Anda di halaman 1dari 6

RAHASIA

JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG

LAPORAN ANAMNESA
Menentukan Tipologi

( Lokasi : ..................................................... Padang )

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas


Matakuliah Wawancara

Dosen Pembimbing :
Mardenny, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Oleh

xxxxxxxx 20050007015

PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL
PADANG
2018

Halaman : 0
RAHASIA

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKOLOGI

I. IDENTITAS
Identitas Subjek
Nama : GG
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir : S, 21 Februari 1977 (31 thn)
Suku Bangsa : S
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
Pendidikan : SLTA
Urutan dalam keluarga : Anak ke 1 dari 2 bersaudara
Alamat : Jl. DIP No.4 Kota S

Identitas Ayah
Nama Ayah : ESA (alm)
Usia : 59 tahun (saat meninggal dunia)
Suku Bangsa : S
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : PNS
Alamat : -

Identitas Ibu
Nama Ibu : TS
Usia : 50 tahun
Suku Bangsa : S
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. DIP No.4 Kota S

Tujuan pemeriksaan : Menentukan tipologi


Tanggal pemeriksaan : ............................................ 2018
Kasus : Normal
Tempat pemeriksaan : ....................................................... Padang
Pemeriksa :
Pembimbing : Mardenny, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Halaman : 1
RAHASIA

II. STATUS PRAESENS.


S memiliki tinggi badan 170 cm dan berat kira-kira 55 kg, sekilas S
tampak kurus dengan cara berjalan yang lambat sambil menundukkan
kepala saat berjalan. Rambut dipotong pendek dengan warna kulit agak
hitam.
Selama pemeriksaan berlangsung S lebih sering terlihat mengenakan
baju kaos berlabel Lapassuka berwarna hitam yang menurutnya dibagikan
saat ia mendapatkan remisi pada tanggal 17 Agustus tahun lalu (kecuali hari
jum’at S mengenakan baju koko putih). Saat pemeriksaan dilakukan kondisi
S dalam keadaan compos mentis.

III. OBSERVASI

Observasi Umum

Observasi Khusus

IV. ANAMNESA

Latar Belakang Keluarga


S adalah anak pertama dari dua bersaudara dengan keurutan sebagai
berikut :
1. S (Laki-laki) Usia 31 tahun
2. T (Wanita) Usia 11 tahun
Dibesarkan pada lingkungan keluarga yang tergolong menengah,
Ayah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (BKKBN) di kota S. Bagi S, Ayah
adalah orang yang keras dan suka menghukum jika S melakukan kesalahan
atau melanggar aturan yang telah dibuat Ayah. Menurut S Ayah jarang sekali
berbicang-bincang dengan S apalagi untuk mendengarkan permasalahan
yang dihadapi S. Di lingkungan sosialnya, Ayah dipercaya oleh masyarakat
sekitar rumahnya untuk menjadi ketua RT. Ibu menurut S tidak pernah
mengekang S, cenderung memberi kebebasan kepada S untuk melakukan
apapun asal menurut S baik. Kegiatan Ibu selalu mendukung Ayah sebagai
ketua RT, Ibu sering mengikuti acara-acara di Kelurahan seperti Pos Yandu,
PKK, dan acara-acara sosial kemasyarakatan lainnya. Saat S dibangku SLTA
Ibu pernah membuka warung kecil-kecilan untuk menambah keuangan

Halaman : 2
RAHASIA

keluarga, namun tidak lama sebab menurutnya modalnya habis karena


kebanyakan masyarakat disekitarnya hanya membeli barang dengan
berhutang dan sulit untuk membayarnya kembali. Ibu saat itu tidak mau
menagih piutangnya kepada pembeli sebab menurut S ibu kasihan kepada
mereka. Setelah warungnya ditutup, kebutuhan keluarga S masih tetap bisa
terpenuhi. S lebih dekat dengan ibu, sebab menurutnya ibu orangnya lebih
penyabar.
Ayah dan ibu menurut S memang jarang menjalankan ajaran
agamanya, sekalipun ibu sering mengikuti pengajian-pengajian yang
diadakan oleh ibu-ibu disekitar rumahnya. Pengajaran mengenai agama
tidak pernah didapat S dari kedua orang tuanya, sebab Ayah maupun Ibu
tidak pernah berbicara mengenai agama kepadanya.
Sejak kecil S sering menerima hukuman dari Ayah dan Ibunya, baik
fisik maupun dimarahi. Ibu sering memukul S dengan menggunakan sapu
lidi, sedangkan yang paling membekas pada S adalah hukuman yang pernah
diterimanya dari Ayah. Saat SLTA ia terlambat pulang kerumah, dan waktu itu
ia dimarahi oleh Ibunya. Mendengar Ibu marah-marah Ayah mendatangi
keduanya dan tanpa bertanya apa masalahnya Ayah melemparkan sebilah
pisau ke kaki S dan mengenai betis kirinya. Saat itu Ayah langsung pergi dan
tidak berusaha untuk mencabut pisau yang tertancap di betis S. Pelemparan
dengan menggunakan pisau itu menurut S karena Ayah pada saat siang
harinya menghadapi masalah pekerjaan yang cukup rumit dan kondisinya
saat itu sedang kurang sehat.

Riwayat Pendidikan
Masuk sekolah pada usia 7 tahun. Menurutnya matapelajaran
matematika dirasa paling sulit untuk diikutinya. Prestasi selama sekolah
biasa-biasa saja dan tidak pernah masuk dalam sepuluh besar dan tidak
pernah tinggal kelas. Saat akan masuk SMA pilihannya (SMAN 2 S) Ayah
dan Ibu melarang sebab jauh dari rumah, sedangkan S sangat ingin sekolah
yang jauh dari rumah. Keinginan S untuk sekolah di sekolah pilihannya
akhirnya gagal dan ia disekolahkan di SMAN 3 yang berdekatan dengan
rumahnya. Olah raga menjadi matapelajaran yang paling disukai oleh S, dan
ia selalu ikut jika ada kejuaraan antar kelas disekolahnya untuk pertandingan
volly.

Halaman : 3
RAHASIA

Riwayat Pekerjaan
S pernah bekerja di Palembang karena diajak oleh pamannya yang
sudah bekerja terlebih dahulu. Bidang pekerjaan yang dijalankan oleh S saat
itu adalah pemasaran dibidang developer. Pekerjaan itu menurut S sesuai
dengan keinginannya sekalipun gaji yang diterimanya perbulan hanya cukup
untuk keperluan sehari-harinya tanpa bisa menabung. S akhirnya disuruh
pulang oleh orang tuanya setelah satu tahun bekerja. Awalnya S menolak
suruhan orang tuanya sebab mereka tidak memberikan alasan mengapa ia
harus segera pulang ke S. Setelah beberapa kali ditelepon, akhirnya S minta
izin dari perusahaan untuk pulang dalam beberapa hari. Sesampainya S di S
semua menjadi “berantakan” sebab S disuruh Ayah untuk menyambung
sekolahnya ke Perguruan Tinggi. S awalnya menolak sebab ia merasa tidak
mampu untuk melanjutkan selain ia juga sudah bekerja di Palembang.
Berbagai alasan yang diberikan S kepada Ayah tidak ditanggapi, sampai
akhirnya S memutuskan untuk membuat surat mengunduran diri dari
tempatnya bekerja.

Kehidupan Emosi
S sering melamun, yang dilamunkan adalah tentang masalah
hidupnya. Saat ini ia sering melamunkan masalah kasus yang dihadapinya
saat ini. Ia sering menyesali perbuatannya mengapa saat itu ia mau saja
mengikuti ajakan temannya, padahal kalau saat itu ia menolak dengan
alasan tidak ada surat tugas pasti ia akan terbebas dari hukuman yang ia
jalani saat ini. Selain itu ia juga sering merasa dirinya bebeda dengan orang
lain, S mengatakan bahwa ia sulit beradaptasi dengan teman-temannya
sesama narapidana lain. Sampai saat ini ia hanya memiliki 3 orang teman
tempat ia bercerita, dua diantaranya adalah temannya yang seperkara
dengannya saat itu.
S bercita-cita untuk memperbaiki diri dan sikap yang selama ini
dianggap buruk. Ia sudah berusaha untuk menjalankan shalat dan belajar
mengaji selama di Lapas.

Relasi Heteroseksual

Halaman : 4
RAHASIA

S mengatakan pernah sekali punya pacar, namun tidak berlangsung


lama karena menurutnya ia diputuskan begitu saja tanpa alasan apa-apa.
Terakhir S mengetahui bahwa pacarnya sudah pacaran lagi dengan yang
lain, saat itu menurut S ia hanya menerima dan mengatakan bahwa mungkin
pacarnya menganggap S bukan laki-laki yang sesuai dengan pilihannya.

V. KESIMPULAN.
S dibesarkan oleh kedua orang tua yang keras, otoriter dan sering
menghukum secara fisik. Perlakuan orang tuanya membuat S memilih untuk
patuh dengan harapan dapat terhindar dari hukuman, sehingga dihadapan
orang tuanya S terlihat patuh dengan harapan ancaman hukuman dapat dia
hindari.
Perlakuan keras dan menghukum dari orang tua menjadikan S juga
mempersepsi lingkungannya potensial sebagai ancaman, hal ini membuat S
menjadi sangat selektif dalam memilih orang lain sebagai temannya. Ini
membuat S tidak banyak memiliki teman. Perilaku yang kemudian muncul
pada diri S adalah berusaha untuk memenuhi kebutuhan afek dari
lingkungan yang tidak diperoleh dari orang tuanya, juga kekhawatiran tidak
dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Hal ini membuat S sesungguhnya
mengalami konflik, sehingga usaha yang dilakukan oleh S adalah berusaha
untuk berbuat baik kepada lingkungan sosialnya dengan harapan ia akan
diterima oleh lingkungannya itu.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa S memiliki tipe
kepribadian …………………………………………..

Halaman : 5