Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan kualitas sumber daya manusia harus disertai dengan


peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang antara lain dilakukan dengan
penurunan angka kematian bayi, angka kematian ibu, dan penanggulangan
masalah gizi masyarakat, salah satunya masalah kurang vitamin A. Generasi yang
sehat, cerdas, dan produktif berawal dari kesehatan masa pertumbuhan saat bayi
dan balita, oleh karena itu pemerintah melalui Departemen Kesehatan
meluncurkan program pemberian kapsul vitamin A untuk bayi, balita, dan ibu
nifas.1
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak
dan disimpan dalam hepar. Vitamin ini tidak dapat diproduksi sendiri dalam tubuh
sehingga harus dipenuhi dari luar. Vitamin A ini memiliki fungsi untuk menjaga
kesehatan penglihatan, membantu pertumbuhan, dan meningkatkan daya tahan
tubuh. Hasil kajian berbagai studi menyatakan bahwa vitamin A merupakan zat
gizi yang esensial bagi manusia karena zat gizi ini penting, khususnya bagi anak-
anak dalam pertumbuhannya, dan dalam konsumsi makanan cenderung belum
mencukupi sehingga harus dipenuhi dari luar.2
Vitamin A merupakan salah satu vitamin yang penting dalam
pertumbuhan balita, karena pada usia balita ini anak mudah terserang penyakit.
Kekurangan vitamin A ini banyak memberikan dampak buruk bagi anak, antara
lain menghambat pertumbuhan, mudah terserang infeksi, terganggunya kesehatan
mata yang jika tidak diobati dapat menyebabkan kebutaan. Dalam rangka
mencegah kerkurangan vitamin A pada anak maka diadakan “Bulan vitamin A” di
Posyandu, dimana anak-anak usia 6 bulan hingga 59 bulan diberikan kapsul
vitamin A dosis tinggi secara gratis. Bulan vitamin A ini diadakan dua kali dalam
setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus.3

1
Penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada
tahun 1992 menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur 6 bulan
hingga 5 tahun, setengahnya menderita kekurangan vitamin A. Pada data WHO
tahun 1995 menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang tingkat
pemenuhan vitamin A tergolong rendah. Berdasarkan kriteria WHO pada tahun
2002, pada survei xeroftalmia, secara klinis kekurangan vitamin A di Indonesia
sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat, namun masalah kekurangan
vitamin A di Indonesia tetap memerlukan perhatian serius. Pada survei yang
sama, menunjukkan bahwa 50% balita secara subklinis masih kekurangan vitamin
A, yang berarti bahwa sekitar separuh dari jumlah balita di Indonesia masih
terancam kebutaan karena kekurangan vitamin A. Studi lain yang dilakukan oleh
Health Surveillance System (NSS), Departemen Kesehatan, pada tahun 2001
menunjukkan sekitar 50% anak Indonesia usia 12-23 bulan tidak mengkonsumi
vitamin A dengan jumlah yang cukup dari makanan sehari-hari. Melihat hal ini,
maka sangat penting untuk mengetahui masalah kekurangan vitamin A (KVA).4
Berdasarkan data pada profil kesehatan Propinsi Bengkulu tahun 2010,
didapatkan bahwa jumlah balita yang mendapatkan vitamin A sebanyak 93.014
balita dari total jumlah balita 197.161. Presentase jumlah balita yang mendapat
vitamin A di Propinsi Bengkulu sebesar 47.18%. Cakupan bayi yang mendapat
vitamin A per kabupaten/ kota di Propinsi Bengkulu dapat dilihat pada gambar
berikut7:

Gambar 1.1 Cakupan balita yang mendapat vitamin A di Propinsi Bengkulu tahun
20107

2
Berdasarkan gambar cakupan balita yang mendapat vitamin A di Propinsi
Bengkulu, dapat dilihat bahwa di tiap kabupaten/ kota belum semua balita
mendapat vitamin A. Kabupaten Bengkulu Selatan tercatat sebagai kabupaten
dengan cakupan pemberian vitamin A terendah yaitu 7.04%. Puskesmas Kota
Manna yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kota
Manna, Bengkulu Selatan, mencatat bahwa di wilayah kerjanya juga belum semua
balita mendapat vitamin A. Data tahun 2012 mencatat bahwa di wilayah kerja
Puskesmas Kota Manna, pada bulan Februari dari total keseluruhan 2343 balita
hanya terdapat 1284 balita usia 6 bulan hingga 59 bulan yang mendapat vitamin
A. Pada bulan Agustus tahun 2012 dari total 2219 balita hanya didapatkan 1018
balita usia 6 bulan hingga 59 bulan yang mendapat vitamin A. Berikut adalah
rincian pemberian vitamin A di wilayah kerja Puskesmas Kota Manna:

Bulan Usia Jumlah balita yang Total jumlah


mendapat vitamin balita yang ada
A
Februari 2012 6-11 bulan 233 balita 430 balita
12-59 bulan 1284 balita 1913 balita
Agustus 2012 6-11 bulan 193 balita 320 balita
12-59 bulan 815 balita 1913 balita

Berdasarkan data ini dapat dilihat bahwa pemberian vitamin A pada balita
kurang mencapai targetnya, dimana pada bulan Februari didapatkan 65% balita
saja yang mendapat vitamin A dan pada bulan Agustus didapatkan 46% balita
yang mendapat vitamin A.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab kurangnya kesadaran ibu untuk
membawa balitanya untuk mendapatkan vitamin A dan hal ini merupakan salah
satu masalah kesehatan yang perlu diatasi mengingat bahwa kekurangan vitamin
A banyak memberikan dampak buruk bagi balita. Faktor pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu tentang manfaat dan bahaya kekurangan vitamin A merupakan hal

3
penting yang mempengaruhi kesadaran ibu untuk memastikan terpenuhinya
kebutuhan vitamin A anak.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalah penelitian ini


adalah bagaimana gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang manfaat
dan bahaya kekurangan vitamin A sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan
pada ibu-ibu di Posyandu Jelita dan Seroja, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten
Bengkulu Selatan, tahun 2013.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan


perilaku ibu-ibu di Posyandu Jelita dan Seroja tentang manfaat dan bahaya
kekurangan vitamin A.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Puskesmas


Memberikan informasi mengenai gambaran pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu-ibu Posyandu Jelita dan Seroja tentang manfaat dan bahaya
kekurangan vitamin A tahun 2013.

1.4.2 Bagi Masyarakat


 Membantu masyarakat memahami tentang manfaat vitamin A.
 Membantu masyarakat memahami tentang bahaya kekurangan vitamin A.
 Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya memenuhi
kebutuhan vitamin A khususnya pada balita.

4
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.5.1 Lokasi Penelitian


Penelitian dilakukan di Posyandu Jelita dan Seroja, Kecamatan Kota Manna,
Bengkulu Selatan.

1.5.2 Waktu Penelitian


Penelitian berlangung pada tanggal 11 Februari 2013 – 30 April 2013.

1.6 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan sebagai berikut:


 Metode penelitian : Deskriptif kualitatif
 Teknik pengumpulan data : Survei melalui pengisian kuisioner
 Instrumen penelitian : Kuisioner, leaflet, poster
 Populasi : Ibu-ibu di Posyandu Jelita dan Seroja, Kota
Manna
 Teknik sampling : Incidental sampling
 Jumlah sampling : 30 orang