Anda di halaman 1dari 46

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Sebelumnya

Peneliitian yang relevan perlu dikemukakan dalam penelitian ini

untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan. Penelitian relevan yang

pernah dilakukan adalah sebagai berikut.

”Pengaruh Pemberian Motivasi dalam Proses Belajar Mengajar

terhadap Hasil Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa Kelas I SLTP

Negeri 26 Makassar” yang dilakukan oleh Pitriani (2003) dan Pengaruh

Bimbingan Belajar Terhadap Prestasi Siswa di Gama Collage yang

dilakukan oleh Anita Candra Dewi (2007). Penelitian ini disimpulkan

bahwa ada pengaruh pemberian motivasi dalam proses belajar mengajar

terhadap hasil belajar bahasa Indonesia dan ada pengaruh bimbingan

belajar terhadap prestasi siswa.

B. Pengertian Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai

tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah

kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-

masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat

9
10

satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan

pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana

pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema

tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi

pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator penilaian,

alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan

penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi

pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian

kompetensi untuk penilaian. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

merupakan bagian dari perencanaan proses pembelajaran yang memuat

sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode

pengajaran, sumber belajar, dan indikator pencapaian kompetensi untuk

penilaian.

Pada struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah berisi

sejumlah mata pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik.

Mengingat perbedaan individu sudah barang tentu keluasan dan

kedalamannya akan berpengaruh terhadap peserta didik pada setipa

satuan pendidikan kurangnya 42 jam pelajaran setiap minggu mencapai

kompetensi di samping dimanfaatkan pelajaran lain yang dianggap

penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di

dalam standar isi. Dengan adanya tambahan waktu, satuan pendidikan

diperkenankan mengadakan penyesuaian-penyesuaian. Tambahan

maksimum empat jam pelajaran dapat dioptimalkan untuk membantu


11

mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran maupun dalam

berkomunikasi. Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya

merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di

samping itu, materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri

termasuk ke dalam isi kurikulum.

C. Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan

Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,

pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik

untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan

program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif da efisien serta

mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki

stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu

pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu

berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki

kemampuan mengembangkan diri. Struktur kurikulum pendidikan kejuruan

dalam hal ini sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diarahkan untuk

mencapai tujuan tersebut. Kurikulum SMK berisi mata pelajaran wajib,

mata pelajaran Kejuruan, Muatan Lokal, dan Penge,bangan Diri.

Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama, Pendidikan

Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA,

IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, dan


12

Keterampilan/Kejuruan. Mata pelajaan ini bertujuan untuk membentuk

manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. Mata

pelajaran kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan

untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan

kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangakan

kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan

prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang

materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.

Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan

program keahlian yang diselenggarakan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus

diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan

kepada peserta didik untuk mengembangakan dan mengekspresikan diri

sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai

dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan

dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat

dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan

konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan

sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik. Pengembangan diri

bagi peserta didik SMK terutama ditujukan untuk pengembangan

kreativitas dan bimbingan karier.


13

Struktur kurikulum SMK meliputi substansi pembelajaran yang

ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat

diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII

atau kelas XIII. Struktur kurikulum SMK disusun berdasarkan standar

kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

D. Pengertian Belajar

Pada hakikatnya, manusia belajar karena mempunyai bakat untuk

belajar yang dipacu oleh hasrat ingin tahu dan didukung oleh kemampuan

untuk mengetahui. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan, dan

bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, melainkan

meliputi kegiatan yang lebih luas, yakni mengalami. Hasil belajar bukan

merupakan penguasaan terhadap hasil latihan, melainkan perubahan

tingkah laku (Oemar, 1994: 36).

Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu situasi yang di

dalamya ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-

bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan atau apabila ia harus

mengatasi rintangan dalam aktivitasnya. Dengan demikian, belajar dapat

didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan

baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu

memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi

yang dihadapi dalam hidupnya.


14

Belajar, menurut Alwi, dkk. (1997: 17) adalah “(1) berusaha

memperoleh kepandaian atau ilmu, (2) berlatih, (3) berubah tingkah laku

atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalamannya”. Slameto (1987:

2) mengartikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan

individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru

secara keseluruhan sebgai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam

interaksi dengan lingkungannya.

Pengertian di atas memberikan pemahaman bahwa belajar

merupakan aktivitas yang dilaksanakan secara sadar untuk mendapatkan

sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Hasil aktivitas belajar

adalah perubahan dalam diri invidu. Dengan demikian, belajar dapat

dikatakan berhasil bila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya

bila tidak terjadi perubhan dalam diri individu, maka belajar dikatakan tidak

berhasil.

Dari segi psikologis, belajar diartikan sebagai suatu proses

perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi manusia dengan

lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-

perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku si

pembelajar.

Senada dengan itu, Winkel (Parenge, 1987: 9) mengemukakan

bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung

dalam interaksi aktif dalam lingkungannya yang menghasilkan perubahan


15

pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan. Perubahan itu

bersifat secara relative, konstan, dan berbekas.

Sardiman (1992: 5) mengemukakan bahwa belajar ialah perubahan

tingkah laku sebagai hasil kegiatan yang terjadi karena adanya tujuan

yang akan dicapai. Gutri dan Power (dalam Dimyanti, 1999: 57)

mengemukakan bahwa belajar adalah suatu hak untuk meningkatkan

pengetahuan (pengalaman) yang didapatkan melalui kemampuan atau

pengertian baru. Wihtherington dan Buchari (dalam Dimyanti, 1999: 57)

mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perbuatan kepada diri dan

kepribadian yang nyata dengan adanya pola sambutan baru yang dapat

berupa suatu pengertian. Ernest Hilgard (dalam Dimyanti, 1999: 58)

mengatakan bahwa belajar suatu proses yang menghasilkan suatu

aktivitas baru dengan perantaraan latihan, baik di dalam laboratorium

maupun lingkungan alami, yang berbeda dengan perubahan-perubahan

yang tidak didapatkan dalam latihan. Dengan demikian, belajar yang

efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang

berinteraksi langsung dengan menggunakan semua alat inderanya

terhadap objek belajar.

Belajar bukan sekedar pengalaman. Belajar adalah suatu proses,

dan bukan suatu hasil. Oleh karena itu, belajar hendaknya berlangsung

secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk

perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Hal tersebut senada dengan

pendapat slameto (1987: 2) yang mengatakan bahwa belajar adalah suatu


16

proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan

tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman

individu itu sendiri dalam menjalankan intraksi dengan lingkungan.

Selanjutnya, Sahabuddin (1999: 87) mengemukakan bahwa belajar

adalah perubahan dalam berperilaku sebagai hasil dari pengalaman.

Belajar merupakan proses perkembangan hidup manusia. Dengan

belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu

sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi

hidup tidak lain adalah hasil belajar.

Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi

pada diri seseorang yang melakukannya. Abdurrahman (1994: 97)

menjelaskan bahwa belajar adalah interaksi individu dalam lingkungan

yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah laku.

Ahmadi (1991: 279) berpendapat bahwa belajar adalah suatu bentuk

pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan

dalam tingkah laku sebagai hasil pengalaman.

E. Pengertian Mengajar

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan

kondisi atau system lingkungan yang mendukung dan memungkinkan

untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa,

maka mengajar sebagai kegiatan guru. Di samping itu, ada beberapa

definisi lain, yang dirumuskan secara rinci dan Nampak bertingkat.


17

Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik.

Menurut pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekadar

ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan. Sebagai konsekuensi

pengertian semacam ini dapat membuat suatu kecenderungan anak

menjadi pasif, karena hanya menerima informasi atau pengetahuan yang

diberikan oleh gurunya. Sehingga pengajaran bersifat teacher centered,

jadi gurulah yang memegang posisi kunci dalam proses belajar mengajar

di kelas. Guru menyampaikan pengetahuan, agar anak didik mengetahui

tentang pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu,

pengajaran seperti ini ada juga yang menyebutnya dengan pengajaran

yang intelektualitas.

Kelanjutan dari pengertian mengajar seperti di atas adalah

menanamkan pengetahuan itu kepada anak didik denagn suatu harapan

terjadi proses pemahaman. Dalam proses ini pula siswa/anak didik

mengenal dan menguasai budaya bangasa untuk kemudian dapat

memperkayannya. Hal ini berarti berangkat dari intelektualnya, siswa

dapat menciptakan sesuatu yang baru.

Kemudian pengertian yang luas, mengajar diartikan sebagai suatu

aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan

menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. atau

dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif

untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu

diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak


18

secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental.

Pengertian mengajar seperti ini memberikan petunjuk bahwa fungsi pokok

dalam mengajar itu adalah menyediakan kondisi yang kondusif, sedang

yang berperan aktif dan banyak melakukan kegiatan adalah siswanya,

dalam upaya menemukan dan memecahkan masalah. Yang belajar

adalah siswa itu sendiri dengan kegiatannya sendiri. Guru dalam hal ini

membimbing dan menyediakan kondisi yang kondusif itu sudah barang

tentu guru tidak dapat mengabaikan fakkor atau komponen-komponen

yang lain dalam lingkungan proses belajar-mengajar, termasuk misalnya

bagaimana dirinya sendiri, keadaan siswa, alat-alat peraga atau metode-

metode dan sumber-sumber belajar lainnya. Konsep mengajar ini

memberikan indikator bahwa pengajarannya lebih bersifat pupil centered.

Sehingga tercapailah suatu hasil yang optimal, sangat tergantung oleh

kegiatan siswa/anak didik itu sendiri. Dengan kata lain, tujuan tercapainya

tujuan pembelajaran atau hasil pengajaran itu sangat dipengaruhi oleh

bagaimana aktivitas siswa di dalam belajar.

Proses belajar akan menghasilkan hasil belajar. Namun, harus juga

diingat, sesuai dengan uraian di atas, meskipun tujuan pembelajaran itu

dirumuskan secara jelas dan baik, belum tentu hasil pengajaran yang

diperoleh mesti optimal. Karena hasil yang baik itu dipengaruhi oleh

komponen-komponen yang lain, dan terutama bagaimana aktivitas siswa

sebagai subjek belajar.


19

Suatu proses belajar-mengajar dikatakan baik, bila proses tersebut

dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif. Dalam hal ini perlu

disadari, masalah yang menentukan bukan metode atau prosedur yang

digunakan dalam pengajaran, bukan kolot atau moderennya pengajaran.

Bukan pula konvensional atau progresifnysa pengajaran. Semua itu

mungkin penting artinya, tetapi tidak merupakan pertimbangan akhir,

karena itu hanya berkaitan dengan “alat” bukan “tujuan” pengajaran. Bagi

pengukuran suksesnya pengajaran, memang syarat utama adalah

“hasilnya”. Tetapi harus diingat bahwa dalam menilai atau menerjemahkan

“hasil” itu pun harus secara cermat dan tepat, yaitu dengan

memperhatikan bagaimana “prosesnya”. Dalam proses inilah siswa akan

beraktivitas. Dengan proses yang tidak baik/benar, mungkin hasil yang

dicapainya pun tidak akan baik, atau kalau boleh dikatakan hasil itu

adalah hasil semu.

F. Komponen Belajar-Mengajar

Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen yang

saling terkait membentuk suatu sistem pengajaran. Komponen pengajaran

tersebut adalah siswa, guru, tujuan, isi pelajaran, metode, media, dan

evaluasi Dimyati (1999: 20-27).

1. Siswa

Siswa adalah subjek yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.

Siswa mengalami suatu proses belajar. Dalam proses belajar, siswa


20

menggunakan mentalnya untuk mempelajari materi pelajaran. Dimyanti

(1999: 20) mengemukakan bahwa siswa yang belajar berarti

menggunakan kemampuuan kognitif, afektif, psikomotorik, terhadap

lingkungannya.

Faktor yang terdapat dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap

keberhasilan belajar adalah bakat, minat, kemampuan, dan motivasi

belajar. Siswa merupakan masukan mental yang perlu dibimbing dalam

proses belajar mengajar.

Tolla (2005: 29-33) mengemukakan peranan siswa dalam proses

belajar mengajar seperti yang diuraikan berikut ini.

a. Aktivitas belajar siswa.

Interaksi belajar mengajar yang optimal dapat terjadi jika inspirasi

belajar tumbuh dari dalam diri siswa melalui motivasi yang terus menerus

ditumbuhkan oleh guru. Tolla (2005: 29), motivasi dapat memacu siswa

untuk melakukan dengan sungguh-sunguh kegiatan berikut ini.

1) Adanya aktivitas belajar siswa secara individual untuk penerapan

konsep, prinsip, dan generalisasi.

2) Adanya aktivitas belajar siswa dalam bentuk kelompok untuk

memecahkan masalah.

3) Adanya partisipasi setiap siswa dalam melaksanakan tugas atau

kegiatan belajar dalam berbagai cara atau srategi.

4) Adanya aktivitas belajar analisis, sintesis, penilaian dan pengambilan

kesimpulan.
21

5) Adanya keberanian social diantara siswa baik secara individual,

interkelompok, maupun antarkelompok, serta antarnegarapengajar

dansiswa.

6) Adanya keterbukaan untuk salin mengoreksi atau memberi tanggapan

terhadap kegiata belajar.

7) Adanya kesempatan bagi siswa untuk menggunakan berbagai sumber

belajar yang tersedia.

8) Adanya upaya bagi setiap siswa untuk menilai sendiri hasil belajarnya

atau tugas-tugasnya.

9) Adanya keinginan/keberanian siswa untuk bertanya kepada guru

mengenai hal-hal yang belum dipahami.

b. Motivasi siswa menguji hipotetis.

Salah satu karakteristik siswa adalah sebagai pengambilan

tindakan. maksudnya, siswa selalu memberikan arti terhadap dunianya

sendiri. Sifat aktif dan kreatif yang didorong oleh keingintahuan yang kuat

dapat membangkitkan motivasinya untuk menguji setiap tindakan yang

diambil. Oleh karena itu, tindakan atau perilakunya dapat bersifat tegas

dan tidak tegas dalam kondisi tertentu sehingga pembambilan resiko

merupakan salah satu hal yang berarti dalam proses pembelajaran. Dapat

dikatakan bahwa hipotesis atau tindakan yang dilakukan bukanlah hal

yang bersifat bebas, melainkan terikat pada pengalaman dan ketajaman

analisis.
22

2. Guru

Guru merupakan salah seorang yang bertanggung jawab terhadap

pelaksanaan belajar mengajar dan keberhasilan siswanya dalam

mencapai prestasi yang gemilang. Keberhasilan siswa dalam belajar

banyak dipengaruhi oleh faktor dari guru karena guru merupakan orang

yang berhadapan langsung dengan siswanya dan bertindak sebagai

pembimbing, pengasuh, pengajar, dan juga narasumber bagi siswanya.

Apabila kapasitas seorang guru memadai, baik dalam perannya sebagai

pengajar maupun pendidik, maka output atau siswa yang diasuhnya akan

berpeluang menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.

Dalam proses belajar mengajar, komponen guru akan lebih

menentukan keefektifan pembelajaran karena ia yang akan mengelola

komponen lainnya sehingga hasil belajar mengajar meningkat. Tugas

utama guru adalah membelajarkan siswa. Bila guru bertindak mengajar,

siswa diharapkan belajar.

a. Peranan guru dalam interaksi belajar-mengajar.

Tugas guru dalam mengelolah kelas cukup banyak. Dari sekian

banyak tugas itu, Tolla (2005: 18) menyimpulkannya menjadi empat

kategori, yaitu:

1) mendorong siswa untuk menemukan informasi;

2) menciptakan situasi kelas yang memungkinkan siswa melakukan

kegiatan belajar secara optimal;

3) mengatur kegiatan siswa agar berjalan tertib dan terarah; dan


23

4) memberikan penilaian atas pekerjaan siswa.

Tugas guru seperti dikemukakan di atas sejalan dengan kedudukan

guru di dalam kelas sebagai 1) pendorong (motivator), 2) pemberi

kemudahan (fasilitator), 3) pengatur (organisator), dan 4) penilai

(evaluator).

1) Guru sebagai motivator

Dalam kedudukannya sebagai motivator, guru hendaknya berperan

secara optimal guna kelancaran proses belajar-mengajar. Menurut Tolla

(2005: 19-21) bahwa peran yang dimaksud sebagai berikut.

a) Hubungan pribadi guru dengan siswa

Dalam uraian sebelumnya telah dikemukakan pentingnya komunikasi

antara guru dan siswa. Komunikasi itu akan lebih bermakna jika terdapat

hubungan pribadi yang akrab di antara mereka. Akrab dalam arti guru

sebagai pendidik/pengajar dan siswa sebagai pribadi yang bersedia

dikembangkan potensi intelektualnya. Melalui hubungan pribadi yang

harmonis itu, guru hendaknya memantapkan dirinya sebagai seorang

yang berkewajiban melayani siswa dengan arif dan sabar. Tolla (2005: 19-

20) mengemukakan bahwa hubungan pribadi yang dimaksud tercakup

dalam tugas guru berikut ini.

(1) Bersikap terbuka, dalam arti guru harus mengondisikan dirinya agar

siswa dengan “bebas” mengungkapkan pendapatnya, menerima siswa

dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mau menanggapi


24

pendapat siswa, menghargai pendapat siswa, bersikap ramah tamah,

dan penuh pengertian.

(2) Membantu siswa agar mereka dapat mengembangkan potensi yang

dimiliki secara optimal, memanfaatkan waktu yang tersedia secara

efektif, dan menanamkan keberanian untuk mengemukakan pendapat

serta mengambil keputusan.

(3) Membantu siswa dalam memecahkan masalah, baik masalah

akademik maupun masalah pribadi.

(4) Menyiapkan waktu secukupnya untuk menilai pekerjaan siswa dan

memberi balikan secara obyektif sehingga siswa menyadari

kekurangan atau kelebihannya.

(5) Masalah yang terjadi di dalam kelas tidak berlanjut menjadi masalah

pribadi yang berakibat merugikan siswa.

(6) Bersedia memberi bimbingan pribadi kepada siswa yang mengalami

kesulitan dalam mengikuti pelajaran.

b) Peranan faktor eksternal

Berbagai faktor di luar aktivitas belajar di dalam kelas dapat

dikategorikan sebagai faktor eksternal, antara lain, lingkungan sekolah,

rencana pelajaran, kondisi kelas, dan waktu yang tersedia untuk

melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Kelas yang berdekatan dengan

jalan raya misalnya, jelas mengganggu komunikasi yang terjadi di kelas.


25

2) Guru sebagai organisator

Menurut Tolla (2005: 21), bentuk kegiatan belajar yang harus ditata

oleh guru untuk melancarkan jalannya interaksi kelas sebagai berikut:

a) menyusun rencana kegiatan belajar dalam bentuk model pelajaran;

b) melaksanakan rencana pelajaran (mengatur tugas-tugas siswa);

c) mengatur interaksi antara guru dan siswa dan antara sesama siswa;

d) mengarahkan interaksi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan;

dan

e) menciptakan hubungan antara komponen lainnya sehingga

merupakan satu kesatuan yang utuh.

3) Guru sebagai fasilitator

Tolla (20005: 21) mengemukakan bahwa kegiatan guru sehubungan

dengan tugasnya sebagai fasilitator sebagai berikut:

a) mengidentifikasi sarana dan media pelajaran sesuai dengan tujuan

pembelajaran dan situasi belajar-mengajar;

b) merencanakan bentuk interaksi sesuai dengan tingkat kemampuan

siswa, baik individu maupun kelompok;

c) media pelajaran yang terjangkau pengadaannya;

d) memberi petunjuk, mengatur, dan mengawasi jalannya kegiatan

belajar bagi siswa; dan

e) melakukan penilaian untuk keperluan pemberian bimbingan bagi siswa

yang membutuhkan.
26

4) Guru sebagai evaluator

Yang menjadi sasaran penilaian dalam interaksi belajar mengajar

adalah a) program pengajaran, b) pelaksanaan program pengajaran, c)

jalannya interaksi belajar-mengajar, dan (4) daya serap siswa. Umumnya,

hanya daya serap siswa yang diberi perhatian oleh guru, padahal, faktor

a) — b) itu justru teramat penting dinilai karena faktor itulah yang menjadi

prasyarat kualitas suatu program pengajaran, dalam hal ini pengajaran

bahasa (Tolla (2005: 21).

Tolla (20005: 21-23) mengemukakan bahwa kegiatan yang dilakukan

oleh guru sehubungan dengan peranannya sebagai evaluator dalam

interaksi belajar-mengajar sebagai berikut.

a) Guru memahami sejumlah prinsip yang bersangkutan dengan

penilaian tentang rancangan program dan pelaksanaannya di dalam

kelas. Khusus bidang pengajaran bahasa, guru harus memahami

prinsip-prinsip penyusunan tes bahasa yang mampu mengukur

kemampuan dan keterampilan berbahasa siswa.

b) Guru menentukan/meramalkan pemanfaatan lanjutan hasil penilaian.

Misalnya, untuk kepentingan penyempurnaan program, peninjauan

kembali metode dan strategi yang digunakan oleh guru, dan

pemberian bimbingan khusus (remedial) kepada siswa yang

membutuhkan.

c) Guru merancang alat ukur yang akan digunakan, yaitu bentuk soal,

bobot soal, dan cakupan materi soal. Di samping itu, jenis


27

keterampilan yang akan diukur pun harus jelas sehingga alat ukur

direncanakan dan disusun secara cermat.

d) Guru mengembangkan tes sesuai tujuan, isi, dan bentuknya.

e) Guru harus berusaha memahami kelebihan alat ukur yang digunakan.

f) Guru melaksanakan tes, memberikan skor, menentukan hasil dan

memberikan kesimpulan.

g) Guru menyusun bahan umpan balik hasil tes, keefektifan program, dan

pelaksanaan program.

Fungsi guru dalam empat kelompok yang dikemukakan di atas dapat

disimpulkan sebagai berikut.

a) Guru mengupayakan bahan pelajaran yang bermakna.

b) Guru mengajukan masalah dan atau tugas-tugas belajar kepada

siswa, baik secara individual maupun kelompok.

c) Guru memberikan bantuan bagaimana mempelajari bahan

pembelajaran atau memecahkan masalah.

d) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.

e) Guru mengusahakan sumber belajar yang diperlukan siswa.

f) Guru memberikan bantuan atau bimbingan belajar kepada siswa, baik

secara individual maupun kelompok

g) Guru mendorong motivasi belajar siswa melalui penghargaan dan/atau

hukuman.

h) Guru menggunakan berbagai strategi dan media pengajaran dalam

proses mengajar.
28

i) Guru melaksanakan penilaian dan memberikan bimbingan khusus

kepada siswa yang memerlukan.

j) Guru menjelaskan kepada siswa taraf pencapaian tujuan belajar dan

merencanakan tindak lanjut pemecahan masalah (jika ada).

Dalam strategi pembelajaran integratif, peran guru di dalam kelas

tampak lebih intensif, kreatif, dan dinamis. Papas (Tolla, 2005: 23-27)

membahas seluk-beluk peran guru sebagai fasilitator dalam proses

belajar-mengajar yang intinya dikemukan berikut ini.

1) Guru memadukan gaya mengajar

Perlu diketahui bahwa pembelajaran dan pengajaran bahasa bukan

hanya dilakukan oleh guru di dalam kelas, melainkan juga dapat dilakukan

di mana saja yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan nyaman.

Wells (Tolla, 2005: 23) mengemukakan empat saran yang bersifat umum

bagi guru tentang cara mendorong dan memotivasi anak-anak untuk

memulai percakapan dan mempermudah percakapan tersebut sehingga

dapat diikuti oleh siswa yang lain. Yang dilakukan oleh guru adalah:

a) mendorong siswa berusaha berkomunikasi karena mereka mempunyai

sesuatu yang penting untuk dikatakan;

b) bila ujaran siswa tampaknya tidak jelas, yang dilakukan oleh guru ialah

mengusahakan untuk memahami niat siswa sebelum memberikan

respon;

c) bila memberi respon, tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa

percaya diri dan tidak selamanya bergantung kepada orang lain;


29

d) selain menurnbuhkan kepercayaan diri, juga siswa harus mampu

memahami isi percakapan dan dengan berbagai strategi berbicara

yang berkembang di dalam percakapan.

Guru harus tetap mengingat prinsip-prinsip tersebut terutama bila

mengajar siswa yang berasal dari latar belakang linguistik dan budaya

yang berbeda-beda. Adapun maksud pertany guru, bukan untuk untuk

mengecek jika gagasan siswa harus disesuaiakan dengan pengetahuan

guru. Semakin banyak bidang yang diketahui guru, semakin besar resiko

bertingkah mereka secara egosentrik dalam hubungannya dengan

pengetahuan mereka.

2) Guru memandu pemecahan masalah dan pengambilan-pengambilan


resiko

Melalui strategi ini, Papas (Tolla, 2005: 24-25) mengemukakan

bahwa kegiatan siswa dapat dikembangkan melalui peningkatan dan

pengujian hipotesis sebagai proses pemecahan masalah tentang bahasa

dalam kegiatannya dengan dunia mereka. Resiko yang mungkin timbul

ialah adanya inisiatif guru memberikan corak pembelajaran berdasarkan

prinsip-prinsip pemerolehan bahasa yang terjadi secara alamiah, baik di

lingkungan belajar siswa maupun di lingkungan yang lain. Corak

pembelajaran demikian, di satu piak siswa akan lebih terampil berbicara,

di lain pihak siswa cenderung menggunakan bahasa ragam tidak formal.

Keadaan ini dirasakan oleh guru yang mengajar siswa yang berasal dan

latar belakang bahasa yang berbeda-beda.


30

3) Guru mendemonstrasikan dan mendorong bahasa otentik untuk


maksud yang bermanfaat

Bahasa otentik digunakan dalam aktivitas di lingkungan yang tidak

formal. Walaupun secara gramatikal umumnya bahasa otentik tidak benar,

namun secara sosial berterima dan merupakan bahasa yang digunakan

untuk maksud yang bermanfaat. Tugas guru ialah memberi pemahaman

kepada siswa bahwa bahasa yang digunakan di lingkungan sekolah,

terutama di dalam kelas, berbeda dengan bahasa yang digunakan di

lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakat. Di kelas, siswa harus

menggunakan bahasa sebagaimana yang dipelajari dan buku-buku teks

atau buku-buku ajar yang digunakan oleh guru.

4) Guru memberikan aktivitas sehingga anak-anak dapat memadukan


aktivitas berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis

Penggunaan bahasa yang otentik merupakan bahasa yang

dipadukan. Artinya, orang yang berbicara di lingkungan alami tidak

sekadar berbicara, tetapi juga sekaligus sebagai pendengar. Jika ia ingin

menginventarisasi peristiwa bahasa dalam konteks demikian, tentu akan

menggunakan jenis keterampilan lain, yaitu menulis. Tidak mustahil pula,

sambil berbicara seseorang harus membaca informasi yang tertulis. Untuk

menumbuhkan aktivitas siswa, guru harus menawarkan kegiatan yang

berpusat pada siswa dan melakukan umpan balik pada siswa tersebut.

Kegiatan ini diikuti dengan inisiatif guru untuk memberi pertanyaan serta

mengomentari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan siswa.


31

5) Guru harus mampu memprediksi bahasa siswa untuk merencanakan


pembelajaran

Guru berasumsi bahwa siswa sebagai pembelajar aktif telah memiliki

pengetahuan sendiri dan dengan pengetahuan itu mereka mampu

merefleksikan semua pengalaman, pandangan, dan sikap mereka dengan

bahasa yang gramatikal dan bermakna. Kemampuan guru memprediksi

pengetahuan awal siswa merupakan salah satu tugas guru untuk

menyusun bahan pembelajaran yang berkesinambungan, bermakna, dan

dinamis. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari bahan pembelajaran

yang bertumpang tindih dan membosankan siswa.

6) Guru memberikan pilihan dan aktivitas siswa guna meningkatkan


otonomi dalam proses belajar-mengajar

Tradisi dalam pendekatan kerja sama merupakan salah satu strategi

pembelajaran yang dikembangkan dalam metode “belajar masyarakat”.

Strategi pembelajaran ini bertujuan menumbuhkan kerja sama siswa di

dalam kelompok. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan strategi ini

memungkinkan guru dan siswa secara bersama-sama merencanakan

topik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Tujuannya ialah agar

siswa kelak dapat belajar dan menemukan sendiri objek yang sedang

dikaji. Kebiasaan ini akan berlanjut pada tumbuhnya di dalam diri siswa

rasa percaya diri dan kebebasan mengembangkan kreativitas.

7) Guru merencanakan umpan balik yang mempermudah pengaturan diri


anak-anak atas skema mereka

Strategi pembelajaran kolaboratif memberikan banyak kesempatan

kepada guru untuk menyediakan kritik umpan balik kepada siswa setelah
32

melaksanakan pembelajaran kerja sama. Untuk dapat melaksanakan

dengan baik tugas ini, guru harus lebih dekat kepada siswa agar dapat

mendengar dan memahami masalah yang dihadapi mereka dan berusaha

mencari jalan pemecahannya.

8) Guru memadukan bahasa alami dan bahasa tuntutan kurikulum

Bahasa guru adalah model bagi siswa. Dari pernyataan ini orang

biasa menyimpulkan bahwa semua guru adalah guru bahasa. Sisi

kebenaran pernyataan ini terletak pada fungsi semua guru sebagai

sumber belajar paling utama. Berdasarkan pengalaman banyak orang,

termasuk penulis, guru-guru bidang studi selain bidang studi bahasa

cenderung menggunakan bahasa otentik. Prinsip mereka yang penting

siswa memahami informasi yang disampaikan oleh guru. Masalah benar

atau salah secara gramatikal adalah tugas guru bahasa untuk

memperbaikinya. Menghadapi kenyataan demikian, guru bahasa memikul

tanggung jawab untuk mengubah sikap berbahasa siswa yang terbentuk

melalui pembelajaran dengan bahasa otentik. Sebagai guru bahasa yang

memiliki kompetensi yang memadai, secara bertahap akan dapat

mengubah perilaku itu, tetapi ditekankan pada penggunaan bahasa dalam

situasi formal.

b. Keterampilan mengajar sebagai bagian dari kompetensi guru

Camadong (1995: 47-52) mengemukakan bahwa untuk mewujudkan

tujuan pengajaran yang efektif dan efisien, guru perlu memperhatikan hal-

hal berikut ini.


33

1) Keterampilan membuka pelajaran

Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk

menciptakan suasana sikap mental dan menimbulkan perhatian siswa

memusatkan perhatian pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan

membuka pelajaran semacam ini bukan saja harus dilakukan seorang

guru pada awal pelajaran, melainkan pada awal setiap penggal kegiatan

inti pelajaran untuk menciptakan suasana siap mental siswa terhadap hal-

hal yang akan dipejari. Guru dapat memberikan acuan dan membuat

kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dengan materi

baru yang akan dipelajari.

Kegiatan yang dilakukan guru untuk menumbuhkan kesiapan mental

siswa menerima pelajaran adalah: a) mengemukakan tujuan pelajaran

yang ingin dicapai, b) mengemukakan masalah-masalah pokok yang ingin

dipelajari, c) menentukan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar, d)

menentukan batas-batas tugas yang harus dikerjakan guna menguasai

pelajaran.

Camadong (1995: 48) mengemukakan komponen-komponen

membuka pelajaran sebagai berikut.

a) Menarik perhatian siswa

Banyak cara yang dapat digunakan guru dalam menarik perhatian

siswa, antara lain: gaya mengajar guru, penggunaan alat-alat bantu

mengajar, dan pola interkasi yang bervariasi.


34

b) Menimbulkan motivasi

Salah satu tujuan prosedur membuka pelajaran adalah memilih

secara hati-hati hal-hal yang menjadi perhatian siswa. Dengan adanya

motivasi itu, proses belajar megajar menjadi mudah. Oleh karena itu, guru

hendaknya melakukan berbagai cara untuk memotivasi siswa, antara lain:

dengan keramahan dan keantusiasan, dengan menimbulkan rasa ingin

tahu, mengemukakan ide yang bertentangan, dan dengan memperhatikan

minat siswa.

c) Memberi acuan

Dalam hubungannya dengan membuka pelajaran, acuan diartikan

sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian

alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas

mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh

dalam mempelajari materi pelajaran tersebut. Usaha yang dapat dilakukan

oleh guru adalah mengemukakan tujuan dan batas tugas, menyarankan

langkah-langkah yang perlu dilakukan, mengingatkan masalah pokok

yang akan dibahas, dan mengajukan pertanyaan.

d) Membuat kaitan

Jika guru akan mengajarkan materi baru, ia perlu menghubungkan

materi itu dengan pengalaman siswa terdahulu, dengan minat, dan

kebutuhannya agar mempermudah pemahaman siswa selanjutnya. Hal-

hal yang telah dikenal, pengalaman, minat, dan kebutuhan siswa itulah

yang disebut bahan pengait. Misalnya, guru membuat kaitan antara aspek
35

yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal oleh siswa, guru

membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan yang telah

diketahui, guru menjelaskan konsep atau pengertian terlebih dahulu

sebelum menyajikan bahan secara referensi.

Camadong (1995: 50) mengemukakan bahwa kegiatan membuka

dan menutup pelajaran yang dilakukan dengan baik akan berpengaruh

positif terhadap proses dan hasil belajar mengajar. Pengaruh positif itu

dapat berupa, antara lain: timbulnya motivasi dan perhatian siswa untuk

menghadapi pelajaran atau tugas yang akan dikerjakan dalam proses

belajar mengajar, siswa tahu batas-batas pelajaran yang akan

dipelajarinya, siswa mempunyai gambaran yang jelas mengenai

pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari

suatu pelajaran, siswa mengetahui hubungan antara pengalaman yang

telah dikuasai dengan hal-hal yang baru dipelajarinya, dan siswa dapat

mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran

tersebut.

2) Keterampilan menjelaskan

Memberikan penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat

penting dari kegiatan seorang guru. Memberikan penjelasan berarti

menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang

bertujuan untuk menunjukkan hubungan, misalnya: antara sebab akibat,

antara yang diketahui dengan yang belum diketahui, atau antara hukum

(dalil, definisi) yang berlaku umum dengan bukti.


36

Memberikan penjelasan di dalam kelas cenderung dipenuhi oleh

kegiatan pembicaraan, baik oleh guru sendiri, oleh guru dan siswa,

maupun antara siswa. Di antara pola interkasi itu biasanya guru lebih

mendominasi pembicaraan. Oleh karenanya, kegiatan ini haruslah

dibenahi untuk ditingkatkan efektivitasnya agar dapat dicapai hasil yang

optimal dari penjelasan itu.

Keterampilan menjelaskan ini terpakai untuk semua mata pelajaran.

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai guru dalam memberikan

penjelasan di kelas, yaitu:

a) untuk membimbing siswa memahami topik pembicaraan;

b) menolong siswa untuk mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan

prinsip-prinsip umum secara objektif dan bernalar;

c) melibatkan siswa untuk berpikir dengan memecahkan masalah;

d) untuk mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat

pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpengertian mereka;

e) menolong siswa untuk menghayati dan mendapatkan proses penalaran

dan penggunaan bukti dalam penyelesaian keadaan yang meragukan.

Dalam kegiatan menjelaskan ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu

yang menjelaskan (guru), yang mendengarkan (siswa), dan hal yang akan

dijelaskan. Bahan atau materi pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari

materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum

yang digunakan. Secara umum, sifat bahan pelajaran dapat dibedakan


37

menjadi beberapa kategori, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan

(Camadong, 1995: 53).

Menurut Sujana (1998: 23), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

menetapkan materi pelajaran adalah: a) bahan harus sesuai dan

menunjang tercapainya tujuan, b) bahan yang ditulis dalam perencanaan

pengajaran terbatas pada konsep/garis besar pengajaran tidak perlu

dirinci, c) menetapkan bahan pengajaran harus sesuai dengan urutan

tujuan, d) urutan bahan pengajaran hendaknya memperhatikan

keseimbangan, e) bahan disusun dari yang sederhana menuju yang

kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit sehingga siswa mudah

memahaminya.

Penjelasan atau penyajian penjelasan dapat ditingkatkan dengan

memperhatikan kejelasan dalam memberikan suatu penjelasan, bahasa

yang digunakan harus jelas, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian

tekanan pada hal-hal yang penting, balikan dengan memberi kesempatan

kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman berlangsung atau

keraguannya ketika penjelasan itu diberikan.

3) Keterampilan mengadakan variasi

Kebosanan merupakan suatu masalah yang sering terjadi di mana-

mana dan orang selalu berusaha menghilangkannya atau setidaknya

selalu mencoba menguranginya. Kebosanan biasanya terjadi apabila

seseorang selalu mengalami peristiwa yang sama secara berulang terus-

menerus. Kebosanan juga merupakan masalah terbesar di sekolah. Siswa


38

selama berjam-jam terkantuk-kantuk dan penuh kebosanan di kelas. Oleh

karena itu, perlu adanya variasi dalam mengajar.

Manfaat keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar, terutama

untuk memusatkan perhatian dan pemberian motivasi kepada siswa untuk

belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan cara

menerima pelajaran yang disenanginya, memupuk tingkah laku yang

positif terhadap guru dan sekolah dengan cara mengajar yang lebih hidup,

dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik (Camadong, 1995:

54).

Variasi dalam proses belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses

perubahan dalam pengajaran yang dapat dikelompokkan menjadi tiga

kelompok, yaitu: variasi dalam gaya mengajar dan metode yang

digunakan dalam mengajar, variasi dalam penggunaan alat atau metode

pengajaran, variasi pola interaksi dalam kelas.

a) Variasi dalam menggunakan metode mengajar

Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan

guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat

berlangsungnya pengajaran. Dengan metode mengajar sebagai alat untuk

menciptakan proses belajar mengajar, diharapkan tumbuh berbagai

kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar mengajar

guru.

Metode mengajar yang baik adalah metode mengajar yang dapat

menumbuhkan minat belajar siswa. Menurut Sujana (1998: 27), dalam


39

praktik mengajar, metode yang baik digunakan adalah metode mengajar

yang bervariasi dan merupakan kombinasi dari beberapa metode

mengajar.

b) Variasi dalam menggunakan media/alat peraga dalam pembelajaran

Alat peraga dalam mengajar merupakan alat bantu untuk

menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan berfungsi sebagai

cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran sampai pada

tujuan. Bahan dan alat peraga tersebut dapat menambah rasa ingin tahu

siswa. Yang amat penting lagi bahwa media dan bahan yang kaya dan

beragam dapat merangsang pikiran dan hasil belajar yang bermakna dan

lebih tahan lama (Suryosubroto (1997: 23).

c) Variasi pola interaktif dan kegiatan siswa

Pola umum intraksi ini sangat beragam, mulai dari situasi kegiatan

yang sepenuhnya didominasi oleh guru sampai kepada kegiatan yang

kemungkinan siswa bekerja sendiri secara bebas, misalnya, siswa bekerja

dalam kelompok kecil, tukar pendapat, atau melakukan demonstrasi.

4) Keterampilan mengelola kelas

Sekolah merupakan tempat belajar bagi siswa. Sebagian besar

tugas guru di kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan

kondisi belajar yang optimal. Keterampilan mengelola kelas merupakan

keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar

yang optimal; keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar ke


40

situasi menyenangkan apabila mendapat gangguan (Camadong, 1995:

57).

Sardiman (2000: 33) mengemukakan bahwa kegiatan mengelola

kelas adalah kegiatan yang meliputi: a) mengatur tata ruang kelas,

misalnya mengatur meja dan tempat duduk, menempatkan papan tulis,

dan sebagainya; b) menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi,

dalam arti guru harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku

anak didik agar tidak merusak suasana kelas.

Lebih lanjut, Sardiman (2000: 34) mengemukakan bahwa

keterampilan mengelola kelas terbagi dalam dua jenis keterampilan

utama, yaitu:

a) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan

pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan

dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan

mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan

dengan hal tersebut, misalnya, menunjukkan sikap tanggap, membagi-

bagi perhatian, memusatkan perhatian, memberikan petunjuk yang

jelas, menegur, dan memberi penguatan.

b) Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar

yang optimal.

5) Keterampilan bertanya

Keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar perlu dimiliki

oleh seorang guru sehingga dalam aplikasi pembelajaran siswa mendapat


41

respon untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan kemampuan

berpikir, memperbesar partisipasi siswa, serta mendorong siswa untuk

berinisiatif sendiri.

Keterampilan bertanya dibedakan menjadi keterampilan bertanya

dasar dan keterampilan bertanya lanjutan. Keterampilan bertanya dasar

mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam

mengajukan segala jenis pertanyaan; keterampilan bertanya lanjutan

merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang lebih

mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa,

memperbesar partisipasi, dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif

sendiri (Abimayu, 1985: 78).

Ada beberapa alasan yang menyebabkan keterampilan bertanya itu

perlu dimiliki oleh guru dan calon guru. Pertama, telah berakarnya

kebiasaan mengajar dengan metode ceramah yang cenderung

menempatkan guru sebagai sumber informasi, sedangkan siswa menjadi

penerima informasi yang pasif. Kedua, latar belakang kehidupan anak

dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang kurang biasa

mengajukan pertanyaan dan mengeluarkan pendapat. Ketiga,

menggalakkan penerapan gagasan. Keempat, pandangan yang salah

bahwa pertanyaan hanya dipakai untuk mengevaluasi hasil belajar siswa.

Camadong (1995: 62) mengemukakan bahwa kegiatan bertanya

terdiri atas beberapa komponen, yaitu pengungkapan pertanyaan dengan

jelas dan singkat, pemberian acuan, pemusatan, pemindahan giliran,


42

penyebaran, pemberian waktu berpikir, pemberian tuntutan, cara

bertanya, dan pemberian pertanyaan pelacak.

Lebih lanjut, Camadong (1995: 63) mengemukakan bahwa

pemanfaatan keterampilan bertanya dasar belaku pula bagi keterampilan

bertanya lanjutan. Kemungkinan-kemungkinan pemanfaatan bertanya

lanjutan, antara lain:

a) mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan,

mengorganisasi, dan menilai informasi yang didapat;

b) mengembangkan kemampuan siswa dalam membentuk dan

mengungkapkan pertanyaan yang didasarkan atas informasi yang

lengkap dan relevan;

c) mendorong siswa untuk mengembangkan ide-ide dan mengalihkan

ide-ide itu kepada anggota kelompoknya secara timbal balik;

d) memberi kesempatan kepada semua anggota kelompok untuk

memperoleh suksesi melebihi yang biasa dicapai.

6) Keterampilan memberi penguatan

Dalam kegiatan belajar mengajar, usaha siswa harus mendapat

penghargaan. Tingkah laku siswa yang baik diberi penghargaan dalam

bentuk senyuman atau kata-kata pujian yang merupakan penguatan

terhadap tingkah laku dan penampilan siswa. Penguatan adalah respon

terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan

berulangnya kembali tingkah laku siswa tersebut.


43

Pemberian penguatan dalam proses belajar mengajar sebenarnya

merupakan kegiatan yang sederhana sebagai tanda persetujuan guru

terhadap tingkah laku siswa yang dinyatakan dalam bentuk seperti:

membenarkan, memberi pujian, senyuman, dan anggukan. Pemberian

penguatan dalam kelas dapat meningkatkan perhatian siswa,

membangkitkan dan memelihara motivasi siswa, memudahkan siswa

belajar, mengontrol dan memodivikasi tingkah laku siswa yang kurang

positif, serta mendorong tingkah laku yang produktif (Camadong, 1995:

64).

Hal-hal yang sangat menentukan keberhasilan guru dalam

menjalankan tugasnya adalah kemampuan dalam hal didaktik dan

metodik pengajaran. Metode mengajar guru yang kurang baik akan

mempengaruhi hasil belajar siswa. Metode belajar yang tidak baik itu

dapat terjadi, misalnya, guru kurang memiliki kesiapan dan kurang

menguasai bahan pelajaran sehingga cara guru tersebut menerangkan

tidak jelas; sikap guru terhadap siswa atau terhadap mata pelajaran itu

sendiri tidak baik sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran

(bahan pelajaran); sebaliknya, apabila guru mampu menerangkan materi

pelajaran dengan metode pengajaran yang tepat, siswa akan mudah

memahami materi pelajaran tersebut.

7) Keterampilan menutup pelajaran

Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk

mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut


44

dimaksudkan untuk memberi gambaran yang menyeluruh tentang apa

yang telah dipejari siswa dan untuk mengetahui tingkat pemahaman

siswa. Kegiatan menutup pelajaran meliputi kegiatan merangkum atau

membuat garis besar persoalan yang dibahas, mengonsolidasikan

perhatian siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dalam pelajaran,

mengadakan evaluasi terhadap penguasaan materi pelajaran yang baru

saja diberikan (Suryosubroto, 1997: 26).

Camadong (1995: 67-68) mengemukakan cara yang dapat dilakukan

dalam menutup pelajaran sebagai berikut.

a) Meninjau kembali

Menjelang akhir suatu pelajaran, guru harus meninjau kembali

untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang baru

saja dipelajarinya. Ada dua cara meninjau kembali penguasaan siswa

terhadap inti pelajaran, yaitu dengan merangkum inti pelajaran sepanjang

proses pengajaran dan membuat ringkasan.

b) Mengevaluasi

Salah satu upaya untuk mengetahui siswa telah memperoleh

wawasan yang utuh tentang suatu konsep yang diajarkan selama satu jam

pelajaran atau sepenggal kegiatan tertentu adalah penilaian. Untuk

maksud tersebut, guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan secara

lisan atau mengerjakan tugas-tugas. Bentuk evaluasi yang dilakukan

antara lain: mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru


45

pada situasi lain, mengekspresikan pendapat siswa sendiri, dan

pemberian soal-soal tertulis.

Dengan demikian, membuka dan menutup pelajaran itu tidak

mencakup kegiatan yang rutin seperti: menertibkan siswa, mengisi daftar

hadir, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan oleh

guru, tetapi dianggap sebagai bagian membuka dan menutup pelajaran.

3. Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran sangat penting karena merupakan pedoman

guru untuk mencapi sasaran belajar. Ada tiga tujuan yang harus terdapat

dalam suatu program pengajaran, yaitu:

a. Tujuan kognitif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan

pengetahuan (konsep ilmu). Domain kognitif terdiri atas enam bagian,

yaitu: ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintetis, dan evaluasi.

b. Tujuan afektif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan upaya

mengubah nilai, sikap, atau alasan. Tujuan ini terbagi dalam lima

kategori, yakni: penerimaan, pemberian respon, penilaian,

pengorganisasian, dan karakterisasi.

c. Tujuan psikomotorik, yaitu tujuan yang berkaitan dengan keterampilan

menggunakan tangan, mata, telinga, dan alat indera lainnya. Tujuan ini

terbagi dalam lima kategori, yaitu peniruan, manipulasi, ketetapan,

artikulasi, dan pengalamiahan.

Tujuan pembelajaran merupakan sasaran evaluasi pembelajaran

yang harus diperhatikan karena semua unsur/aspek pembelajaran yang


46

lain bermula dan bermuara pada tujuan pengajaran. Pengajaran adalah

penjabaran tujuan pengajaran, rumusan tujuan pengajaran, dan unsur-

unsur tujuan pengajaran.

4. Materi pelajaran

Materi pelajaran merupakan segala informasi yang berisi fakta-fakta,

prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Tarigan

(1986: 22-24) mengemukakan pedoman penentuan materi pelajaran,

sebagai berikut:

a. Sudut pandangan (point of view)

Materi pelajaran harus mempunyai landasan, prinsip, dan sudut

pandangan tertentu yang menjiwai atau melandasi pembelajaran secara

keseluruhan. Sudut pandangan ini dapat berupa teori dari ilmu jiwa,

bahasa, dan sebagainya.

b. Kejelasan konsep

Konsep-konsep yang digunakan dalam materi pelajaran harus jelas

dan tandas. Keremangan dan kesamaran juga harus dihindari agar siswa

dapat memperoleh pengertian dan pemahaman.

c. Relevansi dengan kurikulum

Materi pelajaran harus relevan dengan kurikulum yang berlaku.

d. Menarik minat

Materi pelajaran dibuat untuk siswa. Oleh karena itu, pembuatan

materi pelajaran harus mempertimbangkan minat-minat siswa.


47

e. Menumbuhkan motivasi

Motivasi berasal dari kata “motif” yang berarti daya pendorong bagi

seseorang untuk melakukan sesuatu. Materi pelajaran yang baik adalah

materi pelajaran yang dapat membuat siswa ingin, mau, senang

mempelajarinya.

f.Menstimulasi aktivitas siswa

Materi pelajaran yang baik adalah bahan ajar yang dapat

merangsang, menantang, dan menggiatkan aktivitas siswa.

g. Menghargai perbedaan individu

Materi pelajaran yang baik tidak membesar-besarkan perbedaan

individu tertentu, perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi,

sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan, tetapi diterima

sebagaimana adanya.

h. Memantapkan nilai-nilai

Materi pelajaran yang baik berusaha memantapkan nilai-nilai yang

berlaku dalam masyarakat.

5. Strategi belajar mengajar

Hamalik (2001: 201) mengemukakan pengertian strategi pengajaran,

yaitu keseluruhan metode dahn prosedur yang menitikberatkan pada

kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan

tertentu. Dalam konteks strategi pengajaran tersusun hambatan-hambatan

yang dihadapi, tujuan yang hendak dicapai, materi yang hendak dipelajari,

pengalaman-pengalaman belajar, dan prosedur evaluasi.


48

Hastuti (1997: 6) mengatakan bahwa ada empat strategi dasar dalam

belajar mengajar, antara lain:

a. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi

perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana

yang diharapkan.

b. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi

dan pandangan hidup masyarakat.

c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar

mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat

dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan

mengajarnya.

d. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau

kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan

pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar

mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat

penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara

keseluruhan.

Pencapaian tujuan proses belajar mengajar yang maksimal tidak

terlepas dari strategi mengajar yang tepat. Strategi belajar mengajar

merupakan seperangkat komponen yang harus diikuti oleh seorang

pengajar dalam menyajikan materi di kelas. Adapun prosedur strategi

belajar mengajar yang dikemukakan oleh Hastuti (1997: 248) adalah:

a. Persiapan materi yang akan diajarkan kepada siswa.


49

b. Materi atau bahan, alat pelajaran, dan alat bantu mengajar telah

dipersiapkan.

c. Masukan dan karakteristik pembelajar telah diidentifikasi.

d. Bahan pengait telah direncanakan.

e. Metode dan teknik penyajian telah dipilih, misalnya: ceramah, diskusi,

bermain peran, dan sebagainya.

6. Metode pembelajaran

Metode pembelajaran bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi

tujuh jenis, yaitu: 1) ceramah, 2) tanya jawab, 3) diskusi, 4) keterampilan

dan latihan, 5) belajar bebas, dan 6) menemukan (inkuiri), 7) penugasan

(resitasi).

7. Media pembelajaran

Media pembelajaran adalah sarana dan prasarana yang digunakan

oleh guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa dalam kegiatan

belajar mengajar agar mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Sarana dan prasana (fasilitas) belajar sangat mempengaruhi minat siswa

untuk mengikuti/mempelajari suatu bahan pelajaran. Jika sarana dan

prasarana belajar memadai, minat siswa untuk mempelajari suatu

bahan/materi pelajaran akan besar. Sebaliknya, jika saran dan prasarana

belajar kurang/tidak memadai, minat siswa pun tentunya akan berkurang.

Pengajaran bahasa Indonesia menekankan bahwa pembinaan dan

pengembangan kompetensi komunikatif memerlukan sarana penunjang.


50

Untuk menunjang pencapaian pengajaran bahasa, banyak media yang

dapat digunakan seperti: konteks, situasi, lingkungan, dan alat-alat

komunikasi yang dapat dipakai secara wajar dalam kehidupan berbahasa

di masyarakat (Oka, 1991: 3). Media tersebut dapat berupa tuturan lisan

yang diambil dari penutur, radio, televisi, telepon dan lain-lain. selain itu,

dapat juga berupa tuturan tertulis seperti surat kabar, majalah, buku,

novel, ensiklopedia, dan lain-lain (Suryono, 1991: 83).

Yunus (1989: 51) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam pemilihan media pengajaran, yaitu:

a. tujuan yang ingin dicapai,

b. ketepatgunaan media dengan materi pembelajaran,

c. Keadaan siswa,

d. ketersediaan media,

e. mutu teknis dari media, dan

f. biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan dan penggunaan media.

8. Evaluasi hasil belajar

Penilaian dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil

belajar peserta didik, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan

balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penentuan kebijakan atau

tindakan selanjutnya yang akan diberikan atau diberlakukan bagi siswa.

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat

memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran

perkembangan belajar siswa perlu dipahami guru agar dapat memastikan


51

bahwa siswa mengalami perkembangan belajar dengan baik (Salam,

2004: 24).

Prinsip yang dipakai dalam penilaian menurut Salam (2004: 25)

adalah:

a. harus mengukur semua aspek pembelajaran, kinerja, dan produk;

b. dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung;

c. menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber;

d. tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian;

e. tugas-tugas yang diberikan kepada siswa haruslah mencerminkan

bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari; mereka harus

dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan

setiap hari;

f. penilaian harus menekankan pada kedalaman pengetahuan (kualitas)

dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas).


52

G. Kerangka pikir

Ujian nasional merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk

mengumpulkan berbagai data yang dapat memberikan gambaran

perkembangan belajar siswa pada suatu jenjang pendidikan secara

nasional, baik pada tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Di SMK,

termasuk SMK Negeri 1 Watampone, Kabupaten Bone, mata pelajaran

yang diuji nasionalkan pada tahun ajaran 2009/2010 meliputi mata

pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, dan produksi.

Dari keempat mata pelajaran yang diuji nasionalkan bagi siswa SMK

Negeri 1 Watampone, Kabupaten Bone untuk tahun ajaran 2009/2010

tersebut, hasil ujian nasional bahasa Indonesia menempati posisi

terendah dari segi pencapaiannya (rata-rata 5,70 dengan nilai tertinggi

6,70 dan terendah 4,20). Hal ini dapat terjadi sebagai akibat beberapa

factor seperti: kompetensi guru, relevansi kurikulum dengan kebutuhan

dan lingkungan siswa, ketidaktersediaan bahan ajar dan buku-buku

pelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran, metode pembelajaran,

karakteristik dan minat siswa dalam belajar bahasa Indonesia.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap factor-faktor

penyebab rendahnya hasil ujian nasional bahasa Indonesia siswa SMK

Negeri 1 Watampone, Kabupaten Bone. Secara sederhana kerangka

penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.


53

Mata Pelajaran
dalam Ujian Nasional

Bahasa Bahasa Matematika produktif


Indonesia Inggris

Nilai dalam UN
rendah

- Kurikulum
- Guru
Faktor - Metode
Penyebab pembelajaran
- Sumber/alat
pembelajaran

H.Hipotesis

Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah ada

sejumlah factor yang menyebabkan nilai ujian nasional bahasa Indonesia

tahun ajaran 2009/2010 di SMK Negeri 1 Watampone rendah.

H. Definisi Operasional Variabel

Variabel dalam penelitian ini adalah faktor penyebab rendahnya nilai

ujian nasional bahasa Indonesia. Untuk menghindari terjadinya salah

penafsiran mengenai variabel dalam penelitian ini, maka peneliti

memperjelas definisi operasional variabel yang dimaksud.


54

Yang dimaksud faktor penyebab rendahnya nilai ujian nasional

bahasa Indonesia dalam penelitian ini adalah segala hal yang menjadi

penyebab/penghambat optimalisasi kegiatan belajar mengajar bahasa

Indonesia yang berimbas pada rendahnya (di bawah standar 7,50) nilai

ujian nasional siswa untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Faktor ini

dapat terkait dengan kurikulum, siswa, kompetensi guru, materi pelajaran,

strategi belajar mengajar, sarana dan prasarana pengajaran, serta

evaluasi pengajaran.