Anda di halaman 1dari 2

Mahernisme: Antitesis kapitalisme di Indonesia

Raju

FKIP Universitas Jambi

Marhaenisme adalah ideologi yang menentang adanya penindasan


terhadap kaum marhaen yang merupakan kaum petani, kaum buruh dan kaum
melarat lainnya yang sering ditindas oleh kaum borjuis atau kapitalis yang
merupakan pemilik modal. Menurut Soekarno (1964) Marhaenisme sebagai teori
perjuangan dirumuskan oleh Soekarno untuk membebaskan diri dari sistem yang
menciptakan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Berikut beberapa padangan saya
terhadap mahernisme sebagai sebuah pandangan yang merupakan antitesis
daripada kapitalisme yang lagi marak di dunia saat ini.

Mahernisme dalam pandangannya lebih mengedepankan kaum petani,


buruh dan kaum tertindah sebagai objek perjuangan. Hal ini dilandasi dalam dunia
ekonomi, petani dan buruh sebagai objek pemerasan dari kaum borjuis dan
kapitalis. Soekarno (1999:16) menyatakan pada pidato peringatan 30 tahun PNI
pada tanggal 3 Juli 1957 yang berjudul “Shaping and Reshaping, Menggalang
Massa-aksi Revolusioner Menuju Masyarakat Adil dan Makmur”
mendeskripsikan realitas masyarakat Indonesia yang menderita dan sengsara
akibat praktek imperialisme dan kolonialisme sehingga dibutuhkanlah perjuangan
yang berdasarkan pada kesadaran massa dan sikap tidak bekerja sama dengan
pihak imperialis.

Mahernisme memperjuangkan para petani, buruh dan kaum tertindas


lainnya untuk mandiri dan tanpa intervesi dan pemilik modal. Marhaenisme
adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang
didalam segala halnya menyelamatkan marhaen (Soekarno, 1964). Lalu marhaen
sebuah bentuk perlawanan terhadap kaum kapitalisis. Jadi marhaenisme adalah
cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan
imperialisme (Soekarno, 1964).

Berbagai pandangan dan paham seperti nasionalis, agamis dan berbagai


paham lainnya. Marhaenisme berkembang dan tumbuh seiring dan perjuangan
kemerdekaan di Indonesia. Marhaen merupakan kaum tertindas yang harus
diperjuangkan. Jadi, terdapat dua pandangan saya terhadap mahernisme yaitu
Marhaenisme menjadikan petani, buruh dan kaum tertindas sebagai objek
perjuangan dan petani, buruh dan kaum tertindas harus mandiri dan bebas dari
intervensi kaum borjuis dan kapitalisme.

Referensi

Soekarno. (1964). Dibawah Bendera Revolusi. Jilid I. Jakarta : Panitia Penerbit


Dibawah Bendera Revolusi.