Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN EVIDENCE BASE PRACTICE

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


TERHAMBATNYA SISTEM TRIASE MODERN DENGAN
METODE AUSTRALIA TRIAGE SYSTEM (ATS), DI UNIT
GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
SARTIKA ASIH BANDUNG

Kelompok 1 :
NENDEN LIDIAWATI
ANDINI SRI UTAMI
ASTRI AGISTIAN
ELIS SUCIATI
FEMY NOVIANTARY
SUPARJI
TUTI HARYATI
USEP ANDANG

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PPNI
JAWA BARAT
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan
anugerah dan perkenan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan EBP
(Evidence Based Practice)yang berjudul“Laporan evidence base practice “Faktor–
Faktor Yang Mempengaruhi Terhambatnya Sistem Triase Modern Dengan
Metode Australia Triage System (Ats) di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit
Bhayangkara Sartika Asih Bandung” untuk memenuhi syarat laporan keperawatan
Gawat Darurat .Dengan selesainya Laporan Praktek Lapangan ini, kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada Allah SWT, kepada team dosen
keperawatan Gawat Darurat selaku pembimbing.Kami menyadari bahwa laporan
yang penulis buat, jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan penyusunan laporan selanjutnya
agar laporan yang kami buat menjadi lebih baik.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah
berusaha membantu kelompok dalam penyusunan laporan ini dan kami berharap
semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami juga umumnya untuk
kita semua.Semoga bimbingan dan kebaikan yang telah diberikan kepada kami
selaku kelompokakan dapat ridho Allah SWT. Amin
Wassalamualaikum Wr.Wb

Penyusun,

1
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Perkembangan triase modern tak lepas dari pengembangan sistim layanan
gawat darurat.Kehidupan yang semakin kompleks menyebabkan terjadi revolusi
sistem triase baik di luarrumah sakit maupun dalam rumah sakit.Kata triase
berasal dari bahasa perancis trier, yang artinya menyusun atau memilah. Kata
inipada awalnya digunakan untuk menyebutkan proses pemilahan biji kopi yang
baik dan yangrusak.Proses pemilahan di dunia medis pertama kali dilaksanakan
sekitar tahun 1792 olehBaron Dominique Jean Larrey, seorang dokter kepala di
Angkatan perang Napoleon.pada serdadu yang terluka dilakukan agar mereka
yang masih bisa ditolong mendapatkan prioritas penanganan.Seiring dengan
berkembangnya penelitian di bidang gawat darurat, sejak tahun 1950 anditerapkan
metode triase di rumah sakit di Amerika Serikat, namun belum ada struktur
yangbaku. Seiring dengan perkembangan keilmuan dibidang gawat darurat, triase
rumah sakit modernsudah berkembang menjadi salah satu penentu arus pasien
dalam layanan gawat darurat.Triase menjadi komponen yang sangat penting di
unit gawat darurat terutama karena terjadipeningkatan drastis jumlah kunjungan
pasien ke rumah sakit melalui unit ini.Berbagai laporandari UGD menyatakan
adanya kepadatan (overcrowding) menyebabkan perlu ada metodemenentukan
siapa pasien yang lebih prioritas sejak awal kedatangan.Ketepatan
dalammenentukan kriteria triase dapat memperbaiki aliran pasien yang datang ke
unit gawat darurat,menjaga sumber daya unit agar dapat fokus menangani kasus
yang benar-benar gawat, danmengalihkan kasus tidak gawat darurat ke fasilitas
kesehatan yang sesuai.Dalam rangka meningkatkan performa pelayanan di UGD,
revitalisasi peran dan fungsi triaseharus dilakukan.Untuk itu, perkembangan
sistem triase rumah sakit diberbagai negara perludiketahui, sehingga dapat
dijadikan bahan pertimbangan apakah sistim triase modern tersebutrelevan
diterapkan di Indonesia.
Pada tahun 1846, John Wilson memberikan kontribusi lanjutan bagi filosofi
triase. Dia mencatat bahwa, untuk penyelamatan hidup melalui tindakan

2
pembedahan akan efektif bila dilakukan pada pasien yang lebih memerlukan. Pada
perang dunia I pasien akan dipisahkan di pusat pengumpulan korban yang secara
langsung akan dibawa ke tempat dengan fasilitas yang sesuai. Pada perang dunia
II diperkenalkan pendekatan triase dimana korban dirawat pertama kali di
lapangan oleh dokter dan kemudian dikeluarkan dari garis perang untuk
perawatan yang lebih baik.Pengelompokan pasien dengan tujuan untuk
membedakan prioritas penanganan dalam medan perang pada perang dunia I,
maksud awalnya adalah untuk menangani luka yang minimal pada tentara
sehingga dapat segera kembali ke medan perang.
Penggunaan awal kata “trier” mengacu pada penampisan screening di medan
perang. Kini istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan suatu konsep
pengkajian yang cepat dan terfokus dengan suatu cara yang memungkinkan
pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta fasilitas yang paling efisien
terhadap hampir 100 juta orang yang memerlukan pertolongan di unit gawat
darurat (UGD) setiap tahunnya. Pelbagai system triase mulai dikembangkan pada
akhir tahun 1950-an seiring jumlah kunjungan UGD yang telah melampaui
kemampuan sumber daya yang ada untuk melakukan penanganan segera. Tujuan
triage adalah memilih atau menggolongkan semua pasien yang datang ke UGD
dan menetapkan prioritas penanganan.
Di rumah sakit, didalam triase mengutamakan perawatan pasien berdasarkan
gejala. Perawat triase menggunakan ABCD keperawatan seperti jalan nafas,
pernapasan dan sirkulasi, serta warna kulit, kelembaban, suhu, nadi, respirasi,
tingkat kesadaran dan inspeksi visual untuk luka dalam, deformitas kotor dan
memar untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan kepada pasien di ruang
gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama untuk pasien gangguan
jalan nafas, bernafas atau sirkulasi terganggu.Pasien-pasien ini mungkin memiliki
kesulitan bernapas atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima
pengobatan pertama.Pasien yang memiliki masalah yang sangat mengancam
kehidupan diberikan pengobatan langsung bahkan jika mereka diharapkan untuk
mati atau membutuhkan banyak sumber daya medis. (Bagus,2007).
Menurut Brooker, 2008. Dalam prinsip triase diberlakukan system prioritas,
prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus didahulukan mengenai

3
penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul dengan seleksi
pasien berdasarkan : 1) Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan
menit. 2) Dapat mati dalam hitungan jam. 3) Trauma ringan. 4) Sudah
meninggal.Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan
dengan:1) Menilai tanda vital dan kondisi umum korban 2) Menilai kebutuhan
medis 3) Menilai kemungkinan bertahan hidup 3) Menilai bantuan yang
memungkinkan 4) Memprioritaskan penanganan definitive 5) Tag
WarnKlasifikasi TriageGawat darurat (P1): Keadaan yang mengancam nyawa /
adanya gangguan ABC dan perlu tindakan segera, misalnya cardiac arrest,
penurunan kesadaran, trauma mayor dengan perdarahan hebat. Gawat tidak
darurat (P2): Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan
darurat. Setelah dilakukan diresusitasi maka ditindaklanjuti oleh dokter
spesialis.Misalnya ; pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainnya
darurat tidak gawat (P3): Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi
memerlukan tindakan darurat. Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat
langsung diberikan terapi definitive. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik,
misalnya laserasi, fraktur minor / tertutup, sistitis, otitis media dan lainnya.Tidak
gawat tidak darurat (P4) :Keadaan tidak mengancam nyawa dan tidak
memerlukan tindakan gawat. Gejala dan tanda klinis ringan /
asimptomatis.Misalnya penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya.Klasifikasi
berdasarkan Tingkat Prioritas (Labeling). Prioritas I (merah): Mengancam jiwa
atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai
kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat segera yaitu
gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi.Contohnya sumbatan jalan
nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka terpotong pada tangan dan
kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III > 25%. Prioritas II
(kuning):Potensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani
dalam jangka waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat jangan
terlambat. Contoh: patah tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III <
25 %, trauma thorak / abdomen, laserasi luas, trauma bola mata.Prioritas III
(hijau):Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan
dan pemindahan bersifat terakhir.Contoh luka superficial, luka-luka ringan.

4
Prioritas 0 (hitam):Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah.
Hanya perlu terapi suportif.Contoh henti jantung kritis, trauma kepala kritis.

1.1 FENOMENA
Di Indonesia belum ada kesepakatan tentang metode triase apa yang
digunakan di rumah sakit. Belum ditemukan adanya literatur nasional yang
mengidentifikasi metode-metode triase yang digunakan tiap-tiap unit gawat
darurat di Indonesia. Secara empiris penulis mengetahui bahwa pemahaman triase
dalam pendidikan kesehatan sebagian besar- kalau tidak bisa dikatakan
seluruhnya- masih menggunakan konsep triase bencana (triase merah,,kuning,
hijau, dan hitam). Beberapa rumah sakit yang mengikuti akreditasi internasional
seperti Rumah Sakit Pusat Nasional dr. Ciptomangunkusumo sudah mulai
mencoba mengikuti penerapan triase lima kategori di Instalasi Gawat Darurat.
Konsep lima kategori di RSCM merupakan penyesuaian dari konsep ATS.
Banyak perbedaan pendapat antara petugas medis di IGD RSCM ketika sistim ini
diterapkan karena sebagian masih menganut paham triase bencana.

1.2 GAMBARAN KASUS


Penerapan sistem triase di unit gawat darurat Rs Bhayangkara yang menganut
sistem Triase Australia Sistem (ATS) belum sesuai dengan sistem yang sudah
berjalan karena, Selain belum kuat dari aspek sosialisasi dan pelatihan,
pelaksanaan triase di RSBSA juga masih lemah dari aspek ilmiah. Minimnya
penelitian dan publikasi dibidang gawat darurat dapat menyebabkan kerancuan
dalam menerapkan metode triase, apakah tetap menggunakan metode
konvensional, atau sistim dari luar negeri setelah dilakukan uji validasi dan uji
reliabilitas, atau membuat sistim sendiri yang sesuai dengan karakteristik pasien-
pasien di Indonesia contoh kasus KLB luka bakar yang terjadi semestinya masuk
ruang triase yang sesuai dengan tingkat kegawata daruratan masing masing
pasien.

5
1.3 TUJUAN
1.4.1 Kelompokmahasiswa mampu untuk melaksanakan EBP dalam
mengaplikasikan sistem triase pada pembagian unit kegawat
daruratan.
1.4.2 Kelompok mahasiswa mampu merumuskan kebutuhan sistem triase
berdasarkan evidence yang terbaru.
1.4.3 Kelompok mahasiswa mampu membuat rumusan pernyataan klinis
dengan menggunakan format PICOT.
1.4.4 Kelompok mahasiswa mampu melakukan pencarian evidence (hasil-
hasil penelitian) terbaru sesuai dengan pertanyaan PICOT.
1.4.5 Kelompok mahasiswa mampu melakukan quality
assessment/apraisal terhadap hasil penelitian yang ditemukan
dengan menggunakan format.
1.4.6 Kelompok mahasiswa mampu mengintegrasikan hasil penelitian
terbaikdengan pandangan ahli di ruangan dan praktik klinik serta
memperhatikan nilai-nilai pasien dalam membuat sistem triase yang
berdasarkan pada EBP.

6
BAB II
PELAKSANAAN EBP

2.1 TAHAP I
Penerapan sistem triase di unit gawat darurat Rs Bhayangkara yang
menganut sistem Triase Australia Sistem (ATS) belum sesuai dengan sistem yang
sudah berjalan karena, Selain belum kuat dari aspek sosialisasi dan pelatihan,
pelaksanaan triase di RSBSA juga masih lemah dari aspek ilmiah. Minimnya
penelitian dan publikasi dibidang gawat darurat dapat menyebabkan kerancuan
dalam menerapkan metode triase, apakah tetap menggunakan metode
konvensional, atau sistim dari luar negeri setelah dilakukan uji validasi dan uji
reliabilitas, atau membuat sistim sendiri yang sesuai dengan karakteristik pasien-
pasien di Indonesia contoh kasus KLB luka bakar yang terjadi semestinya masuk
ruang triase yang sesuai dengan tingkat kegawata daruratan masing masing
pasien.

2.2 TAHAP II
Intervensi PICOT :
Bagaimana cara penerapan salah satu sistem triase yang sesuai dengan
metode triase Australia (Australia Triage System/ATSdi IGD RSBSA Terhadap
keefektifitasan pembagian triase sesuai dengan tingkat kegawat daruratan?
P Unit Gawar Darurat
IT triase Australia
C:Triase Amerika Serikat dan triaseInggris dan sebagian besar Eropa (Manchester
Triage Scale)
O: Metode Triase
T: Rct (Randomized Controlled Trial)

2.3 TAHAP III


Kelompok menggunakan strategi pencarian tepat dan efektif. Strategi yang
digunakan adalah memasukan PICOT dengan memasukan kata kunci metode

7
triase, Ttriase Australia (Australia Triage System/ATS), dan triase Inggris, Eropa
(Manchester Triage Scale)
Query Jumlah yang di temukan Waktu
Sumber : pubmed

Triage

Australia Triage System/ATS


Manchester Triage Scale

1) Diagram flow
Jumlah artikel yang didapat
(n=50)

Jumlah artikel yang di-exclude


(berdasarkan kriteria ekslusi)

Jumlah artikel yang layak (n=33)

(n=15)

Jumlah artikel yang exclude


(berdasarkan kriteria insklusi)
Jumlah artikel yang masuk (n=10)
dalam pengkajian

(n=2)

2) Hasil download jurnal 1.


ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE APPLICATION OF
AUSTRALASIAN TRIAGE SCALE (ATS) IN EMERGENCY
DEPARTEMENT NGUDI WALUYO WLINGI HOSPITAL
Mohammad Nur Firdaus, Setyowati Soeharto, Dewi Kartikawati Ningsih

ABSTRAK
Indonesia belum mempunyai standar nasional penerapan sistem triase
sehinnga dalam pelaksanaannya pada setiap rumah sakit bisa berbeda.

8
Perawat mempunyai peranan penting dalam penerapan triase Metode
Australasian Triage Scale (ATS) merupakan salah satu dari beberapa sistim
triase di dunia yang banyak di gunakan di beberapa Negara termasuk
Indonesia tetapi sangat sulit diterapkan karena overcrowded instalasi gawat
darurat yang relatif tinggi, rasio perawat yang tidak ideal serta ruang triase
yang tidak berstandar sehingga target pencapaian waktu yang ditetapkan
sistem ATS sulit dicapai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis berbagai
faktor yang mempengaruhi Australasian Triage Scale (ATS) Di IGD RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar. Metode penelitian ini adalah
kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan sebagai responden adalah
perawat IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar sebanyak 28
orang Analisis univariat digunakan untuk mengetahui gambaran masing-
masing variabel. Uji Fisher untuk mengetahui hubungan antar variabel dan
analisis regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling mempengaruhi
penerapan ATS. Hasil uji Fisher menunjukan p-Value sebagai berikut faktor
kepemimpinan, p = 0.028 < α = 0,05, faktor waiting time p = 0.011 < α =
0,05, faktor dokumentasi triase p = 0.036 < α = 0,05, faktor pendidikan p =
0.013 < α = 0,05, faktor pelatihan p = 0.036 < α = 0,05. Hasil regresi linier
menunjukkan faktor pendidikan p = 0.019 < α = 0,05 dengan OR 0.059. Hasil
penelitian ini terdapat pengaruh yang bermakna antara faktor kepemimpinan,
waiting time, dokumentasi triase, pendidikan dan pelatihan terhadap
penerapan ATS dan merupakan faktor prediktor paling berpengaruh adalah
pendidikan yang dapat digunakan untuk memprediksi keakuratan penerapan
ATS.
Kata Kunci: kepemimpinan, waiting time, fdokumentasi triase, pendidikan
dan pelatihan, penerapan ATS

PENDAHULUAN
Pada saat jumlah klien melebihi jumlah petugas, maka diperlukan
sistem triase.Triase merupakan suatu sistem yang berfungsi untuk menyeleksi
klien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan untuk memberikan prioritas
pelayanan kepada klien.Tujuan triase adalah agar klien mendapatkan

9
pelayanan yang optimal serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas,
mengidentifikasi klien yang membutuhkan tindakan resusitasi segera,
menetapkan klien ke area perawatan untuk memprioritaskan dalam perawatan
dan untuk memulai tindakan diagnostik atau terapi.(UndangUndang Republik
Indonesia nomor 44 tentang rumah sakit, 2009; Fitzgerald, 2010).Triase dapat
ditentukan dengan kebutuhan terbesar klien/korban untuk segera menerima
perawatan secepat mungkin.
Penerapan triage yang kurang dan belum memadai akan membahayakan
kehidupan klien yang tiba di IGD. Tindakan pengobatan kepada klien dalam
urutan kedatangan tanpa penilaian sebelum menentukan tingkat kegawatan
dari penyakitnya atau tanpa melakukan triage terlebih dahulu dapat
mengakibatkan penundaan intervensi klien dengan kondisi kritis sehingga
berpotensi mematikan ( Baker 2009, Nolane et al 2011, Aloyce et al 2014).
Indonesia belum mempunyai standart nasional tentang system triage
sehingga dalam pelaksanaan penerapan triage setiap rumah sakit bisa berbeda
beda. Metode Australasian Triage Scale (ATS) merupakan salah satu dari
beberapa sistim triage di dunia yang banyak di gunakan di beberapa Negara
termasuk Indonesia.
Metode Australian Triage Scale (ATS) dalam menentukan prioritas
hanya memberikan gambaran secara singkat mengenai lamanya waktu klien
menerima tindakan dan diterapkan di negara negara maju dengan fasilitas
yang baik (Gerdtz, 2009). Hal ini sangat sulit diterapkan di Indonesia karena
overcrowded instalasi gawat darurat yang relatif tinggi, rasio perawat yang
tidak ideal serta ruang triage yang tidak tidak berstandar akan membuat
waiting time semakin lama sehingga target pencapaian waktu yang ditetapkan
sistem ATS akan sulit dicapai(Lee, et al, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Saktiwirotomo dan Emaliyawati 2016 di
IGD RSI PKU Muhamadiyah Pekajangan Pekalongan membuktikan bahwa
penggunaan metode Australasian Triage Scale lebih efektif dibandingkan
triase tiga tingkat dalam penerapan di IGD. Penelitian di RS Puri Indah
Jakarta menemukan bahwa pengetahuan, keterampilan dan sikap perawat
mempunyai pengaruh terhadap penerapan triage bila faktor-faktor tersebut

10
tidak dilaksanakan secara optimal dapat menyebabkan kesalahan dalam
pengambilan keputusan dan menyebabkan kecacatan pada klien (Australian
Triage Process Review 2011 , Anderson et al 2007, Lusiana 2011, Jansen et
al 2011 dan Safari 2012). Emergency Nursing Association (2014)
menyatakan bahwa keterampilan dan latar belakang pendidikan yang dimiliki
perawat akan mempengaruhi penerapan ATS.
IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi menerapkan sistem triage Australian
Triage Scale (ATS) pada awal 2016. Hasil observasi di IGD RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi didapatkan bahwa penerapan ATS (Australasian Triage
Scale) masih belum terlihat.Berdasarkan latarbelakang tersebut peneliti ingin
mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi penerapan Australasian Triage
Scale (ATS) Di IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar.

METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan
cross sectional, yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara variabel
independen (faktor kinerja, faktor klien, faktor ketenagaan, faktor
perlengkapan) dan variabel dependen (penerapan ATS).Pengambilan data
dilakukan sebanyak satu kali, pada bulan Juni sampai dengan Juli 2017.Untuk
mengetahui gambaran dari setiap variabel yang diteliti digunakan analisis
univariat.Untuk mengetahui hubungan antar variabel digunakan uji Fisher dan
untuk mengetahui faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi
penerapan ATS digunakan uji regresi logistik.

HASIL PENELITIAN
1. Data umum dan distribusi frekuensi Responden Berdasarkan penelitian
yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

11
2. Faktor yang mempengaruhi penerapan ATS

Selanjutnya untuk mengetahui faktor yang paling dominan


mempengaruhi penerapan digunakan uji regresi logistik. Adapun syarat bagi
variabel independen untuk dapat disertakan dalam analisis ini adalah p-Value
pada analisis bivariat <0,25, dengan demikian semua variabel independen
dalam penelitian ini dapat disertakan dalam analisis regresi logistik. Analisis

12
regresi logistik pada penelitian ini melalui empat tahapan pemodelan dengan
hasil sebagai berikut:

PEMBAHASAN
Pengaruh faktor kinerja (kepemimpinan) terhadap penerapan ATS
Hasil analisis bivariat menunjukkan faktor kinerja (kepemimpinan) dengan
penerapan ATS dijelaskan bahwa dari 9 responden yang mempunyai
penilaian kurang baik 6 responden menerapkan ATS tidak akurat sedangkan
dari 19 responden yang mempunyai penilaian baik 15 responden menerapkan
ATS akurat. Hasil uji fisher diperoleh nilai p = 0.028 < α = 0,05 maka
hipotesis penelitian diterima yaitu ada pengaruh yang bermakna antara faktor
kinerja (kepemimpinan) terhadap penerapan ATS. Gibson dalam Suhartati
(2015) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dikembangkan oleh seorang
pemimpin dipengaruhi oleh tiga faktor (kekuatan) utama. Ketiganya
akan menentukan sejauh mana ia akan melakukan pengawasan terhadap
kelompok yang dipimpin. Faktor kekuatan yang pertama bersumber dari
dirinya sendiri sebagai pemimpin. Faktor kedua bersumber pada kelompok
yang dipimpin, dan faktor ketiga tergantung pada situasi.
Kepemimpinan adalah proses untuk melakukan pengembangan secara
langsung dengan melakukan koordinasi pada anggota kelompok serta
memiliki karakteristik untuk dapat meningkatkan kesuksesan dan
pengembangan dalam mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan berarti
melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang akan
dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian atau delegasi
wewenang. Pemilihan gaya kepemimpinan yang sesuai harus dilakukan oleh
seorang kepala ruang.

13
Pertimbangan dalam memilih gaya kepemimpinan diantaranya adalah
usia dari bawahan, hal ini disesuaikan dengan perkembangan manusia
dimana pada usia dewasa muda yaitu 20-40 tahun lebih semangat dalam
melaksanakan pekerjaannya yang berkaitan dengan cita-cita dan harapan
yang belum tercapai, sehingga untuk mencapai cita-citanya perawat usia
muda akan mengikuti pimpinan yang dianggap berpengaruh dan dapat
memberikan contoh untuk mencapai kesuksesan. Pada usia ini seseorang
mempunyai aktualisasi diri yang tinggi, seorang pemimpin harus mampu
mengenali orang lain dan melihat kelebihannya. Usia > 40 tahun, seseorang
berada dalam puncak karier, sukses, berprestasi, mengalami kematangan
psikologis, sehingga seorang pemimpin harus dapat memilih gaya
kepemimpinan mana yang tepat untuk meningkatkan kinerja bawahannya.
Sitohang et al 2017 menyatakan bahwa faktor kepemimpinan
merupakan bagian yang sangat penting yang dapat mempengaruhi pelayanan
keperawatan serta dapat memberikan kualitas praktik keperawatan yang baik
kepada klien.

Pengaruh faktor klien (waktu tunggu) terhadap penerapan ATS


Hasil analisis bivariat menunjukkan pengaruh faktor klien (waktu
tunggu) terdapat 6 dari 8 klien yang waktu tunggunya tidak sesuai standar
sedangkan 16 dari 20 klien waktu tunggunya sesuai standar. Hasil uji fisher
diperoleh nilai p = 0.011 < α = 0,05 maka hipotesis penelitian diterima yaitu
ada pengaruh yang bermakna antara faktor klien (waktu tunggu) terhadap
penerapan ATS. Lama waktu tunggu pada penelitian ini merupakan ketepatan
waktu dalam memberikan intervensi kepada klien sesuai dengan status
kegawatan klien.
Pelayanan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan di dalam pelayanan
IGD, pelayanan di IGD dapat terhambat jika kondisi di dalam IGD penuh
dengan klien.Kondisi klien yang memenuhi IGD disebabkan oleh tidak
sesuainya jumlah klien yang berkunjung ke IGD dengan tenaga dan tempat
tidur yang ada di IGD. Standar Prosedur Operasional RSUD Ngudi Waluyo

14
Wlingi, klien dikatakan menunggu apabila klien tersebut berada di IGD
selama lebih dari standar waktu tunggu empat jam terhitung mulai triase.
Faktor yang diduga menjadi risiko penyebab waktu tunggu panjang
antara lain ketersediaan tempat atau bangsal, tidak sesuainya bangsal yang
tersedia dengan permintaan klien, adanya pengelompokan penyakit yang
membutuhkan bangsal khusus, menunggu sterilisasi ruang bangsal, kesibukan
perawat di bangsal, keterbatasan tenaga pengantar IGD dan keluarga klien.
Klien rujukan juga salah satu yang menjadi penyebab kondisi di IGD
menjadi semakin penuh. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sebagai rumah sakit
rujukan tingkat ketiga, merupakan rumah sakit yang menjadi tujuan utama
klien rujukan.
Chen et al. (2010) dan Dadashzadeh et al (2013) mengemukakan bahwa
waktu tunggu klien adalah rentang antara keputusan rawat inap sampai klien
berpindah ke bangsal.Penelitian ini juga menyatakan bahwa ketidaksesuaian
kebutuhan dan penyedia pelayanan kesehatan dan kondisi IGD yang penuh
atau kunjungan klien yang tinggi merupakan faktor waktu tunggu panjang.
Thompson (2006) dalam penelitiannya pada 1631 responden menyebutkan
bahwa waktu tunggu, penyampaian informasi oleh staf IGD dan perilaku staf
IGD yang ekspresif sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan klien yaitu
positif (p <.001). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terhadap faktor klien
yaitu waktu tunggu (< 4-6 jam) klien di IGD. Hal ini sejalan dengan hasil
obervasi setiap shift menunjukkan bahwa waktu tunggu klien di IGD RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi yang tidak sesuai dengan standar SOP IGD yaitu 4-6
jam sebesar 28.6% dari total waktu tunggu klien yang diobservasi
dikarenakan beberapa faktor yaitu faktor keluarga, administrasi yang tidak
lengkap dan ruang rawat inap yang penuh.

Pengaruh faktor perlengkapan (dokumentasi triase) terhadap penerapan


ATS
Hasil analisis bivariate menunjukkan faktor perlengkapan (dokumentasi
triase) dijelaskan bahwa 5 dari 7 responden mengisi kurang lengkap dokumen
triase menerapkan ATS tidak akurat sedangkan 16 dari 21 responden yang

15
mengisi lengkap dokumen triase menerapkan ATS akurat. Hasil uji fisher
diperoleh nilai p = 0.036 < α = 0,05 maka hipotesis penelitian diterima yaitu
ada pengaruh yang bermakna antara faktor perlengkapan triase (dokumentasi
triase) terhadap penerapan ATS.
Penelitian kualitatif Jansen (2011) menyatakan bahwa salah satu faktor
yang mempengaruhi dalam pelaksanaan triage adalah sumber daya. Sumber
daya (sarana dan prasarana) yang tersedia lengkap dan memadai dapat
menunjang penerapan ATS di IGD sehingga pelayanan keperawatan dapat
berjalan sesuai dengan prosedur. Sabriyanti, Nur Isnah, Islam dan Gaus
(2009) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi waktu tanggap adalah
ketersediaan stretcher dan petugas triage serta kelengkapan dokumentasi
triase.
Hasil penelitian Geraci dalam Gerdtz (2009) didapatkan data bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan triase adalah fasilitas fisik
lengkap yang disediakan di triase seperti kelengkapan dokumentasi triase.
Australian System Process Review (2011) menyatakan bahwa faktor
perlengkapan (dokumentasi triase) mempengaruhi penerapan triage oleh
perawat.
Hasil observasi pada menunjukkan sebesar 25% dokumentasi triase
tidak diisi lengkap yang sebagian besar pada shift malam yaitu terdapat 10
dokumentasi tidak terisi lengkap padahal hal tersebut mempengaruhi
kelancaran prosedur perawatan klien di IGD. Dokumentasi triase yang
lengkap sangat berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam melakukan
intervensi keperawatan kepada klien karena kelengkapan dokumentasi triase
merupakan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat dalam melakukan
tugasnya. Dokumentasi triase yang lengkap juga akan membantu tidak hanya
perawat tetapi profesi yang lain yang tidak hanya digunakan saat klien di IGD
tetapi juga dalam perawatan klien setelah keluar dari IGD.

Pengaruh faktor ketenagaan terhadap penerapan triase


Hasil analisis bivariat pengaruh faktor ketenagaan (pendidikan)
didapatkan bahwa 5 dari 22 responden yang berpendidikan D3 menerapkan

16
ATS tidak akurat sedangkan 1 dari 6 responden yang berpendidikan diatas D3
menerapkan ATS akurat. Hasil uji fisher diperoleh nilai p = 0.013 < α = 0,05
maka hipotesis penelitian diterima yaitu ada pengaruh yang bermakna antara
faktor ketenagaan (pendidikan) terhadap penerapan ATS.
Hasil analisis pengaruh faktor ketenagaan (pelatihan) terdapat 5 dari 7
responden belum tersertifikasi pelatihan kegawatdaruratan triase menerapkan
ATS tidak akurat sedangkan 16 dari 21 responden yang sudah tersertifikasi
pelatihan kegawatdaruratan klinis triase menerapkan ATS akurat. Hasil uji
fisher diperoleh nilai p= 0.036 < α = 0,05 maka hipotesis penelitian diterima
yaitu ada pengaruh yang bermakna antara faktor ketenagaan (pelatihan)
terhadap penerapan ATS.
Tingkat pendidikan terbanyak perawat IGD RSUD Ngudi Waluyo
adalah D3 sebesar 22 (78,6) , diatas D3 (S1 5 (20) dan S2 1 (1,4) )dengan
lama masa kerja 0-2 tahun sebesar 19 (67,8), 3-5 tahun 6 (21,5) dan > 5 tahun
3 (10,7) dan sebagian besar 21 (75) sudah mengikuti pelatihan
kegawatdaruratan klinis yang tersertifikasi triase oleh ENA 2005, key
performance indicator Depkes 2009 (BTLS/ATLS/ACLS/GELS/PPGD).
Penelitian Quasi-Interventional Study Rahmati, Azmoon, Meibodi, Zare
2013 pada 50 staf RS Hospital of Fasa University of Medical Sciences
menyebutkan hasil yang signifikan sebelum dan sesudah mendapatkan
pelatihan triase selama 6 bulan dengan kinerja keperawatan di IGD (r=0.258,
p=0.032). Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Jansen (2012)
menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan triage yaitu
salah satunya adalah tingkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman.
Hasil perhitungan dan analisis data yang telah dilakukan pada penelitian
Fatimah 2007, variabel tingkat pendidikan, motivasi, usia dan pengalaman
kerja secara bersama sama memberikan pengaruh positif dan signifikan
terhadap variabel produktivitas kerja perawat. Hal tersebut ditunjukkan
dengan hasil uji F (α = 5%) sebesar 27,860 > F tabel sebesar 8,25. Hipotesis
pertama dari penelitian ini yaitu bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara variabeltingkat pendidikan, motivasi, usia dan pengalaman kerja
terhadap variabel produktivitas kerja terbukti kebenarannya dengan nilai t

17
hitung sebesar 3,894 > 1,980 (t hitung > t tabel) maka hal tersebut
menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki pengaruh paling
dominan terhadap produktivitas kerja perawat dalam menerapkan triase di
IGD.
Variabel pengalaman kerja mengikutinya dengan nilai thitung sebesar
3,853, motivasi 2,983, usia 2,022 dengan demikian hipotesis kedua yaitu
bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang paling dominan
terhadap variabel produktivitas kerja terbukti kebenarannya. Analisis
koefisien determinasi variabel tingkat pendidikan, motivasi, usia dan
pengalaman kerja memberikan pengaruh sebesar 56,2% terhadap variabel
produktivitas kerja perawat. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat
pendidikan, pengalaman kerja, dan usia mempunyai pengaruh yang cukup
besar pada kinerja keperawatan dalam hal ini adalah penerapan ATS pada
klien yang datang ke IGD.
Penelitian Ahmad, Murtaja (2014) menyatakan bahwa besarnya
pengaruh pelatihan terhadap kinerja perawat sebesar 19.3%. Hasil
perhitungan secara parsial diperoleh t hitung sebesar 3.823 dengan tingkat
probabilitas 0.000 lebih kecil dari 0.05. Hal tersebut berarti terdapat
pengaruh pemberian pelatihan terhadap kinerja perawat di RSI NU Demak.
Pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang
namun dalam penelitian ini banyak faktor lain juga mempengaruhi kinerja
seseorang, diantaranya disebabkan karena jumlah sampel yang tidak merata,
selain itu meskipun sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan
pemula, namun mempunyai pengalaman kerja yang sudah lama, dan sering
mendapatkan pelatihan. Pelatihan klinis keperawatan kegawatdaruratan yang
berkesinambungan dan berkelanjutan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan klinik yang juga menentukan kinerja seseorang dalam
menerapkan ATS di IGD.

Faktor dominan yang memepengaruhi penerapanATS


Hasil uji menunjukkan bahwa yang memenuhi syarat tersebut adalah
faktor ketenagaan (pendidikan) yaitu p = 0.019 dengan nilai OR 17.0

18
sehingga variabel ketenagaan (pendidikan) mempunyai kekuatan hubungan
paling dominan dibandingkan dengan variabel yang lain sedangkan untuk
melihat kualitas analisis multivariat dilihat melalui kemampuan kalibrasi dan
diskriminasi dengan metode Hosmer and Lameshow didapatkan nilai p =
0.572 (p = 0.05) sehingga persamaan yang didapatkan dari hasil analisis
multivariat layak digunakan untuk menentukan faktor yang berpengaruh
terhadap penerapan Australasian Triage Scale.
Penilaian diskriminasi dapat menggunakan nilai Area Under Curve
(AUC) yaitu dikatakan baik jika nilai AUC lebih dari 50 % atau semakin
mendekati angka 1. Hasil nilai AUC diperoleh nilai sebesar 0.827 atau 82.7%
kategori kuat yang berarti persamaan hasil analisis multivariat layak
digunakan untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap penerapan
Australasian Triage Scale.
Hasil perhitungan dan analisis data yang telah dilakukan pada penelitian
Fatimah (2007), variabel tingkat pendidikan, motivasi, usia dan pengalaman
kerja secara bersama sama memberikan pengaruh positif dan signifikan
terhadap variabel produktivitas kerja. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil
uji F (α = 5%) sebesar 27,860 > F tabel sebesar 8,25. Dengan demikian
hipotesis pertama dari penelitian ini yaitu bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara variable tingkat pendidikan, motivasi, usia dan pengalaman
kerja terhadap variabel produktivitas kerja terbukti kebenarannya bahwa
variabel tingkat pendidikan memiliki pengaruh paling dominan terhadap
produktivitas kerja.
Variabel pengalaman kerja mengikutinya dengan nilai thitung sebesar
3,853, motivasi 2,983, usia 2,022 dengan demikian hipotesis kedua yaitu
bahwa variabel tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang paling dominan
terhadap variabel produktivitas kerja terbukti kebenarannya.
Analisis koefisien determinasi variabel tingkat pendidikan, motivasi,
usia dan pengalaman kerja memberikan pengaruh sebesar 56,2% terhadap
variabel produktivitas kerja perawat. Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat
pendidikan, pengalaman kerja, dan usia mempunyai pengaruh yang cukup

19
besar pada kinerja keperawatan dalam hal ini adalah penerapan ATS pada
klien yang datang ke IGD.
Faizin 2008 melakukan penelitian kepada 107 perawat RSU Pandan
Arang Boyolali yang hasilnya menyatakan bahwa ada keterkaitan atau
hubungan antara tingkat pendidikan perawat dengan prestasi kerja
keperawatan begitu juga dengan lama kerja perawat berhubungan dengan
kinerja keperawatan. Hasil penelitian Santosa 2015 menunjukkan bahwa
hubungan yang sangat kuat antara pengetahuan dan tindakan perawat
p=0,002; r=0,802.
Karakteristik perawat IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten
Blitar berpendidikan D3 sebesar 22 (78,6) dan diatas D3 sebesar 6 (S1 5 (20)
dan S2 1 (1,4) ) dengan pengalaman kerja terbanyak adalah 0-2 tahun sebesar
19 (67,8). Perawat yang berstatus kepegawaian PNS sebesar 16 (57,14)
sedangkan yang mempunyai pelatihan kegawatdaruratan tersertifikasi triase
(BTLS/ ATLS/ACLS/GELS/PPGD) sebesar 21 (75).
Hal ini berarti bahwa perawat IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
berkarakteristik ketenagaan dengan tingkat pendidikan kategori menengah
dan termasuk usia dewasa awal produktif yang mempunyai pelatihan klinis
kegawatdaruratan tersertifikasi triase dan sudah berpengalaman dalam bekerja
di IGD sehingga bisa menerapkan Australasian Triage Scale secara akurat.
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar perawat akurat
menerapkan ATS yaitu 18 (64.3) dengan OR sebesar 46.50.82.0. Hasil
observasi menunjukkan bahwa perawat sebagian besar sudah menerapkan
ATS secara akurat baik dari klasifikasi level kegawatan ataupun waktu
tanggap dalam penanganan pada klien yang datang ke IGD RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa 10 (35.7) perawat
IGD tidak akurat dalam menerapkan ATS yang seharusnya diharapkan bahwa
tingkat keakuratan di IGD adalah 100% berati 0% kesalahan sehingga klien
bisa diberikan intervensi sesuai dengan kegawatannya karena ketidaktepatan
intervensi mengakibatkan nyawa klien terancam.
Hal ini sejalan dengan Forero (2012) yang menyatakan bahwa triase
dilakukan untuk memastikan bahwa klien dirawat berdasarkan level urgensi

20
klinis, memastikan pengobatan yang tepat dan tepat waktu, menempatkan
klien dengan penilaian yang paling tepat, menentukan daerah perawatan yang
tepat serta mengumpulkan informasi yang dapat berguna bagi pengembangan
triase di IGD.
Klien dengan level triase merah dengan urgensi klinis yang paling
tinggi menunjukkan lama perawatan yang lebih lama dari level triase
dibawahnya. Hal yang sama dijelaskan oleh Gilboy 2010 yang menyebutkan
bahwa level triase merah menunjukkan kondisi gawat dan darurat yang
mengandung makna bahwa klien dalam kondisi yang mengancam jiwa dan
harus segera ditangani. Kondisi mengancam jiwa tersebut membutuhkan
penanganan yang lebih komplek. klien dengan level triase merah secara nyata
menampilkan gangguan pada airway, breathing atau circulation sehinga
dibutuhkan proses resusitasi yang membutuhkan tindakan kompleks seperti
airway management, serta monitoring yang ketat dan lebih lama sebelum
diputuskan untuk dilakukan proses pemindahan ke unit lain.

SIMPULAN
Terdapat pengaruh yang bermakna faktor kepemimpinan, faktor klien
(waktu tunggu), faktor dokumentasi triase, faktor pendidikan dan pelatihan
dimana pendidikan merupakan faktor prediktor yang paling mempengaruhi
penerapan ATS.Perlu disusun kebijakan pengembangan dan peningkatan
sumber daya keperawatan melalui pengembangan program pelatihan
kegawatdaruratan klinis berkelanjutan dan pendidikan keperawatan
berjenjang.
.
3) Hasil download jurnal 2
Assessing sensitivity and specificity of the Manchester Triage System in
the evaluation of acute coronary syndrome in adult patients in
emergency care: a systematic review protocol
Menilai sensitivitas dan spesifisitas Sistem Triage Manchester dalam
evaluasi sindrom koroner akut pada pasien dewasa dalam perawatan
darurat: protokol ulasan sistematis

21
Tinjau pertanyaan / tujuan
Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk menilai sensitivitas dan spesifisitas
Sistem Triage Manchester dalam evaluasi pasien dewasa dengan sindrom
koroner akut di unit gawat darurat.

Latar Belakang Sindrom koroner akut


Acute coronary syndrome (ACS) adalah sekelompok kondisi klinis yang
mencakup infark miokard dengan atau tanpa peningkatan segmen ST dan
angina tidak stabil. Istilah infark miokard akut (AMI) dapat diterapkan ketika
ada bukti nekrosis miokardium dengan klinis. tanda yang kompatibel dengan
iskemia miokard. Infark miokard akut dapat diidentifikasi menggunakan
metode klinis termasuk elektrokardiografi (EKG), peningkatan biomarker
nekrosis miokard, dan pencitraan.2 Infark miokard akut adalah salah satu
penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, dan mungkin
merupakan manifestasi pertama penyakit arteri koroner. .2 Memperkirakan
prevalensi penyakit jantung pada populasi umum adalah tugas yang cukup
kompleks. 3 Pada 2010, prevalensi penyakit jantung dilaporkan sebagai 6,4%
di antara populasi umum di Amerika Serikat.
Salah satu manifestasi utama ACS adalah nyeri dada. Namun, bahkan
dengan adanya gejala yang khas ini, diagnosis awal ACS merupakan
tantangan bagi para profesional perawatan kesehatan yang awalnya
memperhatikan pasien-pasien ini. Beberapa penulis telah mengindikasikan
pentingnya dan sulitnya mengenali nyeri dada yang berasal dari jantung, di
mana perhatian medis segera diperlukan.5,6 Sistem Triage Manchester
Triage, atau klasifikasi risiko, adalah alat manajemen klinis yang digunakan
dalam layanan darurat untuk memandu aliran pasien ketika kebutuhan untuk
perawatan medis melebihi yang tersedia.7 Kelompok Triage Manchester
dikembangkan pada 1994 di Inggris. Tujuannya adalah untuk membangun
konsensus di antara dokter dan perawat di ruang gawat darurat dengan
menciptakan pola triase yang berfokus pada pengembangan hal-hal berikut: 7
• Nomenklatur umum • Definisi umum • Metodologi triase suara • Program
pelatihan profesional.

22
Dengan demikian, Sistem Triage Manchester (MTS) telah dibuat. MTS
menyederhanakan manajemen klinis setiap pasien, dan akibatnya, seluruh
layanan, dengan memanfaatkan sistem yang mendefinisikan prioritas klinis
untuk orang dewasa dan anak-anak. Penilaian prioritas klinis harus cepat;
oleh karena itu, dipisahkan dari proses diagnosis medis. Membatasi waktu
yang dialokasikan untuk klasifikasi pasien mencegah upaya untuk membuat
diagnosis medis pada saat klasifikasi.
Tujuan utama MTS adalah menetapkan batas waktu untuk setiap pasien
yang harus dirawat dengan aman, yaitu, tanpa risiko terhadap kesehatan
pasien.7 Salah satu prinsip utama sistem adalah semakin tinggi risiko yang
dirasakan oleh pasien. kesehatan, semakin pendek waktu tunggu untuk
kehadiran medis.8 MTS terdiri dari skala lima tingkat prioritas (Tabel 1).
Tabel 1: skala MTS dari lima tingkat prioritas dan batas waktu respons
maksimum untuk kehadiran medis.
Tabel diadaptasi dari Sistema Manchester de Classificação de Risco -
Classificação de Risco na Urgência e Emergência, 2010, p .26. MTS terdiri
dari 52 diagram alur berbeda yang “memandu” proses pengambilan
keputusan triase. Berdasarkan gejala presentasi utama pasien yang mencari
perawatan darurat, profesional perawatan kesehatan harus memilih salah satu
dari 52 diagram alur untuk melanjutkan dengan evaluasi. Klasifikasi ke dalam
satu dari lima level prioritas klinis ditetapkan untuk setiap pasien
menggunakan diagram alur yang dipilih.7,9 Kurangnya sistem klasifikasi
risiko dalam ruang gawat darurat menyiratkan kehadiran berdasarkan pertama
datang, pertama dilayani, yang dalam banyak kasus dapat membahayakan
keselamatan pasien, karena pasien yang status kesehatannya lebih tidak stabil
atau parah tidak diprioritaskan. Sensitivitas dan spesifisitas MTS MTS adalah
alat yang bertujuan untuk menentukan tingkat keparahan dan waktu tunggu
aman yang terkait untuk pasien di unit gawat darurat, menetapkan urutan
prioritas untuk perawatan medis. Ini menentukan prioritas klinis setiap pasien
yang datang ke unit gawat darurat. Dimungkinkan untuk mengevaluasi
sensitivitas dan spesifisitas MTS dengan menghitung frekuensi tingkat

23
prioritas klinis yang ditetapkan secara tepat untuk pasien yang datang ke unit
gawat darurat.
"Tes diagnostik" dapat dipahami sebagai tes laboratorium atau pencitraan:
namun, konsep yang berkaitan dengan "tes" juga berlaku untuk informasi
klinis dari temuan lain, seperti pemeriksaan fisik dan riwayat pasien.
Sensitivitas suatu tes adalah: dipahami sebagai kapasitas tes untuk mendeteksi
individu yang hadir dengan kondisi tertentu, atau proporsi individu dengan
kondisi tertentu yang telah dites positif untuk kondisi ini (true positive). Tes
yang sangat sensitif dapat digunakan pada awal proses diagnostik, ketika
sejumlah besar kemungkinan sedang dipertimbangkan, dengan maksud untuk
mengecualikan sebanyak mungkin pilihan. Kekhususan suatu pengujian
didefinisikan sebagai kapasitas pengujian untuk mengidentifikasi individu
yang tidak memiliki kondisi medis tertentu, atau proporsi individu tanpa
kondisi yang memiliki tes negatif (benar-benar negatif) .11 Sistem triase yang
menyajikan sensitivitas yang baik dapat meminimalkan terjadinya
pengangkutan, dengan cara yang sama, sistem dengan spesifisitas yang sesuai
dapat menghindari terjadinya overtriage.
Triase Sindrom Koroner Akut
Penilaian pasien dengan ACS yang dicurigai menggunakan MTS, dapat
terjadi melalui bagan alur yang berbeda, karena pasien tidak selalu memiliki
gejala dan kekhawatiran yang khas seperti nyeri dada sebagai keluhan utama.
Untuk alasan ini, selain "bagan dada" flowchart, bagan alur lainnya, termasuk
"sesak napas pada orang dewasa", "dewasa yang tidak sehat", "dewasa yang
pingsan", dan "palpitasi", memungkinkan membedakan nyeri dada dan
kondisi mendesak lainnya dari kondisi yang tidak mendesak, dan dapat
membantu penilai untuk menetapkan tingkat prioritas tertinggi untuk merawat
pasien dengan kondisi mendesak ini.
Menurut algoritma dari American Heart Association, setiap pasien yang
menunjukkan gejala ketidaknyamanan dada yang menunjukkan iskemia harus
mendapat perhatian medis dalam waktu 10 menit.13 Oleh karena itu, untuk
mengenali pasien dalam kondisi tersebut, profesional perawatan kesehatan

24
yang menerapkan MTS harus menetapkan prioritas tingkat "merah" atau
"oranye", sehingga menetapkan waktu tunggu yang aman untuk pasien ini.
Meskipun ada kriteria yang ditetapkan dengan baik untuk memprioritaskan
pasien dengan dugaan ACS, beberapa penelitian telah melaporkan kesulitan
mengevaluasi pasien dengan kondisi ini. Berbagai faktor dapat mengganggu
hasil dari proses ini, seperti presentasi atipikal dari pasien dengan ACS.
gejala, klasifikasi AMI, usia pasien, dan keterampilan profesional.
Studi primer telah membahas masalah ini dari berbagai perspektif.
Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan perawat
menggunakan MTS untuk mendeteksi pasien berisiko tinggi dengan nyeri
dada, dampaknya MTS pada mortalitas jangka pendek pada AMI, dan
sensitivitas dan spesifisitas MTS untuk pasien dengan ACS, dan untuk
menilai apakah MTS digunakan secara efektif pada pasien yang dirawat di
rumah sakit dengan diagnosis sindrom koroner akut.
Studi-studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan MTS oleh perawat
adalah metode sensitif untuk mengidentifikasi risiko tinggi nyeri dada
jantung, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai apakah
pelatihan tambahan dapat meningkatkan sensitivitas MTS.6 MTS melindungi
pasien dengan presentasi AMI dan ST yang khas. peningkatan selama infark
miokard, dan yang berusia di bawah 70 tahun. MTS memiliki sensitivitas
yang tinggi dalam memprioritaskan (segera / sangat mendesak) pasien dengan
ACS. "Kuning", indikasi untuk penilaian cepat di departemen darurat. Ini
memiliki efek positif pada waktu untuk penilaian medis pertama, tetapi tidak
memiliki efek pada waktu untuk masuk rumah sakit.15 Tinjauan sistematis
membahas tema yang sama diterbitkan. Tinjauan mengevaluasi efektivitas
MTS untuk semua kelompok pasien dan termasuk studi yang mengevaluasi
MTS dalam kaitannya dengan hasil yang berbeda. Ulasan yang diusulkan ini
berbeda karena akan mencakup studi primer dengan sub-populasi tertentu
(pasien dengan ACS). Perbedaan penting lainnya terletak pada kenyataan
bahwa ulasan yang diterbitkan tidak termasuk penilaian kritis dari studi utama
yang dimasukkan dalam ulasan. Tinjauan sistematis yang mensintesis bukti
yang tersedia tentang sensitivitas MTS untuk mengevaluasi pasien dengan

25
diagnosis medis ACS diperlukan untuk memandu keputusan terkait dengan
penggunaan atau adopsi instrumen, serta memberikan data yang dapat
berkontribusi pada peningkatan sistem.
Kata kunci :sindrom koroner akut; infark miokard; Departemen darurat;
Sistem Triage Manchester; sensitivitas dan spesifisitas.

Kriteria inklusi Jenis peserta


Ulasan ini akan mempertimbangkan studi yang mencakup pasien dewasa
(lebih dari 18 tahun) yang telah mencari perawatan darurat dengan keluhan
apa pun, telah diklasifikasikan oleh MTS, dan telah menerima diagnosis
medis ACS.Studi yang melibatkan anak-anak (18 tahun ke bawah) akan
dikeluarkan, karena meskipun instrumen dapat digunakan untuk
mengevaluasi anak-anak, ini adalah populasi dengan karakteristik yang sangat
spesifik, dan dimasukkannya studi yang dilakukan pada anak-anak dapat
membiaskan hasil. Selain itu, ACS umumnya mempengaruhi populasi orang
dewasa dan insiden sangat terkait dengan faktor-faktor risiko seperti usia,
jenis kelamin, merokok, hipertensi dan diabetes. 2,3 Jenis intervensi (s) /
fenomena yang menarik. Ulasan ini akan mempertimbangkan studi yang
mengevaluasi penggunaan MTS tanpa modifikasi dalam klasifikasi risiko
pasien. Tidak ada pembanding yang akan digunakan. Jenis hasil Ulasan ini
akan mempertimbangkan studi yang meliputi ukuran hasil sebagai berikut: •
Tingkat prioritas yang ditetapkan oleh MTS dalam evaluasi pasien dengan
diagnosis medis ACS Analisis sensitivitas atau spesifisitas MTS dalam
evaluasi pasien dengan ACS.
MTS dapat dilihat sebagai tes; dalam hal evaluasi pasien dengan ACS, tes
akan dianggap "positif" ketika klasifikasi pasien ini adalah "merah" atau
"oranye" (menetapkan perhatian medis dalam batas waktu yang aman).
Sensitivitas MTS akan ditentukan dengan menilai klasifikasi MTS dalam
kasus ACS yang didiagnosis (positif benar dan negatif palsu). Spesifisitas
MTS akan ditentukan dengan menilai klasifikasi MTS dalam kasus tanpa
diagnosis ACS (negatif asli dan positif palsu). Jenis studiTinjauan ini akan
mempertimbangkan desain penelitian eksperimental dan epidemiologis

26
termasuk uji coba terkontrol secara acak, uji coba terkontrol non-acak,
eksperimen semu, sebelum dan sesudah studi, studi kohort prospektif dan
retrospektif, studi kasus kontrol dan studi cross sectional analitik untuk
dimasukkan.
Tinjauan ini juga akan mempertimbangkan desain studi epidemiologi
deskriptif termasuk seri kasus, laporan kasus individu dan studi cross
sectional deskriptif untuk dimasukkan.
Strategi pencarian
Strategi pencarian bertujuan untuk menemukan studi yang diterbitkan dan
tidak dipublikasikan. Strategi pencarian tiga langkah akan digunakan dalam
ulasan ini. Pencarian terbatas awal MEDLINE dan CINAHL akan dilakukan
diikuti dengan analisis kata-kata teks yang terkandung dalam judul dan
abstrak, dan dari istilah indeks yang digunakan untuk menggambarkan artikel.
Pencarian kedua menggunakan semua kata kunci dan istilah indeks yang
diidentifikasi kemudian akan dilakukan di semua basis data yang disertakan.
Ketiga, daftar referensi dari semua laporan dan artikel yang diidentifikasi
akan dicari untuk studi tambahan. Studi yang diterbitkan dalam semua bahasa
akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam ulasan ini. Studi yang
diterbitkan setelah 1994 (tahun ketika MTS dibuat) akan dipertimbangkan
untuk dimasukkan dalam ulasan ini.
Basis data yang akan dicari meliputi: MEDLINE, CINAHL, Web of
Science, EMBASE, Scopus, LILACS, Bandolier, Bukti Klinis, Sains
Langsung, IBECS, ProQuest dan Cochrane Central Register of Control Trials.
Pencarian untuk studi yang tidak dipublikasikan akan mencakup: Google
scholar, Banco de Teses - CAPES dan Digital Disertertations. Kata kunci
awal yang akan digunakan adalah: Sindrom Koroner Akut, Infark Miokard,
Sistem Triage, Indeks Keparahan, Sistem Triage Manchester, sensitivitas,
spesifisitas.
Penilaian kualitas metodologis
Makalah yang dipilih untuk pengambilan akan dinilai oleh dua pengulas
independen untuk validitas metodologis sebelum dimasukkan dalam ulasan
menggunakan instrumen penilaian kritis standar dari Joanna Briggs Institute,

27
Daftar Periksa Penilaian Kritis JBI untuk Studi Akurasi Tes Diagnostik
(Lampiran I). Setiap ketidaksepakatan yang muncul antara pengulas akan
diselesaikan melalui diskusi, atau dengan pengulas ketiga.
Ekstraksi data
Data akan diekstraksi dari makalah yang dimasukkan dalam tinjauan
menggunakan alat ekstraksi data standar JBI untuk akurasi studi tes
diagnostik17 (Lampiran II). Data yang diekstraksi akan mencakup perincian
spesifik tentang intervensi, populasi, metode studi, dan hasil yang signifikan
terhadap pertanyaan tinjauan dan tujuan spesifik.
Sintesis data
Sensitivitas, spesifisitas, true positive positif (TP), false positive (FP), true
negative (TN) dan false negative (FN) akan diekstraksi langsung dari kertas.
Jika ini tidak memungkinkan, nilai akan dihitung dari data yang disediakan.
Rasio kemungkinan positif dan negatif, rasio odds diagnostik, dan interval
kepercayaan 95% akan dihitung. Data akan ditampilkan pada plot hutan dan
ROC. Data kuantitatif akan, jika mungkin dikumpulkan dalam meta-analisis
statistik menggunakan Revman 5 (Cochrane Collaboration) Keputusan untuk
melakukan meta-analisis akan mempertimbangkan dasar metodologis dan
klinis dari studi primer.10,17 Semua hasil akan dikenakan data ganda masuk.
Heterogenitas akan dinilai secara statistik menggunakan standar Chi-square
dan juga dieksplorasi menggunakan analisis subkelompok berdasarkan desain
penelitian yang berbeda termasuk dalam ulasan ini. Jika pengumpulan
statistik tidak memungkinkan, temuan akan disajikan dalam bentuk naratif
termasuk tabel dan gambar untuk membantu dalam penyajian data yang
sesuai.
Konflik kepentingan
Tidak ada konflik kepentingan yang dideklarasikan dari para peneliti.
Ucapan Terima Kasih
Para penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada staf pasca sarjana
Sekolah Perawat Universitas São Paulo atas bantuan mereka. Para penulis
juga ingin mengucapkan terima kasih kepada staf perawat Rumah Sakit
Universitas atas dorongan mereka dalam mengejar proyek ini.

28
2.4 TAHAP IV
Melakukan quality assessment/apraisal
Penilaian terhadap hasil penelitian/bukti yang didapat diperlukan untuk
menentukan apakah hasil penelitian tersebut merupakan hasil penelitian terbaik
yang tidak menimbulkan bahaya jika diterapkan.
a. Analisa CASP Checklist

CASPChecklist:11 pertanyaan untuk membantu Anda memahami Uji


Coba Terkontrol AcakRandomizedControlledTrial
Cara penggunaan:3 prinsip dalam melakukan analisis jurnal:
 Apakah hasil studi nya
valid?(Section A)
 Apa hasilnya? (SectionB)
 Akankah hasilnya membantu secara lokal? (SectionC)
Hasil ya / jumlah pertanyaan : 18/22 :
81%

Jurnal 1
Respon Komentar
Tidak
No Pertanyaan Fokus Tida
Iya dilap
k
orkan
Section A: Apakah hasil studi nya valid?
1 Apakah studi tersebut  Studi populasi √
menjelaskan  Intervensi yang √
masalahnya secara diberikan
focus  Kelopok √
control/kompar
asi √

 Hasil/ outcome
2 Apakah pembagian  Bagaimana ini √
pasien ke dalam dilakukan

29
kelompok intervensi  Apakah alokasi √
dan control dilakukan pasien
secara acak dilakukan
secara
tersembunyi
dari peneliti
dan pasien
3 Apakah semua pasien  Apakah √
yang terlibat dalam dihentikan
penelitian lebih awal
dicatat dengan benar di  Apakah pasien √
kesimpulannya? dianalisis
dalam
kelompok
untuk yang
mereka acak
4 Apakah pasien, petuga √
kesehatan
dan responden pada
penelitian ini
‘Blind’ terhadap
intervensi yang
dilaksanakan?
5 Apakah waktu √
pelaksanaan untuk
setiap grup sama?
6 Selain intervensi yang √
dilaksanakan, apakah
setiap grup
dipelakukan
sama/adil?
Seciton B: Apa hasilnya?

30
7 Seberasa besar efek  apaoutcome √
dari intervensi tersebut yang diukur?
 Apakah hasil √
dijelaskan secara
spesifik
 hasil apa yang
ditemukan untuk √

 Apa hasil dari


setiap outcome √
yang diukur
8 Seberapa tepat dan  Berapa √
akurat efek intervensi? confidence
limitnya
Seciton C: Akankah hasil membantu secara lokal?
9 Bisakah hasilnya  Apakah √
diterapkan karakteristik
populasi lokal, atau di pasien sama
konteks saat ini dengan tempat
dilingkungan bekerja/populasi
sekarang? anda?
 Jika berbeda, √
apa
perbedaannya
10 Apakah hasil  Apakah infomasi √
penelitian ini pencing yang anda
secara klinis untuk inginkan sudah
dipertimbangkan? terdapat dalam
penelitian
 Jika tidak, √
apakah akan
berpengaruh

31
terhadap
pengambilan
keputusan
11 Apakah manfaatnya Meskipun tidak √
sepadan dengan tercantum dalam
bahaya dan biaya yang penelitian,
dibutuhkan? bagaiman
menurut anda

Jurnal 2
b. Analisa CASP Checklist

CASP Checklist :11 pertanyaan untuk membantu Anda memahami Uji


Coba Terkontrol Acak Randomized Controlled Trial
Cara penggunaan:3 prinsip dalam melakukan analisis jurnal:
 Apakah hasil studi nya
valid?(Section A)
 Apa hasilnya? (SectionB)
 Akankah hasilnya membantu secara lokal? (SectionC)
Hasil ya / jumlah pertanyaan : 18/22 :
81%
Respon Komentar
Tidak
No Pertanyaan Fokus Tida
Iya dilap
k
orkan
Section A: Apakah hasil studi nya valid?
1 Apakah studi tersebut  Studi populasi √
menjelaskan  Intervensi yang √
masalahnya secara diberikan
focus  Kelopok √
control/kompar
asi √

32
 Hasil/ outcome
2 Apakah pembagian  Bagaimana ini √
pasien ke dalam dilakukan
kelompok intervensi  Apakah alokasi √
dan control dilakukan pasien
secara acak dilakukan
secara
tersembunyi
dari peneliti
dan pasien
3 Apakah semua pasien  Apakah √
yang terlibat dalam dihentikan
penelitian lebih awal
dicatat dengan benar di  Apakah pasien
kesimpulannya? dianalisis √
dalam
kelompok
untuk yang
mereka acak
4 Apakah pasien, petuga √
kesehatan
dan responden pada
penelitian ini
‘Blind’ terhadap
intervensi yang
dilaksanakan?
5 Apakah waktu √
pelaksanaan untuk
setiap grup sama?
6 Selain intervensi yang √
dilaksanakan, apakah
setiap grup

33
dipelakukan
sama/adil?
Seciton B: Apa hasilnya?
7 Seberasa besar efek  apaoutcome √
dari intervensi tersebut yang diukur?
 Apakah hasil √
dijelaskan secara
spesifik
 hasil apa yang
ditemukan untuk √

 Apa hasil dari


setiap outcome √
yang diukur
8 Seberapa tepat dan  Berapa √
akurat efek intervensi? confidence
limitnya
Seciton C: Akankah hasil membantu secara lokal?
9 Bisakah hasilnya  Apakah √
diterapkan karakteristik
populasi lokal, atau di pasien sama
konteks saat ini dengan tempat
dilingkungan bekerja/populasi
sekarang? anda?
 Jika berbeda, √
apa
perbedaannya
10 Apakah hasil  Apakah infomasi √
penelitian ini pencing yang anda
secara klinis untuk inginkan sudah
dipertimbangkan? terdapat dalam
penelitian

34
 Jika tidak, √
apakah akan
berpengaruh
terhadap
pengambilan
keputusan
11 Apakah manfaatnya Meskipun tidak √
sepadan dengan tercantum dalam
bahaya dan biaya yang penelitian,
dibutuhkan? bagaiman
menurut anda

2.5 TAHAP V
Hasil analisi jurnal
Author/ Tahun Jenis Sam Intervensi Hasil Penelitian Quali
Peneliti Penelitian ple ty
Ass
Mohamm 2018 Penelitian 28 penerapan Hasil uji menunjukkan 18/22
ad Nur ini orang sistem bahwa yang : 81%
Firdaus, merupakan
triage memenuhi syarat
Setyowati jenis
Soeharto, penelitian Australian tersebut adalah faktor
Dewi kuantitatif Triage ketenagaan
Kartikaw dengan
Scale (pendidikan) yaitu p =
ati pendekatan
Ningsih cross (ATS) 0.019 dengan nilai OR
sectional, mengobser 17.0 sehingga variabel
yang
vasi ketenagaan
bertujuan
untuk faktor (pendidikan)
menganalis kepemimp mempunyai kekuatan
is pengaruh inan, hubungan paling
antara
variabel faktor dominan
independen klien dibandingkan dengan
(faktor (waktu variabel yang lain

35
kinerja, tunggu), sedangkan untuk
faktor faktor melihat kualitas
klien,
dokument analisis multivariat
faktor
ketenagaan asi triase, dilihat melalui
, faktor faktor kemampuan kalibrasi
perlengkap
pendidika dan diskriminasi
an) dan
variabel n dan dengan metode
dependen pelatihan Hosmer and
(penerapan
Lameshow didapatkan
ATS)
nilai p = 0.572 (p =
0.05) sehingga
persamaan yang
didapatkan dari hasil
analisis multivariat
layak digunakan untuk
menentukan faktor
yang berpengaruh
terhadap penerapan
Australasian Triage
Scale.
Fernanda 2015 penelitian menetapka Hasil observasi juga
Ayache kuantitatif n batas menunjukkan bahwa
Nishi1, dengan waktu 10 (35.7) perawat IGD
Flávia de pendekatan untuk tidak akurat dalam
Oliveira cross setiap menerapkan ATS
Motta sectional,v pasien yang seharusnya
Maia1, alidity yang harus diharapkan bahwa
Dina de prior to dirawat tingkat keakuratan di
Almeida inclusion dengan IGD adalah 100%
Lopes aman, berati 0% kesalahan
Monteiro yaitu, sehingga klien bisa
da Cruz tanpa diberikan intervensi

36
risiko sesuai dengan
terhadap kegawatannya karena
kesehatan ketidaktepatan
pasien. intervensi
mengakibatkan nyawa
klien terancam.

A. Pertimbangan Kemampuan klinik perawat di ruangan/wilayah


Dari kedua jurnal di atas apabila dikaitkan dengan fenomenal kasus yang
terjadi di rawat inap RS Bhayangkara sartika asih bnadung kemampuan perawat
untuk menerapkan intervensi sangatlah penting untuk menerapkan sistem triase
yang benar yaitu dengan penerapan sistem triage Australian Triage Scale (ATS)
mengobservasi faktor kepemimpinan, faktor klien (waktu tunggu), faktor
dokumentasi triase, faktor pendidikan dan pelatihanharapanya dapat dijadikan
sebagai teori yang bisa dikembangkan lebih luas lagi bagi perawat dalam
penerapan sistem triage Australian Triage Scale (ATSdengan metode-metode baru
sebagai bagian yang membantu dalam proses peningkatan sistem kegawat
daruratan.

B. Pertimbangan kemampuan klinik mahasiswa


Bagi Program Studi Profesi Ners, diharapkan literatur ini dapat dijadikan
sebagai perkembangan teori yang dapat diterapkan dalam teori tambahan,sebagai
penerapan sistem triage Australian Triage Scale (ATS dengan metode-metode
baru sebagai bagian yang membantu dalam proses peningkatan sistem kegawat
daruratan.

37
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Triase adalah proses pengambilan keputusan yang kompleks dalam rangka
menentukan pasienmana yang berisiko meninggal, berisiko mengalami kecacatan,
atau berisiko memburuk keadaanklinisnya apabila tidak mendapatkan penanganan
medis segera.Berdasarkan definisi ini, proses triase diharapkan
mampumenentukan kondisi pasien yang memang gawat darurat, dan kondisi yang
berisiko gawatdarurat.Untuk membantu mengambil keputusan, dikembangkan
suatu sistim penilaian kondisi medis danklasifikasi keparahan dan kesegeraan
pelayanan berdasarkan keputusan yang diambil dalamproses triase. Penilaian
kondisi medis triase tidak hanya melibatkan komponen topangan hidupdasar yaitu
jalan nafas (airway), pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation) atau
disebutjuga ABC approach.
Dari jurnal di atas setelah di analisis jurnal tersebut mempunyai pengaruh
yang bermakna faktor kepemimpinan, faktor klien (waktu tunggu), faktor
dokumentasi triase, faktor pendidikan dan pelatihan dimana pendidikan
merupakan faktor prediktor yang paling mempengaruhi penerapan ATS.Perlu
disusun kebijakan pengembangan dan peningkatan sumber daya keperawatan
melalui pengembangan program pelatihan kegawatdaruratan klinis berkelanjutan
dan pendidikan keperawatan berjenjang. Dari kesimpulan analisa jurnal kedua
Dengan Sistem Triage Manchester (MTS) telah dibuat MTS menyederhanakan
manajemen klinis setiap pasien, dan akibatnya, seluruh layanan, dengan
memanfaatkan sistem yang mendefinisikan prioritas klinis untuk orang dewasa
dan anak-anak. Penilaian prioritas klinis harus cepat; oleh karena itu, dipisahkan
dari proses diagnosis medis. Membatasi waktu yang dialokasikan untuk klasifikasi
pasien mencegah upaya untuk membuat diagnosis medis pada saat klasifikasi.
Tujuan utama MTS adalah menetapkan batas waktu untuk setiap pasien
yang harus dirawat dengan aman, yaitu, tanpa risiko terhadap kesehatan pasien.
Salah satu prinsip utama sistem adalah semakin tinggi risiko yang dirasakan oleh
pasien. kesehatan, semakin pendek waktu tunggu untuk kehadiran medis.

38
3.2 SARAN
a. Bagi Perawat di Rumah Sakit
Di harapkan dapat dijadikan sebagai teori yang bisa dikembangkan lagi
bagi perawat untuk pengambilan keputusan dalam penerapan metode
triase sesuai dengan tingkat kegawat daruratan.

b. Bagi Mahasiswa
1) laporan ini dapat bermanfaat untuk kita semua khususnya tenaga
kesehatan. Dan untuk menambah wawasan serta pengetahuan
penulis tentang penerapan sistem triase
2) Mahasiswa harus mampu untuk melaksanakan EBP dalam
memberikan menerapkan metode triase sesuai dengan tingkat
kegawat daruratan pasien
3) Mahasiswa harus mampu merumuskan pembagian pengambilan
keputusan dalam penerapan triase berdasarkan evidence yang
terbaru.
4) Mahasiswa harus mampu membuat rumusan pertanyaan klinis
dengan menggunakan format PICOT.
5) Mahasiswa harus mampu melakukan pencarian evidence (hasil-
hasil penelitian) terbaru sesuai dengan pertanyaan PICOT.
6) Mahasiswa harus mampu melakukan quality assessment/apraisal
terhadap hasil penelitian yang ditemukan dengan menggunakan
format.
7) Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan hasil penelitian
terbaikdengan pandangan ahli di ruangan dan praktik klinik serta
memperhatikan nilai-nilai pasien dalam membuattindakan
keperawatan yang berdasarkan pada EBP.

39