Anda di halaman 1dari 7

Kita merinding mendengar kabar bahwa perusahaan legendaris Nyonya Meneer dipailitkan

kreditornya minggu lalu. Dengan begitu, pengelolaan pabrik kini berada di tangan kurator untuk
dilikuidasi atau diatasi dengan cara lain untuk membayar utang yang jumlahnya cukup besar.
Kita merinding karena jasa perusahaan itu sangat banyak bagi anak-anak kita yang masa kecilnya
akrab dengan Minyak Telon produksi Nyonya Meneer. Belum lagi jamu habis melahirkan yang
banyak digemari kaum ibu.
Dengan menarik napas panjang, saya sebenarnya tak enak hati menjelaskan fenomena seperti ini,
yang semakin hari semakin banyak. Namun, karena banyak yang menanyakannya, baiklah saya
jelaskan. Semoga keluarga almarhum Nyonya Meneer tak berkeberatan dan diberi ketabahan dalam
melewati masa-masa sulit mempertahankan legacy bisnis ini.
Baiklah, ini sebenarnya fenomena zombie company. Maaf, ini memang agak mirip dengan zombi
yang banyak kita saksikan dalam film-film science fiction yang kadang horor kadang jenaka. Karena
film yang mengulas tentang zombi cukup banyak (Abraham Lincoln vs Zombies), ia menjadi begitu
populer.
Singkat cerita, zombi adalah mayat yang berjalan. Ia sebenarnya sudah mati, tak ada lagi sumber
darahnya, tetapi karena satu dan lain hal tidak bisa atau tak mau dikubur.
Hidup dari Utang
Zombi yang kita kenal dalam film itu, selain tak ada sumber darahnya lagi, juga tak berjiwa, tetapi
punya naluri dan bisa bergerak. Jiwa atau roh dalam bisnis merupakan sumber inovasi dan
kebijakan. Sedangkan darah adalah energi yang menggerakkan seluruh organ perusahaan. Ini
sama dengan cash flow atau arus kas yang datang dari usaha (penjualan).
Nah, biasanya begitu ditinggal founder-nya, perusahaan seperti bergerak tanpa ’’roh’’. Ia menjadi
tidak inovatif. Ia akan terbelenggu oleh rutinitas. Tak menciptakan hal-hal baru lagi yang
menggairahkan semua pegawai. Ibarat koran ini tanpa ’’Dahlan Iskan’’ baru yang gesit dan selalu
ada ide brilian, walau tak semuanya bisa digerakkan menjadi uang.
Perusahaan tanpa roh ibarat perguruan tinggi negeri yang dipimpin oleh rektor yang, maaf,
numpang duduk di jabatan tertingginya. Dia hanya asyik memimpin seremoni, tak ada sesuatu yang
baru dari kepemimpinannya.
Selain ada di satu dua PTN, fenomena itu juga ada di BUMN, anak-anak BUMN, atau perusda yang
gagal meraih pemimpin transformasi. Tetapi, kini juga banyak di sektor swasta. Bisa jadi, BUMN
atau anak-anaknya terlalu nyaman sehingga menjadi lazy company, tetapi pemimpin tahu banyak
tentang sejarah dan administrasi perusahaan.
Jadi, soal pengetahuan internal, tak ada yang bisa menandinginya. Tetapi, dia tak pernah ’’melihat’’
bagaimana wujud kantornya karena tak pernah berada di luar melihat perusahaannya bila
dibandingkan dengan yang lain.
Jadi, tak ada lagi perjuangan membangun hal-hal baru. Semuanya hanya meneruskan yang sudah
ada saja. Bahkan yang sudah kusam, tak laku, tak relevan lagi terus dipelihara. Masih itu-itu saja
yang diperdagangkan.
Zombie company akhirnya hidup dari utang atau menjual aset-aset yang ada secara bertahap (tidak
revolusioner). Hanya supaya bisa bergerak. Bahkan dibiayai dengan bad debt atau cek kosong.
Siapa Mereka?
Adakah di antara zombi itu yang baik?
Tidak ada! Itu menurut sejumlah sumber. Dalam film-film science fiction selalu diceritakan, zombi
yang baik itu seharusnya sudah dikubur. Jangan dibiarkan bergentayangan. Sebab, mereka akan
menyebarkan rasa takut dan kesulitan bagi yang hidup dan masih punya masa depan.
Yang saya khawatirkan, di Indonesia ini, fenomena zombi semakin banyak. Sebab, bagi sebagian
orang, menutup perusahaan itu sungguh memalukan. Apalagi dinyatakan pailit. Direktur-direktur dan
pemegang sahamnya bisa masuk dalam daftar hitam perbankan, di-black list untuk menerima jasa-
jasa.
Selain itu, ia juga dipelihara orang-orang lama karena secara pribadi aset-asetnya yang tak terpakai
masih bisa mereka gunakan secara pribadi. Ruang kerja, kartu nama, fasilitas gudang, dan bisnis-
bisnis turunannya. Masih ada yang bisa dipakai untuk kegiatan perorangan yang tak perlu
menanggung fixed cost.
Di Negeri Matahari Terbit, fenomena perusahaan zombi sebetulnya mulai menyeruak pada 1990-an.
Perusahaan-perusahaan bertahan hidup –meski tak mampu membayar kreditnya– berkat kredit
murah perbankan, sikap lunak pemerintah dan kreditor. Menurut laporan Bloomberg, kreditor
terpaksa bersikap lunak karena kalau mereka pailit, itu akan berdampak buruk terhadap neraca
laporan keuangan kreditor.
Alhasil, sampai Maret 2017, memang tak satu pun dari sekitar 4.000 perusahaan publik di Jepang
yang mengajukan perlindungan kepailitan. Padahal, banyak di antara mereka yang bisnisnya sudah
terdisrupsi. Contohnya, Toshiba, Sharp, dan Sanyo.
Sharp selama bertahun-tahun hidup dalam kondisi nyaris bangkrut sampai akhirnya diambil alih
Foxconn, perusahaan elektronik asal Taiwan. Bisnis Sanyo babak belur akibat produknya kalah
bersaing dengan produk sejenis dari Tiongkok dan Korea Selatan. Sanyo pada 2009 diambil alih
Panasonic. Sedangkan Toshiba tak lagi terdengar geliat inovasinya setelah laptop.
Kita jangan silau dengan perekonomian Korea Selatan dan Tiongkok. Di Negeri Ginseng, industri
perkapalannya terpukul karena menurunnya perdagangan global selama tiga tahun terakhir. Maret
silam bank-bank pemerintah di sana terpaksa memberikan pinjaman USD 2,6 miliar ke Daewoo
Shipbuilding & Marine Engineering Co dan mengonversi utangnya dengan saham. Padahal, dua
tahun kemudian, Daewoo Shipbuilding mesti melunasi utang jangka pendeknya yang mencapai
USD 4 miliar!
Saya membaca laporan Financial Times edisi 25 Mei 2017 yang mengutip data dari Bank of Korea
dan Financial Supervisory Service. Potretnya lumayan mengerikan. Financial Times menulis, ada
lebih dari 3.278 perusahaan zombi di Korea Selatan dengan 232 di antaranya adalah perusahaan
publik.
Angka itu naik 17 persen jika dibandingkan dengan 2012. Padahal, perusahaan-perusahaan zombi
yang ada di bursa efek saja diperkirakan mempekerjakan sekitar 100 ribu karyawan dan nilainya
setara dengan 4,5 persen PDB negara itu.
Dunia Tengah Dikepung Produk-Produk Zombi
Perusahaan-perusahaan zombi di Tiongkok juga menimbulkan masalah serius. Pemerintah meminta
perusahaan-perusahaan batu bara di Kota Jincheng untuk terus berproduksi meski pembelinya
sudah tak sebanyak dulu. Akibatnya, batu bara terus menumpuk tanpa bisa dijual. Itu menciptakan
perusahaan-perusahaan zombi dalam industri batu bara.
Hal serupa terjadi dengan semen. Tiongkok kini kelebihan pasokan semen hingga lebih dari 1 miliar
ton (bandingkan dengan kapasitas produksi semen kita yang 90-an juta ton per tahun). Fenomena
yang sama terjadi pada industri olahan aluminium serta besi dan baja. Padahal, untuk industri besi
dan baja, volume produksi Tiongkok lebih besar ketimbang gabungan produksi dari tiga negara: AS,
Jerman, dan Jepang.
Mengapa Tiongkok melakukannya? Jika pabrik-pabrik tadi berhenti beroperasi, Tiongkok akan
menghadapi masalah pengangguran. Dan, bagi Tiongkok, mereka lebih takut dengan masalah
pengangguran ketimbang kelebihan produksi dari pabrik-pabriknya.
Pengangguran bisa menciptakan masalah instabilitas sosial dan politik. Sementara itu, soal
kelebihan produksi, Tiongkok bisa menjualnya dengan harga dumping (jadi, kita mesti hati-hati
dengan serbuan produk Tiongkok dalam hari-hari ini).
Di Eropa suasananya nyaris serupa. Menurut laporan OECD edisi Januari 2017, bertambahnya
perusahaan-perusahaan zombi tersebut merupakan potret tidak efisiennya penerapan UU
Kepailitan. Hal itu menimbulkan masalah yang sangat serius. Di Italia, perusahaan zombinya
mencapai 6 persen dari seluruh populasi atau naik dua kali lipat ketimbang 2007.
Jumlah itu meningkat karena proses pengadilan kepailitan Italia yang lama dan bertele-tele. Di sana,
proses melikuidasi perusahaan membutuhkan waktu hingga delapan tahun. Bandingkan dengan di
AS yang hanya beberapa bulan.

Merujuk pada hasil riset yang dilakukan oleh Nikkei Asian Review, Rizal Ramli mengatakan, ada
setidaknya 24 persen dari total 649 emiten yang termasuk dalam 'zombie company'. Jumlah itu,
mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2017 yaitu 11 persen.
Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud 'zombie company" oleh Rizal Ramli itu?
Ia menjelaskan, 'zombie company' merupakan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa,
namun keberlangsungan hidupnya bergantung pada utang. Bahkan, keuntungan perusahaan pun tak
mampu menutupi utang tersebut. Parahnya, pembayaran bunga utangnya juga tak bisa ditutup dari
profit.
"Jadi perusahaan yang buat bayar bunganya aja harusnya dari keuntungan bisa nutup, ternyata
kagak. Nah, perusahaan ini hanya survive dengan refinancing terus-menerus, ya kan restruktur lagi
utangnya, cari utang baru buat nutupin utang lama," ujar Rizal Ramli di kawasan Tebet Barat
Dalam, Jakarta, Senin (12/8).

Ekonom yang juga pernah menjabat eks Menteri Keuangan itu menyebut, keberadaan para 'zombie
company' bisa jadi masalah tersendiri bagi perekonomian Indonesia.
Rizal Ramli menuturkan, perusahaan-perusahaan yang melakukan pembiayaan atau refinancing
dari utang untuk biaya operasional perusahaan itu tak sehat. Utamanya jika berlangsung dalam
jangka waktu lama yang bisa malah menyebabkan perusahaan gagal dalam pembiayaan.
Tak elak, kata dia, 'zombie company' yang tak tertangani pun bisa memicu krisis. Apalagi, saat
perekonomian Indonesia tumbuh dengan lambat seperti hanya 4,5 persen.
"PE (pertumbuhan ekonomi) sebesar 6-8 persen ini enggak kejadian, bisul bisul (zombie company)
ini enggak akan meledak. Tapi karena makro ekonominya juga anjlok ke 4,5 persen (prediksi)
macam-macam, akhirnya bisulnya mulai kelihatan semua dan kalau meledak terjadi lah krisis yang
sesungguhnya," ujarnya.

The Zombie (Company) Apocalypse Is Here

37 COMMENTS
TAGS Booms and BustsBusiness Cycles

06/21/2019Joshua Konstantinos
One of the most significant economic developments since the Great Recession has been
the zombification of the economy.
A zombie company is a term introduced to the lexicon by an influential paper, Zombie
Lending and Depressed Restructuring in Japan, by economists Ricardo J. Caballero, Takeo
Hoshi, and Anil K. Kashyap. The official definition of a zombie company according to the
Bank for International Settlements (BIS) “is a publicly traded firm that’s 10 years or older
with a ratio of earnings before interest and taxes (EBIT) to interest expenses of below one.”
More simply put, zombie companies are companies that are unprofitable — so unprofitable
they are unable to pay even the interest on their debt out of their profits. They are effectively
bankrupt but kept alive by banks continuing to lend them money to pay their existing loans.
This phenomenon first began in Japan after their real estate and stock market bubble
popped in the early 1990s. The Cabellero, et al have proposed that zombie companies are
to blame for Japan's Lost Decade(s), writing:

We propose a bank-based explanation for the decade-long Japanese


slowdown following the asset price collapse in the early 1990s. … Large
Japanese banks often engaged in sham loan restructurings that kept credit
flowing to otherwise insolvent borrowers (which we call zombies). We
examine the implications of suppressing the normal competitive process
whereby the zombies would shed workers and lose market share. The
congestion created by the zombies reduces the profits for healthy firms,
which discourages their entry and investment. We confirm that zombie-
dominated industries exhibit more depressed job creation and destruction,
and lower productivity.
Scale of the Zombie Infestation
Following the Great Recession, zombie companies became a worldwide phenomenon.
Even with today’s very low interest rates; more and more companies are unable to pay the
interest on their debts out of profits. According to the BIS, the share of zombie companies in
the US doubled between 2007 and 2015, rising to around 10 perceent of all public
companies. And counterintuitively, as interest rates have fallen lower and lower the number
of zombie companies has increased. Economists Ryan Niladr Banerjee and Boris Hofmann,
writing in the BIS quarterly review, describes this seemingly paradoxical result:

Using firm-level data on listed firms in 14 advanced economies, we


document a ratcheting-up in the prevalence of zombies since the late
1980s. Our analysis suggests that this increase is linked to reduced
financial pressure, which in turn seems to reflect in part the effects of lower
interest rates. We further find that zombies weigh on economic
performance because they are less productive and because their presence
lowers investment in and employment at more productive firms.
In part this may be because low interest rates signify a weak banking system. Banks may
be reluctant to allow a company to fail — even if there is little hope of eventual repayment
— because it would be too painful to accept the losses on the loans already lent to these
companies. And of course the ultra-low interest rates created by central
banks unconventional monetary policy since 2008 keeps the costs of servicing debt low.
These studies likely understate the problem of zombie companies for the economy. A
company doesn’t have to be as far gone as a zombie to be at risk of default if interest rates
rise. Moreover, as economist Daniel Lacalle writes:

At the end of the day, 10.5% means that 89.5% are not zombies. But that
analysis would be too complacent. According to Moody’s and Standard and
Poor’s, debt repayment capacity has broadly weakened globally despite
ultra-low rates and ample liquidity. Furthermore, the BIS only analyses
listed zombie companies, but in the OECD 90% of the companies are
SMEs (Small and Medium Enterprises), and a large proportion of these
smaller non-listed companies, are still loss-making. In the Eurozone, the
ECB estimates that around 30% of SMEs are still in the red and the figures
are smaller, but not massively dissimilar in the US, estimated at 20%, and
the UK, close to 25% 77.
Additionally, corporate leverage has surged in the last three years since the BIS analysis.
Today corporate debt is now above the levels seen before the 2008 crisis in the United
States.

How Can You Kill Zombies?


In a market economy, resources are allocated according to profitably — this allows
resources to flow to where they are best utilized. Keeping companies that are unprofitable
alive misallocates resources and, as numerous studies have shown, slows the growth of the
entire economy — potentially leading to stagnation as has been seen in Japan since the
1990s.
Zombie companies are kept alive only with low interest rates and/or lax banking regulation.
But as bankers assembled last month in Stockholm for the annual meeting of the
International Capital Markets Association pointed out: “The question is, with the debt level
where it is, can central banks ever afford to let interest rates go back up because it will lead
to a major bankruptcy wave.” Zombie companies pose a significant challenge for central
banks, because in a very real sense their hands are tied — they cannot raise interest rates
significantly without causing a huge number of companies to go bankrupt.
The world now has the impossible choice of permanently reduced productivity and slower
economic growth — or the mass bankruptcy of a significant percentage of the economy.