Anda di halaman 1dari 49

SCALE UP, PENGOLAHAN

DAN PRODUCTION ENVIRONTMENT

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmasi Industri

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 6
Anggota:
Najiah Rahmatun Nisa 260112170525
Moh. Farid Maulida 260112170529
Nur Shabrina Eka Putri 260112170573
Khanifah Hidayati P. Negara 260112170581
Indraswari Pitaloka 260112170589

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2018
1. Bahan Awal
Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui
dan memenuhi spesifikasi yang relevan (BPOM, 2012).

1.1 Penerimaan
Semua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah
dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan, nomor bets/lot,
tanggal penerimaan atau penyerahan, tanggal pelulusan dan tanggal daluwarsa
bila ada (BPOM, 2012).
Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang
kondisi umum, keutuhan wadah dan segelnya, ceceran dan kemungkinan adanya
kerusakan bahan, dan tentang kesesuaian catatan pengiriman dengan label dan
pemasok (BPOM, 2012).
Protap Penerimaan dan Penyimpanan Bahan Awal dan Bahan Pengemas
ini berlaku untuk semua bahan awal dan bahan pengemas yang diterima di gudang
dibawah tanggung jawab Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)
yang bertanggung jawab untuk melatihkan protap ini kepada pelaksana protap ini
dan kepada kepala gudang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Protap ini
dengan benar dan konsisten. Prosedur yang dilaksanakan, antara lain:
a. Periksa keutuhan kemasan, kebenaran label serta jumlah bahan awal dan
bahan pengemas yang diterima, semuanya harus sesuai dengan surat jalan dan
surat pesanan. Ketidaksesuaian harus dilaporkan kepada Bagian Pembelian
dan Bagian Pengawasan Mutu.
b. Isi / lengkapi formulir Tanda Terima dengan salinannya (rangkap 4), serahkan
ke Bagian Pengawasan Mutu, Bagian Pembelian, Bagian Perencanaan
Produksi (PPIC) dan Bagian Keuangan.
c. Bersihkan wadah bahan awal dan bahan pengemas di tempat terpisah, (di area
penerimaan), sesuai Protap Pembersihan Wadah Bahan di Gudang No……,
sebelum dipindahkan ke Gudang.
d. Siapkan label KARANTINA untuk ditempelkan oleh Personil Gudang paling
sedikit pada wadah terbawah di atas palet. Khusus untuk bahan aktif obat,

1 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


label ditempelkan pada tiap wadah. Simpan bahan di daerah khusus karantina
kemudian catat di Catatan Penerimaan.
e. Ambil sampel bahan awal atau bahan pengemas sesuai dengan Protap
Pengambilan Sampel Bahan Awal dan Bahan Pengemas No. ........ oleh
Petugas Pengawasan Mutu atau personil terkualifikasi yang ditunjuk oleh
Bagian Pengawasan Mutu.
f. Beri label DILULUSKAN untuk bahan awal dan bahan pengemas yang sudah
diperiksa dan lulus uji, kemudian pindahkan ke tempat penyimpanan bahan
awal dan bahan pengemas yang telah diluluskan dan dicatat dalam Catatan
Persediaan. Pada label hendaklah dicantumkan tanggal uji ulang bahan yang
ditetapkan oleh Bagian Pengawasan Mutu.
g. Beri label DITOLAK untuk bahan awal dan bahan pengemas yang ditolak
oleh Bagian Pengawasan Mutu dan simpan di tempat terkunci (Area Gudang
…) dan dicatat.
h. Simpan bahan awal dan bahan pengemas yang memerlukan penanganan
khusus di tempat yang sesuai dengan yang tercantum pada label wadah
bahan, misal ruang ber-AC, di lemari pendingin atau gudang api (sesuai
Daftar Bahan dan Kondisi Penyimpanan terlampir) dan pantau kondisinya.
i. Bahan obat psikotropika dan prekursornya harus disimpan dalam lemari yang
terkunci yang disediakan untuk itu dan kuncinya dipegang oleh Kepala
Gudang.
(BPOM, 2012)
1.2 Karantina
Karantina merupakan status suatu bahan atau produk yang dipisahkan baik
secara fisik maupun secara sistem, sementara menunggu keputusan pelulusan atau
penolakan untuk diproses, dikemas atau didistribusikan (BPOM, 2005).
Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan
diluluskan untuk pemakaian oleh kepala bagian Pengawasan Mutu (BPOM,
2012).
Pada saat kedatangan bahan dan sebelum diterima, tiap wadah atau
kelompok wadah dari bahan hendaklah diperiksa secara visual terhadap pelabelan

2 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


yang benar (termasuk korelasi antara nama yang digunakan oleh pemasok dan
nama in-house, jika hal ini berbeda, (kerusakan wadah, segell yang putus dan
bukti kerusakan atau kontaminasi. Bahan hendaklah dikarantina sampai bahan
tersebut diambil sampelnya, diuji dengan cara yang sesuai dan diluluskan untuk
digunakan (BPOM, 2009).
Sebelum bahan yang datang dicampur dengan stok yang ada (misal:
pelarut atau stok di dalam silo), bahan tersebut hendaklah diidentifikasi dengan
benar, diuji jika perlu dan diluluskan. Prosedur hendaklah tersedia untuk
mencegah salah masuknya bahan yang datang ke dalam stok yang ada (BPOM,
2009).
Jika pengiriman produk ruahan dilakukan dengan tangker yang tidak
didedikasikan untuk satu produk, hendaklah ada jaminan tidak ada kontaminasi
silang yang berasal dari tangker. Cara untuk memberikan jaminan ini dapart
mencakup satu atau lebih hal sebagai berikut:
a. Sertifikat pembersihan;
b. Pegujian untuk impuritas sesepora; dan
c. Audit terhadap pemasok.
(BPOM, 2009)
1.3 Sampling
Sampel bahan awal hedaklah diuji pemenuhannya terhadap spesifikasi.
Dalam keadaan tertentu, pemenuhan sebagian atau keseluruhan terhadap
spesifikasi dapat ditujukkan dengan sertifikat analisis yang diperkuat dengan
pemastian identitas yag dilakukan sendiri (BPOM, 2012).
Hendaklah dilakukan sedikitnya satu pengujian untuk membuktikan
identitas tiap bets bahan. Sertifikat analisis dari pemasok dapat digunakan sebagai
pengganti pelaksanaan pengujian yang lain, dengan ketentuan bahwa pabrik
pembuat memiliki suatu sistem untuk mengevaluasi pemasok (BPOM, 2009).
Persetujuan pemasok hendaklah mencakup evaluasi yang memberikan
bukti yang cukup (misal: riwayat mutu) bahwa pabrik pembuat dapat secara
konsisten menyediakan bahan yang memenuhi spesifikasi. Analisis lengkap
hendaklah dilakukan terhadap minimal tiga bets sebelum mengurangi pengujian

3 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


in-house. Akan tetapi, minimmal hendaklah dilakukan analisis lengkap pada
interval yang sesuai dan dibandingkan dengan sertifikat analisis. Kehandalan dari
sertifikat analisis hendaklah diperiksa dengan rentang waktu teratur (BPOM,
2009).
Alat bantu proses, bahan baku berbahaya atau sangat beracun, bahan
khusus lain atau bahan yang ditransfer ke unit lain yang berada dalam kendali
perusahaan tidak perlu diuji apabila diperoleh sertifikat analisis dari pabrik
pembuat, yang menunjukkan bahwa bahan baku tersebut memenuhi spesifikasi
yang ditetapkan. Pemeriksaan visual terhadap wadah, label dan catatan nomor
bets hendaklah memudahkan penetapan identitas bahan tersebut. Pengabaian
pengujian di tempat (terhadap) bahan tersebut hendaklah dijustifikasi dan
didokumentasikan (BPOM, 2009).
Sampel hendaklah mewakili bets bahan dari mana bahan tersebut diambil.
Metode pengambilan sampel hendaklah menetapkan jumlah wadah dan bagian
mana dari wadah yang diambil untuk sampel, serta jumlah bahan yang diambil
untuk sampel dari tiap wadah. Jumlah wadah untuk sampel dan ukuran sampel
hendaklah berdasarkan pola penambilan sampel dengan mempertimbangkan
kekritisan bahan, variabilitas bahan, riwayat mutu pemasok dan jumlah yang
dibutuhkan untuk analisis (BPOM, 2009).
Pengamilan sampel hendaklah dilakukan di lokasi yang ditentukan dan
berdassarkan prosedur yang dirancang untuk mencegah kontaminasi dari bahan
yang diambil untuk sampel dan kontaminasi dari bahan lain. Wadah dari mana
sampel diambil hendaklah dibuka secara hati-hati dan segera tutup kembali.
Wadah tersebut hendaklah ditandai untuk menunjukkan bahwa sampel telah
diambil (BPOM, 2009).

1.4 Penyimpanan
Bahan awal, terutama yang dapat mengalami kerusakan karena terpapar
panas, hendaklah disimpan di dalam ruangan yang suhu udaranya dikendalikan
dengan ketat; bahan yang peka terhadap kelembaban dan/atau cahaya hendaklah

4 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


disimpan dengan benar di dalam ruangan yang dikendalikan kondisinya (BPOM,
2012).
Bahan awal diarea penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat. Label
hendaklah memuat keterangan paling sedikit sebagai berikut.
a. Nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan;
b. Nomor bets/kontrol yang diberikan pada saat penerimaan bahan
c. Status bahan (misal: karantina, sedag uji, diluluskan, ditolak);
d. Tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu
e. Jika digunakan sistem penyimpanan dengan komputerisasi yang divalidasi
lengkap, maka semua keterangan diatas tidak perlu dalam bentuk tulisan yang
terbaca pada label.
(BPOM, 2012)
Protap Penyimpanan Bahan Awal berlaku untuk semua bahan awal (bahan
baku aktif dan bahan baku tambahan) yang diterima oleh Bagian Gudang Bahan
Awal dengan penanggung jawab, sebagai berikut:
a. Petugas Bagian Gudang Bahan Awal bertanggung jawab untuk melaksanakan
Protap ini dengan baik dan benar.
b. Kepala Seksi Gudang Bahan Awal bertanggung jawab untuk mengawasi
pelaksanaan Protap ini oleh petugas dengan baik dan benar.
c. Kepala Bagian Gudang Bahan Awal bertanggung jawab untuk memberikan
pelatihan serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Protap ini dengan
baik dan benar.
(BPOM, 2012)
Adanya hal-hal yang perlu diperhatikan khusus dalam proses
penyimpanan, diantaranya:
a. Penyimpanan bahan awal baik pada saat proses karantina selama pemeriksaan
maupun setelah diluluskan harus disesuaikan dengan persyaratan
penyimpanan yang tercantum dalam label bahan awal atau Certificate of
Analysis (COA) yang disertakan dari bahan baku tersebut.
b. Berikut adalah contoh temperatur ruang penyimpanan yang tercantum dalam
label bahan awal:

5 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Suhu ruang (ambient) : suhu ruang tidak lebih dari 30o C;
Suhu ruang berpendingin udara (AC) : suhu ruang di bawah 25oC;
Suhu dingin : suhu ruang antara 2 - 8o C; dan
Suhu beku : suhu ruang di bawah 0o C;
c. Simpan bahan awal pada rak bahan awal yang telah ditentukan dengan nama
bahan awal yang tertera pada rak tersebut, jangan menaruh bahan awal di
lokasi yang tidak sesuai dengan nama bahan awal yang tercantum pada rak
tersebut.
d. Bahan awal tidak boleh disimpan langsung bersentuhan dengan lantai
gudang, simpan bahan awal di atas rak atau pallet.
e. Gudang penyimpanan bahan awal harus selalu dipantau kondisinya sehingga
selalu memenuhi persyaratan.
(BPOM, 2012)
Kondisi penyimpanan hendaklah disesuaikan dengan yang tercantum pada
label bahan awal atau sesuai dengan sifat fisik dan kimia bahan tersebut (BPOM,
2012).
Prosedur yang dilakukan pada saat penyimpanan bahan awal, diantaranya:
a. Simpan bahan awal dari pemasok yang sudah diterima oleh Bagian Gudang
Bahan Awal sesuai dengan kondisi penyimpanannya.
b. Simpan bahan awal yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus, misalnya
bahan awal dari golongan psikotropika, bahan awal yang mudah terbakar /
meledak, di tempat penyimpanan yang sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan.
c. Beri identitas pada rak atau daerah penyimpanan bahan awal tersebut sesuai
dengan statusnya. Beri jarak yang cukup antara bahan awal yang satu dengan
bahan awal lain.
d. Jika rak atau daerah penyimpanan tidak mencukupi, simpan bahan awal di
tempat lain dengan tetap menyertakan penandaan yang sama.
e. Beri label ‘DITOLAK’ (label warna merah) untuk bahan awal yang ditolak
oleh Bagian Pengawasan Mutu dan pindahkan segera ke area bahan yang
ditolak untuk tindak lanjut (BPOM, 2012).

6 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


2. Validasi Proses
Validasi proses produksi merupakan dokumen pembuktian bahwa proses
produksi yang dilakukan sesuai dengan dokumen proses pengolahan, akan
menghasilkan produk yang memenuhi persyarata mutu yang telah ditetapkan
secara terus-menerus (konsisten) (Bambang, 2007).
Validasi dalam proses produksi obat ialah salah satu tindakan pembuktian
dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, perlengkapan, prosedur kegiatan yang
digunakan dalam proses pembuatan supaya mencapai hasil yang diinginkan.
Pengertian ini menunjukkan bahwa tujuan validasi adalah untuk menghasilkan
produk yang bermutu. Validasi terhadap bahan dan perlengkapan lebih mudah
dilakukan karena berupa benda, sedangkan validasi prosedur kegiatan pada
umumnya dilaksanakan dengan cara melakukan pengujian pada titik-titik kritis
dari tahapan proses atau kegiatan yang diperkirakan dapat mempengaruhi mutu
produk. Mutu produk akan terjamin jika terjamin pula adanya proses produksi
yang aman, reproduksibilitasnya baik dan penekanan sekecil mungkin kesalahan
yang timbul (Suwijono, 2002).
Validasi prosedur kegiatan bukan hanya berkaian dengan metode
produksi, tetapi sangat erat kaitannya dengan sistem yang digunakan yaitu terbuka
atau tertutup, alur perpindahan proses dari setiap tahapan kepada tahapan lain, dan
tidak kalah pentingnya faktor manusia sebagai pelaku yang melaksanakan proses
produksi (Suwijono, 2002).
Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB dan dilakukan
sesuai dengan prosedur yang telah di tetapkan. Hasil validasi dan kesimpulan
hendaklah dicatat (BPOM, 2012).
Sebelum suatu prosedur pengolahan induk diterapkan, hendaklah diambil
langkah untuk membuktikan prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi
rutin, dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan bahan dan
peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa menghasilakan produk yang
memenuhi persyaratan mutu (BPOM, 2012).
Validasi proses produksi bertujuan untuk:

7 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


1. Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur produksi yang
berlaku dan digunakan dalam proses produksi rutin (batch processing
record), senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara terus-menerus.
2. Mengidentifikasi dan mengurangi problem (masalah) yang terjadi selama
proses produksi dan memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang.
3. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksi.
(Bambang, 2007).
Jenis-jenis validasi proses produksi, diantaranya:
a. Prospective Validation (Initial Validation)
 Merupakan validasi proses produksi yang dilakukan untuk produk-produk
BARU (belum pernah diproduksi/dipasarkan sebelumnya)
 Validasi proses produksi dilakukan SETELAH proses scale up dan
opimalisasi prosedur oleh bagian R&D dilakukan dan bukan pada skala
trial (labolatorium) dan setelah dilakukan finalisasi prosedur produksi
(batch processing record) oleh Bagian R&D.
 Dilakukan pada 3 batch pertama secara berurutan.
b. Concurrent Validation
 Merupakan validasi yang dilakukan pada proses produksi yang
SUDAH/TENGAH berjalan dan diproduksi, yang mana oleh karena satu
dan lain hal proses produksi produk tersebut belum dilakukan Prospective
Validation.
 Validasi proses produksi (Concurrent Validation) juga karena terdapat
perubahan pada parameter kritis yang dapat mempengaruhi mutu dan
spesifikasi produk.
 Perubahan parameter yang dapat mempengaruhi mutu dan spesifikasi
produk tersebut, antara lain perubahan spesifikasi bahan baku, peralatan
utama, prosedur pembuatan, metode pengujian dan lain-lain.
 Dilakukan pada 3 batch yang berurutan.
c. Retrospective Validation
 Merupakan validasi yang dilakukan terhadap produk-produk yang sudah
lama diproduksi namun belum divalidasi

8 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


 Validasi dilakukan dengan cara penelusuran data produksi yang sedang
berjalan dengan menggunakan data dari batch record.
 Data yang digunakan untuk validasi proses produksi: 10-30 batch.
 Data yang dikumpulkan merupakan hasil pengujian terhadap parameter
kritis pada setiap tahap proses produksi.
(Bambang, 2007)

2.1 Perubahan Proses, Kondisi Ruangan, Mesin dan Alat


Perubahan yang berarti dalam proses, peralatan atau ahan hendaklah
disertai dengan tindakan validasi ulang untuk menjamin bahwa perubahan
tersebut akan tetap menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu
(BPOM, 2012).
Hendaklah secara rutin dilakukan validasi dan/atau peninjauan ulang
secara kritis terhadap proses dan prosedur produksi untuk memastikan bahwa
proses dan prosedur tersebut tetap mampu memberikan hasil yang diinginkan
(BPOM, 2012).

2.2 Spesifikasi Bahan Awal


Spesifikasi bahan awal hendaklah mencakup, dimana diperlukan:
1. Deskripsi bahan, termasuk:
 Nama yang ditentukan dan kode referen (kode produk) internal;
 Rujukan monografi farmakope, bila ada;
 Pemasok yang disetujui dan, bila mungkin, produsen bahan;
 Standar mikrobiologis, bila ada.
2. Petunjuk pengambilan sampel dan pengujian atau prosedur rujukan;
3. Persyaratan kualitatif dan kuantitatif dengan batas penerimaan;
4. Kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan;
5. Batas waktu penyimpanan sebelumm dilakukan pengujian kembali.
(BPOM, 2012)

9 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


2.3 Temperatur Sterilisasi
Proses sterilisasi bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan
patogen. Sterilisasi harus dilakukan pada kisaran suhu sterilisasi yaitu 121oC pada
waktu tertentu, dimana panas yang diberikan cukup untuk menghancurkan bakteri
patogen (Kiziltas et al, 2010).

3. Pencegahan Pencemaran
Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain harus
dihindarkan. Risiko pencemaran silang dapat timbul akibat tidak terkendalinya
debu, gas, uap,peracikan atau organisme dari bahan atau produk yang sedang
diproses, dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. Tingkat
risiko pencemaran ini tergantung dari jenis pencemar dan produk yang tercemar
diantara pencemar yang paling berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan
sensitisasi kuat, preparat biologis yang mengandung mikroba hidup, hormon
tertentu, bahan sitotoksik, dan bahan lain berpotensi tinggi. Produk yang paling
terpengaruh oleh pencemara adalah sediaan parenteral, sediaan yang diberikan
dalam dosis besar dan/atau sediaan yang diberikan dalam jangka waktu yang
panjang (BPOM, 2012).
Tiap tahap proses, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap
pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Pencemaran silang hendaklah
dihindari dengan tindakan teknis atau pengaturan yang tepat, misalnya:
a. Produksi di dalam geddung terpisah (diperlukan untuk produk seperti
penisilin, hormon seks, sitotoksik tertentu, vaksin hidup dan sediaan yang
mengandung bakteri hidup dan produk biologi lain serta produk darah);
b. Tersedia ruang penyangga udara dan penghisap udara;
c. Memperkecil risiko pencemaran yang disebabkan oleh udara yang disirkulasi
ulang atau masuknya udara yang tidak diolah atau udara yang diolah secara
tidak memadai;
d. Memakai pakaian pelindung yang sesuai diarea dimana produk yang berisiko
tinggi terhadap pencemaran silang diproses;

10 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


e. Melaksanakan prosedur pembersihan dan dekontaminasi yang terbukti
efektif, karena pembersihan alat yang tidak efektif umumnya merupakan
sumber pencemaran silang;
f. Menggunakan sistem self-contained;
g. Pengujian residu dan menggunakan label status kebersihan pada alat.
(BPOM, 2012)
Tindakan pencegahan terhadap pencemaran silang dan efektifitasnya
hendaklah diperiksa secara berkala sesuai prosedur yang ditetapkan, seperti:
a. Pemeriksaan rutin pada filter udara apakah masih baik, bocor atau sudah
harus diganti;
b. Pemeriksaan perbedaan tekanan udara antar-ruang, terutama ruang
penyangga; dan
c. Pemeriksaan lingkungan terhadap kemungkinan pencemaran.
(BPOM, 2012)
Pencegahan terhadap penyebaran debu akibat pengolahan bahan atau
produk kering dapat dilakukan dengan alat atau sistem penghisap debu selama
proses pengolahan. Alat atau sistem peghisap debu tersebut hendaklah dilengkapi
dengan filter yang memadai sesuai dengan kelas kebersihan lingkungan dan
produknya (BPOM, 2012).

4. Penomoran Bets/lot
Bets didefinisikan sebagai kuantitas bahan awal, bahan pengemas, atau
produk yang diproses dalam suatu proses tunggal atau serangkaian proses
sehingga diharapkan memiliki sifat atau karakteristik yang homogen. Terkadang
diperlukan adanya pembagian bets menjadi beberapa sub-bets, yang nantinya akan
disatukan atau digabungkan menjadi suatu produk bets akhir yang homogen.
Secara umum, bets lebih sering mengacu pada produk antara atau produk ruah
yang berada dalam satu atau beberapa kontainer besar, sedangkan lot biasanya
mengarah pada produk akhir dalam wadah atau kontainer akhir (WHO, 2011)
Nomor bets merupakan seri nomor spesifik dan unik yang dicetak pada
label obat yang memungkinkan untuk digunakan sebagai pelacakan produksi

11 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


suatu bets, termasuk identifikasi, masalah pengendalian dan manufaktur yang
relevan. Untuk menunjang sistem pengolahan maka diperlukan suatu pencatatan
yang rinci dan jelas. Nomor bets sebagai identitas bets produk harus segera dicatat
dalam logbook manual atau bisa dalam bentuk sistem data elektronik. Pencatatan
ini meliputi waktu alokasi, identitas produk, dan ukuran bets (Patel and Chotai,
2011).
Dalam pengelolaannya, setiap bets/lot memerlukan suatu sistem
penomoran yang jelas dan rinci untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk
antara, produk ruah atau produk jadi dapat diidentifikasi. Sistem penomoran bets/
lot ini hendaklah saling berkaitan pada tahap pengolahan atau produksi dan tahap
pengemasan, dan menjamin bahwa tidak ada keterulangan nomor bets/ lot. Dalam
jangka waktu 10 tahun, tidaklah diperkenankan penggunaan nomor bets/ lot yang
sama pada produk yang sama. Pada bets yang diolah ulang hendaknya diberikan
kode tambahan pada nomor betsnya, sebagai contoh dapat dilakukan penambahan
huruf P (pengolahan ulang) (BPOM RI, 2012., BPOM RI, 2013).
Dalam POPP CPOB dijelaskan contoh penomor bets terdiri atas enam
digit dan nomor lot terdiri dari tujuh digit. Digit pertama menunjukkan tahun
produksi yang diberi kode sebagai berikut:0 berarti tahun 2000 atau 2010, 1
berarti 2001 atau 2011. Digit kedua dan ketiga menunjukkan kode produk. Digit
keempat, kelima dan keenam menunjukkan menunjukkan urutan produksi dalam
tahun yang sama, dari 001 sampai dengan 999. Pada penomoran lot, digit ketujuh
menunjukkan urutan lot dalam suatu bets. Sebagai contoh suatu bets memiliki
nomor 003142 A yang artinya bets tersebut adalah kapsul yang diproduksi pada
tahun 2000 atau 2010, merupakan bets ke -142 pada tahun tersebut, dan
merupakan lot pertama dari nomor bets tersebut. Untuk produk yang diolah ulang
dan dipulihkan, perlu ditambahkan huruf R di depan nomor bets terkait yang
menunjukkan bahwa produk sediaan tersebut telah mengalami pengolahan ulang
atau pemiluhan (BPOM RI, 2013).
Pencatatan atau dokumentasi terkait proses produksi dilakukan dalam
format batch record, dimana batch record merupakan dokumen yang digunakan
sebagai pencatatan penelusuran proses produksi. Dalam batch record tersedia

12 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


instruksi tahap demi tahap yang berkaitan dengan aktivitas produksi. Batch record
juga memuat hasil pengujian in process control, pernyataan pelulusan, serta
penyimpangan bila terjadi penyimpangan. Sebelum dilakukan pelulusan bets dan
didistribusikan haruslah dilakukan review atau peninjauan kembali batch record.
Pencatatan batch record secara elektronik haruslah dilengkapi dengan data back-
up ke dalam mikrofil, magnetic tape, kertas atau media lain sebagai upaya
preventif perlindungan data (Patel and Chotai, 2011).

5. Penimbangan dan Penyerahan


Pengendalian terhadap pengeluaran bahan dan produk untuk keperluan
produksi dari gudang, area penyerahan atau antar bagian produksi merupakan
suatu hal yang sangat penting. Pada setiap kegiatan penimbangan atau
perhitungan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan
produk ruahan merupakan bagian dari siklus produksi yang memerlukan
dokumentasi dan rekonsiliasi yang lengkap. Diperlukan suatu prosedur tertulis
yang mencakup cara penanganan, penimbangan, perhitungan dan penyerahan
bahan, dan hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dna produk ruahan
yang telah dinyatakan lulus oleh Pengawasan mutu dan bahna yang belum
daluwarsa yang dapat diserahkan, dalam seluruh proses penyerahan dan
pengeluaran bahan haruslah terdokumentasi dengan baik, dikumentasi dapat
dilakukan secara manual atau elektronik melalui sistem komputerasi yang
tervalidasi (BPOM RI, 2012).
Dalam upaya menghindari ketercampuran, kontaminasi silag, hilangnya
identitas dan keraguan, maka hanya bahan awal produk antara dan produk ruahan
yang termasuk dalam satu bets saja yang boleh ditempatkan dalam area
penyerahan. Sebelum dilakukan penimbangan dan penyerahan, setiap wadah
bahan awal haruslah diperiksa penandaannya termasuk label pelulusan oleh
bagian Pengawasan mutu selanjutnya setelah dilakukan penimbangan, penyerahan
dan penandaan bahan-bahan yang dikeluarkan hendaknya diangkut dan disimpan
dengan cara yang sesuai dan benar sehingga bahan tetap utuh sampai pada proses
pengolahan berikutnya, (BPOM RI, 2012).

13 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbang dan alat ukur merupakan
suatu hal yang harus diperhatikan terkait dengan kesesuaian dengan jumlah bahan
yang ditimbang atau ditakar. Pada setiap penimbangan atau pengukuran
hendaklah diakukan pembuktian kebenaran identitas dan jumlah bahan yang
ditimbang yang dilakukan oleh dua orang personil yang independen dan hasil
yang diperoleh haruslah didokumentasi atau dicatat. Kegiatan penimbangan dan
penyerahan dilakukan dengan peralatan yang sesuai dan bersih serta dilakukan di
ruang timbang dan ruang penyerahan yang dijaga kebersihannya, untuk bahan
awal steril yang digunakan untuk produksi produk steril ditmbang dan diserahkan
di area steril (BPOM RI, 2012).
Sebelum dilakukan penyerahan bahan dan dikirim ke area produksi,
haruslah dilakukan pemeriksaan ulang yang kemudian ditandatangani oleh
supervisor produksi. Setelah proses penimbangan dan penghitungan, bahan untuk
setiap bets kemudian disimpan dalam satu kelompok dan dilakukan penandaan
yang jelas.
Pada era saat ini, hampir semua industri farmasi mengembangkan sistem
pusat dispensing atau penyerahan bahan, dimana dispensing center sebagai unit
tunggal yang akan menyediakan semua bahan kimia awal untuk setiap bets
produksi di lingkungan ruang bersih. Tugas utama dari unit dispensing ini adalah
memperoleh atau menerima bahan awal dari pemasok atau dari warehouse atau
gudang, menimbang bahan dan menyerahkan bahan ke bagian produksi. Fungsi
dari dispensing center dapat diilustrasikan dalam Gambar 1., dimana dalam bagan
tersebut dimulai dari adanya penerimaan bahan baku dari gudang bahan baku
yang kemudian dibagi menjadi dua bundel berbeda, contohnya bulk dan loose
packs. Bulk packs yag belum terbuka ditimbang dan disortir di daerah kontrol,
sedangkan loose packs akan dipindahkan menuju area klasifikasi yang kemudian
dilakukan dispensing. Setelah bahan baku selesai ditimbang, hasil penimbangan
secara hati-hati diberi label, dipindahkan, dan disortir dengan bulk packs yang
sesuai dan diletakkan pada pallet di ruang tunggu. Dalam pelaksanaan alur ini
perlu dilakukan analisis resiko yang dapat terkait dengan resiko mutu potensial
(Chimeta et al, 2013).

14 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 5.1 Bagan fungsional dispensing center (Chimeta et al, 2013).

15 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Tugas dan aktivitas utama pada dispensing center divisualisasikan dari
IDEF0 yang digambarkan pada gambar 2. Dengan adanya IDEF0 akan
meningkatkan pemahaman personil untuk menjalankan tugas dan fungsinya,
selain itu terangkum pula faktor yang dapat mempengaruhi fungs kinerja
dispensing center, dan dapat memudahkan dalam penelusuran kesalahan terkait
dengan fungsinya (Chimeta et al, 2013).

Gambar 5.2 IDEF0 dispensing center (Chitema et al., 2013).


Kesalahan dalam proses dapat disebabkan oleh peralat dan kesalahan
dalam proses, identifikasi terhadap kemungkinan kesalahan dapat dilakukan
dengan berdasar pada metode FMECA (Failure Modes Effect and Criticality
Analisis) yang mencakup identifikasi model kesalahan, dampak dan cara
mengatasi kesalahan, dapat dilihat pada Tabel.2 dan Tabel.3. Sebagai contoh,
dalam proses penimbangan bahan terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan
dalam pembacaan yang mungkin disebabkan oleh kesalahan skala pembacaan
yang tidak berada ada posisi yang benar dan eror pada load cell yang
menyebabkan jumlah bahan yang ditimbang tidak sesuai atau salah. Upaya yang
dapat dilakukan untuk meminimalisir kesalahan ini adalah dengan melakukan
pengecekan harian dan pengecekan mandiri alat timbang sebelum akan
digunakan, serta melakukan kalibrasi rutin setiap tiga bulan. Pada proses

16 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


penimbangan dan penyerahan bahan baku faktor ligkungan juga dapat
mempengaruhi kualitas produk termasuk kemunginan kontaminasi, salah satu
yang penting adalah pengatran HVAC sebagai pengontrolan kelembaban, suhu
dan tekanan udara, kelembaban yang terlalu tinggi akan berpengarh pada stabilitas
bahan baku begitu pula dengan suhu lingkungan, tekanan yang tidak terkontrol
dapat berpengaruh pada kebersihan lingkungan yang berkaitan dengan
kemungkinan terjadinya kontaminasi pada bahan (Chimetha et al, 2013).
Tabel 5.1 Analisis FMECA Peralatan

Tabel 5.2 Analisis FMECA Operasional/ Proses

17 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


6. Pengembalian
Seluruh bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan
yang dikembalikan ke gudang penyimpanan haruslah didokumentasi dengan benar
dan direkonsiliasi. Terhadap bahan yang dikembalikan haruslah diberikan
penandaan, pemeriksaan jumlah, dan disetujui oleh petugas yang berwenang, pada
bahan pengemas yang telah diberi penandaan atau kode hendaklah dimusnahkan
dan pada bahan awal yang telah dikeluarkan dari wadah asli dan dipindahkan ke
dalam wadah lain haruslah diberi label identitas dan status yang jelas.
Pengembalian ke gudang penyimpanan hanya dilakukan terhadap bahan awal,
bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang memenuhi spesifikasi
yang ditetapkan, sisa penimbangan tidak boleh dicampurkan dengan bahan baku
yang masih utuh (BPOM RI, 2012., BPOM RI, 2013).
Pengembalian bahan baku akan berkaitan dengan alur material atau bahan
baku di warehouse. Pada industri farmasi, alur material dari warehouse dapat
dilakukan dengan berdasar sistem yaitu Warehouse Management System (WMS)
yang salah satunya berkembang dengan berbasis pada sofeware SAP (Systems
Applications and Products), dengan adanya sistem ini memungkinkan
pengembagian bahan berlebih dari bagian produksi ke warehouse. Dengan adanya
WMS akan dapat menjaga keakuratan inventory yang didasarkan pada pencatatan
transaksi pada warehouse (Atieh et al, 2015., Subramanya et al., 2012). Dengan
adanya pencatatan ini akan membantu dalam peningkatan fungsi warehouse dan
memunculkan suatu transparansi kegiatan pergudangan (Saxena, 2017).
Kelebihan penggunaan SAP WMS diantaranya adanya sistem pengelolaan yang
baik, membantu dalam pengaturan waktu dan jumlah rencana pemasokan
material. Kelemahan dari sistem ini dapat terkait dengan beberapa aspek
diantaranya sistem, peralatan, pencatatan, dan personil, dimana diperlukan
personil dengan kompetesi yang memadai, secara rinci tergambar pada Gambar. 3
yang merupakan fish bone diagram SAP WMS (Saxena, 2017).

18 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 6.1 Kelemahan SAP WMS (Saxena, 2017).

7. Produksi Kondisi Khusus


Produksi harus dilakukan secara pada produk-produk dengan resiko tinggi
yang membutuhkan penanganan khusus dan terpisah dari proses produksi umum,
hal ini terkait dengan mutu dan potensi keberbahayaan atau resiko produk. Produk
yang memerlukan penanganan khusus diantaranya antibiotik beta laktam penisilin
dan sefalosporin, sediaan steril, hormon seks, obat-obat sitostatika, vaksin, live
bacterial preparation dan produk biologis lain, Area produksi untuk setiap produk
haruslah terpisah (BPOM RI, 2012).

19 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 7.1 Susunan blok pabrik produksi (BPOM RI, 2013)

7.1 Beta laktam- Penisilin


Pada proses produksi penisilin diperlukan kondisi yang mencegah
terjadinya paparan produk ke lingkungan, meliputi proses produksi dan
pengemasan haruslah terpisah dari produk obat lain. Produk beta-laktam penisilin
tidak boleh mengalami kontaminasi silang dengan produk non-beta laktam dan
produk beta-laktam non-penisilin. Penisilin diketahui dapat menimbulkan alergi
yang berbahaya, seseorang yang memiliki riwayat alergi terhadap penisilin dapat
memiliki reaksi alergi pula terhadap non-penisilin. Berdasarkan rekomendasi
FDA, perlu dilakukan pemisahan produksi secara menyeluruh, termasuk dalam
sistem tata udara dan HVAC (WHO, 2013).

7.2 Beta Laktam Non-Penisilin


Produk betalaktam non-penisilin meliputi sefalosporin, monobaktam,
penem dan karbapenem, prinsip produksi bets produk secara kampanye dapat
dilakukan dalam fasilitas yang sama dengan syarat telah memiliki tindakan
pencegahan yang spesifik berupa:
a. Melakukan pengkajian resiko yang komprehensif dan sudah disetujui oleh
BPOM,

20 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


b. Mengikuti prinsip sistem tata udara untuk bahan berbahaya, tekanan ruang
produksi bernilai lebih negatif dari pada lingkungan
c. Melakukan pengujian terhadap kontaminan setiap bets produk setelah
campaign dengan metode pengujian yang tervalidasi
d. Melakukan validasi semua prosedur pembersihan terkait dengan fasilitas yang
digunakan
e. Melakukan tindakan lain yang relevan.
Dalam pelaksanaannya, bila persyaratan tersebut tidak dapat terpenuhi
maka produk beta laktam non-penisilin haruslah diproduksi dalam bangunan yang
terpisah (BPOM RI, 2012).

7.3 Produk Steril


Produk steril diproduksi dengan persyaratan khusus dengan tujuan
emperkecil resiko pencemaran mikroba, partikulat dan pirogen, dan berkaitan erat
dengan keterampilan, pelatihan dan sikap personil. Metode pembuatan dan
prosedur yang ditetapkan haruslah seksama dan tervalidasi. Pembuatan produk
steril dilakukan di area bersih, dan ketika memasuki area ini hendaklah melalui
ruang penyangga udara untuk personil dan atau peralatan dan bahan. Area
pembuatan produk steril terbagi menjadi kelas A,B, C, dan D, dalam tiap kelas
terdapat standar kegiatan yang dapat dilakukan. Untuk produk sterilisasi akhir,
pengisian produk bila terdapat resiko di luar kebiasaan dilakukan pada kelas A,
pembuatan larutan dan pengisian produk dilakukan di kelas C, peyiapan
komponen untuk proses selanjutnya dilakukan di kelas D. Pada produk yang
dibuat secara aseptis, kelas A digunakan untuk pembuatan dan pengisian secara
aseptis, kelas C untuk pemuatan larutan yang akan disaring, dan kelas D untuk
penanganan komponen setelah pencucian (BPOM RI, 2012).
Pada masing-masing kelas terdapat ketentuan terkait dengan toleransi
jumlah partikel dan mikroba, terangkum dalam Tabel 3. Dan Tabel 4.

21 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 7.2 Jumlah Maksimum Partikel yang diperbolehkan Pada Tiap Kelas
Produksi (BPOM RI, 2012).

Gambar 7.3 Batas Mikroba Area Bersih Selama Kegiatan Produksi


(BPOM RI, 2012).

7.4 Hormon dan Obat Sitostatik


Desain dan operasional fasilitas hormon dilakukan untuk memastikan
kualitas produk, melindungi operator dari bahaya produk hormon, dan melindungi
lingkungan dan masyarakat dari kontaminasi efek berbahaya hormon. Area

22 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


produksi hormon haruslah terpisah dari fasilitas non-hormon lain, area produksi
hormon dapat berada dalam satu gedung dengan syarat ada pemisah berupa sekat
atau tembok dan jalur masuk yang berbeda, fasilitas staff, dan sistem tata udara
yang berbeda. Pengaturan udara, suhu dan kelembaban diperlukan untuk
mencegah kontaminasi dan terjadinya kontaminasi silang, pengaturan tekanan
udara dibuat sedemikian rupa hingga bernilai lebih negatif dibandingkan dengan
lingkungan sekitar, ruangan dilengkapi dengan HEPA filter (High Efficiency
Particulate Air), laminar air flow yang digunakan memiliki aliran udara vertikal
untuk menghindari paparan terhadap personil yang bertugas (WHO, 2008).

7.5 Produk Biologis


Bahan yag digunakan dalam produksi haruslah sudah terverifikasi, jika
verifikasi belum selesai namun akan segera digunakan maka dibutuhkan
kemampuan penelusuran secara menyeluruh. Produk akhir hendaklah disimpan
dengan status karantina dan tidak boleh dikeluarkan sampai seluruh hasil
pengujian ditetapkan dan memenuhi spesifikasi. Bahan yang digunakan hendaklah
berada pada kondisi steril, dapat dilakukan sterilisasi menggunakan otoklaf suhu
121℃ untuk ahan tahan panas, untuk bahna yang tidak tahan panas dapat
disterilisasi melalui filter 0,2 mikron. Penyimpanan stok media hendaknya
memiliki masa daluwarsa yang didasarkan pada data stabilitas sifat kemampuan
memacu pertumbuhan, diperlukan perhatian khusus pada proses pemindahan
bahan awal atau kultur ke dan dari fermentor, untuk mencegah kontaminasi proses
pemindahan ini hendaknya dilakukan di bawah udara laminar (BPOM RI, 2014).

8. Penyimpanan Produk Antara


Baik bahan awal, produk antara, maupun produk ruahan harus disimpan
sesuai dengan spesifikasi dan kondisi yang dibutuhkan oleh zat aktif. Kualitas
material maupun produk yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kesesuaian
kondisi penyimpanannya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas
material maupun produk selama penyimpanan diantaranya yaitu:
a. Sanitasi

23 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


b. Suhu
c. Pencahayaan
d. Kelembaban
e. Ventilasi
f. Segregasi
(Shafaat et al, 2013)

Suhu dan kelembaban relatif yang tinggi merupakan faktor yang paling
berperan dalam degradasi suatu obat. Pada umumnya suhu, kelembaban, kualitas
udara, waktu dan karakteristik proses produksi secara signifikan dapat
mempengaruhi kualitas produk jadi. Selama penyimpanan material maupun
produk jadi harus dipastikan terlindung dari kontaminasi, cahaya matahari
langsung, sinar UV, kelembaban, dan suhu yang ekstrim. Hal tersebut dapat
dilakukan misalnya dengan menyimpan material maupun produk jadi dalam suatu
wadah tertutup, suhu dan kelembaban ruang penyimpanan diatur sedemikian rupa
untuk memastikan bahwa material atau produk yang disimpan kualitasnya tetap
terjaga (Shafaat et al,2013).
Kondisi penyimpanan untuk material dan produk farmasetikal hendaknya
sesuai dengan instruksi yang tertera pada label atau kemasan material maupun
produk. Selain itu untuk suhu penyimpanan material dapat disesuaikan dengan
MSDS (Material Safety Data Sheet). Jika terjadi kondisi diluar kondisi
penyimpanan yang seharusnya maka perlu dilakukan penelusuran dan pemastian
bahwa material atau produk yang disimpan tersebut masih memenuhi syarat
kualitas yang ditentukan, misalnya dilihat dari data stabilitasnya. Uji stabilitas
dapat menggambarkan pengaruh dari faktor lingkungan terhadap material ataupun
produk farmasetikal selama penyimpanan (WHO, 2002; Shultz et al, 2007).
Bahan atau produk yang terdegradasi atau rusak karena pengaruh suhu
dapat menyebabkan beberapa efek potensial diantaranya yaitu ketidakefektifan
obat, toksisitas, bioavailabilitasnya berubah, hilangnya keseragaman kandungan
obat, menurunkan nilai jual produk dan ‘patient acceptability’, hilangnya

24 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


kekedapan kemasan, menurunnya kualitas label, dan efek merugikan lainnya
(Canada Health Ass, 2011).
Pembagian Kondisi Penyimpanan, terdapat beberapa jenis kondisi
penyimpanan yang dibedakan berdasarkan suhu menurut USP (2012) diantaranya:
a. Freezer (Beku)
Ruang penyimpanan dengan suhu dipertahankan antara -25˚C sampai
dengan -15 ˚C. Semua vaksin yang mengandung varicella harus disimpan dalam
keadaan beku sampai vaksin akan digunakan.
b. Cold (Dingin)
Kondisi penyimpanan dengan suhu tidak lebih dari 8˚C. Refrigerator
merupakan tempat penyimpanan dengan suhu dingin yang mempertahankan suhu
penyimpanan diantara 2-8 ˚C.
c. Cool (Sejuk)
Ruang penyimpanan dimana suhunya dipertahankan antara 8-15˚C.
d. Room Temperature (Suhu ruang)
Suhu ruang ini merupakan kondisi penyimpanan yang paling longgar
dimana suhunya disesuaikan dengan kondisi geografis industri. Untuk industri di
Indonesia sendiri seperti yang disebutkan di PPOP CPOB 2012 suhu ruang yaitu
tidak boleh lebh dari 30 ˚C.
e. Controlled Room Temperature (Suhu Ruang Terkendali)
Ruang penyimpanan dengan suhu dipertahankan antara 20-25 ˚C,
diperbolehkan terjadi penyimpangan atau lonjakan suhu diantara 15-30 ˚C selama
hasil perhitunga MKT masih dalam rentang yang diperbolehkan. Kondisi
penyimpanan hendaknya disesuaikan dengan sifat material maupun produk yang
disimpan. Adapun material yang disimpan di warehouse industri farmasi
diantaranya yaitu raw material (bahan baku) yang terdiri dari zat aktif dan zat
tambahan, packaging material (bahan pengemas), bulk (produk ruahan), dan
finished goods (produk jadi).
(USP, 2012)

25 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


9. Pengemasan
Kualitas kemasan produk farmasi memainkan peran sangat penting dalam
kualitas produk tersebut. Oleh karena itu, kemasan harus memenuhi syarat sebagai
berikut:
a. Melindungi terhadap semua kondisi eksternal yang merugikan dan
mempengaruhi atau mengubah properti produk, misalnya kelembaban,
cahaya, oksigen dan variasi temperature;
b. Melindungi terhadap kontaminasi biologis;
c. Melindungi terhadap kerusakan fisik;
d. Memberikan informasi dan identitas produk yang benar
(WHO, 2002)
Jenis pengemasan dan bahan yang digunakan harus dipilih sedemikian
rupa agar:
a. Kemasan itu sendiri tidak memiliki efek buruk pada saluran cerna (misal
melalui reaksi kimia, pencucian material pengemasan atau absorpsi produk
terhadap bahan kemasan);
b. Produk tidak memiliki efek buruk pada kemasannya, mengubah propertinya
atau mempengaruhi fungsi pelindungnya.
(WHO, 2002)
Wadah untuk penggunaan farmasi adalah wadah yang berisi sediaan
farmasi atau dimaksudkan untuk menahan dan melindungi obat dan atau mungkin
bersentuhan langsung dengan itu. Penutup adalah bagian dari wadah. Wadah dan
penutupnya tidak boleh berinteraksi secara fisik atau kimia dengan zat di
dalamnya dengan cara apa pun yang akan mengubah kualitasnya. Istilah-istilah
berikut termasuk persyaratan umum untuk permeabilitas kontainer:
a. Wadah yang tertutup dengan baik
Kategori ini berarti wadah harus dapat melindungi materi dari luar atau
dari kehilangan kandungannya dalam kondisi normal, dalam kondisi penanganan,
pengiriman atau penyimpanan.
b. Wadah yang tertutup rapat

26 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Kategori ini berarti wadah harus melindungi isi dari materi asing, dari
kehilangan kandungan, dan dari pengkristalan, atau evaporasi di bawah kondisi
normal penanganan, pengiriman atau penyimpanan. Jika wadah tersebut
dimaksudkan untuk dibuka pada beberapa kesempatan, maka harus dirancang agar
kedap udara setelah dibuka kembali.
c. Wadah kedap udara
Kategori ini berarti harus melindungi isi dari kontaminasi materi dari luar
dan dari kehilangan substansi, dan wadah ini tahan udara atau gas lainnya di
bawah kondisi normal penanganan, pengiriman atau penyimpanan
(WHO, 2002)
Zat dan bentuk sediaan yang membutuhkan perlindungan dari cahaya
harus disimpan dalam wadah tahan cahaya yang baik karena sifat material
komposisinya, atau karena perlakuan khusus telah diterapkan pada zat tersebut.
Wadah harus melindungi isi dari efek cahaya. Sebagai alternatif, wadahnya
mungkin ditempatkan di dalam penutup yang tahan sinar (buram) yang sesuai dan
/atau disimpan di tempat gelap (WHO, 2002).
Tabel 9.1. Tabel Bahan-bahan yang umum digunakan dalam pengemasan

No Nama material Fungsi

1 Kertas keras Dus/kotak


2 Kertas Label
Leaflet
3 Kaca Ampul
Botol
Vial
Syringe
4 Plastik Botol
Tube
Tutup kemasan
5 Logam atau alumunium Tube khusus
Kaleng rigid

27 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Jarum
Silinder Gas
Kontainer bertekanan
6 Karet Penutup kemasan

9.1. Proses Pengemasan


Pada proses pengemasan produk ruahan yang akan dikemas terlebih
dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap identitas, pemastian kesiapan jalur kemas
dan tersedianya bahan kemas yang sesuai dengan jumlah yang mencukupi. Pada
proses pengemasan produk yang memiliki penampilan mirip tidak dilakukan
secara berdampingan. Proses pengemasan produk yang memiliki penampilan
mirip dilakukan pada ruang terpisah. Untuk produk yang sensitif terhadap
kelembaban proses pengemasan dilakukan pada ruangan dengan kelembaban
relatif dan suhu yang terkontrol. Setelah proses pengemasan selesai dilakukan
rekonsiliasi dan dicatat setiap kelebihan bahan kemas. Produk jadi yang sudah
dikemas sampai dengan pengemasan sekunder atau tersier diberikan status
karantina terlebih dahulu dan dilakukan penelusuran catatan bets oleh unit quality.
Apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi maka ditetapkan status produk release
dan siap untuk dipasarkan (Gouveia et al., 2015).

9.2. Manajemen Resiko Mutu terhadap Bahan Kemasan


Manajemen Risiko Mutu dapat diterapkan untuk semua aspek kualitas
farmasi termasuk proses pengembangan, manufaktur, distribusi dan inspeksi dan
penyerahan / peninjauan ulang seluruh zat, produk obat, biologi dan bioteknologi
produk termasuk pengembangan, pembuatan, distribusi dan inspeksi dan
penyerahan / peninjauan seluruh siklus hidup zat, produk obat, biologi dan produk
bioteknologi, termasuk penggunaan bahan awal, pelarut, eksipien, bahan
pengemasan dan pelabelan, yang memungkinkan untuk lebih banyak keputusan
berbasis risiko yang efektif dan konsisten, baik oleh regulator atau Industri. Ini
tidak dimaksudkan untuk menciptakan harapan baru di luar persyaratan saat ini.
Manajemen resiko diuraikan dalam pedoman-pedoman manufaktur. Tujuan dari

28 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


pedoman ini adalah untuk menyediakan pendekatan sistematis manajemen risiko
kualitas dan berfungsi sebagai basis atau sumber daya, independen, mendukung
dokumen lain dan melengkapi praktik kualitas yang ada. Bahan kemasan memiliki
resiko yang sangat tinggi terhadap mutu produk, oleh karena itu sampling
kemasan dan pemeriksaan kemasana haruslah diperhatikan (Gouveia et al., 2015).

9.3. Label
Semua produk obat jadi harus diidentifikasi dengan label, sebagaimana
diwajibkan oleh undang-undang, dengan setidaknya memuat informasi berikut:
a. nama produk obat;
b. daftar bahan aktif (jika berlaku, dengan Internasional Nonproprietary Names
(INN)), dan pernyataan isi bersih, misal jumlah unit dosis, massa atau
volume;
c. nomor batch yang diberikan oleh produsen;
d. tanggal kedaluwarsa dalam bentuk yang tidak dikodekan;
e. kondisi penyimpanan khusus atau penanganan tindakan pencegahan yang
mungkin diperlukan;
f. petunjuk untuk digunakan, dan peringatan dan tindakan pencegahan apa pun
yang mungkin perlu dilakukan;
g. nama dan alamat pabrik atau perusahaan atau orang yang bertanggung jawab
untuk menempatkan produk di pasar.
(WHO, 2002)

10. Produk Pulihan


Pemulihan adalah Penambahan seluruh atau sebagian produk dari satu bets
sebelumna yang memenuhi kualitas yang di tetapkan ke bets berikut pada suatu
langkah tertentu dari suatu proses produksi.
Produk pulihan jenis padat atau semipadat harus disimpan di dalam wadah
yang inert (kantung plastik, polyethilene atau polypropilene) yang bersih rangkap
dua dan tertutup kedap sebelum dimasukkan ke dalam wadah lain yang lebih kuat
dan ditutup rapat. Bila merupakan tablet / kapsul dalam kemasan primer, maka

29 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


dapat tetap disimpan di dalam kemasan primernya. Suhu penyimpanan harus
sesuai dengan suhu yang ditetapkan untuk produk bersangkutan. Untuk produk
pulihan jenis cairan harus digunakan tangki 316L dan tertutup kedap. Suhu
penyimpanan harus sesuai dengan suhu yang ditetapkan untuk produk
bersangkutan (BPOM, 2012).

Aturan penyimpanann produk pulihan yaitu:


a. Masukkan kantong-kantong silica gel @ 100 g sesuai dengan jumlah bahan /
produk yang hendak dilindungi (1 silica gel @ 100 g untuk tiap 5 kg).
b. Beri penandaan yang meliputi nama produk, nomor bets, jumlah /berat
produk, tanggal produksi dan tanggal maksimum proses selanjutnya
(penambahan ke bets yang lain).
Produk pulihan harus diproses lebih lanjut dalam waktu yang sudah
ditetapkan sebagai berikut (berdasarkan hasil validasi):
a. Pulihan padat : tidak lebih dari 12 minggu.
b. Pulihan cair : tidak lebih dari 1 minggu.
c. Pulihan semisolid: tidak lebih dari 1 minggu
d. Produk pulihan dapat ditambahkan ke produk selanjutnya maksimal 10%
(BPOM, 2012)

11. Produk Kembalian


Produk yang dikembalikan dari peredaran dan telah lepas dari pengawasan
industri pembuat hendaklah dimusnahkan. Produk tersebut dapat dijual lagi,
diberi label kembali atau dipulihkan ke bets berikut hanya bila tanpa keraguan
mutunya masih memuaskan setelah dilakukan evaluasi secara kritis oleh kepala
bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) sesuai prosedur tertulis. Evaluasi
tersebut meliputi pertimbangan sifat produk, kondisi penyimpanan khusus yang
diperlukan, kondisi dan riwayat produk serta lama produk dalam peredaran.
Bilamana ada keraguan terhadap mutu, produk tidak boleh dipertimbangkan
untuk didistribusikan atau dipakai lagi, walaupun pemrosesan ulang secara kimia

30 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


untuk memperoleh kembali bahan aktif dimungkinkan. Tiap tindakan yang
diambil hendaklah dicatat dengan baik (BPOM. 2012a).
Menurut BPOM (2012a) Industri hendaklah menyiapkan prosedur untuk
penahanan, penyelidikan dan pengujian produk kembalian serta pengambilan
keputusan apakah produk kembalian dapat diproses ulang atau harus dimusnahkan
setelah dilakukan evaluasi secara kritis. Berdasarkan hasil evaluasi, produk
kembalian dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Produk kembalian yang masih memenuhi spesifikasi dan karena itu dapat
dikembalikan ke dalam persediaan;
b. Produk kembalian yang dapat diproses ulang; dan
c. Produk kembalian yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak dapat diproses
ulang.
Menurut BPOM (2012a) prosedur hendaklah mencakup:
a. Identifikasi dan catatan mutu produk kembalian;
b. Penyimpanan produk kembalian dalam karantina;
c. Penyelidikan, pengujian dan analisis produk kembalian oleh bagian
pengawasan mutu;
d. Evaluasi yang kritis sebelum manajemen mengambil keputusan apakah
produk dapat diproses ulang atau tidak; dan
e. Pengujian tambahan terhadap persyaratan dari produk hasil pengolahan ulang.
Meurut Rajawali Nusindo (2014) prosedur pengembalian produk
meliputi :
1. Penerimaan kembali atas persetujuan manager logistic
2. Alasan penegembalian
a. Obat rusak
1) Kerusakan yang berkaitan degan kualitas
2) Kerusakan kemasan primer
3) Kerusakan kemasan sekunder
b. Obat kadaluarsa
3. Alasan obat kembalian yang tidak dapat diterima gudang
a. Rusak karena kesalahan penyimpanan di gudang pelanggan

31 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


b. Keluhan yang disampaikan lebih dari 1 minggu setelah produk diterima
pelanggan
c. Obat yang sampai digudang diluar waktu yang telah ditetapkan gudang
4. Penerimaan, pemeriksaan dan pencacatan produk kembalian
5. Kategorisasi dan analisis setiap produk kembalian
6. Obat yang rusak diatur sedemikian rupa agar tidak mencemari produk
disekitarnya
7. Penyimpanan produk kembalian di ruang karantina atau tempat yang terpisah
8. Pembuatan dokumen penerimaan oleh pihak gudang
9. Pengembalian produk ke stok penjualan apabila :
a. Wadah tersegel dalam wadah asli dalam kondisi baik
b. Diketahui bahwa obat disimpan dan dikelola dalam kondisi yang sesuai
dan belum kadaluarsa
c. Telah diperikasa dan diuji oleh petugas yang berwenang
10. Catatan kembalian obat disimpan oleh penanggung jawab dan dapat
diteruskan ke penjual apabila obat tersebut masih layak jual.
11. Apabila produk obat kadaluarsa atau rusak maka diberikan penandaan yang
mencolok, diatur pelaksanaan pengambilan obat kepada produsen dan
prosedur pemusnahannya.
Harus tersedia tempat khusus dengan label yang jelas, aman dan terkunci
untuk penyimpanan obat dan/atau bahan obat yang ditolak, kedaluwarsa,
penarikan kembali, produk kembalian dan obat diduga palsu. Obat dan/atau bahan
obat yang ditolak dan dikembalikan ke fasilitas distribusi harus diberi label yang
jelas dan ditangani sesuai dengan prosedur tertulis (BPOM. 2012b).
Produk kembalian yang tidak dapat diolah ulang hendaklah dimusnahkan.
Prosedur pemusnahan bahan atau pemusnahan produk yang ditolak hendaklah
disiapkan. Prosedur ini hendaklah mencakup tindakan pencegahan terhadap
pencemaran lingkungan dan penyalahgunaan bahan atau produk oleh orang yang
tidak mempunyai wewenang (BPOM. 2012a).
Adapun dalam hal obat dengan keluhan, diduga palsu atau dilakukann
penarikan kembali menurut BPOM (2017) harus memeuhi syarat :

32 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


1. Didokumentasikan
2. Dianalisis sebagai bahan perbaikan dalam hal system, peralatan, dan SDM
3. Obat yang dikembalikan sesuai dengan persyaratan pihak PBF (bukan
principal)
4. Pemastian tidak memungkinkan masuk obat palsu
5. Atau pada obat yang diduga palsu dilakukan pengawasan pada tiap lini
kegiatan
6. Melaporkan kepada instansi berwenang/industry farmasi
7. Recall dilaksanakan segera setelah menerima perintah
8. Didkumentasikan untuk mendukung pelaksanaan sampai tuntas ke outlet
terkecil
9. Pelaporan ke instansi berwenang
Yang mana sering didapatkan temuan berupa :
1. Tidak dilakukan penanganan keluhan dan trend analisis keluhan
2. Tidak mempuyai prosedur yang mencakup persyaratan bat kembalian yang
dapat diterima
3. Tidak mempuyai prosedur penanganan obat palsu termasuk pelaporan ke
BPOM
4. Pelaksanaan recall tidak secara menyeluruh sampai ke outlet terkecil
5. Tidak dilakukan pelaporan recall ke BPOM
Dengan adanya hal terebut maka dalam hasil keputusan pertemuan
ilmiahnya BPOM mencanangkan beberapa solusi akan hal itu, diantaranya :
1. Membuat SOP terkait penanganan keluhan termasuk trend analisis
2. Membuat SOP tekait penanganan obat kembalian
3. Membuat SOP terkait penanganan obat palsu
4. Membuat SOP terkait penarikan kembali obat
5. Pelatihan kepada personil terkait
6. Pelaporan pelaksanaan ke BPOM

33 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


12. Karantina Obat Jadi
Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum
penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk
diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk
memastikan produk dan catatan pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi
yang ditentukan. Pada tahap ini prosedur yang tertulis hendaklah mencantumkan
cara penyerahan produk jadi ke area karantina, cara penyimpanan sambil
menunggu pelulusan, persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh pelulusan,
dan cara pemindahan selanjutnya ke gudang produk jadi (BPOM. 2012a).
Selama menunggu pelulusan dari bagian Manajemen Mutu (Pemastian
Mutu), seluruh bets/lot yang sudah dikemas hendaklah ditahan dalam status
karantina kecuali sampel untuk pengawasan mutu, tidak boleh ada produk yang
diambil dari suatu bets/lot selama produk tersebut masih ditahan di area karantina.
Area karantina merupakan area terbatas hanya bagi personil yang benar-benar
diperlukan untuk bekerja atau diberi wewenang untuk masuk ke area tersebut
(BPOM. 2012a).
Produk jadi yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus hendaklah
diberi penandaan jelas yang menyatakan kondisi penyimpanan yang diperlukan,
dan produk tersebut hendaklah disimpan di area karantina dengan kondisi yang
sesuai (BPOM. 2012a).
Menurut BPOM (2012a) Pelulusan akhir produk hendaklah didahului
dengan penyelesaian yang memuaskan dari paling tidak hal sebagai berikut:
a) Produk memenuhi persyaratan mutu dalam semua spesifikasi pengolahan dan
pengemasan;
b) Sampel pertinggal dari kemasan yang dipasarkan dalam jumlah yang
mencukupi untuk pengujian di masa mendatang;
c) pengemasan dan penandaan memenuhi semua persyaratan sesuai hasil
pemeriksaan oleh bagian Pengawasan Mutu;
d) rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak dapat diterima; dan
e) produk jadi yang diterima di area karantina sesuai dengan jumlah yang tertera
pada dokumen penyerahan barang.

34 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Setelah pelulusan suatu bets/lot oleh bagian Manajemen Mutu (Pemastian
Mutu), produk tersebut hendaklah dipindahkan dari area karantina ke gudang
produk jadi. Sewaktu menerima produk jadi, personil gudang hendaklah mencatat
pemasukan bets tersebut ke dalam kartu stok yang bersangkutan (BPOM. 2012a).

13. Penyimpanan Obat Jadi


Sangat penting untuk melakukan pejelasan lebih dalam megenai
keutamaan lokasi peyimpanan untuk menjamin bahwa dapat dilakukan
pengedalian yang memadai salah satunya adalah tempat. Untuk peyimpanan
produk obat (misalnya Warehouse, penyimpanan, atau ruang karantina, gudang
produksi, gudang kontraktor, gudang distribusi, pemesananan atau area bahan
ruahan farmasi, rumah sakit, atau peyimpaan produk pada home care farmasi)
(USP 36).
Pada lokasi ini ada dua proses dasar yang dilakukan. Pertama
penemrimaan bahan untuk kemudian disimpan yaitu tindakan membawa produk
obat kedalam fasilitas, yang mana proses ini merupakan pemindahan prduk obat
ke dalam fasilitas produksi atau keluar dari mesin. Kedua penyimpanan dan
penahanan produk dalam periode karantina atau dalam mempersiapkan kestabilan
proses supply chain (USP 36).
Tiap produk jadi yang diserahkan ke area penyimpanan hendaklah
diperiksa kesesuaian identitas dan kondisi wadah. Bila identitas atau kondisi
wadah produk produk jadi diragukan atau tidak sesuai dengan persyaratan
identitas atau kondisinya, produk tersebut hendaklah dikirim ke area karantina.
Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan status produk
tersebut (BPOM. 2012a).
Jika diperlukan, obat dan/atau bahan obat yang mempunyai persyaratan
khusus harus disimpan di tempat terpisah dengan label yang jelas dan akses
masuk dibatasi hanya untuk personil yang berwenang. Sistem komputerisasi yang
digunakan dalam pemisahan secara elektronik harus dapat memberikan tingkat
keamanan yang setara dan harus tervalidasi (BPOM. 2012b).

35 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


14. Scale Up
Scale up atau peningkatan skala produksi merupakan kegiatan yang
berlaku di semua industry. Proses ini merupakan peningkatan jumlah produksi
atau ukuran batch yang akan dibuat dari skala lab hingga ke skala produksi.
Proses scale up selain harus diketahui berapa bahan yang akan dibutuhkan untuk
skala produksi, juga harus mengetahui berapa kecepatan pencampuran bahan,
suhu yang digunakan, dan lain-lain.

14.1 Scale Up Sediaan Parenteral


Pada peningkatan skala produksi untuk sediaan parenteral yang paling
utama harus diperhatikan adalah pada proses pencampuran cairan. Pencampuran
tersebut harus lebih memperhatikan jenis zat yang akan digunakan apakah zat
tersebut mudah larut atau tidak, harus dalam berapa liter pelarut agar dapat
melarut.

14.2 Scale Up Sediaan Non-Parenteral


Pada peningkatan skala non-parenteral, banyak hal yang harus
diperhatikan seperti pada sediaan semi solid harus bergantung pada aliran atau
viskositasnya sehingga, jumlah basis yang digunakan dan zat aktif yang
digunakan harus sesuai dengan perbandingan. Selain iu, suhu pada pembuatan
sediaan semi solid juga harus terjaga agar basis tidak terlalu mencair. Untuk
sediaan solid, hal yang perlu diperhatikan adalah massa dari tablet yang akan di
cetak, apakah terlalu besar atau tidak. Kemudian sifat dari zat aktif apakah tahan
pada suhu yang panas atau termostabil atau tidak jika ingin menggunakan metode
granulasi basah.

15. Aktivitas Produksi


15.1 Prinsip Produksi
Produksi dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah
ditetapkan; dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa

36 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi
ketentuan izin pembuatan dan izin edar.
Produksi dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.
Penanganan bahan dan produk jadi, seperti penerimaan dan karantina,
pengambilan sampel, penyimpanan, penandaan, penimbangan, pengolahan,
pengemasan dan distribusi dilakukan sesuai dengan prosedur atau instruksi
tertulis dan bila perlu dicatat.
Aktvitas produksi sangat erat hubungannya dengan perencanaan produksi,
dokumentasi, bangunan, ruang produksi, system tata udara, personalia, peralatan
yang digunakan, dan perlakuan setiap jenis sediaan.

15.2 Perencanaan Produksi


Setelah forecast dibuat oleh bagian Marketing, selanjutnya dibuat/disusun
Perencanaan Produksi (production planning) serta Rencana Anggaran Belanja
Perusahaan (RABP) sebagai acuan untuk memenuhi permintaan Marketing
tersebut. Perencanaan Produksi, terbagi menjadi Rencana Produksi Tahunan, yang
kemudian di-break down ke dalam Rencana Produksi Periodik (misalnya semester
atau triwulan). Selanjutnya Rencana Produksi Periodik di-break down lagi
menjadi Rencana Produksi Bulanan, Mingguan dan Harian. Sasaran pokok dari
perencanaan produksi, antara lain:
a. Ketepatan waktu dalam memenuhi janji (permintaan) pelanggan
b. Kecepatan waktu penyelesaian pesanan (permintaan) pelanggan
c. Berkurangnya biaya produksi
d. New product launching dan divestment (write off) produk-produk lama
berjalan lancar (teratur).
Perencanaan Produksi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal
(dari dalam perusahaan sendiri) maupun faktor eksternal. Faktor internal antara
lain kapasitas terpasang, kapasitas produksi, jumlah persediaan dan aktifitas lain
yang diperlukan untuk produksi. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi perencanaan produksi antara lain kebutuhan/permintaan pasar,

37 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


kondisi perekonomian, ketersediaan bahan baku/bahan pengemas, aktifitas
kompetetitor dan kapasitas eksternal (untuk kegiatan yang di sub kontrakan).
Dampak Perencanaan yang Baik :
a. Saling pengertian antar bagian
b. Tercapainya keseimbangan dalam inventory (bahan baku, WIP, Obat jadi)
c. Terciptanya program sarana produksi yang seimbang dan stabil
d. Memaksimalkan sumber daya (orang, mesin, alat dan ruang penyimpanan)
e. Investasi minimal pada barang ½ jadi (WIP)
f. Hemat biaya penyimpanan
g. Hemat biaya tidak langsung
h. Angka kerusakan dan cacat produk rendah
i. Angka kelebihan bahan ½ jadi rendah
j. Biaya pelacakan rendah
15.3 Dokumentasi Produksi
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan
dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu.
Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap
personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga
memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul
karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, Dokumen
Produksi Induk/Formula Pembuatan, prosedur, metode dan instruksi, laporan
dan catatan harus bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis.
Keterbacaan dokumen adalah sangat penting.
a. Dokumen Produksi
Dokumen yang esensial dalam produksi adalah:
1. Dokumen Produksi Induk yang berisi formula produksi dari suatu
produk dalam bentuk sediaan dan kekuatan tertentu, tidak tergantung dari
ukuran bets;
2. Prosedur Produksi Induk, terdiri dari Prosedur Pengolahan Induk dan
Prosedur Pengemasan Induk, yang masing-masing berisi prosedur
pengolahan dan prosedur pengemasan yang rinci untuk suatu produk

38 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


dengan bentuk sediaan, kekuatan dan ukuran bets spesifik. Prosedur
Produksi Induk dipersyaratkan divalidasi sebelum mendapat pengesahan
untuk digunakan;
3. Catatan Produksi Bets, terdiri dari Catatan Pengolahan Bets dan Catatan
Pengemasan Bets, yang merupakan reproduksi dari masing-masing
Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk, dan berisi
semua data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi
dari suatu bets produk. Kadang-kadang pada Catatan Produksi Bets,
prosedur yang tertera dalam Prosedur Produksi Induk tidak lagi
dicantumkan secara rinci.

b. Dokumen Produksi Induk


Dokumen Produksi Induk yang disahkan secara formal hendaklah
mencakup nama, bentuk sediaan, kekuatan dan deskripsi produk, nama
penyusun dan bagiannya, nama pemeriksa serta daftar distribusi dokumen dan
berisi hal sebagai berikut:
1. Informasi bersifat umum yang menguraikan jenis bahan pengemas
primer yang harus digunakan atau aternatifnya, pernyataan mengenai
stabilitas produk, tindakan pengamanan selama penyimpanan dan tindakan
pengamanan lain yang harus dilakukan selama pengolahan dan pengemasan
produk;
2. Komposisi atau formula produk untuk tiap satuan dosis dan untuk satu
sampel ukuran bets;
3. Daftar lengkap bahan awal, baik yang tidak akan berubah maupun yang
akan mengalami perubahan selama proses;
4. Spesifikasi bahan awal;
5. Daftar lengkap bahan pengemas;
6. Spesifikasi bahan pengemas primer;
7. Prosedur pengolahan dan pengemasan;

39 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


8. Daftar peralatan yang dapat digunakan untuk pengolahan dan
pengemasan;
9. Pengawasan selama-proses pengolahan dan pengemasan; dan
10. Masa edar/simpan.

15.4 Sistem Tata Udara

Gambar 15.1 Sistem Tata Udara

15.5 Personalia
 Jumlah personil harus seminimal mungkin untuk area produksi atau sesuai
dengan kebutuhan terutama dalam ruang produksi sediaan steril
 Harus memiliki disiplin tinggi
 Harus sehat jasmanis dan rohani
 Higien perorangan pada standar tinggi, dan diperiksa secara teratur
 Setiap personil harus mendapatkan pelatihan dengan baik seperti CPOB,
hygiene dan disiplin, mikrobiologi dasar, dll

16. Lingkungan Produksi


Lingkungan pada daerah produksi diatur dalam CPOB, untuk memastikan
bahwa lingkungan produksi tetap bersih agar tidak terjadi kontaminasi pada
produk, baik kontaminasi silang atau kontaminasi oleh bakteri atau
mikroorganisme. Berikut persyaratan jumlah partikel untuk setiap kelas produksi:

40 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Tabel 16.1 Persyaratan Jumlah Partikel

Tabel 16.2 Batas Cemaran Mikroorganisme

41 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 16. 1 Dokumen Produksi Induk

42 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 16. 2 Contoh Dokumen Produksi

43 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 16. 3 Contoh Dokumen Prosedur Pengolahan Induk (1)

44 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Gambar 16. 3 Contoh Dokumen Prosedur Pengolahan Induk (2)

45 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


DAFTAR PUSTAKA

Anief. (2007). Farmasetika . Gajah Mada University Press: Yogyakarta.


Anonim. (2009). Pedoman Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.
Atieh, A. M. et al., (2015). Performance Improvement Of Inventory Management
System Processes By An Automated Warehouse Management System. 48th
CIRP Conference
BPOM RI. (2014). Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman CPOB 2012 Jilid
II. Jakarta: BPOM RI.
BPOM RI. (2012). Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Peraturan Kepala
BPOM RI No. HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012. Jakarta: BPOM RI.
BPOM RI. (2012). Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan
Obat Yang Baik. Jilid I. Jakarta: BPOM RI. 258-259.
BPOM RI. (2017). Regulasi Pengelolaan Distribusi Obat dan Urgency Sertifikasi
CDOB. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Apteker Indnesia.
Tanggerang.
Canada Health Association. (2011). Guideline for Temperature Control of Drug
Products During Storage and Transportation GUI-0069. Health Products
and Food Branch Inspectorate.
Chimetha, M., S.Prombapong., and T. Somboowiwat. (2013). Risk Management
in Pharmaceutical Dispensing Center. International Journal of Chemical
Engineering and Applications. 4 (4): 241-248.
Gouveia, Bruno G., Patrícia Rijo, Tânia S. Gonçalo, and Catarina P. Reis. (2015).
Good Manufacturing Practices for Medicinal Products for Human Use. J
Pharm Bioallied Sci 7(2): 87–96.
Kiziltas, S., Erdogdu, F. Dan Palazoglu, T.K. (2010). Simulation of Heat Transfer
for Solid-Liquid Food Mixture in Cans and Model Validation Under
Pasteurization Conditions. Journal of Food Engineering 97: 449-456.

46 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


Levin, Michael. (2001). Pharmaceutical Process Scale-Up. New York: Marcel
Dekker, Inc.
Patel, KT., and Chotai NP. (2011). Documentation and Record: Harmonized
GMP Requirements. J.Young Pharmacist. 3(2): 138-150.
Pramono, Suwijono. (2002). Mengkaji Kemungkinan Penerapan Validasi dalam
Proses Produksi Obat Tradisional. Jurnal Bahan Alam Indonesia ISSN
1412-2855 Vol.1, No.2, Juli 2002.
Priyambodo, Bambang. (2007). Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta:
Global Pustaka Utama.
Rajawali Nusindo. (2014). Standard Operating Procedure Penanganan Obat
Kembalian. RNI Group.
Saxena, Mona. (2017). Improving the Use of SAP WMS Reporing Practices.
Thesis. Helsinki Metropolia University of Applied Sciences.
Shafaat., et al. (2013). An Overview: Storage of Pharmaceutical Products. World
Journal Of Pharmacy and Pharmaceutical Science 2: 2499-2515.
Shultz, J., et al. (2007). Standardizing the Storage and Labelling of Medications:
Part 2. Can J. Hosp Pharm 60(3): 101-104.
Subramanya, K. N., Rangaswamy, M. T. & Ramaa, A., (2012). Impact of
Warehouse Management System in a Supply Chain. International Journal
of computer applications. 54(1): 6.
The United State Pharmacopeial Convention. (2013). The United State
Pharmacopheia (USP). 36th Edition. United States.
USP 35. (2012). General Notices and Requirements: Applying to Standards,
Tests, Assays, and Other Specifications of the United States
Pharmacopeia.
WHO. (2002). WHO Technical Report Series Annex 9: Guidelines on Packaging
for Pharmaceutical Product. No. 902. USA: WHO.
WHO. (2008). Guidline to Inspection of Hormone Product Manufacturing
Facilities. World Health Organization.
WHO. (2011). Guidline to Master Formulae Guaidance Documents. World
Health Organization.

47 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment


WHO. (2013). Guidance for Industry. Non-Penicillin Beta Lactam Drugs: A
CGMP Framework for Preventing Cross-Contamination. World Health
Organization.

48 | Scale Up, Pengolahan dan Production Environtment

Anda mungkin juga menyukai