Anda di halaman 1dari 110

HALAMAN JUDUL

HALAMAN JUDUL Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY i
HALAMAN JUDUL Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY i

TIM PENYUSUN

Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, M. Ec.

Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa, Dip.Agr.St.

Sugiyarto, M. Sc.

Arif Wahyu Widada, S.P.

Ali Hasyim Al Rosyid, S.P.

M. Sc. Arif Wahyu Widada, S.P. Ali Hasyim Al Rosyid, S.P. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik
M. Sc. Arif Wahyu Widada, S.P. Ali Hasyim Al Rosyid, S.P. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya semata, maka penyusunan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY ini dapat terselesaikan dengan baik. Master Plan ini memuat strategi pengembangan sayuran organik komoditas terpilih yang dihasilkan dengan pertimbangan nilai ekonomi, aspek teknis, serta pasar. Strategi pengembangan dirancang selama lima tahun dengan perincian kegiatan serta pemangku kepentingan yang terlibat. Penyusunan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY diharapkan dapat menjadi acuan rencana kerja untuk mengembangkan pertanian organik yang dapat meningkatkan kualitas produk pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai pihak telah banyak membantu dalam rangka penyusunan master plan ini, sehingga Dinas Pertanian DIY dalam kesempatan ini mengucapkan penghargaan dan terimakasih.

Yogyakarta,

Desember 2015

Dinas Pertanian DIY Kepala,

Ir. Sasongko, M. Si. NIP. 195912161986031007

DIY Kepala, Ir. Sasongko, M. Si. NIP. 195912161986031007 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
DIY Kepala, Ir. Sasongko, M. Si. NIP. 195912161986031007 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

TIM PENYUSUN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

BAB I. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Tujuan dan Sasaran Master Plan

4

1.3. Dasar Hukum

5

1.4. Pengertian

6

1.5. Ruang Lingkup Master Plan

6

BAB II. KERANGKA PIKIR DAN METODOLOGI

8

2.1. Kerangka Pikir Penyusunan Master Plan

8

2.2. Metodologi Penyusunan Master Plan

8

BAB III.

ARAH DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK TANAMAN SAYURAN UMUR PENDEK DI DIY

11

3.1. Visi Misi Dinas Pertanian Provinsi DIY

11

3.2. Master Plan sebagai Pedoman Pengembangan

15

3.3. Review Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik Umur Pendek di DIY

15

BAB IV. IDENTIFIKASI SAYURAN UNGGUL UNTUK PERTANIAN ORGANIK

20

4.1. Kondisi Pertanian Sayuran di Daerah Istimewa Yogyakarta

20

4.2. Analisis LQ Pengembangan Sayur Organik Umur Pendek di DIY

23

4.3. Rencana Perwilayahan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY

27

Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY 27 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY 27 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB V.

ISU STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK UMUR PENDEK DI DIY

29

5.1. Prinsip GOAP (Good Organic Agricultural Practices)

29

5.2. Peluang dan Permasalahan dalam Pengembangan Pertanian Organik

38

BAB VI. KERANGKA MODEL PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI DIY

63

6.1. Model Pengembangan Berbasis Sistem Agribisnis

63

6.2. Quadruple Helix Inovation

65

6.3. Golden Triangle Strategy

67

BAB VII. RANCANGAN PROGRAM KERJA PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK

72

7.1. Prinsip Perancangan Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik

72

7.2. Penahapan Waktu dan Isu Strategis dalam Pengembangan Sayuran Organik

75

7.3. Matriks Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik di DI Yogyakarta

79

7.4. Peran Pemangku Kepentingan (Stakeholders) dalam Pengembangan Pertanian Sayuran Organik di DIY

87

7.5. Indikator Keberhasilan dan mekanisme pengembangan pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY

93

BAB VIII. KUNCI KEBERHASILAN IMPLEMENTASI PROGRAM MASTER PLAN PERTANIAN ORGANIK

95

Daftar Pustaka

98

MASTER PLAN PERTANIAN ORGANIK 95 Daftar Pustaka 98 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
MASTER PLAN PERTANIAN ORGANIK 95 Daftar Pustaka 98 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

DAFTAR TABEL

Table 4. 1. Produksi Beberapa Sayuran di DIY Tahun 2008-2015

21

Table 4. 2

Nilai Rerata Location Quotient (LQ) Komoditas Hortikultura (Tanaman

Sayuran Umur Pendek) di Daerah Istimewa Yogyakarta

23

Tabel 5. 1

Bahan yang diperbolehkan, dibatasi, dan dilarang dalam

32

Tabel 7. 1

Rencana Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik

81

Tabel 7. 2

Peran Stakeholder dalam Pelaksanaan Program Kerja Pengembangan Pertanian Sayuran Organik di DIY

87

Kerja Pengembangan Pertanian Sayuran Organik di DIY 87 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Kerja Pengembangan Pertanian Sayuran Organik di DIY 87 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4. 1

Persentase Kontribusi Subsektor Tanaman Pangan dan Hortikultura

terhadap PDRB Sektor Pertanian di Provinsi DIY tahun

20

Gambar 4. 2

Perkembangan Luas Panen 5 Komoditas Hortikultura di DIY dari

Tahun 2010-2014 (dalam hektar)

21

Gambar 4. 4

Peta Rencana Perwilayahan Pengembangan Pertanian Organik

27

Gambar 6. 1

Bentuk Sinergi ABCG

65

Gambar 6. 2 Golden Triangle Strategy

68

Gambar 7. 1 Gambar 7. 2

Prinsip pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta Isu Strategis dan Penahapan Pengembangan Pertanian Sayuran

74

Organik

79

Gambar 8. 1

Kunci Keberhasilan dalam Implementasi Program Kerja Master Plan

Pertanian Sayuran Organik

95

Kerja Master Plan Pertanian Sayuran Organik 95 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Kerja Master Plan Pertanian Sayuran Organik 95 Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya taraf hidup, kesejahteraan dan tingkat pendidikan serta kesadaran masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian, menyebabkan meningkatnya tuntutan akan produk pangan bermutu dan aman seperti produk pertanian organik semakin meningkat. Untuk itu petani selaku produsen diharapkan dapat menjawab dan memenuhi tuntutan tersebut. Untuk memperoleh produk pangan bermutu dan aman harus dimulai dari tahap awal proses produksi, yaitu dari persiapan lahan, benih, penanaman, pemeliharaan (pemupukan, perlindungan dan pengairan) sampai kepada kegiatan panen, pasca panen, pengolahan, distribusi dan penyajian sampai pangan siap dikonsumsi. Keseluruhan proses produksi produk pangan tersebut harus memenuhi syarat sesuai dengan yang ditetapkan (Dinas Pertanian Provinsi Bali, 2014). Pertanian organik merupakan sistem manajemen produksi yang bertujuan untuk produksi yang sehat dengan menghindari penggunaan bahan kimia sintetis dalam bentuk pupuk kimia, pestisida kimia, dan zat pengatur tumbuh kimia sintetis untuk menghindari pencemaran udara, tanah dan air juga hasil produksi pertanian pada khususnya. Selain itu, pertanian organik juga menjaga keseimbangan ekosistem dan sumber daya alam yang terlibat langsung dalam proses produksi. Ada dua pemahaman tentang pertanian organik yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Pertanian organik dalam arti sempit yaitu pertanian yang bebas dari bahan – bahan kimia sintetis. Mulai dari perlakuan untuk mendapatkan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama dan penyakit sampai perlakuan pascapanen tidak sedikit pun melibatkan zat kimia sintetis, semua harus bahan hayati, alami. Sedangkan pertanian organik dalam arti yang luas, adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan bahan aditif). Dengan tujuan untuk menyediakan produk – produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya (Winarno, 2002). Pertanian Organik merupakan salah satu teknologi yang berwawasan lingkungan. Pertanian organik dipahami sebagai suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur ulang hara secara hayati (Sutanto, 2002). Perkembangan pertanian organik di

hayati (Sutanto, 2002). Perkembangan pertanian organik di Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
hayati (Sutanto, 2002). Perkembangan pertanian organik di Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Indonesia dimulai pada awal 1980-an yang ditandai dengan bertambahnya luas lahan pertanian organik, dan jumlah produsen organik Indonesia dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) yang diterbitkan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI) tahun 2009, diketahui bahwa luas total area pertanian organik di Indonesia tahun 2009 adalah 231.687,11 ha. Luas area tersebut meliputi luas lahan yang tersertifikasi, yaitu 97.351,60 ha (42 persen dari total luas area pertanian organik di Indonesia) dan luas lahan yang masih dalam proses sertifikasi (pilot project AOI), yaitu 132.764,85 ha (57 persen dari total luas area pertanian organik di Indonesia). Sistem pertanian organik berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal, tanpa aplikasi pupuk buatan dan pestisida kimiawi (kecuali bahan yang diperkenankan), sebaliknya menekankan pada pemberian pupuk organik (alam), dan pestisida hayati, serta cara-cara budidaya lainnya yang tetap berpijak pada peningkatan produksi dan pendapatan, serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (Tandisau dan Herniwati,

2009).

Pertanian organik merupakan suatu proses yang bergantung pada unsur-unsur alam dan tenaga kerja manual. Hasil pertanian organik yang baik dapat lebih tinggi dibanding konvensional, bila dikatakan sedikit dapat memperlemah keinginan petani. Pertanian organik jauh lebih sehat karena tidak adanya bahan kimia sintetik dan perubahan genetik (Avery, 2006). Buah-buahan dan sayuran yang tumbuh di suatu lahan pertanian organik ini semua alami dan diperlakukan dengan hati-hati. Pengawasan yang ketat dilakukan untuk memastikan makanan tersebut aman untuk konsumen dan petani. Buah dan sayuran yang ditanam secara organik memiliki lebih banyak nutrisi dan kandungan vitamin (Francis dan van Wart, 2009). Seperti pada pertanian berkelanjutan, terdapat berbagai definisi pertanian organik. Hal ini disebut sebagai pandangan holistik pertanian yang bertujuan untuk mencerminkan keterkaitan mendalam yang ada antara biota pertanian, produksi dan lingkungan secara keseluruhan (Feber et al., 1997). Menurut Badan Standarisasi Nasional (2002), Organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produk organik dan telah disertifikasi oleh otoritas atau lembaga sertifikasi resmi. Pertanian organik didasarkan pada penggunaan masukan eksternal yang minimum, serta menghindari penggunaan pupuk dan pestisida sintesis. Praktek pertanian organik tidak bisa menjamin bahwa produknya bebas sepenuhnya dari residu karena adanya polusi lingkungan secara umum. Namun beberapa cara digunakan untuk mengurangi polusi dari udara, tanah dan air.

digunakan untuk mengurangi polusi dari udara, tanah dan air. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
digunakan untuk mengurangi polusi dari udara, tanah dan air. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Menurut peraturan menteri Pertanian Tentang Sistem Pertanian Organik Nomor 64/Permentan/Ot.140/5/2013 Pasal 1, produk organik adalah suatu produk yang dihasilkan sesuai dengan standar sistem pangan organik termasuk bahan baku pangan olahan organik, bahan pendukung organik, tanaman dan produk segar tanaman, ternak, dan produk peternakan, produk olahan tanaman, dan produk olahan ternak (termasuk non pangan). Tanaman sayuran umur pendek termasuk ke dalam tanaman semusim sebab tanaman ini mempunyai masa hidup yang sangat singkat yaitu kurang lebih 90 hari atau sekitar tiga bulan. Tanaman ini hanya dapat dipanen satu kali dan setelah itu akan mati dan diganti dengan tanaman baru, walaupun ada beberapa sayuran yang dapat dipanen berkali-kali misalnya tomat, cabai, bayam dan kangkung potong. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan sayuran, dan jenis sayurannya pun semakin bervariasi. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan produksi tanaman sayuran antara lain dengan cara mengembangkan pertanian organik yang diharapkan dapat menghasilkan produk pertanian yang mampu bersaing di pasaran, karena pertanian organik selain mempunyai biaya produksi rendah, juga hasil panen umumnya mengandung residu bahan kimia yang relatif rendah, sehingga hasilnya digemari oleh masyarakat. Saat ini banyak konsumen yang menuntut kualitas produk pertanian yang aman untuk dikonsumsi, sehingga pengembangan pertanian organik ke depan mempunyai prospek yang bagus, jika dikelola dengan baik, dan menerapkan prinsip- prinsip pertanian berkelanjutan (Sustainable Agricultural Development) (Anonim, 2004 cit. Sarjan, 2007). Permintaan komoditas sayuran olahan oleh pasar global dunia dilaporkan mencapai sekitar 10 juta ton per tahun. Dengan demikian kemungkinan untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor sayuran dari Indonesia di masa yang akan datang masih sangat besar. Keberhasilan Indonesia dalam meraih pangsa pasar yang lebih besar akan sangat tergantung pada kemampuan memproduksi jenis-jenis sayuran yang diinginkan dan mempunyai kualitas yang sesuai dengan standar mutu internasional (Anwar dkk., 2005). Penelitian penerapan pupuk kandang matang pada sayuran pada umumnya dan sayuran buah tomat pada khususnya telah banyak dilakukan. Hasil penelitian Iskandar (2003), tanaman sayuran (pakchoy dan selada hijau) memberikan respon yang positif terhadap aplikasi bokashi. Produktivitas bawang merah juga meningkat setelah aplikasi bahan organik (Pangaribuan, 1998). Penelitian tomat oleh Hilman dan Nurtika (1992)

1998). Penelitian tomat oleh Hilman dan Nurtika (1992) Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
1998). Penelitian tomat oleh Hilman dan Nurtika (1992) Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 20 t/ha dapat meningkatkan bobot buah dan jumlah buah tomat. Pupuk kandang dalam penelitian di atas tidak dijadikan kompos terlebih dahulu atau tanpa bantuan suatu mikroorganisme. Demikian juga penelitian Rahardjo et al. (2003), pemberian pupuk organik berupa sampah kota dan sampah desa dapat meningkatkan tinggi tanaman dan produksi buah tomat (Pangaribuan dan Pujisiswanto, 2008). Hasil penelitian Priastuti dkk. (2014) menunjukkan bahwa semakin luasnya lahan sayuran organik di Indonesia dari tahun 2007 sampai 2011 yang mengalami peningkatan luas lebih dari 180.000 ha, mengidentifikasikan semakin banyaknya permintaan konsumen akan sayuran organik. Manfaat yang diberikan untuk tubuh akan lebih baik bila dibandingkan sayuran yang di tanam dengan menggunakan pestisida, maka dari itu, ditunjang dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi sayuran sehat serta kemudahan dan kegemaran masyarakat dalam mengkonsumsi sayuran organik ini, maka potensi yang dimiliki oleh Indonesia dalam memproduksi sayuran-sayuran organik dan selalu meningkatnya permintaan pasar akan sayuran tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang bergerak di bidang agribisnis sayuran organik untuk memenuhi permintaan pasar serta mengembangkan usahanya. Meningkatnya pelaku usaha sayuran organik berarti meningkat pula persaingan dalam memenangkan pasar. Oleh karena itu diperlukan analisis untuk merumuskan strategi terbaik dan tepat untuk dapat meningkatkan keunggulan kompetitif tersebut.

1.2. Tujuan dan Sasaran Master Plan 1.2.1. Tujuan Secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyusun Master Plan

pengembangan pertanian organik tanaman sayuran unggulan umur pendek. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan kegiatan sebagai berikut:

a. Menganalisis komoditas unggulan tanaman sayuran umur pendek di DIY.

b. Mengidentifikasi permasalahan dan peluang dalam pengembangan pertanian organik tanaman sayuran unggulan umur pendek di DIY.

c. Menyusun rencana kegiatan dalam rangka pengembangan pertanian organik tanaman sayuran unggulan umur pendek dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.

unggulan umur pendek dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman
unggulan umur pendek dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman

1.2.2. Sasaran

Master Plan yang disusun akan menjadi pedoman umum dalam rangka :

a. Pengembangan pertanian organik khususnya tanaman sayuran umur pendek berbasis kawasan.

b. Perubahan pola pikir petani menuju pengelolaan pertanian organik tanaman

sayuran umur pendek yang berbasis agribisnis.

1.3. Dasar Hukum

a. Undang-Undang No 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta;

b. Undang - Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2008;

c. Undang - Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

d. Undang-Undang No. 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura;

e. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

f. Peraturan Presiden Nomor : 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

g. Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Perpres Nomor 54 Tahun 2010;

h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan

i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan tugas Pembantuan;

j. Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 72/PMK.02/2014 tentang Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015;

k. Peraturan Daerah Provinsi DIY No. 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Prov. D.I.Y.;

l. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 38 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pertanian;

Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pertanian; Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pertanian; Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

m.

Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pertanian;

n. Kerangka Acuan Kerja (KAK) Penyusunan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik DIY Tahun 2015;

1.4. Pengertian

Pengertian dalam Master Plan ini adalah sebagai berikut:

a. Master Plan adalah rencana induk pengembangan tanaman sayuran umur pendek yang berisi uraian kebijakan dan program.

b. Road Map adalah peta jalan dalam pengembangan sayuran organik umur pendek di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk periode 5 tahun, dari tahun 2015-

2020.

c. Hortikultura adalah cara atau teknik bercocok tanam yang menggunakan media kebun atau pekarangan sebagai lahan. Tanaman hortikultura meliputi tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan obat-obatan.

d. Sayuran umur pendek adalah komoditas sayuran tanaman semusim yang mempunyai masa hidup yang singkat yaitu kurang lebih 90 hari atau sekitar tiga

bulan.

e. Daerah pengembangan sayuran umur pendek merupakan daerah sentra pengembangan komoditas terpilih yang merupakan daerah dengan komoditas terpilih menjadi komoditas basis.

1.5. Ruang Lingkup Master Plan

1.5.1. Ruang Lingkup Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dari 33 provinsi di wilayah Indonesia dan terletak di Pulau Jawa bagian tengah. Secara geografis

terletak antara 7º.33´ - 8º.12´ Lintang selatan dan 110º.00´ – 110º.50´ Bujur Timur . Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan dibatasi oleh Lautan Indonesia, sedangkan di bagian timur laut, tenggara, barat, dan barat laut dibatasi oleh wilayah provinsi Jawa Tengah yang meliputi (Badan Pusat Statistik DIY, 2015) :

a. Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Kabupaten Klaten.

b. Sebelah Tenggara berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri.

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

d. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Kabupaten Magelang.

d. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
d. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Luas wilayah Propinsi D. I. Yogyakarta adalah 3.185,80 km 2 atau 0,17 persen

luas wilayah Indonesia (1.890.754 km 2 ). Propinsi D.I. Yogyakarta terbagi dalam empat kabupaten dan satu kota,yang terdiri dari (Badan Pusat Statistik DIY, 2015):

a. Kabupaten Kulonprogo dengan luas wilayah 586,27 km 2 (18,40 persen).

b. Kabupaten Bantul dengan luas wilayah 506,85 km 2 (15,91 persen).

c. Kabupaten Gunungkidul dengan luas wilayah 1.458,36 km 2 (46,63 persen).

d. Kabupaten Sleman dengan luas wilayah 574,82 km 2 (18,04 persen).

e. Kota Yogyakarta dengan luas wilayah 32,50 km 2 (1,02 persen).

Berdasarkan informasi dari Badan Pertanahan Nasional, dari 3.185,80 km 2 luas D.I. Yogyakarta 35,93 persen merupakan jenis tanah Lithosol, 10,45 persen Grumusol, 10,30 persen Mediteran, 2,23 persen Alluvial, dan 1,74 persen adalah tanah jenis Rensina. Dan sebagian besar wilayah D.I. Yogyakarta terletak pada ketinggian antara 100 m – 499 m dari permukaan laut tercatat sebesar 63,18 persen, ketinggian kurang dari 100 m sebesar 31,56 persen, ketinggian antara 500 m – 999 m sebesar 4,79 persen dan ketinggian di atas 1000 m sebesar 0,47 persen.

1.5.2. Ruang Lingkup Kegiatan Pengembangan pertanian organik tanaman sayuran di DIY perlu mempertimbangkan berbagai elemen untuk dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan. Pembangunan ini tidak hanya mencangkup sektor on farm saja, tetapi juga mencangkup pemerintahan dan berbagai pemangku kepentingan di bidang input pertanian hingga pemasarannya. Untuk itu, perlu disusun suatu road map yang efektif dan efisien di dalam master plan pengembangan pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY.

pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB II. KERANGKA PIKIR DAN METODOLOGI

2.1.

Kerangka Pikir Penyusunan Master Plan Kerangka pikir pengembangan pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY didasarkan pada visi dan misi Dinas Pertanian DIY dalam mewujudkan pertanian tangguh berdaya saing, berbasis potensi lokal, dan berkelanjutan, sebagai penggerak perekonomian regional. Penyusunan master plan ini dimulai dengan memperhatikan kondisi saat ini dan apa yang diharapkan pada 5 tahun mendatang. Kondisi pertanian organik di DIY saat ini belum optimal dengan rendahnya kuantitas produksi, masih sedikit jumlah petani yang membudidayakan secara organik, pola pikir petani yang masih berorientasi pada pertanian konvensional/produksi (belum berorientasi pada bisnis), hingga sulitnya pemasaran sayuran organik yang sudah ada. Pada lima tahun yang akan datang diharapkan pertanian organik di DIY khususnya sayuran umur pendek dapat meningkat kuantitas dan kualitas produksinya, bertambahnya petani maupun kelompok tani yang berusahatani secara organik dan berorientasi pada bisnis, serta semakin mudahnya produk organik untuk masuk ke dalam pasar. Untuk menjembatani kondisi saat ini dan yang diharapkan pada lima tahun yang akan datang maka disusunlah program kerja dan kebijakan yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan berkembangnya pertanian organik tanaman sayuran umur pendek di DIY.

2.2.

Metodologi Penyusunan Master Plan

2.2.1.

Metode Dasar Metode penyusunan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY dilakukan dengan metode dasar deskriptif analisis. Metode dasar yang digunakan merupakan metode penelitian deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilaksanakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu peristiwa pada saat sekarang (Nasir, 2011).

2.2.2.

Jenis Data Data yang digunakan meliputi data kuantitatif dan data kualitatif yang meliputi data teknis, data sosial ekonomi, dan data pendukung lainnya. Data kuantitatif

sosial ekonomi, dan data pendukung lainnya. Data kuantitatif Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sosial ekonomi, dan data pendukung lainnya. Data kuantitatif Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

didapatkan dari berbagai sumber yaitu data primer (survei lapangan) dan data sekunder yang relevan dengan penyusunan Master Plan.

2.2.3. Metode Pengambilan Data

a. Wawancara Wawancara dilakukan secara langsung dengan petani pertanian organik dan non organik untuk mencari data secara aktual baik kuantitatif dan kualitatif. Wawancara ditujukan untuk mendapatkan informasi mendalam berkaitan dengan usahatani organik yang sejauh ini telah dilakukan seperti motivasi petani, teknik budidaya, perkembangan harga panen, hingga pemasaran sayuran organik.

b. Diskusi Terfokus / Forum Group Discussion Diskusi Terfokus atau Forum Group Discusion secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah atas suatu isu atau masalah tertentu. Metode ini digunakan untuk melengkapi data riset kuantitatif (survei). Hasil diskusi terfokus memang tidak bisa dipakai untuk melakukan generalisasi, karena FGD memang tidak bertujuan sebagai representasi suara masyarakat. Meski demikian, arti penting diskusi terfokus bukan terletak pada representasi hasil dengan populasi, tetapi pada kedalamannya. Melalui diskusi terfokus dapat diketahui alasan, motivasi, argumentasi atau dasar dari pendapat seseorang sehingga akan sangat bermanfaat dalam penyusunan laporan hasil kajian (Paramita dan Kristiana, 2013). Diskusi terfokus yang dilaksanakan dalam penyusunan master plan ini adalah diskusi terfokus yang sifatnya terbatas, yaitu hanya melibatkan stakeholder yang berkepentingan dalam master plan ini, dalam hal ini Dinas Pertanian DIY dan Akademisi Fakultas Pertanian UGM menjadi peserta diskusi terfokus. Tujuan dari dilaksanakan diskusi terfokus ini adalah untuk menjaring aspirasi dari para pemangku kebijakan dalam hal pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di DIY. Sehingga diharapkan master plan ini dapat menjadi acuan kebijakan pengembangan sayuran organik umur pendek yang aplikatif.

c. Penelusuran Data Sekunder Data sekunder adalah data relevan yang telah tersedia pada berbagai sumber data yang dapat digunakan. Data sekunder yang digunakan meliputi data produksi,

Data sekunder yang digunakan meliputi data produksi, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Data sekunder yang digunakan meliputi data produksi, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

produktivitas, dan luas panen tanaman sayuran di DIY, harga tanaman sayuran, jumlah petani, lembaga pertanian, dan berbagai data lainnya.

2.2.4

Metode Analisis Data Salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis komoditas sayuran unggulan adalah metode Location Quotient (LQ). Secara umum teknik LQ membandingkan nilai produksi sayuran/nilai tambah untuk sektor tertentu di suatu daerah dibandingkan dengan nilai produksi sayuran/nilai tambah untuk sektor yang sama di daerah yang jenjangnya lebih tinggi. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai LQ adalah sebagai berikut (Bendavid, 1974):

=
=

Berdasarkan rumus tersebut, apabila nilai LQ ≥ 1 berarti bahwa nilai produksi sektor i di daerah analisis (kecamatan/kabupaten) terhadap total produksi daerah analisis (kecamatan/kabupaten) adalah lebih besar dibandingkan dengan produksi sektor i kabupaten/provinsi terhadap total produksi kabupaten/provinsi. Jika LQ ≥ 1 memberikan indikasi bahwa sektor atau komoditas sayuran tersebut adalah basis, sedangkan apabila LQ < 1 berarti sektor atau komoditas sayuran tersebut adalah non basis.

sektor atau komoditas sayuran tersebut adalah non basis. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sektor atau komoditas sayuran tersebut adalah non basis. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB III. ARAH DAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK TANAMAN SAYURAN UMUR PENDEK DI DIY

3.1. Visi Misi Dinas Pertanian Provinsi DIY

3.1.1. Visi Dinas Pertanian DIY Pembangunan sub sektor hortikultura khususnya tanaman sayuran umur pendek menjadi tanggung jawab empat pilar utama yaitu pemerintah (government), akademisi (academician), dunia usaha (business), dan masyarakat hortikultura khususnya tanaman sayuran umur pendek. Peran pemerintah dalam pembangunan sayuran organik umur pendek dilaksanakan pada pengembangan tugas dan fungsi Dinas Pertanian. Pembangunan sub sektor hortikultura khususnya tanaman organik umur pendek diarahkan pada terwujudnya budidaya tanaman sayuran organik umur pendek yang bersifat komersial dan efisien, dengan menerapkan prinsip-prinsip agribisnis dan teknologi tepat guna, yang berimplikasi pada peningkatan nilai tambah dan perbaikan pendapatan masyarakat sayuran umur pendek. Berdasarkan hasil pencermatan terhadap terhadap kondisi sub sektor hortikultura khususnya sayuran umur pendek di DIY dan berbagai isu strategis, visi pembangunan sayuran organik umur pendek di DIY secara umum dirumuskan sebagai berikut : Terwujudnya pertanian tangguh sebagai penyedia produk pertanian yang aman, berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan (Dinas Pertanian DIY, 2011). Untuk mengantisipasi tantangan dan perkembangan ke depan baik pada tingkat lokal, nasional, regional, maupun global, Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta perlu melakukan perubahan ke arah perbaikan dengan menetapkan visi, yaitu : Mewujudkan pertanian tangguh berdaya saing, berbasis potensi lokal, dan berkelanjutan, sebagai penggerak perekonomian regional. Penjelasan visi tersebut adalah sebagai berikut (Dinas Pertanian DIY, 2011):

a. Pertanian yang dimaksud adalah sistem pengusahaan lahan dan ternak yang pada pokoknya terdiri atas aktivitas budidaya dan perbibitan dengan memanfaatkan semua potensi sumber daya serta sarana dan prasarana yang diperlukan. Di samping itu, aspek pengolahan dan pemasaran produk yang terjamin organiknya juga harus dilakukan secara simultan. Dengan demikian sistem budidaya sayuran umur pendek secara organik yang akan dikembangkan bersifat komprehensif, berwawasan agribisnis, yang meliputi sub sistem hulu (up

berwawasan agribisnis, yang meliputi sub sistem hulu ( up Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
berwawasan agribisnis, yang meliputi sub sistem hulu ( up Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

stream), yakni input atau sarana; sub sistem usahatani (on farm), yakni kegiatan menggunakan input, sarana sumber daya alam untuk menghasilkan komoditas sayuran organik umur pendek, sub sistem pengolahan hilir (down stream), yakni industri mengolah komoditas pertanian primer menjadi produk antara atau produk akhir; subsistem pemasaran (marketing), yakni kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas sayuran organik umur pendek; subsistem jasa, yakni penyediaan data bagi subsistem hulu ke hilir, seperti penelitian dan pengembangan, perkreditan, asuransi, transportasi, penyuluhan, sistem informasi dan dukungan kebijakan pemerintah.

b. Tangguh berarti mampu menghadapi berbagai goncangan, yang dimungkinkan oleh kemandirian petani sayuran organik umur pendek karena tidak harus bergantung pada faktor-faktor luar. Pertanian sayuran organik yang tangguh berarti pertanian yang efisien, berbasis pada pengetahuan dan teknologi yang ramah lingkungan, dengan meminimalkan ketergantungan pada input eksternal dan pihak luar, melalui penggunaan sarana produksi pertanian organik secara bijaksana yang bisa menjamin kelestarian lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Pertanian sayuran organik yang tangguh dicirikan oleh kemampuannya dalam menyediakan produk sayuran organik yang berkualitas dalam jumlah cukup, mutu yang terjamin, dan berkelanjutan, dan pada saat yang sama terjadi peningkatan kesejahteraan petani sayuran organik umur pendek.

c. Berdaya saing dicirikan antara lain oleh pilihan komoditas yang unggulan dan bentuk ketersediaan berdasarkan orientasi pasar (market oriented), upaya terus- menerus untuk meningkatkan kualitas produk agar mampu merebut pangsa pasar dan mengandalkan produktivitas dan nilai tambah melalui pemanfaatan modal, inovasi teknologi serta kreativitas sumber daya manusia dan bukan lagi mengandalkan kelimpahan sumber daya alam dan tenaga kerja yang tidak terdidik.

d. Berbasis potensi lokal adalah bahwa pengembangan sayuran organik umur pendek di DIY harus berdasar pada seperangkat kekuatan nilai positif dan kearifan yang dapat digali dari khazanah budaya yang adiluhung, seperi semangat gotong-royong, kebersamaan, hubungan saling memberi dengan alam, dan penyelarasan praktek pertanian dengan perilaku alam.

e. Berkelanjutan maksudnya adalah terus bergerak tanpa henti

Berkelanjutan maksudnya adalah terus bergerak tanpa henti Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Berkelanjutan maksudnya adalah terus bergerak tanpa henti Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

f. Penggerak perekonomian regional adalah memiliki arti yang penting untuk menggerakkan perekonomian petani sayuran organik di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun daerah di sekitarnya. g. Pertanian dengan atribusi atau kualitas semacam itu akan terjamin keberlanjutannya karena berlandaskan pada perangkat nilai yang luhur.

3.1.2. Misi Dinas Pertanian DIY Pernyataan misi dimaksudkan agar seluruh aparat Dinas mengetahui peran yang akan dilakukan Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mencapai tujuan. Pernyataan misi mengandung hal-hal yang diemban oleh Dinas Pertanian Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Mengingat pernyataan visi di muka mendasarkan diri pada peran yang bisa dilakukan oleh Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka mewujudkan pertanian tangguh, maka misi Dinas perlu mencakup dua sudut pandang, yakni sudut pandang ke dalam (inward looking) dan sudut pandang keluar

(outward looking). Selengkapnya, misi Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut (Dinas Pertanian DIY, 2011):

a. Meningkatkan profesionalisme aparatur Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta

b. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani, dan

c. Mendorong peningkatan produksi, kualitas, dan nilai tambah produk pertanian

melalui peningkatan ketersediaan dan optimasi pemanfaatan sarana atau prasarana pertanian daerah, teknologi yang spesifik dan ramah lingkungan. Pengembangan subsektor hortikultura khususnya sayuran organik umur pendek, termasuk pengembangan kuantitas dan kualitas sayuran organik umur pendek sesuai dengan misi Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta yang ketiga yaitu mendorong peningkatan produksi, kualitas, dan nilai tambah produk pertanian melalui peningkatan ketersediaan dan optimasi pemanfaatan sarana atau prasarana pertanian daerah, teknologi yang spesifik dan ramah lingkungan. Misi mendorong peningkatan produksi, kualitas, dan nilai tambah produk pertanian melalui peningkatan ketersediaan dan optimasi pemanfaatan sarana atau prasarana pertanian daerah, teknologi yang spesifik dan ramah lingkungan dimaknai sebagai misi yang diemban untuk meningkatkan daya saing produk hortikultura khususnya untuk sayuran organik umur pendek guna memacu pertumbuhan ekonomi daerah

organik umur pendek guna memacu pertumbuhan ekonomi daerah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
organik umur pendek guna memacu pertumbuhan ekonomi daerah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

yang berkualitas dan berwawasan ramah lingkungan. Misi ini juga mengemban upaya untuk meningkatkan produktivitas petani sayuran organik di DIY agar lebih berkontribusi dalam pembangunan daerah dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mengurangi tingkat kemiskinan, mengurangi ketimpangan pendapatan, meminimalkan pengangguran, membangkitkan daya saing, serta yang tak kalah penting adalah meningkatkan konsumsi sumber makanan yang sehat bagi konsumen, petani dan lingkungan.

3.1.3. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pertanian DIY Berdasarkan Peraturan Daerah DIY Nomor: 6Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah DIY dan Peraturan Gubernur Nomor :38 Tahun 2008 Bab II Pasal 2 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian, maka tugas, fungsi, dan struktur organisasi Dinas Pertanian DIY adalah sebagai berikut (Dinas Pertanian DIY, 2011):

a. Tugas Pokok Dinas Pertanian DIY diberikan tugas untuk melaksanakan urusan Pemerintah Daerah di bidang pertanian, kewenangan dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang diberikan oleh Pemerintah.

b. Fungsi

1)

Penyusunan program dan pengendalian bidang pertanian

2)

Perumusan kebijakan teknis bidang pertanian

3) Pelaksanaan, Pengembangan, Pengolahan, dan Pemasaran tanaman

4)

pangan, hortikultura, peternakan. Pelaksanaan koordinasi perizinan di bidang pertanian.

5)

Pelaksanaan pelayanan umum sesuai dengan kewenangannya.

6)

Pemberian fasilitasi penyelenggaraan bidang pertanian kabupaten/kota.

7)

Penyelenggaraan kegiatan di bidang pertanian lintas kabupaten/kota.

8)

Pemberdayaan sumber daya pertanian dan mitra kerja di bidang pertanian.

9)

Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan.

10) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas

dan fungsinya. Dinas pertanian DIY mempunyai wewenang untuk membuat kebijakan pembangunan pertanian yang salah satunya dituangkan dalam program

pertanian yang salah satunya dituangkan dalam program Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pertanian yang salah satunya dituangkan dalam program Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di DIY yang bertujuan salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

3.2. Master Plan sebagai Pedoman Pengembangan Master Plan merupakan dokumen yang menjadi pedoman atau acuan yang merupakan penjabaran dari arah pengembangan kebijakan yang terdapat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di bidang pengembangan sayuran organik umur pendek. Master Plan ini merupakan rujukan dalam penyusunan kebijakan umum anggaran, prioritas program, dan program yang akan dilaksanakan setiap tahunnya untuk pengembangan sayuran organik umur pendek di DIY. Anggaran prioritas untuk melaksanakan program ini dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Master Plan ini juga digunakan sebagai dasar penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Oleh karena itu muatan utama dalam master plan ini adalah program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh bidang pertanian khususnya bidang hortikultura dalam konteks akuntabilitas kinerja dan manajerial yang mencakup kegiatan yang dibiayai dengan dana APBD, dana dekonsentrasi, serta sumber dana lain yang tidak mengikat. Master Plan ini akan menjadi arah pengembangan dan tolok ukur dalam penilaian pertanggungjawaban Bidang Pertanian khususnya hortikultura untuk pengembangan sayuran organik umur pendek pada setiap akhir tahun anggaran.

3.3. Review Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik Umur Pendek di DIY Setiap program yang disusun termasuk penyusunan master plan pengembangan tanaman organik sayuran umur pendek di DIY harus berlandaskan pada pembangunan sektor pertanian yang tidak mengesampingkan perhatian terhadap sisi ekonomi, lingkungan dan kesehatan. Tinjauan rencana pembangunan sektor pertanian ditujukan untuk melihat dan menentukan rekomendasi mengenai langkah strategis untuk meningkatkan taraf hidup petani, kualitas lingkungan serta kesehatan pangan, petani, dan konsumen. Review Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik Umur Pendek di DIY didasarkan pada rencana pembangunan pemerintah DIY yang tercantum dalam RPJP dan RPJMD DIY. Tinjauan ini diawali dengan uraian mengenai arahan kebijakan pembangunan jangka panjang DIY sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)

DIY sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
DIY sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

DIY 2005-2025. Uraian berikutnya adalah arahan kebijakan yang lebih spesifik pada

pembangunan jangka menengah DIY yang tertuang dalam Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY. Tinjauan terhadap kedua acuan pembangunan

ini ditujukan untuk mendapatkan pertimbangan yang komprehensif dalam pembangunan

sektor pertanian dengan program pengembangan tanaman organik sayuran umur

pendek di DIY.

3.3.1. RPJP DIY 2005-2025

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Istimewa Yogyakarta (RPJP

DIY) merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20

tahun ke depan (2005-2025). Di dalamnya memuat visi, misi, arah kebijakan

pembangunan yang digunakan sebagai dasar perencanaan, pelaksanaan, dan

evaluasi pembangunan Daerah. Penyusunan RPJP DIY mendasarkan pada kondisi

obyektif, potensi riil, permasalahan serta kebutuhan nyata daerah yang merangkum

seluruh aspirasi masyarakat DIY dengan segala konsekuensi pertumbuhan dan

perkembangannya, yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi DIY.

RPJP DIY dibuat untuk menjadi dasar bagi penyusunan dokumen

perencanaan pembangunan dan dokumen lainnya, dan juga dijadikan “acuan”

sebagai dasar penyusunan dokumen perencanaan pembangunan di tingkat

kabupaten/kota. Rencana yang termuat di dalam RPJP DIY merupakan rencana

jangka panjang dari semua aspek pembangunan yang akan dilaksanakan dengan

memperhatikan arah kebijakan dan prioritas pembangunan.

Terkait dengan kegiatan penyusunan master plan pengembangan tanaman

organik sayuran umur pendek, di dalam RPJP DIY telah dituliskan pada harapan

capaian pembangunan lima tahun ketiga 2015-2019 sebagai berikut (DPPKA Provinsi

DIY, 2007):

“Membentuk sikap petani yang berorientasi kemajuan dan keuntungan (petani

progressive) serta mudah menerima pengenalan metode tanam, teknologi, maupun

komoditas yang lebih maju, dengan prioritas:”

a. Peningkatan jiwa usaha, progressivitas dan adoptivitas petani dalam merespon permintaan dan peluang pasar didukung perbaikan infrastruktur dan permodalan.

b. Mempertahankan lahan pertanian untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

c. Pengembangan benih unggul menuju pasar dalam negeri.

c. Pengembangan benih unggul menuju pasar dalam negeri. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
c. Pengembangan benih unggul menuju pasar dalam negeri. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

d.

Perkuatan pembangunan industri pengolahan dan peningkatan keanekaragaman

yang mempunyai nilai komersial dan menguntungkan. Dalam capaian RPJP yang diharapkan pada lima tahun ketiga 2015-2019 diharapkan terbentuknya sikap petani yang berorientasi pada kemajuan dan keuntungan. Pengembangan pertanian organik menuntut petani untuk berpikiran maju, yaitu maju dalam hal penggunaan input, budidaya, pemanenan, serta kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan demi keberlanjutan. RPJP DIY menegaskan petani juga harus berorientasi pada keuntungan, yaitu pengembangan pertanian organik harus bisa memberikan nilai tambah kepada petani dibandingkan dengan pertanian konvensional. Dengan kata lain, kebijakan yang diambil bukanlah suatu insidensial tetapi merupakan kebijakan pembangunan yang dapat mengakomodasi kepentingan pemerintah, petani, dan masyarakat pada umumnya. RPJP DIY juga memiliki harapan yaitu pada capaian pembangunan lima tahun keempat 2020-2025 : “Membentuk petani yang dinamis, mandiri, berlandaskan semangat gotong-royong dan berorientasi kesejahteraan, dengan prioritas perkuatan, pengembangan, dan pemantapan kelembagaan petani yang berorientasi kemajuan, keuntungan, dan kesejahteraan serta berdasarkan kekhasan kultur gotong-royong.” Hal ini berarti pada tahun 2020-2025 petani dituntut untuk mulai berorientasi pada pasar dan mengembangkan komoditas pertanian yang memberikan keuntungan lebih baik. Mengingat keadaan status petani yang mayoritas adalah petani gurem, maka sudah saatnya dituntut adanya optimalisasi fungsi kelompok tani sebagai wadah transfer informasi dan teknologi serta menjalankan fungsinya sebagai pemacu kinerja pemasaran produk pertanian yang dihasilkan. RPJP DIY tahun 2005-2015 menekankan bahwa petani harus bisa berorientasi pada kemajuan dan keuntungan dan dapat menerima teknologi. Tetapi dalam perencanaan belum secara eksplisit menyebutkan bahwa salah satu cara untuk menuju pada tujuan adalah dengan mengembangkan pertanian organik tanaman sayuran umur pendek.

3.3.2. RPJMD 2012-2017 Pengembangan pertanian organik harus sejalan pula dengan pembangunan jangka menengah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY. RPJMD DIY 2012 – 2017 adalah dokumen perencanaan

DIY. RPJMD DIY 2012 – 2017 adalah dokumen perencanaan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
DIY. RPJMD DIY 2012 – 2017 adalah dokumen perencanaan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

daerah untuk periode lima tahun setelah Gubernur dilantik pada tanggal 10 Oktober 2012, yang dimaksudkan untuk memberikan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Tahun 2012 – 2017 yang harus dilaksanakan secara terpadu, sinergis, harmonis, dan berkesinambungan. RPJMD DIY memuat berbagai rencana pembangunan yang salah satu di dalamnya memuat permasalahan dan harapan terhadap bidang pertanian. Pengembangan pertanian organik tentunya harus bisa menjadi jawaban dari permasalahan di bidang pertanian dan memberi harapan sebagai berikut:

a. Agribisnis pertanian yang didukung pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian melalui pola pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan masih kurang optimal. Pola pertanian berkelanjutan dapat ditempuh dengan memperhatikan keselarasan dengan lingkungan yaitu salah satunya dengan bertani secara organik.

b. Kualitas SDM dan kelembagaan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani masih kurang. Bertani organik menuntut petani untuk mengembangkan berbagai teknologi untuk mengefisienkan penggunaan input agar bisa berkelanjutan dan juga sebagai peningkatan mutu dan nilai produksi pertanian.

c. Produksi, produktivitas, dan mutu tanaman pangan khususnya hortikultura dalam rangka berkontribusi pada pencapaian swasembada nasional belum mengalami peningkatan yang signifikan. Bertani organik dengan mengandalkan berbagai teknologi yang diterapkan, selain dapat menjaga produksi dan produktivitas maka tentu akan meningkatkan mutu produksi hortikultura yang semakin diminati oleh pasar yang semakin sadar terhadap kebutuhan akan kesehatan.

d. Pengembangan pertanian ramah lingkungan

Pertanian ramah lingkungan adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menekan penggunaan pupuk buatan, pestisida kimia, dan menekan pencemaran udara, tanah, serta air. Pengembangan pertanian ramah lingkungan dilakukan dari hulu ke hilir mulai dari bibit, cara budidaya, pengairan, pengendalian hama, hingga pengolahan pasca panen. Pengembangan pertanian ramah lingkungan di DIY yang sudah dilakukan meliputi pemanfaatan bahan organik untuk pertanian mulai dari bibit yang bukan merupakan hasil rekayasa genetik, penggunaan pupuk organik, pemanfaatan agensia hayati dalam pengendalian hama terpadu, hingga

agensia hayati dalam pengendalian hama terpadu, hingga Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
agensia hayati dalam pengendalian hama terpadu, hingga Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

pengembangan Integrated Farming yang mengintegrasikan pengembangan pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan dalam kawasan tertentu yang mengedepankan zero waste (nihil limbah).

Integrated Farming (IF) menurut RPJMD D I Y tahun 2012-2017, merupakan keseluruhan pengelolaan usahatani secara terpadu untuk mengusahakan produksi yang efisien dan menguntungkan sekaligus ramah lingkungan. Integrated Farming merupakan usahatani yang memenuhi kaidah- kaidah sebagai berikut:

a. Meminimalkan dampak negatif pertanian modern.

b. Meminimalkan pencemaran oleh bahan kimia beracun (pupuk, pestisida dan herbisida).

c. Mencegah resistensi hama.

d. Menghindari berkurangnya keragaman spesies hewan dan tumbuhan akibat pertanian monokultur.

e. Mengurangi ketergantungan pada input luar tak terbarukan.

f. Meningkatkan efisiensi usahatani melalui minimisasi input luar.

Belum terdapat uraian secara eksplisit tentang pengembangan pertanian organik tanaman sayuran umur pendek sebagai salah satu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan RPJMD DIY tahun 2012-2017. Agar tujuan dari pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek dapat tercapai, maka sangat perlu adanya keselarasan program dengan rencana pembangunan dan harapan yang tertuang dalam RPJP dan RPJMD DIY. Hal tersebut dapat tercapai dengan sistem yang saling terintegrasi mulai dari perubahan mind set petani dan konsumen, penanganan teknologi input, budidaya, pasca panen dan prosesing, penciptaan pasar, serta optimalisasi kelembagaan dalam pengembangan pertanian organik khususnya untuk sayuran umur pendek di DIY.

organik khususnya untuk sayuran umur pendek di DIY. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
organik khususnya untuk sayuran umur pendek di DIY. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB IV. IDENTIFIKASI SAYURAN UNGGUL UNTUK PERTANIAN ORGANIK

4.1. Kondisi Pertanian Sayuran di Daerah Istimewa Yogyakarta

Sektor pertanian termasuk ke dalam sektor utama yang menjadi perhatian

dalam rencana pembangunan di DIY. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah

penyumbang ketiga terbesar PDRB DIY setelah sektor perdagangan dan jasa.

Penyumbang terbesar sektor pertanian adalah subsektor tanaman pangan yang di

dalamnya termasuk tanaman hortikultura. Sayuran termasuk ke dalam tanaman

hortikultura.

Jasa Pertanian,

0,19 Perkebunan, Peternakan, 0,26 1,86 Kehutanan, 0,86 Lain-lain, Pertanian 90,56 9,44 Perikanan, 0,36 Pangan
0,19
Perkebunan,
Peternakan,
0,26
1,86
Kehutanan,
0,86
Lain-lain,
Pertanian
90,56
9,44
Perikanan, 0,36
Pangan &
Hortikultura,

5,91

Gambar 4. 1 Persentase Kontribusi Subsektor Tanaman Pangan dan Hortikultura terhadap PDRB Sektor Pertanian di Provinsi DIY tahun 2014.

Sumber : Badan Pusat Statistik DIY, 2015 (diolah).

Dapat diketahui pada Gambar 4.1 bahwa kontribusi subsektor tanaman pangan

dan hortikultura terhadap sumbangan PDRB dari sektor pertanian cukup besar yaitu

sebesar 5,91 persen. Artinya bahwa petani di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

mayoritas mengusahakan pertanian di bidang tanaman pangan dan hortikultura.

Rata-rata produksi tertinggi untuk sayuran di Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta selama 8 tahun dari tahun 2008 sampai tahun 2015 adalah cabai merah

dan bawang merah. Pada Tabel 4.1 tersaji beberapa komoditas sayuran yang

Pada Tabel 4.1 tersaji beberapa komoditas sayuran yang Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Pada Tabel 4.1 tersaji beberapa komoditas sayuran yang Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

produksinya tertinggi dan stabil dibudidayakan terus oleh petani selama delapan tahun

ini. Selama 8 tahun ini cabai merah dan bawang merah produksinya paling tinggi

dengan rata-rata produksi 132.392 kuintal untuk cabai merah dan produksi bawang

merah sebesar 118.419, akan tetapi pada tahun 2015 terjadi penurunan pada kedua

komoditas sayuran ini, sedangkan untuk komoditas sawi, kangkung dan bayam relative

terjadi peningkatan di tahun 2015.

Table 4. 1. Produksi Beberapa Sayuran di DIY Tahun 2008-2015

   

Produksi (Kuintal)

 

Komoditas

                 

Rata-

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

Jumlah

rata

Cabe

                   

Besar

121,81

130,48

130,48

144,03

164,57

171,33

177,59

18,80

1,059,13

132,39

Bawang

168,67

199,50

199,50

39,53

118,55

95,40

123,59

2,58

947,35

118,41

Merah

Petsai/

                   

Sawi

48,05

67,56

67,56

71,62

66,02

64,47

56,05

92,61

533,96

66,74

Kangkung

20,89

28,09

28,09

26,22

21,20

31,29

24,67

50,72

231,20

28,90

Bayam

96,22

24,60

24,60

14,42

12,56

15,52

13,21

54,64

255,79

31,97

Sumber : Dinas Pertanian Prov. DIY, 2015.

2010 2011 2012 2013 2014 Bawang Merah Sawi Cabe Besar Kangkung Bayam 2.027 613 2.139
2010
2011
2012
2013
2014
Bawang Merah
Sawi
Cabe Besar
Kangkung
Bayam
2.027
613
2.139
377
566
1.271
635
2.541
335
396
1.180
708
2.683
275
323
893
525
3.463
321
376
1.287
523
2.791
297
352

Gambar 4. 2 Perkembangan Luas Panen 5 Komoditas Hortikultura di DIY dari Tahun 2010-2014 (dalam hektar)

Sumber : Badan Pusat Statistik DIY, 2015 (diolah).

Berdasarkan gambar 4.2 dapat diketahui bahwa luas panen yang paling tinggi

adalah luas panen untuk komoditas cabe merah, dengan perkembangan luas panen

untuk komoditas cabe merah, dengan perkembangan luas panen Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
untuk komoditas cabe merah, dengan perkembangan luas panen Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

cabe merah cenderung naik dari tahun 2010-2013 dan terjadi penurunan pada tahun 2014. Sedangkan untuk komoditas bawang merah justru dalam lima tahun ini luas panennya cenderung menurun dan sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2014. Untuk komoditas sawi, kangkung, dan bayam yang termasuk sayur daun perkembangan luas lahan yang terjadi selama lima tahun terakhir cenderung stabil atau tidak mengalami perubahan yang cukup besar.

stabil atau tidak mengalami perubahan yang cukup besar. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
stabil atau tidak mengalami perubahan yang cukup besar. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

4.2. Analisis LQ Pengembangan Sayur Organik Umur Pendek di DIY

Komoditas sayuran yang dibudidayakan oleh petani di DIY cukup beragam.

Metode Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan komoditas sayuran utama

yang dikembangkan di DIY. Berikut disajikan beberapa komoditas sayuran yang menjadi

basis atau komoditas sayuran utama di DIY.

Table 4. 2 Nilai Rerata Location Quotient (LQ) Komoditas Hortikultura (Tanaman Sayuran Umur Pendek) di Daerah Istimewa Yogyakarta 2010-2014.

Jenis Sayuran

 

Rerata Nilai LQ 2010-2014

 

Kulon Progo

Bantul

Gunungkidul

Sleman

Bawang Merah

0,888

6,348

0,567

0,022

Bawang Putih

0,000

0,000

4,748

0,000

Bawang daun

0,815

0,000

0,000

1,616

Kentang

0,000

0,000

0,000

1,776

Kubis

0,000

0,000

0,000

3,232

Sawi

1,316

0,227

0,553

1,422

Kacang Panjang

0,215

0,095

2,531

3,133

Cabe Besar

1,386

0,300

0,641

0,912

Cabe Rawit

0,302

0,265

3,674

2,397

Tomat

0,200

0,061

2,031

3,212

Terung

0,511

0,172

6,769

1,750

Buncis

0,000

0,000

0,036

3,228

Ketimun

0,077

0,006

3,392

3,386

Kangkung

0,152

0,576

1,952

2,729

Bayam

0,156

0,580

4,294

2,458

Sumber : Badan Pusat Statistik DIY, 2015 (diolah).

Nilai rerata LQ komoditas sayuran umur pendek di Kabupaten Kulon Progo yang

bernilai lebih dari satu adalah sawi (1,316) dan cabe besar (1,386). Itu menandakan

bahwa kontribusi sayuran sawi dan cabe besar di dalam PDRB Kabupaten Kulon Progo

lebih besar dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama dalam PDRB Provinsi

DIY, selain itu sayuran sawi dan cabe merah telah mampu memenuhi kebutuhan lokal

dan tidak harus mengimpor dari daerah lain.

Berdasarkan nilai LQ sayuran yang merupakan sub sektor basis bagi Kabupaten

Kulon Progo hanya sawi dan cabe merah sedangkan yang lainnya merupakan komoditas

non basis. Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusi kedua komoditas tersebut dalam

PDRB Kabupaten Kulon Progo lebih besar daripada kontribusi komoditas yang sama

dalam PDRB Provinsi DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Kulon Progo

DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Kulon Progo Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Kulon Progo Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

mampu memenuhi permintaan produk yang dihasilkan oleh komoditas sawi dan cabe merah serta tidak membutuhkan impor dari daerah lain. Nilai rerata LQ komoditas sayuran umur pendek di Kabupaten Bantul yang bernilai lebih dari satu adalah bawang merah (6,348). Hal ini menandakan bahwa kontribusi sayuran bawang merah di dalam PDRB Kabupaten Bantul lebih besar dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama dalam PDRB Provinsi DIY, selain itu sayuran bawang merah telah mampu memenuhi kebutuhan lokal dan tidak harus mengimpor dari daerah lain. Berdasarkan nilai LQ sayuran yang merupakan sub sektor basis bagi Kabupaten Kulon Progo hanya bawang merah sedangkan yang lainnya merupakan komoditas non basis. Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusi komoditas tersebut dalam PDRB Kabupaten Bantul lebih besar daripada kontribusi komoditas yang sama dalam PDRB Provinsi DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Bantul mampu memenuhi permintaan produk yang dihasilkan oleh komoditas bawang merah serta tidak membutuhkan impor dari daerah lain. Nilai rerata LQ komoditas sayuran umur pendek di Kabupaten Gunungkidul yang bernilai lebih dari satu adalah kangkung (3,729), bayam (3,294), cabe rawit (3,674) kacang panjang (2,531), tomat (2,031), dan kangkung (1,952) . Itu menandakan bahwa kontribusi sayuran bawang putih, bayam, cabe rawit, kacang panjang, kangkung, dan tomat di dalam PDRB Kabupaten Gunungkidul lebih besar dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama dalam PDRB Provinsi DIY, selain sayuran-sayuran tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan lokal dan tidak harus mengimpor dari daerah lain. Berdasarkan nilai LQ sayuran yang merupakan sub sektor basis bagi Kabupaten Gunungkidul adalah bawang putih, bayam, cabe rawit, kacang panjang, kangkung, dan tomat sedangkan yang lainnya merupakan komoditas non basis. Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusi komoditas-komoditas tersebut dalam PDRB Kabupaten Gunungkidul lebih besar daripada kontribusi komoditas yang sama dalam PDRB Provinsi DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Gunungkidul mampu memenuhi permintaan produk yang dihasilkan oleh komoditas-komoditas tersebut serta tidak membutuhkan impor dari daerah lain. Nilai rerata LQ komoditas sayuran umur pendek di Kabupaten Sleman yang bernilai lebih dari satu adalah mentimun (3,386), buncis (3,228), tomat, (3,212), kacang panjang (3,133), kangkung (2,729), bayam (2,458), cabe rawit (2,397), kentang (1,776), terung (1,750), bawang daun (1,616), sawi (1,422). Itu menandakan bahwa kontribusi

daun (1,616), sawi (1,422). Itu menandakan bahwa kontribusi Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
daun (1,616), sawi (1,422). Itu menandakan bahwa kontribusi Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

sayuran mentimun, buncis, tomat, kacang panjang, kangkung, bayam, cabe rawit, kentang, terung, bawang daun, dan sawi di dalam PDRB Kabupaten Sleman lebih besar dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama dalam PDRB Provinsi DIY, selain sayuran-sayuran tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan lokal dan tidak harus mengimpor dari daerah lain. Berdasarkan nilai LQ sayuran yang merupakan sub sektor basis bagi Kabupaten Sleman adalah mentimun, buncis, tomat, kacang panjang, kangkung, bayam, cabe rawit, kentang, terung, bawang daun, dan sawi sedangkan yang lainnya merupakan komoditas non basis. Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusi komoditas-komoditas tersebut dalam PDRB Kabupaten Sleman lebih besar daripada kontribusi komoditas yang sama dalam PDRB Provinsi DIY. Selain itu, dapat dikatakan bahwa Kabupaten Sleman mampu memenuhi permintaan produk yang dihasilkan oleh komoditas-komoditas tersebut serta tidak membutuhkan impor dari daerah lain. Setelah diketahui nilai LQ pada masing-masing kabupaten di DIY, maka

selanjutnya dipilih beberapa komoditas yang akan dikembangkan dalam master plan pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Setelah dilakukan diskusi dengan berbagai pihak maka diputuskan 3 komoditas yang akan dikembangkan dalam master plan ini yaitu bawang merah, sawi, dan bayam. Ketiga komoditas ini dipilih berdasarkan nilai yang dihasilkan dari analisis LQ dan melihat potensi pasar untuk komoditas-komoditas yang dipilih. Selain itu pemilihan komoditas ini diperkuat dari masukan dari pihak akademisi dan pihak pemerintah yang telah berpengalaman di bidang hortikultura, serta berdasarkan pengalaman empiris para pemangku kepentingan di bidang pertanian organik. Dilihat dari sisi teknis budidaya komoditas bawang merah, sawi dan bayam juga memiliki keunggulan masing-masing apabila dijadikan komoditas yang dikembangkan secara organik. Berikut beberapa keunggulan ketiga komoditas tersebut.

a. Bawang Merah Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat baik dilihat dari nilai ekonomisnya yang tinggi maupun dari kandungan gizinya. Hampir setiap hari, bawang merah digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu bumbu masakan di Indonesia. Bawang merah juga termasuk salah satu tanaman obat yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti gatal-gatal, alergi, mencegah kanker, dan sangat baik bagi penyembuhan penyakit jantung (Pangaribuan, 1998).

baik bagi penyembuhan penyakit jantung (Pangaribuan, 1998). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
baik bagi penyembuhan penyakit jantung (Pangaribuan, 1998). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian tahun 2014, jumlah produksi bawang merah pada tahun 2014 mencapai 1.233.984 ton dengan rerata pertumbuhan sebesar 22,08%. Kebutuhan bawang merah di Indonesia sendiri mencapai 90.000 ton per tahun dengan nilai ekspor sejumlah US$ 2.977.696 untuk bahan segar dan olahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas bawang merah merupakan komoditas yang cukup diunggulkan dalam ekspor negara. Tanaman bawang merah tumbuh baik di daerah beriklim kering, peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-32°C, dan kelembaban nisbi 50-70%. Hal tersebut sesuai dengan iklim yang dimiliki di Indonesia sehingga bawang merah akan tumbuh dengan baik di sebagian besar lahan pertanian di Indonesia. Dengan iklim yang sesuai, Indonesia kemudian menjadi negara penghasil bawang merah terbesar di dunia (Litbang Deptan, 2014). Sehingga, komoditas ini sangat penting artinya bagi ketahanan pangan di Indonesia.

b. Sawi

Sawi merupakan salah satu sayuran yang banyak mengandung vitamin A, sehingga berdaya guna mengatasi masalah kekurangan vitamin A yang sampai saat ini menjadi masalah untuk kesehatan. Sawi merupakan komoditas yang memiliki nilai komersial dan prospek yang baik. Ditinjau dari aspek klimatologi, aspek teknis, ekonomis serta sosial juga sangat memungkinkan untuk diusahakan di Indonesia. Sebagai salah satu tanaman hortikultura, sawi merupakan tanaman yang prospektif untuk dikembangkan sebagai sayur organik karena penggunaannya sangat luas oleh

berbagai kalangan (Rahman dkk., 2008).

c. Bayam

Stok bayam untuk pasar-pasar tradisional maupun pasar modern (supermarket) masih kurang. Hal ini terlihat dari harga bayam yang relatif stabil per ikatnya. Apalagi bayam sangat mungkin dan mudah untuk dibudidayakan secara organik, karena tanaman ini belum mengalami serangan hama maupun penyakit yang berat yang dapat mengakibatkan gagal panen. Selain itu kebutuhan pupuk untuk bayam juga sangat minim (cukup pupuk organik saja). Karena dua alasan tersebut sangat

memungkinkan untuk kita produksi bayam secara organik.

memungkinkan untuk kita produksi bayam secara organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
memungkinkan untuk kita produksi bayam secara organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

4.3.

Rencana Perwilayahan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY

Pertanian Organik Tanaman Sayuran Umur Pendek di DIY Gambar 4. 3 Peta Rencana Perwilayahan Pengembangan Pertanian

Gambar 4. 3 Peta Rencana Perwilayahan Pengembangan Pertanian Organik

Nilai LQ pada masing-masing kabupaten di DIY tersebut dipilih beberapa komoditas yang akan dikembangkan dalam master plan pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Setelah dilakukan diskusi dengan berbagai pihak maka diputuskan 3 komoditas yang akan dikembangkan dalam master plan ini yaitu bawang merah, sawi, dan bayam. Kemudian dipilih kabupaten-kabupaten yang akan menjadi lokasi pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di Propinsi DIY. Terdapat 4 kabupaten yang dipilih sebagai lokasi pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek untuk 3 komoditas unggulan terpilih. Pemilihan kabupaten ini didasarkan pada nilai LQ yang diperoleh dari nilai produksi hortikultura pada masing-masing kabupaten dibandingkan dengan nilai produksi hortikultura di tingkat propinsi DIY. Selain itu penentuan ini juga berdasarkan

propinsi DIY. Selain itu penentuan ini juga berdasarkan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
propinsi DIY. Selain itu penentuan ini juga berdasarkan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

kesesuaian lahan dan agroklimat pada masing-masing kabupaten serta berdasarkan pemerintah dan expert opinion (pendapat para ahli) yang telah berpengalaman di bidang hortikultura dan pertanian organik yang diperoleh per kabupaten di DIY. Hasilnya untuk Kabupaten Kulon Progo menjadi lokasi pengembangan sayuran sawi organik, Kabupaten Bantul menjadi lokasi pengembangan sayuran bawang merah organik, selanjutnya Kabupaten Sleman menjadi lokasi pengembangan sayuran sawi dan bayam organik, dan terakhir untuk Kabupaten Gunungkidul menjadi lokasi pengembangan sayuran bayam organik. Diharapkan pemerintah di tingkat kabupaten dapat mengembangkan komoditas sayuran unggulan terpilih yang telah di tetapkan sebagai komoditas yang akan dikembangkan secara organik agar pengembangan pertanian organik ini didasarkan pada potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten.

sumber daya alam yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sumber daya alam yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB V. ISU STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK UMUR PENDEK DI DIY

5.1. Prinsip GOAP (Good Organic Agricultural Practices)

Produk organik merupakan hasil pertanian yang berada di bawah sistem pertanian tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida dengan pendekatan secara lingkungan dan sosial. Metode pertanian organik dilakukan dengan pertimbangan mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen untuk melestarikan kapasitas produksi dan regenerasi tanah, nutrisi tanaman yang baik, pengelolaan tanah, menghasilkan makanan bergizi, dan memiliki ketahanan terhadap penyakit (Badan Standarisasi Nasional, 2013). Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk organik yang mempunyai nilai tambah yang cukup nyata, maka muncul pelaku usaha yang melakukan tindak tindakan yang tidak terpuji dengan melabel dan menjual produk konvensional mereka sebagai produk organik. Untuk menekan kerugian masyarakat konsumen produk organik, maka Pemerintah dalam hal ini Badan Standarisasi Nasional bersama-sama dengan Otoritas Kompeten Pertanian Organik (OKPO) telah menyosialisasikan aturan sertifikasi dan mengharuskan bagi semua pelaku usaha pertanian organik untuk menyertifikasikan semua produk organiknya ke Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) nasional yang telah terakreditasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) ataupun LSO Internasional. Sampai saat ini di Indonesia ada delapan LSO yang terdaftar dan terakreditasi oleh KAN antara lain Sucofindo, MAL, INOFICE, Sumbar, Lesos, Biocert, Persada, dan SDS. Mutu dan kualitas dari produk pertanian hasil pertanian organik harus tetap dijaga mulai dari awal penanaman hingga sampai ke tangan konsumen. Pengendalian mutu dan kualitas produk pertanian organik tersebut harus didasari oleh suatu standar yang memang dapat menjaga kualitas produk organik. Standar tersebut bertujuan untuk (Badan Standarisasi Nasional, 2013):

a. Melindungi konsumen dari manipulasi atau penipuan bahan tanaman/bibit/benih ternak dan produk pangan organik di pasar.

b. Melindungi produsen pangan organik dari penipuan bahan tanaman/bibit/benih ternak dan produk pangan organik lain yang diaku sebagai produk organik.

pangan organik lain yang diaku sebagai produk organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pangan organik lain yang diaku sebagai produk organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

c.

Memberikan pedoman dan acuan kepada pedagang/pengecer bahan tanaman/benih/bibit ternak dan produk pangan organik dari produsen kepada konsumen.

d. Memberikan jaminan bahwa seluruh tahapan produksi, penyiapan, penyimpanan, pengangkutan, dan pemasaran dapat diperiksa dan sesuai dengan standar

e. Harmonisasi dalam pengaturan sistem produksi, sertifikasi, identifikasi dan pelabelan produk pangan organik.

f. Menyediakan standar pangan organik yang diakui secara nasional dan juga berlaku untuk tujuan ekspor, dan

g. Memelihara serta mengembangkan sistem pertanian organik di Indonesia sehingga

menyumbang terhadap pelestarian ekologi lokal dan global. Berdasarkan tujuan di atas, sertifikasi hasil pertanian organik sangat perlu dilakukan untuk menjaga mutu dan kualitas produk pertanian organik sehingga dapat dikatakan produk tersebut telah sesuai dengan syarat Good Organic Agriculture Practices. Di dalam pemasarannya, produk pertanian yang telah disertifikasi organik dapat diberikan logo atau label yang menunjukkan bahwa produk tersebut diproduksi secara organik. Pelabelan adalah pencantuman atau pemasangan segala bentuk tulisan, cetakan atau gambar yang ada pada label yang menyertai produk pangan,yang berisi keterangan identitas produk tersebut atau dipajang dekat dengan produk pangan, termasuk yang digunakan untuk tujuan promosi penjualan atau pembuangannya. Pemasangan label logo organik hanya dapat dilakukan setelah produk itu dinyatakan “organik” (disertifikasi organik) oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi. Namun demikian, produsen dapat menyatakan (claim) bahwa produknya organik asalkan tidak

mencantumkan logo organik dimaksud. Hal ini berdasarkan prinsip pernyataan diri (self claim), pernyataan pihak kedua (second parties) dan sistem penjaminan partisipatif (participatory guarantee system). Tanda atau logo organik memberikan informasi bahwa proses produksi dan pascapanen produk organik sudah memenuhi standar organik. Sertifikasi produk pangan organik memberikan tiga manfaat sebagai berikut (Badan Standarisasi Nasional, 2013):

a. Memberikan jaminan atau asuransi kepada konsumen bahwa produk yang dijual yang penampilannya tidak dapat dibedakan dari produk non organik yang telah diproses, diproduksi, dan dikemas sesuai dengan standar nasional terhadap produk organik.

sesuai dengan standar nasional terhadap produk organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sesuai dengan standar nasional terhadap produk organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

b. Memberikan jaminan kepada konsumen dari tindakan yang bermoral dan penipuan seperti menyertifikasi produk pertanian menjadi organik sehingga diperoleh harga jual lebih tinggi, padahal produksi tersebut bukanlah produk organik. c. Mengurangi tidak sampainya informasi dari produsen ke konsumen ketika pendistribusian produk organik. Indonesia telah memiliki standar yang mengatur tentang pangan organik yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) 6729 2013 tentang Sistem Pangan Organik. Standar ini merupakan suatu acuan bagi produsen yang akan menyertifikasi produk pertanian organiknya jika akan dilepas ke pasar. Terdapat dua jenis input yang nyata-nyata dilarang dalam sistem pangan organik yaitu bahan kimia sintetis dan bahan/bibit/produk GMO (genetically modified organism). Bahan kimia sintetis dilarang digunakan dalam sistem pertanian organik, mencakup pada proses budidaya dan pengolahan hasil hingga pada sistem perdagangannya. Seluruh bahan dan/atau produk yang dihasilkan dengan rekayasa genetika/modifikasi genetik (GEO/GMO) adalah tidak sesuai dengan prinsip- prinsip produksi organik (baik budidaya, proses manufaktur atau pengolahannya). Selain menghasilkan produk yang bermutu tinggi, Sistem Pertanian Organik bersifat ramah lingkungan dengan mencegah segala bentuk pencemaran kimia baik melalui air maupun udara. Dalam budidaya organik, para pelaku usaha atau produsen organik dilarang melakukan pembakaran lahan yang umum terjadi pada sistem ladang berpindah, serta wajib mengendalikan erosi pada lahan yang berlereng bertanam dengan sistem kontur, penggunaan tanggul dan pengolahan tanah secara minimal dan terbatas. Sebagai negara tropis yang tergolong subur, dan bisa menanam sepanjang tahun, Indonesia sangat potensial menjadi produsen produk pertanian organik utama dunia. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementrian Pertanian telah meluncurkan program Go Organik 2010 pada Mei 2010 yang lalu meskipun belum berhasil, dan Nawacita 1000 desa organik 2020. Secara umum, proses sertifikasi pertanian organik di Indonesia termasuk, mudah, namun demikian, kurangnya pemahaman dan beragamnya kesiapan para calon produsen atau pelaku usaha pertanian organik terhadap butir-butir aturan yang terdapat di dalam SNI Pertanian Organik yang menyebabkan terhambatnya proses sertifikasi tersebut. Materi SNI 6729 2013 dengan mudah dapat diunduh dari www.bsn.go.id, atau langsung bisa mendapatkan dari LSO pada saat pendaftaran. Di dalam SNI 6729:2013 Lampiran B dicantumkan tata cara dan aturan penggunaan bahan yang dilarang, diperbolehkan, dan yang diperbolehkan secara terbatas (Tabel 1), sedangkan aturan

diperbolehkan secara terbatas (Tabel 1), sedangkan aturan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
diperbolehkan secara terbatas (Tabel 1), sedangkan aturan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

tata cara inspeksi dan sertifikasi dapat dilihat pada Lampiran C. Aturan penggunaan

bahan yang diterbitkan bisa berbeda antar negara produsen. Sebagai contoh, di

Indonesia dan beberapa negara yang mayoritasnya beragama Islam melarang

penggunaan pupuk yang berasal dari kotoran babi dan manusia.

Tabel 5. 1 Bahan yang diperbolehkan, dibatasi, dan dilarang dalam GOAP.

Bahan yang diperbolehkan

Bahan yang diperbolehkan tapi dibatasi

Bahan yang

dilarang

1. Pupuk hijau

1. Kotoran ternak non organik

1. Urea

2. Kotoran ternak organik

2. Urine ternak non organik

2. S/D/T Fosfat

3. Urine ternak organik

3. Kompos sisa tanaman budidaya non organik (BNO)

3. Amonium sulfat

4. Kompos sisa tanaman budidaya organik (BO)

4. Kompos media jamur merang BNO

4. Kalium klorida

5. Kompos media jamur merang BO

5. Kompos limbah sayuran BNO

5. Kalium nitra

6. Kompos limbah sayuran BO

6. Dolomit

6. Kalsium nitrat

7. Ganggang hijau

7. Gipsum

7. Pupuk kimia lain

8. Azola

8. Kapur

8. EDTA sintetis

9. Ganggang hijau

9. Kapur khlorida

9. ZPT sintetis

10. Molase

10. Batuan posfat

10. Biakan mikroba

menggunakan

media sintetis

11. Pupuk hayati

11. Guano

11. Kotoran

manusia

12. Rhizobium

12. Terak Baja

12. Kotoran babi

13. Bakteri pengurai

13. Batuan Mg

13. Sodium nitrat

sintetis

14. ZPT alami

14. Batuan Kalium

 
 

15. Batuan Kalium sulfat

 
 

16. Batuan Magnesium sulfat

 
 

17. Batuan Natrium khlorida

 
 

18. Batuan unsur mikro

 
 

19. Stone meal

 
 

20. Liat (bentonit, perlit, zeolit)

 
 

21. Vermikulit

 
 

22. Batu apung

 
 

23. Gambut

 
 

24. Rumput laut

 
 

25. Vinase

 
 

26. Hasil samping industri pengolahan tanaman perkebunan

 
 

27. Sodium nitrat alami

 
 

28. Mulsa plastik

 

Sumber: SNI 6729 2013 (Badan Standarisasi Nasional, 2013).

Sumber: SNI 6729 2013 (Badan Standarisasi Nasional, 2013). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Sumber: SNI 6729 2013 (Badan Standarisasi Nasional, 2013). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Peraturan mengenai semua kegiatan dalam pertanian organik sudah dijelaskan melalui Badan Standarisasi Nasional dalam terbitan SNI 6729 2013 dan melalui Permentan 64/Permentan/OT.140/5/ 2013. Sehingga penerapan pertanian organik yang baik harus di dasarkan pada kriteria-kriteria yang ada dalam peraturan SNI dan Permentan. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan komponen-komponen yang harus dilakukan dalam model pertanian organik di Indonesia.

5.1.1. Jenis dan Varietas Berdasarkan Permentan tahun 2013 dan SNI tahun 2013 dalam hal penggunaan varietas tanaman untuk pertanian organik harus disesuaikan dengan agroekosistem setempat, penggunaan jenis dan varietas yang sesuai dengan agroekosistem akan mempermudah daya adaptasi varietas tersebut terhadap lingkungan. Selain itu pemilihan varietas dan jenis tanaman juga harus di dasarkan pada daya tahan varietas tersebut terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Sampai saat ini belum ditemukan varietas khusus organik untuk penerapan sistem pertanian organik padahal dalam penerapan pertanian organik tidak boleh menggunakan varietas GMO (Genetically Modified Organisms) sehingga untuk solusi sementara saat ini adalah dengan menggunakan varietas tradisional, varietas konvensional, varietas konservasi atau varietas lokal bila varietas tersebut dihasilkan atau ditemukan sebelum tahun 1960. Penggunaan varietas tradisional sebagai pengganti varietas khusus organik yang belum ditemukan karena Varietas tradisional dianggap mempunyai efisiensi serapan hara tinggi pada keadaan input rendah, diperoleh dari adaptasi varietas lokal yang telah diseleksi oleh petani secara turun- temurun. Sedangkan pertimbangan varietas konvensional adalah karena varietas ini mempunyai ciri responsif terhadap pemupukan terutama nitrogen, atau oleh kelompok organik dinyatakan mempunyai efisiensi pupuk yang rendah pada kondisi input yang rendah. Proses pemilihan varietas dan jenis tanaman dalam pertanian organik tidak hanya berdasarkan pertimbangan teknis saja akan tetapi juga harus didasarkan pada pertimbangan permintaan pasar atas jenis komoditas tersebut dan juga tanaman yang diusahakan tersebut harus yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena

harus yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
harus yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

pengembangan pertanian organik yang baik adalah juga mendasarkan pada nilai ekonomi dan kebutuhan pasar.

5.1.2. Benih

Syarat dalam menggunakan benih untuk sistem budidaya pertanian organik adalah menggunakan benih yang telah diproduksi secara organik minimal 2 generasi dan apabila benih organik tidak tersedia maka pada tahap awal penerapan pertanian organik dapat digunakan benih tanpa perlakuan pestisida sintetis, dan apabila benih yang akan digunakan sudah mendapat perlakukan pestisida sintetis, maka perlu dilakukan tindakan pencucian untuk meminimalkan residu pestisida. Hal ini dilakukan untuk melindungi tanaman-tanaman dari zat-zat sintesis yang akan mengontaminasi tanaman yang dibudidayakan.

5.1.3. Zat Pengatur Tumbuh

Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Zat Pengatur Tumbuh atau hormon (fitohormon) tumbuhan merupakan senyawa organik yang bukan hara, ZPT dalam jumlah sedikit dapat memacu, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh memberikan kontribusi penting dalam dunia pertanian. Pemahaman tentang fungsi dan peran hormon terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah hal yang perlu untuk dipelajari. Sebab penggunaan hormon tersebut harus dilakukan dengan tepat. Penggunaan zat pengatur tumbuh dalam budidaya pertanian organik diperbolehkan akan tetapi harus menggunakan zat-zat alami yang ramah lingkungan. Contoh zat-zat yang dapat digunakan sebagai zat pengatur tumbuh adalah urin, air kelapa, ekstrak kecambah, ekstrak bawang merah. Tanaman-tanaman atau zat ini dapat digunakan untuk memacu perkecambahan atau pertumbuhan tanaman.

5.1.4. Lahan dan Tanah Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari bahan kimia sintetis (pupuk dan pestisida). Terdapat dua pilihan lahan: lahan pertanian yang baru dibuka atau lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi cukup lama sampai bahan kimia habis misalkan untuk tanaman semusim 2 tahun (4 musim tanam), untuk tanaman tahunan 3 tahun. Proses konversi lahan dapat dilakukan secara bertahap

tahun. Proses konversi lahan dapat dilakukan secara bertahap Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
tahun. Proses konversi lahan dapat dilakukan secara bertahap Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

dan masa konversi tersebut dapat diperpanjang dan diperpendek berdasarkan pertimbangan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) akan tetapi tidak boleh kurang dari 12 bulan. Setelah selesai masa konversi maka areal tersebut dapat digunakan untuk pertanian organik dan tidak diperbolehkan digunakan secara bergantian antara metode produksi pangan organik dan konvensional. Salah satu model pengaturan lahan dalam pertanian organik, adalah model budidaya tanaman organik harus dilakukan dalam satu blok atau kelompok luasan lahan. Blok luasan lahan tidak ditentukan berdasarkan luasnya akan tetapi yang penting memiliki pembatas yang jelas antara lahan pertanian organik dan lahan konvensional misalkan sungai, parit, atau pagar berupa pohon. Karena apabila lahan pertanian organik tidak berbentuk blok dan tidak memiliki batas yang jelas akan meningkatkan risiko lahan pertanian organik tersebut akan tercemar dari lahan konvensional yang ada di sekitarnya. Pencemaran lahan pertanian organik dapat melalui berbagai sumber diantaranya melalui air dan udara. Sehingga diperlukan penahan atau teknologi untuk melindungi lahan tersebut dari pencemaran zat-zat yang berbahaya. Pada lahan pertanian organik yang belum terpisah jelas dengan lahan pertanian konvensional pencemaran udara dapat dikurangi dengan menanam tanaman berhabitus tinggi dan rapat sedangkan pencemaran air dengan kolam pengendapan. Persiapan lahan untuk pertanian organik pada umumnya sama dengan pertanian konvensional hanya saja dalam pertanian organik tenaga perlu dipertimbangkan apakah menggunakan mesin atau ternak. Penggunaan mesin tidak dilarang namun perlu dipertimbangkan karena menggunakan energi tidak terbarukan dan menimbulkan polusi. Penggunaan ternak mempunyai keuntungan karena dapat menghasilkan pupuk kandang. Tidak banyak lagi petani menggunakan tenaga ternak karena dianggap tidak efisien

5.1.5. Sistem pertanaman Sistem pertanaman yang diterapkan dalam pertanian organik adalah sistem pertanaman ganda yaitu tumpangsari, tumpang gilir. Tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada satu waktu pada satu tempat, misalnya sawi dengan kacang tanah. Selain itu dalam pertanian organik pola pergiliran tanaman dalam satu tahun di tanam lebih dari satu jenis tanaman bawang – bayam - kedelai. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kesuburan

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kesuburan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kesuburan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

tanah karena penyerapan hara oleh tanaman yang berbeda, menekan hama/penyakit karena siklus hama terputus, meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi resiko bila terjadi bencana, karena kepekaan terhadap serangan OPT berbeda, penyerapan hara yang berbeda dan tanaman legum dapat melepaskan hara N kepada tanaman lain non legum. Penerapan pola tanam tanaman di pematang dapat dipilih tanaman berbunga yang disukai serangga musuh alami atau yang mengeluarkan bau yang tidak disukai hama : kenikir, kemangi, bawang daun.

5.1.6. Pengairan Proses pengairan dalam pertanian organik menggunakan air yang bebas bahan kimia sintetis, tidak berwarna, tidak berbau. Penerapan pengairan pertanian organik yang bebas dari zat sintetis sangat sulit karena air irigasi bercampur dengan areal konvensional dan air tanah pada umumnya sudah tercemar nitrat dari pupuk urea yang berlebihan dari areal konvensional. Oleh karena itu apabila akan menerapkan pertanian organik yang terjamin kualitas airnya maka harus dibuat kolam pengendapan dengan diberi arang, tanaman eceng gondok dll.

5.1.7. Menjaga Kesuburan Esensi pengendalian kesuburan tanah dalam pertanian organik dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang terutama dengan daur ulang nutrisi dari sumber lokal, meminimalkan penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan meminimalkan polusi, mengoptimalkan aktivitas biologis tanah, keadaan fisik dan mineral tanah yang menyediakan nutrisi seimbang bagi tanaman dan ternak dan melindungi sumber daya tanah. Hara makro dan mikro yang terangkut panen dikembalikan dengan menambahkan sisa tanaman secara periodik ke dalam tanah dalam bentuk kompos. Daur ulang nutrisi tanaman dilakukan dengan mendaur ulang limbah yang berasal dari tumbuhan dan hewan dan merupakan bagian penting dari strategi penyuburan tanah. Bahan yang dapat didaur ulang antara lain limbah pertanian, pasar dan rumah tangga. Kompos pupuk kandang dari hewan yang makan pakan organik, pupuk telah diolah. Kotoran ternak dari factory farming tidak boleh digunakan karena ada beberapa komponen dalam produksi ternak yang menggunakan bahan- bahan sintetis. Sedangkan urin ternak yang dibudidayakan secara organik bebas digunakan, urin dari ternak dibudidayakan secara konvensional digunakan secara terbatas, setelah diencerkan atau difermentasi. Urin dari ternak factory farming tidak

atau difermentasi. Urin dari ternak factory farming tidak Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
atau difermentasi. Urin dari ternak factory farming tidak Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

boleh digunakan. Factory farming adalah industri peternakan yang sangat bergantung kepada pakan, obat-obatan dan bahan kimia sintetis lain Pupuk kompos dari limbah dan sampah tanaman organik, yang tidak mengandung logam berat, bila tidak jelas jumlah dibatasi, pupuk telah diolah. Sampah yang dapat digunakan adalah sampah pasar, sampah rumah tangga. Sedangkan limbah tanaman yang dapat digunakan dalam pertanian organik adalah jerami, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, kulit kacang, kulit kopi, kulit kakao dan untuk limbah media jamur yang dapat digunakan adalah serbuk gergaji, jerami, dll. Penggunaan pupuk hijau akan menunjang keberhasilan produksi dengan model pertanian organik. Gulma merupakan sumber bahan organik potensial yang perlu dimanfaatkan melalui pengomposan, namun perlu ber hati-hati karena dapat mengandung senyawa alelopat yang meracun tanaman. Pupuk hijau tanaman semusim yang dapat digunakan adalah orok-orok, sedangkan untuk tanaman tahunan adalah turi, lamtoro, sesbania, sengon dan legum lain, dan untuk jenis tanaman tingkat rendah adalah azolla ganggang hijau, ganggang biru hijau dari tanaman organik, bila tidak jelas jumlah dibatasi, dapat langsung dibenam Pupuk hayati hayati merupakan substansi yang mengandung mikroorganisme untuk meningkatkan ketrsediaan hara seperti Rhyzobium, Mikoriza Rhyzobium Legin untuk kedelai, kacang tanah untuk menambat N2 udara. Inokulum Mikoriza untuk pelarut fosfat dan unsur hara lain. Penerapan pertanian organik secara tiba-tiba dikhawatirkan menurunkan hasil tanaman sehingga perlu dilakukan secara bertahap. Pada tahap konversi dilakukan dengan menambah pupuk organik takaran tinggi - di atas 10 t/ha, mengurangi takaran pupuk anorganik bertahap 75%,50%, 25%, 0%. Setelah kesuburan tanah pulih takaran pupuk organik dikurangi - 5 t/ha.

5.1.8. Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma Konsep pengendalian dalam pertanian organik adalah pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) menggunakan cara PHT (pengendalian hama terpadu). Konsep Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah di bawah ambang batas yang merugikan. Cara pengendalian hama terpadu adalah dengan memacu hubungan seimbang antara inang dengan predator, peningkatan serangga berguna,

antara inang dengan predator, peningkatan serangga berguna, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
antara inang dengan predator, peningkatan serangga berguna, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

pengendalian biologis dan cara budidaya, pengendalian mekanis. Pengendalian secara biologis yaitu dengan menggunakan musuh alami parasit, predator dan patogen serangga. Pengendalian secara mekanis yaitu melalui pengolahan tanah, pemangkasan, mulsa, perangkap, penghalang cahaya, suara, panas. Sedangkan pengendalian secara kimiawi adalah dengan menggunakan pestisida hayati, selain tembakau. Budidaya: varietas tahan, pergiliran tanaman, tumpang sari, tanaman perangkap. Selain itu perlu juga penyediaan habitat yang cocok pembuatan pagar hidup, tempat berlindung musuh alami. Zona penyangga ekologi dan penyangga vegetasi asli. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, dapat ditanam kenikir, kemangi, kacang babi, tephrosia, lavender, dan nimba di antara bedengan serta menjaga kebersihan areal pertanaman. Tanaman obat dan rempah seperti tanaman rimpang- rimpangan, babandotan, lada, dan sirih dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati yang aman dan ramah lingkungan selain mudah pembuatannya.

5.1.9. Pengemasan Pengemasan dalam pertanian organik adalah dengan menggunakan bahan yang dapat diurai mikrobia (Bio-degradable materials), bahan hasil daur ulang (Recycled materials), atau bahan yang dapat didaur ulang (Recyclable materials). Selain itu produk harus dilindungi agar tidak tercampur dengan produk konvensional dan produk organik yang tidak tersertifikasi, diberi label. harus dilindungi agar tidak tersentuh dengan bahan yang tidak diizinkan. Tempat penyimpanan dan pengangkutan harus dibersihkan dengan metode dan bahan yang diizinkan. Sehingga produk organik tersebut akan tetap terjaga kondisinya sampai ke tangan konsumen.

5.2. Peluang dan Permasalahan dalam Pengembangan Pertanian Organik

5.2.1. Biaya Sertifikasi Sayuran Organik Setiap konsumen menginginkan hidup yang sehat. Kehidupan yang sehat ini dapat diperoleh salah satunya dengan mengkonsumsi bahan makanan yang sehat. Salah satu bahan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dan mineral adalah dari bahan makanan sayuran. Bahan makanan sayuran yang sehat dapat diperoleh dari sayuran yang dibudidayakan dengan cara organik. Seperti yang kita ketahui bahwa untuk membedakan antara produk sayuran organik dan non organik bukanlah

antara produk sayuran organik dan non organik bukanlah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
antara produk sayuran organik dan non organik bukanlah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

perkara mudah bagi konsumen awam. Bagi konsumen, haruslah ada suatu bentuk penjaminan terhadap mutu dan produk sayuran tersebut benar-benar diproduksi secara organik. Bentuk penjaminan ini salah satunya adalah berbentuk adanya suatu sertifikasi oleh lembaga khusus dan ahli yang melakukan uji terhadap segala sesuatu dalam proses produksi sayuran yang mengikuti kaidah organik. Pengujian ini mulai dari penggunaan input, prasarana dan sarana pertanian, proses budidaya, serta penanganan pasca panen yang aman dan terhindar dari bahan sintetis berbahaya. Sertifikasi sebagai bentuk penjaminan terhadap kualitas dan keamanan produk sayuran organik ternyata menjadi kendala tersendiri untuk petani sebagai produsen. Hal ini terjadi karena petani harus mengeluarkan biaya ekstra hingga puluhan juta untuk periode beberapa tahun untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Hingga saat ini terdapat 7 Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) yang diakui oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk melakukan sertifikasi produk pangan organik. Keadaan ini pula yang membuat hanya sedikit petani organik yang dapat memasukan produknya ke pasar dan mendapatkan harga yang layak karena produk sayuran organik yang tidak berlabel atau tidak memiliki sertifikat akan mendapatkan apresiasi berupa harga yang sama dengan sayuran non organik. Hal inilah yang membuat motivasi petani untuk Go Organik masih rendah. Selain harga, kendala lain untuk mendapatkan sertifikat adalah status petani yang sebagian besar memiliki lahan pertanian yang sempit. Nilai produksi yang kecil ini tidak sebanding dengan biaya sertifikasi yang sangat mahal. Kendala ini perlu dihadapi bersama antara petani dengan pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Petani yang sebagian besar adalah petani gurem harus berbentuk kelompok, sehingga biaya yang dikeluarkan dapat efisien dengan nilai produksi yang besar, atau dengan kata lain biaya ini ditanggung bersama oleh petani sayuran organik. Selain itu, kendala ini dapat dihadapi dengan memberi bantuan keringanan biaya hingga kelompok tani tani tersebut dapat mandiri untuk meneruskan praktek pertanian organik dengan SOP yang semestinya dan tersertifikasi. Bantuan terkait dengan biaya sertifikasi dapat diberikan kepada kelompok tani yang belum berbadan usaha seperti berbentuk CV atau PT. Diharapkan ke depan semua kelompok tani yang berusahatani secara organik dapat memiliki sertifikat dan memberikan label organik pada produk pertaniannya khususnya sayuran umur pendek, sehingga petani dapat secara penuh merasakan manfaat dari pertanian organik terutama secara ekonomi.

manfaat dari pertanian organik terutama secara ekonomi. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
manfaat dari pertanian organik terutama secara ekonomi. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

5.2.2. Hulu/Input

a. Tenaga Kerja Pertanian organik merupakan salah satu model pertanian yang membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Dari persiapan lahan yang konvensional menuju organik, pembuatan pestisida alami sendiri dan penanggulangan hama serta penyakit, pemeliharaan, penyemaian, dan panen semuanya dilakukan melalui tenaga kerja manusia atau menggunakan mesin dengan mempertimbangkan emisi yang dihasilkan. Tetapi hal ini sangat baik bagi DIY khususnya dan Indonesia pada umumnya karena memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Sehingga sistem pertanian organik memiliki kontribusi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian. Selain itu, sistem pertanian organik juga dapat menjadi salah satu cara untuk membangun pedesaan yang mandiri dalam hal pangan karena teknik produksinya yang mudah diakses dan tanpa modal yang besar. Tentu hal ini perlu upaya khusus mengingat tenaga kerja di bidang pertanian dewasa ini cukup sulit ditemukan dan yang sudah ada saat ini sudah berumur lanjut.

b. Kuantitas dan Kualitas pupuk organik yang tersedia Pupuk organik secara umum dibuat dari sisa-sisa makhluk hidup berupa sampah organik, seresah tumbuhan, dan kotoran hewan. Pupuk yang dibuat dari sisa-sisa aktivitas organik makhluk hidup tentunya akan selalu tersedia, namun jumlahnya tergantung dari seberapa banyak aktivitas makhluk hidup tersebut hingga menghasilkan sisa (waste) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Sisa atau waste dari aktivitas makhluk hidup berupa bahan organik tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk pupuk, melainkan harus diproses dalam beberapa tahap. Tahapan yang paling penting adalah pada fermentasi, dimana bahan organik yang masih mentah atau masih berupa sisa segar dari aktivitas makhluk hidup diberi suatu starter agar bahan organik tersebut dapat terurai dengan sempurna, bebas dari senyawa-senyawa yang bersifat racun, dan mengurangi resiko tanaman terkena panas berlebih yang ditimbulkan oleh bahan organik yang belum matang. Pupuk organik terdiri dari pupuk hijau, kompos dan pupuk kandang. Pupuk hijau yang biasa digunakan dari tanaman legum semusim misal orok-orok,

biasa digunakan dari tanaman legum semusim misal orok-orok, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
biasa digunakan dari tanaman legum semusim misal orok-orok, Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

tahunan misalnya lamtoro, paku air misalnya Azolla. Pupuk hijau mempunyai C/N < 12 dapat langsung digunakan tanpa pengomposan. Kompos dapat berasal dari limbah pertanian, limbah pasar, limbah rumah tangga atau gulma, setelah melalui proses pengomposan. Pupuk kandang dari kotoran ternak bercampur dengan kotoran kandang yang telah dikomposkan. Pupuk hayati, pada umumnya merupakan organisme hidup, misalnya rhizobium dan mikoriza. Pupuk organik yang dibuat oleh petani biasanya berasal dari seresah dedaunan dan kotoran hewan seperti sapi, kambing, ataupun ayam. Pupuk- pupuk tersebut tentunya memiliki kandungan unsur yang berbeda-beda. Menurut Lingga (1991), pupuk kandang sapi memiliki rasio C/N paling tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang kambing, ayam, dan kerbau. Kandungan unsur hara yang berbeda-beda dari sumber bahan organik yang berbeda-beda inilah yang menyebabkan kualitas pupuk kandang tidak sama satu dengan yang lain. Apalagi, jika sumber bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk kandang berasal dari sumber yang berbeda-beda. Beberapa kendala penggunaan kualitas pupuk organik adalah sifatnya yang bulky, kandungan air yang cukup tinggi dan kandungan hara yang rendah. Kebutuhan unsur hara tanaman juga berbeda- beda satu dengan yang lainnya. Hal tersebut tentunya akan menyebabkan penggunaan pupuk kandang harus melebihi jumlah yang telah ditentukan jika petani menginginkan hasil yang tinggi. Pembuatan pupuk kandang memerlukan waktu yang cukup lama agar bahan organik dapat matang secara merata dan dapat digunakan oleh petani sebagai penyedia nutrisi bagi tanaman. Pupuk organik biasanya diberikan dalam jumlah yang cukup agar dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman. Kendala- kendala tersebut berakibat pada besarnya biaya untuk pembelian atau pembuatan kompos, biaya transportasi, dan biaya aplikasi/tenaga kerja. Untuk tanaman bawang merah saja, kebutuhan pupuk organiknya mencapai 10-20 ton/ha (Litbang Deptan, 2015), untuk tanaman sawi 20 ton/ha, dan tanaman bayam 15 ton/ha (Litbang Deptan, 2014). Kebutuhan pupuk yang besar dalam satu kali tanam tersebut kerap harus diberikan secara cukup untuk hasil yang lebih baik. Bahan baku yang terbatas, menyebabkan jumlah pupuk yang dihasilkan sedikit sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik petani. Pada beberapa daerah, pupuk organik tidak dapat diproduksi sendiri karena petani tidak memiliki hewan ternak sebagai sumber pembuatan

petani tidak memiliki hewan ternak sebagai sumber pembuatan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
petani tidak memiliki hewan ternak sebagai sumber pembuatan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

bahan organik, sehingga petani harus membeli pupuk organik dari daerah lain. Pembelian dari daerah lain tentu kerap memperhitungkan akses transportasi dan ketersediaan barang atau stok, sehingga jika terdapat beberapa hambatan pada transportasi maupun stok, petani tidak dapat menggunakan pupuk kandang. Hal tersebut menyebabkan petani masih enggan untuk menggunakan pupuk organik secara penuh bagi tanamannya tanpa ada campuran dari pupuk kimia. Masalah utama dalam memproduksi pupuk yang berasal dari sampah aktivitas manusia atau sampah rumah tangga adalah terdapatnya unsur-unsur berbahaya yang mungkin berbahaya bagi pertumbuhan tanaman dan/atau kesehatan manusia. Sumber utama unsur-unsur berbahaya ini adalah sampah dan limbah kota yang sering mengandung logam berat arsenat, timbal, dan kadmium yang tinggi. Oleh karena itu perlu berhati-hati menggunakan sampah dan limbah kota sebagai pupuk organik.

c. Kuantitas dan kualitas pestisida organik yang tersedia Penggunaan pestisida organik oleh petani lebih banyak didasarkan kepada kearifan lokal yang telah mereka dapatkan turun-temurun dari nenek moyang. Contohnya pada penggunaan ekstrak daun mimba dan ekstrak daun widuri bagi pengendalian ulat grayak di bawang merah. Penggunaan pestisida nabati ini sangat bergantung pada keberadaan bahan yang digunakan. Bahan baku pestisida nabati yang relatif masih terbatas tersebut karena kurangnya dukungan pemerintah dan kesadaran petani terhadap penggunaan pestisida nabati masih rendah, sehingga enggan menanam atau memperbanyak tanamannya. Masih terbatasnya penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, dari mulai teknik penyediaan bahan baku sampai produksi juga menjadi salah satu kendala tersedianya pestisida organik. Sampai saat ini tanaman penghasil pestisida nabati belum ada yang dibudidayakan petani. Belum dibudidayakannya tanaman tersebut di Indonesia antara lain disebabkan oleh penguasaan teknologi yang masih rendah, baik teknik budidayanya maupun teknologi pengolahan produk siap pakai. Oleh karena itu untuk memasyarakatkan penggunaannya, pemilihan bahan baku, teknik budidaya, manipulasi bahan dan atau teknologi tepat guna lainnya perlu diteliti dan dikaji sebelum dikembangkan untuk pestisida nabati, tidak hanya berdasarkan kearifan lokal saja.

nabati, tidak hanya berdasarkan kearifan lokal saja. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
nabati, tidak hanya berdasarkan kearifan lokal saja. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Tidak semua OPT dapat dikendalikan oleh pestisida nabati. Hanya OPT tertentu saja yang dapat dikendalikan oleh pestisida tersebut. Pada umumnya, pestisida organik tidak membunuh langsung hama sasaran, akan tetapi hanya bersifat mengusir dan menyebabkan hama menjadi tidak berminat mendekati tanaman budidaya. Pestisida organik juga memiliki daya kerja yang lambat, tidak membunuh organisme sasaran secara langsung, kurang tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis, tidak tahan lama dalam penyimpanan, dan kadang kala harus diaplikasi berkali-kali. Hal tersebut menyebabkan petani lebih memilih untuk mengaplikasikan pestisida kimia yang lebih cepat efeknya kepada OPT. Oleh sebab itu, perlunya peningkatan kualitas pestisida organik agar dapat digunakan oleh petani secara menyeluruh. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa OPT tidak harus dikendalikan dengan dimusnahkan. Metode pengendalian hama terpadu (PHT) menjadi salah satu pilihan terbaik dengan mengatur populasi OPT di bawah batas merugikan secara ekonomi.

d. Sumber air sudah banyak yang tercemar bahan berbahaya Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik, seperti ikan (Herlambang, 2006). Akibat penggunaan air tercemar untuk pertanian bagi tanaman pertanian, paling tidak dapat diklasifikasikan menjadi dua akibat yaitu, 1) akibat terhadap hasil produksi pertanian, 2) akibat terhadap mutu produksi pertanian, seperti kehadiran polutan dalam hasil pertanian, perubahan rasa, dan lain-lain. Harus diakui bahwa hampir sebagian besar air tercemar mengandung zat-zat yang dapat menyuburkan tanaman, namun kondisi sebenarnya dalam air tercemar biasanya zat ini dalam jumlah yang berlebihan, akibat dari hal ini yaitu menyebabkan kerusakan pada tanaman. Sebagai contoh kelebihan kandungan

kerusakan pada tanaman. Sebagai contoh kelebihan kandungan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
kerusakan pada tanaman. Sebagai contoh kelebihan kandungan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

nitrogen pada tanaman akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman secara vegetatif menjadi meningkat dari pada menghasilkan buah, selain itu dampak lainnya adalah mengakibatkan penundaan kemasakan buah, temuan ini biasanya ditemukan pada tanaman padi, jagung dan beberapa tanaman lain, bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan kerugian bagi petani karena turunnya produksi dan mutu hasil pertanian. Ancaman lain yang dihadapi adalah terkontaminasinya tanaman pertanian oleh logam-logam berat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman itu sendiri dan manusia yang mengonsumsinya. Dalam konsep pertanian organik, penggunaan air juga termasuk yang menjadi salah satu perhatian utama. Air yang digunakan untuk menyiram atau menggenangi lahan pertanian organik harus air yang terbebas dari zat-zat kimia berbahaya. Sehingga akan menjadi sia-sia apabila menerapkan pertanian organik sementara air yang mengaliri lahan kita banyak mengandung residu bahan kimia. Tentunya lahan menjadi beresiko tercemar zat-zat tersebut. Pada akhirnya produk pertanian organik tidak steril dari racun-racun kimia. Terkait dengan hal tersebut salah satu langkah yang terpenting adalah usaha untuk menyingkirkan polutan-polutan yang terlanjur tercampur di dalam air tercemar tersebut. Salah satu langkah yang dapat diambil terkait dengan hal ini adalah dengan melakukan treatment pada air yang sudah tercemar untuk menurunkan kadar polutan dalam air sehingga layak untuk dimanfaatkan bagi kehidupan sehari-hari manusia termasuk irigasi pertanian. Saringan arang atau dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif. Air limbah didiamkan di kolam eceng gondok selama 24 jam. Setiap batang eceng gondok sanggup membersihkan air limbah domestik. Setelah sehari penuh, katup penutup saluran air di ujung kolam eceng dibuka untuk mengalirkan air ke bak penampungan ketiga di bawah tanah. Di dalam bak itu mereka menyusun saringan berlapis dengan karbon aktif. Selain itu, akar tanaman ini juga dapat menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok juga mampu menjernihkan atau menurunkan kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg per liter silika selama

suatu perairan hingga 120 mg per liter silika selama Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
suatu perairan hingga 120 mg per liter silika selama Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

48 jam sehingga cahaya matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produktivitas perairan melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat. Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur haranya di dalam air kurang mencukupi, tetapi responsnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran (Rukmi et al., 2013). Ikan dapat digunakan sebagai bioindikator karena mempunyai kemampuan merespon adanya bahan pencemar. Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Kemampuan ikan merespon bahan pencemar sering digunakan dalam pengujian penanganan limbah. Penanganan air tercemar limbah pada umumnya melewati beberapa tahapan pengolahan seperti penyaringan secara mekanis (secara fisik), pengendapan dan penjernihan dengan bahan kimia (secara kimia) serta penghilangan senyawa berbahaya dengan bakteri pengurai limbah (secara biologis) setelah melewati ketiga tahapan tersebut air limbah yang sudah diolah dilewatkan dalam kolam kecil berisi ikan. Apabila masih terdapat bahan pencemar maka ikan akan bereaksi mulai dari gerakan renang, percepatan gerakan operculum hingga kematian pada air yang masih beracun (Kusriani, 2012). Ikan yang biasanya digunakan sebagai indikator ketercemaran air adalah ikan mas koki. Selain harganya yang terjangkau, ikan mas koki merupakan salah satu ikan yang sensitif terhadap perubahan kondisi air. Sehingga apabila air yang diberi perlakuan itu menunjukkan perilaku yang tidak biasa atau bahkan mati menunjukkan bahwa air tersebut masih mengandung bahan-bahan yang berbahaya. Bila kondisi ikan tersebut baik-baik saja, maka air tersebut sudah aman untuk digunakan untuk pertanian organik.

e.

Benih

Benih yang digunakan dalam sistem pertanian organik belum tentu diproduksi dengan cara organik. Produksi benih memerlukan berbagai tahapan

cara organik. Produksi benih memerlukan berbagai tahapan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
cara organik. Produksi benih memerlukan berbagai tahapan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

dan proses sehingga menghasilkan benih yang berkualitas baik. Namun, beberapa tahap produksi benih kerap kali tidak menggunakan cara organik. Oleh sebab itu, masih sulit bagi petani untuk mendapatkan benih yang diproduksi secara organik tanpa adanya tambahan bahan kimia pada saat penanaman tanaman asalnya. Benih yang ditangkar oleh petani secara individu memang dapat dimungkinkan akan diproses secara organik, namun hal tersebut akan menyebabkan asal benih tidak jelas. Benih kemudian menjadi benih varietas lokal yang tidak diketahui asal, jumlah produksi, dan ketahanannya terhadap penyakit. Selain itu, benih yang diperoleh tidak langsung digunakan sebagai bahan tanam, sehingga harus disimpan dalam jangka musim tanam tertentu. Penyimpanan benih dalam waktu yang lama tanpa adanya teknologi penyimpanan benih akan menyebabkan benih cepat busuk, ditumbuhi jamur, terkena OPT, atau akan menurunkan daya tumbuhnya. Oleh sebab itu petani akan memberikan zat kimia sebagai pengawet benih agar benih terhindar dari kerusakan seperti dengan pemberian fungisida. Belum tersosialisasinya sertifikasi benih organik juga menjadi salah satu kendala budidaya tanaman organik dari hulu. Benih yang terjamin diproduksi dan diproses secara organik belum dapat diverifikasi kebenarannya jika belum memiliki sertifikasi benih organik. Namun bagaimana cara mendapatkan sertifikat benih organik masih belum disosialisasikan pada petani. Padahal, sertifikasi benih organik tersebut akan berguna untuk memberikan informasi mengenai asal benih, teknis budidaya benih, dan daya tumbuh benih, sehingga penyimpanan benih dapat dilakukan secara tepat agar benih tidak rusak. Belum adanya sertifikasi benih organik inilah yang menyebabkan benih masih diproses dalam cara konvensional. Benih sawi dan bayam mungkin berasal dari varietas hibrida sehingga tidak dapat diperbanyak lagi oleh petani. Hibida yang beredar adalah generasi F2 bila diperbanyak akan menjadi F3 dengan sifat kembali ke F1 yang berbeda beda, sehingga tidak baik. Akibatnya petani harus menggunakan benih hibrida yang tidak organik.

petani harus menggunakan benih hibrida yang tidak organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
petani harus menggunakan benih hibrida yang tidak organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

f. Tidak semua varietas adaptif dengan model pertanian organik Hibrida adalah produk persilangan antara dua tetua tanaman yang berbeda secara genetik. Apabila tetua-tetua diseleksi secara tepat maka hibrida turunannya akan memiliki vigor dan daya hasil yang lebih tinggi daripada kedua tetua tersebut. Varietas hibrida memiliki kelebihan yaitu hasil yang lebih tinggi daripada hasil varietas unggul inbrida. Namun, varietas hibrida harga benihnya mahal dan tidak dapat ditanam kembali oleh petani, harus membeli lagi. (Balai Besar Penelitian Padi. 2015). Benih varietas hibrida dihasilkan dari budidaya konvensional bukan organik, sehingga sebenarnya tidak memenuhi syarat. Jalan keluarnya dicuci, ini tentu saja tidak menghilangkan residu bahan kimia sintetis. Umumnya varietas hibrida merupakan varietas yang dikatakan “boros” unsur hara. Hal ini berarti varietas hibrida merupakan varietas yang kebutuhan unsur haranya sangat tinggi, sehingga dibutuhkan berbagai unsur hara tambahan agar produksinya tinggi. Hal tersebut tidak dapat dipenuhi jika petani hanya memberikan pupuk kandang sebagai unsur hara utama pada budidaya dengan varietas hibrida. Petani akan kehilangan hasil yang cukup besar jika varietas hibrida tidak dicukupi kebutuhan nutrisinya untuk dapat menghasilkan produksi. Pupuk yang digunakan untuk meningkatkan produksi varietas hibrida adalah pupuk kimia. Semakin banyak pupuk kimia yang diberikan, maka residu pupuk yang dihasilkan akan semakin besar. Hal tersebut akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan berdampak buruk secara ekologi. Selain itu kebutuhan pupuk yang tinggi akan mengakibatkan biaya produksi akan meningkat, sehingga penerimaan petani akan berkurang. Ada mekanisme yang lebih rumit dari sekedar pupuk organik sebagai sumber hara. Peran pupuk organik adalah memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis. Hasil penelitian menunjukkan hasil pertanian organik dapat lebih tinggi karena pemberian pupuk organik memperbaiki berbagai sifat tanah bukan hanya kandungan haranya. Beberapa varietas juga rentan terhadap OPT tertentu dan memerlukan areal penanaman dengan syarat tumbuh tertentu. Misalnya pada bawang merah varietas Bima Brebes yang peka terhadap penyakit busuk ujung daun. Penyakit ini akan menyerang jika kelembaban udara di lingkungan penanaman tinggi. Jika penyakit ini menyebar hingga melebihi batas ambang ekonomi, petani akan lebih memilih untuk mengendalikan OPT tersebut dengan pengendalian kimiawi.

mengendalikan OPT tersebut dengan pengendalian kimiawi. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
mengendalikan OPT tersebut dengan pengendalian kimiawi. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Tentunya residu yang dihasilkan dari pestisida kimia tersebut akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Pemberian pestisida kimia yang terlalu banyak justru menyebabkan tanaman resisten terhadap OPT. Hal tersebut juga terjadi pada beberapa varietas lain yang peka terhadap OPT tertentu.

5.2.3. On Farm/Budidaya

a. Teknologi penanganan OPT dalam pertanian organik Penanganan OPT pada komoditas sayur organik tentunya harus dilakukan tanpa melibatkan bahan-bahan kimia sintesis. Hal ini tentunya sulit dilakukan saat ini, mengingat tingginya ketergantungan petani dalam penggunaan pestisida kimia agar OPT dapat ditangani dengan mudah dan cepat. Padahal, pengendalian OPT seharusnya mengikuti gatra pengelolaan ekosistem, yaitu teknis, ekologis, ekonomis, dan sosial budaya (Marwoto, 2008). Produksi yang tinggi tanpa adanya gangguan dari OPT menjadi latar belakang utama

penggunaan pestisida kimia yang bahkan melebihi ambang batas rekomendasi. Untuk dapat mengejar produksi tinggi tersebut, petani memilih cara pengendalian kimiawi dikarenakan biaya yang lebih murah (ekonomis), mudah, dan memiliki efek langsung yang kentara bagi pengendalian OPT. Hal tersebut tentunya justru akan berdampak buruk bagi lingkungan atau ekosistem sekitar. Pengendalian OPT pada sistem pertanian organik dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan pengendalian mekanis, pengendalian fisik, pengendalian hayati, menerapkan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan metode tanpa adanya pemberian bahan kimia dan dengan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh suatu wilayah ataupun masyarakat dalam pengendalian OPT. Pengendalian tersebut diharapkan dapat menggantikan pengendalian secara kimiawi yang memiliki dampak buruk bagi lingkungan, serta dapat mengurangi tingkat pencemaran yang disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada pengendalian OPT. Berdasarkan INPRES No. 3 Tahun 1986 dan Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, pengendalian OPT untuk semua tanaman adalah menggunakan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Sistem PHT memiliki empat prinsip dasar, yaitu:

a. Budidaya tanaman sehat : tanaman yang sehat mampu mengatasi kerusakan dan kerugian hasil yang diakibatkan serangan OPT.

kerusakan dan kerugian hasil yang diakibatkan serangan OPT. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
kerusakan dan kerugian hasil yang diakibatkan serangan OPT. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

b. Pemanfaatan dan pelestarian ungsi musuh alami : kemampuan musuh alami dalam mengendalikan populasi OPT sangat kuat, sehingga keberadaannya selalu harus dijaga, dilestarikan dan didayagunakan.

c. Pemantauan lahan secara rutin atau mingguan : ekosistem lahan berubah sangat dinamis. Kombinasi faktor-faktor lingkungan tertentu dapat menimbulkan pertumbuhan populasi OPT. Oleh karena itu pemantauan lahan secara rutin perlu selalu dilakukan.

d. Petani sebagai ahli PHT : petani bersama dengan kelompoknya perlu dicetak menjadi ahli PHT sehingga mampu menjadi pengamat, penganalisis ekosistem, pengambil keputusan dan sekaligus pelaksana pengendalian OPT di lahannya sendiri.

1)

Bawang Merah Hama penyakit yang menyerang tanaman bawang merah antara lain

adalah ulat grayak Spodoptera, Trips, Bercak ungu Alternaria (Trotol); Colletotrichum, busuk umbi Fusarium dan busuk putih Sclerotum, busuk daun Stemphylium dan virus. Menurut Sumarni dan Hidayat (2005), petani kerap memberikan pestisida yang tidak tepat dosis dan tidak tepat waktu dalam penanganan OPT bawang merah, misalnya saja pencampuran 2-3 jenis pestisida dalam satu kali pemberian, dosis yang tidak tepat, spuyer (nozzle) yang tidak standar, dan interval waktu yang terlalu dekat bahkan hampir setiap hari. Hal tersebut akan menyebabkan masalah yang serius antara lain kesehatan, pemborosan, resistensi OPT, residu pestisida, dan pencemaran lingkungan.

a) Penggunaan Teknologi pada pengendalian OPT Balai Penelitian Tanaman Sayuran telah mengembangkan Bio insektisida untuk mengendalikan hama ulat bawang (Spodoptera exigua Hubn.). Insektisida dengan bahan aktif SeNPV (Spodoptera exigua Nuclear Polyhedrosis Virus), ini relatif aman untuk lingkungan dan makhluk hidup lainnya, karena sangat selektif, hanya menjadi patogen untuk ulat bawang (Moekasan 1998). Selain itu pengendalian OPT ini dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati seperti NPV, Metarrhizium sp, dan Beauveria sp.

hayati seperti NPV, Metarrhizium sp, dan Beauveria sp. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
hayati seperti NPV, Metarrhizium sp, dan Beauveria sp. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Teknologi lain yang dapat digunakan adalah dengan penggunaan Trap atau jebakan. Penggunaan trap telah diteliti dan dianggap sebagai teknologi cukup efektif untuk dapat mengendalikan salah satu OPT bawang merah, yaitu Trips (Thrips tabaci). Trap dibuat dari kertas yang berwarna merah muda, lengket dan diberi suhu panas yang dapat menarik perhatian dari Trips. Hasil penelitian dari ATTRA (2007) menunjukkan bahwa hama Trips sangat tertarik dengan warna merah muda dan suhu yang relatif panas, sehingga jebakan tersebut akan sangat efektif dalam penanganan hama Trips. Penggunaan varietas unggul tahan OPT juga merupakan salah satu teknologi yang dapat mencegah serangan OPT seperti Bauji (agak tahan dengan Spodoptera exigua), Sumenep (tahan terhadap penyakit Fusarium, bercak ungu (Alternaria porri) dan antraknose (Colletotrichum spp.)), maupun Bima Brebes (Cukup tahan terhadap penyakit busuk umbi (Botrytis alli)).

b) Penggunaan kearifan lokal, pengendalian mekanis, dan pengendalian fisik Penggunaan kearifan lokal dalam pengendalian OPT ini dapat dilakukan dengan pola penanaman (UC-IPM, 2008) dan pemanasan tanah (ATTRA, 2007). Menurut UC-IPM (2008), pengendalian secara kultural atau kearifan lokal yang telah dilakukan pada beberapa daerah yaitu dengan tidak menanam bawang merah di samping lahan penanaman tanaman padi. Hal ini disebabkan karena beberapa hama memiliki inang hama dan gulma yang sering muncul pada tanaman padi, sehingga penanaman bawang merah di dekat tanaman padi dicurigai dapat menyebabkan populasi OPT seperti Trips dan Alternaria porii meningkat. Pemilihan musim tanam juga sangat menentukan tingkat serangan OPT. Jika bawang merah ditanam pada musim penghujan, tingkat populasi OPT seperti Trips dan antraknosa akan meningkat. Beberapa kearifan lokal lain yang saat ini dilakukan oleh petani dalam pengendalian OPT adalah penggunaan akar tuba, akar kelor, sambiloto, daun pepaya, daun srikaya, dan daun mindi. Bahan-bahan tersebut ditumbuk dan diperas airnya, kemudian disemprotkan ke tanaman yang terkena serangan OPT. Selain itu, beberapa petani juga menggunakan air

OPT. Selain itu, beberapa petani juga menggunakan air Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
OPT. Selain itu, beberapa petani juga menggunakan air Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

gula dalam pengendalian ulat grayak. Air gula akan mendatangkan semut yang merupakan predator alami ulat grayak, sehingga serangan ulat grayak pada tanaman akan berkurang. Pemanasan tanah pada saat pengolahan tanah dimaksudkan agar OPT yang ada di dalam tanah dapat hilang dan mengurangi adanya OPT yang masih tertinggal di dalam tanah yang dapat muncul dari tanaman sebelumnya. Menurut ATTRA (2007), pemanasan tanah hingga suhu 60°F dapat menyebabkan telur-telur Trips yang berada di dalam tanah akan mati sehingga populasi Trips akan menurun. Beberapa negara maju telah menerapkan berbagai model penanaman bawang merah organik yang di tanam di rumah kaca yang memiliki beberapa teknologi seperti pengatur suhu, pengatur penyiraman air, pengatur intensitas cahaya, dan lain sebagainya. Hal ini tentu sulit dilakukan di Indonesia karena biaya produksi akan sangat mahal dan terbatas pada skala kecil saja. Tingginya biaya produksi akan berimbas pada tingginya harga jual, sehingga hanya beberapa kalangan saja yang dapat membeli hasil produksi tersebut. Terbatasnya akses dalam implementasi teknologi pengendalian OPT ini menyebabkan petani masih memilih pengendalian secara kimiawi sebagai pengendalian utama OPT bawang merah. Selain itu, teknologi tersebut dirasa memiliki efek yang lama dalam pengendalian OPT, proses yang memakan waktu, dan biaya yang tidak murah, sedangkan petani menginginkan suatu proses yang cepat dan ekonomis, sehingga pengendalian OPT non kimiawi masih sulit untuk dapat diterima dan diterapkan.

2)

Bayam Penyakit yang sering dijumpai kemungkinannya adalah penyakit rebah kecambah di pembibitan disebabkan oleh cendawan Pythium sp. Dan atau Rizoctonia solani, penyakit busuk basah batang muda dan daun Choaenophora sp., bercak daun Erospora beticola dan karat putih Albugo bliti. Penyakit tanaman biasanya banyak menyerang pada musim hujan. Hama tanaman yang mungkin harus dihadapi antara lain adalah ulat Plusia sp. dan Prodenia litura, lalat polifogus Liriomyza sp., kutu daun Thrips spp. dan Myzus persicae dan tungau daun Polyphagotarsonemus latus. Hama tanaman

dan tungau daun Polyphagotarsonemus latus . Hama tanaman Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
dan tungau daun Polyphagotarsonemus latus . Hama tanaman Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

kebanyakan menyerang hebat pada waktu musim kemarau. Menurut Thamrin dan Asikin (2009), permasalahan utama pada pengendalian OPT pada tanaman bayam adalah petani kerap menyemprotkan pestisida kimia melebihi dosis yang dianjurkan dengan interval waktu yang sangat pendek (hampir setiap hari), sehingga daun bayam banyak yang rusak bukan dikarenakan oleh

OPT, melainkan terkena zat kimia dari pestisida. Pada umumnya kerugian yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit bayam tergolong ringan sampai sedang. Hal tersebut mungkin disebabkan karena umur petani bayam cabut yang relatif singkat yaitu sekitar 21 hari, apabila terjadi kerusakan berat (puso) segera dapat diganti dengan tanaman baru karena biaya produksi usaha bayam relatif murah. Bayam yang ditanam di dataran tinggi dan medium, sering dirusak oleh lalat Liriomyza sp. Berbagai jenis belalang juga sering ditemukan merusak daun bayam, mengakibatkan kualitas bayam merosot. Hama tersebut di atas lebih banyak ditemui menyerang bayam yang ditanam pada musim kemarau (Soeganda,

1996).

a) Penggunaan Teknologi pada pengendalian OPT Terdapat beberapa cara dalam pengendalian OPT pada bayam, antara lain penggunaan perangkap berwarna kuning (Thamrin dan Asikin, 2009) dan penggunaan bio insektisida. Menurut Nurdin dkk. (1999), perangkap kuning dari bahan plastik yang diolesi dengan pelumas lebih efektif mengendalikan lalat korok daun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh warna kuning pada plastik lebih kontras dan mengkilap sehingga lalat lebih tertarik dibandingkan jenis perangkap kuning lainnya. Dan di samping itu pula plastik kuning tersebut lebih tahan terhadap hujan dan cahaya matahari, sehingga mengakibatkan lebih melekatnya lebih awet atau lebih lama. Penggunaan bio insektisida pada pengendalian OPT bawang merah dapat dilakukan dengan beberapa organisme. Asikin dan Thamrin (2002) melaporkan bahwa hasil inventarisasi beberapa tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati terhadap hama ulat yaitu Lukut (Patycerium bifurcatum), Kapayang (Pangium edule), Kalalayu (Eriogiosum rubiginosum), Lua (Ficus glomerata), Galam (Melaleuca leucandra), rumput minjangan (Chromolaema odoratum), Sarigading (Nyctanthes

minjangan ( Chromolaema odoratum ), Sarigading ( Nyctanthes Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
minjangan ( Chromolaema odoratum ), Sarigading ( Nyctanthes Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

arbortritis), Jingah (Glutha rengas), Mamali dan Maya. pestisida nabati tersebut diduga bersifat racun perut, karena pada hari pertama terjadi kontak belum memperlihatkan gejala keracunan, tetapi setelah larva-larva tersebut makan sehingga mengakibatkan gejala keracunan bagi larva tersebut. Daya toksisitas/racun tertinggi yaitu pada bahan tumbuhan Pangium edule, Palatycerium bifurcatum dan Eriglossum rubiginosum yaitu daya racunnya berkisar antara 70-85%. Meskipun keefektifan senyawa kimia nabati jauh di bawah senyawa kimia sintetik, tetapi senyawa tersebut mempunyai kelebihan, yaitu kurang menimbulkan dampak negatif antara lain residu yang terjadi melalui rantai makanan yang membahayakan manusia dan lingkungan. Menurut Campbell (1933) dan Burkill (1935) jenis tumbuhan telah diketahui berfungsi sebagai insektisida dan repelen atau attraktan mengandung senyawa bio aktif seperti alkaloid, terpenoid, steroid, asetogenin, fenil propan, dan tanin.

b) Penggunaan kearifan lokal, pengendalian mekanis, dan pengendalian fisik Menurut Thamrin dan Asikin (2009), taktik pengendalian dengan menggunakan asap sudah seringkali dilakukan tetapi hasilnya kurang memuaskan. Dengan mengganti bahan pengasapan tersebut dengan menggunakan bahan tumbuhan mercon menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, karena bahan tersebut dapat menimbulkan bau sehingga dapat mempengaruhi aktivitas dari hama-hama sayuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan asap dari bahan tumbuhan mercon dapat menekan intensitas kerusakan oleh hama daun dan beberapa hama lainnya. Hal ini diduga bahwa bau asap dari bahan tersebut dapat mengusir hama-hama tersebut, karena pada lokasi pertanaman sayuran yang dikendalikan dengan insektisida hampir tidak menunjukkan adanya perbedaan dari tingkat kerusakan tanamannya. Jika penanaman tanaman bayam di lakukan dalam skala kecil atau tidak terlalu luas, pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanis, yaitu mengambil langsung hama yang hinggap di tanaman. Sanitasi lingkungan pertanaman juga sangat penting dijaga agar tanaman terhindar dari OPT yang menyerang.

dijaga agar tanaman terhindar dari OPT yang menyerang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
dijaga agar tanaman terhindar dari OPT yang menyerang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Bayam merupakan tanaman yang memiliki umur panen yang pendek, yaitu 20 hari setelah tanam atau ketika tinggi tanaman telah mencapai 20 cm. Dalam penanaman skala besar, pengendalian OPT menggunakan bio insektisida dapat dilakukan, namun efek yang terjadi lebih lama dibandingkan dengan pestisida kimia. Umur panen yang pendek menyebabkan petani lebih memilih untuk menggunakan pestisida kimia agar OPT dapat hilang sebelum panen tiba.

3)

Sawi Serangan berat organisme pengganggu pada tanaman menyebabkan daun rusak atau habis termakan sehingga dapat menurunkan produksi sampai mematikan tanaman. Hama ulat pemakan daun Spodoptera sp. dan Plutella sp. paling banyak menyerang tanaman sayur-sayuran dan menyebabkan kerusakan sekitar 12,5 % (Sriniastuti, 2005). Menurut Sastrosiswodjo dan Oka (1997), Salah satu kendala utama dalam usahatani sawi adalah masalah hama. Hama utama yang menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Ulat ini seringkali menyebabkan kerugian yang sangat besar dan dapat mencapai 100% apabila tidak dikendalikan. Umur panen yang relatif pendek pada tanaman sawi hijau menyebabkan tanaman sangat peka terhadap respon pemberian pupuk serta gangguan hama dan penyakit tumbuhan. Oleh karena itu, petani menggunakan pupuk dan pestisida yang sangat intensif. Petani sering kali menggunakan pestisida kimia dengan interval yang relatif pendek, misalnya setiap 2 hari sekali.

Bahkan, dalam satu kali aplikasi petani mencampur 2 jenis pestisida atau lebih untuk menanggulangi hama yang menyerang.

a) Penggunaan Teknologi pada pengendalian OPT Penggunaan senyawa alelopat sebagai insektisida nabati dari bahan culan dan kenikir masing-masing 100 gr/liter dan Azadirachtin (ekstrak biji nimba) 1,5 ml/liter. Penggunaan senyawa sebagai bio insektisida juga ditemukan di tanaman pepaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Konno (2004), getah pepaya mengandung kelompok enzim sistein protease seperti papain dan kimopapain. Getah pepaya juga menghasilkan senyawa – senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino non protein yang sangat beracun bagi serangga

dan asam amino non protein yang sangat beracun bagi serangga Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman
dan asam amino non protein yang sangat beracun bagi serangga Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman

pemakan tumbuhan. Ekstrak daun pepaya merupakan salah satu bahan alami yang dapat dijadikan insektisida yang efektif dan aman bagi lingkungan. Agens Trichoderma harzianum, Trichoderma viride (GR isolat), Streptomyces rochei, dan Bacillus subtilis (UK-9) sangat efektif terhadap penanganan Alternaria brassicae, Alternaria brassicicola dan Plasmodiophora brassicae. Predator seperti Coccinella septempunctata dikenal sebagai agen biokontrol yang efisien terhadap kutu sawi (Meena et al., 2004). Induksi resistensi sistemik pada tanaman sawi yang rentan dapat diperoleh dengan inokulasi sebelum tanam dengan isolat Albugo candida (Singh et al., 1999). Penelitian tersebut menunjukkan efek yang baik bagi pengendalian kutu sawi (kutu aphid) (Patni et al., 2005).

b) Penggunaan kearifan lokal, pengendalian mekanis, dan pengendalian fisik Sama halnya dengan tanaman bayam, pengendalian OPT pada tanaman sawi dapat dilakukan dengan mengambil secara manual hama yang hinggap di tanaman. Penggunaan varietas yang umur pendek memungkinkan tanaman dapat terhindar dari serangan pathogen penyakit (Kolte et al., 2000), dan pemberian mikronutrien seperti boron dan seng sangat berguna dalam menangani hama kutu. Penyakit akar gada dapat dikendalikan pada pH tanah 7,2 dengan menambahkan 3t ha-1 kapur di tanah.

5.2.4. Keterbatasan teknologi pengemasan yang memenuhi syarat organik Pada dasarnya, tidak ada perlakuan yang dapat meningkatkan kualitas hasil tanaman, tetapi kita dapat menjaga kualitas hasil tersebut agar tidak menurun. Namun, hal tersebut ternyata sulit dilakukan pada penanganan pasca panen secara organik. Petani ataupun pedagang kerap menambahkan senyawa kimia seperti fungisida agar hasil panen dapat bertahan lama tanpa ada resiko busuk. Namun tentunya hal tersebut akan menimbulkan residu pestisida yang akan membahayakan konsumen. Pengemasan komoditas organik tanpa adanya penambahan senyawa kimia dapat dilakukan dengan menggunakan kemasan yang kedap udara, berkualitas baik, tidak menyebabkan memar atau luka, tidak menimbulkan tekanan dan suhu yang

memar atau luka, tidak menimbulkan tekanan dan suhu yang Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
memar atau luka, tidak menimbulkan tekanan dan suhu yang Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

panas (overheating), menjamin komoditas tetap bersih dan mencegah terjadinya infeksi mikroorganisme, mempertahankan mutu penjualan komoditas, dan mudah didapatkan dengan harga relatif murah. Namun kenyataannya, pengemasan komoditas sayuran masih dilakukan dengan tidak memperhatikan teknis pengemasan yang baik, sehingga banyak hasil yang rusak. Alasan penyimpanan dan pengangkutan yang lama, serta efisiensi waktu pengemasan membuat pedagang maupun petani tidak menjalankan teknik pengemasan yang baik. Pengemasan yang terlalu rumit akan menyebabkan biaya produksi ikut meningkat dan pemasaran akan semakin lama, sehingga petani akan mengalami penurunan keuntungan. Pengemasan produk pertanian organik dapat dilakukan dengan menggunakan cardboard packaging, EPS boxes, dan Collapsible Pallet Sleeves yang telah sesuai dengan standar pengemasan produk pertanian organik negara maju. Namun kemasan tersebut memiliki harga yang cukup mahal, sehingga jika petani ingin mengemasnya dengan kemasan tersebut, petani harus menaikkan harga jual produknya. Bertambahnya biaya produksi dan waktu pengerjaan yang lama menjadi alasan utama petani ataupun penjual enggan melakukan pengemasan. Pengemasan tersebut sebetulnya hanya diperuntukkan untuk penjualan ke supermarket ataupun pasar modern yang memang mensyaratkan adanya standar pengolahan produk pertanian organik. Padahal, tidak semua petani dapat menjadi pemasok produk pertanian di pasar modern tersebut, sehingga pengemasan sesuai standar tidak dilakukan dan lebih memilih untuk memasarkannya ke pasar tradisional atau tengkulak. Sebenarnya, pengepakan atau pengemasan yang baik akan menjaga kualitas sayuran sampai ke tangan konsumen. Contohnya pada pengemasan dengan menggunakan film plastic. Kegunaan dari kemasan dalam bentuk ini adalah tampilan akan tampak bersih dan mewah, mengurangi penguapan yang berlebihan untuk memperpanjang shelf life, dan melindungi sayur dari kontaminasi silang. Pengemasan yang baik juga akan menambah nilai jual pada konsumen.

5.2.5. Pemasaran Setiap kegiatan bisnis akan selalu berorientasi pada keuntungan. Berorientasi pada keuntungan berarti petani dalam praktek usahataninya harus untung dengan cara pengalokasian input yang optimal dan didukung dengan pasar yang prospektif.

yang optimal dan didukung dengan pasar yang prospektif. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
yang optimal dan didukung dengan pasar yang prospektif. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Pasar memegang peranan yang sangat penting karena merupakan ujung tombak aliran barang atau jasa dalam saluran pemasaran. Setiap orang memerlukan makan. Makanan yang dikonsumsi tidaklah cukup hanya memenuhi dari segi jumlahnya, tetapi juga harus terpenuhi dari segi gizinya dari makanan yang beragam. Salah satu sumber bahan makanan yang memasok sumber gizi yang beragam adalah dari jenis sayuran. Dewasa ini, dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan tingkat ekonomi, masyarakat tidak hanya menuntut mengkonsumsi bahan makanan yang berkualitas dengan kandungan gizi yang cukup, tetapi juga makanan yang layak atau sehat bila dikonsumsi. Makanan yang sehat dikonsumsi dan memiliki nilai gizi yang dibutuhkan tubuh dapat dipenuhi dari mengkonsumsi sayuran yang diproduksi secara organik. Potensi pasar untuk sayuran organik sesungguhnya ada dan merupakan produk yang dicari-cari di masa yang akan datang dan merupakan peluang meningkatkan taraf hidup petani melalui peningkatan nilai produksi. Keadaan ini akan terjadi saat semua lapisan masyarakat dari petani hingga konsumen menyadari pentingnya nilai kesehatan dan keberlanjutan lingkungan untuk produksi pangan. Tetapi, untuk mencapai keadaan tersebut tidaklah mudah, terutama keuntungan yang tinggi itu hanya akan tercapai saat sayuran organik juga mempunyai pasar yang baik. Saat ini terdapat kendala yaitu konsumen sayuran organik masih sangat terbatas, yaitu konsumen yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas dan sebagian besar memiliki pendidikan tinggi dan berjumlah kurang lebih 20% dari total konsumen sayuran. Untuk menghadapi kendala ini, sangat diperlukan transfer pengetahuan dan penyadaran terhadap khususnya konsumen untuk berpola hidup sehat. Transfer pengetahuan dapat dilakukan dengan memasukkannya ke dalam proses pembelajaran baik secara formal di sekolah atau secara informal dengan penyuluhan. Perubahan mind set ini diharapkan selain dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, juga dapat membuka pasar yang lebih luas untuk produk sayuran organik. Tempat untuk memasarkan produk organik juga masih sangat terbatas, yaitu di pasar modern seperti supermarket. Konsumen sayuran organik yang rata-rata berpendidikan dan golongan ekonomi menengah ke atas sebagian besar lebih banyak membeli kebutuhan bahan makanannya di pasar modern. Keadaan ini menjadi kendala karena hanya pemasok bermodal besar dan mempunyai chanel yang bisa masuk ke pasar modern. Selain itu, pasar modern juga membatasi jumlah

pasar modern. Selain itu, pasar modern juga membatasi jumlah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pasar modern. Selain itu, pasar modern juga membatasi jumlah Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

pemasok sayuran yang dapat memasokkan produk sayuran organik mereka karena selain pesaing yang sudah banyak, hal ini akan memudahkan manajemen kontrol kualitas untuk memastikan produk sayuran organik dalam keadaan baik dan tidak membusuk karena kelebihan stok. Pasar sayuran organik seperti pasar modern tidak meminta produk dalam jumlah yang besar tetapi hanya dalam jumlah sedikit tetapi dapat menjaga kontinuitas suplai produk. Perlu dipikirkan untuk solusi menghadapi kendala ini. Solusinya tentu saja dengan membuka pasar potensial baru yang dapat menyerap produksi sayuran organik. Pasar potensial ini meliputi rumah sakit, restoran, dan perhotelan. Rumah sakit setiap hari harus memberi asupan makanan yang sehat dan bergizi bagi pasiennya. Asupan makanan yang sehat dan bergizi ini dapat dicukupi dari sayuran yang dibudidayakan secara organik. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan penerbitan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan sebagai salah satu pemegang kebijakan yang ditujukan kepada rumah sakit negeri maupun swasta di Indonesia sebagai salah satu bentuk penjaminan kepada pasien. Restoran dan perhotelan merupakan pasar potensial karena setiap restoran atau rumah makan akan selalu berusaha menyajikan makanan yang berkualitas dari segi rasa, warna, manfaat kesehatan yang didapatkan oleh konsumen. Begitu pula dengan hotel yang akan menyajikan makanan yang berkelas kepada tamu sebagai salah satu bentuk pelayanan yang bermutu. Konsumen untuk pasar ini tentu sebagian besar adalah konsumen yang berpendidikan sehingga memiliki kesadaran akan kualitas kesehatan dari makanan dan memiliki kemampuan finansial untuk membeli. Keberlanjutan dari pasar ini juga cukup menjanjikan. Kendala dalam pemasaran sayuran organik berikutnya adalah informasi pasar. Setiap produsen termasuk di dalamnya petani yang menjalankan bisnis dan berorientasi pada keuntungan akan memproduksi produk pertanian yang jenis dan jumlahnya dibutuhkan oleh pasar. Petani dalam keadaan ini tidaklah bersifat marketing myopi (menjual produk yang bisa diproduksi bukan menjual produk yang dibutuhkan oleh pasar). Informasi terhadap pasar bisa ditempuh dengan adanya forum khusus produsen dan konsumen sayuran organik. Di zaman digital saat ini, solusi tersebut dimudahkan dengan membuat situs khusus yang difasilitasi oleh pemerintah dan dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengetahui kebutuhan pasar, serta bagi konsumen untuk mengetahui jumlah stok

pasar, serta bagi konsumen untuk mengetahui jumlah stok Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pasar, serta bagi konsumen untuk mengetahui jumlah stok Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

dan perkembangan harga sayuran organik yang diinginkan. Fasilitas situs forum berbasis internet ini memungkinkan untuk dapat dikembangkan menjadi pasar elektronik (e-market) untuk memudahkan transaksi antara petani dan konsumen sayuran organik.

5.2.6. Kelembagaan Salah satu masalah utama yang harus dituntaskan dalam pengembangan pertanian organik khususnya di DIY adalah belum berdayanya lembaga serta kelembagaan. Baik berupa lembaga petani, lembaga pengadaan sarana produksi, lembaga pemasaran produk, dan yang tidak kalah pentingnya adalah lembaga konsumen produk organik. Sebenarnya sudah banyak lembaga yang telah dibentuk oleh pemerintah, akan tetap hanya sebagian kecil saja yang bertahan. Berkembangnya kondisi seperti ini karena kurang tepatnya metode pendekatan yang digunakan dan kurangnya perencanaan yang baik. Selain itu komitmen dan usaha pemerintah sangat dibutuhkan, dimana untuk pengembangan usaha pertanian organik membutuhkan alokasi anggaran yang memadai, terutama dalam upaya pengembangan kelembagaan usaha pertanian organik. Kelembagaan utama yang eksis dalam pengembangan pertanian organik pada tingkat pelaku di DIY adalah organisasi petani yang diwujudkan dalam bentuk kelompok tani. Para petani dihimpun dalam sebuah organisasi untuk memudahkan pemerintah bagi aparat untuk melaksanakan pembinaan di lapangan. Dari segi kualitas memang kelompok tani yang sudah dibentuk telah berorganisasi dengan baik dan menjalankan fungsinya sebagai sebuah lembaga, akan tetapi apabila dilihat dari segi kuantitas, jumlah kelompok tani organik di DIY masih sangat sedikit sekali apalagi untuk kelompok tani organik yang membudidayakan komoditas hortikultura. Faktor yang menjadi lemahnya antusiasme para petani untuk membuat lembaga pertanian organik sebenarnya dipengaruhi oleh lemahnya ketertarikan petani dalam membudidayakan tanaman sayuran dengan cara organik, seperti produktivitas tanaman organik yang berjalan lambat karena kualitas sarana produksi yang digunakan, curahan waktu dan tenaga kerja untuk sistem organik lebih intensif walaupun sebenarnya biaya yang dikeluarkan lebih rendah. Selain lembaga di tingkat pelaku atau petani, di Propinsi DIY juga belum ada organisasi yang membina Kelompok Tani Organik atau suatu organisasi persatuan petani organik. Sebenarnya manfaat dibentuknya organisasi persatuan petani organik

manfaat dibentuknya organisasi persatuan petani organik Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
manfaat dibentuknya organisasi persatuan petani organik Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

dapat dijadikan sarana bagi pemerintah untuk membina dan melatih para petani- petani untuk dijadikan petani pakar dalam bidang pertanian organik. Nantinya para pakar itu yang akan membina dan melatih petani-petani yang tertarik untuk berusahatani secara organik. Dalam pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di DIY dibutuhkan lembaga-lembaga pendukung lainnya yang harus terintegrasi antara satu dengan yang lainnya untuk mendukung berjalannya pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek dari hulu sampai ke hilir. Berikut adalah beberapa contoh lembaga yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertanian organik seperti kelembagaan sarana produksi, kelembagaan peningkatan motivasi, kelembagaan penyuluhan, dan kelembagaan pemasaran. Pada paragraf selanjutnya akan dijabarkan masing-masing lembaga pendukung tersebut. Dalam penyediaan sarana produksi pertanian organik, sebagian besar petani sudah mampu menyediakan pupuk organik secara mandiri akan tetapi untuk kebutuhan sarana produksi lainnya seperti pupuk daun, pestisida alami dan lain-lain dirasakan perlu adanya sebuah lembaga yang menyediakan sarana produksi tersebut. Karena salah satu kendala dalam pertanian organik adalah tidak tersedianya sarana produksi yang alami di pasaran. Sehingga untuk skala pengembangan pertanian organik ini, petani perlu diberi kemudahan akses terhadap sumber-sumber sarana produksi alami tersebut dalam bentuk lembaga penyedia sarana produksi. Pada skala pengembangan pertanian organik, motivasi bagi petani menjadi sangat penting untuk menjamin keberlanjutan penerapan sistem pertanian organik. Sehingga diperlukan lembaga yang mampu meningkatkan motivasi bagi petani organik agar mau melanjutkan bertani secara organik misalnya dengan cara insentif harga pupuk organik, kompensasi untuk tidak membakar jerami, dana bantuan untuk sertifikasi dan yang lainnya. Kelembagaan penyuluhan sangat dibutuhkan dalam rangka merubah mindset petani untuk beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. Selain itu peranan lembaga penyuluhan dalam pengembangan pertanian organik diantaranya adalah untuk menyadarkan masyarakat atas peluang pertanian organik mulai dari perencanaan sistem pertanian organik sampai pada tahap menikmati hasil pertanian organik, memberikan kemampuan petani untuk menentukan program pertanian organik.

kemampuan petani untuk menentukan program pertanian organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
kemampuan petani untuk menentukan program pertanian organik. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Untuk menunjang aktivitas usahatani organik, pemerintah diharapkan membangun jaringan kelembagaan pemasaran. Kegiatan membangun jaringan pemasaran dapat dimulai dengan memfasilitasi petani dengan pengusaha dilanjutkan dengan fasilitasi untuk promosi ke konsumen. Lembaga yang dibentuk berperan mengumpulkan produk sayuran organik untuk diteruskan pada konsumen. Kemudian dengan memfasilitasi pengadaan outlet produk sayuran dan pangan organik lainnya untuk diteruskan pada konsumen. Harga yang berlaku berdasarkan keputusan dari produsen. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasaran, selain kualitas dan kuantitas produk pertanian adalah konsistensi atau keberlanjutan pasokan produk sayuran organik. Karena konsumen pada umumnya menuntut keberlanjutan ketersediaan produk sehingga konsumen tidak akan kecewa karena apabila konsumen kecewa maka konsumen akan kembali mengkonsumsi produk pertanian yang konvensional. Selain itu pemerintah juga dapat menginisiasi pembentukan konsumen produk organik khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan adanya lembaga yang menaungi konsumen produk pertanian organik, maka konsumen akan dapat lebih mudah untuk mendapatkan informasi produk organik serta lebih mendapatkan kepastian bahwa produk yang dikonsumsinya itu adalah produk yang diolah dengan sistem organik, karena salah satu masalah bagi konsumen organik adalah di mana mereka bisa mendapatkan produk organik itu. Terbatasnya produk organik seringkali menyebabkan konsumen sulit mendapatkannya. Seiring perkembangan waktu pun, seringkali konsumen juga mendapatkan produk organik yang palsu. Lembaga Konsumen ini nantinya dapat menjalin kerja sama dengan para petani atau pelaku pasar organik sehingga petani dan pelaku pasar komoditas organik mendapatkan pasar yang jelas (melalui lembaga konsumen organik) dan konsumen juga mendapatkan informasi yang lengkap dan keberlanjutan ketersediaan produk organik. Sistem berbelanja bersama komunitas bisa menjadi solusi bagi konsumen dan produsen organik bertemu dan bertransaksi. Masing-masing bisa mendapatkan manfaat. Konsumen bisa mendapatkan produk organik asli dan berkualitas dengan harga lebih terjangkau. Petani juga bisa memasarkan produknya dengan harga yang selayaknya. Dengan adanya komunitas bersama untuk berbelanja organik ini, konsumen dapat terhindar dari pemalsuan produk organik dan bisa lebih optimal dalam menerapkan pola hidup organik yang telah dipilihnya. Petani organik pun bisa

hidup organik yang telah dipilihnya. Petani organik pun bisa Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
hidup organik yang telah dipilihnya. Petani organik pun bisa Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

menghindari kerugian akibat tidak terjualnya produknya dan mendapatkan keuntungan dari usahanya.

produknya dan mendapatkan keuntungan dari usahanya. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
produknya dan mendapatkan keuntungan dari usahanya. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB VI. KERANGKA MODEL PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI DIY

6.1. Model Pengembangan Berbasis Sistem Agribisnis Secara konsepsional sistem agribisnis dapat diartikan sebagai semua aktivitas, mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi (input) sampai dengan pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani serta agroindustri, yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian pengembangan pertanian organik

sayuran umur pendek melalui sistem agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu (Maulidah, 2012):

a.

Subsistem Agribisnis Hulu Meliputi pengadaan sarana produksi pertanian antara lain terdiri dari benih organik, pupuk ,teknologi hayati pemberantas hama dan penyakit, bahan bakar, alat- alat, mesin, dan peralatan produksi pertanian. Pelaku-pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta, pemerintah, dan koperasi. Industri yang menyediakan sarana produksi pertanian disebut juga sebagai agroindustri hulu (up stream).

b.

Subsistem Budidaya / On Farm Usaha tani pertanian organik sayuran umur pendek menghasilkan produk pertanian organik berupa bahan pangan organik, khususnya sayuran umur pendek. Pelaku kegiatan dalam subsistem ini adalah produsen yang terdiri dari petani khususnya dalam pengembangan program ini adalah petani hortikultura untuk komoditas sayuran organik umur pendek (bawang merah, sawi, dan bayam).

c.

Subsistem Pengolahan/ Processing Pengolahan produk pertanian dapat menaikkan atau manambah nilai dari produk tersebut. Naiknya nilai produk pertanian akan berdampak pada produk yang lebih disukai oleh konsumen dan konsumen bersedia membayar lebih atas produk pertanian tersebut. Subsistem pengolahan termasuk didalamnya terdapat proses sortasi, grading, pengemasan bahkan mengolah menjadi produk turunan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

produk turunan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
produk turunan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

d. Subsistem Agribisnis Hilir seperti Pemasaran (Tata niaga) Produk Pertanian dan Olahannya Dalam subsistem ini terdapat rangkaian pengolahan mulai dari pengumpulan produk usaha tani, pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Sebagian dari produk yang dihasilkan dari usahatani didistribusikan langsung ke konsumen. Sebagian lainnya mengalami proses pengolahan lebih dahulu kemudian didistribusikan ke konsumen. Pelaku kegiatan dalam subsistem pertanian organik sayuran umur pendek ini ialah pengumpul produk, pengolah, pedagang, penyalur ke konsumen dalam bentuk outlet-outlet, pengemasan, dan lain-lain. Industri yang mengolah produk usahatani disebut agroindustri hilir (downstream). Peranannya amat penting bila ditempatkan di perdesaan karena dapat menjadi motor penggerak roda perekonomian di pedesaan, dengan cara menyerap/menciptakan lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perdesaan.

e. Subsistem Pendukung (Perbankan, Penyuluhan dan lain-lain) Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (kelembagaan) atau supporting institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan subsistem hulu, subsistem usaha tani, dan subsistem hilir. Lembaga-lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah penyuluh, konsultan, keuangan, dan penelitian dari akademisi atau lembaga penelitian dari pemerintah. Lembaga penyuluhan dan konsultan memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh petani dan pembinaan teknik produksi, budidaya pertanian, dan manajemen pertanian. Untuk lembaga keuangan seperti perbankan, model ventura, dan asuransi yang memberikan layanan keuangan berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha (khusus asuransi). Sedangkan lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-balai penelitian atau perguruan tinggi memberikan layanan informasi teknologi produksi, budidaya, atau teknik manajemen mutakhir hasil penelitian dan pengembangan. Agribisnis sebagai suatu sistem dapat terlihat jelas bahwa subsistem-subsistem tersebut tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling terkait satu dengan yang lain. Subsistem agribisnis hulu membutuhkan umpan balik dari subsistem usaha tani agar dapat memproduksi sarana produksi yang sesuai dengan kebutuhan budidaya pertanian. Sebaliknya, keberhasilan pelaksanaan subsistem usaha tani pertanian organik sayuran umur pendek di DIY bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan

di DIY bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
di DIY bergantung pada sarana produksi yang dihasilkan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

oleh subsistem agribisnis hilir. Oleh karena itu sinergi antara subsistem dengan

subsistem yang lainnya perlu dilakukan dan perlunya komunikasi antar subsistem

untuk meminimalkan terjadinya kegagalan dalam pengembangan sistem agribisnis

pertanian organik sayuran umur pendek di DIY.

6.2. Quadruple Helix Inovation

6.2.1. Sinergi ABCG

Menurut Quadruple Helix Inovation Teory (QHIT) (Elias G. Carayannis and

David F.J. Campbell, 2012)., struktur ekonomi suatu kawasan terletak pada empat

pilar/helix, yaitu ABCG yang terdiri dari Academician (akademisi), Businessman

(pembisnis), Civil Society (masyarakat), dan Goverment (pemerintah). Pembangunan

kawasan dengan konsep ini berarti pembangunan dilakukan dengan memperhatikan

potensi lokalitas dari kawasan yaitu dengan masuknya masyarakat yang tidak lagi

hanya menjadi obyek tetapi juga sebagai bagian dari subyek penggerak

pembangunan.

B

Pembisnis

G

Pemerintah

C

Masyarakat

A

Akademisi

G Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G.
G Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G.
G Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G.
G Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G.
Manajemen
Manajemen
Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G. Carayannis
Pemerintah C Masyarakat A Akademisi Manajemen Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G. Carayannis

Gambar 6. 1 Bentuk Sinergi ABCG Sumber: Elias G. Carayannis and David F.J. Campbell (2012).

Akademisi, sektor bisnis, serta stakeholder dalam teknologi inovasi,

menyediakan inovasi yang terintegrasi di mana segala bentuk pengembangan ide

dalam pembangunan dapat meningkat. Pada gilirannya, pemerintah memberikan

dukungan finansial dan sistem regulasi untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan.

dan sistem regulasi untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
dan sistem regulasi untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai sumber kajian dan pengembangan inovasi serta sebagai pelaku program di kawasan target pengembangan. Dalam Quadruple Helix Inovation sangat diperlukan sinergi yang kuat dari keempat pilar pembangunan. Pembangunan haruslah selalu berinovasi, menguntungkan secara ekonomi, dan berkelanjutan sehingga tujuan dari pemerintah untuk memberikan kesejahteraan (welfare) kepada seluruh lapisan masyarakat dapat tercapai. Dalam pengembangan tanaman organik sayuran umur pendek di DIY, konsep Quadruple Helix Inovation dapat diaplikasikan sebagai dasar penyusunan model pengembangan.

6.2.2. Peran Masing-masing Pemangku Kepentingan

a. Academician (Akademisi) Pembangunan berkelanjutan memerlukan inovasi yang terus berkembang. Begitu juga tanaman organik sayuran umur pendek yang tentu mempunyai peluang dan halangan dalam pengembangannya. Akademisi bertugas melakukan berbagai kajian komprehensif untuk bisa mengoptimalkan peluang dan meminimalkan hambatan yang ada. Program pembangunan merupakan sebuah investasi untuk masa depan. Setiap investasi memiliki resiko dan akademisi dengan berbagai fasilitas melakukan riset untuk meminimalkan resiko dan memberikan berbagai pilihan strategis sebagai rekomendasi kebijakan kepada pemerintah untuk diterapkan pada program pembangunan. Akademisi melakukan perannya dengan melakukan kajian, menemukan teknologi inovatif, hingga menerapkan teknologi dan pendampingan kepada masyarakat.

b. Businessman (Pembisnis) Setiap pembangunan pada akhirnya bertujuan pada kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan ini dapat diketahui salah satunya dengan meningkatnya tingkat ekonomi masyarakat. Untuk meningkatkan ekonomi masyarakat maka harus ada kegiatan bisnis. Peran pembisnis tentu tidak dapat dikesampingkan salah satunya sebagai fasilitator kegiatan ekonomi yaitu penyerap dan pemasar sayuran organik yang diproduksi oleh petani sehingga kegiatan ekonomi dapat tumbuh dan berkembang.

sehingga kegiatan ekonomi dapat tumbuh dan berkembang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sehingga kegiatan ekonomi dapat tumbuh dan berkembang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

c. Civil Society (Masyarakat) Masyarakat di sini adalah petani yang selain menjadi objek pembangunan juga menjadi subyek dan mempunyai peran langsung dalam program pengembangan tanaman organik sayuran umur pendek di DIY. Petani menjadi kesatuan organisasi atau komunitas yang melakukan pertanian organik sayuran umur pendek dengan mengimplementasikan teknologi inovasi dari akademisi, melakukan pengembangan ekonomi bersama dengan pembisnis yang difasilitasi oleh pemerintah. Masyarakat juga termasuk didalamnya konsumen baik perorangan maupun institusi yang juga perlu adanya perubahan pola pikir untuk lebih menghargai produk organik yang berorientasi pada nilai kesehatan untuk hidup yang lebih baik.

d. Goverment (Pemerintah) Pengembangan tanaman sayuran umur pendek di DIY adalah salah satu tujuan pembangunan pemerintah yang akan di implementasikan selama 5 tahun ke depan. Dalam hal ini pemerintah menjadi salah satu pilar pembangunan sentral, yaitu regulasi, mengoordinasi dan memfasilitasi 3 pilar yang lain yaitu Akademisi, Pembisnis, dan Masyarakat. Salah satu fasilitas yang dapat diberikan adalah fasilitas finansial untuk melakukan berbagai kajian kebijakan dan teknologi inovasi hingga fasilitas regulasi untuk memaksimalkan implementasi dan tercapainya tujuan pengembangan tanaman organik sayuran umur pendek di DIY.

6.3. Golden Triangle Strategy Strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek adalah strategi segitiga emas atau Golden Triangle Strategy (Mulyo dan Irham, 2015). Dalam strategi ini terdapat tiga komponen utama yaitu agribisnis berbasis sumberdaya lokal (rural agribusiness), pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dan Kewirausahaan berbasis masyarakat (rural agribusiness). Ketiga komponen ini harus saling terintegrasi dan bersinergi demi tercapainya masyarakat yang sejahtera. Strategi ini dapat digambarkan seperti Gambar 6.2:

Strategi ini dapat digambarkan seperti Gambar 6.2: Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Strategi ini dapat digambarkan seperti Gambar 6.2: Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Gambar 6. 2 Golden Triangle Strategy Sumber: Mulyo dan Irham, 2015. 6.3.1. Kewirausahaan Berbasis Masyarakat

Gambar 6. 2 Golden Triangle Strategy Sumber: Mulyo dan Irham, 2015.

6.3.1. Kewirausahaan Berbasis Masyarakat

Membangun jiwa kewirausahaan berbasis kelompok masyarakat akan menjadi

salah satu model dalam pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di

DIY. Pengembangan kewirausahaan pertanian organik sayuran umur pendek perlu

menjadi model karena dapat menumbuhkembangkan masyarakat dalam bidang

pertanian (agribisnis), serta dapat mengurangi laju migrasi penduduk desa ke kota,

selain itu dengan adanya pengembangan kewirausahaan berbasis masyarakat akan

tercipta kondisi usaha pertanian organik yang stabil dan tetap menguntungkan dalam

jangka panjang.

Prinsip-prinsip yang terkandung di dalam pengembangan kewirausahaan

berbasis masyarakat adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada masyarakat

dengan merubah pola pikir masyarakat yang awalnya berorientasi pada produksi

pertanian menjadi masyarakat yang berorientasi pada pasar atau kebutuhan

konsumen (shifting paradigm from production oriented to market oriented). Selain itu

prinsip yang ada dalam model pengembangan ini adalah dengan memberikan

kemampuan pada masyarakat (petani) untuk membaca peluang dengan

menyesuaikan kebutuhan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah (added value)

baik dalam kegiatan on farm, prossesing, maupun marketing.

Kewirausahaan yang dibangun atas dasar kelompok atau komunitas yaitu

kegiatan yang dirintis oleh sekelompok warga/komunitas, pengambilan keputusan

oleh sekelompok warga/komunitas, pengambilan keputusan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
oleh sekelompok warga/komunitas, pengambilan keputusan Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

yang

tidak

didasari

oleh

kepemilikan

modal,

sifatnya

partisipatif,

pembagian

keuntungan

yang

terbatas,

tujuan

manfaat

komunitas

yang

secara

eksplisit

dinyatakan.

 

6.3.2. Agribisnis Berbasis Sumber Daya Lokal Rural agribusiness menjadi perhatian utama karena sektor pertanian organik masih dan akan tetap menjadi rencana pembangunan ekonomi masyarakat pedesaan kawasan agribisnis khususnya sayuran organik harus dikembangkan di wilayah pedesaan terutama dalam skala kecil dan menengah dengan memanfaatkan hasil pertanian masyarakat setempat. Prinsip-prinsip pokok yang ada dalam rural agribisnis adalah untuk menggali pertanian atau agribisnis lokal yang akan dijadikan basis pengembangan agribisnis, selain itu perlu melakukan pemilihan terhadap komoditas- komoditas yang potensial untuk dikembangkan sehingga pengembangan suatu daerah tersebut didasarkan pada keunggulan komoditas yang ada di daerah tersebut. Pengembangan sayuran organik tanaman umur pendek di DIY ini dilakukan melalui proses produksi organik dan melalui pendekatan agribisnis. Pengembangan sayuran organik berumur pendek ini akan menjadikan suatu daerah terfokus untuk mengembangkan masing-masing komoditas yang potensial dikembangkan secara organik sehingga nantinya setiap daerah memiliki keunggulan daerah masing-masing. Menurut Riyadi (2003) pengembangan kawasan agribisnis di pedesaan memiliki peran yang strategis mengingat alasan berikut: pertama, kegiatan agribisnis memiliki basis sumber daya yang kuat dan beraneka ragam serta merupakan basis kegiatan ekonomi masyarakat yang luas; kedua, kegiatan agribisnis dan agroindustri mampu meningkatkan nilai tambah produk dan menyerap banyak tenaga kerja serta relatif lebih mudah dikendalikan dari pencemaran lingkungan; ketiga, produk-produknya menghasilkan komoditas yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan pokok rakyat serta ekspor secara bersaing. Pengembangan agribisnis berbasis sumber daya lokal dalam kerangka pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek akan memperkuat posisi pertanian organik di pasar, karena akan mewujudkan agribisnis yang memiliki daya saing komparatif dalam arti bahwa komparatif menjadi keunggulan bersaing karena memiliki potensi sumber daya lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

sumber daya lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sumber daya lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

6.3.3. Pemberdayaan Masyarakat Komponen berikutnya dalam strategi pengembangan pertanian organik umur pendek adalah pemberdayaan masyarakat/ community empowerment. Dalam konsep pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Menurut Chambers (1995) konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni bersifat “people-centered, participatoy, empowering and sustainable”. Pendampingan dalam pemberdayaan merupakan sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberadaan kelompok lemah dalam masyarakat sedangkan sebagai tujuan pemberdayaan merujuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai dari sebuah perubahan sosial. Dapat disimpulkan bahwa metode pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan untuk memperkuat keberdayaan kelompok lemah yang terdapat di masyarakat agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Upaya pendampingan dalam rangka memberdayakan masyarakat mencakup tiga aspek, yaitu menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling), memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering) dan mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah (protecting). Pemberdayaan menjadi pilihan tepat dalam pengembangan pertanian organik sayuran umur pendek di DIY karena melalui pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat akan tercipta masyarakat petani organik yang dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki, dan akan tercipta suatu suasana persaingan yang sehat dalam kegiatan pengembangan pertanian organik sayuran organik di DIY serta terhindar sistem jaringan pemasaran komoditas pertanian organik yang monopolistik. Pengembangan rural agribusiness harus dilaksanakan secara terpadu melalui pemberdayaan masyarakat sehingga pembangunan ekonomi pedesaan/lokal akan semakin terarah dan sumber daya yang serba terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian diharapkan disparitas pertumbuhan wilayah antara wilayah perbatasan dengan wilayah bukan perbatasan dapat diperkecil, tercipta lapangan kerja yang produktif serta terwujud kondisi sosial ekonomi rakyat di pedesaan yang kokoh dan dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. Pengembangan kawasan agribisnis pedesaan/ rural agribusiness melalui pemberdayaan masyarakat/

rural agribusiness melalui pemberdayaan masyarakat/ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
rural agribusiness melalui pemberdayaan masyarakat/ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

community empowerment akan mewujudkan terciptanya community entrepreneur. Agribisnis dapat menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan masyarakat secara berkelanjutan dengan partisipasi aktif masyarakat.

secara berkelanjutan dengan partisipasi aktif masyarakat. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
secara berkelanjutan dengan partisipasi aktif masyarakat. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

BAB VII. RANCANGAN PROGRAM KERJA PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK

7.1. Prinsip Perancangan Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik Identifikasi isu-isu strategis yang menjadi kunci dalam rencana pengembangan pertanian sayuran organik, sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya, selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan rancangan program kerja. Mengacu dan mengadopsi konsep yang dikemukakan oleh Doran (1981), ada beberapa prinsip yang dipakai dalam perancangan sekaligus pelaksanaan program kerja dalam rangka pengembangan sayuran organik di Yogyakarta. Prinsip-prinsip tersebut disingkat SMART, yaitu, a. Specific (Spesifik), yang memberikan makna bahwa program-program kerja yang

disusun dalam rangka pengembangan sayuran organik ini harus spesifik, dimana kespesifikan ini dapat dimaknai dari jenis komoditas atau lokasi pengembangan. Tujuannya adalah agar pelaksanaan program terfokus dengan baik. Dalam rangka menspesifikkan program kerja, maka penyusunan program kerja dan pelaksanaan program memakai model konsep pengembangan agribisnis yang terbagi menjadi 5 (lima) subsistem agribisnis.

b. Measurable (Terukur), yaitu bahwa setiap program kerja hendaknya dapat diukur tingkat keberhasilan pelaksanaannya melalui indikator-indikator tertentu yang ditetapkan.

c. Assignable (Dapat dikerjakan), bahwasanya dalam setiap program yang dirancang ini dapat dilaksanakan dan jelas siapa saja pihak/stakeholders yang terlibat, termasuk tugas masing-masing. Terkait karakteristik ini maka pengembangan sayuran organik melibatkan stakeholders yang terangkum dalam konsep quadruple helix yang bersinergi dalam menjalankan peran masing-masing guna mencapai keberhasilan program.

d. Realistic (Realistis), bermakna bahwa program kerja yang disusun merupakan hal yang realistis dan tidak mustahil untuk dilaksanakan dengan ketersediaan sumber daya yang ada (SDM, modal, waktu, dan sebagainya). Berdasarkan jangka waktu yang ditetapkan untuk penyusunan master plan ini yaitu 5 (lima) tahun, menjadi tidak realistis jika program pengembangan mencakup komoditas yang banyak atau jangkauan wilayah yang sangat luas, disebabkan karena keterbatasan dukungan sumber daya yang ada.

karena keterbatasan dukungan sumber daya yang ada. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
karena keterbatasan dukungan sumber daya yang ada. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

e. Time-related (Target waktu). Mendasarkan pada prinsip ini, maka setiap program kerja memiliki target atau kerangka waktu (time frame) yang jelas dalam pelaksanaannya. Sehingga ketepatan penyelesaian sesuai dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan juga menjadi salah satu indikator keberhasilan sekaligus sebagai bahan evaluasi.

Selain prinsip SMART diatas, ada pengembangan 2 (dua) prinsip lain yaitu:

a. Expandable (Dapat diperluas), bahwa model pengembangan sayuran organik yang dimulai pada skala yang tidak terlalu luas namun excellent dan diharapkan pada akhirnya dapat diperluas skala dan cakupan wilayah dan atau komoditasnya.

b. Replicable (Dapat direplikasi), bahwa model pengembangan yang telah diuji di

lapangan pada skala kecil/terbatas dan berhasil dengan baik, ke depan dapat direplikasi pada lokasi lain atau pada komoditas lain. Dengan adanya tambahan 2 (dua) prinsip tersebut, maka prinsip dalam pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta adalah prinsip SMARTER. Mengacu pada prinsip SMARTER tersebut, maka master plan pengembangan pertanian sayuran organik disusun untuk skala usaha yang tidak terlalu luas namun

diharapkan dapat berhasil, sehingga ke depan dapat diperluas dan direplikasi di berbagai wilayah sentra pertanian di Yogyakarta, dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

di Yogyakarta, dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
di Yogyakarta, dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Pertanian Pertanian Pertanian Organik Organik Organik Daerah B Pertanian Pertanian Organik Organik Daerah C
Pertanian
Pertanian
Pertanian
Organik
Organik
Organik
Daerah B
Pertanian
Pertanian
Organik
Organik
Daerah C
Pertanian
Pertanian
Pertanian
Organik
Organik
Organik
Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian
Organik
Organik
Organik
Organik
Pertanian
Pertanian
Pertanian
Organik
Organik
Organik
Daerah D dst
Expandable
Replicable
(Dapat diperluas)
(Dapat direplikasi)
Daerah A
Pertanian
Organik
Specific
Measurable
Assignable
Realistic
Time-related
(spesifik)
(terukur)
(dapat dikerjakan)
(realistis)
(target waktu)

Gambar 7. 1 Prinsip pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta

Prinsip pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Prinsip pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

7.2. Penahapan Waktu dan Isu Strategis dalam Pengembangan Sayuran Organik Pengembangan pertanian sayuran organik dari pertanian konvensional membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dalam dokumen master plan ini, pengembangan pertanian sayuran organik dirancang untuk kurun 5 (lima) tahun, yang selanjutnya dibagi menjadi 3 (tiga) tahap yaitu 2 (dua) tahun pertama sebagai tahap dasar (foundation stage), tahun ketiga sebagai tahap antara/transisi (transition stage) dan tahun keempat dan kelima sebagai tahap pematangan (maturity stage). Tahap dasar (foundation stage) yang dilaksanakan pada 2 (dua) tahun pertama ditujukan untuk memberikan dasar yang kuat bagi pembangunan dan pengembangan pertanian sayuran organik. Berdasar pada tujuan tersebut, program kegiatan yang dilaksanakan pada tahap awal ini adalah yang berkait dengan isu-isu strategis, yang menjadi prioritas utama. Tahun ketiga disebut sebagai tahap transisi, yang merupakan tahapan peralihan dari sistem pertanian konvensional (non organik) menuju pada sistem pertanian organik. Tahap pematangan (maturity stage) dimaksudkan untuk pelaksanaan program-program lanjutan dalam rangka mengkonsistenkan sistem budidaya pertanian secara organik dan menjamin keberlanjutan pengembangan pertanian organik. Rencana pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta ini didasarkan pada hasil identifikasi peluang dan potensi permasalahan yang mungkin dihadapi. Dari sekian banyak isu-isu terkait pengembangan pertanian sayuran organik, kemudian diidentifikasi beberapa isu utama yang merupakan isu strategis dalam rencana pengembangan sayuran organik di Yogyakarta. Isu-isu strategis ini merupakan faktor- faktor kunci, yang jika isu (permasalahan) tersebut dapat diatasi maka akan menjadi penggerak utama dalam pengembangan pertanian organik serta membuka jalan bagi penyelesaian permasalahan-permasalahan yang lain atau menjadi dasar/pijakan bagi pelaksanaan mata program kerja lain dalam rangka pengembangan pertanian sayuran organik. Berdasarkan hasil identifikasi, isu strategis meliputi tiga subsistem yaitu pada subsistem on farm, pemasaran (marketing) dan penunjang. Secara rinci ada beberapa isu pada setiap subsistem tersebut yang harus dijadikan fokus utama sebagai dasar dalam pengembangan pertanian sayuran organik. isu-isu terebut adalah sebagai berikut:

sayuran organik. isu-isu terebut adalah sebagai berikut: Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sayuran organik. isu-isu terebut adalah sebagai berikut: Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

7.2.1. Subsistem on farm Pada subsistem budidaya (on farm), salah satu faktor yang dinilai krusial dalam pengembangan pertanian sayuran organik adalah pengendalian hama dan penyakit sayuran. Sebagaimana diketahui, tanaman hortikultura khususnya sayur (daun) sangat rawan terhadap serangan hama dan penyakit. Jika sudah terserang, maka hama dan penyakit sangat cepat menyebar sehingga menyebabkan kerusakan pada sayuran, terutama sayuran daun. Pada pertanian konvensional, penggunaan pestisida sangat intensif dalam rangka menanggulangi kerugian akibat serangan hama dan penyakit. Selain menyebabkan pembengkakan pada komponen biaya usahatani, penggunaan pestisida juga tidak sesuai dengan kaidah dan prinsip pertanian organik karena penggunaan pestisida kimia akan meninggalkan residu kimia pada sayuran sehingga jika dikonsumsi manusia dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan. Bertolak pada keadaan tersebut, upaya pengembangan pertanian organik dari sisi on farm harus diiringi upaya penyadaran petani untuk meninggalkan kebiasaan penggunaan pestisida kimia ke penggunaan pestisida organik. Hanya saja hingga kini menurut petani, pestisida organik masih kurang ampuh dalam membasmi hama dan penyakit yang menyerang (tidak efektif untuk tindakan kuratif), dan sejauh ini penggunaan pestisida organik masih terbatas oleh sebagian kecil petani sayuran dan sifatnya hanya sebagai upaya preventif. Selain upaya peningkatan kesadaran penggunaan pestisida organik, juga harus diiringi upaya penelitian untuk menemukan formula pestisida organik yang memberikan efek kuratif yang sama ampuhnya dengan pestisida kimiawi.

7.2.2. Subsistem pemasaran (marketing) Produk pangan organik, termasuk diantaranya sayuran organik, memiliki potensi perkembangan yang bagus di masa mendatang seiring dengan tumbuhnya kesadaran konsumen akan pentingnya produk pangan sehat yang menunjang kebutuhan gizi dan kesehatan. Namun demikian, saat ini segmen pasar sayuran organik masih terbatas (segmented) yaitu utamanya golongan rumah tangga perkotaan yang sudah cukup terdidik (well educated), sadar kesehatan dan memiliki pendapatan rumah tangga yang cukup tinggi, hal ini ditunjukkan bahwa sayuran organik umumnya dijual di pasar modern (supermarket/mall).

organik umumnya dijual di pasar modern (supermarket/mall). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
organik umumnya dijual di pasar modern (supermarket/mall). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Saluran pemasaran yang terbatas di jaringan pasar modern juga ditambah dengan persoalan bahwa pasar modern tersebut juga menerapkan persyaratan yang ketat dalam menjalin kerja sama pemasaran produk terkait jaminan pada aspek kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang mana tidak mampu di penuhi oleh setiap produsen (pemasok). Di sisi lain masih banyak potensi dalam pemasaran selain ditempuh melalui pasar modern. Potensi konsumen bisa dari masyarakat umum dan juga dari pasar yang sangat khusus (specialized market) diantaranya rumah sakit, hotel dan restoran besar. Dalam rangka menembus pasar yang sudah ada, yaitu pasar modern, dalam jangka pendek perlu ditempuh melalui upaya kerja sama dengan pemasok sayuran organik yang sudah menjalin kerja sama dengan jaringan pasar modern. Sementara itu, dalam upaya memperluas basis konsumen dari masyarakat umum perlu ditempuh sosialisasi pada masyarakat, khususnya ditargetkan pada ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, serta siswa sekolah dasar, bidan, guru, yaitu mengenai pentingnya mengkonsumsi pangan (termasuk sayuran) yang sehat dan membiasakan makan sayuran pada anak-anak. Upaya-upaya tersebut juga harus dibarengi dengan upaya meningkatkan akses secara fisik pada sayuran organik, antara lain dengan menambah pilihan tempat untuk membeli sayuran organik. Hal ini bisa ditempuh dengan pembukaan outlet/kios sayuran organik yang khusus menjual sayuran organik, namun dapat juga ditempuh dengan kerja sama pemasaran dengan kios sayuran biasa yang sudah menjamur di beberapa lokasi di Yogyakarta. Dengan menyediakan sayuran organik di kios sayuran, konsumen akan dapat membandingkan antara sayur biasa dan organik. Upaya ini akan memberikan dampak dalam meningkatkan pengetahuan bagi konsumen tentang sayur organik, baik dari segi fisik maupun harga. Upaya perluasan pemasaran pada pasar khusus (specialized market) diantaranya rumah sakit, hotel dan restoran memerlukan dukungan regulasi dari pemerintah daerah. Kegiatan- kegiatan lain yang mungkin dapat diselenggarakan dalam rangka sosialisasi konsumsi sayuran organik antara lain dengan mengadakan event-event yang menarik misalnya lomba memasak sayuran organik, pameran/festival pangan organik yang dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan, semisal mall, supermarket, dan lain sebagainya.

semisal mall, supermarket, dan lain sebagainya. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
semisal mall, supermarket, dan lain sebagainya. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

7.2.3. Subsistem penunjang Faktor kelembagaan menjadi isu strategis yang perlu menjadi salah satu fokus dalam meletakkan dasar yang kuat dalam pembangunan pertanian sayuran organik. Kelembagaan subyek pengembangan pertanian organik harus dibentuk secara solid, yaitu kelompok petani produsen organik. Kelembagaan kelompok tani organik yang solid akan memberikan keuntungan bagi produsen dalam hal kekuatan tawar (bargaining power), juga dalam rangka menjamin keberlanjutan (kontinuitas) produksi sayur organik. Kelembagaan kelompok juga akan meringankan beban sertifikasi yang saat ini masih dirasakan sangat mahal. Faktor penunjang dari sisi regulasi juga dibutuhkan terutama dalam rangka mendukung perkembangan pertanian organik, melindungi pelakunya serta memperluas jangkauan pasar, sekaligus sebagai bentuk nyata keberpihakan pemerintah pada produsen (petani). Salah satu dukungan regulasi yang diharapkan adalah adanya peraturan yang mendorong (atau mewajibkan) pihak pengelola rumah sakit, hotel, dan restoran besar untuk membeli produk sayuran organik dari petani organik di Yogyakarta. Pada sisi lain, dinas teknis terkait dapat menjalin kerjasama dengan asosiasi produsen sayur organik untuk dapat memberikan jaminan kontinuitas pasokan sayuran organik, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Melalui regulasi ini dapat diatur sampai seberapa besar sayuran organik harus dibeli dari petani organik Yogyakarta (persentase minimal dari total pembelian sayur untuk konsumsi rumah sakit, hotel dan restoran besar).

sayur untuk konsumsi rumah sakit, hotel dan restoran besar). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
sayur untuk konsumsi rumah sakit, hotel dan restoran besar). Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Sertifikasi Tahap Pematangan (Tahun ke-4 dan ke-5) Teknologi pasca panen Pendampingan Penelitian usaha Perluasan
Sertifikasi
Tahap Pematangan
(Tahun ke-4 dan ke-5)
Teknologi pasca panen
Pendampingan
Penelitian
usaha
Perluasan
Pen-
basis
Pembiayaan
Pra sertifikasi
dampingan
konsumen
usaha
Tahap Transisi
(Tahun ke-3)
Pengelolaan
Teknik
Aplikasi
Penelitian
air irigasi
pembenihan
pupuk
Pendampingan
Penelitian
usaha
Tahap
Pengkreasian/
Pengembangan
(Tahun ke-
Dasar
1 dan ke-2)
pembentukan pasar
Dukungan Regulasi
kelembagaan
baru
tingkat petani
Pengembangan
Pengendalian Hama
Pemasaran ke
Pengolahan dan
kelembagaan
Penyakit
pasar modern
konservasi lahan
tingkat petani

Gambar 7. 2 Isu Strategis dan Penahapan Pengembangan Pertanian Sayuran Organik

7.3. Matriks Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik di DI Yogyakarta Pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta dalam kurun 5 (lima) tahun ke depan harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh pada semua aspek. Pada bagian sebelumnya telah diuraikan mengenai isu-isu strategis yang harus dikerjakan terlebih dahulu dalam rangka memberikan fondasi yang kuat dalam pembangunan pertanian organik. Namun demikian, masih ada isu-isu yang lain yang harus mendapat perhatian ketika isu-isu strategis tersebut telah berhasil dilaksanakan. Pada bagian ini akan disajikan mengenai rancangan program-program kerja yang diperlukan dalam pengembangan pertanian sayuran organik di Yogyakarta, termasuk

pertanian sayuran organik di Yogyakarta, termasuk Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
pertanian sayuran organik di Yogyakarta, termasuk Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

menyangkut pemangku-pemangku kepentingan (stakeholders) serta peran masing- masing dalam setiap program kerja yang dirancang.

masing- masing dalam setiap program kerja yang dirancang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
masing- masing dalam setiap program kerja yang dirancang. Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran

Tabel 7. 1 Rencana Program Kerja Pengembangan Sayuran Organik

         

Target

   

No

 

Subsistem

Isu strategis

Rencana Program Kerja

pelaksanaan

Stakeholder yang terlibat

 

tahun ke-

 
       

1

2 3

   

4

5

 

A.

Prioritas Utama

             

A.1

On farm

1. Pengolahan

1. Introduksi teknologi pengolahan lahan pertanian organik sesuai standar:

         

Akademisi/peneliti

dan konservasi

▲ ▲

- Universitas

lahan

- BPTP

Kelompok Tani/Operator Organik

Penyiapan blok lahan pertanian organik

Pemerintah (SKPD terkait)

- Dinas Pertanian

- Badan Penyuluhan

Penanaman barrier tree berhabitus tinggi,

Penyiapan selokan penghalang (blocking) lahan organik

2. Pengendalian

1. Penelitian dan pengembangan pestisida alami/organik yang ampuh

2. Pelatihan pembuatan pestisida organik,

3. Pelatihan pengaplikasian pestisida organik yang tepat,

 

▲ ▲

   

Akademisi/peneliti

Hama Penyakit

- Universitas

Sayuran

- BPTP

- BPPT

▲ ▲

- LIPI

▲ ▲

Kelompok Tani/Operator Organik

Pemerintah (SKPD terkait)

- Dinas Pertanian

- Badan Penyuluh

4. Sekolah lapang pengendalian hama terpadu secara organik (SLPHT-O)

▲ ▲

 

5. Pengembangan metode-

▲ ▲

▲ 5. Pengembangan metode- ▲ ▲ ▲ ▲ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
▲ 5. Pengembangan metode- ▲ ▲ ▲ ▲ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
         

Target

   

No

Subsistem

Isu strategis

Rencana Program Kerja

pelaksanaan

Stakeholder yang terlibat

 

tahun ke-

 
       

1

2

3

4

5

 
 

metode pelengkap dalam pengendalian hama penyakit yang ekonomis dari sisi biaya,

           

A.2

Pemasaran

1. Menembus

1. Inisiasi kerja sama dengan pemasok sayuran organik di supermarket/pasar modern,

 

Pemerintah (SKPD terkait) dan akademisi Kelompok tani organik dan pengusaha (pemasok sayur organik dan manajemen supermarket)

pasar modern,

2. Inisiasi kerja sama langsung dengan supermarket/pasar modern,

 

3. Pemantapan kerja sama dengan supermarket,

2. Pembentukan

1. Pembukaan outlet sayuran organik,

 

Kelompok Tani Organik Pemerintah (SKPD terkait)

pasar baru

2. Kerja sama dengan kios penjual sayuran,

Akademisi Pemilik kios Manajemen Hotel, Rumah Sakit,

3. Inisiasi kerja sama pemasaran sayuran organik ke Hotel, Rumah Sakit, Restoran

Restoran

A.3

Penunjang

1. Kelembagaan,

1. Pembentukan asosiasi/kelompok petani sayur organik,

2. Mendesain sistem dan manajemen pertanian

       

Petani Sayuran Organik Akademisi Pemerintah (SKPD terkait)

Organik Akademisi Pemerintah (SKPD terkait) ▲ ▲ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
Organik Akademisi Pemerintah (SKPD terkait) ▲ ▲ Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
         

Target

   

No

Subsistem

Isu strategis

Rencana Program Kerja

pelaksanaan

Stakeholder yang terlibat

 

tahun ke-

 
       

1

2 3

 

4

5

 
     

kolektif,

           
   

2. Regulasi

1. Perancangan draf Perda mengenai pembelian sayuran organik dari kelompok tani sayuran organik bagi rumah sakit, hotel, restoran di DIY,

   

▲ ▲

   

Pemerintah Daerah (DPRD) Akademisi Manajemen Hotel, Rumah Sakit dan Restoran Kelompok Tani Organik

2. Sosialisasi Perda mengenai pembelian sayuran organik dari kelompok tani sayuran organik bagi rumah sakit, hotel, restoran di DIY

3. Pemberlakuan Perda bagi rumah sakit, hotel dan restoran besar tentang Pembelian sayur organik

B. Prioritas lanjutan

             

B.1

Input

1. Pengembangan

1. Kerja sama dengan perusahaan dan pemulia benih untuk pengembangan benih sayur organik,

   

▲ ▲

Kelompok Tani Organik Industri Benih Pemerintah (SKPD terkait) Akademisi Lembaga Perbankan/Pembiayaan

benih sayur

organik unggul

2. Pengembangan

1. Pelatihan pembuatan pupuk organik,

   

▲ ▲

     

pupuk organik

    ▲ ▲       pupuk organik Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
    ▲ ▲       pupuk organik Master Plan Pengembangan Pertanian Organik Tanaman Sayuran
         

Target

   

No

Subsistem

 

Isu strategis

 

Rencana Program Kerja

pelaksanaan

Stakeholder yang terlibat

 

tahun ke-

 
       

1

2

3

4

5

 
 

2.

Pemberian bantuan kredit lunak peralatan dekomposer dan pembuatan pupuk organik

   

 

B.2

On farm

1.

Manajemen air

Introduksi manajemen dan pengelolaan air irigasi pertanian organik sesuai standar

 

   

Kelompok Tani Organik Pemerintah (SKPD terkait) Akademisi

irigasi

1.

Pengaplikasian

Introduksi teknologi pemupukan yang tepat untuk pertanian organik

 

     

pupuk organik

3.

Pembenihan

Introduksi teknologi pembenihan sayuran organik