Anda di halaman 1dari 9

OBESITAS

Seorang perempuan 45 tahun datang ke dokter dengan keluhan pusing dan kepala terasa berat.
Kebiasaan pribadi pasien tidak suka makan sayur dan buah, gemar makan makanan siap saji dan manis
serta kurang olah raga. Pasien bekerja sebagai sekretaris perusahaan dan memiliki ibu yang meninggal
karena penyakit jantung. Pemeriksaan fisik didapatkan BB 87 kg, TB 157 cm, lingkar pinggang 110 cm
dan tekanan darah 130/90 mmHg. Pemeriksaan laboratorium didapatkan kolesterol total 250 mg/dL,
HDL 30 mg/dL LDL 173 mg/dL dan TG 185 mg/dL. Pasien direncanakan untuk menjalani terapi
nonfarmakologis dan dievaluasi kondisinya dengan skor Framingham

STEP 1

- Kolesterol total : gabungan dari jumlah kolesterol baik, kolesterol jahat, dan trigliserida dalam
setiap desiliter darah. Normalnya, kadar kolesterol total yang dianjurkan adalah di bawah 200
mg/dL.
- HDL : Kolesterol HDL atau Hight Density Lipoprotein adalah kolesterol yang baik, karena
kolesterol jenis ini dapat membuang atau mengurangi kolesterol jahat yang berlebihan pada
pembuluh darah, mengandung banyak protein
- LDL: Kolesterol LDL atau Low Density Lipoprotein adalah sejenis kolesterol yang berbahaya,
karena jenis kolesterol ini jika kadarnya tinggi menimbulkan resiko tinggi pula menimbulakan
penyakit jantung dan stroke, mengandung banyak lemak
- TG: Trigliserida adalah suatu jenis lemak yang ada dalam darah serta terdapat dalam berbagai
organ tubuh. Hasil konversi kalori yang tidak terpakai dan disimpan untuk menyediakan cadangan
energi dalam tubuh
- Skor Framingham : metoda perhitungan utk mengatahui potensi resiko serangan jantung
(cardiovascular risk) pada seseorang.

STEP 2

1. Bagaimana fisiologis dari keseimbangan energi?


Terdapat tiga kemungkinan status keseimbangan energi:
■ Keseimbangan energi netral : Jika jumlah energi dalam makanan yang masuk sama
dengan jumlah energi yang dikeluarkan oleh otot otot yang melakukan kerja eksternal plus
pengeluaran energi internal basal yang akhirnya muncul sebagai panas tubuh, pemasukan dan
pengeluaran energi berada dalam keseimbangan dan berat tubuh tidak berubah.
■ Keseimbangan energi positif : Jika jumlah energi dalam makanan yang masuk lebih
besar daripada jumlah energi yang dikeluarkan, kelebihan energi yang masuk tetapi tidak
digunakan akan disimpan di dalam tubuh, terutama sebagai jaringan lemak sehingga berat
tubuh bertambah.
■ Keseimbangan energi negative : Sebaliknya, jika energi yang berasal dari makanan yang
masuk lebih kecil daripada kebutuhan energi tubuh saat itu, tubuh harus menggunakan
simpanan energi untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan karenanya berat tubuh berkurang.
(Fisiologi manusia dari sel ke system, Lauralee Sherwood – hal. 700)
2. Bagaimana pengaruh control saraf terhadap timbulnya rasa lapar?
Melalui nervus vagus, otak menerima informasi mengenai isi pencernaaan dari usus dan
metabolisme zat-zat makanan pada hepar. Peninggian konsentrasi glukosa setelah makan
menyebabkan penyampaian rangsang dari traktus solitarius pada nukleus serabut saraf vagus.
Melalui nukleus saraf vagus ini informasi rangsangan ini diteruskan ke hipothalamus dan
komponen dari sistem limbic pada forebrain. Pada hipothalamus rangsang akan melibatkan
daerah yang berperan dalam respon makan meliputi
1. Nukleus Ventromedial Hipothalamus dinamakan pusat kenyang, disebut sebagai saticty
system
2. Nukleus Lateral Hipothalamus dinamakan pusat lapar atau pusat makan atau disebut
sebagai feeding system

Rangsang pada hipothalamus seperti contohnya konsentrasi makanan di dalam


gastrointestinal dan lain -lain, juga akan menyebabkan reaksi pada sistem saraf otonom
yang mengakibatkan hipothalamus akan mensekresikan neurotransismiter termasuk
serotonin, katekolamin (epinefrin, norepinefrin, dopamin), opiat endogenous dan
neuropeptides. Neuropeptides yang dihasilkan yaitu:
- Neuropeptide Y (NPY): berperan dalam keinginan untuk makan/ rasa lapar
- Glucagon-like Peptide 1 (GLP-1): berperan pada rasa kenyang
Hipothalamus juga berhubungan dengan pengaturan hormonal tubuh, mengatur kelenjar
pituitary dimana hal ini akan menyebabkan pengaturan kelenjar -kelenjar endokrin. Nukleus-
nukleus hipothalamus yang berespon terhadap Kadar Glukosa Darah apabila kadar glukosa
darah rendah, maka akan hipothalamus melepaskan impuls ke batang otak sehingga timbul
rangsang pelepasan sejumlah hormon yang mempengaruhi respon makan

3. Apa hormone yang berperan dalam mempertahankan bb dalam kondisi normal?


- Leptin : menekan nafsu makan sehingga menurunkan konsumsi makanan dan mendorong
penurunan berat, dengan menghambat sinyal NPY (perangsang nafsu makan) dan merangsang
pengeluaran sinyal melanokortin (penekan nafsu makan) dari hipotalamus. Sebaliknya, penu-
runan simpanan lemak dan penurunan sekresi leptin yang ditimbulkannya akan menyebabkan
peningkatan nafsu makan dan penambahan berat
- Insulin : suatu hormon yang dikeluarkan oleh pankreas sebagai respons terhadap peningkatan
konsentrasi glukosa dan nutrien lain di darah setelah makan, merangsang penyerapan,
pemakaian, dan penyimpanan nutrien-nutrien ini oleh sel (lihat h. 745). Karena itu, peningkatan
sekresi insulin yang menyertai kelimpahan, pemakaian, dan penyimpanan makanan secara tepat
menghambat sel penghasil NPY nukleus arkuatus sehingga menekan asupan makanan lebih
lanjut.
- Ghrelin : adalah perangsang nafsu makan poten yang dihasilkan oleh lambung dan diatur oleh
status makan . Sekresi perangsang nafsu makan ini memuncak sebelum makan dan
rnenyebabkan orang ingin makan, kemudian turun setelah hidangan dimakan. Ghrelin
merangsang nafsu makan dengan mengaktifkan neuron penghasil NPY di hipotalamus
(Fisiologi manusia dari sel ke system, Lauralee Sherwood – hal. 671)
4. Bagimana metabolisme lipid?

Metabolisme lipid
Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu
trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid
adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut
dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai
pendek juga dapat melalui jalur ini.
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka
diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel
usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi
trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya
kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga
bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan
jaringan adiposa.
Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam
lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi
simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-waktu
jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol,
untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses pemecahan lemak
jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh albumin ke jaringan
yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty acid/FFA).
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami
esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi
jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam
lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida
jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA
dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika
kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak
dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami
kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis
membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan
badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis.
Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan
asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
METABOLISME LIPID. dr.Syazili Mustofa. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
5. Bagaimana fisiologi dari obesitas?
Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran kalori
dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang menyebabkan penumpukan
lemak di sejumlah bagian tubuh (Rosen, 2008). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa
pengontrolan nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural dan
humoral (neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi,lingkungan, dan sinyal psikologis.
Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu
pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi
hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen
(yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adiposa,
usus dan jaringan otot).
Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran
energi) dan dapat pula bersifat katabolik 13
(anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek
dan sinyal panjang. Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta
berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh
kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan
oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan
energi (Sherwood, 2012).

Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan
peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Kemudian, leptin merangsang anorexigenic center di
hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptida Y (NPY) sehingga terjadi penurunan nafsu
makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan
adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan
peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga
tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan (Jeffrey, 2009).

6. Apa penyebab dari keluhan pasien yang pusing dan kepala terasa berat?
Pasien kelebihan BB -> obesitas berhubungan dengan lipid, jika kandungan lipid terlalu banyak
dipembuluh darah maka akan menymbat pembuluh darah sehingga aliran darah semakin kecil
sehingga O2 di otak sedikit yang bisa mengakibatkan pusing, atau dari kandungan lipid di dalam
darah yang mengakibatkan darah menjadi kental dan akan menghambat aliran darah.

7. Apa hubungan usia dan jenis kelamin dengan kondisi pasien?


semakin bertambahnya usia akan berisiko mengalami obesitas, karena terjadinya akumulasi
lemak secara berlebihan di dalam tubuh, yang didukung oleh perubahan pola makan yang
tadinya tinggi karbohidrat, tinggi serat dan rendah lemak berubah ke pola makan baru yang
rendah karbohidrat, rendah serat , dan tinggi lemak, sehingga menggeser mutu makanan
kearah yang tidak seimbang. wanita lebih berisiko untuk mengalami obesitas. Wanita akan
kehilangan 30 hingga 50 persen dari massa otot total pada usia 45 tahun. Karena proses
penuaan, metabolisme tubuh secara alami akan melambat dan mobilitas yang rendah
mempercepat proses penggantian massa otot dengan lemak tubuh. Penurunan massa otot
membantu untuk mengurangi konsumsi kalori dan hampir setiap makanan diubah menjadi
lemak. Sebagai akibatnya, diperkirakan wanita mendapatkan 2 kali ukuran ekstra dengan
setiap 10 tahun usianya. Kelebihan berat badan pada wanita setengah baya adalah terutama
karena faktor usia dan gaya hidup,t etapi menopause juga memainkan peran. Banyak wanita
bertambah berat selama masa menopause dan memiliki lemak berlebih di sekitar pinggang
daripada sebelumnya terutama jika kurang aktif (Nurmalina,R,2011)
Jurnal Kesehatan, Volume VI, Nomor 1, April 2015, hlm 43-48

8. Apa hubungan olahraga dengan kolesterol?


Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini didasari
oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan
mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat
menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada
orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran
energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan.
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor:
1) tingkat aktivitas dan olahraga secara umum
2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi minimal tubuh.
Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab duapertiga dari
pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi sepertiga
pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki
kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat
berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang
hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal.
(Fisiologi Guyton)

1. Apa hubungan pekerjaan pasien dengan keluhannya?


Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini didasari
oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan
mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat
menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada
orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran
energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan.
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor:
1) tingkat aktivitas dan olahraga secara umum
2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi minimal tubuh.
Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab duapertiga dari
pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi sepertiga
pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki
kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat
berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang
hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal.
(Fisiologi Guyton)

9. Apa hubungan pola makan dengan kondisi pasien?


- Perbedaan dalam mengekstraksi energy dari makanan
Orang langsing cenderung kurang memperoleh energy dari makanan yang mereka santap
karena mereja menubah lebih banyak energy maanan menjadi panas daripada menjadi
energy untuk digunakan atau disimpan. Sebagai contoh, orang yang langsing memiliki lebih
banyak protein tak bergabung, yang memungkinkan sel-sel mereka mengubah lebih banyak
kalori nutrient menjadi panas dan bukan menjadi lemak. Orang yang obesitas mungkin
memiliki system metabolic yang lebih efisien dalam mengekstraksi energy dari makanan.
- Pembentukan sel lemak dalam jumlah berlebihan akibat makan berlebihan
Salah satu masalah dalam melawan obesitas adalah bahwa sekali terbentuk maka sel lemak
tidak lenyap dengan pembatasan makan dan penurunan berat. Bahkan ketika seseorang
yang berdiet telah kehilangan banyak simpanan lemak trigliserida di sel-sel ini, sel-sel
tersebut tetap ada dan siap diisi kembali. Karena itu penambahan berat kembali setelah
penurunan berat sulit dihindari dan dapat mematahkan semangat yang bersangkutan untuk
berdiet.
(Fisiologi Sherwood)

10. Apa saja macam-macam obesitas?


Dalam beberapa tipe (Purwati, 2001) yaitu :

1) Tipe Hiperplastik, adalah kegemukan yang terjadi karena jumlah sel yang lebih banyak
dibandingkan kondisi normal, tetapi ukuran sel-selnya sesuai dengan ukuran sel normal terjadi
pada masa anak-anak.Upaya menurunkan berat badan ke kondisi normal pada masa anak-anak
akan lebih sulit.

2) Tipe Hipertropik, kegemukan ini terjadi karena ukuran sel yang lebih besar dibandingkan
ukuran sel normal. Kegemukan tipe ini terjadi pada usia dewasa dan upaya untuk menurunkan
berat akan lebih mudah bila dibandingkan dengan tipe hiperplastik.

3) Tipe Hiperplastik dan Hipertropik kegemukan tipe ini terjadi karena jumlah dan ukuran sel
melebihi normal. Kegemukan tipe ini dimulai pada masa anak - anak dan terus berlangsung
sampai setelah dewasa. Upaya untuk menurunkan berat badan pada tipe ini merupakan yang
paling sulit, karena dapat beresiko terjadinya komplikasi penyakit, seperti penyakit degeneratif.

Berdasarkan penyebaran lemak didalam tubuh, ada dua tipe obesitas yaitu:

a). Tipe buah apel (Adroid), pada tipe ini ditandai dengan pertumbuhanlemak yang berlebih
dibagian tubuh sebelah atas yaitu sekitar dada, pundak, leher, dan muka. Tipe ini pada
umumnya dialami pria dan wanita yang sudah menopause. Lemak yang menumpuk adalah
lemak jenuh.
b). Tipe buah pear (Genoid), tipe ini mempunyai timbunan lemak pada bagian bawah, yaitu
sekitar perut, pinggul, paha, dan pantat. Tipe ini banyak diderita oleh perempuan. Jenis
timbunan lemaknya adalah lemak tidak jenuh

11. Apa komplikasi yang di timbulkan dari obesitas.?


a) Hipertensi
Orang dengan obesitas akan mempunyai resiko yang tinggi terhadap Penyakit hipertensi.
Menurut hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia 20 – 39 tahun orang obesitas
mempunyai resiko dua kali lebih besar terserang hipertensi dibandingkan dengan orang
yang mempunyai berat Badan normal (Wirakusumah, 1994).
b) Jantung koroner
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah
koroner. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dari 500 penderita kegemukan, sekitar 88 %
mendapat resiko terserang penyakit jantung koroner. Meningkatnya factor resiko penyakit
jantung koroner sejalan dengan terjadinya penambahan berat
badan seseorang. Penelitian lain juga menunjukkan kegemukan yang terjadi pada usia 20 –
40 tahun ternyata berpengaruh lebih besar terjadinya penyakit jantung dibandingkan
kegemukan yang terjadi pada usia yang lebih tua (Purwati, 2010).
c) Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus dapat disebut penyakit keturunan, tetapi kondisi tersebut tidak selalu
timbul jika seseorang tidak kelebihan berat badan. Lebih dari 90 % penderita diabetes
mellitus tipe serangan dewasa adalah penderita kegemukan. Pada umumnya penderita
diabetes mempunyai kadar lemak yang abnormal dalam darah. Maka, dianjurkan bagi
penderita diabetes yang ingin menurunkan berat badan sebaiknya dilakukan dengan
mengurangi konsumsi bahan makanan sumber lemak dan lebih banyak mengkonsumsi
makanan tinggi serat (Purwati, 2001)
d) Gout
Penderita obesitas mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit radang sendi yang lebih
serius jika dibandingkan dengan orang yang berat badannya ideal. Penderita obesitas yang
juga menderita gout harus menurunkan berat badannya secara perlahan-lahan (Purwati,
2001)
e) Batu Empedu
Penderita obesitas mempunyai resiko terserang batu empedu lebih tinggi karena ketika
tubuh mengubah kelebihan lemak makanan menjadi lemak tubuh, cairan empedu lebih
banyak diproduksi didalam hati dan disimpan dalam kantong empedu. Penyakit batu
empedu lebih sering terjadi pada penderita obesitas tipe buah apel. Penurunan berat badan
tidak akan mengobati penyakit batu empedu, tetapi hanya membantu dalam
pencegahannya. Sedangkan untuk mengobati batu empedu harus menggunakan sinar
ultrasonic maupun melalui pembedahan (Andrianto, 1990).
f) Kanker
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa laki-laki dengan obesitas akan beresiko
terkena kanker usus besar, rectum, dan kelenjar prostate. Sedangkan pada wanita akan
beresiko terkena kanker rahim dan kanker payudara. Untuk mengurangi resiko tersebut
konsumsi lemak total harus dikurangi. Pengurangan lemak dalam makanan sebanyak 20 –
25 % perkilo kalori merupakan pencegahan terhadap resiko penyakit kanker payudara
(Purwati, 2001).

12. Bagaimana terapi non farmakologis yang akan dilakukan?


- Non farmakologis
 Perubahan gaya hidup: merokok harus segera dihentikan, menurunkan berat
badan, pembatasan asupan alcohol
Pengaturan makanan: kurangi asupan lemak total, lemak jenuh, dan kolestrol; tingkatkan
proporsi lemak MUFA (mono unsaturated fatty acid) dan PUFA (poly unsaturated fatty acid)
Evaluasi hasil perubahan gaya hidup dilakukan setiap 3 bulan.
Latihan jasmani: latihan jasmani yang teratur dapat meningkatkan kadar HDL dan Apo A1,
menurunkan kadar TG dan LDL, meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki toleransi
glukosa, meningkatkan kesegaran jasmani, menurunkan berat badan
- Farmakologis
Bila terapi non farmakologis telah dilakukan cukup baik selama 3-6 bulan, namun kadar lipid
belum mencapai sasaran, dianjurkan dimulai pemberian obat anti hipolipidemik.
Setelah pengobatan farmakologis selama 4-6 minggu, kadar LDL diukur kembali. Bila
mencapai sasaran, pemeriksaan diulang setiap 4 bulan atau lebih sering.
(Buku Ajar IPD Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)

13. Apa tata laksana dari kelainan diatas?


- Non farmakologis
Perubahan gaya hidup: merokok harus segera dihentikan, menurunkan berat badan,
pembatasan asupan alcohol
Pengaturan makanan: kurangi asupan lemak total, lemak jenuh, dan kolestrol;
tingkatkan proporsi lemak MUFA (mono unsaturated fatty acid) dan PUFA (poly unsaturated
fatty acid)
Evaluasi hasil perubahan gaya hidup dilakukan setiap 3 bulan.
Latihan jasmani: latihan jasmani yang teratur dapat meningkatkan kadar HDL dan Apo
A1, menurunkan kadar TG dan LDL, meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki toleransi
glukosa, meningkatkan kesegaran jasmani, menurunkan berat badan
- Farmakologis
Bila terapi non farmakologis telah dilakukan cukup baik selama 3-6 bulan, namun kadar lipid
belum mencapai sasaran, dianjurkan dimulai pemberian obat anti hipolipidemik.
Setelah pengobatan farmakologis selama 4-6 minggu, kadar LDL diukur kembali. Bila
mencapai sasaran, pemeriksaan diulang setiap 4 bulan atau lebih sering.
(Buku Ajar IPD Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)

14. Bagaimana cara menghitung IMT dan cara interpretasinya?


(Bb/tb dalam m)2
Interpretasi :
<18,5 : underweight
18,5 – 22,9 : normal
>23 : overweight
23-24,9 : beresiko
25-29,9 : Obes 1
>30 : obes 2
Pasien : obes 2
Pengaruh obesbukan hanya dari BB tapi juga dilihat distribusi penyimpanan lemak, dan
indeks masa otot.

15. Apakah tujuan evaluasi indeks Framingham ?


Metode ini menghasilkan cara hitung seberapa besar risiko seseorang mengalami PJK
berdasarkan faktor risiko yang ada dan dimasukkan ke dalam Framingham Risk Score. Faktor
risiko yang diperhitungkan dalam metode ini meliputi usia, kadar kolesterol total, kadar HDL,
merokok, dan tekanan darah serta pengobatannya. Selanjutnya seluruh poin akan dijumlahkan
dan akan menghasilkan seberapa besar kemungkinan terkena PJK dalam kurun waktu 10 tahun
mendatang. Perhitungan dibagi dalam dua jenis, yaitu perhitungan untuk pria dan perhitungan
untuk wanita (Kurniadi, 2013).