Anda di halaman 1dari 16

PROFIL USAHA TANI DI WILAYAH KECAMATAN GLENMORE

OLEH:
KELOMPOK 6
MOHAMMAD ALBAT D31172181
AININ RHOCMANICA D31172192
IWANG HANAZTASYA D31172201
ADELIA NANTASYA V. D31172216
AHMAD TEGUH Y. A. D31172224
MELANIE YOKU D31172260
LINDA WASTI W. D31172266
GOLONGAN D

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


JURUSAN MANAJEMEN AGRIBISNIS
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2018

1
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. 1
DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 5

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Penggunaan lahan ............................................................................................. 6
2.2 Pemodalan ......................................................................................................... 10
2.3 Manajemen ........................................................................................................ 11
2.4 Kelembagaan ..................................................................................................... 14
2.5 Rencana potensi Kecamatan Glenmore ............................................................. 14
2.6 Peta wilayah Kecamatan Glenmore .................................................................. 15
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA

Page 2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik
serta hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah dengan mata kuliah Manajemen Usahatani
yang berjudul “ Profil Usaha Tani di Wilayah Kecamatan Glenmore”.

Makalah ini kami harapkan bisa menambah atau memberikan wawasan pengetahuan bagi para
pembaca. Tim penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.Untuk itu, kritik dan saran
demi perbaikan sangat tim penulis harapkan dan semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca umumnya
dan bagi tim penulis khususnya.

Sebagai akhir kata tim penulis ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.

Jember, September 2018

Tim penulis

Page 3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satunya sektor pertanian dan perkebunan yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi
yaitu kawasan perkebunan Glenmore, Banyuwangi. Glenmore merupakan salah satu kecamatan di
Kabupaten Banyuwangi ini memiliki potensi berupa kawasan pertanian, perkebunan, peternakan maupun
wisata. Kecamatan Glenmore merupakan wilayah dataran tinggi sehingga udaranya sejuk dan
pemandangannya sangat indah. Banyak tumbuh tanaman kopi, tebu dan coklat di kawasan perkebunan di
kecamatan ini. Mendengar kata Glenmore, selain nama yang asing, jejak-jejak berbau asing, terutama
peninggalan kolonial Belanda masih ditemukan di 3 Kecamatan Glenmore ini.
Sebutan bagi Kecamatan Glenmore sering melemparkan asumsi orang tentang sebuah tempat di
Eropa yang sejuk dan kadang berselimut salju. Padahal ini merupakan nama sebuah kecamatan yang
terletak di ujung timur Pulau Jawa. Glenmore memang terkesan seperti kosakata Inggris. Sebagian besar
orang meyakini Glenmore merupakan gabungan dari dua kosa kata yakni “Glen” dan “More”. Kata Glen
untuk menggambarkan daerah berhawa sejuk yang memiliki hamparan lahan berkontur, sedangkan kata
More untuk menunjukkan daerah ini memiliki hamparan berkontur yang lebih banyak dibandingkan
dengan daerah di sekitarnya. Gabungan dua kata itu kemudian disatukan menjadi Glenmore. Konon,
gabungan dua kosakata ini banyak digunakan oleh warga Belanda yang menghuni daerah ini sejak abad
ke-18. Versi lain menyebutkan nama Glenmore tidak lepas dari Ros Taylor, bangsawan Skotlandia yang
membeli lahan perkebunan di daerah ini. Izin pembukaan lahan ini ditandatangani oleh Gubernur Jenderal
Belanda pada 24 Februari 1909 dan diumumkan di Javasche Courant tanggal 30 Maret 1909 diunduh
tanggal 15 November 2017)
Glenmore memiliki berbagai macam usaha tani seperti dibidang pertanian, peekebunan, dan
peternakan yang hasilnya bisa menjadi salah satu pemasok pendapatan daerah.Adapun makalah ini
membahas tentang profil usaha tani di Kecamatan Glenmore disegi penggunaan lahan, pemodalan,
manajemen, kelembagaan, rencana-rencana kedepan untuk potensi usaha tani di Kecamatan Glenmore.

Page 4
1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana penggunaan lahan, pemodalan, manajemen, dan kelembagaan di Kecamatan
Glenmore?
2. Bagaimana rencana kedepan untuk potensi wilayah Kecamatan Glenmore?
3. Bagaimana gambaran dari peta wilayah Kecamatan Glenmore?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ada dalam makalah ini adalah :
1. Mengetahui penggunaan lahan, pemodalan, manajemen, dan kelembagaan dalam usaha tani
di Kecamatan Glenmore.
2. Mengetahui rencana untuk potensi usaha tani di kecamatan Glenmore.
3. Mengetahui gambaran peta wilayah Kecamatan Glenmore.

1.4 Manfaat Penelitian


Dengan Penelitian ini diharapkan agar hasilnya dapat bermanfaat :
1. Bagi pemakalah
Para pemakalah atau penulis akan mengetahui profil usaha tani di wilayah Glenmore
diberbagai sisi atau bidang. Dan menjadi pengetahuan baru bagi pemakalah.
2. Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan tentang profil usaha tani di wilayah Kecamatan Glenmore.

Page 5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penggunaan lahan


Secara geografis kecamatan Glenmore adalah kecamatan yang berada dikawasan selatan wilayah
Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan ini di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan
Kecamatan Songgon, batas timur Kecamatan Sempu, batas selatan Kecamatan Pesanggaran dan batas
barat Kecamatan Kalibaru. Ketinggian wilayah Kecamatan Glenmore adalah diantara 311-372 meter
diatas permukaan laut.
Luas wilayah Kecamatan Glenmore adalah 368,89 km2. Desa Karangharjo merupakan desa yang me-
miliki luas wilayah terbesar dengan luas sebesar 126,38 km² atau sekitar 34,26 persen dari seluruh bagian
luas Kecamatan Glenmore, desa Tulungrejo memilik luas wilayah sbesar 87 km² atau 23,58 persen, desa
Sumbergondo memiliki luas wilayah se-besar 55,57 km² atau 15,06 persen, sedangkan Desa Sepanjang
yang mempunyai luas 5,74 km² atau 1,56 persen merupakan desa dengan luas terkecil, dan desa yang
tertinggi adalah desa Margomulyo dengan ketinggian 372 meter di atas permukaan laut.
Kecamatan Glenmore 368,89 km2 dengan berbagai jenis penggunaan lahannya. Jenis penggunaan
lahan di Kecamatan Glenmore meliputi :

2.1.1 Pertanian
Luas tanaman pangan di tahun 2015 sebesar 8,161 Ha. Komoditas tanaman pangan dengan luas
terbesar selama tahun 2015 adalah Padi Sawah, yaitu sebesar 5.788 Ha. Komoditas dengan luas yang
cukup besar setelah Padi sawah adalah tanaman Jagung yaitu 467 Ha. Produksi padi sawah memberikan
kontribusi terbesar di Kecamatan Glenmore, 35.174 ton atau 69,02 persen, Padi ladang 57 ton atau 0,11
per-sen, jagung 2.926 ton, kacang tanah 43 ton atau 0,08 persen, Ubi kayu 12.515 ton atau 24,56 persen,
dan Ubi jalar 247 ton atau 0,48 persen.
Luas tanaman sayuran adalah 115 ha dengan memiliki produktivitas tertinggi adalah cabai yaitu 85 ha
dengan hasil 1800 kuintal, produktivitas yang tinggi kedua yaitu Kacang Panjang sebesar 18 ha dengan
hasil 900 kuintal, produktivitas tanaman sayuran selanjutnya adalah Petsai 6 ha dengan hasil 9.000 kuintal
dan Kubis yaitu 6 ha dengan hasil 3.200 kuintal.

Page 6
Penggunaan lahan selanjutnya yaitu pertanian produksi buah-buahan. Hasil panen buah tahun 2015
sebesar 36.532 (Ton). Komoditas buah dengan hasil panen terbesar selama tahun 2015 adalah Pepaya,
yaitu sebesar 15.985 (ton). Komoditas dengan hasil panen yang cukup besar setelah Pepaya adalah Pi-
sang yaitu 12.642.43 (ton), dan Durian sebanyak 7.845.55 (ton). Hasil panen terbesar berada di desa
Sepanjang dengan hasil panen yaitu 6.999 (ton), desa selanjutnya ialah desa Tegalharjo dengan hasil
panen sebanyak 6.979.3 (ton).

2.1.2 Perkebunan
Penggunaan lahan dibidang perkebunan seluas 753 ha dengan jumlah panen sebesar 2.781 (ton).
Komoditas buah dengan hasil panen terbesar selama tahun 2015 adalah Kelapa yaitu seluas 605 ha
dengan 2.693 (ton). Komoditas dengan hasil panen yang cukup besar setelah Kelapa yaitu Kopi dengan
luas 148 ha dengan hasil panen sebesar 88 (ton).

2.1.3 Peternakan
Selain sektor tanaman pangan, pertanian di Kecamatan Glenmore juga meliputi sektor peternakan.
Ternak di Kecamatan Glenmore terbagi dalam 3 jenis yaitu ternak besar, ternak kecil, serta unggas.
Populasi terbesar dari ternak besar yaitu ternak Sapi potong yaitu sebanyak 5.418 ekor, sedangkan jumlah
ternak yang kecil di dalam ternak besar yaitu kuda yang jumlahnya hanya sekitar 20 ekor. Ternak besar
lainnya yaitu Sapi perah sebanyak 187 ekor, Kerbau sebanyak 471 ekor. Ternak ke-cil, Domba sebanyak
3.641 ekor dan Babi sebanyak 148 ekor.

Page 7
Sedangkan dari ternak unggas yang populasinya terbanyak yaitu ayam kampung yang jumlahnya
mencapai hingga 105.642 ekor di tahun 2014, jumlah populasi ternak unggas terendah adalah ternak itik
yaitu sebanyak 9.353, selanjutnya yaitu ayam petelor yaitu 3.300 ekor dan ayam pedaging sebanyak
40.000 ekor. Desa dengan ternak terbanyak berada di desa Tulungrejo yaitu 30.454 ekor, desa selanjutnya
ialah desa Bumiharjo sebanyak 28.142 ekor, desa Karangharjo sebanyak 27.355 ekor, sedangkan desa
dengan ternak terendah adalah desa Sumbergondo sebanyak 7.442 ekor.

2.1.4 Industri
Keberadaan perusahaan industri pengolahan mempengaruhi kehidupan perekonomian masyarakat
Kecamatan Glenmore. Ini dikarenakan industri dapat menyerap tenaga kerja dan sebagai salah satu mata
pencaharian masyarakat .Pada tahun 2015 tercatat data perusahaan industri kecil/rumah tangga sebanyak
814 lokasi dengan usaha terbanyak di Desa Tulungrejo yaitu sebanyak 187 lokasi, usaha terbanyak didesa
selanjutnya adalah desa Sepanjang 150 lokasi, desa Bumiharjo sebanyak 138 lokasi, Sumbergondo
sebanyak 129 lokasi, desa Karangharjo sebanyak 83, desa Margomulyo 65 lokasi, sedangkan desa dengan
jumlah industri terkecil yaitu desa Tegalharjo dengan jumlah 62 lokasi. Jenis usaha terbanyak adalah
industri makanan dan minuman yaitu sebanyak 707 lokasi atau sekitar 87 persen dari seluruh industri
yang ada di kecamatan Glenmore. Industri terendah yang berada di kecamatan Glenmore adalah industri
barang dari logam kecuali mesin dan peralatannya yaitu hanya 2 lokasi atau 0,13 persen. Industri terbesar
kedua yaitu tekstil yaitu sebanyak 27 lokasi atau 3 persen dari seluruh industri yang ada.

Page 8
2.1.5 Fasilitas
1) Perusahaan dan perdagangan
Keberadaan perdagangan dan perusahaan sangat mempengaruhi kehidupan perekonomian masyarakat
Kecamatan Glenmore. Ini dikarenakan perdagangan dan perusahaan dapat menyerap tenaga kerja dan
sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat. Pada tahun 2015 jumlah perusahaan menurut badan
hukum tidak mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 terdapat 7 perseroan
terbatas (PT), 5 Perusahaan perorangan, 1 Cv/ Firma, 2 Koperasi, dan 4 lainnya.Salah satu pusat
perekonomian bagi suatu daerah adalah pasar. Sehingga keberadaannya sangatlah penting tidak hanya
bagi pendorong roda perekonomian tapi juga bagi ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat sekitar.
Guna menunjang kegiatan ekonomi di Kecamatan Glenmore, dibangun sarana dan prasarana
perekonomian, seperti toko, restoran / warung makanan, dan minimarket. Di Kecamatan Glenmore pada
tahun 2015 terdapat 5 lokasi pasar umum, 648 toko, 2 rumah makan/restoran dan 1 minimarket.

2) Fasilitas Kesehatan
Kesehatan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu salah satu penggunaan lahan
yaitu untuk sarana dan prasarana penunjang kesehatan. Diantaranya yaitu ada Rumah Sakit sebanyak 1,
Puskesmas sebanyak 2 unit, Pustu sebanyak 6 unit, Poliklinik Desa(Polides) sebanyak 7 unit, Klinik/Balai
Kesehatan sebanyak 9 unit, dan Posyandu sebanyak 133 unit, Praktek dokter sebanyak 9 unit, Praktek
bidan sebanyak 7 unit, dan Apotek sebanyak 3 unit yang tersebar di Kecamatan Glenmore.

Page 9
3) Lain-lain
Penggunaan lahan lain seperti permukiman warga,kantor camat, kantor desa, tempat peribadatan,
pemakaman, jalan, rel kereta, sekolahan, tempat wisata alam maupun buatan seperti wahana wisata
waduk Sidodadi, kolam pemandian modern, pusat oleh-oleh “Doesoen Kakao” dll.

2.2 Pemodalan
Permodalan merupakan salah satu faktor produksi penting dalam usaha pertanian. Adapun sumber
permodalan dari usaha tani yaitu:

1. Lembaga keuangan
Pada tahun 2015 terdapat beberapa lembaga keuangan, di antaranya BKD, BPR, Bank Swasta dan
Bank Pemerintahan. Di Kecamatan Glenmore terdapat 2 lokasi BKD, 4 BPR, 1 Bank Swasta dan 3 Bank
Pemerintahan. Diantaranya Bank Pemerintahan terdapat 2 didesa Karangharjo dan 1 di desa Tulungrejo, 2
lokasi BKD ada di desa Sumbergondo dan Tegalharjo, 4 BPR terdapat didesa Tulungrejo, Sumbergondo,
Karangharjo, dan desa Sepanjang. 1 Bank swasta ada didesa Karangharjo. Pada tahun 2015 terdapat pula
beberapa koperasi, diantaranya KUD, KPN, Kopwan, Kopkar dan Lainnya. Di kecamatan Glenmore
terdapat 2 KUD, 1 KPN, 9 lokasi Kopkar, 7 Kopwan, dan lainnya 12 lokasi. KPN terdapat didesa
Sepanjang, 2 KUD terdapat didesa Sepanjang dan Tulungrejo, 9 Kopkar didesa 3 di Karangharjo, 3 di
Telungrejo, 1 di Sumbergondo, 1 Tegalharjo, dan 1 di desa Margomulyo.

Page
10
2. Lembaga pemerintahan
Kementrian BUMN (PT Jamsostek, Pertamina dll), Departemen Pemerintahan, pegadaian,
APBN/APBD dll.
3. Lain-lain
Dana milik pribadi,dana keluarga/kerabat, dana patungan, kemitraan, pedagang , pemasok,
kelompok tani dll.

2.3 Manajemen
A. Dalam pelaksanaannya manajemen usahatani berpegang pada lima unsur yaitu
1. Pengurusan
Pengurusan adalah menjalankan perusahaan menurut cara-cara yang sudah berlaku secara turun-
temurun dengan usaha untuk memperoleh tambahan pendapatan untuk melakaukan hal-hal yang
sudah biasa tersebut. Tujuan pengurusan adalah untuk menjamin bahwa perusahaan dapat
mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Cirri dari perusahaan yang baik adalah pertumbuhan
kondisi perusahaan setiap tahun baru harus melebihi tahun yang sebelumnya.
2. Pelaksanaan
Tujuan pokok dari setiap perusahaan tidak lain adalah untuk mencapai sesuatu tujuan yang telat
ditetapkan dalam rencana. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila perusahaan tersebut dapat berjalan
secara terus menerus, dalam bahwa sekali berjalan tetap terus berjalan.
3. Kewaspadaan
Yang dimaksud dengan kewaspadaan adalah melindungi diri terhadap kemungkinan-kemungkinan
terjadinya risiko atau kerugian. Tindaka-tindakan si pengusaha/ petani harus diperhitungkan menurut
ukuran, ruang dan waktu sedemikian rupa sehingga di peroleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi
perusahaan. Kewaspadaan dalam mengambil keputusan harus didasarkan pada berbagai informasi
yang lengkap, baik informasi dari dalam usahatani sendiri maupun dari luar.
4. Resiko usaha
Tiap usaha selalu akan menghadapi risiko, besar kecilnya risiko yang dialami seorang pengusaha
atau petani tergantung pada keberanian untuk mengambil suatu keputusan. Dalam usahatani resiko
itu sulit untuk diduga karena faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan usahatani sebagian besar
belum di kuasai secara sempurna oleh manusia, misalnya faktor iklim dan perubahannya. Oleh

Page
11
karena itu, risiko dalam usahatani setiap saat akan mengancam petani, baik peroroangan maupun
kelompok.
5. Sarana penunjang
Yang di maksud dengan sarana penunjang adalah segala peralatan yang dapat menunjang kelancaran
kegiatan pelaksanaan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah di tetapkan. Sarana ini dapat
berupa sarana fisik maupun nonfisik. Sarana fisik adalah peralatan kerja yang sesuai dengan kegiatan
yang di lakukan. Sedangkan sarana nonfisik misalnya ketenagan kerjaan dan lingkungan kerja.

B. fungsi manajemen usaha tani


Fungsi manajemen perusahaan pertanian secara umum ada lima macam yaitu:
1. Membuat perencanaan
Perencanaan dalam arti luas adalah suatu proses mempersiapkan secara sisitematis kegiatan-kegian
yang akan di lakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam
setiap perencanaan harus mencakup hal-hal berikut:
a) Pekerjaan-pekerjaan apa yang diperlukan dan berapa jumlah tenaga yang di butuhkan untuk
setiap pekerjaan tersebut.
b) Kapan berbagai sumber akan digunakan dan berapa jumlahnya dalam setiap pemakainnya
c) Kesulitan-kesulitan apa yang mungkin dialami dalam setiap kegiatan.
d) Jenis-jenis barang apa yang akan dihasilkan dan berapa jumlah setiap jenis barang tersebut,
e) Bagaimana pola penerimaan yang di kehendaki dari kegiatan tersebut
f) Bagaimana pola pemasaran yang akan dilakukan terhadap barang yang diproduksi tersebut.
g) Berapa kira-kira biaya produksi tiap unit barang yang dihasilkan.
h) Berapa kira-kira keuntungan yang mungkin diperolehnya, dari setiap jenis barang tersebut.
Dalam rencana usahatani, hal-hal tersebut akan dipengaruhui oleh jenis komoditi yang diusahakan
dan pola tanam yang dilaksanakan untuk setiap lahan yang dikuasai petani.
2. Menyusun organisasi perusahaan
Menyusun organisasi perusahaan adalah menyusun personalia yang akan mengerjakan pekerjaan-
pekerjaan yang telah ditetapkan dalam rencana, sesuai dengan bidang keahliannya.
Secara umum. bagian dari organisai perusahaan dapat di bedakan menjadi dua bagian (1) bagian
pengadaan (2) bagian penjualan.
Organisasi bagian pengadaan atau penyediaan berfungsi atau bertugas menyediakan segala sesuatu
yang diperlukan dalam usaha produksi,khususnya barang-barang, bahan dan alat-alat.
Bagian penjualan mempunyai tugas untuk mencari informasi harga, mencari pembeli/konsumen, dan
melakukan penjualan barang-barang yang dihasilkan.
3. Melaksanakan usaha
Melaksanakan usaha tidak lain adalah pekerjaan produksi yang sebenarnya yaitu menjalankan,
menggerakkan organisasi yang telah disusun, kemudian organisasinya sesuai dengan kegiatan yang
telah direncanakan, maka pekerjaan pelaksanaan tidak boleh bertemu dengan permasalahan.

Page
12
4. Mengawasi jalannya perusahaan
Mengawasi jalannya perusahaan tidak lain dari mengamati dengan cermat, agar segala sesuatu dalam
perusahaan berjalan sesuai dengan rencana. Dalam kegiatan usahatani fungsi pengawasan ini sulit
untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, karena organisasi usahatani tersebut tidak merupakan
organisasi yang berdiri sendiri terpisah dari organisasi rumahtangga, sehingga bila terjadi
penympangan terhadap rencana yang telah dibuat sulit untuk diawasi.
Hal-hal yang diawasi oleh setiap pengusaha diantaranya adalah : Ukuran produk yang dihasilkan,
baik yang menyangkut ukuran berat, ukuran panjang atau kualitasnya. Pengawasan hal-hal tersebut
tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan yang bersangkutan.
Dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya tugas mengawasi tersebut adalah untuk menghindarkan
kemungkinan-kemungkinan kerugian perusahaan , baik kerugian bersifat ekonomis maupun
kerugian non ekonomis.
5. Evaluasi (membuat penilaian terhadap hasil-hasil usaha)
Tugas membuat penilaian terhadap hasil usaha dapat berjalan bersama-sama dengan tugas
mengawasi jalannya perusahaan.
Pertumbuhan perusahaan (usahatani) dapat dilihat dari segi teknis, ekonomis dan sosial.
a) Dari segi teknis penggunaan faktor produksi harus makin efektif dan efisien, hal ini dapat
ditunjukkan oleh meningkatnya produktivitas per satuan pemakain faktor produksi yang terus
meningkat, atau dari hasil per satuan luas tertentu misalnya hasil per hektar.
b) Dari segi ekonomi bahwa usahatani tersebut harus bertambah kegiatan atau cabang usahanya,
meskipun modal untuk memperluas usaha itu berasal dari pinjaman atau kredit.
c) Dari segi sosial yang dapat menunjang pada kemajuan perusahaan adalah adanya kepercayaan
dari para konsumen atau pemberi kredit misalnya bank dll, sebab dengan adanya kepercayaan yang
baik tersebut akan memudahkan memperoleh fasilitas-fasilitas ekonomi yang di perlukan dalam
menunjang usaha-usaha pada masa-masa berikutnya.
Untuk memudahkan evaluasi (penilaian hasil-hasil usaha tani ) sangat penting bagi pengusaha/petani
adalah adanya pembukuan (pencatatan) yang lengkap dan teliti setiap kegiatan produksi dilakukan
pada setiap periode tertentu, baik yang menyangkut aspek teknis, ekonomi, maupun sosial serta
permasalahan-permasalahan yang timbul selama kegiatan usaha tersebut berlangsung.

 Jenis pengelolaan usahatani


Ditinjau dari segi manajemennya usahatani di Indonesia dapat dibedakan menjadi:
1) Usahatani individual (indifidual farm)
2) Usahatani kooperativ (cooperative farm)
3) Usahatani kolektif (collective farm)
4) Usahatani perkebunan (estate management)
 Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan usahatani adalah:
a) Ukuran luas lahan usahatani
b) Volume usaha yang dijalankan

Page
13
c) Ketersediaan dan tingkat penggunaan sumber-sumber
d) Ketersediaan fasilitas, serta tujuan yang akan dicapai.

2.4 Kelembagaan

I. Lembaga Pembiayaan
Keuangan pertanian dimana pembiayaan perusahaan agribisnis di dalamnya berhubungan dengan soal-
soal keuangan disektor pertanian. Salah satu lembaga pembiayaan dalam usaha tani adalah antaranya
BKD, BPR, Bank Swasta, Bank Pemerintahan, KUD, KPN, Kopwan, Kopkar dll.

II. Lembaga Pemasaran dalam Distribusi


Lembaga pemasaran dalam distribusi hasil pertanian dalam usaha tani merupakan badan usaha atau
individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi pertanian dari produsen
kepada konsumen akhir serta memiliki hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya.
Keberadaan lembaga pemasaran dikarenakan oleh dorongan atau keinginan konsumen untuk
mendapatkan komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat, dan bentuk yang diinginkan. Keterlibatan
lembaga pemasaran adalan menjalankan fungsi-fungsi pemasaran untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Timbal balik dari konsumen adalah memberikan balas jasa kepada lembaga
pemasaran berupa margin pemasaran.
Bentuk keterlibatan lembaga pemasaran hasil usata tani dibagi menjadi ke dalam tiga kelompok, yaitu:
a. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komoditi hasil usaha tani, tetapi
menguasai akses pasar, contoh : kios buah, pusat oleh-oleh
b. Lembaga pemasaran yang memiliki dan menguasai hasil komoditi pertanian untuk diperjual
belikan, contoh : kelompok tani, yang langsung berhubungan dengan petani, mulai dari
pembinaan kelompok, usaha tani, sampai dengan penjualan produknya
c. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai hasil komoditi usaha tani yang
diperjual belikan, contoh: usaha jasa transportasi

2.6 Rencana Potensi Kecamatan Glenmore


a. Meningkatkan kebersamaan dan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha dan kelompok-
kelompok masyarakat untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat
b. Membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan
sumberdaya daerah yang berpijak pada pemberdayaan masyarakat, berkelanjutan, dan aspek
kelestarian lingkungan
c. Mengembangkan lahan pertanian baru.
d. Mengembangkan produk-produk unggulan budidaya tanaman pangan dan hortikultura.
e. Mengembangkan potensi daya tarik wisata alam dan wisata buatan sesuai dengan Wilayah
Pengembangan Pariwisata (WPP).
f. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah yang mendukung kawasan pertanian,
perkebunan, pariwisata, industri, perdagangan, dan jasa serta pelayanan dasar masyarakat.
g. Pengelolaan wilayah yang memperhatikan daya dukung lahan, daya tampung kawasan dan aspek
konservasi sumber daya alam.

Page
14
2.7 Peta wilayah Kecamatan Glenmore

Page
15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jika dilihat dari pembahasan makalah yang berjudul“Potensi Wilayah Usahatani di Kecamatan
Glenmore” maka dapat disimpulkan bahwa usahatani jika dikelola atau dimanfaatkan dan difasilitasi serta
dikembangkan maka akan mendapatkan hasil yang baik dan dapat memperbaiki ekonomi yang ada.
Adapun usahatani memerlukan berbagai dukungan salah satunya yaitu dari pemerintah sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Muhammad. 2016. Statistik Daerah Kecamatan Glenmore. Banyuwangi: Badan Pusat
Statistik Kabupaten Banyuwangi.

http://kickfahmi.blogspot.com/2012/12/kelembagaan-usaha-tani.html
(Diakses pada tanggal 17/09/2018)
https://kanal3.wordpress.com/2013/11/15/sejarah-asal-usul-kecamatan-glenmore-banyuwangi/ (Diakses
pada tanggal 17/09/2018)
http://indaharitonang-fakultaspertanianunpad.blogspot.com/2013/10/manajemen-usahatani.html?m=1
(Diakses pada tanggal 17/09/2018)

Page
16