Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU LINGKUNGAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO

PENGELOLAAN DAS GARANG HULU UNTUK


MENINGKATKAN DAYA DUKUNGNYA TERHADAP
LINGKUNGAN
Hendri Setiawan
NIM. 30000119410012

Untuk Keperluan Tugas Matrikulasi


Gedung B Pascasarjana Lt. 4 Jalan Imam Bardjo SH No. 5, Semarang

Dibuat pada : 15 Agustus 2019

1. PENDAHULAN terpadu yang melibatkan seluruh pemangku


kepentingan meliputi Pemerintah, Pemerintah
Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah
Daerah, dunia usaha dan semua elemen
aliran sungai. Sejumlah 70% sungai di Indonesia
masyarakat, dengan prinsip-prinsip keterpaduan,
tercemar. Penyebabnya adalah masih rendahnya
kesetaraan dan berkomitmen untuk menerapkan
kesadaran masyarakat untuk memperhatikan
penyelenggaraan pengelolaan sumber daya alam
sanitasi. Sungai tercemar itu tidak bisa lagi
yang adil, efektif, efisien dan berkelanjutan sangat
digunakan secara maksimal untuk aneka
diperlukan.
kebutuhan. Perilaku manusia yang menyum-
DAS Garang menyediakan sumber daya alam
bangkan pencemaran sungai antara lain kebiasaan
yang banyak memberikan banyak manfaat bagi
membuang hajat di sungai. Selain itu tinja yang
penduduk di sekitarnya, antara lain sebagai
diserap oleh mobil tangki langsung dibuang ke
sumber daya pertanian, sumber air bersih, sumber
sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Di sisi
perikanan air tawar maupun pemanfaatan air
lain, sungai masih menjadi tempat kegiatan
lainnya. DAS Garang merupakan salah satu DAS
masyarakat seperti mandi dan mencuci.
yang kritis di Jawa Tengah. Berbagai aktivitas
Perusahaan seperti PDAM juga mengambil air
masyarakat di sepanjang DAS Garang
baku untuk minum dari sungai (Setyowati, 2018).
berpengaruh pada kondisi kualitas dan kuantitas
Menurut Peraturan Daerah Jawa Tengah No.
DAS Garang. Selain itu, isu perubahan iklim telah
15 Tahun 2014 bahwa pengelolaan Daerah Aliran
memperparah kondisi DAS Garang. Peningkatan
Sungai (DAS) sebagai kesatuan ekosistem yang
suhu serta curah hujan berpengaruh pada kondisi
utuh dari hulu sampai hilir perlu dikelola secara
hidrologi DAS Garang (Efendi, 2012).

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 1


Data Kementerian Kehutanan menunjukkan kombinasi antara vegetatif dan mekanik, mekanik
adanya peningkatan kerusakan DAS dari yang dan kimia, kimia dan vegetatif serta kombinasi
semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi ketiganya. Konservasi tanah dengan cara
berturut-turut sebesar 39 dan 62 DAS pada tahun mekanik, vegetatif dan kimia pada dasarnya
1992 dan 1998.Sedangkan kondisi terakhir, bertujuan mengurangi laju aliran permukaan dan
berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah.
SK.328/Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, Ketiga cara konservasi tanah tersebut lebih
menetapkan 108 DAS kritis dengan prioritas menitikberatkan pada aspek fisik lahan usaha tani.
penanganan yang dituangan dalam RPJM 2010 – Untuk mengurangi laju aliran permukaan dan
2014. Salah satu DAS kritis yang prioritas untuk meningkatkan laju infiltrasi, kondisi fisik lahan
segera ditangani adalah DAS Garang. Peraturan usaha tani didesain sedemikian rupa sehingga
Daerah Provinsi Jateng Nomor 6 Tahun 2010 tujuan untuk mengurangi laju permukaan dan
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi meningkatkan laju infiltrasi dapat dicapai.
Jawa Tengah Tahun 2009 – 2029, dalam pasal Peningkatan laju aliran permukaan dan penurunan
103 mengenai rencana pengembangan kawasan laju infiltrasi yang terjadi pada lahan usaha tani
strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya berkaitan dengan efektifitas penerapan jenis
dukung lingkungan, menetapkan DAS Garang konservasi tanah jika mempertimbangkan
menjadi salah satu wilayah yang dilindungi secara kesesuaian aspek fisik lahan tidak akan efektif
fungsi dan daya dukungnya. Mengingat hal tanpa mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi
tersebut diperlukan tindakan sungguh-sungguh petani (Restele, 2015).
dengan pelibatan stakeholder untuk memulihkan Menurut (Setyowati, 2011) dalam
daya dukung DAS Garang (Marlena, 2012). (Setyowati, 2018) permasalahan yang teradi di
Berbagai kegiatan seperti pertanian dan DAS Garang adalah bertambahnya jumlah
perkebunan, industri, peternakan, serta penduduk. Peningkatan jumlah penduduk yang
permukiman berpotensi mencemari Sungai mengakibatkan peningkatan akan lahan untuk
Garang. Dari perhitungan BBWS Pemali Juwana permukiman dan pertanian. Peningkatan lahan
(2009), potensi beban cemaran terbesar berasal permukiman mengakibatkan lahan terbuka
dari limbah domestik diikuti dengan limbah yang menjadi berkurang sehingga daerah resapan air
berasal dari industri. Untuk mengendalikan menjadi berkurang. Peningkatan lahan
pencemaran Sungai Garang agar tidak melampaui permukiman juga akan mengurangi penggunaan
daya tampung serta daya dukungnya serta untuk lahan untuk usaha tani. Kondisi ini memaksa
menjaga agar dapat dimanfaatkan dengan kualitas petani menggunakan lahan yang kurang sesuai
yang baik maka perlu dilakukan upaya sebagai tempat usaha tani menjadi tempat
pengelolaan. kegiatan usaha tani, seperti lahan yang terletak
Masyarakat di DAS Garang sudah pada kelerengan curam dan sangat curam. Lahan
mengenal teknik konservasi tanah. Penerapan usaha tani yang memiliki keterbatasan dari aspek
konservasi tanah pada lahan usaha tani dilakukan fisik jika pengelolaannya dilakukan tidak tepat
dengan cara vegetatif, mekanik, kimia atau dapat mempercepat kerusakan lahan usaha tani.

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 2


Peningkatan kawasan perumahan akan diikuti Gubernur No. 156 tahun 2010 tentang Peruntukan
perubahan penggunaan lahan lain seperti Air dan Pengelolaan Kualitas Air Sungai Garang
berkurangnya hutan, kebun campuran, lahan di Provinsi Jawa Tengah yang membagi sungai di
terbuka dan lahan pertanian. DAS Garang menjadi tujuh (7) segmen dimana
Munculnya beragam masalah tersebut wilayah sub DAS Garang Hulu termasuk pada
tidak hanya disebabkan oleh faktor alam semata, segmen I sampai segmen III.
tetapi juga faktor manusia yang belum memiliki
kesadaran untuk menjaga sungai. Untuk
membangun terwujudnya kesadaran dan perilaku
konservasi komunitas sungai, maka potensi dan
nilai-nilai kearifan lokal perlu digali lebih lanjut
dan kemudian diintegrasikan pada masyarakat
dalam mengkonservasi dan peduli sungai.
Berdasarkan kondisi Kali garang saat ini yang
memiliki kerusakan kualitas air sungai perlu
diatasi melalui upaya konservasi, salah satunya
melalui kearifan lokal masyarakat, yang
diwujudkan dalam bentuk ide, gagasan, proses,
dan wujud atau artefak terhadap upaya pelestarian Sumber : Peraturan Gubernur No. 156 tahun 2010
Sumber Daya Alam. Upaya pelestarian tersebut Gambar 2. Peta Segmen Sungai Garang (Marlena,
mengandung nilainilai kearifan lokal (Setyowati, 2012)

2018).
2.2. Pemanfaatan Lahan dan Daya Dukung
DAS Garang Hulu
2. PEMBAHASAN
2.1. Gambaran Umum Sub DAS Garang Hulu Pemanfaatan lahan pada DAS yang
diidentifikasi dalam penelitian ini adalah data
Sub DAS Garang Hulu secara astronomis terletak
jenis dan luas penggunaan lahan. Luasan suatu
antara 110°20’ - 110°25’ BT dan 07°05’ - 07°12
jenis penggunaan lahan dapat digunakan untuk
LS dengan ketinggian antara 342 meter hingga
memprediksi kondisi DAS. Salah satu kriteria
2.050 meter di atas permukaan air laut. Secara
mengukur kondisi DAS dengan perhitungan daya
geografis sub DAS Garang Hulu merupakan
dukung lahannya. Sedangkan untuk melihat
bagian dari lereng utara dan lereng timur Gunung
konservasi sungai perlu data pendukung
Ungaran yang meliputi lereng bagian atas hingga
pemanfaatan lahan di sepanjang aliran sungai.
lereng kaki Gunung Ungaran.
Wilayah sempadan sungai harus difungsikan
Menurut (Setyowati, 2011) dalam (Marlena,
dengan baik sebagai wilayah aman untuk aliran
2012) Luas DAS Garang adalah 21.277 Ha,
sungai.
sedangkan luas sub DAS Garang Hulu adalah
Selama rentang waktu tahun 1995-2012 telah
8.371 Ha atau 39% dari total luas DAS Garang,
terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS
dengan panjang sungai utama sub DAS Garang
Garang Hulu seluas 27,24 km2 atau 44,24% dari
Hulu adalah 32.125 km. Berdasarkan Peraturan

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 3


total luas DAS Garang Hulu, dengan rincian Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun
seperti ditampilkan pada Tabel 1. Perubahan 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,
penggunaan lahan terbesar terjadi pada Daya dukung DAS adalah kemampuan DAS
bertambahnya kebun campuran hingga mencapai untuk mewujudkan kelestarian dan keserasian
1,51 Km2 (14,65%), pemukiman bertambah ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan
sebesar 5,72 Km2 (77,19%), dan Tegalan sumber daya alam bagi manusia dan makhluk
bertambah 4,84 Km2 (33,80) sedangkan Hutan, hidup lainnya secara berkelanjutan (PP. No.
2
Sawah dan berkurang sebesar 4,90 Km (21,00%), 37/2012 tentang Pengelolaan DAS). Perubahan
dan 7,18 Km2 (13,18%). Hutan yang dijumpai kondisi daya dukung DAS mengakibatkan
pada daerah hulu DAS selama kurun waktu 15 pemanfaatan lahan yang tidak terkendali, tanpa
tahun luasnya telah berkurang sekitar 21%. Pada memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah
periode yang sama, luas Kebun Campuran DAS dan air dapat mengakibatkan peningkatan erosi
Garang Hulu bertambah dari 8,80 Km2 pada tahun dan sedimentasi, penurunan penutup vegetasi, dan
1995 menjadi 20,31 Km2 pada tahun 2012. percepatan degradasi lahan. Penurunan daya
Perubahan penggunaan lahan juga terjadi pada dukung DAS yang ditandai dengan terjadinya
2
permukiman semula 1,69 Km pada tahun 1995 banjir, tanah longsor, erosi, sedimentasi dan
bertambah menjadi 7,41 Km2 pada tahun 2012 kekeringan yang mengakibatkan terganggunya
mengalami perubahan 10,50% dari total luas DAS perekonomian dan tata kehidupan masyarakat.
Garang Hulu (Setyowati, 2018). Hasil akhir perubahan daya dukung DAS
Perubahan penggunaan lahan selalu mengikuti berdampak nyata pada kondisi biofisik DAS dan
prinsip keseimbangan, artinya jika pada bagian kondisi sosial ekonomi yang menyebabkan
wilayah DAS terjadi penambahan luas pada masyarakat kehilangan kemampuan
penggunaan lahan tertentu, maka bagian lain mengusahakan lahannya dan penurunan
mengalami pengurangan. Selama rentang waktu kesejahteraan masyarakat (Setyowati, 2018).
tahun 1995- 2012 di DAS Garang Hulu telah Undang-Undang nomor 41 tahun 1999
terjadi perubahan penggunaan lahan hingga 10 tentang Kehutanan pada pasal 18 ayat 1 dan 2
bentuk perubahan. Perubahan terbesar terjadi pada menyatakan bahwa kawasan hutan yang ideal
hutan menjadi kebun campuran seluas 4,71 Km2 dalam suatu wilayah DAS untuk optimalnya
atau 5,66% dari total luas DAS Garang Hulu. manfaat lingkungan, sosial dan ekonomi
Perubahan penggunaan lahan terbesar berikutnya masyarakat minimal 30% dari luas DAS. Tujuan
terjadi pada lahan kebun campuran menjadi penyelenggaraan kehutanan adalah untuk
permukuman seluas 0,36 Km2 (0,43%), disusul meningkatkan daya dukung DAS dan seluas 30%
perubahan tegalan menjadi kebun campuran 0,32 dari total luas DAS berupa kawasan hutan.
Km2 (0,38%). Perubahan lahan terkecil terjadi Kondisi daya dukung DAS merupakan bentuk
pada perubahan Tegalan menjadi sawah, luasnya kegiatan untuk menilai DAS dari aspek lahan,
hanya 0,122 Km2 atau 0,15% dari total Das hidrologi, sosial ekonomi/kelembagaan, investasi
Garang Hulu 61,57 Km2 (Setyowati, 2018). bangunan air, dan pemanfaatan ruang wilayah.
Penggunaan Lahan (Setyowati, 2018).

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 4


Hasil penilaian modifikasi daya dukung DAS dapat dipengaruhi oleh perubahan luas
DAS sebesar 93,5 dapat diklasifikasikan masuk penggunaan lahan pada setiap unit DAS
kedalam klasifikasi sedang atau 90 < DDD ≤ 110 diantaranya menyebabkan berkurangnya sebaran
(Tabel 2). Penilaian terhadap kondisi DAS Garang persentase penutup vegetasi, nilai pengelolaan
tersebut tetap adanya tindakan kelanjutan dengan lahan maupun tanaman, dan menurunnya luas
tujuan untuk mempertahankan kondisi daya sebaran fungsi pemanfaatan kawasan lindung .
dukung yang sudah ada, dimana DAS Garang
2.3. Pengelolaan Lingkungan Sub DAS Garang
merupakan bagian dari suatu wilayah pengelolaan
Hulu
DAS prioritas. Berdasarkan penilaian modifikasi
Pengelolaan lingkungan yang telah
daya dukung DAS Garang terdapat indikator atau
dilaksanakan di sub DAS Garang Hulu yang
parameter yang masih memiliki penilaian rendah
terdiri dari tiga segmen adalah sebagai berikut :
terutama pada aspek kondisi lahan, tata air, dan
- Segmen I
tata ruang wilayah. DAS Garang termasuk daya
Pada segmen I terdapat kegiatan pertanian dan
dukung DAS sedang dengan nilai 93,5, Hasil
perkebunan, industri, peternakan, serta
penilaian kriteria daya dukung DAS disebutkan
permukiman yang berpotensi mencemari sungai
bahwa kondisi biofisik yang perlu mendapat
Garang. Kegiatan industri yang berada di segmen
perhatian yaitu persentase tutupan vegetasi masih
ini diantaranya adalah PT. Batamtex, PT. Nissin
kurang, tingginya nilai faktor penutupan vegetasi
Biscuits dan PT. Pepsi Cola Indobeverages yang
dan pengelolaan lahan (CP), dan kawasan lindung
semuanya merupakan industri sasaran prokasih
kategori sangat buruk yang berada di daerah
(BLH Prov. Jateng, 2009). Namun demikian
tangkapan air pada DAS Banjir Kanal Timur dan
hanya PT Batamtex yang telah mengikuti proper
DAS Silandak. Dampak tersebut berakibat pada
dari tahun 2010, dengan hasil biru (Setyowati,
data debit aliran sungai yang tinggi, tingginya
2018).
limpasan permukaan sebaliknya pada saat musim
Pada tahun 2012, BLH Kabupaten
hujan air tidak mampu diresapkan oleh tanah
Semarang melakukan inventarisasi kegiatan yang
sehingga aliran air mengalir menimbulkan
berpotensi mencemari sungai Garang. Hasil
(Setyowati, 2018).
kegiatan tersebut tersaji pada tabel 3. Sedangkan
Menurut (BPDAS, 2014; Hasan, dkk., 2016)
aktivitas lain yang berpotensi mempengaruhi
dalam (Setyowati, 2018) upaya pengelolaan lahan
kualitas air sungai adalah limbah domestik dan
pada DAS dilakukan dengan rehabilitasi hutan
kegiatan peternakan. Menurut BPS Kabupaten
dan lahan, mengurangi laju kepadatan
Semarang, jumlah penduduk dan ternak di
permukiman dan perlindungan sumberdaya lahan
Segmen I adalah sebagai berikut (Setyowati,
akibat dari pengaruh pola konsumtif serta
2018).
pengelolaan rehabilitasi kawasan lindung yang
berorientasi pada kelangsungan ketersediaan
sumberdaya lahan. Perubahan penggunaan lahan
ke permukiman yang tinggi mengakibatkan
tingginya nilai daya dukung DAS. Daya dukung

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 5


Tabel 1. Perubahan penggunaan lahan
Luas Penggunaan Luas Perubahan
Jenis Penggunaan 2
No Lahan (km ) Penggunaan Lahan
Lahan Tahun 1995 Tahun 2012 km2 %
1 Hutan 23,28 18,38 -4.90 -21,00
2 Sawah 18,33 11,15 -7.18 -39,17
3 Kebun Campuran 8,80 10,31 1.51 14,65
4 Tegalan 9,48 14,32 4.84 33,80
5 Pemukiman 1,69 7,41 5.72 77,19
Jumlah 61,57 61,57 0,00 0,00

Sumber : (Setyowati, 2018)

Tabel 2. Penilaian Daya Dukung DAS Garang


Bobot
No. Kriteria/Sub Kriteria (%) Nilai Fakta Skor Hasil DDD
Kondisi Lahan 40
a. Persentase Lahan Kritis 20 3,03% 0,5 10
1. b. Persentase Penutup Vegetasi 10 47,88% 1 10
c. Nilai Faktor CP 10 0,14 0,75 7,5
Kondisi Tata Air 20
2. a. Koefisien Aliran Tahunan 12 0,19 0,5 6
b. Banjir 8 3 Kali 1,5 12
Kondisi Sosial Ekonomi 20
a. Tekanan Penduduk thd Lahan 14 0,41 1,5 21
3.
Keberadaan dan Penegakan Ada, dipraktekkan
b. Peraturan 6 terbatas 0,75 4,5
Investasi Bangunan Air 10
4. a. Klasifikasi Kota 5 523.060 Jiwa 1,25 6,25
b. Klasifikasi Nilai Bangunan Air 5 Rp 981,09 M 1,5 7,5
Pemanfaatan Ruang Wilayah 10
5. a. Kawasan Lindung 5 42,27% 1 5
b. Kawasan Budidaya 5 65,35% 0,753,75
Jumlah Nilai Daya Dukung DAS = - - -93,5
Sumber: Setyowati, 2018

Tabel 3. Inventarisasi Kegiatan di Sekitar Sungai Garang Segmen I


No Nama Perusahaan Jenis Kegiatan IPAL
1 RSUD Ungaran Rumah Sakit Ada
2 PT. Polyplas Group Pengolahan biji plastik Ada
3 Roti Gapura Prima Roti Tidak
4 PT. Ungaran Printing Percetakan Ada
5 Atlas Laundry Pencucian kain Ada
6 Karoseri Laksana Karoseri Tidak
7 Hotel Indrakila Hotel Tidak
8 Hotel Argoputro Hotel Tidak
9 Hotel Ungaran Cantik Hotel Tidak
10 Hotel C3 Hotel Tidak
11 RPH Pemotongan Hewan Tidak
Sumber : BLH Kabupaten Semarang,2012 dalam Marlena, 2012

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 6


Tabel 4 Jumlah Penduduk & Ternak di Segmen I permukiman. Jumlah penduduk di segmen ini
menurut BPS Kota Semarang pada tahun 2009
Penduduk Peternakan (ekor) adalah seratus dua puluh ribu empat puluh dua
jiwa, yang berpotensi untuk meningkatkan beban
No Kecamatan
(jiwa) Sapi Potong Sapi Perah Kerbau cemaran limbah domestik ke sungai karena pada
1 Bergas 68.241 1.681 1.359 162
2 Ungaran Barat 74.481 797 2.794 198 segmen ini juga belum ada IPAL komunal. Di
3 Ungaran Timur 68.686 1.319 1.024 357
segmen II terdapat dua TPST yang melakukan
JUMLAH 211.408 3.797 5.177 717
Sumber : BPS Kabupaten Semarang,2011 pengelolaan sampah rumah tangga terutama
dalam Marlena, 2012.
sampah organik menjadi kompos diantaranya
Prosentase rumah tangga menurut tempat TPST Pudak Payung yang mengolah sampah
pembuangan akhir tinja tersaji pada tabel di menjadi kompos 36 m3/bulan dan TPST Padang
bawah ini. Sari dengan produksi kompos 52 m3/bulan
(Marlena, 2012).
Tabel 5. Pembuangan Tinja Rumah Tangga
 Segmen III
Segmen III meliputi wilayah Kecamatan
No Keterangan 2009 2010
1 Tangki/SPAL 67,89 % 72,06 % Banyumanik, Kecamatan Gunungpati, dan
2 Kolam/sawah 0,48 % 1,36% Kecamatan Gajah Mungkur.Di segmen ini
3 Sungai 11,13% 13,11%
4 Lubang Tanah 16,62% 12,79% sebagian besar lahan merupakan permukiman dan
5 Tanah lapang 3,04% 0,54% lahan pertanian kering bersemak. Beradasarkan
6 Lainnya 0,84% 0,14%
sensus penduduk tahun 2009, penduduk di
Sumber : SUSENAS Kabupaten Semarang, 2010 dalam segmen ini sekitar 38.500 jiwa. Tidak banyak
Marlena, 2012.
informasi yang diperoleh mengenai pengelolaan

Dari tabel di atas nampak bahwa terjadi lingkungan yang telah dilaksanakan, namun

peningkatan pengolahan tinja, dimana pengolahan demikian pengelolaan yang telah dilakukan

tinja dengan tangki/SPAL meningkat dari 67,89 diantaranya adalah pengelolaan sampah dengan

pada tahun 2009 menjadi 72,06% pada tahun 3R terutama untuk sampah organik yang diolah

2010, demikian juga prosentase yang membuang menjadi kompos yang dilaksanakan di Kelurahan

tinja ke sungai meningkat dari 11,13% menjadi Bendan Duwur dengan produksi kompos 10

13,11%. Peningkatan pembuangan tinja ke sungai m3/bulan (Marlena, 2012).

dapat meningkatkan beban pencemaran terutama 3. KESIMPULAN


limbah organik dan mikrobiologi. Di Kabupaten a. Konservasi sungai merupakan upaya
Ungaran belum ada IPAL yang khusus mengolah pelestarian lingkungan sungai, atau
limbah domestik (Marlena, 2012). dapat disebut restorasi sungai. Sebuah
 Segmen II upaya dalam memanfaatkan sungai,
Segmen II meliputi Kecamatan Banyumanik melindungi dan mengembalikan fungsi
yang berada di Kota Semarang.Kegiatan yang sungai, memelihara sungai untuk masa
berpotensi meningkatkan beban pencemaran di sekarang dan masa depan. Konsep
Sungai Garang diantaranya adalah industri dan konservasi sungai dapat dimaknai

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 7


memiliki nilai dan karakter, merupakan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
suatu pendidikan untuk masyarkat Lingkungan.
terkait tiga hal yaitu pemanfaatan, Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 15
perlindungan, maupun pemeliharaan Tahun 2014 tentang Pengelolaan Daerah
kawasan sungai. Berbagai kearifan lokal aliran Sungai di Provinsi Jawa Tengah.
terkait lingkungan sungai yang Restele, La Ode. 2015. KONSERVASI TANAH
berkembang pada masyarakat memiliki BERBASIS SOSIAL EKONOMI PETANI
nilai pendidikan yang harus dipelihara DI DAS GARANG PROVINSI JAWA
dan diwariskan untuk generasi TENGAH. Universitas Gadjah Mada.
mendatang (Setyowati, 2018). Setyowati, Dewi Liesnoor, Erni Suharini. 2011.
b. Pengelolaan lingkungan di sub DAS Garang DAS Garang Hulu : (Tata Air, Erosi dan
Hulu belum dilaksanakan sesuai yang Konservasi). Semarang: Widya Karya.
diamanatkan program aksi pengelolaan Setyowati, D.L, Puji Hardati, & Triwathy Arsal.
lingkungan DAS Garang salah satu 2018. KONSERVASI SUNGAI BERBASIS
contohnya adalah program pembangunan MASYARAKAT DI DESA LEREP DAS
IPAL domestik yang belum dilaksanakan, GARANG HULU. Prosiding Seminar
padahal pencemar dari rumah tangga Nasional Geografi UMS IX ISBN: 978-
memiliki kontribusi besar terhadap 602-361-137-9.
penurunan kualitas air sungai (Marlena,
2018).

 DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten Semarang. 2011. Statistik Sosial
dan Kependudukan (SUSENAS)
Kabupaten Semarang 2010.
Efendi, Muchtar., Henna, Rya Sunoko., Widada,
Sulistya. 2012. KAJIAN KERENTANAN
MASYARAKAT TERHADAP
PERUBAHAN IKLIM BERBASIS
DAERAH ALIRAN SUNGAI (STUDI
KASUS SUB DAS GARANG HULU).
Jurnal Ilmu Lingkungan Volume 10 Issue
1: 8-18 (2012).
Marlena, Bekti., Setia, Budi Sasongko., Danny,
Sutrisnanto. 2012. Kajian Pengelolaan
Sub DAS Garang Hulu terhadap Kualitas
Air Sungai. Prosiding Seminar Nasional

ARTIKEL LINGKUNGAN DAS, Diterbitkan 2019 8