Anda di halaman 1dari 65

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

“S” DENGAN TUMOR


SINONASAL (TUMOR HIDUNG) DI RUANG
KEMUNING 2 RSUP. HASAN SADIKIN
BANDUNG

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Tugas akhir program studi D3-Keperawatan

Oleh:
Tazkiyatun Nafs Azzahra
NIM: 1820161118
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
PROGRAM STUDI D-3 KEPERAWATAN
TAHUN 2019
HALAMAN PERSETUJUAN

Karya Tulis ilmiah (KTI) dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.
S DENGAN TUMOR SINONASAL DI RUANG KEMUNING II RSUP dr.
HASAN SADIKIN BANDUNG’’ telah di setujui dan di priksa oleh pembimbing
Karya Tulis Ilmiah (KTI) Universirtas Muhammadiyah kudus Indonesia.

Nama : Tazkiyatun Nafs azzahra

NIM : 1820161118

Hari :

Tanggal :

Kudus, 2019

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Dewi Hartinah, S.Kep.,Ners.,M.S.,Med Indanah, M.Kep.,Ns.Sp.Kep.An


NIDN : 0605127801 NIDN: 0022037501

Mengetahui
Universitas Muhammadiyah Kudus

Rektor
Rusnoto, SKM ,M.Kes (Epid)
NIDN.0621087401

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis ilmiah (KTI) dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.
S DENGAN TUMOR SINONASAL DI RUANG KEMUNING II RSUP dr.
HASAN SADIKIN BANDUNG’’ di pertahankan di tim penguji Karya Tulis
Ilmiah (KTI) Universitas Muhammadiyah Kudus.

Hari :

Tanggal :

Tim penguji :
Penguji I

Dewi Hartinah, S.Kep.,Ners.,M.S.,Med


NIDN : 0605127801

Penguji II

Anny Rosiana M,.Kep.,NS.,Sp.Kep.J


NIDN: 0616087801

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyeleaikan Karya
Tulis Ilmiyah ini Sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan
ahli madya keperawatan dengan ‘’ ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny “S”
DENGAN (TUMOR HIDUNG) DI RUANG KEMUNING 2 RSUP Dr. HASAN
SADIKIN BANDUNG” Dalam penyususnan Karya Tulis Ilmiyah ini banyak
mendapatkan bantuan dan Bimbingan dari berbagai pihak sehingga Proposal ini
dapat terwujud dalam bentuk sekarang ini. Pada kesempatan ini penulis penulis
ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi -
tingginya kepada yang terhormat :

1) Rusnoto, SKM., M.Kes(Epid), selaku Rektor Unniversitas muhammadiyah


kudus yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah ini.
2) Dewi Hartinah. S.kep,Ners.,M.Si.Med selaku pembimbing utama yang telah
memberikan bimbingan dan petunjuk dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
3) Indanah, M. Kep.,Ns.Sp.Kep.An selaku pembingbing II yang telah
memberikan bimbingan dan petunjuk dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
4) Keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis.
5) Teman – teman sejawat yang telah memberikan bantuan dan spirit guna
terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini.
6) Semua pihak yang telah membantu tersusunnya Karya Tulis Ilmiah.

Semoga semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan


ridho dan balasan dari Allah Swt penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya
Tulis Ilmiah itu masih jauh dari sempurna, Maka dengan senang hati penulis

iv
mengharapakan kritikan dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya
Karya Tulis Ilmiah ini dan Harapan penulis semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca semuanya.

Kudus, 2019

Penulis

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Tazkiyatun Nafs Azzahra

Tempat/tanggal lahir : Jepara, 02 agustus 1999

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Surodadi Kedung jepara, Rt: 04 Rw: 01

Email : tazkiazzahra602@gmail.com

Riwayat Pendidikan :

1. Mi Al-Fauziyah surodadi : Lulus Tahun 2010


2. Mts Mafatihut Thullab Annawawi : Lulus Tahun 2013
3. Ma Mafatihut Thullab Annawawi : Lulus Tahun 2016
4. Universitas Muhammadiyah Kudus :Sejak 2016 Sampai Sekarang

Judul Karya Tulis Ilmiah : ASUHAN KEPERAWATAN


PADA. Ny. S DENGAN PENYAKIT TUMOR SINONASAL DI RUANG
KEMUNING KEMUNING II RSUP dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

vi
MOTTO

 Apapun kesulitan hadapilah dengan tabah. Orang yang penakut, takut


menghadapi kenyataan , atau takut menghadapi apa yang harus dilakuknya
, tidak akan pernah berhasil, karena ia tidak akan pernah memulai sesuatu
untuk menjadikan motivasi hidup selalu berfikir positipf dan yakin dalam
menjalaninya;
 Jangan pernah menyerah sebelum berusaha , jangan bilang tidak bisa, jika
belum dilakukan.
 Kejadian dan kegagalan dimasa lalu jaangan disesali tapi jadikan sebagai
cambuk untuk masa yang akan datang;
 Karena kesukseskaan tak hanya dilihat dari hasil yang dicapai melainkan
juga dari usah dan doa yang optimal;
 Janganlah larut dalam kesedihan bahwa ada hari esok yang menyonsong
sejuta kebahagian ;
 Waktu adalah masa dimana kita mampu untuk memilih tetap maju atau
diam meratapi;
 Pengalaman adalah kenyataan yang mampu membuat kita untuk tetap
belajar memperbaiki kesalahn sebelumnya;

vii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah dan teriring penuh syukur atas segala
nikmat dan karunia-Mu. Aku mau mengukir diatas tinta hitam dengan penuh
perjuangan yang telah aku tempuh. Untaian kata demi kata yang telah tertata
semata karena kebesaran-Mu, ijinkan aku mempersembahkan untuk mereka :
1. Untuk orangtuaku Umi dan Aba yang sangat kucintai dan aku sayangi
yang selama ini yang telah memberikan doa, restu dan kasih sayangnya
yang tiada henti, serta memberikan dukungan moril serta materiiil
sehingga saya dapat menyelesaikan perkuliahan dan penyusunan karya
tulis ilmiah ini dengan lancar sampai selesai;
2. Rusnoto,SKM.,M.Kes(Epid) selaku Ketua Univesitas Muhammadiyah
Kudus Indonesia.
3. Dewi Hartinah S.Kep.,Ners.,M.S.,Med dan Indanah, M.
Kep.,Ns.Sp.Kep.An yang telah dengan sabar membimbing saya sehingga
saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini .
4. Seluruh dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Kudus
Indonesia.
5. Untuk teman - teman D3 keperawatan 3A yang selama ini sudah
menjadikan acuan motivasi semangat dalam perkuliahan;
6. Untuk adikku tersayang terimaksih mengajarkanku untuk menjadi kakak
yang lebih sabar dan lebih baik dan terimaksih kadang di bantuin
7. Untuk teman –teman tercinta yang di rumah terimakasih sudah
memberikan motivasi kepada saya;
8. Untuk sahabat-sahabtku Cika, Eva yang selalu memberi dukungan dan
memberikan semngat untuk saya.;
9. Untuk teman- teman Terkocak di kos ku Evi, Ayu terimakasih atas
motivasinya dan memberikan semangat .
10. Teman-teman seperjuangan saya yang selalu berangkat bersama untuk
konsul.
11. Rekan-rekan mahasiswa Prodi DIII Keperawatan yang bersama-sama
saling memotivasi untuk keberhasilan kita.

viii
12. Semua pihak yang telah meembantu terselesaikannya Evaluasi
Dokumentasi Keperawatan ini. Semoga Tuhan memberikan rahmatnya
atas peran serta dalam penulisan karya tulis ilmiah

ix
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S DENGAN
TUMOR SINONASAL DI RUANG
KEMUNING 2 RSUP. HASAN SADIKIN BANDUNG

Tazkiyatun Nafs Azzahra1 , Dewi Hartinah2 , Indanah3

ABSTRAK
Latar belakang : Keganasan tumor hidung dan sinus paranasal (sinonasal) merupakan
tumor yang jarang di temukan, merupakan 1% dari seluruh tumor ganas di tubuh 3% dari
keganasan di kepala dan leher. Pasien dengan tumor sinonasal biasanya datang pada
stadium yang sudah lanjut, dan umumnya sudah meluas kejaringan sekitarnya. Etiologi
tumor ganas hidung belum di ketahui. Pada tahun 2015 di RSUP Dr. Hasan sadikin
Bandung di dapatkan kasus tumor sinonasal sebayak 94 orang dari 3000 pasien.
Tujuan : Dapat memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada klien Tumor
sinonasal Metode : Metode yang digunakan penulis adalah metode Deskriptif, yaitu data
diperoleh dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan study
kepustakaan. Hasil : Di dapatkan 3 diagnosa keperawatan pada klien yaitu (1) Ansietas
berhubungan dengan perubahan status kesehatan (2) nyeri berhubungan dengan penekanan
masa (3) kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
berhubungan dengan kuranya informasi pasien Nyeri Karena adanya benjolan di bagian
hidung dan bawah mata kiri E: 4 M: 5, V:6 TD : 110/80 mmHg, S: 36.0 C, N: 80x/menit
Kesimpulan : setelah di lakukan pengkajian pada Ny. S secara menyeluruh pada pasien
tumor sinonasal serta menerpkan teri medis keperawatan tidak ada kesenjangan antara teori
dan praktik

Kata kunci: Asuhan keperawatan, tumor sinonasal, penatalaksanaan tumor


sinonasal

1
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kudus
2
Pembimbing Utama Universitas Muhammadiyah Kudus
3
Pembimbing Kedua Universitas Muhammadiyah Kudus

x
NURSING CARE IN TN. S WITH
SINONASAL TUMORS IN THE ROOM
KEMUNING 2 RSUP. HASAN SADIKIN BANDUNG

Tazkiyatun Nafs Azzahra1, Dewi Hartinah2, Indanah3

ABSTRACT
Background: Malignancy of nasal tumors and paranasal sinuses (sinonasal) is a rare
tumor, representing 1% of all malignant tumors in the body 3% of malignancies in the
head and neck. Patients with sinonasal tumors usually come at an advanced stage,
and generally the surrounding tissue extends. The etiology of a malignant nasal tumor
is unknown. In 2014 at Dr. RSUP Hasan Sadikin Bandung in getting cases of
sinonasal tumors as many as 94 people from 3000 patients.
Objective: Can provide comprehensive nursing care to clients of Sinonasal Tumors
Method: The method used by the writer is Descriptive method, namely data obtained
by means of interviews, observation, physical examination, documentation, and
literature study. Results:
Results: Get 3 nursing diagnoses on clients, namely (1) Anxiety related to changes in
health status (2) pain associated with suppression of the period (3) lack of knowledge
about the disease process, diet, treatment and treatment related to the patient's pain
information due to lumps in the nose and under the left eye E: 4 M: 5, V: 6 TD: 110/80
mmHg, S: 36.0 C, N: 80x / minute
Conclusion: after doing an assessment on Ny. S as a whole in sinonasal tumor
patients and applying the medical field of nursing there is no gap between theory and
practice

Keywords: Nursing care, sinonasal tumor, management of sinonasal tumor

xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sinus paranasal (sinonasal) merupakan tumor yang jarang di temukan,
hanya mencankup 1% dari seluruh tumor ganas pada tubuh dan 3% dari
keganasan tumor di kepala dan leher. Pasien dengan tumor sinonasal biasanya
datang dengan stadium yang sudah lanjut dan umumnya sudah meluas ke
jaringan sekitarnya. Sinus paranasal merupakan rongga yang tersembunyi
dalam tulang, yang tidak akan dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik dan
sering asimptomatik pada stadium dini (Rahman & Firdaus, 2012)
Di seluruh dunia di laporkan hanya baru sekitar 30 pasien yang terkena
tumor hidung,. Dari 30 pasien yang di laporkan di dapatkan 9 dari 18 anak
dari 6 dari 12 dewasa adalah wanita. Berdasarkan catatan WHO, Tumor ini
terjadi pada 20-30 kasus per populasi 100 ribu pria dan 8-15 kasus per
populasi 100 ribu wanita di China dan Asia Tenggara. (kurniawan, 2019)
Di Amerika Serikat Tumor sinonasal jarang terjadi. Setiap tahun,
sekitar 2.000 orang didiagnosis menderita rongga hidung atau kanker sinus
paranasal di Amerika dan Eropa, kanker ini hanya terjadi sebanyak 1 kasus dari
populasi 100 ribu jiwa. Kanker rongga hidung atau sinus paranasal lebih sering
terjadi ketika orang bertambah tua. Sekitar 4 dari 5 orang yang didiagnosis
dengan rongga hidung atau kanker sinus paranasal berusia setidaknya 55
tahun. Orang-orang di wilayah lain di dunia, termasuk Afrika Selatan dan
Jepang, lebih mungkin berkembang tentang penyakit ini. (Cancer.net, 2019)
Di Indonesia didapatkan data dari Departemen Ilmu Penyakit THT-
FKUI/RSCM menunjukan kanker sinonasal berada pada peringkat
kedua, setelah dari kanker nasofaring. Diagnosis sering terlambat
diakibatkan oleh karena tanda dan gejala dari tumor ini tidak khas dan hanya
tampak seperti gejala inflamasi hidung lainnya, seperti rasa tersumbat.
(Krisnarenda & saputra, 2018)

1
Sedangkan di RSUP Hasan Sadikin Bandung mempunyai angka
kejadian banyak. Pada tahun 2014 di RSUP Dr. Hasan Ssdikin Bandung di
dapatkan jumlah kasus tumor sinonasal sebanyak 94 orang dari 3000 pasien (
Poliklinik THT-KL RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung) Penyebab pasti belum
di ketahui namun kontak dengan debu kayu di ketahui merupakan factor
resiko utama yang berhubungan dengan keganasan tumor hidung. Munculnya
keganasan biasanya sekitar 40 tahun setelah kontak pertama. Peningkatan
resiko keganasan ini juga di dapatkan pada pekerja pemurnian nikel dan
pabrik pigmen Kroak. Di samping itu di laporkan bahwa kontak dengan asap
rokok juga meningkatkan timbulnya tumor hidung (sinonasal). Beberapa
Penelitian epidemiologi menunjukan adanya hubungan antara tingginya
insiden ini dengan terpapar bahan bahan kimia dan serbuk kayu (Sukri, 2012)
Sinus paranasal atau di sebut juga tumor sinonasal merupakan rongga
yang di batasi oleh tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang
terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit di ketahui secara
dini. Asal tumor primer juga sulit di tentukan, apakah dari hidung atau sinus
karena biasanya pasien berobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor
sudah memenuhi rongga hidung dan seluruh sinus. (Yale, 2013)
Tumor ini berasal dari dalam rongga atau sinus paransal di sekitar
hidung. Tumor sinonasal terbagi atas tumor jinak dan tumor ganas. Tumor
Sinonasal adalah penyakit usia tua yang dikenal manusia sejak zaman Mesir
kuno. Tumor ini cenderung tumbuh secara lambat dan dapat timbul dari salah
satu daerah di dalam hidung atau sinus, termasuk lapisan pembuluh darah,
saraf, tulang, dan tulang rawan. (Rangkuti, 2013)
Dalam pelaksanaan pada penderita tumor sinonasal, terapi merupakan
kombinasi oprasi, radioterapi (sesudah atau sebelum oprasi) Setelah oprasi di
perlukan rekontruksi dengan protase bedah plastic dan rehabilitasi. Penyakit
tumor sinonasal merupakan penyakit yang memerlukan perawatan dan
penanganan seumur hidup.Fenomena yang terjadi banyak klien yang keluar
masuk Rumah Sakit untuk melakukan pengobatan. Oleh karena itu peran

2
perawat sangat penting dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien
Tumor sinonasal, serta diharapakan tidak hanya terhadap keadaan fisik klien
tetapi juga psikologis klien.
Berdasarkan pengamatan yang di lakukan selama 1 minggu pada saat
praktik klinik dari tanggal 29 oktober 2018 sampai tanggal 24 november 2018
di RSUP Dr. Hasan sadikin bandung maka kita sebagai seorang tenaga medis
kesehatan berperan untuk mengatasi masalah yang dihadapi pasien dengan
memberikan asuhan keperawatan, bila terjadi hal-hal yang dapat
menimbulkan masalah lain maka dapat ditangani dengan benar.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk mendapatkan
gambaran jelas tentang “Asuhan Keperawatan pada Pasien Ny. S dengan
Tumor sinonasal dari RSUP Hasan Sadikin Bandung“.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini (KTI) ini sebagai
berikut :
1. Tujuan Umum
Tujuan KTI ini di buat agar dapat melakukan asuhan keperawatan Pada
Ny. S Dengan Tumor sinonasal di ruang kemuning 2 RSUP Hasan Sadikin
Bandung.
2. Tujuan Khusus
Dalam melakukan asuhan keperawatan secara koperhensif pada klien
dengan masalah Tumor Hidung (Tumor sinonasal)
a. Mampu melakukan dan mendokumentasikan, pengkajian kesehatan
Pada Ny. S Dengan Tumor sinonasal di ruang kemuning 2 RSUP
Hasan Sadikin Bandung
b. Mampu merumuskan dan mendokumentasikan diagnose keperawatan
yang telah ditentukan Pada Ny. S Dengan Tumor sinonasal di ruang
kemuning 2 RSUP Hasan Sadikin Bandung.

3
c. Mampu menyusun dan mendokumentasikan rencana tindakan
keperawatan Pada Ny. S Dengan Tumor sinonasal di ruang kemuning
2 RSUP Hasan Sadikin Bandung
d. Mampu melaksanakan dan mendokumentasikan implementasi
keperawatan Pada Ny. S Dengan Tumor sinonasal di ruang kemuning
2 RSUP Hasan Sadikin Bandung.
e. Mampu menganalisa dan mendokumentasikan evaluasi Pada Ny. S
Dengan Tumor sinonasal di ruang kemuning 2 RSUP Hasan Sadikin
Bandung.
C. Metode dan Tehnik Pengumpulan Data
Metode dan tekhnik pengumpulan data yang di gunakan penulis adalah
metode analisa deskritif yaitu menggambarkan obyek peristiwa yang sedang
berlangsung. Pelaksanaan kegiatan pengumpulan data dan menarik
kesimpulan data-data tersebut.
Tekhnik pengumpulan data adalah :
1. Wawancara
Wawancara adalah menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan
dengan masalah yang di hadapi klien dan merupakan suatu komunikasi
yang di rencanakan. (Setiadi, 2012)
Wawancara merupakan upaya memperoleh data secara lisan dengan
tatap muka dengan pasien. Penulis melakukan wawancara pada pasien
untuk mendapatkan data (pengkajian), menanyakan respon pasien
(implementasi). Selain itu wawancara juga di lakukan pada keluarga untuk
data keluarga (Riwayat penyakit keluarga), serta perawat untuk data
Asuhan keperawatan.
2. Observasi Partisipatif
Observasi Partisipatif adalah suatu tekhnik pengumpulan data yang di
lakukan dengan mengadakan pengamatan dan melaksanakan asuhan
keperawatan pada klien sebagai bahan untuk menunjang tindakan
keperawatan luka klien selama di rumah sakit dan lebih bersifat objektif

4
yaitu dengan melihat respon klien setelah di lakukan tindakan (Sugiono,
2012)
Penulis mendapatkan data selama melakukan Asuhan Keperawatan
yakni pada saat melakukan pengkajian dan observasi tindakan yang telah
di lakukan atau respon yang di tunjukan oleh pasien.
3. Dokumentasi
Suatu cara untuk mendapatkan data baik dari catatan media maupun
perawatan yang tergabung dalam buku status klien sebagai bahan untuk
menunjang tindakan keperawatan luka klien dengan masalah utama
appendiks. (Sugiono, 2012)
Dokumentasi pada penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dari buku status
pasien selama perawatan untuk melengkapi data pengkajian, tindakan
keperawatan dan lain-lain.
4. Studi pustaka
Studi pustaka adalah kajian teoritis, refrensi secara literature ilmiah
lainya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang
pada situasi normal yang di teliti. (Sugiono, 2012)
Studi pustaka dalam Penulisan Karya Tulisan Ilmiah ini adalah
mengumpulkan literature buku dan internet yang berkaitan dengan kasus
pasien untuk melengkapi Bab 2 (tinjauan teori)
5. Asuhan Keperawatan
Pemberian Asuhan Keperawatan Dengan memberikan proses keperawatan
sehingga dapat di tentukan diagnosa keperawatan agar bisa di rencanakan
dan di laksanakan tindakan yang tepat sesuai tingkat perkembanganya,
pemberian Asuhan keperawatan ini di lakukan dari yang sederhana sampai
dengan komplek. (Sugiono, 2012)
Asuhan keperawatan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah
Pengkajian, Analisa Masalah, Diagnosa keperawatan, Rencana
Keperawatan, dan evaluasi yang tertuap dalam Bab III penyusunan KTI
ini.

5
D. Sitematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode dan tehnik
pengumpulan data serta sistematiak penulisan.
BAB II: TINJAUAN KASUS
Berisi tentang pengkajian, analisa masalah, rencana keperawatan,
implementasi keperawatan serta evaluasi.
BAB III : PEMBAHASAN
Berisi tentang semua masalah keperawatan klien kemudian dianalisis
nmenggunakan tinjauan asuhan keperawatan.
BAB IV : PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran.

6
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Tumor sinonasal merupakan penyakit di mana terjadinya pertumbuhan
sel (ganas) pada sinus paranasal pada (rongga hidung). Pasien dengan tumor
sinonasal biasanya datang dengan stadium tumor yang sudah lanjut dan
umumnya sudah meluas ke jaringan sekitarnya. Sinus paranasal merupakan
rongga yang tersembunyi dalam tulang, yang tidak akan dapat di deteksi,
dengan pemeriksaan fisik rutin pada stadium dini. Gejala tergantung dari asal
primer tumor serta arah dan perluasanya. Biasanya jarang di temukan, baik
yang jinak maupun yang ganas (Roezin, 2007)
B. Etiologi
Perubahan dari sel normal menjadi sel kanker di pengaruhi oleh
banyak factor (mulfikator) dan bersifat individual atau tidak sama pada setiap
orang.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya tumor sinonasal
antara
lain (Budiman, 2012) :
1. Penggunaan tembakau: Penggunaan tembakau (termasuk di dalamnya
adalah rokok, rokok pipa, mengunyah tembakau menghirup tembakau)
adalah factor resiko terbesar penyebab kanker pada kepala dan leher.
2. Alkohol: Perminum alcohol berat dengan frekuensi rutin bisa
menyebabkan timbulnya tumor.
3. Inhalan Spesifik menurut (Carrau, 2015): Menghirup subtansi tertentu,
terutama pada lingkungan kerjam dapat meningkatkan resiko terjadinya
kanker kavum nasi dan sinus paranasal, termasuk di antaranya adalah:
a. Debu yang bersal berasal dari industry kayu, textile, pengolahan kulit
atau sintetis dan tepung
b. Debu logam berat: kromium dan asbas

7
c. Uap isoprofil alcohol, pembuatan lem, formaldehyde, radium.
d. Uap pelarut (gas “mustard” dan isopropanol) yang digunakan dalam
memproduksi furniture da sepatu.
4. Sinar ionisasi: Sinar radiasi, sinar UV
5. Virus: Virus HPV, Virus Epstein-bar
6. Usia: Penyakit keganasan ini lebi sering didapatkan pada usia 45 tahun
hingga 85 tahun.
7. Jenis Kelamin: Keganasan pada kavum nasi dan sinus paranasalis
ditemukan dua kali lebih sering pada pria dibangdingkan wanita.
8. paparan terhadap thorotrast yang merupakan zat kontras untuk
pemeriksaan radiologi sinus maxilia karena mengandung thorium
radioaktif.
C. Patofisiologi

Patofisiologi menurut (Surakardja, 2009) Perubahan dari sel normal


menjadi sel kanker di pengarui oleh multifactor seperti yang sudah di paparkan di
atas dan berisfat individual. Factor resiko terjadinya tumor sinonasal semisal
bahan karsinogen seperti bahan kimia, debu industry, sinar ionisasi dan lainya
dapat menimbulkan kerusakan ataupun mutase pada gen yang mengatur
pertumbuhan tubuh yaitu gen proliferasi dan diferensiasi. Dalam proses. Factor
resiko terjadinya tumor sinonasal semisal bahan karsinogen seperti bahan kimia,
debu industry, sinar ionisasi dan lainya dapat menimbulkan kerusakan ataupun
mutase pada gen yang mengatur pertumbuhan tubuh yaitu gen proliferasi dan
diferensiasi. Dalam proses. Diferensiasi ada dua kelompok gen yang memegang
peranan penting, yaitu gen yang memacu (proto-onkogen) dan yang menghambat
(anti-onkogen). Untuk terjadinya transformasi dari satu sel normal menjadi sel
kanker oleh karisnogen harus melalui beberapa fase yaitu fase insiasi dan fase
promosi serta progesi. Pada fase insiasi terjadi perubahan dalam bahan genetic sel
yang memancing sel menjadi ganas akibat suatu onkogen sedangkan pada fase
promosi sel yang telah mengalami insiasi akan berubah menjadi ganas akibat

8
terjadinya kerusakan gen. sel tidak melewati tahap insiasi tidak akan terpengaruh
promosi sehingga tidak berubah menjadi sel kanker.

D. Pathway

Elergi Sinunitis Kronik Iritasi Sumbatan Hidung oleh kelaian onotomi

Reaksi Hipersensitif

Polip Hidung

Massa dalam hidung

Sumbatan dalam jalan nafas Bersihan jalan nafas


Tidak efektif

Tumor Hidung

Proses penyakit Pertukaran O2 dan Co2 terganggu Penurunan Fungnsi ndra

Inflamasi Penurunan O2 ke jaringan Penurunan Nafsu makanmenurun

Nyeri Takikardi
Perubahan Nutrisi
Akut
Kurang dari
Peningkatan Tekanan Darah Kebutuhan

Gangguan Perfusi
Jaringan

9
E. Manifestasi Klinis

Tanda dan Gejala Umum tergantung asal tumor primer dan perluasanya.
Berdasarkan perluasan tumor gejala dapat di katogorikan sebagai berikut menurut
(Parimanto, 2012) :

1. Gejala Nasal: Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilaterar dan


rinorea. Secretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor
yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi defornitas
hidung. khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung
jaringan nekrotik.
2. Gejala Orbital: Pada gejala orbital ada perluasan tumor kea rah orbita
menimbulkan gejala diplopia, proptosis ( penonjolan pada mata) dan
epifora.
3. Gejala Oral: Pada Gejala oral dapat di sertai perluasan tumor ke rongga
mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum. Pasien mengeluh
gigi palsunya tidak tepat melekat atau gigi geligi goyang.
4. Gejala fasial: Perluasan tumor ke area wajah di mana akan menyebabkan
penonjolan pipi. Gejala dapat di sertai nyeri, hilang sensasi jika mengenai
nervus trigeminus.
5. Gejala intraknial: Perluasan tumor ke intraknial dapat menyebabnkan
sakit kepala hebat, oflatomegia, dan gangguan vinus, yang dapat di sertai

10
likuoea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. jika perluasan
sampai ke fossa kranii media maka saraf otak lainya bisa terkena.

F. Penatalaksanaan Medis
a. Pembedahan
Terapi bedah yang di lakukan biasanya adalah terapi kuratif
dengan reseksi Bedah . pengobatan terapi bedah ini umumnya berdasarkan
masing masing tumor. Secara umum, terapi bedah di lakukan pada lesi
jinak atau lesi dini (T1-T2). Jenis reseksi dan pendekatan bedah yang akan
di lakukan bergantung pada ukuran tumor dan letaknya.

b. Radioterapi
Terapi radiasi juga disebut radioterapi kadang-kadang di gunakan
sendiri pada stadium I dan II, terapi radiasi ini di berikan setelah di
lakukan terapi utama seperti pembedahan pada tumor. Penetrasi sinar pada
radioterapi ini untuk menghancurkan sel-sel kanker yang akan di obati.
Jenis terapi radiasi yang di berikan dapat berupa teleterapi (radiasi
eksternal) maupun brachyterapi (radiasi internal).
c. Kemoterapi
Kemoterapi biasanya di peruntukan untuk terapi tumor stadium
lanjut. Upaya terbaik untuk mengendalikan sel sel kanker beredar dalam
tubuh adalah dengan menggunakan terapi iskemik (terapi yang
mempengaruhi seluruh tubuh) dalam bentuk suntikan atau obat oral.
Tujuan kemoterapi untuk tumor sinonasal adalah sebagai terapi tambahan
untuk mengurangi rasa nyeri akibat tumor. (Agussalim, 2007)

11
G. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Agussalim, 2007) pemeriksaan penunjang meliputi :
a. Biospi
Biospi adalah pengangkatan sejumlah kecil jaringan untuk
pemeriksaan di bawah mikrosop. Ini merupakan salah satu cara untuk
mengkonfirmasi diagnosis apakah tumor tersebut jinak atau ganas. Untuk
tumor yang kecil dapat diangkat seluruhnya, sedangkan tumor yang besar
atau yang ganas maka ada tindakan pengobatan selanjutnya apakah berupa
oprasi kembali atau di berikan kemoterapi atau radiologi.
b. Endoskopi
Pemeriksaan Endoskopi yaitu menggunakan alat endoskop berupa pipa
fleksibel yang ramping dan memiliki penerangan pada ujungnya sehingga
dapat membantu untuk melihat area sinonasal yang tidak dapat terjangkau
dan ter Evaluasi dengan baik.
c. Radiologic Imaging
Untuk menentukan staging. Plain flm menunjukan destruksi tulang,
meskipun pada beberapa kasus dapat menunjukan keadaan normal.
d. (CT) scan Screening computed tomography
Pemeriksaan (CT) scan lebih akuran dari pada plin film untuk menilai
struktr tulang sinus paranasal dan lebih murah dari pada plin film. Pasien
beresiko tinggi dengan riwayat terpapar karsinogen, nyeri persisten yang
berat , neuropati kranial, eksoftalmus, kemosis, penyakit sinonasal dan
gejala persisten setelah pengobatan medis yang adekuat seharusnya
dilakukan pemeriksaaan dengan CT scan axial dan coronal dengan
kontras. Ct scan merupakan pemeriksaan superior untuk penggunaan
kontras dilakukan untuk menilai tumor.
e. PET Positron emission tomography
Pemeriksaan (PET) sering di gunakan untuk staging dan surveillance.
Kombinasi PET/CT scan di tambah dengan anatomic detail membantu
perencanaan pembedahan dengan cara melihat luasnya tumor. Tetapi

12
sangat sedikit kegunaanya untuk menilai keganasan pada nasal dan sinul
paranasal.
H. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian
Menurut (Rendi, 2012), pengkajian merupakan pemikiran dasar dari
proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data
tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah,
kebutuhan kesehatan, dan keperawatan pasien dengan baik mental, sosial dan
lingkungan.
Indetitas Diri Klien
a. Pasien (diisi lengkap): nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk RS, no.
RM, alamat.
b. Penanggung jawab (diisi lengkap): nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan dan alamat.

2. Riwayat Kesehatan Sekarang

a. Keluhan utama

Biasanya klien mengeluh sulit bernafas.

b. Riwayat Penyakit Dahulu

Adakah pernah menderita penyakit akut dan pendarahan hidung atau


trauma

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin berhubungan dengan penyakit klien sekarang

d. Riwayat alergi
Adakah riwayat alergi yang diderita pasien.

13
3. Pola Fungsional
Pola fungsional menurut Virginion Hendorson meliputi (Nanda, 2015 –
2020)
a. pola pernafasan
pada pola pernafasan terdapat Sumbatan hidung terjadi oleh beberapa
factor. Oleh karena itu perlu anamnemis yang teliti apakah keluhan
sumbatan ini terjadi terus menerus atau hilang timbul pada satu atau
kedua lubang hidung.
b. Pola nutrisi dan metabolic
Pada penderita tumor Hidung Nutrisi akan terganggu karna sulit
menelan karena sudah di derita berapa lama, apakah tergantung dari
jenis makanan dan biasanya keluhan seperti ini berangsur semakin
lama semakin memberat.
c. Pola eliminasi
Mengakaji kemampuan BAB /BAKserta fungsi dari organ – organ
tersebut bagaiman pasien mepertahankan fungsi normal dari BAB/BAK
- Pada pasien Tumor sinonasal tidak adanya perubahan fases dan urine
- Tanda: tidak teraba masa pada kuadran kanan atau kiri atas, Urine
pekat, fases warna tanah liat
d. Pola istiharat dan tidur
Mengkaji kemampuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan
tidur(jumlah, kualitas,tidur)
- Pada pasien Tumor sinonasal pola tidur terganggu karena nyeri
sewaktu waktu di bagian benjolan.
- Tanda: tidak bisa tidur, dan terbangun
e. kebutuhan rasa aman dan nyaman
Dalam keadadn sehat klien dapat mengontrol keadaan sekelilingnya
mengubah keadaan itu bila tidak beranggapan lagi dan saat sakit klien
tidak dapat mengontrol.

14
- Pada pasien Tumor Hidung pasien mengalami Rasa nyeri pada di
daerah muka dan kepala yang ada hubunganya dengan hidung.
Nyeri di daerah dahi, pangkal hidung, pipi dan tengah kepala dapat
merupakan tanda tanda infeksi (sinusitis).
f. kebutuhan berpakaian
Mengkaji apakah ada kesulitan dalam berpakaian apa tidak
- Pada pasien Tumor hidung kesulitan dalam berpakaian karena
kondisi pasien lemah
- Tanda: tubuh lemas
g. kebutuhan mempertahankan suhu tubuh
Mengakaji pasien dalam hal mempertahankan suhu tubuh tetap normal
- Pada pasien Tumor hidung mengalami demam menggigil
- Tanda : berkeringat, takikardi, kencenderungan perdarahan
(kekurangan vitamin k)
h. Kebutuhan personal Hygin
Mengkaji pasien apakah ada kesulitan dalam oral hygiene dan berapa
kali ia lakukan
- Pada pasien Tumor hidung melakukan dalam perawatan diri kurang
terpenuhi, karena pasien mengalami nyeri pada waktu tertentu dan
suhu tubuh tiba- tiba naik .
i. Kebutuhan gerak dan Keseimbangan tubuh
Mengkaji pasien dalam hal mempertahankan suhu tubuh tetap normal,
dan mengkaji pasien kemampuan beraktifitas dan mobilitas dalam
sehari- hari.
- Pada pasien tumor hidung pasien tubuhnya mengalami lemas serta
mengalami penurunan kekuatan otot sehingga terjadi penurunan
keseimbangan otot dan membuat aktivitasnya terganggu .
- Tanda : gelisah , lemas
j. Kebutuhan berkomunikasi dengan orang lain.

15
Melalui komunikasi antar perawat – pasien dan keluarga dapat di kaji
mengenai pola komunikasi dan interaksi anatar social pasien dengan
cara mengidentifikasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi
- Gejalanya adalah terhambat karna benjolan di hidung
- Tandanya adalah berbicara tidak jelas karna adanya sumbatan di
hidung
k. Kebutuhan spiritual
Mengkaji klien kebutuhan spiritual klien sebelum sakit dan saat sakit.
Pada pasien Tumor hidung masih dapat melakukan spiritual atau
kewajibannya dengan baik
l. Kebutuhan bekerja
Mengkaji pekerjaan pasien saat ini atau pekerjaan lalu,
- Pada pasien Tumor sinonasal dalam aktifitas tergangangu karena
merasakan nyeri.
m. Kebutuhan bermain dan Rekreasi
Mengkaji kemampuan aktifitas rekreasi dan relaksasi (jenis
kegiiatanya dan frekuensinya)
- pada pasien Cholelithiasis mengalami kehilangan kesempatan
rekreasi sama keluarga karena mengalami benjolan di hidungnya
n. Kebutuhan Belajar
Mengkaji kebutuhan belajar pasien saat ini tidak bisa memenuhi
kebutuhan belajar karna sedang sakit.
4. Diagnosa Keperawatan (NANDA, 2015)
a. Bersihan jalan Nafas tidah efektif b.d Benda asig dalam jalan nafas
b. Nyeri akut b.d Agens Cidera Biologis
c. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak
mampuan mengabsorsi nutrient
d. Gangguan perfusi jaringan b.d Hipertensi

16
5. Intervensi (NANDA NIC-NOC, 2015)
Intervensi keperawatan bedasarkan NANDA NIC NOC 2015
A. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif berhubungan dengan Benda
asing dalam jalan nafas
Tujuan dan Kriteria Hasil
a. Ansietas berkurang
b. Tidak ada suara nafas tambahan
c. Sesak nafas berkurang
Intervensi Keperawatan
a. Berikan Masker O2 8liter
b. Monitor respirasi dan status O2
c. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
d. Auskultasi suara nafas dan catat adanya suara tambahan
Rasional
a. Untuk membantu pernafasan pasien
b. Untuk mengetahui tanda-tanda Vital pasien
c. Untuk mengurangi sesak nafas (untuk membuat pasien
lebih nyaman
d. Untuk mengetahui adanya suara nafas tambahan
2. Nyeri akut berhubungan dengan Agens Cidera biologis (penyakit
Tumor Hidung)
Tujuan Dan Kriteria Hasil
Diharapkan skala nyeri berkurang skala(1-5)
KH :
a. Klien mampu mengontrol nyeri dengan teknik non
farmakologi.
b. Skala nyeri berkurang menjadi (1-3).
c. Klien mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
d. Klien terlihat rileks dari sebelumnya

17
Intervensi Keperawatan
a. Monitor Tanda tanda vital
b. Kaji skala Nyeri
c. Anjurkan tekhnik relaksasi nafas dalam
d. Kolaborasi dengan tim dokter
- Ceftriaxson 1x2gram (IV)
- Katerolac 3x30gram (IV)
- Rl 1500 cc
Rasional
a. Untuk mengetahui keadaan umum pasien
b. Untuk mengetahui skala nyeri pasien
c. Agar pasien lebih relaks
d. Untuk terapi penyembuhan
3. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan Ketidak mampuan mengabsorsi nutrient
Tujuan dan Kriteria Hasil :
1. Berat badab dalam rentang normal.
2. Nafsu makan meningkat.
Intervensi
a. Kaji monitor ttv dan nutrisi.
b. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering.
c. Timbang berat badan klien.
d. Kolaborasi dengan tim ahli gizi tentang pemberian diit.
Rasional
1. Untuk mengetahui indikasi perkembangan dengan hasil
yang di harapkan.
2. Meminimalkan mual muntah dan nafsu makan meningkat.
3. Menentukan perkembangan berat badan klien.
Mempercepat penyembuhan klien.

18
4. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan Hipertensi
Tujuan dan Kriteria Hasil :
1. Suhu kulit pasien di kisaran normal
2. Intregitas kulit baik bisa di pertahankan
Intervensi :
a. Memonitor Tanda tanda vital, suhu, tekanan dara, nadi
b. Memonitor status pernafasan, kedalaman, pola, dan laju
pernafasan.
c. Memonitor status hidrasi (misalnya : kelembapan membren
mukosa, kecukupan denyut nadi, dan tekanan darah.
d. Kolaborasi dengan Terapi Obat IV.
Rasional :
1. Agar TTV pasien tetap stabil
2. Mengetahui kestabilan pernafasan pasien
3. Mengetahui ada tidaknya tanda tanda dehidrasi dari pasien
4. Untuk menurunkan tekanan darah pada pasien.

19
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN TUMOR
SINONASAL DI RUANG KEMUNING 2 RSUP HASAN SADIKIN
BANDUNG

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
a. Nama Pasien
Nama : Ny. S
Umur : 50 thn
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : IRT
Alamat : sunda, indonesia
Tanggal masuk : senin, 30 Oktober 2018
No. Register : 0001704xxx
Ruang / Kamar : Kemuning 2
Tanggal Pengkajian :selasa, 30 Oktober 2018
Diagnosa : Tumor Sinonasal
b. Penanggung Jawab
Nama : Tn. R
Umur : 26 thn
Agama : Islam
Status : Menikah
Pekerjaan : Guru SD
Hub. Dengan klien : Anak

20
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien mengatakan Nyeri di area Benjolan hidung kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada Hari Senin, tanggal 30 oktober 2018 pasien di bawa ke RS Hasan
Sadikin Bandung. pasien masuk ke Poli THT untuk melakukan
pemeriksaan Akhirnya Dokter memvonis penyakit Tumor ganas di
hidungnya.. Setelah di bawa ke RSUP Hasan Sadikin Bandung
benjolan yang ada di bawah mata hidung kirinya semakin membesar.
Pasien mengetahui ada benjolan sejak 3 bulan yang lalu dengan
penglihatan sedikit tidak normal. Saat di kaji Pasien mengatakan sesak
nafas serta hidungnya sering tersumbat secara terus menerus dan
bersin bersin di sertai nafsu makan berkurang dan mual muntah.
Pasien mengatakan nyeri di benjolan dan terkadang mengeluarkan
cairan dari hidung di sertai darah ataupun nanah P : adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan R: Di bagian pipi atau samping hidung kiri S:
skala nyeri 5 T: Hilang timbul Dan semakin membesar di bawah mata
kirinya sehingga mengganggu pandangan klien. Pasien mengatakan
sulit untuk tidur karna tidak nyaman dengan benjolanya. TD: 110/80
mmHg N: 80 x/menit S: 36 C RR: 20x/menit TD: 165cm BB: 48kg
dan di pasang infus RL di tangan kiri 20tpm
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit apapun.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang
menderita penyakit Tumor seperti yang dialami pasien saat ini.
Keluarga pasien juga tidak mempunyai penyakit keturunan seperti DM
dan Hipertensi. Keluarga pasien juga tidak mempunyai penyakit
menular seperti Hepatitis, TBC, maupun HIV/AIDS.
e. Riwayat Alergi

21
Keluarga pasien mengatakan pasien tidak mempunyai riwayat alergi
terhadap obat, makanan , maupun udara.

f. Genogram

Keterangan :
: Laki - Laki

: Perempuan

: Pasien

22
: Meninggal

: Tinggal Serumah

3. Pengkajian Skunder
a) Keadaan Umum
1) KU :
2) Kedadaran compos metis, GCS, 15 E4 M6 V5
3) TB : 165 cm
4) BB sebelum sakit : 55kg
5) BB selama sakit : 48kg
b) Vital Sign
1) TD : 130/80 mmHg
2) N : 88x/menit
3) S : 36.8 C
4) RR : 25x/menit
5) sPO : 90 %
c) Pemeriksan Fisik
1) Kepala : meshocopal, tidak ada benjolan, kulit kepala bersih, rambut hitam
dan beruban.
2) Wajah : pucat, tidak ada odema, tidak simestris.
3) Mata : tidak normal, Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
simestris, tidak menggunakan alat bantu.
4) Hidung : terdapat Pembesaran polip di samping hidung kiri, tidak
simestris, kotor. Tidak terpasang alat bantu pernafasan.
5) Leher : Tidak ada kelenjar Tyroid.
6) Telinga : simestris, tidak terdapat seruman, pendengaran baik, tidak ada
benjolan
7) Mulut : Simestris, mukosa lembab, lidah putih, gigi berlubang, dan
bersih, reflek mengunyah baik.

23
8) Dada :
I : Simestris
P : Vocal premitus kanan kiri sama
P : Sonor
A : Suara nafas Vesikuler
9) Jantung :
I : Ictus cordis tidak terihat
P : Ictus cordis teraba di intercosta IV
P: Pekak
A : Reguler
10) Abdomen :
I : simetris, tidak ada jejas, tidak ada lesi
A : Bising usu 11x/menit
P : Tympani
P : tidak ada nyeri tekan
11) Genetelia : Bersih, Tidak terpasang kateter
12) Ekstremitas :
- Atas : tangan kiri terpasang infus RL 20 tpm, tidak ada oedema.
- Kiri : pasien dapat menggerakan ke dua kaki, tidak ada oeema.
4. Pengkajian pola Fungsional
a. Pola Pernafasan
Sebeluum sakit : pasien dapat bernafas dengan normal tidak ada
gangguan pada pola pernafasanya tidak ada hambatan
Selama sakit : pasien mengatakan sulit untuk bernafas dan hidungnya
sering tersumbat di bagian hidung kiri.

24
b. Kebutuhan Nutrisi
Sebelum sakit : pasien mengatakan pasien makan 3x sehari dengan 1
porsi habis yang terdiri dari lauk dan sayur, minum 6-8 gelas/ hari.
Selama sakit : Pasien mendapat diet cair 200cc x 3 dan pasien tidak
menghabiskannyahanya makan seperempat, dan diberi bubur halus serta
buah dan sayur namun pasien tidak nafsu makan

c. Kebutuhan Eliminasi
Sebelum
sakit : pasien mengatakan pasien BAB 1 x sehari dengankonsistensi
lembek, bau khas feses, warna kuning, Pasien BAK 5-6x / hari, warna
kuning jernih, dan berbau khas.
Selama Sakit : pasien mengatakan pasien BAB 1 x sehari
dengankonsistensi lembek, bau khas feses, warna kuning, Pasien BAK 5-
6x / hari, warna kuning jernih, dan berbau khas di rumah sakit.
d. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan pasien tidur 8 jam sehari.
Pasien jarang tidur siang. Pasien biasa tertidur dengan mematikan lampu.
Selama sakit : pasien mengatakan tidak dapat tidur seperti biasanya karna
tidak nyaman karna benjolan di hidung kirirnya. terdapat kantung mata,
tidur tidak menentu (hanya 4 jam per hari) kantung mata menghitam
e. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Sebelum sakit: Pasien mengatakan pasien merasa aman dan nyaman
dengan kondisinya karna dapat melakukan aktifitasnya.
Selama sakit : pasien mengatakan merasa tidak nyaman karena
pandanganya terhalang benjolan yang terdapat di bagian bawah matanya
dan hidung pasien tersumbat karena terdapat gumpalan daging di dalam
hidung bagian kiri.

25
f. Kebutuhan berpakaian
Sebelum sakit : Pasien mengatakan pasien ganti baju 2x sehari pagi dan
sore dan dilakukan secara mandiri.
Selama sakit : pasien mengatakan berganti pakaian 1x sehari dengan di
bantu oleh keluarganya, karna pasien terpasang infus sehingga harus di
bantu oleh keluarganya.
g. Kebutuhan mempertahankan suhu
Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan saat udara panas pasien
menggunakan kipas angin dan saat udara dingin menggunakan baju
hangat.
Selama sakit : pasien mengatakan mempertahankan suhu tubuh dengan
kompres hangat atau dengan obat penurun panas.
h. Kebutuhan personal Hygien
Sebelum sakit : Pasien mengatakan pasien dapat melakukan personal
hygiene dengan mandiri misalnya mandi 2x sehari pagi dan sore, gosok
gigi 2x sehari, dan memotong kuku saat terlihat panjang.
Selama sakit : pasien mengatakan hanya menyibin di bagian tertentu
dengan bantuan keluarga.
i. Kebutuhan gerak dan keseimbangan tubuh
Sebelum sakit : Pasien mengatakan pasien dapat bergerak aktif, tidak
mengalami gangguan.
Selama sakit : pasien bergerak terbatas karena keadaanya lemah pasien
dapat berjalan namun tidak selincah seperti sebelum sakit.
j. Kebutuhan berkomunikasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dalam berkomunikasi tidak
mengalami gangguan.
Selama sakit : pasien terhambat dalam berbicara karena benjolan yang
semakin lama semakin membesar & menggangu klien saat berbicara &
berkomunikasi dengan orang lain

26
k. Kebutuhan spiritual
Sebelum sakit : pasien mengatakan pasien beragama Islam, setiap hari
pasien sholat 5 waktu
Selama sakit : pasien hanya bisa di atas tempat tidur dan kesulitan dalam
beribadah karena keterbatasan dalam gerak, klien beribadah dengan cara
tayamun.
l. Kebutuhan bekerja
Sebelum sakit: Pasien mengatakan pasien tidak bekerja tapi sebagai Ibu
rumah tangga dan telah di biayai oleh anak”nya
Selama sakit : klien tidak dapat bekerja seperti biasanya karena klien
hanya dapat berbaring di tempat tidur dan tidak dapat bekerja sebagai ibu
rumah tangga.
m. Kebutuhan bermain dan rekeasi
Sebelum sakit : pasien mengatkan biasanya rekreasi bersama dengan
keluarga ke tempat yang dekat dengan rumahnya.
Selama sakit : klien tidak dapat rekeasi seperti biasanya dengan
keluarganya karena klien hanya berada di tempat tidur saja.
n. Kebutuhan belajar
Sebelum sakit : pasien mengatakan pasien sedikit mengerti tentang
penyakitnya
Selama sakit : klien masih bisa mengakses informasi dari media sosial
hanya saja tidak seperti sebelum sakit.
5. Prosedur diagnostic dan laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Tanggal 30/10/18
No Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Norma
1 Hemoglobin 9.8 [g/dl] 12.3 - 15.3
2 Hematroit 28.0 % 36.0 - 45.0
3 Leukosit 9.20 10^3/ul 4.50 -11.0

27
4 Eritrosit 3.25 Juta/ul 4.2- 5.5
5 Trombosit 280a Ribu/ul 150- 450
6 MCV 86.2 Fl 80- 96
7 MCH 28.6 Pg 27.5- 33.2
8 MCHC 33.2 Detik 33.4- 35.5
9 PT 13.4 Detik 11-15
10 PT 1 9.1-13,1
11 INR 1.04 0.8-1.2
12 INR 1 0.8-1.2
13 APIT 30.2 Detik 21- 41
14 APIT 1 Detik 14.2- 34.2
15 Glukosa Sewaktu 102 Mg/dl < 140
16 SGOT (AST) 22 u/l 15-37
17 SGOT (ALT) 25 u/l 14-59
18 Ureum 21.0 Mg/dl 15.0- 39
19 Kreatin 0.89 Mg/dl 06-10
20 Natrium (Na) 140 Meg/dl 135-145
21 Kalium (Na) 5.2 Meg/dl 35-5,1
22 Klorida (CI) 109 Meg/dl 98-109
23 Kalsium Ion 5.37 Meg/dl 4.5-5.6

b. Terapi Medis
- Ceftriaxson 1x2 gram (IV)
- Katerolac 3x30 gram (IV)
- Ranitidn 2x30gram (IV)
- RL 1500 c

28
B. ANALISA DATA
Tabel 1.1 Analisa Data keperawatan
Tanggal Ds dan Do Problem Etiologi

30-10-2018 Ds : pasien mengatakan sesak nafas dan Ketidak efektifan Benda asing dalam
hidungnya sering tersumbat bersihan jalan jalan nafas (Tumor)
nafas
Do :- Pasien nampak lemas
- Tampak benjolan di kanan
- Tidak ada batuk
- Terdapat benjolan di
samping mata kirinya
- Terpasang O2 8 liter
TD: 130/80 mmHg
N: 80 x/menit
S: 36 C
RR: 25x/menit

30-10-2018 Ds : Pasien mengatakan nyeri di Nyeri Akut Agens Cidera


benjolan biologis (penyakit)

P : adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau samping
hidung kiri
S: skala nyeri 5
T: Hilang timbul

Do :

- Pasien tampak melindungi area


nyeri
- Skala 5
- Pasien tampak meringis
kesakitan
- Nampak Gelisah
TD: 130/80 mmHg
N: 80 x/menit
S: 36 C
RR: 25x/menit

29
30-10-2018 Ds : Klien mengatakan mual muntah Ketidak Ketidak mampuan
dan tidak nafsu makan seimbangan mengabsorsi nutrient
Do : nutrisi : kurang
Nafsu makan menurun dari kebutuhan
Porsi makan pasien tidak habis tubuh
Pasien terlihat lemas

A:
BB sebelum sakit 55 kg

BB setelah sakit 48 kg

TB : 165 cm
𝐵𝐵
IMT :
𝑇𝐵 2 (𝑚)

48 48
= = 17,7
2,7 2.7

B:
- Hemoglobin: 9.8
- Hematroit: 28.0
- Eritrosit: 3.25
C:
- Keadaan Umum: Lemas
- GCS: 456
- Observasi TTV
TD: 130/80 mmHg
N: 80 x/menit
S: 36 C
RR: 25x/menit

D: Diit lunak rendah lemak (bubur)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan jalan nafas b.d benda asing dalam jalan nafs
2. Nyeri akut b.d Agens cidera biologis
3. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d Ketidak
mampuan mengabsorsi nutrient

30
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
Tabel 1.2 Intervensi keperawatan
Hari Dx. Kriteria hasil dan Intervensi
/Tgl/ Kep tujuan
Jam
30-10- 1 Setelah di lakukan - Berikan - Untuk membantu
2018 tindakan keperawatan masker O2 pernafasan pasien
3x 8 jam di harapkan 8liter
bersihan jalan nafas - Monitor - Untuk mengetahui
efektif, dengan respirasi tanda tanda vital
kriteria hasil : dan status pasien
- Ansietas O2
berkurang - Posisikan - Untuk mengurangi
- Tidak ada Suara pasien sesak nafas( untuk
nafas tambahan untuk membuat pasien
- Sesak nafas memaksima lebih nyaman)
berkurang lkan
ventalasi - Untuk mengetahui
- Auskultasi adanya suara nafas
suara nafas, tambahan atau tidak
dan catat
adanya
suara
tambahan

30-10- 2 Setelah dilakukan 1. Monitor TTV - Untuk


2018 asuhan keperawatan mengetahui
selam 3x8 jam keadaan umum
diharapkan Nyeri 2. Kaji skala pasien
pasien berkurang Nyeri
dengan kriteria hasil : - Untuk
a. Klien mampu 3. Anjurkan mengetahui
mengontrol nyeri Tekhnik Skla nyeri
dengan teknik Relaksasi Nafas pasien
non farmakolugi dalam
b. Skala nyeri - Agar pasien
berkurang 4. Kolaborasi lebih Rileks
menjadi (3-4) dengan Tim
c. Klien Dokter - Untuk Terapi
mengatakan rasa - Ceftriaxso Penyembuhan
nyaman setelah 1x2gram (IV)
nyeri berkurang - Katerolac
Klien terlihat 3x30gram
rileks dari (IV)
sebelumya - RL1500 cc

31
30-10- 3 Setelah dilakukan 1. Kaji monitor 1. Untukmengetahui
2018 tindakan keperawatan ttv dan nutrisi indikasi
selama 3x24 jam 2. Anjurkan perkembangan
pasien makan dengan hasil yang
diharapkan asupan
sedikit tapi diharapkan
nutrisi tercukupi sering 2. Meminimalkan mual
dengan 3. Timbang muntah dan nafsu
KH : berat badan makan meningkat
a. Berat badan klien 3. Menentukan
dalam 4. Kolaborasi perkembangan berat
rentang dengan tim badan klien.
normal gizi tentang 4. Mempercepat
b. Nafsu pemberian penyembuhan klien.
makan diit.
meningkat

E. IMPLEMENTASI

Tanggal Jam Dx Implementasi Respon Paraf


Selasa, 13.00 wib I,II, 1. Mengkaji ttv pasien Ds: Pasien bersedia di
30-10- monitor tanda tanda vital
2018 Do :
- Tekanan darah:
110/80 mmHg
- Suhu: 36,5 C
- Nadi: 80x/menit
- Rr: 25x/menit
- Pasien tampak
lemas

13.30 I 2. Berikan masker O2 Ds: pasien mengatakan


8liter bersedia di berikan masker
O2
Do: - terpasang O2 8 liter
- Pasien Nampak
sesak

13.40 I 3. memonitor respirasi Ds: pasien mengatakan


dan status O2 sesak nafas dan hidungnya
sering tersumbat karna ada
benjolan
Do: :- Pasien nampak lemas
- Tampak benjolan
di kanan
- Otot bantu
pernafasan
- Suara nafas
tambahan
(ronchi)

32
- Tidak ada batuk
- Terpasang O2 8
liter
TD: 110/80 mmHg
N: 80 x/menit
S: 36 C
RR: 25x/menit

14.00 II 4. Mengkaji skala nyeri Ds: Pasien mengatakan


pasien nyeri di benjolan
P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau
samping hidung kiri
S: skala nyeri 5
T: Hilang timbul
Do: - Pasien tampak
melindungi area nyeri
- Skala 5
- Pasien tampak
meringis
- Gelisah

19.00 III 5. mengkaji monitor ttv Ds : Pasien mengatakan


dan nutrisi bersedia di kaji ttv dan
nutrisinya
Do : Klien tampak lemas

TD : 130/80 mmHg
N : 88x/menit
S : 36.8 C
RR : 25x/menit
sPO : 90 %
TB: 165 cm
BB sebelum sakit 55 kg

BB setelah sakit 48 kg
𝐵𝐵
IMT :
𝑇𝐵 2 (𝑚)

48 48
= = 17,7
2,7 2.7

20.00 III 6. menganjurkan pasien Ds: Pasien bersedia makan


makan sedikit tapi sedikit tapi sering
sering Do: Pasien tampak makan
sedikit tapi sering

33
7. mengkolaborasi Ds: pasien mengatakan
21.00 II dengan tenaga medis bersedia
pemberian injeksi untuk Do:
menurunkan rasa nyeri - Obat masuk
- Ceftriaxson 1x2gram melalui (IV)
(IV) - Tidak ada elergi
- Katerolac 3x30gram pada obat

Rabu, 07.30 II,III 1. Mengkaji ttv pasien Ds: Pasien bersedia di


31-10- monitor tanda tanda vital
2018 Do :
- Tekanan darah:
130/80 mmHg
- Suhu: 36,5 C
- Nadi: 80x/menit
- Rr: 24x/menit
- Pasien tampak
lemas

08.00 II 2. mengkolaborasi Ds: pasien mengatakan


dengan tenaga medis bersedia di beri injeksi (IV)
pemberian Terapi obat Do:
- Katerolac 3x30gram - Obat masuk
- Rl 1500 ml melalui IV
- Ranitin 2x30gram - Tidak ada elergi
obat

09.00 I 3. Monitor respirasi dan status Ds: pasien mengatakan


O2 masih sesak dan hidungnya
tersumbat
Do: - Tekanan darah:
130/80 mmHg
- Suhu: 36,5 C
- Nadi: 80x/menit
- Rr: 24x/menit
-

09.30 I 4. Memposisikan pasien Ds: pasien mengatakan


memaksimalkan ventilasi sesak nafas
Do:
- Posisi semi Flower
- Pasien Nampak
nyaman

10.00 III 5. mengkaji monitor ttv dan Ds: Pasien mengatakan


nutrisi bersedia di kaji ttv dan
nutrisinya
Do:

34
Pasien tampak lemas

T D: 130/80 mmHg
S: 36,5 C
N: 80x/menit
R: 24x/menit
10.20 III 6. Menimbang berat
badan klien
Ds: Pasien bersedia
ditimbang berat badannya
Do: Berat badan klien 48
kg
11.30 II 7. Mengkaji skala nyeri pasien

Ds: Pasien mengatakan


masih nyeri
- P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di
tekan
R: Di bagian pipi atau
samping hidung kiri
S: skala nyeri 4
T: Hilang timbul
Do :
- Pasien tampak
meringis kesakitan
- Pasien Nampak
12.30 II,III 8. Mengkaji ttv pasien memegangi nyeri

Ds: pasien bersedia


Do: Tekanan darah: 110/80
mmHg
- Suhu: 36,5 C
- Nadi: 80x/menit
Rr: 23x/menit

Kamis, 07.30 II 1. Mengkaji tanda tanda Ds: pasien bersedia di kaji


1-11- vital Do:
20018 - Tekanan darah:
120/80 mmHg
Suhu: 36,5
Nadi: 80x/menit
Rr: 24x/menit

09.00 II 2. Mengkaji skala nyeri Ds: pasien mengatakan


pasien Nyeri sudah sedikit
berkurang
P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau
samping hidung kiri
S: skala nyeri 3

35
T: Hilang timbul

Do:
- Pasien Nampak
memegangi nyeri

10.00 I 3. mengAuskultasi suara Ds: pasien bersedia di


nafas, dan catat adanya lakukan pemeriksaan
suara tambahan Do:
- Tidak ada suara
nafas tambahan

10.30 I 4. memonitor respirasi Ds: pasien mengatakan


dan O2 masih sesak
Do: - Tekanan darah:
120/80 mmHg
- Suhu: 36,5 C
- Nadi: 80x/menit
- Rr: 24 x/menit

11.20 II 5. kaji monitor ttv dan Ds : Ds: Pasien mengatakan


nutrisi bersedia di kaji ttv dan
nutrisinya
Do:
Pasien tampak lemas

T D: 120/80 mmHg
S: 36,5 C
N: 80x/menit
R: 24x/menit

12.30 III 6. mengkolaborasikan Ds :Pasien mengatakan


dengan tim ahli gizi belum mengetahui diit
tentang pemberian diit. makanan yang tepat
Do :Pasien tampak
mendengarkan apa yang di
omongkan perawat dan ahli
gizi
12.45 II 7. mengkolaborasi
dengan tenaga medis Ds: pasien mengatakan
pemberian Terapi obat bersedia di beri terapi obat
8. Ceftriaxson 1x2gram Do:
(IV) - Obat masuk
9. Katerolac 3x30gram melalui (IV)
(IV) - Tidak ada elergi
10. Ranitidin 2x30 gram pada obat

36
F. EVALUASI
Tabel 1.4 evaluasi keperawatan
Tanggal Dx Catatan perkembangan paraf
dan Jam
Selasa, I S : pasien mengatakan sesak nafas dan hidungnya sering tersumbat
30-10-2018 karna ada benjolan
13.30 O : Do Pasien nampak lemas
WIB - Tampak benjolan di kanan
- Otot bantu pernafasan
- Suara nafas tambahan (ronchi)
- Tidak ada batuk
- Terpasang O2 8 liter
TD: 130/80 mmHg
N: 80 x/menit
S: 36 C
RR: 25x/menit
A: masalah Ketidak efektifan bersihan jalan nafas belum teratasi
P: Lanjutkan Intervensi
14.00 II S: Pasien mengatakan nyeri di benjolan
WIB pasien Nampak meringis kesakitan
P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau samping hidung kiri
S: skala nyeri 5
T: Hilang timbul
O: Do:
- pasien Nampak meringis kesakitan
- Pasien tampak melindungi area nyeri
- Skala 5
- Pasien tampak meringis
- Nampak Gelisah
A: masalah Nyeri belum terasi
P: Lanjutkan intervensi
1. mengkolaborasidengan tenaga medis pemberian Terapi
obat, Katerolac 3x30gram, Ranitidin 2x30gram
19.00 III S:Pasien mengatakan masih lemas dan masih mual muntah
WIB
O: Klien tampak lemas

TD : 130/80 mmHg
N : 88x/menit
S : 36.8 C
RR : 25x/menit
sPO : 90 %
TB: 165 cm
BB sebelum sakit 55 kg

37
BB setelah sakit 48 kg
𝐵𝐵
IMT :
𝑇𝐵 2 (𝑚)

48 48
= = 17,7
2,7 2.7

A: masalah Ketidak seimbangan nutrisi belum teratasi

P: Lanjutkan intervensi

Rabu, 31- I S: : pasien mengatakan masih sesak dan hidungnya tersumbat


10-2018 O: Do: - Tekanan darah: 130/80 mmHg
09.00 - Suhu: 36,8 C
WIB - Nadi: 80x/menit
- Rr: 24x/menit
A: Maslah Ketidak efektifan bersihan jalan nafas belum
teratasi
P: Lanjutkan Intervensi
- mengAuskultasi suara nafas, dan catat adanya suara
tambahan
- memonitor respirasi dan O2
11.30 II S: Pasien mengatakan masih nyeri
WIB P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau samping hidung kiri
S: skala nyeri
T: Hilang timbul
O: Do:- Pasien tampak meringis kesakitan
- Pasien Nampak memegangi nyeri
A: masalah Nyeri belum teratasi
P: Lanjutkan Intervensi
- mengkolaborasidengan tenaga medis pemberian Terapi
obat, Katerolac 3x30gram, Ranitidin 2x30gram

10.00 III S:Pasien mengatakan masih lemas dan masih mual muntah
WIB
O: Klien tampak lemas
TD : 130/80 mmHg
N : 80x/menit
S : 36.8 C
RR : 24x/menit
sPO : 90 %
TB: 165 cm
BB sebelum sakit 55 kg
BB setelah sakit 48 kg
𝐵𝐵
IMT :
𝑇𝐵 2 (𝑚)
48 48
= = 17,7
2,7 2.7

A: masalah Ketidak seimbangan nutrisi belum teratasi

P: Masalah belum teratasi

38
- Lanjutkan intervensi

Kamis, 1- I S: pasien mengatakan masih sesak


11-2018 O: Do:
10.00 Tekanan darah: 120/80 mmHg
WIB Suhu: 36,5 C
Nadi: 80x/menit
Rr: 24 x/menit
A: Masalah Ketidak efektifan bersihan jalan nafas belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

09.00 II S: pasien mengatakan Nyeri sudah sedikit berkurang


WIB P: adanya benjolan
Q: Nyeri seperti di tekan
R: Di bagian pipi atau samping hidung kiri
S: skala nyeri 3
T: Hilang timbul
A: Masalah Nyeri sebagian teratasi
P: Lanjtkan intervensi
- Mengkolaborasi dengan tenaga medis pemberian Terapi
obat
- Katerolac 3x30gram (IV)
- Ranitidin 2x30 gram

10.30 III S:Pasien mengatakan masih agak lemas dan masih mual muntah
WIB
O: Klien tampak lemas
TD : 120/80 mmHg
N : 80x/menit
S : 36.8 C
RR : 24x/menit
sPO : 90 %
TB: 165 cm
BB sebelum sakit 55 kg
BB setelah sakit 48 kg
𝐵𝐵
IMT :
𝑇𝐵 2 (𝑚)
48 48
= = 17,7
2,7 2.7

A: Masalah masalah Ketidak seimbangan nutrisi belum teratasi


teratasi
P: Lanjutkan intervensi

39
BAB IV

PEMBAHASAN
Dalam hal ini penulis akan membahas tentang “ Asuhan Keperawatan pada
Ny.S dengan TUMOR SINONASAL di Ruang Kemuning II RSUP dr. Hasan
Sadikin Bandung” Pembahasan ini meliputi komponen asuhan keperawatan yaitu
pengkajian, analisa data, diagnose, perencanaan, pelaksanaan,evaluasi
keperawatan. Dalam pengkajian ini penulis melakukan pengkajian pada tanggal 30
-1 November 2018 jam 13.00 WIB ditegakkanya diagnosa tersebut.
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap pengumpulan data yang berhubungan dengan
sistematis menurut (Doenges, 2012) Adapun pengkajian biodata pada pasien
dimasukkan untuk lebih mengenal pasien, hingga di ketahui latar belakang yang
kemungkinan mempengaruhi intervensi yang akan di berikan untuk mengetahui
adanya keluhan utama, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan
dahuludalam pengkajian kesehatan sekarang di masukkan untuk mengetahui
jenis penyakit dan lokasinya.
Menurut (Kemkes, 2019) tumor sinus paranasal adalah tumor yang terjadi di
rongga sinus, semementara tumor sinonasal adalah tumor langka yang tumbuh di
rongga hidung yang jelas di sertai gejala Hidung tersumbat dan meler, keluar
cairan lendir dari hidung, sakit kepala, Rasa nyeri di sekitar wajah seperti di dahi,
hidung, pipi, serta sekitar mata dan pembekakang di wajah, gangguan
penglihatan, sering mimisan, susah untuk makan karna terjadi rasa nyeri saat
menelan. Gejala – gejala tersebut berangsur selama 3 bulan atau 5 bulan lebih
karna di sebabkan oleh paparan debu kayu, Virus Epstein Barr (EBV) atau
Human papiloma Virus (HPV) yang merupakan salah satu penyebabnya.
Hasil analisa penulis, pada kasus Tumor Sinonasal yang di alami Pada Ny. S
tidak semua gejala sesuai dengan teori karna saat pengkajian di temukan hasil
yaitu Ny.S merasakan Nyeri, hidung tersumbat, lemah, di temukanya mual

40
muntah Saat menelan makanan dan hanya bisa mengkomsumsi bubur yang di
sediakan oleh rumah sakit.
Saat di lakukan pengkajian lapangan pada tanggal 30 Oktober 2018 di
dapatkan Hasil TTV, TD: 110/80 mmHg N: 80 x/menit Suhu: 36 C RR:
20x/menit TD: 165cm BB: 48kg. pasien di bawa ke RSUP dr. Hasan Sadikin
Bandung karna mengalami benjolan yang ada di bawah mata hidung kirinya yang
semakin membesar. Pasien mengetahui ada benjolan sejak 3 bulan yang lalu
dengan penglihatan sedikit tidak normal. Saat di kaji Pasien mengatakan sesak
nafas serta hidungnya sering tersumbat secara terus menerus dan bersin bersin di
sertai nafsu makan berkurang dan mual muntah.
B. Diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny.“S” sesuai dengan konsep
asuhan keperawatan NANDA NIC-NOC 2018-2020.
Diagnosa Keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga
atau masyarakat sebagai akibat dari amsalah masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang aktual atau beresiko. (Doenges, 2012)
Pada kasus ini penulis menemukan 4 diagnose keperawatan namun penulis
hanya mengambil 3 dari diagnosa tersebut karena prioritas masalahnya 3 diagnosa
yang muncul sesuai konsep teori dan di tujukan dengan data data pengkajian yang
di dapatkan dari pasien yaitu Ketidak Efektifan bersihan jalan nafas, Nyeri akut,
ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Di bawah ini akan di
jelaskan mengenai beberapa diagnosa tersebut.
1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan benda asing
dalam jalan nafas
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas adalah ketidak mampuan
untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk
mempertahankan jalan nafas (NANDA2015)
Ketidak efektifan bersihan jalan napas bisa terjadi pada pasien
dengan kasus Tumor Hidung (sinonasal). Ny. S dengan tumor sinonasal
mengalami Ketidak efektifan bersihan jalan nafas karena benda asing

41
dalam jalan nafas (benjolan) di sunus paranasal, sehingga memperhambat
pernafasan yang menyebabkan jalan napas terganggu.
Diagnosa ini di tegakkan karena ditemukan data subyektif klien
mengatakan sesak nafas dan hidungnya sering tersumbat karna ada
benjolan, dan data obyektifnya : tampak benjolan di kanan hidung, Otot
bantu pernafasan, tidak ada batuk, tekanan darah 110/80 mgHg, nadi :
80x/menit, suhu : 36,8C , frekuensi nafas 25x/menit. pasien terpasang alat
bantu oksigen dengan O2 8L/menit. Kasus sudah sama seperti teori,
batasan karakteristik ketidak efektifan bersihan jalan napas adalah
Dispnea, Gelisah Perubahan frekuensi dan irama nafas.
Diagnosa ini penulis prioritaskan menjadi diagnosa pertama yang
muncul pada Ny. S. karena apabila Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
tidak segera di atasi akan menyebabkan efek yang membahayakan diri
pasien. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas pada pasien Tumor
Sinonasal(Hidung) harus segera ditangani, supaya pernafasan normal (16-
20)x/menit, Ansietas berkurang, suara nafas normal.
Penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan teori yang
sudah tertuang di BAB II di halaman 18 adapun rencana tindakan
keperawatan meliputi kaji ttv dan , memonitor respirasi O2 nasal kanul,
berikan O2 nasal kanul dan tinggikan kepala pasien bantu sampai posisi
nyaman, posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, Auskultasi
suara nafas dan catat adanya suara tambahan. Dengan tujuan Bersihan
jalan nafas efektif dengan kriteria hasil tidak menggunakan otot bantu
pernafasan, ansietas berkurang, suara nafas tambahan tidak ada, rencana
tindakan keperawatan teori dengan kasus sudah sesuai, tidak ada
hambatan pasien dan keluarga kooperatif dalam membantu melaksanakan
tindakan keperawatan, serta tim medis lain sangat terbuka dalam
bekerjasama mengatasi masalah pasien. (NIC,2018)
Penulis melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari pada
tanggal 30 oktober 2018 dalam melakukan tindakan keperawatan penulis

42
melakukannya secara mandiri dan berkolaborasi bersama temannya
dengan cara mengobservasi respon pasien secara langsung. Tindakan
keperawatan dilakukan selama 3x24jam penulis hanya dapat melakukan
3x1 shif jaga.Untuk mencapai hal tersebut penulis mendelegasikan kepada
perawat jaga, berupa perencanaan keperawatan sesuai dengan intervensi.
Evaluasi yang dilakukan pada Senin, 30 oktober 2018, pasien
mengatakan pasien mengatakan sesak nafas dan hidungnya sering
tersumbat TD: 110/80 mmHg, N: 80x/menit S: 36 C RR: 25x/menit,
sehingga dapat disimpulkan bahwa masalah pasien belum teratasi dengan
penurunan sesak nafas yang belum terpenuhi dengan demikian intervensi
perlu dilanjutkan untuk mengatasi masalah yang dialami pasien. Pada hari
pertama pengelolaan kasus, penulis belum mampu mengatasi masalah
keperawatan karena belum sesuai dengan kriteria hasil yang penulis
tetapkan (Ansietas berkurang,Tidak ada Suara nafas tambahan, Sesak
nafas berkurang) yang penulis tetapkan sehingga intervensi harus
dilanjutkan.
Evaluasi yang dilakukan pada Rabu, 01 September 2018 data subyektif
adalah pasien mengatakan masih sesak dan hidungnya tersumbat dan Data
Objectifnya Tekanan darah: 120/80 mmHg, Suhu: 36,5 C, Nadi:
80x/menit, Rr: 24x/menit Ini menandai akan adanya masalah keperawatan
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas belum teratasi karena belum
sepenuhnya sesuai dengan criteria hasil yang penulis tetapkan (Ansietas
berkurang,Tidak ada Suara nafas tambahan, Sesak nafas berkurang) yang
penulis tetapkan sehingga intervensi dilanjutkan.
Evaluasi yang dilakukan pada Kamis, 02 September 2018 pasien
mengatakan masih sesak nafas karna adanya secret di hidung Data
objectifnya Tekanan darah: 120/80 mmHg, Suhu: 36,5 C, Nadi:
80x/menit, Rr: 24 x/menit. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas belum
teratasi karena belum sepenuhnya sesuai dengan criteria hasil yang penulis

43
tetapkan (Ansietas berkurang,Tidak ada Suara nafas tambahan, Sesak
nafas berkurang) yang penulis tetapkan sehingga intervensi dilanjutkan.
2. Nyeri Akut b.d Agens Cidera biologis
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau
potensial atau yang menggambarkan sebagai kerusakan (internasional
association for the Study of Pain) awitan yang tiba tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau di
prediksi ( NANDA,2018)
Nyeri adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat
terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut syaraf dalam tubuh ke otak
dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologi dan emosional (Hidayat Aziz, 2013,
hal. 124)
Menurut (Milton Cohen, 2018) Rasa sakit adalah pengalaman
somatik yang dapat dikenali yang mencermikan ketakutan seorang terhadap
ancaman terhadap intergritas fisik atau eksistensial mereka.
Nyeri yang di rasakan pada penderita Tumor Sinonasal karna
benjolan biasanya pasien mengalami Rasa nyeri pada di daerah muka dan
kepala yang ada hubunganya dengan hidung. Nyeri di daerah dahi, pangkal
hidung, pipi dan tengah kepala dapat merupakan tanda tanda infeksi. Gejala
gejala tersebut bisa saja mirip dengan masalah kesehatan terkait hidung
yang lebih ringan dan umum, seperti pilek, flu, atau sinusitis.
Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data subyektif klien
mengatakan nyeri dibagian Pasien mengatakan nyeri di benjolan P : adanya
benjolan Q: Nyeri seperti di tekan R: Di bagian pipi atau samping hidung
kiri S: skala nyeri 5 T: Hilang timbul Data obyektif : Pasien tampak
melindungi area nyeri Skala 5, Pasien tampak meringis kesakitan, Gelisah,
TD: 110/80 mmHg, N: 80 x/menit, S: 36 C RR: 24x/menit. Kasus sudah
sama seperti teori, batasan karakteristik nyeri akut adalah Ekspresi wajah
nyeri (meringis), Mengekspresikan perilaku gelisah, merengek, menangis,

44
gerakan mata terpancar atau tidak focus, gangguan persepsi nyeri, gangguan
tidur dan melaporkan nyeri secara verbal (Nanda, 2018).
Diagnosa ini penulis prioritaskan menjadi diagnosa kedua yang muncul
pada Ny. S. karena nyeri tidak segera teratasi maka akan menimbulkan nyeri
yang semakin bertambah jika nyeri tidak teratasi maka akan menimbulkan
nyeri yang bertambah syok, dapat mempengaruhi kebutuhan fisiologis yang
lain misalnya gangguan istirahat dan tidur. (potter & perry, 2014 )
Penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan teori yang sudah
tertuang pada BAB II halaman 7 karya ilmiah ini. Ada 4 intervensi yang
digunakan penulis yaitu monitor TTV, kaji skala nyeri, anjurkan tekhnik
relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat
Ceftriaxso 1x2gram (IV) Katerolac 3x30gram (IV) oleh karena itu penulis
melakukan 4 intervensi tersebut karena pasien tidak ada hambatan.
Penulis melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari pada selasa, 30
Oktober 2018 dalam melakukan tindakan keperawatan penulis
melakukannya secara mandiri dan berkolaborasi bersama temannya dengan
cara mengobservasi pasien secara langsung. Dalam melakukan tindakan ini
penulis mengalami hambatan karena tindakan keperawatan yang seharusnya
dilakukan selama 3x24 jam penulis hanya dapat melakukan 3x8 shif jaga,
Untuk mengatasi hal tersebut penulis mendelegasikan kepada perawat jaga,
berupa perencanaan keperawatan sesuai dengan intervensi.
Evaluasi yang dilakukan pada selasa, 30 Oktober 2018 pasien
mengatakan Data subjectifnya adalah Pasien mengatakan nyeri di benjolan
P: adanya benjolan Q: Nyeri seperti di tekan R: Di bagian pipi atau samping
hidung kiri S: skala nyeri 5 T: Hilang timbul data obyektif adalah Pasien
tampak melindungi area nyeri, Skala 5, Pasien tampak meringis,Gelisah
sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa masalah pasien belum teratasi
dengan penurunan skala nyeri dengan demikian interversi perlu pengelolan
kasus, penulis belum mampu mengatasi masalah keperawatan nyeri akut
karena belum sesuai dengan criteria hasil yang penulis tetapkan (Pasien

45
Nampak lebih rileks, Skala Nyeri berkurang 1-5) yang penulis tetapkan
sehingga intervensi harus dilakukan.
Evaluasi yang dilakukan pada Rabu, 31 Oktober 2018 Pasien
mengatakan masih nyeri, P: adanya benjolan, Q: Nyeri seperti di tekan, R:
Di bagian pipi atau samping hidung kiri, S: skala nyeri 4, T: Hilang timbul,
data obyektif : Pasien tampak meringis kesakitan, Pasien Nampak
memegangi nyeri, Ini menandakan adanya masalah keperawatan nyeri akut
karena belum sesuai criteria hasil yang penulis tetapkan (pasien nampak
lebih rileks skala nyeri berkurang 1-5 ekspresi wajah tenang) yang penulis
tetapkan sehingga intervensi harus dilanjutkan.
Evaluasi yang dilakukan pada kamis, 01 september 2018 pasien
mengatakan pasien mengatakan Nyeri sudah sedikit berkurang P: adanya
benjolan, Q: Nyeri seperti di tekan, R: Di bagian pipi atau samping hidung
kiri, S: skala nyeri 3, T: Hilang timbul. Data subjectifnya adalah Pasien
tampak meringis kesakitan, Pasien Nampak memegangi nyeri Ini mendakan
masalah keperawatan nyeri belum teratasi karena belum sesuai criteria hasil
yang penulis tetapkan (pasien nampak lebih rileks skala nyeri berkurang 1-5
ekspresi wajah tenang) yang penulis tetapkan sehingga lanjutkan intervensi
pasien.
3. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak
mampuan mengabsorsi nutrient
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah
asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic.
Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan zat nutrien
(zat yang sudah dicerna), air, dan garam yang berasal dari zat makanan
untuk didistribusikan ke sel-sel melalaui sistem sirkulasi.Zat makanan
merupakan sumber energi bagi tubuh seperti ATP yang dibutuhkan sel-sel
untuk melaksanakn tugasnya. Agar makanan dapat dicerna secara optimal
dalam saluran pencernaan , maka saluran pencernaan harus mempunyai

46
persediaan air, elektrolit dan zat makanan yang terus menerus (Wilkinso
Judith M. 2012)
Masalah nutrisi yang timbul pada penderita penyakit Tumor
sinonasal adalah mereka merasakan mual dan muntah pada saat makan
karena pada Tumor hidung terkadang membuat pasien tidak bisa
mengabsorsi makanan karna terjadi nyeri di hidung sehingga tidak dapat
mengabsorsi makanan. Akibatnya terjadi Penurunan berat Badan selama
penyakit itu belum di sembuhkan.
Diagnosa ini di angkat karena penulis menemukan data subyektif
klien mengatakan mual muntah tidak nafsu makan, data obyektif yang
diperoleh tekanan darah 130\80 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 36,7C ,
respirasi 25x/menit, dengan tinggi badan 165cm, dan berat badan sebelum
sakit 50kg dan setelah sakit berat badan turun menjadi 48kg. Teori dengan
kasus sudah sesuai.
Penulis memprioritaskan diagnosa ini menjadi diagnosa ketiga
karena dari ketiga diagnosa yang penulis angkat menurut teori Hierarki
kebutuhan dasar manusia Maslow kebutuhan nutrisi karena jika nutrisi
tidak segera ditangani akan meyebabkan penurunan berat badan,
merupakan kebutuhan yang mutlak dipenuhi dalam hidup setelah
kebutuhan oksigen (Mubarak & Chayatin, 2008)
Penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan teori yang sudah
tertuang pada BAB II halaman 17 karya ilmiah ini. Ada 4 intervensi yang
digunakan penulis yaitu anjurkan kaji monitor ttv, anjurkan pasien makan
sedikit tapi sering, timbang berat badan., kolaborasi dengan timahli gizi
dalam pemberian diit.. Oleh karena itu penulis melakukan 4 intervensi
tersebut karena pasien tidak ada hambatan.
Penulis melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari pada 30
oktober 2018 dalam melakukan tindakan keperawatan penulis
melakukannya secara mandiri dan berkolaborasi bersama temannya dengan
cara mengobservasi pasien secara langsung. Dalam melakukan tindakan ini

47
penulis mengalami hambatan karena tindakan keperawatan yang
seharusnya dilakukan selama 3x24jam penulis hanya dapat melakukan 3x8
shif jaga.Untuk mengatasi hal tersebut penulis mendelegasikan kepada
perawat jaga, berupa perencanaan keperawatan sesuai dengan intervensi.
Evaluasi yang dilakukan pada Selasa 30 oktober 2018, pasien
mengatakan lemas dan mual muntah dan tidak nafsu makan sehingga dapat
disimpulkan bahwa masalah pasien belum teratasi dengan tidak nafsu
makan dan penurunan berat badan dengan demikian intervensi perlu
dilanjutkan untuk mengatasi masalah yang dialami pasien. Pada hari
pertama pengelolaan kasus, penulis belum mampu mengatasi masalah
keperawatan nutrisi karena belum sesuai dengan criteria hasil yang penulis
tetapkan pasien mampu menghabiskan porsi makanan, nafsu makan baik,
peningkatan BB stabil, IMT dalam batas normal (18,5-24,9) yang penulis
tetapkan sehingga intervensi harus dilanjutkan
Evaluasi yang dilakukan pada Rabu, 31 Oktober 2018 data subyektif
: pasien mengatakan mau makan dengan porsi setengah sehingga dapat
disimpulkan bahwa masalah pasien teratasi sebagian dengan pasien makan
setengah porsi dengan demikian intervensi perlu dilanjutkan untuk
mengatasi masalah yang dialami pasien. Karena belum sepenuhnya sesuai
dengan criteria hasil yang penulis tetapkan pasien mampu menghabiskan
porsi makanan, nafsu makan baik, peningkatan BB stabil, IMT dalam batas
normal (18,5-24,9) yang penulis tetapkan sehingga intervensi harus
dilanjutkan.
Evaluasi yang dilakukan pada Kamis, 01 september 2018 pasien
mengatakan tidak nafsyu makan mual. sehingga dapat disimpulkan bahwa
masalah pasien teratasi sebagian dengan pasien makan setengah porsi
dengan demikian intervensi perlu dilanjutkan untuk mengatasi masalah
yang dialami pasien. Karena belum sepenuhnya sesuai dengan criteria hasil
yang penulis tetapkan pasien mampu menghabiskan porsi makanan, nafsu

48
makan baik, peningkatan BB stabil, IMT dalam batas normal (18,5-24,9)
yang penulis tetapkan sehingga intervensi harus dilanjutkan.

B. Diagnosa keperawatan Nanda NIC NOC 2018-2020 yang tidak muncul


pada kasus Ny. S
1. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer b.d Hipertensi
Perfusi jaringan perifer adalah penurunan sirkulasi darah yang dapat
mengganggu kesehatan (Nanda, 2018)
Perfusi jaringan merupakan keadaan ketika seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami penurunan oksigen. Diagnosis
perawatan ini di batasi hanya untuk menunjukan situasi penurunan perfusi
jaringan perifer ketika perawat memprogamkan tetapi definiti untuk
menurunkan, menghilangkan, atau mencegah masalah. Alasan penulis tidak
memprioritaskan diagnose Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer
berhubungan dengan Hipertensi karena perawat tidak menemukan tanda-
tanda yang memperkuat perawat untuk memprioritaskan diagnose tersebut.

49
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah di lakukan pemberian “ Asuhan Keperawatan Pada Ny.S Dengan
Tumor sinonasal di ruang kemuning II RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung’’ maka
dalam bab ini penulis dapat menarik kesimpulan dan saran khususnya pada
Tumor sinonasal.
A. Kesimpulan
1. Pengkajian
Dari pengkajian, penulis mendapatkan data pasien Ny.S dengan tumor
sinonasal di simpulkan bahwa pasien mengalami benjolan sejak 3bulan yang
lalu dengan penglihatan sedikit tidak normal. sesak nafas serta hidungnya
sering tersumbat secara terus menerus dan bersin bersin di sertai nafsu makan
berkurang dan mual muntah. nyeri di benjolan dan terkadang mengeluarkan
cairan dari hidung di sertai darah.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dinyatakan dalam teori ada 4 diagnosa
keperawatan berkaitan dengan Tumor Sinonasal, tapi tidak semua diagnosa
keperawatan muncul pada Ny. S ini. Kasus pada Ny. S dengan Tumor
Sinonasal ini terdiri dari 3 diagnosa yang aktual, yaitu:
a. Bersihan Jalan Nafas tidak efektif berhubungan dengan Benda asing
dalam jalan nafas
Setelah melakukan implementasi keperawatan selama 3x24jam masalah
belum teratasi sehingga intervensi masih tetap di lakukan.
b. Nyeri akut berhubungan dengan Agens Cidera biologis (penyakit Tumor
Hidung)
Setelah melakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam masalah
sebagian teratasi sehingga intervensi masih tetap di lakukan.

50
c. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan Ketidak mampuan mengabsorsi nutrient
Setelah melakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam masalah
belum teratasi sehingga intervensi masih tetap di lakukan.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi yang di susun disesuaikan dengan tinjauan teori dan tinjauan
kasus dilapangan, namun tidak semua intervensi keperawatan secara teori
dapat disusun oleh pasien, karena harus di sesuiakan dengan kondisi pasien
serta sarana prasarana ruangan. Sesuai dengan implementasi di laksanakan
3x24 jam dengan bantuan TIM. Dari semua masalah yang di hadapi oleh
pasien perawat melakukan evaluasi sesuai dengan kriteria hasil yang di
harapkan pada masing masing diagnose keperawatan yang muncul.
4. Implementasi Keperawatan
Setelah melakukan Asuhan Keperawatan pada Ny.S Dengan Tumor
Hidung , menjadikan penulis untuk memberikan tindakan keperawatan yang
tepat pada pasien tersebut dari diagnose yang telah muncul sudah dilakukan
implementasi sesuai dengan perencanaan keperawatan. Pada saat
implementasi, penulis mengikutsertakan pasien, keluarga, perawat ruangan,
dan petugas kesehatan lain.
Pada saat implementasi, penulis mengikutsertakan pasien, keluarga,
perawat runagan, dan petugas kesehatan lainya.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi atas tindakan keperawatan telah penulis lakukan sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai. Hasil evaluasi di dapatkan tiga masalah. Pada
evaluasi secara oprasional, terdapat masalah yang belum teratasi yaitu
Bersihan jalan nafas Tidak efektif berhubungan dengan Benda asing dalam
jalan nafas dan Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan Ketidak mampuan mengabsorsi nutrient maka dapat
disimpulkan bahwa semua semua masalah keperawatan belum bisa di capai
sesuai tujuan dan respon pasien yang sesuai kriteria hasil asuhan keperawatan.

51
B. Saran
1. Bagi Unniversitas Muhammadiyah Kudus
Sebagai wacana bagi institusi pendidikan dalam pengembangan dan
peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang dan dapat dipakai
sebagai salah satu bahan bacaan kepustakaan.
2. Bagi Rumah sakit
Di butuhkan kerja sama antar perawat ruangan dengan perawat praktekan
dalam melakukan asuhan keperawatan sehingga tercapai tujuan
keperawatan.
3. Bagi pasien
Penulis berharap penderita untuk memenuhi dan menjalankan intruksi dan
tim kesehatan dan tidak melanggar pantangan yang telah di jelaskan.
4. Bagi penulis
Penulis perlu belajar dan memahami kasus dengan penyakit Tumor
Sinonasal serta melibatkan perawat yang ada di rumah sakit agar
pengetahuan lebih luas lagi.

DAFTAR PUSTAKA

52
Agussalim. (2007, July ). dr. Tumor Sinonasal. Diambil kembali dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24571/../Chapter%2011.pdf

Budiman. (2012). Maksilektomi Total dengan Eksenterasi Orbita Pada Karsinoma


Mukoepidermoid Sinonasal. Padang: Falkutas Departemen Telinga Hidung
Tenggorok-Bedah Kepala Leher Kedokteran Universitas Andalas.

Cancer.net. (2019, Januari 13). Nasal Cavity and Paranasal Sinus Cancer: Statistics. Diambil
kembali dari Cancer.net: https://www.cancer.net/cancer-types/nasal-cavity-and-
paranasal-sinus-cancer/statistics

Carrau. (2015, Maret). Maligna Tumor of the Nasal Cavity and Sinuses. Diambil kembali dari
http://emedicine.medscape.com/article/846995-overview#showall

Dhingra. (2010). Anatomy of Nose in : Disiase of Ear, Nose, and Thrpart. India: Elsiver.

Doenges. (2012). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan


Pendokumentasian Perawatan pasien Jakarta: EGC.

Karanvilof. (2013, April). Sinus Anatomy and Fuction . Diambil kembali dari
http://www.ohiosinus.com/patient-info/sinus-anatomy-and-function

Kemkes. (2019, Febuary 26). Dr Willy Yusmawan, Sp. THT-KL(K), Msi Med . Diambil kembali
dari http://yankes.kemkes.go.id/read-apa-itu-kanker-sinonasal-6642.html

Krisnarenda, & saputra, A. D. (2018). KARAKTERISTIK PADA PENDERITA KANKER SINONASAL


DI RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014. E-JURNAL MEDIKA, VOL 7
NO. 8.

kurniawan, I. (2019, 19, maret Selasa ). Mari kita Kenali Gejala Kanker Nasofaring. Diambil
kembali dari Harian Ekonomi Neraca: http://www.neraca.co.id/article/111777/mari-
kita-kenali-gejala-kanker-nasofaring

Parimanto. (2012). Asuhan keperawatan Pada Tumor Hidung . Diambil kembali dari
http:parimanto11111617.wordpress.com

Rahman, S., & Firdaus, M. A. (2012). Tumor Sinus Paranasal Dengan Perluasan Intrakranial
dan Metastasis ke Paru. jurnal fk unand Vol 1, No 3, 150.

Rendi. (2012). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit Dalam. . Yogyakarta : Nuha
Medika.

53
Roezin. (2007). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi
Ke enam In: Averdi Rozien, Armiyanto Tumor Telinga Nasal dan Sinonasal. Jakarta,
Balai Penerbit FK UI.

Setiadi. (2012). Konsep&Penulis Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan Praktik.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sugiono. (2012). Metode Penilitian KUantitatif Kualitati dan R&D. Bandung : Alfabete.

Sukri. (2012). Journal of Tumor Sinus Paranasal Dengan Perluasan Intrakranial dan
Matastasis ke Paru . Sukri Rahman, M. Abduh Firdaus, 2012 .

Surakardja. (2009). Onkologi Klinik Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya:


RSUD sr Soetomo Surabaya .

Yale. (2013, June). Yale School Of Medicine, Sinus & Alergi. In Benign Sinonasal Tumors.
Diambil kembali dari http://www.yalesurgery.org:
http://www.yalesurgery.org/otolaryngology/sinusallergy/patient/conditions/benign
-sinonasal-tumors.aspx#pagel

54