Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cabai rawit (Capsicum frustescens L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura dari jenis
sayuran yang memiliki buah kecil dengan rasa yang pedas. Cabai jenis ini dibudidayakan oleh para
petani karena banyak dibutuhkan masyarakat, tidak hanya dalam skala rumah tangga, tetapi juga
digunakan dalam skala industri, dan dieksport ke luar negeri. Tanaman ini mempunyai banyak
manfaat terutama pada buahnya, yaitu sebagai bumbu masak, bahan campuran industri makanan, dan
sebagai bahan kosmetik. Selain buahnya, bagian lain dari tanaman ini seperti batang, daun, dan
akarnya juga dapat digunakan sebagai obat obata (Ashari, 1995).
Produksi tanaman cabai rawit ini dari tahun ke tahun terus meningkat, tahun 2009 produksinya
sebesar 591.294 ton, sedangkan pada tahun 2010 produksinya sebesar 521.704 ton. Setahun terahir ini
produksi tanaman cabai rawit mengalami penurunan sebanyak 69.590 ton (Deptan, 2011). Selain itu
cabai rawit harganya di pasaran seringkali lebih tinggi dari pada cabai jenis lainnya. Hal ini
dikarenakan tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen. Terjadinya gagal panen diakibatkan
karena adanya beberapa kendala, terutama tingkat kesuburan tanah (Anonimus, 2011).
Untuk meningkatkan hasil produksi cabai rawitnya, para petani berusaha mengatasi kendala
tersebut dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk kimia. Pupuk ini memegang peranan
penting dalam memacu peningkatan produktivitas baik pada tanaman pangan, hortikultura maupun
tanaman perkebunan, karena dapat menyediakan zat hara bagi tanaman lebih cepat dengan kandungan
yang tinggi (Taniwiryono dan Isroi, 2008). Akan tetapi pupuk kimia sering mengalami kelangkaan
sehingga harganya melonjak tinggi. Selain itu pemakaian pupuk ini dapat menyebabkan pencemaran
tanah, menurunkan pH tanah, cepat terserapnya zat hara dapat menjadikan tanah menjadi miskin akan
unsur hara, khususnya unsur hara mikro yang sangat diperlukan oleh tanaman untuk meningkatkan
hasil dan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit (Syaifudin dkk., 2010). Untuk
mengatasi hal tersebut maka perlu dilakukan peningkatan kesuburan tanah menggunakan bahan
organic yang ramah lingkungan. Serta memberikan pengaruh pertumbuha yang baik bagi pertumbuhan
tanaman, yaitu menggunakan limbah air tahu dan kotoran kerbau.
Air limbah tahu sendiri didefinisikan sebagai air sisa penggumpalan tahu yang
dihasilkan selama proses pembuatan tahu (Lestari, 1994). Pabrik tahu di Indonesi mengalami
kesulitan dalam mengelola limbahnya. Bahkan, tak jarang pengusaha industri tersebut
membuang limbah cair mereka tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja
merugikan lingkungan. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, limbah cair tahu
2

mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Menurut Handajani (2005) limbah cair
tahu tersebut dapat dijadikan alternatif baru yang digunakan sebagai pupuk sebab di dalam
limbah cair tahu tersebut memiliki ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan
oleh tanaman.
Menurut Farida (2007), kandungan unsur kimia dalam 100 ml limbah cair tahu adalah
air sebanyak 4,9 gram, protein 17,4 gram, kalsium 19 miligram, fosfor 29 miligram, dan zat
besi 4 miligram. Limbah cair tahu juga mengandung karbohidrat, lemak, besi, serta nitrogen
dan kalium yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Menurut Sediaoetomo (1999), limbah cair
tahu merupakan hasil sampingan dari industri pembuatan tahu yang belum banyak
dimanfaatkan selama ini. Setelah ditelusuri lebih lanjut limbah cair tahu mengandung zat-zat
seperti protein, kalori, lemak, dan karbohidrat. Bahan-bahan organik tersebut dapat didaur
ulang oleh mikroba, sehingga dapat menjadi unsur hara potensial untuk meningkatkan
pertumbuhan tanaman.
Kotoran kerbau merupakan bahan organik yang mudah terurai sehingga apabila tidak
dikelola dengan benar dapat meninmbulkan pencemaran lingkungan baik secara biologi,
kimia, maupun fisik.pengolahan limbah ternak yang tidak tepat dapat menyebabkan
pencemaran pada air, tanah dan udara, berdampak pada penurunan kualitas lingkungan,
kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik social. Pengolahan limbah
yang dilakukan dengan baik selain dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan juga
memberikan nilai ekonomis terhadap usaha ternak.
Salah satu pemanfaatan limbah kotoran ternak kerbau adalah sebagai sumber energi
biogas dan kompos. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari bahan – bahan organik yang
mengalami fermentasi oleh bakteri dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen dari udara). Selain
menghasilkan biogas sebagai energi, fermentasi anaerob ini juga menghasilkan sludge biogas
hasil ikutan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian limbah air tahu dan kotoran kerbau terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman cabai rawit (Capsicum frustescens L. ).
1.2 Rumusan Masalah
1. apakah terdapat pengaruh limbah air tahu dan kotoran kerbau terhadap pertumbuahan dan
produksi tanaman cabai rawit.?
2. berapa dosis pengaplikasian limbah air tahu dan kotoran kerbau yang tepat untuk
memberikan pengaruh yang efektif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.?
1.3 Tujuan Penelitian
3

1. utnuk mengetahui pengaruh limbah cair tahu dan kotoran kerbau terhadap pertumbuhan dan
produksi tanaman cabai rawit.
2. untuk mengatahui berapa dosis pengapliaksian limbah air tahu dan kotoran kerbau terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang upaya meningkatkan
produktifitas tanaman cabai rawit dengan memanfaatkan limbah air tahu dan kotoran kerbau sekaligus
sebagai solusi dalam mengatasi limbah air tahu dan kotoran kerbau.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori


1. Tanaman Cabai Rawit
Cabai rawit (Capsicum frustescens L.) merupakan tanaman holtikultura yang cukup penting
dan banyak dibudidayakan, terutama di pulau jawa. Cabai rawit termasuk tanaman semusim (annual)
berbentuk perdu, berdiri tegak dengan batang berkayu, dan banyak memiliki cabang. Tinggi tanaman
dewasa antara 65‐120 cm. lebar mahkota tanaman 50‐90 cm (Setiadi, 2006)
Tanaman cabai rawit mudah dikenali, yaitu tanaman yang berupa perdu yang berkayu yang
tumbuh tegak mempunyai tinggi 50‐90 cm, dan batang cabai sedikit mengandung zat kayu, terutama
yang dekat dengan permukaan tanah, tanaman cabai adalah tanaman yang memproduksi buah yang
mempunyai gizi yang cukup tinggi. Tanaman cabai selain sebagai sayuran juga dapat digunakan
sebagai tanaman obat (Setiadi, 2006)
Terdapat 3 macam buah cabai, yang besar agak pendek, besar panjang dan yang kecil (cabai
rawit) cabai besar agak lonjong rasanya kurang pedas, berwarna merah dan hijau tetapi konsumen di
Indonesia biasanya menyukai ketika masih berwarna hijau, untuk sayur, ataupun dimakan mentah
sebagai lalap. Demikian pula cabai besar yang panjang kebanyakan dipetik setelah berwarna merah,
sebagai pencampur sayur atau dikeringkan sebagai tepung (Kartasapoetra, 1988)
Cabai rawit rasanya sangat pedas, sangat baik dijadikan saus, sambal atau dikeringkan
dijadikan tepung. Tepung cabai banyak diperlukan baik oleh perusahaan pembuat makanan dan
pembuat atau pencampur obat tradisional. Harganya mahal, oleh karena itu kalau para petani
membudidayakan tanaman ini, sebaiknya sebagian hasilnya diolah menjadi tepung untuk di ekspor
(Kartasapoetra, 1988)
Tanaman cabai berasal dari benua Amerika, tepatnya Amerika Latin dengan garis lintang 0‐30
LU dan 0‐30 LS. (Setiadi, 2006). Prajnanta (2007) menambahkan bahwa tanaman cabai berasal dari
Peru. Ada yang menyebutkan bahwa bangsa Meksiko kuno sudah menggemari cabai semenjak tahun
7000 jauh sebelum Colombus menemukan benua Amerika (1492). Christophorus Colombus kemudian
menyebarkan dan mempopulerkan cabai dari benua Amerika ke Spanyol pada tahun 1492. Pada
awal tahun 1500‐an, bangsa Portugis mulai memperdagangkan cabai ke Macao dan Goa, kemudian
masuk ke India, Cina, dan Thailand. Sekitar tahun 1513 kerajaan Turki Usmani menduduki wilayah
Portugis di Hormuz, Teluk Persia. Di sinilah orang Turki mengenal cabai. Saat Turki menduduki
Hongaria, cabai pun memasyarakat di Hongaria.Cabai rawit banyak dibudidayakan diberbagai
5

negara, hasilnya selain untuk mencukupi kebutuhan sendiri, karena banyak dibutuhkan di
negaranegara yang berhawa dingin (Kartasapoetra, 1988)
2. Klasifikasi Tanaman cabe rawit
Cabai rawit (Capsicum frustescens L.) memiliki beberapa nama daerah antara lain : di daerah
jawa menyebutnya dengan lombok japlak, mengkreng, cengis, ceplik, atau cempling. Dalam bahasa
Sunda cabai rawit disebut cengek. Sementara orang-orang di Nias dan Gayo menyebutnya dengan
nama lada limi dan pentek. Secara internasional, cabai rawit dikenal dengan nama thai pepper
(Tjandra, 2011). Menurut Simpson (2010), klasifikasi cabai rawit adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathopyta
Sub divisi : Angiospermae
Classis : Dicotyledonae
Order : Solanales
Family : Solanaceae
Genus : Capsicum
Species : Capsicum frustescens L.

3. Morfologi Tanaman Cabe Rawit


a) Akar
Secara morfologi, akar tersusun atas rambut akar, batang akar, ujung akar, dan tudung akar.
Secara anatomi, akar tersusun atas epidermis, korteks, endodermis, dan silinder pusat. Ujung akar
merupakan titik tumbuh akar. Ujung akar terdiri atas jaringan meristem yang sel-selnya berdinding
tipis dan aktif membelah diri. Tudung akar berfungsi untuk melindungi akar terhadap kerusakan
mekanis pada waktu menembus tanah. Tudung akar mengandung lendir di bagian luar, untuk
memudahkan akar menembus tanah.
Pada akar, terdapat rambut-rambut akar yang merupakan perluasan permukaan dari sel-sel
epidermis akar. Fungsi rambut-rambut akar adalah untuk memperluas daerah penyerapan air dan
mineral. Rambut-rambut akar hanya tumbuh dekat ujung akar dan umunya relatif pendek. Apabila
akar tumbuh memanjang ke dalam tanah maka pada ujung akar yang lebih muda akan terbentuk
rambut-rambut akar yang baru, sedangkan rambut akar yang lebih tua akan hancur dan mati.
b) Batang
6

Tanaman cabai rawit merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Batang akan
tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak percabangan. Batang tanaman cabai
rawit berwarna hijau, hijau tua atau hijau muda. Pada batang yang lebih tua, pada umumnya yang
paling bawah, akan muncul warna coklat seperti kayu yang diperoleh dari pengerasan jaringan
parenkim.
c) Daun
Bentuk daun tumbuhan cabai rawit bervariasi menurut spesies dan varietasnya, yaitu
berbentuk oval dan lonjong. Warna permukaan daun bagian atas biasanya hijau muda, hijau, hijau tua,
bahkan hijau kebiruan. Permukaan daun bagian bawah umumnya berwarna hijau muda, hijau pucat
atau hijau. Permukaan daun cabai ada yang halus ada pula yang berkerut-kerut. Ukuran panjang daun
cabai antara 3-11 cm, dengan lebar antara 1-5 cm.
d) Daun
Bunga tanaman cabai rawit bervariasi, namun memiliki bentuk yang sama, yaitu bentuk
bintang yang menunjukkan bahwa tanaman cabai rawit termasuk dalam sub kelas asteridae (berbunga
bintang). Bunga biasanya tumbuh pada ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam
tandan. Dalam satu tandan biasanya terdapat 2-3 bunga saja.
e) Buah dan biji
Tanaman cabai memiliki bentuk buah yang bervariasi sesuai dengan varietasnya. Ada buah
yang berbentuk bulat sampai bulat panjang dengan bagian ujung meruncing, mempunyai 2-3 ruang
yang berbiji banyak. Buah yang masih muda umumnya berwarna hijau, putih kekuningan, dan ungu
bergantung pada varietasnya.
Buah yang sudah tua umumnya berwarna kuning sampai merah. Bentuk biji cabai adalah kecil,
bulat pipih seperti ginjal, dengan warna kuning kecoklatan. Tanaman cabai mulai berbunga pada umur
60-75 hari setelah disemaikan dan proses penuaan buah berlangsung antara 50-60 hari sejak bunga
mekar.
4. Syarat Tumbuh
Tanaman cabai rawit sebagai tanaman hortikultura membutuhkan Syarat pertumbuhan dalam
kondisi tertentu agar bisa tumbuh subur dan berbuah rimbun. Menurut Wahyudi (2011), syarat tumbuh
yang harus dipenuhi ketika membudidayakan cabai rawit adalah :
a) Jenis tanah
Cabai rawit tumbuh baik di tanah bertekstur lempung, lempung berpasir,dan lempung berdebu.
Namun, cabai ini masih bisa tumbuh baik pada tekstur tanah yang agak berat, seperti lempung berliat.
Beberapa kultivar cabai rawit local bahkan bisa tumbuh dengan baik pada tekstur tanah yang lebih
berat lagi, seperti tekstur liat berpasir atau liat berdebu.
7

b) Ketinggian tempat penanaman


Karena sifat adaptasinya paling luas diantara jenis cabai, maka sebagian besar cabai rawit bisa
ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, cabai rawit yang ditanam di dataran tinggi
akan mengalami umur panen dan masa panen yang lebih lama, tetapi hasil panennya masih relatif
sama dibandingkan dengan jika kultivar yang sama ditanam di dataran rendah
c) pH tanah optimum
Cabai rawit menghendaki tingkat kemasaman tanah optimal, yaitu tanah dengan nilai pH 5,5 –
6,5. Jika pH tanah kurang dari 5,5, tanah harus diberi kapur pertanian. Pada pH rendah, ketersediaan
beberapa zat makanan tanaman sulit diserap oleh akar tanaman, sehingga terjadi kekurangan beberapa
unsur makanan yang ahirnya akan menurunkan produktivitas tanaman. Menurut Tjandra (2011),
derajat keasaman tanah atau pH tanah nertal berkisar 6-7.
Gardner dkk. (1991), mengatakan bahwa pH tanah merupakan faktor utama yang
mempengaruhi daya larut dan mempengaruhi ketersediaan nutrient tanaman. Kebanyakan nutrien
lebih banyak tersedia dalam nilai pH antara 6,0 dan 7,0. Ca, Mg, K, dan Mo lebih banyak tersedia
dalam tanah yang basa, dan Zn, Mn, B kurang tersedia. Fe, Mn, dan Al mungkin dapat larut sampai
ketingkat beracun dalam tanah yang sangat asam.
d) Intensitas cahaya dan Curah Hujan
Sama seperti tanaman hortikultura buah lainnya, tanaman cabai rawit juga memerlukan lokasi
lahan yang terbuka agar memperoleh penyinaran cahaya matahari dari pagi hingga sore. Selain itu
tanaman ini menyukai lahan dengan sistem drainase yang lancar, terutama pada musim hujan.
Menurut Sitompul dan Bambang (1995), tanaman yang kurang cahaya akan mempunyai jumlah sel
lebih sedikit dengan habitus lebih tinggi dari tanaman yang memperoleh banyak cahaya.
5. Budidaya Daya Tanaman Cabai Rawit
1. Pembibitan
Biji cabe rawit harus disemaikan lebih dulu sebelum ditanam. Untuk mempercepat
pertumbuhannya , biji cabe sebaiknya direndam dahulu dalam air selama 24 jam sebelum
ditanam. Perlu diperhatikan bahwa biji cabe yang baik adalah biji yang betul-betul masak
dan kering. Cara menyemai biji cabe bermacam-macam , ada yang menggunakan kotak
pesemaian, pesemaian di lapangan, kantung plastik atau kantung dari daun kelapa, enau,
pisang dll. Tanah yang digunakan untuk pesemaian menggunakan tanah yang subur dan
bebas dari gangguan hama dan penyakit.
Pesemaian sebaiknya menggunakan atap dari daun rebu, daun kelapa maupun daunan
lainnya agar suasana menjadi lebih lembab dan tanaman tidak terkena sinar matahari
langsung. Atap dapat dibuka atau ditutup menurut keperluan. Kalau pagi sampai jam 10.00
8

atap dibuka, kemudian sesudah panas lebih dari jam 10.00 atap ditutup kembali . Kalau
persemaian dibuat dalam kotak kecil dapat dimasukkan dalam rumah.
2. Pengolahan Tanah
Tanah harus dibajak dan dicangkul cukup dalam. Maksud pencangkulan tanah adalah untuk
membalik tanah dan menggemburkan tanah. Tanah liat walaupun sudah dicangkul atau dibajak
menjadi gembur , cangkul lebih dalam (30-40 cm) dan diberi pupuk organis, misalnya kompos atau
pupuk kandang dan dapat ditambahkan pasir. Bila pupuk organis jumlahnya terbatas, maka
pemberiannya cukup pada jarak 60 x 60 cm. Pupuk organik, pasir dan tanah dicampur merata. Pupuk
organik selain menggemburkan tanah juga dapat menambah unsur hara . Pupuk organik yang
diberikan sebaiknya sudah matang atau sudah menjadi tanah. Pupuk yang mentah biasanya masih
panas sehingga dapat menyebabkan tanaman cabe menjadi layu dan mati.
3. Pembuatan Bedengan
Bedengan dapat dibuat dengan ukuran lebar sekitar 90, 100 atau 125 cm dengan melihat
kondisi tanah. Tinggi bedengan sekitar 20-30 cm , tergantung keadaan lahan , kalau lahan sering
tergenang air pada waktu musim hujan maka bedengan dipertinggi. Jarak antar bedengan sekitar 40-5-
cm atau dapat dipersempit menjadi 30-35 cm.
4. Pemupukan Dasar
Pada waktu menanam cabe , tanah harus tersedia unsur hara yang cukup, maka bedengan yang
telah dipersiapkan dapat diberi pupuk organik berupa pupuk kandang yang sudah matang. Pupuk
tersebut dapat disebarkan ke seluruh permukaan bedengan atau hanya ditempat tanaman cabe akan
ditanam. Selain itu dapat ditambahkan pula pupuk SP 36 100 kg perhektar untuk menambah unsur P
sedangkan pupuk lainnya dapat diberikan kemudian.
5. Penanaman
Bibit cabai dapat dipindahkan setelah tumbuh setinggi kira-kira 15 cm di pesemaian.
Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 60 x 90 cm. Pada saat pengambilan semai di lapangan atau
semai kotak dapat menggunakan solet yang ditusukan dengan cara miring dan diangkat keatas
sehingga semai akan terangkat ke atas. Tempat yang akan ditanami semai dibuat lubang sedalam akar
tunggang. Setelah ditanam segera disiram dan diberi penutup pelepah pisang atau daun-daunan supaya
tidak layu. Bila semai berasal dari kantung plastik, maka kantong plastik harus disobek lebih dulu
pelan-pelan sehingga media tanahnya tidak pecah. Kalau media tanam pecah ada kemungkinan
tanaman akan menjadi layu. Bila plastik tidak disobek lebih dulu , di kemudian hari akar akan
melingkar tidak dapat berkembang(Hariyadi, Ali, & Nurlina, 2017). Setelah bibit cabe ditanam
sebaiknya segera disiram air untuk menjaga kelembaban dalam tanah dan kelembaban tanaman.
6. Penyiraman, Drainase dan Mulsa
9

Tanaman cabe sebaiknya sering disiram terutama pada saat musim kemarau karena tanahnya
cepat kering. Tanaman yang terlalu lama kekeringan maka pertumbuhannya akan kerdil . Untuk
menghindari kekeringan dapat menggunakan mulsa dari dedaunan maupun dari jerami padi, Mulsa
dari daun lama kelamaan akan menjadi pupuk organik sehingga menambah kesuburan tanah.
Jika menanam cabe pada musim hujan diusahakan jangan sampai tergenang air. Bila tanaman
cabe terlalu lama tergenang air, akar-akarnya dapat menjadi busuk, daun mudah rontok dan akhirnya
tanaman mati.
7. Penyiangan
Bila di lahan banyak gulma maka harus segera disiangi agar tidak menjadi pesaing bagi
tanaman cabai untuk mendapatkan unsur hara. Jika dalam jangka waktu lama gulma tidak segera
disiang, tanaman cabe akan menjadi kurus dan kerdil. Namun pencabutan gulma perlu dilakukan hati-
hati agar tidak merusak tanaman cabenya. Untuk mengurangi munculnya gulma dapat juga
menggunakan herbisida sebelum bibit cabe ditanam.
8. Penggemburan
Tanah yang terlalu padat harus digemburkan dengan cara dicangkul (didangir) . Tanah yang
gembur peredaran udaranya menjadi lebih baik, sehingga perakaran menjadi lebih sehat. Pada waktu
menggemburkan tanah harus hati-hati, jangan terlalu dalam sebab jika terlalu dalam dapat merusak
perakaran. Akar yang luka tau putus juga mudah terkena infeksi sehingga tanaman menjadi sakit dan
mati.
9. Pemupukan
Tanaman cabe yang telah ditanam sekitar satu minggu dapat segera dipupuk dengan pupuk N,
K atau campuran urea dan KCl sebanyak 2 gram setiap tanaman. Pupuk SP 36 tidak perlu diberikan
lagi karena sudah diberikan sebelum penanaman sebagai pupuk dasar. Pada waktu melakukan
pemupukan tidak boleh mengenai batang karena akan merusak batang. Pada waktu tanaman berumur
2-3 minggu dipupuk lagi sebanyak 5 gram per pohon. Penggunaan pupuk daun maupun zat
perangsang tumbuhan dapat diberikan sesuai dosis anjuran dalam label kemasan.
10. Pengendalian Hama dan Penyakit
Tanaman cabe banyak diserang hama seperti thrips, kutu daun, lalat buah dan lainnya , serta
penyakit seperti antraknosa, layu bakteri, layu fusarium, bercak daun cercospora, busuk buah , daun
keriting. Adapun bberapa gejala dan pengendaliannya sebagai berikut :
a. Kutu daun Aphis gossypii
Kutu daun terdapat dimana-mana dan makan segala macam tanaman. Kutu daun menyerang
daun yang masih muda dan tunas muda. Daun muda yang dihisap , pertumbuhan tidak normal, kerdil
berkerut dan keriting. Kutu apis ini dapat menularkan penyakit virus , daun menjadi kerinting .
10

Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan
memijit menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis
sesuai anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti
kumbang macan . Dapat pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari
ke balik (bawah ) daun tempat hama bersembunyi.
b. Thrips tabacci
Thrips menyerang hampir semua tanaman misal cabe, tomat, sayuran daun, kentang ,
tembakau dll. Thrips menghisap cairan pada permukaan daun dan bekasnya berwarna putih seperti
perak. Bila serangan hebat akan terda[at banyak bercak dan warna daun menjadi putih. Daun yang
diserang hama ini akan menggulung, bentuknya tidak normal dan menjadi keriting. Karena thrips
menjadi vektor virus, maka seringkali kelihatan ada mosaik pada daun yang diserang hingga
pertumbuhan menjadi kerdil, daun sempit mengecil dan keriting.
Thrips pada umumnya bersembunyi dibalik daun sambil menghisap cairan. Pengendalian
secara mekanik dapat dilakukan bila jumlah tanaman terserang sedikit yaitu dengan memijit
menggunakan tangan. Sedangkan secara kimia dapat menggunakan insektisida dengan dosis sesuai
anjuran. Atau dapat juga dilakukan pengendalian biologi dengan menggunakan predator seperti
kumbang macan . Dapat pula menggunakan kertas aluminium yang dapat memantulkan sinar matahari
ke balik (bawah ) daun tempat hama bersembunyi.
c. Lalat buah Dacus dorsalis
Buah cabe yang diserang lalat ini bentuknya menjadi kurang menarik dan ada benjolan. Buah
cabe akhirnya terkena cendawan sehingga menjadi busuk . Buah cabe yang terserang sering dikira
terserang penyakit. Untuk membuktikannya sebaiknya buah dibelah dan bila terdapat larva kecil putih
berarti diserang lalat buah. Pengendalian dengan menggunakan sex pheromon seperti metil eugenol
untuk memikat lalat jantan. Kalau lalat jantan berkurang maka keturunannya juga akan berkurang.
e. Daun keriting chilli
Daun cabe yang terserang menjadi keriting dan warnanya menguning, bila serangan hebat
pertumbuhan menjadi kerdil. Tanaman cabe yang terserang ruas-ruasnya menjadi pendek, daun
menjadi kecil dan tepi daun melengkung ke atas. Penyakit ini banyak menyerang di musim
kemarau.Cabe yang telah terserang tanaman ini harus dicabut dan dibakar, gulma harus dibersihkan
dan dapat diberikan insektisida sistemik secara rutin dengan dosis anjuran sebelum tanaman terserang.
f. Pasca Panen
Tanaman cabe rawit dapat dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sesudah disemai. Panenan
berikutnya dapat dilakukan 1-2 minggu tergantung dari kesehatan dan kesuburan tanaman. Untuk
tanaman cabe rawit bila dirawat dengan baik dapat mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan
11

pemangkasan dan pemupukan kembali setelah tanaman dipanen. Pemupukan kembali dapat
memberikan pupuk
Cabe yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban 95-98 % dapat tahan sekitar 4
minggu dan pada 10 o C masih dalam keadaan baik sampai 16 hari.
6. Limbah Air Tahu
Tahu merupakan salah satu jenis makanan sumber protein dengan bahan dasar kacang kedelai
yang sangat akrab khususnya bagi masyarakat Indonesia dan bahkan Asia umumnya. Berdasarkan
laporan proyek Environmental Management Development in Indonesia atau EMDI [4], pada tahun
1990, jumlah industri tahu di Indonesia tercatat sebanyak 25.870 dan 63 diantaranya merupakan
industri skala besar dan menengah, sedangkan sisanya berskala kecil.
Limbah tahu adalah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu. Limbah tersebut
berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, tetapi
limbah cair apabila langsung dibuang ke sungai akan menyebabkan tercemarnya sungai tersebut. Oleh
sebab itu, limbah cair tahu harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan untuk
mengurangi konsentrasi kandungan pencemar yang menyertai limbah tersebut.
Suatu hasil studi tentang karakteristik air buangan industri tahu-tempe di Medan, dilaporkan
bahwa air buangan industri tahu rata-rata mengandung BOD, COD, TSS dan minyak/ lemak berturut-
turut sebesar 4583, 7050, 4743, dan 26 mg/l. Sementara EMDI – Bapedal melaporkan kandungan
rata-rata BOD, COD dan TSS berturut-turut sebesar 3250, 6520, dan 1500 mg/l. Bila dibandingkan
dengan baku mutu limbah cair industri produk makanan dari kedelai menurut kepMenLH No. Kep-
51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri, kadar maksimum yang
diperbolehkan untuk BOD5, COD dan TSS berturut-turut sebesar 50, 100, dan 200 mg/l, sehingga
jelas bahwa limbah cair tahu ini telah melampaui baku mutu yang dipersyaratkan.
7. Kotoran Kerbau
Kotoran kerbau pada umumnya petani menyebutnya sebagai pupuk dingin karena proses
penguraiannya membutuhkan waktu lama, dan memaksimalkan penggunaan kotoran kerbau harus
menggunakan kotoran kerbau yang sudah terurai dan sudah lapuk . bila pupuk kandang dengan kadar
air yang tingi diaplikasikan secara langsung akan memerlukan tenaga yang lebih banyak serta proses
pelepasan amoniak masih berlangsung. Ada dua istilah dalam kotoran ternak yaitu pupuk panas dan
pupuk dingin. Pupuk panas adalah pupuk yang proses penguraiannya berlangsung cepat sehingga
terbentuk panas, misalnya pupuk kandang dari kuda, kambing, domba, dan ayam. Sedangkan pupuk
dingin terjadi sebaliknya, C/N rasio yang tinggi menyebabkan kotoran terurai lebih lama dan tidak
menimbulkan panas, misalnya pada sapi, kerbau, dan babi. Cirri fisiknya yakni berwarna kehitaman,
cukup kering, tidak berbau menyengat. Ciri kimiawinya adalah C/N rasio kecil (bahan pembentuknya
12

sudah tidak terlihat) dan temperaturnya relatif stabil (Novizan, 2002). Efek ari kelebihan kotoran
kerbau akan menimbulkan pencemaran nitrat (NO3) dan ammonia (NH3) sehingga menyebabkan
eutrofikasi (eutropication). Disamping itu sering sering pula tidak tersedia bagi tanaman, karena
diserap oleh mikroorganisme untuk kebutuhan hidupnya.
2.2 Kerangka Berpikir
Kebutuhan masyarakat akan cabai rawit sangat meningkat, namun hasil dan kwalitas tanaman
cabai rawit masih rendah dikarenakan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Oleh sebab itu
dalam penelitian ini saya menggunakan pupuk organik yaitu limbah air tahu dan kotoran kerbau yang
diaplikasikan pada tanaman cabai. Dengan pengaplikasian pupuk tersebut dapat memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan cabai rawit, dan hasil produksinyapun dapat meningkat.

Tanaman cabe rawit

Permintaan meningkat

Meningkatkan hasil
Dan kuailitas cabai rawit

Pemanfaatan Limbah Pemanfaatan Kotoran

Air Tahu Kerbau

Hasil Produksi Tanaman


Cabai Rawit Meningkat
13

2.3 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah
1. Diduga bahwa pemberian limbah air tahu dan kotoran kerbau berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.
2. Diduga terdapat satu atau lebih dosis pengaplikasian limbah air tahu dan kotoran kerbau
yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.
14

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat Dan Waktu


Penelitian ini akan dilaksanakan di lahan pertanian Univerisitas Cokroaminoto Palopo yang
terletak di jalan Lamaraginang, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo.waktu
penelitian dimulai
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang diguanakan dalam penelitian ini adalah benih cabai rawit, limbah air tahu dan
kotoran kerbau.
Alat yang diguanakan dalam penelitian ini adalah cangkul, penggaris, alat tulis, kamera,
meteran, dan timbangan.
3.3 Metode percobaan
Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang teridiri dari 4
perlakuan yang diulang sebanyak 6 kali sehingga hasilnya terdapat 24 unit satuan percobaan dan
setiap unit percobaan terdiri atas atas 2 tanaman sehingga terdapat 48 tanaman yang diamati. Adapun
perlakuan yang diberikan antara lain sebagai berikut :
P0 = Tanpa perlakuan
P1 = 100 ml limbah air tahu + 100 gram kotoran kerbau
P2 = 200 ml limbah air tahu + 200 gram kotoran kerbau
P3 = 300 ml limbah air tahu + 300 gram kotoran kerbau
P4 = 400 ml limbah air tahu + 400 gram kotoran kerbau
3.4 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Persiapan lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan cara lahan dibersihkan dari gulma, selanjutnya dilakukan
penggemburan tanah dengan cara mengcangkul tanah dengan kedalaman 30-40 cm, kemudian lahan
yang sudah cangkul dibiarkan terkena cahaya matahari selama 3 hari. Lalu bedengan dibuat dengan
tinggi 30 cm, lebar 50 cm, dan jarak antar tanaman 30 cm. kemudian panjang bedengan disesuaikan
dengan kondisi lahan.
2. Penyemaian
Penyemaian dimulai dengan merendam benih dalam air hangat selama satu hari satu malam.
Hal ini untuk merangsang akar agar menunjukkan benih yang paling berkualitas. Setelah perendaman
maka pilihlah benih yang mengendap ke dalam air dan buanglah benih yang mengapung. Setelah itu,
15

siapkan benih persemaian. Media persemaian dapat menggunakan tanah yang telah di gemburkan dan
terbuat dari campuran tanah dengan pupuk organic. Setelah itu masukkan benih satu persatu ke dalam
media gelas aqua yang telah di isi tanah dan kemudian tutupi tanah kembali. Berikan perawatan
persemaian hingga muncul sebanyak 4 helai.
3. Penanaman
Penanaman cabai dapat dilakukan dipagi hari, bedengan yang telah dibuat dengan ukuran yang
telah ditentukan, dibuatkan lubang dengan kedalaman 4-3 cm dengan jarak tanam yang telah
ditentukan. Setiap lubang diisi sebanyak 1 bibit perlubang tanam lalu kemudian ditutupi dengan
tanah. setelah semua bedengan terisi dengan bibit, maka selanjutnya dilakukan penyiraman yang
bertujuan untuk membantu pertumbuhan bibit dengan baik.
4. Pengaplikasian
Sebelum dilakukan pengaplikasian terlebih dahlu mempersiapkan bahan aplikasi yang akan
digunakan yaitu limbah air tahu dan kotoran kerbau. Limbah air tahu diperoleh dari tempat pembuata
tahu, lalu kemudian dilakukan fermentasi terlebih dahulu sebelum diaplikasikan, Sedangkan kotoran
kerbau diperoleh dari kandang ataupun di tempat peternakan kerbau. Selanjutnya pengaplikasi
dilakukan sesuai dengan rancangan penelitian yang telah ditentukan. Pengaplikasian dilakukan
sebanyak satu kali selama proses penelitian berlangsung.
5. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan dengan cara penyiraman, penggemburan tanah, dan penyiangan.
Penyiraman dilakukan satu kali sehari yakni sore hari. Sedangkan penyiangan dan penggemburan
tanah dilakukan dua kali seminggu dengan cara mencabut rumput atau gulma yang ada disekitar
bedengan dan sekaligus dilakukan penggemburan tanah.
6. Pengamatan
Proses pengamatan dilakukan satu minggu sekali setelah tanaman, yakni pada pagi dan sore
hari. Pengamatan ini dilakukan berdasarkan parameter yang telah ditentukan. Tanaman diamati hingga
akhir penelitian.
3.5 Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan yang diamati dalam penelitian ini yaitu :
1. Tinggi tanaman (cm)
2. Jumlah daun (helai)
3. Jumlah buah (buah)
4. berat buah segar (gram)
5. Umur berbunga (HST)
6. Jumlah buah (buah)
16

7. Umur panen (buah)


8. Diameter batang (cm)
17

KATA PENGANTAR
Segala puji penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia
yang telah diberikan, sehingga proposal penelitian skripsi yang berjudul “Efeaktifitas
pemanfaatan limbah air tahu dan kotoran kerbau terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman cabai rawit.” ini dapat terselesaikan dengan baik.
Adapun maksud dan tujuan diajukannya proposal penelitian skripsi ini adalah untuk
mempelajari hasil dari pemberian limbah air tahu dan kotoran kerbau terhadap tanaman cabai
rawit terutama pada produksinya. Selain itu juga dapat diketahui dosisi yang tepat pemberian
limbah air tahu dan kotoran kerbau agar pertumbuhan dan produksinya mencapai nilai yang
maksimal
Penulisan proposal penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan atau informasi
tentang upaya peningkatan produksi tanaman menggunakan bahan organik. Selain itu, kritik
dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca sekalian agar
proposal ini bisa lebih baik lagi.

Palopo, 4 Maret 2019

Penulis