Anda di halaman 1dari 9

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Stomatitis Aftosa Rekuren


Ulser merupakan suatu defek dalam epitelium berupa lesi dangkal berbatas
tegas serta lapisan epidermis di atasnya menghilang. Ulser atau ulkus adalah suatu
luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang memperlihatkan disintegrasi dan
nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit.3-4
Stomatitis aftosa rekuren ditandai oleh ulser rekuren yang nyeri pada mukosa
mulut. Kelainan ini diklasifikasikan menjadi tiga kategori sesuai dengan ukurannya,
yaitu aftosa minor, aftosa major dan ulser herpetiformis. Stomatitis aftosa disebut
juga canker sore yang ditandai dengan timbulnya rasa nyeri dan kerusakan pada
membran mukosa. Stomatitis aftosa rekuren terjadi pada 10% populasi dengan
prevalensi wanita lebih tinggi daripada pria.5
Stomatitis aftosa rekuren pada umumnya terjadi pada lining mucosa rongga
mulut yang tidak mengalami keratinisasi, seperti pada lidah, mukosa bukal, dan
mukosa labial. Perkembangan stomatitis aftosa rekuren biasanya ditandai dengan
adanya gejala prodromal, seperti rasa terbakar, kesemutan (tingling), atau mukosa
yang berwarna kemerahan. Ulkus pada stomatitis aftosa rekuren berbentuk bulat atau
oval dengan pusat berwarna putih kekuningan yang dikelilingi oleh area berwarna
kemerahan.5
Lesi awal pada stomatitis aftosa rekuren adalah lesi inflamasi preulseratif yang
terdapat pada epitel rongga mulut yang ditandai dengan peningkatan jumlah limfosit
T. Sel T sitotoksik tampak pada lokasi dimana banyak terdapat antigen atau di dalam
keratinosit. Pelepasan bermacam-macam sitokin dan kemokin imunoreaktif
menginduksi respon yang dimediasi oleh sel yang diyakini sebagai hasil dari lisisnya
keratinosit. Stomatitis aftosa rekuren diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu minor,
mayor, dan herpertiform. Stomatitis aftosa minor merupakan ulkus yang paling sering

13
14

terjadi, yaitu sekitar 80-85% dari seluruh kasus yang ada. Stomatitis aftosa mayor
terjadi pada 5-10% kasus, dan herpetiform terjadi pada 5-10% kasus.5

3.1.1 Klasifikasi Stomatitis Aftosa Rekuren


a) Stomatitis Aftosa Minor
Aftosa minor mempunyai tendensi untuk muncul pada mukosa bergerak dan
tidak bergerak yang terletak di atas kelenjar saliva minor. Gejala prodromal berupa
parestesia dan hiperestesia kadang-kadang ditemukan. Pada umumnya, ulkus ini
berbentuk bulat atau oval dengan bagian tengah berwarna putih kekuningan dan
dikelilingi oleh halo eritematous. Ulkus ini sembuh dalam waktu 14 hari tanpa
terbentuknya jaringan parut. Lokasi lesi ini biasanya pada mukosa nonkeratinisasi,
seperti pada mukosa bukal, mukosa labial, dan dasar mulut. Namun, dapat juga
terjadi pada mukosa keratinisasi, seperti palatum keras, gingiva, dan dorsum lidah.
Lesi ini dapat multipel dengan diameter 2-5 mm. 4-6
Aftosa minor biasanya sembuh secara spontan tanpa pembentukan jaringan
parut dalam waktu 14 hari. Beberapa pasien mempunyai ulser multiple selama
periode beberapa bulan. Pada kasus ini, ulser berada dalam berbagai tahapan erupsi
dan penyembuhan, dan menimbulkan rasa sakit yang konstan. 5

Gambar 3.1 Stomatitis Aftosa Minor, ulser dikelilingi daerah eritema


Dikutip dari: Cawson, 20137
15

b) Stomatitis Aftosa Mayor (Sutton’s disease)


Ulkus ini lebih dalam daripada ulser aftosa minor dengan tepi lesi yang
irregular, dan diameter > 1cm. Ulkus ini dapat sembuh dalam waktu beberapa minggu
hingga bulan dan sering terbentuk jaringan parut. Pada lesi ini, perlu dicurigai adanya
keterlibatan kondisi sistemik, seperti defisiensi nutrisi atau gangguan hematologis.
Biasanya ulkus ini ditemukan pada bagian posterior mulut, palatum mole, dan daerah
tonsila. Jumlah ulserasi bisa soliter atau multipel, ukurannya lebih besar dari 1 cm,
bisa juga mencapai 5 cm, bentuknya bulat atau lonjong, dasar lesi kekuningan,
keabuan, tepi lesi merah meradang, bisa lebih menonjol dibandingkan jaringan
sekitarnya, jaringan dasar tetap lunak dan tidak mengalami indurasi.6

Gambar 3.2 Stomatitis Aftosa Mayor, jaringan parut dan kerusakan mukosa commisura
Dikutip dari: Cawson, 20137

c) Stomatitis Aftosa Herpetiform


Lesi ini merupakan lesi yang multipel, rekuren dan menimbulkan rasa nyeri,
serta lebih banyak ditemukan pada wanita. Lokasinya pada lidah, dasar mulut, dan
mukosa bukal. Jumlah lesi multipel, bisa mencapai 100 lesi pada saat yang
bersamaan. Beberapa lesi dapat bergabung menjadi satu. Ukuran kecil, diameter 1-3
mm, bentuknya tidak beraturan, dasar lesi keabuan, tepi lesi tidak tegas, ditemukan
daerah kemerahan yang luas pada membran mukosa.6
16

Gambar 3.3 Stomatitis Aftosa Herpetiform, beberapa ulser membentuk lesi bergabung tidak
teratur
Dikutip dari: Cawson, 20137

3.1.2 Etiologi Stomatitis Aftosa Rekuren


Faktor penyebab stomatitis aftosa rekuren belum diketahui, namun beberapa
penelitian menyatakan bahwa ada hubungan antara kejadian stomatitis aftosa rekuren
dengan respon sistem imun yang abnormal. Faktor yang dapat berkaitan dengan
munculnya stomatitis aftosa rekuren meliputi trauma, stress psikologis, menstruasi
dan alergi makanan, misalnya coklat dan pengawet makanan. Selain itu, defisiensi Fe,
asam folat, dan vitamin B12 juga dapat menyebabkan stomatitis aftosa rekuren.
Faktor etiologi yang mungkin untuk stomatitis aftosa rekuren adalah genetik, respon
terhadap trauma, infeksi, abnormalitas imunologi, gangguan gastrointestinal,
kekurangan hematologi, gangguan hormonal, dan stress.6,7
Lesi ini biasanya kambuhan, penyebabnya tidak diketahui tetapi kemungkinan
karena kerusakan sistem imun pada mediasi oleh sel T, dipacu oleh adanya stress,
trauma dan faktor lain yang mempengaruhi immunitas. Pemeriksaan darah perifer
pada pasien stomatitis aftosa rekuren menunjukkan adanya penurunan rasio CD4+
terhadap CD8+ pada limfosit T, dan peningkatan T cell reseptor γδ+ dan tumor
necrosis factor-α (TNF- α).1,4
Penyebab terjadinya stomatitis aftosa rekuren tidak diketahui, penelitian
menunjukkan adanya proses imunologi yang melibatkan aktivitas sitolik yang
17

diperantarai sel T dan faktor nekrosis tumor sebagai respons terhadap antigen leukosit
atau antigen asing. Faktor-faktor yang menyebabkan penipisan mukosa (trauma.,
endokrinopati, menstruasi, defisiensi nutrisi), disfungsi imun (atopi, stress), atau
paparan dari antigen (alergi makanan), ikut berperan dalam presentasi antigen ke
dalam sel Langerhans dan respons sel T abnormal.5

3.1.2 Gambaran Klinis Stomatitis Aftosa Rekuren


Stomatitis aftosa rekuren berupa ulser dangkal, berwarna abu-kuning, oval,
berbatas jelas dan berukuran kecil (diameternya kurang dari 1 cm, biasanya sekitar 3-
5 mm).. tepi eritema yang menonjol mengelilingi pseudomembran fibrinosis. Tidak
terlihat pembentukan vesikel pada penyakit ini, merupakan ciri diagnostik yang jelas.
Ulser yang muncul di sepanjang lipatan mukobukal sering tampak lebih panjang.
Rasa terbakar adalah gejala pendahuluan yang diikuti dengan nyeri hebat dan
berlangsung selama beberapa hari. Kadang-kadang terlihat adanya nyeri nodus
limfatik submandibula, servikal anterior, dan parotis, terutama jika ulser mengalami
infeksi sekunder.5

Gambar 3.4 Stomatitis Aphtosa Recurent Minor: Ulser dikelilingi daerah eritema.
18

3.1.3 Gambaran Histopatologi


Ulser / ulkus terdiri dari jaringan granulasi yang berisi sel inflamasi seperti
limfosit, histiosit, neutrofil, dan sel plasma. Pada gambaran mikroskopik ditemukan
proses inflamasi dengan kehilangan bagian epitelium pada permukaan yang terkena
ulser / ulkus, dan daerah ulkus dilapisi oleh eksudat fibrin dengan jaringan
granulasi.4,8

Gambar 3.5 Histologi Ulkus

3.1.4 Insidensi Stomatitis Aftosa Rekuren


Stomatitis aftosa rekuren dapat terlihat pada setiap orang, namun sedikit lebih
rentan pada wanita dan dewasa muda. Sekitar 20% populasi terkena aftosa minor,
atau sering juga disebut sebagai canker sore. Juga ditemukan adanya pola keturunan,
sementara orang yang merokok lebih jarang terkena dibandingkan yang tidak
merokok.5
Aftosa umumnya bersifat rekuren dan pola kejadiannya bervariasi. Sebagian
besar penderita menunjukkan adanya ulser tunggal satu atau dua kali dalam setahun,
dimulai selama masa kanak-kanak atau remaja. Ulser kadang-kadang tampak
bergerombol, tetapi biasanya jumlahnya kurang dari lima.5
19

Aftosa minor mempunyai tendensi untuk muncul pada mukosa bergerak dan tidak
bergerak yang terletak di atas kelenjar saliva minor. Mukosa labial, bukal dan
vestibular sering terkena, seperti halnya kerongkongan, lidah dan palatum lunak.
Ulser jarang terlihat pada mukosa berkeratin, seperti di gingival dan palatum keras.5

3.1.5 Diagnosis Banding Stomatitis Aftosa Rekuren


Ulser Traumatikus
Ulser traumatikus didefinisikan sebagai suatu kelainan yang berbentuk ulser /
ulkus pada mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh paparan trauma. Ulser
traumatikus merupakan lesi sekunder yang berbentuk ulkus, yaitu hilangnya lapisan
epitelium hingga melebihi membrana basalis dan mengenai lamina propria oleh
karena trauma. Ulser traumatikus dapat terjadi pada mukosa rongga mulut, antara
lain: pada lidah, bibir, lipatan mukosa bukal (buccal fold), gingiva, palatum, mukosa
labial, mukosa bukal dan dasar mulut, ulkus traumatikus sering terjadi pada mukosa
labial dan bukal karena terletak berdekatan dengan daerah kontak oklusi geligi
sehingga lebih mudah mengalami gigitan pada waktu gerakan pengunyahan.1,3,8
Ulser traumatik tergolong lesi reaktif dengan gambaran klinis berupa ulser
tunggal pada mukosa yang dapat disebabkan oleh adanya trauma fisik atau mekanik,
perubahan thermal, kimia dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan jaringan. Lesi
ini ditandai dengan adanya membran fibrin purulen berwarna kekuningan yang
disertai dengan timbulnya rasa nyeri. Menurut Neville dkk, tepi ulser traumatik
ditandai dengan area berwarna kekuningan yang dikelilingi oleh halo eritematous,
namun pada beberapa kasus, tepi ulkus dapat berwarna putih karena adanya
hiperkeratosis.Ulser traumatik dapat terjadi pada lidah, bibir dan mukosa bukal.
Selain itu, dapat juga terjadi pada gingiva, palatum dan fornix. Lesi ini dapat sembuh
dalam beberapa hari atau minggu setelah penyebab traumanya dihilangkan. Rasa
nyeri akan hilang dalam waktu 3 atau 4 hari, dan akan sembuh dalam jangka waktu
10-14 hari. Jika ulser tidak sembuh dalam kurun waktu 2 minggu, maka diindikasikan
untuk dilakukan biopsi. Ulser traumatikus tersebut dapat berupa ulkus yang tunggal
20

atau multipel, berbentuk simetris atau asimetris, ukurannya tergantung dari trauma
yang menjadi penyebab, dan biasanya nyeri.1,4
Ulser / ulkus terdiri dari jaringan granulasi yang berisi sel inflamasi seperti
limfosit, histiosit, neutrofil, dan sel plasma. Pada gambaran mikroskopik ditemukan
proses inflamasi dengan kehilangan bagian epitelium pada permukaan yang terkena
ulser traumatik, dan daerah ulkus dilapisi oleh eksudat fibrin dengan jaringan
granulasi.4,8

Gambar 3.6 Ulser Traumatikus, daerah molar di bawah gigi tiruan


Dikutip dari: Williams, 20145
\

Gambar 3.7 Ulser Traumatikus, tidak teratur, disebabkan karena makanan panas
Dikutip dari: Williams, 20145
21

3.1.6 Terapi Dan Perawatan Stomatitis Aftosa Rekuren


Larutan kumur klorheksidin 0,2% atau kortikosteroid topical (hidrokortison
hemisuksinat berbentuk gel 2,5 mg atau triamsinolon asetonide 0,1% dalam orabase)
atau larutan kumur tetrasiklin. Jarang digunakan steroid topical yang lebih kuat (misal
betametason).7