Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TUGAS PATOFISIOLOGI MENGENAI GONOCOCCAL

DAN CHLAMYDIA

Disusun untuk memenuhi tugas klasifikasi dan kodefikasi penyakit dan masalah terkait

Dosen Pembimbing : dr. Endang Sri Dewi Hastuti Suryandari, M.QIH

Disusun oleh :

KELOMPOK 8

1. Jabal Nur Hamdani 17410171007


2. Isnaini Khadijah Nur 17410173027
3. Puspita Rahmawati 17410174053

PRODI D-III PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

JURUSAN KESEHATAN TERAPAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

2019
A54 Gonococcal Infection
a. Deskripsi
Gonorrhea adalah sejenis penyakit yang berjangkit melalui hubungan kelamin
yang disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrheoeae, yaitu sejenis bakteria yang
hidup dan mudah berkembangbiak dengan cepat didalam saluran
pembiakan/peranakan seperti pangkal rahim (cervix), rahim (uterus), dan tuba fallopi
bagi wanita dan juga saluran kencing (urine canal) bagi wanita dan lelaki. Bakteria ini
juga bisa berkembang biak didalam mulut, kerongkongan, mata dan dubur.
Neisseria gonorrhoeae (N. Gonorrhoeae) merupakan bakteri diplokokkus gram
negatif dan manusia merupakan satu-satunya faktor host alamiah untuk gonokokus,
infeksi gonore hampir selalu ditularkan saat aktivitas seksual (Sari et al., 2012).
Menurut Irianto (2014) bahwa setiap tahunnya kasus gonore lebih banyak terjadi pada
wanita daripada pria.
b. Etiologi
Penyebab servisitis gonore adalah kuman Neisseria gonorrhoeae. Kuman ini
sering koinfeksi dengan kuman non spesifik lainnya, yang paling sering adalah
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, dan Mycoplasma hominis
(Depkes RI, 2011).
 Neisseria gonorrhoeae
Ditemukan pertama kali oleh Albert Neisseria tahun 1879. Disebut juga
gonokokus. Bakteri diplokokus, berbentuk biji kopi, tahan asam, kokus gram
negatif, diameter 0,6 – 1,0 µm, tampak di dalam dan di luar lekosit tapi lebih
sering intraseluler, tidak tahan udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak
tahan suhu > 39ºC, tidak tahan desinfektan. Ada 4 tipe, yaitu tipe 1, 2, 3, dan 4.
Tipe 1 dan 2 bersifat virulen, memiliki pili di permukaan selnya.Tipe 3 dan 4
tidak memiliki pili, bersifat non virulen. Dengan pili kuman dapat menempel
pada sel epitel urethra, mukosa mulut dan sperma. Pili juga menghambat
fagositosis dan dapat berfungsi sebagai alat konjugasi antara sesama gonokokus
atau dengan Eschericia coli (Daili, 2009 ).
Neisseria gonorrhoaea mempunyai membran luar yang khas, tersusun
dari protein, fospolipid dan lipopolisakarida. Lipopolisakarida Nesseria
Gonorrhoaea disebut sebagai lipooligosakarida (LOS). Bakteri ini secara khas
melepaskan fragmen membran luar yang dinamakan “blebs” yang berisi LOS
selama pertumbuhannya (Muriastutik, 2008).
Masa inkubasi 2-7 hari (Mandal, 2008). Pada laki-laki 2-5 hari, kadang
lebih lama. Sedangkan pada wanita sulit ditentukan karena pada umumnya tidak
menunjukkan gejala (Daili, 2009 ).
 Chlamydia trachomatis
Klamidia adalah mikroorganisme intraseluler obligat gram negatif,
yang menginfeksi sel-sel epitel skuamokolumnar. Bakteri ini biasanya
menyebar melalui aktivitas seksual. Infeksi saluran genital adalah presentasi
klinis yang paling umum. Masa inkubasi 1-3 minggu. Koinfeksi antara
klamidia dan gonore adalah yang paling umum terjadi.

c. Gejala dan Tindakan Klinis


Gejala dan tanda pada pasien laki-laki dapat muncul 2 hari setelah pajanan dan
mulai dengan uretritis, diikuti oleh secret purulen, disuria dan sering berkemih serta
malese. Sebagian besar laki-laki akan memperlihatkan gejala dalam 2 minggu setelah
inokulasi oleh organisme ini. Pada beberapa kasus laki-laki akan segara berobat
karena gejala yang mengganggu.
Pada perempuan, gajala dan tanda timbul dalam 7-21 hari, dimulai dengan
skret vagina. Pada pemeriksaan, serviks yang terinfeksi tampak edematosa dan rapuh
dengan drainase mukopurulen dari ostium. Perempuan yang sedikit atau tidak
memperlihatkan gejala menjadi sumber utama penyebaran infeksi dan beresiko
mengalami penyulit. Apabila tidak diobati maka tanda-tanda infeksi meluas biasanya
mulai timbul dalam 10-14 hari. Tempat penyebaran tersering pada perempuan adalah
pada uretra dengan gejala uretritis, disuria, dan sering berkemih. Pada kelenjar
bartholin dan skene menyebabkan pembengkakan dan nyeri. Infeksi yang menyebar
ke daerah endometrium dan tuba fallopi menyebabkan perdarahan abnormal vagina,
nyeri panggul dan abdomen dan gajal-gejala PID progresif apabila tidak diobati.
Infeksi ekstragenital yang bersifat primer atau sekunder lebih sering
ditemukan karena perubahan perilaku seks. Infeksi gonore di faring sering
asimptomatik tetapi dapat juga menyebabkan faringitis dengan eksudat mukopurulen,
demam, dan limfadenopati leher. Infeksi gonore pada perianus biasanya menimbulkan
rasa tidak nyaman dan gatal ringan atau menimbulkan eksoriasi dan nyeri perianus
serta sekret mukopurulen yang melapisi tinja dan dinding rektum.
Secara umum gejala yang biasanya timbul adalah sebagai berikut:
1. Keluarnya cairan hijau kekuningan dari vagina
2. Demam
3. Muntah-muntah
4. Rasa gatal dan sakit pada anus serta sakit ketika buang air besar umumnya
terjadi pada wanita dan homoseksual yang melakukan anal seks dengan
pasnagn yang terinfeksi
5. Rasa sakit pada sendi
6. Munculnya ruam telapak tangan
7. Sakit pada tenggorokan (pada orang yang melakukan oral seks dengan
pasnagan yang terinfeksi)

Gejala khusus yang sering terlihat pada pria dan wanita yang terinfeksi bakteri
Neisseria Gonorrhooeae adalah sebagai berikut:
1. Pada pria
a. Ureteritis
Yang paling sering dijumpai adalah ureteritis anterior akut dan
dapat mejalar ke proksimal selanjutnya mengakibatkan komplikasi
lokal, asendens dan diseminata. Keluhan subjektif berupa rasa gatal
dan panas dibagian distal uretra di sekitar orifisium uretra ekternum,
kemudian disuria, polakisurua, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang
terkadang disertai darah dan perasaan nyeri saat ereksi.
b. Tysonitis
Infeksi biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang
sangat panjang dari kebersihan yang kurang baik. Diagnosis dibuat jika
ditemukan butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang
nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan timbul abses dan merupakan
sumber infeksi laten.
c. Prostatitis
Prostatis ditandai dengan perasaan tidak enak pada derah
perineum dan suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai
hematuri, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus
ani, sulit buang air besar dan obstipasi. Bila prostatitis menjadi kronik
gejalanya ringan dan intermiten, tetapi kadang-kadang menetap. Terasa
tidak enak pada perineum bagian dalam dan rasa tidak enak bila duduk
terlalu lama.
2. Pada wanita
a. Uretritis
Gejala utama iala disuria terkadang poliuria. Pada pemeriksaan,
orifisium uretra eksternum tampah merah, edematisa dan terdapat
sekret mukopurulen.
b. Bartholinitis
Labium mayor pada sisi terkena membengkak, merah, dan
nyeri tekan. Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila
penderita berjalan dan penderita sukar duduk. Bika saluran kelenjar
tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau
kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau kista.
d. Manifestasi Ekstragenital
a. Faringitis
Faring adalah tempat yang paling umum dari infeksi gonokokal pada pria
yang berhubungan seks dengan sesama jenis. Gonokokus faringitis ini paling sering
diperoleh selama kontak orogenital selama fellatio. Ini dapat muncul sebagai
faringitis eksudatif tetapi biasanya asimptomatik. Demam dan limfadenopati servikal
jarang terjadi dan muncul pada kurang dari 10 % pasien dengan gonokokal
pharyngitis.
C. trachomatis juga dapat menyebabkan faringitis, terjadi pada 1,4 %
hingga 2,3 % dari pasien yang menunjukkan gejala PMS. Seperti faringitis
gonokokal, hal ini diperoleh jika melakukan praktek oral seks. Tidak mungkin untuk
mengidentifikasi pasien dengan C. trachomatis faringitis dengan tanda-tanda klinis
dan gejala saja, dengan demikian perlu tes laboratorium untuk mengkonfirmasi
diagnosis ini .
b. Arthritis Reaktif ( Reiter Syndrome )
Trias klasik arthritis, uretritis nongonococcal, dan konjungtivitis
(sebelumnya dikenal sebagai sindrom Reiter) pertama kali dijelaskan oleh Hans
Reiter di 1.916. Ini lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Infeksi dengan C.
Trachomatis menyebabkan arthritis reaktif non purulen, biasanya dilihat sebagai
oligoarthritis asimetris, terutama di tungkai bawah . Temuan klasik yaitu
pembengkakan di tumit dan / atau jari tangan sosis atau jari kaki yang disebabkan
oleh peradangan. Manifestasi dermatologic yaitu termasuk keratoderma
blennorrhagica, yang dimulai sebagai vesikel yang jelas pada dasar eritematosa yang
berkembang menjadi makula,papula, dan nodul, biasanya ditemukan pada telapak
kaki, telapak tangan, badan, dan kulit kepala.

d. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang


Menurut Daili (2009), pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan cara:
a) Pemeriksaan gram
Pemeriksaan gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra
yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi terutama pada duh uretra pria,
sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak terlalu tinggi.
Pemeriksaan ini akan menunjukkan Neisseria gonorrhoeae yang merupakan
bakteri gram negatif dan dapat ditemukan di dalam maupun luar sel leukosit.
b) Kultur bakteri
Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada media
pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan
pertumbuhan kuman gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan
bakteri gram negatif dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan
kultur ini merupakan pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,
sehingga sangat dianjurkan dilakukan pada pasien wanita.
c) Tes definitif
Tes definitif dengan oksidasi akan ditemukan semua Neisseria
gonorrhoeae yang mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening
menjadi merah muda sampai merah lembayung, sedangkan pada tes fermentasi
dapat dibedakan N.gonorrhoeae yang hanya dapat meragikan glukosa saja.
d) Tes betalaktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak perubahan warna
koloni dari kuning menjadi merah.
e) Tes thomson
Tes ini dilakukan dengan menampung urin setelah bangun pagi ke dalam
2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas kedua.
Hasil dinyatakan positif jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas kedua
tampak jernih.

 Pemeriksaan lain
Jenis pemeriksaan lain yang dapat digunakan untuk menunjang
diagnosis gonore sesuai Kementerian Kesehatan RI (2011)b terdiri dari
pemeriksaan bimanual dan pemeriksaan anoskopi.

e. Pengobatan dan Tindakan


CDC merekomendasikan rejimen berikut untuk pengobatan servisitis
klamidia:
- Azitromisin 1 g oral dalam dosis tunggal
- Doksisiklin 100 mg oral 2x sehari selama 7 hari
Pasien-pasien ini juga harus diobati bersamaan untuk infeksi gonokokus di
daerah dengan prevalensi gonore tinggi atau jika individu berisiko tinggi
Pengobatan untuk servisitis gonokokus (Depkes, 2011) :
- Sefiksim 400 mg dosis tunggal
- Levofloksasin 500 mg dosis tunggal
- Kanamisin 2 g injeksi dosis tunggal
- Tiamfenikol 3,5 g peroral dosis tunggal
- Seftriakson 250 mg injeksi IM dosis tunggal.

A55 Chlamydial Lymphogranuloma (Venereum)


a. Deskripsi
Chlamydia adalah infeksi PMS (penyakit menular seksual) yang sangat umum.
Infeksi ini dapat diobati dengan mudah tapi jika tidak ditangani dapat menyebabkan
masalah kesehatan dan kesuburan. Klamidia disebabkan oleh bakteri yang
berkembang biak di selaput lendir dari alat kelamin. Hal ini dapat menyebabkan
peradangan saluran kencing, dubur dan leher rahim. Ketika infeksi terjadi pada anus,
pasien biasanya tidak merasakan gejala meskipun mungkin merasa tidak nyaman.
Kadang-kadang ada lendir, iritasi, gatal dan nyeri. Infeksi Chlamyidia di tenggorokan
juga mungkin tidak memberikan gejala apapun. Jika mata Anda terinfeksi, bakteri
dapat menyebabkan iritasi dan keluarnya cairan dari salah satu atau kedua mata Anda
(konjunktivitis).
Chlamidia adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri chlamydia
trachomatis (Chlamidia trakomatis). Chlamidia, sering menyebabkan apa yang
dinamakan uretritis non spesifik yakni radang saluran kemih yang tidak spesifik, yang
dikenal merupakan salah satu infeksi/penyakit, akibat dari hubungan seksual yang
terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita Chlamidia lebih sering menyebabkan
cervicitis (serviksitis), yaitu infeksi leher rahim, dan penyakit peradangan pelvis
(pinggul/panggul), bahkan menyebabkan infertilitas.
Chlamydia trachomatis yang terutama menyerang leher rahim. Biasanya
menyerang saluran kencing atau organ-organ reproduksi. Pada wanita, menyebabkan
infeksi di mulut rahim, sedangkan pada pria, menyebabkan infeksi di urethra(bagian
dalam penis). Sebanyak 75 persen penderitanya, tidak mendapatkan gejala penyakit
ini. Kalaupun muncul gejala, pada wanita, hanya berupa keputihan. Penyakit menular
seksual (PMS) yang satu ini, dapat menular atau ditularkan pasangan. Masa
inkubasi:7 sampai 12 hari.
Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat berkembang
biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk semacam koloni atau
mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI). Chlamydia membelah secara benary
fision dalam badan intrasitoplasma.
Chlamydia trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang
mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu
berupa Badan Elementer (BE) dan Badan Retikulat (BR) atau Badan Inisial. Badan
elementer ukurannya lebih kecil (300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan
bentuk yang infeksius, sedangkan badan retikulat lebih besar (1 um), terletak
intraselular dan tidak infeksius.
Morfologi inklusinya adalah bulat dan terdapat glikogen di dalamnya. C.
trachomatis peka terhadap sulfonamida, memiliki plasmid, dan jumlah serovarnya
adalah 15.
Klasifikasi Ilmiah dari Chlamydia trachomatis adalah sebagai berikut:
Ordo : Chlamydiales
Famili : Chlamydiaceae
Genus : Chlamydia
Spesies : Chlamydia trachomatis

Secara singkat, perkembangan C.trachomatis adalah sebagai berikut:

Klamidia yang menyebabkan penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi


3 spesies :
1. Chlamydia psittaci, penyebab psittacosis
2. C. trachomatis, termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma, infeksi alat
kelamin, Chlamydia conjunctivitis dan pneumonia anak dan serotipe lain yang
menyebabkan Lymphogranuloma venereum
3. C. pneumoniae, penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia
dan merupakan penyebab penyakit arteri koroner.

b. Etiologi
a) Penyebab Penyakit
Chlamydia trachomatis, imunotipe D sampai dengan K, ditemukan pada 35
– 50 % dari kasus uretritis non gonokokus di AS.

b) Jenis Penyakit, Penyebaran, dan Penularan


1. Uretritis
Infeksi di uretra merupakan manifestasi primer infeksi chlamydia. Masa
inkubasi untuk uretritis yang disebabkan oleh C. trachomatis bervariasi dari
sekitar 1 – 3 minggu. Pasien dengan chlamydia, uretritis mengeluh adanya duh
tubuh yang jernih dan nyeri pada waktu buang air kecil (dysuria). Infeksi
uretra oleh karena chlamydia ini dapat juga terjadi asimtomatik.
Diagnosis uretritis pada pria dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
pewarnaan Gram atau biru methylene dari sedian apus uretra. Bila jumlah
lekosit PMN melebihi 5 pada pembesaran 1000 x merupakan indikasi uretritis.
Perlu diketahui bahwa sampai 25% pria yang menderita gonore, diserta infeksi
chlamydia. Bila uretritis karena chlamydia tidak diobati sempurna, infeksi
dapat menjalar ke uretra posterio dan menyebabkan epididimitis dan mungkin
prostatitis.
2. Proktitis
C. trachomatis dapat menyebabkan proktitis terutama pada pria
homoseks. Keluhan penderita ringan dimana dapat ditemukan cairan mukus
dari rektum dan tanda-tanda iritasi, berupa nyeri pada rektum dan perdarahan.
3. Epididimitis
Sering kali disebabkan oleh C. trachomatis, yang dapat diisolasi dari
uretra atau dari aspirasi epididimis. Dari hasil penelitian terakhir mengatakan
bahwa C. trachomatis merupakan penyebab utama epididimitis pada pria
kurang dari 35 tahun (sekitar 70 -90%). Secara klinis, chlamydial epididimitis
dijumpai berupa nyeri dan pembengkakan scrotum yang unilateral dan
biasanya berhubungan dengan chlamydial uretritis, walaupun uretritisnya
asimptomatik.
4. Prostatitis
Setengah dari pria dengan prostatitis, sebelumnya dimulai dengan
gonore atau uretritis non gonore. InfeksiC. trachomatis pada prostat dan
epididimis pada umumnya merupakan penyebab infertilitas pada pria.
5. Sindroma Reiter
Suatu sindroma yang terdiri dari tiga gejala yaitu: artritis, uretritis dan
konjungtivitis, yang dikaitkan dengan infeksi genital oleh C. trachomatis. Hal
ini disokong dengan ditemukannya “Badan Elementer” dari C.
trachomatis pada sendi penderita dengan menggunakan teknik Direct
Immunofluerescence.
Infeksi pada Wanita Sekitar setengah dari wanita dengan infeksi C.
trachomatis di daerah genital ditandai dengan bertambahnya duh tubuh vagina
dan atau nyeri pada waktu buang air kecil, sedangkan yang lainnya tidak ada
keluhan yang jelas. Pada penyelidikan pada wanita usia reproduktif yang
datang ke klinik dengan gejala-gejala infeksi traktus urinarius 10 % ditemukan
carier C. trachomatis.
Faktor resiko infeksi C. trachomatis pada wanita adalah :
- Usia muda, kurang dari 25 tahun
- Mitra seksual dengan uretritis
- Multi mitra seksual
- Swab endoserviks yang menimbulkan perdarahan
- Adanya sekret endoserviks yang mukopurulen
- Memakai kontrasepsi “non barier” atau tanpa kontrasepsi
6. Servisitis
Chlamydia trachomatis menyerang epitel silindris mukosa serviks.
Tidak ada gejala-gejala yang khas membedakan servisitis karena C.
trachomatis dan servisitis karena organisme lain. Pada pemeriksaan dijumpai
duh tubuh yang mukopurulen dan serviks yang ektopik.
Pada penelitian yang menghubungkan servisitis dengan ektopi serviks,
prevalerisi servisitis yang disebabkan C. trachomatis lebih banyak ditemukan
pada penderita yang menunjukkan ektopi serviks dibandingkan yang tidak
ektopi. Penggunaan kontrasepsi oral dapat menambah resiko
infeksi Chlamydia trachomatis pada serviks, oleh karena kontrasepsi oral
dapat menyebabkan ektopi serviks.
7. Endometritis
Servisitis oleh karena infeksi C. trachomatis dapat meluas ke
endometrium sehingga terjadi endometritis. Tanda dari endometritis antara
lain menorrhagia dan nyeri panggul yang ringan. Pada pemeriksaan
laboratorium, chlamydia dapat ditemukan pada aspirat endometrium.
8. Salfingitis (PID)
Salfingitis terjadi oleh karena penjalaran infeksi secara ascenden
sehingga infeksi sampai ke tuba dan menyebabkan kerusakan pada tuba
(terjadi tuba scarring). Hal ini dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan
ektopik. Wanita dengan PID, lebih separuh disebabkan oleh chlamydia,
umumnya mengeluh rasa tidak enak terus di perut bawah. Itu lantaran infeksi
menyebar ke rahim, saluran telur, indung telur, bahkan sampai ke leher rahim
juga.
9. Perihepatitis (Fitz - Hugh - Curtis Syndrome)
Infeksi C. trachomatis dapat meluas dari serviks melalui endometrium
ke tuba dan kemudian parakolikal menuju ke diafragma kanan. Beberapa dari
penyebaran ini menyerang permukaan anterior liver dan peritoneum yang
berdekan sehingga menimbulkan perihepatitis. Parenchym hati tidak diserang
sehingga tes fungsi hati biasanya normal.

c. Gejala dan Tindakan Klinis


Pada umumnya infeksi Chlamydia, biasanya tanpa gejala, atau pada orang
yang terinfeksi dan memperhatikannya, dapat diketahui gejala-gejala tertentu dalam
beberapa minggu atau bulan, tergantung keparahan dari infeksinya dan pengobatan
yang dilakukannya. Bila tidak tertangani dengan baik, gejalanya bisa berbeda-beda.
Gejala-gejala ini dapat berupa:
a. Pada wanita Pre-Pubertas: adanya vaginal discharge dan berbau
(vaginitis).
b. Pada wanita Post Pubertas: adanya discharge dan bau yang berasal dari
serviks yang terinfeksi.
c. Pada wanita dewasa: hampir 80% tidak ada gejala (asimptomatik). Wanita
dapat membawa bakteri ini berbulan-bulan bahkan bertahun tanpa
menyadarinya. Disinilah pentingnya skrining. Gejala dapat timbul dalam 3
minggu setelah terinfeksi, berupa: sakit perut bawah yang menetap, mild,
milky, yellow mucus-like discharge dari vaginal, mual dan demam, sakit
sewaktu buang air kecil, sakit sewaktu melakukan hubungan seksual,
spotting diluar haid.
d. Pada pria: rasa terbakar/panas sewaktu buang air kecil, discharge yang
mild, milky, yellow mucus-like dari penis, sakit dan pembengkakan testis
(yang bila tidak diobati dapat menimbulkan infertilitas). Infeksi pada pria
ini sering disebut Non-Spesifik Uretritis (NSU).

d. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang


1) Biakan
Sampai tahun 1980-an diagnosis infeksi Chlamydia trachomatis terutama
berdasarkan pada isolasi organisma dalam biakan sel jaringan. Ini merupakan
metode tradisional untuk diagnosis laboratorium dan tetap sebagai metode pilihan
untuk spesimen medikolegal dimana sensitivitas diperkirakan 80-90% dan
spesifitasnya 100%. Yang dapat digunakan adalah sel-sel Mc. Coy yaitu sel-sel
yaitu sel-sel fibroblas tikus (L-cells). Biakan sel dapat juga digunakan mencari
bahan inklusi Chlamydia dengan bantuan grup spesifik fluorescein - labelled
antibodi monoklonal terhadap Chlamydia trachomatis. Prosedur ini membutuhkan
mikroskop fluorescens.
2) Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan dalam gelas objek diwarnai dengan pewarnaan giemsa atau
larutan jodium dan diperiksa dengan mikroskop cahaya biasa. Pada pewarnaan
Giemsa, Badan Inklusi (BI) terdapat intra sitoplasma sel epitel akan nampak
warna ungu tua, sedangkan dengan pewarnaan yodium akan terlihat berwarna
coklat. Jika dibanding dengan cara kultur, pemeriksaan mikrosopik langsung ini
sensitivitasnya rendah dan tidak dianjurkan pada infeksi asimtomatik.
3) Deteksi Antigen Langsung
Dikenal 2 cara pemeriksaan antigen yaitu:
a) Direct Fluorescent Antibody (DFA)
Cara ini merupakan test non-kultur pertama dimana Chlamydia
trachomatis dapat ditemukan secara langsung dengan metode monoklonal
antibodi yang dilabel dengan fluorescein. Dengan teknik ini Chlamydia bebas
ekstraseluler yang disebut badan elementer (BE) dapat ditemukan. Kadang-
kadang juga dapat ditemukan badan inklusi intrasitoplasmik. Cara ini tidak
dapat membedakan antara organisme mati atau hidup, tetapi keuntungannya
tidak membutuhkan biakan sel jaringan dan hasilnya dapat diketahui dalam 30
menit.
b) Enzym Immuno Assay (EIA)
Banyak tes-tes yang tersedia saat ini menggunakan teknik ini. Tidak seperti
DFA, EIA bersifat semiautomatik dan sesuai digunakan untuk memproses
spesimen dalam jumlah besar.
4) Serologik
Tes serologik tidak digunakan secara rutin dan luas untuk diagnosa infeksi
traktus genitalis Chlamydial kecuali untuk LGV, oleh karena dijumpai prevalensi
antibodi pada populasi seksual aktif yang mempunyai resiko tinggi terhadap
infeksi Chlamydia trachomatis, yaitu berkisar 45 - 60% dari individu yang
diperiksa. Walaupun tidak selalu dijumpai pada setiap kasus infeksi genital tanpa
komplikasi, antibodi terhadap Chlamydia trachomatis biasanya timbul setelah
infeksi dan dapat menetap selama bertahun tahun. Respon Ig M dapat dilihat pada
infeksi episode pertama.
5) Test DNA Chlamydia
- DNA Hibridisasi (DNA Probe)
Test ini sensitivitasnya kurang dibandingkan metode kultur yaitu
75- 80% dan spesifitas lebih dari 99 %.
- Nucleic Acid Amplification
Teknik amplifikasi nukleat yang terbanyak dipakai yaitu:
Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Ligase Chain Reaction (LCR). Test
ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi, dan dapat menggunakan
non-invasif spesimen seperti urine untuk menskrining infeksi asimtomatik
pada wanita maupun pria.

e. Pengobatan dan Tindakan


 Pengobatan
Untuk pengobatan dapat diberikan:
1. Tetrasiklin
Tetrasiklin adalah antibodi pilihan yang sudah digunakan sejak lama
untuk infeksi genitalia yang disebabkan oleh C.trachomatis. Dapat diberikan
dengan dosis 4 x 500 mg/h selama 7 hari atau 4 x 250 mg/hari selama 14 hari.
Analog dari tetrasiklin seperti doksisiklin dapat diberikan dengan dosis 2 x l00
mg/h selama 7 hari. Obat ini yang paling banyak dianjurkan dan merupakan
drug of choice karena cara pemakaiannya yang lebih mudah dan dosisnya
lebih kecil. 9,11.
2. Azithromisin
Azithromisin merupakan suatu terobosan baru dalam pengobatan masa
sekarang. Diberikan dengan dosis tunggal l gram sekali minum.
 Regimen alternatif dapat diberikan:
- Erythromycin 4 x 500 mg/hari selama 7 hari atau 4 x 250 mg/hari selama l4
hari.
- Ofloxacin 2 x 300 mg/hari selama 7 hari.
 Regimen untuk wanita hamil:
- Erythromycin base 4 x 500 mg/hari selama 7 hari.
 Terapi yang biasanya digunakan adalah:
- Antibiotika, minum obat secara teratur
- Partner seksualnya juga harus diobati
DAFTAR PUSTAKA

Centers for Disease Control and Prevention 1600 Clifton Rd. Atlanta, GA 30333, USA.
Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Disease Surveillance,
2009. Atlanta, GA: U.S. Department of Health and Human Services; 2010.
Harris JRW, Foster SM., 1991, Genital Chlamydial Infection; Clinical Aspects, Diagnosis,
Treatment and Prevention. In: Sexually Transmitted Diseases and AIDS, 219, Churcill
Livingstone, New York.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/49422/Chapter%20II.pdf?sequence=4
&isAllowed=y diakses pada tanggal 12 Agustus 2019
https://www.academia.edu/8377686/GONORRHEA_A._KonsepDefinisi diakses pada
tanggal 12 Agustus 2019
Hutapea NO, Tarigan J., 1992, Infeksi Chlamydia di antara Mitra Seksual: Kumpulan
Makalah Ilmiah Konas VII PERDOSKI, 171, Bukit Tinggi.
Kartono.Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka Sinar Harapan;Jakarta; 1998.
U.S. Department of Health & Human Services - 200 Independence Avenue, S.W. -
Washington, D.C. 2001.
whqlibdoc.who.int/publications/2003/9241545453_ind.pdf
whqlibdoc.who.int/publications/2004/9241562846_ind.pdf
World Bank. World Development report: Investing in Health.Washington, 1993.
Anonim, 2004, Klamidia, http://www.pppl.depkes.go.id, diakses tanggal 20 Oktober 2011.
World Health Organization 2001.This document is not a formal publication of the World
Health Organisation (WHO), and all rights are reserved by the Organisation. The
document may, however, be freely reviewed, abstracted, reproduced or translated, in part
or in whole, but not for sale or for use in conjunction with commercial purposes. The
views expressed in documents by named authors are solely the responsibility of those
authors. Design by RSdeSigns.com.
www.who.int/bulletin/archives/79(2)118.pdf
www.who.int/entity/hiv/pub/guidelines/who_ilo_guidelines_indonesian.pdf