Anda di halaman 1dari 31

STATUS PASIEN

I. ANAMNESIS
I. Identitas Pasien
Nama : Tn. Rasno
Umur : 71 tahun 10 bbulan 7 hari
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Kerso 11/1 Kedung
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Tidak Bekerja
No. RM : 000702263
Tanggal Masuk RS : 26 Juli 2019 – 10 Agustus 2019
Tanggal Pemeriksaan : 1 Agustus 2019

II. Keluhan Utama


Kaku Seluruh Tubuh

III. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan kaku seluruh tubuh yang dirasakan sudah
semenjak 2 hari SMRS. Kaku dirasakan dimulai dari mulut dan kemudian
dirasakan di tangan dan kaki. Pasien mengaku seluruh badan kaku seperti kayu.
Pasien mengaku tidak kejang kurang ataupun pedih bila melihat cahaya.. Pasien
juga mengaku sulit menelan makanan, harus dengan paksaan untuk memulai
menelan makanan dan sulit untuk membuka mulut dan dirasakan semakin
memberat. Kesulitan membuka mulut pada pasien juga terlihat dari pembicaraan
yang kurang jelas. Dari riwayat pasien, tujuh hari yang lalu diketahui bahwa
pasien sempat tergores paku di jempol kaki kiri yang menyebabkan luka, luka
hanya dialirkan dengan air mengalir, dan tidak di bawa ke dokter. Keluarga
pasien juga mengaku beberapa 2 hari terakhir pasien demam (+), Mual (-),
muntah (-), BAK dan BAB dbn. Pasien mengaku belum pernah mendapatkan
imunisasi tetanus.

IV. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat luka : (+) luka di jempol kaki kiri ± 7 hr SMRS
2. Riwayat tekanan darah tinggi : (-)
3. Riwayat penyakit gula : (-)
4. Riwayat alergi : disangkal
5. Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat maag : (-)
7. Riwayat kelainan jiwa : (-)

V. Riwayat Penyakit Keluarga


1. Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
2. Riwayat penyakit gula : disangkal
3. Riwayat sakit jantung : disangkal
4. Riwayat asma : disangkal
5. Riwayat alergi : disangkal

VI. Riwayat Kebiasaan


1. Riwayat alkohol : disangkal
2. Riwayat merokok : disangkal

VII. Riwayat Gizi


Pasien makan 2-3 kali sehari. Pasien makan nasi dengan lauk pauk tempe tahu
dan sayur. Minum air putih 10-12 gelas sehari.

VIII. Riwayat Sosial Ekonomi

1
Pasien sudah tidak bekerja. Pasien berobat dengan menggunakan fasilitas BPJS
PBI

IX. Anamnesis Sistem


Keluhan utama : Kaku Seluruh Tubuh
Kulit : kuning (-), kering (-), pucat (-), menebal (-), gatal (-),luka (-
), lebam kulit (-)
Kepala : nggliyer (-), rambut mudah rontok (-), sakit kepala (-
),cekot-cekot (-), pusing (-), perasaan berputar-putar (-),
Mata : mata kuning (-), pandangan kabur (-), penglihatan ganda (-
), mata berkunang-kunang (-), silau (-/-)
Hidung : tersumbat (-), mimisan (-), pilek (-), gatal (-).
Telinga : pendengaran berkurang (-), pendengaran berdenging (-),
keluar cairan (-), darah (-).
Mulut : mulut kaku (+), sulit dibuka (+), bibir kering (-), gusi
mudah berdarah (-), sariawan (-), gigi mudah goyah (-),
luka pada sudut bibir (-) sulit berbicara (-)
Tenggorokan : sulit menelan (+), rasa kering dan gatal (-), nyeri untuk
menelan (-), sakit tenggorokan (-), suara serak (-).
Sistem Respirasi : sesak napas (-), dada ampeg (-), batuk (-), dahak (-), nyeri
dada (-), batuk darah (-), mengi (-).
Sistem Kardiovaskuler : nyeri dada (-), terasa ada yang menekan (-), berdebar-
debar (-), keringat dingin (-), ulu hati terasa panas (-),
bangun malam karena sesak napas (-).
Sistem Gastrointestinal : mual (-), nyeri perut kanan atas (-), cepat kenyang (-
), muntah (-), nyeri ulu hati (-), perut sebah (-), mudah lapar
(-), mudah haus (-), diare (-), sulit BAB (-), perut nyeri
setelah makan(-), BAB warna seperti dempul (-), BAB
darah (-), benjolan (-), BAB hitam (-).

2
Sistem Muskuloskeletal : lemas (-), kesemutan (-), badan terasa keju-kemeng
(-), kaku sendi (+), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri
otot (-),kejang (-).
Sistem Genitourinaria : BAK berkali-kali/anyang-anyangan (-),air kencing
warna seperti teh (-), nyeri saat BAK (-), panas saat BAK (-
), sering buang air kecil (-), BAK darah (-), nanah (-),
sering menahan kencing (-), rasa pegal di pinggang, rasa
gatal pada saluran kencing (-), rasa gatal pada alat kelamin
(-).
Ekstremitas
Atas : kesemutan (-/-), kaku (+/+),bengkak (-/-), gemetar (-/-),
terasa dingin (-/-), nyeri (-/-), kemerahan (-/-), kebiruan
dibawah kulit seperti bekas memar (-/-),tremor (+/+),
lemah (-/-).
Bawah : kesemutan (-/-), kaku (+/+), bengkak (-/-), gemetar (-/-),
terasa dingin (-/-), nyeri (-/-), kemerahan (-/-), kebiruan
dibawah kulit seperti bekas memar (-/-), tremor (+/+),
lemah (-/-), luka (-/+)
Sistem Neuropsikiatri : nyeri pada wajah (-), kesemutan (+/+), kejang (-),
gelisah (-), emosi gelisah (-), menggigil (-), tidak stabil (-),
mengigau (-).

II. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 1 Agustus 2019
1. Keadaan Umum
Pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, gizi kesan cukup
2. Tanda Vital
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 85 x/menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas : 20 x/menit, pernafasan torakoabdominal
Suhu : 37,1º C per aksiler

3
3. Status Gizi
BB = 60 kg
TB = 160 cm
BMI = 60/(1,6)2= 23,44 kg/m2 (normal = 18,5-22,5 kg/m2)
 Kesan : normoweight
4. Kulit
Ikterik (-), warna sawo matang, turgor menurun (-), hiperpigmentasi (-), petechie (-
), kering (-), teleangiektasis (-), ekimosis(-), lebam kemerahan(-).
5. Kepala
Mesocephal, rambut warna hitam, mudah rontok (-), atrofi muskulus temporalis (-
), luka (-).
6. Wajah
Simetris, eritema (-)
7. Mata
Sklera ikterik (-/-), mata cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-), perdarahan
subkonjungtiva (-/-), pupil isokor dengan diameter 3 mm/3 mm, reflek cahaya
(+/+) normal, edema palpebra (-/-), strabismus (-/-).
8. Telinga
Membran timpani intak, sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan
tragus (-), gangguan fungsi pendengaran (-).
9. Hidung
Deviasi septum nasi (-), epistaksis (-), nafas cuping hidung (-), sekret (-), fungsi
pembau baik, foetor ex nasal (-).
10. Mulut
Trismus Sedang (+), Sianosis (-), papil lidah atrofi (-), gusi berdarah (-), bibir
kering (-), stomatitis (-), pucat (-), lidah tifoid (-), luka pada sudut bibir (-), tes
spatula (+).
11. Leher
JVP tidak meningkat, trakea di tengah, simetris, pembesaran tiroid (-), pembesaran
kelenjar getah bening (-), leher kaku (-), distensi vena leher (-).
12. Thoraks

4
Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostalis (-), spider nevi (-), rambut
ketiak rontok (-), ginecomastia (-), atrofi musculus pectoralis (-), pernafasan
thorako abdominal, sela iga melebar (-), pembesaran kelenjar getah bening aksilla
(-).
Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V 1 cm medial linea midclavicularis
sinistra, IC cordis tidak kuat angkat, thrill (-)
Perkusi :
 kiri atas : SIC II linea sternalis sinistra
 kiri bawah : SIC V 1 cm medial linea
midclavicularis sinistra
 kanan atas : SIC II linea sternalis dextra
 kanan bawah : SIC IV linea sternalis dextra
 pinggang jantung : SIC III lateral linea parasternalis sinistra
 konfigurasi jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : HR 80x/menit, bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising
(-), gallop (-)
Pulmo :
Depan
Inspeksi :
Statis : normochest, simetris kanan-kiri, sela iga tak melebar, retraksi (-
), sela iga tidak mendatar
Dinamis : simetris, pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tak melebar,
retraksi (-)
Palpasi :
Statis : simetris, sela iga tidak melebar, retraksi (-), tidak ada yang
tertinggal
Dinamis :pengembangan paru simetris, tidak ada yang tertinggal, fremitus
raba kanan = kiri
Perkusi :

5
Kanan : sonor di seluruh lapang paru
Kiri : sonor, sesuai batas paru jantung.
Auskultasi :
Kanan : suara dasar vesikuler normal, suara tambahan wheezing (-), ronki
basah kasar (-), ronki basah halus (-), krepitasi (-)
Kiri : suara dasar vesikuler normal, suara tambahan wheezing (-), ronki
basah kasar (-), ronki basah halus (-), krepitasi (-)
Belakang
Inspeksi :
Statis : punggung kanan kiri simetris
Dinamis : pengembangan dada simetris
Palpasi :
Statis : punggung kanan dan kiri simetris
Dinamis : pergerakan kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri
Perkusi :
Kanan : sonor, mulai redup pada batas paru bawah V Th X
Kiri : sonor, mulai redup pada batas paru bawah V Th XI
Peranjakan diafragma 5 cm kanan sama dengan kiri.
13. Punggung
kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-), nyeri ketok kostovertebra (-/-)
14. Abdomen
Inspeksi : dinding perut // dinding dada, distended (-), venektasi (-), caput
medusae (-), ikterik (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal, bruit hepar (-), bising epigastrium (-)
Perkusi : tympani, pekak sisi (-), pekak alih (-)
Palpasi : supel (+), tes undulasi (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak
membesar, Murphy’s sign (-).
15. Genitourinaria
Ulkus (-), secret (-), tanda-tanda radang (-), nyeri suprapubik (-).
16. Kelenjar getah bening inguinal
Tidak membesar.

6
17. Status Lokalis
Regio Pedis sinistra Digiti I (Halux) :
Terdapat vulnus laceratum dengan ukuran 2x4x0,1 cm dengan dasar kotor berupa
darah dan sisa tanah. Spasme (+)
18. Ekstremitas
Extremitas superior Extremitas inferior
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Palmar Eritema - - - -
Edema - - - -
Sianosis - - - -
Pucat - - - -
Akral dingin - - - -
Luka - - - + (Kotor)
Deformitas - - - -
Ikterik - - - -
Petekie - - - -
Spoon nail - - - -
Kuku pucat - - - -
Clubing finger - - - -
Hiperpigmentasi - - - -
Fungsi motorik 5 5 5 5
Fungsi sensorik Normal Normal Menurun Menurun
Reflek fisiologis 2 2 2 2
Reflek patologis - - - -

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Laboratorium

HEMATOLOGI 08/08.2019
27/07/2019 SATUAN RUJUKAN
RUTIN

7
Haemoglobin 13,9  14,1 g/dl 14.0-18.0

Hematokrit 37,7 39,0  37-49

leukosit 12,210 9,920 103/l 4.5 – 11.00

Trombosit 222.000 229,000 103/l 150 – 450

2. EKG

IV. RESUME
Seorang laki-laki 71 tahun 10 bulan 7 hari datang dengan keluhan kaku di
seluruh tubuh sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, kaku disertai adanya sulit
membuka mulut dan nyeri telan serta kesulitan berbicara. Demam (-). Silau saat
melihat cahaya (-). Tujuh hari sebelum masuk rumah sakit pasien mendapatkan luka
di jempol kaki kiri akibat tergores paku, tidak diobati dan hanya dialiri air saja. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya febris dengan suhu 37,1 OC, kaku pada seluruh
tubuh, trismus sedang, dan fungsi sensorik menurun pada kedua ekstermitas bawah
serta adanya luka laserasi kotor di ibu jari kaki kiri pasien. Tes spatula (+). Dari
pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 13,9 g/dl, Hct 37,7%, leukosit 12,210 mm3.
V. DAFTAR ABNORMALITAS
Anamnesis

8
1. Kaku seluruh tubuh
2. Sulit membuka mulut
3. Nyeri telan
Pemeriksaan Fisik
1. Kaku seluruh tubuh dengan kondisi fleksi di sendi-sendi
besar
2. Luka laserasi kotor di ibu jari kaki kiri
3. Trismus sedang
Pemeriksaan Penunjang
1. Hb 13,9 g/dl
2. Hct 37,7%
3. Leukosit 12,210 mm3

X. PROBLEM
1. Tetanus Generalisata
2. Ulkus Regio Pedis sinistra Digiti I (Halux)

XI. RENCANA PEMECAHAN MASALAH


Tetanus Generalisata & ulkus Ulkus Regio Pedis sinistra Digiti I (Halux)

Assessment
Anamnesis : kaku seluruh tubuh, sulit membuka mulut, nyeri telan,
riwayat luka 7 hari SMRS.
Pemeriksaan Fisik : kaku pada seluruh tubuh, trismus sedang, dan fungsi
sensorik menurun pada kedua ekstermitas bawah serta adanya luka laserasi kotor di
ibu jari kaki kiri pasien
DD : - Ensefalitis
- Peritonsiler Abses
- Tardive Distonia
Pemeriksaan khusus : Tes Spatula (+)
Terapi : - Bed rest total ruang isolasi

9
- O2 3lpm
- DC + NGT
- insisi linear port d entry
- Infus RL 20 tpm
- Inj metronidazole 500 mg 8 jam
- SP diazepam 60 mg/24 jam
- Inj tetrakain 3.000 unit
Edukasi : Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit dan
komplikasinya, menghindari rangsangan cahaya berlebih dan
sentuhan yang dapat membangkitkan kejang.

XII. PROGRESS REPORT

Tgl 03-08-19 05-08-2019 09-09-19


S Sulit membuka mulut, kaku Sulit membuka mulut sudah Sulit membuka mulut (-), kaku
seluruh tubuh, nyeri pada berkurang, kaku seluruh tubuh seluruh tubuh berkurang
jempol kiri daerah luka berkurang, nyeri pada jempol
kiri daerah luka berkurang
O KU : CM, tampak sakit sedang KU : CM, tampak sakit sedang KU : CM, tampak sakit sedang
Vital Sign: Vital Sign: Vital Sign:
T =130/80 T =120/80 T =110/70
N = 87x/’ N = 80x/’ N = 80x/’
Rr= 20x/’ Rr= 18x/’ Rr= 19x/’
t = 37,10C t = 37,00C t = 37,20C
Mata : Mata : Mata :
CP (-/-) CP (-/-) CP (-/-)
SI (-/-) SI (-/-) SI (-/-)
Mulut : Trismus sedang (+) Mulut : Trismus (-) Mulut : Trismus (-)

10
Leher : kaku leher Leher : kaku leher(-) Leher : kaku leher (-)
Cor: Cor: Cor:
I: iktus condis tidak tampak I: iktus condis tidak tampak I: iktus condis tidak tampak
P: ictus cordis tidak kuat P: ictus cordis tidak kuat angkat, P: ictus cordis tidak kuat angkat,
angkat, teraba di SIC V 1 cm teraba di SIC V 1 cm linea mid teraba di SIC V 1 cm linea mid
linea mid clavikula sinistra clavikula sinistra clavikula sinistra
P: batas jantung kesan tidak P: batas jantung kesan tidak P: batas jantung kesan tidak
melebar melebar melebar
A: Heart Rate 90 kali/menit, A: Heart Rate 86 kali/menit, A: Heart Rate 80 kali/menit,
reguler. Bunyi jantung I-II reguler. Bunyi jantung I-II reguler. Bunyi jantung I-II
intensitas normal, intensitas normal, intensitas normal,
reguler, bising (-), gallop (-). reguler, bising (-), gallop (-). reguler, bising (-), gallop (-).
Pulmo: Pulmo: Pulmo:
I: pengembangan dinding dada I: pengembangan dinding dada I: pengembangan dinding dada
kanan=kiri kanan=kiri kanan=kiri
P:fremitus raba kanan=kiri P:fremitus raba kanan=kiri P:fremitus raba kanan=kiri
P: sonor/sonor P: sonor/sonor P: sonor/sonor
A: SDV +/+, ST (-) A: SDV +/+, ST (-) A: SDV +/+, ST (-)
Abdomen : Abdomen : Abdomen :
I:DP // DD, distended I:DP // DD, distended I:DP // DD, distended
(-) (-) (-)
A:BU (+) N A:BU (+) N A:BU (+) N
P:Tympani, PA(-) P:Tympani, PA(-) P:Tympani, PA(-)
P: Supel, NT (-) P: Supel, NT (-) P: Supel, NT (-)
Ekstremitas : Ekstremitas : Ekstremitas :
Superior: kaku di seluruh Superior: kaku di seluruh Superior: kaku di seluruh
ekstremitas ekstremitas berkurang ekstremitas berkurang
Inferior: fungsi sensorik Inferior: fungsi sensorik Inferior: fungsi sensorik
menurun, kaku di seluruh membaik, kaku di seluruh membaik, kaku di seluruh
ekstremitas, terdpat vulnus ekstremitas berkurang, vulnus ekstremitas berkurang, vulnus
laseratum laseratum sudah mulai pulih laseratum sudah mulai pulih

11
ASS. 1. Tetanus Generalisata 1. Tetanus Generalisata 1Tetanus Generalisata
2. Ulkus regio pedis sinistra 2.Ulkus regio pedis sinistra digiti 2Ulkus regio pedis sinistra digiti
digiti 1 halux 1 halux 1 halux

Tx. -Bed rest total ruang isolasi Bed rest total ruang isolasi -obat pulang
-Terpasang DC NGT -AFF NGT - ciprofloxacin tablet 2 x 500 mg
-IVFD RL 20 tpm -IVFD RL 20 tpm - omz capsul 2x1 caps
- insisi linear port d entry - insisi linear port d entry - metilprednison 4 m 1x1
-Inj metronidazole 500 mg /8 -Inj metronidazole 500 mg /8 -diazepam tablet 3x 5 mg
jam jam
-SP diazepam 30 mg/24 jam -SP diazepam 30 mg/24 ja

PLAN -Monitoring KUVS Monitoring KUVS -edukasi perawatan luka dan


-Cek darah lanjutan -Cek darah lanjutan control poli
-wound debridement

12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

TETANUS
A. DEFINISI
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran yang disebabkan yang disebabkan oleh
tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat yang dihasilkan oleh
Clostridium tetani. Toksin akan dihasilkan saat bentuk spora bakteri mengalami
germinasi menjadi bentuk vegetatif (hal ini terjadi saat bakteri sudah berada pada
luka). Bakteri penyebab akan berkembang biak secara lokal hanya di tempat
masuknya, tetapi gejala yang timbul dapat mencapai daerah yang jauh dari tempat
infeksi (1).
Gejala ini bukan disebabkan kuman secara langsung, tetapi sebagai dampak
eksotoksin yang dihasilkan oleh kuman pada sinaps ganglion sambungan sumsum
tulang belakang, sambungan neuromuskular (neuromuscular junction) dan saraf
otonom (1)(2).
Terdapat beberapa bentuk klinis tetanus termasuk di dalamnya
tetanus neonatorum, tetanus generalisata dan gangguan neurologis lokal.

Patogenesis dan Patofisiologi

Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob,


Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora
ke dalam tubuh yang mengalami cedera/luka (masa inkubasi). Penyakit ini merupakan 1
dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis utamanya adalah hasil dari pengaruh
kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri, botulisme). Tempat masuknya kuman
penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan
lokal, tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal
dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki
yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan dan pemotonga tali
pusat yang tidak steril.

13
Pada keadaan anaerobik, spora bakteri ini akan bergerminasi menjadi sel vegetatif bila
dalam lingkungan yang anaerob, dengan tekanan oksigen jaringan yang rendah.
Selanjutnya, toksin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui
peredaran darah dan sistem limpa. Toksin tersebut akan beraktivitas pada tempat-tempat
tertentu seperti pusat sistem saraf termasuk otak. Gejala klinis timbul sebagai dampak
eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf autonom.
Toksin dari tempat luka menyebar ke motor endplate dan setelah masuk lewat ganglioside
dijalarkan secara intraaxonal ke dalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum
tulang belakang. Akhirnya menyebar ke SSP. Gejala klinis yang ditimbulakan dari
eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat tersebut adalah dengan memblok
pelepasan dari neurotransmiter sehingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol/
eksitasi terus menerus dan spasme. Neuron ini menjadi tidak mampu untuk melepaskan
neurotransmitter. Neuron, yang melepaskan gamma aminobutyric acid (GABA) dan glisin,
neurotransmitter inhibitor utama, sangat sensitif terhadap tetanospasmin, menyebabkan
kegagalan penghambatan refleks respon motorik terhadap rangsangan sensoris. Kekakuan
mulai pada tempat masuknya kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin
masuk ke sumsum tulang belakang terjadi kekakuan yang berat, pada extremitas, otot-otot
bergari pada dada, perut dan mulai timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks
serebri, menderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Karakteristik dari
spasme tetani ialah menyebabkan kontraksi umum kejang otot agonis dan antagonis.
Racun atau neurotoksin ini pertama kali menyerang saraf tepi terpendek yang berasal dari
system saraf kranial, dengan gejala awal distorsi wajah dan punggung serta kekakuan dari
otot leher.

Tetanospasmin pada system saraf otonom juga verpengaruh, sehingga terjadi gangguan
pernapasan, metabolism, hemodinamika, hormonal, saluran cerna, saluran kemih, dan
neuromuscular. Spasme larynx, hipertensi, gangguan irama janjung, hiperflexi,
hyperhidrosis merupakan penyulit akibat gangguan saraf ototnom, yang dulu jarang karena
penderita sudah meninggal sebelum gejala timbul. Dengan penggunaan diazepam dosis
tinggi dan pernapasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus
dikenali dan di kelola dengan teliti.

14
Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme, bekerja pada beberapa level dari
susunan syaraf pusat, dengan cara :
 Toksin menghalangi neuromuscular transmission dengan cara menghambat
pelepasan acethyl-choline dari terminal nerve di otot.

 Karakteristik spasme dari tetanus terjadi karena toksin mengganggu fungsi dari
refleks synaptik di spinal cord.

 Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral
ganglioside.

Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System (ANS ) dengan gejala :
berkeringat, hipertensi yang fluktuasi, periodisiti takikhardia, aritmia jantung, peninggian
cathecholamine dalam urine.
Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal, yang menyebabkan meningkatnya aktifitas dari
neuron yang mensarafi otot masetter sehingga terjadi trismus. Oleh karena otot masetter
adalah otot yang paling sensitif terhadap toksin tetanus tersebut. Stimuli terhadap afferen
tidak hanya menimbulkan kontraksi yang kuat, tetapi juga dihilangkannya kontraksi
agonis dan antagonis sehingga timbul spasme otot yang khas .
Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu:
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu silindrik
dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah arteri
kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat.

Akibat dari tetanus adalah rigid paralysis (kehilangan kemampuan untuk bergerak) pada
voluntary muscles (otot yang geraknya dapat dikontrol), sering disebut lockjaw karena
biasanya pertama kali muncul pada otot rahang dan wajah. Kematian biasanya disebabkan
oleh kegagalan pernafasan dan rasio kematian sangatlah tinggi.

15
Epidemiologi

Di negara yang telah maju seperti Amerika Serikat kejadian tetanus yang dilaporkan telah
menurun secara substansial sejak pertengahan 1940 karena meluasnya penggunaan
imunisasi terhadap tetanus (lihat grafik di bawah). Selain itu sanitasi lingkungan yang
bersih,

(Penurunan kasus tetanus di AS karena ada program imunisasi nasional)


Namun berbeda dengan yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, insiden dan
angka kematian akibat tetanus masih cukup tinggi, hal ini disebabkan karena tingkat
kebersihan masih sangat kurang, mudah terjadi kontaminasi, perawatan luka yang kurang
diperhatikan, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan kekebalan
terhadap tetanus. Oleh karena itu tetanus masih menjadi masalah kesehatan, terutama
penyebab kematian neonatal tersering oleh karena tetanus neonatorum. Akhir- akhir ini
dengan adanaya penyebarluasan program imunisasi di seluruh dunai, maka angka
kesakitan dan kematian menurun secara drastis.
Mortalitas dan morbiditas
Secara keseluruhan, tingkat kematian sekitar 45%. Klinis tetanus bergantung terhadap
pernah atau tidaknya seseorang mendapatkan vaksin tetanus toksoid pada waktu selama
hidup mereka. Yang pernah mendapatkan vaksin klinisnya tidak begitu berat berbeda
dengan yang tidak cukup divaksinasi atau tidak divaksinasi sama sekali. Angka kematian
di AS 6% bagi mereka yang telah menerima 1-2 dosis toksoid tetanus, dibandingkan
dengan 15% bagi mereka yang tidak divaksinasi. Angka kematian di Amerika Serikat
adalah 18% 1998-2000 dan 11% tahun 1995-1997, tingkat kematian sebesar 91%
dilaporkan pada tahun 1947. Angka kematian yang tertinggi bagi orang-orang berusia 60
(40%) dibandingkan dengan mereka yang berusia 20 sampai 59 tahun (8%). Dari tahun

16
1998 hingga 2000, 75% kematian di Amerika Serikat adalah di antara pasien yang lebih
tua dari 60 tahun.

B. MIKROBILOGI
Tetanus disebabkan oleh basil gram positif, Clostridium tetani. Bakteri ini
terdapat di mana-mana, dengan habitat alamnya di tanah, tetapi dapat juga
diisolasi dari kotoran binatang peliharaan dan manusia. Clostridium tetani
merupakan bakteri gram positif berbentuk batang yang selalu bergerak, dan
merupakan bakteri anaerob obligat yang menghasilkan spora. Spora yang
dihasilkan tidak berwama, berbentuk oval, menyerupai raket tenes atau paha
ayam. Spora ini dapat bertahan selama bertahun-tahun pada lingkungan tertentu,
tahan terhadap sinar matahari dan bersifat resisten terhadap berbagai desinfektan
dan pendidihan selama 20 menit. Spora bakteri ini dihancurkan seceara tidak
sempuma dengan mendidihkan, tetapi dapat dieliminasi dengan autoklav pada
tekanan 1 atmosfir dan 120°C selama 15 menit. Sel yang terinfeksi oleh bakteri
ini dengan mudah dapat diinaktivasi dan bersifa sensitif terhadap beberapa
antibiotik (metronidazol, penisilin dan lainnya). Bakteri ini jarang dikultur,
karena diagnosanya berdasarkan klinis. Clostridium tetani menghasilkan efek-
efek klinis melalui eksotoksin yang kuat. Tetanospasmin dihasilkan dalarn sel-sel
yang terinfeksi di bawah kendali plasmin. Tetanospasmin ini merupakan rantai
polipeptida tunggal. Dengan autolisis, toksin rantai tunggal dilepaskan dan terbelah
untuk membentuk heterodimer yang terdiri dari rantai berat ( 100kDa) yang
memediasi pengikatannya dengan reseptor sel saraf dan masuknya ke dalam seI,
sedangkan rantai ringan (50kDa) berperan untuk meblokade perlepasan
neurotransmiter. Telah diketahui urutan genom dari Clostridium tetani.
Struktur asam amino dari dua toksin yang paling kuat yang pemah
diketemukan yaitu toksin botuli- num dan toksin tetanus secara parsial bersifat
homolog. Peranan toksin tetanus dalam tubuh organisme belum jelas diketahui.
DNA toksin ini terkandung dalam plasmid. Adanya bakteri belum tentu
mengindikasikan infeksi, karena tidak semua strain mempunyai plasmid. Belum
banyak penelitian tentang sensitifitas antimikrobial bakteri ini. (4)

17
C. KLINIS
Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni (1)(2)(4):
1. Generalized tetanus (Tetanus umum)
Tetanus umum merupakan bentuk yang sering ditemukan. Derajat luka bervariasi,
mulai dari luka yang tidak disadari hingga luka trauma yang terkontaminasi. Masa
inkubasi sekitar 7-21 hari, sebagian besar tergantung dari jarak luka dengan SSP.
Penyakit ini biasanya memiliki pola yang desendens. Tanda pertama berupa
trismus/lock jaw, diikuti dengan kekakuan pada leher, kesulitan menelan, dan
spasme pada otot abdomen. Gejala utama berupa trismus terjadi sekitar 75% kasus,
seringkali ditemukan oleh dokter gigi dan dokter bedah mulut. Trismus merupakan
gejala utama yang sering dijumpai yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot
masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya
kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic
grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang
dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan
sumbatan saluran nafas. Gambaran klinis lainnya meliputi iritabilitas, gelisah,
hiperhidrosis dan disfagia dengan hidrofobia, hipersalivasi dan spasme otot
punggung. Spasme dapat terjadi berulang kali dan berlangsung hingga beberapa
menit. Spasme dapat berlangsung hingga 3-4 minggu. Pemulihan sempurna
memerlukan waktu hingga beberapa bulan.

2. Localized tetanus (Tetanus lokal)


Tetanus lokal terjadi pada ektremitas dengan luka yang terkontaminasi serta
memiliki derajat yang bervariasi. Bentuk ini merupakan tetanus yang tidak umum
dan memiliki prognosis yang baik. Spasme dapat terjadi hingga beberapa minggu
sebelum akhirnya menghilang secara bertahap. Tetanus lokal dapat mendahului
tetanus umum tetapi dengan derajat yang lebih ringan. Hanya sekitar 1% kasus
yang menyebabkan kematian.

3. Cephalic tetanus (Tetanus sefalik)

18
Tetanus sefalik umumnya terjadi setelah trauma kepala atau terjadi setelah infeksi
telinga tengah. Gejala terdiri dari disfungsi saraf kranialis motorik (seringkali pada
saraf fasialis). Gejala dapat berupa tetanus lokal hingga tetanus umum. Bentuk
tetanus ini memiliki masa inkubasi 1-2 hari. Prognosis biasanya buruk.

4. Tetanus neonatorum
Bentuk tetanus ini terjadi pada neonatus. Tetanus neonatorum terjadi pada negara
yang belum berkembang dan menyumbang sekitar setengah kematian neonatus.
Penyebab yang sering adalah penggunaan alat-alat yang terkontaminasi untuk
memotong tali pusat pada ibu yang belum diimunisasi. Masa inkubasi sekitar 3-10
hari. Neonatus biasanya gelisah, rewel, sulit minum ASI, mulut mencucu dan
spasme berat. Angka mortalitas dapat melebihi 70%.

Selain berdasarkan gejala klinis, berdasarkan derajat beratnya penyakit, tetanus dapat
dibagi menjadi empat 4 tingkatan :
Derajat Manifestasi Klinis
I : Ringan Trismus ringan sampai sedang;
spastisitas umum tanpa spasme atau
gangguan pernapasan; disfagia atau
disfagia ringan.
II: Sedang Trismus sedang; rigiditas dengan
spasme ringan sampai sedang dalam
waktu singkat; laju napas >30x/menit;
disfagia ringan.
III: Berat Trismus berat; spastisitas umum
spasmenya lama; laju napas
>40x/menit; laju nadi >120x/menit,
apneic spell, disfagia berat.
IV: Sangat Berat (Derajat III + gangguan sistem

19
otonom termasuk kardiovaskular)
Hipertensi berat dan takikardia yang
dapat diselang-seling dengan
hipotensi relatif dan bradikardia, dan
salah satu keadaan tersebut dapat
menetap.

D. DIAGNOSIS
Diagnosis tetanus mutlak berdasarkan gejala klinis. Tetanus tidaklah mungkin terjadi
apabila terdapat riwayat serial vaksinasi yang telah diberikan secara lengkap dan
vaksinasi ulangan yang lengkap.
1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaaan fisik dapat ditemukan( :
 Trismus adalah kekakuan otot mengunyah (otot maseter) sehingga sukar untuk
membuka mulut. Pada neonatus kekakuan mulut ini menyebabkan mulut
mencucu seperti mulut ikan sehingga bayi tidak dapat menetek. Secara klinis
untuk menilai kemajuan kesembuhan, lebar bukaan mulut diukur setiap hari.
 Risus sardonikus, terjadi sebagai akibat kekakuan otot mimik sehingga tampak
dahi mengkerut, mata agak tertutup dan sudut mulut tertarik keluar dan
kebawah.
 Opistotonus adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti: otot
punggung, otot leher, otot badan dan trunk muscle. Kekakuan yang sangat berat
dapat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.
 Otot dinding perut kaku sehingga dinding perut seperti papan.
 Bila kekakuan makin berat, akan timbul spasme umum yang awalnya hanya
terjadi setelah dirangsang misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, atau
terkena sinar yang kuat.
 Pada tetanus neonatorum awalnya bayi tampak sulit untuk menghisap dan
cenderung terus menangis. Setelah itu, rahang menjadi kaku sehingga bayi
tidak bisa menghisap dan sulit menelan. Beberapa saat sesudahnya, badan
menjadi kaku serta terdapat spasme intermiten.

20
 Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernapasan sebagai akibat
spasme yang terus-menerus atau oleh karena kekakuan otot laring yang dapat
menimbulkan anoksia dan kematian; pengaruh toksin pada saraf otonom
menyebabkan gangguan sirkulasi (gangguan irama jantung atau kelainan
pembuluh darah), dapat pula menyebabkan suhu badan yang tinggi atau
berkeringat banyak; kekakuan otot sfingter dan otot polos lain sehingga terjadi
retentio alvi atau retentio urinae atau spasme laring; patah tulang panjang dan
kompresi tulang belakang.
 Uji spatula dilakukan dengan menyentuh dinding posterior faring dengan
menggunakan alat dengan ujung yang lembut dan steril. Hasil tes positif, jika
terjadi kontraksi rahang involunter (menggigit spatula) dan hasil negatif berupa
refleks muntah. Dalam laporan singkat The American Journal of Tropical
Medicine and Hygiene menyatakan bahwa pada penelitian, uji spatula memiliki
spesifitas yang tinggi (tidak ada hasil positif palsu) dan sensitivitas yang tinggi
(94% pasien yang terinfeksi menunjukkan hasil yang positif)(4).

2. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas untuk tetanus (2)(3).
 Pemeriksaan biakan pada luka perlu dilakukan pada kasus tersangka tetanus.
Namun demikian, kuman Clostridium tetani dapat ditemukan di luka orang
yang tidak mengalami tetanus, dan seringkali tidak dapat dikultur pada pasien
tetanus. Biakan kuman memerlukan prosedur khusus untuk kuman anaerobik.
Selain mahal, hasil biakan yang positif tanpa gejala klinis tidak mempunyai
arti. Hanya sekitar 30% kasus Clostridium tetani yang ditemukan pada luka
dan dapat diisolasi dari pasien yang tidak mengalami tetanus.
 Nilai hitung leukosit dapat tinggi.
 Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat menunjukkan hasil yang normal.
 Kadar antitoksin di dalam darah 0,01 U/mL atau lebih, dianggap sebagai
imunisasi dan bukan tetanus.
 Kadar enzim otot (kreatin kinase, aldolase) di dalam darah dapat meningkat.

21
 EMG dapat menunjukkan pelepasan subunit motorik yang terus-menerus dan
pemendekan atau tidak adanya interval tenang yang normal yang diamati
setelah potensial aksi.
 Dapat ditemukan perubahan yang tidak spesifik pada EKG.

Diagnosis banding

Untuk membedakan diagnosis banding dari tetanus, tidak akan sukar sekali dijumpai dari
pemeriksaan fisik, laboratorium test (dimana cairan serebrospinal normal dan pemeriksaan
darah rutin normal atau sedikit meninggi, sedangkan SGOT, CPK dan SERUM aldolase
sedikit meninggi karena kekakuan otot-otot tubuh), serta riwayat imunisasi yang lengkap
atau tidak lengkap, kekakuan otot-otot tubuh), risus sardinicus dan kesadaran yang tetap
normal.

1. Meningitis bacterial
Pada penyakit ini trismus tidak ada da kesadaran penderita biasanya menurun.
Diagnosis ditegakkan dengan melakukan lumbal pungsi, dimana adanya kelainan
cairan serebrospinal yaitu jumlah sel meningkat, kadar protein meningkat dan
glukosa menurun.
2. Poliomyelitis
Didapatkan adanya paralisis flaksid dengan tidak dijumpai adanya trismus.
Pemeriksaan cairan serebrospinalis menunjukan lekositosis. Virus polio diisolasi
dari tinja dan pemeriksaan serologis, titer antibody meningkat.
3. Rabies
Sebelumnya ada riwayat gigitan anjing atau hewan lain. Trismus jarang ditemukan,
kejang bersifat klonik.
4. Keracunan strychnine
Pada keadaan ini trismus jarang, gejala berupa kejang tonik umum.

5. Tetani

22
Timbul karena hipokalsemia dan hipofosfatemia dimana kadar kalsium dan fosfat
dalam serum rendah. Yang khas bentuk spasme otot ialah karpopedal spasme dan
biasanya diikuti dengan laringospasme, jarang dijumpai trismus.
6. Retropharyngeal abses
Trismus selalu ada pada penyaikit ini, tetapi kejang umum tidak ada.
7. Tonsillitis berat
Pada penderita panas tinggi, kejang tidak ada tapi trismus ada.
8. Efek samping fenotiasin
Adanya riwayat minum obat fenotiasin. Kelainan berupa sindrom ektrapiramidal.
Adanya reaksi distonik akut, torsicolis dan kekakuan otot.
9. Kaku kuduk juga dapat terjadi pada mastoiditis, pneumonia lobaris atas, miositis
leher dan spondilitis leher.
Berikut ini Tabel 3 yang memperlihatkan differential diagnosis Tetanus :

E. PENATALAKSANAAN
a. Pengobatan Umum:
Pasien hendaknya ditempatkan di ruangan yang tenang di ICU atau di ruang
khusus isolasi untuk pasien tetanus, di mana observasi dan pemantauan
kardiopulmoner dapat dilakukan terus-menerus, sedangkan stimulasi

23
diminimalisasi. Luka dieksplorasi dan dibersihkan secara menyeluruh secara
hati-hati dan dilakukan debridemen secara menyeluruh (4).

b. Pengobatan Khusus:
1) Anti Tetanus toksin
Antitoksin menurunkan mortalitas dengan menetralisasi toksin yang
beredar di sirkulasi dan toksin pada luka yang belum terikat, walaupun
toksin yang telah melekat pada jaringan saraf tidak terpengaruh.
Immunoglobulin merupakan terapi pilihan utama dan hendaknya diberikan
segera dengan dosis 3000-6000 unit diinjeksikan secara intramuskular,
biasanya dengan dosis terbagi karena volumenya besar. Dosis optimal
belum diketahui, namun demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa
dosis sebesar 500 unit sama efektifnya dengan dosis yang lebih tinggi.
Dosis rekomendasi British National Formulary adalah 5000-10.000 unit
diberikan secara IV. Sedangkan menurut Tintinalli (2015) dosis HTIG
adalah 3000-5000 unit yang diberikan secara IM sesaat setelah pasien
didiagnosis dengan tetanus. Setelah pasien melewati masa akut, pasien
mendapatkan injeksi anti-tetanus toxoid sebanyak 0.5 cc. Pemberian ini
dianjutkan pada minggu keenam setelah pemberian pertama dan bulan ke 6
setelah pemberian kedua (4)(5).
Jika tidak terdapat HTIG, dapat diberikan anti-tetanus serum (ATS) yang
berasal dari kuda sebanyak 100.000-200.000 unit dengan setengah dosis
diberikan secara intramuskular dan setengah dosis sisanya diberikan secara
intravena. Namun waktu paruhnya lebih pendek dan pemberiannya sering
menimbulkan reaksi hipersensitivitas (5).

24
Gambar 1. Managemen Luka pada Tetanus

2) Antikonvulsan dan mucle relaxant


Banyak obat yang telah digunakan sebagai obat tunggal maupun kombinasi
untuk mengobati spasme otot pada tetanus yang nyeri dan dapat
mengancam respirasi karena menyebabkan laringospasme atau kontraksi
otot pernapasan secara terus-menerus. Regimen yang ideal adalah regimen
yang dapat menekan aktivitas spasmodik tanpa menyebabkan sedasi
berlebihan dan hipoventiasi. Terapi pilihan utama adalah golongan
benzodiazepin. Bezodiazepin memperkuat agonisme GABA dengan
menghambat inhibitor endogen pada reseptor GABA. Diazepam dapat
diberikan melalui rute yang bervariasi, murah, dan telah dipergunakan
secara luas, tapi metabolit kerja panjangnya (oksazepam dan
desmetildiazepam) dapat terakumulasi dan berakibat koma berkepanjangan.
Dosis yang diberikan pada pasien dengan spasme ringan adalah 5-10 mg
per oral setiap 4-6 jam, pada pasien spasme berat 5-10 mg, dan pada
spasme berat diberikan 50-100 mg dalam 500 ml D5% dengan kecepatan
40 mg/jam. Menurut McGraw-Hill (2015), dosis anjuran untuk diazepam
adalah 10 mg setiap 1-3 jam secara intravena.

25
Pilihan obat lain adalah lorazepam dengan durasi kerja lebih lama dan
midazolam dengan waktu paruh yang lebih singkat. Midazolam diketahui
memiliki akumulasi lebih ringan dibandingkan dengan diazepam. (5)
Apabila dengan pemberian sedasi saja tidak adekuat, paralisis terapeutik
dengan agen pembolkade neuromuskuler dan ventilasi tekanan positif
intermitten mungkin dibutuhkan untuk jangka panjang. Namun demikian
dapat terjadi paralisis berkepanjangan setelah obat dihentikan.
Pankuronium telah digunakan secara luas. Namun deminikan agen ini dapat
menghambat pengambilan kembali katekolamin dan dapat memperberat
instabiltas otonomik pada tetanus berat. Terdapat laporan tentang
bertambah parahnya hipertensi dan takikardi yang berkaitan dengan
penggunaan pankuronium. Selain itu dapat digunakan vecuronium yang
bebas dari efek sampng kardiovaskuler dan pelepasan histamin tetapi
memiliki waktu kerja yang singkat. Dosis yang disarankan adalah 0.1
mg/kgBB diberikan secara intravena. Selain itu dapat juga diberikan
atraccurium dengan dosis 0.5 mg/kgBB diberikan secara intravena. Pada
penggunaan atraccurium, tidak didapatkan akumulasi metabolit atraccurium
yang bersifat epileptogenik, laudanosin. (4)(5)
3) Antibiotik
Antibiotik lini pertama menurut WHO (2005) adalah metronidazole dengan
dosis 500 mg diberikan setiap 6 jam atau 1 gram setiap 12 jam selama 7-10
hari. Antibiotik lain yang dapat dipakai untuk membunuh kuman C. tetani
adalah penicillin prokain dengan dosis 50.000 – 100.000 unit/kgBB
diberikan dengan dosis terbagi 2-4 dosis selama 7-10 hari (10 – 12 juta unit
IV setiap hari). Namun merupakan antagonis GABA dan berkaitan dengan
konvulsi. Apabila pasien alergi terhadap penicillin dapat diberikan
tetracycline 50 mg/kgBB/hari.
Metronidaloze lebih aman dibandingkan dengan penicillin karena
metronidazole tidak menunjukkan aktivitas antagonis terhadap GABA
seperti yang ditunjukkan oleh penicillin. Beberapa penelitian juga

26
menunjukkan angka harapan hidup yang lebih tinggi pada penggunaan
metronidazole.(4)

4) Oksigen
Intubasi atau trakeostomi dengan atau tanpa ventilasi mungkin dibutuhkan
pada hipoventilasi yang berkaitan dengan sedasi berlebihan atau
laringospasme atau untuk menghindari aspirasi oleh pasien dengan trismus,
gangguan menelan atau disfagia.(5)

5) Pengendalian disfungsi otonom


Banyak pendekatan yang berbeda dalam terapi disfungsi otonom. Sampai
sejauh ini terapi optimal untuk hiperaktivitas simpatis masih berlum
ditetapkan.
Morfin terutama bermanfaat karena dapat memberikan stabilitas pada
kardiovaskuler. Dosisnya bervariasi antara 20-180 mg per hari. Mekanisme
aksi yang dipertimbangkan pada penggunaan morfin adalah penggantian
opioid endogen, mengurangi aktivitas refleks simpatis, dan pelepasan
histamin. Selain itu, telah dilaporkan keberhasilan penatalaksanaan
gangguan otonom dengan menggunakan atropin secara intravena.
Penggunaan adrenergik-alfa (klonidin) dapat mengurangi aktivitas simpatis
sehingga dapat mengurangi tekanan arteri, frekuensi denyut jantung, dan
pelepasan katekolamin dari medulla adrenal. Di periferm klonidin
menghambat pelepasan norepinefrin dari ujung saraf pre-junctional.(4)
Terapi lain yang dapat diberikan adalah MgSO4 secara loading dose 5 mg
dalam 20 menit. Namun pemberian MgSO4 harus disertai dengan
pemantauan neurologis (reflek patella) dan fungsi pernapasan serta
pengukuran kadar magnesium serum setiap hari. mgSO4 ini telah banyak
digunakan untuk pasien baik yang terpasang ventilator maupun tidak untuk
mengontrol spasme. MgSO4 merupakan pemblokade neuromuskuler pre-
sinaps yang menghambat katekolamin dari saraf dan medula adrenal,

27
mengurangi responsivitas reseptor terhadap katekolamin yang terlepas, dan
merupakan antikonvulsan sekaligus vasodilator. (4)

6) Terapi suportif
Penurunan berat badan umum terjadi pada tetanus. Faktor yang
menyebabkan penurunan berat badan ini meliputi gangguan menelan,
peningkatan metabolisme akibat pireksia dan aktivitas otot, dan masa kritis
yang berkepanjangan. Oleh karena itu, pemberian nutrisi dilakukan sedini
mungkin dan lebih baik melalui nasogastrik tube. Fisioterapi juga
dibutuhkan untuk mencegah adanya kontraktur.

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. 2010. Current reccomendation for treatment of tetanus during


humanitarian emergency.
2. Tintinalli, J. 2015. Tntinalli’s Emergency Medicine 8th Edition. New York:
McGraw-Hill Education Medical.
3. CDC. 2015. Tetanus: Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable
Disease, The Pink Book: Course Textbook – 13th Edition. USA.
4. Ismanoe, G. 2018. “Tetanus” dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Interna Publishing.
5. Laksmi, N. 2014. Continuing Professional Develpoment: Penatalaksanaan
Tetanus. CDK-222/ vol. 41 no. 11, th 2014.

28
LAPORAN KASUS
TETANUS GENERALISATA DERAJAT SEDANG
ET CAUSA ULKUS REGIO PEDIS SINISTRA
DIGITI 1 HALUX

29
Oleh dr. Aspidi Manopo Sinaga
Pembimbing : dr. Umi Nugraini. Sp.PD

30