit ini
dibandingkan dengan wanita pada umur yang sama. Namun, setelah umur 55
tahun prevalensi osteoarthritis lebih banyak wanita dibandingkan pria. Hal ini
diduga karena bentuk pinggul wanita yang lebar dapat menyebabkan tekanan yang
menahun pada sendi lutut. Osteoartritis juga sering ditemukan pada orang yang
kelebihan berat badan dan mereka yang pekerjaanya mengakibatkan tekanan yang
berlebihan pada sendi-sendi tubuh (Nainggolan, 2009).

11
B. Epidemiologi

Osteoartritis merupakan penyakit sendi pada orang dewasa yang paling


umum di dunia. Felson (2008) melaporkan bahwa satu dari tiga orang dewasa
memiliki tanda-tanda radiologis terhadap OA. OA pada lutut merupakan tipe OA
yang paling umum dijumpai pada orang dewasa. Penelitian epidemiologi dari
Joern et al (2010) menemukan bahwa orang dewasa dengan kelompok umur 60-
64 tahun sebanyak 22% . Pada pria dengan kelompok umur yang sama, dijumpai
23% menderita OA. pada lutut kanan, sementara 16,3% sisanya didapati
menderita OA pada lutut kiri. Berbeda halnya pada wanita yang terdistribusi
merata, dengan insiden OA pada lutut kanan sebanyak 24,2% dan pada lutut kiri
sebanyak 24,7.

C. Faktor Resiko
Faktor-faktor yang telah diteliti sebagai faktor risiko osteoarthritis lutut
antara lain usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin perempuan, ras/etnis, genetik,
kebiasaan merokok, konsumsi vitamin D, obesitas, osteoporosis, diabetes melitus,
hipertensi, hiperurisemi, histerektomi, menisektomi, riwayat trauma lutut,
kelainan anatomis, kebiasaan bekerja dengan beban berat, aktivitas fisik berat dan
kebiasaan olah raga. Terjadi peningkatan dari angka kejadianosteoarthritis selama
atau segera setelah menopause karena faktor hormon seks (Shu, 2003).

Menurut Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal yang disusun oleh Helmi


tahun 2012, terdapat beberapa faktor resiko yang terdiri dari :

1) Peningkatan usia.

Osteoarthritis biasanya terjadi pada usia lanjut, jarang dijumpai penderita


osteoarthritis yang berusia di bawah 40 tahun. Usia rata−rata laki yang mendapat
osteoartritis sendi lutut yaitu pada umur 59 tahun dengan puncaknya pada usia 55
- 64 tahun, sedang wanita 65,3 tahun dengan puncaknya pada usia 65 – 74 tahun.
Presentase pasien dengan osteoarthritis berdasarkan usia di RSU dr. Soedarso

12
menunjukan bahwa pada usia 43-48 tahun (13,30%), usia 49- 54 tahun (16,06%),
dan usia 55- 60 tahun meningkat (27,98%) (Arissa, 2012).

2) Obesitas.

Membawa beban lebih berat akan membuat sendi sambungan tulang


bekerja dengan lebih berat, diduga memberi andil pada terjadinya osteoarthritis.
Setiap kilogram penambahan berat badan atau masa tubuh dapat meningkatkan
beban tekan lutut sekitar 4 kilogram. Dan terbukti bahwa penurunan berat badan
dapat mengurangi resiko terjadinya osteoarthritis atau memperparah keadaan
steoarthritis lutut (Nainggolan, 2009).

3) Jenis kelamin wanita.

Angka kejadian osteoartritis berdasarkan jenis kelamin didapatkan lebih


tinggi pada perempuan dengan nilai persentase 68,67% yaitu sebanyak 149 pasien
dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki nilai persentase sebesar 31,33%
yaitu sebanyak 68 pasien (Arissa, 2012).

4) Riwayat trauma.

Cedera sendi, terutama pada sendi – sendi penumpu berat tubuh seperti
sendi pada lutut berkaitan dengan risiko osteoartritis yang lebih tinggi. Trauma
lutut yang akut termasuk robekan terhadap ligamentum krusiatum dan meniskus
merupakan faktor timbulnya osteoartritis lutut.

5) Riwayat cedera sendi.

Pada cedera sendi berat dari beban benturan yang berulang dapat menjadi
faktor penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi
osteoarthritis dan berkaitan pula dengan perkembangan dan beratnya osteoarthritis
(Shu,2003)

6) Faktor genetik.

Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis, adanya mutasi


dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang

13
rawan sendi seperti kolagen dan proteoglikan berperan dalam timbulnya
kecenderungan familial pada osteoartritis.

7) Kelainan pertumbuhan tulang

Pada kelainan kongenital atau pertumbuhan tulang paha seperti penyakit


perthes dan dislokasi kongenital tulang paha dikaitkan dengan timbulnya
osteoarthrtitis paha pada usia muda (Shu, 2003)

8) Pekerjaan dengan beban berat.

Bekerja dengan beban rata-rata 24,2 kg, lama kerja lebih dari 10 tahun dan
kondisi geografis berbukit-bukit merupakan faktor resiko dari osteoarthritis lutut
(Maharani, 2007). Dan orang yang mengangkat berat beban 25 kg pada usia 43
tahun, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya osteoarthritis dan akan
meningkat tajam pada usia setelah 50 tahun (Martin, 2013).

9) Tingginya kepadatan tulang

Tingginya kepadatan tulang merupakan salah satu faktor yang dapat


meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis, hal ini mungkin terjadi akibat
tulang yang lebih padat atau keras tak membantu mengurangi benturan beban
yang diterima oleh tulang rawan sendi (Nainggolan, 2009).

10) Gangguan metabolik menyebabkan kegemukan.

Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik


pada sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan osteoartritis lutut.
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang
menanggung beban, tetapi juga dengan osteoartritis sendi lain, diduga terdapat
faktor lain (metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain
penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan hipertensi (Susanti, 2010).

D. Klasifikasi
Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan gejala
klinik dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan, oleh karena

14
tidak semua pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis mempunyai
keluhan pada sendi. Terdapat 4 kelainan radiografi utama pada osteoarthritis,
yaitu: penyempitan rongga sendi, pengerasan tulang bawah rawan sendi,
pembentukan kista di bawah rawan sendi dan pembentukan osteofit.S

Sendi yang dapat terkena osteoarthritis antara lain:

1. Osteoarthritis sendi lutut.

2. Osteoarthritis sendi panggul.

3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.

4. Osteoarthritis sendi bahu.

5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.

6. Osteoarthritis tulang belakang

Pembagian osteoarthritis berdasarkan patogenesisnya dibagi menjadi


osteoarthritis primer yang disebut juga osteoarthritis idiopatik adalah osteoarthritis
yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit
sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. Sedangkan osteoarthritis
sekunder adalah osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan endokrin,
inflamasi, metabolik, pertumbuhan dan imobilisasi yang lama. osteoarthritis
primer lebih sering ditemukan dari pada osteoarthritis sekunder (Arissa, 2012).

E. Patofisiologi

Rawan sendi dibentuk oleh sel tulang rawan sendi (kondrosit) dan matriks
rawan sendi. Kondrosit berfungsi mensintesis dan memelihara matriks tulang
rawan sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik. Matriks
rawan sendi terutama terdiri dari air, proteoglikan dan kolagen. Perkembangan
perjalanan penyakit osteoarthritis dibagi menjadi 3 fase, yaitu sebagai berikut :

1) Fase 1

15
Terjadinya penguraian proteolitik pada matriks kartilago. Metabolisme
kondrosit menjadi terpengaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti
metalloproteinases yang kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit juga
memproduksi penghambat protease yang mempengaruhi proteolitik. Kondisi ini
memberikan manifestasi pada penipisan kartilago.

2) Fase 2

Pada fase ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai
adanya pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.

3) Fase 3

Proses penguraian dari produk kartilago yang menginduksi respons


inflamasi pada sinovia. Produksi magrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL-1),
tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan metalloproteinase menjadi meningkat.
Kondisi ini memberikan manifestasi balik pada kartilago dan secara langsung
memberikan dampak adanya destruksi pada kartilago. Molekul-molekul pro-
inflamasi lainnya seperti nitric oxide (NO) juga ikut terlibat. Kondisi ini
memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi dan memberikan dampak

16
terhadap pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi
dan stress inflamasi memberikan pengaruh pada permukaan artikular menjadi
kondisi gangguan yang progresif.

F. Manifestasi Klinik

Menurut Australian Physiotherapy Association (APA) (2003) dalam


Nainggolan (2009)penyakit osteoarthritis mempunyai gejala-gejala yang biasanya
menyulitkan bagi kehidupan penderitanya. Adapun gejala tersebut antara lain:

1)Nyeri sendi (recurring pain or tenderness in joint)

Keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang sering-kali


membawapenderita ke dokter, walaupun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku
danberubah bentuknya. Biasanya nyeri sendi bertambah dikarenakan gerakan dan
sedikit berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal lutut digerakkan ke
tengah) menimbulkan rasa nyeri. Nyeri pada osteoarthritis dapat menjalar
kebagian lain, misal osteoarthritis pinggang menimbulkan nyeri betis yang disebut
sebagai “claudicatio intermitten”. Korelasi antara nyeri dan tingkat perubahan
struktur pada osteoarthritis sering ditemukan pada panggul, lutut dan jarang pada
tangan dan sendi apofise spinalis.

2) Kekakuan (stiffness)

Pada beberapa penderita, kaku sendi dapat timbul setelah duduk lama di
kursi, di mobil, bahkan setelah bangun tidur. Kebanyakan penderita mengeluh
kaku setelah berdiam pada posisi tertentu. Kaku biasanya kurang dari 30 menit.

3) Hambatan gerakan sendi (inability to move a joint)

Kelainan ini biasanya ditemukan pada osteoarthritis sedang sampai berat.


Hambatan gerak ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok,
perubahan bentuk. Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari
kursi, bangun dari tempat berbaring, menulis atau berjalan. Semua gangguan
aktivitas tergantung pada lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.

17
4) Bunyi gemeretak (krepitasi)

Sendinya terdengar berbunyi saat bergerak. Suaranya lebih kasar


dibandingkan dengan artritis reumatoid dimana gemeretaknya lebih halus.
Gemeretak yang jelas terdengar dan kasar merupakan tanda yang signifikan.

5) Pembengkakan sendi (swelling in a joint)

Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh radang sendi dan


bertambahnya cairan sendi atau keduanya.

6) Perubahan cara berjalan atau hambatan gerak

Hambatan gerak atau perubahan cara berjalan akan berkembang sesuai


dengan beratnya penyakit. Perubahan yang terjadi dapat konsentris atau seluruh
arah gerakan maupun eksentris atau salah satu gerakan saja (Sudoyono, 2009).

7) Kemerahan pada daerah sendi (obvious redness or heat in a joint)

Kemerahan pada sendi merupakan salah satu tanda peradangan sendi. Hal
ini mungkin dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis, dan biasanya
tanda kemerahan ini tidak menonjol dan timbul belakangan (Sudoyono, 2009)

G. Diagnosis Banding

REUMATOID GOUT
OSTEOARTHRITIS
ARTHRITIS ARTHRITIS
Metabolik:
penimbunan
Inflamasi Faktor genetik kristal
ETIOLOGI
Idiopatik Autoimun monosodium
urat
monohidrat
Gejala cenderung
Gejala cenderung pada
di pagi hari, kaku Onset nyeri
malam hari, kaku di
GEJALA di pagi hari persendian
pagi hari berlangsung <
berlangsung > 60 sewaktu-waktu
30 menit
menit
Sendi penyangga berat Sendi-sendi Cenderung
PREDILEKSI tubuh: coxae, genu, kecil: PIP, MCP, sendi bagian
vertebre pergelangan siku, proximal: MTP

18
pergelangan 1, olecranon,
kaki, dll tendon achiles
dan jari-jari
tangan
Simetris,
SIMETRISITAS Asimetris Asimetris
bilateral
 Celah
sendi: baik
hingga
menyempit
 Celah sendi:  Erosi: erosi
 Celah sendi: menyempit pada pinggir
menyempit  Erosi: erosif tulang “over
GAMBARAN  Erosi: tidak ada sekitar sendi hanging lip”
RADIOLOGI  Kista: ada  Kista: ada punched out
 Osteofit: ada pada (pseudocyst) dengan
pinggir sendi  Osteofit: garis
tidak ada sklerotik
 Kista: tidak
ada
 Osteofit:
tidak ada

H. Diagnostis
Susanti(2010) menyatakan bahwa kriteria diagnosis untuk osteoarthritis
lutut, koksa dan tangan digunakan kriteria menurut American College of
Rheumatology, yaitu :

19
Diagnosis osteoarthritis selain berdasarkan gejala klinis juga didasarkan
pada hasil radiologi. Namun pada awal penyakit, radiografi sendi seringkali masih
normal.

Pemeriksaan Radiologik

Pada penderita OA, dilakukannya pemeriksaan radiografi pada sendi yang


terkena sudah cukup untuk memberikan suatu gambaran diagnostik (Soeroso,
2006). Gambaran Radiografi sendi yang menyokong diagnosis OA adalah :

a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian
yang menanggung beban seperti lutut).

b. Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).

c. Kista pada tulang

20
d. Osteofit pada pinggir sendi

e. Perubahan struktur anatomi sendi.

Berdasarkan temuan-temuan radiografis diatas, maka OA dapat diberikan


suatu derajat. Kriteria OA berdasarkan temuan radiografis dikenal sebagai kriteria
Kellgren dan Lawrence yang membagi OA dimulai dari tingkat ringan hingga
tingkat berat. Perlu diingat bahwa pada awal penyakit, gambaran radiografis sendi
masih terlihat normal (Felson, 2006).

Pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna.


Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas – batas normal. Pemeriksaan imunologi
masih dalam batas – batas normal. Pada OA yang disertai peradangan sendi dapat
dijumpai peningkatan ringan sel peradangan (< 8000 / m) dan peningkatan nilai
protein (Susanti, 2010).

I. Penatalaksanaan
Pengeloaan OA berdasarkan atas sendi yang terkena dan berat ringannya
OA yang diderita (Soeroso, 2006). Penatalaksanaan OA terbagi atas 3 hal, yaitu :

1. Terapi non-farmakologis

a. Edukasi

Edukasi atau penjelasan kepada pasien perlu dilakukan agar pasien dapat
mengetahui serta memahami tentang penyakit yang dideritanya, bagaimana agar
penyakitnya tidak bertambah semakin parah, dan agar persendiaanya tetap
terpakai

b. Terapi fisik atau rehabilitasi

Pasien dapat mengalami kesulitan berjalan akibat rasa sakit. Terapi ini
dilakukan untuk melatih pasien agar persendianya tetap dapat dipakai dan melatih
pasien untuk melindungi sendi yang sakit.

21
c. Penurunan berat badan

Berat badan yang berlebih merupakan faktor yang memperberat OA. Oleh
karena itu, berat badan harus dapat dijaga agar tidak berlebih dan diupayakan
untuk melakukan penurunan berat badan apabila berat badan berlebih

2. Terapi farmakologis

Penanganan terapi farmakologi melingkupi penurunan rasa nyeri yang


timbul, mengoreksi gangguan yang timbul dan mengidentifikasi manifestasi-
manifestasi klinis dari ketidakstabilan sendi (Felson, 2006).

a. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (AINS), Inhibitor Siklooksigenase-2 (COX-2),


dan Asetaminofen

Untuk mengobati rasa nyeri yang timbul pada OA lutut, penggunaan obat
AINS (Ibuprofen, Meloxicam, Piroksikam, Na Diclofenak) dan Inhibitor COX-2
(Celecoxib, Refecoxib, Valdecoxib, Parecxib) dinilai lebih efektif daripada
penggunaan asetaminofen. Namun karena risiko toksisitas obat AINS lebih tinggi
daripada asetaminofen, asetaminofen tetap menjadi obat pilihan pertama dalam
penanganan rasa nyeri pada OA. Cara lain untuk mengurangi dampak toksisitas
dari obat AINS adalah dengan cara mengombinasikannnya dengan menggunakan
inhibitor COX-2, namun dalam penggunaannya inhibitor COX-2 menimbulkan
resiko pada sistem kardiovaskular sehingga kebanyakan ditarik dari pasaran.

Kontraindikasi penggunaan asetaminofen adalah bila seseorang memiliki


hipersensitivitas terhadap asetaminofen, penyakit G6PD dan gangguan fungsi hati.
Kontraindikasi penggunaan ibuprofen adalahPenderita yang hipersensitif terhadap
asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan
menyusui, serta anak dibawah usia 14 tahun. Penderita dengan syndroma nasal
polyps, angioderma dan reaksi bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau
antiinflamasi non steroid yang lain.

22
b. Chondroprotective Agent

Chondroprotective Agent adalah obat – obatan yang dapat menjaga atau


merangsang perbaikan dari kartilago pada pasien OA. Obat – obatan yang
termasuk dalam kelompok obat ini adalah : tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin
sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, dan sebagainya ( Felson, 2006 ).

3. Terapi pembedahan

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk


mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi
deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari – hari.

J. Osteoarthritis dan Berat Badan

Berat badan sering dihubungkan dengan berbagai macam penyakit,


termasuk OA. Berat badan yang berlebih ternyata berkaitan dengan meningkatnya
risiko seseorang menderita OA pada kemudian hari, baik wanita maupun pria
(Soeroso, 2006). Menurut penelitian dari Grotle (2008), selain umur, berat badan
yang berlebih terutama obesitas turut berperan dalam patogenesis dan
patofisiologi dari OA, lutut terutama dalam perkembangan penyakit ke derajat
yang lebih tinggi. Peran faktor metabolik dan hormonal pada kaitannya antara OA
dan obesitas juga disokong dengan adanya kaitan antara OA dengan penyakit
jantung koroner, diabetes mellitus dan hipertensi (Soeroso, 2006).

Untuk mendeteksi kelebihan berat badan yang diderita seseorang, ada dua
cara sederhana yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengukur Indeks Massa
Tubuh (BMI) (WHO, 2005) dan mengukur Waist-hip ratio (Vasquez, 2007). BMI
dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

23
Setelah nilai didapat, maka bandingkan nilai tersebut dengan tabel
klasifikasi BMI di berikut ini :

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dan orang gemuk


cenderung lebih sering mengeluh tentang besarnya rasa nyeri yang dialami pada
lutut mereka dibandingkan dengan orang lain yang kurang gemuk (Soeroso,
2006). Berdasarkan penelitian lain yang dilakukan Thumboo (2002) didapati
bahwa pasien OA lutut dengan obesitas mengalami peningkatan rasa nyeri pada
daerah persendian lutut dibandingkan dengan pasien yang kurang obesitas.
Berdasarkan dua hal tersebut dapat dikatakan bahwa obesitas merupakan salah
satu faktor yang meningkatkan intensitas rasa nyeri yang dirasakan pada lutut
pasien OA.

24