Anda di halaman 1dari 6

Analisis Wacana Kritis Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam

Oleh: Iqtamar Muhammad (30500116001)

[Studi Agama-Agama kelompok I]

Judul Buku : Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan


Gender dalam Islam

Penulis : Siti Ruhaini Dzuhayatin dkk.

Tempat Terbit : Yogyakarta

Nama Penerbit : Pustaka Pelajar

Tahun Terbit : 2002 (Cet. I)

Jumlah Halaman : 246 Halaman

Buku ini berisikan tentang metodologis wacana kesetaraan gender dalam


pandangan Islam yang di mana menjelaskan tentang bagaimana bias gender
digunakan dalam menafsirkan atau menginterpretasikan dalil pokok ajaran Islam,
yakni Alquran dan Hadis. Kemudian, tujuan daripada buku ini adalah menjelaskan
secara metodologis dan kritis terkait wacana kesetaraan gender dalam pandangan
Islam itu sendiri dan membuka cakrawala pengetahuan kita akan menyadari
perihal kesetaraan gender tersebut. Keadilan atau kesetaraan gender merupakan
suatu hal yang di mana dua jenis kelamin tidak merasa didiskriminasi, tidak
merasa dikekang, dan lain sebagainya.

Kemudian, konsep adil dan setara di sini berarti setimbang atau sama rata
dalam berbagai aspek. Dalam buku ini, wacana kritis dan analisis tentang gender
pun kian massive (masif) di tengah kancah ketidakadilan gender yang disuarakan
dalam perlindungan dalil dari agama. Namun kendati demikian, beberapa orang
ada yang ingin menegakkan kesetaraan atau keadilan gender itu sendiri, seperti
halnya Nasaruddin Umar, Fatima Mernissi, dan lain sebagainya yang di mana
mereka berpendapat bahwa bias gender harus dihentikan dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan dan juga penafsiran terhadap ayat ataupun hadits yang bersifat
sakral harus terhindar dari bias gender. Ada pula yang malah bersikukuh dengan
penafsirannya terhadap dalil (red: nash) dalam ajaran Islam dengan bias gender.
Hal ini salah satunya bersumber pada Q. S. Al-Hujuurat:49/13 yang terjemahnya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki


dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di
antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dari terjemah ayat di atas, tentulah hal ini merupakan salah satu pokok
daripada kesetaraan gender itu sendiri yang di mana dari situ akan timbul apa saja
yang berkenaan dengan kesadaran akan gender dan bagaimana fungsionalnya
dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, ada pula beberapa dari kalangan
mufassir yang menggunakan ayat atau hadits lain yang dikonotasikan dengan bias
gender dan bersifat misoginis. Salah satunya ialah:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa


sallam, dia bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan juga
kepada hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Pergaulilah
kaum wanita dengan baik, sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.
Dan sesuatu yang paling bengkok yang terdapat tulang rusuk adalah bagian
paling atas. Jika kamu meluruskannya dengan seketika, niscaya kamu akan
mematahkannya, namun jika kamu membiarkannya maka ia pun akan selalu
dalam keadaan bengkok. Karena itu pergaulilah wanita dengan penuh
kebijakan.” (H. R. Bukhari dalam Al-Jami’us Shahih no. 5772, Tirmidzi dalam
Sunan At-Tirmidzi no. 1188)

Hadis ini sebenarnya sah-sah saja apabila dipahaminya dengan tepat dan
penafsirannya pun tepat sesuai dengan perspektif Islam yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kesetaraan, baik kesetaraan dalam hal ibadah maupun kesetaraan dalam
hal gender itu sendiri. Namun, sayangnya, hadis ini justru dikonotasikan oleh
sebagian mufassir dengan misoginis dan cukup bias gender. Hadis di atas justru
dikukuhkan sebagai pembenaran (red: justifikasi) terhadap konsep yang
menekankan perilaku otoritatif salah satu jenis kelamin kepada jenis kelamin
lainnya, yaitu laki-laki kepada perempuan.

Dalam buku ini, banyak sekali metode atau cara penafsiran yang dijelaskan.
Baik itu ditafsirkan dengan cara yang liberalis maupun itu ditafsirkan dengan
mengaitkannya dengan hukum Islam (red: syari’at Islam). Misalnya, dalam
subbab buku ini yang membeberkan tulisan dari Budhy Munawar Rachman yang
terkait dengan penafsiran ayat Alquran atau hadis Nabi Muhammad yang melihat
gender dari pandangan Islam liberal dan ditambah lagi dengan paham yang
feminis. Hal tersebut oleh Budhy Munawar Rachman sebagai bahan untuk dapat
disandingkan antara satu paham dengan paham lainnya yang di mana bertujuan
menjelaskan bagaimana kesadaran gender itu diterapkan dengan pendekatan yang
demikian.

Kemudian, dijelaskan pula oleh beberapa orang dalam buku ini, salah
satunya adalah penulis buku tersebut, yakni Siti Ruhaini Dzuhayatin yang di mana
beliau dengan pemaparannya tentang bagaimana wacana Islam digunakan dalam
memandang pergumulan pemikiran yang sifatnya feminis dan kebetulan beliau
adalah sosok perempuan. Lalu, dalam subbab beliau, cukup banyak nama-nama
dari kaum perempuan yang menegakkan paham feminis, salah satunya adalah
Rifaat Hasan yang di mana beliau mengutip bahwa Rifaat Hasan dalam sebuah
buku yang judulnya Women, Religion, and Sexuality karya Jeanne Becher itu
lebih cenderung menggunakan istilah “women” (red: perempuan dalam segi
gender) daripada istilah “feminis” (red: perempuan dalam segi sifatnya) yang
ketika itu membahas tentang penciptaan laki-laki dan perempuan.

Ada yang menarik untuk ditelusuri lagi terkait dengan pemaparan dari Siti
Ruhaini Dzuhayatin dalam subbab beliau dari buku ini berkenaan dengan
pergumulan pemikiran feminis dalam wacana Islam adalah tentang budaya
patriarki, yaitu adanya sikap yang bersifat superior dari pihak laki-laki terhadap
perempuan yang di mana juga perempuan tersebut disubordinasi, diberi beban
ganda, dan lain sebagainya oleh pihak laki-laki. Apa yang menarik dari sini adalah
beliau (Siti Ruhaini D.) memberikan gambaran bagaimana hal-hal yang demikian
dan cara agar dapat terhindarkan dari problematika tersebut. Misalnya, dengan
cara bekerja sama satu dengan yang lainnya, yakni antara laki-laki dengan
perempuan dalam berbagai aspek. Sebab, dari situlah prinsip kesetaraan dapat
timbul.

Nasaruddin Umar memberikan sedikit pemahaman kepada kita terkait


dengan bagaimana metodologi penafsiran ayat atau hadis yang terkandung
perspektif gender di dalamnya. Salah satunya adalah dengan berdasarkan asas
literatur Islam. Literatur Islam di sini adalah lebih kepada bagaimana interpretasi
yang menggunakan pendekatan historis dan kultural dalam menelaah ayat atau
hadis tentang gender itu sendiri. Kemudian, Nasaruddin Umar dalam subbab buku
ini juga memberikan pendekatan hermeneutik untuk metodologis dalam
memandang gender yang berperspektif Islam secara kritis dan tentunya objektif.

Ada pula dalam subbab buku ini, yaitu sosok perempuan yang bernama
Zaitunah Subhan yang memberikan sedikit pemaparan tentang urgensi daripada
tafsir bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi dalam kajian atau studi tentang gender beserta
dengan pengimplikasiannya dalam kehidupan bermasyarakat. Tafsir bi al-Ma’tsur
berarti memberikan penafsiran ayat dengan ayat, kemudian ayat dengan hadis,
lalu hadis dengan ijtihad dari ulama’. Tafsir bi al-Ra’yi berarti memberikan
penafsiran terhadap ayat atau hadis berdasarkan dengan ra’yi atau disebut dengan
akal atau rasio yang berasaskan interpretasi pribadi daripada para mufassir. Jika
dihubungkan pembahasan terkait dengan metodologi penafsiran ayat dan/atau
hadis itu sendiri terhadap gender, maka gender dapat diinterpretasikan sebagai
suatu hal yang sifatnya koheren, korelasi, dan sebagainya, dan tentunya
tergantung daripada para mufassir itu sendiri bagaimana dalam menafsirkan ayat
dan/atau hadis tentang gender tersebut.
Kemudian, konsep gender dalam buku ini dilihat dari bagaimana
kontekstual hadis yang berkenaan dengan gender dan bagaimana pula
hukum/syari’at Islam (red: fiqh Islam) melihat pergumulan terkait dengan gender
berdasarkan metodologis yang tercakup dalam Fiqh Islam/hukum Islam. Dalam
subbab buku ini, Hamim Ilyas dan Akh. Minhaji masing-masing memaparkan
persepsinya dengan mengutip dalil/nash dalam Hadis yang diinterpretasikan oleh
sebagian ulama’ tafsir hadis dengan bias gender yang sekiranya begitu
mendominasi.

Adapun dari Hamim Ilyas yang membahas mengenai kontekstualisasi hadis-


hadis yang berkenaan dengan gender dan Islam itu sendiri, yakni memberikan
pemaparan terkait dengan itu dan bagaimana prinsip-prinsipnya serta umat Islam
yang dikatakan sebagai umat yang masih cenderung memandang bahwa Islam
sebagai sistema doktrin yang bersifat privat dan itu mungkin saja tetap akan
timbul. Apa yang telah disajikan dalam subbab buku yang diterangkan oleh
Hamim Ilyas ini cenderung kepada bagaimana kontekstualisasi hadis tentang
gender dapat teraktualisasi dengan baik dan dapat menjadi sebuah refleksi
pemahaman daripada ayat dan/atau hadis yang diinterpretasikan dengan misoginis
dan bias akan gender agar tak jauh daripada makna yang sesungguhnya.

Kemudian, adapun dari Akh. Minhaji dalam membahas bagaimana studi


hukum Islam (red: kajian fiqh Islam) secara metodologis untuk memandang
persoalan ataupun pergolakan dari gender itu sendiri. Dalam subbab buku
dijelaskan bahwa persoalan gender yang di mana dalam hal ini adalah perempuan
yang menjadi polemik terkait posisi atau kedudukannya dan dibumbui oleh
agama, baik secara teoretis maupun praktis. Itu tidak dapat lagi diganggu gugat
kebenarannya yang dianggap mutlak, padahal demikian sebenarnya justru
menyubordinasi kaum wanita atau perempuan. Dalam tulisannya (Akh. Minhaji)
menyimpulkan pembahasannya dengan ungkapan Sachiko Murata, yakni:
“Jawaban atas pertanyaan yang secara wajar timbul mengenai hubungan
gender tidak dapat ditemukan dengan mendefinisikannya bagi mereka yang
terasingkan dengan prinsip-prinsip dan akar pemikiran Islam”.

Buku ini sangat direkomendasikan oleh siapa saja untuk dibaca, khususnya
bagi yang bergelut dalam bidang akademisi dan dalam bidang penelitian. Buku ini
menurut saya sangat lugas dalam memberikan pemaparan dan membuka
cakrawala pengetahuan dan khazanah keilmuan kita terkait dengan analisis
wacana kritis terhadap gender, khususnya kesetaraan gender dalam Islam.
Kemudian, saya rasa dalam buku ini lebih memberikan lagi spesifikasi dan
signifikansi untuk bagaimana memahami kasus-kasus yang berbau gender dan
berbalut agama di dalamnya, terutama agama Islam, meskipun di dalam buku ini
memuat juga sedikit sampel tentang agama Kristen yang memandang gender.
Namun, tetap saja lebih mendominasi pembahasannya adalah pandangan ajaran
Islam yang berkenaan dengan gender, isu-isu gender, kesetaraan dan
ketidaksetaraan gender, metodologi penafsiran gender, dan sebagainya.

Hikmah atau pembelajaran yang kita dapatkan daripada buku ini adalah
bagaimana kita memberikan pandangan tentang gender dalam perspektif Islam
dan memahami apa yang menjadi tolok ukur dalam mempelajari perihal
kesetaraan ataupun ketidaksetaraan gender, baik dari segi agama, politik, sosial,
budaya, maupun dari segi lainnya.