Anda di halaman 1dari 16

Analisis Rekam Medis

Pengisiaan/pencatatan rekam medis ada kemungkinan besar terjadi tidak


lengkap atau tidak sesuai dengan ketentuan, hal tersebut disebabkan :

1. Pelaksanaan pendokumentasian dilakukan oleh banyak pemberi pelayanan


kesehatan
2. Rekam Medis diciptakan sebagai aktifitas sekunder mengiringi jalannya
pelayanan pasien, maka pendokumentasiannya bisa saja tidak seakurat dan
selengkap yang ditetapkan /diinginkan
3. Kesibukan seorang dokter, sehingga menulis catatan bisa pada form yang salah
serta terburu-buru sehingga tidak terbaca
4. Seorang perawat yang sibuk melayani panggilan pasien menjadi lupa mencatat
hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan pasien yang telah diberikan

Agar rekam medis tersebut tidak terjadi seperti di atas maka harus dilakukan kegiatan
analisis/pengkajian dari isi rekam medis /pendokumentasian sehingga rekam medis
dapat digunakan atau mempunyai nilai guna seperti ; Administration, Legal aspect,
Financial, Reseach, Education, Documentation, Public health, planing dan Marketing.

Analisis dari pendokumentasian rekam medis yang telah digunakan (setelah


pasien pulang) baik untuk rawat jalan /UGD maupun rawat inap terdapat tiga jenis
analisis, yaitu :

1. Analisis Kuantitatif
2. Analisis Kualitatif
3. Analisis Statistik
Untuk melakukan analisis tersebut, perekam medis dipercaya untuk melakukan analisa
baik kuantitatif, kualitatif maupun statistik serta memberitahu kepada petugas yang
mengisi rekam medis apabila ada kekurangan atau inkosistensi yang mengakibatkan
rekam menjadi tidak lengkap atau tidak akurat, kemudian membuat laporan ketidak
lengkapan sehingga dapat ditindak lanjuti untuk diatasi agar rekam medis menjadi
lengkap.

Peraturan dan Kebijakan yang dibutuhkan untuk melakukan analisis tersebut


adalah :

1. Permenkes No.749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis


2. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Rekam Medis di Rumah Sakit dari Dirjen Yanmed
Tahun 1997
3. SE. No. HK. 00.06.1.5.01160 Tahun 1995 tentang petunjuk teknis pelaksanaan
pengadaan formulir Rekam Medis Dasar dan Pemusnahan Arsip Rekam Medis di
RS
4. Peraturan RS tentang analisis Rekam Medis, Form. Rekam Medis dan susunan
berkas Rekam Medis, Prosedur Kerja /Protap
Waktu untuk melakukan analisis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Retrospective Analysis
Yaitu analisis yang dilakukan setelah pasien pulang, Hal ini yang sering dilakukan
karena dapat menganalisis rekam medis secara keseluruhan walaupun hal ini dapat
memperlambat proses melengkapi yang kurang.

1. Concurrent Analysis
Yaitu analisis yang dilakukan pada saat pasien masih dirawat atau selama perawatan
berlangsung analisa juga dilakukan. Analisis dilakukan diruang perawatan untuk
mengidentifikasi kekurangan/ketidaksesuaian, salah interprestasi secara cepat sebelum
digabungkan

1. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah telaah/review bagian tertentu dari isi rekam medis dengan
maksud menemukan kekurangan khusus yang berkaitan dengan pencatatan rekam
medis
Jadi analisis kuantitatif menurut penulis dapat disebut juga sebagai analisis
ketidaklengkapan baik dari segi formulir yang harus ada maupiun dari segi kelengkapan
pengisian semua item pertanyaan yang ada pada formulir sesuai dengan pelayanan
yang diberikan pada pasien.
Tenaga rekam medis yang melakukan analisis kuantitatif harus ‘’tahu’’ (dapat
mengidentifikasi, mengenal, menemukan bagian yang tidak lengkap ataupun belum
tepat pengisiannya) tentang :

1. Jenis formulir yang digunakan


2. Jenis formulir yang harus ada
3. Orang yang berhak mengisi rekam medis
4. Orang yang harus melegalisasi penulisan

Tujuan Analisis Kuantatif :


1. Menentukan sekiranya ada kekurangan agar dapat dikoreksi dengan segera pada
saat pasien masih dirawat, dan item kekurangan belum terlupakan, untuk
menjamin efektifitas kegunaan isi rekam medis di kemudian hari. Yang dimaksud
dengan koreksi ialah perbaikan sesuai keadaan yang sebenarnya terjadi.
2. Untuk mengidentifikasi bagian yang tidak lengkap yang dengan mudah dapat
dikoreksi dengan adanya suatu prosedur sehingga rekam medis menjadi lebih
lengkap dan dapat dipakai untuk pelayanan pada pasien, melindungi dai kasus
hukum, memenuhi peraturan dan untuk analisa statistik yang akurat.
3. Kelengkapan Rekam medis sesuai dengan peraturan yang ditetapkan jangka
waktunya, perizinan, akreditasi, keperluan sertifikat lainnya
4. Mengetahui hal-hal yang berpotensi untuk membayar ganti rugi

Komponen Analisis Kuantatif :


1. Memeriksa identifikasi pasien pd setiap lebar RM
ü Setiap lembar RM harus ada identitas pasien (No. RM, Nama ), bila ada lembaran
rekam medis yang tanpa identitas harus di review untuk menentukan milik siapa
lembaran tersebut.

ü Dalam hal ini dengan Concurrent Analysis akan lebih mudah untuk dilengkapi
dilakukan daripada Restrospective analysis

2. Adanya semua laporan yang penting


ü Pada komponen ini akan memeriksa laporan-laporan dari kegiatan pelayanan yang
diberikan ada atau tidak ada.

ü Laporan yang ada di rekam medis :

Laporan umum seperti ; lembar riwayat pasien, pemeriksaan fisik, catatan


perkembangan, observasi klinik, ringkasan penyakit

Laporan khusus, seperti laporan operasi, anasthesi dan hasil-hasil pemeriksaan lab.

ü Dalam laporan tersebut pencatatan tanggal dan jam pencatatan menjadi penting
karena ada kaitannya dengan peraturan seperti lembar riwayat pasien dan pemeriksaan
fisik harus diisi < 24 jam sesudah pasien masuk rawat inap, maka agar lengkap harus
dilakukan analisis ketidak lengkapan dengan cara Concurrent, karena kalau dengan
retrsopective pemeriksaan yang tidak lengkap diketahui setelah pasien pulang
sedangkan aturannya pemeriksaan fisik harus diisi < 24 jam, sehingga rekam medis
tersebut tidak dapat dilengkapi lagi atau disebut dengan ‘’Deficiency’’.

3. Review Autentifikasi
ü Pada komponen ini analisis kuantitatif memeriksa autentifikasi dari pencatatan
berupa tanda tangan, nama jelas termasuk cap/stempel atau kode seseorang untuk
kompeterisasi, dalam penulisan nama jelas harus ada titel/gelar profesional (Dokter,
perawat)

ü Dalam autentifikasi tidak boleh tanda tangani oleh orang lain selain dari penulisnya,
kecuali bila ditulis oleh dokter jaga atau mahasiswa maka ada tanda tangan sipenulis di
tambah countersign oleh supervisor dan ditulis telah direview dan dilaksanakan atas
intruksi dari … atau telah diperiksa oleh…atau diketahui oleh …

Review Pencatatan

Pada komponen ini akan dilakukan :

ü Pemeriksaan pada pencatatan yang tidak lengkap dan tidak dapat dibaca, sehingga
dapat dilengkapi dan diperjelas.

ü Memeriksa baris perbaris dan bila ada barisan yang kosong digaris agar tidak diisi
belakangan
ü Bila ada yang salah pencatatan, maka bagian yg salah digaris dan dicatatan tersebut
masih terbaca, kemudian diberi keterangan disampingnya bahwa catatan tersebut
salah

2. Analisis Kualitatif
Adalah suatu review pengisian rekam medis yang berkaitan tentang kekonsistenan dan
isinya merupakan bukti rekam medis tersebut akurat dan lengkap

Tujuan Analisis Kualitatif :


1. Mendukung kualitas Informasi
2. Merupakan aktifitas dari Risk management
3. Membantu dalam memberikan kode penyakit dan tindakan yang lebih spesifik
yang sangat penting untuk penelitian medis, studi administrasi dan untuk
penagihan
4. Meningkatkan kualitas pencatatan, khusunya yang dapat mengakibatkan ganti
rugi pada masa yang akan datang
5. Kelengkapan Informed consent sesuai dengan peraturan
6. Identifkasi catatan yang tidak konsisten
7. Mengingatkan kembali tentang pencattan yang baik dan memperlihatkan
pencatatan yang kurang.
Komponen Analisis Kualitatif :

1. Review Kelengkapan dan kekonsistenan diagnosa


2. Review kekonsistenan pencatatan diagnosa
3. Review pencatatan hal-hal yg dilakukan saat perawatan dan pengobatan
4. Review adanya informed consent yg seharusnya ada
5. Review cara/praktek pencatatan
6. Review hal-hal yang berpotensi menyebabkan tuntutan ganti rugi

1. Review Kelengkapan dan kekonsistenan diagnosa


Pada review ini akan memeriksa kekonsistenisan Diagnosa diantaranya :

1) Diagnosa saat masuk / alasan saat masuk rawat

2) Diagnosa tambahan

3) Preoperative diagnosis

4) Postoperative diagnosis

5) Phatological diagnosis

6) Clinical diagnosis

7) Diagnosis akhir/utama

8) Diagnosa kedua
b. Review kekonsistenan pencatatan diagnosa

Konsistensi merupakan suatu penyesuaian/kecocokan antara 1 bagian dengan bagian


lain dan dengan seluruh bagian, dimana diagnosa dari awal sampai akhir harus
konsisten, 3 hal yang harus konsisten yaitu catatan perkembangan, intruksi dokter, dan
catatan obat.

Contoh Review kekonsistenan pencatatan diagnosa;

– Pada pelayanan rawat inap hasil operasi, hail pemeriksaan PA, hasil
pemeriksaan diagnostik, dan surat pernyataan tindakan harus konsisten , apabila
berbeda menunjukan rekam medis yang buruk

– Catatan perkembangan menulis pasien menderita demam, sedangkan dokter


menulis pasien tidak demam. Perbedaan tersebut mendatangkan pertanyaan dalam
evaluasi dokter dan diputuskan untuk tidak dilakukan tindakan

c. Review pencatatan hal-hal yg dilakukan saat perawatan dan pengobatan

Rekam medis harus menjelaskan keadaan pasien selama dirawat, dan harus
menyimpan seluruh hasil pemeriksaan dan mencatat tindakan yang telah dilakukan
pada pasien

Contoh :

Hasil test normal, pasien dalam keadaan baik, pasien telah diberi penjelasan dan
petunjuk. Semua hal diatas harus ada catatan yang melihatkan kondisi tersebut dalam
rekam medis.

d. Review adanya informed consent yg seharusnya ada

Pada komponen ini menganalisa surat persetujuan dari pasien apakah sudah diisi
dengan benar dan lengkap sesuai dengan prosedur dan peraturan yang dibuat secara
konsisten

Lihat prosedur dan ketentuan informed consent di PSRM II

1. Review cara/praktek pencatatan


Pada komponen ini akan dilakukan review cara pencatatan, seperti :

1) Waktu pencatatan harus ada, tidak ada waktu kosong antara 2 penulisan,
khususnya pada saar emergency. Tidak ada pencatatan pada suatu periode tidak
hanya catatannya saja yang tidak ada tetapi juga meningkatkan resiko kegagalan
dalam pengobatan, dan malpraktek penelitian dilakukan dengan hati-hati dan lengkap

2) Mudah Dibaca, tulisan harus bagus, tinta yang digunakan harus tahan lama,
penulisan dilakukan dengan hati-hati dan lengkap
3) Menggunakan singkatan yang umum, perlu dibuatkan pedoman untuk
singkatansingkatan yang digunakan sehingga semua tahu tentang arti singkatan
tersebut

4) Tidak menulis komentar/hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pengobatan


pasien /kritikan/hinaan

5) Bila ada kesalahan lebih baik dibiarkan dan kemudian dikoreksi, jangan di tipp ex

1. Review hal-hal yang berpotensi menyebabkan tuntutan ganti rugi


Rekam medis harus mempunyai semua catatan mengenai kejadian yang dapat
menyebabkan/berpotensi tuntutan kepada institusi pelaayanan kesehatan baik oleh
pasien maupun oleh pihak ketiga.

PENGONTROLAN REKAM MEDIS YANG TIDAK LENGKAP

Hasil dari analisa kuantitatif dan kualitatif secara garis besar adalah :

1, Identifikasi kekurangan yg spesifik

2. Pola /gambaran dari pencatatan yg jelek


3. Kejadian yg dapat mengakibatkan ganti rugi

Pengontrolan Rekam Medis yg tidak lengkap dapat dengan cara :

1. Statistik Ketidak lengkapan


2. Pencatatan kekurangan dari Rekam Medis
3. Penyimpanan Rekam Medis yg tidak lengkap
4. Final Chart Check

1. Statistik Ketidak lengkapan


Pengontrolan rekam medis dengan statistik ketidaklengkapan yaitu dengan mengolah
data rekam medis yang tidak lengkap dan menyajikan angka ketidaklengkapan,
sehingga dapat dijadikan peringatan untuk memperbaiki pencatatan rekam medis yang
lengkap. Statistik ketidak lengkapan dapat dihitung dengan cara Incompete dan
delinguent Medical record.

1. Incomplete MR
Adalah Rekam medis dgn kekurangan yg spesifik yg masih dapat dilengkapi oleh
pemberi pelayanan kesehatan, dapat dicari dengan cara :

Inc.MR
Inc.MR Rate = X 100 % Jmh
Pas Pulang selama periode melengkapi RM tsb.

1. Delinguent MR
Adalah Rekam Medis yg masih tidak lengkap sesudah melewati batas waktu tersebut,
dapat dicari dengan cara :

Sedangkan menurut Depkes dapat dihitung dengan cara :

Angka KetidakLengkapan Pengisian Catatan Medis (KLPCM )

Merupakan salah satu indikator Mutu Kualitas pelayanan suatu RS, dapat
dicari dengan cara :

Total RM yang belum lengkap & benar dlm 14 hari /bulan

X 100%

Total Pasien Yang termasuk pada bulan tersebut

2. Pencatatan kekurangan dari Rekam Medis


Rumah sakit harus tahu bahwa ada rekam medis yang perku dilengkapi dan apa saja
kekurangannya. Identifikasi ketidaklengkapan dari rekam medis dapat dilakukan
dengan cara :

1. Membuat catatan kecil dan diletakan langsung dalam rekam medis atau Memberi
tanda dengan selotip/stempel di map rekam medis
2. Dokter/perawat secara rutin datang ke unit rekam medis
3. Rekam Medis yang tidak lengkap dikirim ke tempat yang telah ditetapkan atau
diletakan di ruang perawat atau dikirim ke ruangan masing-masing petugas yang
akan mengisi ketidaklengkapan (tergantung pada kesepakatan akan dilengkapi
dimana), yang pasti rekam medis tidak boleh dibawa ke luar RS, karena sewaktu-
waktu pasien bisa datang untuk berobat terutama dalam keadaan emergency
atau untuk keperluan lain serta untuk mencegah hilangnya rekam medis dan
menjamin kerahasiaan rekam medis.

Penyimpanan Rekam Medis yang tidak lengkap

Untuk rekam medis yang belum lengkap atau akan dilengkapi untuk memudahkan
mencari maka penyimpanannya dapat dilakukan dengan beberapa alternatif :

1. Peyimpanan disatukan dalam file RM permanen


2. Dipisah, dan diberi nama ruangan/nama petugas yg tidak melengkapi
3. Dipisah, dan diberi No. RM

Keuntungan & Kerugiannya

Penyimpanan dlm RM permanen meyulitkan untuk mendapatkannya/mencari kembali.


1. Pemisahan dengangn memberi nama ruangan/petugas memudahkan untuk
mendapatkan kembali, tetapi sulit bila satu berkas harus dilengkapi oleh banyak
petugas yang harus melengkapi
2. Pemisahan dengan memberi No. RM merupakan gabungan antara a dan b

 Proses penyimpanan dan pencarian RM yg tidak lengkap dapat pula dilakukan


dengan komputer dengan cara :
1. Membuat daftar RM yg tidak lengkap per nama ruangan/petugas yg harus
melengkapi
2. Membuat daftar lembaran yg tidak lengkap pada setiap RM yg tidak lengkap
3. Membuat statistik Inc.MR dan D.MR per dokter atau per tipe kekurangan atau
berdasarkan lamanya D.MR
4. Membantu mengetahui lokasi yg tidak lengkap

4. Final Chart Check


Sebagai laporan akhir dari ketidaklengkapan atau hasil dari analisi kuantitatif dan
kualitatif, Berguna untuk merecheck berkas RM yg telah dilengkapi.

RM perlu lengkap tepat waktu karena Inc.MR menurunkan kualitas pelayanan


kesehatan yang mempengaruhi akreditasi dan kualitas RS
Bila Petugas yg harus melengkapi sudah pindah atau meninggal maka RM tersebut
dikategorikan sbg Inc RM dan biasanya komite RM mereview dan memberi catatan.

Penanganan Pencatatan Yang Tak Dapat Dilengkapi

Untuk penanganan rekam medis yang tidak dapat dilengkapi agar tidak
terulang lagi atau mendorong para petugas yang mengisi rekam medis dapat mengisi
dengan lengkap dan benar, maka dapat dilakukan beberapa upaya, dimana upaya
tersebut tergantung pada situasi, karena setiap situasi mempunyai solusi yang berbeda,
diantaranya yaitu :

1. Jika pada An Kualitatif dan kuantitatif ternyata ada pendokumentasian yang tak
dapat dilengkapi atau dikoreksi sesuai yg dilaksanakan, petuga RM harus
menyampaikan ke bag hukum staf medis/Komite Medis/Manajer administrasi RS,
dan kode etik Profesi RM
2. Mengulang desain formulir. Contoh ; Jika pada Analisis Kualitatif dinyatakan
bahwa form pemeriksaan bayi baru lahir ada yang tidak diisi, mungkin lebih tepat
disarankan pada komite rekam medis untuk mengevaluasi form tersebut, apakah
item pertanyaan tersebut tidak diperlukan atau memang tidak lengkap, apabila
tidak perlu maka form tersebut dapat direvisi
3. Petugas kesehatan dapat dihubungi langsung mengenai pencatatannya yang
jelek, contoh :
Pada analisis kualitatif didapat seorang dokter menulis menggunakan pulpen tinta cair
yang mengotori kertas dan tembus ke bagian belakang, sehingga tidak dapat
digunakan sisi belakangnya maka dengan melihat catatan tersebut dokter tersebut
dapat diingatkan untuk tidak menggunakan pulpen tersebut.
1. Informasi secara umum mengenai pencatatan yg jelek dapat diberitakan di
majalah RS . Mading atau pada rapat intern
2. Kliping mengenai kasus malpraktek akibat pencatatan yang jelek dimasukan
dalam bulletin
3. Harus ada dicatat/ diberi peringatan jika ada hal kajadian yg berpotensi RS
membayar ganti rugi
4. Identifikasi awal dan analisis secara cepat dan usaha keras akan mengurangi
seminimal mungkin kejadian yg berpotensi RS membayar ganti rugi
5. Memberikan pelatihan/sosialisasi kemabali tentang rekam medis, formulir yang
digunakan dan cara pengisiannya
6. Memberi sanksi bagi petugas yang mengisi rekam medis dengan tidak lengkap
dan tidak benar, seperti ;
– Teguran

– Surat peringatan

– Menunda pemberian honor/insentif

Teknik Melakukan analisis kuantitatif


1. Tentukan dulu formulir atau komponen apa saja yang diperioritaskan untuk
dianalisa atau kalau memungkinkan waktu dan tenaga dapat dilakukan pada
semua formulir di rekam medis baik rawat jalan maupun rawat inap (yang
menentukan sebaiknya komite rekam medis)
2. Tentukan frekwensi waktu pemeriksaan rekam medis, apakah setiap hari atau
setiap rekam medis yang telah dipakai, atau tiga bulan sekali. Apabila dilakukan
tiga bulan sekali maka pemeriksaan rekam medis dilakukan dengan cara sampel,
maka apabila dengan sampel kita harus menentukan jumlah sampel rekam medis
yang akan diperiksa, agar sampelnya representatif dengan populasi maka ada
beberapa metode diantaranya yaitu, pendapat Arikunto (1998 : 120), bahwa
“Apabila subjeknya kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua
sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika
jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-35 atau lebih”

Keterangan :

n = Ukuran Sampel

N = Ukuran Populasi

e = Nilai Kritis (Batas kesalahan)

N
n=
1 + N.e

rumus diatas maka sebelumnya perlu dicari dulu nilai kritis atau batas kesalahan (e)
dimana menurut Gay (Sevile, 1993:163) adalah 10 %.
Pk x n
nk =
P

Keterangan :

Pk = Jumlah anggota yang terdapat pada unsur k

P = Jumlah populasi

nk = Banyak anggota yang dimasukan menjadi sampel

n = Jumlah sampel seluruhnya

Sedangkan untuk mendapatkan proporsi sampel dari tiap unit populasi, penulis
menggunakan rumus dari Singarimbun, et.all., (1987:25) yaitu sebagai berikut :

Contoh ; Penentuan Ukuran Populasi dan Sampel (Akasah, 2007)

Untuk setiap penelitian tentu ada yang dijadikan objek untuk diteliti, dimana objek itu
dapat diambil dari suatu populasi. Populasi itu sendiri menurut Sugiyono (2006:90)
adalah “wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek /subyek yang mempunyai kuantitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulan ”.

Dalam penelitian ini populasi yang dipilih penulis adalah dokumen rekam medis rawat
inap pada satu tahun terakhir. Rekam medis yang dipilih populasi rawat inap
dikarenakan sifat pada pelayanan rawat inap yang memerlukan observasi dan
pelayanan yang intensif baik dari perawat maupun dokter, sehingga informasi yang
dibutuhkan cukup banyak dan harus lengkap, serta pada fenomenanya menunjukan
bahwa rekam medis rawat inap cenderung lebih banyak yang tidak lengkapnya
dibandingkan pada rekam medis rawat jalan maupun UGD. Dipilih dalam periode satu
tahun terakhir dari waktu penelitian, agar data yang diperoleh lebih up to date dan bisa
menggambarkan kondisi terakhir dari kualitas kelengkapan rekam medis.

Ukuran populasi rekam medis rawat inap di RS Jiwa Bandung pada satu tahun terakhir
(Maret 2006 – April 2007) yaitu :

Daftar Populasi Penelitian

No. Unit Populasi Ukuran


Populasi

1 Ruang Intensif 963


2 Ruang Intermediate 100

3 Ruang Tenang 804

Jumlah 1867

3.3.2.2.Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan sampel yang akan diambil adalah
dilakukan secara Proporsional Stratified Random Sampling. Dalam teknik ini digunakan
bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara
proporsional ( Sugiyono, 2006 ).

Pengambilan sampel dalam penelitian ini melalui dua tahap. Tahap pertama adalah
mencari jumlah sampel (n), dan tahap kedua mencari sampel stratum (ni). Tahap
pertama untuk jumlah sampel menggunakan rumus yang digunakan Rumus
perhitungan ukuran sampel dari Slovin yang dikemukakan Umar, (2005:78) yaitu :

Keterangan :

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi

e = Tingkat/ukuran kritis (batas ketelitian yang diinginkan atau


persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan sample).

Jadi dengan memakai rumus tadi maka dapat diketahui sampel yang akan diambil dari
jumlah populasi 968 yang ada di Rumah Sakit Jiwa Bandung, yaitu sebagai berikut :

N
n=
1 + N.e

Berdasarkan perhitungan di atas yang dijadikan sampel untuk dijadikan responden


adalah sebanyak 95rekam medis rawat inap 2006 – 2007

Sedangkan untuk mendapatkan proporsi sampel dari tiap unit populasi, penulis
menggunakan rumus dari Singarimbun, et.all., (1987:25) yaitu sebagai berikut

Keterangan :

Pk = Jumlah anggota yang terdapat


pada unsur k

P = Jumlah populasi
nk = Banyak anggota yang
dimasukan menjadi sampel

n = Jumlah sampel seluruhnya

Dari rumus diatas maka tiap unit dapat dicari besar sampelnya yaitu sebagai berikut :

1. Rekam Medis Rawat Inap Ruang Intensif

1. Rekam Medis Rawat Ruang Intermediate

804 x 95
nk =

18672

= 40,91

= 41

Rekam Medis Rawat Inap Ruang Tenang


Dari perhitungan di atas maka ukuran sampel dari tiap unit populasi dapat di lihat pada
tabel berikut :

TABEL 3.4

UKURAN SAMPEL TIAP POPULASI STRATUM

No. Unit Populasi Ukuran Ukuran


Populasi Sampel

1 Rekam Medis Ruang Intensif 963 50

2 Rekam Medis Ruang Intermediate 100 6

3 Rekam Medis Ruang Tenang 804 41

Jumlah 1867 97

Sumber : Instalasi Rekam Medis RS Jiwa Bandung

3. Setelah ditentukan form atau komponen yang akan diperiksa maka selanjutnya
membuat formulir/instrumen pemeriksaan, misalkan menurut Huffman komponen
analisi kuantitatif yaitu :
A. Identifikasi
B. Laporan yang penting
C. Autentifikasi
D. Pendokumentasian yang benar

Dari setiap komponen tersebut harus diperinci lagi sehingga semakin jelas
mana yang lengkap dan tidak lengkapnya, contohnya dapat dilihat pada instrumen
berikut ini :

Formulir Cheaklist Analisa Kuantitatif

Komponen No. RM : No. RM : dst Rekapitulasi Jm


Analisa Ya
Ada Tidak Ada Tidak ada Ada Tidak ada dip
ada
L TL L TL L TL

A. Identifikasi
1 Nomor Rekam
Medis

2 Nama

3 Jenis kelamin

4 Tanggal Lahir

5 Umur

6 Alamat

7 Pendidikan

8 Agama

B Laporan Yang
Penting

1 Diagnosa
sementara

2 Diagnosa Utama

3 Keadaan keluar

4 Tanggal Masuk

5 Tanggal Keluar

6 Jenis Operasi

7 Laporan Operasi

8 Laporan Anatesi

9 Informed
Consent

C Autentifikasi

1 Ringkasan
Masuk dan
Keluar

2 Resume

3 Perintah Dokter
4 Asuhan catatan
keperawatan

5 Laporan Operasi

6 Laporan Anatesi

7 Informed
Consent

D Pendokumentasi
an yang benar

Ada Tidak Ada Tidak ada Ada Ti


ada

B TB B TB B

1 Identifikasi

2 Diagnosis

3 Pembetulan
Kesalahan

Jumlah

4. Setelah itu lakukan rekapitulasi, sehingga dapat diketahui item/komponen mana


yang paling banyak tidak lengkap
5. Penyajian data dapat di tampilkan dengan grafik atau tebel

BUKU ILMIAH
Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga. Jakarta: Bina Rupa
Aksara

Budi, S.C. 2011. Manajemen Unit Kerja Rekam Medis. Yogyakarta: Quantum Sinergis
Media
Firdaus, S.U. 2008. Rekam Medik Dalam Sorotan Hukum dan Etika. Surakarta: UNS
Press

Guwandi, J. 2005. Rahasia Medik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Hanafiah, J.M & Amir A. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC
Hatta, G.R. 2008. Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan
Kesehatan. Jakarta: UI Press

Huffman, E.K. 1994. Health Information Management. IIIinois: Physician’s Record


Company

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:


Graha Ilmu

Sudra, R.I. 2013. Rekam Medis. Banten: Universitas Terbuka

JURNAL
Crawford, Mark. 2013. Declassifying Doctors’ Notes “Open Notes” Project Gives Patient
Access To Clinician Notes.AHIMA, Vol 84:5
Crawford, Mark. 2013. The Truth About Computer – Assisted Coding. AHIMA, Vol 84:7

Eramo, Lisa.A. 2013. The Final Countdown Industry Moves Closer To ICD-10-CM/PCS
Implementation Deadline. AHIMA, Vol 84:6

Sugiarsi, Sri. dkk. 2014. Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia. AptiRMIK, Vol 2:2

Senger, Harro.Von. 1992. From The Limited To The Universal Concept Of Human
Right, Dalam Comparative Law Review, Vol XXVI-2
Sohn, Lois.B. 1982. The International Law Protection Of Rights Of Individualis Rather
Than States, Dalam The American Niversity Law Review, Vol 31:1

Shahriyar, R., Bari, F., Kundu, G., & Ahamed, S. I. (2009). Intelligent Mobile Health
Monitoring System ( IMHMS ). International Journal of Control, 2(3), 13–28.

Acker, B., Adams, D., Cunningham-West, C., Dougherty, M., & All, E. (2004). The
Strategic Importance of Electronic Health Records Management. American Health
Information Management Association, 1–30Balas