Anda di halaman 1dari 3

Gizi diartikan sebagai suatu proses organisme menggunakan makanan yang di konsumsi

secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan

pengeluaran zat – zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan

fungsi normal dari organ – organ serta menghasilkan energi. Sedangkan status gizi diartikan

sebagai keadaan gizi seseorang yang diukur atau dinilai pada satu waktu. Penilaian atau

pengukuran terhadap status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Salah

satu cara penilaian atau pengukuran status gizi adalah secara antoprometri yaitu penilaian status

gizi berdasarkan berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, dan tebal lemak di bawah kulit.

Penilaian status gizi ini bertujuan untuk menentukan klasifikasi status gizi. Ada beberapa

klasifikasi umum yang digunakan, diantaranya klasifikasi World Health Organization (WHO)

dengan indikator yang digunakan, meliputi berat badan per tinggi badan (BB/TB), berat badan per

umur (BB/U) dan tinggi badan per umur (TB/U) (Wiyogowati, 2012).

Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari

minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih

pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (WHO, 2006). Ini adalah indikator

kesehatan anak kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang

dipengaruhi lingkungan dan keadaan sosial ekonomi. Asupan zat gizi adalah salah satu faktor yang

berpengaruh langsung terhadap stunting (Hestuningtyas, 2014). Stunting terjadi lantaran

kekurangan gizi dalam waktu lama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) (Kementrian

desa, 2017). Pertumbuhan fisik berhubungan dengan faktor lingkungan, perilaku dan genetik,

kondisi sosial ekonomi, pemberian ASI serta kejadian BBLR merupakan faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian stunting.


Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas

sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini

adalah masih tingginya kasus anak balita pendek (stunting). Prevalensi stunting (tinggi badan per

umur) di Indonesia menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 mencapai 37,2 %. Hasil

Riskedas tahun 2018 balita stunting sebanyak 30,8% yaitu balita sangat pendek sebanyak 11,5%

dan balita pendek 19,3% meningkat lebih tinggi daripada tahun 2007 yaitu balita pendek sebanyak

18%. Pemantauan Status Gizi Tahun 2016 stunting pada balita mencapai 27,5 % sedangkan

batasan WHO < 20%. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9

juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Lebih dari 1/3 anak berusia

di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata (Kementrian desa, 2017).

Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3—11% dari

Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB 2015 sebesar Rp11.000 Triliun, kerugian

ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp300-triliun—Rp1.210 triliun per

tahun. Besarnya kerugian yang ditanggung akibat stunting lantaran naiknya pengeluaran

pemerintah terutama jaminan kesehatan nasional yang berhubungan dengan penyakit tidak

menular seperti jantung, stroke, diabetes atapun gagal ginjal. Ketika dewasa, anak yang menderita

stunting mudah mengalami kegemukan sehingga rentan terhadap serangan penyakit tidak menular

seperti jantung, stroke ataupun diabetes. Stunting menghambat potensi transisi demografis

Indonesia dimana rasio penduduk usia tidak bekerja terhadap penduduk usia kerja menurun. Belum

lagi ancaman pengurangan tingkat intelejensi sebesar 5—11 poin. Stunting pun menjadi ancaman

masyarakat Desa (Kementrian desa, 2017).

Hasil Riskesdas menunjukkan bahwa angka stunting di sumatera barat menurun dari tahun

2013 sebanyak 39,5% menjadi 29% pada tahun 2018. Jumlah anak stunting di wilayah kerja
Puskesmas Pariaman dengan 22 desa tahun 2018 yaitu sebanyak 337 anak. Jumlah stunting

terbanyak didapatkan di desa Cimparuh sebanyak 33 anak.