Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS SEMANTIK TERHADAP SURAT AL-INSYIRAH

PROPOSAL TESIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh


Gelar Magister dalam bidang Ilmu Al Qur’an dan Tafsir pada
Pascsarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Oleh
NIDA AMALIA KAMAL

PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tidak dipungkiri bahwa Al Qur’an turun ditengah bangsa yang memiliki
tingkat kemajuan yang pesat dalam aspek kebahasaannya. Tradisi sastra, prosa,
dan puisi sudah menjadi tradisi Arab pra-Islam. Al Qur’an yang turun dengan
bahasa Arab memiliki nilai sastra yang unik, fantastik dan spesifik tidak dapat
dijangkau oleh sastrawan manapun. Maka ketika Al Qur’an disampaikan oleh
Nabi Muhammad SAW, mereka tahu bahwa Al Qur’an bukan tutur kata biasa,
baik dilihat dari segi lafal maupun makna, mengungguli segala tutur yang
sebelumnya pernah merka dengra dari para cerdik-cendekia dan pujangga bahasa
(Fushaha). 1
2
Ketidakmampuan bangsa Arab -bahkan siapapun- dalam mendatangkan
karya sastra serupa dengan Al Qur’an membuktikan bahwa Nabi Muhammad
SAW adalah benar-benar utusan Allah SWT dan Al Qur’an adalah wahyu Allah
SWT. Fenomena ini kemudian dalam literatur Islam disebut dengan I’jaz. Ada
banyak aspek I’jaz yang dikemukakan para ulama, 3 salah satu diantaranya adalah
dari aspek kebahasaannya, baik itu i’jaz dalam teks atau i’jaz dalam susunan
4
(nazm) bahasa teks. Struktur bahasa Al Qur’an yang mengandung I’jaz dapat
dilihat dari beberapa segi, diantaranya struktur Al Qur’an dilihat dari berbagai
aspek dan penjelasan modelnya yang berada di luar struktur kalimat yang biasa
digunakan oleh orang Arab, serta kepemilikan fashahah kalimat yang demikian
halus, aneh, dan mengemukakan daya kreatif, makna-makna yang lembut, faedah
yang melimpah ruha, hikmah yang luar biasa, keselarasan dalam balaghah,
1
Issa J Boullata, Al Qur’an yang menakjubkan, (Lentera hati: Tangerang, 2008), h. 1
2
Diantara ayat Al Qur’an yang menjelaskan ketidakmampuan manusia dalam menyaingi Al
Qur’an adalah Q.S. Al Isra’/17 : 88 dan Q.S Al Baqarah/2 : 24
3
M.Quraish Shihab menyebutkan aspek i’jaz Al Qur’an ada 3 : 1) Aspek kebahasaan, 2)
Aspek isyarat ilmiah, dan 3) Aspek pemberitaan Ghaib. Lihat : M.Quraish Shihab, Kaidah Tafsir,
(Lentera hati ; Tangerang, 2015)
4
Asep N. Musadad, Kemunculan Lingua Sarca Dalam Sejarah Al Qur’an (Perspektif John
Wansbrough), Jurnal Vol. 17, No.1, Januari 2016, hal.26

1
2

penggunaan istilah yang samar dan mahir yang demikian panjang dan mencukupi.
5

Keindahan struktur bahasa Al Qur’an tersebut menunjukkan bahwa teks Al


Qur’an bukan sekedar seperangkat bahasa dan struktur komunikasi yang diklaim
merefleksikan suatu gaya bahasa yang indah, karena ketepatan pilihan diksi-diksi
yang digunakan; terasa magis dan puitik. Dengan gaya sastrawi khas seperti
itulah, Al Qur’an tampil sebagai suatu loncatan revolusioner dari mainstream
kepenyairan masyarakat Arab saat itu. 6
Kekhasan dan keunikan bahasa Al Qur’an tersebut memunculkan
pandangan bahwa bahasa Al Qur’an berbeda dengan bahasa Arab reguler. Hal ini
menjadi sasaran empuk bagi sebagian orientalis untuk menyerang otentitas Al
Qur’an dan mendiskreditkannya. Para orientalis dalam kajiannya terhadap Bahasa
Al Qur’an, berpendapat bahwa Al Qur’an banyak dipengaruhi oleh kosakata
bahasa asing. Abraham Geiger (1810-1874), seorang tokoh pendiri Yahudi Liberal
di Jerman mengatakan bahwa AL Qur’an banyak dipengaruhi oleh Yahudi. 7 Lebih
jauh, Christoph Luxenberg (nama samaran) mengklaim bahwa bahasa Al Qur’an
sebenarnya adalah bukan bahasa Arab, melainkan banyak dipengaruhi oleh bahasa
Syiriak-Aramaik sehingga banyak kata atau ungkapan yang sering dibaca keliru
dan sulit dipahami, kecuali merujuk ke Syiriak-Aramaik yang konon merupakan
Lingua Franca pada masa itu. 8
Serangan terhadap bahasa Al Qur’an tidak hanya datang dari orientalis
Barat, hal seperti juga dilakukan oleh pemikir Islam sendiri. Diantaranya Abdul
Moqsith Ghazali dkk dalam bukunya Metodologi Studi Al Qur’an mengklain

5
Lihat Issa J Boullata, Al Qur’an yang menakjubkan, h. 117-118
6
Islah Gusmian, Lompatan stilistik dan transformasi dunia makna Al Qur’an, Jurnal Studi
Al Qur’an, Vol. II, No. 2, 2007, (Pusat Studi Qur’an; Jakarta, 2007)
7
Dalam essainya yang diterbitkan dalam bahasa Jerman (1833) dengan judul : Was Hat
Mohammed aus dem jdenthume aufgenommen?, menyebutkan bahwa kata-kata dalam Al Qur’an
seperti : Tabut, Taurat, Jannatu, Jahannam, Akhbar, Thagut, Ma’un, Malakut berasal dari bahasa
Ibrani. Lihat. Andrew Rippin, Introduction to the Qur’an: Style and Contents (Hampshire: Ashgate
Publishing Limited, 2001), h.xi.
8
Khaeruddin Yusuf, Orientalis dan Duplikasi Bahasa Al Qur’an (Telaah dan Sanggahan
atas Karya Christoph Luxenberg), Jurnal Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol 9, No. 1, Juni 2010,
h. 157.
3

adanya kesalahan gramatika dalam Al Qur’an berdasarkan Hadits yang


diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam bukunya Fadhailal Qur’an. 9
Penyimpangan seperti diatas dapat terjadi karena mereka memandang Al
Qur’an sebagai sebuah teks yang dapat disejajarkan dengan kitab-kitab berbahasa
Arab lainnya. Dalam kajian tekstualitas Al Qur’an, para orientalis, bahkan
beberapa intelektual muslim tidak hanya secara berani memposisikam Al Qur’an
sebagai sesuatu yang kultural dan historis, namun juga membedah teks Al Qur’an
dengan pisau bedah ilmu-ilmu Barat.10 Fazlurrahman secara terang-terangan
mengemukakan bahwa : meskipun benar Al Qur’an secara keseluruhan adalah
kata-kata Allah, namun dalam pengertian yang sama, Al Qur’an juga
keseluruhannya merupakan kata-kata Muhammad, karena meskipun Al Qur’an
adalah murni kata-kata Ilahi, namun tetap saja Al Qur’an berkaitan dengan
personalitas paling dalam Nabi Muhammad. 11 Serupa dengan Fazlurrahman, Nasr
Abu Zayd meski tidak mengingkari akan sisi transendensinya teks Al Qur’an yang
merupak kalam Allah, namun baginya, Al Qur’an telah termanusiawikan oleh
lingkaran bahasa dan tradisi yang meliputinya. Sehingga dalam sisi yang lain, Al
Qur’an telah menjadi teks yang profan serta dapan dikaji secara kritis seperti teks-
teks yang menyejarah lainnya. Berdasarkan dari telaah inilah, Nasr Hamid Abu
Zayd berpendapat bahwa teks Al Qur’an adalah produk budaya. 12
Maka dari permasalahan-permasalahan diatas, pemahaman bahasa Arab
dan ilmu bahasanya, baik yang bersifat sinkronis maupun diakronis menjadi
sangat penting dalam memahami atau menafsirkan Al Qur’an. Bahkan,
pengetahuan tentang bahasa Arab menjadi syarat mutlak untuk menarik makna
13
dari pesan-pesan Al Qur’an. Filosof besar Islam al Farabi juga menegaskan

9
Dalam hadits tersebut diriwayatkan bahwa Urwah bin Zubair bertanya kepada Aisyah
tentang lahn (penyimpangan) dalam Al Qur’an. Ayat yang dianggap menyimpang itu adalah Q.S
Thaha : 63, Q.S Al Maidah: 69, dan Q.S Al Nisa; 162. Lihat Abd Moqsith Ghazali dkk,
Metodologi Studi Al Qur’an, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009), h.81
10
Abdullah Mu’afa, Pendekatan Linguistik dalam penafsiran Al Qur’an, Jurnal Islamic
Review, Vol. I, No. 2, Oktober 2012, h. 215
11
Lihat, Fazlurrahman, Islam, (Chicago: University Press, 1979), h. 31-33
12
Nasr Hamid Abu Zayd, Mafhum al Nas: Dirasat fi ‘Ulum al Qur’an, (Beirut: Al-Markaz
al Tsaqafi al ‘Arabi, 2000), h. 24
13
M.Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, h. 35
4

bahwa daam mempelajari al Qur’an dan menyingkap makna yang dikandungnya


hanya bisa dilakukan dengan jalan memperdalam ilmu-ilmu tentang bahasanya. 14
Kajian mengenai kebahasaan Al Qur’an sejatinya telah dimulai semenjak
turunnya Al Qur’an. Dalam konteks ini, tafsir bahasa terbentuk dengan adanya
komunikasi antara dua subjek. Didalamnya terdapat proses decoding dan
encoding antar subjek terhadap sebuah pesan. Karena subjek decoder di sini
ghaib (Tuhan), meski kodenya (bahasa Arab) cukup nyata, maka proses
encodingnya membutuhkan langkah-langkah penjelasan dan pemahaman satu arah
–encoder tidak bisa mengkonfirmasikan makna pada decoder. Inilah yang disebut
pembacaan dan penafsiran yang mengacu pada sistem kodenya dalam menangkap
pesan. Dalam pengertian ini, Nabi Muhammad sebagai mufassir pertama bagi Al
Qur’an dalam menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada umatnya seringkali
menjabarkan makna sebuah kata atau maksud sebuah kalimat dalam Al Qur’an
15
yang tidak dipahami oleh orang-orang sekitarnya. Pada masa sahabat, Ibnu
Abbas16 dalam menafsirkan Al Qur’an sering mengacu kepada puisi-puisi arab pra
Islam untuk menemukan makna kata-kata Al Qur’an yang kabur.17
Seiring dengan berkembangnya disiplin ilmu tafsir dan semakin banyak
mufassir yang menafsirkan al Qur’an dari berbagai sudut keilmuan sesuai dengan
latar belakang keilmuan si penafsir, dibidang ilmu bahasa Zamakhsyari disebut-
sebut sebagai pelopor utama penafsiran al Qur’an pada bidang ini.
Mengesampingkan pemikiran teologi Mu’tazilah dalam tafsirnya, latar belakang
kebahasaannya tentang leksikologi Arab, strukturnya, serta penilaiannya yang
masuk akal adalah karakter penafsirannya.18
Pada era kontemporer, lingkup bahasa dalam kajian tafsir semakin
mengerucut. Pendekatan sastra dalam al Qur’an dimotori oleh Amin Al-Khulli. Al

14
Abdul Qadir Abdul Jalil, At Tanawwu’at al Lughawiyyah, (Aman Jordania : Dar Shifa’ li
Annasyr wa at Tauzi’, 1997), h. 21
15
Lihat, Abdullah Mu’afa, Pendekatan Linguistik dalam penafsiran Al Qur’an, h. 228
16
Selain Ibnu Abbas, terdapat Khulafurrasyidin, Abdullah bin Mas’ud, Ubai bin Ka’ab,
Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair. Sebagian besar sahabah dalam
menafsirkan Al Qur’an terfokus dalam menafsirkan kosakata (leksis) al Qur’an serta penjabaran
makna yang dikandungnya. Dalam hal ini, Ibnu Abbas adalah yang paling besar perhatiannya pada
penafsiran Al Qu’ran, sehingga disebut-sebut sebagai pendiri pertama disiplin ilmu tafsir al
Qur’an.
17
Abdullah Mu’afa, Pendekatan Linguistik dalam penafsiran Al Qur’an, h. 230
18
Ibid, h. 234
5

Khulli menawarkan metode tafsir yang lebih dikenal dengan tafsir sastra terhadap
al Qur’an (al-Tafsir al- Adabi li al Qur’an). Kajian tafsirnya difokuskan pada
analisis linguistik; baik segi sintaksis, gramatikan, semantis, retoris, maupun
psikologi bahasa yang dikomparasikan dengan temuan tafsir terdahulu sebagai
upaya aktualisasi tafsir di era sekarang.19
Pemikiran al Khulli kemudian dilanjutkan oleh muridnya sekaligus
istrinya, ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’. Dalam kitab tafsirnya “al Tafsir al
Bayani li al Qur’an al Karim”, Bintu Syathi’ memaparkan setidaknya metode
tafsir linguistik bermuara pada empat hal20, salah satunya; untuk memahami
petunjuk kata (dilalah al-lafdzi) yang termuat dalam al Qur’an harus dilacak arti
linguistik aslinya dalam pelbagai bentuk penggunaan, baik yang bersifat haqiqi
maupun majazi (metaforis). Dengan demikian, makna al Qur’an diusut dengan
cara mengumpulkan seluruh bentuk bangunan kata itu dalam ayat-ayat dan surat,
sehingga diketahui konteks spesifik atau konteks umumnya dalam al Qur’an
secara keseluruhan.21
Dalam studi kebahasaan (linguistik) bahasa Arab, terdapat empat tataran
bahasa, yaitu fonologi (Makhraj al Huruf), morfologi (‘Ilm Sharf), sintaksis (‘Ilm
Nahw), dan semantik/makna (‘Ilm Dilalah). Fonologi adalah bidang bidang
linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-
bunyi bahasa. Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari dan
menganalisis perubahan kata dalam bahasa. Sedangkan sintaksis adalah bidang
linguistik ang mempelajari dan menganalisis hubungan kata dengan kata lain, atau
unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Dan yang terakhir adalah semantik
yang merupakan bidang linguistik yang mempelajari dan menganalisis makna
kata.22
Berdasarkan uraian diatas, penulis akan memfokuskan pembahasan
semantik pada surat al Insyirah. Meskipun secara garis besar surat al Insyirah

19
Fuad Thohari, Tafsir Berbasis Linguistik “Al Tafsir al Bayani li al Qur’an al Karim”
Karya ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’”, Jurnal Adabiyyat, Vol.8, No. 2, Desember 2009,
h.236
20
Lihat. ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’, Tafsir Bintu Syathi. Terj. Al Tafsir al Bayani
li al Qur’an al Karim oleh Paimin SR, (Bandung: Mizan, 1996), h. 41-42
21
Ibid, h. 178-179.
22
Baiq Raudatussolihah, Analisis Linguistik dalam Al Qur’an (Studi Semantik Terhadap
QS. Al ‘Alaq), 2016 Perpustakaan PPS UIN Alauddin Makassar, h. 7
6

adalah surat yang menegaskan akan adanya kelapangan dalam setiap keadaan,
untuk selalu bersikap optimis dan lapang dada dalam menjalani kehidupan, namun
jika diteliti dari sisi kebahasaannya, pesan yang disampaikan akan lebih luas dan
lebih mendalam, serta mengungkap I’jaz Balaghi yang terkandung dalam surat al
Insyirah.
B. Rumusan Masalah
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa dalam bahasa studi
kebahasaan (linguistik) bahasa Arab, terdapat empat tataran bahasa, yaitu fonologi
(Makhraj al Huruf), morfologi (‘Ilm Sharf), sintaksis (‘Ilm Nahw), dan
semantik/makna (‘Ilm Dilalah). Maka, penulis akan memfokuskan kajian pada
satu titik analisa, yaitu analisa semantik. Adapun kaitannya dengan surat al
Insyirah, penulis merumuskan beberapa sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana makna dan relasi ayat-ayat yang terkandung dalam surat al
Insyirah dalam analisis semantik?
2. Bagaimana I’jaz Balaghi yang terkandung dalam surat al Insyrah?
C. Pengertian Judul dan Ruang Lingkup Penelitian
1. Pengertian Judul
Tesis ini berjudul Analisis Semantik Terhadap Surat Al Insyirah. Untuk
memperjelas pengertian dari judul tersebut, maka berikut ini penulis akan
mengemukakan pengertian frasa atau klausa pada judul tersebut, kemudian
merumuskan definisi oprasionalnya.
Analisis berasal dari bahasa Inggris ‘analysis’ yang berarti; 1) analisa,
pemisahan, dan 2) pemeriksaan yang teliti. 23 Analisis, artinya penyelidikam
terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk
mengetahui keadaan yang sebenanya (sebab musabbab, duduk perkaranya).
Penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang
tepat dan pemahaman arti keseluruhan.24
Semantik secara bahasa berasal dari bahasa Yunani semantikos yang
memiliki arti memaknai, mengartikan dan menandakan. 25 Dalam bahasa

23
John M. Echols dan Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia (Cet. 23; Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 28
24
Departemen Pendidikan Nasioal, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke III (Cet. IV;
Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h, 43
25
Willian Benton, Encyclopedia Britanica (USA: Encyclopedia Britanica Inc., 1965), Vol.
20, h. 313.
7

Yunani, ada beberapa kata yang menjadi dasar kata semantik yaitu
semantikos (memaknai), semainen (mengartikan), dan sema (tanda).26 Dari
kata sema, semantik dapat dipahami sebagai tanda yang memiliki acuan
tertentu dan menerangkan tentang asal dimana kata itu disebutkan pertama
kali. Hal ini senada dengan yang disampaikan oelh Pateda yang
menyetarakan kata semantics dalam bahasa Inggris dengan kata semantique
dalam bahasa Perancis yang mana kedua kata tersebut lebih banyak
menjelaskan dengan kesejarahan kata.27
Adapun secara istilah, semantik adalah ilmu yang menyelidiki tentang
makna, baik berkenaan dengan hubungan antar kata-kata dan lambang-
lambang dengan gagasan atau benda yang diwakilinya, maupun berkenaan
dengan pelacakan atas riwayat makna-makna itu beserta perubahan-
perubahan yang terjadi atasnya atau disebut juga semiologi.28 Semantik juga
berarti studi tentang hubungan antara simbol bahasa (kata, ekspresi, frase)
dan objek atau konsep yang terkandung di dalamnya, semantik
menghubungkan antara simbol dan maknanya.29 Semantik juga lebih dikenal
sebagai bagian dari struktur ilmu kebahasaan (linguistik) yang
membicarakan tentang makna sebuah ungkapan atau kata dalam sebuah
bahasa. 30
Maka, yang dimaksud dengan analisis semantik pada penelitian ini
adalah penelaahan makna dalam surat Al Insyirah dengan menganalisis dan
melacak makna secara gramatikal hingga akhirnya bisa ditemukan artian-
artian yang dimaksud dan diperluas dengan menggunakan metodologi
analisis bahasa yang relevan.
2. Ruang Lingkup Pembahasan
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka ruang lingkup
penelitian meliputi kajian al Ma’na al Wadzhifi (al Dilalah Al Shauthiyyah, al
Dilalah Al Sharfiyyah wa al Dilalah al Nahwiyyah), al Ma’na al Mu’jamiyy

26
Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 981.
27
Mansoer Pateda, Semantik Leksikal (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h.3.
28
Save M. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Jakarta: LPKN, 2006), h. 1016.
29
Ray Prytherch, Harrod’s Librarians Glossary (England: Gower, 1995), h. 579.
30
Harimukti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 19
8

(Makna Denotatif), dan al Ma’na al Siyaqiy (Makna Konotatif) ayat per-ayat


dalam surat Al Insyirah.
D. Kajian Pustaka
Fokus penelitian ini adalah “Analisis Semantik Terhadap Surat Al
Insyirah”. Berdasarkan penelusuran terhadap literatur-literatur yang berkaitan
dengan objek penelitian ini, maka penulis menemukan beberapa karya ilmiah
(Skripsi/Tesis/Disertasi/Jurnal) dan buku yang memiliki relevansi dengan
penelitian ini.
Buku “Ilmu al Dilalah al Qur’aniyyah” ditulis oleh Dr. Sujiat Zubaidi
Shaleh, dalam buku ini penulis membahas tentang Metodologi Penafsiran Al
Qur’an dengan menggunakan metode semantik. Bahwa untuk menentukan makna
yang sesuai dan relevan dari suatu teks, maka harus memperhatikan 3 aspek
makna berikut: 1) al Ma’na al Wadzhifi (al Dilalah Al Shauthiyyah, al Dilalah Al
Sharfiyyah wa al Dilalah al Nahwiyyah), 2) al Ma’na al Mu’jamiyy (Makna
Denotatif), dan 3) al Ma’na al Siyaqiy (Makna Konotatif), kemudian diolah
melalui konsep : 1) Semnatic Field Theory, 2) Context Theory, dan 3)
Componential Analysis Theory.31
Penelitian tesis oleh Baiq Raudatussolihah, 2016 dengan judul “Analisis
Linguistik dalam Al Qur’an (Studi Semantik Terhadap QS. Al ‘Alaq)”. Hasil dari
penelitiannya; menunjjukkan bahwa pada QS. Al ‘Alaq ini, Allah SWT banyak
menggunakan kata kerja (fi’il) atau bentuk jumlah fi’liyah. Makna dasar dari
struktur jumlah fi’liyah adalah al-huduts dan al-tajaddud (artion dan temporal).
Kemudian, terdapat beberapa jenis makna yang terkandung dalam surat Al ‘Alaq,
yaitu makna referensial, makna dasar atau makna kamus, makna kiasan dan
makna denotatif. Sedangkan relasi makna antara kata-kata atau lafal al Qur’an
dengan kata-kata penafsirannya terjadi dalam empat macam relasi (hubungan
makna) yaitu: hubungan sinonim (al- taraduf), hubungan Polisemi (al-Ta’addud
al Ma’na), konsep hiponim dan hipernimi (al Isytimal wa al Masymul), dan
hubungan makna yang bersifat subjektif.32
Penelitian disertasi oleh A. Luthfi Hamidi, 2009 dengan judul “Pemikiran
Toshihiko Izutsu Tentang Semantik Al Qur’an. Hasil dari penelitian ini
31
Sujiat Zubaidi, Ilmu al Dilalah al Qur’aniyyah, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta,
2019)
32
Baiq, Analisis Linguistik dalam Al Qur’an (Studi Semantik Terhadap QS. Al ‘Alaq)
9

diantaranya; tampak bahwa pemikiran Toshihiko Izutsu tentang analisis semantik


terhadap al Qur’an, didasarkan pada asumsi dasar bahwa al Qur’an sebagai
sebuah kitab wahyu, dilihat dari kenyataannya bahwa ia berbentuk teks, dapat
dipandang sama dengan teks-teks kebahasaan yang lain. Struktur kebahasaannya
sama dengan struktur teks-teks berbahasa Arab yang lain. Kosakata-kosakata yang
digunakannya tidak satu pun merupakan kosakata asing dalam bahasa Arab.33
Penelitian berbentuk jurnal yang ditulis oleh Fauzan Azima denga judul
“Semantik Al Qur’an (Sebuah Metode Penafsiran). Hasil dari penelitian ini
peneliti menyimpulkan bahwa dengan menggunakan metode semantik, peneliti
bisa mengungkap makna dan pesan-pesan yang terkandung dalam ayat-ayat al
Qur’an dengan lebih matang dan lebih rinci. Dengan adanya langkah-langkah dan
penjelasan yang mendalam secara kebahasaan, al Qur’an menjadi sebuah kitab
petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya. Selain itu, semantik juga
mengungkapkan bahwa konsep atau pandangan dunia al Qur’an memuat banyak
pesan-pesan yang berguna dalam kehidupan manusia. Bahkan, bila dilihat dari
sejarah perkembangan, dalam cabang ilmu semantik dapat diurutkan periodisasi
perkembangannya mulai dari; 1) Era klasik yang ditandai oleh ulama-ulama awal
yang mulai membedakan makna bawaan dengan makna fungsional, 2) Era
kontemporer yang ditandai dengan munculnya metode linguistik dalam penafsiran
al Qur’an.34
Penelitian berbentuk jurnal oleh Intan Sari Dewi dengan judul “Bahasa
Arab dan Urgensinya Dalam Memahami Al Qur’an”. Hasil dari penelitian ini
menyimpulkan bahwa bahasa Arab memiliki peranan penting untuk memahami al
Qur’an dan menafsirkannya. Bahasa Arab merupakan salah satu diantara syarat-
syarat ijtihad dalam menentukan hukum dengan dalil syar’i yang ada dalam al
Qur’an ataupun hadits. Mempelajari bahasa Arab merupakan keharusan, karena
tidak mungkin memahami al Qur’an kecuali dengan memahami bahas Arab.
Seseorang yang menjelaskan makna al Qur’an tanpa memiliki kemampuan bahasa
Arab akan rentan menimbulkan kekeliruan.35

33
A. Luthfi Hamidi, Pemikiran Toshihiko Izutsu Tentang Semantik Al Qur’an, 2009
Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
34
Azima, Semantik Al Qur’an (Sebuah Metode Penafsiran)
10

Penelitian berbentuk jurnal oleh Muhammad Nur Asmawi dengan judul


“Tipologi Ulul Albab: Analisis Semantik Ayat-Ayat Al Qur’an dan
Implementasinya dalam Pendidikan Islam”. Hasil dari penelitian ini
menyimpulkan bahwa tipologi Ulul Albab berdasarkan analisis ayat-ayat al
Qur’an adalah al-Rasikhuun fi al-‘ilm, qawm yatafakkarun, ahl al-dhikr, dan
ashab al-‘uqul. Tipologi ini dipresentasikan oleh al Qur’an untuk menggambarkan
sosok yang memiliki komitmen teologis dalam setiap sikap dan perilakunya, serta
tetap memiliki kesadaran eskatik, sehingga perbuatannya senantiasa memiliki
orientasi ukhrawi, dengan memberikan muatan-muatan teologis untuk setiap
langkah dan orientasi kerjanya.36
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti di atas, hanya
mengambil teori semantik dalam penelitian secara umum dalam surah-surah Al
Qur’an serta konteks yang berbeda. Maka, sejauh kajian peneliti, peneliti belum
menemukan penelitian yang menganalisis kajian-kajian semantik dalam surat Al
Insyirah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa belum ada penelitian yang kajiannya sam
dengan tema yang akan dibahas oleh peneliti.
E. Kerangka Teoritis
Ketika membicarakan al Qur’an, kita tidak akan bisa lepas dari bahasa
yang digunakan karena al Qur’an menggunakan bahasa sebagai media komunikasi
terhadap pembacanya. Kerangka komunikasi dalam bingkai ini terdiri dari; Tuhan
sebagai komunikator aktif yang mengirimkan pesan, Nabi Muhammad SAW
sebagai komunikator pasif, dan bahasa Arab sebagai kode komunikasi. 37 Maka,
bahasa memiliki peranan penting dalam penyampaian wahyu dan ajaran agama.
Ketika seseorang ingin memahami al Qur’an, maka dia harus memahami bahasa
yang dipakai al Qur’an, mengetahui dengan jelas makna-makna yang terkandung
di dalamnya sehingga didapatkan pengetahuan murni yang bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini M. Quraish Shibab menyatakan bahwa syarat

35
Intan Sari Dewi, Bahasa Arab dan Urgensinya dalam Memahami Al Qur’an, Jurnal
Kontemplasi, Vol. 4, No. 1, Agustus 2016.
36
Muhammad Nur Asmawi, Tipologi Ulul Albab: Analisis Semantik Ayat-Ayat Al Qur’an
dan Implementasinya dalam Pendidikan Islam, Jurnal Hunafa, Vol. 5, No. 2, Agustus 2008.
37
M. Nur Kholis Setiawan, Al Qur’an Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: Elsaq Press,
2006), h. 2
11

mutlak untuk menarik makna dari pesan-pesan al Qur’an adalah pengetahuan


tentang bahasa Arab.38
Mengenai kajian kebahasaan, Aminuddin menyatakan bahwa bahasa
mempunyai tiga komponen, yaitu bunyi, tata bahasa, dan makna. Adapun
hubungan antara ketiganya bahwa: a. Bahasa pada awalnya merupakan bunyi-
bunyi abstrak yang mengacu pada adanya lambang-lambang tertentu; b.
Lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tatanan dan
hubungan tertentu; c. Seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan
itu mengasosiasikan adanya makna tertentu.39
Semantik adalah bagian dari atau cabang dari kajian kebahasaan
(linguistik) yang meneleaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan
makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain. Semantik mencakup makna
kata, perkembangan, dan perubahannya.40 Objek kajian semantik mencakup
makna yang berada dalam satuan-satuan dari bahasa berupa kata, frase, klausa,
kalimat, paragraf, dan wacana. Kemudian dianalisis melalui struktur dalam
pemahaman tataran bahasa, disamping dapat dianalisis melalui fungsi dalam
pemahaman fungsi antar unsur.41semantik dianggap cocok diaplikasikan dalam
mengkaji al Qur’an karena al Qur’an sendiri berwujud teks yang tersusun dari
kata, frasa, dan seterusnya. Dalam bahasa al Qur’an terdapat kosa kata Qur’ani,
frasa Qur’ani, klausa Qur’ani, ayat-ayat Qur’ani, dan hubungan antar bagian-
bagian tersebut.42 Disamping itu, dengan menggunakan pendekatan semantik
dapat mengungkap rahasia dibalik makna-makna yang terkandung dalam ayat-
ayat al Qur’an (I’jaz al Qur’an).
Al-Khaththabi pernah menunjuk bahwa i’jaz terkandung dalam “lafal yang
terletak pada tempatnya; bila diganti, maka maknanya akan rusak atau hilang
keanggunan yang dapat melunturkan aspek Balaghahnya.43 Mengingat bahwa al

38
M.Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, h. 35
39
Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru, 1988), h.
15.
40
T.Fatimah Djajasudarma, Semantik I: Pengantar ke Arab Ilmu Makna, (Bandung: Eresco,
1993), h. 4
41
T.Fatimah Djajasudarma, Semantik I: Pengantar ke Arab Ilmu Makna, h. 5
42
Abdul Mu’in Salim, Metode Tafsir, (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1994), h. 5
43
Issa J Boullata, Al Qur’an yang menakjubkan, h. 290.
12

Qur’an sangat teliti dalam pemilihan kata yang sesuai dengan makna dan konteks
yang mengiringinya.
Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengkaji tentang makna-makna yang
terkandung dalam surat al Insyirah dengan menggunakan pendekatan semantik
untuk mengungkap I’jaz al Qur’an yang terkandung dalam makna-makna dalam
ayat-ayat surat al Insyirah.
Adapun langkah-langkah dalam mengungkapkan makna-makna yang
terkandung dalam surat al Insyirah, adalah sebagai berikut:
1) Menentukan kata yang akan diteliti makna dan konsep yang
terkandung didalamnya. Kemudian menjadikan kata tersebut sebagai
kata fokus yang dikelilingi oleh kata kunci yang mempengaruhi
pemaknaan kata tersebut sehingga membentuk sebuah konsep dalam
sebuah bidang semantik.
2) Mengungkapkan makna dasar dan makna relasional dari kata fokus.
Makna dasar bisa diketahui dengan menggunakan kamus bahasa Arab
yang secara khusus membahas tentang kata-kata yang ada di dalam al
Qur’an, sedangkan makna relasional dapat diketahui setelah terjadinya
hubungan sintagmatis antara kata fokus dengan kata kunci dalam
sebuah bidang semantik.
3) Mengungkapkan kesejarahan makna kata atau semantik historis
(Makna diakronik dan makna sinkronik)
4) Menyimpulkan makna dan konsep apa saja yang terkandung didalam
kata fokus.44
5) Mengungkapkan I’jaz yang terkandung dalam makna tersebut.

Penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Surah al Insyirah

Analisis Semantik I’jaz Balaghiy

44
Hasil Penelitian
Azima, Semantik Al Qur’an (Sebuah Metode Penafsiran), h. 52-53.
13

F. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka (library research) yang
bersifat kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang
bertujuan menggambarkan suatu penelitian yang bertujuan menggambarkan
suatu fakta secara sestematis, faktual, ilmiah, analisis, dan akurat. 45 Kualitatif
karena data yang digunakan terdiri dari tindakan, kata-kata, atau data yang
tertulis seperti dokumen dan lain-lain yang relevan dengan pokok
permasalahan yang dibahas.46
Dalam penelitian, ini penulis menghimpun data dari berbagai literatur
yang berkaitan dengan kajian kebahasaan, khususnya semantik, dan kitab-
kitab tafsir yang membahas tentang surat al Insyirah.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian bahasa yang mengkaji tentang makna suatu kata, maka pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan semantik, karena membahas masalah
bahasa pada tataran bahasa. Kemudian pendekatan lain yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu pendekatan ilmu tafsir.
Adapun pendekatan semantik yang akan dilakukan penulis meliputi
langkah-langkah berikut :
a. Menentukan kata fokus yang akan diteliti makna dan konsep yang
terkandung di dalamnya, serta kata kunci yang mengelilinginya.
b. Mengungkapkan makna dasar dan makna relasional dari kata
fokus.
c. Mengungkapkan kesejarahan makna kata atau semantik historis.
d. Mengungkapkan konsep-konsep apa saja yang ditawarkan al
Qur’an kepada pembacanya agar bisa dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari.47
3. Sumber Data

45
Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Cet. II; Jakarta: Rajawali Press, 1985), h. 19
46
Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo, 2012), h. 3
47
Azima, Semantik Al Qur’an (Sebuah Metode Penafsiran), h. 52-53.
14

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer dan data


sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang secara langsung
memberikan data kepada pengumpul data.48 Dalam penelitian ini, yang
menjadi sumber data primer adalah Kitab-kitab tafsir yang membahas tentang
bahasa Al Qur’an. Diantaranya, al-Tafsir al-Bayaniy li al-Qur’an al-Karim
karya ‘Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi’, al-Tafsir al-Kasysyaf karya Abu
al-Qasim Mahmud Bin ‘Umar al-Zamakhsyari, Ruh al-Ma’ani karya
Muhammad al-Alusi, Ma’ani al-Qur’an karya Al Farra, Bahr al-Muhith
karya Abu al-Hayyan al-Andalusiy, Tafsir al-Maraghi karya Musthafa al-
Maraghi, serta kitab-kitab tafsir yang lain yang membahas seputar bahasa dan
makna al Qur’an.
Sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak
langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang
lain atau lewat dokumen.49 Sumber data sekunder merupakan sumber data
yang bersumber dari buku-buku dan perpustakaan yang berbentuk digital
(digital library) yang terkait dengan penelitian ini yang diperoleh dengan cara
melakukan penelususran di perpustakaan dan internet.
Adapun buku-buku semantik yang digunakan diantaranya, Buku
“Ilmu al Dilalah al Qur’aniyyah” karya Dr. Sujiat Zubaidi Shaleh, buku
“Ilmu al Dilalah (‘Ilm al-Ma’ani) karya Dr. Muhammad ‘Ali al-Khuli, buku
“Ilmu al Dilalah” karya Dr. Ahmad Mukhtar ‘Umar, buku “Semantik
Leksikal” karya Mansoer Pateda, serta buku-buku semantik lain, karya ilmiah
dan jurnal-jurnal lainnya yang relevan dengan judul penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan yang digunakan adalah
metode kepustakaan, artinya pengumpulan data dilakukan dengan membaca
referensi-referensi atau karya-karya ilmiah yang merujuk bahasan tesis ini.
Adapun data dikmpulkan dengan cara mengutip, menyadur, dan menganalisis
dengan menggunakan analisis isi (Content Analysis) terhadap literatur yang

48
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method), Cet. V (Bandung: Alfabeta,
2014), h. 308.
49
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method), h. 308.
15

refresentatif dan mempunyai relevansi dengan masalah yang dibahas,


kemudian mengulas, dan menyimpulkan.
5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknin
analisis data kualitatif deskriptif. Data yang bersifat kulaitatif diperoleh dari
pengamatan langsung terkait dengan permasalahan yang akan diteliti, dengan
menggunakan teknik analisis data, pengolahan data, pengklasifiksian data.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dioleh dengan cara berikut:
1. Deskripsi, yaitu menguraikan gambaran umum surat al Insyirah,
pendapat para ulama, makna yang diperoleh dari struktur dasar
dan juga menguraikan informasi tentang strukturalisme dan
semantik serta cara kerjanya dalam penafsiran teks.
2. Analisis, yaitu melakukan analisis dengan menggunakan teori
strukturalisme-semantik terhadap surat al Insyirah. Analisis ini
meliputi penstrukturan surat al Insyirah, penncarian tanda-tanda
tekstualitas dan analisis semantis terhadap bengunan struktur dan
tanda-tanda tekstualitas yang telah dikumpulkan.
3. Komparasi, yaitu membandingkan antara data yang satu dengan
data yang lainnya untuk memperoleh kesimpulan.
Dalam penelitian ini, peneliti mengaanalisis data dengan mengadakan
perincian terhadap masalah yang diteliti dengan cara memilih antara
pengertian yang satu dengan pengertian yang lain. Sedangkan perincian data
yang dilakukan adalah dengan langkah-langkah membaca, dan menelaah
surat al Insyirah dan tafsirnya dalam berbagai kitab-kitab tafsir karya para
mufassir al Qur’an.
G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui makna dan relasi ayat-ayat yang terkandung
dalam surat al Insyirah dalam analisis semantik
2. Untuk mengetahui I’jaz Balaghi yang terkandung dalam surat al
Insyrah
b. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini ada dua, yaitu:
1. Kegunaan Ilmiah (Teoritis)
16

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran


mengenai tatanan semantik yang terdapat dalam surat al Insyirah,
sekaligus menambah khazanah intelektual dan perkembangan ilmu-ilmu
pengetahuan pada umumnya dan llmu keislaman khususnya dan
terlebih lagi para pelajar yang ingin menekuni kaidah-kaidah bahasa
Arab.
2. Kegunaan Praktis
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam dunia
pendidikan pada umumnya dan kebahasaan pada khususnya dalam
pembelajaran dan pengajaran ilmu-ilmu bahasa dan sastra Arab.
Sehingga dapat memberi implikasi pada peningkatan pengkajian ilmu-
ilmu bahasa Arab dan inspirasi bagi pemerhati bahasa asing terutama
dalam bidang semantik.
H. Garis-garis Besar Isi
Untuk mempermudah pembahasan, pengambilan kesimpulan, dan nilai
yang diharapkan, maka peneliti menuyusun sistematika pembahasan dalam bentuk
laporan deskriptif yang terdiri dari beberapa sub bab. Dengan komposisi
penelitian terdiri dari lima bab.
Bab pertama meliputi pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah,
yakni uraian tentang persoalan ini diangkat dan disajikan sebagai bahan studi
kajian. Selanjutnya rumusan masalah dan batasan masalah, pengertian judul dan
ruang lingkup penelitian, kajian pustaka, kerangka teoritis, metodologi penelitian,
tujuan dan kegunaan penelitian, dan garis-garis besar isi penelitian.
Bab kedua meliputi kajian teoritis mengenai ilmu semantik. Bab ini terdiri
dari empat sub bab, yatiu: 1) Pembahasan mengenai ilmu semantik dan ruang
lingkupnya, 2) Pembahasan mengenai teori semantik tentang makna, 3)
Pembahasan mengenai jenis-jenis dan relasi (ketercakupan makna) dalam
semantik, 4) Pembahasan mengenai sebab-sebab perubahan makna dalam
semantik.
Bab ketiga meliputi pembahasan mengenai surat al Insyirah dan
pembahasan semantik yang terkandung didalamnya. Bab ini terdiri dari tiga sub
bab, yaitu: 1) Pembahasan mengenai tinjauan umum surat al Insyirah yang terdiri
dari ringkasan isi kandungan surat al Insyirah, asbab al-Nuzul surat al Insyirah,
17

al-Munasabah surat al Insyirah dengan surat sebelum dan sesudahnya, serta


nama-nama surah al Insyirah. 2) Pembahasan mengenai bentuk-bentuk semantik
yang terkandung dalam surah al Insyirah, yaitu terdiri dari al Ma’na al Wadzhifi
(al Dilalah Al Shauthiyyah, al Dilalah Al Sharfiyyah wa al Dilalah al
Nahwiyyah), al Ma’na al Mu’jamiyy (Makna Denotatif), dan al Ma’na al Siyaqiy
(Makna Konotatif) dalam kata-kata yang terkandung dalam surah al Insyirah, dan
3) Pembahasan mengenai jenis-jenis makna dan relasinya dalam surat al Insyirah
Bab keempat meliputi aspek I’jaz Balaghi yang terdapat dalam surat al
Insyirah. Bab ini terdiri dari tiga sub bab, yaitu : 1) Pembahasan mengenai Asrar
Fawaatih al Suwar, 2) Pembahasan mengenai Asrar al-Tikraar, 3) Pembahasan
mengenai penerapan kandungan makna dalam surat al Insyirah dalam kehidupan
sehari-hari.
Bab kelima adalah penutup, terdiri atas kesimpulan dan implementasi.
Diakhiri dengan daftar pustaka dan riwayat hidup.
18

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna, (Bandung: Sinar Baru,


1988)
Asmawi, Muhammad Nur, Tipologi Ulul Albab: Analisis Semantik Ayat-Ayat Al
Qur’an dan Implementasinya dalam Pendidikan Islam, Jurnal Hunafa, Vol.
5, No. 2, Agustus 2008.
Azima, Fauzan, Semantik Al Qur’an (Sebuah Metode Penafsiran), Jurnal Tajdid;
Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. 1, No. 1, April 2017
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Benton, Willian, Encyclopedia Britanica (USA: Encyclopedia Britanica Inc.,
1965)
Boullata, Issa J, Al Qur’an yang menakjubkan, (Lentera hati: Tangerang, 2008)
Dagun, Save M, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Jakarta: LPKN, 2006)
Departemen Pendidikan Nasioal, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke III
(Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 2007)
Dewi, Intan Sari, Bahasa Arab dan Urgensinya dalam Memahami Al Qur’an,
Jurnal Kontemplasi, Vol. 4, No. 1, Agustus 2016.
Djajasudarma, T.Fatimah, Semantik I: Pengantar ke Arab Ilmu Makna, (Bandung:
Eresco, 1993)
Echols, John M. dan Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia (Cet. 23; Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996)
Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Raja Grafindo, 2012)
Fazlurrahman, Islam, (Chicago: University Press, 1979)
Ghazali, Abd Moqsith dkk, Metodologi Studi Al Qur’an, (Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2009)
Gusmian, Islah, Lompatan stilistik dan transformasi dunia makna Al Qur’an,
Jurnal Studi Al Qur’an, Vol. II, No. 2, 2007, (Pusat Studi Qur’an; Jakarta,
2007)
19

Hamidi, A. Luthfi, Pemikiran Toshihiko Izutsu Tentang Semantik Al Qur’an, 2009


Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jalil, Abdul Qadir Abdul, At Tanawwu’at al Lughawiyyah, (Aman Jordania : Dar
Shifa’ li Annasyr wa at Tauzi’, 1997)
Kridalaksana, Harimukti, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia, 1993)
Mu’afa, Abdullah, Pendekatan Linguistik dalam penafsiran Al Qur’an, Jurnal
Islamic Review, Vol. I, No. 2, Oktober 2012,
Musadad, Asep N., Kemunculan Lingua Sarca Dalam Sejarah Al Qur’an
(Perspektif John Wansbrough), Jurnal Vol. 17, No.1, Januari 2016
Pateda, Mansoer, Semantik Leksikal (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)
Prytherch, Ray, Harrod’s Librarians Glossary (England: Gower, 1995)
Raudatussolihah, Baiq, Analisis Linguistik dalam Al Qur’an (Studi Semantik
Terhadap QS. Al ‘Alaq), 2016 Perpustakaan PPS UIN Alauddin Makassar
Rippin, Andrew, Introduction to the Qur’an: Style and Contents (Hampshire:
Ashgate Publishing Limited, 2001)
Salim, Abdul Mu’in, Metode Tafsir, (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1994)
Setiawan, M. Nur Kholis, Al Qur’an Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: Elsaq
Press, 2006)
Shihab, M.Quraish, Kaidah Tafsir, (Lentera hati ; Tangerang, 2015)
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method), Cet. V (Bandung:
Alfabeta, 2014)
Suryabrata, Sumardi, Metodologi Penelitian (Cet. II; Jakarta: Rajawali Press,
1985)
Syathi’, ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu, Tafsir Bintu Syathi. Terj. Al Tafsir al
Bayani li al Qur’an al Karim oleh Paimin SR, (Bandung: Mizan, 1996)
Thohari, Fuad, Tafsir Berbasis Linguistik “Al Tafsir al Bayani li al Qur’an al
Karim” Karya ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’”, Jurnal Adabiyyat,
Vol.8, No. 2, Desember 2009
Yusuf, Khaeruddin, Orientalis dan Duplikasi Bahasa Al Qur’an (Telaah dan
Sanggahan atas Karya Christoph Luxenberg), Jurnal Hunafa: Jurnal Studia
Islamika, Vol 9, No. 1, Juni 2010
20

Zayd, Nasr Hamid Abu, Mafhum al Nas: Dirasat fi ‘Ulum al Qur’an, (Beirut: Al-
Markaz al Tsaqafi al ‘Arabi, 2000)
Zubaidi, Sujiat, Ilmu al Dilalah al Qur’aniyyah, (Yogyakarta: Kurnia Kalam
Semesta, 2019)