Anda di halaman 1dari 1

Pengamatan selanjutnya yaitu laju endap darah dengan prinsip sedimentasi yang

diukur dengan cara memasukkan darah yang diberi anti koagulan kedalam tabung khusus dan
diamati selama 1 jam.. Dari pengamatan, mula-mula sel darah menyebar secara menyeluruh,
merata, dan tudak menggumpal. Setelah satu jam dibiarkan dalam tabung Westergen sel
mulai mengendap sehingga terlihat cairan plasma berwarna kekuning-kuningan dimana pada
tabung terlihat tinggi plasma sebesar 0,3 mm. Sehingga hasil dalam percobaan yang
dilakukan adalah 0,3 mm/jam. Hal ini sesuai dengan Frandson (1992) bahwa apabila suatu
sampel darah diberi zat untuk mencegah penggumpalan dan dibiarkan tak terganggu, sel-
selnya akan turun dan mengendap ke bagian dasar hingga akan terlihat suatu cairan di bagian
atas yang berwarna menyerupai jerami yang disebut plasma darah.

Dalam proses laju endap darah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya
faktor plasma, faktor eritrosit, dan faktor teknik. Jumlah eritrosit yang tidak normal baik lebih
ataupun kurang serta ukurannya juga dapat mempengaruhi laju endap darah menjadi cepat
(Schmid et al. 1997). Selain itu, Laju endap darah diatur oleh keseimbangan antara faktor
pro-sedimentasi (terutama fibrinogen) dengan faktor-faktor yang menghalangi sedimentasi,
yang disebut “lengkungan negatif eritrosit” atau zeta potential. Peningkatan jumlah
fibrinogen dalam darah selama proses inflamasi/pembengkakan menyebabkan eritrosit
melekat satu sama lain, membentuk semacam timbunan yang disebut rouleaux. Rouleaux
mengendap lebih cepat dibanding eritrosit, sehingga peningkatan LED mengindikasikan
pasien mengalami inflamasi (Sonjaya 2013). Pembentukan rouleaux tergantung dari
komposisi protein plasma. Peningkatan kadar fibrinogen dan globulin mempermudah
pembentukan roleaux sehingga Laju Endap darah (LED) cepat, sedangkan kadar albumin
yang tinggi menyebabkan Laju Endap Darah (LED) lambat.

Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada
University Press

Schmid K et al. 1997. Animal Physiology: Adaptation and Environment. USA: Cambridge
University Press.

Sonjaya H. 2013. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Makassar (ID): Universitas
Hassanuddin.