Anda di halaman 1dari 40

BUKU SAKU

RUMAH SAKIT ISLAM BANJARNEGARA

AKREDITASI SNARS 2019


DAFTAR ISI

NO MATERI HAL NO MATERI HAL


Visi, Misi, Moto Dan 7 Nilai Karyawan Rumah Sakit
1 2 26 Etika Batuk 31
Islam Banjarnegara
2 Stuktur Organisasi Rumah Sakit 3 27 Cara Membuang Sampah 32
Pengelompokan Standar Nasional Akreditasi Rumah
3 4 28 APD 33
Sakit Edisi 1 (Snars Edisi 1)
4 Mutu Prioritas 5 29 Spill Kit 34
5 Mutu Lokal / Unit 6 30 Alur Pajanan 35
Penanggung Jawab Data / Person In Charge (PIC)
6 8 31 Komunikasi Efektif 36
Indikator Mutu Rumah Sakit Islam Banjarnegara
7 Budaya Keselamatan 9
8 Insiden Keselamatan Pasien 10
9 Alur Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien 11
10 Code Blue 11
11 Code Pink 12
12 Code Red 12
13 Code Black 14
14 Hak Pasien dan Keluarga 15
15 Kredensial 16
16 Perlindungan Harta Benda 16
17 Keluhan Dan Konflik 17
18 Skiring TB 18
19 Triase ESI 23
20 Transfer Pasien 25
21 NORUM 26
22 HAM 27
23 Risk Register 28
24 5 Budaya Sehat 28
25 Five Moment 30

1
25 Kebersihan Tangan 29
VISI, MISI, MOTO DAN 7 NILAI KARYAWAN
RUMAH SAKIT ISLAM BANJARNEGARA

A. Visi Rumah Sakit Islam Banjarnegara :


Menjadi rumah sakit umum Tipe C terkemuka di Banjarnegara dan sekityarnya pada tahun 2025 yang memberikan pelayanan prima.

B. Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terstandarisasi.
2. Mengembangkan pelayanan unggulan urologi dan PONEK
3. Mengembangkan manajemen yang efektif dan dinamis.
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan secara optimal.
5. Melaksanakan promosi dan pemasaran secara massif.

C. Motto
”Brayan waras, brayan mulya, Rohmatan Lil ’Alamin”.

D. Tujuh (7) Nilai Karyawan Rumah Sakit Islam Banjarnegara


1. Jujur
2. Tanggung Jawab
3. Visioner
4. Disiplin
5. Kerjasama
6. Adil
7. Peduli

2
STUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT

SPI

KELOMPOK KERJA
FUNGSIONAL NON
STRUKTURAL

KABAG, SDM, ADM UMUM & K3I

KASUBAG. HUMSAR,
BINROH & KEAMANAN

3
PENGELOMPOKAN STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI 1 (SNARS EDISI 1)

I. SASARAN KESELAMATAN PASIEN (SKP)


Sasaran 1 : Mengidentifikasi pasien dengan benar.
Sasaran 2 : Meningkatkan komunikasi yang efektif.
Sasaran 3 : Meningkatkan keamanan obat-obat yang harus diwaspadai (High Alert Medications).
Sasaran 4 : Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar.
Sasaran 5 : Mengurangi resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Sasaran 6 : Mengurangi risiko infeksi cedera pasien akibat terjatuh.

II. STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PASIEN


1. Akses Ke Rumah Sakit Dan Kontinuitas Pelayanan (ARK)
2. Hak Pasien Dan Keluarga (HPK)
3. Asesmen Pasien (AP)
4. Pelayanan Dan Asuhan Pasien (PAP)
5. Pelayanan Anestesi Dan Bedah (PAB)
6. Pelayanan Kefarmasian Dan Penggunaan Obat (PKPO)
7. Manajemen Komunikasi Dan Edukasi (MKE)

III. STANDAR MANAJEMEN RUMAH SAKIT


1. Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien (PMKP)
2. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)
3. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
4. Manajemen Fasilitas Dan Keselamatan (MFK)
5. Manajemen Fasilitas Dan Keselamatan (MFK)
6. Kompetensi Dan Kewenangan Staf (KKS)
7. Manajemen Informasi Dan Rekam Medis (MIRM)

IV. PROGRAM NASIONAL


SASARAN I : Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi Dan Peningkatan Kesehatan Ibu Dan Bayi
SASARAN II : Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS
SASARAN III : Penurunan Angka Kesakitan Tuberkulosis
SASARAN IV : Pengendalian Resistensi Antimikroba
SASARAN V : Pelayanan Geriatri

V. INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN DI RUMAH SAKIT

4
MUTU PRIORITAS

Mutu Prioritas : Peningkatan Mutu Pelayanan Urologi

NO INDIKATOR AREA KLINIS TARGET


1. Penundaan Operasi Elektif Urologi 5%
2. Kesalahan Prosedur Operasi Urologi 0%

NO INDIKATOR AREA MANAJEMEN TARGET


1 Kepatuhan Terhadap Clinical Pathway 80%
2 Kepuasan Pasien dan Keluarga di Poliklinik Urologi 80%

NO INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN PASIEN TARGET


1. Kepatuhan identifikasi pasien 100%
2 Verbal order ditandatangani dokter dalam 24 jam 100%
3 Kepatuhan perawat dalam pelaksanaan double check obat HAM 100%
4 Angka kelengkapan pengisian surgical checklist di kamar operasi 100%
5 Kepatuhan Cuci Tangan 85%
6 Kepatuhan upaya pencegahan risiko cedera akibat pasien jatuh pada pasien rawat inap 100%

5
MUTU LOKAL / UNIT

1. Instalasi Gawat Darurat 5. Radiologi


a. Emergency Respon time (waktu tanggap pelayanan gawat darurat <5 a. Kejadian Kegagalan Pelayanan Rontgen
menit) b. Pelaporan Hasil Kritis Pemeriksaan Radiologi
b. Keterlambatan Pelayanan Ambulance di RS c. Penolakan Ekspertise
c. Kematian Pasien di IGD
2. Instalasi Rawat Jalan 6. Rekam Medik
a. Waktu Tunggu Rawat Jalan a. Ketidaklengkapan Catatan Medis Pasien (KLPCM)
b. Penanganan Pasien Tuberculosis yang tidak sesuai dengan strategi b. Penomeran Rekam Medis Ganda/ Dobel
DOTS (Directly Observed Treatmen Shortcourse)
3. Instalasi Rawat Inap 7. Unit Kamar Operasi
a. Kepatuhan identifikasi pasien a. Penundaan Operasi Elektif
b. Kepatuhan Jam Visite Dokter Spesialis b. Tidak dilakukannya penandaan lokasi operasi
c. Kepatuhan Upaya Pencegahan Risiko Cedera Akibat Pasien Jatuh c. Kesalahan Prosedur Operasi
pada pasien Rawat Inap d. Kesalahan Lokasi Operasi
d. Kelengkapan Assesmen Medis dalam waktu 24 jam setelah pasien e. Keterlambatan Operasi Sectio Caesarea
masuk rawat inap f. Angka kelengkapan pengisian surgical checklist di kamar operasi
e. Kematian ibu melahirkan karena perdarahan g. Ketidak sesuaian diagnosa pre dan post operasi
f. Ketidakmampuan menangani BBLR 1500-2500 gr h. Pelaksanaan asesmen pra bedah
g. Keterlambatan Penyediaan Darah i. Ketidaklengkapan Asessment Pre Anestesi
h. Kejadian tidak dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayi j. Kelengkapan pengisian formulir status fisiologis selama anestesi
baru lahir k. Kejadian konversi tindakan anestesi dari lokal/ regional ke general
i. Verbal Order ditandatangani dokter dalam 24 jam l. Kelengkapan pengisian formulir status fisiologis pasien pada saat
j. Kejadian Reaksi Transfusi pemulihan anestesi dan sedasi mendalam di Recovery Room
m. Ketidaklengkapan asesmen pra sedasi
n. Penundaan Operasi Elektif Urologi
o. Kesalahan Prosedur Operasi Urologi
4. Pelayanan Intensif (HCU) 8. Laboratorium
a. Pasien IMA yang tidak mendapatkan terapi Aspirin (Anti a. Waktu Lapor Hasil Tes Kritis Laboratorium
Trombotik) dalam waktu 24 jam sejak datang ke Rumah Sakit b. Ketepatan waktu penyediaan reagen
b. Pasien yang kembali ke Unit Pelayanan Intensif (ICU) dengan kasus
yang sama < 72 jam

6
MUTU LOKAL / UNIT

9. Instalasi Farmasi 15. Instalasi Gizi


a. Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional Bagi RS Provider a. Sisa Makan Siang Pasien Non Diit
BPJS 16. CSSD
b. Kepatuhan Perawat dalam pelaksanaan Double Check Obat HAM a. Produk CSSD terjamin kualitas sterilisasi
c. Ketersediaan Obat di RS 17. Urusan Logistik Keperawatan
d. Ketidaktepatan pemberian obat (5 benar) a. Angka ketersediaan alat medik dasar dalam pelayanan medik termasuk
e. Ketidaksesuaian pemasokan gas oxygen (O2) medis dan notrous operasi
oxid (N2O) 18. PPI
f. Angka penggunaan antibiotik a. Kepatuhan Cuci Tangan
b. Infeksi Daerah Operasi (IDO)
c. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
10. Komite Medik 19. K3RS
a. Kepatuhan Terhadap Clinical Pathway a. Kejadian Tetusuk Jarum Suntik
11. Urusan Rumah tangga 20. Urusan Kepegawaian & Diklat
a. Baku Mutu Limbah Cair a. Karyawan yang Mendapat Pelatihan Minimal 20 Jam Pertahun
b. Ketepatan waktu pengangkutan limbah B3 medis
12. Urusan Akuntansi 21. Urusan Anggaran Pendapatan
a. Cost Recovery a. Ketepatan Waktu Pemberian Informasi tentang Tagihan Pasien
13. Urusan Anggaran Belanja 22. Urusan Sarana Prasarana dan Pemeliharaan RS
a. Ketepatan pembayaran inkaso sebelum tgl 20 setiap bulan a. Keterlambatan Waktu Menangani Kerusakan Alat
b. Keterlambatan waktu menangani kerusakan alat USG 4D
14. Humas
a. Kecepatan Respon Terhadap Komplain
b. Kepuasan Pasien dan Keluarga
c. Kepuasan Pasien dan Keluarga di Poliklinik Urologi

7
PENANGGUNG JAWAB DATA / PERSON IN CHARGE (PIC) INDIKATOR MUTU

RUMAH SAKIT ISLAM BANJARNEGARA

Tanggung jawab PIC sebagai pengelola data indikator mutu dan insiden keselamatan pasien (mengumpulkan dan menginput data di aplikasi SISMADAK)

NO NAMA TUGAS
1. Rifki Nafisani PIC Unit Rawat Inap
2. Ahmad Nur Banjari, S. Kep Ns PIC HCU
3. Deka Prasetyanti, SKM PICUnit Rekam Medik
4. Atik Wakiyah, AMK PIC Unit Kamar Operasi
5. Ais Oktalina, Amd. PIC Unit Rawat Jalan
6. Mister, AMK PIC Unit Gawat Darurat
7. Khamidah, S. Kep. Ns PIC Urusan Logistik Keperawatan
8. Septi Indriani , AMG PIC Unit Gizi
9. Devi Novita Triana, Amd, AK PIC Unit Laboratorium
10. Lulu Khoirunita L, Amd, Rad PIC Unit Radiologi
11. Dyah Ratna, S.Farm, Apt PIC Unit Farmasi
12. Riris Afianto, AMK PIC Komite PPI
13. Eko Setiono, S.Kep PIC Komite Medik
14. Diana Melisawati, S.Kep, Ns PIC Administrasi Umum & K3L
15. Nur Aini Oktaviana, SE PIC Keuangan
16. M. Agung Prastowo PIC Unit CSSD

8
BUDAYA KESELAMATAN

Budaya keselamatan di rumah sakit adalah sebuah lingkungan yg kolaboratif karena staf klinis
memperlakukan satu sama lain secara hormat dengan melibatkan serta memberdayakan pasien dan
keluarga

Ciri-ciri budaya keselamatan :


1. Komunikasi berdasar atas rasa saling percaya
2. Persepsi yang sama tentang pentingnya keselamatan dan keyakinan akan manfaat langkah-
langkah pencegahan.

Perilaku yang tidak mendukung budaya keselamatan :


1. Perilaku yang tidak layak (inappropriate), missal : mengumpat atau memaki
2. Perilaku yang mengganggu (disruptive) : perilaku tidak layak yang dilakukan brulang, bentuk
tindakan verbal atau nonverbal yang membahayakan atau mengintimidasi staf lain.
3. Perilaku yang melecehkan (harassment) terkait dgn ras, agama dan suku termasuk gender
4. Pelecehan sexual

Hal-hal penting menuju budaya keselamatan


1. RS mengetahui bahwa kegiatan operasional RS beresiko tinggi dan bertekad untuk
melaksanakan tugas dengan konsisten serta aman.
2. Regulasi serta lingkungan kerja mendorong staf tidak takut mendapat hukuman bila membuat
laporan tentang kejadian tidak diharapkan dan kejadian nyaris cedera
3. Direktur RS mendorong tim keselamatan pasien melaporkan insiden keselamatan pasien ke
tingkat nasional sesuai peraturan perundang-undangan.
4. Mendorong kolaborasi antar staf klinis dengan pimpinan untuk mencari penyelesaian masalah
keselamatan pasien
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN

Insiden keselamatan pasien (IKP) / patient safety incident, adalah setiap kejadian atau situasi yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera / harm yang tidak seharusnya terjadi.
Jenis Insiden :
1. Kejadian tidak diharapkan (KTD) / adverse event, adalah suatu insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena
penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis yang tidak dapat dicegah.
2. Kejadian nyariscedera (KNC) / Near Miss, adalah suatu insiden yang tidak menyebabkan cedera pada pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dapat terjadi karena
“keberuntungan” (misalnya: pasien terima suatu obat kontraindikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), karena
“pencegahan” (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkan
sebelum obat diberikan), atau “peringatan” (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini
lalu diberikan antidotumnya).
3. Kejadian Potensial Cedera ( KPC ), adalah suatu insiden yang berpotensial menyebabkan cedera pada pasien.
4. Kejadian Tidak Cedera ( KTC ), adalah suatu insiden yang tidak menyebabkan cedera, meskipun sudah terpapar
kepada pasien.
5. Sentinel, adalah suatu insiden yang mengakibatkan kehilangan nyawa seseorang.

Pelaporan Insiden paling lambat 2 x 24 jam (kepada atasan langsung)

Pelaporan 1 x 24 jam (kepada Direktur) pada kasus sentinel

Investigasi dan analisa :


a. Grading biru : investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 1 minggu
b. Grading hijau : investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu maksimal 2 minggu
c. Grading kuning : investigasi komprehensif / analisa akar masalah / RCA oleh tim manajemen resiko, waktu
maksimal 45 hari.
d. Grading merah : investigasi komprehensif / analisa akar masalah / RCA oleh tim manajemen resiko, waktu
maksimal 45.
ALUR PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN

ATASAN
UNIT TIM KP RS DIREKSI KKP PERSI
LANGSUNG

INSIDEN Laporan Kejadian


KTD/KNC (2x24jan)

Atasan
Langsung

Strategi
segera Gradin
g

Biru/hijau Merah/kuning

Investigasi
sederhana

Rekomendasi Laporan
kejadian hsl
isvestigasi

Analisis/
regrading

R
C
A

Pembelaja laporan laporan


Feed
ran/rekom
back ke
endasi
unit
CODE BLUE
Adalah merupakan salah satu kode prosedur emergency yang harus diaktifkan jika ditemukan seseorang dalam kondisi cardio respiratory arrest didalam area rumah sakit.

Seseorang / 1. Nilai kesadaran Petugas lain menghubungi Utk mengaktifkan


pasien dalam 2. Pastikan lingkungan aman “110” Code Blue Tim Code Blue
kondisi 3. Panggil nama/tepuk bahu datang ke
1. Perkenalkan diri dan Operator
cardiac 4. Minta bantuan petugas lain area/ruang
konfirmasi bahwa yang mengatakan “ Code
respiratory mengaktifkan code blue. kejadian
menerima adalah Tim Blue, Code Blue,
arrest 5. RJP sapai dgn TIM Code Blue
Code Blue Code Blue
datang
2. Menginformasikan diarea/ruang….nom
adanya kejadian Code or kamar….
Blue ,
3. Sebutkan nama lokasi,
ruang, nomor kamar
dan jumlah
4.

CODE PINK
Adalah kode emergency terjadinya penculikan atau pencurian bayi / anak

Operator menghubungi
security, Ketua Komite Sekuriti menelpon
PMKP (081285741445), MAPOLRES
Terjadi penculikan Berikan info bayi anak
Ketua P2K3 Banjarnegara
bayi/anak, petugas yang diculik : foto bayi
(081317262383), (0286)591110 dan
meneriakkan “CODE (kalo ada), waktu, Lapor Direktur dalam
Kepala Bidang POLSEK Bawang (0286)
PINK-CODE PINK” lokasi dan pakaian waktu 1x24 jam
Pelayanan 597114 : sebutkan jenis
kemudian telpon no. terakhir bayi/anak
(08123305949), Kepala kejadian,lokasi
100 terliat
Bagian Hukum kejadian, nama anda
(08122815656) dan staf dan profesi/tugas anda
senior lainnya
CODE RED
Adalah kode emergency untuk kondisi kebakaran yang membutuhkan kesiapan dan kesigapan petugas untuk melakukan tindakan penanggulangan.

Staf melihat api Security mengamankan Matikan api dgn Evakuasi pasien, pengunjung,
diarea kebakaran Operator menghubungi area kejadian & buka jalur APAR jika api tidak dokumen dan alat2 penting
segera meneriakkan security (No.125), Ketua evakuasi bisa dikuasai lapor
P2K3 (081317262383) dan ketua P2K3 untuk Awasi pasien dan lakukan
CODE RED….CODE
unit kerja terdekat Matikan aliran listrik mengubungi absensi
RED
(pertimbangkan ps yg DAMKAR (0286) Semua petugas kooperatif dgn
Lapor operator membutuhkan listrik) 592113 instruksi Manager on Duty/P2K3
no. 0 / 100
Jauhkan barang yg mudah
terbakar

CODE BLACK (ANCAMAN ORANG)


Adalah Kode emergency terjadinya tindak ancaman yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa baik ancaman dengan senjata tajam, non senjata tajam, senjata api BOM, dll.

Bila tidak
memungkinkan
 Remain calm Operator menghubungi melangkah mundur
(Tetap tenang) Minta bantuan dgn pihak terkait (sekuriti, turuti perintah
 Retreat (Mundur berteriak “Code Black – P2K3, Kabag Hukum pengancam.
Orang bersenjata atau bila lebih aman) Code Black” dan Keamanan, Humas
tidak bersenjata  Raise the alarm dan Binarohani, staf Jika bahaya sudh
Melangkah mundur bila
mengancam melukai (Bunyikan alarm) senior lain) berlalu telpon 0/100 :
lebih aman
seseorang atau diri  Record details laporkan ciri
sendiri Informasikan jenis penyerang, senjata,
(Catat rincian Hubungi No. 0 atau 100
kejadian, lokasi cara bicara/logat,
kejadian)
kejadian, nama dan tingkah laku,tato, ciri
tempat tugas anda kendaraan, arah
pelarian
CODE BLACK (ANCAMAN BOM)
Adalah Kode emergency terjadinya tindak ancaman yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa baik ancaman dengan senjata tajam, non senjata tajam, senjata api BOM, dll.

Operator menghubungi
Gunakan telpon lain
pihak terkait
utk menghubungi
sampaiakn :
Orang menelpon Tetap tenang  Mapolresta Lapor Direktur dalam
 Nama anda dan
mengancam adanya dengarkan suara Banjarnegara waktu 1 x 24 jam
lokasi kerja
BOM penelpon (0286) 591110
anda/profesi anda
 Polsek Bawang
 Bahwa terdapat
(0286) 597114
ancaman bom
 Operator 0/100
HAK PASIEN  Lokasi ancaman
HAK PASIEN
(Undang Undang No 4 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit)

1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi
4. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi.
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan
7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit.
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit.
9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
10. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
11. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.
15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
17. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.
18. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

KEWAJIBAN PASIEN
(Undang Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, PMK No 1691 Tahun 2011 Tentang Kesalamatan Pasien)

1. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi


2. Mematuhi ketentuan yang berlaku disarana pelayanan kesehatan
3. Memberikan imbalan atas pelayanan yang diterima
4. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap, dan jujur tentang masalah kesehatan
5. Menghormati dan tenggang rasa terhadap karyawan rumah sakit dan pasien lainnya
PROSES KREDENSIAL (CREDENTIALING)

Proses kredensial (credentialing) adalah proses evaluasi oleh suatu rumah sakit terhadap seseorang untuk menentukan apakah yang bersangkutan layak diberi kewenangan klinis (clinical
privilege) menjalankan tindakan tertentu dalam lingkungan rumah sakit tersebut untuk suatu periode tertentu.

PROSES RE-KREDENSIAL (RE-CREDENTIALING)

Proses rekredensial (re-credentialing) adalah proses re-evaluasi oleh suatu rumah sakit terhadap tenaga profesi yang telah bekerja dan memiliki kewenangan klinis di rumah sakit tersebut
untuk menentukan apakah yang bersangkutan masih layak diberi kewenangan klinis terseb utuntuk suatu periode tertentu.

KEWENANGAN KLINIS (CLINICAL PRIVILEGE)

Kewenangan klinis (clinical privelege) adalah kewenangan klinis untuk melakukan tindakan tertentu dalam lingkungan sebuah rumah sakit tertentu berdasarkan penugasan yang
diberikan kepala rumah sakit.

SURAT PENUGASAN (CLINICAL APPOINTMENT)

Surat penugasan (clinical appoinment) adalah surat yang diterbitkan oleh kepala rumah sakit kepada seorang tenaga profesi untuk melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut
berdasarkan daftar kewenangan klinis yang ditetapkan baginya.

MITRA BESTARI (PEER-GROUP)

Mitra bestari (Peer Group) adalah sekelompok orang dengan reputasi tinggi yang memiliki kesamaan profesi, spesialisasi dengan seorang tenaga profesi yang sedang menjalani proses
kredensial dan atau dianggap dapat menilai kompetensi untuk melakukan tindakan tertentu.
PERLINDUNGAN HARTA BENDA

TPPRI
menginformasikan serah terima perlu hubungi pihak
pasien sebelum penyimpanan berwajib untuk
masuk rawat inap sementara untuk hubungi petugas menangani kasus
bahwa rumah harta benda pribadi keamanan untuk kehilangan harta
sakit tidak milik pasien apabila kasus kehilangan benda milik pasien/
bertanggung tidak ada pengunjung jika
jawab jika ada keluarganya kasus berlanjut
harta benda yang
hilang

KELUHAN DAN KONFLIK

KELUHAN/KONFLIK maka
lakukan :  Unit terkait
menyelesaikan
 Terima keluhan masalah
Penyelesaian / tindak lanjut
dan catat  Jk ka. Unit terendah Dilaporkan ke Direktur
didokumentasikan
 Identifikasi tak bisa selesaikan
keluhan koordinasikan dgn
 Koordinasikan kepala diatasnya
unit terkait
SKRINING MDR TB
SKRINING PASIEN TB

 Pasien TB yang gagal pengobatan kategori 2 (kasus


• Apakah batuk berulang? Atau batuk lebih dari dua kronik)
minggu?  Pasien TB tidak konversi pada pengobatan kategori 2.
• Apakah batuk berdarah?  Pasien TB tidak konversi setelah pemberian sisipan.
• Apakah berkeringat saat malam hari?  Pasien TB yang kembali berobat setelai lalai/default.
• Apakah pasien kurus? Atau terjadi penurunan BB ?  Pasien TB dengan riwayat kontak erat pasien TB MDR
• Apakah sesak nafas atau nyeri dada?  Pasien TB kambuh Pasien
• Apakah minum obat paru dalam waktu lama sebelumnya?  TB gagal pengobatan kategori 1.
• Apakah ada anggota keluarga satu rumah yang sakit paru-  Pasien TB dengan riwayat pengobatan TB di fasyankes
paru? Non DOTS
 ODHA dengan gejala TB-HIV
ALGORITMA TRIASE
EMERGENCY SEVERITY
INDEX (ESI)

A. Apakah pasien memerlukan intervensi life-saving


segera?
B. Apakah pasien dalam kondisi : berisiko tinggi?
kebingungan/ letargis/ disorientasi? nyeri/ distres
berat?
C. Berapa jenis sumberdaya yang dibutuhkan pasien?
D. Bagaimana tanda vital pasien?
ESI Level 2
Tidak memenuhi kriteria ESI level 1
Contoh Kasus ESI Level 1
ESI Level 1  Henti jantung
Harus segera ditempatkan di ruang
pemeriksaan / tindakan IGD untuk segera
 Henti napas ditangani oleh dokter
 Distres respirasi berat
 Gagal napas Waktu sampai diperiksa oleh dokter ≤10
Pasien yang critical ill (kondisi tidak stabil)  Pasien yang terintubasi menit
 Desaturasi oksigen dengan SpO2 < 90 %
Tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi  Syok/ hipoperfusi (karena sebab apapun)
RESIKO TINGGI
Memerlukan intervensi life saving SEGERA  Reaksi anafilaksi
 Aritmia tak stabil KEBINGUNGAN/ LETARGIS/ DISORIENTASI
• Apneu  Kejang (sedang berlangsung)
 Koma dengan onset akut (karena sebab NYERI/ DISTRES BERAT
• Nadi tak teraba
apapun)
• Terintubasi
• Distres respirasi berat SpO2 < 90 % Resiko Tinggi

• Hanya merespon nyeri atau tidak ada respon Pasien yang datang di IGD dengan kondisi
Contoh kasus esi level 1 pada pediatric
(akut) yang dapat memburuk sewaktu-waktu
 Henti napas/ henti jantung
Pasien dengan kondisi yang berpotensi
 Cedera kepala berat dengan hipoventilasi
 Kejang (aktif)
mengancam jiwa, anggota gerak, atau organ
 Tidak ada respon Memerlukan penanganan medis dalam
 Penurunan kesadaran dengan rash petekie waktu segera (time-sensitive treatment)
 Gagal napas
 Syok/sepsis dengan tanda hipoperfusi Contoh Kasus
 Reaksi anafilaksi • Angina pectoris
• Epistaksis karena hipertensi tak terkontrol
• Biomekanisme trauma yang berisiko tinggi
• Sepsis
• Torsio testis
• Gaduh gelisah / mengamuk
• Stroke
• KET
Kebingungan/ letargis/ disorientasi
DISTRES BERAT
Pasien yang datang ke IGD dalam kondisi Korban kekerasan seksual
kebingungan / letargis / disorientasi yang Korban KDRT
mengarah pada penurunan kesadaran akut Pasien dengan percobaan bunuh diri ESI Level 3, 4, dan 5
(karena sebab apapun)
Pasien yang Tidak memenuhi kriteria ESI level 1 dan 2
Contoh kasus esi 2 pada pediatric
Pasien yang memiliki ambang kesadaran di
Sinkop ESI level 3 : pasien diprediksi membutuhkan banyak
bawah normal secara kronis tidak termasuk
Demam pada pasien immunocompromised (dua atau lebih) jenis sumber daya di IGD guna
dalam kriteria ESI level 2, contohnya
Hemofilia dengan kemungkinan perdarahan mencapai keputusan akhir
demensia kronis, dsb.
akut
ESI level 4 : pasien diprediksi membutuhkan satu
Contoh Kasus Bayi <28 haridengan suhu rectal >38.0°C
jenis sumber daya di IGD guna mencapai keputusan
Stroke Bayi <90 hariyang hipotermi dengan suhu
akhir
TIA rektal<36.5°C
Bayi yang letargis Upaya bunuh diri ESI level 5 : pasien diprediksi tidak membutuhkan
Hipoglikemia/ Hiperglikemia Meningitis sumber daya di IGD guna mencapai keputusan akhir
Gangguan elektrolit, misal : hiponatremia Penurunan kesadaran post KEJANG
Obstruksi jalan napas bawah Contoh kasus esi level 3
Intoksikasi

Nyeri/ distress berat Pedoman ESI terkait pemeriksaan suhu badan


anak usia kurang dari 3 tahun adalah sebagai
Nyeri dengan skor > 7 dari skala nyeri 0-10 Pemeriksaan Vital Sign menurut
berikut :
yang relevan secara klinis menurut penilaian
 1 – 28 hari : minimal ditriase sebagai ESI
ESI
subjektif dan objektif, serta memerlukan
evaluasi dan/atau tindakan medis lebih level 2 jika suhu > 38.0 C • ESI level 3 Wajib
lanjut  Usia 1 – 3 bulan : pertimbangkan untuk • ESI level 1, 2, 4, dan 5 Opsional
ditriase sebagai ESI level 2 jika suhu > 38.0 C
Gangguan fisiologis maupun psikologis yang
 Usia 3 bulan – 3 tahun : pertimbangkan
bersifat berat dan memerlukan penanganan
untuk ditriase sebagai ESI level 3 jika suhu >
medis segera.
39.0 C, imunisasi tidak lengkap, atau sumber
NYERI BERAT demam tidak jelas.
Flank pain dengan skor nyeri 10/10
Cancer pain dengan skor nyeri >7
Retensi urin akut
Tindakan Live-saving menurut ESI
Penderita dibedakan menurut kegawatdaruratannya dengan memberi kode warna:
a. BIRU : ESI Level 1
b. MERAH : ESI Level 2
c. KUNING : ESI Level 3
d. HIJAU : ESI Level 4
e. PUTIH : ESI Level 5
f. HITAM : Meninggal dunia

Standar Test specifik yang dilakukan pada saat skrining :


1) Biru dan Merah (ESI Level 1dan Level 2)
a) Pemeriksaan Laboratorium : darah lengkap, SGOT/SGPT, Ureum Creatinin, GDS, Elektrolit, Urine Lengkap
b) Pemeriksaan radiologi : Foto Thorak
c) Pemeriksaan lain: EKG
2) Kuning ( ESI Level 3)
a) Pemeriksaan Laboratorium : darah lengkap, GDS, Ureum Creatinin
b) Pemeriksaan radiologi : Sesuai kebutuhan
c) Pemeriksaan lain: EKG bila perlu
3) Hijau (ESI Level 4)
Pemeriksaan Laboratorium: Darah Lengkap

22
TRANSFER PASIEN

Transfer pasien adalah memindahkan pasien dari satu ruangan keruang perawatan/ ruang tindakan lain didalam rumah sakit (intra rumah sakit) atau memindahkan pasien dari satu
rumah sakit ke rumah sakit lain (antar rumah sakit).

1. Kompetensi SDM untuk transfer intra RSI Banjarnegara


Pasien Petugas pendamping keterampilan yang dibutuhkan Peralatan Utama
(minimal)
Derajat 0 TPK/ Petugas Keamanan Bantuan hidup dasar
Derajat 1 Perawat/Petugas yang 1. Bantuan hidup dasar 1. Oksigen
berpengalaman (sesuai 2. Pelatihan tabung gas 2. Suction
dengan kebutuhan 3. Pemberian obat-obatan 3. Tiang infus portabel
pasien) 4. Kenal akan tanda deteriorasi 4. Pompa infus dengan baterai
5. Keterampilan trakeostomi dan suction 5. Oksimetri denyut
Derajat 2 Perawat dan Petugas 1. Semua ketrampilan di atas, ditambah; 1. Semua peralatan di atas, ditambah;
keamanan/ TPK 2. Dua tahun pengalaman dalam perawatan intensif (oksigenasi, sungkup 2. Monitor EKG dan tekanan darah
pernapasan, defibrillator, monitor) 3. Defibrillator
Derajat 3 Dokter, perawat, dan Standar kompetensi dokter harus di atas standar minimal 1. Monitor ICU portabel yang lengkap
TPK/ Petugas keamanan Dokter: 2. Ventilator dan peralatan transfer yang
1. Minimal 6 bulan pengalaman mengenai perawatan pasien intensif dan memenuhi standar minimal.
bekerja di ICU
2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
3. Keterampilan menangani permasalahan jalan napas dan pernapasan, minimal
level ST 3 atau sederajat.
4. Harus mengikuti pelatihan untuk transfer pasien dengan sakit berat / kritis
Perawat:
1. Minimal 2 tahun bekerja di ICU
2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
3. Harus mengikuti pelatihan untuk transfer pasien dengan sakit berat / kritis
(lengkapnya lihat Lampiran 1)

23
2. Kompetensi SDM untuk transfer antar rumah sakit
Pasien Petugas pendamping Keterampilan yang dibutuhkan Peralatan Utama dan Jenis Kendaraan
(minimal)
Derajat 0 petugas ambulan Bantuan hidup dasar (BHD) Kendaraan High Dependency Service (HDS)/
Ambulan
Derajat 0,5 (orang petugas ambulan dan Bantuan hidup dasar Kendaraan HDS/ Ambulan
tua/delirium) paramedis
Derajat 1 Petugas ambulan dan 1. Bantuan hidup dasar 1. Kendaraan HDS/ Ambulan
perawat 2. Pemberian oksigen 2. Oksigen
3. Pemberian obat-obatan 3. Suction
4. Kenal akan tanda deteriorasi 4. Tiang infus portabel
5. Keterampilan perawatan trakeostomi dan suction 5. Infus pump dengan baterai
6. Oksimetri
Derajat 2 Dokter, perawat,dan 1. Semua ketrampilan di atas, ditambah; 1. Ambulans EMS Mercedes 515
petugas ambulans 2. Penggunaan alat pernapasan 2. Semua peralatan di atas, ditambah;
3. Bantuan hidup lanjut 3. Monitor EKG dan tekanan darah
4. Penggunaan kantong pernapasan (bag-valve mask) 4. Defibrillatorbila diperlukan
5. Penggunaan defibrillator
6. Penggunaan monitor intensif
Derajat 3 Dokter, perawat, dan Dokter: 1. Ambulans lengkap/ AGD 118
petugas ambulan 1. Minimal 6 bulan pengalaman mengenai perawatan pasien 2. Monitor ICU portabel yang lengkap
intensif dan bekerja di ICU 3. Ventilator dan peralatan transfer yang memenuhi
2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut standar minimal.
3. Keterampilan menangani permasalahan jalan napas dan
pernapasan, minimal level ST 3 atau sederajat.
4. Harus mengikuti pelatihan untuk transfer pasien dengan sakit
berat / kritis
Perawat:
1. Minimal 2 tahun bekerja di ICU
2. Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
3. Harus mengikuti pelatihan untuk transfer pasien dengan
sakit berat / kritis
(lengkapnya lihat Lampiran 1)

24
NORUM
Adalah obat-obat yang memiliki nama, rupa dan ucapan yang mirip, sehingga dapat menimbulkan kesalahan
Daftar obat dengan rupa mirip Daftar obat dengan rupa mirip

Ab Vast 5 mg ↔ Ab Vast 10 mg Hexilon 4, Hexilon 16 ↔ Mexpharm 7.5 , Mexpharm 15


Amlodipin 5 ↔ Amlodipin 10 Heptasan ↔ Histapan
Acarbose 50 ↔ Acarbose 100 Kalium Diklofenak 25 ↔ Kalium Diklofenak 50
Alloris tab ↔ Epexol tab Kalnex 250 ↔ Kalnex 500
Acyclovir 200 ↔ Acyclovir 400 Kaflam 25 ↔ Kaflam 50
Atorvastatin 10 ↔ Atorvastatin 20 Ketoprofen 50 ↔ Ketoprofen 100
Amadiab 1 ↔ Amadiab 2 L zink sy ↔ Latropil sy
Amoxsan 250 ↔ Amoxsan 500 Lameson 4 ↔ Lameson 8
Ampicillin inj ↔ Amoxcicillin inj Lasal sy ↔ Lasal expextoran
Asam tranexamat 250 inj ↔ Asam tranexamat 500 inj Letonal 25 ↔ Letonal 100
Candesartan 8 mg ↔ Candesartan 16 Lisinopril 5 mg ↔ Lisinopril 10 mg
Candoten 8 mg ↔ Candoten 16 mg Longcef 500 ↔ Urdahex
Captopril 12.5 ↔ Captopril 50 Methilprednsiolon 4 mg ↔ Methilprednsiolon 8 mg, 16 mg
Cefixime 100 mg ↔ Cefixime 200 mg Nairet inj ↔ Scopamin inj
Ceftriaxon inj ↔ Cefotaxim inj Neurotam 400 ↔ Neurotam 800
Cepezet inj, Norages inj ↔ Myotonic inj Piracetam 400 ↔ Neurotam 800
Clindamisin 150 ↔ Clindamisin 300 Piroxicam 10 ↔ Piroxicam 20
Cholestat 10 ↔ Cholestat 20 Propanolol 10 ↔ Propanolol 40
Diklovit tab ↔ Prostam tab Pehacine inj ↔ Dycinone inj
Dexamethasone inj ↔ Pehacaine inj Rifampisin 300, 450 ↔ Rifampisin 600
Difenhidramin inj ↔ Piralen inj Salbutamol 2 mg ↔ Salbutamol 4 mg
Ephinephrine (phapros) ↔ Vit K (Phapros) Sanmol 500 tab ↔ Sanmol forte
Etoricoxib 60 mg ↔ Etoricoxib 90 mg Spironolacton 25 mg ↔ Spironolacton 100 mg
Etrovel 60 mg ↔ Etrovel 90 mg, 120 mg Valisanbe 2 ↔ Valisanbe 5
Esola ↔ Topazol Vitamin B1 50 mg ↔ Vitamin B1 100
Flagyl 0.5 ↔ Flagyl 1 Zypras 0.5 ↔ Zypraz 1
Folavit 400 mg ↔ Folavit 1000 mg
Frego ↔ Vesitab Daftar obat dengan nama /ucapan mirip:
Glimepiride 1, Glimepirid 2 ↔ Glimepirid 3
Glikazid 5 ↔ Glikazid 10 DOPamin ↔ DOBUTamin
Halloperidolol 1.5 ↔ Halloperidolol 5

25
HIGH ALERT MEDICATIONS (HAM)

Adalah obat-obatan yang memiliki resiko lebih tinggi untuk menyebabkan / menimbulkan adanya komplikasi / membahayakan pasien secara signifikan
jika terdapat kesalahan penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya).

Kategori/kelas obat-obatan Jenis obat Obat-obat dengan bentuk liposomal


Agnosis adenergik IV Epinerfrin, norepinefrin (Raivas) Agen sedasi moderat/sedang IV Midazolam (Sedacum, Fortanes)
Antagonis adrenergik IV Agen sedasi moderat/sedang Midazolam (Sedacum,
Agen anestesi (umum, inhalasi, dan IV) Profopol (recofol), ketamin (KTM) Fortanes), ketamin
Anti-aritmia IV Amiodaron (Tyarit) Opioid/narkose :
Anti-trombotik, termasuk: a. IV Morfin inj, Pethidine inj,
a. Antikoagulan Walfarin (notistil) b. Transdermal Fentanyl
b. Inhibitor faktor Xa c. Oral termasuk konsentrat cair, Fentanyl patch (Durogesik)
c. Direct thrombin inhibitors Fondaparinux (arixtra) formula rapid atau lepas lambat MST continuous
d. Trobolitik Agen blok neuromuskular Rokuronium (Noveron)
e. Inhibitor glikoprotein IIb/IIIa Atrakurium ((Tramus)
Larutan /solusio kardioplegik KCL Preparat nutrisi parenteral
Agen kemoterapi (parenteral dan oral) Agen radiokontras IV Iopamiro
Dekstrosa hipertonik (>20%) D40% Aqua bi destilata inhalasi dan irigasi WFI 1 Liter
Larutan dialisis (peritoneal dan dialisis) (dalam kemasan ≥100ml)
Obat-obatan epidural atau intratekal Bupivacaine (Recain, Spica, NaCl untuk injeksi, hipertonik dengan NaCl 3%
Decain) konsentrasi > 0.9%
Obat hipolikemik (oral) Metformin (Efomet, Tudiab, Konsentrat KCl untuk injeksi KCl 7.46%
Diaformin XR), Epoprostenol IV
Glibenklamide, Injeksi Magnesium Sulfat (MgSO4) MgSO4
Glimepiride (Amadiab), Digoxin IV Fargoxin
Gliquidone Metroteksat oral (penggnaan non Methrotexate
Glipizid onkologi)
Glicazid Opium tincture
Pioglitazone (Pionix) Oxitosin IV Oxitosin (Induxin)
Acarbose Injeksi Natrium nitroprusid
Obat ionotropik IV Digoxin (Fargoxin) Injeksi kalium fosfat
Insulin subkutan dan IV Actrapid, Levemir, Novorapid, Prometazin IV
Novomix,ezelin
Kalsium IV Calcium Gluconas
Vasopresin IV atau intraosseous
Antikonvulsan Bensodiazepin (valisanbe),
Stesolid
26
RISK REGISTER
Dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Alat manajemen resiko yang memungkinkan suatu institusi memahami profil resiko secara menyeluruh yang merupakan sebuah tempat
penyimpanan untuk semua informasi resiko
2. Pusat dari proses manajemen resiko organisasi
3. Catatan segala jenis resiko yang mengancam keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya
4. Dokumen yang dinamis, yang dikumpulkan melalui proses penilaian dan evaluasi resiko organisasi.

RISK REGISTER TAHUN 2019


RUMAH SAKIT ISLAM BANJARNEGARA
UNIT KERJA :

Dampak (D) Probabilitas Skor Bands


Rangking Strategi Pengurangan Penanggung Jawab
No Jenis Resiko
Risiko Resiko Evaluasi Resiko
L M H E
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1-25 (8-
(1-3) (4-6) (15-25)
12)

EVALUASI RESIKO

27
PUTUS MATA RANTAI PENULARAN INFEKSI
LAKUKAN KEBERSIHAN TANGAN

2. Sebelum
Tindakan
Aseptik

1. Sebelum
Kontak Dengan
Pasien

4. Setelah
Kontak Dengan
Pasien

3. Setelah
Terkena
Cairan
Tubuh
Pasien 5. Setelah Kontak
dengan
lingkungan
Sekitar Pasien

28
KEBERSIHAN TANGAN
DENGAN
AIR MENGALIR & SABUN ANTISEPTIK

12 1
2

11

6 Hitungan tiap 3
Langkah
10

9
3-8

Waktu
5
40 – 60 detik
8

7 6

“ CEGAH PENULARAN
INFEKSI LAKUKAN
KEBERSIHAN TANGAN “
29
ETIKA BATUK & PERNAPASAN
Saat Anda Batuk Atau Bersin

1 2
Tutup
hidung & Atau
mulut
dengan Tutup dg lengan
tisue baju bagian dalam

Buang
Tisue
ketempat
Sampah 3

Gunakan Cairan
Sabun &Air berbasis Gunakan
Mengalir Alkohol Masker
Atau Menutup
Hidung &
Mulut

30
SAMPAH RUMAH SAKIT
BERDASARKAN KANTUNG PLASTIK PEMBUNGKUS

MERAH Tajam

KUNING Medis
Infeksius

HITAM Non
Medis
Sampah
Rumah
Tangga

“ Membuang Sampah Sesuai


Klasifikasi Menciptakan Ruangan
Bersih, Sehat & Nyaman

31
APD APD
Alat Pelindung Diri Alat Pelindung Diri

1
1
2

8 2

7 3

8
4

Pemakaian 6
Pelepasan 4

5
7

5
6

32
34
KOMUNIKASI EFEKTIF

Penerimaan perintah lisan bertemu langsung :

Untuk mengurangi kesalahan maka system yang diterapkan adalah CaBaK yaitu Catat (write),
Baca ulang (read back), Konfirmasi (confirm).

Ketika melakukan konsultasi via telepon :

Menginformasikan keadaan pasien dengan menggunakan S-BAR, meliputi:

1. SITUATION: bagaimana kondisi pasien saat ini?


 Identitas pasien (nama, tanggal lahir, alamat, nomor rekam medis pasien, ruang
perawatan pasien, lama perawatan
 Diagnosa medis
 Keluhan utama yang saat ini dirasakan data keadaan umum dan vital sign terakhir

2. BAGROUND
 Riwayat alergi, riwayat pengobatan
 Hasil pemeriksaan penunjang: Lab, USG, Rongten atau Scan
 Tindakan atau pengobatan yang sudah diberikan
 Obat yang sudah diberikan

3. ASSESMENT
 Menyampaikan pendapat mengenai analisa permasalahan (kesimpulan dari Situation
dan Baground) yang terjadi pada pasien saat ini

4. RECOMMENDATIONS
Menyampaikan usulan pengobatan / tindakan yang harus dilakukan ke pasien

35
PELAYANAN YANG BERESIKO TINGGI

Pelayanan yang beresiko tinggi merupakan pelayanan yang memerlukan peralatan yang
kompleks untuk pengobatan penyakit yang mengancam jiwa, resiko bahaya pengobatan,
potensi yang membahayakan pasien atau efek toksik dari obat beresiko tinggi

Kelompok Pelayanan Pasien yang beresiko tinggi antara lain:

1. Pasien gawat darurat


2. Pelayanan resusitasi di seluruh rumah sakit
3. Pemberian darah dan produk darah
4. Pasien yang menggunakan peralatan bantu hidup dasar hidup dasar atau koma
5. Pasien dengan penyakit menular dan immunosupressed
6. Penggunaan alat pengekang (restraint)
7. Pasien cacat, anak-anak, dan populasi yang terindikasi terjadi kekerasan.

KEWASPADAAN ISOLASI
Penempatan pasien seharusnya sesuai temuan klinis sambil menunggu hasil kultur
laboratorium. Pertimbangan pada saat penempatan pasien :
1. Pemberian labeling pada rekam medis pasien yang sudah tegak diagnosis penyakit
menular dan pasien dengan immunosupressed, yaitu :
a. Warna kuning untuk Hepatitis,
b. Warna merah untuk HIV AIDS,
c. Warna ungu untuk TBC.
2. Kamar terpisah atau kohort dengan ventilasi dibuang keluar dengan exhaust ke area
tidak ada orang lalu-lalang, misalnya : TBC.
3. Kamar terpisah dengan udara terkunci bila diwaspadai transmisi airborne luas,
misalnya: varicella.
4. Kamar terpisah dengan pintu tertutup diwaspadai transmisi melalui udara ke kontak,
misalnya : luka dengan infeksi kuman gram positif.
5. Kamar terpisah bila dimungkinkan kontaminasi luas terhadap lingkungan, misalnya :
luka lebar dengan cairan keluar, diare, perdarahan tidak terkontrol.
6. Kamar terpisah bila pasien kurang mampu menjaga kebersihan, misalnya : anak-anak,
gangguan mental.
7. Bila kamar terpisah tidak memungkinkan dapat kohorting. Bila pasien terinfeksi
dicampur dengan non infeksi, maka pasien, petugas, dan pengunjung menjaga
kewaspadaan untuk mencegah transmisi infeksi.

36