Anda di halaman 1dari 8

PENANGANAN PASIEN HIV AIDS DILIHAT

DARI ASPEK PSIKOLOGIS

4B/D-IV KEPERAWATAN
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1:

MUHAMMAD FADIL SY LAMATO


ABDUL HAMID BUDJI
ILHAM SETIAWAN BAU
STEVLINTON ROY MOHAMAD
KRISNA PERDANA PUTRA
DESVITA M ABDUL
ALIN ABAS
ASRILA
RAHMATYA DJAUHARI
ISMIATI NURLAILA IBRAHIM

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES


GORONTALO
TAHUN AJARAN
2018 / 2019
PENANGANAN PASIEN HIV AIDS DITINJAU
ASPEK PSIKOLOGIS

1. Definisi HIVdan AIDS

Peraturan Daerah (Perda) Propinsi Jawa Barat nomor 12 tahun 2012 tentang pencegahan
dan penanggulangan human immunodefficiency virus (HIV) dan acquired immuno defficiency
sindrome (AIDS) menyatakan bahwa orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah orang yang
sudah terinfeksi HIV baik pada tahap sebelum ada gejala maupun yang sudah ada gejala.
Sedangkan orang yang hidup dengan pengidap HIV dan AIDS yang selanjutnya disingkat dengan
OHIDHA adalah orang yang terdekat, teman kerja, atau keluarga dari orang yang sudah tertular
HIV.
Perda Propinsi Jabar no 12 tahun 2012 tentang penanggulangan HIV dan AIDS
menyebutkan bahwa Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab AIDS yang
digolongkan sebagai jenis yang disebut retrovirus yang menyerang sel darah putih dan
melumpuhkan sistem kekebalan tubuh dan ditemukan dalam cairan tubuh pengidap HIV dan
AIDS yang berpotensi menularkan melalui darah, air, mani, air susu ibu dan cairan vagina.
Sedangkan Acquires Immuno Defficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit
yang disebabkan oleh HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga daya tahan
tubuh melemah dan mudah terjangkit penyakit infeksi.
AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh kita selama lima
hingga sepuluh tahun atau lebih. Sistem kekebalan tubuh kita menjadi lemah, dan satu atau lebih
penyakit dapat timbul. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa
menjadi lebih berat daripada biasanya. Individu yang AIDS rentan terjangkit berbagai penyakit
yang mengancam (Sarafino, 1998).
Cara penularan virus HIV melalui :
a. Hubungan seks yang tidak aman (homoseksual dan heteroseksual), penerimaan organ,
jaringan atau sperma. Kemungkinan penularan melalui hubungan kelamin menjadi lebih
besar bila terjadi penyakit kelamin, khususnya yang menyebabkan luka atau ulterasi pada
alat kelamin.
b. Transfusi darah. Penerimaan darah ataupun produk darah, dimana resiko serokonversi
(kemungkinan status HIV penderita dari negatif menjadi positif) 90% setelah pemberian
darah yang positif HIV.
c. Perinatal. Ibu yang HIV positif kepada bayinya (selama atau sesudah kehamilan), dimana
resiko berkisar 15% hingga 50%.
d. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian.
a. Orang yang berganti-ganti pasangan seksual (homoseksual atau heteroseksual).
b. Penyalahgunaan obat secara intervena.
c. Penerima darah atau produk darah (bila darah tidak diperiksa terlebih dahulu). Yang
paling sering tertular adalah penderita hemophilia.
d. Bayi dari ibu yang telah terinfeksi HIV, menular pada fetus melalui plasenta, air susu,
luka bayi yang terinfeksi darah ibu selama kelahiran.

2. Konsep Stresor Psikologis ODHA


Stigma ganda yang harus dihadapi oleh ODHA yaitu mereka dipandang oleh masyarakat
sebagai penderita penyakit yang mengerikan dan dianggap memiliki cara hidup yang berbeda
dengan orang pada umumnya memunculkan stressor psikososial tersendiri bagi ODHA.
Pengalaman indivodu terhadap perubahan status kesehatan karena penyakit HIV/AIDS menuntut
mereka untuk melakukan perubahan penyesuaian diri yang tidak mudah.
Reaksi psikologis yang ditunjukkan ODHA berkaitan dengan masalah psikologis
terutama stress, kecemasan dan depresi. Penyakit yang dideritanya merupakan pengalaman
traumatik yang memicu peningkatan depresi yang kronis seperti ketidakberdayaan, putus asa,
hilangnya harapan hidup yang berpotensi mengarah pada perilaku bunuh diri (Kylma, 2005).
Lebih parahnya lagi ODHA harus menghadapi dan mengalami proses berduka terhadap
kehilangan fungsi kesehatan dan terutama kehilangan harapan untuk sembuh dan hidup.
Kubler-Ross’s (Sarafino, 2006), individu yang mengalami terminal illness akan melalui
proses penyesuaian diri biasanya mengikuti pola-pola yang dapat diprediksi dalam 5 tahapan
yang dapat dialami secara berbeda oleh setiap penderita. Artinya setiap penderita mempunyai
tahapan tersendiri, dapat urut atau melompat, dapat juga maju kemudian mundur kembali.
Reaksi-reaksi psikologis tersebut adalah :

a. Denial, Reaksi pertama untuk prognosa yang mengarah ke kematian melibatkan perasaan
menolak mempercayainya sebagai suatu kebenaran. Ia menjadi gelisah, menyangkal,
gugup dan kemudian menyalahkan hasil diagnosis. Penyangkalan sebenarnya merupakan
suatu mekanisme pelindung terhadap trauma psikologis yang dideritanya.
b. Anger, Secara tidak sadar proses psikologis akan terus berkembang menjadi rasa bersalah
bahwa dirinya telah terinfeksi, marah terhadap dirinya sendiri atau orang yang
menularinya, tidak berdaya dan kehilangan kontrol serta akal sehatnya.
c. Bargaining, Pada tahapan ini, orang tersebut berusaha mengubah kondisinya dengan
melakukan tawar-menawar atau berusaha untuk bernegosiasi dengan Tuhan.
d. Depression, Perasaan depresi muncul ketika upaya negosiasi tidak menolong dan orang
tersebut merasa tidak ada harapan serta tidak berdaya. Mereka berada dalam keadaan
tidak menentu dalam menghadapi reaksi orang lain terhadap dirinya.
e. Acceptance, Akhir dari proses psikologis ini adalah menerima nasib. Keadaan ini
merupakan suatu keadaan dimana seseorang menyadari bahwa ia memiliki suatu
penyakit, bukan akibat dari penyakitnya itu. Orang dengan kesempatan hidup yang tidak
banyak lagi akan mencapai penerimaan ini setelah tidak lagi mengalami depresi, tetapi
lebih merasa tenang dan siap menghadapi kematian.
a. Penerimaan Integrasi status positif HIVdengan identitas diri,keseimbangan
antarakepentingan orang laindengan diri sendiri, bisamenyebutkan
kondisiseseorangApatis, sulit berubah.

Tahapan reaksi psikologis pasien HIV (Grame Stewart, 1997) adalah seperti terlihat pada tabel
berikut:
Tabel 1.2. Reaksi Psikologis Pasien HIV
Reaksi Proses psikologis Hal-hal yang biasa di jumpai
1. Shock (kaget, Merasa bersalah, marah, Rasa takut, hilang akal,
goncangan tidak berdaya frustrasi, rasa sedih, susah,
batin) acting out
2. Mengucilkan Merasa cacat dan tidak Khawatir menginfeksi orang
diri berguna, menutup diri lain, murung
3. Membuka Ingin tahu reaksi orang lain, Penolakan, stres, konfrontasi
status secara pengalihan stres, ingin
terbatas dicintai
4. mencari orang Berbagi rasa, pengenalan, Ketergantungan, campur
lain yang HIV kepercayaan, penguatan, tangan, tidak percaya pada
positif dukungan sosial pemegang rahasia dirinya
5. Status khusus Perubahan keterasingan Ketergantungan, dikotomi
menjadi manfaat khusus, kita dan mereka (sema orang
perbedaan menjadi hal yang dilihat sebagai terinfeksi HIV
istmewa, dibutuhkan oleh dan direspon seperti itu), over
yang lainnya identification
6. Perilaku Komitmen dan kesatuan Pemadaman, reaksi dan
mementingkan kelompok, kepuasan kompensasi yang berlebihan
orang lain memberi dan berbagi,
perasaan sebagi kelompok
7. Penerimaan Integrasi status positif HIV Apatis, sulit berubah.
dengan identitas diri,
keseimbangan antara
kepentingan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
seseorang

3. Strategi Coping
Lazarus dan Folkman (1984), mengemukakan bahwa coping adalah usaha-usaha kognitif
dan perilaku (behavioral) yang berkesinambungan untuk mengelola tekanan dari dalam
(internal) dan atau dari luar (eksternal) individu yang dirasakan merugikan atau melebihi
kemampuan individu itu. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), coping yang efektif untuk
dilakukan adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi
menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya.
Menurut Cohen dan Lazarus (Sarafino, 2006), tujuan coping, yaitu :
a. Mengurangi hal-hal yang diperkirakan akan menimbulkan situasi stres terutama yang berasal
dari lingkungan. Usaha ini meliputi cara mencari alternatif pemecahan masalah.
b. Tercapainya penyesuaian yang baik terhadap kejadian-kejadian negatif yang dialami
seseorang dalam kehidupannya.
c. Bertahannya anggapan positif terhadap diri sendiri.
d. Memiliki kemampuan untuk dapat mempertahankan keseimbangan emosional.

e. Dapat menjalin hubungan yang memuaskan dengan orang lain


Lazarus & Folkman (1984), menggolongkan dua strategi coping yang biasanya
digunakan oleh individu, yaitu problem focused coping dan emotion focused coping.
a. Problem focused coping. Merupakan usaha individu yang secara aktif mencari
penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan
stres.
b. Emotion focused coping Merupakan usaha individu untuk mengatur emosinya dalam
rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau
situasi yang penuh tekanan, sedangkan kondisi objektif yang menimbulkan masalah tidak
ditangani.

Ada 3 teknik koping yang ditawarkan dalam mengatasi stress:


a) Pemberdayaan Sumber Daya Psikologis (Potensi diri)
Sumber daya psikologis merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam
memanfaatkannya menghadapi stres yang disebabkan situasi dan lingkungan (Pearlin &
Schooler, 1978:5). Karakterisik di bawah ini merupakan sumber daya psikologis yang penting.
1. Pikiran yang positif tentang dirinya (harga diri)
Jenis ini bermanfaat dalam mengatasi situasi stres, sebagaimana teori dari Colley’s looking-
glass self: rasa percaya diri, dan kemampuan untuk mengatasi masalah yg dihadapi.
2. Mengontrol diri sendiri
Kemampuan dan keyakinan untuk mengontrol tentang diri sendiri dan situasi (internal
control) dan external control (bahwa kehidupannya dikendalikan oleh keberuntungan, nasib,
dari luar) sehingga pasien akan mampu mengambil hikmah dari sakitnya (looking for silver
lining).
Kemampuan mengontrol diri akan dapat memperkuat koping pasien, perawat harus
menguatkan kontrol diri pasien dengan melakukan: Membantu pasien mengidentifikasi
masalah dan seberapa jauh dia dapat mengontrol diri , Meningkatkan perilaku menyeleseaikan
masalah ,Membantu meningkatkan rasa percaya diri, bahwa pasien akan mendapatkan hasil
yang lebih baik, Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan terhadap
dirinya ,Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi dan lingkungan yang dapat meningkatkan
kontrol diri: keyakinan, agama
b. Rasionalisasi (Teknik Kognitif)
Upaya memahami dan mengiterpretasikan secara spesifik terhadap stres dalam mencari
arti dan makna stres (neutralize its stressfull). Dalam menghadapi situasi stres, respons
individu secara rasional adalah dia akan menghadapi secara terus terang, mengabaikan, atau
memberitahukan kepada diri sendiri bahwa masalah tersebut bukan sesuatu yang penting
untuk dipikirkan dan semuanya akan berakhir dengan sendirinya. Sebagaian orang berpikir
bahwa setiap suatu kejadian akan menjadi sesuatu tantangan dalam hidupnya. Sebagian lagi
menggantungkan semua permasalahan dengan melakukan kegiatan spiritual, lebih
mendekatkan diri kepada sang pencipta untuk mencari hikmah dan makna dari semua yang
terjadi.
c) Teknik Perilaku
Teknik perilaku dapat dipergunakan untuk membantu individu dalam mengatasi situasi
stres. Beberapa individu melakukan kegiatan yang bermanfaat dalam menunjang
kesembuhannya. Misalnya, pasien HIV akan melakukan aktivitas yang dapat membantu
peningkatan daya tubuhnya dengan tidur secara teratur, makan seimbang, minum obat anti
retroviral dan obat untuk infeksi sekunder secara teratur, tidur dan istirahat yang cukup, dan
menghindari konsumsi obat-abat yang memperparah keadan sakitnya.

4. Penatalaksanaan Pasien Dengan HIV/AIDS


Penatalaksanaan HIV -AIDS pada dasarnya meliputi aspek Psikologis .
1. Aspek Psikologis, meliputi :
a. Perawatan personal dan dihargai.
b. Mempunyai seseorang untuk diajak bicara tentang masalah-masalahnya.
c. Jawaban-jawaban yang jujur dari lingkungannya.
d. Tindak lanjut medis.
e. Mengurangi penghalang untuk pengobatan.
f. Pendidikan/penyuluhan tentang kondisi mereka
DAFTAR PUSTAKA
Hawari, D. 2004. Al Qur’an : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa”. Edisi III
(Revisi). Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

E. Kubler-Ross, 1998. On Death and Dying (Kematian sebagai bagian dari kehidupan) .
Jakarta : PT gramedia Pustaka Utama.

Kusumawijaya, P. 2013. Dinamika Psikologis Pada Orang Dengan HIV dan AIDS
(ODHA). Jurnal Emphaty Fakultas Psikologi ISSN : 2303-114X Vol 2 No 1 Juli
2013.Yogjakarta : Universitas Ahmad Dahlan.

Lazarus, R.S., & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal and Coping. New York: Spranger.

Lubis, N.L. 2009. Depresi : Tinjauan Psikologis. Jakarta : Kencana.

Nursalam & Kurniawati, N.D. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Infeksi
HIV/AIDS.
Jakarta : Salemba Medika.

Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat nomor 12 tahun 2012 tentang pencegahan dan
penanggulanagan human immunodefficiency virus (HIV) dan acquired immuno
defficiency sindrome (AIDS). 2012. Bandung. Jawa Barat.

Prihastuti, W. 2015. Persepsi Wanita Pekerja Seks Tentang HIV/AIDS Dan VCT (Voluntary
Counseling And Testing) Dengan Pemanfaatan VCT Di Klinik Intan Kota
Cirebon. Yogjakarta : Universitas Gajah Mada.