Anda di halaman 1dari 5

JOURNAL READING

Novel approach to the maxillary sinusitis after sinus graft

Oleh

Fariz Indra Bagus Wicaksono

2018790047

Pembimbing

dr. Rini Febrianti, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK STASE TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan
hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, penulis menyajikan Journal reading dengan judul Novel approach to the
maxillary sinusitis after sinus graft. Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah untuk
memenuhi tugas kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan pula terima kasih yang sebesar-
besarnyakepada dr. Rini Febrianti, Sp.THT-KL atas kesediaan beliau sebagai pembimbing
dalam penulisan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum sempurna, baik dari
segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini. Atas
bantuan dan segala dukungan dari berbagai pihak baik secara moral maupun spiritual, penulis
ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberikan masukan bagi perkembangan
ilmu pengetahuan khususnya untuk dunia kesehatan.

Banjar, 29 Juli 2019

Penulis
A. Latar Belakang
Rhinosinusitis dapat dibagi menjadi empat klasifikasi yaitu mengenai
tanda, gejala, dan perjalanan penyakit akut, subakut, berulang, dan kronis.
Sepuluh hingga 12% dari sinusitis maksilaris etiologinya disebabkan oleh
odontogenik, dan literatur saat ini juga telah melaporkan bahwa gigi menjadi
sumber terjadinya rhinosinusitis maksilaris kronis yaitu sekitar 30-40%.
Rhinosinusitis terjadi ketika membrane scheneidarian itu berlubang atau
terganggu oleh infeksi karena infeksi gigi, trauma maksila, perubahan fungsi
tulang, benda asing yang ada di sinus, kista, gigi supernumerary (Jumlah gigi
yang berlebihan) , pemasangan implan, pencabutan gigi, bedah ortognatik,
peningkatan membran sinus.
Prosedur gigi seperti antrostomi lateral (Membuat saluran antara
rongga hidung dengan sinus maksilaris di bagian lateral konka inferior. Yang
digunakan untuk mengalirkan secret ataupun nanah yangg terkumpul di sinus
maksila), yang awalnya dijelaskan oleh Tatum pada tahun 1976 dan
diterbitkan oleh Boyne dan James pada 1980, memungkinkan regenerasi
tulang di rahang atas di mana sisa tinggi tulang tidak cukup untuk
pemasangan implan. Teknik ini membutuhkan saluran antrostomi di dinding
lateral sinus, diikuti oleh peningkatan membran dan okulasi atau transplantasi
tulang. Pendekatan lain adalah melalui puncak alveolar ridge yaitu seluruh
dinding tulang alveolar membentuk kesatuan atau lengkungan rahang, atau
disebut juga teknik crestal lift. Kedua teknik tersebut dapat memicu perforasi
sinus dan perpindahan bahan graft ke sinus, dengan demikian menyebabkan
sinusitis. Dalam studi ini, kami ingin berbagi salah satu teknik dalam merawat
pasien dengan kondisi seperti itu. Metode ini tidak hanya terbatas pada pasien
transplantasi sinus, tetapi juga pasien sinusitis maksilaris karena infeksi
odontogenik.

B. Metode
Pasien berusia 47 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan bau mulut , nyeri
tekan pada sinus kanan dan sakit kepala. Pengangkatan sinus menggunakan
crestal socket osteotome, cangkok atau transplantasi tulang dan pemasangan
implant telah dilakukan oleh poliklinik setempat 10 hari sebelumnya. Pada
pemeriksaan fisik lebih lanjut ditemukan adanya gusi kemerahan,
pembengkakan pada gusi bagian kanan, keluarnya cairan nanah pada hidung
sebelah kanan, dan limfadenopati kanan. Dalam radiografi foto polos
menunjukkan tampak kekaburan pada maksila kanan, mengkonfirmasi bahwa
terdapat sinusitis pada rahang kanan
Penjelasan tentang implant yang terinfeksi dan irigasi sinus di inisiasi.
Irigasi sinus dilakukan secara antrostomi lateral melalui fossa canine. Fosa
canine merupakan area tertipis dari diding anterior dan mudah diakses.
Melalui celah tersebut, nanah tersebut di sedot dengan menggunakan jarum
suntik dan dikultur. Sisa bahan cangkok tulang yang telah terinfeksi telah
dihilangkan dengan menggunakan penyedot atau suction dan di irigasi ringan
dengan larutan garam. Saluran berbentuk tabung tersebut dimasukkan
kemudian dijahit ke gusi. Ujung penghisap silastik dimasukkan kedalam
lubang hidung kanan menuju kompleks ostio-metal. Selanjutnya irigasi sinus
dimulai dengan menggunakan silastic drain untuk mengalirkannya ke rongga
mulut. Empat sesi irigasi dalam empat hari yang berbeda dieksekusi dan
salurannya telah dihapus pada hari terakhir irigasi. Amoxicilin 500mg,
pseudophedrine hydrochloride 60mg, carbocistein 750mg, dan NSAIDs
diberikan tiga kali selama 21 hari.

C. Hasil
Setelah dihilangkannya material bahan cangkok tulang yg terinfeksi dan
implant, pasien dapat terbebas dari gejala nyeri kepala. Setelah dilakukannya 4
sesi irigasi rasa tidak nyaman pada daerah bukal kanan elah berkurang dan
tidak ditemukannya lagi keluarnya pus. Hasil kultur mikrobiologis pada hari
pertama perawatan ditemukan adanya α-hemolytic Streptoccus viridans. Dan
hasil lanjut dari hasil CT scan radiolusen setelah 3,5 bulan sinus maksilaris
kanan yang terinfeksi sudah mengalami pemulihan.

D. Diskusi
Sinusitis Odontogenik dan non odontogenik berbeda berdasarkan
penyebabnya, patofisiologinya dan mikrobiologinya. Karena itu,
mengidentifikasi penyebab merupakan langkah pertama untuk keberhasilan
tersebut. Membersihkan sumber infeksi merupakan langkah yang esensial
untuk meredakan gejala dan mencegah kekambuhan sinusitis. Sinusitis
odontogenik dapat diobati dengan medis maupun pembedahan. Pemberian
antibiotic adalah langkah penting dalam pengelolaan sinusitis odontogenik.
Sebuah studi menemukan bahwa α-hemolytic Streptoccus viridans,
streptokokus mikroaerofilik, dan Stapylococcus aureus menjadi bakteri aerob
yang paling sering ditemukan pada sinus odontogenik. Sedangkan bakteri
anaerob yang paling sering ditemukan adalah Peptostreptococcus spp dan
Fusobacterium spp. Temuan ini menarik karena mikroba pada sinusitis non
odontogenik yang paling umum ditemukan adalah Sterptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenza dan Moraxella catarhalis. Oleh karena itu pemberian
antibiotic harus diberikan secara hati-hati, mengikuti hasil kultur nanah pada
penemuan kasus ini. Tindakan cepat dan akurat harus diambil, antibiotic oral
hanya efektif melawan flora yang ada pada mulut dan pathogen sinus selama
21-28 hari. Aturan bedah dapat bervariasi tergantung dari etiologi dari
rhinosinusitis itu sendiri. Lechien et al melakukan ulasan mengenai
perbandingan penyebab sinus maksilaris odontogenik. Iatrogenic, periodontitis
marginal, periodontitis apical, granuloma apical, kista odontogenik, odontoma,
gigi ektopik. Dan hasilnya mengatakan bahwa 65,7% disebabkan karena
iatrogenic. Oleh karena itu dibanding teknik pembedahan endoskopi sinus,
teknik ini lebih dianjurkan karena lebih aman dan lebih cepat, memiliki efek
samping yang keci atau sedikit pada saat pembersihan mucus disinus,
perdarahan lebih sedikit, dan waktu rawat inap pasien yang lebih singkat.
Namun memiliki keterbatasan dalam membuka dinding anterior maksilla dan
recess lakrimal dan akses ke dinding anterior. Dalam beberapa literature
mengatakan bahwa kebocoran fosa canine dapat dikombinasi dengan
pembedahan endoskopi sinus (ESS) dan beberapa lainnya merekomendasikan
menggunakan dilate balloon.

E. Kesimpulan
Pada kebanyakan kasus, tindakan endoskopi terbilang mahal. Ketika
prosedur ini dibandingkan dengan pengobatan sinusitis maksilaris lainnya
seperti pembedahan Caldwell-Luc, ESS, teknik ini memiliki beberapa
keuntungan seperti tingkat komplikasi yang lebih rendah, lebih sedikit
kehilangan darah dan waktu operasi, dan biaya rendah. Juga, karena prosedur
pembedahan tidak rumit, daapt digunakan dengan anestesi lokal tanpa
kesulitan. Tapi, tidak seperti pengobatan yang lain, teknik ini adalah teknik
buta bahwa irigasi harus dilakukan cukup dengan pengetahuan anatomi yang
baik dari sinus maksilaris. Metode ini adalah teknik yang baik untuk pasien
gunakan pada irigasi sinus dan sangat direkomendasikan.