Anda di halaman 1dari 19

2

mencapai 1140. Dan di tahun 2012 kasus fraktur berjumalah 1180

penderita. Sedangkan berdasarkan data Rekam Medik di Rumah Sakit

Siaga Medika Pemalang

pada tahun 2014 jumlah penderita fraktur akibat kecelakaan mencapai

1210 pasien. Prevalensi ini khususnya pada laki-laki yang mengalami

kenaikan pada setiap tahunnya, dan kasus fraktur pada perempuan tidak

mengalami kenaikan. Dapat disimpulkan bahwa penderita fraktur post

operasi di Rumah Sakit Siaga Pemalang masih cukup tinggi. Fenomena

tersebut menunjukan bahwa pasien di rumah sakit mengalami berbagai

masalah keperawatan salah satunya adalah nyeri, yang dirasakan pada

fraktur post operasi, masalah tersebut harus diketahui tingkatan nyerinya.

Peran perawat sangat penting dalam mengetahui tingkat skala nyeri

fraktur post operasi. Oleh karena itu Ismi Lusiati tertarik untuk menyusun

Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Analisa Tingkat Nyeri Pada Pasien

Fraktur Post Operasi”.

A. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka yang menjadi

rumusan masalahnya yaitu bagaimana menganalisis tingkat nyeri pada

pasien fraktur post operasi di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang?

B. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan umum :

Untuk mengetahui tingkat nyeri pada pasien fraktur post operasi

di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang.


3

Tujuan khusus :

a. Untuk mengetahui tingkat nyeri ringan pada pasien fraktur post

operasi di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang.

b. Dapat mengetahui tingkat nyeri sedang pada pasien fraktur post

operasi di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang.

c. Diketahuinya tingkat nyeri berat pada pasien fraktur post operasi di

Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang.

C. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Pasien dan Keluarga

Untuk meningkatkan pengetahuan dan menambah informasi pada

pasien dan keluarganya.

2. Bagi Rumah Sakit

Agar dapat menambah wawasan dan bahan masukan khususnya

bagi perawat yang ada di Rumah Sakit, agar dapat lebih memahami

tentang tingkat nyeri pada pasien fraktur post operasi.

3. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan bagi peneliti dan menerapkan ilmu yang

sudah didapat dalam proses belajar selama ini.

4. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai data dan informasi untuk

penelitian lanjutan yang berhubungan dengan tingkat nyeri pada

pasien fraktur post operasi.


4
5

A. LANDASAN TEORI

1. NYERI

a. Pengertian Nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau

potensial. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau

bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau

pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih

banyak orang dibanding suatu penyakit manapun (Smeltzer,

2001).

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Menurut Smeltzer, (2001) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

respons nyeri adalah :

1. Pengalaman masa lalu

Individu yang mempunyai pengalaman yang multiple dan

berkepanjangan dengan nyeri akan lebih sedikit gelisah dan

lebih toleran terhadap nyeri dibanding dengan orang yang

hanya mengalami sedikit nyeri.

2. Ansietas

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks.

Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri

juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas.


6

Pola berkaitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas.

Sulit untuk memisahkan atau sensasi.

3. Budaya

Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu

mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan

dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka.

4. Efek plasebo

Plasebo merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam

bentuk tablet, kapsul, cairan injeksi, dan sebagainya. Plasebo

umumnya terdiri atas gula, larutan salin normal, dan atau air

biasa. Karena plasebo tidak memiliki efek farmakologis, obat

ini hanya memberikan efek dikeluarkannya produk ilmiah

(endogen) endorfin dalam sistem kontrol desenden, sehingga

menimbulkan efek penurunan nyeri (Tamsuri, 2006).

(http://nerseducation.blogspot.co.id/2012/01/laporan-

pendahuluan-nyeri.html).

c. Pengukuran Nyeri

Dapat dilihat dari tanda-tanda karakteristik yang ditimbulkan,

yaitu :

1. Nyeri ringan umumnya memiliki gejala yang tidak dapat

terdeteksi.
7

2. Nyeri sedang atau moderat memiliki karakteristik:

peningkatan frekuensi pernafasan, peningkatan tekanan darah,

peningkatan kekuatan otot, dilatasi pupil.

3. Nyeri berat memiliki karakteristik : muka pucat, otot

mengeras, penurunan frekuensi nafas dan tekanan darah,

kelelahan dan keletihan.

d. Penilaian Nyeri

Penilaian skala nyeri adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat kesakitan / nyeri yang sedang diderita oleh

seseorang yang mana hasilnya dapat membantu kita dalam

membedakan tingkat beratnya suatu penyakit beratnya suatu

penyakit sehingga dapat membantu menegakkan diagnosis yang

akurat, mengitervensikan pengobatan yang tepat dan menilai

efektivitas terapi yang telah diberikan.

2. TINGKAT SKALA NYERI

a. Tingkat/skala nyeri yang bisa digunakan dalam dunia kesehatan

ada dua yaitu :

1). Tingkat / Skala Berdasarkan Ekspresi Wajah

-ekspresi wajah 1 : tidak merasa nyeri sama sekali

-ekspresi wajah 2 : nyeri hanya sedikit


8

-ekspresi wajah 3 : sedikit lebih nyeri

-ekspresi wajah 4 : jauh lebih nyeri

-ekspresi wajah 5 : jauh lebih sanagat nyeri

-ekspresi wajah 6 : sangat nyeri luar biasa hingga penderita

menangis

2). Tingkat / Skala Nyeri Angka 0-10

0 : tidak ada rasa nyeri / normal.

1 : nyeri hamper tidak terasa (sangat ringan) seperti gigitan

nyamuk.

2 : tidak menyenangkan (nyeri ringan) seperti dicubit.

3 : bisa ditoleransi (nyeri sangat terasa) seperti ditonjok

atau disuntik

4 : menyedihkan (kuat, nyeri yang dalam) seperti sakit

gigi/disengat tawon

5 : sangat menyedihkan (kuat, dalam, nyeri yang menusuk)

terkilir/kesleo.

6 : intens (kuat, dalam, nyeri yang menusuk begitu kuat

sehingga tampaknya mempengaruhi salah satu dari panca

indra) menyebabkan tidak fokus dan komunikasi terganggu.

7 : sangat intens (kuat, dalam, nyeri yang menusuk begitu

kuat) dan merasakan rasa nyeri yang sangat mendominasi


9

indra yang menyebabkan tidak bisa berkomunikasi dengan

baik dan tidak mampu melakkukan perawatan sendiri.

8 : benar-benar mengerikan (nyeri yang begitu kuat)

sehingga menyebabkan penderita tidak dapat berfikir jernih,

dan sering mengalami perubahan kepribadian yang parah

jika nyeri datang dan berlangsung lama.

9 : menyiksa tak tertahankan (nyeri yang begitu kuat)

sehingga penderita tidak bisa mentoleransinya dan ingin

segera menghilangkan nyerinya bagaimanapun caranya

tanpa peduli dengan efek sampingnya atau resikonya.

10 : sakit yang tidak terbayangkan, tidak dapat diungkapkan

(nyeri begitu kuat, tidak sadarkan diri) biasanya pada skala

ini penderita tidak lagi merasakan nyeri karena sudah tidak

sadarkan diri akibat rasa nyeri yang sangat luar biasa seperti

pada kasus kecelakaan parah, multifraktur.

b. Pengelompokan Tingkat / Skala Nyeri

Tingkat / Skala Nyeri diatas dapat dikelompokkan menjadi

tiga kelompok yaitu :

1. Tingkat / skala nyeri 1 - 3 (nyeri ringan) nyeri masih dapat

ditahan dan tidak mengganggu pola aktivitas penderita.

2. Tingkat / skala nyeri 4 - 6 (nyeri sedang) nyeri sedikit kuat

sehingga dapat mengganggu pola aktivitas penderita


10

3. Tingkat / skala nyeri 7 - 10 (nyeri berat) nyeri yang sangat

kuat sehingga memerlukan terapi medis dan tidak dapat

melakukan pola aktivitas mandiri.

c. Pengkajian Nyeri

Sedangkan untuk pengkajian nyeri itu sendiri dapat

dilakukan dengan menggunakan metode P, Q, R, S, T yaitu :

-Provokes / Pilliates : apa yang menyebabkan nyeri? Apa yang

membuat nyeri lebih baik? Apa yang menyebabkan nyeri lebih

buruk? Apa yang dilakukan saat nyeri? Dan apakah rasa nyeri

tersebut membangunkan anda pada saat tertidur?

-Quality : bisakah penderita menggambarkan rasa nyerinya?

Apakah seperti diiris, ditekan, ditusuk-tusuk, rasa terbakar, kram,

atau diremas-remas? (biarkan penderita mengungkapkan kata-

katnya sendir).

-Radiates : apakah nyerinya menyebar? Kemana menyebarnya?

Apakah nyeri terlokalisir disatu tempat atau bergerk?

-Saverity : seberapa parah nyerinya? Dari rentang 0-10

menggunakan tingkat/ skala nyeri 0-10

-Time : kapan nyeri itu timbul? Apakah cepat atau lambat?

Berapa lama nyerinya timbul? Apakah terus menerus atau hilang

timbul? Apakah pernah merasakan nyerinya sebelum ini?

Apakah nyerinya sama dengan nyeri sebelumnya?


11

(http://bangsalsehat.blogspot.co.id/2017/06/penilaian-skala-

nyeri-pasien-skala.html).

3. FRAKTUR

a. Pengertian Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan

sesuai jenis dan luasnya (Brunner & Suddart, 2002).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang rawan yang

umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Garrison, Susan. J, 2001).

Dari pengertian diatas disimpulkan bahwa kontinuitas jaringan

tulang atau kerusakan struktural dalam tulang yang disebabkan

oleh rudapaksa dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.

b. Etiologi Fraktur

Menurut Brunner & Suddart, 2002 fraktur dapat disebabkan oleh :

1. Pukulan langsung

2. Gaya meremuk

3. Gerakan puntir mendadak

4. Kontraksi otot ekstern

5. Dislokasi sendi

6. Kerusakan saraf

Menurut Garison, Susan J, 2001, faktor yang menyebabkan fraktur

eksteritas adalah :
12

1. Umum :

-defisiensi vitamin

-osteoporosis

-osteogenesis imperfekta

-osteitisdeformans (penyakit laget)

2. Metabolik :

-defisiensi vitamin C

-devisiensi vitamin D

-osteomalaisa

3. Inflamasi :

-osteotielitis

-atritis reumatoid

4. Ueromuskular :

-cedera medulla spinalis

-miopati

c. Komplikasi Fraktur

Menurut Brunner & Suddart, 2002 komplikasi dapat dibagi

menjadi :

1. Komplikasi awal

- Syok hipovolemik atau traumatik. Akibat perdarahan (baik

kehilangan darah eksterm maupun yang tak kelihatan) dan

kehilangan cairan ke jaringan yang rusak dapat terjadi pada

fraktur ekstremitas, toraks, pelvis, dan vertebra.


13

- Sindrom emboli lemak setelah terjadi panjang atau pelvis,

fraktur multiple atau cedera, remuk, dapat terjadi emboli

lemak, khususnya pada dewasa muda (20-30 tahun) pria.

2. Komplikasi lambat

- Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan. Terjadi

bilaaaaa penyembuhan tidak terjadi dengan kecepatan normal

untuk jenis dan tempat fraktur tertentu. Sedangkan tidak ada

penyatuan terjadi karena kegagalan penyatuan ujung-ujung

patah tulang.

- Stimulan elektrik osteogenesis. Pada osteogenesis tidak ada

penyatuan dapat distimulasi dengan impuls elektrik

efektivitasnya sama dengan graf tulang.

- Nekrosis avaskuler tulang kehilanga asupan darah dan mati.

Dapat terjadi setelah fraktur, dislokasi tanpa kartikosteroid

dosis tinggi yang berkepanjangan, penyakit ginjal kronis,

anemia dan penyakit lain.

- Reaksi terhadap fiksasi interna. Alat fiksasi ini diambil

setelah penyatuan tulang telah terjadi, namun pada

kebanyakan pasien alat tersebut tidak diangkat sambil

menimbulkan gejala.

Menurut Chairuddin Rajad, 2003 kompikasi dapat terjadi

secara spontan karena introgenik atau oleh karena tindakan

pengobatan. Komplikasi umumnya akibat tiga faktor utama


14

yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi.

Adapun komplikasi fraktur terhadap organ yaitu :

1. Komplikasi pada kulit

2. Komplikasi pada pembuluh darah

3. Komplikasi pada sendi

4. Komplikasi pada saraf

5. Komplikasi pada tulang

d. Penatalaksanaan Fraktur

Menurut Mansjoer, A, 2000 penatalaksanaan pada fraktur tertutup

dilakukan reposisi tertutup dan imobilisasi dengan gips. Caranya

pasien tidur terlentang diatas meja operasi. Kedua lutut dalam

posisi fleksi 90 derajat. Kedua tungkai bawah menggantung

ditepi meja. Tungkai bawah yang patah ditarik kearah bawah.

Setelah tereposisi baru dipasang gips melingkar.

Ada beberapa cara pemasangan gips yaitu :

1. Cara Long Leg Plester

Gips dipasang mulai dari pangkal jari kaki sampai paroksimal

femur dengan sendi taloktural dalam posisi netral, sedang

posisi lutut dalam fleksi 15-20 derajat.

2. Cara Sarmiento

Pemasangan gips dimulai dari jari kaki sampai di sendi

talaktural dengan molding sekitar meleolus. Setelah kering

segera dilanjutkan ke atas sampai 1 inci di baah tuberositas


15

tibis dengan molding pada permukaan anterior tibia. Gips

dilanjutkan sampai yang paroksimal patella.

Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur

dapat diimobilisasikan dengan cara sebagai berikut :

1. Traksi

Communuted fracture dan fraktur yang tidak sesuai untuk

intramedular nailing paling baik diatasi dengan manipulasi

di bawah anastesi dan balanced sliding skeletal transion

yang dipasang melalui tibia pin.

2. Fiksasi internal

Intramedulary nail ideal untuk fraktur trnversal, tetapi

untuk fraktur lainnya kurang cocok fraktur dapat

dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail,

tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol

rotasi.

3. Fiksasi eksternal

Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan masa

kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya

pada minggu keenam, cast brace dapat dipasang fraktur

dengan intramedullary nail yang member fiksasi yang

regid juga cocok untuk tindakan ini.

Menurut Sjamsuhidayat, R, 1997 Penatalaksanaan fraktur

dapat menjadi sebagai berikut :


16

Dengan dislokasi fragmen patahan atau dengan dislokasi

yang tidak akan menyebabkan cacat dikemudian hari.

Cukup dengan proteksi dan tanpa reposisi dan imobilisasi.

a. Imobilisasi dengan fiksasi atau imobilisasi luar tanpa

reposisi, tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak

terjadi dislokasi fragmen.

b. Berupa reposisi dengan cara memanipulasi diikuti dengan

imobilisasi.

c. Reposisi dengan traksi terus menerus selama masa tertentu

, misalnya beberapa minggu dan kemudian diikuti dengan

imobilisasi. Cara ini dilakukan pada patah tulang dengan

otot yang kuat, misalnya pada patah tulang femur.

d. Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar.

e. Reposisi secara non-operatif, miaslnya reposisi patah

tulang belum femur. Fragmen direposisi secara no-operatif

dengan meja traksi : setelah tereposisi diakukan

pemasangan pen ke dalam kolum femur secara operatif.

f. Reposisi secara operatif dengan fiksasi patah tulang

dengan pemasangan fiksasi internal. Fiksasi internal yang

dipakai biasanya berupa pen di dalam sum-sum tulang

panjang bisa juga berupa plat sekrup di permukaan tulang.

g. Eksisi fragmen patah tulang dan pengaruh menggantinya

dengan prosthesis.
17
18

1. Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2018 – 2

April 2018

2. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Menurut (Notoatmodjo, 2007) populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah

semua penderita fraktur yang dirawat di Rumah Sakit Siaga

Medika Pemalang.

b. Sampel

Menurut (Notoatmodjo, 2007) sampel penelitian adalah sebagian

dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili

populasi.

Kriteria sampel penelitian ini adalah :

Kriteria Inklusi

Kritria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat

dimasukan atau layak untuk diteliti. Adapun kriteria inklusi pada

penelitian ini adalah :

a. Klien dengan diagnosa medik fraktur

b. Klien yang bersedia diteliti

c. Klien yang tidak mengalami gangguan kesadaran

Kriteria Eksklusi
19

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan

subjek dari penelitian karena berbagai sebab dengan atau kata tidak

layak untuk diteliti atau tidak memenuhi kriteria inklusi pada saat

penelitian berlangsung. Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini

adalah :

a. Klien dengan diagnosa medik fraktur

b. Klien yang bersedia diteliti

c. Klien yang tidak mengalami gangguan kesadaran

E. ANALISIS DATA

Data dianalisis dengan menggunakan rumus distribusi sebagai

berikut : P=… x 100%

Keterangan : P : Persentase yang diteliti

f : Frekuensi variable yang diteliti

n : Jumlah sampel
20