Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP

MOTIVASI KERJA KARYAWAN

DISUSUN OLEH:

ANISTY AURELLIA

168600406

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MEDAN AREA

T.A 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Medan, 28 Juli 2019

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................ 3
BAB I ....................................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ................................................................................................................................... 4
I. LATAR BELAKANG ..................................................................................................................... 4
II. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................................. 6
III. TUJUAN PENULISAN ................................................................................................................... 6
BAB II ...................................................................................................................................................... 7
PEMBAHASAN ...................................................................................................................................... 7
I. GAYA KEPEMIMPINAN .............................................................................................................. 7
II. FUNGSI KEPEMIMPINAN ........................................................................................................... 7
III. JENIS-JENIS GAYA KEPEMIMPINAN ....................................................................................... 8
IV. MOTIVASI KERJA.......................................................................................................................... 9
V. TUJUAN MOTIVASI KERJA ....................................................................................................... 10
VI. TEORI MOTIVASI KERJA .......................................................................................................... 10
VII. HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN DENGAN MOTIVASI KERJA ................................. 13
BAB III .................................................................................................................................................. 14
KESIMPULAN ...................................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................ 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Setiap perusahaan memerlukan seorang pemimpin. Pemimpin merupakan orang yang


mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dalam usaha mencapai
tujuan organisasi dan mengarahkan para pegawai untuk mencapai tujuan yang telah disepakati
bersama. Suatu perusahaan dapat mencapai tujuannya jika orang-orang yang berada dalam
perusahaan tersebut dapat bekerja sama dengan baik untuk mencapai tujuannya, oleh karena
itu peran pemimpin sangat berarti dalam mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Menurut Miftah Thoha (1995), gaya kepemimpinan mencakup tentang bagaimana seseorang
bertindak dalam konteks organisasi tersebut, maka cara termudah untuk membahas berbagai
jenis gaya ialah dengan menggambarkan jenis organisasi atau situasi yang dihasilkan oleh
atau yang cocok bagi satu gaya tertentu.Setiap pemimpin memiliki gaya dalam
kepemimpinannya masing-masing dalam usaha memberikan pengaruh kepada bawahannya.
Gaya kepemimpinan yang dipraktekkan selain tergantung dari karakter atau sifat para pelaku
pemimpin itu sendiri juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik bawahan dan lingkungan kerja.

Menurut beberapa ahli gaya kepemimpinan bukanlah sifat bawaan melainkan keterampilan
yang dapat dilatih. Namun menurut pendapat lain gaya kepimpinan merupakan sifat,
kebiasaan, kepribadian yang dimiliki oleh pemimpin yang membedakannya dengan orang
lain. Hal ini dapat menjadi sebuah poin positif atau malah menjadi sebuah kerugian dimana
karyawan merasa kurang nyaman. Salah satu fungsi pemimpin adalah sebagai motivator,
pemimpin merumuskan dan melaksanakan berbagai kebijaksanaan yang berupaya
mendorong karyawan untuk melaksanakan sesuatu kegiatan tertentu sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya yang mampu memberikan sumbangan terhadap keberhasilan pencapaian
tujuan perusahaan.

Gaya kepemimpinan pada seorang pemimpin seringkali menjadi salah satu aspek penting
bagi para karyawan. Kedekatan pemimpin dengan karyawan dinilai mampu memberikan
aspek positif di lingkungan kerja sehingga karyawan merasa nyaman tanpa ada unsur tekanan.

4
Walaupun begitu pemimpin juga harus memberi jarak kepada karyawan perihal batasan-
batasan agar karyawan dapat menghargai kedudukan pemimpin mereka itu.

Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mengarahkan daya dan potensi yang dimiliki
oleh bawahan sehingga bawahan mau bekerja sama secara produktif untuk mencapai dan
mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Motivasi merupakan hal yang penting karena
motivasi dapat menjadi penyebab, penyalur, maupun pendukung dari perilaku seseorang
sehingga orang tersebut berkeinginan untuk bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil
yang optimal.

Penerapan kepemimpinan sangatlah berpengaruh terhadap motivasi kerja pegawai, karena di


dalam motivasi kerja pegawai untuk memenuhi kebutuhannya sangat membutuhkan
dukungan dari seorang pimpinan, karena itu setiap pemimpin harus mengetahui secara jelas
tentang apa yang dibutuhkan oleh pegawai dan perusahaan agar mereka bisa bekerja sama
secara efektif.

Mengingat motivasi kerja mempengaruhi tindakan seorang pegawai, maka apabila suatu
perusahaan tersebut akan memperoleh hasil yang lebih menguntungkan sehingga terjadi
peningkatan produktivitas. Sebaliknya apabila suatu perusahaan mempunyai pegawai yang
motivasi kerjanya rendah dalam melakukan pekerjaan, tidak merasa bergairah, timbulnya
keluhan-keluhan, adanya kelesuan, kurangnya rasa tanggung jawab, dan lain-lain, sudah
barang tentu perusahaan atau organisasi tersebut akan mengalami kerugian karena
pegawainya bekerja tidak produktif dan dapat dikatakan sebagai penurunan kinerja. Motivasi
yang diberikan pun dapat berupa apa saja baik secara lisan maupun bersifat material.
Misalnya, pemimpin yang kerap memberikan semangat maupun menutun karyawannya untuk
melakukan tugas dengan baik maka akan memberikan sedikit motivasi untuk melakukan
tugasnya dengan lebih baik lagi. Selain itu ketika karyawan mencapai suatu proses kerja yang
membanggakan dan juga menyelesaikan tugas dengan sangat baik, maka dapat diberikan
sedikit penghargaan seperti kenaikan gaji sehingga hal tersebut dapat membuat karyawan
akan terus melakukan pekerjaannya lebih baik lagi.

5
II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu gaya kepemimpinan?
2. Apa pengertian motivasi kerja?
3. Apa hubungan gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja?

III. TUJUAN PENULISAN


1. Mengetahui tentang gaya kepemimpinan
2. Mengetahui apa itu motivasi kerja
3. Mengetahui jenis-jenis gaya kepemimpinan dan fungsi-fungsi pemimpin
4. Mengetahui adanya hubungan antara gaya kepemimpinan dengan motivasi kerja

6
BAB II

PEMBAHASAN

I. GAYA KEPEMIMPINAN

Menurut Supardo, (2006:1), menyatakan bahwa: Kepemimpinan adalah suatu proses yang
kompleks dimana seorang mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas, atau
suatu sasaran, dan mengarahkan organisasi dengan cara yang membuatnya lebih kohesif dan
lebih masuk akal.

Gaya kepemimpinan mencakup tentang bagaimana seseorang bertindak dalam konteks


organisasi tersebut, maka cara termudah untuk membahas berbagai jenis gaya ialah dengan
menggambarkan jenis organisasi atau situasi yang dihasilkan oleh atau yang cocok bagi satu
gaya tertentu (Miftah Thoha, 1995).

Mulyadi dan Rivai (2009:73), menyatakan bahwa pemimpin dalam kepemimpinanya perlu
memikirkan dan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan kepada
pegawainya. Gaya kepemimpinan yaitu norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada
saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

Menurut Nawawi (2005:15) gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para
anggota organisasi atau bawahannya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan
adalah suatu cara atau perilaku yang digunakan seorang pemimpin untuk mempengaruhi para
bawahannya.

II. FUNGSI KEPEMIMPINAN

Menurut Thoha (2007:52), peranan dan fungsi kepemimpinan dalam hubungannya dengan
peningkatan aktivitas dan efisiensi organisasi atau perusahaan meliputi 4 fungsi yaitu sebagai
berikut:

1. Fungsi kepemimpinan sebagai innovator dimana pemimpin harus mampu mengadakan


berbagai inovasi-inovasi baik yang menyangkut pengembangan produk, sistem manajemen

7
yang efektif dan efisien, maupun dibidang konseptual yang keseluruhannya dilaksanakan
dalam upaya mempertahankan dan atau meningkatkan kinerja perusahaan.
2. Fungsi kepemimpinan sebagai komunikator dimana pemimpin harus mampu
menyampaikan maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukan secara baik kepada
seseorang atau sekelompok karyawan sehingga timbul pengertian di kalangan mereka.
Pemimpin pun harus mampu memahami, mengerti dan mengambil intisari pembicaraan-
pembicaraan orang lain atau bawahannya.
3. Fungsi kepemimpinan sebagai motivator dimana pemimpin merumuskan dan
melaksanakan berbagai kebijaksanaan yang mengarah kepada upaya mendorong karyawan
untuk melaksanakan sesuatu kegiatan tertentu sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya
yang mampu memberikan sumbangan terhadap keberhasilan pencapaian tujuan
perusahaan.
4. Fungsi kepemimpinan sebagai kontroler dimana pemimpin melaksanakan fungsi
pengawasan terhadap berbagai aktivitas perusahaan agar terhindar dari penyimpangan baik
terhadap pemakaian sumber daya maupun dalam pelaksanaan rencana dan atau program
kerja perusahaan sehingga pencapaian tujuan menjadi efektif dan efisien.

III. JENIS-JENIS GAYA KEPEMIMPINAN

Menurut White & Lippit (1930) dalam Luthans (2006:682), menyatakan bahwa jenis-jenis
gaya kepemimpinan terdiri dari 3 macam yaitu:

1. Gaya kepemimpinan Otokratis

Gaya kepemimpinan otokratis di mana pemimpin menentukan sendiri “policy” dan dalam
rencana untuk kelompoknya, membuat keputusan-keputusan sendiri namun mendapatkan
tanggung jawab penuh. Bawahan harus patuh dan mengikuti perintahnya, jadi pemimpin
tersebut menentukan atau mendiktekan aktivitas dari anggotanya.

2. Gaya kepemimpinan Demokrasi (Demokratis)

Gaya kepemimpinan demokratis di mana pemimpin sering mengadakan konsultasi dengan


mengikuti bawahannya dan aktif dalam menentukan rencana kerja yang berhubungan dengan
kelompok. Pemimpin seperti moderator atau koordinator dan tidak memegang peranan seperti

8
pada kepemimpinan otoriter. Partisipan digunakan dalam kondisi yang tepat akan menjadikan
hal yang efektif, maksudnya supaya dapat memberikan kesempatan pada bawahannya untuk
mengisi atau memperoleh kebutuhan egoistisnya dan memotivasi bawahan dalam
menyelesaikan tugasnya untuk meningkatkan produktivitasnya.

3. Gaya kepemimpinan Bebas (Laissez Faire)

Gaya kepemimpinan ini menggunakan gaya kepemimpinan kendali bebas. Pendekatan ini
bukan berarti tidak adanya sama sekali pimpinan, namun pemimpin berasumsi bahwa suatu
tugas disajikan kepada kelompok yang biasanya menentukan teknik-teknik mereka sendiri
guna mencapai tujuan tersebut dalam rangka mencapai sasaran-sasaran dan kebijakan
organisasi. Pemimpin melaksanakan perannya atas dasar aktivitas kelompok dan pimpinan
kurang mengadakan pengontrolan terhadap bawahannya.

IV. MOTIVASI KERJA

Menurut para ahli (Suarli dan Bahtiar (2002); M.As’ad (2001); dan Stoner dan Freeman
(1995)), motivasi adalah karakteristik psikologis pada aktifitas manusia untuk memberi
kontribusi berupa tingkat komitmen seseorang termasuk faktor-faktor yang menyebabkan,
menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu untuk
mencapai keinginan. Aktifitas yang dilakukan adalah aktifitas yang bertujuan agar terpenuhi
keinginan individu.

Menurut Hasibuan (2008), motivasi kerja adalah pemberian daya penggerak yang
menciptakan kegairahan seseorang, agar mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi
dengan segala daya upaya nya untuk mencapai tujuan. Motivasi kerja merupakan suatu modal
dalam menggerakkan dan mengarahkan para karyawan atau pekerja agar dapat melaksanakan
tugasnya masing-masing dalam mencapai sasaran dengan penuh kesadaran, kegairahan dan
bertanggung jawab (Hasibuan, 2008).

Motivasi kerja dapat dipandang sebagai suatu ciri yang ada pada calon tenaga kerja ketika
diterima masuk kerja di suatu perusahaan atau organisasi. Hal ini sangat mendukung karena
adanya defenisi motivasi kerja adalah suatu kondisi yang berpengaruh untuk membangkitkan,
mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja
(Mangkunegara 2000, Munandar 2001).

9
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu daya
penggerak yang bertujuan untuk menciptakan kegairahan kerja dengan membangkitkan,
mendukung, dan mengarahkan para karyawan dalam melaksanakan tugasnya dan mencapai
tujuan yang ada.

V. TUJUAN MOTIVASI KERJA

Pada hakekatnya pemberian motivasi kepada pegawai tersebut mempunyai tujuan yang dapat
meningkatkan berbagai hal, menurut Hasibuan (2004 : 146) tujuan pemberian motivasi
kepada karyawan adalah untuk :

1. Meningkatkan moral dankepuasan kerja karyawan.


2. Meningkatkan produktifitas kerja karyawan.
3. Meningkatkan kedisiplinan karyawan.
4. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan.
5. Mengefektifkan pengadaan karyawan.
6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan.
8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan.
9. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.
10. Meningkatkan efisiensi pengunaan alat-alat dan bahan baku.

Berdasarkan hal tersebut di atas, jelaslah bahwa di dalam setiap perusahaan


diperlukan motivasi kerja yang tinggi dari para karyawannya. Apabila tidak terdapatnya
motivasi kerja yang tinggi dari para karyawannya dalam suatu perusahaan, maka akanlah
sulit perusahaan tersebut untuk mencapai tujuannya.

VI. TEORI MOTIVASI KERJA

Terdapat beberapa macam teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli, seperti yang
dikutip dari Hasibuan (2000; 152) dan Mangkunegara (2001; 94), adalah sebagai berikut:

1. Teori Motivasi Klasik yang dikutip oleh Hasibuan (2000; 152), yaitu Frederick
Winslow Taylor mengemukakan bahwa teori motivasi klasik atau teori motivasi

10
kebutuhan tunggal. Teori ini berpendapat bahwa manusia mau bekerja dengan giat
untuk memenuhi kebutuhannya.
2. Hierarki Kebutuhan Maslow yang dikutip oleh Mangkunegara (2001; 95), yaitu:
a. Physiological Needs ( kebutuhan fisik atau biologis )
Physiological Needs adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup.
Yang termasuk kedalam kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum,
perumahan, udara dan lain sebagainya. Keinginan untuk memenuhi
kebutuhan ini merangsang seseorang berperilaku atau bekerja giat.
b. Safety and Security Needs (kebutuhan keselamatan dan keamanan )
Safety and Security Needs adalah kebutuhan akan kebebasan dari
ancaman yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan
dalam melaksanakan pekerjaan.
c. Affiliation or Acceptence Needs (kebutuhan sosial)
Affiliation or Acceptence Needs adalah kebutuhan sosial, teman, afiliasi,
interaksi, dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan
kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. Pada dasarnya
manusia normal tidak akan mau hidup menyendiri seorang diri ditempat
terpencil. Ia selalu membutuhkan kehidupan berkelompok, karena
manusia adalah makhluk sosial.
d. Esteem or Status Needs (kebutuhan akan penghargaan atau prestise)
Esteem or Status Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri dan
pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat
lingkungannya.
e. Self Actualization Needs (Kebutuhan akan aktualisasi diri)
Self Actualization Needs adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dengan
menggunakan kemampuan, keterampilan dan potensi optimal, untuk
mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan.
3. Teori Herzberg yang dikutip oleh Hasibuan (2000; 156), Herzberg mengemukakan
suatu teori yang berhubungan langsung dengan kepuasan kerja, yang didasarkan
pada penelitian bersama di kota Pitsburg dan sekitarnya. Dari hasil penelitian ini
dikembangkan suatu gagasan bahwa ada 2 (dua) rangkaian kondisi yang

11
mempengaruhi motivasi kerja seseorang, kedua rangkaian kondisi tersebut adalah
rangkaian kondisi pertama disebut faktor motivator dan rangkaian kondisi kedua
disebut faktor hygiene.
Teori motivasi kerja dari Herzberg dalam teorinya membagi motivasi ke dalam 2
(dua) rangkaian kondisi seperti dikutip oleh Hasibuan (2000; 157), yaitu:
1. Rangkaian kondisi pertama disebut faktor motivator.
2. Rangkaian kondisi kedua disebut faktor hygiene.

Faktor-faktor yang berperan sebagai motivator terhadap pegawai, yakni yang


mampu memuaskan dan mendorong orang untuk bekerja baik terdiri dari:

a. Keberhasilan pelaksanaan: Agar seorang bawahan dapat berhasil dalam


pelaksanaan pekerjaannya, maka pemimpin harus mempelajari
bawahannya dan pekerjaannya dengan memberikan kesempatan
kepadanya agar bawahan dapat berusaha mencapai hasil. Bila bawahan
telah berhasil mengerjakan pekerjaannya, pemimpin harus menyatakan
keberhasilan itu.
b. Pengakuan: Sebagai lanjutan dari keberhasilan pelaksanaan pemimpin
harus memberi pernyataan pengakuan akan keberhasilan tersebut, berupa
pemberian bonus uang tunai dan penghargaan.
c. Pekerjaan itu sendiri: Pemimpin membuat usaha-usaha yang riil dan
meyakinkan, sehingga bawahan mengerti akan pentingnya pekerjaan
yang dilakukannya dan berusaha menghindarkan kebosanan dalam
pekerjaan bawahan serta mengusahakan agar setiap bawahan sudah tepat
dalam pekerjaannya.
d. Tanggung jawab: Membiarkan bawahan bekerja sendiri sepanjang
pekerjaan itu memungkinkan dan menerapkan prinsip partisipasi.
Diterapkannya prinsip partisipasi membuat bawahan sepenuhnya
merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya.
e. Pengembangan pegawai: Pemimpin membei rekomendasi tentang
bawahan yang siap untuk pengembangan, untuk menaikkan pangkatnya
atau dikirim mengikuti pendidikan atau latihan lanjutan.

12
VII. HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN DENGAN MOTIVASI KERJA

Gaya Kepemimpinan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap motivasi sebab keberhasilan
seorang pemimpindalam menggerakkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tergantung
pada bagaimana pemimpin itu menciptakan motivasi di dalam diri setiap karyawan (Kartono,
2008). Pemimpin berusaha mempengaruhi atau memotivasi bawahannya agar dapat bekerja
sesuai dengan tujuan yang diharapkan pemimpin. Motivasi kerja yang tinggi dapat didukung
oleh gaya kepemimpinan yang tepat, sehingga gaya kepemimpinan yang kurang tepat dalam
penerapannya akan kurang memotivasi bawahannya dalam melakukan aktivitasnya-
aktivitasnya.

Tugas seorang pimpinan yang utama dalam perusahaan memberikan sumbangan yang besar
berupa tenaga dan pikiran terhadap perusahaannya agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
Tidak setiap orang dapat melaksanakan gaya kepemimpinan dengan baik, karena tugas-tugas
dalam strategi kepemimpinan menuntut suatu tanggung jawab yang besar. Selain daripada itu,
untuk menimbulkan motivasi kerja yang tinggi, dibutuhkan suatu tindakan yang dapat
menumbuhkan motivasi kerja karyawan pada suatu perusahaan. Dan tindakan tersebut berasal
dari pemimpin atau yang biasa disebut dengan gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan
sangatlah berpengaruh terhadap motivasi kerja karyawan, karena didalam motivasi kerja
karyawan untuk memenuhi kebutuhannya sangat membutuhkan dukungan dari seorang
pemimpin, karena itu setiap pemimpin harus mengetahui secara jelas tentang apa yang
dibutuhkan oleh karyawan dan perusahaan agar mereka bisa bekerjasama secara efektif. Dan
selain daripada itu karyawan juga harus mengetahui tentang apa yang diinginkan oleh
pemimpin dan perusahaan agar tercapainya tujuan bersama, yaitu tujuan karyawan dalam
memenuhi kebutuhannya dan tujuan perusahaan. Sehingga jelas disini, bahwa peranan seorang
pimpinan sangat besar dalam mengatur bawahan dan pekerjaan agar setiap karyawan dalam
melaksanakan tugas pekerjaan benar-benar menunjukan usaha-usaha ke arah peningkatan
motivasi kerja.

13
BAB III

KESIMPULAN
Idealnya, seorang pemimpin harus memiliki berbagai macam gaya. Ia harus siap
menghadapi segala keadaan yang sedang dihadapi oleh organisasinya. Memandang hal ini dari
sisi organisasi, maka organisasi harus mengadaptasi suatu strategi untuk efektivitas, dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan 'produknya'. Sebagian besar organisasi sukarela dan
nirlaba didirikan berdasarkan asumsi adanya persamaan visi dan sasaran. Mereka memiliki
strategi mencari keberhasilan (untuk mencapai sasaran mereka). Apapun gaya kepemimpinan
yang dijalankan oleh seorang pemimpin terhadap organisasi yang dipimpinnya harus dapat
memberikan motivasi serta kenyaman bagi para anggotanya. Motivasi kerja berkaitan dengan
tingkat upaya atau usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan.

Penerapan kepemimpinan sangatlah berpengaruh terhadap motivasi kerja pegawai, karena di


dalam motivasi kerja pegawai untuk memenuhi kebutuhannya sangat membutuhkan
dukungan dari seorang pimpinan, karena itu setiap pemimpin harus mengetahui secara jelas
tentang apa yang dibutuhkan oleh pegawai dan perusahaan agar mereka bisa bekerja sama
secara efektif.

14
DAFTAR PUSTAKA
Hasibuan, Malayu S.P., Drs., 2004, Manajemen Sumber Daya Manusia, edisi revisi, Jakarta:
PT. Bumi Aksara

Hasibuan, S. P. M. 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta

Mangkunegara, A Prabu. 2005. Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Rivai, Veithzal. 2008. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Edisi Kedua, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada

Thoha, Miftah. 2009. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Thoha, Miftah. 2012. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

15