Anda di halaman 1dari 23

Energi panas bumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Jump to navigationJump to search

Energi terbarukan

Biofuel

Biomassa

Panas bumi

Energi air
Energi surya

Energi pasang surut

Energi ombak

Energi angin

 l
 b
 s

Projek energi panas bumi di Kalifornia

Energi panas bumi adalah energi panas yang terdapat dan terbentuk di dalam kerak
bumi. Temperatur di bawah kerak bumi bertambah seiring bertambahnya kedalaman. Suhu di
pusat bumi diperkirakan mencapai 5400 °C. Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang
Panas Bumi Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap
air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak
dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses
penambangan.
Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak planet ini
diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi.
Selain itu sumber energi panas bumi ini diduga berasal dari beberapa fenomena:

 Peluruhan elemen radioaktif di bawah permukaan bumi.


 Panas yang dilepaskan oleh logam-logam berat karena tenggelam ke dalam pusat bumi.
 Efek elektromagnetik yang dipengaruhi oleh medan magnet bumi.
Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau air) sejak
peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan energi listrik. Sekitar 10
Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas bumi telah dipasang di seluruh dunia pada tahun
2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik dunia.
Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada dekat
area perbatasan lapisan tektonik.
Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4 July 1904 di area
panas bumi Larderello di Italia. Grup area sumber panas bumi terbesar di dunia, disebut The
Geyser, berada di Islandia, kutub utara. Pada tahun 2004, lima negara (El
Salvador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Kostarika) telah menggunakan panas bumi untuk
menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.
Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik di mana
temperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan. Pengembangan dan
penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan ekstraksi telah memperluas jangkauan
pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Efisiensi
termal dari pembangkit listrik tenaga panas umi cenderung rendah karena fluida panas bumi
berada pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan dengan uap atau air mendidih.
Berdasarkan hukum termodinamika, rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor
dalam mengambil energi selama menghasilkan listrik. Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa
dimanfaatkan secara lokal dan langsung, misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi sistem
tidak memengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

Pembangkit listrik tenaga air


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jump to navigationJump to search

Bendungan Tiga Ngarai di China bagian tengah adalah pembangkit listrik terbesar sedunia.
Potongan melintang bendungan di PLTA

Energi terbarukan

Biofuel

Biomassa

Panas bumi

Energi air

Energi surya

Energi pasang surut

Energi ombak

Energi angin

 l
 b
 s

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi
potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. Pada tahun 2015 tenaga air
menghasilkan 16.6% total listrik dunia dan 70% dari seluruh energi terbarukan,[1] dan
diperkirakan akan naik 3.1% per tahun sampai 25 tahun ke depan.
Tenaga air dihasilkan di 150 negara, dan kawasan Asia-Pasifikmenghasilkan 33% tenaga air
global tahun 2013. China adalah produsen tenaga air terbesar (920 TWh tahun 2013)
menyumbang 16,9% kebutuhan listrik domestik.
Ongkos listrik tenaga air relatif rendah, menjadikannya sumber yang kompetitif untuk energi
terbarukan. Pembangkitnya tidak menghabiskan air, tidak seperti pembangkit batu bara atau
gas. Ongkos listrik rata-rata untuk pembangkit berukuran lebih dari 10 megawatt adalah 3 - 5 sen
dolar AS per kilowatt-jam.[2] Dengan bendungan dan reservoir juga membuatnya sumber listrik
yang fleksibel karena listrik yang dihasilkan dapat dinaikkan atau diturunkan sesuai kebutuhan.
Ketika sebuah kompleks tenaga air dibangun, maka tidak menghasilkan limbah langsung dan
tingkat gas rumah kaca yang relatif lebih rendah daripada pembangkit listrik berbahan bakar
fosil.[3]
Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah generator yang dihubungkan ke turbin yang
digerakkan oleh tenaga kinetik dari air. Namun, secara luas, pembangkit listrik tenaga air tidak
hanya terbatas pada air dari sebuah waduk atau air terjun, melainkan juga meliputi pembangkit
listrik yang menggunakan tenaga air dalam bentuk lain seperti tenaga ombak.
Di banyak bagian Kanada (provinsi British Columbia, Manitoba, Ontario, Quebec,
dan Newfoundland and Labrador) hidroelektrisitas digunakan secara luas. Pusat tenaga yang
dijalani oleh provinsi-provinsi ini disebut BC Hydro, Manitoba Hydro, Hydro One (dulunya
"Ontario Hydro"), Hydro-Québec, dan Newfoundland and Labrador Hydro. Hydro-Québec
merupakan perusahaan penghasil listrik hydro terbesar dunia, dengan total listrik terpasang
sebesar 31.512 MW (2005).

Daftar isi

 1Sejarah
 2Lihat juga
 3Referensi
 4Pranala luar

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Lihat pula: Hydropower § History

Museum PLTA ″Dibawah Kota″ di Serbia, dibangun pada tahun 1900.[4]

Tenaga air telah digunakan sejak zaman kuno untuk menggiling gandum dan melakukan tugas
lainnya. Pada pertengahan 1770-an, insinyur Perancis Bernard Forest de
Bélidor mempublikasikan Architecture Hydraulique yang menjelaskan mesin hidrolik sumbu-
vertikal dan horizontal. Di akhir abad ke-19, generator listrik dikembangkan dan saat ini dapat
dipasangkan dengan hidrolik.[5] The growing demand for the Industrial Revolution would drive
development as well.[6] Pada tahun 1878, pembangkit listrik air pertama dunia dikembangkan
di Cragside, Northumberland, Inggris oleh William George Armstrong. Pembangkit itu digunakan
untuk menyalakan sebuah lampu busurdi galeri seninya.[7] Pembangkit Listrik Schoelkopf No.
1 dekat Air Terjun Niagara di Amerika Serikat mulai menghasilkan listrik tahun 1881. Pembangkit
listrik pertama buatan Edison (Pembangkit Vulcan Street, mulai beroperasi 30 September 1882
di Appleton, Wisconsin, dengan keluaran sebesar 12.5 kilowatt.[8]
Pembangkit listrik tenaga air terus berkembang pada abad ke-20. Tenaga air disebut-sebut
sebagai batu bara bersih karena hasil dan ketersediaannya.[9] Bendungan Hoover dengan
pembangkit listrik 1.345 MW dulunya menjadi pembangkit listrik terbesar ketika dibuka tahun
1936, kemudian Bendungan Grand Coulee 6809 MW tahun 1942.[10] Bendungan Itaipu dengan
kapasitas 14.000 MW yang dibuka tahun 1984 di Amerika Selatan menjadi yang terbesar sampai
tahun 2008, ketika dilewati oleh Bendungan Tiga Gorge di China berkapasitas 22.500 MW.
Tenaga air menjadi sumber listrik utama di berbagai negara, seperti Norwegia, Republik
Demokratik Kongo, Paraguay dan Brazil, hingga 85% kapasitas. [6]

Turbin hidrolik dan generator listrik.

Bioenergi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jump to navigationJump to search

Contoh paling sederhana mengenai pemanfaatan biomassa untuk mendapatkan energi,


adalah pembakaran kayu.
Contoh mesin yang mampu mengekstraksi bioenergi dengan teknologi tinggi, menggunakan mesin
Stirling yang mampu memanfaatkan panas dari pembakaran biomassa secara efisien

Fasilitas pengolahan tebu di Piracicaba, São Paulo yang memanfaatkan limbah bagasse sebagai bahan
bakar untuk menghasilkan listrik dan panas

Bioenergi adalah energi terbarukan yang didapatkan dari sumber biologis, umumnya
biomassa. Biomassa adalah bahan organik yang menyimpan energi cahaya mataharidalam
bentuk energi kimia. Biomassa sebagai bahan bakar umumnya berupa kayu, limbah industri
kayu, jerami, dan hasil pertanian seperti tebu yang dapat diolah menjadi bahan bakar. Dalam
definisi yang lebih sempit, bioenergi adalah sinonim dari biofuel, yang merupakan bahan bakar
turunan dari sumber biologis. Dalam cakupan yang lebih luas, bioenergi mencakup juga
biomassa. Bioenergi adalah energi yang dihasilkan dari biomassa, tetapi bioenergi bukanlah
biomassa itu sendiri.[1]
Pada tahun 2010, 35 gigawatt pembangkit listrik bioenergi telah dibangun di seluruh dunia,
dengan seperlimanya berada di Amerika Serikat.[2]

Bahan bakar biomassa[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Biomassa

Biomassa bisa didapatkan sebagai limbah atau produk samping dari industri pengolahan
dan pertanian.[2] Karena berupa limbah atau produk samping, maka biomassa secara teori
tersedia dalam jumlah melimpah dan tidak akan mengurangi pasokan pangan untuk
manusia.[2] Biomassa dihasilkan dari organisme seperti tumbuhan, hewan, serta
limbahnya.[3] Kotoran hewan dan sampah taman juga merupakan biomassa yang dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan bioenergi. Energi dari biomassa merupakan salah satu bagian
dari siklus karbon. Bagasse dan tandan kosong kelapa sawit merupakan contoh limbah
biomassa yang sudah dimanfaatkan sebagai sumber energi di industri pengolahan terkait.
Bagase digunakan sebagai sumber energi di pabrik pengolahan tebu, sedangkan tandan kosong
kelapa sawit digunakan di industri pengolahan kelapa sawit.

Energi surya
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigationJump to search

Energi surya adalah energi yang berupa sinar dan panas dari matahari. Energi ini dapat
dimanfaatkan dengan menggunakan serangkaian teknologi seperti pemanas surya, fotovoltaik
surya, listrik panas surya, arsitektur surya, dan fotosintesis buatan.[1][2]
Teknologi energi surya secara umum dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni teknologi
pemanfaatan pasif dan teknologi pemanfaatan aktif. Pengelompokan ini tergantung pada proses
penyerapan, pengubahan, dan penyaluran energi surya. Contoh pemanfaatan energi surya
secara aktif adalah penggunaan panel fotovoltaik dan panel penyerap panas. Contoh
pemanfaatan energi surya secara pasif meliputi mengarahkan bangunan ke arah matahari,
memilih bangunan dengan massa termal atau kemampuan dispersi cahaya yang baik, dan
merancang ruangan dengan sirkulasi udara alami.
Pada tahun 2011, Badan Energi Internasional menyatakan bahwa "perkembangan teknologi
energi surya yang terjangkau, tidak habis, dan bersih akan memberikan keuntungan jangka
panjang yang besar. Perkembangan ini akan meningkatkan keamanan energi negara-negara
melalui pemanfaatan sumber energi yang sudah ada, tidak habis, dan tidak tergantung pada
impor, meningkatkan kesinambungan, mengurangi polusi, mengurangi biaya mitigasi perubahan
iklim, dan menjaga harga bahan bakar fosil tetap rendah dari sebelumnya. Keuntungan-
keuntungan ini berlaku global. Oleh sebab itu, biaya insentif tambahan untuk pengembangan
awal selayaknya dianggap sebagai investasi untuk pembelajaran; inventasi ini harus digunakan
secara bijak dan perlu dibagi bersama.”[1]

Energi terbarukan

Biofuel

Biomassa

Panas bumi

Energi air

Energi surya

Energi pasang surut

Energi ombak

Energi angin

 l
 b
 s

Daftar isi

 1Energi dari matahari


 2Penerapan teknologi surya
o 2.1Perencanaan arsitektur dan kota
o 2.2Pertanian dan perkebunan
o 2.3Transportasi dan penjelajahan
o 2.4Termal surya
 2.4.1Pemanasan air
 2.4.2Pemanasan, pendinginan, dan ventilasi
 2.4.3Pengolahan air
 2.4.4Panas proses
 2.4.5Memasak
o 2.5Produksi listrik
 2.5.1Tenaga surya terpusat
 2.5.2Fotovoltaik
 2.5.3Lainnya
o 2.6Produksi bahan bakar
 3Metode penyimpanan energi
 4Perkembangan, penggunaan, dan ekonomi
 5Standar ISO
 6Lihat pula
 7Referensi
 8Pustaka
 9Pranala luar

Energi dari matahari[sunting | sunting sumber]

Sekitar separuh dari energi surya yang datang berhasil mencapai permukaan Bumi.

Bumi menerima 174 petawatt (PW) radiasi surya yang datang (insolasi) di bagian atas dari
atmosfer.[3] Sekitar 30% dipantulkan kembali ke luar angkasa, sedangkan sisanya diserap
oleh awan, lautan, dan daratan. Sebagian besar spektrum cahaya matahari yang sampai di
permukaan Bumi berada pada jangkauan spektrum sinar tampak dan inframerah dekat.
Sebagian kecil berada pada rentang ultraviolet dekat.[4]
Permukaan darat, samudra dan atmosfer menyerap radiasi surya, dan hal ini mengakibatkan
temperatur naik. Udara hangat yang mengandung uap air hasil penguapan air laut meningkat
dan menyebabkan sirkulasi atmosferik atau konveksi. Ketika udara tersebut mencapai posisi
tinggi, di mana temperatur lebih rendah, uap air mengalami kondensasi membentuk awan, yang
kemudian turun ke Bumi sebagai hujan dan melengkapi siklus air. Panas laten kondensasi air
menguatkan konveksi, dan menghasilkan fenomena atmosferik seperti angin, siklon, dan anti-
siklon.[5] Cahaya matahari yang diserap oleh lautan dan daratan menjaga temperatur rata-rata
permukaan pada suhu 14 °C.[6] Melalui proses fotosintesis, tanaman hijau mengubah energi
surya menjadi energi kimia, yang menghasilkan makanan, kayu, dan biomassa yang merupakan
komponen awal bahan bakar fosil.[7]

Fluks energi surya per tahun dan konsumsi energi manusia


Energi surya 3.850.000 EJ[8]

Angin 2.250 EJ[9]

Potensi biomassa 100–300 EJ[10]

Penggunaan energi utama (2010) 539 EJ[11]

Listrik (2010) 66,5 EJ[12]

Total energi surya yang diserap oleh atmosfer, lautan, dan daratan Bumi sekitar
3.850.000 eksajoule (EJ) per tahun.[8] Pada tahun 2002, jumlah energi ini dalam waktu satu jam
lebih besar dibandingkan jumlah energi yang digunakan dunia selama satu
tahun.[13][14]Fotosintesis menyerap sekitar 3.000 EJ per tahun dalam bentuk biomassa.[15] Potensi
teknis yang tersedia dari biomassa adalah 100-300 EJ per tahun.[10] Jumlah energi surya yang
mencapai permukaan planet Bumi dalam waktu satu tahun sangatlah besar. Jumlah ini
diperkirakan dua kali lebih banyak dibandingkan dengan semua sumber daya alam Bumi yang
tidak terbarukan yang bisa diperoleh digabungkan, seperti batubara, minyak bumi, gas alam, dan
uranium.[16]
Energi Surya dapat dimanfaatkan pada berbagai tingkatan di seluruh dunia, yang utamanya
bergantung pada jarak dari khatulistiwa.[17]

Penerapan teknologi surya[sunting | sunting sumber]

Insolasi rata-rata menunjukkan area daratan (titik hitam kecil) yang dibutuhkan untuk menggantikan
persediaan energi utama dunia dengan listrik tenaga surya (18 TW sama dengan 568 ExaJoule, EJ, per
tahun). Insolasi untuk kebanyakan manusia sekitar 150 hingga 300 W/m2 atau 3,5 hingga 7,0 kWh/m2/hari.

Energi surya umumnya merujuk pada penggunaan radiasi surya untuk kebutuhan praktis. Tetapi,
semua energi terbarukan, kecuali geotermal dan pasang surut, berasal dari matahari.
Teknologi surya dikategorikan secara umum menjadi: teknologi pasif dan teknologi aktif,
tergantung pada cara penyerapan, konversi, dan penyaluran cahaya matahari. Teknologi aktif
meliputi penggunaan panel fotovoltaik, pompa, dan kipas untuk mengubah energi surya ke
bentuk yang berguna. Teknologi pasif meliputi pemilihan bahan konstruksi yang memiliki sifat
termal yang bagus, perancangan ruangan dengan sirkulasi udara secara alami, dan
menghadapkan bangunan ke matahari. Teknologi aktif meningkatkan persediaan listrik dan
disebut sebagai teknologi sisi penawaran, sedangkan teknologi pasif mengurangi kebutuhan
sumber daya alam lain dan disebut sebagai teknologi sisi permintaan.[18]
Perencanaan arsitektur dan kota[sunting | sunting sumber]

Universitas Teknologi Darmstadt di Jerman memenangkan penghargaan Solar Decathlon 2007


di Washington, D.C. dengan rancangan rumah berteknologi pasif khusus untuk iklim lembab dan subtropis
panas.[19]

Cahaya matahari telah mempengaruhi rancang bangunan sejak permulaan


sejarah arsitektur.[20] Arsitektur surya yang maju dan rencana tata ruang kota pertama kali
digunakan oleh bangsa Yunani dan Cina, yang mengarahkan bangunan mereka menghadap
selatan untuk mendapatkan cahaya dan kehangatan.[21]
Fitur umum dari arsitektur surya pasif adalah arah bangunannya terhadap matahari, ukuran
bangunan yang tepat (rasio luas permukaan dengan volume yang kecil), pemilihan penghalang
(serambi), dan penggunaan massa termal.[20] Ketika fitur-fitur ini digunakan bersama, dapat
dihasilkan ruangan yang terang dan berada pada temperatur nyaman. Rumah Megaron milik
Socrates adalah contoh klasik rancang bangunan teknologisurya pasif.[20] Perkembangan
terakhir perancangan rumah berteknologi surya menggunakan bantuan permodelan oleh
komputer, yang menggabungkan faktor pencahayan surya, pemanasan, dan
sistem ventilasi dalam satu paket rancangan surya.[22] Peralatan teknologi aktif surya seperti
pompa, kipas, dan jendela buka-tutup dapat melengkapi rancangan tekonologi pasif dan
meningkatkan daya kerja sistem.
Pulau bahang perkotaan adalah daerah perkotaan dengan suhu yang lebih tinggi dibandingkan
dengan lingkungan sekitarnya. Temperatur yang tinggi disebabkan oleh meningkatnya
penyerapan cahaya matahari oleh materi yang ada di perkotaan, seperti aspal jalan dan beton,
yang memiliki albedo (tingkat keputihan) lebih rendah dan memiliki kapasitas panas lebih tinggi
dibandingkan dengan materi alami. Langkah langsung untuk mengatasi pulau bahang adalah
mengecat bangunan dan jalan dengan warna putih, serta menanam pepohonan. Menggunakan
langkah ini, program hipotetis "komunitas dingin" di Los Angeles telah memproyeksikan
temperatur kota dapat diturunkan sekitar 3 °C dengan biaya sekitar 1 miliar dollar Amerika
Serikat, dengan perkitaan keuntungan total tahunan 530 juta dollar dari pengurangan biaya
penggunaan pendingin udara dan penghematan biaya kesehatan.[23]
Pertanian dan perkebunan[sunting | sunting sumber]

Rumah kaca seperti ini di munisipalitas Westland, Belanda, digunakan untuk menumbuhkan sayuran,
buah, dan bunga.

Pertanian dan perkebunan berusaha mengoptimalkan penyerapan energi surya untuk


meningkatkan produktivitas tanaman. Teknik seperti siklus penanaman yang diatur waktunya,
mengatur orientasi barisan, tinggi antar barisan yang berbeda, dan pencampuran varietas
tanaman dapat meningkatkan perolehan tanaman.[24][25]Walau sinar matahari umumnya
dianggap sumber daya alam yang berlimpah, namun pentingnya matahari untuk pertanian
ditunjukkan di daerah dengan intensitas sinar matahari lebih sedikit. Selama pendeknya masa
tanam pada Zaman Es Kecil, petani Perancis dan Inggris menggunakan dinding buah untuk
memaksimalkan penyerapan energi surya. Dinding ini bertindak sebagai massa termal dan
mempercepat pematangan dengan menjaga tanaman tetap hangat. Dinding buah awalnya
dibuat tegak terhadap tanah menghadap selatan, kemudian, dinding miring berkembang karena
memanfaatkan sinar matahari lebih baik. Pada tahun 1699, Nicolas Fatio de Duillerbahkan
menyarankan penggunaakan mekanisme lacak yang dapat memutar dinding mengikuti
matahari.[26] Penerapan energi surya, selain untuk menumbuhkan tanaman, meliputi memompa
air, mengeringkan panen, beternak ayam, dan mengeringkan kotoran unggas.[27][28] Teknologi
surya juga digunakan oleh pembuat minuman anggur untuk menjalankan mesin tekan anggur.[29]
Rumah kaca menggubah energi cahaya menjadi energi panas, yang memperbolehkan produksi
sepanjang tahun dan pertumbuhan tanaman khusus (dalam lingkungan tertutup) dan tanaman
lain yang tidak cocok tumbuh untuk iklim lokal. Rumah kaca primitif pertama kali digunakan pada
zaman Romawi untuk memproduksi ketimun sepanjang tahun untuk kaisar
romawi Tiberius.[30] Rumah kaca modern pertama dibangun di Eropa pada abad ke-16 untuk
tanaman eksotik yang dibawa pulang dari wilayah yang dijelajahi.[31] Rumah kaca tetap menjadi
bagian penting dari perkebunan saat ini, dan materi plastik transparan juga telah digunakan
untuk efek yang mirip dengan terowongan plastik dan penutup barisan.
Transportasi dan penjelajahan[sunting | sunting sumber]

Australia menjadi tuan rumah World Solar Challenge. Dalam ajang tersebut, mobil surya seperti Nuna3
berpacu dari Darwin menuju Adelaide sepanjang 3.021 km (1,877 mi).

Perkembangan mobil tenaga surya telah menjadi target perteknikan sejak tahun 1980an.
Kompetisi World Solar Challenge adalah perlombaan mobil bertenaga surya yang diadakan dua
kali selama setahun, dan dalam ajang tersebut tim dari universitas dan perusahaan berlomba
sepanjang 3.021 kilometer (1.877 mil) melewati Australia tengah mulai
dari Darwin menuju Adelaide. Pada tahun 1987, saat kompetisi ini pertama kali dibuka,
kecepatan rata-rata pemenang kompetisi adalah 67 kilometer per jam (42 mph), dan pada tahun
2007, kecepatan rata-rata pemenang naik menjadi 90,87 kilometer per jam
(56,46 mph).[32] Kompetisi North American Solar Challenge dan South African Solar
Challenge yang sedang direncanakan adalah kompetisi serupa yang menunjukkan minat
internasional dalam perteknikan dan perkembangan kenderaan bertenaga surya.[33][34]
Beberapa kendaraan menggunakan panel surya untuk tenaga pembantu, seperti untuk penyejuk
udara, sehingga menggurangi konsumsi bahan bakar.[35][36]
Pada tahun 1975, perahu bertenaga surya pertama kali dibangun di Inggris.[37]Menjelang tahun
1995, Kapal penumpang yang menggunakan panel surya mulai bermunculan, dan sekarang ini
digunakan secara luas.[38] Pada tahun 1996, Kenichi Horie melintasi samudra
Pasifik menggunakan perahu surya, dan kapal tenaga surya berlambung dua bernama sun21
melewati samudra Atlantik pada musim dingin 2006-2007.[39] Pada Mei 2012, Tûranor
PlanetSolar menjadi kendaraan elektrik surya pertama yang mengelilingi dunia.[40]

Pesawat tanpa awak Helios UAVdalam penerbangan dengan tenaga surya.

Pada tahun 1974, pesawat tanpa awak AstroFlight Sunrise melakukan penerbangan perdana
menggunakan tenaga surya. Pada tanggal 29 April 1979, Solar Risermelakukan penerbangan
perdana menggunakan tenaga surya, dengan kendali penuh dan mampu mengangkat
seseorang mencapai ketinggian 40 kaki (12 m). Pada tahun 1980, Gossamer
Penguin melakukan penerbangan perdana bertenaga surya dengan pilot yang ditenagai hanya
dengan sel fotovoltaik. Penerbangan ini dengan cepat diikuti oleh Solar Challenger yang
melintasi terusan Inggris pada bulan Juli 1981. Pada tahun 1990, Eric Scott Raymond terbang
dari Californiamenuju Carolina Utara mennggunakan tenaga surya.[41] Perkembangan pesawat
tenaga surya kembali ke model pesawat tanpa awak dengan model Pathfinder(tahun 1997) dan
rancangan selanjutnya, yang menghasilkan model Helios yang berhasil mengukir rekor
ketinggian untuk pesawat tanpa roket pada ketinggian 29.524 meter (96.864 kaki) pada tahun
2001.[42] Pesawat Zephyr yang dikembangkan oleh BAE Systems adalah pesawat terbaru yang
menembus rekor penerbangan bertenaga surya, dengan terbang selama 54 jam pada tahun
2007, dan penerbangan selama sebulan direncanakan pada tahun 2010.[43]
Balon surya adalah balon berwarna hitam yang diisi dengan udara biasa. Saat matahari
menyinari balon tersebut, udara di dalamnya memanas dan memuai, dan menimbulkan gaya
apung ke atas, seperti balon udara panas. Beberapa balon surya cukup besar untuk
penerbangan dengan manusia, namun penggunaannya umumnya terbatas pada mainan karena
rasio luas permukaan dan berat beban yang relatif besar.[44]
Termal surya[sunting | sunting sumber]
Teknologi termal surya dapat digunakan untuk memanaskan air, memanaskan ruangan,
mendinginkan ruangan, dan menghasilkan panas.[45]
Pemanasan air[sunting | sunting sumber]

Pemanas air surya menghadap matahari untuk memaksimalkan penyerapan.


Sistem air panas surya menggunakan sinar matahari untuk memanaskan air. Di daerah dengan
lintang bujur geografis rendah (di bawah 40 derajat), 60% - 70% air panas untuk keperluan
rumah tangga dengan temperatur sampai dengan 60 °C dapat diperoleh dengan menggunakan
sistem pemanasan surya.[46] Jenis pemanas air surya yang umum digunakan adalah kolektor
buluh (44%) dan plat datar dengan kaca (34%) untuk kebutuhan air panas rumah tangga;
kolektor plastik tanpa kaca (21%) digunakan untuk memanaskan kolam renang.[47]
Sampai dengan tahun 2007, kapasitas total terpasang dari sistem air panas surya adalah sekitar
154 GW.[48] Tiongkok memimpin dalam hal ini dengan kapasitas terpasang 70 GW sampai
dengan tahun 2006 dan memiliki target jangka panjang 210 GW menjelang tahun
2020.[49] Israel dan Siprus merupakan negara dengan tingkat penggunaan sistem air panas
surya per kapita tertinggi, dengan lebih dari 90% rumah menggunakannya.[50] Di Amerika
Serikat, Kanada, dan Australia, pemanasan kolam renang adalah aplikasi utama air panas surya
dengan kapasitas terpasang 18 GW sampai dengan tahun 2005.[18]
Pemanasan, pendinginan, dan ventilasi[sunting | sunting sumber]

Rumah surya pertama Institut Teknologi Massachusetts di Amerika Serikat, dibangun pada tahun 1939,
menggunakan penyimpanan energi panas musiman untuk pemanasan sepanjang tahun.

Di Amerika Serikat, sistem pemanasan, ventilasi, dan penyejuk udara (HVAC) memakai 30%
(4,65 EJ) dari energi yang digunakan untuk bangunan komersil dan hampir 50% (10,1 EJ) energi
yang digunakan untuk perumahan.[51][52] Teknologi pemanasan, pendinginan, dan ventilasi surya
dapat digunakan untuk mengganti sebagian dari energi ini.
Massa termal adalah materi yang digunakan untuk menyimpan panas, termasuk dari Matahari.
Materi massa termal yang umum meliputi batu, semen, dan air. Menurut sejarah, materi-materi
ini telah digunakan di daerah dengan iklim kering atau hangat untuk menjaga bangunan tetap
sejuk dengan menyerap energi surya sepanjang hari dan memancarkan energi yang disimpan
ke atmosfer yang lebih dingin di malam hari. Namun, materi ini juga dapat digunakan di daerah
dingin untuk mempertahankan kehangatan. Ukuran dan penempatan massa termal tergantung
pada beberapa faktor, seperti iklim, pencahayaan, dan kondisi bayangan. Saat faktor-faktor ini
dipertimbangkan secara baik, massa termal mempertahankan temperatur ruangan dalam
rentang nyaman dan mengurangi peralatan pemanasan dan pendinginan tambahan.[53]
Cerobong surya (atau cerobong termal, dalam konteks ini) adalah sistem ventilasi surya pasif,
yang terdiri dari terowongan vertikal yang menghubungkan bagian dalam dengan bagian luar
dari bangunan. Saat cerobong mulai hangat, udara di dalamnya memanas dan menyebabkan
udara bergerak ke atas dan menarik udara melewati bangunan. Performansi dapat ditingkatkan
dengan menggunakan kaca dan materi massa termal untuk meniru rumah kaca.[54]
Pohon dan tanaman musiman telah digunakan sebagai cara mengendalikan pemanasan dan
pendinginan surya. Ketika tanaman ditanam pada bagian selatan bangunan, daun tanaman akan
berfungsi sebagai peneduh pada musim panas, dan pada musim dingin, daun tanaman akan
rontok dan cahaya dapat lewat lebih banyak.[55] Saat gugur, pohon tak berdaun menghalangi 1/3
sampai 1/2 radiasi surya yang datang, ada keseimbangan antara manfaat teduh saat musim
panas dan pemanasan akibat daun gugur saat musim dingin.[56] Di iklim dengan kebutuhan
pemanasan tinggi, pohon musiman tidak cocok ditanam di bagian selatan bangunan karena
pohon akan mengurangi ketersediaan energi surya saat musim dingin. Namun, pohon tersebut
dapat digunakan pada sisi timur dan barat untuk menyediakan tempat teduh selama musim
panas tanpa mempengaruhi perolehan energi surya selama musim dingin.[57]
Pengolahan air[sunting | sunting sumber]

Disinfeksi air surya di Indonesia.

Pengolahan air limbah tenaga surya berskala kecil.

Distilasi surya dapat digunakan untuk membuat air asin atau air payau dapat diminum.
Penggunaan pertama yang tercatat dari distilasi ini oleh alkimiawan Arababad ke 16.[58] Proyek
distilasi surya skala besar pertama kali dibangun pada tahun 1872 di kota tambang Las Salinas
di Chile.[59] Proyek ini memiliki area pengumpulan energi surya seluas 4.700 m2 dan dapat
memproduksi hingga 22.700 L per hari dan beroperasi selama 40 tahun.[59] Jenis rancangan
penyuling meliputi miringan tunggal, miringan ganda (atau tipe rumah kaca), vertikal, kerucut,
peredam terbalik, multi sumbu dan multi efek.[58] Penyuling-penyuling ini dapat beroperasi dalam
kondisi pasif, aktif, atau gabungan. Penyuling miringan ganda paling ekonomis untuk
penggunaan rumah tangga di pelosok, sedangkan penyuling aktif multi efek lebih cocok untuk
aplikasi skala besar.[58]
Disinfeksi air surya dilakukan dengan memaparkan botol plastik polietilena tereftalat(PET)
berisikan air ke cahaya matahari selama beberapa jam.[60] Durasi pemaparan tergantung pada
cuaca dan iklim dari minimal 6 jam hingga 2 hari selama kondisi berawan.[61] Metode ini
direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Duniasebagai metode yang cocok untuk
pengolahan air rumah tangga dan penyimpanan aman.[62] Lebih dari 2 juta manusia di negara
berkembang menggunakan metode ini untuk air minum sehari-hari mereka.[61]
Energi surya dapat digunakan di kolam stabilisasi air untuk mengolah air limbah tanpa
menggunakan bahan kimia ataupun listrik. Keuntungan lingkungan bertambah saat alga tumbuh
di kolam tersebut dan mengkonsumsi karbon dioksida saat melakukan fotosintesis, walau alga
mungkin memproduksi zat kimia beracun yang membuat air tidak bisa digunakan.[63][64]
Panas proses[sunting | sunting sumber]
Teknologi pemusatan energi surya seperti piringan parabola, cekung parabola, dan pemantul
Scheffler dapat menyediakan panas proses untuk aplikasi komersil dan industri. Sistem komersil
pertama adalah proyek Solar Total Energy Project(STEP) di Shenodoah, Georgia, Amerika
Serikat. Dalam proyek tersebut, satu lapangan berisikan 114 piringan parabola menyedikan 50%
kebutuhan energi untuk pemanasan proses, penyejuk udara, dan listrik untuk pabrik kain. Sistem
kogenerasi yang terhubung dengan saluran listrik ini menyediakan 400 kW listrik ditambah
energi termal dalam bentuk uap 401 kW dan air dingjn 468 kW, dan memiliki penyimpanan
termal untuk beban puncak selama satu jam.[65]
Kolam evaporasi adalah kolam dangkal yang meningkatkankan kadar padatan terlarut melalui
penguapan. Penggunaan kolam evaporasi untuk memperoleh garam dari air laut adalah contoh
aplikasi tertua dari energi surya. Penggunaan modern meliputi peningkatkan kadar larutan garam
yang digunakan dalam penambangan ekstraksi dan memisahkan padatan terlarut dari aliran
limbah.[66]
Jemuran berbentuk tali, penyangga, atau rak mengeringkan pakaian tanpa menggunakan listrik
atau gas. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat, "hak menjemur pakaian" dilindungi.[67]
Kolektor udara panas tak berkaca (unglazed transpired collectors/UTC) adalah dinding
berlubang yang menghadap matahari yang digunakan untuk memanaskan dulu udara ventilasi.
UTC dapat digunakan untuk menaikkan temperatur udara yang masuk hingga 22 °C dan
menghasilkan temperatur keluaran 45–60 °C.[68] Periode balik modal yang singkat dari kolektor
udara panas ini adalah alternatif yang lebih efektif dari segi biaya dibandingkan dengan sistem
kolektor berkaca.[68] Sampai tahun 2003, lebih dari 80 sistem dengan total luas permukaan
kolektor 35.000 m2 telah dipasang di seluruh dunia, termasuk kolektor seluas 860 m2 di Kosta
Rika yang digunakan untuk menggeringkan biji kopi dan kolektor seluas 1.300
m2 di Coimbatore, India yang digunakan untuk mengeringkan marigold.[28]
Memasak[sunting | sunting sumber]

Mangkuk surya di Auroville, Indiayang mengkonsentrasikan cahaya matahari ke penerima yang bisa
digerakkan untuk memproduksi uapuntuk memasak.

Pemasak surya menggunakan cahaya matahari untuk memasak, mengeringkan, dan


proses pasteurisasi. Pemasak surya dapat digolongkan menjadi 3 kategori umum: pemasak
berbentuk kotak, pemasak berbentuk papan, dan pemasak dengan pemantul.[69] Pemasak surya
paling sederhana adalah pemasak berbentuk kotak yang dibuat oleh Horace de Saussure pada
tahun 1767.[70] Pemasak berbentuk kotak sederhana terdiri dari wadah yang terisolasi dengan
penutup transparan. Pemasak ini dapat digunakan secara efektif pada langit berawan sebagian,
dan biasanya akan mencapai temperatur 90-150 °C.[71] Pemasak berbentuk papan
menggunakan papan pemantul untuk mengarahkan cahaya matahari ke wadah terisolasi dan
mencapai temperatur setara dengan pemasak berbentuk kotak. Pemasak dengan pemantul
menggunakan berbagai bentuk geometri (piringan, cekungan, cermin Fresnel) yang memusatkan
cahaya ke wadah masak. Pemasak jenis ini dapat mencapai temperatur 315 °C dan lebih,
namun perlu diarahkan cahayanya biar berfungsi baik dan harus diposisikan kembali untuk
mengikuti Matahari.[72]
Produksi listrik[sunting | sunting sumber]

Pemandangan Sistem Pembangkit Listrik Surya Ivanpah dari jalan Yates Well, wilayah San
Bernadino, California. Barisan pegunungan Clark bisa dilihat di kejauhan.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tenaga surya

Tenaga surya adalah proses pengubahan cahaya matahari menjadi listrik, baik secara langsung
menggunakan fotovoltaik, atau secara tak langsung menggunakan tenaga surya
terpusat (concentrated solar power, CSP). Sistem CSP menggunakan lensa atau cermin dan
sistem lacak untuk memfokuskan paparan cahaya matahari yang luas menjadi seberkas sinar
yang kecil. PV mengubah cahaya menjadi aliran listrik menggunakan efek fotolistrik.
Pembangkit CSP komersial pertama kali dikembangkan pada tahun 1980an. Sejak tahun 1985,
pemasangan SEGS CSP berkapasitas 354 MW di gurun Mojave, California adalah pembangkit
listrik surya terbesar di dunia. Pembangkit listrik CSP lain meliputi pembangkit listrik tenaga
surya Solnova berkapasitas 150 MW dan pembangkit listrik tenaga surya Andasolberkapasitas
100 MW; keduanya berada di Spanyol. Proyek Surya Agua Caliente berkapasitas 250 MW di
Amerika Serikat dan Lahan Surya Charanka berkapasitas 221 MW di India adalah pembangkit
fotovoltaik terbesar di dunia. Proyek surya melebihi 1 GW sedang dikerjakan, tapi kebanyakan
fotovoltaik dipasang di atap-atap dengan ukuran kapasitas kecil, yakni kurang dari 5 kW, yang
terhubung dengan saluran listrik menggunakan meteran net dan/atau tarif feed-in.[73]
Tenaga surya terpusat[sunting | sunting sumber]
Sistem tenaga surya terpusat (concentrated surya power, CSP) menggunakan lensa atau cermin
dan sistem lacak untuk memfokuskan paparan sinar matahari yang luas menjadi seberkas
cahaya kecil. Seberkas cahaya tersebut kemudian digunakan sebagai sumber panas untuk
pembangkit listrik konvensional. Terdapat sejumlah besar teknologi pemusatan; yang paling
berkembang adalah cekungan parabola, pemantul fresnel linear, piringan Stirling, dan menara
tenaga surya. Di sistem-sistem ini, fluida kerja dipanaskan oleh cahaya matahari yang
dipusatkan, dan fluida kerja ini kemudian digunakan untuk membangkitkan listrik atau sebagai
penyimpan energi.[74]
Fotovoltaik[sunting | sunting sumber]
Lahan surya 19 MW di Jerman.

Kompilasi NREL mengenai penelitian efisiensi sel surya terbaik sejak 1976 hingga sekarang.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Fotovoltaik

Sel surya, atau sel fotovoltaik, adalah peralatan yang menggubah cahaya menjadi aliran listrik
dengan menggunakan efek fotovoltaik. Sel fotovoltaik pertama dibuat oleh Charles Fritts pada
tahun 1880an.[75] Pada tahun 1931, seorang insinyur Jerman, Dr. Bruno Lange, membuat sel
fotovoltaik menggunakan perak selenidaketimbang tembaga oksida.[76] Walaupun sel selenium
purwa rupa ini mengubah kurang dari 1% cahaya yang masuk menjadi listrik, Ernst Werner von
Siemens dan James Clerk Maxwell melihat pentingnya penemuan ini.[77] Dengan mengikuti
kerja Russel Ohl pada tahun 1940an, peneliti Gerald Pearson, Calvin Fuller, dan Daryl Chapin
membuat sel surya silikon pada tahun 1954.[78] Biaya sel surya ini 286 dollar AS per watt dan
mencapai efisiensi 4,5 - 6 %.[79] Menjelang tahun 2012, efisiensi yang tersedia melebihi 20% dan
efisiensi maksimum fotovoltaik penelitian melebihi 40%.[80]
Lainnya[sunting | sunting sumber]
Selain tenaga surya terpusat dan fotovoltaik, ada teknik lain yang dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik menggunakan tenaga surya. Teknik ini meliputi:

 Sel surya dengan pigmen sensitif


 Pemusat surya dengan pemendar (sejenis teknologi pemusatan forovoltaik)
 Sel surya biohibrid
 Sistem emisi termionik foton yang ditingkatkan
Produksi bahan bakar[sunting | sunting sumber]
Proses kimia surya menggunakan energi surya untuk menjalankan reaksi kimia. Proses ini
mengurangi kebutuhan energi yang berasal dari sumber bahan bakar fosil dan juga dapat
mengubah energi surya menjadi bahan bakar yang dapat disimpan dan dipindahkan. Reaksi
kimia yang dipengaruhi oleh surya dapat digolongkan menjadi termokimia
atau fotokimia.[81] Sejumlah besar bahan bakar dapat diproduksi dengan
menggunakan fotosintesis buatan.[82] Kimia katalisis multielektron yang digunakan untuk
membuat bahan bakar dengan dasar karbon (seperti metanol) dari reduksi karbon
dioksida merupakan suatu tantangan; alternatif yang lebih mudah adalah produksi
gas hidrogen dari proton, namun menggunakan air sebagai sumber elektron (sebagaimana yang
dilakukan tanaman) membutuhkan penguasaan oksidasi multielektron dua molekul air ke satu
molekul oksigen.[83] Beberapa ahli meramalkan akan adanya pabrik bahan bakar surya di kota
besar yang berada di tepi laut menjelang tahun 2050 - pemecahan molekul air laut untuk
menghasilkan gas hidrogen yang digunakan untuk pembangkit listrik di sekitarnya dan produk
samping air murni yang akan disalurkan untuk kebutuhan air permukiman.[84] Visi yang lain
adalah bangunan buatan manusia menutupi seluruh permukaan Bumi (seperti jalan, kendaraan,
dan bangunan) melakukan fotosintesis lebih efisien dibandingkan tanaman.[85]
Teknologi produksi gas hidrogen telah menjadi sasaran penting dalam penelitian kimia surya
sejak tahun 1970an. Selain elektrolisis menggunakan fotovoltaik atau sel fotokimia, beberapa
proses termokimia juga dikembangkan. Salah satu proses tersebut menggunakan pemusat
surya untuk memecah molekul air pada temperatur tinggi (2300-2600 °C).[86] Proses yang lain
menggunakan panas dari pemusat surya untuk menghasilkan uap untuk proses reformasi gas
alam, sehingga meningkatkan perolehan gas hidrogen dibandingkan dengan metode reformasi
konvensional.[87] Siklus termokimia yang melibatkan dekomposisi dan regenerasi reaktan dapat
digunakan sebagai alternatif produksi gas hidrogen. Proses Solzinc yang sedang dikembangkan
di Institut Weizmann menggunakan tungku surya 1 MW untuk dekomposisi seng oksida (ZnO)
pada suhu di atas 1200 °C. Permulaan reaksi membutuhkan seng murni, yang digunakan untuk
bereaksi dengan air dan menghasilkan gas hidrogen.[88]

Metode penyimpanan energi[sunting | sunting sumber]

Pembangkit listrik tenaga surya Andasol yang berkapasitas 150 MW adalah pembangkit listrik termal surya
komersil berlokasi di Spanyol yang menggunakan cekungan parabola. Pembangkit Andasol menggunakan
lelehan garam untuk menyimpan energi surya agar pembangkit tetap dapat memproduksi listrik saat
matahari tidak tampak.[89]

Sistem massa termal dapat menyimpan energi surya dalam bentuk panas pada temperatur yang
cocok untuk penggunaan sehari-hari atau musiman. Sistem penyimpanan panas umumnya
menggunakan materi yang sudah tersedia dengan kapasitas panas tinggi seperti air, tanah, dan
batu. Sistem yang dirancang dengan baik dapat menurunkan kebutuhan puncak, menggeser
waktu penggunaan ke waktu senggang, dan mengurangi kebutuhan pemanasan dan
pendinginan.[90][91]
Materi ubah fase seperti lilin parafin dan garam Glauber adalah contoh media penyimpan panas.
Media ini tidak mahal, tersedia, dan dapat menghasilkan temperatur yang cocok untuk
penggunaan di rumah (sekitar 64 °C). Rumah Dover (di Dover, Massachusetts) adalah rumah
pertama yang menggunakan sistem pemanasan garam Glauber pada tahun 1948.[92]
Energi surya dapat disimpan pada temperatur tinggi dengan menggunakan lelehan garam.
Garam adalah media penyimpan yang efektif karena harganya murah, memiliki kapasitas panas
yang tinggi, dan dapat menghasilkan panas pada temperatur yang cocok dengan sistem
pembangkit konvensional. Solar Twomenggunakan metode penyimpanan ini dan dapat
menyimpan 1,44 TJ di tangki penyimpanan sebesar 68 m3 dengan efisiensi penyimpanan
tahunan sekitar 99%.[93]
Sistem fotovoltaik yang tidak terhubung dengan saluran listrik biasanya menggunakan baterei
yang bisa diisi ulang untuk menyimpan listrik berlebih. Dengan sistem yang terhubung dengan
saluran listrik, listrik berlebih dapat dikirimkan ke transmisi listrik. Saat produksi listrik kurang,
listrik dari saluran listrik dapat digunakan. Program meteran net memberikan kredit untuk rumah
tangga yang menyalurkan listrik ke saluran listrik. Hal ini dilakukan dengan memutar terbalik
meteran listrik saat rumah memproduksi lebih banyak listrik ketimbang menggunakannya. Jika
penggunaan netto listrik di bawah nol, maka kredit yang dihasilkan akan dilimpahkan ke bulan
depan.[94] Cara lain menggunakan dua meteran, satu untuk mengukur listrik yang digunakan,
satu lagi untuk mengukur listrik yang diproduksi. Cara ini tidak umum digunakan karena biaya
tambahan akibat pemasangan meteran listrik kedua. Kebanyakan meteran baku secara akurat
mengukur di kedua arah sehingga meteran kedua tidak diperlukan.
Penyimpanan energi dengan pompa di pembangkit listrik tenaga air menyimpan energi dalam
bentuk potensial ketinggian, yaitu dengan memompa air dari tempat rendah ke tempat tinggi.
Energi dapat diambil kembali saat dibutuhkan dengan mengalirkan air ke pembangkit listrik.[95]

Perkembangan, penggunaan, dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Peserta dalam sebuah lokakarya perkembangan berkelanjutan memeriksa papan surya di Institut
Teknologi dan Pendidikan Tinggi Monterrey, Ciudad de Mexico di atas bangunan kampus.

Dimulai dengan penggunaan batubara besar-besaran selama Revolusi Industri, konsumsi energi
secara berangsur berubah dari menggunakan kayu dan biomassa menjadi bahan bakar fosil.
Perkembangan awal teknologi surya dimulai pada tahun 1860an yang didorong oleh perkiraan
bahwa persediaan batu bara akan menipis. Namun, perkembangan teknologi surya berhenti
pada awal abad ke 20 dikarenakan meningkatnya persediaan, nilai ekonomis, dan kegunaan
batubara dan minyak bumi.[96]
Embargo minyak pada tahun 1973 dan krisis energi pada tahun 1979menyebabkan perubahan
kebijakan energi di dunia dan teknologi surya kembali dilirik.[97][98] Strategi pemasangan
difokuskan pada program insentif seperti program pengunaan fotovoltaik di Amerika Serikat dan
program Sunshine di Jepang. Usaha lain yang dilakukan meliputi pembentukan fasilitas riset di
Amerika Serikat (SERI, sekarang NREL), Jepang (NEDO), dan Jerman (Institut Fraunhofer untuk
sistem energi surya).[99]
Pemanas air surya komersil mulai dipasarkan di Amerika Serikat pada tahun
1890an.[100] Penggunaan pemanas ini meningkat sampai dengan tahun 1920 tapi kemudian
digantikan oleh pemanas berbahan bakar yang lebih murah dan diandalkan.[101] Seperti
fotovoltaik, pemanas air surya kembali dilirik setalah krisis minyak tahun 1970, namun
permintaan menurun pada tahun 1980an dikarenakan menurunnya harga minyak Bumi.
Perkembangan pemanasan air surya berkembang secara berangsur selama tahun 1990an dan
laju pertumbuhan sekitar 20% per tahun sejak 1999.[48] Walaupun umumnya diremehkan,
pemanas dan pendingin air surya adalah teknologi surya yang paling banyak digunakan dengan
perkiraan kapasitas 154 GW pada tahun 2007.[48]
Badan Energi Internasional mengatakan energi surya dapat membantu menyelesaikan
permasalahan penting dunia:[1]
Perkembangan teknologi energi surya yang terjangkau, tidak habis, dan bersih akan
memberikan keuntungan jangka panjang yang besar. Perkembangan ini akan meningkatkan
keamanan energi negara-negara melalui pemanfaatan sumber energi yang sudah ada, tidak
habis, dan tidak tergantung pada impor, meningkatkan kesinambungan, mengurangi polusi,
mengurangi biaya mitigasi perubahan iklim, dan menjaga harga bahan bakar fosil tetap rendah
dari sebelumnya. Keuntungan-keuntungan ini berlaku global. Oleh sebab itu, biaya insentif
tambahan untuk pengembangan awal selayaknya dianggap sebagai investasi untuk
pembelajaran; inventasi ini harus digunakan secara bijak dan perlu dibagi bersama.[1]
Pada tahun 2011, Badan Energi Internasional mengatakan teknologi energi surya seperti papan
fotovoltaik, pemanas air surya, dan pembangkit listrik dengan cermin dapat menyediakan
sepertiga energi dunia pada tahun 2060 jika politikus mau mengatasi perubahan iklim. Energi
dari matahari dapat memainkan peran penting dalam de-karbonisasi ekonomi global bersamaan
dengan pengembangan efisiensi energi dan menerapkan biaya pada produsen gas rumah kaca.
"Kekuatan dari teknologi surya adalah varietasnya yang luas dan fleksibilitas dari aplikasinya,
mulai dari skala kecil hingga ke skala besar".[102]
Kita telah buktikan... bahwa setelah persediaan minyak dan batubara kita habis, manusia dapat
menerima energi tak terbatas dari sinar matahari.

— Frank Shuman, New York Times, 2 Juli, 1916[103]

Standar ISO[sunting | sunting sumber]


Organisasi Internasional untuk Standardisasi telah membuat sejumlah standar yang
berhubungan dengan peralatan energi surya. Sebagai contoh, ISO 9050 mengenai kaca
bangunan dan ISO 10217 mengenai materi yang digunakan dalam pemanas air surya.

Tenaga angin
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jump to navigationJump to search

Ladang angin di Neuenkirchen, Dithmarschen(Jerman).

Energi terbarukan
Biofuel

Biomassa

Panas bumi

Energi air

Energi surya

Energi pasang surut

Energi ombak

Energi angin

 l
 b
 s

Tenaga angin merupakan pengumpulan energi yang berguna dari angin. Pada 2005, kapasitas
generator tenaga-angin adalah 58.982 MW, hasil tersebut kurang dari 1% penggunaan listrik
dunia. Meskipun masih berupa sumber energi listrik minor di kebanyakan negara, penghasilan
tenaga angin lebih dari empat kali lipat antara 1999 dan 2005.
Kebanyakan tenaga angin modern dihasilkan dalam bentuk listrik dengan mengubah rotasi dari
pisau turbin menjadi arus listrik dengan menggunakan generator listrik. Pada kincir angin energi
angin digunakan untuk memutar peralatan mekanik untuk melakukan kerja fisik, seperti
menggiling "grain" atau memompa air.
Tenaga angin digunakan dalam ladang angin skala besar untuk penghasilan listrik nasional dan
juga dalam turbin individu kecil untuk menyediakan listrik di lokasi yang terisolir.
Tenaga angin banyak jumlahnya, tidak terbatas, tersebar luas, bersih, dan mengurangi efek
rumah kaca.
Di Indonesia, pembangkit listrik yang memanfaatkan tenaga angin disebut dengan pembangkit
listrik tenaga bayu.[1]

Daftar isi

 1Ekonomi
 2Penggunaan
o 2.1Skala besar
 3Lihat pula
 4Referensi
Ekonomi[sunting | sunting sumber]
Pada tahun-tahun belakangan ini, biaya tenaga listrik dihasilkan-angin telah turun banyak, dan
kini lebih rendah dari biaya listrik dihasilkan-bahan bakar. Sejak 2004, tenaga angin telah
menjadi bentuk penghasilan tenaga baru yang paling murah.[butuh rujukan]
Ada ribuan turbin angin yang beroperasi, dengan kapasitas total 58.982 MW yang 69% berada di
Eropa (2005). Dia merupakan cara alternatif penghasilan listrik yang paling tumbuh cepat dan
menyediakan tambahan yang berharga bagi stasiun tenaga berskala besar yang berbeban
besar. Penghasilan kapasitas listrik diproduksi-angin berlipat empat antara 1999 dan 2005. 90%
dari instalasi tenaga angin berada di AS dan Eropa. Pada 2010, Asosiasi Tenaga Angin
Dunia mengharapkan 120.000 MW akan terpasang di dunia.
Jerman, Spanyol, Amerika Serikat, India dan Denmark telah membuat invesatasi terbesar dalam
penghasilan listrik dari angin. Denmark terkenal dalam pemroduksian dan penggunaan turbin
angin, dengan sebuah komitmen yang dibuat pada 1970-an untuk menghasilkan setengah dari
tenaga negara tersebut dengan angin. Denmark menghasil lebih dari 20% listriknya dengan
turbin angin, persentase terbesar dan ke-lima terbesar dari penghasilan tenaga angin. Denmark
dan Jerman merupakan eksportir terbesar dari turbin besar.
Penggunaan tenaga angin hanya 1% dari total produksi listrik dunia (2005). Jerman merupakan
produsen terbesar tenaga angin dengan 32% dari total kapasitas dunia pada 2005; targetnya
pada 2010, energi terbarui akan memenuhi 12,5% kebutuhan listrik Jerman. Jerman memiliki
16.000 turbin angin, kebanyakan terletak di utara negara tersebut - termasuk tiga terbesar dunia,
dibuat oleh perusahaan Enercon (4,5 MW), Multibrid (5 MW) dan Repower (5 MW).
Provinsi Schleswig-Holstein Jerman menghasilkan 25% listriknya dari turbin angin.
Saat ini, London Array adalah ladang angin lepas pantai terbesar di dunia dengan kapasitas
mencapai 1000 MW [3], diresmikan oleh perdana menteri Inggris David Cameron pada tanggal 4
Juli 2013[4]
Energi Kelautan

Oktober 23, 2012

Energi kelautan adalah energi yang dapat dihasilkan dari konversi gaya mekanik, gaya potensial serta
perbedaan temperature air laut menjadi energi listrik. Energi samudra murni dapat digolongkan
menjadi empat jenis yaitu: energi gelombang (wave power), energi pasang surut (tidal power),
energi arus laut (current power), dan energi panas laut (ocean thermal energy conversion, OTEC)
1. Energi Gelombang
Energi gelombang adalah energi kinetik yang memanfaatkan beda tinggi gelombang laut dab sakah
satu bentuk energi yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik melalui parameter
gelombangnya, yaitu tinggi gelombang, panjang gelombang dan periode waktunya. Sampai saat ini
ada lima teknologi energi gelombang yang telah diaplikasikan sebagai pembangkit listrik yaitu sistem
Rakit Cockrell/Pelamis, Tabung Tegak Kayser, Pelampung Salter dan Tabung Masuda. Konversi
gelombang laut dengan tinggi rata-rata 1 meter dan periode 9 detik mempunyai daya sebesar 4,3
kW permeter panjang gelombang. Sedangkan deretan gelombang dengan tinggi 2 meter dan 3
meter dapat membangkitkan daya sebesar 39 kW per meter panjang gelombang.
2. Energi Pasang Surut
Energi pasang surut adalah energi kinetik dari pemanfaatan beda ketinggian pasang permukaan laut
antara saat pasang dan surut. Prinsip kerja dari energi pasang surut ini sama dengan pembangkit
listrik tenaga air (PLTA) seperti waduk Jatiluhur, Jawa Barat.
3. Energi Arus laut
Cara kerja pembangkit listrik tenaga arus laut tidak berbeda jauh dengan pembangkit listrik tenaga
angin yang memanfaatkan putaran kincir untuk menggerakan generator sehingga menghasilkan
listrik. Kecepatan arus laut minimum yaitu kecepatan 2 m/detik, tetapi yang ideal adalah 2,5 m/detik
4. Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC)
OTEC adalah pembangkit listrik dengan memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di permukaan
dan air laut dalam, dengan selisih temperatur minimal 20oC. OTEC merupakan salah satu teknologi
masa depan bagi bangsa Indonesia karena sistem ini selain menghasilkan listrik, juga mengjasilkan
air tawar, lithium, pendingin ruangan, budidaya perikanan laut air dingin (lobster, salmon, abalone,
dll) dan meningkatkan populasi ikan disekitarnya.