Anda di halaman 1dari 40

MINI CEX

TUMOR MAMAE

Disusun Oleh :

Vebio Romatua

1765050081

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PERIODE 24 JULI – 28 SEPTEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA

0
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tumor payudara merupakan kelainan payudara yang sering ditemukan


terutama pada wanita. Tumor ada yang bersifat jinak adapula yang ganas. Tumor
ganas inilah yang disebut kanker. Kanker memiliki sifat khas, yaitu terdiri dari sel-
sel ganas yang dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Penyebaran ini disebut
metastasis dan dapat terjadi melalui pembuluh darah maupun pembuluh getah
bening.

Tumor payudara hampir selalu memberi kesan menakutkan bagi wanita.


Bahkan banyak para pakar sependapat bahwa setiap nodul pada payudara dianggap
sebagai kanker terutama pada wanita golongan risiko tinggi walaupun
kemungkinan tumor jinak tidak dapat diabaikan. Pendapat yang berlebihan ini
dapat dipahami, mengingat insiden kanker payudara tinggi tidak hanya di negara
sedang berkembang tapi juga di negara maju.

Di Yaman mulai Januari 2006 - Desember 2009 ditemukan sebanyak 635


kasus yang didiagnosis sebagai penyakit tumor payudara. Terdapat kelainan
sebanyak 493 (77.6%) yang merupakan penyakit tumor payudara jinak dan 142
(22.4%) penyakit tumor payudara ganas pada rentang usia 40-49 tahun. Dari 493
penyakit tumor payudara jinak tersebut yang paling sering fibroadenoma 40,5%
dengan rentang usia 20-29 tahun diikuti oleh kelainan fibrokistik 16% dengan
rentang usia 30-39 tahun, kelainan jinak lainnya 10% dengan rentang usia 20-29
tahun dan lesi inflamasi 8% dengan rentang usia 30-39 tahun. Sedangkan
berdasarkan lokasi tumor payudara yang sering ditemukan pada daerah lateral atas
50%, diikuti daerah puting susu 17%, diikuti daerah medial atas 15%, diikuti daerah
lateral bawah 10%, dan diikuti daerah medial bawah 8% .

Data dari Jakarta Breast Center, klinik di Jakarta yang mengkhususkan


untuk penanganan keluhan pada payudara, menunjukkan bahwa dari 2.495 pasien
yang datang pada tahun 2001 sampai 2002, ternyata 79% menderita tumor payudara

1
jinak dan hanya 14% yang menderita kanker. Sedangkan di Medan dalam kurun
waktu 1 tahun, dari Januari sampai Desember 2006, tercatat sebanyak 27 kasus
dengan kanker payudara dan dari 107 kasus Tumor payudara jinak (Kamarlis,
2009). Pada penelitian di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2000
dilakukan pemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus pada 45 penderita tumor
payudara dari hasil tersebut didapati 17 kasus tumor jinak (37,8 %), 8 kasus
karsinoma payudara (17,8%), penyakit kista 11 kasus (24,5%), 6 kasus radang
(13,4%) dan mencurigakan 3 kasus (6,7%) (Rossa, 2000).

Di Indonesia, biopsi aspirasi jarum halus semakin banyak dikenal dan


dipergunakan untuk diagnosis awal tumor. Biopsi ini dilakukan di berbagai rumah
sakit baik negeri maupun swasta, klinik, serta di Laboratorium Sentra Diagnostik
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Sumatera Utara

2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : Ny. Encih siningsih

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 51 Tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Bangsa : WNI

Suku : Sunda

Agama : Islam

Alamat : Cibitung, Kp. Cikedoken RT 01/ RW 01

Ruangan : Bangsal

Tanggal datang : 04 Agustus 2019

2.2 Diagnosis

Anamnesis

Auto anamnesis dilakukan di bangsal pada tanggal 5 Aguestus 2019, pukul 19.00 WIB

Keluhan Utama : Benjolan pada payudara kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :

Seorang perempuan berusia 51 tahun dengan keluhan benjolan pada payudara


kiri yang dirasakan sejak 3 bulan SMRS. Pasien mengaku benjolan yang dirasakan tidak
semakin membesar. Pasien tidak mengeluhkan nyeri saat dipegang. Benjolan muncul
pada setiap saat, bukan hanya waktu menstruasi saja. Pasien tetap merasa khawatir
walaupun benjolan itu tidak mengganggunya. 1 minggu smrs pasien mengeluhkan
bahwa benjolan pada payudara kiri semakin membesar, disertai nyeri jika di pegang.

3
Pasien mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi hormonal, tidak
mengalami perubahan siklus menstruasi. Pasien tidak mengalami penurunan berat
badan

Riwayat Masa Lampau :

a. Riwayat Penyakit Dahulu :


 Pasien pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya yaitu benjolan di
payudara kiri. Hipertensi disangkal, diabetes mellitus disangkal, alergi
disangkal
b. Trauma Terdahulu : Disangkal
c. Riwayat operasi : pasien mengaku sudah pernah operasi tumor mamae
sudah 15 tahun yang lalu
d. Sistem:
 Neurologi : Disangkal
 Kardiovaskuler : Disangkal
 Gastrointestinal : Disangkal
 Genitourinari : Disangkal
 Muskuloskeletal : Disangkal
e. Riwayat gizi : Berat badan 78 kg, tinggi badan 170 cm, IMT 26,98
kg/m2 (berat badan lebih)
f. Riwayat psikiatri : Disangkal

2.2.2 Pemeriksaan Fisik

KU : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign :

 GCS: E4V5M6,
 TD: 100/70 mmHg
 Nadi: 112x/menit
 Suhu: 38 ºC
 Pernafasan: 24 x/ menit
 SpO2: 98%

4
STATUS GENERALIS
KEPALA
Normocephali, jejas (-)
Mata : Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), jejas (-/-), pupil
3mm/3mm (isokor), RCL (+/+), RTCL (+/+)
Telinga :Fistula (-/-), benjolan (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas (-/-)
Hidung :Deviasi septum (-), polip (-/-), sekret (-/-), perdarahan (-/-), jejas (-/-)
Mulut : Sianosis (-), pucat (-), jejas (-/-), mukosa bibir lembab

LEHER
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah bening (KGB), nyeri tekan (-),
deviasi trachea (-)

THORAKS
Diameter laterolateral > anteroposterior
Cor :
 Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : ictus cordis teraba
 Perkusi : batas jantung kanan dan kiri dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I dan BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo :
 Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, jejas (-), retraksi (-)
 Palpasi : fremitus suara simetris kanan kiri
 Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
 Auskultasi : bunyi napas dasar vesikular, wheezing (-/-), rhonki(-/-)

ABDOMEN
 Inspeksi : perut tampak datar, distensi abdomen (-)
 Auskultasi : bising usus (+), 4x/menit
 Perkusi : timpani, nyeri ketuk (-)
 Palpasi : deffense muscular (-) lokal dan nyeri tekan (-)

5
 Organ pada abdomen:
1. Limpa : tidak teraba membesar
2. Kandung empedu : nyeri tekan (-)
3. Hati : tidak teraba membesar

Genitourinari
 Ginjal : nyeri ketuk CVA (-/-), ballotement (-/-)
 Kandung kemih : nyeri tekan (-), nyeri ketuk (-)
 Kemaluan : secret (-)

Rectal Toucher
 Tidak di lakukan

Ekstremitas
Atas : akral hangat, sianosis (-), edema (-), CRT <2”
Bawah : akral hangat, sianosis (-), edema (-), CRT <2”

Punggung
Lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-)
Refleks
Refleks fisiologi (+) dan refleks patologi (-)

STATUS LOKALIS
 Inspeksi
Mammae kanan dan kiri tampak simetris. Tidak terdapat retraksi puting, sekret atau
discharge yang keluar dari puting kedua payudara. Tidak terdapat perubahan warna,
peau d’orange, skin dimpling, pada kedua payudara

 Palpasi
Terdapat satu benjolan pada mammae sinistra yang teraba lunak di bagian kuadran
medial inferior sinistra. Benjolan ukuran diameter 7 cm, konsistensi kenyal, mobile,
permukaan licin, batas tegas, nyeri tekan (+) dan tidak terdapat nyeri tekan serta
pembesaran KGB

6
2.2.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hematologi

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN


NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI LENGKAP

Laju Endap Darah 10 Mm 0-10

Hemoglobin 12.0* g/dL 13,5 – 17

Jumlah Hematokrit 41 % 40 – 48

Eritrosit 5.86* juta/µL 4–5

MCV/VER 70* fL 82 – 92

MCH/HER 22,9* Pg 27 – 31

MCHC/KHER 32,7 g/dL 32 – 36

Leukosit 8,4 ribu/µL 5 – 10

HITUNG JENIS
0 % 0–1
Basofil

Eosinofil 1 % 1–3

Batang 2 % 2–6

Segment 55 % 50 – 70

Limfosit 29 % 20 – 40

Monosit 7 % 2–8

Trombosit 290 ribu/µL 150 – 400

GOLONGAN DARAH /RH FAH


Golongan Darah A

Rhesus Positif

7
HEMOSTASIS

Masa perdarahan 3 Menit 1–6

Masa Pembekuan 13 Menit 9-15

KIMIA DARAH
DIABETES 101 Mg/dl <170

Glukosa Sewaktu

Foto Thorax

2.3 Diagnosis Kerja


Tumor mamae sinistra susp malignancy
Diagnosis Banding
 Ca mamae

2.4 Pemeriksaan Penunjang


 Hematologi
 Foto thorax
2.5 Terapi
 Pro incisional biopsi

8
 IVFD RL 500 cc /6 jam
 Paracetamol drip 500 mg
 Ceftriaxone inj. 1 gram
 Ranitidine inj. 50 mg
 Puasa

2.6 Prognosis
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad functionam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam

9
2.7 Laporan Operasi

Nama: Jenis kelamin: Usia: 51 tahun No. MR : 00-01-40-00


Ny Enci Siningsih Perempuan

Operator : Asisten 1 : Anestesi :


dr.Stanley Ketting Vebio Romatua, S.Ked dr. Marasi, SpAn
Olivier, SpB
Asisten 2 : Coass: Instrumentator:
- Veronica M, S.Ked Br. David
Luh Kadek S, S.Ked
Karisha N, S.Ked
Maurin A, S.Ked
Diagnosis Pra Bedah : Tumor mamae sinistra suspect Tanggal Operasi :
malignancy 05-08-2019

Diagnosis Pasca Bedah : Lama Operasi :


Tumor mamae sinistra suspect malignancy 14.45 s/d 15.00
Tindakan Pembedahan : Jenis Operasi :
Incisional Biopsi Cito Khusus
Poliklinik Kecil
 Elektif Sedang
 Besar

Uraian Tindakan Operasi (Sesuai dengan Prosedur):


 Pasien tidur posisi terlentang GA
 Asepsis antisepsis
 Incisi diatas benjolan di perdalam sampai dengan tumor site
 Incisional biopsi tumor ukuran ± 2x2 cm
 Rawat perdarahan
 Jahit luka
 Operasi selesai

10
Instruksi Post Operasi:
 Diet bebas
 PA Jaringan
 IVFD : Ringer Lactat 20 tpm
 Ceftriaxon 2x1 gr
 Ranitidin 2x1 ampul
 Ketorolac 3x1 ampul
 As tranexamat 3x500 mg

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi
Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada iga dua sampai iga
enam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media. Kelenjar ini dimiliki oleh pria
dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara wanita lambat laun akan membesar hingga
membentuk setengah lingkaran, sedangkan pada pria tidak. Pembesaran ini terutama terjadi
akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi oleh hormon-hormon ovarium.
Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu glandular (kelenjar) dan
jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar meliputi kelenjar susu (lobus) dan salurannya
(ductus). Sedangkan jaringan penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu,
payudara juga memiliki aliran limfe. Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan timbulnya
kanker maupun penyebaran (metastase) kanker payudara.

Setiap payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun radier dan berpusat pada papilla
mamma. Saluran utama tiap lobus yang disebut ductus laktiferus memiliki ampulla yang
membesar tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Diantara kelenjar susu dan fasia
pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut terdapat jaringan lemak. Diantara lobus
tersebut terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan
jaringan payudara, yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai
struktur penyokong dan memberi rangka untuk payudara. Jaringan ikat memisahkan payudara
dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan anterior. Tiap papilla dikelilingi oleh daerah

12
kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut areola mamma. Pada areola mamma, terdapat
tonjolan-tonjolan halus yang merupakan tonjolan dari kelenjar areola dibawahnya.

Perdarahan
Arteri
A. Cabang-cabang perforantes mammaria interna. Cabang-cabang I,II,III, IV,V dari
arteria mammaria interna menembus di dinding dada dekat tepi sternum pada
intercostal yang sesuai, menembus muskulus pektoralis mayor dan memberi aliran dara
dari tepi medial glandulla mamma.
B. Rami Pektoralis arteri torako-akromialis. Arteri ini berjalan turun diantara muskulus
pektoralis minor dan muskulus pektoralis mayor. Arteri ini akan memberikan aliran
darah ke glandula mamma bagian dalam (deep surface).
C. A. thorakalis lateralis (arteri mammae eksternal). Pembuluh darah ini berjalan turun
menyusuri tepi lateral muskulus pektoralis mayor untuk mendarahai bagian lateral
payudara
Vena
A. Cabang-cabang perforantes v.mammaria interna. Vena ini merupakan vena yang
tersebar pada jaringan payudara yang mengalirkan darah dari payudara dan bermuara
pada v. mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. minominata.
B. Cabang-cabang v.aksilaris, yang terdiri dari v. thorakaoakromialis, v. thorakalis
lateralis dan v. thorako-dosalis.
C. Vena-vena kecil bermuara pada v.interkostalis. Vena interkostalis bermuara pada v.
Vertebralis, kemudia bermuara pada Azygos (melalui vena-vena ini, keganasan pada
payudara akan dapat bermetastase langsung ke paru).

Persarafan
Payudara sisi superior dipersarafi oleh nervus supraklavikula yang berasal dari cabang ke 3 dan
ke 4 pleksus servikal.payudara sisi medial dipersarafi oleh cabang kutaneus anterior dari nervus
interkostalis2-7. Papilla mamae dipersarafi oleh cabang kutaneus lateral dari nervus
interkostalis 4sedangkan cabang kutaneus lateral dari nervus interkostalis lain mempersarafi
areola dan mamae sisi lateral

13
Aliran limfatik
Terdapat 6 kelompok kelenjar limfatik yang dikenali oleh ahli bedah, yaitu aliran
limfatik vena aksilaris, mamaria eksterna, scapular, sentral, subklavikular dan interpectoral
(rotter’s group). Sekitar 75% aliran limfatik payudara mengalir ke kelompok limfatik aksila,
sebagian lagi mengalir ke kelenjar parasternal ( mamaria interna ), terutama dari bagian sentral
dan medial dank e kelenjar interpektoralis. Pada aksila terdapat rata – rata 50 (antara 10 – 90
) buah kelenjar getah bening yang terdapat pada sepanjang arteri dan vena brakialis. Saluran
limfe dari seluruh payudara mengalir kekelompok anterior aksila bagian dalamyang kemudian
berlanjut ke kelenjar servikal bagian kaudal dalam di fossa supraklavikuler.
Untuk standarisasi luasnya diseksi aksila, kelenjar aksila dibagi menjadi tiga level.
Level berg satu terletak disebelah lateral otot pektoralis minor. Level berg dua terletak di balik
otot pektoralis minor, level berg tiga mencakup kelenjar limfatik subklavikula di sebelah
medial otot pektoralis minor.

II. Definisi
Tumor payudara adalah benjolan tidak normal akibat pertumbuhan sel yang terjadi secara terus
menerus. Dalam klinik, istilah tumor sering digunakan untuk semua tonjolan dan diartikan
sebagai pembengkakan, yang dapat disebakan baik oleh neoplasma maupun oleh radang, atau
perdarahan. Neoplasma membentuk tonjolan, tetapi tidak semua tonjolan disebabkan oleh
neoplasma.

14
III. Epidemiologi
Pada usia muda, sebagian besar (80-90%) benjolan di payudara adalah jinak dan biasanya
disertai keluhan. Justru bila tanpa keluhan, harus dicurigai kemungkinan kanker payudara.
Diantara berbagai jenis tumor jinak payudara yang tersering adalah kista dan fibroadenoma.

Pada suatu penelitian disebutkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun pengamatan, sedikitnya
16% wanita datang dengan keluhan benjolan di payudaranya. Dari jumlah ini, ternyata 8%
adalah kanker payudara, terutama pada usia diatas 40 tahun. Gejala subjektif yang dikeluhkan
bervariasi dari hanya benjolan yang nyeri/tidak nyeri sampai keluarnya carian dari putting susu.

IV. Etiologi dan Faktor Predisposisi


Sampai saat ini, penyebab pasti tumor payudara belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor
resiko yang telah teridentifikasi yaitu:
 Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan pria. Prevalensi tumor
payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.
 Riwayat keluarga
Wanita memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara beresiko tiga kali lebih
besar untuk menderita tumor payudara.
 Faktor genetik
Mutase gen BRCA 1 pada kromosom 17 dan BRCA 2 pada kromosom 13 dapat
meningkatkan resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARDI,
BRCA3, dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
 Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.
 Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi oleh
perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya tumor
payudara.
 Usia saat kehamilan pertama
Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil
pada suia kurang dari 20 tahun.

15
 Terpapar radiasi
 Intake alkohol
 Pemakaian kontrasepsi oral
Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor payudara. Penggunaan
pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan
pada usia lebih tua

V. Klasifikasi
Pada dasarnya kelainan patologi payudara dapat digolongkan menjadi empat golongan
besar yaitu kelainan kongenital, infeksi, kelainan akibat ketidakseimbangan hormonal, dan
neoplasma

A. Kelainan kongenital dan hormone


Kelainan kongenital tidak diketahui dengan pasti etiologinya, tetapi segala sesuatu yang
bersifat menimbulkan kegagalan secara total maupun parsial perkembangan somatik payudara
akan berakibat kurang atau gagalnya pembentukan komponen payudara. Kelainan kongenital
dapat berupa agenesis, hipoplasia dan hipotrofi, polythelia atau jumlah puting susu yang
berlebihan, polymastia atau terdapat lebih dari sepasang payudara, dan lain–lain (Fadjari,
2012).
Kelainan payudara akibat ketidakseimbangan hormon terutama hormon estrogen
disebut hyperestrenisme. Kelainan ini akan menimbulkan penyimpangan pertumbuhan dan
komponen jaringan payudara yang disebut mammary dysplasia pada wanita dan gynecomastia
pada pria. Bila terdapat bentuk kista yang tidak teratur baik letak maupun ukurannya dan
disertai peningkatan unsur jaringan ikat ekstralobular akan didapatkan fibrokistik payudara.

B. Lesi Akibat Infeksi Jaringan Payudara


1. Mastitis
Merupakan kondisi radang akut yang nyeri, biasanya terjadi pada minggu pertama
setelah persalinan dengan Staphylococcus aureus sebagai penyebab terbanyak.
Terdapat beberapa contoh jenis radang misalnya mastitis tuberkulosa, mastitis sifilika, dan
mastitis mikotik y ang biasanya berjalan kronik dengan tanda–tanda radang tidak nyata
seperti tidak nyeri, bertukak, dan ada indurasi keras sehingga sering merupakan diagnosis
banding karsinoma payudara

16
2. Ektasia Duktus Mammae
Ektasia duktus mammae ini merupakan proses pelebaran sistem duktus sampai
percabangan duktulus yang disertai fibrosis periduktal dan reaksi radang mononukleus.
Duktus yang melebar, berisi bahan berwarna putih kehijauan yang merupakan
discharge papila. Pada pemeriksaan klinis, kasus yang berat sering dikelirukan dengan
karsinoma mammae karena terdapat discharge papila mamma yang terkadang
bercampur darah. Fibrosis disekitar mamma menyebabkan retraksi papila dan dapat
pula teraba benjolan keras. Meskipun demikian hal tidak berhubungan dengan proses
keganasan tetapi merupakan kelainan radang

3. Nekrosis Lemak
Penyebab kelainan ini diduga akibat trauma walaupun terkadang riwayat trauma sering
disangkal penderita. Kelainan ini lebih sering ditemui pada wanita obesitas dan setelah
menopause, dimana mamma secara proporsional membesar akibat banyaknya jaringan
lemak berupa benjolan berbatas tegas dan secara klinis mirip karsinoma.

C. Kelainan Akibat Ketidakseimbangan Hormon


1. Penyakit Fibrokistik
Kelainan ini paling sering ditemukan, bersifat jinak dan non–neoplastik tetapi memiliki
hubungan dengan meningkatnya resiko terjadinya keganasan. Fibrokistik payudara
ditandai dengan rasa nyeri dan benjolan yang ukurannya berubah–ubah. Benjolan ini
membesar sebelum periode menstruasi serta mengeluarkan cairan puting yang tidak
normal.

D. Neoplasma Jinak
Neoplasma merupakan sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom,
lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga bentuk dan struktur sel ini berbeda dengan
sel normal. Sifat sel tumor ini bergantung pada besarnya penyimpangan bentuk dan fungsi,
autonominya dalam sifat pertumbuhan, dan kemampuan dalam berinfiltrasi serta bermetastasis.
Neoplasma dapat bersifat ganas dan jinak. Neoplasma ganas atau kanker tumbuh secara tidak
terkendali, menginfiltrasi ke jaringan sekitar sekaligus merusaknya, dan dapat menyebar ke
bagian tubuh lain yang dapat disebut sebagai metastasis. Sedangkan neoplasma jinak memiliki

17
batas tegas dan tidak infiltratif, tidak merusak, serta tidak bermetastasis, tetapi dapat bersifat
ekspansif, yaitu dapat terus membesar sehingga menekan jaringan sekitarnya
1. Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma mammae (FAM) merupakan tumor jinak yang paling banyak ditemukan.
Fibroadenoma berasal dari proliferasi kedua unsur lobulus, yaitu asinus atau duktus
terminalis dan jaringan fibroblastik. Terdapat dua jenis FAM, yaitu FAM
intrakanalikuler atau stroma yang tumbuh mendesak kanalikulus pada sistem duktulus
intralobulus dan FAM perikanalikuler atau stroma yang tumbuh proliferatif mengitari
sistem kanalikulus sistem duktulus intralobulus. Sifat lesi jinak ini berupa benjolan
yang mobile atau dapat digerakkan, lobulasi tidak nyeri tekan, kenyal seperti karet
berukuran satu sampai dengan empat sentimeter, dan banyak ditemukan pada kuadran
lateral kanan atas payudara kiri pada penderita yang right handed. Benjolan ini dapat
bertambah besar satu sentimeter dibawah pengaruh estrogen haid normal, kehamilan,
laktasi, atau penggunaan kontrasepsi oral.
2. Papiloma Duktus
Papiloma duktus lebih jarang ditemukan dibandingkan fibroadenoma dan lesi ini
banyak ditemukan pada wanita usia pertengahan. Sekitar 80% kasus papiloma duktus
terdapat discharge serous yang sering bercampur darah dan dapat teraba adanya
benjolan. Tumor ini berasal dari epitel duktus yang memiliki lesi soliter tumbuh
didalam duktus yang besar, sampai 40 mm dari papila. Lesi ini terlihat sebagai struktur
panjang berkelok–kelok tumbuh sepanjang duktus yang menyebabkan distensi duktus
sehingga memiliki bentuk mirip kista dan merupakan lesi prekanker.
3. Tumor filoides
Secara mikroskopik memiliki pola pertumbuhan seperti FAM tipe intrakanalikuler
dengan stroma yang sangat seluler, tumbuh cepat, dapat disertai pembentukan radang
pada kulit akibat desakan, sehingga menimbulkan nekrosis iskemik pada kulit.
Berdasarkan gejala klinik yang ditimbulkan dan insidensi terbanyak yaitu 40 tahun
yang merupakan diagnosis banding karsinoma payudara

E. Neoplasma Ganas
Neoplasma ganas parenkim payudara terdiri atas dua golongan, yaitu karsinoma duktal yang
berasal dari sistem duktus dan karsinoma lobular yang berasal dari asinus kelenjar payudara.
Insidensi karsinoma duktal invasif mencapai 70–80% dengan subtipe papilotubular, solid
tubular, dan skirus

18
dengan prognosis masing–masing baik, kurang baik, buruk. Sedangkan karsinoma lobular
invasif sekitar 20% dari seluruh keganasan payudara dan memiliki 3 jenis yaitu jenis sel kecil,
jenis sel besar, dan atypical invasive lobular carcinoma

1. Non invasive carcinoma


 Ductal carcinoma in situ
Ductal carcinoma in situ, juga disebut intraductal cancer, merujuk pada sel kanker
yang telah terbentuk dalam saluran dan belum menyebar. Saluran menjadi tersumbat dan
membesar seiring bertambahnya sel kanker di dalamnya. Kalsium cenderung terkumpul dalam
saluran yang tersumbat dan terlihat dalam mamografi sebagai kalsifikasi terkluster atau tak
beraturan (clustered or irregular calcifications) atau disebut kalsifikasi mikro
(microcalcifications) pada hasil mammogram seorang wanita tanpa gejala kanker.
DCIS dapat menyebabkan keluarnya cairan puting atau munculnya massa yang secara
jelas terlihat atau dirasakan, dan terlihat pada mammografi. DCIS kadang ditemukan dengan
tidak sengaja saat dokter melakukan biopsy tumor jinak. Sekitar 20%-30% kejadian kanker
payudara ditemukan saat dilakukan mamografi. Jika diabaikan dan tidak ditangani, DCIS dapat
menjadi kanker invasif dengan potensi penyebaran ke seluruh tubuh.
DCIS muncul dengan dua tipe sel yang berbeda, dimana salah satu sel cenderung lebih
invasif dari tipe satunya. Tipe pertama, dengan perkembangan lebih lambat, terlihat lebih kecil
dibandingkan sel normal. Sel ini disebut solid, papillary atau cribiform. Tipe kedua, disebut
comedeonecrosis, sering bersifat progresif di awal perkembangannya, terlihat sebagai sel yang
lebih besar dengan bentuk tak beraturan.

19
Ductal Carcinoma in situ (A) dan Sel-sel kanker menyebar keluar dari ductus,
menginvasi jaringan sekitar dalam mammae (B)

 Lobular carcinoma in situ


Meskipun sebenarnya ini bukan kanker, tetapi LCIS kadang digolongkan sebagai tipe
kanker payudara non-invasif. Bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi tidak
berkembang melewati dinding lobulus. Mengacu pada National Cancer Institute, Amerika
Serikat, seorang wanita dengan LCIS memiliki peluang 25% munculnya kanker invasive
(lobular atau lebih umum sebagai infiltrating ductal carcinoma) sepanjang hidupnya.

Lobular carcinoma in situ


2. Invasive carcinoma
 Paget’s disease dari papilla mammae
Paget’s disease dari papilla mammae pertama kali dikemukakan pada tahun 1974.
Seringnya muncul sebagai erupsi eksim kronik dari papilla mammae, dapat berupa lesi
bertangkai, ulserasi, atau halus. Paget's disease biasanya berhubungan dengan DCIS (Ductal
Carcinoma in situ) yang luas dan mungkin berhubungan dengan kanker invasif. Biopsi papilla

20
mammae akan menunjukkan suatu populasi sel yang identik (gambaran atau perubahan
pagetoid). Patognomonis dari kanker ini adalah terdapatnya sel besar pucat dan bervakuola
(Paget's cells) dalam deretan epitel. Terapi pembedahan untuk Paget's disease meliputi
lumpectomy, mastectomy, atau modified radical mastectomy, tergantung penyebaran tumor dan
adanya kanker invasif.
Invasive ductal carcinoma
 Adenocarcinoma with productive fibrosis (scirrhous, simplex, NST) (80%)
Kanker ini ditemukan sekitar 80% dari kanker payudara dan pada 60% kasus kanker
ini mengadakan metastasis (baik mikro maupun makroskopik) ke KGB aksila. Kanker ini
biasanya terdapat pada wanita perimenopause or postmenopause dekade kelima sampai
keenam, sebagai massa soliter dan keras. Batasnya kurang tegas dan pada potongan meilntang,
tampak permukaannya membentuk konfigurasi bintang di bagian tengah dengan garis
berwarna putih kapur atau kuning menyebar ke sekeliling jaringan payudara. Sel-sel kanker
sering berkumpul dalam kelompok kecil, dengan gambaran histologi yang bervariasi.
 Medullary carcinoma (4%)
Medullary carcinoma adalah tipe khusus dari kanker payudara, berkisar 4% dari
seluruh kanker payudara yang invasif dan merupakan kanker payudara herediter yang
berhubungan dengan BRCA-1. Peningkatan ukuran yang cepat dapat terjadi sekunder terhadap
nekrosis dan perdarahan. 20% kasus ditemukan bilateral. Karakterisitik mikroskopik dari
medullary carcinoma berupa (1) infiltrat limforetikular yang padat terutama terdiri dari sel
limfosit dan plasma; (2) inti pleomorfik besar yang berdiferensiasi buruk dan mitosis aktif; (3)
pola pertumbuhan seperti rantai, dengan minimal atau tidak ada diferensiasi duktus atau
alveolar. Sekitar 50% kanker ini berhubungan dengan DCIS dengan karakteristik terdapatnya
kanker perifer, dan kurang dari 10% menunjukkan reseptor hormon. Wanita dengan kanker ini
mempunyai 5-year survival rate yang lebih baik dibandingkan NST atau invasive lobular
carcinoma.
 Mucinous (colloid) carcinoma (2%)
Mucinous carcinoma (colloid carcinoma), merupakan tipe khusus lain dari kanker
payudara, sekitar 2% dari semua kanker payudara yang invasif, biasanya muncul sebagai massa
tumor yang besar dan ditemukan pada wanita yang lebih tua. Karena komponen musinnya, sel-
sel kanker ini dapat tidak terlihat pada pemeriksaan mikroskopik.
 Papillary carcinoma (2%)

21
Papillary carcinoma merupakan tipe khusus dari kanker payudara sekitar 2% dari
semua kanker payudara yang invasif. Biasanya ditemukan pada wanita dekade ketujuh dan
sering menyerang wanita non kulit putih. Ukurannya kecil dan jarang mencapai diameter 3 cm.
McDivitt dan kawan-kawan menunjukkan frekuensi metastasis ke KGB aksila yang rendah dan
5- and 10-year survival rate mirip mucinous dan tubular carcinoma.
 Tubular carcinoma (2%)
Tubular carcinoma merupakan tipe khusus lain dari kanker payudara sekitar 2% dari
semua kanker payudara yang invasif. Biasanya ditemukan pada wanita perimenopause dan
pada periode awal menopause. Long-term survival mendekati 100%.

3. Invasive lobular carcinoma (10%)


Invasive lobular carcinoma sekitar 10% dari kanker payudara. Gambaran histopatologi
meliputi sel-sel kecil dengan inti yang bulat, nucleoli tidak jelas, dan sedikit sitoplasma.
Pewarnaan khusus dapat mengkonfirmasi adanya musin dalam sitoplasma, yang dapat
menggantikan inti (signet-ring cell carcinoma). Seringnya multifokal, multisentrik, dan
bilateral. Karena pertumbuhannya yang tersembunyi sehingga sulit untuk dideteksi.

Sistem TNM
TNM merupakan singkatan dari “T” yaitu tumor size atau ukuran tumor, “N” yaitu node atau
kelenjar getah bening regional dan “M” yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga faktor
T, N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan
dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai
berikut :

Ukuran Tumor (T)

22
Ukuran Nodul (N)

Ukuran Metastase (M)

23
Stadium Kanker

Dengan tahapan stadium :


1. Stadium 0 (Tis, N0, M0)
DCIS yang termasuk penyakit paget pada puting payudara dan LCIS.
2. Stadium I (T1, N0, M0)
Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang serta kelenjar getah bening negatif.
3. Stadium IIA (T0, N1, M0), (T1, N1, M0), (T2, N0, M0)
Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang disertai dengan metastasis ke kelenjar
getah bening atau karsinoma invasif lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm dengan
kelenjar getah beningnegatif.
4. Stadium IIB (T2, N1, M0), (T3, N0, M0)
Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm dengan
kelenjar getah bening positif atau karsinoma invasif berukuran lebih dari 5 cm tanpa
keterlibatan kelenjar getah bening.
5. Stadium IIIA (T0, N2, M0), (T1 atau T2, N2, M0), (T3, N1 atau N2, M0)
Karsinoma invasif ukuran berapa pun dengan kelenjar getah bening terfiksasi dengan
invasi ekstranodus yang meluas diantara kelenjar getah bening atau karsinoma berdiameter
lebih dari 5 cm dengan metastasis kelenjar getah bening nonfiksasi.

24
6. Stadium IIIB (T4, N1 atau N2 dan N3, M0)
Karsinoma inflamasi yang menginvasi dinding dalam, karsinoma yang mengivasi kulit,
karsinoma dengan nodus kulit satelit, atau setiap karsinoma dengan metastasis ke kelenjar
getah bening mamaria interna ipsilateral.
7. Stadium IV (T1–T4, N1–N4, M1)
Metastatis ke tempat jauh \

VI. Patofisiologi
Tumor atau neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri-ciri
proliferasi sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur
jaringan sekitarnya.
Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang
tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel
tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas
tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah menjadi
sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.
Karsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya
dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Pada keluarga dengan riwayat kanker payudara
yang kuat, banyak perempuan memiliki mutasi dalam gen kanker payudara, yang disebut
BRCA-1 (di kromosom 17q21.3). Pola keturunan adalah dominan autosomal dan dapat
diturunkan melalui garis maternal maupun paternal. Sindrom kanker payudara familial lainnya
berkaitan dengan gen pada kromosom 13, yang disebut BRCA-2 (di kromosom 13q12-13).
Kedua gen ini diperkirakan berperan penting dalam perbaikan DNA. Keduanya bekerja sebagai
gen penekan tumor, karena kanker muncul jika kedua alel inaktif atau cacat – pertama
disebabkan oleh mutasi sel germinativum dan kedua oleh sel somatik berikutnya.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:
a) Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois lingkungan
mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah
jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi
zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat
karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.

25
b) Fase in situ: 1-5 tahun
Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa
ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit
dan akhirnya ditemukan di payudara.
c) Fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke
jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan ke 4
berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa tahun.
d) Fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain
bertambah.
Metastasis di parenkim paru pada rontgenologis memperlihatkan gambaran coin lesion
yang multiple dengan ukuran yang bermacam-macam. Metastasis ini seperti pula mengenai
pleura yang dapat mengakibatkan pleural effusion.
Metastasis ke tulang vertebra akan terlihat pada gambaran rontgen sebagai gambaran
osteolitik atau destruksi yang dapat pula menimbulkan fraktur patologis berupa fraktur
kompresi.
Metastasis tumor ganas payudara dapat terjadi melalui dua jalan :
A. Metastasis melalui sistem vena
Metastasis tumor ganas payudara melalui sistem vena akan menyebabkan terjadinya
metastasis ke paru-paru dan organ-organ lain. Akan tetapi dapat pula terjadi metastasis ke
vertebra secara langsung melalui vena-vena kecil yang bermuara ke v. Interkostalis dimana
v. Interkostalis ini akan bermuara ke dalam v. Vertebralis. V. Mammaria interna merupakan
jalan utama metastasis tumor ganas payudara ke paru-paru melalui sistem vena,
B. Metastasis melalui sistem limfe
Metastasis tumor ganas payudara melalui sistem limfe adalah ke kelenjar getah bening
aksila. Pada stadium tertentu, biasanya hanya kelenjar aksila inilah yang terkena.
 Metastasis ke kelenjar getah bening sentral. Kelenjar getah bening sentral ini
merupakan kelenjar getah bening yang tersering terkena metastasis. Menurut beberapa
penyelidikan hampir 90% metastasis ke kelenjar aksila adalah ke kelenjar getah bening
sentral.
 Metastasis ke kelenjar getah bening interpektoral.
 Metastasis ke kelenjar getah bening subklavicula.

26
 Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria eksterna. Metastasis ini adalah paling
jarang terjadi dibanding dengan kelenjar-kelenjar getah bening aksila lainnya.
 Metastasis ke kelenjar getah bening aksila kontralateral. Jalan metastase ke kelenjar
getah bening kontralateral sampai saat ini masih belum jelas. Bila metastase tersebut
melalui saluran limfe kulit, sebelum sampai ke aksila akan mengenai payudara
kontralateral terlebih dahulu. Padahal pernah ditemukan kasus dengan metastasis ke
kelenjar getah bening aksila kontralateral tanpa metastasis ke payudara kontralateral.
Diduga jalan metastasis tersebut melalui deep lymphatic fascial plexus di bawah
payudara kontralateral melalui kolateral limfatik.
 Metastasis ke kelenjar getah bening supraklavicula. Bila metastasis karsinoma mammae
telah sampai ke kelnjar getah bening subklavicula, ini berarti bahw metastasis tinggal
3-4 cm dari grand central limfatik terminus yang terletak dekat pertemuan v.
Subklavicula dan v. Jugularis interna. Bila sentinel nodes yang terletak di sekitar grand
central limfatik terminus telah terkena metastasis, dapat terjadi stasis aliran limfe.
Sehingga bisa terjadi aliran membalik, menuju ke kelenjar getah bening supraklavicula
dan terjadi metastasis ke kelenjar tersebut. Penyebaran ini disebut sebagai penyebaran
tidak langsung. Dapat pula terjadi penyebaran ke kelanjar supraklavicula secara
langsung dari kelenjar subklavicula tanpa melalui sentinel nodes.
 Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria interna ternyata lebih sering dari yang
diduga. Biasanya terjadi pada karsinoma mamma di sentral dan kuadran medial. Dan
biasanya terjadi setelah metastasis ke aksila.
 Metastasis ke hepar. Selain melalui sistem vena, ternyata dapat terjadi metastasis
karsinoma mammae ke hepar melalui sistem limfe. Keadaan ini terjadi bila tumor
primer terletak di tepi medial bagian bawah payudara. Metastasis melalui sistem limfe
yang jalan bersama-sama vasa epigastrika superior. Bila terjadi metastasis ke kelenjar
preperikardial akan terjadi stasis aliran limfe dan bisa terjadi aliran balik limfe ke hepar
dan terjadi metastasis hepar.
 Metastasis ke tulang belakang. Jika metastase tulang yaitu ke tulang belakang mungkin
terjadi kompresi medula spinalis, metastase otak, limfedema kronis jika tumor kambuh
lagi pada aksila.
 Metastasis ke otak. Metastasis jenis ini mempunyai gejala yaitu, nyeri kepala dan tidak
ditemukan adanya rasa mual.

27
VII. Diagnostik
1. Anamnesis
Anamnesis harus diawali dengan pencatatan identitas pasien secara lengkap, keluhan apa yang
mendasari penderita untuk datang ke dokter. Keluhan ini dapat berupa massa di payudara yang
berbatas tegas atau tidak, benjolan dapat digerakkan dari dasar atau melekat pada jaringan di
bawahnya, adanya nyeri, cairan dari puting, adanya retraksi putting payudara, kemerahan,
ulserasi sampai dengan pembengkakan kelenjar limfe. Terdapat kemungkinan patologis yang
menyebabkan terdapatnya lesi klinis pada payudara wanita dari berbagai umur, seperti yang
terdapat perlu ditanyakan pula riwayat penyakit terdahulu hingga riwayat penyakitsekarang.
Tumor mulai dirasakan sejak kapan, cepat membesar atau tidakterasa sakit atau tidak.

28
Anamnesis penderita kelainan payudara harusdisertai pula dengan riwayat keluarga, riwayat
kehamilan maupun riwayat
ginekologi
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Pasien diminta duduk tegak atau berbaring atau kedua duanya, kemudian perhatikan bentuk
kedua payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, retraksi adanya kulit berbintik seperti kulit
jeruk, ulkus dan benjolan
b. Palpasi
Palpasi lebih baik dilakukan berbaring dengan bantal tipis dipunggung sehingga payudara
terbentang rata. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sendiri oleh pasien atau oleh klinisi
menggunakan telapak jari tangan yang digerakan perlahan–lahan tanpa tekanan pada setiap
kuadran payudara. Benjolan yang tidak teraba ketika penderita berbaring kadang lebih mudah
ditemukan pada posisi duduk. Perabaan aksila pun lebih mudah dilakukan dalam posisi duduk.
Dengan memijat halus puting susu dapat diketahui adanya pengeluaran cairan, darah, atau
nanah. Cairan yang keluar dari kedua puting susu harus dibandingkan

29
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Fine Needle Aspiration Biopsi (FNAB)
Prosedur pemeriksaan ini dengan cara menyuntikkan jarum berukuran 22–25 gauge melewati
kulit atau secara percutaneous untuk mengambil contoh cairan dari kista payudara atau
mengambil sekelompok sel dari massa yang solid pada payudara. Setelah dilakukan FNAB,
material sel yang diambil dari payudara akan diperiksa di bawah mikroskop yang sebelumnya
terlebih dahulu dilakukan pengecatan sampel. Sebelum dilakukan pengambilan jaringan,
terlebih dulu dilakukan pembersihan pada kulit payudara yang akan diperiksa. Apabila
benjolan dapat diraba maka jarum halus tersebut di masukan ke daerah benjolan seperti pada
gambar 6.

Apabila benjolan tidak dapat diraba, prosedur FNAB akan dilakukan dengan panduan dari
sistem pencitraan yang lain seperti mammografi 30 atau USG. Setelah jarum dimasukkan ke
dalam bagian payudara yang tidak normal, maka dilakukan aspirasi melalui jarum tersebut.
Pada prosedur FNAB seringkali tidak dilakukan pembiusan lokal karena prosedur anastesi
lebih memberikan rasa sakit dibandingkan pemeriksaan FNAB itu sendiri. Selain itu, lidokain
yang digunakan sebagai bahan anestesi bisa menimbulkan artefak yang dapat terlihat pada

30
pemeriksaan mikroskopis. Hampir semua tumor dapat dilakukan biopsi aspirasi, baik yang
letaknya superfisial palpable ataupun tumor yang terletak di dalam rongga tubuh unpalpable,
dengan indikasi:
• Membedakan tumor kistik, solid dan peradangan
• Diagnosis prabedah kanker sebagai pengganti diagnosis potong beku intraoperatif
• Diagnosis pertama pada wanita muda yang kurang dari 30 tahun dan wanita lanjut usia
• Payudara yang telah dilakukan beberapa kali biopsi diagnostik
• Penderita yang menolak operasi atau anestesi
• Nodul–nodul lokal atau regional setelah operasi mastektomi
• Kasus kanker payudara stadium lanjut yang sudah inoperabel
• Mengambil spesimen untuk kultur dan penelitian (Lestadi, 2004).

Prosedur FNAB memiliki beberapa keuntungan antara lain FNAB adalah metode tercepat dan
termudah dibandingkan biopsi eksisi maupun insisi payudara. Hasil dapat diperoleh dengan
cepat sehingga pasien dapat segera mendapatkan terapi selanjutnya. Keuntungan lain dari
metode ini adalah biaya pemeriksaan lebih murah, rasa cemas dan stress pasien lebih singkat
dibandingkan metode biopsi. Kekurangan dari metode ini hanya mengambil sangat sedikit
jaringan atau sel payudara sehingga hanya dapat menghasilkan diagnosis berdasarkan keadaan
sel. Dari kekurangan tersebut, FNAB tidak dapat menilai luasnya invasi tumor dan terkadang
subtipe kanker tidak dapat diidentifikasi sehingga dapat terjadi negatif palsu
b. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan baik dengan menggunakan jarum yang sangat halus maupun
dengan jarum yang cukup besar untuk mengambil jaringan. Kemudian jaringan yang diperoleh

31
menggunakan metode insisi maupun eksisi dilakukan pewarnaan dengan Hematoxylin dan
Eosin. Metode biopsi eksisi maupun insisi ini merupakan pengambilan jaringan yang dicurigai
patologis disertai pengambilan sebagian jaringan normal sebagai pembandingnya. Tingkat
keakuratan diagnosis metode ini hampir 100% karena pengambilan sampel jaringan cukup
banyak dan kemungkinan kesalahan diagnosis sangat kecil. Tetapi metode ini memiliki
kekurangan seperti harus melibatkan tenaga ahli anastesi, mahal, membutuhkan waktu
pemulihan yang lebih lama karena harus di insisi, menimbulkan bekas berupa jaringan parut
yang nantinya akan mengganggu gambaran mammografi, serta dapat terjadi komplikasi berupa
perdarahan dan infeksi
c. Mammografi dan Ultrasonografi
Mammografi dan ultrasonografi berperan dalam membantu diagnosis lesi payudara yang padat
palpable maupun impalpable serta bermanfaat untuk membedakan tumor solid, kistik dan
ganas. Teknik ini merupakan dasar untuk program skrinning sebagai alat bantu dokter untuk
mengetahui lokasi lesi dan sebagai penuntun FNAB. Menurut Muhartono (2012), FNAB yang
dipandu USG untuk mendiagnosis tumor payudara memiliki sensitivitas tinggi yaitu 92% dan
spesifisitas 96%. Pemeriksaan ini mempergunakan linear scanner dengan transduser
berfrekuensi 5 MHz. Secara sistematis, scanning dimulai dari kuadran medial atas dan bawah
dilanjutkan ke kuadran lateral atas
dan bawah dengan film polaroid pada potongan kraniokaudal dan mediolateral oblik. Nilai
ketepatan USG untuk lesi kistik adalah 90– 95%, sedangkan untuk lesi solid seperti FAM
adalah 75–85%. Untuk mengetahui tumor ganas nilai ketepatan diagnostik USG hanya 62–
78% sehingga masih diperlukan pemeriksaan lainnya untuk menentukan keganasan pada
payudara

VIII. Penatalaksanaan
Terapi dapat bersifat kuratif atau paliatif. Terapi kuratif dianjurkan untuk stadium I, II, dan III.
Pasien dengan tumor lokal lanjut (T3,T4) dan bahkan inflammatory carcinoma mungkin dapat
disembuhkan dengan terapi multimodalitas, tetapi kebanyakan hanya bersifat paliatif. Terapi
paliatif diberikan pada pasien dengan stadium IV dan untuk pasien dengan metastasis jauh atau
untuk karsinoma lokal yang tidak dapat direseksi.
A. Terapi secara pembedahan
1. Mastektomi partial (breast conservation)
Tindakan konservatif terhadap jaringan payudara terdiri dari reseksi tumor primer
hingga batas jaringan payudara normal, radioterapi dan pemeriksaan status KGB (kelenjar

32
getah bening) aksilla. Reseksi tumor payudara primer disebut juga sebagai reseksi segmental,
lumpectomy, mastektomi partial dan tylectomy. Tindakan konservatif, saat ini
merupakan terapi standar untuk wanita dengan karsinoma mammae invasif stadium I atau II.
Wanita dengan DCIS hanya memerlukan reseksi tumor primer dan radioterapi adjuvan. Ketika
lumpectomy dilakukan, insisi dengan garis lengkung konsentrik pada nipple-areola
complex dibuat pada kulit diatas karsinoma mammae. Jaringan karsinoma diangkat dengan
diliputi oleh jaringan mammae normal yang adekuat sejauh 2 mm dari tepi yang bebas dari
jaringan tumor. Dilakukan juga permintaan atas status reseptor hormonal dan ekspresi HER-
2/neu kepada patologis.
Setelah penutupan luka payudara, dilakukan diseksi KGB aksilla ipsilateral untuk
penentuan stadium dan mengetahui penyebaran regional. Saat ini, sentinel node biopsy
merupakan prosedur staging yang dipilih pada aksilla yang tidak ditemukan adanya
pembesaran KGB. Ketika sentinel node biopsy menunjukkan hasil negatif, diseksi KGB akilla
tidak dilakukan.
2. Modified Radical Mastectomy
Modified radical mastectomy mempertahankan baik M. pectoralis mayor and M.
pectoralis minor, dengan pengangkatan KGB aksilla level I dan II tetapi tidak level III.
Modifikasi Patey mengangkat M. pectoralis minor dan diseksi KGB axilla level III. Batasan
anatomis pada Modified radical mastectomy adalah batas anterior M. latissimus dorsi pada
bagian lateral, garis tengah sternum pada bagian medial, bagian inferiornya 2-3 cm dari
lipatan infra-mammae dan bagian superiornya m. subcalvia.
Seroma dibawah kulit dan di aksilla merupakan komplikasi tersering dari mastektomi
dan diseksi KGB aksilla, sekitar 30% dari semua kasus. Pemasangan closed-system suction
drainage mengurangi insidensi dari komplikasi ini. Kateter dipertahankan hingga cairan
drainage kurang dari 30 ml/hari. Infeksi luka jarang terjadi setelah mastektomi dan
kebanyakan terjadi sekunder terhadap nekrosis skin-flap. Pendarahan sedang dan hebat jarang
terjadi setelah mastektomi dan sebaiknya dilakukan eksplorasi dini luka untuk mengontrol
pendarahan dan memasang ulang closed-system suction drainage. Insidensi lymphedema
fungsional setelah modified radical mastectomy sekitar 10%. Diseksi KGB aksilla ekstensif,
terapi radiasi, adanya KGB patologis dan obesitas merupakan faktor-faktor predisposisi.

B. Terapi secara medikalis (non-pembedahan)


1. Radioterapi

33
Terapi radiasi dapat digunakan untuk semua stadium karsinoma mammae. Untuk
wanita dengan DCIS, setelah dilakukan lumpectomy, radiasi adjuvan diberikan untuk
mengurangi resiko rekurensi lokal, juga dilakukan untuk stadium I, IIa, atau IIb setelah
lumpectomy. Radiasi juga diberikan pada kasus resiko/kecurigaan metastasis yang
tinggi.Pada karsinoma mammae lanjut (Stadium IIIa atau IIIb), dimana resiko rekurensi dan
metastasis yang tinggi maka setelah tindakan pembedahan dilanjutkan dengan terapi radiasi
adjuvan.
2. Kemoterapi
 Kemoterapi adjuvan
Kemoterapi adjuvan memberikan hasil yang minimal pada karsinoma mammae tanpa
pembesaran KGB dengan tumor berukuran kurang dari 0,5 cm dan tidak dianjurkan. Jika
ukuran tumor 0,6 sampai 1 cm tanpa pembesaran KGB dan dengan resiko rekurensi tinggi
maka kemoterapi dapat diberikan. Faktor prognostik yang tidak menguntungkan termasuk
invasi pembuluh darah atau limfe, tingkat kelainan histologis yang tinggi, overekspresi HER-
2/neu dan status reseptor hormonal yang negatif sehingga direkomendasikan untuk diberikan
kemoterapi adjuvan.
Contoh regimen kemoterapi yang digunakan antara lain siklofosfamid, doxorubisin, 5-
fluorourasil dan methotrexate.Untuk wanita dengan karsinoma mammae yang reseptor
hormonalnya negatif dan lebih besar dari 1 cm, kemoterapi adjuvan cocok untuk diberikan.
Rekomendasi pengobatan saat ini, berdasarkan NSABP B-15, untuk stadium IIIa yang operabel
adalah modified radical mastectomy diikuti kemoterapi adjuvan dengan doxorubisin diikuti
terapi radiasi.
3. Terapi anti-estrogen
Dalam sitosol sel-sel karsinoma mammae terdapat protein spesifik berupa reseptor
hormonal yaitu reseptor estrogen dan progesteron. Reseptor hormon ini ditemukan pada lebih
dari 90% karsinoma duktal dan lobular invasif yang masih berdiferensiasi baik.
Setelah berikatan dengan reseptor estrogen dalam sitosol, tamoxifen menghambat
pengambilan estrogen pada jaringan payudara. Respon klinis terhadap anti-estrogen sekitar
60% pada wanita dengan karsinoma mammae dengan reseptor hormon yang positif, tetapi
lebih rendah yaitu sekitar 10% pada reseptor hormonal yang negatif. Kelebihan tamoxifen
dari kemoterapi adalah tidak adanya toksisitas yang berat. Nyeri tulang, hot flushes, mual,
muntah dan retensi cairan dapat terjadi pada pengunaan tamoxifen. Resiko jangka panjang
pengunaan tamoxifen adalah karsinoma endometrium. Terapi dengan tamoxifen dihentikan
setelah 5 tahun. Beberapa ahli onkologi merekomendasikan tamoxifen untuk ditambahkan
34
pada terapi neoadjuvan pada karsinoma mammae stadium lanjut terutama pada reseptor
hormonal yang positif. Untuk semua wanita dengan karsinoma mammae stadium IV, anti-
estrogen (tamoxifen), dipilih sebagai terapi awal.

IX. Prognosis
Survival rates untuk wanita yang didiagnosis karsinoma mammae antara tahun 1983-
1987 telah dikalkulasi berdasarkan pengamatan, epidemiologi dan hasil akhir program data,
didapatkan bahwa angka 5-year survival untuk stadium I adalah 94%, stadium IIa 85%, IIb
70%, dimana pada stadium IIIa sekitar 52%, IIIb 48% dan untuk stasium IV adalah 18%.

X. Pencegahan
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Pemeriksaan terhadap payudara sendiri
dilakukan setiap bulan secara teratur. Dengan melakukan pemeriksaan sendiri secara teratur
maka kesempatan untuk menemukan tumor dalam ukuran kecil lebih besar, sehingga dapat
dengan cepat dilakukan tindakan pengobatan. SADARI dapat dilakukan dengan cara:
 Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara
kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara
payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam)
atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu
berkerut.
 Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan
kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah
untuk menemukan perubahan kecil akibat tumor. Perhatikan perubahan bentuk dan
kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
 Kedua tangan diletakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan
bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.
 Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara
kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di
sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai
ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah
kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan
kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua
payudara dan ketiak.

35
 Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu.
Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan.
 Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri
ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan.
Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan.
Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah
bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh
jari-jari tangan kiri.
 Pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah
tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.

36
BAB IV

PEMBAHASAN

Untuk menunjang diagnosis tumor mamae yang tepat, dilakukan anamnesis,


pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang pada akhirnya akan mengarah ke satu
diagnosis kerja yaitu tumor mamae.
.
a. Anamnesis
Dari hasil anamnesis didapatkan pasien mengeluh terdapat benjolan pada payudara kiri
yang dirasakan sejak 3 bulan SMRS. Pasien mengaku benjolan yang dirasakan tidak
semakin membesar. Pasien tidak mengeluhkan nyeri saat dipegang. Benjolan muncul
pada setiap saat, bukan hanya waktu menstruasi saja. Pasien tetap merasa khawatir
walaupun benjolan itu tidak mengganggunya. 1 minggu smrs pasien mengeluhkan
bahwa benjolan pada payudara kiri semakin membesar, disertai nyeri jika di pegang.

b. Pemeriksaan Fisik
KU : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign :

o GCS: E4V5M6,
o TD: 100/70 mmHg
o Nadi: 112x/menit
o Suhu: 38 ºC
o Pernafasan: 24 x/ menit
o SpO2: 98%

STATUS LOKALIS
 Inspeksi
Mammae kanan dan kiri tampak simetris. Tidak terdapat retraksi puting, sekret atau discharge
yang keluar dari puting kedua payudara. Tidak terdapat perubahan warna, peau d’orange, skin
dimpling, pada kedua payudara

37
 Palpasi
Terdapat satu benjolan pada mammae sinistra yang teraba lunak di bagian kuadran
medial inferior sinistra. Benjolan ukuran diameter 7 cm, konsistensi kenyal, mobile,
permukaan licin, batas tegas, nyeri tekan (+) dan tidak terdapat nyeri tekan serta
pembesaran KGB
c. Pemeriksaan Penunjang
Hematologi : Hb 12,0, eritrosit 5,86, MCV 70, MCH 22,9

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tersebut


dapat ditegakan diagnosis bahwa pasien mengalami tumor mamae suspect malignancy

Penatalaksanaan
Tatalaksana yang dilakukan dalam kasus ini ialah dengan dilakukan incisional biopsi
untuk mengetahui jaringan mamae pada pasien ganas atau jinak. Pada kasus ini telah terjadi
pembesaran jaringan mamae yang cukup besar. Setelah itu dilakukan penjahitan pada luka
bekas operasi.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Bruncardi, F.C., et al. 2004. Schwartz’s Principal Of Surgery. Edisi 8 Volume 1.United States of
America.Burkitt, H.G., Clive R.G., Gatt, D., 1990.

2. Essential Surgery Problem, Diagnosis, and Management. New York.Current. 2003. Surgical Diagnosis
and Treatment, 11th Edition.

3. Lange Medical Book. United States of America.Lester S. C, The Breast, in V. Kumar, Abul K. Abbas,
N. Fausto, J.C.Aster dkk. 2010 ,

4. Pathologic Basis of Disease, Eight Ed. Saunders, and inprint of Elsevier Inc 1065-1095Sabiston.1995.
Buku Ajar Bedah, Bagian I. EGC. Jakarta.

5. Sjamsuhidayat dan Wim de Joing, R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah, Revisi ed. EGC, Jakarta.

39