Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Luthans (Sunarni & Istanti, 2007) mengemukakan bahwa stres sebagai suatu
tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan
proses psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau
peristiwa yang terlalu banyak menuntut psikologis dan fisik individu.
Beehr dan Newman (Wijono, 2010) menyatakan bahwa stres kerja sebagai suatu
keadaan yang timbul dalam interaksi diantara manusia dengan pekerjaan.Selye
(Wijono, 2010) mengemukakan bahwa stres kerja merupakan suatu konsep yang
terus-menerus bertambah. Ini terjadi jika semakin banyak permintaan, maka semakin
bertambah mundulnya potensi stres kerja dan peluang untuk menghadapi ketegangan
akan ikut bertambah.
Ivancevich dan Matteson (Sunarni & Istanti, 2007) menyatakan bahwa stres kerja
terjadi bukan hanya karena konflik yang dialami individu tetapi beberapa faktor yang
mempengaruhi, seperti kekeburan peran dan konflik peran, kelebihan beban kerja,
tanggungjawab terhadap orang lain, perkembangan karir, kurangnya kohesi
kelompok, dukungan kelompok yang tidak memadai, karakteristim tugas, dan
pengaruh kepemimpinan.
Schult dan Schult ( Bachroni& Asnawi, 1999) mengatakan bahwa stres kerja
merupakan gejala psikologis yang dirasakan mengganggu dalam pelaksanaan tugas
sehingga dapat mengancam eksistensi diri dan kesejahteraanya. Pendekatan proses
mengatakan bahwa stres merupakan transaksi antara sumber stres dan kapasitas diri
yang menentukan, apakah respon bersifat positif ataukan negatif. Berdasarkan uraian
diatas, dapat disimpulkan bahwa stres kerja merupakan suatu transaksi antara sumber-
sumber stress dengan kemampuan diri, yang berpengaruh terhadap respon apakah
bersifat positif atau negatif. Jika respon bersifat positif, maka sumber stres merupakan
pemacu semangat individu sedangkan respon negatif merupakan indikator bahwa
sumber stres merupakan penekan.

1
2

Penelitian yang dilakukan oleh Seok (2004) menunjukkan bahwa sumber stres
yang dialami oleh guru adalah terlalu banyak pekerjaan (beban ganda), harus
mengikuti perkembangan teknologi, ide, inovasi, upah kerja (gaji), tugas-tugas
sampingan yang banyak, menulis laporan, membuat kertas kerja, pilih kasih, dan
pekerjaan rumah atau menyelesaikan tugas kantor di rumah. Seok juga menemukan
perbedaan sumber stres kerja yang dialami guru laki-laki dan perempuan, yaitu:
strategi dalam mengajar, kepuasan kerja, dan masalah kesehatan mental.
Kyriacou dan Sutcliffe (Himabindu, 2009) menyatakan bahwa dari 257 guru dari 16
sekolah di Inggris tercatat bahwa 15,6% dari keseluruhan jumlah guru mengalami
tingkat stres yang sangat tinggi dan 4,3% guru tidak mengalami stres. Daud dan
Eadaoin (Himabindu, 2009) melaporkan bahwa guru yang mengalami stres pada
umumnya menunjukkan gejala-gejala secara psikologis, salah satunya adalah masalah
pola tidur.Arikewuyo dan Olalekan (Himabindu, 2009) mengungkapkan bahwa guru
Nigeria rata-rata mengalami kesulitan dalam hal mengatur rumah tangga dikarenakan
peran ganda yang dijalani.Para guru tidak dapat mengajar dalam situasi stres dan
mengalami perasaan bersalah ketika tidak dapat menjalankan tugas dengan baik.
Quick dan Quick (Waluyo, 2009) mengemukakan bahwa jenis stres terbagi
menjadi dua, yaitu:
a. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan
konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu
dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas,
kemampuan adaptasi, dan tingkat performanceyang tinggi.
b. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif,
dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu
dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran
yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit penurunan dan kematian.
3

BAB II
LITERATUR REVIEW

Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang bisa mempengaruhi emosi seseorang,
proses berpikir, khawatir, gelisah dan takut. Stres dapat terjadi pada siapa pun dan di mana
pun, termaksud pada guru
yang berada di SLB. Setiap guru mengalami stres dari berbagai macam sumber
seperti beban kerja yang terlalu berat, sampai dengan kondisi kerja yang tidak memuaskan.
(Fandi muhbar,2017)
Menurut badan Kesehatan Dunia, mengatakan 3 permil dari sekitar 32 juta
warga didaerah Jawa Tengah mengalami ganguan jiwa sedangkan 19 permil
mengalami stres. Apabila jumlahnya dipresentasikan akan mencapai sekitar 2,2% dari
total warga Jawa Tengah.Stres dapat ditimbulkan, yaitu karakteristik seseorang yang
merupakan bagian dari predisposisi keturunan dan pikologi seseorang tersebut. Selain
itu pengaru lingkungan misalnya pengalaman masa lalu dan lingkungan tempat
tinggal.Sehingga munculnya stress akibat dari faktor dari diriindividu dan dari dalam
diri individu itu sendiri (Mfrekempon,2013). Guru mempunyai hak untuk mendidik
generasi bangsa, sehinga guru tidak terlepas dari kemungkinan mengalami stres
dalam pekerjaanya. Salah satu kondisi yang dapat berpengaruh terhadap kinerja dan
produktivitas individu adalah stres.Stres merupakan keadaan psikologis yang tidak
menyenangkan yang muncul karena karyawan tertekan dalam bekerja, Stres ini akan
muncul dengan adanya gejala fisik, psikis dan perilaku (Kay Youman, 2015).
Menurut penelitian Arismunandar (2008) disimpulkan bahwa 30,27% dari
80.000 guru menderita stres dalam bekerja. Ini berarti jumlah guru yang mengalami
stres dalam bekerja sebanyak 24,000 orang. Menurut studi yang di lakukan, bahwa
stres dalam bekerja akan mempengaruhi kinerja pada guru,semakin tinggi tingkat
stres yang dialami oleh guru, maka produktivitas dan kinerja pada guru akan
mengalami penurunan. Selain itu, ketidak mampuan guru menggatasi masalah dengan
baik, seperti masalah dalam keluarga akan menimbulkan konflik dalam pekerjaan
yang akan berpengaruh pada pekerjaan sehingga timbul stres dalam bekerja. (Fandi
muhbar,2017)
4

Berbeda dengan Mahdi Eskandari (2019)ia mempertimbangkan teori dan hasil


studi sebelumnya, dalam sebuah organisasi dimana karyawan memiliki kepuasan
kerja yang rendah dan stress kerja yang tinggi, tingkat produksi dan produktivitas
akan sangat rendah. Dalam kondisi komitmen kerja dan pergantian pekerjaan seperti
itu, inovasi dan tingkat pergantian karyawan yang lebih tinggi sering terlihat. Hal
tersebut didukung oleh penelitian asegid et al yang menyatatakan bahwa stress kerja
yang tinggi adalah predictor ketidakpuasan kerja dan niat untuk komitmen kerja yang
rendah. Darius Backer (2016) mengemukakan bahwa prilaku yang berkaitan dengan
penghargaan dan sensitivitas terhadap respon kerja telah terbukti mempengaruhi
system response otak terhadap pemicu stress. Dijelaskan bahwa gangguan pada salah
satu system secara individual dapat memiliki efek nyata pada bagaimana respon stress
dapat memperngaruhi jam molekuler dan kerentanan terhadap daya tahan tubuh.Stres
dan penolakan social memiliki dampak penting pada kesehatan.Diantara mekanisme
yang terlibat adalah system hormonal seperti poros adrenal hipofisis hipotalamus
yang menghasilkan kortisol pada manusia. Arus penelitian menggunakan stressor
bicara dan stress penolakan social untuk memahami respon hormonal dalam
pengaturan laboratorium. Namun tidak jelas apakah penolakan social memicu
reaktivitas hormone dimana selain kortisol, progesterone telah disorot sebagai potensi
stress dan afiliasi terkait hormone pada manusia (Allison,2014).
Menurut Ahmad Faturrohman (2018), dalam pengertian umumstress adalah
suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut
dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang
dinginkan oleh individu, baik keinginan yang bersifat jasmaniah maupun
rohaniah.Menurut McGrath dalam Weinberg dan Gould (2003:81), stress
didefinisikan sebagai “a substantial imbalance between demand(physical and/or
psychological) andresponse capability, under conditions wherefailure to meet that
demand has importance consequences”. Artinya, stress akan munculpada individu
bila ada ketidakseimbanganatau kegagalan individu dalammemenuhi kebutuhannya
baik yang bersifat jasmani maupun rohani.Individu yang mengalami stress
akanberperilaku lain dibandingkan dengantujuannya yang tidak mengalami stress.
5

Oleh karena itu, kondisi individu yang mengalami stress gejala-gejalanya dapat
dilihat baik secara fisik maupun secara psikologis. Gejala secara fisik individu yang
mengalami stress, antaralain ditandai oleh: gangguan jantung,tekanan darah tinggi,
ketegangan padaotot, sakit kepala, telapak tangan danatau kaki terasa dingin,
pernapasan tersengal- sengal, kepala terasa pusing, perut terasa mual-mual, gangguan
pada pencernaan, susah tidur, bagi wanita akan mengalami gangguan menstruasi, dan
gangguan seksual (impotensi) (Waitz, Stromme, Railo, 1983: 52-71).Susah tidur dan
stress merupakanhubungan yang bersifat timbal balik.Artinya, susah tidur dapat
diakibatkan karena stress dan stress dapat mengkibatkan susah tidur. Padahal tidur
yang berkualitas merupakan proses yang penting guna mengistirahatkan
(merecovery) kondisi fisik maupun psikis. Selain itu, pada saat individu tidur
merupakan proses pembangunan selsel yang rusak akibat akitifitas fisik. Untuk itu,
seyogyanya setiap individu dalam sehari semalam (24 jam) waktu tidurnya harus
teratur dan minimal berlangsung selama 7–8 jam.(Sukadiyanto,2014)
Menurut Musradinur (2016), secara garis besar ada empat pandangan
mengenai stres, yaitu: stres merupakan stimulus yaitu Menurut konsepsi ini stres
merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). Individu mengalami
stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut.Dalam konsep ini stres
merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat. Stres
merupakan respon yaitu Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress
merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor. Dalam konteks ini stress
merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan
variable bebas atau independent variable. Stres merupakan interaksi antara individu
dengan lingkungan yaitu Menurut pandangan ketiga, stress sebagai suatu proses yang
meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu
dengan lingkungan. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling
mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional.
Fenomena stres kerja tidak hanya terjadi pada dunia bisnis, dalam dunia
pendidikan pun hal itu dapat terjadi. Stres kerja dapat saja terjadi kepada para
pendidik.Tugas guru pada hari ini berbeda dengan beberapa puluh tahun yang
6

lalu.Pada hari ini seorang guru tidak hanya bertanggung jawab terhadap kegiatan
belajar mengajar kepada siswanya, seperti belajar membaca, berhitung, menulis, dan
kegiatan belajar lainnya, melainkan seorang guru bertambah tanggung jawabnya
sebagai orang tua murid pada saat di lingkungan pendidikan.Guru-guru terlalu
dibebankan dengan tugas-tugas yang tidak berhubungan dengan kegiatan pengajaran
dan pembelajaran seperti kegiatan ektrakulikuler, menghadiri pertemuan, mengelola
program-program siswa, mengurus kesejahteraan siswa, serta tugas-tugas manajemen
(Lemaire, 2009).Tidak heran jika pada kalangan tenaga pendidik sekarang banyak
mengalami tekanan atau stres yang dapat menyebabkan gejala kelelahan.Guru yang
gagal atau tidak bisa mengelola diri dari stres akan mempengaruhi hubungan guru
dengan siswa, juga akan mempengaruhi kualitas pengajaran dan pembelajaran.
Fenomena seperti ini menjadi salahsatu bagian tanggung jawab bagi manajemen di
lingkungan pendidikan dalam hal ini Kepala Sekolah ataupun Dinas Pendidikan
setempat untuk menanggulangi serta mengatasi stres kerja pada guru sekolah.
Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan,
stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja, tetapi juga suatu
proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat
mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional. Dan stress
sebagai hubungan antara individu dengan stressor yaitu Stres bukan hanya dapat
terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan. Bahwa stressor juga bisa berupa
faktor-faktor yang ada dalam diri individu, misalnya penyakit jasmani yang
dideritanya, konflik internal, dst. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang
sebagai hubungan antara individu dengan stressor, baik stressor internal maupun
eksternal. Stress dapat terjadi karena frustrasi, konflik, tekanan, dan krisis
(Oluwayesi,2019).
Sarwono (2006) dalam Hasibuan( 2000: 20I ) menyebutkan faktor-faktor yang
menjadi penyebab stress kerja adalah:
1. Beban kerja yang sulit dan berlebihan
2. Tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan wajar
3. Waktu dan peralatan kerja yang kurang memadai
7

4. Konflik antara pribadi dengan pimpinan atau dengan kelompok kerja


5. Balas jasa yang terlalu rendah
6. Masalah-masalah keluarga seperti anak, istri, mertua dan lain-lain.
Ada alat tersedia untuk mengukur tingkat stres antara lain (1) Scale Stres
Questionnaire (SSQ); (2) Administrative stres Indeks (ASI) yang dikembangkan oleh
Gmelh dan Swent (1982); (3) Kuesioner tingkat stres guru merupakan instrumen
berdasarkan Kyriacou dan dimodifikasi oleh Loekmono (1999) dan telah dipergu-
nakan juga dalam penelitian Alunpha (2005) dan di pilih untuk digunakan dalam
penelitian ini, terdiri dari 42 item dalam bentuk skala likert yang dikelompokkan
dalam dua bagian, bagian pertama yakni 42 item yang merupakan sumber-sumber
stres. Dari 42 item tersebut dikelompokkan menjadi empat sub bagian, yaitu: (1)
Perilaku peserta didik terdiri dari 11 item; (2) suasanapekerjaan terdiri dari 10 item,
(3) tekanan waktu terdiri dari 10 item; dan (4) etos kerja terdiri dari 11 item dengan
empat skala kemungkinan jawaban diberi skor 1, 2, 3 dan 4. (Donny Toisuta,2017)
Di dalam Akif khilmiyah (2016), Setiap orang akan setuju bahwa stres kerja
berasal dari interaksi para pekerja dan kondisi kerja. Beberapa perbedaan, meskipun
penting dalam karakteristik pekerjaan dengan kondisi pekerjaan sebagai penyebab
primer stres kerja.Perbedaan ini merupakan poin yang penting karena perbedaan jalur
dan pemecahannya.Stres disebabkan oleh beratnya kesibukan fisik dan beban mental
yang harus ditanggung. Menurut Alvin Toffler, stres merupakan penyakit orang di era
globalisasi, karena tingginya kesibukan dan motivasi serta orientasi achievement yang
ingin diraih. Sementara Meyer Friedman dan Ray Rosenman menyimpulkan bahwa
stress memiliki kaitan dengan tingkah laku (behavior), yang dapat memengaruhi
kondisi munculnya penyakit jantung. Karena beratnya beban mental dan fisik akan
memacu tumbuhnya hormon adrenalin dan cortisol (hormon penyebab stres), yang
berakibat serangan jantung, pembuluh darah, otot dan ginjal. Penelitian yang
dilakukan oleh NIOSH Research, menemukan bahwa permainan kondisi kerja suatu
lingkup primer sebagai penyebab stres kerja.
Penyebab stress kerja dapat dibagi dua yaitu yang berasal dari dalam diri
inidividu dan dari luar individu, antara lain: a. Faktor dari dalam individu (Internal),
8

meliputi usia, kondisi fisik dan faktor kepribadian. Ada lima faktor kepribadian yaitu
meliputi Extraversion, Conscientiousness,Emotional Stability, Agreeableness dan
Openness to Experience, dalam hal ini emotional stability sangat berhubungan
dengan mudah tidaknya seseorang mengalami stres. b. Faktor dari luar individu
(External) adalah lingkungan baik lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja,
cita-cita atau ambisi. Lingkungan, mendorong kondisi kerja penuh dengan stres yang
disebut stress kerja, dapat langsung mempengaruhi keamanan pekerja dan kesehatan.
Tetapi faktor individu dan situasional lain dapat pula menjadi pembantu melemahnya
efek kondisi stres kerja, dan sekaligus bisa juga menguatkan munculnya stres kerja.
Menurut Howard dan Jhonson (2002) stres pada seorang guru dapat timbul
dari faktor ling-kungan kerja yang buruk dan tidak mendukung proses belajar
mengajar. Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai kepribadian yang matang,
tegar, dan kemampuan untuk menghadapi maslah yang dihadapi.Kemampuan dalam
mempertahan-kan diri dari stres disebut resiliensi (Diah & Pradna, 2012). Menurut
Kuiper (dalam Diah & Pradna, 2012) menyatakan bahwa resiliensi merupakan bagian
dari psikologi positif, resiliensi akan mengarahkan individu untuk memaknai kembali
kualitas hidup dan mengarahkannya pada gaya hidup yang positif. Hasil akhir yang
diharapkan dari resiliensi adalah untuk membentuk individu untuk memaknai
kembali kualitas hidup dan mengarahkannya pada gaya hidup yang positif. Hasil
akhir yang diharapkan dari resiliensi adalah untuk membentuk individu yang mampu
menghadapi stres dan trauma yang menimpa.
Stres yang dihadapi oleh guru tidak hanya terjadi di sekolah, namun masalah
yang memicu terjadi nya stres pada guru adalah lingkungan luar sekolah jauh lebih
kompleks. Kondisi-kondisi seperti macet, letak geografis yang jauh, hiruk pikuknya
perkotaan, tuntutan peraturan yang dibuat oleh n kata lain salah satu syarat penting
untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu adalah dengan menempatkan tenaga
pendidik yang professional dan memiliki kinerja yang handal. Hasil belajar siswa
atau tinggi rendahnya mutu hasil belajar siswa sangat tergantung pada kemampuan
guru dalam melakukan pengajaran di kelas. Guru yang memiliki kemampuan
9

mengajar dan kinerja yang baik akan membawa dampak peningkatan pada proses
pembelajaran yang baik pula. (Zarina akbar,2017)
Menurut Golizek dalam Ahmad Saputra (2017:75) ada empat tahap stress
kerja, yaitu : 1) Stres kerja yang dapat teratasi, yang ditandai adanya harapan
menigkat dan idealisme, antusias, dedikasi, komitmen terhadap stress kerja serta
memperlihatkan tingkat energy yang tinggi dan sikap positifterhadap kerja. 2)
Streskerjaringan,yangditandai adanya rasa pesimis dan ketidak puasan kerja, frustasi,
kecewa,b osan, jemu dengan kerja, individu mulai memperlihatkan gejala fisik dan
psikologis terhadap stress kerja. 3) Stres kerja sedang yang ditandai dengan menarik
diri dan isolasi. Seseorang mulai mudah marah, bermusuhan, selalu negatif.Timbul
gejala stres fisik dan psikologis, bila lebih buruk akan terjadi perubahan perubahan
sederhana dalam tujuan kerja,sikap dan perilaku selanjutnya terjadi kemunduran.
Stres kerja yang berat, terjadi kerusakan menetap dan hilangnya minat kerja.Timbul
gejala stres kerja berat, harga diri rendah, absen yang kronis, sinis dan negatifism
total, tirnbul kematian kerja dan kelelahan beraktifitas.
Menurut Ahmad Saputra (2017) dalam Cox (2005:92) telah mengidentifikasi
efek stres yang mungkin muncul. Kategori yang disusun Cox meliputi :Dampak
Subyektif (Subjective effect), Kekhawatiran/kegelisahan, kelesuhan, kebosanan,
depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kesabaran, perasaan terkucil dan merasa
kesepian. Dampak Perilaku (Behavioral effect), Akibat stres yang berdampak pada
perilaku pekerjaan dalam bekerja di antaranya peledakan emosi dan perilaku
implusif.Dampak Kognitif (Cognitive effect), Ketidakmampuan mengambil
keputusan yang sehat, daya konsentrasi menurun, kurang perhatian/rentang perhatian
pendek, sangat peka terhadap kritik/kecaman dan hambatan mental.Dampak
Fisiologis (Physiological effect), Kecanduan glukosa darah meninggi, denyut jantung
dan tekanan darah meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar dan
tubuh panas dingin.Dampak Kesehatan (Health effect), Sakit kepala dan migrant,
mimpi buruk, susah tidur, gangguan psikosomatis. Dampak Organisasi (Organization
effect). Produktivitas menurun/rendah, terasing dari mitra kerja, ketidakpuasan kerja,
menurunnya kekuatan kerja, dan loyalitas terhadap instansi.
10

Manajemen stres lebih dari pada sekadar mengatasinya, yakni belajar


menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk
mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Respon
pertama dan banyak orang terhadap stres biasanya menyalakan rokok, meraih
minuman keras, atau menenggak obat-obatan. Sebagian para pengidap stres di tempat
kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja lebih keras yang
berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan apa-apa untuk
memecahkan sebab dari stres, justru akan menambah masalah lebih jauh. Sebelum
masuk ke cara- cara yang lebih spesifik untuk mengatasi stresor tertentu, harus
dipertimbangkan beberapa pedoman umum untuk memacu perubahan dan
penanggulangan. Pemahaman prinsip dasar, menjadi bagian penting agar seseorang
mampu merancang solusi terhadap masalah yang muncul terutama yang berkait
dengan penyebab stres dalam hubungannya di tempat kerja. Memanajemen stres
berarti membuat perubahan dalam cara anda berpikir dan merasa, dalam cara anda
berperilaku dan sangat mungkin dalam lingkungan anda. Perubahan seperti ini
mempengaruhi tidak hanya diri anda, tetapi juga orang dengan siapa anda
bekerja.Walaupun mungkin tidak cocok untuk membicarakan semua perubahan yang
anda buat atau ingin anda buat dengan orang di tempat kerja, diskusi tetap diperlukan.
Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi:
Pertama, taktik yang bersifat personal, yakni strategi yang dikembangkan
secara pribadi atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa
cara, antara lain:
(1) melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif.
Artinya , jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para
karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa
macammacam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja; keluar ke
ruang istirahat (jika menyediakan); pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh
muka dengan air dingin atau berwudlu bagi orang Islam; dan sebagainya. Atau,
melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengendorkan ketegangan, seperti
11

bercanda dengan teman sekerja, mendengarkan musik, nonton televise (2) Melakukan
relaksasi dan meditasi.
Menurut Lulus Margiati (1999) reaksi dan terhadap stres dapat merupakan
reaksi bersifat psikis maupun fisik. Biasanya pekerja atau karyawan yang stres akan
menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia
sebagai usaha mengatasi stres. Usaha me ngatasi stres dapat berupa perilaku melawan
stress (flight) atau freeze (berdiam diri). Dalam kehidupan sehan-hari ketiga reaksi ini
biasanya dilakukan secara bergantian, tergantung situasi dan bentuk stres. Perubahan-
perubahan ini di tempat kerja merupakan gejala-gejala individu yang mengalami stres
antara lain:
a. Bekerja melewati batas kemampuan
b. Keteriambatan masuk kerja yang sering c. Ketidakhadiran pekerjaan
d. Kesulitan membuat keputusan
e. Kesalahan yang sembrono
f. Kelalaian menyelesalkan pekerjaan
g. Lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri
h. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
i. Kerisauan tentang kesalahan yang dibuat
j.Menunjukkan gejala fisik seperti pada alat pencemaan, tekanan darah tinggi,
radang kulit, radang pernafasan.
Secara garis besar dampak stress dapat menimpa pada kondisi fisik
dankondisi psikologis individu. Seperti telah dijelaskan pada indikasi gejala stressdi
atas. Menurut Sukadiyanto (2010), Untuk mengurangi stress yang munculdalam diri
setiap individu, yang pertamadan utama adalah mengetahui penyebabtimbulnya
stress. Dengan mengetahuipenyebabnya, akan mempermudahdalam menentukan cara
mengurangistress yang muncul pada diri individu.Beberapa cara untuk mengurangi
stress antara lain melalui pola makanyang sehat dan bergisi, memelihara
kebugaranjasmani, latihan pernapasan,latihan relaksasi, melakukan aktivitasyang
menggembirakan, berlibur, menjalinhubungan yang harmonis, menghindarikebiasaan
yang jelek, merencanakan kegiatan harian secara rutin,memelihara tanaman dan
12

binatang, meluangkanwaktu untuk diri sendiri (keluarga),menghindari diri dalam


kesendirian.Pola makan yang sehat dan bergisi.
Pada umumnya pola makan yang sehatadalah minimal makan 3 kali
dalamsehari, dan menunya 4 sehat 5 sempurna.Untuk itu, yang perlu
diperhatikanadalah jenis asupan makanan komposisinyaharus seimbang antara
karbohidrat,lemak, dan protein. Oleh karenaasupan makanan juga dapat
menyebabkantimbulnya stress pada individu, terutamajenis makanan yang
mengandung lemak. Sebagai contoh kaum wanita yang banyak mengkonsumsi lemak
cenderung akan mengalami kegemukan, dan kegemukan adalah momokbagi kaum
wantia. Selain itu, orang yang mengalami stress akan terjadi pemecahan lemak tubuh
sehingga menambah kandungan lemak dalam darah. Kondisi seperti itu akan
mengganggu sistem peredaran darah dan mengakibatkan penyumbatan dalam
pembuluh darah. Untuk itu, pola makan 4 sehat 5 sempurna perlu terus dilakukan,
agar individu dapat terhindar dari stress.Budaya makan makanan yang bersifat instant
harus segera dikikis guna menjamin asupan gisi yang sehatbagi jiwa dan raga.
Individu yang memiliki kebugaranjasmani baik akan terhindar dari stress,
karena memiliki kemampuan ambang rangsang psikis yang tinggi terhadap stress.
Sebab landasan yang kuat bagi kondisi psikologis individu adalah makanan yang
sehat dan bergisi, waktu is tirahat yang cukup, dan kebugaran jasmani yang baik
(Loehr, 1993:149). Untuk itu, aktivitas jasmani yang dilakukan secara terprogram,
terukur, teratur, dan rutin mampu mengurangi potensi serangan stress, selain itu juga
mampu memelihara kebugaran jasmani individu. Dianjurkan individu non
olahragawan untuk melakukan aktifitas fisik, antara lain seperti jogging, jalan,
renang, bersepeda dengan intensitas ringan sampai sedang, dalam durasi waktu
minimal 20 menit, frekuensinya 3 kali setiap minggu, akan membantu memelihara
kebugaran jasmani. Latihan pernapasan. Pernapasan yang baik adalah menarik napas
secara perlahan dan dalam yaitu menggunakan diagphragma (Jawa: unjal ambegan)
dan sesaat ditahan di perut, selanjutnya dikeluarkan secara perlahan pula. Cara
bernapas seperti ini sangat membantu mereduksi stress. Sebagai contoh, jika individu
mengalami jantung berdebardebar, lakukanlah bernapas secara perlahan dan dalam
13

maka denyut jantung relatifakan lebih lambat. Permasalahanyang muncul sekarang,


apakah pernapasan yang selama ini dilakukan oleh setiap individu sudah
baik?Adapun caranya dengan merasakan pada saat menghirup maupun mengeluarkan
udara yang dilakukan secara perlahan dan dalam dengan memanfatkan
diagphragma.Untuk itu, mulai dari sekarang perlu dilakukan latihan pernapasan yang
baik dan benar agar semua individu terhindar dari stress yang berat.Latihan
relaksasi.Relaksasi sangat diperlukan baik secara fisik maupun psikis.Bagi
olahragawan yang mengandalkan aktifitas fisik perlu melakukan masase secara
rutin.Hal itu dimaksudkanuntuk mengembalikan dan memperlancar simpul syaraf
yang tidak dalam posisinya pada saat berolahraga.
Menurut Lake (2004: 90) massage can beused as relaxation, reassurance,
communication and fun. Untuk itu, tepat jika FIKUNY kini telah membuka klinik
terapifisik sebagai sarana mengaplikasikanilmu dan sarana pengabdian pada
masyarakat,guna membantu mewujudkan masyarakat yang jauh dari stress,
sehinggatercipta warga masyarakat sehatjasmani dan rohani. Selain itu,
relaksasisecara psikologis dapat dilakukan dengancara mengkombinasikan
latihanpernapasan dan relaksasi. Sebagai contohbagi umat muslim pada waktushalat
tahajud atau setelah shalat subuhwajib melakukan dzikir atau wiridan yang dibarengi
dengan merasakan danmelakukan cara bernapas yang baikdan benar. Insya Allah
individu ituakan terhindar dari stress yang berat.Melakukan aktivitas yang
menggembirakanakan membantu individu terhindar dari perasaan stress. Sebab
melalui aktivitas yang menggembirakan, individu yang memiliki masalah, sejenak
akan melupakan permasalahannya.
Oleh karena itu, akhir-akhir ini muncul terapi melalui tertawa yang sampai
terbahak-bahak dan bahkansampai menangis, yang tujuannya untukmendorong
munculnya hormone endorphin dari dalam diri individu itusendiri.Cara ini dapat
dikombinasikandengan latihan kebugaran jasmani di atas, dengan aktivitas ringan
sampai sedang minimal dalam waktu 20 menit juga dimaksudkan untuk mendorong
munculnya hormon endorphin dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan munculnya
hormon endorphin tersebut akan berdampak pada individu merasakan riang dan
14

gembira.Berlibur atau rekreasi merupakanaktivitas yang bertujuan untuk


melepaskansegala kelelahan (kepenatan) baik fisik maupun psikis dengan
caramengubah suasana yang menjadi rutinitas. Terutama bagi yang sudah
berkeluargaberlibur sangat diperlukan guna menjalin hubungan yang harmonis antar
anggota keluarga agar terjadi komunikasi yang harmonis pula (Baljeet
Singh,2018).Selain itu, dengan perubahan suasana mampu menggairahkan kinerja
individu yang mengalami kepenatan karena rutinitas pekerjaan atau beban pikiran
yang terlalu berat.Menjalin hubungan yang harmonis,hubungan dan komunikasi
dengan pihaklain secara harmonis, terutama keluarga,akan membantu mereduksi
potensiindividu terserang stress. Sebagaicontoh individu yang tidak diterima dengan
baik dalam ligkungan keluarganya,akan menyebabkan stress sehingga perilakunya
serba salah. Hal itu yang mengakibatkan individu tidak nyaman tinggal di rumah, jika
kondisi seperti itu terus berkepanjangan berakibat brokenhome pada diri
individu.Untuk itu, dalam keluarga harus diciptakan suasana dan komunikasi yang
harmonis antar anggotanya agar terhindar dari stress.Selain itu, dengan tetangga atau
rekan kerja jalinan yang harmonis terus digalakkan, agar dalam lingkungan atau satu
ruang kerja tidak terjadi rasa permusuhan dan saling mencurigai satu dengan yang
lainnya. Suasana lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja yang tidak harmonis
berpotensi melahirkan stress, menghindari kebiasaan yang jelek.
Menurut Shiet ching (2010), faktor berikut yang berkontribusi terhadap
sumber stress adalah keseimbangan pekerjaan rumah. 70,74% dari varians dicatat
dengan mengukur dukungan emosional dan dukungan praktis dari keluarga dan
teman-teman. Dengan kata lain, manajer tanpa dukungan emosional dan dukungan
praktis dari luar tempat kerja akan mengalami stress kerja. Faktor lain adalah
hubungan yang mengacu pada kurangnya lingkungan kerja yang mendukung,
diskriminasi, merasa terisolasi, dan kurangnya dorongan dari atasan yang akan
meningkatkan tingkat stress pada manajer. Faktor lain yang terakhir yaitu rekruitmen
organisasi yang tidak memiliki prospek yang jelas dan tidak adanya potensi
pengembangan berkontribusi pada faktor pengakuan.
15

Pada umumnya individu yang mengalami stress penyalurannya antara


lainmelalui merokok, makan secara berlebihan, minum minuman keras,
danmengkonsumsi narkoba. Sesaat mungkin kegiatan tersebut dapat menghilangkan
stress, tetapi dalam jangka waktu yang lama dan berlebihan justru
akanmembahayakan terhadap kesehatan individu itu sendiri. Merencanakan kegiatan
harian secara rutin.Hidup adalah serangkaian rutinitas, namun manusia selalu
melupakan rutinitas tersebut. Bahkan dalam menjalani hidup ini individu sering lupa
dalam merencanakan kegiatan yang akan dijalani dalam satu hari ini. Sebagai contoh
hari ini ada rapat atau seminar, tetapi individu tersebut jika lupa jadwal kegiatannya
maka akanmenimbulkan stress. Sebaliknya, jika individu mengetahui secara pasti
jadwal kegiatan dari hari ke hari maka akanmengurangi resiko terkena stress.
Memelihara tanaman dan binatang dapat sebagai sarana untuk mengurangi beban
stress pada individu. Dengan menanam dan merawat tanaman dapat sebagai hiburan
dan pengalihan perhatian atau konsentrasi pada suatu permasalahan. Dengan merawat
tanaman konsentrasi sesaat akan tercurahkan pada tanaman tersebut, sehingga beban
stress dapat berkurang. Selain itu, memelihara binatang piaraan antara lainseperti
kucing, anjing, burung, ikan dansejenisnya merupakan hiburan yang mampu
mengalihkan konsentrasi dari suatu permasalahan ke objek yang dirawat.
Meluangkan waktu untuk diri sendiri (keluarga).Seperti telah dijelaskan di atas dalam
rekreasi atau meluangkan waktu bagi diri sendiri dan keluarga sangat diperlukan agar
individu terhindar dari stress.Selain itu, kegiatan seperti memancing ikan dapat
sebagai sarana mengurangi ketegangan pada individu yang mengalami
stress.Menghindari diri dalam kesendirian.Jika individu mengalami stress sebaiknya
banyak bergaul dengan orang lain agar tidak dalam kesendirian, sebab jika dalam
kesendirian individu itu akan semakin menikmati stressnya. Dengan semakin
menikmati stress kondisinya akansemakin buruk dan membahayakan. Untuk itu, akan
lebih baik individu yang mengalami stress mencari teman yang dapat diajak untuk
mencurahkan isi hati (curhat), sehingga beban psikologis penyebab stress dapat
dikurangi.Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses
coping terhadap stress. Menurut Bart Smet, coping mempunyai dua macam fungsi,
16

yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping.


Emotionalfocused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap
stress. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan
minuman keras, bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan, dst.
Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”, penarikan diri, dan
kompromi. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakuakn secara
tidak sadar (bahwa itu keliru), tidak realistis, dan tidak rasional. Cara kedua ini dapat
dilakukan dengan : fantasi, rasionalisasi, identifikasi, represi, regresi, proyeksi,
penyusunan reaksi (reaction formation), sublimasi, kompensasi, salah pindah
(displacement). (Musradinur,2016) Sedangkan problem-focused coping dilakukan
dengan mempelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stres.
Menurut Bart Smet, individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya
yakin dapat merubah situasi, dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa.
Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres, Maramis berpendapat bahwa ada
bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan untuk itu, yang secara garis besar
dibedakan menjadi dua, yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task
orienteddan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence
mechanism. Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya
mengatasi masalah tersebut secara sadar, realistis, dan rasional.
17

BAB III
IDE PENULIS

Mengalami stres bukanlah suatu hal yang selalu buruk. Sedikit stres dapat
membantu Anda tetap fokus, tetap berenergi, dan mampu menghadapi tantangan baru
di tempat kerja. Akan tetapi dalam dunia kerja saat ini, kantor seringkali tampak
sebagai tempat yang membuat emosi Anda tidak stabil. Jam kerja yang panjang,
deadline ketat, dan tuntutan kerja yang selalu meningkat bisa membuat Anda merasa
khawatir, terkuras dan kewalahan. Sementara stres ringan di tempat kerja merupakan
satu hal yang normal, stres yang terus menerus dapat mempengaruhi produktivitas
dan penampilan Anda di tempat kerja.
Stres berat juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan mental, juga
mempengaruhi hubungan sosial dan kehidupan di rumah bahkan juga dapat
membedakan antara kesuksesan dan kegagalan dalam bekerja. Anda tidak dapat
mengontrol semua hal di lingkungan kerja, namun tidak berarti Anda tidak memiliki
kekuatan sama sekali walaupun ketika sedang terjebak di situasi yang sulit. Jika stres
di tempat kerja sudah mempengaruhi kondisi fisik dan mental Anda, maka sudah
waktunya Anda mengambil tindakan untuk mengatasinya.
Apapun ambisi atau tuntutan pekerjaan Anda, ada langkah – langkah yang
bisa dilakukan untuk melindungi diri dari efek merusak stres, memperbaiki kepuasan
kerja, dan mendorong kesejahteraan di dalam dan luar kantor. Cara mengatasi stres
pada karyawan yang dapat dilakukan antara lain: a) Mencari dukungan rekan
kerja,Memiliki sistem support yang solid di kantor dapat membantu mengalihkan
Anda dari efek negatif stres pada pekerjaan. Ingatlah untuk mendengarkan mereka
dan menawarkan dukungan ketika mereka membutuhkan dukungan juga. Jika Anda
tidak memiliki teman dekat di kantor, Anda bisa mulai mencoba bergaul lebih dekat
dengan teman kerja. b) Mengambil inisiatif,Kita mungkin saja mengalami stres ketika
merasa situasinya ada di luar kendali. Hal itu akan mengaktifkan hormon stres dan
dalam situasi kronis akan menurunkan keyakinan diri, konsentrasi dan kenyamanan
diri. Cobalah untuk mengidentifikasi aspek – aspek dari situasi tersebut yang bisa
18

Anda kontrol dan yang tidak bisa dikontrol. Ketahuilah juga ruang lingkup psikologi
dalam dunia kerjadan cara melatih mental agar berani c) Ambil napas dalam, Kita
tidak dapat mengabaikan faktor psikologi dalam lingkungan kerja. Ketika Anda
merasa kewalahan atau mulai merasakan ketegangan dan mulai menjernihkan pikiran,
beberapa menit mengatur napas akan mengembalikan keseimbangan. Tarik napas
selama lima detik, tahan dan hembuskan napas dalam hitungan yang sama melalui
hidung. d) Minimalkan gangguan, Mungkin Anda tidak dapat mengontrol gangguan
yang datang, namun Anda dapat mengontrol bagaimana cara Anda menanganinya
untuk cara mengatasi stres pada karyawan. Terimalah dulu gangguan tersebut,
pikirkan tingkat kepentingannya dan buatlah rencana.Banyak gangguan di tempat
kerja muncul berulang dan bisa diantisipasi sebelumnya. e) Buatlah jadwal,
Kebanyakan dari kita melalui hari tanpa jadwal yang pasti, menganggap bahwa jika
kita bekerja penuh waktu maka semua tugas dapat diselesaikan. Akibatnya justru
dapat menurunkan tingkat produktivitas, menaikkan tingkat stres dan Anda akan
memiliki sangat sedikit energi untuk melakukan kegiatan yang lain. Sebaiknya
jadwalkan hari Anda untuk beberapa kegiatan rutin termasuk bekerja dan waktu
untuk keluarga dan teman – teman agar lebih teratur. Dengan demikian Anda tidak
akan menghabiskan seluruh hari hanya dengan bekerja. f) Menjaga pola
makan,Ketika Anda sedang terlalu fokus pada pekerjaan, mudah untuk melupakan
kesehatan fisik Anda. Pola makan yang buruk akan mempengaruhi sistem tubuh
Anda. Mengonsumsi makanan rendah gula dan tinggi protein akan sangat baik untuk
cara mengatasi stres pada karyawan. g) Menjaga pola tidur, Tidur adalah saat yang
kritis untuk pemulihan tubuh. Ketika Anda tidak cukup tidur, maka Anda tidak
mendapatkan efek pemulihan yang cukup pula.Pikiran yang tumpang tindih kerap
mencegah Anda untuk tidur atau terbangun pada malam hari dan sulit untuk kembali
tidur. Karena itulah menjaga pola tidur yang benar dapat membantu Anda untuk tidak
mudah mengalami stres di kantor. h) Mengubah sudut pandang, Pandangan Anda
terhadap masalah kantor yang membuat stres biasanya merupakan interpretasi
subjektif pada fakta yang ada. Kerap kali Anda melihat masalah melalui rasa tidak
percaya diri sendiri. Namun jika Anda bisa mengevaluasi dan melihat masalah
19

melalui pandangan yang lebih objektif, Anda akan menjadi lebih efektif dan mungkin
saja tidak akan terlalu mengambil masalah terlalu pribadi. i) Menentukan penyebab
stress,Buatlah catatan selama satu atau dua minggu untuk mengidentifikasi situasi apa
yang paling menyebabkan Anda merasa stres dan bagaimana cara Anda
meresponnya. Catat pikiran – pikiran Anda, perasaan dan informasi mengenai
lingkungan, termasuk orang – orang dan situasi yang terlibat, situasi fisik dan
bagaimana respon Anda. j) Mengembangkan respon positif, Daripada berusaha untuk
melawan stres dengan cara yang merusak, lakukan sebaik – baiknya untuk membuat
pilihan sehat ketika Anda merasa ketegangan memuncak. Carilah kegiatan untuk
mengalihkan pikiran negatif ketika sedang stres, apakah itu berjalan – jalan sejenak,
membaca, mendengarkan musik, atau hanya sekedar melakukan latihan pernapasan
untuk mengurangi ketegangan.
Kemudian, cara lain yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi stress bekerja
yaitu k) Menggerakkan tubuh, Cara mengatasi stres pada karyawan lainnya yaitu
dengan menggerakkan fisik Anda. Latihan aerobik dapat meningkatkan detak jantung
dan membuat Anda berkeringat, menjadi cara yang sangat bagus untuk meningkatkan
mood, energi dan menajamkan fokus, juga membua ttubuh dan pikiran lebih santai.
Gerakan ritmis seperti berjalan, berlari, menari, dan lain sebagainya juga dapat
menenangkan saraf yang sedang tegang. Untuk pelepasan stres maksimal, cobalah
untuk melakukan setidaknya 30 menit aktivitas setiap hari. l) Menjauhi pemicu stres
pribadi, Terkadang stres juga dapat disebabkan oleh pikiran kita sendiri. Belajar
untuk menghentikan stres diri sendiri dengan membangun kepercayaan diri sendiri
daripada mencari persetujuan orang lain akan menjadi hal yang baik untuk cara
mengatasi stres pada karyawan. Jika Anda terlalu terpaku pada pendapat orang lain
mengenai diri Anda yang tentunya tidak bisa dikontrol, Anda akan mudah stres dalam
seketika. Sebaliknya, biasanya begitu Anda berhenti berusaha menyenangkan orang
lain dan berfokus terhadap pekerjaan itu sendiri, Anda justru akan membuat mereka
terkesan. m) Tentukan prioritas, Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan
prioritas kerja yang terus berubah – ubah, sangat penting untuk menentukan apa yang
benar – benar penting dan mengapa. Hal ini memerlukan kejelasan pikiran, mengerti
20

peranan Anda dalam organisasi, prioritas strategis perusahaan, dan tujuan pribadi
serta kekuatan Anda.Fokuskan diri pada satu proyek yang memiliki dampak paling
kuat dan paling sejalan dengan tujuan – tujuan Anda. n) Mengendalikan kepanikan,
Mungkin Anda termasuk orang yang mudah panik dan gugup menjelang satu
presentasi, Anda dapat mengurangi ketegangan dengan cepat menggunakan teknik
akupresur. Tempatkan jempol Anda di sisi jari tengah dan tekan seketika akan
membantu peredaran tubuh Anda kembali normal. o) Mempengaruhi rekan kerja,
Walaupun Anda sudah bertanggung jawab dengan perilaku dan penampilan Anda,
namun masih ada perilaku orang lain yang perlu ditangani. Menghadapi masalah
dengan rekan kerja atau sesama karyawan dapat dilakukan dengan membicarakan
perilaku buruk dengan nada bersahabat, menggambarkan dampaknya pada tim dan
pada perorangan, lalu meminta perubahan. Jika Anda berbicara dengan nada kritis,
rekan lain mungkin akan menjadi tidak nyaman dan mengurangi kemungkinan
mereka akan melihat Anda sebagai pemimpin. Ketahui cara menghadapi atasan dan
rekan kerja yang kurang menyenangkan. p) Introspeksi diri. Pikiran negatif
merupakan salah satu isi pikiran manusia yang akan merusak dan membuat stres.
Janganlah bersikap terlalu keras dan mengkritik diri sendiri.Cobalah untuk
mendorong kepercayaan diri Anda sendiri agar bertambah dengan melakukan
introspeksi diri. Pikiran yang mendukung akan membantu Anda untuk termotivasi
mencapai dan melatih diri untuk menginspirasi orang lain. Cobalah untuk melakukan
cara menghadapi orang yang meremehkan kita dengan baik.
Jika cara mengatasi stres pada karyawan yang Anda lakukan belum berhasil,
menerima bantuan dari teman yang bisa dipercaya dan anggota keluarga dapat
memperbaiki kemampuan Anda untuk mengelola stres. Atasan Anda mungkin
memiliki akses kepada sumber yang dapat mengelola stres berupa konseling dan
terapi dengan tenaga kesehatan mental profesional jika dibutuhkan.Jika Anda terus
merasa kewalahan dengan stres di tempat kerja, Anda mungkin ingin berkonsultasi
dengan psikolog.Peran psikolog dalam perusahaan sangat penting sebagai orang
berkompeten yang akan dapat membantu Anda mengatasi dan mengelola stres dan
mengubah perilaku tidak sehat sebagai pegawai ataupun karyawan.
21

BAB IV
KESIMPULAN

Stress tidak pernah dapat dihindari oleh setiap individu selama dalam
kehidupannya sehingga setiap individu harus mampu mengenali penyeba stress dan
cara-cara menguranginya. Tujuannya agar individu dalam mengarungi kehidupannya
tidak terlalu banyak terlanda stress, sehingga dapat menikmati kehidupan dengan
layak, nyaman, dan bahagia. Untuk itu, perludiciptakan lingkungan keluarga,
lingkungan kerja, dan suasana yang harmonis serta kondusif agar warga masyarakat
yang ada di lingkungan tersebut sejahtera lahir dan batin. Juga untuk selalu
mendekatkan diri dengan Tuhan dan jangan lupa untuk selalu menyebut nama Tuhan
di setiap waktu dan di setiap kesempatan. Insya Allah individu yang demikian itu
akan tehindarkan dari stress. 30,27% dari 80.000 guru menderita stres dalam bekerja.
Ini berarti jumlah guru yang mengalami stres dalam bekerja sebanyak 24,000 orang.
Menurut studi yang di lakukan, bahwa stres dalam bekerja akan mempengaruhi
kinerja pada guru,semakin tinggi tingkat stres yang dialami oleh guru, maka
produktivitas dan kinerja pada guru akan mengalami penurunan. Selain itu menurut,
ketidak mampuan guru menggatasi masalah dengan baik, seperti masalah dalam
keluarga akan menimbulkan konflik dalam pekerjaan yang akan berpengaruh pada
pekerjaan sehingga timbul stres dalam bekerja
Manajemen stres lebih dari pada sekadar mengatasinya, yakni belajar
menanggulanginya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk
mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Respon
pertama dan banyak orang terhadap stres biasanya menyalakan rokok, meraih
minuman keras, atau menenggak obat-obatan. Sebagian para pengidap stres di tempat
kerja akibat persaingan, sering melampiaskan dengan cara bekerja lebih keras yang
berlebihan. Ini bukanlah cara efektif yang bahkan tidak menghasilkan apa-apa untuk
memecahkan sebab dari stres, justru akan menambah masalah lebih jauh.Ada empat
tahap stress kerja, yaitu : 1) Stres kerja yang dapat teratasi, yang ditandai adanya
harapan menigkat dan idealisme, antusias, dedikasi, komitmen terhadap stress kerja
22

serta memperlihatkan tingkat energy yang tinggi dan sikap positif terhadap kerja. 2)
Stres kerja ringan,yang ditandai adanya rasa pesimis dan ketidak puasan kerja,
frustasi, kecewa,b osan, jemu dengan kerja, individu mulai memperlihatkan gejala
fisik dan psikologis terhadap stress kerja. 3) Stres kerja sedang yang ditandai dengan
menarik diri dan isolasi. Seseorang mulai mudah marah, bermusuhan, selalu negatif.
Timbul gejala stres fisik dan psikologis, bila lebih buruk akan terjadi perubahan
perubahan sederhana dalam tujuan kerja,sikap dan perilaku selanjutnya terjadi
kemunduran. Stres kerja yang berat, terjadi kerusakan menetap dan hilangnya minat
kerja.Timbul gejala stres kerja berat, harga diri rendah, absen yang kronis, sinis dan
negatifism total, tirnbul kematian kerja dan kelelahan beraktifitas.
Sedangkan terdapat beberapa efek yang dihasilkan dari seseorang yang
mengalami stres yaitu Dampak Subyektif (Subjective effect),
Kekhawatiran/kegelisahan, kelesuhan, kebosanan, depresi, keletihan, frustasi,
kehilangan kesabaran, perasaan terkucil dan merasa kesepian.Dampak Perilaku
(Behavioral effect), Akibat stres yang berdampak pada perilaku pekerjaan dalam
bekerja di antaranya peledakan emosi dan perilaku implusif.Dampak Kognitif
(Cognitive effect), Ketidakmampuan mengambil keputusan yang sehat, daya
konsentrasi menurun, kurang perhatian/rentang perhatian pendek, sangat peka
terhadap kritik/kecaman dan hambatan mental.Dampak Fisiologis (Physiological
effect), Kecanduan glukosa darah meninggi, denyut jantung dan tekanan darah
meningkat, mulut kering, berkeringat, bola mata melebar dan tubuh panas
dingin.Dampak Kesehatan (Health effect), Sakit kepala dan migrant, mimpi buruk,
susah tidur, gangguan psikosomatis. Dampak Organisasi (Organization effect),
Produktivitas menurun/rendah, terasing dari mitra kerja, ketidakpuasan kerja,
menurunnya kekuatan kerja, dan loyalitas terhadap instansi.terdapat langkah –
langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari efek stres, memperbaiki
kepuasan kerja, dan mendorong kesejahteraan di dalam dan luar kantor. Caranya
adalahmengambil inisiatif,ambil napas dalam, minimalkan gangguan, uatlah jadwal,
menjaga pola makan,menjaga pola tidur, mengubah sudut pandang, menentukan
penyebab stress,mengembangkan respon positif, menggerakkan tubuh, menjauhi
23

pemicu stres pribadi, tentukan prioritas, mengendalikan kepanikan, dan


mempengaruhi rekan kerja.
24

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fhaturrohman. 2018. Pengaruh Keterlibatan Kerja Dan Stres Terhadap


Kinerja Guru SMK Swasta Kecamatan Matraman Jakarta Timur. Jurnal SAP.
3(1)

Ahmad Saputra. 2017. Pengaruh Motivasi, Stress Kerja, Dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Guru Yayasan Perguruan DR Wahidin Sudirohusodo
Medan. Jurnal Manajemen Bisnis. 28(1)

Akif Khilmiyah. 2012. Stres Kerja Guru Perempuan Di Kecamatan Kasihan Bantul
Yogyakarta. Jurnal Lentera Pendidikan. 15(2): 135

Allison E.Gaffey. 2019. Stress, Rejection, And Hormones: Cortisol And Progesterone
Reactivity To Laboratory Speech And Rejection Task In Women And Men
Version 2 And Peer Review 2 Approved. Departement Of Pshycology 3:208

Baljeet Singh. 2018. Milestones Achieved In Response To Drought Stress Throught


Reverse Genetic Aprhoaches. Byotecnology, Lovely Professional University.
7:1311

Donny Toisuta. 2017. Hubungan Kepuasan Kerja, Stres Guru dengan Kebahagiaan
Guru Pendidikan Agama Sekolah Menengah Di Kota Ambon. Jurnal Satya
Wacana. 33(1):11-28

Darius Backer Krail. 2016. Implications Of Circadian Rhythm An Stress In Addiction


Vulnerability. School Of Medicene Department Of Paychiatry. 5:59

Fandi Muhbar. 2017. Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan Beban Kerja Guru Di
Sekolah Luar Biasa. Jurnal Keperawatan. 5(2)

Kay Yeoman. 2016. The Representation Of Scientific Research In The Nasional


Curriculum And Secondary School Pupils Perception of Research Its
Function Usefulness And Value To Their Lives. School Of Byological Sains.
4:1422

Lulus Margiati. 1999. Stres Kerja- Penyebab Dan Alternatif Pemecahannya. Jurnal
Masyarakat Kebudayaan Dan Politik. XII(3)

Musradinur. 2016. Stres Dan Cara Mengatasinya Dalam Perspektif Psikologi. Jurnal
Edukasi. 2(2)
25

Mahdi Eskandari. 2018. Can Work Related Stress And Job Satisfaction Affect Job
Commitmen Among Nurses? A Cross-Sectional Study. Shahid Bahesty
University Of Medical Science. 7:218

Mfrekempon P Inyang. 2019. Nigerian Secondart School Adolescent Perspektive On


Abstinence Only Sexual Education As An Effective Tool For Promotion Of
Sexual Health. Departement Of Human Kinetics And Health Education. 2:88

Oluwayesi Abiodun Akpor. 2019. Teenage Pregnancy In Nigeria Professional


Nurses And Educator Perspective. Departmen Of Nursing Science. 8:31

Sarwono. 2006. Hubungan Masa Kerja Dengan Stres Kerja Pada Pustakawan
Perpustakaan Univeristas Gadjah Mada Yogyakarta. Jurnal Berkala Ilmu
Perpustakaan Dan Informasi. 3(1)

Sukadiyanto. 2010. Stres Dan Cara Menguranginya. Jurnal Cakrawala Pendidikan.


XXIX(1): 56-57.

Shiet Ching Wong. 2010. Understanding Stress , Job Satisfaction And Physical Well
Being Of Managers. Jurnal Psikology.37:2