Anda di halaman 1dari 15

Bab II

KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Objek Penelitian


Penelitian Sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain
dilakukan oleh Mila dan Ningsih (2016), Irex Purnama, Oka Yudi Prayoga,
Muhammad Nuruddin dan Sri Winawati(2016), Hartono (2016), Sabdo
Wicaksono (2015), Yance Sonatha dan Meri Azmi (2016), Eko Darmanto, Noor
Latifah, dan Nanik Susanti (2017).
Ngatawi dan Ira Setyaningsih (2017), mengkaji tentang Analisis Pemilihan
SupplierTerbaik Menggunakan Metode AHP dan memberikan dan memberikan
tentang hasil pemilihan Supplier yang paling kompeten untuk perusahaan. Hasil
yang telah didapat adalah menetapkan salah satu supplier sebagai supplier yang
terbaik dikarenakan hasil nilai akhir pada perhitungan AHP dengan nilai sebesar
0.240.
Irex Purnama (2017), mengkaji tentang penggunaan Metode AHP untuk
Pemilihan Obat Pada Apotik Herba Gianyar Bali dan memberikan kesimpulan
tentang hasil pemilihan obat yang akan di berikan dokter ke pasiennya tergantung
dari jenis penyakitnya. Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini terdiri dari
empat kriteria-kriteria yang di berikan penelitian ini adalah merk, harga, kualitas,
dan jenis obat.
Dina (2018), mengkaji tentang pemanfaatan metode AHP untuk penentuan
kenaikan jabatan karyawan dan memberi kesimpulan untuk siapa karyawan yang
pantas mendapat kenaikan jabatan berdasarkan kriteria-kriteria yang ada.
Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini terdiri dari empat kriteria. Kriteria –
kriteria yang diberikan penelitian ini adalah hasil testing, lama bekerja, disiplin,
dan loyalitas.
Sabdo Wicaksono (2018 ), mengkai tentang analisa faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan moda Transportasi Penduduk Kerja Di Kecamatan
Sukmajaya Depok menuju tempat kerja dengan menggunakan Metode AHP dan
memberi kesimpulan faktor yang apaling dominan adalah faktor waktu dan
kendaraan yang paling sering dipakai adalah motor disusul dengan kereta api,
mobil pribadi dan angkot.
Yance Sonatha dan Meri Azmi (2018), mengkaji tentang Penerapan Metode
AHP dalam menentukan Siswa Berprestasi. Kesimpulan yang didapat dalam
penelitian ini terdiri dari lima kriteria. Kriteria-kriteria yang diberikan adalah
prestasi akademik, kegiatan extrakurikuler, bobot karya tulis ilmiah, kemampuan
bahasa inggris dan kepribadian. Dan berdasarkan simulasi terhadap tiga orang
mahasiswa terpilih salah satu mahasiswa dengan skor 0.69.
Eko Darmanto, Noor Latifah,dan Nanik Susanti (2014), mengkaji tentang
Penerapan Metode AHP untuk Penentuan Kualitas Gula Tumbu dan memberi
kesimpulan ada tiga kriteria yaitu warna, rasa dan kekerasan. Dan ada delapan
alternatif yaitu keras, sedang, lembek, merah, merah tua, hitam, manis, kurang
manis, pahit.
Dan pada tahun 2019 ini saya Deto Brillyan Prarirawan Pamungkas sebagai
penyusun membuat penelitian tentang Penerapan Metode AHP Untuk membantu
siswa memilih jurusan yang tepat Di SMK Walisongo 2 Depok. Dibandingkan
dengan penelitian sebelumnya, disini penyusun memberikan variabel-variabel
berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

B. Landasan Teori
1. Analytical Hierarchy Proses (AHP).
Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970,
merupakan metode untuk membuat urutan alternative keputusan dan memilih
yang terbaik pada saat pengambil keputusan memiliki beberapa tujuan atau
kriteria untuk mengambil keputusan tertent. Karenanya, metode ini menjawab
pertanyaan yang mana seorang pengambil keputusan biasanya memiliki beberapa
alternatif yang dapat dipilih saat mengambil suatu keputusan.
Dalam AHP, persoalan akan diselesaikan dalam suatu kerangka pemikiran
yang terorganisir, sehingga dapat diekspresikan ntuk mengambil keputusan yang
efektif atas suatu persoalan. Prinsip kerja AHP dengan menyederhanakan suatu
persoalan kompleks yang tidak terstruktur, strategi, dan dinamik menjadi sebuah
bagian-bagian yang tertata dalam suatu hirarki.AHP memungkinkan pengguna
untuk memberi nilai bobot relative suatu kriteria majemuk atau alternatif
majemuk terhadap suatu kriteria. Pembobotan dilakukan secara intuitif, yaitu
dengan melakukan perbandingan berpasangan (Pairwaise Comparisons).
Menurut Kusrini,(2005, p.133) pada bukunya yang berjudul konsep dan
aplikasi sistem pendukung keputusan, menyatakan bahwa proses pengambilan
keputusan adalah memilih suatu alternatif. AHP adalah metode keputusan
multikriteria untuk pemecahan masalah yang kompleks. Peralatan utama AHP
adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia.
Menurut Kusrini, (2005, p. 133) AHP mempunyai landasan aksiomatik yang
terdiri dari :
1. ResiprocalComparisons, yang mengandung arti bahwa matriks
perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan,
misalnya jika A adalah K lebih penting dari B maka B adalah 1/K kali
lebih penting dari A.
2. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan
perbandingan. Misalnya tidak dimungkinkan membandingkan jeruk
dengan bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika
dibandingkan dalam hal berat.
3. Dependence, yaitu berarti setiap level mempunyai kaitan (Complete
Hierarchy)Walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak
sempurna (Incomplete Hierarchy).
4. Expectation, yang berarti menonjolkan penilaian yang bersifat
ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat
merupakan data kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.
Menurut Kusrini, (2007, p. 133) secara umum pengambilan keputusan dengan
metode AHP didasarkan pada langkah-langkah berikut :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum,
dilanjutkan dengan kriteria-kriteria dan alternatif-alternatif pilihan
yang ingin dirangking.
3. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relative atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-
masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan
dilakukan berdasarkan pilihan atau judgement dari pembuat keputusan
dengan menilai tingkat-tingkat suatu elemen dibandingkan elemen
lainnya.
4. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di
dalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap elemen
lainnya.
5. Menghitung nilai Eigen Vector dan menguji konsistensinya, jika tidak
konsisten maka pengambilan data (preferensi) perlu diulangi. Nilai
Eigen Vector yang dimaksud adalah nilai Eigen Vector maksimum
yang diperoleh dengan menggunakan matlab maupun dengan manual.
6. Mengulang langkah 3,4,5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung Eigen Vector dari setiap matriks perbandingan
berpasangan. Nilai Eigen Vector merupakan bobot setiap elemen.
Langkah ini untuk Mensistensis pilihan dalam penentuan prioritas
elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian
tujuan.
8. Menguji konsistensi hirarki jika tidak memenuhi dengan CR>0,100
maka penilaian harus di ulang kembali.

Menurut Kusrini(2007, p.133) secara umum langkah – langkah dalam metode


dalam Metode AHP adalah sebagai berikut :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu
menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Penyusunan
hierarki adalah dengan menetapkan tujuan merupakan sasaran sistem
secara keseluruhan pada level teratas.
2. Menentukan prioritas elemen.
a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah
membuat perbandingan dengan pasangan, yaitu membandingkan
elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan.
b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan
untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen
terhadap elemen lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan
disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang
dilakukan dalam langkah ini adalah :
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang
bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan
jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
4. Mengatur konsistensi.
a. Kalika setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif
elemen pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif
elemen kedua dan seterusnya.
b. Jumlahkan setiap baris
c. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif
yang bersangkutan.
d. Jumlahkan hasil bagi diatas dengan banyaknya elemen yang ada
hasilnya disebut maks.
𝜆− 𝑛
5. Hitung consistensy indek (CI) dengan rumus : CI =
𝑛−1
6. Hitung rasio konsistensi/consistensy ratio (CR) dengan rumus :
Dimana CR = Consistency Ratio
C1
CI = Consistensy Index CR =
R1
IR = Index Random Consistency
7. Memeriksa consistensy hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka
penilaian data judgement harus diperbaiki. Namun jika ratio
consistency (CI/IR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil
perhitungan bisa dinyatakan benar. Daftar Index Random Consistency
(IR) bisa dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Daftar Index Random Consistensy (IR).


Ukuran
Nilai IR
Matrik
1,2 0.00
3 0.58
4 0.90
5 1.12
6 1.24
7 1.32
8 1.41
9 1.45
10 1.49
11 1.51
12 1.48
13 1.56
14 1.57
15 1.59

a. Prinsip Dasar Analytical Hierarci Process (AHP).


Menurut Kusrini (2007, p. 134) dalam menyelesaikan persoalan
dengan Metode AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus di
pahami antara lain.
1. Penyusunan hirarki, pada tahap awal dilakukan dengan cara
mengidentifikasi pengetahuan atau informasi yang sedang
diamati. Menggunakan masalah yang kompleks menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil secara hierarkis menjadi tujuan,
kriteria dan alternative seperti gambar berikut :

Tujuan

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3

Alternative 1 Alternative 2 Alternative 3

Gambar 1. Penyusunan Hirarki

Adapun penelitian setiap level hirarki, baik kriteria maupun


alternatif dinilai berdasarkan perbandingan berpasangan yang
dibuat menurut Saaty untuk berbagai persoalan. Skala 1-9 dalam
perbandingan berpasangan di setiap level hirarki terhadap kriteria
alternatif yang berada di level atasnya nilai skala perbandingan
berpasangan Saaty dapat di lihat pada tabel 2 skala perbandingan
ini:

Tabel 2. Perbandingan Skala


Nilai Keterangan
1 sama penting (equal)
2 antar equal dan moderate
3 cukup lebih penting (moderate)
4 antara moderate dan strong
5 lebih penting strong
6 antara stong very strong
7 sangat lebih penting (very strong)
8 antara very strong dan extreme
9 mutlak lebih penting sekali (extreme)

2. Penentuan prioritas, setiap level hierarki perlu diperlakukan


perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Sepasang
elemen data dibandingkan berdasarkan kriteria tertentu dan
menimbang intensitas preferensi antar elemen. Dalam setiap
tingkat hierarki hubungan antar elemen ditetapkan dengan
membandingkan elemen itu dalam pasangannya, dimana
hubungan terjadi menggambarkan pengaruh relative elemen
pada tingkat hierarki terhadap sistem elemen yang ada pada
tingkat yang lebih tinggi. Elemen yang lebih tinggi berfungsi
sebagai kriteria dan disebut sifat (property). Hasil dari proses
perbedaan tersebut adalah suatu vektor prioritas.
3. Konsistensi Logis, dalam AHP elemen dikelompokkan secara
logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria
yang logis. Penilaian yang mempunyai konsistensi yang tinggi
sangat dibutuhkan untuk menjawab suatu permasalahan
pengambilan keputusan yang akurat. Konsistensi yang
sempurna sulit dicapai, terlebih bila elemen yang digunakan
cukup banyak. Untuk memperoleh hasil yang sahih dalam
dunia nyata. AHP menerapkan rasio konsistensi adalah ≤ 10
persen (0.1). Bila nilai rasio konsistensi >10 persen, maka
penilaian perlu diperbaiki kembali.

Contoh Kasus AHP


Andi ingin membeli mobil. Adapun alternative pilihan mobil yang akan di beli
andi adalah civic, coupe, saturn coupe, ford escort, dan mazda miata. Sedangkan
kriteriapenilaian yang dipertimbangkan Andi untuk membeli mobil adalah style,
rebility, fuel economy.
Dari kasus yang dihadapi Andi, maka buat hirarki permasalahnnya terlebih
dahulu. Tujuan atau Goal adalah memilih Mobil. Kriterianya gaya, mesin handal,
hemat bahan bakar. Alternatif pilihan Andi adalah civic coupe, saturn coupe, ford
escourt, dan mazda maita. Selanjutya, berikut ini hirarki yang didapat melalui tiga
komponen tersebut.
Pemilihan Mobil

Style Reability Fuel Economy

Civic Saturn Escourt Miata

Gambar 2. Sumber dari Analityc Hierarchi Prosess (AHP) dan kasus contoh AHP

Selanjutnya, lanjutkan perbandingan dengan skala Saaty untuk mendapatkan


bobot kriteria.
1. Perbandingan berpasangan dengan skala Saaty.
Style Reliability Fuel Economy
Style 1 1/2 3
Reliability 2 1 4
Fuel Economy 3 1/4 1

2. Bobot kriteria (Priority Vector) dengan cara :


a. Normalisasi nilai setiap kolom matrik perbandingan
berpasangan dengan membagi setiap nilai pada kolom
matriks dengan hasil penjumlahan kolom yang
berpasangan.
b. Hitung nilai rata-rata dari penjumlahan setiap baris matrik.
1 0.5 3 0.30 0.29 0.38 0.30
A=( 2 1 4) (0.60 0.57 0.50) 𝑋 = (0.50)
0.33 0.25 1 0.10 0.14 0.13 0.10
Sumber dari Analityc Hierarchi Process (AHP) dan kasus contoh AHP.

3. Cek Konsistensi Ratio (CR) dari matrik perbandingan


berpasangan kriteria. Jika CR > 0.1 maka harus diulang
kembali perbandingan berpasangan sampai didapat CR ≤0.1
Hitung CI
Jika [Ax = 𝜆𝑚𝑎𝑥 X ] dimana X adalah Eigen Vector
A x Ax x
1 0.5 3 0.30 0.90 0.30
( 2 1 4) (0.50) (1.60) 𝜆𝑚𝑎𝑥 (0.60)
0.33 0.25 1 0.10 0.35 0.10
𝜆𝑚𝑎𝑥 = rata – rata {0.90/0 30 1.60 0.35/0.10 } = 3.06
Consistency index ditemukan dengan
CI = (𝜆𝑚𝑎𝑥 − 𝑛) / (n-1) = (3.06) / (3-1) = 0.03
Sumber dari Analityc Hierarchi Process (AHP) dan kasus contoh AHP

Tabel 2. Sumber
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.57 1.58

Sehingga CR = CI/IR 0.03 / 0.58 = 0.05 ( ≤0.1, sehingga konsisten )


4. Susunan hirarki yang baru ( lengkap dengan bobot kriteria ).
Bobot Kriteria
 Style 30
 Reliability 60
 Fuel Economy 10

Memilih Mobil Baru

Style Reliability Fuel Economy


0.30 0.60 0.10

Sumber dari Analityc Hierarchi Process (AHP) dan kasus contoh AHP
5. Perhitungan bobot alternatif untuk kriteria style.
6. Perhitungan bobot alternatif untuk realiability.
7. Perhitungan bobot alternatif untuk fuel economy.
Style Civic Saturn Escort Miata
Civic` 1 1/4 4 1/6
Satrun 4 1 4 1/4
Escort1/4 1/4 1 1/5
Maita6 4 5 1

Reliability Civic Saturn Escort Miata


Civic` 1 54 1
Satrun 1/2 1 3 2
Escort1/5 1/3 1 1/4
Maita11/2 41

Fuel Economy
Miles/Galon Normalisasi
Civic 34 30
Saturn 27 24
Escourt 24 21
Miata 2825
113 1.0
8. Susunan hirarki yang baru ( lengkap dengan bobot kriteria dan
bobot alternatif ).

Memilih Mobil Baru

Style Reliability Fuel Economy


0.30 0.60 0.10

Civic 0.13 Civic 0.38 Civic 0.30


Saturn 0.24 Saturn 0.29 Saturn 0.24
Escourt 0.07Escourt 0.07Escourt 0.21
Miata 0.56Miata 0.26Miata 0.25
Sumber dari Analityc Hierarchi Process (AHP) dan kasus contoh AHP

2. Prototype
Ogedebe dkk (2012), memyampaikan bahwa prototyping merupakan
metode pengembangan perangkat lunak yang berupa model fisik kerja
sistem dan berfungsi sebagai versi awal dari sistem. Dengan metode
prototyping ini akan dihasilkan prototype sistem sebagai perantara
pengembang dan pengguna agar dapat berinteraksi dalam proses kegiatan
pengembangan sistem informasi. Agar proses pembuatan prorotype ini
berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan pada
tahap awal, yaitu pengembang dan pengguna harus satu pemahaman
bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan awal.
Prototype akan dihilangkan atau ditambahkan pada bagiannya sehingga
sesuai dengan perencanaan dan analisis yang dilakukan oelh pengembang
sampai dengan ujicoba dilakukan secara simultan seiring dengan proses
pengembangan. Ada 4 metodologi prototyping yang paling utama yaitu :
1. Illustrative, menghasilkan contoh laporan dan tampilan layar.
2. Simulated, mensimulasikan beberapa alur kerja sistem tetapi tidak
menggunakan data real.
3. Functional, mensimulasikan beberapa alur sistem yang sebenarnya
dan menggunakan data real.
4. Evolutionary, menghasilkan model yang menjadi bagian dari
operasional sistem.

3. Database

Menurut ( Janner Simarmata, 2007 ), Database merupakan


kumpulan informasi yang terorganisasi adalah basis data yang bisa di
update, filenya terorganisasi, informasinya dapat dibaca, pencarian bisa
dilakukan denga cepat, dan bisa di-retrieve menggunakan komputer.

4. PHP

PHP adalah bahasa pemrograman yang sering disisipkan ke dalam


HTML.PHP sendiri berasal dari kata Hypertext Preprocessor.Sejarah
PHP pada awalnya merupakan kependekan dari Personal Home Page
(Situs personal).PHP pertama kali dibuat oleh Rasmus Lerdorf pada tahun
1995.Pada waktu itu PHP masih bernama Form Interpreted (FI), yang
wujudnya berupa sekumpulan skrip yang digunakan untukmengolah data
formulir dari web Bahasa pemrograman ini menggunakan sistem server-
side Server-side programming adalah jenis bahasa pemrograman yang
nantinya script/program tersebut akan dijalankan/diproses oleh server.
Kelebihannya adalah mudah digunakan, sederhana, dan mudah untuk
dimengerti dan dipelajari. Semenjak PHP menjadi bahasa pemrograman
yang open source, pengembang tidak perlu menunggu sampai dengan
update terbaru rilis. Pengguna PHP akan lebih baik jika menggunakan
versiterbaru.
SehinggajikaadarilisterbaruAndaharusmenyesuaikansistemAndadenganve
rsi PHP yang paling baru.Meskipun harus menggunakan versi terbaru,
biaya untuk maintenance dan web development sangat terjangkau.

C. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan penelitian untuk Penerapan Metode AHP Untuk Membantu
Siswa Memilih Jurusan yang Tepat Di SMK Walisongo 2 Depok. Sekolah
membutuhkan aplikasi yang bisa memudahkan Siswa untuk memilih jurusan yang
tepat, yang saat ini penulis terapkan, yaitu metode AHP Untuk Membantu Siswa
Memilih Jurusan yang Tepat Di SMK Walisongo 2 Depok. Dengan adanya
Aplikasi ini Siswa akan Semangat untuk sekolah karena bisa memilih jurusan di
bidang bakatnya , maka sebuah pengajaran yang berkualitas akan tercipta dan
menghasilkan siswa dan siswi yang berkualitas dan budi pekerti yang baik agar
mampu bersaing dan tingkat Nasional maupun Internasional.
Metode yang digunakan untuk menganalisa pemikiran Untuk Membantu
Siswa Memilih Jurusan yang Tepat Di SMK Walisongo 2 Depok adalah Metode
Analitycal Hierarki Prosess (AHP). Metode AHP diawali dengan menentukan dan
mendefinisikan masalah untuk dan menentukan solusi yang diinginkan,
menginterventaris kriteria yang memungkinkan untuk dibandingkan dengan
menggunakan matriks perbandingan yang telah diatur dalam metode Analitycal
Hierarchy Prosess (AHP), perbandingan yang memiliki bobot paling tertinggi
adalah alternatif yang dipilih.
Kerangka Pemikiran :

Masalah Metode Hasil

Sekolah Menggunakan Penerapan Metode


membutuhkan Metode AHP AHP bisa
sebuah aplikasi untuk menentukan Membantu Siswa
yang dapat Untuk mana yang terbaik Memilih Jurusan
Membantu Siswa dari beberapa yang Tepat Di
Memilih Jurusan seleksi tahapan SMK Walisongo 2
yang Tepat yang sesuai dan Depok, dengan
tampilan menarik Siswa inginkan. tahapan kriteria
serta mudah yang diinginkan
digunakan Siswa.

Pemecahan Penerapan Metode


Masalah AHP untuk
menentukan
Jurusan Yang
Terbaik

Evaluasi Efek

Evaluasi Awal Evaluasi Awal

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Penelitian


Penjelasan pada gambar 3 (tiga) adalah sebagai berikut:
1. Pada tahap evaluasi awal kita mengidentifikasi permasalahan yang terjadi
Di Sekolah SMK Walisongo 2 Depok, yaitu Sekolah membutuhkan
sebuah aplikasi yang dapat untuk membantu siswa memilih jurusan yang
Tetap dengan tampilan menarik serta mudah digunakan.
2. Pada tahap evaluasi efek penelitian mulai menerapkan Metode AHP
untuk pemecahan masalah dan menentukan kriteria-kriteria, juga
alternatif-alternatif untuk mulai penseleksian dalam penelitian ini di
tentukan sepuluh kriteria.
3. Pada tahap evaluasi akhir mulai memberikan kesimpulan setelah
melakukan penseleksian, manakah jurusan yang tepat bagi setiap siswa
agar mereka tidak salah untuk memilih jurusan.

D. Hipotesis Penelitian
Terdapat tiga macam hipotesis dalam penelitian, yakni hipotesis deskriptif,
hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif. Masing-masing dari hipotesis ini
dapat digunakan sesuai dengan bentuk variabel penelitian yang digunakan.
1. Hipotesis Deskriptif.
Hipotesis deskripsif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban
sementara terhadap masalah deskriptif yang berhubungan dengan variabel
tunggal/mandiri.
2. Hipotesis Komparatif.
Hipotesis komparatif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban
sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan perbandingan
(komparasi) antara dua variabel penelitian.
3. Hipotesis Asosisatif.
Hipotesis asosiatif dapat didefinisikan sebagai dugaan/jawaban sementara
terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan hubungan (asosiasi)
antara dua variabel penelitian.

Didalam penelitian ini penulis menggunakan Hipotesis Penelitian


Komparatif, sebab didalam Penerepan Metode AHP Untuk Membantu Siswa
Memilih Jurusan yang Tepat di SMK Walisongo 2 Depok mempunyai beberapa
kriteria yang harus di penuhi.